Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
TAHUN 2013
- Aku mau ke Hongkong! - Omong kosong!
Kau hanya ingin belanja, bukan berlibur!
Kalau Islandia?
Ada Aurora. Aku pernah lihat di TV, sangat menakjubkan.
- Benarkah? - Ya.
- Aurora... - Aku setuju Islandia. Atau Himalaya?
Himalaya apanya? Omong kosong.
Pergi sendiri. Bajuku bisa rusak.
Hei. Saat berhadapan dengan alam,
kau akan menyadari betapa kecilnya dirimu.
Itu akan menjadi perjalanan mencari jati diri.
- Wajahmu kering. - Ya.
Tak bisakah kau oleskan pelembap sendiri?
Tanpa Yu-ri, pasti wajahmu akan terkena kurap.
Baik, kalau begitu...
Islandia, Himalaya, dan Mongolia. Kita hanya perlu pilih salah satu.
- Aku setuju - Aku juga.
Aku tak setuju! Pergi saja nanti saat kalian berusia 70 tahun.
Untuk apa kita menentukan liburan saat berusia 60 tahun dari sekarang?
Siapa tahu kita terus bersama?
Selama kau tak onar, kita akan terus bersama.
- Benar. - Pilihan pertamaku sudah pasti Islandia.
- Baiklah, setuju! - Gye Geun-sang. Kenapa kau duduk?
- Katanya kau akan memasak? - Ini, sudah selesai.
Bukan main. Ini saja yang kau buat?
Minggir. Jangan menutupi perapiannya.
Hyeon-jeong, kau juga minggir.
Minggir! Kau menghalangi perapiannya.
Aku ingin seolah-olah difoto orang lain.
Haruskah kita bunuh bedebah ini?
- Ada apa? - Dia tak membawa nasi atau mi instan
- Apa? - Benarkah?
Makan mi instan di rumah saja.
Tujuan berkemah itu karena suasananya. Mewah.
Kau tak beli daging juga?
- Kita semua kelaparan! - Ya.
- Benarkah? - Ya.
- Sungguhan? - Ya.
- Bukan main! Kau sudah gila! - Aduh! Sakit!
Bagaimana bisa?
Kami harus bagaimana denganmu?
- Bedebah! - Kita sudah berjam-jam ke sini.
Aku ke sini bukan untuk kelaparan!
Sungguh menjengkelkan!
Untuk apa kemari hanya untuk kelaparan?
- Aku mau mi instan! - Keterlaluan!
Kenapa kau keterlaluan begini?
Di antara banyaknya manusia di dunia ini,
kita bertemu bagaikan takdir, lalu menjalin hubungan yang erat.
Ada masanya di mana hidupku sangat indah
seperti bunga yang baru saja mekar.
- Aduh! - Cepat ambilkan air untuk Ayah.
- Cepat ambilkan air! - Astaga, kau ini...
AKU BUTA, AKU RAGU BISA BERJALAN KE SANA
Ini.
- Aku tidak... - Terlihat sangat muda...
Terlihat berbeda sekali...
Hei, Yu-ri!
- Halo. - Halo.
- Yu-ri! - Sudah lama sekali! Apa kabar?
- Sudah lama tak bertemu! - Ke mana saja?
- Kenapa kau terlambat? - Maafkan aku.
Aku berniat datang dengan Gang-hwa,
tapi pekerjaannya tidak ada habisnya.
Aku sampai kesal menunggunya.
Kita makan saja. Dia akan datang mentraktir kita.
- Benarkah? - Sungguh?
- Ayo bersulang! - Bersulang!
Coba ceritakan!
Kami hanya berbicara...
Entahlah.
Apa maksudmu?
Tapi, bunga yang kupikir kuat dan kokoh ini,
terlalu cepat
berguguran.
EPISODE 7: TEMPAT BUNGA-BUNGA BERMEKARAN DAN BERGUGURAN
Aku bisa melakukannya?
BUKA
TUTUP
Kau menjaga jarak dengan Gang-hwa karena Min-jeong, bukan?
Kau tak bisa berkutik karena Min-jeong bersama Gang-hwa.
Hyeon-jeong.
Ya?
Tempat itu bukan tempatku lagi.
Oh Min-jeong
yang harus menempatinya.
Min-jeong
berniat untuk bercerai.
Dia ingin bercerai dengan Gang-hwa.
Apa maksudmu?
Dia bukan orang seperti itu. Tidak mungkin.
Aku pun awalnya tidak percaya.
Tapi,
sepertinya benar.
Yu-ri, jangan pikirkan yang lain,
utamakan saja dirimu sendiri.
Apa alasannya?
Gang-hwa tidak boleh bercerai.
Tidak boleh!
Kenapa?
Kenapa tidak boleh?
Itu...
Pokoknya tidak boleh.
Yu-ri,
tatap mataku.
Yu-ri, tatap mataku.
Apa yang kau sembunyikan?
Sungguh aneh. Pasti ada sesuatu.
Dia juga tahu batas minumnya.
Kenapa dia tahu kebiasaan Min-jeong?
Dia seperti mengenalnya.
Apa kau resah?
Jika bukan karena Dokter Jang, kau sudah dipecat.
Apa kau menang lotre? Apa area ini dibangun kembali?
Kau tak ada harapan.
Apa kau ahli kejiwaan, dokter kulit,
atau ahli operasi plastik?
Kau hanya dokter bedah toraks!
Jika kau keluar dari RS Universitas
apa yang akan kau lakukan?
Bukan main. Kau membuatku frustrasi!
Geun-sang.
Apa? Ceritakan semuanya.
Kau membuatku sakit kepala.
Bisakah kau pulang saja?
Berisik sekali.
Dia cerewet sekali.
Hei. Berhenti minum.
Minum bir tak menuntaskan apa pun.
Seharusnya kau katakan itu kepada orang di sebelahmu.
Astaga!
Sejak kapan kau duduk di sana?
- Bagaimana dengan kedai? - Tutup untuk hari ini.
Tidak seperti biasanya, ada apa?
Hei, Cho Gang-hwa!
Ya? Ada apa? Katakan saja.
Dasar....
Lepaskan itu.
Apa kau tahu Min-jeong...
Lupakan.
Untuk apa kukatakan kepadamu?
- Dasar kau... - Jangan tambah masalahnya.
Dia sudah banyak pikiran.
Terserah. Aku tak peduli lagi.
Antar dia pulang.
Dia bisa membeku karena dingin.
Kenapa bukan kau saja yang mengantarnya pulang?
Baiklah. Pergi sana.
Astaga.
Mereka sungguh menjengkelkan.
Kau tak perlu memaksakan diri.
Sudah kubilang jangan memaksakan atau menekan dirimu sendiri.
Kau bukan orang seperti itu.
Memangnya aku...
orang seperti apa?
Pulanglah.
Kau bisa membeku di cuaca ini.
Berandal itu.
Dasar...
Apa maksudmu? "Memaksakan diri"?
Karena dia bersikap begitu,
pendampingnya merasa kesepian.
Min-jeong kesepian? Kenapa? Dia baik dengannya.
Coba pilih. Yu-ri atau Min-jeong?
Omong kosong apa ini? Ini seperti pilih Ayah atau Ibu!
Aku pilih Yu-ri. Sudah pasti dia.
DICARI PENGASUH PENJEMPUT IBUNYA SEO-WOO
Pasti sulit bekerja sebagai asisten dapur di TK,
tapi kau juga mau menjadi penjemput Seo-woo?
Ya.
Pekerjaan dapur sudah selesai sebelum kelas TK usai,
aku bisa menunggu dan menjemput Seo-woo.
Dibandingkan dengan orang lain, aku pikir akan lebih baik
jika aku yang melakukannya.
Bagaimana aku bisa tahu?
Kita tidak saling mengenal.
Benar.
Benar juga.
Apa kau melakukan kesalahan di luar sepengetahuanku?
Apa?
Kemarin di kedai pun begitu,
kau terus menghindari tatapan mataku.
Kau seperti merasa bersalah.
Apa aku seperti itu?
Aku tidak menyadarinya.
Maafkan aku.
Itu...
Dahimu, aku...
yang melukainya, bukan?
Aku sudah ingat semuanya.
Aku tidak apa-apa.
Walaupun suaranya cukup keras, tapi dahiku sangat kuat,
jadi, tidak terasa sakit.
Lukamu lebih parah dariku. Kau punya dua luka.
Pasti sakit sekali.
Seo-woo.
Kau suka bibi itu?
Ya. Aku suka bibi cantik.
Kau tak pernah tersenyum begitu kepada ibu.
Ibu sedikit kecewa.
Aku lebih suka ibu.
Kau selalu mengeringkan rambut di dalam kamar mandi.
Jika tidak, rambut yang rontok akan berserakan.
Kau tak perlu membuat jus sayur. Itu merepotkanmu.
Seo-woo sudah bangun? Mau mandi?
Tak perlu. Aku saja yang mengurusnya.
Bagus. Ayo kita pergi mandi.
Gang-hwa.
Ada yang ingin aku bicarakan.
Kenapa? Ada masalah apa?
Karena Seo-woo agak berbeda, aku disarankan memeriksanya.
Ini hasil pemeriksaannya.
PENILAIAN PSIKOLOGIS
PRESTASI AKADEMIS DI BAWAH RATA-RATA
Sepertinya ada beberapa masalah.
Tak apa, Min-jeong. Lembaga seperti ini selalu melebih-lebihkan masalah.
Kau tak perlu cemas.
Anak tumbuh dengan berbagai cara. Ada yang cepat dan lambat.
Tidak perlu cemas.
Baiklah.
Aku berencana kembali bekerja,
jadi, aku mencari bibi pengasuh lagi.
Benar. Itu jauh lebih praktis.
Kau ingat asisten dapur yang bekerja di TK Seo-woo?
Bagaimana dengan dia?
- Siapa? - Asisten dapur yang masih muda.
Dia ingin mengasuh Seo-woo.
Begitu?
Apa kau menerimanya?
Kubilang akan kupertimbangkan.
Apa pendapatmu?
Itu...
Ya... Apa pendapatmu?
Aku pertimbangkan.
Begitu. Baiklah.
Terserah kau saja.
Karena arwah-arwah ini, aku jadi sulit tidur.
Waktumu sempit. Untuk apa tidur? Buang-buang waktu saja.
Jika terlalu lama berpikir, kita bisa dapat urutan terakhir,
jadi, minta sekarang saja.
Untuk apa kalian bersembunyi?
- Benar. - Aku berniat keluar.
Setelah kau pergi,
rumah duka menjadi sangat sunyi.
Bagaimana aku bisa memutuskan satu permintaan saja?
Mereka semua sedang menderita
karena kau hanya mengabulkan
satu permintaan mereka saja.
Itu Pil-seung!
Dia bukan pengangguran?
Anakku seorang pilot!
Lihat seragamnya. Bukankah keren?
Ayo pergi.
Selamat datang.
Apa ini kandang babi?
Aku tak mau. Aku tak sanggup!
- Tunggu. - Tunggu! Kumohon!
Permintaan juga ada batasnya.
Kalian memintaku membersihkan kandang babi ini?
Aku mengabulkan permintaan, bukan menjadi babu!
Kalian sudah gila.
Kau sangat keterlaluan.
- Kenapa? - Teganya
kau menyebut anakku seekor babi!
Kenapa tiba-tiba menangis?
Teganya kau menyebutnya babi!
Kenapa dia tega menyebutnya babi? Keterlaluan!
Kapan aku menyebutnya babi? Itu hanya perumpamaan.
- Kenapa tega... - Keterlaluan!
Kata-katamu sangat menyakitkan.
- Halo. - Halo.
Hai, Seo-woo. Biar kubawakan.
Ayo, lepaskan sepatumu.
Seo-woo, bisa beri salam kepada bibi asisten dapur juga?
- Halo. - Halo.
Kau sangat sopan.
Sepertinya bibi asisten dapur yang masih muda belum sampai.
Dia cuti setengah hari.
Ada perlu dengannya?
Tidak ada. Aku pamit pergi. Seo-woo sampai jumpa nanti.
Hati-hati di jalan.
Ayah.
KIM PAN-SEOK
Aku datang dengan Ibu.
Kau baik-baik saja?
Kakak akan datang saat akhir pekan.
Kenapa kalian datang lagi? Lakukan saja pekerjaan kalian.
Kenapa membawa banyak sekali? Pasti merepotkan.
Kalian benar-benar...
Kau pasti senang.
Apa pun yang terjadi, orang miskin tetap terlihat miskin.
Pimpinan, kau sudah bangun?
Apa? Mereka membawa buah seperti itu?
Buah yang sudah kering seperti itu?
Anjing di rumahku saja tak akan menyentuhnya.
Benar. Walaupun begitu, mereka sudah berusaha.
Sialan.
Apa itu?
Karena abumu di sebelahku, abuku menjadi terlihat murah.
Uang sepuluh ribu won yang ada di sana,
singkirkan saja!
Apa itu? Norak sekali.
Kenapa? Karena kau tak bisa menghasilkan banyak uang saat hidup,
sekarang ingin hasilkan banyak uang?
Anakmu benar-benar sangat berbakti.
Karena aku miskin saat masih hidup,
mereka ingin aku berkecukupan sekarang.
Setelah membunuh orang tak bersalah,
mereka mau kau istirahat dengan tenang?
Bukan begitu, Pimpinan. Maafkan aku.
Astaga. Tua bangka itu mulai lagi.
Mereka meninggal di waktu yang sama,
seharusnya mereka saling pengertian.
Dia selalu merendahkan sopirnya.
Setelah mati pun, tua bangka itu masih berpikir dia sopirnya.
Dia meninggal karena mobil yang dikendarai paman itu.
PLAKAT PENGHARGAAN
Aku memaklumi perasaannya.
BAEK SAM-DONG
- Sampai jumpa lagi. - Ya.
- Berhat-hatilah dengan air. - Ya.
Dasar arwah muda ini! Kau tidak bisa melihat apa pun?
Tidak terlihat.
Apa aku harus bisa melihat masa depan?
Bukan begitu. Jika kau perhatikan ada warna di belakangnya. Seperti aura.
Jika berwarna ungu, artinya depresi atau kemiskinan.
Jika berwarna merah darah, pasti suaminya berselingkuh.
Kau harus menebak seperti ini.
Sungguh sial. Gara-gara kau, aku tak dapat apa-apa hari ini.
Sial. Lihat ini. Hanya dapat segini.
Sial.
Jangan sentuh itu!
Kau tak menghasilkan. Jangan harap bisa makan!
Muntahkan lagi!
Permisi?
Selamat datang.
- Coba lihatlah dengan baik. - Aku tak bisa melihatnya.
Dokter Gye?
Pertemuan selanjutnya, tolong gunakan jam itu lagi.
Ya!
Kau benar!
Bagaimana kau bisa tahu?
Karena depresi, aku diminta periksa,
dia dokter yang mengurusku.
Jubah putih? Kau berurusan dengan mental?
Seperti depresi? Atau penyakit kejiwaan lainnya.
Benar.
Benar sekali.
Kau benar-benar hebat.
Bu.
Temanku...
Bayar biayanya di muka.
Kau harus menghormati arwah di sini.
Siapa?
- Ada siapa di sini? - Dokter Gye. Ini aku.
Hanya aku yang melihat.
Kau tak boleh melihat, bisa digentayangi.
Digentayangi?
Bagus. Tambah lagi.
Apa yang ingin kau tanyakan?
Temanku yang telah meninggal, hidup kembali.
- Apa? - Dia meninggal lima tahun lalu,
abunya di rumah duka ini, tapi dia hidup kembali.
Apa masuk akal?
Cha Yu-ri! Dia sedang membicarakan Yu-ri.
Mungkin saja terjadi.
Kadang terjadi.
Mungkin terjadi? Terkadang?
Orang yang telah meninggal terkadang hidup kembali?
Tentu saja. Semua orang pasti punya satu teman yang hidup kembali.
- Kau juga ada, bukan? - Apa?
- Ya. - Aku juga ada.
- Semuanya punya. - Benar juga.
Tapi...
Jangan mendatangi dukun lain
dan menanyakan hal seperti itu.
Baik.
Itu konyol.
Tidak. Jangan permalukan diri sendiri.
Gara-gara biang onar, Cha Yu-ri, bisa-bisa aku mati sebelum ajal.
Tapi, apa benar dia dokter? Bodoh sekali.
Sial.
Siapa namanya? Bong? Bin? Ke mana perginya arwah itu?
Apa-apaan ini?
Bibi yang pernah bekerja di sini tak pernah bertahan lebih dari sepekan.
- Mereka tidak sabar. - Sepekan?
Aku bahkan berhenti di hari pertama.
Ini sepertinya sudah lama sekali. Bagaimana bisa tidak busuk?
- Tidak ada serangga juga? - Tentu saja.
- Kau tak kenal siapa kami? - Ayolah.
Kalian benar-benar menakjubkan.
Kalian harus biarkan, atau dia tak akan berubah.
Tidak boleh. Dia menderita atopi. Berbahaya jika muncul serangga.
Meskipun begitu, aku bahagia masih bisa berguna untuknya.
Aku tak berharap punya 49 hari sepertimu.
Sehari saja.
Aku ingin sehari saja menjadi manusia.
Tidak ada yang bisa kulakukan saat anakku tumbuh besar.
Aku ingin membuatkan makanan sekali saja.
Putraku, Pil-seung,
dia tak pernah merasakan masakan rumahan.
Selama 20 tahun, dia tak pernah menyantap masakan rumahan.
Bagi orang lain, itu mungkin biasa saja,
tapi berbeda untuk anakku.
TAHUN 1999
Bukan main. Gurumu terus memujimu.
Bagus sekali. Putriku memang hebat. Ayah bangga.
- Ayah. - Ya?
Apakah Ayah tahu bahwa Ibu yang tercantik di sekolahku?
Tentu saja, dia yang tercantik.
Apa kau tahu? Karena acara sekolah hari ini,
ibumu sampai mencoba banyak baju.
Dia hampir mencoba seribu baju.
Cepatlah, Pil-seung pulang sebentar lagi.
Dasar kau ini.
Ibumu lucu sekali.
Itu Pil-seung.
Aku memintanya menunggu di sana.
Lihatlah, dia benar-benar tak bergerak sedikit pun.
Anak yang penurut.
Ayo pergi.
Ibu.
Pergi.
Anakku.
Pergi.
Ada apa dengan tatapanmu?
Tak perlu merasa kasihan. Kita sama saja.
Benar juga. Mana ada arwah yang tidak menyedihkan.
Walaupun begitu,
kau bisa menyentuh anakmu.
Beruntung sekali.
Selain itu, aku tidak iri sama sekali.
Jika disuruh memilih
menjadi manusia selama 49 hari lalu reinkarnasi,
atau melihat putraku selamanya, aku memilih yang terakhir.
Aku ingin melihat anakku menikah dan menjadi ayah.
Aku ingin melihatnya selamanya.
Cukup mengobrolnya. Kau tidak mau membersihkan ini?
Dokter Cho.
- Ya? - Kau bisa tersedak.
Ada apa denganmu hari ini?
Dokter Gye juga terlihat aneh hari ini.
Teman-teman.
Coba dengarkan.
Apa kalian juga
punya kenalan yang sudah meninggal dan hidup kembali?
- Apa? - Apa?
Seperti Yesus?
Kau bilang apa, bedebah gila?
Tidak, kudengar itu kadang terjadi.
Hal seperti itu kadang terjadi.
Kata siapa?
Hentikan, bedebah gila.
Kata dukun.
Dukun yang sangat hebat.
Aku ke dukun lain karena dukun langgananku sudah tak kuat seperti sedia kala.
Tapi dukun itu
sangat hebat sekali.
Dia menebak semuanya. Mau coba?
- Aku ini anak pendeta. - Benar juga.
Kalian mau coba?
- Aku pergi. - Dah.
Sampai jumpa.
Silakan.
Astaga. Mereka tidak tahu apa-apa.
Dukun itu benar-benar hebat. Kau tidak mau coba?
Yu-ri mau menjadi pengasuh Seo-woo.
Begitu.
Apa?
Apa? Sungguh...
Bibi pengasuh?
Dia harus mengasuh Seo-woo di rumah
sampai kau atau Min-jeong pulang?
Sungguh? Dia akan di rumah, tempat tinggalmu dan Min-jeong?
Ya.
Yu-ri...
Dia...
Seharusnya dia katakan semuanya kepada Min-jeong.
Jika tidak, ini hanya membuat cemas orang-orang di sekitarnya.
Ini tidak boleh terjadi.
Tentu saja.
Dia pasti merindukan Seo-woo, dan ingin melihatnya.
Dia bisa melihat sepuasnya di TK.
Kenapa harus menjadi pengasuh? Untuk apa?
Hantu penunggu?
Ada hantu penunggu di sana?
Ya.
Saat menjadi arwah, aku mengusirnya beberapa kali.
Sepertinya masih di sana.
Lalu, kau ingin menjadi bibi pengasuh untuk mengusir hantu?
Aku sudah menyingkirkan semua hantu di TK.
Aku tak bisa mengusir hantu penunggu itu karena tak bisa masuk ke dalam rumah.
Benar juga. Dia lebih banyak di rumah,
jika ada hantu di rumahnya, usahamu akan sia-sia.
Aku punya pendapat lain. Tunggu. Aku mendengar ceritamu sebagai pria.
Aku mencoba membayangkan situasi ini untuk membantumu.
Jika kau lakukan ini, kau hanya menyiksa suamimu.
Dengar. Dia sudah punya istri baru.
Mendadak istri lamanya datang dan ingin masuk ke dalam rumah.
Seandainya aku mengalami itu, aku pasti gila.
Aku tahu. Aku terus berpikir karena itu.
Aku harus bagaimana? Hanya aku yang bisa melindungi Seo-woo.
Jangan beromong kosong.
Abaikan. Kau tak bisa memedulikan orang lain.
- Jika dibiarkan, dia bisa kerasukan. - Benar.
Ya. Kau ada benarnya.
Apa?
Halo?
Aku seharusnya libur. Aku salah melihat jadwal dan berangkat kerja. Ya.
Kuhubungi lagi nanti.
Ada apa ini?
Kenapa sangat bersih?
Sial. Dasar keluarga arwah itu.
Aku tak mau membantu kalian lagi.
Paman, kami datang. Ibuku juga di sini.
Kau baik-baik saja?
Baik.
Astaga. Kau datang, Kak.
Aku tahu kau sedang sakit. Kenapa repot-repot ke sini?
Astaga.
Astaga.
Periksa anak itu.
Kau tidak boleh bermain di sini.
Tidak apa-apa.
Astaga. Jin-gyeong, kau sudah besar.
Cukup!
Kau menyewa rumah duka ini?
Maaf, Pak. Kakakku datang hari ini.
Hanya keluargamu yang berkunjung lama,
padahal tempatmu paling murah, tapi paling banyak dikunjungi.
Harus ada aturan jumlah pengunjung sesuai dengan harga tempat abu.
Kalian setuju? Benar?
Omong kosong macam apa itu?
Apa?
Apa yang dikatakan wanita tua itu?
Apa? "Wanita tua"?
Kau berani menyebutku wanita tua, dasar tua bangka?
Orang miskin memang selalu mudah marah.
Kau memang wanita tua. Memangnya harus dipanggil apa?
Apa? Kau...
Hei!
Apa yang kau katakan kepada temanku?
Kenapa wanita ini ikut campur?
"Wanita ini"?
Lihatlah ini.
Kau hanya arwah muda, bahkan mengunyahmu tak ada gunanya.
Apa yang sudah kau makan sampai punya ego sebesar ini?
Haruskah kucongkel matamu dan kusentil dengan jariku?
Atau perlukah kutarik ususmu dan kujadikan lompat tali?
Bahkan darah di kepalamu masih basah. Kau hanya arwah bau kencur.
Hei!
Jika dihitung dari berapa kali kita memakai toilet,
angkaku lebih tinggi darimu.
Dasar bedebah.
Apa kalian tahu siapa aku?
Kau adalah arwah.
Kau sudah meninggal, bukan pimpinan lagi.
Bisakah kau menggunakan kekayaanmu yang berlimpah itu?
Hidup kita sama saja.
Apa? Aku adalah orang yang menyelamatkan ekonomi negara ini.
Aku adalah orang yang diakui oleh dunia.
Aku meninggalkan kekayaan yang luar biasa, tapi pria ini hanya meninggalkan utangnya!
Apa? Kau bilang hidupku sama dengannya?
Tentu saja, Pak. Mana mungkin hidupmu sama denganku.
Tolong tenanglah.
Hidup siapa yang sedang kau bicarakan?
Asal tahu saja.
Siapa yang bisa menjamin hidup Raja Sejong lebih berharga daripada Pak Kim?
Siapa yang bisa menilai bahwa Pak Kim tidak sederajat dengan Sultan?
Nilai saja hidupmu sendiri.
Lupakan dunia dan materinya.
Untuk apa hidupmu diakui oleh dunia?
Pak Kim, luruskan pundakmu!
Kekayaan yang kutinggalkan sangat banyak.
Berapa jumlah kekayaanku?
Satu triliun won?
Benar. Kekayaanku hingga triliunan won.
Astaga. Benarkah begitu, Pimpinan? Maafkan aku tidak mengenalimu.
Kalau begitu, silakan kembali ke altarmu yang luas itu.
Kenapa kau tidak masuk ke dalamnya?
Untuk apa punya banyak uang?
Apa? Tunggu. Ke mana kalian? Urusan kita belum selesai.
Cepat kembali ke sini!
- Pimpinan. Tolong tenang. - Kembali!
- Tenanglah, Pimpinan. - Kembali!
- Tenang. - Kembali!
PERINGATAN TUNGGAKAN BIAYA SEWA PIHAK KELUARGA TIDAK BISA DIHUBUNGI
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Bibi, apa bisa dihubungi?
Tidak diangkat.
Dia baru saja bekerja,
kenapa tidak masuk tanpa kabar?
Astaga. Bukan main.
BIBI ASISTEN DAPUR
Bukankah enak?
Astaga, benar-benar enak.
Ibu merasa bersalah
melihatmu makan selahap ini.
Kenapa? Ada apa denganmu?
Walaupun tegar seperti ini, dia pasti membenci kita.
Dia hidup sendiri di dunia yang kejam ini.
Kasihan sekali anakku.
Aku yakin bocah berandal ini bisa melihat kita. Aku yakin.
Kau yang berandal. Jangan bicara begitu ke adikmu.
Aduh, kenyang sekali. Enak sekali.
Aku tidak bisa bernapas.
Nak, bereskan setelah makan.
Bereskan dahulu. Mau ke mana?
- Hei! - Kau mau ke mana?
- Mau ke mana? - Tidak boleh.
- Jangan masuk! - Jangan masuk ke sana!
Mau ke mana? Kau telanjang!
Apa? Kenapa dia melepas bajunya?
Ayo mandi.
Dia akan mandi. Kita keluar saat dia masuk kamar mandi.
Nak, aku tahu kenapa kau suka becermin. Kau memang mirip denganku.
Bisakah kau cepat masuk?
- Yu-ri bisa tertidur di sana. - Tenang, dia akan segera masuk.
Dia pergi mandi.
Yu-ri! Keluar sekarang!
Sekarang! Keluar sekarang!
Sekarang. Cepat keluar.
Cepat sembunyi lagi!
- Sembunyi! Cepat! - Apa? Kenapa?
- Cepat sembunyi! - Sial.
Apa yang terjadi?
Kenapa? Ada apa lagi?
Jantungku! Kau membuatku terkejut!
Ini kotor. Kenapa di sini?
Memangnya kenapa? Kau yang menyimpannya di sana.
Astaga. Kau benar-benar jorok.
Bagus. Masih bersih.
Ada apa lagi? Cepat mandi.
Ibu! Ayah!
- Ada apa? - Apa?
Ini. Lihat ini.
Anakku, kau salah. Letakkan itu. Jangan begini.
Gawat sekali.
Nak, letakkan barang berbahaya itu.
Apa yang kau lakukan?
Ada apa? Apa yang terjadi?
- Tidak! Jangan! - Jangan lakukan itu!
Tahan pintunya! Pintunya!
- Tahan pintunya! - Pintunya!
- Tahan! - Cepat!
Kenapa kau di sini?
Tidak apa, Min-jeong. Tak perlu cemas.
Bukan masalah besar. Jangan khawatir.
Kenapa semuanya salahku?
Kau saja yang mengurus rumah dan mengasuh anak!
Aku tutup teleponnya!
Suamiku juga begitu.
Seharusnya mereka saja yang mengasuh anak.
Aku mengerti mereka kecewa, tapi perkataannya sangat keterlaluan.
Apa salahnya bilang tak apa-apa?
Benar.
Dia pikir aku tidak sedih?
Benar?
Ya?
Ya.
Kenapa mengambil cuti?
Ya, aku hanya...
Istriku terlihat lelah, aku ingin membantunya.
Bukankah lebih baik ayah yang membantu dibanding bibi pengasuh?
Tidak ada yang pernah meminta cuti saat sedang menerima hukuman.
Kau seperti minta dipecat.
Dipecat? Benar juga. Tidak ada cara lain?
- Ya. - Ya.
Ada apa?
Kau mau mengasuh Seo-woo?
Astaga, pikiranmu terlalu lugu.
Kalian pulanglah.
Jika datang untuk membersihkan rumah, kau bisa pergi setelahnya.
Kenapa sembunyi di lemari, Bu?
Jangan panggil aku "Bu".
Kalau begitu, Bibi.
Dunia memang sempit.
Kenapa kau membersihkan rumahku di antara semua rumah?
Kau juga terus mimisan.
Ini semua salahmu!
Aku memasak untukmu, tapi dibalas dengan pukulan.
Benar. Seharusnya bilang dari awal kalau dia tukang bersih rumah.
Kenapa menyuruhnya sembunyi?
Siapa mengira Pil-seung percaya itu?
- Tidak tahu. - Tidak tahu.
Aku juga tidak tahu.
Maafkan kami, Yu-ri. Pasti sakit.
Maaf.
Apa? Apa yang kau lihat? Ada apa di sana?
Aku pergi karena urusanku sudah selesai.
- Hei! - Mau pergi ke mana?
Hiduplah dengan bersih! Dasar jorok.
- Hei. - Apa? Mau apa lagi?
Itu...
Apa kau akan datang lagi?
Aku akan bilang pemilik apartemen untuk menaikkan bayaranmu.
Kau suka masakanku rupanya.
Aku tak memasaknya.
Madu.
- Madu? - Ya. Madu.
Tambahkan lagi.
Pil-seung sangat suka rasa manis yang dihasilkan oleh madu.
Lagi dan lagi!
Haluskan. Lebih halus lagi. Dia tidak suka bawang bombai.
Pelan-pelan. Aduk yang rata.
Jangan terlalu kasar mengaduknya.
Sekarang! Balik sekarang juga!
Cepat!
Anakku.
Apa kau membelinya?
Ada kedai yang menjual panekuk?
Aku sudah cari, tapi tak ketemu.
Aku tidak bisa bilang apa-apa.
Baguslah kau suka makanannya.
Tunggu. Hei.
Makanannya biasa saja!
Astaga. Menyebalkan.
Jangan ikuti aku!
Sebelum aku memberi tahu anakmu
bahwa kau yang memasak untuknya.
Jangan!
- Dia akan ketakutan. Tidak boleh! - Jangan.
- Kami akan pergi. - Kau gila.
- Ya. - Kami akan pergi.
- Kami pergi. Dah. - Dah.
- Ayo pergi. - Ayo.
Astaga. Keluarga menjengkelkan.
Astaga.
Kalian terobsesi dengan anak kalian. Kenapa diam saja di rumah?
Jika aku, pasti kuikuti ke mana pun.
Anakku seorang pilot. Dia mengemudikan pesawat.
- Lalu? - Bagaimana jika kami dipanggil naik
karena mengikutinya terbang di pesawat?
Keluar stratosfer itu berbahaya. Itu aturan kami.
Sekian banyak pekerjaan, kenapa dia harus menjadi pilot?
Membuat kita takut saja.
Benar. Andai saja nilainya bagus, dia pasti sudah menjadi
- dokter, hakim, atau pengacara. - Benar.
Dia bisa bekerja di darat.
Benar. Aku juga berharap seperti itu.
- Dasar penakut. - Benar.
KARENA KELUARGAKU YANG TERKASIH SUDAH TIDAK ADA DI DUNIA INI,
AKU AKAN TERBANG MENUJU MEREKA
Lucu sekali!
Dari mana saja? Kenapa...
Kenapa hidungmu? Kau terluka?
Tidak apa-apa.
Aku ada janji dengan orang.
Ya.
Apa saja yang kau lakukan sampai jam segini belum makan?
Itu...
Ada yang minta bantuanku, jadi, aku menolongnya.
Hidungmu. Kenapa bisa mimisan?
Ini? Sepertinya aku kelelahan. Aku baik-baik saja.
Kau kelelahan sampai mimisan, kenapa masih mau...
Lupakan. Makan saja.
Kenapa tidak makan?
Aku akan makan. Kau makanlah.
Bibi pengasuh?
Ya.
Gang-hwa sungguh kehilangan akal sehat.
Kenapa dia melakukan itu?
Sebenarnya, Hyeon-jeong,
aku bahagia melihat Yu-ri hidup kembali...
Aku benar-benar bahagia.
Tapi, dia seharusnya cerita semuanya, lalu kembali hidup seperti semula.
Meskipun harus berkelahi untuk merebutkan Seo-woo pun,
Min-jeong harus tau kebenarannya.
Yu-ri tidak ada niat untuk kembali dengan Gang-hwa,
atau menjadi ibunya Seo-woo.
Apa?
Lalu, kenapa mau menjadi bibi pengasuh?
- Gang-hwa. - Ya.
Kau tak perlu mencemaskanku.
Aku tak apa-apa. Urus saja pekerjaanmu.
Aku sangat sibuk setiap hari.
Kau tak perlu repot-repot.
Sampai kapan?
Apa?
Sampai kapan aku harus diam?
Bukankah kau merindukan ibumu dan anakmu?
Kau pasti merindukan ibumu dan Seo-woo.
Kenapa kau selalu melihat mereka dengan sembunyi-sembunyi?
Ayo ceritakan semua ke ibumu, dan Min-jeong.
Mereka pasti terkejut saat tahu kebenarannya.
Semua pasti gempar, tapi...
Tetap saja, Yu-ri,
pasti ada jalan keluarnya.
Kau pasti sudah tahu soal aku yang ingin
menjadi bibi pengasuh.
Ya.
Dia hanya ingin menemani anaknya.
Bisakah
kau biarkan dia?
Hyeon-jeong.
Jika Yu-ri sampai menjadi bibi pengasuh,
Gang-hwa akan mati karena stres, coba pikirkan.
Dia tinggal dengan istrinya. Yu-ri tak seharusnya di sana.
Pria gila mana yang begitu? Mustahil.
Apa aku bisa
menjadi pengasuh Seo-woo?
Aku harus melakukannya.
Maafkan aku, Seo-woo.
Jangan menangis.
Maafkan ibu.
Maafkan ibu.
Ya. Silakan saja.
Kau bisa melakukannya.
Hei. Setelah dipikir-pikir, kau sangat keterlaluan.
Kau hanya memikirkan temanmu saja? Bagaimana dengan Yu-ri?
Apa aku begitu?
Kenapa aku begitu?
Bukan begitu.
Karena aku juga seorang pria,
aku lebih bisa memahami posisi Gang-hwa, itu saja.
Yu-ri...
Tentu saja, aku kasihan dengannya.
Bibi meneleponku.
Dari Sang-dong?
Bibi!
Kenapa tak mengangkat teleponku?
Bibi tadi sangat sibuk
berusaha menangkap hantu perawan.
Ada apa?
Bu Mi-dong? Aku tidak tahu.
Tidak semua dukun saling kenal.
- Kenapa? Dia hebat? - Sangat hebat.
Dia bahkan tahu aku seorang neuropsikiatri.
Dia memang hebat. Tak ada yang mengira kau seorang neuropsikiatri.
Kalau pasien, itu mungkin.
Memangnya dia tinggal di mana?
Rumah duka?
BU MI-DONG
Sudah kubilang jangan temui dukun lain.
Energimu sangat bagus untuk menarik arwah.
Suruh arwah itu menggentayangiku!
Hyeon-jeong lebih kuat dari mereka! Aku tidak takut.
Dia pasti akan menjambak arwah wanita,
dan menikahi arwah lelaki.
- Kau! - Lihat ini!
Kenapa para arwah diam saja dan tidak menangkapnya?
Kau pantas mati!
Aku kedinginan karena kehabisan bensin.
Jangan bilang ibumu, dan kirim 100...
- Bukan. Kirimkan 200.000 won. - Tunggu.
Bibi, kirim nomor rekeningmu.
Aku menyayangimu.
Bu Mi-dong.
Jadi,
dia lebih hebat dariku?
Kabar terbaru dari Grup MI, perusahaan yang memulai banyak skandal
sejak kematian Pimpinan Sam-dong.
Anak-anak dari Pimpinan Sam-dong dan saudara kandungnya
saling berdebat dan memfitnah selama rapat pemegang saham.
Lagi-lagi karena masalah pembagian saham
- yang ditinggalkan Pimpinan Sam-dong. - Keluarga kacau itu berulah lagi.
Untuk apa meninggalkan kekayaan sebanyak itu?
- Anak dan saudaranya berperang. - Perang kembali meletus
- karena pembagian warisan. - Hidupnya sia-sia.
Benar. Walaupun hidup berkelimpahan,
aku tidak ingin hidup seperti dia.
Apa katamu?
Dasar kaum rendahan.
Astaga.
- Ayo. - Berikut insidennya,
putra sulung menyeleweng kuasa,
putra kedua korupsi rekrutmen,
dan putri bungsunya melakukan tindak kekerasan kepada karyawan.
Mereka terus mendapatkan kritik dari masyarakat,
dan sekarang sedang diperiksa polisi.
Besok, putra sulungnya, Wakil Pimpinan Ji-hyun
akan diadili di pengadilan.
PERINGATAN TUNGGAKAN BIAYA SEWA PIHAK KELUARGA TIDAK BISA DIHUBUNGI
Hujan.
Ya, syukurlah dekat dengan rumah.
Terima kasih sudah membantuku.
Saat kembali bekerja, kutraktir kau.
Ya.
Apa? Hujan?
Aku tidak membawa payung.
Ini hujan dengan debu halus. Tidak baik terkena hujannya.
Begitu.
Ayo pergi bersama.
Itu...
Aku mau ke arah situ.
Payung ini juga sebenarnya besar.
Mau gunakan payung ini bersama?
Kalau begitu, mau berbagi denganku?
Hujannya deras sekali.
Haruskah aku membeli payung?
Min-jeong, ponselmu sibuk. Kau tak bawa payung, 'kan?
Mau kujemput?
Apa ini? Apa...
Kau kenapa?
Kau pergi sejauh mana?
Apa? Aku...
- Bukankah ke apartemen itu? - Ya.
Boleh aku ikut sampai sana?
Hujannya takkan lama. Sayang jika harus beli payung.
Benar?
Ya, kau tak mau keluarkan uang.
Apa kau tinggal di sana juga?
Tidak. Dari sana aku akan menumpang dengan orang lain.
Berpindah-pindah hingga sampai rumah.
"Berpindah".
Baiklah. Ayo pergi.
Ayo pergi.
Apa kau selalu memedulikan orang lain?
Tidak. Aku sangat cuek.
Tidak. Dari awal, kau selalu peduli dengan orang lain.
Aku hanya peduli denganmu...
Apa ibu-ibu lain di TK bilang
aku sombong, dan menyebutku Oh Man-jeong?
Kau tahu?
Bahwa aku sombong?
Bukan. Soal julukanmu, Oh Man-jeong.
Tentu saja. Aku disebut Oh Man-jeong karena hanya bisa merusak suasana.
Sungguh kekanak-kanakan.
Tak apa. Aku tak peduli soal itu.
Mereka sangat kejam.
Ya.
Katanya kau tak peduli?
Ya, aku tak membiarkan itu memengaruhi pikiranku.
Kau terus membohongi dirimu sendiri.
Wajar saja terpikirkan saat orang lain menghinamu.
Semua orang pasti membela diri.
Jangan diam saja saat disakiti orang lain.
- Begitu? - Tentu saja!
Dewa saja marah saat dihina.
Haruskah kita hadapi, lalu hajar mereka?
Tak perlu, aku tak berminat.
Kau terlalu baik.
Hanya kau yang mengatakan aku baik.
Kau tidak pintar menilai orang.
Astaga. Aku juga baru kali ini dihina setelah memuji orang.
Sejak tadi, pundakku terkena hujan.
Aku juga kehujanan di bagian sini!
Katamu payung ini besar, padahal kecil.
Geser sedikit untukku...
Ini payungku!
Aku ternyata salah. Kau tidak baik.
Jika kau salah, geser sedikit...
Kau tidak lihat pundakku basah kuyup?
TAHUN 2013
Kau mau mati?
Tak ada yang mau mati di dunia ini.
Kau pasti bercanda.
Sudah kuingatkan untuk mengemasnya bahkan sampai mulutku berbusa.
Bukan begitu. Aku...
Jangan bilang karena menonton drama, kau tidak mendengarkanku?
Kau juga tahu persis,
kemarin itu episode terakhir Reply 1994.
Aku penasaran siapa suaminya Na-jeong.
Padahal itu sehari sebelum kita berangkat berkemah.
Padahal banyak yang harus disiapkan.
Kenapa episode terakhirnya harus tayang kemarin?
Semua gara-gara drama itu.
- Benar? - Astaga.
Dasar bodoh.
Omong kosong apa ini?
Tanpa aku, kau sudah mati di sini.
Hyeon-jeong, ada penghangat tubuh?
Tak ada. Bajingan ini membawa barang hanya untuk pamer.
Dia tak membawa penghangat tubuh. Dingin sekali.
Berhenti mengambil foto!
Dingin! Bagaimana bisa tidur tanpa penghangat?
Kita punya.
Ada di sini. Manusia penghangat tubuh.
Ayo, sini. Tidur sambil berpelukan, tak akan dingin.
- Ayo tidur. - Astaga.
- Astaga. - Tidak.
Ayo tidur. Hangat sekali. Tidak dingin sama sekali.
Aku kedinginan dan kelaparan!
Kedinginan dan kelaparan? Seperti gelandangan saja.
Tidurlah gelandanganku
Tidurlah
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Tidak ada bunga di dunia ini yang mekar tanpa arti.
Di tempatku mekar dan gugur,
bungaku yang lain sedang bermekaran.
Kau mengizinkannya? Lalu kau bagaimana?
- Pergi ke Sri Lanka? - Panggil.
- Takkan datang. - Kau benar. Itu karena aku di sini.
Kenapa tidak? Dia mau bercerai?
Anakmu tidak bisa reinkarnasi karena masih memikirkanmu.
Dia pikir ibunya sekarang adalah ibunya. Bagaimana jika dia tahu?
Tapi aku sangat merindukannya!
Hidupmu bukan hanya milikmu,
tapi juga kedua orang tuamu.
Yu-ri.
Aku sendiri putus asa!
Seo-woo sakit karena aku.
Aku hanya ingin Seo-woo sehat.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.