Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SEMUA ORANG WAJIB MELINDUNGI KARYA ASLI
Taruh.
Kau… Pelan-pelan.
Kenapa sembunyi-sembunyi begitu?
Coba lihat.
CINDY
Barusan, orang dalam kita di Budaya Bolo membocorkan
bahwa saat pulang kerja semalam, dia melihat Lin Long
naik mobil Pak Shen.
Mereka bahkan sempat tarik-menarik.
Kedua orang itu agak aneh belakangan ini.
Coba tanyakan sebenarnya ada apa.
Sebentar lagi penyerahan akhir.
Aku tidak mau muncul masalah aneh lagi seperti proyek Tianjian.
Benarkah?
Hari itu, aku tidak menyetir, jadi klien mengantarku sekalian.
Separah itu?
Cindy memang suka menyebarkan rumor. Ini bukan pertama kalinya.
Dasar kau ini.
Dengar, ya. Aku sudah mengenalmu bertahun-tahun.
Kau tidak bisa membohongiku. Ekspresimu tadi aneh.
Begitukah?
Kau serius?
Sekarang kau malah melakukan kesalahan dasar
seperti menjalin hubungan tidak jelas dengan klien?
Jangan-jangan karena perceraian memberimu pukulan berat
sampai pikiranmu jadi kacau?
Dengar, ya. Kau harus berhenti sebelum terlambat.
Tenang saja. Sama sekali tidak perlu dihentikan
karena memang tidak pernah dimulai.
Benarkah?
Baguslah kalau begitu.
Kukira pikiranmu sedang tidak jernih dan nanti malah terjerumus.
Dengan keadaanmu sekarang, si Shen itu
tidak mungkin benar-benar menyukaimu.
Dia pasti hanya tertarik sesaat dan ingin mencoba…
Mencoba sesuatu yang baru. Aku paham.
Permisi.
Tidak mungkin pendiri perusahaan unikorn menyukai wanita
yang pernah bercerai sepertiku.
Jadi, saat aku sadar sepertinya dia punya sedikit ketertarikan padaku,
aku langsung memutuskannya lebih dulu.
Saat itu, aku langsung bertanya.
Aku bertanya, apa kau menyukaiku?
Ternyata benar saja, dia langsung gentar dan mundur saat itu juga.
Kalau begitu, kenapa semalam kau naik mobilnya?
Karena…
Karena aku ini manusia normal.
Menurutku, setelah semuanya diperjelas,
aku juga berhak menerima perhatian yang wajar dari seorang pria.
Lagi pula, sekarang zaman apa?
Tidak mungkin karena pernah bercerai, lalu aku harus merasa
lebih rendah dari orang lain, 'kan?
Bukan itu maksudku.
Aku tahu bukan itu maksudmu.
Tapi jujur saja,
ketika ada seorang pria yang cukup baik dalam berbagai hal
ingin mendekati dan memperhatikanmu,
rasanya cukup menyenangkan.
Jadi, malam itu,
dia bersikeras mengajakku membeli es krim viral
dan aku setuju.
Tapi saat di mobil, aku pun bimbang.
Satu sisi aku memarahi diri sendiri karena tidak punya prinsip,
sementara sisi diriku yang lain merasa lega
karena ternyata aku masih punya daya tarik yang bisa membuat pria jatuh hati.
Aku memang begitu bimbang, ragu-ragu…
Juga berstandar ganda.
Tapi sampai sekarang pun, aku tidak merasa melakukan kesalahan.
Hei.
Semalam,
kau tidak membiarkan dia masuk ke rumahmu, 'kan?
Silakan masuk.
Bolehkah aku tidak menjawab?
Tentu boleh.
RUANG RAPAT
Kita kembali dulu, baru bicara.
PRIORITAS PANGGILAN DARI DALAM LIFT
Ada masalah dengan pihak Pak Zheng?
Peng Yuan dipecat dan diserahkan ke penyidik kejahatan ekonomi.
Ma Ke tidak akan dituntut lebih jauh,
tapi dia disetujui mengundurkan diri secara sukarela.
Yang Rui tetap bekerja, tapi pindah tim.
Mulai minggu depan, proyek akan dipulihkan sepenuhnya
dan dilanjutkan.
Hari ini, aku juga berjasa.
Kalau begitu, pertahankan dan tingkatkan.
Belilah teh susu untuk merayakannya.
Mangga.
Matca ukuran sedang.
Kurangi es dan gula, tanpa foam susu.
Kalau begitu, aku mau cokelat…
Sudahlah, aku tidak mau.
Setelah lama mengenal Richard,
sepertinya dia akhirnya menemukan
wanita yang benar-benar ditakdirkan untuknya.
MANAJEMEN STRATEGIS EMBA AKADEMI BISNIS HUANGHE
RISIKO, PELUANG, DAN RESPONS STRATEGIS PASAR KOLEKSI DIGITAL
PEMBICARA: YE XINZHI (DOSEN TAMU)
Pasar keuangan digital
ibarat samudra biru yang penuh harapan, sekaligus tantangan.
Tapi peluang dan risiko saling terkait.
Setelah beberapa pengetatan regulasi,
pasar kripto domestik
kini relatif stabil.
Tapi keuangan berbasis blockchain yang berkaitan
justru berkembang liar dalam bentuk lain.
Pak Ye. Apa pendapatmu
tentang koleksi digital yang sedang populer saat ini?
Menurutku, pertanyaan ini bagus.
Koleksi digital telah memperluas pasar seni secara signifikan.
Dibandingkan koleksi tradisional,
koleksi digital memiliki likuiditas dan transparansi yang lebih baik.
Karena itu, bidang ini mampu menarik perhatian besar dari banyak investor.
Aku ikut tren dan membeli beberapa koleksi digital.
Tapi aku menyadari orang yang menyukai koleksi digital
sepertinya sulit menjelaskan logika bisnis di baliknya.
Kebanyakan justru menganggapnya sebagai pengganti mata uang kripto
dan berharap bisa kaya dalam semalam.
Terutama dalam dua tahun terakhir,
harga properti menurun dan pasar saham melemah.
Karena itu, banyak orang awam ikut terjun ke bidang ini hanya karena mengikuti tren.
Tapi spekulasi yang berlebihan
membuat risiko terakumulasi hingga tingkat yang mengkhawatirkan.
Hadirin sekalian, kebijakan pasar ditetapkan oleh kalian semua.
Pertumbuhan industri yang stabil
juga membutuhkan sumbangsih pemikiran dari kita semua.
Hari ini, karena kita membahas koleksi digital,
sekalian saja aku berikan tugas.
Model operasional koleksi digital domestik
dan kajian pencegahan risikonya.
Silakan kerjakan secara berkelompok.
Kita akan bahas di pertemuan berikutnya.
Materi hari ini cukup sampai di sini. Kelas selesai.
Pak Ye. Boleh aku menambahkan kontak WeChat-mu?
Tentu.
Biar kupindai kode bar Bapak.
Hari ini, materi yang kau sampaikan benar-benar berguna.
Semoga kelak kami bisa mendengar banyak penjelasan darimu.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Apa kabar, Pak Ye?
Tidak baik.
Kau tidak serius mengikuti pelajaran.
Malah minum teh susu dan sibuk sendiri.
Sebagai guru, aku harus menegurmu dengan keras.
Kalau begitu, aku harus menyuap Pak Ye
agar aku tidak gagal di ujian akhir.
Begini baru benar.
Penjelasanmu tadi benar-benar bagus.
Kau memberi tugas itu dengan alami.
Yuanzhou sedang populer sekarang.
Semua orang pasti akan menjadikannya
sebagai studi kasus dan menggali masalah di dalamnya.
Tapi apa berbuat seperti ini cukup efektif?
Orang yang tadi kutambahkan di WeChat berasal dari Asosiasi Keuangan Internet.
Bagaimana menurutmu?
SHEN JIN - BUDAYA BOLO
Kau mau apa?
Aku meneleponmu 124 kali.
- Kenapa kau tidak angkat? - Aku tidak mendengarnya.
Kenapa kau memblokir WeChat-ku?
Aku sudah menambahkan akun WeCom Bapak.
Bagaimanapun, WeCom lebih memudahkan rekan kerja kami
untuk berkomunikasi denganmu.
- Kau memanggilku apa? - Bapak.
Sekarang, kau bahkan bicara seformal itu denganku?
Pak Shen, hubungan kita hanya sebatas kerja sama bisnis.
Lin Long. Kau mau mencampakkanku setelah selesai memanfaatkanku?
Habis manis sepah dibuang?
Kau anggap aku bisa diperlakukan sesukamu?
Bukan, Pak Shen.
Malam itu, siapa yang berkata dengan lembut bahwa
dengan tiket kapal lamanya itu, apa dia bisa naik ke…
Berhenti. Ada apa di malam itu?
- Malam itu tidak ada… - Tunggu.
Kita harus memperjelas ini.
Kak Lin.
Kalian baik-baik saja?
Kami baik-baik saja.
Pak Shen, kalau ada urusan, kita komunikasikan lewat WeCom.
Aku pergi dulu. Sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
DEBARAN HATI YANG TERLAMBAT
- Maaf sebesar-besarnya, aku… - Kepalamu berdarah.
Kau sedang hamil, kenapa tidak hati-hati saat mengendarai mobil?
Perutmu baik-baik saja?
Coba lihat dirimu sendiri. Kurus seperti tiang.
Kalau kondisi tubuhmu belum pulih, kenapa buru-buru kembali bekerja?
Kenapa memaksakan diri?
Sebelumnya, Xu Chi membawakan ini untukku.
Katanya, Bapak sengaja memintanya untukku.
Dia menyampaikan pesan itu.
Bangkit setelah melewati cobaan dan kebahagiaan menghampirinya.
Sekarang penderitaanku sudah berakhir.
Sudah waktunya aku sendiri berjuang sedikit demi sedikit
untuk mendapatkan kembali kebahagiaan itu.
DEBARAN HATI YANG TERLAMBAT
Mau menonton film ini?
Kelihatannya membosankan.
Katanya lumayan bagus.
Ayo pergi.
Aku serius. Mau coba tonton?
DEBARAN HATI YANG TERLAMBAT
Long.
Bagaimana kabarmu belakangan ini?
Kau sudah kembali bekerja?
Kenapa tidak beristirahat lebih lama?
Bukan urusanmu.
Long, dengarkan aku.
- Sebenarnya, aku ingin mengatakan… - Lepaskan aku.
- Aku tidak mau mendengarnya. - Zhiwen.
Siapa dia?
Dia temanku. Kebetulan bertemu.
Jangan bohong.
Bukankah dia mantan istrimu?
Apa maksud kalian?
Sudah bercerai, tapi masih bermesraan di sini?
Dia benar. Dia memang pembohong.
Apa maksudmu?
Jelas-jelas kau yang tidak tahu malu dan menggoda pacarku.
- Kau tidak tahu dia punya pacar sekarang? - Lin Long!
Sudah kuduga kau ada di sini.
- Berikan. - Mereka temanmu?
Berikan.
Kunci mobil.
Tadinya, aku tidak ingin mengatakan ini.
Karena menurutku dua wanita bertengkar demi seorang pria adalah
hal yang murahan.
Tapi supaya tuntas total, akan kukatakan terus terang.
Pria yang kau anggap seperti harta karun ini
sudah lama kubuang.
Bahkan pria
yang mengejarku dengan mobil mewah seperti dia saja tidak mau kuladeni.
Pria yang penghasilan tahunannya bahkan lebih rendah dariku,
yang pasti akan kena PHK saat berusia 40 tahun,
yang setiap hari hanya bermain gim dan pernah bercerai itu,
silakan kau ambil.
Dia sebenarnya kurang paham.
Mobil ini biasa saja.
Aku masih punya banyak.
Lin Long.
- Jangan ikuti aku. - Bukan, aku tahu.
Aku hanya ingin bilang, tadi kau keren sekali.
Keren, bukan bodoh.
Aku bukan menghinamu.
Waktu di depan toilet tempo hari,
kau mengoceh panjang lebar seperti ini.
Saat itu, aku langsung berpikir…
Kau suka mencari penderitaan?
Mungkin.
Shen Jin. Buka matamu dan lihat baik-baik.
Aku hanya wanita yang sudah bercerai dan ingin membuktikan
bahwa dirinya tetap menarik.
Dangkal, gengsi, dan penakut.
Waktu itu, aku berterima kasih
karena kau menemaniku mengusir kesepian.
Soal tadi, aku minta maaf.
Aku hanya bisa memanfaatkan statusmu
untuk membuat diriku terlihat lebih hebat dan mempertahankan harga diriku
di depan mantan suamiku.
Lagi pula, bukankah kau bilang kau tidak menyukaiku?
Lalu, kenapa terus mengikutiku tanpa rasa malu?
Hanya karena kau tidak terima?
Jangan-jangan karena kekayaan dan statusmu,
kau belum pernah ditolak seperti ini?
Perlu kutransfer uang ganti rugi atas penderitaan batinmu?
Lin Long.
Memangnya aku seburuk itu?
Sampai setiap kali melihatku, kau selalu ingin menjauh?
Lalu, memangnya kau serendah itu?
Kau hanya pernah bercerai dan dekat dengan seorang pria.
Kenapa mengatai dirimu
sebagai sosok yang penakut, rendah diri, dan dangkal?
Kalau kau benar-benar seperti itu,
kenapa aku masih ingin mengejarmu sejauh ini?
Aku tahu,
kau menghindariku seperti ini
karena terakhir kali saat kau bertanya tentang perasaanku, aku gentar.
Aku bilang, aku paling-paling hanya bersimpati padamu.
Urusan hubungan pria dan wanita
bukan seperti soal ujian masuk universitas yang menentukan hidup mati.
Kalau jawabanku salah, memangnya tidak boleh kuperbaiki?
Aku akui, perkataanku hari itu bukan isi hatiku yang sebenarnya.
Setelah kupikirkan baik-baik,
aku benar-benar menyesal.
Aku bukan lagi gadis muda yang suka bermimpi.
Perasaanmu padaku sekarang hanya sedikit rasa kagum dan penasaran.
Paling ditambah sedikit rasa tidak terima dan keinginan menaklukkan.
Kalau aku menerimamu,
belum sampai sebulan, kau pasti kehilangan rasa penasaran.
Sementara itu,
aku akan sangat kecewa, sedih,
bahkan mungkin akan kembali terjerumus ke kondisi histeris seperti dulu.
Seperti saat kau pertama kali mengenalku.
Masih ingat saat aku menabrak mobilmu,
tatapanmu tidak ada sedikit pun rasa kagum.
Jadi, kalau kau merasa sekarang aku cukup keren,
tolong biarkan aku terus mempertahankan harga diri yang rapuh ini.
Bisa?
Karena setelah bercerai,
harga diriku yang tersisa tidak banyak.
Terima kasih.
Kenapa kau ada di sini?
Bukankah kau mau ke bandara?
Perjalanan dinas tidak lebih penting daripada mengantar pacarku bekerja.
Naiklah.
Sebenarnya, saat bangun tadi, aku mendapat kabar penerbanganku ditunda.
Ditambah lagi, aku punya kabar baik untukmu.
Jadi, aku datang.
Kabar baik apa?
Berikan nomor rekeningmu.
Bonus dari Morse sudah cair.
Satu juta yuan.
Kalau belum cukup untuk membayar uang muka,
aku bisa membantumu.
Cukup.
Ditambah tabunganku sebelumnya, ini pasti cukup.
Lagi pula, harga rumah belakangan ini turun lagi.
Ini lebih dari cukup.
Ini sungguh kabar yang baik.
Xinzhi, terima kasih banyak.
Jangan hanya berterima kasih lewat mulut. Harus dengan tindakan.
Kau sedang menyetir.
Kalau sudah mendarat, kirim pesan.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Selamat pagi.
Selamat pagi. Kau sudah kembali bekerja.
Dia orangnya? Pacar barumu.
Mobilnya bagus sekali.
Pantas kau ingin putus denganku.
Dulu, kita putus karena prinsip hidup yang berbeda.
Bukan karena mobilnya bagus atau tidak.
Maaf.
Aku masih berutang terima kasih.
Kalau bukan karena kau,
aku tidak akan bisa mempertahankan pekerjaan ini.
Tidak apa-apa.
Kita masih berteman?
Saat acara pembangunan tim dulu, kebaikanmu karena telah membantuku
sudah kubalas.
Ke depannya, kita tetap rekan kerja.
Kenapa kau ke sini?
Atasan menyuruh aku dan Yang Rui bertukar tim proyek.
Kalau begitu, duduk di sana.
Untuk apa menjaga jarak lagi?
Orang-orang di perusahaan sudah tahu.
Proyek Tianjian sudah mulai kembali ke progres normal.
Pokok bahasan rapat kita hari ini adalah penyesuaian ulang tim proyek.
Zhou Sen, Tianna, Du Qian,
kalian tetap bertanggung jawab atas tim sebelumnya.
Baik.
Xu Chi. Bagian TI adalah inti masalah dalam insiden sebelumnya.
Tapi kali ini aku berharap kau bisa bertanggung jawab atas ini.
Li Yue sebelumnya punya pengalaman di bidang ini.
- Dia akan membantumu. - Baik.
Mengenai manajer proyek yang baru,
manajemen belum memutuskannya.
Bagaimanapun, proyek ini sudah berjalan lebih dari separuh.
Kalau kita mencari konsultan baru,
rasanya kurang cocok.
Jadi, maksud Pak Pi adalah
akan dipilih satu orang dari para penanggung jawab tim
untuk menjadi manajer sementara.
Aku ingin mendengar pendapat kalian.
Menurutmu, siapa yang akan dipilih?
Menurutmu, aku punya peluang?
Kita sama-sama masih analis.
Kenapa kalau analis? Apa tidak boleh naik…
Aku ingin mengusulkan Tianna.
Sejak Ma Ke dinonaktifkan,
dialah yang terus mengoordinasikan seluruh operasional proyek.
Aku setuju.
Astaga.
Sekarang aku akhirnya paham apa artinya menjadi pilihan semua orang.
Baik. Kalau begitu, selamat untuk Tianna
karena menjadi manajer proyek termuda di Maxmise.
Terima kasih, semuanya.
Kalian tahu aku tidak suka berbasa-basi,
meski kalimat ini terdengar seperti itu.
Sekarang, aku akan membagikan rencana dan perkembangan
setelah proyek mulai kembali.
Kau merasa iri?
Aku hanya…
Aku hanya
belum siap.
Sebenarnya, saat kami hampir dipromosikan
menjadi analis bisnis senior,
aku baik-baik saja.
Tapi sekarang dia tiba-tiba melampauiku dan menjadi manajer proyek.
- Aku jadi agak… - Aku mengerti.
Dulu, saat kau merebut proyek Budaya Bolo dari tanganku,
aku juga merasa seperti itu.
- Kak Lin. - Aku hanya bercanda.
Sebenarnya, hal seperti ini sudah biasa terjadi di perusahaan.
Seperti aku dan Lu Le.
Kami adalah teman, tapi pada saat yang sama juga pesaing.
Jadi, jangan terlalu dipikirkan.
Setelah mengalaminya beberapa kali, kau akan terbiasa.
Aku tahu.
Aku bukan takut bersaing dengannya.
Dulu, saat membuat draf proyek Tianjian,
kami pernah bersaing.
Aku hanya…
Lagi pula, Tianna tidak memberitahuku apa pun.
Aku bahkan tidak tahu bahwa selama aku diskors,
dialah yang mengambil alih seluruh proyek Tianjian.
Tapi selama diskors, kau tidak memberi tahu Tianna
bahwa kau membantu menjembatani Morse, 'kan?
Di dunia kerja, tidak ada keadilan yang mutlak.
Saat kau sedang berusaha, orang lain juga tidak tinggal diam.
Saat hubungan Tianjian dan perusahaan sempat memburuk seperti itu,
semua orang mengira proyek ini akan terbengkalai.
Tapi hanya Tianna yang tidak menyerah.
Dia bahkan meminta Pak Pi agar proyek ini tidak dihentikan sepenuhnya.
Di satu sisi, dia mengoordinasikan rekan-rekan untuk menjalani penyelidikan.
Di sisi lain, dia tetap menindaklanjuti proyek.
Jadi, kalau tidak ada sikap dan usahanya,
menurutmu, begitu Tianjian melihat
bukti yang kau berikan untuk membersihkan nama Ma Ke,
mereka segera memutuskan untuk memulai kembali seluruh proyek?
Aku mengerti.
Aku tidak punya alasan untuk iri padanya.
Terima kasih sudah menyadarkanku.
Anggap saja ini sebagai kompensasi.
Bagaimanapun, sebagai mentormu, dulu aku tidak menjalankan pekerjaan dengan baik
dan tidak memberimu banyak bimbingan.
Tapi justru sekarang aku merasa kau lebih nyata.
Kau seperti seorang gadis yang baru saja lulus.
Bukan lagi gadis cantik, genius, dan sempurna yang hanya ada
di buku atau drama.
Kalau begini, terlihat mirip?
Aku cek pesan dulu.
Itu jimat pelindung dari Pak Shen, 'kan?
Kau masih membawanya?
Entah manjur atau tidak,
aku terus menjadikannya gantungan ponsel.
Sudah terbiasa.
Aku melamun.
Tadi, tiba-tiba aku teringat
hal yang dibahas saat konferensi telepon dengan Tianjian.
Jangan terlalu memaksakan diri.
Minggu ini saja, aku sudah dinas dua kali.
Hari ini, kita hanya punya dua jam untuk bertemu,
tapi kau masih bekerja sekeras ini.
Lingkaran hitam di matamu hampir muncul.
Benarkah?
Di mana?
Aku hanya bercanda.
Dulu, kau adalah muridku.
Saat melihatmu bekerja sekeras itu, aku hanya bisa menasihatimu dari samping.
Tapi sekarang sebagai pacarmu,
aku harus memberitahumu dengan serius. Jangan terlalu memaksakan diri.
Jangan menganggap dirimu sebagai robot kerja.
Pekerjaan konsultan menuntut kita
untuk terus memberi kinerja yang baik dalam jangka panjang.
Kalau kau terus bergadang dan memaksakan diri,
cepat atau lambat tenagamu akan terkuras habis.
Kenapa? Kau merasa aku cerewet lagi?
Aku hanya berharap pekerjaanmu bisa lebih ringan.
Tapi kita lebih suka
saat melihat satu sama lain lebih berusaha, 'kan?
Baiklah.
Kau cantik, semua ucapanmu benar.
Aku juga merasa begitu.
- Ayo makan. - Makanlah.
Sebenarnya,
aku hanya ingin berusaha lebih keras.
Aku tidak mau kalah dari Tianna.
Aku mengerti.
Tapi jangan lupa
tujuan awalmu masuk ke industri ini.
Jangan sampai masalah tertentu membuatmu terjebak terlalu dalam.
Aku tentu tidak lupa.
Aku ingin menjadi konsultan papan atas seperti dirimu,
menjadi partner,
punya ruang kantor sendiri, dan rumah lama ibuku…
Rumah.
Tadi pagi, aku mengabari agen properti bahwa uangku sudah cukup.
Aku sibuk seharian sampai lupa bertanya kelanjutannya.
Mana ponselku?
Di sini.
Lalu, ada perkembangan?
Agen properti bilang harga rumah turun lagi.
Orang yang sebelumnya sudah tanda tangan kontrak daring
berubah pikiran. Dia tidak jadi beli.
Lalu, pemilik rumahnya bilang
kalau aku bisa membayar dengan harga yang sama, dia akan menjualnya.
Itu hal baik.
Halo, Zhu. Aku Xu Chi.
Bagaimana? Kapan pemilik rumah bilang bisa tanda tangan kontrak?
Apa? Bagaimana dia bisa berubah pikiran begitu saja?
Ada apa?
Pemilik rumahnya berubah pikiran.
Sekarang, dia malah bilang harus dibayar lunas.
Jangan panik dulu.
Kita ke sana sekarang. Kita bicara langsung dengannya.
Kak, kita saling kenal. Tidak mungkin aku mempermainkanmu.
Awalnya, pemilik rumah setuju.
Dia bahkan pergi ke pusat transaksi.
Tapi prosedur pembatalan kontrak dan pengembalian pajaknya agak merepotkan.
Dia jadi kesal dan tidak mau repot.
Katanya kalau dijual lagi, dia harus bolak-balik beberapa kali.
Belum lagi persetujuan KPR-mu bisa memakan waktu beberapa bulan.
Jadi, pilihannya antara kau bayar lunas atau kontrak sebelumnya tidak dibatalkan.
Bukan begitu.
Sekarang, pencairan KPR bank cepat.
Lagi pula, aku punya kenalan. Tidak akan membuatnya menunggu lama.
Begini saja.
Tolong hubungi dia. Biar aku bicara langsung dengannya.
Tapi Kak, sekarang pukul 23.00.
Pemilik rumah sudah tidur.
Di catatannya tertulis jelas bahwa dia hanya bisa dihubungi siang hari.
- Kalau begitu, aku… - Jangan panik.
Pemilik rumah bilang harus dibayar lunas?
Ya, benar. Untuk apa aku membohongimu?
Entah dibayar lunas atau pakai KPR, komisi kami tetap sama.
Sebelumnya, pemilik rumah melarang melihat rumah.
Sekarang, rumahnya sudah mau dijual.
Bisa antar kami melihatnya?
Bisa.
Aku keluar sebentar untuk menelepon.
Masih ingat kamar yang kau tempati waktu kecil?
Sepertinya kamar ini.
Bukan, sepertinya yang ini.
Kau juga lupa?
Dulu, ini rumah nenek dari pihak ibuku.
Aku hanya datang dan tinggal beberapa hari bersama ibuku saat liburan.
Sudah lama berlalu.
Tempat ini rasanya berbeda dari ingatanku.
Aku hanya ingat,
dulu Ibu menjual rumah ini seharga 80.000 yuan
untuk mengumpulkan modal usaha Ayah.
Kemudian, ayahku punya selingkuhan
dan Ibu pun menceraikannya.
Saat Ibu melihat berita bahwa harga rumah di daerah ini melonjak,
dia sangat menyesal.
Sebelum meninggal, ibuku berkali-kali mengatakan
bahwa dia ingin kembali ke masa sebelum mengenal ayahku.
Dia ingin kembali ke rumah
di Beijing ini.
Tapi saat itu aku masih kecil.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebenarnya, ini keinginan ibumu atau keinginanmu?
Apa bedanya?
Pokoknya aku selalu datang kemari saat merasa sedih.
Asalkan melihat rumah kecil ini, melihat jendela yang dipenuhi bunga segar itu,
aku seperti kembali ke masa lalu,
kembali ke masa paling bahagia dalam hidupku.
Kalau begitu, belilah rumah ini.
Aku tidak punya uang sebanyak itu.
Kau punya aku.
Bukan itu maksudku.
Terkadang,
kesempatan lebih penting daripada uang.
- Tapi aku tidak bisa… - Kau sudah melewatkan rumah ini sekali.
Jangan sampai melewatkannya kedua kali.
Kalau kau benar-benar tidak enak hati,
kita bisa membuat perjanjian pinjaman.
Chi, beri aku kesempatan untuk menjalankan kewajiban sebagai pacarmu.
Bolehkah?
ASURANSI TIANJIAN
Nona-Nona Cantik,
lama tidak bertemu.
Aku merindukan kalian.
Halo, Bu.
Aku mau melapor.
Hari ini, aku dan tim reasuransi akan melakukan serah terima awal.
Cukup. Nanti kita bahas saat rapat pagi.
- Baik. - Aku tidak bisa ikut rapat pagi.
Aku harus mengajukan cuti.
Pukul 08.40 nanti, aku akan menemui Pak Sun untuk memeriksa basis data.
Lalu, besok, aku akan melakukan perjalanan dinas bersamanya
ke Tianjian di Guangzhou, Shenzhen, Chengdu,
dan pusat data di Suzhou
untuk melakukan serah terima pelatihan di lokasi.
Kira-kira aku baru bisa kembali akhir pekan.
Pergi ke tempat sebanyak itu dalam waktu singkat,
apa tubuhmu sanggup?
Baik, asal kau sudah mengaturnya.
Tidak perlu kirim laporan setiap hari.
Rangkum saja setelah kau kembali.
Departemen TI ada di lantai 17.
Aku naik lift zona atas dulu.
Sampai nanti.
Aku salah.
Sekarang, dia sedang mati-matian ingin menunjukkan hasil dan mengungguliku.
Jangan halangi dia.
Tidak sampai begitu, 'kan?
Kau sudah lama menjadi manajer proyek.
Meski dia membuat departemen TI menjadi luar biasa,
tetap tidak akan mengunggulimu.
Kau pikir posisi manajer proyek yang kudapat secara kebetulan ini
begitu berharga?
Aku dan dia sama-sama mengincar posisi partner.
Memangnya kami akan peduli pada gelar sementara seperti ini? Tidak.
Yang kami pedulikan adalah penilaian Pak Pi dan Sha Sha
terhadap proyek ini setelah semuanya selesai.
Itu akan langsung menentukan sejauh apa karierku bisa berkembang di Maxmise.
- Mengerti? - Aku mengerti.
Sudah, aku malas bicara denganmu.
Aku harus kembali bergadang dan kerja keras.
Begini saja.
Beberapa hari ini, aku akan menginap. Kutemani kau bergadang.
Mimpi saja.
IBU
Aku lewat tangga.
Halo, Ibu.
Ada apa? Aku sedang bekerja.
Kencan buta?
Aku tidak mau.
Bukankah kalian berjanji
tidak akan pernah mengatur hal seperti kencan buta? Aku…
Ayah.
Baik, aku mengerti.
Aku akan datang tepat waktu.
KOTA BERADAB, BERSAMA MEMBANGUN LINGKUNGAN YANG INDAH
Tianna.
Putra Bibi Xue bekerja di bidang TI.
Katanya, dia sangat sukses.
Sehebat itu?
Kalau laptopku rusak, dia bisa memperbaikinya?
Jangan asal bicara.
Perusahaannya besar sekali.
Sudah, jangan cemberut begitu.
Ayahmu menyuruhmu datang karena ingin kau membantunya menilai.
Belakangan ini, dia sedang mengembangkan…
Apa namanya itu?
Pokoknya semacam bentuk usaha baru.
Kebetulan sekali,
putra Bibi Xue bekerja di industri internet.
Jangan berpikir macam-macam.
Ini bukan kencan buta.
Anggap saja berkenalan dengan teman baru.
Mengobrollah baik-baik.
Pak, Bu, ini ruang privatnya.
Terima kasih. Hui.
- Cepat masuk. - Kau tiba lebih dulu, ya?
- Bibi Xue-mu datang. - Maat, kami terlambat.
Nak, ayo. Cepatlah.
- Lama tidak bertemu. - Benar.
- Ini… - Tianna,
cepat beri salam.
- Halo, Bibi Xue. - Halo.
Cantik sekali.
Jin, Tianna juga pernah berkuliah di Amerika.
- Sekarang, dia bekerja sebagai konsultan. - Sudah, Bu.
Aku dan Pak Shen saling kenal.
- Dia klien perusahaan kami. - Kenal?
- Ternyata kenal. - Kalau begitu, kami mengobrol di luar?
- Baik. - Baik.
Ajak dia mengobrol.
Sana.
Hari itu, kau mengebut di parkiran untuk mengejar Kak Lin.
Hari ini, kau malah datang kencan buta.
Pak Shen, kemampuanmu mengatur waktu benar-benar hebat.
Kita sama-sama korban keadaan.
Saling memahami saja.
Bukankah kau juga ikut kencan buta tanpa memberi tahu pacarmu?
Jangan asal bicara. Aku tidak punya pacar.
Baiklah, terserah kau mau bilang apa.
Kau ini…
Kenapa bicaramu menyindir?
Pantas saja Kak Lin tidak menyukaimu.
Kenapa? Aku salah bicara?
Kau tidak salah.
Dia memang tidak menyukaiku.
Omong-omong, bagaimana dia belakangan ini?
Kau ingin tahu?
Menurutmu, aku terlihat seperti orang sebaik itu?
Mari kita buat kesepakatan.
Asalkan kau memberitahuku bagaimana keadaannya belakangan ini,
kujamin ibumu tidak akan mengganggumu lagi untuk waktu yang lama.
Kau serius?
- Setidaknya setengah tahun. - Setahun juga boleh.
Menurutmu, mereka membicarakan apa?
Benar. Tampaknya banyak yang dibicarakan.
Cepat katakan.
Bagaimana kabarnya belakangan ini?
Dia baik. Semuanya normal.
- Selesai? - Selesai.
Ini sepadan dengan setahun?
Memangnya kau mau bagaimana?
Kak Lin sudah bercerai, pernah dirawat di rumah sakit,
dan mengalami begitu banyak hal berat. Tapi setelah kembali bekerja,
dia tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Kau berharap dia hancur karena patah hati?
Lagi pula,
kau yang mati-matian mengejarnya, bukan dia yang mengejarmu.
Sudah selesai?
Kalau kau terus mengatakan hal-hal menyebalkan yang tidak ada gunanya,
kesepakatan kita batal.
Apa? Jadi,
kau ingin tahu apa lagi?
Aku ingin tahu…
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ingin kuketahui.
Aku bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang dia inginkan.
Aku menyuruhnya agar jangan merasa rendah diri.
Tapi dia tetap menyuruhku menjauh darinya.
Dia bilang
ingin mempertahankan harga diri dan rasa bangganya.
Kenapa kau tertawa?
Maaf, ya.
Aku hanya mentertawakan kebodohanmu.
Apa maksudmu?
Dia bilang bahwa dia ingin terus mempertahankan… Apa tadi?
Harga diri dan rasa bangganya.
Itu pasti karena kau melakukan sesuatu
yang membuatnya merasa kehilangan harga diri.
Itu sama saja seperti membawa orang yang takut ketinggian
ke atap gedung, lalu berkata,
"Sayang, jangan takut." Apa berguna?
Ternyata begitu.
Sudahlah. Kalau mengerti, cepat jelaskan padanya.
Tidak perlu buru-buru.
Aku tidak akan bertindak tanpa persiapan.
Dengar, ya.
Anak ingusan sepertimu jangan merasa bisa mencampuri semua urusanku.
Kalau memang jago soal percintaan,
malam ini kau tidak akan berada di sini.
Percuma aku bicara panjang lebar.
Tidak percuma.
Mendekatlah.
Kubilang, mendekatlah.
Untuk apa aku mendekatimu?
Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya.
Puas?
- Gandeng lenganku. - Apa?
Ikuti aba-abaku.
Aku akan hitung sampai tiga. Berbaliklah, menoleh,
tersenyum, lalu mengangguk.
Mengerti?
Aku tanya, mengerti?
Jawab yang benar.
- Baik, Pak Shen. - Tiga, dua, satu.
Kalian mengobrol saja.
Mengobrollah baik-baik.
Baru pertama kali kencan buta sudah bergandengan tangan,
bukankah berlebihan?
Masih ada yang lebih berlebihan. Mau coba?
- Tidak perlu. - Tidak percuma, 'kan?
Tidak percuma, Pak Shen.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.