Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mas Bambang.
Di zaman kita akan terus begini, Mas.
Aku sudah tidak tahan.
Kenapa? Dengar ocahan orang tentang kita, Mas.
Ocahan apa, sayang?
Kamu sendiri tahu, kan?
Image janda itu tidak akan pernah bagus.
Dan mereka tahu kamu sering menginap diri ini, Mas.
Dan... ...ku hamil, Mas.
Jadi kau ingin kita menikah?
Ya.
Agar bayi yang aku kandung ini mempunyai seorang ayah.
Dan dama baikku tetap berjaga-jaga.
Kita segera menikah, sayang.
Jangan khawatir.
Malam ini kamu nginep di rumah Tante Siska dulu.
Besok malam Mama jemput.
Iya, Ma.
Selamat ya, Kak. Mudah-mudahan tidak gagal lagi.
Terima kasih, Dek Siska.
Selamat ya, Mas Bambang. Terima kasih.
Sally, kenapa kamu telepon ke sini?
Aku dapat nomor telepon ini dari Mas Hendrik.
Mas, aku hamil.
Perempuan gampang amat si hamil.
Terus kau maunya apa?
Ya harus dikawin dong.
Ingat, Mas.
Telah tujuh tahun kau menunda perkahwinan kita.
Sejak kelahiran anak pertama.
Tapi kamu kan tahu aku baru saja menikah dengan Mary.
Masa dalam seminggu aku harus kawin dua kali?
Emangnya aku kambing? Tapi kamu harus bertanggung jawab dong.
Jangan cuma mau enaknya aja.
Iya, pasti aku mengawini kamu.
Tapi sabar dong.
Sabar, sabar. Apa kamu sudah terbuai goyangan dia?
Sally. Dengar dulu.
Kalau rencana aku berhasil, kita pasti kawin.
Kamu nggak usah takut.
Ini semua cuma sandiwara.
Aku akan atur.
Paham?
Dali, Mary mendengar pembicaraan kita.
Kamu telah pun Hendrik. Suruh dia datang ke sini nanti malam.
Merry. Merry.
Cepat kamu beli rokok. Ini uangnya.
Ya, Tuhan.
Mas, ada urusan apa Henry tidak datang kemari?
Emangnya kenapa?
Kamu keberatan.
Aku suamimu.
Aku kepala keluarga yang menentukan di sini.
Kamu jangan saya nanya-nanya temanku.
Mas, ini rumahku. Aku berhak menanyakan apa saja kepada kamu.
Kau begitu?
Kau yang bersek!
Kau... Kau berani memukulku?
Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau bicarakan di telepon?
Bagi ini!
Siapa perbuat itu bangsa?
Kau tidak perlu tahu.
Iya. Iya.
Kami memang bajingan. Sayang kau terlambat mengetahui.
Hmm.
Buka dong handuknya.
Sekarang giliran.
Amatmu. Tubuhmu.
Masa? Iya, dosen yang baru tadi.
Hai. Orangnya baik sekali.
Jangan-jangan dosen itu nasir kamu. Sangat, kok kamu.
Thanks ya. Oke.
Pat, sampai nanti malam ya. Yuk.
Red, aku masuk ya.
Gak enak udah malam. Takut ketahuan Hansip. Wah, lagi tanggung nih.
Sebentar lagi deh.
No way.
Nanti kamu lupa daratan.
Bye. Bye.
Rita. Rita.
Apa lagi?
Aku ikut turun ya.
No, it's too late.
Mak dirabit.
Kalau udah tanggung kayak gini, gue mesti bagaimana nih?
Masa gue mesti jepitin di pintu?
Eh, Papa.
Ada apa, Pa?
Aku mesti ke Jakarta.
Wah, masa udah gede begini, masih dijodohin.
Kayak zaman Siti Nurbaya aja, Pa.
Bukan begitu.
Biarpun anak konglomerat, kalau aku gak suka, kan percuma aja, Pa.
Udah, aku udah punya pilihan.
Wah, kece berat, Pak.
Papa mau kenal.
Oke, nanti aku ajak ke Jakarta, deh.
Tentang hubungan kita, Papa mencodokkan aku dengan anak konglomerat.
Wah, asik dong.
Jadinya kan kamu nggak bakalan melarat.
Tuh, kok begitu jawabannya?
Sepertinya kamu tidak memperhatikan aku.
Terus aku harus gimana?
Apa aku harus nangis gerung-gerungan supaya kau menolak mohon papamu?
Bukan begitu.
Kamu tanya, oke, bagaimana sikap aku?
Oke.
Apa yang kamu inginkan dari aku?
Aku menolak kemohon Papa, karena aku sudah punya pilihan, yaitu kamu.
Papa setuju dan ingin ketemu kamu.
Abe, aku belum kepengen kawin, Beth.
Aku masih ingin kuliah.
Kamu ketemu Papa bukan berarti kita langsung dikawinin.
Paling enggak, Papa kan ingin kenal dengan calon menantunya.
Besokan kita sudah mulai libur semester.
Gimana kalau besok kita berangkat?
Tapi aku gak punya family di sana.
Di mana aku harus tinggal?
Di rumah aku dong.
Rumah aku cukup besar untuk kamu menginap.
Oke.
Aku akan bersiapkan untuk itu.
Tapi kamu janji ya.
Kamu gak boleh nakal.
Kamu gak boleh menganung ke kamarku. Ya gimana nanti aja.
Pinter-pinternya aku kan.
Hai,
Mona. Yuk.
Mama mana?
Lagi pergi ke Arisan.
Katanya lagi sakit.
Katanya sih bosan di rumah melulu.
Eh, Pat.
Pilihannya oke juga ya.
Siapa dulu yang milih?
Ayo dong masuk. Masa di situ aja?
Tunggu ya.
Rumah ini cukup luas kan buat kamu nginap?
Maksudku, kamu suka nggak nginap di sini?
Suka aja.
Namanya juga gratis.
Eh, tapi ingat ya, kamu nggak boleh gratilan.
Aku sih maunya nggak gratilan.
Tapi kadang-kadang ada yang suka celamitan.
Mulai deh ngomongin ngeres.
Ngomong ngeres sih nggak apa-apa.
Asal jangan pikirannya yang ngeres.
Ada apa sih?
Kok pakai ngomong ngeres segala?
Biasa. Daddy, kalau sehari nggak ngomong ngeres, kepalanya kan suka pusing.
Gue sih ngomongnya aja.
Kelakuan sih.
Enggak.
Berangkat dari Bandung jam berapa?
Jam 12 nih kalau nggak salah.
Soalnya kita tadi mampir ke puncak pas dulu.
Itu pasti papa.
Rita, di Bandung lagi musim apa?
Musim pacaran.
Rita, ini papa.
Sorry.
Gak apa-apa.
Sering kok gelas pecah di rumah ini.
Rita. Papa mau kenal.
Rita. Bambang.
Pilihanmu udah meleceh, Ted.
Boleh juga.
Very nice.
Ted, toletnya dimana?
Disana. Ayo gue bantar.
Di sebelah mana, Ted?
Di situ, Red.
Oke, terima kasih.
Anak konglomerat itu cantik lho.
Seperti Demi Moore.
Cantiknya pasti enggak asli, Pak.
Oh ya?
Permakan. Dia sudah operasi plastik.
Masa?
Oh iya, Pak.
Kita boleh nginap di sini, enggak?
Boleh, toh.
Kita kan masih punya kamar untuk tamu.
Baik. Nanti Papa yang bicara sama Mama, ya? Oke.
Kamu.
Eh, Ted.
Pokoknya lo enggak boleh sekamar sama dia.
Bisa bahaya.
Itu gimana nanti aja.
Mau jadi buaya, loh.
Ayo, aku antar ke kamarmu. Ayo.
Ini kamar kamu.
Mudah-mudahan kamu betah disini.
Thanks.
Nanti kita makan malam sama-sama.
Dan sekalian berkenalan dengan mama.
I love you, Reed.
I love you very much.
Ini nyonya.
Ayo.
Seadanya aja ya, Rita.
Makasih, Tante. Ini Yanti, pembantu Tante.
Tapi sudah seperti keluarga sendiri.
Tante nggak sempat masak.
Soalnya sibuk ikut kegiatan sosial.
Mama jangan terlalu sibuk, Ma.
Nanti lipernya kampung lagi.
Iya, Ma.
Udahlah nggak usah ikut kegiatan sosial segala.
Mama mesti banyak istirahat.
Mama bosan istirahat terus.
Habis, Papa juga jarang di rumah.
Loh, aku kan sibuk dengan pekerjaan, Mam.
Masa aku mesti di rumah terus temanin kamu?
Katanya Mama mau ngepas pakaian. Mau nantarin ya? Oh, iya.
Oh ya, Red.
Kamu kan hobi berenang.
Kalau mau, tuh, di belakang ada kolam renang.
Yuk, yuk.
Pak, kamu sedang apa di luar?
Biasa, lagi cari angin.
Orang lagi nanggung nih.
Loh, katanya papa cari angin. Kok keringetan?
Itu loh, mam.
angin-angin panas
Istirahatlah, Rita.
Mama udah bangun, Pak?
Belum. Katanya gak enak badan lagi.
Tuh kan, Mama. Cepat sedikit aja meriang lagi.
Papa gak sarapan dulu?
Enggak.
Papa harus segera ke kantor.
Ada janji dengan relaksi.
Dah.
Dah.
Hai. Udah siap?
Kau katanya mau jemput jam sembilan.
Kok sekarang udah nongol?
Latihan kan lebih pagi lebih enak.
Habis gitu, baru ke kampus.
Iya nggak?
Tunggu ya.
Ready?
Gue mau pergi fitness dulu.
Teddy.
Tuh, Mona panggil kamu.
Ah, cuek aja.
Paling dia mau pergi sama Gino, cowoknya.
Yuk.
Aduh, kamu ngaco.
Eddie.
Jangan khawatir.
Gak ada siapa-siapa.
Bokap udah pergi.
Nyongka pasti mesti tidur.
Kita di sini bebas-bebas saja.
Kita kan belum mandi.
Belum cekat kiki.
No problem.
Kata orang, kalau bercinta di pagi hari, sungguh mengasihkan sekali.
Biar keduanya pada kelengar.
Tetok kamu.
Oh ya, Tet.
Nanti aku mau pergi shopping.
Kau bisa antar kan?
Oke. Aku mau ke kantor papa dulu.
Nanti kamu menyusul.
Iya.
Alamatnya aku tulis di buku notas.
Gino, apa-apaan sih? Jangan berisik. Nggak ada yang lihat aku masuk kemari.
Aku mau fitness.
Lain kali kan bisa.
Kamu cari kesempatan aja.
Oh, Pak Revi sedang dinas luar kota.
Ya, terima kasih.
Selamat siang.
Bisa saya ketemu dengan Pak Bambang?
Beliau ada di ruangannya.
Terima kasih.
Jangan, Pak.
Oh, Rita.
Sit down, please.
So, kamu pasti cari Teddy, kan?
Iya, Om.
Biar lagi Om suruh pergi sebentar menemui klien.
Oh, iya?
Om ingin membuka kantor cabang di Hong Kong.
Untuk itu, lebih dahulu Om menugaskan Teddy meninjau ke sana.
Sorry, Om.
Lain kali aja, ya.
Pak,
Klein oke.
Tapi dia hanya punya waktu besok pergi bersama-sama aku ke Hong Kong.
Jadi, bagaimana, Pak?
Bye.
Lebih cepat lebih baik.
Kalau begitu, Bapak tolong pesan tiket sekarang.
Karena aku dan Rita akan pergi shopping.
Dan nanti malam kami berpediskotik.
Pak, Ma.
Tadi berangkat.
Ma.
Aku tutip Rika.
Dia mau disini dulu menunggu aku sampai pulang.
Iya, Mama setuju saja.
Biar Mona ada temannya.
Iya kan, Pak?
Papa pikir tidak ada soalnya Rika mengenal disini.
Oh iya, Teb.
Sampaikan salam Papa sama Mr. Lim disana.
Mudah-mudahan dia mau diajak kerja sehabis sistem kita.
Baik, Pak.
Pak, tadi pamit. Iya.
Ma. Hati-hati, ya.
Jangan lupa pesan Papa, ya.
Iya, Pak.
Sudah sepantasnya anak kita dididik menjadi eksekutif, ya, Pak.
Itu yang Papa harapkan, Ma.
Eh, Yanti, ngapain kamu buka-buka laci meja?
Enggak, Non.
Iseng aja.
Enggak boleh. Ini kan kamarnya Rita. Kok sampai orangnya tahu kan enggak enak.
Karena enggak curiga, Non.
Curiga apaan?
Mona, cepat!
Hubungi dokter kita.
Bicara terus, Pak. Mona jemput ke sana aja ya. Iya.
Nanya kenapa, Tuan?
Ayo, cepat ambil batu es.
Iya.
Ada apa, Om?
Ya, Sab.
Nantimu kena tekanan darah rendah.
Dan ini yang untuk kedua kalinya.
Udah panggil dokter? Udah.
Mau ada lagi jemput?
Ini, Tuan.
Biar aku yang kompres.
Ini, Pak, dokternya.
Halo,
sahabat. Aku kira kau nggak jadi datang, sahabat.
Aku rela meluangkan waktu.
Iya, toh. Untuk teman lama.
Kapan kau datang dari luar negeri?
Seminggu yang lalu.
Ayo.
Bagaimana perkembangannya?
Enggak apa-apa.
Tekanan darahnya rendah sekali.
Ini resepnya.
Mona.
Tepuk sobat ini. Cepat, sayang.
Oh iya, Hen.
Kenalkan Rita.
Itu temannya Teddy dari Bandung. Rita. Hendrik.
Ini kartu nama saya.
Kalau ada apa-apa, telepon saya.
Terima kasih.
Silakan minum, Tuan Dokter.
Terima kasih, Yanti. Iya.
Mari minum. Silakan, silakan.
Rupanya Yanti masih sadar setia ikut sama kamu.
Iya, setia terus.
Terima kasih, Hendrik, atas bantuanmu.
Ah, kau.
Itu sudah kewajibanku.
Apalagi menolong istri sahabat.
Bisa aja.
Oh iya.
Kalau nanti Sally sudah sadar, kau berikan obat ini.
Baik.
Ayo. Ayo.
Lain kali aja ya, Om.
Dan Mona ada aja.
Gak tau orang lagi sibuk.
Apa lagi yang ingin kau laporkan pada
Mona?
Paham.
Oke. Bi.
Bibi.
Bagaimana keadaan Yantian?
Dia masih koma.
Ya, ada kelainan sedikit pada jantungnya.
Kenapa bisa begitu?
Mungkin karena syok berat.
Kalau ada apa-apa, akan kubungi.
Thanks.
Hai. Mona ada?
Mona? Iya.
Sebentar ya.
Oh iya, Rit. Kenalkan, ini Gino, anaknya dokter Hendrik.
Rita. Hai.
Papa udah pulang, Gin? Apa masih di rumah sakit?
Kayaknya waktu aku mau kesini, papa baru aja sampai.
Memangnya kenapa? Enggak, soalnya tadi siang ngurus siantia masih di rumah
sakit. Kenapa?
Enggak tahu, kena serangan jantung kali.
Mon, malam ini gak usah kemana-mana ya?
Iya deh, saya juga capek.
Rita, duduk sini dong. Masa di situ aja?
Enggak ah, nanti aku bisa ke wasit lagi.
Kan lebih seru kalau gak ada wasitnya.
Kamu, bisa aja.
Kangen apa nafsu? Iya, dua-duanya lah.
Jangan, Gin.
Nanti ketahuan papa kan kita bisa malu.
Mana mungkin sudah malam begini. Lagi pula papa kamu kan pernah muda.
Mana?
Aku mau ke supermarket.
Pinji mobilnya ya.
Sorry deh, mobil gue ada di bengkel.
Pakai aja mobil gue.
Kuncinya ada di atas meja.
Yaudah terusin. Sorry ya, aku ganggu. Dah.
Sekarang kita bebas.
Malam, dok.
Eh, Rita.
Ada apa?
Tumben.
Saya kesini... ...mau memeriksa kesehatan saya, dok.
Sudah beberapa hari ini... ...nafas saya suka sesak.
Padahal saya enggak punya penyakit asma.
Oke, memperiksa ya.
Coba berbaring di sana.
Iya.
Coba tarik nafas.
Ya, lagi.
Ya, lagi.
Ya.
Cuma masuk angin biasa.
Om Suntik, ya?
Boleh.
Tapi gak sakit kan, dok?
Enggak. Ya, paling seperti digigit semut.
Ada apa dengan kamu?
Siapa kau sebenarnya, Rita?
Masih ingat dengan Mary?
Henry.
Kau.
Bambang. Dan Yanti.
Telah bersekongkol membunuh Mary.
Mary.
Mary? Ya.
Mary.
Kalian siksa.
Lalu membunuhnya.
Kau... Kau ini siapa?
Bagaimana kau bisa tahu semua ini?
Lihat.
Pandang wajahku.
Ingat.
Kau masih ingat?
Peristiwa malam itu.
Ya.
Aku.
Aku anaknya Mary.
Bukankah kau telah... Mati!
Ya.
Mungkin kau tidak ada tanpa Siska.
Aku telah mati.
Tapi Tuhan memberiku hidup baru.
Untuk mengirim kau ke neraka.
Kau anggap apa dirimu?
Demikian mudahnya mau membunuh aku.
Tersemutlah kau tebus sendiri.
Aduh, sorry banget ya Gin.
Gak apa-apa.
Kamu kelamaan ya nunggunya.
Ini kan si mobilnya.
Viva, aku pulang duluan ya. Loh, aku datang aku langsung pulang?
Enggak, aku memang sudah mau pulang kok.
Soalnya, kami sudah sama-sama happy.
Tuh kan, ngomongnya mulai selebor deh.
Yaudah, aku masuk duluan ya. Oke.
Aku pulang dulu ya.
Jangan ngapel ke tempat lain ya.
Yakin aja.
Dah.
Papa.
Papa, kenapa, Papa?
Papa.
Ging.
Jangan terlalu dipikirkan.
Maaf, Om.
Aku belum siap.
Nanti aja ya.
Jangan marah dong, Om.
Bukannya aku nggak mau.
Tapi takut sama Tante.
Kamu kan sudah dewasa.
Tante.
Kenapa ini, Sally?
Siapa yang lakukan ini, Sally?
Pak, cerita itu sebenarnya siapa?
Kenapa sejak kehadirannya banyak hal aneh yang terjadi?
Mama meninggal, Yanti masuk rumah sakit, dan...
Iya betul.
Rumah sakit.
Apa? Yanti sudah sadar?
Saya curiga, Non.
Hati-hati dengan Rita.
Bi, siapa sebenarnya Rita?
Papa, siapa anak kecil ini?
Mama, saya tidak akan pernah melupakan penderitaan Mama.
Saat disiksa dan dibunuh oleh Om Bambang dan Om Henry.
Sampai kapanpun, saya akan mundur kepala.
Berarti anak kecil ini adalah Rita.
Halo?
Teddy?
Kapan kamu datang?
Baru aja.
Sekarang aku dalam perjalanan pulang.
Bagaimana kabar kamu?
Baik-baik aja.
Oke. Secepatnya aku sampai.
Bye. Bye.
Berarti aku harus bekerja cepat.
Mona.
Pujat.
Aku lagi ada problem.
Kamu ribut lagi sama Gino.
Berarti jiwa papa terancam.
Mau ke mana?
Aku mau ke kantor papamu. Bye.
Aku mesti hubungi papa.
Cara melulu.
Menurut Bapak, surat penawaran ke Paris dan foto Garment perlu dikirim hari ini.
Ya, segera saja.
Baik. Terima kasih.
Halo? Di Sunny Corporation.
Ada Pak Bambang. Pak Bambang sedang rapat.
Tidak bisa diganggu.
Tapi ini penting. Dari anaknya.
Sebentar ya.
Selamat sore.
Sore. Saya Rita.
Bisa saya ketemu Pak Bambang?
Oh, beliau sedang rapat. Bisa ditunggu.
Seth, kita harus ke kantor Papa. Papa dalam bahaya.
Ada apa sih?
Udah deh, jangan banyak tanya.
Linda. Ya, Pak.
Siapkan sebuah garmen untuknya, Yoke.
Baik.
Rita.
Ada apa?
Aku mau minta tolong.
Oh ya, kita bicarakan di dalam. Iya.
Om pasti mau menolong kamu.
Asal kamu mau mengerti kemauan Om.
Aku telah mau, Om.
Tapi tidak di sini.
Oke, kita pergi.
Om ada tempatnya khusus buat kita.
Ayo.
Pak Bambang baru saja pergi sama Rita.
Mereka pergi kemana?
Bapak nggak bilang.
Tapi biasanya, kalau beliau sampai di tujuan, pasti telepon ke sini.
Om sering ke sini?
Iya. Om selalu istirahat di sini.
Kotej ini... ...om beli kira-kira setahun yang lalu, Rita.
Om, saya ketelet dulu ya. Oh, silakan.
Nanti kalau yang telepon, catat saja.
Saya lagi ada rapat di kotet Nirwana.
Baik, Pak.
Bapak barusan telepon.
Beliau sedang ada rapat di kotet Nirwana.
Rapat?
Rapat apaan? Ted, ayo kita ke sana.
Kita ambilkan ya.
Boleh.
Itu di pekas ada minuman.
Terima kasih, Rita.
Rita, kau perasaan lain?
Ya.
Aku senang aja mencampurkan minuman om dalam obat.
Wah.
Kamu jangan bercanda.
Ayolah, Rita.
Kau tahu siapa aku?
Aku Rita.
Anak kecil yang melihat.
Perbuatan kau dan Hendrik.
Membunuh ibuku.
Secara biadab. Jadi kau... Kau anaknya Mary?
Ya. Ya.
Aku anaknya Mary.
Yang berhasil diselamatkan oleh Tante.
Dan asal kau tahu.
Yanti koma karena aku.
Karena aku tidak mau dia merusak rencanaku.
Jadi... Kau juga yang bunuh Hendrik?
Hendrik.
Hendrik mati karena kesalahannya sendiri.
Dan sekarang, aku ingin bunuh kau secara perlahan-lahan.
Dengan tangan ini, kau siksa mama.
Ampun, Rita.
Ampun.
Ampun?
Apa kau pernah mengampuni mama?
Kau bunuh mamaku.
Aku ingin kau merasakan.
Bagaimana sakitnya disitu.
Berpikau menyiksa mamaku.
Kau masih ingat dengan alat suntikan ini?
Ibuku mati karena ini.
Dan kau harus mati dengan ini.
Jangan. Jangan kau bunuh aku.
Jangan.
Rita. Jangan.
Kalian maju selangkah lagi.
Wonyet ini akan mati.
Rita. Kumohon jangan membunuh orang tua kami.
Please, Rita. Kalian tidak tahu.
Dan kalian tidak pernah melihat dengan mata kalian sendiri.
Bagaimana ibuku ditendang.
Ditiksa.
Dan dibunuh oleh ayah kalian.
Coba.
Seandainya itu terjadi pada ibu kalian.
Jika kamu telah membunuh ibu kami juga.
Mona.
Bukan aku yang membunuh ibu kamu.
Itu siapa?
Ceritakan yang sebenarnya.
Dasar. Dasar.
Tua bangkang kata diri.
Sekarang juga aku minta. Kau usir dia.
Kamu ngomong seperti itu lagi.
Awas.
Kau tinggal pilih.
Aku atau Rita.
Aku pilih dia.
Dan kau boleh minggir sekarang juga.
Kau berani mengancam aku.
Rahsiamu akan kubongkaskan semua orang.
Maafkan papa.
Papa terpaksa membunuh ibu kalian.
Sekarang kau rasakan sentikan ini.
Aku mengerti apa yang kamu lakukan terhadap papa.
Selama ini hanya untuk melampiaskan dendamu.
Demi cinta kita.
Aku mohon.
Jangan bunuh papaku.
Walaupun papaku bersalah.
Biarlah hukum yang berbicara.
Rita.
Aku mohon.
Aku turuti kemauanmu, Ted.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.