All language subtitles for Hi Bye Mama.E06.NEXT.NF

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF

Follow My IG @sultan_khilaf_sub

CHA YU-RI

Kau kehilangan hartamu?

Berhenti menangis!

Aku tidak bisa tidur karenamu.

Orang baru seharusnya membagikan kue beras. Kenapa menangis?

Melihatmu ketakutan. Kau pasti kaget.

Kau pasti tak mengerti apa yang telah terjadi, dan ketakutan.

Bukan itu saja. Dia pasti tidak bisa menerima ini.

Kau masih sangat muda,

pasti tak menyangka akan menjadi arwah sebelum usia 40 tahun.

Aku sangat mengerti perasaanmu.

Tidak terima, takut,

sedih hingga meneteskan air mata.

Benar?

Suamiku hanya terus menangis.

Aku harus bagaimana?

Kasihan sekali ibuku.

Kematian adalah akhir dari waktu yang diberikan oleh Dewa

untuk menikmati hidup kita sebaik mungkin, lalu pergi meninggalkan dunia ini.

PARK HYE-JIN

Hye-jin...

Hye-jin...

Maafkan ibu.

Maaf...

Anakku yang malang.

JEONG GWI-SUN

Kau seharusnya di rumah sakit.

Kau sakit. Kenapa kemari?

Anakku...

Tapi, aku menyadari sesuatu setelah meninggal.

Kenyataan bahwa hidupku bukan sepenuhnya milikku saja.

EPISODE 6: BAHKAN SAAT SEKARAT, KELUARGAKU TETAP NOMOR SATU

Kau sedang bercanda? Ini berapa...

Sepertinya lumayan.

Kau saja yang lakukan.

Apa dia membayar uang sewa?

Sampai begitu...

- Apa harus sampai begitu? - Kau membencinya.

- Dia terlihat terkejut. - Bukan begitu.

Selamat datang.

Ada yang bisa kubantu, Min-jeong?

Itu...

Soju... Bukan, pesan segelas bir.

Baiklah.

Kalori bir sangat besar saat diminum malam hari.

Baiklah.

Ayo pergi.

Seo-woo, apa hari ini senang?

Ya.

Aku mau itu...

Ayo kita makan. Pasti lapar.

Apa kau senang?

Apa Seo-woo terlihat begitu aneh?

Apa Seo-woo berbeda sekali dengan Ha-jun?

Tidak apa-apa. Sepertinya dia tidak menyadarinya.

Ya. Mustahil dia berpikir aku hidup kembali.

Hyeon-jeong, aku pamit pergi.

Jangan lebih dari dua botol.

Dia terlalu mirip.

Dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Kenapa mereka begitu mirip?

Itu...

Min-jeong, apa maksudmu...

Lihat ini.

Ukurannya saja berbeda,

tapi rupanya benar-benar sama.

Padahal mereka tak kembar.

Udang itu?

Maksudmu udang?

Benar.

Di mata kita, mereka terlihat sama.

Padahal jika dilihat dengan baik, mereka semua berbeda.

Benar, udang.

Apa Seo-woo

secantik itu?

Tentu saja. Seo-woo sangat cantik.

Dia juga baik.

Kalau begitu,

kau bisa menjadi ibunya Seo-woo.

Dia sudah mabuk, 'kan?

Ya. Dia sudah melebihi batas minum.

Ini...

Apa yang terjadi...

Tak perlu memberinya stroberi. Tak apa-apa.

Tapi, stroberi ini sangat enak.

- Tak apa-apa. - Do-yeon.

Seo-woo tak boleh diberikan stroberi.

Seo-woo tak boleh makan stroberi, dia ada alergi.

Alergi?

Maafkan aku. Aku tak tahu.

Apa kau memukulku?

Tidak...

Kau... Ada apa dengan wajahmu?

Kau tidak tahu?

Aku?

Tidak. Bahkan kemarin,

aku tertidur di sini.

Apa yang kau lakukan? Ada apa denganmu?

Aku juga tidak ingat.

Apa?

Kau tak apa-apa? Tidak sakit?

Bau apa ini?

Alkohol?

Aku benar-benar kesal.

Ada apa dengan wajahmu?

Apa yang terjadi kemarin malam?

Kau tidak perlu tahu!

Hanya mimisan. Tidak perlu berlebihan.

Bagaimana aku tidak panik?

Hyeon-jeong-ku mimisan!

Dasar.

Lawanmu pasti sudah mati!

Sekarang aku harus bekerja keras

untuk membayar uang damai.

Kau senang sekali bertengkar. Kebiasaan buruk.

Hei.

Aku yang kena pukul.

Benar. Kau kena pukul, tapi kau tak seperti itu.

Kau kena pukul, dan diam saja?

Benar.

Aku seharusnya tak diam saja.

Ha-jun. Tutup matamu.

Baiklah.

Ha-jun. Bukalah matamu.

Kebiasaan buruk?

Aku tak bisa berhenti karena kau!

Sakit? Pasti sakit sekali.

Ha-jun. Bukalah matamu.

Ayo, kita pergi ke sekolah.

Biarkan saja ayahmu, dia kuat.

Ayo!

Aduh.

Sial.

Astaga.

Dasar Dewa sialan.

Apa? Kenapa lihat-lihat?

- Pergi sana! - Enyah!

- Cepat pergi! - Apa yang kau lakukan di sana?

Kerjamu hanya makan di atas.

Awalnya kau tak bias, tapi kini kau mengurusi urusan manusia!

Apa yang membuat Yu-ri jadi manusia?

Dia mengumpat, "Sial, Bedebah.

Kau apakan anakku? Bajingan! Berengsek!"

- Dasar, Dewa Bajingan! - Bodoh!

- Adili aku sekarang! - Kau tidak adil!

- Bedebah! - Enyah saja!

- Matilah kau bedebah. - Bajingan.

- Enyah! - Berengsek!

- Dasar sialan. - Dewa berengsek!

Terlalu berlebihan. Mereka tak mungkin dihukum seperti Yu-ri.

- Astaga! - Astaga!

- Ampun! - Kabur!

Sial.

Aku yakin bukan karena itu Yu-ri berubah menjadi manusia.

Menantuku!

Ya, Ayah Mertua?

Apa kau mencariku?

Jika Bu Mi-dong datang, cegat dia.

Astaga.

Apa?

Kalian mau menantangku?

Apa ini?

Apa kau mendengarkan Lagu amarah para arwah?

Suara yang berteriak bahwa kami Tak bisa lagi diperbudak

Saat detakan jantung Berubah bagai suara drum

Ketika hari esok datang Aku akan menjadi manusia

Apa kau mendengarkan Lagu amarah para arwah?

Suara yang berteriak bahwa kami Tak bisa lagi diperbudak

Saat detakan jantung Berubah bagai suara drum

Ketika hari esok datang Aku akan menjadi manusia

Apa yang sedang kalian lakukan?

Memberontak!

- Berontak! - Berontak!

- Apa? - Hukum konstitusi, pasal 1 ayat 1!

Dunia arwah adalah republik demokratis!

Kekuatan berdaulat dunia arwah ada pada arwah!

Benar!

Semua arwah harus mendapatkan hak yang setara!

Kau hanya memihak Yu-ri!

Memihak Yu-ri.

Bukan memihak, tapi pilih kasih!

- Pilih kasih? - Ya.

Memilih itu...

Lupakan!

Bukan itu intinya.

Kenapa hanya Yu-ri yang menjadi manusia?

Kami tak tahan lagi!

Mulai sekarang, kami akan memberontak!

- Memberontak! - Memberontak!

Memberontak? Bercanda kalian!

Kalian sudah gila? Kalian mengumpat kepada Dewa?

Kalian benar-benar ingin pergi ke atas?

- Loncengku! - Astaga.

Mana loncengku?

Kalian tak perlu takut.

Dia takkan bisa membunyikan lonceng.

- Bagus! - Sini.

- Ayo sini! - Aku tidak takut.

Sialan.

Sialan.

Berapa banyak yang kuminum kemarin?

Aku tidak ingat apa pun.

Apa Seo-woo

secantik itu?

Tentu saja. Seo-woo sangat cantik.

Dia juga baik.

Kalau begitu,

kau bisa menjadi ibunya Seo-woo.

Aku yakin mengatakan sesuatu.

Apa yang kukatakan?

Halo, Seo-woo!

Apa kau baik-baik saja?

Ini... Ya.

Tapi, hidungmu...

Aku terjatuh dari kasur pagi ini.

Begitu.

- Kemarin... - Ayo kita pergi.

Ayo kita pergi.

Pergi.

Sepertinya kau akan pergi ke suatu tempat?

Ya.

Kenapa mereka bertiga?

Apa mereka bertengkar?

Tidak. Mereka satu tim.

- Apa? - Apa?

Plester mereka sama persis.

Kau jeli sekali.

Pasti ada sesuatu.

- Halo, Seo-woo. - Halo.

Lepas sepatumu.

Bagus sekali.

Ayo masuk.

Bisa lepas sepatumu sendiri?

- Halo. - Halo.

- Sudah sampai. - Halo.

Dah, Ha-jun! Salam dengan ibu.

- Dah. - Sampai jumpa.

- Dah. - Sampai jumpa.

Ibu pergi, ya.

Ayo kita masuk.

Kau berat sekali.

Ibu Ha-jun.

Kami akan pergi membeli kopi,

sambil membahas tentang TK,

dan anak-anak yang bermasalah, ayo ikut dengan kami.

Karena aku sudah cukup bermasalah,

aku tak punya waktu membahas anak-anak bermasalah.

Benar juga.

Jika kalian punya waktu,

urus saja masalah kalian sendiri.

Ayo, ibu Seo-woo.

Baiklah.

Benar-benar keterlaluan.

Bersabarlah.

Lepaskan. Aku ingin pulang.

Benarkah?

Mereka aneh sekali.

Masalah apa yang dimiliki anak kecil berusia lima tahun?

Justru masalah itu dibuat oleh orang dewasa.

Benar. Orang dewasa yang membuatnya.

Anak yang bermasalah, anak yang aneh,

anak yang bicaranya lambat.

Bukan itu maksudku.

Itu bukan sebuah masalah,

tapi orang dewasa menganggapnya sebagai masalah.

Begitu.

Tapi, apa kemarin malam aku melakukan kesalahan?

Ingatan terakhirku berada di kedaimu.

Tidak. Setelah selesai minum, kau langsung pergi.

- Begitu... - Kenapa?

Tak ada. Tak apa-apa.

Sudah kuduga. Kita tak akan mendapatkan apa pun.

Dasar Mi Dong-daek. Kenapa dia sesadis ini?

Keluarga Pil-seung! Ini ide kalian. Semuanya salah kalian!

Aku tidak tahu dia akan melakukan ini.

Semuanya sudah setuju. Kenapa jadi salah kami?

Astaga, sesak sekali di dalam sini.

Padahal aku harus melihat cucuku hari ini. Bagaimana ini?

Cucuku akan tampil di ajang unjuk bakat!

LEE GANG-HO

- Selamat datang. - Halo.

- Halo. - Halo. Silakan masuk.

HASIL KARYA KAMI

Lihat gambar-gambar ini!

Ini karya anak-anak.

KELAS MATAHARI

Astaga, lihat ini.

Aku lupa namanya.

Ini...

Picasso! Benar! Terlihat seperti lukisan Picasso.

Lihat warnanya.

Sangat menarik perhatian.

Apa dia genius?

KELAS MATAHARI CHO SEO-WOO

Ayo, semuanya lihat sini.

- Ya. - Ya.

Jika paman yang kalian tak kenal berkata, "Ambil ini, dan ikuti aku."

Apa yang kalian katakan?

- "Tidak boleh. Tidak mau." - "Tidak boleh. Tidak mau."

- "Tolong aku!" - "Tolong aku!"

Jika dia mengatakan, "Ayo ke sini, ikut dengan paman!"

- "Tidak boleh. Tidak mau." - "Tidak boleh. Tidak mau."

- "Tolong aku!" - "Tolong aku!"

Kini anggaplah paman ini adalah orang jahat.

Semuanya, tolong lakukan seperti latihan.

- Ya. - Ya.

Apa ini?

Persiapan makan siangnya sudah selesai?

Ya.

Guru Kim, apa kau tahu?

Biasanya sewaktu kecil, pelukis terkenal menggambar seperti ini.

KELAS MATAHARI CHO SEO-WOO

Apa dia genius?

HYEON-JEONG

Ayo ikuti paman. Cepat!

Tidak mau! Tidak boleh!

Tolong aku!

Bagus sekali. Ayo tepuk tangan.

Ini untukmu.

Baiklah. Selanjutnya, giliran Seo-woo.

PENCEGAHAN PENCULIKAN

Ke sini. Ayo ikut dengan paman.

Tolong jangan tertawa, lebih menyeramkan.

Baiklah.

Ke sini. Ayo ikut dengan paman.

Baiklah.

Seo-woo, jangan begini.

Kau seharusnya menolak.

Tidak boleh.

Kau mau pergi ke mana?

- Seo-woo! - Tidak apa-apa.

Istirahatlah. Biar aku yang menjemputnya.

Ayo kemari.

Ayo kemari.

Ayo kemari.

Ayo kemari.

Seo-woo. Kenapa kau di luar?

- Ayo kembali dengan teman-teman. - Anak pintar.

Ayo.

PENCEGAHAN PENCULIKAN

Sangat aneh.

Kau benar-benar aneh.

Ke mana ayahmu?

Ayah? Kenapa tanyakan aku?

Dia tak angkat telepon.

Ke mana dia tanpa kabar?

Ayah bukan anak kecil.

Mungkin dia ada urusan.

Aneh.

Ibu mulai curiga.

Segera pulang.

YEON-JI: IBU MULAI CURIGA. SEGERA PULANG.

Ini untuk kakek?

Ini... Terimalah.

Kau hebat sekali. Terima ini.

Sudah kubilang.

Aku juga akan menjadi seorang kakek.

Tentu saja, anak pertamaku. Siapa lagi?

Sudah telepon ke berapa ini?

Kenapa bangga sekali menjadi kakek?

Itu harus dibanggakan.

Kau tahu kenapa ayahmu tidak pergi ke acara reuni?

- Kenapa? - Kenapa, Ibu Mertua?

Karena teman-temannya akan memamerkan foto cucu mereka.

Jika ada cucu, baru bisa datang dengan tersenyum.

Jika tak ada, hanya bisa iri saja.

Untuk apa melihat anak orang lain yang tak ada hubungan?

Baiklah, aku mengerti.

Nanti aku traktir kalian minum.

Tunggu saja telepon dariku.

Yeon-ji, ambilkan stroberi.

Yeon-ji, kenapa malah kau makan?

Itu untuk kakakmu.

Cepat. Bantu juga ibumu.

Yu-ri, kau hanya perlu melahirkan saja.

Ayah yang akan mengasuhnya.

- Benar? - Tentu saja.

Apa? Lantas kenapa kau tak mengasuh anak-anakmu saat kecil?

Aku sibuk bekerja untuk menafkahi kalian.

Lagi pula, anak dan cucu itu berbeda.

Pokoknya,

aku akan merawatnya sebagai kakek, kalian mengerti?

- Ayah Mertua... - Ya?

- Boleh aku merekamnya? - Baiklah.

Aku akan merawatnya sebagai kakek, kalian mengerti?

Kenapa aku harus mengasuh anakmu?

Ibu mertuamu benar.

Dia khawatir,

kau akan mencoba bunuh diri lagi.

Itu sebab kau butuh Seo-woo.

Dengan begitu, kau dapat hidup.

Bagus sekali.

Baiklah. Kita main ini sekarang.

Ayo bermain.

Pelan-pelan.

Sekali lagi.

Seo-woo menggemaskan, 'kan?

Dia persis anakku waktu kecil.

Sekarang, kita coba menggali di sini.

Ayo turunkan.

Bagus sekali.

Apa kau harus berpakaian seperti ini?

Katamu harus formal?

Aku tidak menyuruhmu berpakaian serapi ini.

Kau harus terlihat menyedihkan dan mengkhawatirkan.

Baru setelah itu, kau memohon dimaafkan.

Jika terlihat menyedihkan bisa membantu, untuk apa ada penjara?

Seharusnya kau berpakaian seperti biasa.

Seperti pengemis.

Dokter Cho?

Dokter Jang terus mencarimu hari ini.

Begitu?

Aku akan menemuinya kapan-kapan.

DIREKTUR RS, PARK HYEON-SU

Jika menerima konseling dan perawatan, dia pasti membaik.

Pekerjaan dokter bedah toraks 90 persen adalah operasi.

Untuk apa di sini jika dia tidak bisa operasi?

Tolong tunggu sebentar saja.

Dokter Cho pernah menjadi dokter terbaik di rumah sakit ini.

Jika diobati, dia pasti segera sembuh.

Aku sudah tidak bisa membantu lagi.

Lakukan saja sesuai hasil

komite disiplin hari ini.

- Direktur Park. - Aku sangat memahami

kenapa kau seperti ini.

Tentu saja

kejadian itu bisa membekas menjadi trauma.

Namun, apa masuk akal dokter tak bisa masuk ke ruang operasi?

Aku pun trauma jika mengalami itu.

Sebenarnya apa yang Yu-ri pikirkan sampai rela bekerja di...

Aku melihat Min-jeong dan Yu-ri berpapasan kemarin.

Aku dan Hyeon-jeong terkejut sampai hampir pingsan.

Dia baru saja hidup kembali, kenapa jadi asisten dapur?

Apa tujuannya?

Benarkah kau seorang psikiater?

Berhenti meracau, Bodoh.

Apa katamu?

Kau datang, Dokter Jang?

DOKTER JANG SIALAN

Kau keluar saja.

Baiklah.

Tolong minggir.

Aku mau lewat.

Terima kasih.

Aku ingin melakukannya dengan benar mulai sekarang.

Soal tadi, aku hanya bercanda.

Itu...

Maksudku...

Aku tak waras belakangan ini.

Kau takkan menduga apa yang sedang terjadi denganku.

Pilih salah satu.

Untuk kejadian lima tahun lalu,

salahkan aku hingga aku dipecat,

atau kau terus bersikap begini hingga dipecat.

Pilih salah satu agar kau tenang.

Astaga. Kenapa kau mengungkitnya lagi?

Kenapa?

Kenapa kau setega ini?

Bagaimana denganku sekarang?

Bagaimana dengan anakku?

Aku mau diobati.

Aku pasti bisa.

Mulai pengobatannya.

- Baik. - Bukan kau!

Baik.

Permisi.

Jika kalian bersama, itu bukan pengobatan!

Jaga sikapmu di komite disiplin jika tak ingin dipecat.

Lihat rambutmu. Apa-apaan ini?

Kau harus terlihat menyedihkan.

Kenapa begini?

- Sudah kubilang. - Apa?

- Bagus. - Sudah puas?

Gila.

Sungguh gila.

Siapa yang membuang uang di jalanan?

Ini 50.000 won.

Ini semua uang.

Ini 50.000 won.

Luar biasa.

Ini semua uang.

Uang!

Min-jeong.

Kau datang.

Bisa bantu aku kembali bekerja?

- Kembali bekerja? - Ya.

Tapi jangan di sini, di rumah sakit lain.

Aku bisa mencari tahu, tapi bukankah anakmu masih kecil?

Kau tak apa-apa?

Ya. Aku baik-baik saja.

Suamimu bekerja di sini.

Pasti akan lebih mudah. Kenapa tidak?

Aku mengerti.

Karena tindakan disiplin suamimu?

Benar juga, ada kemungkinan dia dipecat.

Kita tahu hasilnya setelah hari ini.

Ternyata hari ini, komite disiplin...

Kau tak tahu? Apa ini?

Ke mana Oh Min-jeong yang selalu tahu soal suaminya?

Entahlah. Mungkin sudah mati.

Pasti kalian bertengkar.

Wajar suami dan istri bertengkar.

Kalian tak akan bercerai.

Ya, aku akan bercerai.

Sekali lagi! Satu, dua, tiga!

Bu Mi-dong!

Tidak. Aku menyerah.

Kita tak seharusnya melakukan itu.

Kita sama-sama mengumpat.

Yu-ri hidup kembali. Kenapa kita dihukum?

Haruskah kita terus begini sampai ada yang datang?

KARTU ID SISWA JANG YEONG-SHIM

- Astaga. - Apa?

Ada apa? Ada yang berhasil keluar?

Ya. Kami berhasil keluar!

Jimatnya jatuh!

Kalau begitu, tolong bantu kami.

Apa? Kami?

- Baiklah. - Baiklah.

- Tak bisa. - Sial.

Sial!

Tunggu sebentar. Kami akan panggil manusia.

- Ayo pergi. - Ayo pergi.

Tunggu sebentar. Kami akan kembali.

Hei, Pak Ma! Permisi.

Ayah. Dia tidak berguna.

Kita temui Bu Mi-dong?

Tidak. Kita bisa dikurung lagi.

Benar juga.

Seo-woo.

Mari bermain bersama lain kali.

Jangan lupa makan.

Sampai jumpa.

Bagaimana jika Ibu tahu?

Kenapa keluarga itu kemari?

Jika kau terus menolak membantu kami, kami akan mengikuti anakmu!

Sulit dipercaya.

Astaga, aku masih ragu.

Arwah juga punya etika.

Hanya ini yang bisa membuat Yu-ri menuruti kita.

Itu... benar juga.

Baiklah. Terserah kalian saja.

Ayah, ini bukan waktunya merasa bersalah.

Kita harus melakukan ini.

Baik.

Hei!

Ke sini kau!

Beraninya kau mendekati anak kecil.

Enyah dari sini.

- Pergi ke tempat lain! - Cepat pergi.

- Pergi! - Jangan kembali!

Kenapa?

Kau pikir kami akan menyakiti anakmu?

Walau sedang terdesak, kami bukan arwah seperti itu.

Tidak, tapi tadi terlihat seperti itu.

Kalian juga pernah mengancamku. Wajar aku curiga.

Untuk apa kita tinggal bersama selama lima tahun?

- Masih saja tak percaya kami. - Benar.

Maafkan aku.

Itu sebabnya aku datang.

Ada apa ini?

Astaga, ternyata saat marah, Bu Mi-dong tidak main-main.

Separah apa kalian mengumpat?

Tak bisa dibayangkan.

Kami bahkan melakukannya berjamaah.

Tolong maafkan arwah-arwah bodoh itu.

Sudah kuhukum mereka dengan berat, tolong kasihani dan jaga mereka.

Perlukah kukirim mereka semua ke atas?

Tidak. Tolong kasihani mereka.

Bagaimana jika kalian dipaksa reinkarnasi?

Aku begitu karena ingin meninggalkan dunia ini.

Walau hanya arwah, kalian ingin di sini, 'kan?

- Tentu saja. - Tentu.

Katanya kau bisa hidup jika menemukan tempatmu?

Aku yakin bisa melakukannya.

Kau sendiri bunuh diri.

Aku tak bisa temukan tempatku.

Dewa sudah tahu ini terjadi.

Baiklah.

Kalau begitu,

turuti permintaan kami.

- Ide bagus. - Benar juga.

Baiklah, katakan. Apa permintaan kalian?

Aku. Tolong sampaikan anakku untuk mengganti fotoku.

Itu foto lama sewaktu aku menikah.

- Sudah kuno sekali. - Aku juga!

Ganti dengan foto tim sebelumnya.

Aku tidak suka seragam tim ini. Ukurannya juga tak pas.

- Berikan buku kasku ke ibuku. - Tolong ganti lagu di rumah duka ini.

Aku sudah bosan mendengarnya. Selalu sama.

- Aku mau alkohol! - Aku mau ayam!

Hentikan!

Jika menuruti kalian, 49 hariku sia-sia.

Gila! Tak akan kulakukan!

- Tolonglah kami! - Tolong!

Orang lain mungkin bisa seperti itu,

tapi kau tidak boleh!

Kau yang paling mengerti perasaan kami!

Jika bukan kau, siapa yang bisa membantu kami?

Kau paling tahu keadaan kami.

Astaga.

Aku harus bagaimana?

Anakku!

Bagaimana ini?

Bagaimana...

MAJALAH EDGE ADA MENYEBABKAN PENGORBANAN REMAJA YANG PENUH MIMPI

LIBUR HARI RAYA. TUTUP SELAMA TIGA HARI.

Lupakan saja. Tidak ada arwah yang tak memiliki penyesalan,

tapi kau pasti sudah melupakannya dengan cepat.

Kau keterlaluan.

Aku sakit hati.

Aku tidak lupa.

Aku mengerti kalian.

Baiklah. Masing-masing hanya boleh satu permintaan.

- Benar? - Benar?

- Seharusnya dari tadi! - Bagus!

Coba diam semuanya. Bicara satu-satu.

Nenek, ganti lagu rumah duka?

Sebentar.

Kenapa aku meminta permintaan seperti itu?

Kau ingin mengganti fotomu?

Kau ingin ayam dan alkohol? Mana buku kasmu? Biar kuberikan.

- Kau juga ingin fotomu diganti? - Aku tadi asal bicara.

Lalu apa? Biar kuturuti.

- Sebentar. - Sebentar.

- Minta apa? - Minta apa?

- Dia bisa apa? - Mari lihat.

Astaga, aku tahu ini akan terjadi.

Sudah kubilang jangan sampai ketahuan.

Kau terlalu baik.

Terima kasih.

Aku tidak bisa mengabulkan permintaan mereka.

Menjadi dukun adalah sebuah kutukan.

Aku tahu keadaan mereka, tapi tak boleh ikut campur.

Kasihan melihat mereka.

Astaga. Kau juga terlalu baik.

Apa katamu?

Astaga.

Aku bisa membayangkan apa yang mereka inginkan.

Nenek, apa permintaanmu? Sudah diputuskan?

Sialan.

Kenapa kau terus memanggilku nenek?

Kau sendiri?

Aku?

Aku ingin menitip pesan kepada anakku,

tapi dia sudah melupakan kesedihannya.

Aku takut membuatnya teringat dan sedih lagi.

Pasti tak ada permintaan untuk mereka sendiri.

Bukankah mudah untukmu?

Kau hanya ingin ibumu tahu di mana buku kasmu, 'kan?

- Kau selalu bilang itu. - Astaga, apa-apaan ini?

Jangan ikut campur. Pergi.

Ibuku mengira

aku seorang PNS.

- Apa? - Astaga.

Mereka tidak bisa pergi karena memikirkan anak dan orang tuanya.

Kau sendiri? Kau memilih bunuh diri,

kenapa kau masih di dunia ini?

Apa kau punya permintaan?

Hanya karena aku bunuh diri, bukan berarti tak punya penyesalan.

Berikut suasana ruang duka Gang Bin yang wafat beberapa hari lalu.

Teman-teman almarhum terus berdatangan

untuk memberikan perpisahan terakhir.

Bahkan pemilik tim, Lee Jeong-hee, dan pelatih, Park Hyeon-seok,

datang dengan mata yang dipenuhi dengan kesedihan.

Teman dekatnya, An Hyeon-sook, aktris dan mantan penyanyi,

- serta Im Bo-reum, penyanyi wanita... - Astaga

- ...anggota grup lelaki... - Ini pemakaman seseorang,

tapi mereka sibuk memberitakan siapa tamunya.

Apa mereka begitu penasaran?

Hidup pesohor ternyata tak mudah.

Para tamu terus berdatangan...

Baru setelah mereka meninggal,

mereka menyadari apa yang penting dalam hidup.

Jangan mengatakan sesuatu yang aneh.

Seperti apa?

Jangan berkata tanpa dipikir lebih dahulu.

Cukup bilang kau menyesal,

berjanji ikut perawatan, minta maaf!

- Sambil menunduk? - Ya.

- Caranya? - Sebisa mungkin.

Bagaimana?

Setidaknya kau harus berlutut.

"Tolong ampuni aku kali ini saja."

Kau cocok. Kau saja.

Kemari kau.

Kau tak melakukan operasi selama empat tahun?

Benar.

Kau seharusnya melaporkan penyakitmu, dan menjalani pengobatan.

Kau mengobati pasien. Dokter seharusnya tidak lari dari penyakit, 'kan?

Ya.

Istrimu meninggal di rumah sakit ini?

Sepertinya karena itu, kau menyerahkan dokumen ini.

Tapi karena itu penyebab kau tak bisa melakukan operasi?

Padahal kau adalah dokter.

Benar?

Ya.

Kalau begitu hasil sidang akan sesuai dengan penilaian kami.

Baiklah.

Sepertinya kau tidak ada pembelaan. Silakan keluar.

Jelas sekali.

Apa ada yang ingin kau katakan?

Bukankah dokter juga manusia?

Di ruang operasi, kita melaporkan kematian untuk banyak pasien.

Setelah sejenak, itu menjadi tak berarti.

Dengan pemikiran, sayang sekali satu orang lagi pergi meninggalkan kita.

Benar. Itulah pekerjaan kita.

Tapi, satu orang yang meninggal di atas meja operasi itu,

coba bayangkan orang yang meninggal itu

adalah istri-istri kalian.

Ibu kalian. Ayah kalian.

Anak-anak kalian. Pernahkah kalian bayangkan?

"Padahal kau adalah dokter."

Bukankah dokter juga manusia?

Selamat datang.

Dasar bajingan ini.

Cho Gang-hwa!

Cepat sadar!

Sampai kapan kau akan terus begini? Cepat sadar!

Dokter Jang.

Dokter Jang...

Minumlah ini.

Ayo duduk dan minumlah.

Baiklah.

Kenapa kau menghela napas?

Aku? Bagaimana aku bisa hidup?

Aku tidak pantas.

Dia meninggal karena aku.

Aku yang membunuhnya. Aku!

Aku!

Aku membunuhnya.

Kembalikan Yu-ri!

Kembalikan Yu-ri!

Dasar berengsek. Kembalikan!

Aku tidak bisa hidup dengan normal.

Satu americano dengan es.

Ibu kesakitan. Tolong ditiup, Ha-jun.

Terima kasih.

Bagaimana Yu-ri tahu kebiasaan minum Min-jeong?

Cerai?

Sepertinya dia mencari firma hukum untuk meminta saran mengenai perceraian.

- Astaga. - Firma hukum yang didatanginya

milik kakak iparku.

Aku dengar dengan jelas.

Lihat? Sudah kuduga terjadi sesuatu.

- Tidak mudah mengasuh anak orang. - Benar.

Lantas bagaimana nasib Seo-woo?

Kasihan sekali Seo-woo.

Benar. Sudah kubilang.

Dia menikahi ayah Seo-woo karena uang.

Aku sudah tahu sejak Seo-woo mengikuti banyak les.

- Apa dia punya pacar? - Otakmu cerdas sekali.

- Astaga! - Astaga!

Tampaknya kalian banyak waktu luang.

Jadi, sudah menemukan masalah diri kalian sendiri?

Tidak mungkin secepat ini. Masalah kalian terlalu banyak.

Sudahlah. Ibu Ha-jun pergi saja.

Kau bilang tak mau bergabung dengan kami.

Jika membicarakan orang di tempat umum,

kalian bisa digugat.

Sepertinya kakak iparmu tak memberi tahu, ya?

Ini hanya obrolan ringan di antara kami.

Kau pikir anak kecil tak mengerti?

Mereka mengerti semuanya.

Di TK, mereka juga membicarakannya.

Kalian sebutkan nama lengkap depan anak-anak,

apa perlu kugugat?

Aku tak mengarang.

Ini semua fakta.

Ibu Seo-woo sudah mengisi formulir cerai.

Sebagai orang tua murid, kami hanya membicarakan

apa yang harus kami lakukan

untuk menghibur Seo-woo.

Astaga.

Dasar kalian ini.

Ayo kita pulang, Ha-jun.

Aduh. Ayo pulang.

Hyeon-jeong. Kau mendengarku?

Apa? Maafkan aku.

Apa katamu tadi?

Hari ini, Ha-jun menangis melihat potongan ikan pedang pendek.

Katanya kasihan sekali ikan itu. Ribut sekali.

Begitu?

Yu-ri.

Ya?

Kau...

Apa cukup bagimu melihat Seo-woo

di TK saja?

Kau tidak ingin merawatnya sendiri?

Tidak.

Lebih baik begini.

Kau terus menanyakan itu. Sudah kujawab.

Kau menjaga jarak dengan Gang-hwa karena Min-jeong, bukan?

Kau tak bisa berkutik karena Min-jeong bersama Gang-hwa.

Hyeon-jeong.

Ya?

Tempat itu bukan tempatku lagi.

Oh Min-jeong

yang harus menempatinya.

Seo-woo, kau terlihat membaik.

Hanya perlu datang beberapa kali lagi.

Terima kasih.

Aku tak tahu lagi.

Harus bagaimana dengan mereka?

Min-jeong

berniat untuk bercerai.

Dia mau bercerai dengan Cho Gang-hwa.

Kau yakin tidak ingin kembali ke tempatmu?

Coba pikirkan sekali lagi.

Tidak. Kenapa aku harus merusak hidup mereka?

Bisa jadi hubungan mereka sedang tidak baik.

Bisa jadi hubungan mereka sudah hancur.

Ini 50.000 won.

Benar. Ada gambar Shim Saim-dang.

- Uang! - Aduh, sakit.

- Aduh. - Uang.

Astaga!

- Uang! - Tangkap dia. Lari!

- Min-jeong! - Uang!

Tunggu, Min-jeong!

Min-jeong!

- Min-jeong! - Uang!

- Min-jeong! - Min-jeong!

Hati-hati!

- Astaga! - Tidak.

Kau tak apa-apa?

Astaga. Kenapa kau berlari?

Aku baik-baik saja.

Aku baik-baik saja.

- Dah! - Tunggu!

Tunggu, Min-jeong!

- Tunggu! - Tunggu, Min-jeong!

- Berhenti! - Tunggu!

Berhenti! Astaga!

Astaga.

Kebiasaan minumnya benar-benar liar.

Biasanya dia tak seperti ini. Ada apa dengannya?

Dia tak kuat minum lebih dari sebotol.

- Sungguh? - Napasku habis.

- Mau ke mana? - Hentikan dia!

Bagus. Aku tak bisa lari.

Tak bisa lari.

Kau tak apa-apa?

- Kau tak apa-apa? - Aku lelah.

Menakutkan.

Wajahmu

menakutkan.

Yu-ri! Kau tak apa-apa?

Aduh, sakit!

Kalau begitu,

kau bisa menjadi ibunya Seo-woo.

Aku bisa melakukannya?

Belakangan ini, aku kehilangan tujuan hidup.

Rumah. Kantor. Rumah. Kantor.

Aku tak punya kehidupan!

Meski begitu, kau hidup sendiri.

Aku bisa gila karena istriku.

Dia selalu mengomeliku.

Aku ingin kabur ke pulau tak bertuan.

Aku juga. Karena omelan ibuku, aku ingin tinggal sendiri.

Aku bisa gila!

Wanita usia di atas 30 tahun pasti sulit tinggal dengan ibunya.

Dasar tak tahu terima kasih!

Benar. Bersikap baik dengan keluargamu selagi mereka masih ada.

Nanti kalian akan menyesal!

Aku benar-benar menyesali perbuatanku.

Konon saat manusia akan melalui kematian,

mereka melihat kilasan seluruh hidup mereka, benarkah?

Omong kosong.

Aku hanya terpikir satu kalimat.

"Astaga, bagaimana nasib Pil-seung

sekarang?"

- Apa-apaan ini? - Kenapa diambil?

Aduh!

- Sayang sekali! - Kami belum selesai!

Bahkan saat sedang sekarat,

keluarga kita tetap yang utama.

Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF

Follow My IG @sultan_khilaf_sub

Yu-ri atau Min-jeong?

Ini seperti Ayah atau Ibu!

Aku akan pilih Yu-ri!

Temanku yang sudah meninggal, hidup kembali.

Ada saja teman yang hidup kembali setelah meninggal.

Kau ingin jadi bibi pengasuh untuk mengusir hantu?

Aku harus bagaimana?

Hanya aku yang bisa melindungi Seo-woo.

Kau suka bibi itu?

Aku suka bibi cantik.

Kau tinggal dengan istrimu. Bagaimana bisa?

Pria gila mana yang begitu? Mustahil.

Apa aku bisa?

Aku harus melakukannya.

Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.