Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
DALAM CERITA RAKYAT ASIA TENGGARA, WANITA YANG MENINGGAL
SAAT HAMIL ATAU MELAHIRKAN TANPA PEMAKAMAN LAYAK
AKAN KEMBALI MENJADI VAMPIR. DIA DISEBUT PONTIANAK
Sayang,
mungkin sekarang terdengar aneh
tapi
walaupun kita menderita karena hidup masing-masing
walaupun kita terluka karena hati masing-masing
manusia tetaplah hebat bila sudah mencintai.
Jangan lupa, Sayangku.
Mencintailah dengan sepenuh hati.
Aku berjanji padamu.
Jika kau mencintai dengan sepenuh hatimu
kau takakan takut pada kematian
dan kematian juga tak akan dapat mencarimu.
DENDAM PONTIANAK
Kesabaran adalah kuncinya.
Cintailah setiap hari.
Tersenyumlah selalu.
Wahai pengantin baru,
hidup bahagialah selalu.
Segera diberi keturunan.
Selalu hidup rukun.
Selamanya.
Hanya dirimu.
Selamanya.
- Selamat, Nak. - Ayah.
Jadilah suami yang bertanggung jawab.
Terima kasih, Ayah.
- Selamat, Khalid. - Terima kasih, Ibu.
- Siti. - Terima kasih banyak, Bibi.
Panggil aku Ibu.
Sekarang sudah menikah, harus saling menyayangi.
Nik.
Kemari.
Ada apa, Nik?
Kau tampan hari ini, Nik.
Terima kasih, Tante Siti.
Nik.
Kenapa begitu memanggilnya?
Siti bagian dari keluarga kita sekarang.
Panggil dia Ibu.
Bisa?
Hei.
Ayo, Nik. Ikut nenek dan kakek.
Ajak dia keluar.
- Khalid. - Reza.
- Selamat. - Terima kasih.
Siti, kau senang di sini?
Senang.
Semua orang di sini baik-baik.
Kita sekarang keluarga.
Hei.
- Siapa itu? - Rais.
- Itu Rais. - Khalid.
Selamat.
Terima kasih sudah datang.
Berterima kasihlah pada Reza.
Dia yang mengundangku.
Dia?
Semoga hidup damai.
Merdu sekali.
Permisi, ya. Terima kasih.
Terima kasih semua.
Terima kasih.
Senang bisa hadir hari ini di sini merayakan pernikahan teman lamaku,
Khalid, dan istrinya, Siti.
Hari ini bagaikan berkah.
Hari untuk permulaan yang baru.
Dan sebagai kado
untuk pengantin baru ini,
aku sudah menyiapkan sesuatu.
Musik.
- Mau duet? - Tentu saja.
Getaran jiwa
melanda hatiku.
Tersusun nada
dalam irama dan lagu.
Walau hanya sederhana
tetapi tak mengapa.
Semoga bisa menyenangkan hati.
Oh, wahai pujaan hati.
- Andai mereka harus berpisah - Andai mereka harus berpisah
- Irama dan lagu - Irama dan lagu
- Lemah dan tak berjiwa - Lemah dan tak berjiwa
- Hampa - Hampa
Terima kasih.
Aku merindukan tempat ini.
Namanya Ida.
Ida. Nama yang cantik sekali.
- Beruntung aku datang hari ini. - Benar?
Aku senang berjumpa kalian lagi.
Sungguh.
Halo, Pak.
- Terima kasih. - Semoga kalian bahagia selamanya,
- Doakan saja. - Terima kasih, Pak.
- Pak. - Silakan, Pak.
- Satu sudah cukup? - Terima kasih atas undangannya.
- Terima kasih, Lisa. - Terima kasih sudah datang.
Aku pulang dulu, ya.
- Pulang sekarang? - Ya.
Aku paham. Dia teman barumu?
Khalid, Siti, perkenalkan teman baruku...
Rais?
Rais?
Hei.
Tadi aku mau bilang apa?
Kau tadi mau memperkenalkan teman barumu.
Benar. Namanya...
- Siapa tadi namamu? - Astaga.
Mata lihat ke depan.
Jangan cemas. Tentu saja, mata lihat ke depan.
- Hei! - Hei.
Ayolah, apa salahnya?
Mari bersenang-senang.
Kau mau membunuh kita berdua?
Perhatikan saja jalannya.
Jangan cemas. Tak ada mobil lain di jalan ini.
Sedikit saja.
Rais!
Ida?
Ida!
Ida!
Ida!
Hei!
Apa yang kau lakukan di sini?
Sial.
Rais?
Rais?
Sudah siap?
Abang.
Susul dia.
Nik?
Ada apa?
Aku tadi melihat hantu.
Hantu?
Di mana?
Di luar sana.
Tak ada hantu di sini, Nik.
Tapi tadi aku melihatnya.
Sudah.
Sudah Ayah usir.
Bagaimana kalau hantunya datang lagi?
Kalau hantunya datang lagi,
Ayah akan bilang seperti ini.
"Jangan berani kau masuk ke rumah ini!
Kalau kau masuk ke rumah ini,
aku akan menyihirmu."
Ayah punya sihir?
Semua ayah di dunia ini punya sihir.
Kami menggunakan sihir itu
untuk melindungi keluarga kami.
- Jadi, hantu tak bisa datang? - Ya.
Hantu tak akan datang.
Kau masih takut?
- Tidak. - Tidak?
Ada apa?
Astaga!
Ya Tuhan.
- Di mana? - Di sana.
Sial.
- Cepat. - Ya Tuhan!
Ya Tuhan!
Ya Tuhan!
Kegelapan telah menyelimuti desa ini.
Apa itu?
Cahaya.
Dengan cahaya...
datanglah gelap.
Bersihkan rumahmu.
Bersihkan rumahmu.
Bersihkan rumahmu.
Semua kembali ke rumah masing-masing. Jangan ganggu keluarga ini.
Pelaku kejahatan mengerikan ini masih berkeliaran.
Kunci semua pintu dan jendela kalian. Jaga diri masing-masing.
Sementara itu, jangan keluar rumah selepas magrib.
- Selagi pelakunya belum ditangkap... - Ini...
Ini bukan perbuatan manusia.
Ini bukan perbuatan manusia.
Turunkan dia.
- Cepatlah, Din. - Baik.
Sihir Ayah tak berhasil, ya?
Hati-hati, ya.
Hei.
Abang.
Apa kau menyesal telah membawaku kemari?
Aku merasa ini salahku.
Jangan bilang begitu, Siti.
Jangan pernah bilang begitu.
Dia mati sendirian.
Dia menderita sendirian.
Siti.
Hei.
Siti.
Di akhirat nanti, kita akan bertemu kembali.
Sayangku.
Ayo.
Kemari.
Khalid...
Khalid.
Abang?
Hei.
Ada apa?
Rais...
Tak apa.
- Hanya mimpi buruk. Sudah. - Rais.
Jangan sedih. Aku di sini.
Nik...
Nik...
Nik...
Nik...
Terima kasih, Pak.
Ayo, Nik.
Aku sudah menyuruhmu membersihkan rumahmu.
Kau sudah melihatnya.
Kegelapan pekat itu
mengikutimu dan semua orang terdekatmu.
Kau tak takut kegelapan itu merenggut anakmu?
Nik!
Kau mau pergi ke mana? Nik?
Kegelapan yang mengikutimu
nanti mengenai kami semua.
Putraku sakit-sakitan.
Kau masih punya waktu.
Sudah cukup! Hentikan!
Bersihkan rumahmu.
Bersihkan.
Wahai penduduk desa,
bersihkan rumah kalian.
Panjatkan doa.
Kegelapan mengerikan
telah datang ke desa ini.
Dengarkan Su'ut Din.
- Dia membawa kutukan. - Hei, urus dirimu sendiri.
Ayo, Siti.
Abang.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Ada apa?
Tak ada apa-apa.
Bagaimana anak ayah? Dia nakal tidak?
- Dia baik. - Benarkah?
Sudah makan siang?
Dia sudah dekat.
Ayo, Nik. Makanlah.
Mau ayam?
Reza, makanlah sedikit.
Aku tidak lapar, Bu.
Abang, kau kenapa?
Makanlah.
Kubilang aku tak lapar.
Reza memberitahuku
ada keributan
di pasar tadi.
Maaf aku tadi tak bersamamu, Siti.
Kadang saat takut, kita mengatakan hal-hal yang tak semestinya.
"Kita"?
Maksudku semua orang.
Sekarang ini,
rumor beredar di seluruh penduduk desa.
Rumor apa?
Ya, rumor tentang Rais.
Mereka tidak tahu kejadiannya.
Karena mereka tak tahu kejadian yang sebenarnya,
mereka mulai berspekulasi.
Katanya Rais mati karena ulah makhluk halus.
Itu konyol, Ayah.
Kau sudah melihat jenazahnya.
Kau sudah melihat kondisi jenazahnya.
Aku harus pergi.
Apa?
Kau juga, Abang.
- Kita semua harus pergi. - Siti.
Dengar, aku tahu kau takut.
- Kau semestinya... - Abang.
Ada yang tidak beres di sini.
- Dan Su'ut Din bilang... - Su'ut Din?
Setiap kali orang gila itu membuka mulut
- yang dibicarakannya... - Abang.
Kumohon.
Abang, aku tak mau bertengkar.
Aku hanya ingin kita meninggalkan tempat ini.
Tidak lama.
Untuk sementara saja.
Baiklah.
Terima kasih.
Kondisi Siti bagaimana?
Dia masih takut.
Kenapa?
Orang-orang mulai takut kepadanya.
Mereka memercayai Su'ut Din.
Su'ut Din merasa
Siti membawa kutukan.
Ayah ini bicara apa?
Pria tua itu tidak keluar rumah selama berbulan-bulan.
- Kini, dia keluar dan bicara... - Tapi...
orang-orang desa memercayai Su'ut Din.
Kita akan pergi ke mana, Ayah?
Entahlah, Nik.
Ayah tidak tahu.
Aisha?
Aku bingung harus percaya siapa.
Tapi aku takut.
Abang.
Aku tak mau kehilanganmu.
Kau ini bicara apa?
Kehilangan siapa?
Aku ada di sini. Tak akan terjadi apa-apa padaku.
Tak akan terjadi apa-apa pada kita.
Reza!
- Astaga! Reza! - Reza!
- Abang! - Reza!
- Reza! - Apa yang terjadi?
Reza!
- Ada apa, Reza? - Abang!
- Aku ikut. - Tidak. Kau tetap di rumah.
- Abang! - Hati-hati, Aisha.
- Ya Tuhan! - Reza!
- Aisha, hati-hati! - Abang!
- Reza! - Abang!
- Reza! - Panggil Khalid! Ibu!
- Cepat! - Ibu. Ayah.
- Ayah! - Khalid!
- Ayah, ada apa? - Entahlah. Itu Reza.
- Reza kenapa? - Reza!
Aisha, buka pintunya!
- Reza! - Abang, bangun!
- Bangun, Abang! - Aisha!
Buka pintunya!
- Abang. - Aisha!
- Aisha! - Aisha!
- Khalid! - Buka pintunya!
- Aisha! - Dobrak pintunya!
Abang!
Aisha!
Aisha!
- Aisha! - Ya Tuhan!
Aisha!
- Buka pintunya, Aisha! - Aisha!
Buka!
- Aisha! - Reza!
- Aisha! - Abang!
Ya Tuhan!
- Reza? - Ya Tuhan!
- Reza? - Ya Tuhan!
- Apa yang terjadi, Reza? - Apa yang terjadi, Aisha?
- Reza? - Ya Tuhan!
- Ayah, dia kenapa? - Aisha!
- Bu, ada apa? - Entahlah, Khalid.
- Bagaimana ini bisa terjadi? - Sungguh aku tak tahu.
Ayah...
- Ayah... - Abang...
- Reza. - Tenanglah, Nak.
- Reza. - Aku tak tahu, Khalid.
Abang, anak kita.
Tidurlah.
Tidurlah.
Anakku sayang.
Aisha!
Cinta Ibu
akan menggendongmu.
Tidurlah.
Tidurlah.
Anakku sayang.
Tidurlah yang nyenyak.
Mimpilah yang indah.
Cintaku untukmu
akan ada selamanya.
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, Jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan yang dimurkai
dan bukan pula yang sesat."
Abang, anak kita.
Doakan agar jiwanya tenang.
Khalid.
Reza, aku turut berduka atas kehilanganmu.
Kau melihatnya, bukan?
Kau melihat kejadiannya semalam.
- Kau merasakannya, bukan? - Tuhan Maha Besar.
Tuhan?
Tuhan?
Siapa pun pelakunya...
atau apa pun itu
yang mengambil anakku
tak ada kaitannya dengan Tuhan.
Aku bisa merasakan keberadaannya di sini.
Aku bisa merasakan hasrat balas dendamnya.
Dan ini bukan pertama kalinya aku merasakannya.
Kita semua akan mati.
Reza.
Reza.
Siti?
Kau sedang apa?
Aku mendengar ucapan Reza tadi.
Ada apa ini sebenarnya?
Apa?
Balas dendam.
Dia bilang pernah merasakannya sebelumnya.
- Siti. - Apa maksud dia sebenarnya?
Siti.
Siti, kumohon jangan begini.
Siti, kumohon. Jangan lakukan ini.
Aku tak mau melihat ada yang mati lagi. Kejadian ini membuatku bingung.
Kita harus pergi dari sini.
- Kumohon! - Tapi ini rumahku. Ini desaku.
Mungkin rumahmu, tapi bukan rumahku.
Siti, kumohon.
Aku ingin kau jujur mengenai ibu Nik.
Siti, apa maksudmu?
Aku sudah memberi tahu semuanya padamu. Ibu Nik meninggalkan kami.
Itu saja?
- Kau ingin aku bilang apa? - Aku ingin kau jujur!
Itulah yang sebenarnya.
Dia tak ingin menikah denganmu. Dia tak mencintaiku.
Dia meninggalkan Nik di depan pintu, lalu menghilang.
- Sudah kuceritakan semuanya. - Tapi dia pergi ke mana?
Aku tidak tahu!
Nik.
Kau tertawa dengan siapa?
Tak ada siapa-siapa.
Ada orang lain bersamamu?
- Jawab Ayah. - Khalid!
- Ada siapa di sini? - Cukup, Khalid.
- Jawab Ayah. - Cukup, Khalid. Lepaskan dia!
Khalid, lepaskan dia!
Kemari, Nak.
Kau baik-baik saja?
- Ya. - Reza.
Khalid!
Reza!
Reza!
Reza!
Reza!
Reza!
Reza!
Khalid.
Kupikir akan mudah bagi kita membuka lembaran baru.
Bahwa jika aku sudah berbuat baik,
mencintai keluargaku,
menjadi suami dan ayah yang baik,
kita bisa melanjutkan hidup.
Apa maksudmu?
Kurasa ini semua sudah cukup.
Kita harus membayar perbuatan kita.
Seperti Rais.
Kau lapar?
Mau makan?
Kubuatkan sesuatu, ya.
Dengarkan aku.
Kita tidak salah apa-apa.
Kita sudah membayar banyak untuk dosa-dosa kita.
Nik.
Kubiarkan pintunya terbuka.
Jangan ditutup, ya.
Sudah kuserahkan hidupku untuk desa ini.
Untuk keluargaku ini.
Tak ada yang bisa menghancurkan kita. Tak ada!
Itu hanya ucapanmu
yang tak ada artinya.
Kata-katamu itu tak ada artinya.
Kau tahu apa yang harus dicari artinya?
Kegelapan.
- Reza. - Kegelapan.
Reza.
Kematian.
Kau ini anak nakal, Khalid.
Apa maksudmu?
Sudah berapa lama?
Kau masih belum memberi tahu siapa pun.
Reza, kau bicara apa?
Kenapa tak pernah jujur ke orang-orang?
Kau bahkan merahasiakannya dari istrimu yang miskin menjijikkan itu.
Jangan khawatir.
Kita hampir sampai.
Tinggal sedikit lagi.
Tak pernah kukira akibatnya akan seperti ini.
Kau yang membunuh.
- Kau pembunuhnya. - Reza!
- Kenapa kau kembali? - Hentikan.
Kenapa kau kembali?
Mina?
Siti!
Nik!
Siti!
Nik!
Siti!
Nik!
- Siti! - Abang.
- Siti! - Abang.
- Ada apa? - Siti.
Nik di mana?
Di kamarnya.
Khalid!
- Nik! - Abang, ada apa?
Abang!
- Nik! - Nik!
Khalid...
Nik...
Khalid, tunggu!
Nik.
Nik.
Nik.
Nik.
Ceritakan mengenai temanmu.
- Kami hanya mengobrol. Boleh, 'kan? - Boleh.
Boleh. Tidak apa-apa.
Kakak itu bilang dia akan menjadi temanku
karena aku tak punya teman di sini.
Dia bilang dia akan melindungiku bila Ayah marah.
Dia bilang Ayah selalu marah.
Abang.
Abang, katakan padaku ada apa ini.
- Siti, tak ada waktu. - Aku tak mengerti.
- Abang, kumohon. - Aku kehabisan waktu.
- Dia mau kau bawa ke mana? - Ayah!
Ayah!
Aisha!
- Jaga mereka. - Abang, beri tahu aku.
- Aku akan kembali. - Apa apa?
- Abang! - Khalid!
- Aku ikut! - Kau tetap di sini!
- Abang! - Siti!
Khalidku Sayang,
Mati...
Nik...
Sayang...
Khalid...
Kau telah membunuh...
Anakku...
Khalid, kau...
Reza, Rais...
Sayangku, Nik...
Masuk.
Sudah kuduga kau akan datang.
Sudah lama aku mencari jawabannya
dan sekarang semuanya sudah jelas.
Anjing-anjing menyalak.
Anak-anak sakit.
Dan bau yang busuk.
Pontianak sudah masuk ke desa kita.
Kau kenal dia, bukan?
Ya.
Siapa dia?
Mina.
Aku bertemu dengannya sembilan tahun lalu.
Dulu aku berbeda.
Aku masih muda,
gegabah, dan egois.
Aku bertemu dengannya setiap pekan.
Selamanya.
Hanya dirimu.
Selamanya.
Tapi hubungan itu menjadi semakin rumit
saat dia ingin aku memberikan seluruh hidupku untuknya.
Aku tak bisa memenuhinya.
Aku harus menjaga nama baik keluargaku.
Jadi aku berbohong padanya.
Aku bilang orangtuaku sudah menjodohkanku dengan perempuan lain.
Dia sangat kecewa.
Dia memutuskan kembali kepada keluarganya di Singapura.
Aku tak akan pernah melupakanmu.
Tapi dia datang kembali.
Ya.
Merdeka!
Merdeka!
- Merdeka! - Merdeka!
- Merdeka! - Merdeka!
- Merdeka! - Merdeka!
Merdeka!
Dia hamil.
Aku merasa hidupku akan hancur
jika aku tak melakukan sesuatu.
Apa yang kau lakukan?
Kita akan ke mana?
Kenapa kita pergi sampai jauh ke luar kota?
Khalid.
Jawab aku.
Reza?
Rais?
Rais, hentikan mobilnya.
Rais, hentikan mobilnya.
Rais, kubilang hentikan mobilnya.
-Khalid. -Rais.
Rais, hentikan mobilnya.
Hentikan mobilnya.
Rais, berhenti.
Rais.
Mina, aku tak bisa melakukan ini.
Aku tak bisa menjadi ayah dari anak ini.
Kita tak bisa memiliki anak ini.
Ada dokter di dekat sini.
Rumahnya tak jauh dari sini.
Dia seorang ahli, Mina.
Mina...
- Biarkan saja dia, Khalid. - Mina!
Khalid, apa yang kita lakukan ini?
- Khalid. - Mina!
- Khalid. - Mina!
Mina!
Mina!
Khalid!
Mina!
Mina!
Coba cari ke sana.
Mina!
Khalid.
- Di mana dia? - Entahlah.
Mina!
Mina!
Khalid.
Hei, ini gila!
Dia benar.
- Aku tak bisa melihat apa-apa. - Diam!
Kalian berdua ke sana. Aku ke sini.
Khalid!
Kakakmu sialan!
Jadi, ini salahku? Hei, Rais!
Mina!
Mina!
Di mana kau, Mina?
Mina!
Mina!
Mina.
Kenapa bayiku tak bersuara?
Kenapa dia tak menangis?
Mina.
Khalid!
Ini semua salahmu.
Bayiku meninggal!
Dia tak bernapas, Khalid!
Tolong!
Mina, kumohon...
Mina, aku tak pernah bermaksud kejadiannya akan seperti ini.
- Aku sangat menyesal. - Diam, Khalid!
Aku akan memberi tahu semua orang.
- Semua orang akan tahu tentangmu - Mina, kumohon.
dan perbuatanmu.
- Mina, kumohon. - Kau membunuh bayiku.
- Kau pembunuh! - Mina.
Semua orang akan kuberi tahu, Khalid.
Akan kuberitahu semua orang tentang perbuatanmu ini.
Mina, jangan. Tolong jangan lakukan itu.
- Tolong! - Aku tak bermaksud begini.
Lihat bayiku.
Dia tidak bernapas! Dia meninggal!
- Bukan ini niatku. - Tolong!
- Jangan begini. - Tolong!
Semua orang akan tahu.
- Diam, Mina! - Kau pembunuh!
- Diam! - Kau membunuh bayiku.
Diam, Mina!
Kau yang membunuh dia!
Kau yang membunuh bayimu.
Kenapa kau kembali?
Kenapa kau kembali? Kenapa?
Katakan kenapa kau kembali!
Sudah kuminta pergi, tapi kenapa kau kembali?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Mina?
Mina?
Khalid.
Apa yang telah kau lakukan?
Khalid.
Apa yang telah kau lakukan, Khalid?
Tak boleh ada orang...
yang tahu...
soal ini.
Kita tinggalkan saja dia di sini.
Penduduk desa tak boleh tahu.
Tak boleh ada yang tahu.
Kita pulang.
Kita pulang.
Kita pulang.
Tak akan ada yang tahu.
Tak akan.
Tuhan, maafkan aku.
Maafkan aku. Aku hanya ingin pulang.
Aku hanya ingin pulang.
- Tak boleh ada yang tahu. Kita... - Khalid!
Kita harus menguburnya.
Ya Tuhan!
Ya Tuhan, ampunilah kami.
Apa yang telah kau lakukan?
Jenazahnya tak disalati.
Kenapa kau bodoh sekali?
Apa kau tak tahu hal yang seharusnya kau lakukan?
Wanita yang meninggal saat melahirkan harus dimakamkan dengan layak.
Jika tidak, hanya jasadnya saja yang terkubur.
- Sedangkan dendamnya tak terkubur. - Aku tak tahu.
Kau sudah menancapkan paku di tengkuknya?
Itu sudah tak penting lagi.
Sudah terlambat.
Sekarang, dia datang untuk memburumu.
Dia tak hanya memburuku.
Ya, aku tahu.
Dia sudah mendapatkan Rais.
Dia juga mengambil anak adikmu.
Anakku.
Anakmu?
Ya.
Anak kami.
Dasar bodoh!
Seharusnya itu tak terjadi padaku.
Aku bukan pembunuhnya. Tak pernah ada niat melukai siapa pun.
Aku berpikir anak itu adalah kesempatan dari Tuhan agar aku bisa menebus dosaku.
Menebus dosa?
Aku sudah menebus dosaku.
Kubesarkan dan kucintai anak itu dengan sepenuh jiwa.
Bocah itu anak setan!
Setan!
Kumohon.
Aku mohon padamu.
Tolong bantu aku.
Keluargaku dalam bahaya.
Aku butuh bantuanmu. Tolong bantu aku.
Tolong bantu aku!
Tolong!
Pak Din.
Apa ini?
Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatnya benar-benar mati.
Paku tengkuknya.
Seperti yang seharusnya sudah kau lakukan bertahun-tahun lalu.
Di mana keluargamu?
Kita harus bertindak cepat.
- Apa ini? - Tolong aku.
Tidak, lepaskan aku.
Bunuh dia!
Siti!
Siti!
Ada apa semua ini?
Siti!
Cukup! Siti!
- Siti. - Abang! Tolong aku.
Lepaskan!
- Lepaskan aku. - Itu dia.
Ada apa ini, Pak?
Maafkan aku, Khalid.
Aku tak bisa mengendalikan mereka lagi.
Khalid!
Keluargamu membawa kutukan untuk desa ini, dasar bangsat!
Kau apakan putraku? Putraku tidak sadar.
Ada apa dengan kalian semua?
Dengarkan aku!
Semuanya, dengarkan aku!
Kalian semua boleh merasa takut.
Kalian semua benar memercayai
bahwa keluarga ini
adalah penyebab semua penderitaan kalian.
Tapi wanita ini tak bersalah.
Dia juga salah.
Dia juga korban, sama seperti kalian semua.
Lepaskan dia.
Lepaskan wanita ini.
- Lepaskan. - Kemarilah, Siti.
Siti.
Setan itu muncul
karena dosa pria ini!
- Tunggu! - Mundur!
Tunggu. Itu betul. Semuanya betul.
Ini perbuatanku dan aku minta maaf.
- Khalid, bukan... - Ini perbuatanku.
Ini perbuatanku sendiri.
Aku minta maaf.
Aku minta maaf atas penderitaan kalian.
Malam ini, aku mengaku kepada keluargaku, kepada kalian semua, dan kepada Tuhan.
Ya.
Aku...
Aku pembohong.
Aku pembunuh.
- Usir dia dari desa ini! - Usir dia!
Tunggu!
Aku tahu aku penyebab setan itu datang ke desa ini. Aku tahu.
Tapi aku akan mencari setan itu malam ini dan memusnahkannya.
Aku akan pergi dengannya.
Aku akan memburu setan ini bersama dia.
Dengar semua!
Silakan jika ada yang mau ikut.
Mari kita buru dan musnahkan setan itu malam ini juga.
- Ayo! - Ayo!
- Ayo buru setan itu! - Ayo kita cari!
Ayo masuk.
Abang.
Hati-hati, Abang.
Siti.
Nik.
-Nik, masuk. Cepat! -Siti. Nik.
-Nik, masuk. -Siti, tunggu. Siti.
Siti.
Khalid, kau jalan lurus ke depan.
Reza, kau ikut mereka.
Aku akan ikut mereka ke arah kanan. Kau ke arah mana?
Aku ada di belakang tak jauh dari kalian.
Baiklah.
Ayo.
- Ayo. - Aku ke arah sana.
Hati-hati, Reza.
Tunggu aku.
Kita akan bertemu lainnya di sana.
Kau dengar itu?
Sebelah sana! Cepat!
Itu dia.
- Cepat. - Dia di sana.
Bunuh dia!
Ya Tuhan!
Jangan lari.
Reza.
Reza?
Reza!
Reza!
Reza, bangun.
Reza, bangun.
Bagaimana ini bisa terjadi, Reza?
Reza!
Reza, bangun. Kenapa ini bisa terjadi?
Kenapa, Reza?
Reza, kumohon bangunlah.
Reza, kumohon bangunlah.
Sudah kukatakan padamu.
Aku tak akan pernah melupakanmu.
Ada masa-masa
saat aku merasa marah
dan aku tak mengenal diriku sendiri.
Aku tak tahu apa yang kurasakan.
Aku hanya bisa melihat kegelapan.
Aku mencintaimu.
Lebih dari apa pun di dunia ini.
Tapi kau ambil semuanya dariku.
Hatiku.
Kau mengambil nyawaku.
Kau merenggut kehormatanku.
Anak kita.
Anak kita, Sayangku.
Dia...
Dia...
Dia keras kepala.
Sama seperti...
ibunya.
Tuhan, beri aku kekuatan!
Tuhan tidak akan membantumu!
Diam!
Aku hanya ingin kau mencintaiku.
Itu saja.
Cinta yang membawaku kembali
kepadamu
dan kepada anak kita.
Bisakah kau mencintaiku lagi seperti sebelumnya?
Ya, Mina.
Aku bisa.
Kau pembohong!
Aku mencintaimu, Khalid.
Hanya dirimu.
Selamanya.
Tuhan lindungi kami.
Jangan!
Nik...
Ibu.
Putraku.
Putraku tersayang.
Ibu...
Aku sudah puas membalas dendamku.
Aku sudah puas melihat orang-orang takut.
Kekejaman ini besar.
Jaga putraku.
Besarkan dia
menjadi orang yang berbeda.
Orang yang baik.
Bebaskan aku
dari dunia yang penuh kegelapan ini.
DENDAM PONTIANAK
UNTUK TRINA DAN JUN
Terjemahan subtitle oleh Endah Wijayanti.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.