Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Kekacauan, langit, pusaran giok♪
♪Tiga alam, Dunia Primordial, berpegang teguh♪
♪Kaldron menempa ujung tombak sejati♪
♪Tungku menempa bulan sabit yang kosong♪
♪Misteri menanam benih Tao♪
♪Berani menciptakan alam semesta yang luas♪
[Penarikan Senar]
[Adaptasi dari novel dengan judul sama karya Yangui Zhengzhuan, Grup Yuewen]
Aku tahu.
Aku tahu apa yang kalian cari.
Namun, kukatakan pada kalian, percuma saja.
Karena aku sudah mencarinya selama ratusan tahun,
dan mencoba segala cara.
Menyerahlah.
Sudah pergi.
Tidak perlu menggali batu lagi.
Percaya pada Sekte Dewa Laut!
Percaya pada Sekte Dewa Laut!
Sudah kuduga kau baik dan setia.
Kau tidak akan meninggalkanku.
Jangan menangis.
Sudahlah.
Kau pergi bicara saja.
Perhatikan nada bicaramu.
Peri.
Aku tahu kau tidak mati.
Jangan coba menipuku.
Ya sudah kalau tahu,
kenapa memukulku?
Kau berjanji akan membantuku mencari Pedang Xianyuan.
Kali ini bisa ketemu?
Kali ini seharusnya bisa.
Ke depannya,
aku ingin tahu semua rencanamu.
Kalau tidak, kubunuh kau!
Baik.
[Episode 14]
Bian Zhuang, ketua Paviliun Tianya.
Datang meminta bantuan.
Siapa yang sebelumnya membual
bahwa di Laut Selatan dia adalah
Dewa Langit,
tidak butuh bantuan dari Sekte Xifang?
Aku memberimu strategi siluman laut.
Seharusnya sempurna,
kenapa tetap kehilangan Pulau Xiong?
Seperti yang kau duga,
kemunculan Changgeng
menggagalkan strategi Laut Selatan,
bahkan memukulku.
Changgeng?
Jika orang ini membuat masalah,
kau punya bala bantuan yang bisa digunakan.
Jiang Si'er.
Yun Xiao.
Klan Manusia.
Changgeng.
Minggir!
Jangan pukul lagi!
Bangun!
Kenapa berkelahi?
Kau pergi gali ubi.
Kau pergi jemur ikan.
Bubar.
Siapa?
Ayah.
Aku datang terlambat hari ini.
Bolehkah aku bergabung sekarang?
Tentu saja boleh.
Kami sudah mulai.
Ayo.
Ke Le'er!
Oh, kau di sini rupanya?
Aku menggambar sebuah lukisan.
Mau lihat?
Lain kali saja.
Lain kali pasti aku lihat.
Kalau begitu,
aku baru saja membuat sebuah puisi.
Dulu kita bersahabat baik.
Sudahlah, Kak Hua.
Aku sedang sibuk.
Aku sedang sibuk membuat patung Dewa Agung Changgeng.
Lain kali.
Lain kali pasti kudengar.
Changgeng...
Mulutmu penuh dengan Changgeng.
Aku ada di hadapanmu.
Kenapa kau tidak bicara denganku?
Kau kenapa, Kak Hua?
Kenapa tiba-tiba marah begitu?
Kenapa aku tiba-tiba...?
Menurutmu kenapa aku marah?
Kau tidak melihat lukisanku lagi.
Kau juga tidak mendengarkan puisiku lagi.
Sepanjang hari yang kau pikirkan hanya Changgeng.
Apa bagusnya dia?
Kenapa picik sekali, Kak Hua?
Aku picik?
Kau...
Lihatlah Dewa Agung Changgeng.
Turun dari langit, menyelamatkan dunia.
Lihat dirimu sendiri.
Selain melukis dan menulis puisi,
apa lagi yang kau lakukan?
Tidak mengobrol lagi.
Aku ingin pergi kerja.
Bilang aku cuma bisa melukis.
Saat aku sedang bekerja,
kalian tidak melihatnya.
Yang itu terlalu kurus,
kalau dibuat rakit pasti terbalik.
Yang itu terlalu besar, kau tidak akan bisa menebangnya.
Yang ini.
Yang ini bagus.
Eh,
aku benar-benar tidak berniat membuat rakit untuk kabur.
Sekte Xifang adalah karma besar.
Sudah terjerat karma ini,
kau pasti tidak bisa bertahan di Pulau Xiong lagi.
Kau harus segera pergi
sebelum karma ini membesar.
Cari tempat terpencil lainnya.
Ubah penampilanmu, sembunyikan identitasmu.
Bertahan hidup tanpa terjerat karma apa pun.
Sudah kuduga
kita adalah orang yang sejalan.
Tentu saja.
Soal bertahan hidup,
kalau aku mengaku nomor dua, tidak ada yang berani jadi nomor satu.
Namun, menurutku,
kalau kau pergi dari Pulau Xiong,
mungkin kau tidak akan pernah menemukan
tempat seperti Pulau Xiong
yang bisa bersembunyi dari orang yang mencarimu.
Bagaimana kau tahu
ada yang mencariku?
Aku tidak hanya tahu ada yang mencarimu,
aku juga tahu siapa orang itu.
Bahkan aku tahu
siapa dirimu.
Baik.
Saudara Bai.
Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu,
kau bukan orang biasa.
Baik.
Mengingat persahabatan kita,
dan takdir yang mempertemukan kita,
mulai sekarang, kita saling membantu.
Mengembara bersama.
Ke depannya, dengan kecerdasanku dan kemampuanmu,
kita pasti bisa hidup tenang dan bebas tanpa ikatan.
Ayo.
Tolong bantu tebang pohon ini dulu.
Kau benar-benar akan pergi?
Tentu saja.
Untungnya sekarang mereka
sudah memuja Changgeng,
tidak memujaku lagi.
Jika terjadi sesuatu di kemudian hari,
biarkan Changgeng yang menanggungnya.
Kita tidak akan terlibat.
Pernahkah kau berpikir,
kalau kau pergi,
lalu Sekte Xifang membalas dendam,
bagaimana dengan orang-orang Pulau Xiong?
Mereka yang mencari karma ini.
Hidup atau mati
tidak ada hubungannya denganku.
Itu semua takdir.
Takdir?
Takdir adalah membiarkan mereka mati?
Menjadi ketua sekte sangat sulit, 'kan?
Mana kutahu?
Aku bukan benar-benar...
Setiap hari ada begitu banyak urusan kecil,
harus kau urus sendiri.
Kalau kau tidak sanggup mengurusnya,
mereka akan memarahimu.
Namun, memang benar ada begitu banyak urusan kecil,
mana mungkin kau bisa mengurus semuanya sendirian?
Lagi pula,
di atasmu masih ada Langit.
Apa yang ingin dilakukan Langit,
kau juga tidak berdaya.
Jadi kau berpikir,
pokoknya tetap akan dihujat.
Berusaha akan dihujat,
tidak berusaha juga dihujat.
Mau bagaimana pun,
tetap akan dihujat.
Ya sudahlah biarkan saja mereka menghujat.
Benar, 'kan?
Pernahkah kau melihat siklus hidup dan mati?
Pernahkah kau mendengar jeritan arwah gentayangan di neraka?
Pernahkah kau melihat perpisahan tragis di dunia fana?
Benar.
Hujat saja.
Biarkan mereka menghujat sepuasnya.
Memaksaku mengurus
takdir mereka sendiri.
Baiklah.
Paling-paling aku berhenti saja.
Apa yang bisa mereka lakukan padaku?
Namun, kau tetap memikirkan semua makhluk di dunia ini.
Saat aku pertama kali datang ke pulau ini,
aku melihatmu menulis puisi,
melukis dan berkarya di tebing itu.
Meskipun memang tidak begitu bagus,
tapi dari itu aku bisa melihat
cintamu pada tanah ini,
dan kasihmu pada orang-orang di sini.
Kau menyukai orang-orang Desa Xiong
yang pernah menerimamu, memercayaimu,
pernah mengkhianatimu,
dan yang kembali
memercayaimu lagi.
Jika kau pergi,
orang-orang Sekte Xifang datang membunuh mereka semua,
apakah tiba saat itu kau masih bisa
dengan percaya diri mengatakan
bahwa itu adalah takdir mereka?
Takdir
bukan ditentukan olehku.
[Tanah Terlarang]
Sudah sampai.
Kalian berdua telah menyelamatkan Pulau Xiong.
Sebagai balasannya,
aku bersedia membawa kalian ke tanah terlarang ini.
Namun, aku perlu memberi tahu kalian.
Tempat ini mungkin tidak ada benda yang kalian cari.
Kau hanya perlu membawa kami masuk,
sisanya tidak perlu kau khawatirkan.
Baiklah.
Oh ya.
Aku lupa bilang sama kalian.
Kalau jalan maju lagi, akan ada jebakan.
Nanti ikuti aku baik-baik.
Bagaimana aku melangkah,
kalian ikuti saja.
Jangan sampai ada yang salah.
Ayo lihat baik-baik.
Lihat baik-baik.
Kaki kanan.
Sini!
Pintar sekali.
Bekas pedang?
Di mana pedang yang tertancap di sini?
Di sini hanya ada batu pedang,
tidak ada pedang.
Setiap generasi
sejak nenek moyang kami,
kami berjaga di Pulau Xiong.
Tidak pernah kudengar ada tetua yang bilang
batu ini tertancap pedang.
Seharusnya tidak begini.
Pulau Xiong ini bisa menghilangkan semua kekuatan sihir.
Secara logika, itu efek Pedang Xianyuan.
Kalau dibilang, Desa Xiong
sudah bertahan
selama ribuan tahun di desa ini.
Pada dasarnya terisolasi dari dunia luar.
Beberapa hal perlahan terlupakan.
Namun, kuberi tahu kau, ya.
Sejak aku memahami sesuatu,
kakekku sudah bilang padaku,
di pulau ini
hanya ada batu, tidak ada pedang.
Kau pernah bawa Bian Zhuang ke sini?
Pernah, aku pernah bawa dia ke sini.
Namun, dia bilang
di tanah terlarang ini,
pedang itu seharusnya ada di lorong rahasia lain.
Jadi,
dia menyuruh kami menggali siang dan malam,
menggali batu.
Begitu rupanya.
Pantas saja Bian Zhuang bilang,
yang ingin kita coba, dia sudah mencobanya.
Kalau begitu, Pedang Xianyuan pasti ada di pulau ini.
Kalau tidak di sini, aku akan cari di tempat lain.
Sibuk seharian,
akhirnya ada juga hasilnya.
Estetikanya cukup.
Sayangnya kurang praktis.
Coba lagi!
Tidak kusangka karmanya datang secepat ini.
Bukankah kau bilang siluman laut sudah kau bunuh?
Lalu, apa ini?
Siluman laut!
Siluman laut datang!
- Cepat lari! - Siluman laut sudah mati.
Benar.
Mana ada siluman laut?
Siluman laut.
Siluman laut datang!
Cepat lari!
- Apa yang kau katakan? - Kau bilang apa?
Siluman laut!
Siluman laut datang!
Setiap anggota di Desa Xiong
harus giat berolahraga setiap hari.
Kalian ingat itu?
Siluman laut datang!
Cepat lari!
Untuk apa panik?
Untuk apa panik?
Kenapa kalian melongo?
Cepat lari, nanti terlambat!
Kami percaya pada Sekte Dewa Laut,
bisa mengalahkan siluman laut.
Benar!
Bisa mengalahkan siluman laut.
Kalian tidak akan sanggup.
Biarpun kami tidak sanggup,
Dewa Agung Changgeng juga akan datang menyelamatkan kami!
Benar!
Ya, ada Dewa Agung Changgeng.
Bagaimana? Kau mau turun tangan?
Aku harus pergi setidaknya lima mil dari Pulau Xiong,
baru aku bisa menggunakan kekuatanku.
Kalau keluar sekarang,
aku akan ketahuan begitu sampai di pantai.
Kak Hua!
Bukankah kau ketua Sekte Dewa Laut?
Panggil Dewa Agung Changgeng kemari
untuk usir siluman laut.
Maka kita akan selamat.
Benar, cepat panggil!
Aku...
Kenapa gagap begitu?
Bukan, aku...
Cepat panggil! Panggil!
Panggil dia kemari!
Panggil saja Dewa Agung Changgeng.
Benar!
Panggil! Panggillah!
Kak Hua!
Cepat panggil Dewa Agung Changgeng kemari!
Maaf.
Aku bukan ketua sekte mana pun,
juga tidak ada Sekte Dewa Laut.
Semua itu hanya kebohongan.
Tidak mungkin.
Aku... aku tahu ini salahku.
Seharusnya aku tidak berbohong untuk menyelamatkan diri.
Namun, percayalah padaku,
siluman laut benar-benar akan datang.
Cepat lari!
Kalau tidak, akan terlambat.
Apa yang dia katakan?
Tidak mungkin.
Dewa Agung Changgeng mengusir siluman laut,
dan dewa palsu.
Semua orang melihatnya sendiri, 'kan?
Benar.
Mana mungkin itu palsu?
Dewa Agung Changgeng peduli pada rakyat, dia itu pendekar.
Pasti kita kurang khusyuk.
Sekarang kita pergi
berdoa di bawah patung Dewa Agung Changgeng.
Begitu dia mendengarnya, pasti akan datang menyelamatkan kita.
Ayo!
Ayo pergi berdoa, ayo berdoa.
Kalian jangan pergi.
Kalian jangan pergi.
Kalian benar-benar jangan pergi.
Tunggu saja di sini.
Semua karena kau!
Kau yang menyuruhku menjadi ketua Sekte Dewa Laut.
Kau yang menyuruhku berbohong.
Kau yang memancing siluman laut kemari.
Semua karena kau.
Lepaskan dia!
Jika Desa Xiong musnah,
aku akan membuatmu binasa.
Pernahkah melihat ombak setinggi langit,
Changgeng?
Kali ini, kulihat kau mau lari ke mana!
Kali ini, bersama Paviliun Tianya
memerangi siluman Laut Selatan.
Harus mengembalikan kejayaan Laut Timur,
dan merebut kembali posisi Putra Mahkota di Istana Naga.
Baik!
Bunuh!
Cepat bangun!
Pergi!
Cepat bangun!
Pergi sana, jangan ganggu kami.
Kau sedang apa?
- Pergi sana! - Kau sedang apa?
Cepat pergi!
Cepat pergi!
Kalian cepat bangun!
Jangan duduk saja, nanti mati.
Ke Le'er.
Kau tahu aku tulus ingin menyelamatkanmu.
Cepat bangun dan ikut aku.
Kak Hua, sudahlah.
Kalau kau mau pergi,
kau boleh pergi dulu sendiri.
Jangan sampai gara-gara kau mengganggu,
Dewa Agung Changgeng jadi tidak bisa mendengar doa kami semua.
Benar.
Benar.
Sekarang kami akan berdoa kepada Dewa Agung Changgeng.
Aku sedang mengganggu?
Awalnya aku bisa saja tidak peduli pada kalian semua.
Aku bisa kabur sebelum siluman laut datang.
Namun, Kak Hua, bukankah selama ini
kau terus menebang pohon untuk membuat rakit?
Kau selalu membohongi kami.
Pembohong! Kau pembohong!
Pembohong!
Pembohong!
Bukan... bukan semuanya palsu.
Kak Hua.
Kalau kau mau pergi, pergilah sendiri dulu.
Yang kami butuhkan sekarang
adalah keajaiban dari Dewa Agung Changgeng.
Kita hanya butuh Dewa Agung Changgeng.
Changgeng?
Dewa Agung Changgeng itu apaan?
Kalau dibandingkan denganku,
dia bukan apa-apa.
Apa yang kau bicarakan?
Kau pikir ada yang membangun patung ini untukmu,
maka kau jadi dewa?
Kau tahu apa itu dewa?
Kau tahu beban misi yang harus dipikul seorang dewa
dan cobaan apa yang harus dilalui?
Apa kau pantas?
Dilarang menghina Dewa Agung Changgeng!
- Benar! - Jangan bicara sembarangan!
Apa yang kau katakan?
Dilarang?
Memangnya kenapa kalau aku memaki?
Kalau kau punya kemampuan,
coba beri balasan!
Dewa Agung Changgeng telah turun!
Dewa Agung Changgeng!
Semua perhatian, peringatan tsunami level satu!
Segera mengungsi ke tanah terlarang!
Baiklah, semuanya, dengarkan aku.
Kita...
Apa selanjutnya? Apa rencanamu?
Tenang saja.
Aku punya cara.
Di mana orangnya?
[Tanah Terlarang]
Tunggu!
Ada jebakan di depan.
Serbu!
Apa jebakan ini tidak punya harga diri?
Aku akhirnya tahu kenapa
harus mencari mereka untuk menjaga Pedang Xianyuan.
Benar juga.
Duduk sebentar.
Lingli, biasanya kau yang makan paling sedikit.
- Lihat, sampai terluka. - Benar.
Ini kenapa?
Aku juga tidak tahu.
Jangan disentuh!
Lingli!
Ayah!
Putriku sayang.
- Sakit sekali! - Kenapa kakimu?
Putriku sayang.
Ayah sedih melihatnya.
Siapa yang melakukan ini?
Hati Ayah terasa sakit sekali.
Ayah...
Ini...
Benar.
Kau menyembunyikan sesuatu dariku.
Jika keturunan Leluhur Penyihir ingin berulah menggunakan Pedang Xianyuan,
kecuali seluruh Klan Penyihir
menodai Pulau Xiong dengan darah.
Menodai Pulau Xiong dengan darah?
Ada yang khawatir orang Desa Xiong akan mencuri barang yang mereka jaga,
makanya menyegel Pedang Xianyuan?
Benar.
Kita tidak bisa melihatnya
karena segel ini.
Asal segel Pedang Xianyuan dibuka,
kekuatan sihir kita bisa pulih?
Peri, apakah kau ingat
ada teknik rahasia yang menggunakan darah sebagai kunci?
Teknik Pengorbanan Darah Kuno.
Aku mengerti.
Orang-orang di Desa Xiong
adalah keturunan Leluhur Penyihir.
Asal darah semua orang di Desa Xiong terkumpul,
itu adalah seluruh Klan Penyihir...
Saatnya Pulau Xiong berlumuran darah.
Maksudnya,
asal semua orang menyumbangkan setetes darah...
Darah?
Kita bisa mengalahkan siluman laut!
Setetes darah?
Kalahkan siluman laut!
Kak Hua di mana?
Kalahkan siluman laut!
Kau?
Siluman dan iblis, enyahlah!
Jangan sakiti warga Desa Xiong.
Jika tidak patuh,
aku akan membuat kalian binasa selamanya.
Siapa kau ini?
Berlagak di sini.
Aku adalah penguasa Istana Langit,
Kaisar Langit Hao Tian.
Yang menguasai Langit, Bumi, dan Manusia.
Penguasa Tiga Alam.
Sang penguasa Istana Langit? Kaisar Langit Hao Tian?
Anak muda,
kuampuni nyawamu.
Cepat enyah sana!
Kapak dewa di tanganku ini
cukup membelah Gunung Hua
dengan sekali tebasan.
Berongga?
Anak muda,
kau agak menjadi-jadi, ya.
Iblis dan siluman, cepat mundur!
Kuampuni, tidak kubunuh.
Aku tidak membunuhmu
karena takut Ke Le'er sedih.
Jangan cari masalah.
Ayo!
Serbu saja!
Sudah kubilang.
Jangan sakiti warga Desa Xiong.
Kurang tinggi, pukul saja dia!
Tidak ada darahnya.
Kau pukul dia.
Kau bolak-balik begini, kau pukul...
Kulit mereka tebal sekali.
Batumu lebih besar dari batunya.
Tidak adil.
Kak Hua!
Kenapa tersesat saat seperti ini?
Kenapa kau menyusahkan dirimu?
Jelas-jelas sudah kuampuni nyawamu.
Kau cukup lari saja.
Dasar otak kaku!
Lepaskan!
Lepaskan!
Aku adalah
Kaisar Langit Hao Tian.
Tidak boleh lewat.
Kecuali
kau bunuh aku.
Kau gila!
Biar aku saja.
Tidak terlalu banyak juga.
Masih belum cukup.
Kak Hua.
Le, kenapa kau datang
ke sini?
Kak Hua!
Kak Hua, kau tidak apa-apa?
Ke Le'er.
Kak Hua!
Ke Le'er.
Kak Hua.
Katakan.
Apakah aku
termasuk pahlawan hebat?
Ya.
Kau adalah pahlawan hebat.
Kak Hua!
Kak Hua!
Kak Hua!
Sudah cukup, Changgeng.
Keluar!
Xiong Er, pikirkan caranya.
Kau...
Kau...
Sangat cepat, tahan sebentar.
Memang cepat.
Pedang ini tersegel terlalu lama, ada retakan.
Kak Hua!
Kembalikan Le padaku!
Kembalikan padaku!
Dasar kau naga tidak tahu diri!
Berani-beraninya kau tidak mengenali sesama jenis.
Ternyata kau adalah
tuan putri Klan Naga?
Le,
aku percaya cinta sejati bisa melampaui klan.
Le,
tunggu aku!
Kau menungguku?
Peri Yunxiao.
Pedang Xianyuan?
Jangan pukul!
Peri, jangan pukul!
Aku selalu berada di pihakmu.
Kau benar, kita bukan musuh.
Seperti ini baru benar.
Musuhmu yang sebenarnya
adalah dia.
Dengar-dengar
kau sedang mencariku?
Changgeng.
Pangeran.
Pangeran, Anda tidak apa-apa?
Tidak disangka
di Laut Selatan
ada Klan Naga sekuat ini?
Aku adalah Pangeran Pertama Laut Timur, Ao Jia.
Boleh tahu siapa nama Anda?
Kalau ada kesempatan, datanglah ke Laut Timur.
Kita bisa bertanding...
Lagi?
Kenapa kau lari terus?
Kenapa kau memukul terus?
Aku memukulmu karena kau pantas!
Jangan coba kabur!
Menetap!
Karena kau sudah melihat wujud asliku,
mana mungkin kubiarkan kau pergi begitu saja?
Kau tahu apa itu mosaik?
Selesai.
Apa yang terjadi?
Apa kau merasa ada yang aneh sekarang?
Misalnya
pusing, pandangan berkunang-kunang,
atau mual.
Bagaimana kau tahu?
Apa yang kau lakukan padaku?
Tebak saja.
Licik sekali.
Tunggu saja pembalasanku!
Changgeng muncul! Tolong!
Changgeng muncul! Cepat tangkap dia!
Changgeng muncul!
Kabur! Dia kabur!
Ini tidak benar.
Ini...
Siapa itu?
Aku adalah penguasa Istana Langit,
Kaisar Langit Hao Tian.
Yang memegang kekuasaan atas Langit, Bumi dan Manusia,
penguasa Tiga Alam.
Kau serius?
Kali ini
kau sudah percaya, 'kan?
Kau sudah tahu soal ini sejak lama?
Aku juga baru tahu belum lama ini.
Dia benar-benar...
Benar.
Kalau begitu kita...
Benar.
Kau cukup bernyali.
Aku juga berpikir begitu.
Bian Zhuang.
Kau hanya siluman kupu-kupu kecil.
Beraninya kau menindas rakyat jelata,
dan membangkang Kaisar Langit.
Dosa apa yang pantas kau terima?
Baik.
Aku memang buta, tidak mengenali dewa asli.
Jika kau membunuhku,
kedua orang suci Sekte Xifang
pasti akan menuntut Istana Langit.
Pertimbangkanlah,
apakah kau akan melepaskanku?
Kedua orang suci Sekte Xifang?
Mau memberontak melawan Istana Langit?
Istana Langit-mu baru berdiri, belum kokoh.
Sudah kau pikirkan baik-baik?
Apakah kau yakin mau bermusuhan dengan Sekte Xifang?
Langit selalu berubah-ubah.
Langit tidak mengenal belas kasihan.
Aku membiarkanmu hidup
bukan karena takut pada Sekte Xifang,
melainkan karena dalam dirimu
masih ada misi dari Langit.
Misi?
Segala karma di dunia ini
telah diatur oleh Langit.
Semoga saat misimu tiba,
kau bisa membuat pilihan yang tepat.
Pasti.
Percayalah padaku.
Pergilah.
Dengan begini,
Peri,
misi kita
bisa dibilang sudah selesai, 'kan?
Sekarang kekuatan sihir kita sudah pulih.
Pulau Xiong kecil ini tidak bisa menahan kita lagi.
Lain kali saat kita bertemu lagi,
kita adalah musuh.
Mungkin
sekarang kita sudah merupakan musuh.
Jadi, kau tinggalkan Pulau Xiong, lalu kembali lagi,
karena tujuanmu memang Pedang Xianyuan,
kau tidak pernah berniat pergi begitu saja?
Ada sedikit masalah di tengah jalan.
Namun, tebakan Peri secara garis besar sudah benar.
Kau tidak memberitahuku Teknik Pengorbanan Darah
karena ingin mengambil Pedang Xianyuan lebih dulu dariku?
Peri sudah berjaga-jaga dan terus mengikutiku,
aku pun sulit bertindak.
Bian Zhuang menyerang terlalu cepat,
jadi kau terpaksa
membiarkanku mengambil Pedang Xianyuan lebih dulu,
baru kau coba rebut lagi?
Itu bukan terpaksa juga.
Aku sudah punya rencana sejak awal.
Kalau begitu, rencanamu payah sekali.
Kalau benar-benar berebut,
mana mungkin kau jadi lawanku?
Peri salah paham.
Mana mungkin aku berebut denganmu sendirian?
Tidak ada yang bisa
mengambil pedang ini.
Kau adalah Peri Yunxiao, 'kan?
Kau adalah Kaisar Langit Hao Tian?
Bisa muncul bersama Peri Yunxiao,
Anda
seharusnya adalah Zhao Gongming, 'kan?
Tadi itu tidak dihitung, ulangi lagi.
Anda pasti adalah
Master Tong Tian.
Yang benar saja? Salah tebak lagi.
Coba perkenalkan dirimu.
Aku murid Sekte Duxian, Li Changshou.
Changshou, ya?
Canggung sekali.
Siapa dia?
Kaisar Langit tidak perlu bingung siapa aku.
Tenang saja, aku di pihakmu.
Kita di satu pihak?
Sejak kecil aku mengagumi Istana Langit.
Aku bertekad mengabdi pada Istana Langit dan membuat jasa.
Kalau begitu, apakah kau
yang membuatku hampir terbakar hidup-hidup?
Itu untuk membangkitkan
tanggung jawab Kaisar Langit,
membangkitkan hati Kaisar Langit yang mencintai rakyatnya.
Kau benar-benar berusaha keras, ya.
Hal terpenting sekarang adalah
jangan sampai dia mengambil Pedang Xianyuan ini.
Dasar bajingan, kau...
Untuk apa dia mengambil Pedang Xianyuan?
Dia ingin mengambil Jarum Penenang Laut.
Tahukah kau
apa akibat
mengambil Jarum Penenang Laut?
Aku harus mendapatkannya.
Kenapa?
Karena ada orang yang lebih besar darimu memberitahuku
bahwa tidak lama lagi
Tiga Alam akan dilanda
malapetaka yang menghancurkan dunia.
Langit?
Kau juga pernah melihat Langit?
♪Melihat suka dan duka dunia♪
♪Pertemuan dan perpisahan, takdir tidak terhingga♪
♪Menghela napas, cinta berulang kali berputar♪
♪Kenangan dipenuhi kesedihan♪
♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪
♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪
♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪
♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪
♪Minum arak keruh lagi beberapa gelas♪
♪Ribuan gunung dan sungai, mengundangmu menyertai♪
♪Mengganti dengan kebaikan yang lapang dan mulia♪
♪Sayangnya cerita begitu singkat♪
♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪
♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪
♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪
♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.