All language subtitles for Perempuan.Pembawa.Sial

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Mas.

Puti, ini ibu baru kamu.

Ibu.

Halo, Sayang.

Dan ini kakakmu, Mirah.

Kakak Mirah.

Cantik banget, ya.

'Kan Mbah Warso periasnya.

Pasti cantik, lah.

Sudah sempurna.

Selamat datang, bapak dan ibu yang terhormat.

Selamat datang di resepsi pernikahan Mirah dan Aryo.

Terima kasih, Bu.

Ditandatangani dulu, Bu.

Acara selanjutnya adalah upacara injak telur.

Sebagai doa agar kedua mempelai dapat segera dikaruniai seorang anak.

Hadirin sekalian, mohon tetap tenang

dan menjaga kekhusyukan acara.

Terima kasih.

Pertanda apa ini?

Ya, pertanda kalau yang ambil telur kurang hati-hati.

- Selamat ya, Pak. - Mbak.

- Selamat, Mas Aryo. - Iya.

- Selamat, Mbak. - Selamat.

Udah, Ibu itu nggak usah mikir aneh-aneh.

Itu telurnya busuk!

Udah, yang penting mereka senang.

Terima kasih, Mbak.

Senyum, dong.

Kamu cantik hari ini.

Udah, nggak usah dipikirkan soal telur itu.

Nggak apa-apa.

- Selamat, ya. - Iya.

Iya. Terima kasih.

Terima kasih.

- Selamat, Pak. - Terima kasih.

Sebenarnya Mas Aryo dapet siapa, sih?

Aku yang sepupunya aja nggak tahu dia dapat istri dari mana.

Mas Aryo 'kan kerjanya survei,

keliling desa-desa, wawancara orang.

Ya, mungkin kenal pas kerja.

Mau anak laki-laki apa perempuan?

Aku bahagia.

Mimpiku punya keluarga yang utuh.

Aku juga bahagia banget bisa nikah sama kamu.

Ya, meskipun…

kamu nggak bisa masak.

Ya 'kan mas tahu sendiri aku nggak suka bau bumbu dapur.

Iya, sih.

Nggak apa-apa.

'Kan di dekat rumah kita ada banyak warung,

jadi kita bisa makan di sana.

Bener nggak apa-apa?

Iya, nggak apa-apa, Sayang.

- Eh iya, Mas. - Hem.

Warga sini kok banyak yang ngasih hadiah pisang, ya?

Pisang itu melambangkan keberkahan, kelimpahan, sama kebahagiaan.

Kayak yang kita alami sekarang ini.

Mas.

Selamat pagi, istriku sayang.

Maaf ya, Kang Mas-mu harus langsung kerja

supaya kita punya rumah yang penuh kebahagiaan seperti impianmu.

Ini aku tuliskan resep membuat pisang goreng yang enak.

Jadi, Mbah di sini tinggalnya sama siapa aja?

Anakku itu sudah lama merantau ke Jakarta.

Aku sendirian.

Terus itu?

Maksudku…

istriku Sukiyem ini

sering hilang ingatan.

Pelupa.

Jadi aku kayak hidup sendiri.

Oalah!

Baik. Iya, iya.

Pengantin baru, ya?

Iya, Mbah.

Masa pengantin baru malah sibuk kerja terus, Mas!

Kalau survei saya nggak sesuai target, bonus bulanan saya nggak cair, Mbah.

Masuk, Mas!

Permisi.

Duduk, Mas.

Iya, Mbak.

Radionya agak rusak, Mas.

Tolong ya ditepuk yang kencang biar mati.

Iya, Mbak.

Yang kencang, Mas!

Yang kencang, Mas!

Yang kencang, Mas.

Lasmi.

Siapa?

Ngecek meteran listrik, Bu.

Mbak Lasmi…

baru ya, di sini?

Baru kawin ya, Mas?

Iya, Mbak.

Cantikan mana?

Aku, atau istri Mas?

Cantikan…

istri saya, Mbak.

Datanya nggak ada di sini, ya, Mbak?

Cantikan mana?

Cantikan Mbak Lasmi!

Siapa?

Ngecek meteran listrik, Bu.

Ngapain bolak-balik, Mas?

Pak?

Astagfirullah.

Ya Allah.

Ya Allah.

Ya Allah.

Ya Allah. Astagfirullah.

Allahumma sholli ala Muhammad.

Ya Allah. Astagfirullah.

Asu!

Bajingan!

Cantikan mana?

- Asu, bajingan! - Cantikan mana?

Kasihan Aryo.

Dia menikah dengan maut.

Maksudnya?

Bisa jadi istrinya itu kena kutukan Bahu Laweyan.

Siapa laki-laki yang menikah dengan perempuan Bahu Laweyan,

pasti mati.

Bapak nggak percaya aku.

Telur di pesta pernikahan mereka busuk adalah pertanda.

Bapak Ibunya mati kecelakaan karena dia pembawa sial.

Aduh, Nak.

Anakku lelakiku satu-satunya.

Pergi!

Pergi kamu!

Keluar dari rumahku!

Pak!

Pergi kamu.

Mas Aryo.

Dasar pembawa sial!

Pergi kamu dari rumahku!

Tunggu, Pak!

Makasih, Pak!

Tolong segera dirapikan.

Bu Endang.

Maaf, Bu. Saya telat.

Kamu itu, loh.

Baru hari pertama kerja sudah terlambat itu gimana?

Maaf, Bu!

Kamu tuh bersyukur tahu nggak, kerja di sini!

Iya, Bu.

Sudah, ayo.

Gini, Mas Budi Darmawan.

Kepala pabriknya itu, Pak Agus namanya.

Jomblo, lagi cari istri.

Ya, siapa tahu, kecantol sama kamu.

Iya, Bu.

Kalau yang itu,

yang pakai baju kotak-kotak itu,

Namanya Pak Sunyoto B. A.

Dia itu hobinya deketin perempuan-perempuan di pabrik ini.

Jangan mau dirayu.

Iya, Bu.

Ya sudah, ayo.

Maaf ya, Bu.

Ini buat bayar buku anak kita.

Yang ikhlas.

Rambut itu bukan barang sepele,

apalagi rambut asli.

Anggap aja,

nanam duit.

Nanti juga tumbuh lagi.

Kamu tahu nggak,

kalau nggak ada pabrik ini,

nggak tahu nasib orang-orang di sekitar ini kayak apa.

- Iya, Bu. - Ya, memang gajinya di bawah UMR,

tapi, 'kan, kamu nggak perlu ke luar negeri.

Temen-temen di sini tuh pada rajin-rajin.

Nggak kayak kamu.

Baru pertama sudah terlambat.

Sudah, duduk situ.

Nanti dikasih tahu gimana caranya nanam rambut.

Dia pembawa sial!

Kamu itu kenapa?

Bener, Bu!

Sial apa?

Kamu 'kan yang bisa bikin orang mati!

- Ngomong apa, sih? - Apa ini Bu Endang? Atur yang benar!

Orang ini bahaya, Pak!

Anak ini, Pak, takut banget.

Eh! Ada apa ini, Pak? Ada apa ini?

Ada yang menakutkan, Pak!

- Ayo, Pak! - Bismillah. Ya Allah.

- Hajar saja! - Mau apa kau?

Ya Allah!

Ayo! Sebelah kanan!

Bismillah.

Orang cantiknya kayak gini kok nakutin?

Ada-ada aja, Mir.

Orang-orang pabrik,

mereka tidak paham.

Mas Bana, nasi rendang dua.

Sama teh hangat.

- Silakan, Pak. - Terima kasih, ya.

- Mbak. - Makasih, Mas.

Ayo, makan.

Mas Agus.

Gimana kalau omongan orang-orang itu benar?

Aku ini bawa sial.

Yang dekat sama aku mati.

Seorang Agus Sudibyo tidak akan percaya dengan hal-hal seperti itu.

Kalau aku percaya dengan gosip-gosip itu,

aku nggak akan jadi kepala pabrik, Mir.

Tapi tadi itu apa ya, Mas?

Nggak usah dipikir.

Ya?

Sekarang kamu tenangkan hatimu.

Libur satu atau dua hari.

Nggak apa-apa. Gajimu tetep dibayar utuh.

Ya?

Makan dulu. Enak!

Kalau dipikir-pikir, Mir,

kita itu 'kan udah lama kenal.

Kita bisa saling melengkapi.

Aku itu bisa memenuhi semua kebutuhanmu.

Kita akan bahagia kalau hidup bersama, Mir.

Siapa?

Mirah, aku pulang.

Ini kubawakan untukmu.

Hati-hati panas.

Panasnya seperti di neraka, Mir.

Mirah! Kata orang pabrik kamu bawa sial.

Bisa bikin orang mati!

Keluar dari kontrakanku sekarang!

Pergi kamu!

Hei! Apa? Ini ada apa?

Udah waktunya masuk kok belum masuk?

Itu Mirah, Pak!

Loh?

Dek Mirah.

Dek Mirah nggak apa-apa, toh?

Kok bobok di sini? Kenapa?

Hati-hati, Pak!

Nanti mati.

Mulutmu!

Mulut kalian!

Pak Agus.

Mereka nggak mau kerja kalau masih ada Mirah di sini.

Padahal saya udah ancam,

yang nggak mau kerja saya pecat.

Tapi kalau buruh sebanyak itu, lama-lama habis.

Sudah, Pak.

Aku aja yang menangani.

Mir.

Aku itu prihatin.

Mungkin ini saatnya,

kamu yakin dengan tawaranku kemarin, Mir.

Rumah dinasku itu gede, Mir.

Aku cuma tinggal sendiri.

Kita bisa menghangatkan rumah itu bersama-sama, Mir.

Agus itu…

Asu.

Ternyata cara mengatasi Mirah itu…

dinikahi.

Pak, nggak makan?

Nggak nafsu.

Kami makan nggak apa-apa toh, Pak?

Terserah.

Dari pagi kami itu repot, belum sempat makan.

Ngurusin nikahnya Pak Agus.

Iya, Pak.

Pak Agus kepala pabrik?

Iya.

Beliau itu dapat buruhnya yang cantik.

Rambutnya lurus.

Bibirnya tebal tipis.

Kulitnya sawo matang.

Manis!

Nyes!

Malam ini mereka kungfu di ranjang, toh?

Menggunakan jurus ular menyeruput kuah seblak.

Mulutmu!

Bayar saja

sendiri!

Pak?

Pak!

Terus yang bayar siapa?

Jelas-jelas aku nggak punya duit!

Nggak usah pura-pura kesurupan!

Aku ini beneran kesurupan.

Kesurupan atau lapar kamu ini?

Kesurupan.

Nggak usah aneh-aneh.

Iya, iya.

Mas, hitung.

Bukan dari daerah sekitar sini?

Dekat-dekat sini juga.

Tadi habis acara pernikahan saudara istri saya.

Kebetulan dapat kepala pabrik,

dan beliau juga nasabah di kantor saya.

Berapa, Mas?

Berapa?

- 30 ribu. - Ini ya, Mas.

- Makasih. - Terima kasih.

Yuk, Sayang.

Aku baru tahu.

Ternyata kamu punya adik, ya?

Kenapa kamu nggak nginep di rumah dia waktu diusir dari kontrakan?

Kami udah lama nggak ketemu, Mas.

Aku juga kaget tadi ada dia.

Waktu aku pertama kali nikah, bahkan…

dia nggak ada.

Loh, kok kebangetan juga adikmu itu?

Nggak apa-apa.

Sekarang kamu bisa mulai

dekat lagi sama dia, ngobrol lagi.

Soalnya, suaminya itu, Budi Darmawan,

dia kepala cabang BPR.

Suka ngasih kredit ke pabrik kita.

Jadi, kamu bisa pendekatan lagi.

Mirah.

Aku sudah menanti lama, Mir.

Ada apa?

Ada apa, Mir?

Aku lapar, Mas.

Laki-laki itu gampang.

Kalau makannya enak,

di kasur juga enak,

sudah cukup, pasti nggak akan ke mana-mana.

Paling gampang itu masak sayur lodeh.

Ini udah Mbok siapkan bahan-bahannya.

Nanti aku kasih catatannya buat masaknya, ya.

Masak apa aja kasih bawang putih.

Biar gurih dan tambah enak.

Nah, ini dia. Masakan istri.

Nggak sabar.

Gimana masakanku, enak nggak?

Enak, kok.

Bener?

Sepertinya…

ada bumbu yang kelupaan, ya?

Agak kurang sedap sedikit aja.

Tapi nggak apa-apa, Mir.

Asal makannya sama kamu,

masih tetap sedap, kok.

Ada apa lagi, Mir?

Maaf, Mas, aku belum siap.

Ya sudah, nggak apa-apa.

Aku mandi dulu, ya.

Hari ini panasnya kayak di neraka.

Rumah tangga itu

bagai dua orang naik kapal bersama-sama.

Berlayar menuju tempat yang baru.

Meninggalkan semua hal yang nggak baik.

Coba kamu ingat-ingat lagi.

Apa yang pernah kamu lakukan yang membuat teman atau saudaramu terluka?

Kutunya kok besar banget, ya?

Ini telur kutunya banyak banget.

Mbak Puti!

- Permisi, Bu. - Iya, mari.

Senang lihat kamu bahagia sekarang…

dengan keluarga yang utuh.

Ada apa ke sini?

Akhirnya kita bisa hidup bahagia, ya.

Anakku pulang.

Asalamualaikum, Bu!

Waalaikumsalam.

Anak Ibu.

Langsung bersih-bersih, ya.

Ganti baju,

nanti kita makan bareng.

Ibu masakin kesukaan kamu!

Sayur lodeh ya, Bu?

Aku mau kita damai.

Aku mau urus anakku dulu.

Terima kasih udah terima kedatanganku.

Permisi.

Itu siapa, Bu?

Teman Ibu.

Siapa?

Ngecek meteran listrik, Bu!

Mari, Bu!

Sudah seminggu,

kabar kepala pabrik itu sekarang gimana?

Sehat walafiat.

Gimana masakan lodehmu? Sudah enak?

Apa ada yang lebih enak?

Ini, Mbok.

Ini kembaliannya.

Buat Mbok aja.

- Makasih, Nak. - Makasih, Mbok.

Permisi, Pak Agus.

Bapak ditunggu Pak Sunyoto di aula.

Sunyoto?

Malah bercanda.

Saya sedang menyelesaikan pengendalian mutu.

Maaf kalau Pak Agus harus ke sini.

Ada apa?

Rambut yang kemarin sudah lolos pengendalian mutu,

tapi saya labeli "rusak", terus sekarang udah laku,

dibeli pembeli eceran.

Nih, Pak Agus.

- Lumayan. - Lumayan.

Ini untuk menyenangkan istrimu.

Istri saya senangnya pengajian, Pak Agus.

Asu.

11 Juni kemarin, anggota Polres Mojokerto Kota,

yang bernama Briptu Rian Wicaksono

yang diduga dibakar oleh istrinya sendiri…

…dengan luka bakar 96% dan kondisi sadar…

…korban pun meninggal…

…di rumah sakit dengan luka bakar 96%…

…jenazah dimakamkan di TPU…

Kenapa ada andong di jam segini?

Jancok!

Ininya dua.

- Apa lagi, Mbak? - Ini deh, dua.

Bocor.

Asu.

Mbak?

Mbak kenapa?

Bocor.

Asu.

Aku antar ke puskesmas, ya.

Mbak Mirah, kayak mobil Pak Agus.

- Permisi. - Permisi!

Mas Agus!

Astagfirullahaladzim.

Mas! Mas Agus!

Kamu kok pulangnya malam banget?

Pas mau pulang ada kabar buruk dari salah satu nasabahku.

Siapa?

Tapi kamu jangan kaget, ya.

Pak Agus.

Suami saudarimu meninggal dibunuh orang di jalan.

Aku mau cium Farah dulu.

Mas, kamu bau rokok sama alkohol.

Bersih-bersih dulu, ya, Mas.

Makasih.

Mohon maaf ya, Dek Mirah.

Itu kotaknya milik pabrik.

Saya ambil.

Maaf.

Sudah.

Burhan di mana?

Tadi nemenin Pak Sunyoto.

Ngusir Mirah dari rumah dinas.

Lama banget, ya.

Apa mereka mampir makan dulu?

Lah, ke mana dia?

Benerin rendang paling.

Kenapa rendangnya?

Bermasalah.

Ada bawang merah, Bu?

Bawang merahnya lagi jelek.

Adanya kayak begini, Mbak.

Aku bahagia.

Mimpiku punya keluarga yang utuh.

Aku juga bahagia banget bisa nikah sama kamu.

Kita akan bahagia kalau hidup bersama, Mirah.

- Permisi, Pak Kobes. - Pak Bejo. Anakmu aman?

- Aman. - Alhamdulillah.

- Mas Kobes. - Hei.

Kata orang-orang, bisa carikan saya kerjaan.

Iya, sini.

Bu, saya tadi cari daging, tapi nggak ada hari ini, ya?

Adanya di kecamatan sebelah, Mas.

Di sini nggak laku.

Terima kasih.

Kamu mau jadi TKI?

Biayanya itu mahal.

Punya sawah nggak?

Ini tempat karaoke baru.

Kalau kamu bisa karaoke,

uangmu banyak.

Tapi bagi dua sama aku.

Coba berdiri.

Kamu ini cantik, loh.

Masalah biaya, beres.

Nggak usah kau pikirkan.

Syaratnya…

Cinta satu malam.

Mau, nggak?

Mulutmu.

- Mas. - Ya?

- Buat bikin rendang. - Berapa kilo?

- Dua. - Oke, mas.

Kamu…

Kamu masih hidup?

Anakku mati, kamu masih hidup?

Pergi kamu dari sini!

- Kamu tak pantas di sini! - Mirah?

- Minggat kamu! - Mirah!

- Ada apa? Ada apa, Bu? - Pergi kamu yang jauh!

Tenang, Bu. Tenang!

- Ada apa ini? - Anakku mati karena dia.

Pergi dari sini!

Hati-hati kamu.

Nasibmu bakal kayak Aryo, anakku!

Memangnya Mas nggak takut dekat-dekat sama aku?

Takut kenapa?

'Kan…

'Kan aku bawa sial.

Tenang aja.

Kamu aman di sini.

Mir?

Ya?

Aku masuk, ya?

Iya.

Teh hangat buat kamu.

Maaf adanya begini.

Kamar ini sebenarnya disiapkan untuk Ibu.

Tapi, ya, nggak pernah datang.

Semoga kamu nyaman.

Ini lebih dari cukup.

Kalau ada butuh sesuatu, bilang saja.

Mas?

Kenapa mau bantu aku?

Aku percaya…

setiap perbuatan…

ada balasannya.

Aku tinggal, ya.

Mir?

Mir?

Hei, bangun.

Aku selalu dihantui wajah mantan-mantan suamiku.

Di dalam Al-Quran,

tidak mengenal santet atau jampi-jampi,

tapi menyebut sihir sebanyak 33 kali.

Aku juga selalu dihantui masa lalu.

Aku pergi merantau ke Jawa

dengan bekal resep rendang dari Ibu.

Jawa,

dan segala kemakmurannya…

mengubah hidupku.

Usahaku laris.

Saat pulang ke Padang,

aku tak menemui ibuku.

Ibuku jatuh sakit.

Dan kecewa membunuhnya.

Satu per satu, kesialan menghampiri hidupku.

Sampailah aku di sini.

Rendang selalu mengingatkanku akan rumah.

Dan setiap memasaknya, aku seperti…

berdamai dengan masa lalu.

Mungkin kamu perlu berdamai dengan masa lalu kamu.

Dari mana mulainya…

berdamai dengan masa lalu itu?

Kamu bisa coba

mengingat-ingat hari…

di mana hidup kamu berubah.

Sudah sempurna.

Sejak Simbah pensiun, nggak merias pengantin lagi,

sudah jarang orang yang datang ke sini.

Mata Simbah juga sudah nggak bisa melihat jelas.

Mbah tinggal sendiri?

He'em.

Mbah makannya gimana?

Ya, kalau ada yang inget Simbah…

Warga sekitar sini ada yang datang

membawa beras untuk makan Simbah.

Jangan besar-besar, nanti rugi.

Sini, sini.

- Maaf. - Kamu bisa kupas bawang?

Iya.

Masak rendang itu harus lambat.

Melatih kesabaran kita.

Sabar. Lagi.

Lagi.

Lebih sabar lagi.

Gimana rendang buatan aku?

Enak, nggak?

Lamak bana.

Apa itu artinya?

Enak sekali.

Aku kemari karena…

Mbah Warso satu-satunya orang yang aku kenal

dan ada di hari bahagiaku dulu.

Aku ini selalu dihantui masa lalu, Mbah.

Sial demi sial merenggut kebahagiaanku.

"…dan dari kejahatan (perempuan-perempuan)

penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."

Sekarang aku merasakan kebahagiaan itu.

Dan aku nggak mau terenggut lagi.

Kira-kira hidupku ini kenapa, ya, Mbah?

Dua tahun lalu,

ada seorang anak perempuan…

datang ketemu Simbah…

untuk minta tolong.

Umur Mbah sudah nggak panjang lagi.

Mbah ceritakan saja ke kamu semuanya.

Saya ingin…

dia merasakan sengsara, Mbah.

Saya nggak rela…

dia mendapatkan akhir bahagianya.

Yang sabar, Nduk.

Tulis namanya,

orang yang jahatin kamu di kertas ini.

Nggak lama lagi,

orang yang jahati kamu

akan datang ke sini untuk minta dirias.

Duh Sang Bethari

Durga yang sakti

Segeralah mengizinkan

Kepada jabang bayi yang bernama Mirah

Menerima Bahu Laweyan

Yang sakti

Siapa pun yang bersetubuh

Akan mati

Apa yang kamu lakukan pada hidupku, Mbah?

Laki-laki yang bersetubuh denganmu

semuanya akan mati.

Dimangsa oleh Laweyan

yang bersemayam dalam dirimu, Mirah.

Pergi!

Pergi kamu!

Dia pembawa sial!

Kamu 'kan yang bisa bikin orang mati!

Pergi kamu! Pergi!

Anakku mati karena dia.

Suami saudarimu meninggal dibunuh orang di jalan.

Mir?

Udah makan?

Ketemu nasabahnya harus malam-malam begini, Mas?

Iya.

Ini 'kan sudah jadi konsekuensi pekerjaanku, Sayang.

Maafin aku, ya.

Hati-hati, Mas.

Jangan kemalaman pulangnya, ya.

Iya, pokoknya, nanti selesai aku langsung pulang, ya?

Aku jalan dulu, ya.

Mas pernah bilang,

setiap perbuatan ada balasannya, 'kan?

Adik tiriku memberiku sesuatu…

Dan buatmu penting untuk membalasnya?

Maafin perbuatanku yang dulu.

Maafin almarhum ibuku.

Ibuku hanya ingin bahagia.

Maafkan kami.

Apa bisa…

maaf…

menghilangkan semua sakitku?

Dek Mirah…

Dek Mirah.

Tenang, ya.

Saya sudah lama, loh, menunggu saat ini.

Jangan galak-galak gitu.

Jangan galak-galak gitu.

Kamu wangi sekali, Nduk. Nikmat sekali.

Mir?

Mir?

Mirah?

Mir…

Panas, Mir.

Panas, Mir.

Bu?

Bu?

Kopi.

Iya.

Bu, kopinya.

Iya, Pak.

Pak?

Tolong itu ditepuk TV-nya.

Dari siang itu nyala sendiri!

Iya.

Gimana sih, Pak? Orang disuruh tepuk TV.

Aku istirahat dulu, Bu!

Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.

Apa itu tadi?

Bu! Bu!

Asalamualaikum!

Pak?

Bapak?

Pak!

Mir?

Mirah!

Mirah?

Mirah.

Mirah?

Mas Bana.

Maaf, aku harus pergi.

Terima kasih untuk semua kebaikanmu, Mas Bana.

Seperti kata Mas,

semua perbuatan ada balasannya.

Kini aku sedang menanggung balasan atas semua perbuatanku dulu.

Dan aku…

tak mau Mas mati karenanya.

Aku senang pernah membayangkan bahagia bersamamu, Mas.

Mas?

Puti, ini ibu baru kamu.

Ibu.

Halo, Sayang.

Dan ini kakakmu, Mirah.

Kakak Mirah.

Gimana tadi di perjalanan?

Ya, menyenangkan.

Yuk.

Ayo, Kak. Sini main sama aku.

Kak sakit, Kak! Kak Mirah!

Kak Mirah, rambutku sakit, Kak!

Sakit!

Seperti kata pepatah,

"Apalah arti cinta tanpa pengorbanan."

Iya toh, Dik Bana? Nih. Silakan.

Iya, Bu.

Hanya ini informasi yang kami punya tentang Mirah.

Asalamualaikum?

Mir?

Oh, iya. Nanti aku pulang malam, ya.

Hati-hati di rumah.

Bawang Merah harus menderita…

menanggung akibat…

dari dosa-dosa perbuatannya.

Dan Bawang Putih…

hidup bahagia…

selamanya.

Bawang Merah jahat, ya, Bu?

Ya?

Tapi ya, nggak usah pakai kayak gini, lah!

Pak Budi tenang saja.

Santai.

Bersulang.

Emang, tanda-tanda orang jahat itu apa?

Melakukan perbuatan-perbuatan yang kejam.

Contohnya apa, Bu?

Mas?

Mas Budi?

Mas?

Ya ampun, Mas.

Mas?

Mas?

Ya ampun, Mas.

Kamu kenapa mabuk-mabukan begini terus, Mas?

Aku senang,

saat lihat kamu datang ke pernikahan aku dan Agus.

Saat datang pertama kali ke sini,

rasanya bahagia.

Lihat rumahmu yang bagus,

anakmu yang lucu…

dan suamimu yang tampak sayang sama kamu.

Hatiku tidak merasa iri seperti dulu.

Saat melihat rambut indahmu…

entah mengapa saat kita masih muda dulu…

aku begitu cemburu sama kamu.

Saat aku mencarimu untuk minta maaf…

aku sungguh-sungguh.

Aku ingin akhir yang bahagia.

Kenapa kamu tidak paham bahwa orang bisa berubah?

Ada banyak mimpiku yang musnah,

karena perlakuanmu yang kejam.

Tidak hanya di tubuhku,

tapi juga di hatiku.

Kamu nggak pantas mendapatkan akhir kamu yang bahagia!

Itulah akhir bahagiamu.

Binatang!

Kak sakit, Kak! Kak Mirah!

Rambutku sakit, Kak!

Gimana cara cabut kutukan ini?

Hanya yang menanam

yang bisa mencabut.

Terima kasih, Mbah.

Aku hanya nggak mau dia bahagia.

Kita semua punya masa lalu yang kelam.

Satu kesalahan…

dan kita harus menanggungnya seumur hidup.

Maukah kita saling memaafkan diri kita masing-masing?

Apa kamu mau

menghadapi derita hidup ini bersamaku?

Kita mulai semuanya dari awal.

Aku bukan orang baik.

Aku jahat.

Aku manusia tak berhati.

Rasa iri terus menerus menggerogoti hatiku.

Sepanjang hidup…

aku nggak pernah mendapatkan kasih sayang yang kuinginkan.

Atau mungkin,

aku ini memang nggak pernah pantas.

Nggak pernah pantas bahagia.

Termasuk dalam mendapatkan rasa cintamu, Mas.

Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Mir.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.