Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Synchronized & Checked: NDASERUAG
--- Selamat Mendeleng ---
Sudah setahun sejak tragedi kereta api
yang mengguncang warga Remis.
Kecelakaan itu merenggut 46 nyawa
dan banyak orang yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi.
Kejadiannya 21 Maret 2009, jam 12:33 siang,
saat kereta barang yang melaju di jalur Venesia-Tarvisio
bertabrakan dengan kereta regional dengan kecepatan lebih dari 110...
Peluk dia.
Nanti aku peluk kalau sudah pulang.
Aku sayang kamu.
Jadi kamu sayang aku?
- Ambilkan kopi dengan es krim. - Astaga, tapi aku mau...
tapi...
Yang semoga bisa mengembalikan untuk semua orang...
Ayo tunjukkan ke ayah hebatnya kamu.
Ayo, pesawatnya datang...
Lihat, buka mulutnya. Ayo buka.
Lihat pesawatnya terbang, terbang...
Ayo buka, buka...
Ayo.
Buka!
Lihat, pesawat mainannya datang.
Buka.
Buka mulutnya...
Buka!
Ini harus kamu makan.
Selamat Datang di REMIS Lembah Senyuman
Profesor Rossetti, selamat datang.
Senang bertemu Anda. Saya Elisabetta Gengolo, kepala sekolah.
- Senang bertemu Anda. - Macet di jalan?
Kami sudah menunggu Anda sejam lalu.
Dan Anda sudah menunggu seperti ini selama satu jam?
Anda sudah jadi bintang di sini, tau.
Sudah berminggu-minggu kami tidak membicarakan hal lain.
Masa sih.
Tidak setiap hari kami dapat mantan juara judo sebagai pengganti.
Staf pengajar kami...
sebagian.
Ini Anna Cesca, guru Bahasa Inggris.
Keren, kan?
Anak-anak yang membuatnya.
Mereka menemukan foto Anda di internet
dan tidak tahan untuk tidak membuatnya.
Profesor Rosetti,
ini Franco, asisten sekolah kami.
- Si Tukang kebun. - Jangan bilang begitu di sini.
Kalau ada yang punya masalah, mereka tidak datang ke saya, tapi ke dia.
Meski awalnya dia agak cemburu...
Maaf, tapi saya cuma ingin pulang saja, kalau boleh.
Tentu saja.
Anda pasti sangat lelah.
- Bisa antar dia? - Tentu saja.
Tempatnya tidak terlalu di pusat, tapi nanti Anda lihat.
Tempatnya sangat tenang.
Nomor-nomor penting ada di dapur.
Dokter, sekolah, restoran.
Saya rekomendasikan L'Aquila Nera, makanannya enak dan murah.
Kalau sekringnya putus...
tinggal tarik ini keluar.
Ada apa di sini?
Ada yang mengawasi kita.
Anggap saja dia tidak ada.
Apa maunya?
Itu tetanggamu.
Ini kenapa, sih?
Nah, beres.
Aku lupa. Airnya akan agak hangat selama beberapa hari,
tapi begitu termostat barunya datang,
aku akan kembali dan perbaiki boilernya,
jadi kamu bisa mandi air panas.
Ayo.
Oslo.
Oslo.
Oslo.
SELAMAT DATANG, PROFESOR.
Siapa nama kalian?
- Sergio Cot... - Loren... - Satu per satu.
Lorenzo Berni.
Sergio Cotta.
Di sini cuma ada satu Sergio, mulai sekarang kamu Cotta saja.
Kita perjelas dulu.
Aku tidak akan lama di sini. Tiga bulan lagi aku pergi.
Kalian tinggal masuk, lari 10 menit
lalu ambil bola.
Anak laki-laki main bola, perempuan main voli.
Permisi, kenapa saya tidak boleh main bola?
Kamu boleh melakukan apa pun maumu.
Asal jangan menggangguku.
Kalian tidak menggangguku, aku tidak akan mengganggu kalian.
Dan kalau kamu masih mau tertawa, kamu bisa tertawa di ruang kepala sekolah.
Paham?
Sekarang mulai lari.
Lari, ayo!
Dan kamu siapa?
Siapa namamu?
Matteo Corbin.
Dan kamu sedang apa?
Coba lihat.
Ayo, sini lihat.
Lihat!
Wah, lihat ini...
Lucu sekali, ya?
Bagaimana TK-nya, Matteo Corbin?
Mereka baik memperlakukanmu?
- Aku SMA. - Kamu SMA!
Begitu, ya?
Ah, aku tidak percaya. Kamu kelas berapa?
Kelas dua, B.
Kelas yang sama yang sekarang kuajar. Penjaskes, kebetulan sekali.
Aku dapat dispensasi.
Oh ya?
Kalau begitu tunjukkan suratnya.
Tidak punya?
Sana lari dengan yang lain.
Ayo!
Cepat.
Bagaimana hari pertamamu?
Baik.
Anak-anaknya baik.
Kamu tidak banyak bicara ya.
Ceritakan tentang murid yang dapat dispensasi tapi tetap masuk kelas.
Dia tidak punya surat dokter.
Dia tidak butuh.
Kamu paham?
Di sini kami terbiasa dengan pendekatan yang berbeda,
terutama kepada anak-anak.
Apa kamu selalu pasang wajah seperti itu?
Memangnya wajahku kenapa?
Kami di sini suka yang tersenyum.
♪ Pemburu di hutan ♪
♪ Desa Roma yang begitu indah ♪
♪ Begitu indah, oh sangat indah ♪
♪ Dan seorang pemain bola... ♪
[Michela] Aku datang!
Cara yang bagus untuk mencari perhatian.
Kamu tinggalkan Claudia di mana?
Aku tidak mengerti, maaf.
Kamu tidak suka bercanda?
Mau pesan meja?
Tidak.
Aku cuma mau beli beberapa botol untuk dibawa pulang.
Tidak ada minuman untuk dibawa pulang di atas jam 9 malam, maaf.
Kamu bisa minum di sini saja.
Tidak ada yang akan keberatan.
Kasih aku wiski.
- Yang mana? - Terserah.
Baiklah, aku kasih kamu yang Remis ini.
Lihat, ini barang bagus, kan?
Hei kamu!
Bersulang!
Ada apa dengan semua orang di kota ini?
Tidak ada. Kami hanya bahagia.
Indah, bukan?
Siapa yang menyuruh berhenti? Terus lari.
Lanjut!
Selamat pagi.
- Sampai jumpa besok, Michela. - Sampai jumpa, Sara.
Kamu sudah mengosongkan dapurku namun aku belum tahu namamu.
Sergio.
Ah, Rossetti.
Guru baru itu, ya?
Pengganti.
Kamu dari mana?
Apa aku terlalu banyak bicara?
Dari Taranto.
Aku ingin sekali tinggal di dekat laut, tahu?
Kenapa tidak pergi saja?
Rumit.
Waktu SMA, aku bermimpi untuk pergi,
tapi hidupku berbeda.
Beri aku satu lagi!
Ayo, beri aku satu lagi!
Aku harus tutup kasir, ayolah!
Aku bayar, ayo. Beri aku satu lagi yang terakhir.
- Dengar, kamu bisa sakit. - Beri aku satu lagi!
Kamu ngapain?
Aku ngapain?
Kalau kubilang kasih aku satu lagi, kamu harus memberiku satu lagi.
Keluar dari sini.
Kamu sakit.
Kamu dengar aku? Kamu sakit!
Pergi atau kupanggil polisi.
Aku akan panggil polisi. Keluar.
Hei, aku...
Kamu bisa dengar aku?
Kamu kesini bawa mobil?
Jadi aku tak boleh menyetir?
Ya, terserah.
Ayo, kamu bisa mati.
Pelan-pelan.
Kamu kenapa?
Ya sudahlah.
Kalau mau menangis, menangislah.
Hei, dengar, tolong hentikan.
Ayolah, cukup.
Sergio, tolong hentikan.
Sergio, hentikan.
Kamu bisa baik-baik saja. Sialan, kamu pasti bisa!
Hentikan, demi Tuhan!
Hentikan!
Tidak.
Ya begitu.
Maksudku... kamu tak bisa melakukan ini padaku.
Apa salahku padamu?
Apa salahku padamu?
Apa?
Aku tidak tahan melihatmu seperti ini.
Sialan, maafkan aku.
Aku bisa pulang nanti...
Tidak, tidak, kamu tidak paham.
Kamu membutuhkannya.
Kamu membutuhkannya.
Aku tidak janji apa pun.
Mereka pasti akan menolak, tapi aku mau coba.
Tunggu di sini.
Ayo...
Kita di mana?
Jangan buat aku menyesalinya.
Selamat malam, Profesor.
Kita di mana?
Michela.
Michela menceritakan apa yang terjadi.
Aku bilang padanya kita akan membicarakan ini besok.
Tapi dia memohon agar aku memberimu kesempatan.
Aku tidak mengerti.
Rossetti.
Kamu ingin berhenti menderita.
Tolong...
Sergio, lihat aku.
Matamu seperti mata orang mati.
Aku tidak akan tanya lagi.
Apa kamu ingin berhenti menderita?
Bukalah.
Ambil seikat rambut.
Genggam di tanganmu.
Sekarang kamu boleh melepasnya.
Bagaimana kamu melakukannya?
Bagaimana dia melakukannya?
Kamu kehilangan apa?
Kamu kehilangan apa?
Maaf, Tuan-tuan, tapi kami tidak bisa menerima siapa pun lagi hari ini.
Michela.
Permohonanmu disetujui.
Ikut aku.
Ayo.
Kamu harus masuk sendiri.
Masuklah, Profesor.
Ada apa?
Masuklah.
[Sergio] Corbin?
Engkau, yang membuat yang lumpuh berjalan.
Engkau, yang membangkitkan yang mati.
Penuhi iman kami, beri makan jiwa kami.
Kami percaya kepada-Mu.
Karena kami tahu Engkau bertindak untuk kebaikan kami,
membebaskan kami dari kejahatan.
Amin.
Kamu bisa lanjutkan dengan pelukan.
Pelukan.
Aku ini monster.
Tenang, Matteo, semuanya baik-baik saja.
Kamu hebat.
Bantulah kami berbagi roti kami,
dengan mereka yang tidak punya.
Melalui Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Dan seekor domba lagi bergabung dengan kawanan.
Harinya melelahkan.
Wajar dia berduka.
Tapi dia bukan bagian dari kita.
"Aku lapar, kamu memberiku makan."
"Aku haus, kamu memberiku minum."
Mau mengulas Injil lagi, Mauro?
Aku hanya ingin makan dengan tenang.
Tentu.
Makanlah dan jangan bahas itu lagi.
Lalu mereka bertanya tentang Michela.
Lalu?
Dia yang paling membutuhkan Matteo (Corbin) dibanding siapa pun.
Maafkan aku.
Kamu paham kita tidak bisa membiarkannya dengan semua rasa sakit itu?
Bahkan, itu juga berbahaya bagi kita.
Seharusnya kamu langsung mengusirnya.
Ayah, aku boleh tidur?
Tidurlah.
Matteo.
Kamu tidak berdoa di meja makan.
Aku berdoa kok, pelan-pelan.
Itu bisa kamu katakan ke ayahmu, tapi tidak ke Dia, Matteo.
Dia ada di sini, untuk melihatmu, mendengarkanmu.
Karena Dia tidak ingin hal-hal buruk tertentu terjadi lagi.
Aku tahu.
Tapi terkadang, rasanya seperti kamu sudah lupa.
Tidak benar.
Kalau begitu buktikan.
Di meja makan, kita selalu berdoa dengan suara keras.
Hari ini kamu menyelamatkan seseorang dari rasa sakit mengerikan. Itu indah, Matteo.
Tidur yang nyenyak.
Selamat malam, Ayah.
Hai, semuanya.
Apa kalian tahu ini adalah Tahun Telur Abad Ini?
Selamat pagi.
Aku tidak menyangka kamu tipe penyayang binatang.
Siapa namanya?
Oslo.
Oslo.
Dia bisa bicara juga?
Bisa kamu menceritakan apa yang terjadi semalam?
Sekarang kamu paham kenapa mereka menyebut Remis Lembah Senyuman?
Tidak, tidak, serius, apa yang terjadi semalam?
Bagaimana keadaanmu?
Baik.
Aku baik, tapi pikiranku tidak masuk akal.
Pikiranku...
- Pikiranku masih ada... - Tapi tidak menyakitkan lagi.
Aku tahu.
Apakah dia juga memelukmu?
Dia sudah memeluk banyak dari kami di sini.
Matteo membantu kami saat kami membutuhkannya.
Dengar, aku tahu sekarang kamu punya seribu pertanyaan,
tapi aku pastikan kamu tak akan menemukan jawabannya.
Namun, yang bisa kamu lakukan
adalah menikmati perasaan ini sepenuhnya.
Ayah.
Ayah.
Ayah.
Aku ini mons...
Aku benar, Rossetti.
Senyum itu cocok untukmu.
Remis memberimu hadiah yang sangat besar.
Aku tahu kamu melewati masa-masa sulit,
seperti kebanyakan dari kami setelah kecelakaan bertahun-tahun lalu,
tapi kami adalah bukti bahwa memulai kembali itu mungkin, Profesor.
Sekarang kamu juga penjaga rahasia kami.
Dan demi kebaikan semua orang, kami minta kamu jangan membagikannya.
Mau sedikit nasihat?
Sudah waktunya menebus semua hidup yang hilang.
Dan sekarang dia di mana?
Dan seharusnya dia di mana, di kelas?
Ayo, aku bisa gandakan koin 1 euro.
- Tolonglah, ayo. - Kami ndak punya.
Ini keterlaluan. Kamu punya?
Kamu bodoh.
- Dan itu tidak apa-apa? - Oh, tentu saja tidak apa-apa.
Ada yang punya koin, teman-teman?
Ya, aku punya.
- Kamu utang aku 20 euro. - Aku punya.
Kurasa sudah waktunya untuk melunasi utang.
Bukan ide yang bagus.
Anak-anak pasti akan senang.
Dan menurutku,
dia juga.
Ayo.
Coba kasihkan koin sialan itu.
Kasihkan padaku.
Tenang, kamu bisa dapat masalah.
- Jorok sekali. - Kamu ngapain?
Selamat datang di Remis, Profesor.
Semua orang di sini menjilatmu.
Tidak denganku.
Ribut-ribut apa ini?
Apa yang kalian lakukan?
- Kamu apain dia? - Tidak ada.
Apa yang terjadi?
Tidak ada. Aku tersandung.
Semua keluar!
Istirahat lebih awal! Semua keluar!
Ayo!
Lihat ini!
Biar kamu tidak akan tersandung lagi.
Tapi, ayahku tidak akan mengizinkan.
Maka dia terus tersandung.
Nah, Matteo, semua orang di sini menunggumu.
Ayo.
Matteo, kamu mau ke mana?
Kamu tahu kita harus 'mengembalikan' mereka, kan?
Apa maksudnya ini?
- Aku ingin latihan judo. - Lupakan saja.
Hei.
Kamu mengancam Ayah?
Tidak.
Aku hanya ingin latihan judo.
Kita bicarakan nanti.
Tapi sekarang, turun bersama mereka segera.
Alma, sabar sedikit, dia akan datang.
Tapi kita tidak pakai kimono.
Geisha yang pakai kimono. Gozo, apa kamu seorang geisha?
Lagipula, kita pakai judogi. [seragam tradisional]
Kalau kamu beri tahu ukuranmu, akan kubelikan yang pas untukmu.
Hajime.
Hajime.
"Ippon" adalah KO dalam judo.
Untuk mendapat ippon,
kamu harus membuat lawanmu jatuh telentang dan menahannya selama 20 detik.
Kalau kamu berhasil, kamu menang.
Dan kamu bisa pulang dengan senang.
Hei nak,
kamu berkeringat, percaya tidak?
Jadi kamu mendengarkan itu, Matteo?
Makanya kamu selalu sedih.
Aku lebih suka yang ada drum-nya,
musik yang ceria.
Dan ayahmu?
Dia bilang akan kami bahas nanti.
Dengar...
Tentang malam itu...
Aku tidak tahu harus percaya apa.
Tapi kamu sekarang lebih baik.
Apa yang terjadi?
Bagaimana keadaanmu?
Baik.
Di mana yang lain?
Kami selesai lebih awal.
Boleh aku bicara denganmu?
Tunggu di mobil.
Apa kamu yakin menjemput anakmu dari sekolah
- setiap hari itu ide yang bagus? - Ya, aku yakin.
Semua teman sekelasnya pulang sendiri.
Matteo tidak pernah mengeluh.
Dia terlihat seperti seseorang yang memendam semuanya di dalam.
Mungkin, tapi kamu tidak mengenalnya. Selamat petang.
Tapi...
Hari ini dia terlihat sangat bahagia.
Firman abadi memancar dari Bapa sebelum segala zaman.
Ia merendahkan diri-Nya, Ia menjadi manusia.
Firman abadi
dari Bapa
menerangi surga.
Bagaimana keadaanmu?
Baik, kan?
- Selamat malam. - Selamat malam.
Selesai, Nona.
Tapi jangan bilang semuanya selesai ya?
Malam ini kita semua kenyang kan?
Tapi tak ada salahnya nyobain sedikit makanan penutup.
- Ini untukmu. - Untukku?
Tidak, tidak, seharusnya ndak usah.
Aku tidak membuatnya, aku membelinya.
Boleh kubantu lepaskan jaketmu?
Tidak, tidak apa-apa, aku bisa sendiri.
- Maaf. - Awal yang bagus, menurutku.
Kamu saja.
Tapi...
Aku tak tahu. Aku ngerti, tapi aku...
agak kaku soal hal-hal begini. Mau masuk?
- Aku harus mengeluarkannya. - Nanti aku masakkan sesuatu untuknya.
Siapa yang mengizinkanmu masuk?
Kamu harus pergi atau aku panggil polisi.
Tidak mungkin...
mereka memaksamu untuk memeluk.
Keluar dari sini sekarang juga!
Kamu akan mengingatku.
Aku membiarkannya masuk, seperti semua yang lain...
Pergilah ke neraka.
Kecelakaan kereta api serius di Remis, jumlah korban tewas naik menjadi 46.
Sedang apa kamu di sini?
Ayah bilang aku boleh keluar di siang hari.
Apa itu karenamu?
Coba apa ada yang bisa kutawarkan untukmu.
Aku tidak terbiasa punya tamu,
jadi aku harus menyenangkanmu.
Halo.
♪ Burung beo nyanyi... ♪
Maaf.
Bagaimana caranya?
Cara apa?
Membuatnya bicara. Bagaimana kamu melakukannya?
- Kenapa kamu bilang begitu? - Bagaimana kamu melakukannya, Matteo?
Aku tidak melakukan apa pun.
Dia hanya bicara dengan putraku.
Di Oslo putraku kalah di final Eropa.
Hanya selisih satu poin.
Dan Giacomo memanggilnya Oslo.
Jadi setiap kali kami masuk ke rumah, dia mengulang:
Oslo.
Oslo.
Dan aku marah.
Aku melihat Giacomo.
Apa yang kamu lihat?
Semuanya.
Aku hanya ingin membantunya, Matteo.
Aku hanya ingin membantu.
Haruskah aku memelukmu?
Tidak.
Agak sulit, tapi boiler-nya sudah diperbaiki sekarang.
Hei Franco.
Matteo.
Kamu sedang apa di sini?
Ayo pulang.
Nanti aku kesini lagi untuk menyalakannya.
Aku akan pulang sendiri.
- Tidak. Jangan begitu. - Aku akan pulang sendiri!
- Ayo pergi! - Franco, biarkan dia.
Lepaskan aku!
Dia bilang akan pulang sendiri, Franco.
Franco, biarkan dia, kamu menyakitinya.
Ada jadwal, ada aturan.
Jadwal apa, aturan apa? Dia masih anak-anak, Franco.
Camkan ini, di luar sekolah, kamu tidak boleh menemuinya.
Dia datang dengan niat baik, ayahnya memberi izin.
- Ya, tentu saja... - Franco.
Kamu jangan ganggu dia!
Kamu harus berhenti memperlakukannya seperti boneka.
- Urus saja urusanmu. - Ini urusanku.
Dia muridku.
Bukan. Apa yang tumbuh itu urusanmu,
Bukan urusanku.
Apa maksudmu?
Seharusnya aku tidak melakukan itu.
Kamu baik-baik saja?
Franco?
Franco, kamu baik-baik saja?
Kamu dari mana saja?
Jalan-jalan.
Halo Sandro, Matteo bisa menemuimu
- jam lima hari ini. - Ayah...
- Di sini di rumah kami. - Ayah, aku harus memberitahu sesuatu.
Selamat pagi, Giada. Kami buka lebih awal.
Matteo bisa menemuimu jam 5:15.
Datanglah bersama ibumu dan anak-anak ke rumah kami.
Aku hanya ingin berterima kasih padanya.
Berterima kasih untuk apa?
Dia baik...
Tentu saja dia baik.
Dia orang baik,
tapi ada banyak orang baik di sini,
pada akhirnya kita semua ingin hal yang sama.
Tidak dengan dia.
Halo, Renato Mauro. Kami ada jadwal jam 5:30.
Aku tidak melakukan apa pun, sudah kubilang.
- Dia memukul dirinya sendiri. - Kamu menganggapku bodoh.
Bisa saja itu stroke, entahlah.
Tenang!
Rossetti.
Kami di sini tidak senang dengan pertemuanmu dengan Matteo Corbin.
Butuh tiga bulan agar kegelisahan di komunitas kami mereda.
Dengar, Rossetti, di sini...
orang dewasa dan anak kecil jalan berduaan itu meresahkan kami.
Oke.
Aku bisa kembali ke kelas bersama anak-anak?
Untuk mengajar.
Astaga.
[Sergio] Sedang apa kamu di sini?!
Kaget, ya?
Seperti kita ini dua penjahat.
[Matteo] Tapi kenapa di sini?
Karena aku merasa tidak ada yang suka tempat ini.
Ayo.
[Sergio] Dia cuma berdiri saja dan menatapku.
Mendadak dia mengangkat tangannya lalu menampar dirinya sendiri.
Keras sekali.
Keras?
[Sergio] Entah, dia gila.
Terlihat aneh saja bagiku.
Sampai sekarang.
Bagaimana dengan Oslo?
Kenapa dengannya? Dia di rumah, kenapa?
Kamu selalu mengurungnya di kandang.
Itu bukan kandang, itu kandang burung besar.
Tapi Giacomo membuatnya terbang.
Karena Oslo mendengarkannya.
Mereka berdua luar biasa.
Mungkin dia paham isi kepalanya.
Dan kamu?
Apa yang ada di dalam kepalamu?
Tidak ada.
- Aku baik-baik saja... - Kamu baik-baik saja?
- Ya. - Kamu tidak baik-baik saja.
- Ya, aku baik. - Tidak. - Ya.
- Tidak. - Ya. - Jadi kamu baik-baik saja, oke.
Kamu sudah meyakinkanku.
Aku harus apa?
Entah. Apa pun yang kamu suka.
Maksudku, di usia 15, pasti kamu nemuin sesuatu yang kamu suka. Kan?
Aku membuat orang merasa lebih baik.
Entahlah. Menurutku itu konyol.
Apa yang kamu lakukan itu luar biasa,
tapi bukan hanya itu.
Tapi bagi mereka, kamu seperti spons,
menyerap semua rasa sakit.
Mereka memanfaatkanmu, Matteo.
Mereka memanfaatkanmu.
Begitulah faktanya.
Lalu bagaimana?
Semua rasa sakit itu...
Aku tahu, ini pertanyaan bodoh.
Apa yang terjadi dengan semua itu?
Apakah tetap bersamamu?
Apa kamu membuangnya?
Kamu buang ingus dan meninggalkannya di tisu?
Bagaimana itu?
Kamu selalu bercanda.
[Sergio] Dulu aku sering bercanda.
Aku mulai melakukannya lagi berkat kamu.
Sana.
Matteo, kamu rupanya.
Boleh aku memelukmu?
Mintalah, maka akan diberikan...
carilah, maka akan menemukan... ketuklah, maka dibukakan.
Mintalah, tersenyumlah, dan carilah, maka kamu temukan.
Ketuklah, maka dibukakan.
Mintalah, maka akan diberikan.
Carilah, maka kamu akan temukan.
Maka pintu akan dibukakan.
Tolong.
Matteo.
Matteo, jangan tinggalkan aku di sini. Tolong aku.
Kumohon, tolong aku.
Pastor?
Yesus dari Nazaret, yang disalibkan.
Telah bangkit.
Dia tak ada di sini.
Kebangkitan Yesus.
Menawarkan kepada kita sekali lagi anugerah kehidupan.
Akan jalan yang diterangi.
Di masa-masa yang penuh tantangan ini,
Tuhan telah bangkit.
Untuk meninggalkan tanda-tanda kemanusiaan yang diperbarui
dan dunia yang diperbarui.
Bapa kami yang ada di surga,
Dimuliakanlah nama-Mu,
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu;
Di bumi seperti di surga.
Berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya.
Dan ampunilah kesalahan kami.
Apa?
Ibu ngapain?
Salam Maria, penuh rahmat.
Dasar bodoh.
Terpujilah buah kandungmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah.
Doakanlah kami yang berdosa ini,
sekarang dan pada waktu kami mati.
Salam Maria penuh rahmat, Tuhan.
Sama-sama.
Kamu bisa lanjut memeluknya.
Kamu itu Santo Matteo-ku.
[Sergio] Coba dengan konsonannya.
- [Matteo] Berikan tanganmu. - Tidak, tidak, tidak.
- Tidak, ayolah. - Ayolah.
Kamu tahu aku pernah main bola?
Kamu pernah main bola?
Ya. Aku jadi penjaga gawang.
- Bahkan pernah menyelamatkan gawang. - Oh ya?
Kurang lebih. Itu menyenangkan.
Yang terakhir.
Lihat.
Sekarang kita jadi kakak-adik yang konyol.
Coba ceritakan...
di sekolah...
Apa tidak ada cewek yang kamu suka?
Ayo, kamu bisa cerita padaku?
Mungkin ada seseorang.
Aha! Jadi ada seseorang...
Ceritakan padaku.
Cewek itu...
Apakah dia tahu?
Tidak.
Yah, tapi tunjukkan padanya kalau kamu penasaran.
Tanyakan banyak hal padanya.
Kamu ada banyak hal yang mau kamu tau.
Itu tidak bisa terus terkurung di sini.
Lihat betapa jatuh cintanya kamu.
Aku jatuh cinta, kamu jatuh cinta...
Apa hubungannya denganku?
Michela, dari penginapan.
Ya Tuhan!
Kok bisa orang-orang di negeri ini bisa tahu semua kehidupan orang lain?
[Matteo] Aku tidak begitu menyukainya.
Betapa cemburunya kamu.
Dia memelukku kapan pun dia mau.
Ayah tidak mengatakan apa pun
karena katanya dia membutuhkannya lebih dari yang lain.
Dan kenapa begitu?
Aku tidak ingin membicarakan itu, Profesor.
Aku punya sesuatu untukmu.
Teman-teman sekelasmu akan mendapatkannya besok.
Ukuran itu pas untuk Natalia.
Dan itu juga pas untukmu.
Aku tidak ingin kamu pergi.
Kenapa?
Apa yang kamu lakukan di sini?
Aku merasa tidak enak badan.
Kamu terlihat tidak sehat.
Yah, akan aku bilang ke Jango.
Ayah.
Aku tidak ingin melakukannya hari ini.
Kamu tahu itu tidak mungkin.
Rasanya sakit sekali.
Hanya untuk hari ini.
Menjijikkan sekali.
Apa maumu?
Mauro, kamu tahu apa yang terjadi jika tidak ada pelukan.
"Menara"nya bisa runtuh.
Ya, tapi aku juga seorang ayah.
Ayah,
kamu tak akan pernah mengizinkan ini sebelumnya.
Matteo baru 15 tahun.
Anakmu menginginkan motor di usia 15.
Saking inginnya sampai berteriak padamu.
Dan ujung-ujungnya apa?
Kamu ngapain? Kamu membelikannya.
Itu membuatmu tertawa. Dan anakmu?
- Kita paham konsepnya, kan? - Kamu sama sekali tidak mengerti.
Mauro, tenanglah.
Matteo tidak berbeda dari anak-anak kalian.
Coba kalian pikirkan itu, atau kita tidak akan bertahan lama.
Apa itu jelas?
Tidak ada yang menyalahkanmu.
Masalahnya lain, kita semua tahu siapa dia.
Rossetti.
Sudah cukup.
Semuanya terkendali.
Lari Prato, larilah.
Istriku.
Dia meninggal dalam kecelakaan itu.
Aku turut berduka.
Haruskah aku memanggil polisi?
Percayalah, tidak ada yang akan membantumu.
Ini karena dia terlalu dekat?
Dan kamu tahu semua ini karena si pemeluk itu, kan?
Ya, tentu saja.
Dia masih anak-anak.
Hanya seorang anak.
Ini tentang "binatang buas" lain yang datang ke bumi,
melakukan "mukjizat besar."
Dia memaksa semua orang, besar-kecil, kaya-miskin,
merdeka-budak, untuk menerima sebuah tanda
di tangan kanan mereka atau di dahi mereka.
Tanda di kulit.
Aku juga pernah ditandai.
Sekarang aku sudah bebas. Aku tahu cara menghapus tandanya.
Apa yang kamu katakan tidak masuk akal.
Aku paham kalau Nyonya Corbyn,
melompat keluar jendela tanpa alasan.
Aku masih bisa menyelamatkannya, Profesor.
Aku harus pulang.
Tanda di kulitnya memungkinkan dia untuk masuk.
- Masuk ke mana? - Ke dalam diri orang yang memeluknya
dan melakukan apa pun yang dia mau pada mereka.
Kenapa menurutmu Mauro Corbin berhenti memeluknya?
Karena dia menyayanginya?
Kenapa dia?
Binatang buas yang muncul dari bumi menghilangkan rasa sakit.
Tapi bukan apa-apa bagi Tuhan,
karena Tuhan justru sering ditemukan dalam penderitaan.
Lorenzo di mana?
Dia tidak datang hari ini.
Aku mengembalikan skateboard Lorenzo.
Baik sekali.
Ibu akan panggilkan.
Lorenzo.
Bersikap baiklah.
Mereka tidak membicarakanku sehari penuh, kan?
Aku tidak peduli.
Kamu tahu aku tidak peduli kamu peduli apa?
Maafkan aku.
Mau pelukan?
Aku hanya melakukannya kalau ibuku menyuruhku.
Aku tahu.
Tapi setelah itu kamu baik-baik saja.
Jangan bilang pada siapa pun.
Al dente,
sedikit garam...
Enam setengah menit...
Punyaku kurang lebih sama.
Harus kukasih berapa?
Mungkin dengan nasi, kentang dan kerang, kamu akan lebih suka.
Matteo: Aku mau mengatakan sesuatu yang bagus padamu.
Cukup!
Kalian berdua kembali ke tempat masing-masing.
Mau jelaskan apa yang terjadi?
Aku melakukan ippon.
Apa kamu lupa aku tahu sedikit banyak tentang judo?
Dia mendominasimu.
Bagaimana mungkin kamu bisa membantingnya seperti itu?
Ada apa?
Kamu tidak menjawab teleponku? Kamu aneh.
Kamu tidak menghormati dirimu sendiri, Matteo.
Kenapa kamu melakukan ini?
Bukankah kamu senang aku menang sekali saja?
Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan.
Aku tidak tahu.
Tapi bagiku, kamu tidak menang.
Aku menang.
Tidak.
- Aku menang. - Bagiku tidak.
AKU MENANG!
Hai.
Hai.
Aku tidak menyangka kamu datang malam ini.
ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK -ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK
Michela.
ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK - ORA NGAPAK ORA KEPENAK
Tapi, kenapa kamu pergi?
[Michela] Sudahlah, aku sudah tahu.
Kenapa kamu bersikap seperti ini? Hah?
- Bicara padaku. - Sudah kubilang lupakan saja.
Sudah berhari-hari sepertinya kamu ingin bicara.
Sergio, kita tak bisa menghindari untuk memeluknya.
Jadi aku harus memeluknya.
Mereka pikir mereka itu orang suci pilihan, orang benar.
Padahal, mereka cuma sekelompok penjahat gila
dan aku lebih gila darimu.
Ngapain aku di sini diam saja, tak berbuat apa-apa. Diam dengan semua ini?
- Kumohon. - Karena kalau tidak, aku sakit...
Kumohon, jangan bicara begitu padaku.
Sepertinya kamu tak bisa bicara tanpa bersikap jahat.
Sudah kamu pulang saja sana. Tumpahkan unek-unekmu,
- jangan ganggu aku. Kamu ngantri sana. - Jangan bilang begitu kumohon.
Kenapa kamu melakukan itu? Kamu presidennya! Itu rumahmu.
Kamu membutuhkannya lebih dari siapa pun.
Jangan ikut campur urusanku.
- Kamu tidak mengerti. - Katamu kamu ingin hidup di tepi laut
tapi kamu masih saja di sini...
Dan kamu menyalahgunakan anak ini
bersama yang lainnya sampai mereka membunuhnya...
AKU ADA DI KERETA ITU!
Aku ada di kereta itu.
Saat itu aku sedang mengecat kukuku.
Adikku berumur 11 tahun.
Ketika aku membuka mata,
aku masih memegang tangannya, tapi...
sisanya sudah menghilang.
Aku terus berkata: mama, papa, mama, papa...
Mereka tidak bisa mendengarku.
Apa pun yang kulakukan...
Aku terus saja melihat itu selama berminggu-minggu.
Lalu Matteo datang dan...
dia mengobatinya...
Dia memulihkan segalanya...
Dan kini aku baik-baik saja, sekarang aku tidak...
Lihat aku.
Tapi sekarang semuanya baik-baik saja.
Mungkin kamu benar. Dia tidak pantas dibegitukan.
Aku pun tidak pantas dibegitukan.
Dan kamu juga tidak.
Kumohon, kamu muter-muter terus.
Siap?
Kita terlambat. Semua orang sudah datang.
Matteo.
Matteo.
Jangan coba-coba. Buka pintunya.
Matteo,
Matteo.
Kamu bermain api, Matteo.
♪ Kamu tahu? ♪
♪ Manusia itu aneh ♪
♪ Pertama kamu membenci mereka ♪
♪ Lalu kamu mencintai mereka ♪
♪ Kamu berubah pikiran ♪
♪ Tiba-tiba ♪
♪ Pertama, tidak... kebenaran setelahnya ♪
♪ Tidak. Mereka tiran ♪
♪ Tanpa keseriusan ♪
♪ Seolah-olah itu milikku ♪
♪ Kamu, tahu ♪
♪ Orang-orang bertengkar ♪
♪ Mungkin terlalu tidak cukup ♪
♪ Mengikuti dunia secara buta ♪
♪ Ketika semuanya berubah ♪
♪ Dia juga berubah tanpa henti ♪
♪ Bodoh, kalau kamu mau... ♪
Dah.
Dadah, Lorenzo.
Kamu sudah merasa mendingan?
Apa-apaan!
Pergilah, Corbin.
Kubilang pergi.
Kamu lebih baik dari kelihatannya.
Aku melihat ke dalam dirimu.
Aku bilang pergi, kamu tuli ya??
Akan kubuat dia dapat balasannya,
dia dan ibunya.
Matteo, aku berjanji kamu tidak akan melihat mereka lagi.
Mauro, maafkan aku.
Lihat Ayah.
Kamu tahu apa yang lebih baik ketimbang melihat anak-anakmu bahagia?
Melihat mereka tetap hidup.
Ayo pergi.
Mauro.
Tunggu, ada yang ingin kukatakan padamu.
Ayah.
Diam. Diam.
Kamu harus nurut apa yang kubilang, jelas?
Lihat aku kalau aku lagi bicara denganmu.
Mulai hari ini, Tidak ada judo-judoan lagi.
- Ayah, kumohon. - Ayah sudah coba mempercayaimu, Matteo,
tapi kamu mempermainkanku. Dan lihat hasilnya.
Apa kamu lupa siapa dirimu?
Aku tidak ingin menjadi seperti ini.
Akan ada banyak orang malam ini, dan ini semua salahmu.
Mereka akan mendaftar satu per satu sesuai kehendak Tuhan. Jelas?
- Aku tidak suka ini. - Apa kamu bilang?
Aku tidak suka ini.
Aku tidak suka ini, tidak suka, tidak suka.
Tidak suka, tidak suka.
AKU TIDAK SUKA!
Matteo.
Akulah yang memutuskan siapa diriku.
Maafkan aku, Matteo.
Maafkan kami.
Maafkan kami.
Kamu lagi ngapain?
Ibu bahkan tidak ingin mendengarmu.
Lorenzo.
Apa yang kamu lihat saat kamu memeluknya?
Aku tidak ingin melakukan ini.
Biarkan aku pulang.
Apa yang kamu lihat saat kamu memeluknya?
Apa yang kamu lihat?
Apa itu?
- Apa yang kamu lihat? - Anakku.
Apa yang terjadi pada anakmu?
Apa yang terjadi padanya?
Tidak penting.
Bagaimana?
Bagaimana?
Bagaimana dia meninggal?
Dengarkan...
Ada anak yang selalu mengejeknya di sana.
Dan itu semua,
karena dia berambut panjang.
Suatu hari dia pulang menangis.
"Kamu harus tunjukkan kejantananmu", kubilang pada Giacomo.
Kamu tidak boleh terus bersikap seperti banci.
Dan lalu aku potong rambutnya. Sialan.
Potongan tentara.
Anak yang satunya punya asma.
Lalu suatu hari,
inhaler-nya tiba-tiba hilang.
Dia kejang.
Dia hampir mati.
Mereka menyelamatkannya secara ajaib, tapi Giacomo...
tidak melakukan apa-apa.
Dia tidak bilang apa-apa,
Dia hanya berdiri diam dalam diam.
Dan ketika aku tahu kebenarannya...
Dia bilang padaku dia sudah menunjukkan kejantanannya.
Lalu apa yang kamu lakukan?
"Kamu itu monster."
Itu yang kukatakan padanya.
Itu hal terakhir yang kukatakan padanya.
Lalu aku pergi dari rumah.
Itu membebaniku.
Aku tidak bisa menanggungnya.
Aku terus mengingatnya.
Kamu harus memaafkan dirimu sendiri atas anakmu.
Jangan pernah melupakannya.
Kamu harus merasakan sakitnya.
Dengan begitu rasa itu tidak akan bisa masuk.
Pergilah dari sini, Profesor.
Profesor.
Aku berbuat sesuatu yang buruk.
Apa yang kamu lakukan, Matteo?
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.
Tidak, tidak. Mereka datang menjemputku.
Jauhkan mereka dariku.
Jangan bergerak dari sini.
Selamat malam, Rossetti.
Selamat malam.
Tidak ada apa-apa di sini.
Boleh kami masuk?
Baiklah.
- Tapi pastor tetap di luar. - Kenapa? - Tunggu di sini.
Pertama-tama, aku ingin bilang aku sudah kelewatan pagi ini.
Sebagai ayahnya, kamu tidak pantas mendengar hal seperti itu.
Hal apa?
Sejak hari pertama kamu tiba di sini, kupikir kamu sudah mengerti semuanya.
Kamu orang yang rasional.
Kamu melihat seorang ayah yang tiran, kota berisi orang-orang gila,
seorang anak yang perlu diselamatkan.
Tapi ada hal tentang Matteo yang tidak diketahui siapa pun.
Aku tahu semuanya, Corbin.
Jadi kamu juga tahu, kalau Matteo bukan anak kandungku?
Aku dan Anna sangat menginginkannya,
setiap momen terasa tepat, tapi tidak ada hasil.
Kami sudah berdamai dengan itu, tapi kami merasa terhukum.
Lalu datanglah 21 Maret 2009.
Dan hari itu...
semua orang di Remis merasa terhukum.
Aku ada di sana untuk membantu.
Kami mencari di bawah reruntuhan.
Kami hanya menemukan mayat.
Lalu...
Aku bisa merasakannya.
Dan di suatu tempat, tangisannya.
Pasti baru beberapa bulan.
Aku menggali dengan tangan ini.
Aku menemukannya.
Seorang bayi.
Kotor dan terluka.
Tapi dia hidup.
Jantungku berhenti,
Kamu bisa bayangkan setidaknya sedikit bagaimana perasaanku.
- Aku mengangkatnya ke pelukanku... - Dan rasa sakit itu hilang.
Tidak ada yang menanyakannya.
Tidak ada seorang pun.
Aku dan Anna memutuskan untuk membesarkannya...
dan yang lainnya.
Kami yakin itu adalah hadiah dari Tuhan.
Aku mencari Matteo di Alkitab, di Injil.
Aku tidak pernah menemukan apa pun, Profesor.
Ini bukan kebohongan.
Tapi aku membutuhkannya.
Hari itu aku menyadari apa yang sebenarnya mampu dia lakukan.
Aku harus terus berpura-pura.
Aku menghabiskan seluruh hidup untuk menjaganya,
sepanjang hidup.
Aku mengorbankan segalanya!
Aku kehilangan istriku.
Lalu kamu datang.
Seorang ayah yang hancur.
Kami ingin menyambutmu.
Tapi itu tidak cukup bagimu,
karena kamu hanya peduli pada hati nuranimu sendiri,
bahkan jika itu harus menghancurkan kami semua.
Kamu tahu apa yang benar?
Profesor.
Sialan! Apa yang ada di tanah terkutuk ini?
Kamu harus tetap tenang.
Tak ada apa-apa.
- Mau ke mana kamu? - Aku mau mencari di ladang.
- Ngapain kamu? - Jangan bergerak.
Tangan di setir!
Thomas.
Dengarkan aku.
Jangan mengacau lagi.
Lihat aku,
- Hei... - Diam.
Thomas, dengarkan aku.
Thomas.
Masih ada waktu...
Attilio.
Attilio.
Hentikan.
Hentikan!
Attilio.
Hentikan!
Mereka mengejar kita sekarang.
Dengar.
Mereka seperti ini karenamu.
Hei.
Tenang.
Santai.
Lihat.
Kamu meyakinkanku tentang segalanya.
Aku tak tahu apa-apa tentang apa yang penting.
Aku ini apa?
Kamu malaikatnya Remis.
Matteo.
Kamu kenapa, Matteo?
Aku bilang biarkan mereka.
Biarkan mereka!
Aku bukan malaikat.
Aku monster.
Michela.
Kamu mau pergi?
Seharusnya aku memberitahumu.
Pembohong.
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Michela?
Michela.
Sudahlah, Michela.
Sial. Kumohon, sudahlah.
Kumohon. Michela! Apa yang kamu lakukan!
Oslo.
Kenapa kamu melakukannya?
Katakan padaku.
Taruh itu, Michela.
Kamu mau apa?
Kamu benar, aku akan pergi.
Aku brengsek. Aku mengatakan banyak hal bodoh.
Jangan pergi, Profesor.
Kamu tidak menginginkanku?
Kamu tidak menyayangiku?
Matteo.
Kamukah itu?
Ini salahmu.
SEMUA INI SALAHMU!
Matteo.
Pastikan lihat baik-baik.
Buruk, kan?
Seorang malaikat tidak terlihat seperti ini.
Kenapa?
Kenapa apa?
Aku tak tahu aku bisa melakukannya.
Ingat ketika kamu bertanya padaku ke mana semua rasa sakit itu pergi...
Itu tetap tinggal di dalam
di lenganku,
di kepalaku.
Terkadang, di semua orang...
- Lepaskan sekarang. - Kamu tidak mengerti.
Aku tidak bisa.
Matteo.
Matteo, dengarkan aku.
Tidak benar kalau aku tidak menyayangimu.
Kamu mengubahku menjadi lebih baik.
- Hanya karena kamu memelukku. - Bukan.
Bukan.
Dan kamu tahu betul itu tidak benar. Itu berkat kamu.
Hanya kamu.
- Sekarang kembalilah bersamaku. - Aku tidak bisa.
Kamu tidak bisa meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini.
Cobalah, Matteo.
Aku sudah mencoba, aku tidak bisa.
Matteo.
AKU TIDAK BISA!
AKU TIDAK BISA!
AKU TIDAK BISA!
Aku tidak bisa kembali lagi.
Kamu adalah anakku.
NDASERUAG Banyumas, 16/09/2026
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.