Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Perhentian berikutnya stasiun Universitas Dongsung.
Pintu keluar di sebelah kanan.
Perhentian berikutnya stasiun Universitas Dongsung.
Universitas Dongsung.
Pintu keluar di sebelah kanan.
Tasmu...
Tunggu! Permisi!
Apa yang kau lakukan?
- Min-jeong! - Ya.
Ini punya siapa?
Aku menemukannya di kereta.
Haruskah kutinggalkan saja?
Cho Gang-hwa
- Selamat pagi, Profesor! - Dasar anak berandal...
Kau punya utang denganku.
Apa? Utang?
Pistol! Dor!
- Dasar berandal. Bukan main. - Maaf.
Haruskah aku memberimu nilai F?
Kau tidak mengumpulkan laporan.
Benar, laporanku, tapi aku membawanya.
Tasku...
Astaga. Kau mahasiswa kedokteran.
Kenapa seceroboh ini?
Kau kehilangan akalmu setelah ujian masuk?
Tidak, aku yakin berangkat membawa tas.
Aneh sekali...
Tasku!
Ada beberapa saat seperti itu.
Saat kebetulan yang terjadi begitu saja
berubah menjadi takdir yang dilebih-lebihkan.
Kau benar-benar akan menyatakan perasaanmu?
Dia dikenal sebagai mahasiswa bodoh.
Sebelumnya dia salah memakai sepatu.
Itu daya tariknya.
Genius yang sesungguhnya justru terlihat bodoh.
Tidak, dia terlihat benar-benar bodoh.
Sama sekali bukan genius.
Bahkan si bodoh ini punya pacar, kenapa kita tidak punya?
Kenapa kita seperti ini. Apa kau senang?
Namanya Cha Yu-ri? Apa dia cantik?
Lepaskan aku!
Jangan kuno. Tak boleh menilai wanita dari penampilannya.
Penampilannya tak penting, tapi hatinya.
- Tapi, dia memang cantik. - Saat itu, aku berpikir
takdir yang dilebih-lebihkan tadi, dapat berubah kembali
menjadi sebuah kebetulan.
- Mengesalkan! - Beruntung sekali!
CHA YU-RI, CHO GANG-HWA
EPISODE 5: SETIAP MOMEN KETIKA KESEMPATAN BERUBAH MENJADI TAKDIR
Astaga. Harga dua lobak, 3.000 won...
Bahkan belanja makanan saja terasa mengerikan.
Yu-ri...
Yu-ri...
Yu-ri...
BELUT BAKAR
Siapa yang...
NOTIFIKASI BARU
CHA YU-RI SUKA POSTINGANMU
Dengar. Jangan terkejut.
Yu-ri...
hidup kembali.
Aku harus menghubungi Hyeon-jeong.
Kau harus tenang, Geun-sang.
Tak ada yang namanya hantu.
Geun-sang.
Hantu tidak nyata.
Hantu tidak ada.
Tapi itu! Dia di sana!
Ada hantu!
Hyeon-jeong.
Hyeon-jeong.
Kau tahu apa yang baru kulihat?
Yu-ri...
Itu Yu-ri.
Yu-ri!
Itu Yu-ri!
Yu-ri! Belakangmu, Hyeon-jeong!
Belakangmu...
Jangan lambaikan tangan!
Hyeon-jeong, dia melambai...
Kenapa dia melambai kepadaku?
Maafkan aku! Aku minta maaf!
Maaf!
Aku merindukanmu.
Hyeon-jeong...
Hyeon-jeong...
KASUS ORANG MATI HIDUP KEMBALI
Hidup kembali...
TEMANKU YANG WAFAT HIDUP KEMBALI!
Astaga! Ada kasus seperti ini!
Kau sangat bodoh telah melihat ini.
Percaya omong kosong ini?
Sial! Dasar berengsek!
Aku harus melaporkan bajingan ini.
Apa ini nyata?
Semua omong kosongmu ternyata benar.
Apa?
Bagaimana dia bisa tahu?
Dokter Jang memintamu menunggu! Mau ke mana?
- Aku menunggu dan pergi. - Apa?
Katakan aku menunggunya terlalu lama.
Tos tinju? Lupakan.
Ada apa dengannya?
Dia tak paham betapa gawat situasinya.
Ya. Dia terlalu santai untuk orang yang sedang dihukum.
Saat melihat Dokter Cho, aku kasihan dengan Dokter Jang.
Dia datang. Bagaimana ini?
- Toilet? - Itu...
Dia pulang.
- Pulang? - Ya.
Astaga! Dokter Jang!
- Astaga! - Dokter Jang!
Aduh.
Ini...
Apa ini masuk akal?
- Tempat bulan madu? - Okinawa.
- Penipuan... - Gelang germanium.
Ya. Dia benar.
Memang dia.
Kau tidak ingat apa pun?
Ya.
Tidak mungkin.
Bibiku bilang orang meninggal menjadi arwah.
Arwah? Jangan konyol.
Aku tidak pernah melihat arwah.
Lalu bagaimana sekarang?
Apa?
Itu...
Kau ingin aku bagaimana?
Maaf, aku...
Ibumu. Kita pergi ke rumah ibumu.
- Ibumu... - Aku tak bisa.
Apa?
Maksudku...
Jantung ibuku sangat lemah...
Pokoknya, jangan sekarang.
Tolong rahasiakan aku jika kalian bertemu ibuku. Ya?
- Kau juga, mengerti? - Apa? Baiklah.
Kalau begitu menginap di sini. Jangan tinggal di hotel.
Bantu Yu-ri berkemas untuk pindah kemari.
Kau bersedia, Hyeon-jeong? Aku berterima kasih.
Kalian jangan begini.
Aku... Hanya dua bulan saja.
Tidak, 49 hari saja.
Biarkan aku sendiri selama 49 hari.
Setelah itu, aku akan putuskan mau pergi ke rumah ibuku atau tidak.
- Tolong jangan lakukan apa pun. - Tetap saja, lebih baik...
Aku terus bersembunyi karena takut kalian khawatir.
Jangan khawatir, Hyeon-jeong.
Lakukan yang kau suka.
Kau sudah datang
ke tempat yang tepat.
Aku sungguh bahagia.
Aku bahagia kau kembali.
Terima kasih.
Kukira kau sudah gila belakangan ini.
Aku terkejut denganmu.
Justru lebih gila, jika sikapmu biasa saja.
Aku harus bagaimana sekarang?
Jangan tanya aku. Aku tak tahu.
Seluruh negeri ini tak tahu.
Bahkan alam semesta.
Ini kejadian yang tidak masuk akal.
Ini sungguh...
Bagaimana dengan Min-jeong? Apa dia tahu?
- Dia sudah lihat. - Apa?
Kau kenalkan mereka?
"Ini istriku, ini mendiang istriku."
- Astaga. Kau gila? - Aku tidak sebodoh itu!
Mereka tak sengaja bertemu di TK.
Min-jeong hanya merasa mereka mirip. Dia tahu Yu-ri dari foto.
Benar. Meskipun kau bilang, dia tak akan percaya.
Tunggu. Tapi, bukankah kita seharusnya memberi tahu dia?
Apa setelah itu?
Jika dia tanya tanggapanku, aku harus jawab apa?
Aku harus jawab apa?
Dengan keputusanku saja,
hanya membuatnya terlihat gila sepertiku.
Benar juga.
Cukup satu yang gila, tak perlu keduanya.
Sesuai kata Yu-ri, kau lebih baik jangan melakukan apa pun.
Tidak ada yang bisa kau lakukan.
Yu-ri juga meminta kita menunggu selama 49 hari, 'kan?
Lihat saja bagaimana nanti.
Seharusnya kita senang,
tapi kenapa terasa ganjil? Aku merasa bersalah.
Terima kasih...
Yu-ri...
Mereka masih menangis.
Yu-ri...
Kau baik-baik saja?
Hyeon-jeong menangis terus.
Dia pasti senang sekali.
Hyeon-jeong sangat merindukanku. Dia menangis setiap hari.
Benar.
Apa? Bagaimana kau bisa tahu?
Itu... Aku melihat media sosial.
Dia banyak meninggalkan postingan di profilku, dia selalu merindukanku.
Aku bisa memahaminya.
Syukurlah.
Setidaknya dia menyambutmu.
Aku berterima kasih.
Maafkan Ibu.
Aku bahkan tidak bisa menyambutmu,
hanya terus terkejut.
Ya?
Tidak ada masalah.
Ya?
Semuanya baik-baik saja.
Ini.
Apakah semalam ada masalah dari kamar lain?
- Kamarku terus dihubungi. - Soal itu?
Sebenarnya...
Apa semuanya baik-baik saja?
Baiklah, terima kasih.
Dia mengangkat telepon. Dia ada di kamar.
Baiklah. Terima kasih.
Bisa bantu tanyakan sekali lagi?
Sudah diperiksa dua jam lalu.
Aku belum melihatnya keluar dari kamar.
Bukan keluar dari kamar, itu...
Bagaimana menjelaskannya?
Aku takut dia menghilang begitu saja...
Maksudku... Tolong sekali lagi.
Baiklah. Biar kuhubungi.
Apakah air panasnya keluar dengan baik?
Pria yang memesankan kamar
memintaku untuk terus memeriksa.
Dia takut kau menghilang begitu saja.
Bodoh.
Turunkan aku di sana.
Apa?
Pasti ada yang disembunyikan.
Kenapa tak mau ke rumah orang tuanya?
Mereka pasti senang dan pingsan.
Dia meminta kita menunggu 49 hari untuk memikirkannya.
Hyeon-jeong, itu sangat aneh.
Justru bukan satu atau dua bulan. Kenapa 49 hari? Menakutkan sekali.
Apa dia menghilang setelah 49 hari?
- Diam! - Bukankah masuk akal?
Dia datang tiba tiba, dia bisa saja tiba-tiba menghilang.
Tidak perlu repot-repot. Seharusnya kau makan sendiri.
Apa ini?
Rumput laut yang kubeli di Jeongdongjin.
Asli dari alam. Enak sekali untuk sup.
Begitu? Terima kasih, aku makan nanti.
Ya, aku pamit.
Bibi Eun-joo memberikan sesuatu?
Apa itu?
Ibu?
Ada apa? Kenapa sikapnya begitu?
Astaga.
Kenapa harus ini...
TEKAN UNTUK MULAI
INVESTASI SAHAM
Do-yeon?
Kenapa kau tidak menyelesaikan ini?
- Wawancara kerja untuk asisten dapur? - Ya.
Bu Oh.
Aku pamit pergi.
- Kau pergi sekarang? - Ya.
- Terima kasih atas bantuannya. - Bukan masalah.
Aku hanya datang sekali sepekan, tapi bersih sekali.
Coba lihat rumah lain, sangat berantakan.
Suami sangat berantakan.
Istri yang harus membersihkan semuanya.
- Astaga. - Sepertinya keluarga lain seperti itu.
Tentu saja, jarang ada suami seperti keluarga ini.
Dia mengerti tanpa diberi tahu. Menaruh barang di tempat awal.
Rapi sekali.
Terkadang justru sedih karena tidak perlu melakukan apa pun.
- Hati-hati di jalan. - Dah.
Pergi kerja? Mau makan sesuatu?
Tidak perlu repot-repot. Tidak apa-apa.
Cukup dengan ini.
Tidak perlu menyiapkan apa pun.
Foto ibunya Seo-woo di rak buku...
Foto? Ada apa dengan foto?
Aku hanya penasaran karena fotonya menghilang.
Itu...
Aku hanya...
Foto itu...
Tidak apa, tidak perlu menjelaskannya.
Aku hanya penasaran, dan ingin melihatnya.
Katanya turun salju malam nanti.
Aku sudah menyiapkan payung.
Aku pergi.
Seo-woo, ayah nanti pulang.
Seo-woo juga bersiap ke sekolah, ya?
Ya.
Ini apa, Seo-woo?
Halo?
KACANG MERAH
Sakit. Kenapa menyakitiku?
Sakit! Tunggu! Menyakitkan. Tahan!
Sangat menyakitkan! Tidak!
Siapa kau? Kenapa tega kepada kami?
- Kenapa dia bisa melihat kita? - Sepertinya dukun.
Tentu saja. Karena aku dukun.
Langsung ke intinya saja.
Mulai hari ini, tidak ada arwah yang boleh masuk ke TK ini.
Kalian semua mengerti apa yang kukatakan, 'kan?
Pergi selagi kuminta baik-baik.
Kau tidak bisa mengusir arwah!
Aku sudah lama di sini sebelum kau datang.
Aku tak mau pergi! Terima saja!
Hei!
Aku yakin bisa tuntas dengan musyawarah, baik manusia atau arwah.
Aku tak pakai kekerasan untuk mengatasi masalah.
Sama sekali tak menyakitkan, bukan?
Sama sekali tak sakit, bukan?
Sial. Dia benar-benar dukun.
- Lepaskan aku. - Astaga, apa ini?
- Lepaskan! - Aku tak masalah jadi hantu.
Kenapa menyiksaku?
Baiklah. Aku akan pergi.
- Sungguh? - Ya.
Seharusnya kau menurutiku dari awal, membuang energi saja.
Sial.
Sialan!
Pergi yang jauh dari sini. Pergi!
Selamat tinggal! Jangan kembali lagi! Jangan pernah!
Astaga, kau aneh sekali.
Kau membuat keributan di dapur sejak kemarin.
Kenapa kau terus melemparkan kacang merah yang digunakan anak-anak untuk bermain?
Aku hanya memakainya sedikit.
Kacang merah ini seharusnya dipakai anak-anak untuk bermain?
Aku akan membelinya sekarang.
Maafkan aku.
Sepertinya dia sedang senang.
KACANG MERAH
Haruskah kubeli lebih banyak?
Aku harus taruh sebagian di dalam tas Seo-woo.
Ini cukup.
BONEKA
Merah muda.
Seo-woo sangat menyukainya.
Bagus!
Bagus.
Apa?
Kenapa begitu?
Tanganku sepertinya belum pemanasan.
Kenapa tidak bisa satu pun?
Sangat menyebalkan.
Ayolah.
Bagus.
Hei.
- Aku? - Ya, kau.
Bisakah kau menjual satu kepadaku?
Baiklah. Yang mana? Ini?
Bukan.
Sesuatu yang disukai anak perempuan lima tahun.
- Merah muda. - Ini?
Tidak mau. Kenapa kujual?
Kau punya banyak.
Kau tidak mengoleksinya, 'kan?
Sepertinya kau tidak butuh juga. Jual kepadaku.
Hanya perlu 1,000 won untuk main. Aku berikan 3,000 won!
Apa? 1,000 won?
Aku harus menumpuk, menaikkan, dan mendukungnya. Total 3,000 won.
Ditambah biaya tenagaku.
Biayaku per jam sangat mahal, jadi, sebenarnya aku rugi.
Baiklah. Kalau begitu bantu aku mendapatkan itu.
Pergi ke mana dia? Dia belum makan.
Aku yakin tadi melihat dia.
- Ayah. - Apa?
Kau harus mendapatkannya.
Sisa 1,000 won lagi.
Sudah kubilang jangan ambil yang itu.
Itu saja. Peluang suksesnya tinggi.
Tidak mau! Seo-woo suka warna merah muda.
Hampir dapat, hanya perlu disentuh sedikit saja.
Aku mulai.
- Hei! - Astaga!
Astaga, mengagetkan saja!
Katamu tidak punya waktu untuk membantu kami.
Kenapa kau malah di sini bersama anakku?
Permisi? Ada apa denganmu? Kau sedang berbicara dengan siapa?
Anakmu?
Dia?
Benar. Orang itu.
Aku? Ada apa denganku? Kenapa?
Bukankah anakku tampan? Dia mirip denganku.
Karena dia tampan, tolong bantu kami.
Astaga. Mungkinkah mutasi genetik?
Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa menghasilkan anak seperti ini?
Ada apa denganmu? Kau menakutkanku.
Kau sangat mirip dengan ayah dan ibumu.
Aku yatim piatu.
Anakku, kenapa bilang begitu? Ibu ada di sini.
Benar juga. Yu-ri.
Bisa kau memasak untuk anakku?
Dia sudah sebulan tidak makan nasi.
Dia selalu makan mi instan dan roti.
Jika terus begitu, dia bisa mati muda.
Sungguh? Hanya itu permintaanmu?
Kau sangat aneh. Sungguh.
Itu permintaan besar!
Tidak ada yang lebih penting dari melihat anakku makan nasi.
Ayolah, kita sesama orang tua.
Bisa kau bantu kami? Kumohon.
Tolong bantu kami.
- Tolonglah. Bantu kami. - Kumohon.
Baiklah.
- Hei. - Apa? Ada apa sekarang?
Aku akan memasak untukmu.
Sebagai gantinya, berikan itu.
Kau tadi gagal, jadi berikan boneka itu.
Apa? Aku gagal karena kau berteriak.
Aku tak butuh makan.
Negosiasi gagal.
- Apa? - Kau tidak bisa begitu.
- Kau sudah janji! - Jangan begitu!
- Sekali ini saja. - Tolong kami.
- Sekali saja. - Bantulah kami.
- Itu hanya... - Berisik sekali!
Lupakan! Terserah! Aku tidak peduli!
Hei, tunggu.
Berhenti menatapku.
Kau mimisan. Rupanya kau benar-benar manusia.
Rasakan itu. Kenapa mencuri bonekanya?
Sial.
- Berani mencuri dariku? - Ayolah.
Itu hukumanmu karena mencuri. Hidungmu mimisan.
Ambil ini.
Jika tak mau, kuambil.
Sudah dewasa kenapa suka boneka warna merah muda? Dia mesum?
Tidak! Pil-seung itu jantan. Pria sejati.
Kami sudah melihatnya.
Jaga mulutmu.
Yu-ri. Kami melakukan ini demi kebaikanmu juga.
Semua arwah di rumah duka sangat ingin mencarimu!
Benar. Jika ketahuan mereka,
kau akan sibuk mendengarkan permintaan mereka selama 49 hari.
Tidak. Bahkan waktumu hanya tersisa 44 hari!
- Astaga. - Bagaimana ini?
Pantas kalian menjadi keluarga. Astaga, sungguh keras kepala.
- Benar, Sayang? - Benar. Tidak. Ya.
Jika kau terus menolak membantu kami,
kami akan terus mengikuti anakmu!
Apa? Kalian benar-benar keterlaluan!
Jangan berani mendekati putriku!
Tak akan kubiarkan!
Siapa? Apa?
Aku tidak akan membiarkanmu!
Sialan.
Gawat.
Ada apa ini?
Katamu jangan sampai ketahuan. Mereka akan menyulitkanku.
Jika keluarga Pil-seung itu tahu, sudah berakhir semuanya, Bodoh.
Kalian semua sudah mengerti yang kukatakan?
Maksudmu,
Yu-ri diadili sebagai manusia selama 49 hari?
Tapi, karena dia seperti dukun,
dia tak bisa ikut campur urusan arwah?
Bagus, kalian mengerti. Itu sebabnya...
jangan meminta tolong kepadanya.
Dia tak bisa membantu kalian.
Tidak adil!
Kenapa hanya dia?
Aku juga mau diadili di sini, lalu reinkarnasi.
Tenang.
- Ini bukan keputusan Bu Mi-dong. - Kau...
Yu-ri mendapat hukuman dari Langit karena mengumpat.
Dewa! Dasar kau bajingan!
- Astaga! - Jangan!
Kemari kau! Hadapi aku!
Kau tak akan bisa.
Kau selalu mengumpat. Dewa tak akan sadar itu umpatan.
Sial.
Itu terjadi begitu saja.
Sial.
Apa terjadi sesuatu denganmu?
Bagaimana bisa kau mengumpat,
sampai menjadi seperti ini.
Jika Dewa sampai melakukan ini,
pasti ada makna dibalik semua ini.
- Benar? - Ya. Pasti ada maknanya.
Tapi, setiap aku bertanya dalam doa, Dewa tak pernah menjawabnya.
Kau sudah mengunjungi ibumu?
Tidak. Aku tak bisa mengunjunginya.
Kenapa? Seharusnya kau mengunjunginya dari awal.
Tak ada yang merindukanmu melebihi ibumu.
Kenapa? Kau takut ibumu pingsan melihatmu?
Bukan begitu.
Aku akan menghilang setelah mengembalikan Seo-woo seperti semula.
Untuk apa aku menemuinya? Aku hanya akan memberi harapan palsu.
Astaga.
Bisakah kau cari saja tempatmu, dan hidup kembali?
Benar.
Tidak.
Manusia atau arwah tak boleh serakah, tak akan ada habisnya!
Aku hanya ingin Seo-woo tak bisa melihat arwah, dan tumbuh dengan baik.
KACANG MERAH
Astaga.
Bagus sekali! Kau berhasil.
Kau membaca semuanya. Bagaimana?
- Bagus sekali. - Bagus sekali?
Seo-woo. Coba lihat ini.
Ibu guru sangat penasaran,
apa ejaan awal dari buaya?
Seo-woo, kau tahu ini, 'kan?
Kemarin kau memberi tahu ibu, 'kan?
Seo-woo?
Kami tak bisa menilai kemampuan berbicaranya
karena dia tidak berbicara sama sekali.
Kalau seperti ini, jangankan sekolah bergengsi,
sekolah biasa pun akan sulit baginya.
Baiklah.
Bu.
Apa biasanya kau suka berbicara dengan Seo-woo?
Apa?
Kami bicara jika diperlukan.
Kenapa?
Sebelum umur enam tahun, dibandingkan menghafal
sangat penting untuk berkomunikasi dengan ibu.
Supaya anak bisa banyak berbicara.
Baiklah.
Seo-woo.
Enak?
Ya.
Anakku. Seberapa enak?
Sebesar... sebesar ini.
Kalau sebesar... sebesar ini, berarti paling enak sedunia?
Tentu saja. Enak seratus kali lipat!
Ibu tahu berapa itu seratus?
Seratus adalah angka yang sangat besar.
Lebih banyak dari sepuluh.
Seratus kali lipat? Kau sangat menggemaskan.
Ibu juga ingin mencobanya.
Selesai.
Hebat?
Aku bisa membuatkanmu makanan, bukan ini.
Jangan bicara seperti itu.
Lihat, minimarket sudah seperti restoran.
Tteokbokki, Odeng, Jokbal...
Telur di atas mi instan. Ini sungguh menarik.
Aku selalu berkata, waktu berlalu begitu cepat.
Tapi saat melihat ke belakang, semuanya telah berubah.
Banyak yang telah berubah, bukan?
Memang seharusnya berubah. Sudah lima tahun berlalu.
Tapi kau tahu?
Aku sama sekali tak sedih.
Aku berterima kasih atas semua perubahan ini,
jadi, jangan khawatirkan aku.
Ibu tiri Seo-woo...
Kau tak penasaran dia orang seperti apa?
Tidak penasaran.
Kenapa?
Kupikir kau akan sangat penasaran mengenai itu.
Karena aku tahu dia seperti apa.
Kau tahu?
Orang yang baik.
Dia orang yang baik.
Benar?
Ya, benar. Orang yang baik.
- Ayo kita makan. - Baiklah, ayo makan!
Mari makan!
Ayo.
Kenapa? Ada apa?
Mau pergi ke mana? Apa? Kenapa...
Ayo.
Kenapa? Ada apa?
Mau pergi ke mana? Apa? Kenapa...
Begitu rupanya...
Halo.
Kau perlu membeli sesuatu?
Ya.
Yu-ri.
Yu-ri. Kau tidak apa-apa?
Aku baik-baik saja.
Mereka kehabisan alkohol lagi?
Bagus, Bu Oh Min-jeong. Kau tahu caranya minum.
Soju langsung satu tegukan. Ini gayaku.
Terima kasih. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Hanya ada satu meja di sini.
Ya, benar.
Biasanya ada dua meja.
Tampaknya kau tak punya teman minum.
Biasanya orang akan minum sendirian di rumah
karena banyak sekali gosip di lingkungan ini.
Kukira kau tidak memikirkannya. Apa itu mengganggumu?
Tidak, aku sama sekali tak peduli.
Bohong. Dia pura-pura kuat.
Ibu-ibu di lingkungan ini suka mengurusi hidup orang lain.
Mereka sangat mengesalkan. Jangan terlalu dipikirkan.
Tidak. Aku benar-benar tidak peduli.
Bagus kalau begitu.
Apa Seo-woo terlihat begitu aneh?
Apa Seo-woo berbeda sekali dengan Ha-jun?
Perutmu kenapa? Apa sakit sekali?
Bagian mana? Apa dia salah makan?
Ada apa? Seo-woo sakit?
Katanya perutnya sakit.
Kau tak perlu sekolah, kita pergi ke rumah sakit sekarang.
- Ayo ganti baju. - Tiba-tiba?
Dia tadi masih baik-baik saja.
Seo-woo kau baik-baik saja?
Ya.
Perutmu tidak sakit?
- Tidak sakit? - Tidak.
Kalau begitu, aku akan mengancingkan bajumu lagi.
Dia baik-baik saja.
Benar juga. Dia tadi kesakitan.
Karena masih kecil, dia pulih dengan cepat.
Baiklah.
- Ayo kita pergi? - Ya.
Mari kita pergi.
KELAS MATAHARI 2019 PROGRAM PARTISIPASI ORANG TUA
TK HAEMIL GEMBIRA
Itu Ibu Yul-hee. Hei!
- Halo. - Halo.
- Halo. - Halo.
Pundakmu bisa terkilir. Turunkan dia.
Anakku?
Apa yang menyempurnakan fesyen?
Bentuk tubuh.
Benar sekali! Bentuk tubuh.
Apa David Beckham membesarkan lengan demi sepak bola?
Bukan, tapi agar keren ikut program partisipasi orang tua.
Dasar sesumbar.
Pak Cho. Halo.
- Ya, halo. - Halo.
Kenapa...
Kenapa dia...
Apa yang dilakukannya?
- Halo. - Halo.
Min-jeong, kau datang?
Kenapa kau datang?
Apa?
Harus datang. Semuanya harus hadir.
Benar. Aku hanya bercanda.
Tentu harus datang. Ini acara partisipasi orang tua!
Kau cantik sekali, Seo-woo.
Kau sudah gila? Untuk apa kau datang?
Kau mau bagaimana?
Ayo. Kita harus masuk.
Kita sudah terlambat.
Ayo masuk.
Mereka pasti berpapasan, apa yang dia rencanakan?
Rencana apa?
Lebih baik dia tahu semuanya.
Ayo masuk.
Astaga. Kita sedang sibuk. Apa yang kau lakukan di sana?
- Kau tidak akan kerjakan ini? - Baik.
Terserah. Tidak mungkin berpapasan.
Aku tak akan keluar dapur.
- Astaga. - Ini. Bawa ke ruang bermain.
Aku mau memotong buah.
Apa? Aku...
Biar aku yang potong buah.
Tidak. Kau belum pernah melakukannya. Tidak boleh.
Bawa ini saja ke ruang bermain.
Tidak, tunggu, aku...
Permisi?
Ya?
Kalian pasti sering memakai itu. Kacang merah.
Ya, lumayan.
Permisi.
Aku jadi Elsa. Kau iri?
Ya.
Mi-so, bisa jawab berikutnya?
Siapakah yang hidup di antara A dan C?
- O! - Bukan.
- B. - B.
- B. - B.
- B! - B. Benar!
- B! - Bagus!
Ibunya memberitahu.
Ha-jun, bisa jawab berikutnya?
- Semangat! - Baiklah.
Alfabet apa yang ada di antara B dan D?
- C. - C.
Ha-jun. C.
- Lihat ayah. C. - C?
C. Astaga.
C. Ha-jun!
Ha-jun! C.
Bombai goreng tepung!
Benar. Bawang bombai goreng tepung!
Bombai goreng tepung.
Hei. Yu-ri di mana?
Aku tidak tahu. Tidak terlihat. Sepertinya dia tetap di dapur.
Kau! Aku sudah bilang jangan datang ke sini!
Aku tak memilih ada di sini. Kau pikir aku mau?
Aku sudah mengajaknya pergi, beralasan Seo-woo sakit.
Jika berhasil, aku tak akan di sini.
Sepertinya Yu-ri juga sedang menghindar.
Aku yakin akan baik-baik saja. Sudahlah.
Kalian sedang apa?
- Ayo pergi. - Ya.
- Setelah acara selesai. - Ayo masuk.
- Ya. - Benar. Ayo.
Kenapa bajumu seperti ini?
Sudahlah. Ayo masuk.
- Rasakan kacangnya. - Bagus!
Ayah, lihat ini!
Seo-woo.
Jangan ambil dari sini. Di sana lebih banyak.
Jika kau terus mengambilnya, Mi-so tidak bisa bermain.
Seo-woo. Ambil dari sini saja.
- Ayo bermain lagi. - Ya.
Seo-woo!
Kau tidak boleh melemparnya seperti itu.
Kau harus bermain hati-hati.
Hei!
Astaga.
Apa yang kau lakukan?
Sepertinya kau perlu kacang merah.
Seharusnya kau bermain seperti ini.
- Anak-anak! - Ya!
- Hore! - Kacang merah lagi!
- Ayo! - Ya!
Astaga.
Ibunya Mi-so benar-benar membuatku kesal.
Astaga, aku kesal sekali.
Kupikir kau akan langsung kembali. Kenapa begitu lama?
Selanjutnya akan bermain tusuk sate. Satu tusuk tiga buah.
Stroberi.
Seo-woo sangat suka stroberi. Dia pasti akan senang.
Enak sekali.
Aku berusaha sangat keras mendapatkan stroberi ini.
Aku mengelilingi kota Seoul,
dan membelinya di depan sana.
- Enak? - Ya.
Tak perlu yang lain, hanya ingin stroberi.
Anak kita ini pembinasa stroberi.
Apa? pembinasa stroberi?
Tidak bisa begini.
Aku akan berhenti menjadi dokter, dan membuka kebun stroberi.
Tidak boleh.
Baiklah, aku mengerti. Kita beli stroberi saja.
Benar. Berikan Seo-woo stroberi.
Bukan yang itu. Berikan stroberi.
Seo-woo sangat menyukai stroberi.
Dia benar-benar tak tahu selera anakku.
Seo-woo sangat menyukai stroberi, 'kan?
Kelas Matahari!
- Ya, hadir, Bu Guru! - Ya, hadir, Bu Guru!
Kalian akan membuat sate buah bersama.
- Ya! - Kalian bisa membuat sate buah
bersama ayah dan ibu kalian.
- Ya, hadir, Bu Guru! - Ya, hadir, Bu Guru!
Silakan.
Ya. Terima kasih.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
Lihat punyaku.
Tak perlu memberinya stroberi. Tak apa-apa.
Begitu.
Tapi, stroberi ini sangat enak. Tak terlalu asam.
Tak apa-apa. Jangan berikan stroberi.
Tapi, anakmu pasti akan suka.
Do-yeon. Seo-woo tak boleh diberi stroberi.
Seo-woo tak boleh makan stroberi, dia ada alergi.
Alergi?
Maafkan aku. Aku tak tahu.
Maafkan aku.
- Aduh! - Astaga, Seo-woo!
Seo-woo!
Kau baik-baik saja? Astaga, pasti sakit.
Kau baik-baik saja, Seo-woo? Pasti sakit.
Bagaimana ini? Tidak apa-apa?
MISAENG
Kau tidak apa-apa?
Wajar kau tidak tahu dia alergi.
Wajar terjadi. Aku yang melahirkan dan merawat Ha-jun,
tapi tak tahu semua alerginya.
Sepertinya aku ketahuan.
- Apa? - Bahwa aku Cha Yu-ri.
Aku sangat yakin dia tahu.
Bagaimana ini?
Benar-benar nyaris sekali.
Kenapa aku harus bertingkah!
Kau lebih mengkhawatirkan itu?
Astaga, Yu-ri.
Tentu saja. Aku tidak boleh ketahuan.
Kenapa? Tetap saja harus diberi tahu.
Kau akan terus berada di dapur saja?
Kau tidak mau merawat Seo-woo?
Tidak.
Apa? Kenapa?
Itu karena...
Ini rahasia.
- Sebenarnya... - Sebenarnya?
Aku...
adalah...
ar...
ar...
Perkenalkan, ini Oh Min-jeong yang mulai bergabung dengan kita hari ini.
Aku dipilih pekan lalu, ini hari pertamaku.
Mohon bantuannya.
- Salam kenal. - Salam kenal, Min-jeong.
Bagian ginekologi dipanggil ke ruang operasi nomor enam.
Wanita hamil. Mendesak.
Korban kecelakan. Untung anaknya lahir dengan sehat.
Tolong bawa ke ruang bayi.
Baiklah.
Kesempatan selalu datang
ketika aku tidak menyadarinya.
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
- Apa kau memukulku? - Aku?
Lihat wajahmu.
Apa yang terjadi kemarin malam?
Kenapa hanya Yu-ri yang menjadi manusia?
Aku tak bisa temukan tempatku.
Hentikan!
Kau tidak ingin merawatnya sendiri?
Kau menjaga jarak dengan Gang-hwa karena Min-jeong, bukan?
Bisa jadi hubungan mereka sedang tidak baik.
Dia terlalu mirip. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Kau akan bercerai?
Kau bisa menjadi ibunya Seo-woo.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.