All language subtitles for Life.Support.2026.1080p.WEBRip.x264.AAC5.1-[YTS.GG - YTS.BZ]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kami berada di sini sebagai bentuk solidaritas dengan para tenaga kesehatan Palestina dan rakyat

Palestina. Anda tak mungkin menyaksikan apa yang terjadi di Gaza tanpa merasa marah dan bertekad

untuk menghentikannya. Tak ada saksi independen yang diizinkan, tak ada penyelidik, tak ada jurnalis

internasional yang boleh masuk. Jadi, sebagai tenaga kesehatan, kamilah satu-satunya saksi independen di

lapangan. Itu semua kebohongan, dan menurut saya media dunia harus berani menyebutnya sebagai

kebohongan, bukan terus bertanya kepada orang seperti saya atau mengatakan dalam wawancara bahwa Israel

mengklaim hal itu tidak terjadi. Kami menceritakan apa yang kami lihat dengan mata kepala sendiri. Jadi,

mungkin peran terbesar kami adalah menggunakan kesaksian langsung itu untuk membela

warga Gaza dan memberi tahu dunia apa yang sedang terjadi. Sulit memahaminya

kalau Anda tidak datang ke sini dan melihat sendiri perubahan yang bisa Anda buat. Kami selalu khawatir

saat datang ke sini, mungkin kami tak akan berguna, semua perlengkapan kami disita, atau bahkan tak ada

rumah sakit tempat kami bisa bekerja. Tapi yang selalu kami katakan, yang terpenting adalah datang dan menjadi saksi, karena

Anda tidak melihat apa yang saya lihat. Semua akses media telah ditutup sepenuhnya.

Narasi yang beredar tampaknya sangat dikendalikan. Karena itu, penting untuk berada di sana dan berkata,

“Tunggu, keadaan di lapangan tidak seperti itu,” lalu merekam apa yang terjadi

dan menyebarkan gambar-gambar tersebut. Itu sangat penting.

Streaming Movie Gratis, Update, FullHD di gfymultimedx.online

Saya sudah bertahun-tahun pergi ke Gaza. Kunjungan pertama saya ke Gaza pada 2010. Sebelumnya saya sudah

beberapa tahun pergi ke Tepi Barat. Lalu seseorang, benar-benar kebetulan yang beruntung,

bertanya, “Mau ikut ke Gaza?” dan saya menjawab, “Ya.” Itu pada 2010, dan saya masih sangat jelas

mengingat perjalanan pertama itu. Saya terkejut melihat begitu besarnya kehancuran

pada 2010. Jelas ada serangan militer besar pada 2008, jadi saat itu masih tampak

begitu banyak kerusakan. Tetapi yang paling membekas bagi saya justru adalah betapa luar biasanya

orang-orang di sana. Setiap kali kembali ke Gaza, saya selalu merasakan kehangatan yang sama ketika bertemu

orang-orang yang begitu baik. Pada kunjungan pertama, saya juga sangat terkejut

dengan proses untuk bisa masuk. Kami harus mengajukan izin berbulan-bulan sebelumnya, lalu

sesampainya di sana, saat itu melalui penyeberangan Erez, tempatnya tampak seperti penjara raksasa.

Di beberapa titik, sebuah pintu atau gerbang akan terbuka, lalu Anda berpindah ke tahap berikutnya.

Semua barang Anda diambil, lalu Anda berjalan cukup lama melewati lorong berpagar

hingga akhirnya di ujung sana bertemu warga Gaza yang datang menyambut Anda.

Rasanya seperti tempat yang hampir mustahil dimasuki dan sama sulitnya untuk ditinggalkan.

Menurut saya, banyak orang membayangkan Gaza seperti kawasan kumuh atau wilayah terbelakang

di Timur Tengah. Padahal, inilah kawasan tua yang mencerminkan seperti apa Timur Tengah dan Palestina

dahulu. Memang banyak bangunan tua yang membutuhkan perawatan, tetapi di sana juga

ada universitas-universitas baru, taman yang tertata indah,

dan beberapa rumah sakit yang cukup mengesankan. Ada kehidupan dan semangat yang nyata di sana.

Mereka telah hidup di bawah pendudukan dan pengepungan selama bertahun-tahun, dan hal itu

selalu sangat terasa bagi kami selama berada di sana. Mereka adalah manusia seperti siapa pun, dan

itu membuat saya tersentak, mengingat betapa sulitnya masuk ke Gaza dan bahwa sebagian besar orang yang saya temui

lahir di sebidang tanah yang sangat sempit itu, tak pernah meninggalkannya, dan

tidak diizinkan keluar dari sana. Begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan sehingga

Anda merasa tetap membuat kemajuan, meski hanya satu pasien demi satu pasien, sambil menyelesaikan

beban kerja yang sangat besar. Saat itu saya biasanya pergi ke Gaza sekitar dua kali setahun.

Kami sudah merencanakan satu minggu di bulan Oktober untuk melakukan operasi kanker.

Itu Oktober 2023, dan tiket penerbangan kami dijadwalkan pada 21 Oktober.

Militan Palestina melancarkan serangan mendadak ke Israel dari Jalur Gaza yang diblokade.

Hamas mengatakan serangan itu merupakan respons atas penodaan Masjid Al-Aqsa oleh Israel dan puluhan tahun

penindasan Israel. Pemerintah Israel kemudian menyatakan keadaan perang.

Saya merasa sangat terhormat ketika diminta memimpin

tim medis darurat EMT pertama yang masuk pada akhir Desember 2023.

Kami seharusnya tiba pada Hari Natal, tetapi serangkaian penundaan di pos pemeriksaan keamanan

Mesir membuat kami harus bermalam di Al-Arish, di sisi Mesir, sebelum berangkat

menuju perbatasan pada pagi tanggal 26. Saya ingat saat mendekati perbatasan dari

Rafah di sisi Mesir, melintasi Sinai dengan matahari cerah dan langit tanpa awan.

Begitu mendekati Gaza, terlihat lapisan asap rendah menutupi seluruh wilayah akibat

bom-bom yang jatuh. Bau asap dan bau peperangan begitu menyengat ketika kami masuk.

Ada jendela waktu tertentu untuk bergerak, jadi kami harus melaju sangat cepat.

Saat itu kami mengira, selama bergerak di rute yang telah ditentukan dan dalam

waktu yang dialokasikan, kami akan aman. Tentu saja, ternyata itu tidak benar,

tetapi itulah ilusi yang kami pegang agar tetap punya sedikit rasa aman dalam keadaan yang sangat

tidak aman. Setiap kali datang ke Gaza, saya selalu melihat banyak kehancuran,

tetapi kali ini skalanya benar-benar berbeda. Dan kami hanya berada di bagian selatan Gaza.

Kami tidak pergi ke utara. Saya sudah melihat foto-foto wilayah utara, tempat sebagian besar

kehancuran terjadi, tetapi di selatan pun kami tetap melihat kerusakan luar biasa, terutama

di Khan Younis dan Rafah ketika kami melintas.

Begitu keluar dari penyeberangan Rafah, yang pertama terlihat adalah kehancuran dan begitu banyak orang

yang tinggal di tenda serta tempat berlindung darurat di tepi jalan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Ingat, saya datang saat musim dingin. Malam hari sangat dingin, dan orang-orang hanya memiliki lembaran

plastik tipis yang mereka susun sebisanya sebagai tempat berlindung bagi diri dan keluarga mereka.

Kami tiba di wisma sekitar pukul enam sore. Pada waktu itu,

tembakan artileri dan serangan udara mulai semakin sering,

dan sepanjang malam terdengar ratusan serangan.

Rumah tempat kami menginap sengaja berada di area terbuka agar kami tidak

menjadi korban sampingan. Itulah pertimbangannya dan terdengar masuk akal. Namun akibatnya,

suara ledakan terdengar sangat jelas, dan pengeboman pada malam hari benar-benar

menakutkan. Saya dan rekan saya, Nick Maynard, tidur di kamar yang sama dan kami

membiarkan pintu serta jendela terbuka karena khawatir kaca akan pecah.

Saya ingat sempat mencoba menghitung setiap ledakan yang terdengar,

tetapi kehilangan hitungan setelah beberapa ratus. Serangan udaranya terdengar sangat keras,

disertai suara artileri darat yang terus-menerus dari sisi Israel di sepanjang

garis gencatan senjata yang menembaki Gaza. Kapal perang di lepas pantai juga

menembaki Gaza, disertai tembakan senjata berat. Dari kejauhan, saat melihat

ke arah utara, langit tampak berwarna jingga. Itu adalah Kota Gaza dan

Gaza utara yang terus dibombardir.

Saya kembali pertama kali pada Maret 2024. Sebenarnya saya mencoba masuk pada Januari dan Februari, tetapi

wisma milik organisasi yang akan saya ikuti, meskipun berada di kawasan yang disebut

zona dekonfliksi, justru dibom oleh militer Israel. Tim kami pun dibatalkan

dan keberangkatan ditunda. Akhirnya kami masuk pada Maret dan saya ditempatkan di Rumah Sakit Al-Aqsa

di Deir al-Balah, wilayah tengah Gaza. Saya tetap berhubungan dengan Ahmed hampir setiap hari atau setiap

minggu. Ketika tahu saya akan berangkat, saya menghubunginya dan bertanya apa yang mereka butuhkan. Saat itu ia

telah dievakuasi dari Al-Shifa dan melakukan perjalanan ke Rumah Sakit Gaza Eropa.

Kami tahu di sanalah kami akan ditempatkan, dan ia mengirimkan daftar peralatan

yang mereka perlukan. Saya kemudian menulis di situs Asosiasi Bedah Plastik Inggris

meminta para ahli bedah plastik di seluruh Inggris mengirimkan peralatan tersebut. Dalam waktu sekitar seminggu, ruang tamu saya penuh

dengan kardus. Rekan-rekan dari Irlandia mengirim begitu banyak barang.

Pasangan saya, Philip, mungkin hampir putus asa. Selama beberapa bulan sebelum kami berangkat, ruang depan rumah

nyaris tak bisa dimasuki. Saya pun mengemas semua barang itu dan kami terbang ke

Kairo. Di sinilah masalahnya: apakah semua ini bisa kami bawa masuk

tanpa dihentikan dan disita. Hari itu Senin, 25 Maret,

pukul empat pagi. Kabar terbaru, kami berhasil melewati Bandara Kairo

dan berhasil membawa seluruh 23 koper. Sesampainya di hotel, kami sudah

memesan minibus. Semua bagasi berhasil dimasukkan, lalu kami bergabung dengan konvoi PBB dan

melintasi Gurun Sinai menuju perbatasan Rafah. Di perjalanan kami melewati deretan truk bantuan.

Itulah salah satu hal pertama yang benar-benar menghantam saya. Barisan itu sudah dimulai jauh sebelum

Al-Arish dan membentang bermil-mil. Saya merekam video selama tiga menit, tetapi saya tidak

mulai merekam dari awal dan berhenti sebelum barisan itu berakhir. Itu menunjukkan betapa banyaknya truk bantuan

yang tidak bisa masuk ke Rafah. Sesampainya di perbatasan, kami menurunkan semua barang dari minibus dan

semuanya dipindai sinar-X. Setelah menunggu beberapa saat, rekan-rekan kami menjemput dari

sisi lain perbatasan. Ketika tiba di Rumah Sakit Gaza Eropa, hal yang paling mengejutkan saya

adalah jumlah pengungsi internal. Saya pernah bekerja di Rumah Sakit Gaza Eropa

beberapa kali sebelum 7 Oktober, jadi saya mengenal rumah sakit itu.

Bangunannya dibuat pada 1980-an dan sangat indah. Terakhir kali saya ke sana pada 2020, tetapi kini benar-benar

berbeda, seperti tempat lain. Saya hampir tidak mengenali apa pun selain salah satu ruang kopi,

ruang pemulihan pascaoperasi, dan sebuah gudang yang masih saya kenali. Selebihnya

sungguh luar biasa; tampak seperti semacam kamp konsentrasi. Orang ada di mana-mana.

Begitu masuk ke bangunan, koridornya penuh sesak. Di kedua sisi lorong

tergantung seprai dari langit-langit yang membatasi ruang-ruang kecil, dan

di balik setiap sekat seprai atau karpet ada kasur di lantai tempat satu keluarga

tinggal bersama. Bahkan tangga pun dijadikan tempat tinggal; seseorang bisa membuat

rumah di tengah-tengah tangga, dengan kasur, panci dan peralatan masak,

lalu seprai dan handuk dipasang sebagai penutup untuk sedikit privasi. Mereka bukan orang yang

punya kerabat dirawat di rumah sakit. Kalau punya kerabat di sana, seluruh keluarga biasanya tinggal di sisi

tempat tidur kerabat itu. Dua rumah sakit terbesar di Gaza adalah Al-Shifa dan Nasser.

Pada Maret 2024, Al-Shifa sudah berkali-kali diserang dan sebagian besar hancur,

sehingga pasien yang biasanya pergi ke rumah sakit tersebut

akhirnya banyak dialihkan ke Al-Aqsa, yang kini berfungsi sebagai salah satu rumah sakit utama Gaza,

meskipun sebelum Oktober 2023 ukurannya relatif kecil. Bahkan rumah sakit itu tidak memiliki

unit perawatan intensif anak; hanya ICU dewasa. Namun karena begitu banyak korban kami adalah anak-anak,

saya ingat setidaknya sembilan atau sepuluh dari sekitar sebelas tempat tidur

ditempati anak-anak yang terluka.

Ini baru hari pertama kami di sini, tetapi kondisinya sudah sangat berat. Kasus-kasus yang kami lihat

pada dasarnya mencerminkan demografi penduduk di sini: banyak orang lanjut usia, banyak

anak-anak, bahkan seluruh keluarga datang sekaligus. Sangat berat. Dari berita saya sebenarnya sudah tahu

bahwa saya akan melihat kasus semacam ini, bahwa sebagian besar korban adalah perempuan

dan anak-anak. Namun ketika datang dan melihat mereka secara langsung, rasanya jauh lebih menghantam.

Ini perang. Ini perang terhadap warga sipil.

Kami ditempatkan di Rumah Sakit Al-Aqsa yang berada di bagian tengah Jalur Gaza.

Rumah sakit kecil itu biasanya terutama berfungsi sebagai fasilitas persalinan

bagi perempuan yang akan melahirkan. Saya datang sebagai dokter kandungan karena unit maternitasnya cukup besar.

Mereka juga punya unit neonatal yang cukup memadai. Namun tepat ketika saya tiba, layanan maternitas dipindahkan

karena rumah sakit sudah kewalahan menangani kasus trauma.

Dan

cara kami bekerja adalah bergabung langsung dengan tim setempat, bukan membuat sistem paralel.

Itu membawa perbedaan besar karena kami bisa meruntuhkan beberapa jarak

dengan dokter-dokter lokal. Wajar kalau mereka berpikir, “Dokter internasional ini

datang untuk apa? Kami juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan.” Dan saya sama sekali tidak keberatan

dengan sikap itu. Kami memang datang untuk mengurangi beban mereka. Tidak pernah ada satu hari pun kami

tidak melakukan operasi, dan kadang-kadang situasinya benar-benar kacau. Sebagian besar pasien kami rawat

di lantai. Sering kali ada delapan hingga sepuluh pasien sekaligus terbaring di sana.

Kami bahkan harus melangkahi pasien untuk mencapai pasien lain. Darah mereka bercampur di

lantai. Benar-benar mengerikan. Karena jenis senjata yang digunakan,

daya ledaknya begitu kuat sehingga banyak anak mengalami cedera ledakan dengan perdarahan

internal atau kerusakan pada organ-organ penting. Dari luar kadang tidak tampak apa-apa.

Anak itu terlihat seperti tidak terluka, padahal sebenarnya sudah meninggal. Banyak orang mengira

bedah plastik cuma soal payudara dan bokong. Bukan. Bedah plastik adalah soal luka, penanganan luka,

dan trauma. Dalam perang, setelah ahli ortopedi dan mungkin ahli bedah umum, Anda sangat membutuhkan

ahli bedah plastik. Hampir semua orang di Gaza bisa mendapat manfaat dari pemeriksaan ahli bedah plastik

untuk menilai lukanya, bagaimana memperbaiki penyembuhan, menutup luka, atau membersihkannya.

Pekerjaannya begitu banyak. Setiap kali datang, saya masuk ke ruang operasi

dan pada dasarnya diberi satu ruang operasi untuk saya sendiri. Saya langsung mulai mengoperasi dan

baru berhenti ketika memang sudah berhenti.

Akhirnya saya menemukannya. Akhirnya dia kembali. Sulit dipercaya. Senang sekali bisa bertemu di sini.

Yang menyedihkan, dia datang untuk mendukung saya, tetapi waktu itu tidak bisa menemukan saya di sini.

Setidaknya sekarang kamu datang. Ya, akhirnya. Luar biasa, apa yang sudah kamu lakukan di sini. Aku sangat bangga

padamu. Terima kasih banyak. Terima kasih. Dan kurasa kamu akan terus melanjutkannya. Senang sekali bisa

bekerja dengan timmu. Tim kalian benar-benar luar biasa. Mereka hebat. Saya sungguh tidak

percaya dengan apa yang kalian lakukan. Sejujurnya, kamu ahli bedah plastik paling terkenal. Ke mana pun saya pergi, orang

berkata, “Oh, kamu kenal Ahmed? Kamu yang melatih Ahmed?” Sebenarnya semua ini seperti kesempatan yang datang, dan menurut saya

seluruh hidup saya akhirnya bermuara pada masa ini. Jadi merupakan kehormatan bisa menjalaninya, sebuah berkah

mendapat semua ini, dan kamu juga bagian penting dari dukungan itu. Saya sangat senang bisa berada di sini

dan meneruskannya.

Saya menghabiskan banyak waktu di ICU dan juga di instalasi gawat darurat karena

pada masa itu daerah sekitar Rumah Sakit Al-Aqsa dibom hampir tanpa henti.

Korban massal datang silih berganti ke IGD. Staf

kewalahan, ruangannya juga kewalahan. Jadi saya ikut bekerja di IGD,

melakukan visite di bangsal, masuk ke ruang operasi, membantu di mana pun saya bisa.

Dalam delapan jam di IGD, kami bisa melihat hal-hal paling mengerikan yang

pernah saya alami sebagai dokter gawat darurat. Saya tidak mengklaim punya pengalaman klinis

yang sangat luas; saya baru sepuluh tahun menjadi dokter. Namun saya pernah bekerja dengan organisasi kemanusiaan

internasional di berbagai tempat, dan saya belum pernah melihat di mana pun hal seperti yang saya lihat

di Gaza. Tidak ada tempat tidur ICU. Pasien akhirnya terbaring di lantai atau dipindahkan

ke tempat lain dan dirawat keluarga mereka. Banyak pasien menjalani operasi yang secara medis

kami anggap berhasil. Mereka melewati operasi, selamat, dan kami

melakukan terapi yang dianggap tepat. Tetapi begitu banyak dari mereka kemudian meninggal

tiga atau empat hari kemudian karena tidak mendapat nutrisi, tidak ada antibiotik,

dan tidak ada orang yang bisa segera menangani ketika kondisi memburuk. Tak ada cara

untuk mengawasi mereka dengan sangat ketat selama beberapa hari pertama seperti di ICU.

Itu tidak terjadi. Saya tinggal sekamar dengan dua dokter gawat darurat, jadi mereka akan mendapat pemberitahuan

ketika korban massal masuk. Dengan begitu kami otomatis tahu kapan tenaga kami dibutuhkan.

Kadang kami bekerja tanpa listrik, tanpa alat, tanpa instrumen yang bersih,

tanpa kain kasa. Pernah kami hampir kehabisan perban, sementara pasien-pasien itu membutuhkan operasi

berulang karena infeksi mulai masuk. Tak ada sistem layanan kesehatan canggih di dunia yang

mampu menghadapi apa yang terjadi di Gaza. Dokter ICU anak adalah dokter

yang dipanggil ke IGD ketika terjadi kondisi yang mengancam nyawa seorang anak,

baik akibat kecelakaan lalu lintas maupun trauma berat lainnya.

Saya belum pernah melihat sesuatu yang begitu mengerikan, begitu intens, dan berlangsung terus-menerus

menimpa anak-anak. Saya ingat berpikir, “Ini dua bulan setelah putusan ICJ

tentang kemungkinan genosida. Ini hal terburuk yang pernah saya lihat. Tak mungkin lebih buruk dari ini.”

Hari ini Selasa, 2 April, dan drone kembali terdengar.

Kemarin kami mengalami hari yang cukup mengkhawatirkan karena melihat berita

bahwa Rumah Sakit Al-Shifa dan Kota Gaza kurang lebih telah diratakan.

Streaming Movie Gratis, Update, FullHD di gfymultimedx.online

Jadi...

Jadi...

meskipun kehancurannya tak terbayangkan,

mereka tetap beroperasi dan memberikan layanan darurat di kompleks Al-Shifa dengan memanfaatkan sebagian

ruang administrasi dan rawat jalan yang tidak hancur total untuk dijadikan IGD,

bangsal rawat inap darurat, dan dua ruang operasi. Gila rasanya, mereka kembali memberikan perawatan.

Mereka benar-benar kembali merawat pasien. Saya ingat seorang teman ahli bedah sedang mengoperasi bersama saya

ketika seseorang masuk dan memberi tahu bahwa saudara perempuannya baru saja terbunuh.

Ia tetap melanjutkan operasi. Setelah itu ia berkata, “Maaf, saya harus pergi.” Saya juga pernah berada di ruang operasi bersama

seorang dokter luar biasa yang sangat saya kenal dan dulu sering bekerja bersama. Sedikitnya dua atau

tiga kali selama empat minggu saya di sana, ia sampai pingsan atau hampir pingsan saat operasi

karena begitu lapar. Ia benar-benar harus duduk dan menundukkan kepala di antara kedua lututnya

karena kelaparan. Setelah itu ia berdiri lagi dan berkata, “Saya akan lanjut.” Kami menjadi

wadah untuk membawa kisah mereka. Saya sungguh percaya bahwa sebagai tenaga kesehatan internasional,

kami menjadi pembawa cerita mereka. Ceritanya bukan tentang kami, melainkan tentang apa yang mereka alami.

Namun kami ditempatkan dalam posisi untuk menyampaikan kisah itu.

Kami memberi mereka sedikit jeda, memberi mereka harapan, setidaknya saya berharap begitu, dan menunjukkan

bahwa mereka belum dilupakan, di dunia yang bagi mereka terasa seolah-olah

telah melupakan mereka. Menurut saya, setiap hari kami hadir untuk mengatakan bahwa kami tidak melupakan

mereka. Hari ini 7 April. Kami berada di Rumah Sakit Gaza Eropa di Khan Younis dan sedang

mencoba membuat video perpisahan bersama Rosie. Nona Rose dan para relawannya

benar-benar luar biasa. Lihat ini.

Terima kasih. Dua minggu ini menjadi pengalaman terbaik bagi saya. Terima kasih.

Kami sangat menghargai usaha Anda dan keputusan Anda datang untuk membantu kami. Itu sangat berarti.

Kami belajar banyak dari Anda.

Um...

Sekarang Senin, 8 April, pukul 10.56, dan saya berada di sebuah kamar hotel di Kairo.

Saya sudah keluar dari Gaza dengan selamat dan misi dua minggu saya berakhir.

Dan...

sulit rasanya menentukan apa yang harus saya katakan. Saya masih merasa

sangat bersalah karena setelah melalui semua itu, saya bisa begitu saja

pergi dan kembali ke kehidupan saya yang nyaman di London, sementara

penduduk Gaza yang masih tinggal di sana harus terus menjalani

apa pun yang masih harus mereka hadapi sampai semua ini berakhir.

Jadi perasaannya benar-benar campur aduk. Dan sekarang cukup

sulit membayangkan bagaimana semua ini akan berakhir, apakah saat ingin kembali nanti saya masih bisa

masuk, atau keadaan seperti apa yang akan saya temui. Itu cukup mengkhawatirkan.

Perjalanan kedua saya dimulai pada 20 April 2024, kembali masuk melalui

Rafah, lalu keluar dari Gaza pada 6 Mei, hari ketika Rafah diserang, mungkin Anda masih ingat,

dan dihancurkan. Kami bahkan menjadi orang-orang terakhir yang berhasil keluar dari Rafah sebelum tank-tank Israel

tiba. Kami keluar melalui Rafah ketika bom berjatuhan di sekitar kami.

Pasukan Israel telah mengambil alih penyeberangan Rafah di Gaza, di perbatasan dengan Mesir.

Pejabat bantuan memperingatkan bahwa operasi Israel memutus jalur penting bagi bantuan kemanusiaan

internasional yang sejak perang dimulai hanya bisa masuk ke Gaza sedikit demi sedikit.

Ketika pasukan Israel bergerak lebih jauh ke Gaza, pesawat tempur menggempur rumah-rumah warga sepanjang malam

hingga pagi.

Jadi...

Jadi...

Kali berikutnya saya kembali adalah Agustus 2024, dan saat itu kehancurannya jauh lebih parah.

Kali ini cara berkemas juga berbeda karena barang yang boleh kami bawa sangat dibatasi.

Pihak Israel pada dasarnya mengatakan kami hanya boleh membawa satu tas,

dan total nilai isi tas itu harus di bawah batas tertentu.

Jadi...

hal itu benar-benar menghalangi saya membawa semua barang yang sebelumnya ingin saya bawa.

Sebagian besar yang saya bawa sekarang adalah makanan,

air, beberapa pakaian anak-anak, dan sepatu anak-anak.

Ada juga beberapa barang khusus seperti kabel pengisi daya yang diminta para mahasiswa kedokteran.

Saya membawa komputer dan laptop, serta peralatan medis yang akan saya coba

bawa masuk. Ada beberapa klip ligamen, mudah-mudahan bisa dipakai untuk bedah mikro.

Ada juga 200 batang rokok yang seolah wajib dibawa, air, serta kacamata operasi. Saya membawa beberapa set,

dan saya sangat berharap bisa memasukkan yang satu ini, yaitu

satu-satunya baki instrumen saya. Kalau disita, itu akan memengaruhi apa yang bisa saya kerjakan.

Saat itu kami tidak lagi bisa masuk melalui Rafah karena penyeberangan itu telah direbut pada Mei,

dan Israel kini menduduki atau mengendalikan seluruh perbatasan.

Rumah Sakit Gaza Eropa juga sudah dievakuasi pada Juni.

Jadi pada Agustus kami tahu harus kembali ke Rumah Sakit Nasser. Saya pernah bekerja

di Nasser sebelumnya, jadi saya mengenalnya. Namun sekarang jalur masuk melalui Kerem Shalom, sebuah gerbang

jauh di bagian selatan Israel, sangat dekat dengan perbatasan Mesir. Kemarin agak

mengecewakan. Kami sudah sampai sejauh ini, bahkan sebenarnya sedikit lebih jauh.

Kami tiba di sisi Israel dan melewati bea cukai mereka. Saat hendak naik bus

untuk memulai perjalanan ke Kerem Shalom, kami mendapat kabar bahwa terjadi

pertempuran di Rafah dan perbatasan Kerem Shalom ditutup. Jadi kami diputar balik

dan dikirim kembali ke Amman. Kami pun bermalam dengan cukup nyaman di Amman, di hotel yang sedikit lebih baik,

dan sekarang kami kembali mengulangi seluruh proses. Mudah-mudahan kali ini bisa lebih jauh.

Jadi kami mulai lagi. Kemarin menghabiskan 13 setengah jam, sebagian besar di dalam bus,

melewati beberapa pos pemeriksaan: tas turun dari bus, lalu dinaikkan lagi. Tas Nona Rose benar-benar berat.

Punggung saya rasanya akan putus. Tapi selain itu, semangat kami tetap tinggi.

Perbedaannya pagi ini, kemarin bus penuh dengan obrolan

saat berangkat dari Amman, sedangkan hari ini benar-benar sunyi. Oh, bagus, sepertinya kita bergerak.

Kembali naik ke bus. Bus itu hanya punya 35 kursi dan semuanya

dialokasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam perjalanan Agustus itu, bersama kami ada seorang

ilmuwan yang melacak virus polio. Ada pula pakar penjinak bom.

Jadi orang-orangnya sangat beragam. Tetapi dari 35 orang itu, hanya saya dan Graham yang merupakan ahli bedah.

Artinya jumlah orang yang diizinkan masuk juga sudah berkurang. Ketika bus tiba

di Kerem Shalom, kami semua dipindahkan ke tujuh atau delapan kendaraan tanpa lapis baja dan dibawa

ke pusat pelatihan Orchard. Perjalanan itu sekitar 15 menit, dan selama kira-kira sepuluh menit pertama

saya tidak melihat tanda kehidupan sama sekali. Hanya puing. Semuanya sudah menjadi puing.

Sebagian besar bangunan bahkan tak bisa dikenali. Sesekali terlihat atap masjid tergeletak

di tanah, atau sisa-sisa sekolah. Tetapi puing ada di mana-mana.

Tak ada lagi orang beraktivitas di jalanan. Sungguh

mengejutkan melihat betapa besar perubahan yang terjadi hanya dalam beberapa bulan.

Jadi...

Ini unit luka bakar di Rumah Sakit Nasser. Kami sedang berjalan melewatinya.

Dulu ini memang unit luka bakar Nasser. Kami berjalan masuk untuk melihat

salah satu unit ICU yang ada di sini dan kerusakan yang terjadi.

Inilah kerusakannya.

Ya, saya tidak akan masuk terlalu jauh, tapi... wow.

Luar biasa.

Pada Agustus, tanda-tanda kelelahan sudah sangat terlihat dan ada beberapa

masalah kesehatan mental akibat semakin sedikitnya

barang yang bisa masuk ke Gaza. Pada tahap itu mereka bahkan melarang

produk kebersihan. Orang-orang tidak mendapatkan sabun mandi cair, sabun, sampo,

kondisioner, maupun pasta gigi. Ketika saya dan rekan saya masuk pada Agustus, semua kolega kami

sudah mengirim pesan meminta kami membawa sampo dan sabun. Saat tiba, terlihat jelas betapa mereka terpukul

memikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi, bagaimana barang-barang dasar seperti itu pun bisa dilarang.

Anda mulai merasakan keputusasaan mereka menghadapi keadaan tersebut.

Ketika berbicara dengan para staf dan mengenal mereka, hampir semuanya ternyata sudah mengungsi.

Hampir tak ada yang sejak awal bekerja di Rumah Sakit Nasser. Mereka sebelumnya bekerja di

Al-Shifa, Rumah Sakit Indonesia, dan rumah sakit-rumah sakit lain di utara. Kini semuanya telah terusir.

Mereka semua memiliki keluarga besar. Seorang staf berkata kepada saya, “Setelah semua ini, rasanya saya butuh banyak

terapi.” Sulit membayangkan apa yang terjadi pada kesehatan mental mereka

setelah hidup melalui semua ini.

Ya, sangat mengerikan. Kami juga baru bertemu sebuah tim yang datang dari utara

ke tempat kami menginap. Mereka orang-orang yang sangat baik, tetapi bercerita bahwa ketika mengungsi dari

utara, mereka ditembaki tentara Israel sementara serangan udara masih berlangsung.

Malam ini suara drone sangat keras. Satu hari lagi di Gaza.

Situasi yang tak seharusnya dialami atau disaksikan oleh manusia mana pun.

Namun rekan-rekan kami di sana menghadapinya jam demi jam, hari demi hari, minggu

demi minggu. Mereka sudah menjalaninya begitu lama, tetapi masih mampu menunjukkan belas kasih,

tetap melihat pasien sebagai manusia, memberi kenyamanan, dan berusaha menyelamatkan nyawa.

Sementara itu mereka sendiri terus mencemaskan keluarga: apa yang akan terjadi kepada mereka,

apakah mereka masih ada ketika pulang, atau apakah mereka harus mengungsi lagi.

Salah seorang dokter yang merupakan sahabat saya adalah konsultan neonatal. Ia sebelumnya

memimpin layanan neonatal dan maternitas di Al-Shifa dan wilayah utara.

Ia seorang janda dan melarikan diri bersama dua putri remajanya.

Saya sangat senang bisa bertemu dengannya lagi.

Perempuan ini benar-benar luar biasa, sangat tangguh. Ia bahkan datang bekerja bersama kedua putrinya.

Alasannya, seperti yang ia katakan sendiri, “Kalau kami harus mati, saya ingin kami semua mati

bersama.”

Namun ia tetap memberikan perawatan, tetap bercanda, mengajar, dan bahkan masih menulis makalah.

Ia masih berusaha menerbitkan protokol tentang bagaimana menangani

unit neonatal di tengah perang.

Luar biasa. Lebih dari seribu tenaga kesehatan telah terbunuh di Gaza.

Ratusan tenaga kesehatan ditahan Israel dan sedikitnya empat dilaporkan meninggal

dalam tahanan; jenazah mereka masih ditahan. Setiap tenaga kesehatan yang saya temui di Gaza

kehilangan keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Setiap orang yang saya temui

telah berkali-kali mengungsi dan dipaksa meninggalkan rumah sakit tempat mereka bekerja.

Banyak tenaga kesehatan terbunuh ketika mencoba menyelamatkan korban dalam serangan yang

sering disebut sebagai serangan ganda atau tiga kali: suatu lokasi dihantam,

kemudian tak lama setelah petugas penyelamat tiba untuk mengevakuasi korban, lokasi itu dihantam lagi,

bahkan untuk ketiga kalinya. Tenaga kesehatan lain terbunuh ketika sedang bekerja di rumah sakit.

Rumah sakit dan tenaga kesehatan melambangkan kehidupan serta upaya mempertahankan nyawa. Penyerangan

terhadap layanan kesehatan yang sistematis dan mencolok adalah batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar,

seperti begitu banyak batas merah lainnya.

Serangan yang sangat besar menghantam Rumah Sakit Gaza Eropa. Ini tepat di depan ruang gawat darurat.

Orang-orang tergeletak di tanah, serpihan ada di mana-mana, dan halaman depan rumah sakit hancur.

Sangat mengerikan. Saya berdiri di luar ruang operasi; kerusakan terlihat di belakang saya.

Kami bahkan tak bisa membawa pasien ke ruang operasi. Terlalu berbahaya. Ruang operasi

rusak, dan wajar saja para staf untuk sementara pergi mencari tempat yang lebih aman.

ICU juga benar-benar penuh dan kacau.

Ini serangan langsung ke rumah sakit.

Orang-orang terlihat bergerak di sekitar pintu masuk rumah sakit, membersihkan area

agar ambulans dan kendaraan lain bisa mencapai instalasi gawat darurat yang berada tepat

di depan saya. Staf pemeliharaan juga sibuk di dalam, mencoba

memperbaiki kerusakan agar ruang operasi bisa dibuka kembali nanti hari ini. Tampaknya banyak

infrastruktur penting telah dihancurkan dalam perang ini,

terutama bangunan keagamaan, fasilitas pendidikan, dan rumah sakit. Padahal tempat-tempat itulah

yang menjadi pusat budaya masyarakat dan kemampuan mereka merawat diri sendiri.

Kalau semua itu bukan markas Hamas, sulit memahami mengapa tempat-tempat tersebut

secara khusus menjadi sasaran seperti ini. Saya sendiri tidak pernah

melihat bukti adanya militan Hamas, atau siapa pun yang membuat saya curiga, berada di

rumah sakit. Dan mungkin yang lebih penting, saya tidak pernah melihat bukti seperti itu meskipun saya

memiliki akses tanpa batas ke semua rumah sakit yang saya datangi, setidaknya sejak 7 Oktober.

Sejak itu saya hanya bekerja di Rumah Sakit Nasser dan Al-Aqsa, tetapi akses saya sepenuhnya bebas. Saya telah berada di setiap

sudut rumah sakit itu dan tak pernah dilarang memasuki bagian mana pun. Mengenai Rumah Sakit Al-Shifa,

militer Israel sudah selama puluhan tahun menyebut Al-Shifa sebagai pusat komando.

Saya mengenal Al-Shifa dengan sangat baik dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Perlu benar-benar

ditegaskan bahwa klaim semacam itu terus diulang oleh pihak Israel lalu digaungkan oleh

pemerintah, para menteri, dan media kami. Namun menurut saya tidak pernah ditunjukkan bukti yang kredibel dan dapat diverifikasi

untuk mendukung klaim itu. Ini penting untuk ditegaskan karena

saya tidak melihat bukti kredibel dan terverifikasi yang mendukung klaim tersebut. Militer Israel

secara sengaja menghancurkan peralatan medis penyelamat nyawa. Saya melihatnya sendiri.

Saya mengunjungi rumah sakit anak tempat saya dulu mengajar, Rumah Sakit Anak Nasr. Ada Nasr

dan ada Nasser; keduanya rumah sakit berbeda. Rumah Sakit Anak Nasr, menurut saya, adalah rumah sakit

anak tertua dan salah satu rumah sakit anak umum utama

di Jalur Gaza. Anda mungkin pernah mendengar namanya karena sekitar setahun lalu,

ketika militer Israel memaksa rumah sakit itu dievakuasi dan staf ICU awalnya menolak meninggalkan pasien,

militer Israel meyakinkan mereka bahwa para pasien

akan dievakuasi dengan aman, lalu staf dipaksa keluar dengan todongan senjata.

Sekitar seminggu kemudian, ketika warga Palestina akhirnya bisa kembali setelah militer Israel

mundur, bayi-bayi yang masih terhubung ke ventilator di ICU ternyata tetap

berada di sana. Mereka tidak pernah dievakuasi. Mereka ditemukan sudah meninggal, masih terhubung ke ventilator dan membusuk

di tempat tidur rumah sakit. Itu Nasr. Ketika saya kembali, Rumah Sakit Nasr sudah rata dengan tanah.

Al-Rantisi, satu-satunya rumah sakit anak subspesialis di Jalur Gaza,

sebagian besar juga telah hancur. Tempat itu digunakan sebagai pangkalan militer oleh militer Israel

dan dipenuhi grafiti serta lubang peluru pada papan elektronik peralatan

penting penyelamat nyawa. Semuanya dirusak sehingga tidak mudah digunakan lagi untuk perawatan

penyelamat nyawa. Rumah Sakit Persahabatan Turki, satu-satunya rumah sakit kanker di Jalur Gaza, juga digunakan sebagai

pangkalan militer. Lalu di mana lebih dari 11.000 pasien kanker

yang sudah ada di Gaza sebelum Oktober 2023 bisa mendapatkan perawatan kanker?

Sangat sulit menyaksikan apa yang terjadi. Selama berada di Gaza, kami hampir tak pernah melihat lebih dari satu dari

empat rumah sakit utama berfungsi pada waktu yang sama. Rasanya seperti kebijakan “satu buka, satu tutup”:

begitu satu rumah sakit mulai bangkit kembali, rumah sakit lain harus ditutup. Al-Shifa sudah dihancurkan,

dibangun kembali, lalu terancam dihancurkan lagi. Rumah Sakit Gaza Eropa sudah dua kali dievakuasi,

Nasser juga sudah dua kali dievakuasi. Sangat

sulit mengikuti logika yang bisa membenarkan semua ini.

Jadi...

Abdul Rahman al-Najjar terbunuh pagi ini, pada dini hari,

akibat sebuah roket yang menghantam rumah tempat ia berada bersama bibi dan sepupunya. Jadi hari ini benar-benar menyedihkan.

Terlebih lagi karena Abdul Rahman sudah mengatur agar semua orang datang ke Nasser hari ini untuk menemui saya.

Saya bahkan sudah mengosongkan sebagian jadwal operasi untuk bertemu mereka. Sayangnya,

anak-anak perempuan itu cukup terpukul, tetapi Haitham berhasil datang dan kami

sempat berbincang dan berduka bersama. Hari ini sangat menyedihkan, bukan hanya bagi saya dan

tim dari Rumah Sakit Gaza Eropa, tetapi juga bagi semua dokter internasional yang pernah bekerja bersama

mereka. Grup kami dipenuhi pesan tentang kematian tragis Abdul Rahman. Ia

pemuda luar biasa yang berbahasa Inggris dengan sangat fasih. Semua orang benar-benar terpukul

kehilangan seseorang dengan potensi sebesar itu. Ya, saya setuju. Dia memang

pemuda yang luar biasa. Potensinya besar, ambisinya juga sangat tinggi,

dan dalam keadaan sulit ia selalu sangat membantu. Ia pernah ditahan oleh IDF

dan diberi tahu bahwa ia tidak akan pernah menjadi dokter. Dengan tenang ia menjawab, “Saya akan menjadi dokter.

Dan saya akan menjadi dokter yang sangat baik.” Begitulah pembawaannya.

Sungguh tragis. Begitu banyak potensi yang hilang. Kau mengenalnya?

Ya. Benar.

Benar.

Kami melihatnya berulang kali: menimpa rekan-rekan kami, keluarga, rumah sakit,

ambulans, klinik layanan primer, pusat rehabilitasi, pusat layanan bagi

tunarungu dan tunanetra, sekolah, dan universitas. Saya pernah mengatakan ini

sebelumnya, tetapi saya telah berkendara melintasi Gaza dan melihat bagaimana setiap bangunan, setiap

kelompok usia, setiap profesi, bahkan setiap makhluk hidup, berada di bawah serangan dari

apa yang menurut saya merupakan kegilaan genosidal.

Pada 2 Maret perbatasan ditutup. Semakin lama, semakin sulit memasukkan apa pun.

Akhirnya nyaris mustahil. Peralatan medis, makanan,

obat-obatan, tidak ada yang masuk. Keadaan terus memburuk dan persediaan tertentu mulai habis.

Salah satu hal utama yang saya pelajari adalah bagaimana hidup dengan penyakit kronis,

terutama akses terhadap obat pereda nyeri. Obat itu diperlukan untuk cedera dan

luka bakar, untuk masalah akut, tetapi juga sangat dibutuhkan pasien dengan penyakit kronis berat

seperti kanker. Bayangkan hidup dengan kanker yang terus berkembang tanpa akses

pengobatan dan tanpa pengendalian nyeri. Nyeri seharusnya diringankan, penderitaan seharusnya dikurangi.

Jika hal itu sengaja tidak disediakan, menurut saya itu sama saja dengan penyiksaan. Kemarin

sangat buruk. Ratusan pasien masuk ke IGD Rumah Sakit Nasser. Kami melakukan banyak laparotomi

sepanjang siang dan malam untuk trauma berat pada perut dan dada. Bukan hanya akibat ledakan bom; kami juga

mengoperasi luka tembak. Cedera yang kami lihat sangat, sangat parah dan datang tanpa henti.

Semua orang sudah kelelahan, tetapi jelas itu tidak seberapa dibanding

kelelahan tenaga kesehatan lokal. Malnutrisinya mengejutkan. Pasien-pasien

yang sedang pulih dari cedera dan operasi besar hampir tidak mendapat nutrisi.

Secara luar biasa, beberapa keluarga masih berhasil mendapatkan makanan. Setiap pagi kami melakukan visite dan saya

selalu menekankan betapa pentingnya mendapat nutrisi sebaik mungkin. Menakjubkan

bahwa sebagian keluarga masih bisa mendapatkannya, tetapi banyak pasien di bangsal nyaris tidak makan sama sekali.

Ini aku, Abu Jak. Kamu baik-baik saja?

Hei.

Oh.

Beberapa hari lalu saya berbicara dengan seorang rekan yang menjadi direktur pediatri di salah satu rumah sakit.

Ia mengatakan sedikitnya 70 sampai 80 persen dari semua anak

yang sekarang ia lihat di rumah sakit mengalami malnutrisi.

Tujuh puluh sampai delapan puluh persen dari seluruh anak yang ia tangani mengalami malnutrisi.

Malnutrisi tentu sangat menyedihkan dalam jangka pendek. Bayangkan tidak

mampu memberi makan anak sendiri, atau melihat seorang anak benar-benar kelaparan dan apa artinya.

Namun dampak jangka panjangnya juga sangat menghancurkan karena otak anak sedang berkembang

ketika mereka tumbuh. Kita tahu malnutrisi memberi dampak jangka panjang terhadap perkembangan

otak anak dan potensi mereka di masa depan.

Hari ini saya kembali mengunjungi unit anak dan benar-benar terguncang. Melihat anak-anak itu

membuat saya menangis. Mata saya berkaca-kaca melihat betapa luar biasanya kurus mereka.

Ada bayi perempuan berusia tujuh bulan yang tampak sekecil bayi baru lahir. Ungkapan

“tinggal kulit dan tulang” bahkan belum cukup menggambarkan keadaannya. Tidak ada massa otot sama sekali, setiap tulang rusuk

terlihat, tanpa tenaga, tak mampu bergerak seperti seharusnya. Sangat memilukan.

Penguat ASI.

Ya, ada dua jenis: cair dan bubuk dalam sachet.

Penguat ASI itu tidak bisa didapat. Di sini sama sekali tidak ada. Jadi kalian memberikan...

Lahir pada usia kandungan 26 minggu.

ASI atau susu formula. Formula yang tersedia di sini disebut formula pascapulang.

Padahal formula itu ditujukan untuk anak yang lebih besar.

Mereka terpaksa memakai formula apa pun untuk memberi makan anak-anak ini karena semua kebutuhan yang sesuai ditolak masuk

oleh pihak Israel.

Hal itu sangat nyata bagi saya ketika salah seorang dokter Amerika yang bersama saya

masuk beberapa hari lalu dengan membawa susu formula, dan seluruhnya disita oleh petugas

perbatasan Israel.

Semuanya disita.

Barang lain diizinkan masuk, tetapi semua susu formula secara khusus diambil.

Sementara anak-anak di ICU sedang memulihkan diri dari cedera berat dan tak punya apa pun untuk

dimakan.

Tidak ada minuman nutrisi seperti Ensure, tidak ada cairan nutrisi untuk dimasukkan melalui selang nasogastrik, dan tidak ada nutrisi

intravena. Banyak anak hanya diberi dekstrosa 10 persen, yang pada dasarnya hanyalah air gula

tanpa nilai gizi yang memadai.

Berat badan mereka terus turun. Mereka tidak akan pulih, luka mereka bisa

terbuka kembali, dan risiko mereka meninggal menjadi jauh lebih tinggi.

Dalam satu sisi, kami sudah menduga akan melihat cedera akibat serangan militer Israel yang terus berlangsung.

Namun malnutrisi dan kelaparan yang disengaja terhadap penduduk Gaza terasa

benar-benar tidak dapat diterima.

Jika terjadi kekurangan makanan ekstrem pada awal kehamilan, hal itu dapat

memengaruhi pertumbuhan organ tertentu, perkembangan otak, bahkan ginjal.

Jika terjadi pada tahap akhir kehamilan, dampaknya akan berbeda. Jadi waktu

terjadinya malnutrisi atau kekurangan makanan pun dapat memengaruhi peluang hidup,

perkembangan, penyakit kronis, serta perkembangan intelektual seseorang.

Pada Mei keadaannya sudah sangat berbeda karena malnutrisi. Makanan tidak lagi masuk

dan praktis tidak masuk sejak Maret.

Sangat jelas mereka mengalami dampak malnutrisi, yang mencakup

kelelahan dan depresi. Saya benar-benar melihat itu pada mereka.

Beberapa bahkan mengatakan mereka lebih baik mati daripada terus menjalani keadaan ini. Sangat

berat mendengar itu dari orang-orang yang sudah lama Anda kenal.

Kita berada di tengah bencana kelaparan yang diciptakan manusia.

Kita berada di tengah kelaparan buatan manusia yang merupakan akibat langsung dari

tindakan Israel dan benar-benar tidak dapat diterima.

Harus ada evaluasi menyeluruh dan segera terhadap cara bantuan disalurkan ke Gaza.

Pengelolaannya harus dikembalikan kepada organisasi-organisasi yang selama ini menangani distribusi bantuan

sejak perang dimulai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan para mitranya mampu menyalurkan bantuan melalui berbagai titik masuk

kepada masyarakat.

Mereka tidak pernah dimiliterisasi dan tidak pernah meminta penduduk bepergian jauh

untuk mendatangi mereka.

Mereka bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga layanan penting seperti sanitasi,

air, serta merawat sekitar 42.000 anak yatim yang kini ada di Gaza.

Perbedaan besar pada perjalanan terakhir saya, pada Juni dan Juli 2025, adalah jumlah

luka tembak yang kami lihat. Saya sempat menyinggungnya sebelumnya.

Dalam perjalanan-perjalanan terdahulu saya hanya melihat segelintir luka tembak, kebanyakan akibat quadcopter, tetapi kali ini kami melihat

banyak korban luka tembak yang dilaporkan ditembak di titik distribusi makanan GHF

oleh tentara Israel.

Suatu hari hampir semua yang datang adalah luka tembak di kepala. Hari lain,

luka tembak di leher. Hari lain lagi di perut, lengan kiri, atau

lengan kanan. Rasanya seolah-olah—dan begitulah rekan-rekan saya di IGD

yang sangat saya kenal menggambarkannya—seakan-akan para tentara Israel

sedang memainkan sebuah permainan.

Suatu hari ada empat remaja laki-laki datang, semuanya tertembak di

testis.

Saya tidak merawat mereka karena kasusnya ditangani ahli urologi, tetapi kami semua sering membicarakan

pola dan pengelompokan cedera itu. Polanya begitu mencolok sehingga

sulit membayangkan semuanya terjadi secara kebetulan. Satu-satunya kesimpulan yang bisa kami

duga adalah seolah-olah para tentara Israel sedang melakukan latihan menembak sasaran.

Perilaku seperti itu sebelumnya tak pernah saya bayangkan mungkin terjadi di

dunia ini, kalau saya tidak menyaksikannya sendiri. Dan menurut saya, perilaku ini

pada praktiknya dibiarkan oleh pemerintah kami karena mereka menolak berdiri tegas

dan mengecam Israel atas kejahatan pembunuhan serta perilaku genosidal mereka.

Streaming Movie Gratis, Update, FullHD di gfymultimedx.online

Terima kasih banyak.

Terima kasih banyak.

Terima kasih banyak.

Menurut saya, salah satu aspek paling menghancurkan dari propaganda seputar apa yang terjadi

di Gaza adalah proses dehumanisasi. Dan dehumanisasi merupakan unsur penting dalam genosida.

Saya pernah mendapat kesempatan bekerja di tempat lain seperti Rwanda. Ada unsur-unsur umum

yang berulang dalam berbagai genosida di dunia. Di Palestina, kami melihatnya

dalam skala yang menurut saya belum pernah kami lihat di tempat lain, setidaknya di zaman

modern.

Ada penghancuran fasilitas yang semata-mata dibangun untuk merawat anak-anak, serta penghancuran

tempat seperti klinik IVF Al-Amal, tempat lebih dari 4.000 embrio dihancurkan.

Hal-hal ini disengaja. Dari pengalaman saya, rasanya dalam satu hari di IGD pun saya bisa

membentuk kesimpulan, atau setidaknya memahami gambaran tentang apa yang

sedang dilakukan terhadap orang-orang ini.

Lalu ada pertanyaan yang lebih luas: sebenarnya apa saja yang menjadi sasaran?

Rumah sakit anak, susu formula bayi, peralatan medis, obat-obatan, peralatan untuk

perawatan penyelamat nyawa, tenaga kesehatan, sekolah, universitas, kamp pengungsi, toko roti, instalasi air

dan sanitasi. Hampir semua yang mutlak dibutuhkan untuk mempertahankan hidup menjadi sasaran.

Semua yang diperlukan agar generasi mendatang masih punya harapan untuk tumbuh dan berkembang

juga menjadi sasaran.

Saya tidak tahu bagaimana rekan-rekan dan sahabat tenaga kesehatan Palestina mampu bertahan selama

22 bulan terakhir. Mereka memang bertahan dan terus bekerja, tetapi

bagaimana caranya, saya tidak tahu. Seperti saya katakan tadi, kata-kata tak cukup untuk menggambarkan

kasih dan kekaguman saya kepada mereka. Mereka sungguh sangat menginspirasi.

Saya berada di sana selama empat minggu pada Juni dan Juli 2025. Ketika pulang saya benar-benar

kelelahan. Saya belum pernah merasa waktu dan tenaga terkuras seperti itu. Berat badan saya turun enam kilogram,

dan butuh berminggu-minggu untuk pulih. Tapi itu hanya empat minggu. Mereka sudah menjalaninya

selama 22 bulan. Saya tidak tahu bagaimana mereka bertahan. Bagi saya, mereka benar-benar pahlawan,

orang-orang yang luar biasa.

Sangat emosional ketika mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang. Banyak air mata. Insyaallah, saya akan bertemu mereka lagi.

Saya sangat ingin pulang, tetapi juga sangat sedih harus meninggalkan tempat ini. Sedih meninggalkan teman-teman,

dan pasien-pasien saya. Ya Tuhan... baiklah.

Menurut saya jauh lebih sulit berada di luar Gaza, melihat apa yang terjadi, tetapi tidak melakukan

apa-apa. Ada rasa lega begitu Anda berhasil masuk dan berpikir,

“Syukurlah. Sekarang saya bukan lagi pengamat pasif dari apa yang saya anggap genosida. Saya bisa berada di sini

dalam solidaritas. Mudah-mudahan saya bisa membantu secara klinis.” Jadi dalam banyak hal, hadir langsung terasa melegakan.

Namun tetap sangat berat. Sangat berat.

Saya dokter ICU anak. Jadi saya memang sering menghadapi anak yang meninggal atau mengalami kondisi yang mengancam

nyawa. Saya juga sering mendampingi orang tua ketika mereka takut kehilangan anak, atau

ketika mereka benar-benar kehilangan anak. Di Gaza, keadaan seperti itu terjadi terus-menerus. Dan bukan sekadar kehilangan seorang anak.

Ada anak yang kehilangan semua orang dalam hidupnya. Ada ayah yang kehilangan seluruh keluarganya.

Sangat berat menyaksikan itu setiap hari. Saya sering memikirkan

hal ini karena salah satu sahabat saya adalah ahli bedah di Gaza. Ia sering berkata,

dalam bahasa Arab, “Hatiku sudah tak sanggup menampung kesedihan ini lagi.” Dan ia mengatakan,

kesedihan itu tidak selalu berasal dari keluarga dekatnya sendiri—semoga Allah melindungi mereka—tetapi juga dari semua orang

di sekitarnya, teman-teman yang mereka kehilangan, serta rekan-rekan kerja yang juga

mereka kehilangan.

Saya baru saja berjalan kembali melewati bangsal bersama Haitham, yang mengantar saya ke

tempat menginap. Saat kami melewati salah satu bangsal, semua laki-laki di rumah sakit

duduk di lantai mengelilingi meja perawat. Salah seorang sedang berbicara.

Ternyata ia adalah ayah Sanad, anak kecil yang luka robek di kulit kepalanya saya tangani.

Ia berbicara dengan penuh semangat kepada kelompok itu. Jadi saya bertanya kepada Haitham apa

yang ia katakan. Haitham menjelaskan bahwa ia sedang mengatakan kepada para lelaki lain bahwa mereka harus

tetap berani, percaya kepada Allah, bahwa mereka berhak berada di Palestina,

bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang, dan bahwa mereka akan tetap bisa tinggal di tanah ini.

Entah bagaimana, rasanya melegakan mengetahui bahwa mereka belum kehilangan keyakinan

dan masih ada orang-orang di antara mereka yang percaya bahwa ada jalan keluar dari

situasi ini.

Sebagai salah satu dari sedikit pengamat internasional yang diizinkan masuk ke Gaza, saya bisa mengatakan: habiskan saja

lima menit di sebuah rumah sakit di sana, dan Anda akan melihat dengan sangat jelas bagaimana warga Palestina

sedang secara sengaja dibantai, dibuat kelaparan, dan dirampas dari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempertahankan

hidup.

Kami baru saja mengoperasi seorang anak berusia tujuh tahun yang mengalami cedera ledakan hingga merobek bagian besar

pipi kirinya, bagian belakang bahu kirinya, dan lutut kirinya. Saya

baru saja mengeluarkan pecahan-pecahan logam dari lukanya dan membersihkannya sebaik mungkin.

Selama 14 bulan terakhir, secara kolektif kami menangani korban setelah satu pembantaian warga sipil

ke pembantaian berikutnya, di sedikit rumah sakit Gaza yang masih berfungsi sebagian.

Sebelum anak itu, saya mengoperasi adik perempuannya yang berusia lima tahun dengan cedera sangat berat pada

lengan kiri. Tulang humerusnya—tulang bagian atas lengan—patah. Ia kehilangan

sekitar 90 persen kulit pada lengannya dan bagian luar tangan kirinya juga hilang. Saat ini

saya belum tahu apakah lengannya masih bisa diselamatkan. Sementara rekan-rekan saya

di ruang sebelah, para ahli ortopedi, sedang mengoperasi ibu mereka,

yang mengalami cedera ledakan pada kedua bahu dan kehilangan tulang serta kulit di kedua bahunya.

Mereka belum yakin cedera itu dapat diselamatkan.

Seluruh keluarga telah musnah dan namanya terhapus dari catatan sipil. Rekan-rekan kami di bidang kesehatan

dan kemanusiaan terbunuh dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami telah merawat begitu banyak

anak yang kehilangan seluruh keluarganya, fenomena yang begitu sering terjadi di Gaza hingga

memiliki istilah khusus: “anak terluka, tidak ada keluarga yang selamat.”

Jadi ya, hari ini bukan hari yang baik bagi kami. Saya tak akan berbohong. Dan keadaan makin buruk karena

kami baru tahu bahwa sekarang kami berada di tepi zona pertempuran aktif, sehingga

suara pengeboman diperkirakan akan jauh lebih keras. Kami juga kehilangan empat anggota tim

yang harus kembali ke tempat tinggal dan tenda mereka karena berada di wilayah

pertempuran aktif dan sudah mendapat perintah evakuasi. Jadi empat orang meninggalkan kami untuk

kembali mengevakuasi keluarga masing-masing. Staf kami sekarang sangat terbatas dan ya, ini benar-benar

masa yang sangat buruk. Kami menggenggam tangan anak-anak ketika mereka menarik

napas terakhir, tanpa siapa pun selain orang asing untuk menghibur mereka. Mereka yang cukup pulih

untuk keluar dari rumah sakit tetap menghadapi risiko kematian yang nyata, entah akibat

pengeboman lain, kelaparan, dehidrasi, atau penyakit. Saya ingat banyak orang menyebutnya genosida

sejak awal. Saya ingat pada 8 Oktober berbicara dengan Khamis Elessi,

sahabat dekat saya di Gaza, dan juga dengan beberapa teman lain. Kami semua

sangat takut melihat apa yang sedang berkembang dan apa yang akan terjadi. Saya ingat orang-orang

menggunakan kata “genosida” sejak sangat awal. Saat itu, entah mengapa,

saya masih agak enggan menggunakannya. Tetapi saya sudah banyak memikirkannya, dan dari apa yang

saya saksikan dengan mata kepala sendiri, kini tidak ada sedikit pun keraguan dalam pikiran saya bahwa

yang sedang terjadi adalah genosida, bahwa setiap hari saya berada di sana saya melihat banyak kejahatan perang

dan bukti yang sangat jelas tentang pembersihan etnis. Jadi menurut saya ini sangat jelas

merupakan genosida. Dari apa yang terlihat, seluruh penduduklah yang

menjadi sasaran. Saya tidak tahu apa tujuan semua itu selain untuk menyingkirkan

mereka dan mengambil tanahnya. Retorika dari sebagian anggota

pemerintahan Israel saat ini juga, menurut saya, mendukung kesimpulan tersebut. Ada pernyataan

tentang memusnahkan semuanya sampai orang terakhir, menghancurkan seluruh wilayah, menjadikannya seperti

Auschwitz. Itu membuat Anda khawatir bahwa tujuannya memang memusnahkan penduduk. Ditambah

operasi di Tepi Barat dan dorongan mengambil lebih banyak tanah, kesimpulan yang tampak jelas

adalah upaya membersihkan seluruh kawasan secara etnis. Seluruh lingkungan,

semua yang menopang kehidupan, dihancurkan, disertai pembunuhan langsung; keduanya merupakan bagian dari genosida.

Pencegahan kelahiran yang aman merupakan bagian dari genosida; kelaparan yang disengaja juga bagian

dari genosida. Bahkan ada semacam permainan harapan. Seorang rekan berkata kepada saya kemarin, “Sekarang ada

sedikit makanan di rak. Rasanya seperti domba menjelang Iduladha, digemukkan hanya untuk

disembelih.” Yang saya lihat adalah perpindahan terus-menerus karena orang-orang dipaksa pergi. Mereka bukan

pindah secara sukarela; mereka diusir dari rumah di utara, kemudian

diberi tahu harus meninggalkan tempat berikutnya karena sudah menjadi zona pertempuran, kalau tidak mereka bisa

terbunuh. Titik pengambilan air menjadi sasaran, listrik dimatikan,

air diputus, tak ada tempat yang benar-benar aman, sementara

politisi dan komandan militer Israel mengatakan kepada mereka bahwa

Gaza akan dihapus atau diratakan.

Hari ini kami menerbitkan laporan yang menganalisis tindakan Israel di Jalur Gaza berdasarkan

Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida. Komisi menyimpulkan

bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza dan bahwa

hal itu masih berlangsung. Terus terang, saya tidak peduli Anda menyebutnya apa. Anda bisa menyebutnya

genosida, pembersihan etnis, penghancuran massal penduduk, apa pun.

Apa pun istilahnya, itu salah dan harus dihentikan. Tindakan itu bertentangan dengan

setiap prinsip kemanusiaan yang kita miliki dan bertentangan dengan hukum internasional untuk memperlakukan

manusia seperti ini. Menurut saya kita perlu menghabiskan lebih sedikit waktu memperdebatkan semantik

definisi, dan lebih banyak waktu memikirkan jumlah orang yang terbunuh serta bagaimana

menghentikannya. Terutama setelah perjalanan terakhir saya pada Juni dan Juli 2025, saya merasakan

kemarahan terbesar yang pernah saya rasakan terhadap apa yang terjadi, termasuk kemarahan besar kepada pemerintah saya

karena tidak cukup berani berdiri dan mengatakan apa yang sedang terjadi. Menurut saya, jelas

genosida sedang berlangsung di depan mata dunia dan dilaporkan di seluruh dunia.

Harus ada embargo senjata. Bantuan harus masuk tanpa penyaringan dan tanpa dimiliterisasi.

Apa yang terjadi adalah genosida, apa yang terjadi adalah pembersihan etnis. Saya tidak melihat

kemauan dari para pemimpin selain sekadar menunjukkan bahwa mereka mendengar,

tanpa benar-benar memahami apa yang kami katakan. Dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.

Tak seorang pun akan sama setelah ini. Apa arti semua ini tentang kemampuan manusia

melakukan kebiadaban seperti itu, dan tentang sikap apatis begitu banyak orang yang hanya duduk dan menyaksikan

semuanya terjadi? Terus terang, itu mengguncang dasar tentang apa artinya berbagi

planet ini dengan manusia lain. Dalam beberapa hal, menurut saya rakyat Palestina justru

akan menjadi pihak yang mempertahankan kemanusiaan mereka, apakah mereka hidup atau meninggal.

Mereka tetap mempertahankan kemanusiaannya. Justru pihak lain, menurut saya, yang akan membayar harga berat

karena gagal menunjukkan kemanusiaan yang sama. Kita harus memastikan orang-orang yang bertanggung jawab

dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya Benjamin Netanyahu dan para menterinya,

tetapi juga politisi Barat lain yang melalui kebisuan mereka telah ikut membiarkan

apa yang merupakan genosida yang sangat jelas. Hari ini saya berbicara kepada Anda sebagai anggota masyarakat sipil

dan sebagai tenaga kesehatan yang menyaksikan langsung kematian serta kehancuran yang menimpa

rakyat Palestina. Selama 14 bulan terakhir, kami menyaksikan apa yang disebut sebagai genosida yang paling banyak disiarkan langsung

dan didokumentasikan dalam sejarah, tetapi dihadapi dengan kebisuan dan kampanye propaganda luas

yang membenarkan hal yang tak dapat dibenarkan, serta membungkam dan mendiskreditkan mereka yang mencoba mengungkapkannya.

Para saksi mata yang berhasil keluar hidup-hidup berulang kali melaporkan kejahatan yang dalam konteks lain

akan memicu sanksi. Tetapi di sini, setelah 14 bulan pelanggaran paling berat

terhadap hukum humaniter, pelanggaran berat hak asasi manusia, dan kejahatan perang yang biadab, semuanya justru disambut dengan

ketidakberdayaan dari individu, negara, dan bahkan lembaga yang diwakili gedung ini.

Suatu hari seseorang akan membuka kembali catatan kesaksian kami, permohonan yang kami sampaikan selama 14 bulan.

Mereka akan menemukan catatan warga Palestina yang mendokumentasikan sendiri genosida yang mereka alami ketika jurnalis internasional

dilarang masuk dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Anak-anak Palestina bahkan mengadakan konferensi

pers untuk mengatakan kepada dunia bahwa hidup mereka berarti. Kita akan diminta menghadapi sejarah itu.

Ketika dunia akhirnya membalik halaman ini, jika hari itu benar-benar datang, jangan pernah katakan Gaza diam.

Jangan bayangkan kami menghilang tanpa bersuara. Kami berbicara dengan mulut penuh debu.

Kami bernyanyi meski gigi patah. Kami berdoa dengan lutut yang remuk. Dan meskipun dunia mungkin

berpaling, ingatlah ini: kami menyebut kelaparan itu. Kami menanggungnya. Kami bertahan. Biarlah itu tetap dikenang.

Mari bernyanyi demi firman Tuhan.

Belas kasih rakyat, kehormatan gunung. Dan kami yang berada dalam kegelapan.

Kami akan dihukum karena terbiasa dengan dingin. Dan kamilah yang membeku.

Ya, terlalu sedikit, tapi belum terlambat.

Berharap kau membalas semua panggilanku. Apa kau berhasil? Tuhan tahu

mereka telah merencanakan kejatuhanmu. Apa kau berhasil, bertahan hanya dengan tekadmu?

Menembus kabut sang penjaga, akhirnya aku tersadar. Kuharap kau berhasil. Aku tak bisa berjuang agar

kau tetap tinggal, juga hakmu untuk pergi melalui gerbang Afro-Asia atau barisan tipu daya.

Apakah kita bebas dari cacat sang makhluk yang jatuh? Hanya saat itu kita percaya bahwa kita telah keluar.

Belas kasih rakyat, kehormatan gunung. Dan kami yang berada dalam kegelapan.

Kami akan dihukum karena terbiasa dengan dingin. Dan kamilah yang membeku.

Oh, kebebasan, oh, cahaya di matamu. Mari bernyanyi demi firman Tuhan.

Dan kuharap kau terbangun. Biarkan mereka berdebat apakah suara kita berarti.

Tuhan tahu aku tak sanggup.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.