Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Kekacauan, langit, pusaran giok♪
♪Tiga alam, Dunia Primordial, berpegang teguh♪
♪Kaldron menempa ujung tombak sejati♪
♪Tungku menempa bulan sabit yang kosong♪
♪Misteri menanam benih Tao♪
♪Berani menciptakan alam semesta yang luas♪
[Penarikan Senar]
[Adaptasi dari novel dengan judul sama karya Yangui Zhengzhuan, Grup Yuewen]
Kita harus mencabut tiang kayu di dalam hati kita.
Percaya pada diri sendiri.
Percaya diri kita bisa mengalahkan siluman laut.
Tepuk tangan kalau paham!
Bagus!
Bisa menceritakan kisah yang begitu menyentuh
menjadi begitu menginspirasi.
Inilah alasan aku memilih Hua Ritian
menjadi ketua sekte.
Ulangi lagi, Ketua Sekte!
Siluman laut datang!
Siluman laut datang!
Cepat lari!
Ke mana orangnya?
Siluman laut datang!
Siluman laut datang! Cepat lari!
Cepat lari!
Ada apa ini?
Siluman laut datang!
Siluman laut datang!
Tunggu!
Tunggu!
Apakah kau lihat Hua Ritian, Qing Luan dan Bai Shi?
Siluman laut datang!
Xiong Er, bawa dia pergi!
Baik.
Siluman laut!
Siluman laut!
Siluman laut apa?
Berapa lama lagi?
Sudah selesai belum?
Sebentar lagi, segera.
Benar-benar siluman laut!
Jangan makan aku.
Makan dia.
Dagingnya banyak.
Makan dia.
- Jangan makan aku. Aku juga takut. - Siluman laut, aku tidak takut padamu.
Jangan makan kakakku.
Semuanya,
jangan lupakan hal-hal yang diajarkan oleh Ketua Sekte.
Lawan!
Lawan!
Lawan!
Lawan!
Bintang jatuh?
Jangan...
Jangan melihat bintang jatuh.
Pertimbangkan aku.
Tanganku sudah kram.
Hilang?
Sepertinya benar-benar berguna.
Kita mengalahkan siluman laut.
Kita benar-benar mengalahkan siluman laut.
Kita mengalahkan siluman laut.
Bagus sekali!
Bagus sekali!
[Episode 13]
Maksudmu,
kau kalah dari Sekte Dewa Laut?
Pasti karena formasi yang kita tinggalkan di Pulau Xiong
sudah terlalu lama.
Sudah usang.
- Jadi... - Maksudmu formasi yang kutinggalkan
tidak berguna?
Tidak berani.
Pasti karena kekuatanku lemah,
tidak menggunakan formasi Dewa Agung dengan baik.
Apakah kau melihat
orang asing di Pulau Xiong?
Orang asing?
Ada.
Pasti orang-orang asing itu
telah mengacaukan Pulau Xiong.
Sepertinya kali ini
[Bian Zhuang, Ketua Paviliun Tianya]
aku harus turun tangan sendiri.
Senam pagi siswa SD Pulau Xiong seri ketiga,
Sinar Mentari Tujuh Warna,
dimulai sekarang.
Satu, dua, tiga, empat.
Dua, dua, tiga, empat.
♪Sekarang bendungan menghadang badai♪
♪Tubuh berlumur darah melawan ketidakpastian♪
♪Tutup mata, enam arah♪
♪Waktu melukis dengan tinta♪
♪Melangkah jauh♪
♪Energi habis di tempat yang sunyi♪
♪Takdir datang padaku♪
Gawat, tidur kesiangan!
Kak, semua gara-gara kau.
Semua gara-gara kau.
Semalam begadang sampai larut.
- Gara-gara kau, terlambat. - Lima, enam, tujuh, delapan.
Cepat lari!
Tiga, dua, tiga, empat.
- Lima, enam, tujuh, delapan. - Siapa itu?
Empat, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh...
Setelah pertempuran semalam,
orang-orang di Desa Xiong harusnya sudah percaya pada Sekte Dewa Laut.
Kenapa Xiong Laosan belum datang menemui kita?
Pegang ini.
Apa ini?
Ini namanya jimat pelindung.
Jimat pelindung?
Apakah ini sejenis mantra?
Atau punya kekuatan sihir?
Atau bahannya ada yang istimewa?
Tidak ada semua itu.
Di dunia fana,
ada kekuatan sihir yang tidak akan pernah hilang.
Namanya ketulusan hati manusia.
Bukan karena bahannya istimewa,
juga tidak punya kekuatan gaib khusus,
tapi di dalamnya mengandung ketulusan hati.
Sekarang kita masing-masing punya satu.
Kita termasuk hati terhubung.
Hati terhubung apanya?
Peri,
apa pun hasil rencananya nanti,
aku harap kau ingat satu hal.
Entah itu membohongi,
atau merahasiakan,
terkadang
bukan semuanya niat buruk.
Aku tidak mengerti.
Tidak mengerti itu benar.
Kelak kau akan mengerti.
Jika perkiraanku benar,
hari ini seharusnya akan datang.
Apa yang seharusnya datang?
Siluman laut yang sesungguhnya.
Ayah,
kami sudah percaya pada Sekte Dewa Laut.
Bagaimana kalau kau ikut juga?
Asalkan siluman laut bisa dikalahkan,
kita percaya pada siapa saja sama.
Kalian masih muda.
Kurang wawasan.
Jika benar-benar bertemu,
semuanya sudah terlambat.
Kalian lihat itu?
Sudah dimulai.
Benda apa itu?
Tiga, empat...
Sekelompok manusia fana,
beraninya berbicara lancang,
mengaku akan memusnahkan siluman laut.
Siapa kau?
Trik apa yang kau mainkan?
Cepat turun!
Turun!
Aku tidak mau.
Turun!
Aku dengar ada Sekte Dewa Laut di Pulau Xiong
yang berani menantang Sekte Xifang.
Siapa di antara kalian dari Sekte Dewa Laut?
Kami semua anggota Sekte Dewa Laut.
Kami baru saja mengalahkan siluman laut tadi malam.
Memusnahkan siluman laut?
Hanya dengan kalian?
Jangan menghina Sekte Dewa Laut!
Ayo kita pergi ambil batu
untuk jatuhkan dia!
Jatuhkan dia!
Ini
formasi?
Semua formasi di pulau ini telah kuhancurkan.
Seharusnya dia menggunakan kekuatan sihir sungguhan.
Mana mungkin?
Mungkin formasi ini memang dia yang pasang.
Kenapa bersembunyi, Kak Hua?
Sst!
Jangan bicara.
Patuhlah.
Xiong Er.
Kalian mau ke mana?
Ayah, kita harus pergi menyelamatkan mereka!
Benar!
Menyelamatkan mereka?
Tidak ada gunanya.
Kalian tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun.
Selamatkan mereka, Kak Hua!
Kau lihat itu?
Ini adalah pelatihan.
Ini pelatihan.
Pelatihan macam apa?
Ketua Sekte!
Tolong selamatkan kami!
Ketua Sekte!
Sekte Dewa Laut,
hanya segini saja.
Ketua Sekte, tolong selamatkan kami!
Dengarkan baik-baik.
Aku adalah murid Sekte Xifang,
Bian Zhuang, ketua Paviliun Tianya.
Kalian menyembah Dewa Laut,
melanggar hukum Sekte Xifangku,
pernahkah kalian memikirkan akibatnya?
Dewa Agung!
Kami salah.
Kumohon, hentikan kekuatanmu.
Hentikan kekuatanmu.
Hentikan kekuatanmu.
Dewa Agung, kami salah.
- Kumohon hentikan kekuatanmu. - Manusia fana
hanya biasa saja.
Kumohon, hentikan kekuatanmu.
Jadi,
siapa yang mengucapkan kata terlarang itu
dan mendatangkan siluman laut?
Dia!
Kenapa kau bilang padanya?
Dia bertanya padaku.
Orang asing.
Bukankah kalian bilang akan mengalahkan siluman laut?
Bukankah kalian bilang memuja Sekte Dewa Laut akan menjadi kuat?
Kalau begitu, mari kita coba.
Cepat lari!
Cepat lari!
Cepat lari!
Untung saja aku cepat bicara.
Dasar bajingan!
♪Melihat suka dan duka dunia♪
♪Pertemuan dan perpisahan, takdir tidak terhingga♪
Jangan khawatir.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan tangan ini.
♪Kenangan dipenuhi kesedihan♪
♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪
♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪
♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪
Kak Hua, kenapa kita lewat sini?
Bukankah orang jahatnya di belakang?
Aku tahu orang jahatnya di sana,
makanya lari ke sini.
Kak Hua, kau...
Jangan-jangan mau kabur?
Kau pikir aku orang seperti apa?
Semuanya.
Lama tidak jumpa.
Hua Ritian!
Kau menyebar rumor di Pulau Xiong dan membuat Dewa Agung marah.
Kau adalah pendosa yang menghancurkan Pulau Xiong.
Apa lagi yang ingin kau katakan?
Pulau Xiong sungguh indah.
Kami cinta Pulau Xiong.
Dengarkanlah kata para dewa.
Hidup abadi selamanya.
Ikat dia!
Pulau Xiong sungguh indah.
Kami cinta Pulau Xiong.
Dengarkanlah kata para dewa.
Hidup abadi selamanya.
Tolong selamatkan aku!
Pasti semua ini ada dalam rencananya.
Dia pasti sudah memikirkan cara untuk lolos.
Membuatku mengira dia sudah mati.
Melihatku sedih,
lalu dia tiba-tiba muncul.
Menertawakanku, mempermainkanku.
Aku akan menunggunya di sini.
Saat dia kembali, aku akan memberitahunya.
Dasar bajingan.
Setiap langkahmu sudah kuduga.
Aku tahu kau tidak mati.
Kau tidak akan bisa menipuku.
Qing Luan!
Sekarang aku adalah ketua tim pembasmi kejahatan Sekte Xifang.
Aku datang untuk menangkapmu.
Cepat ikut aku ke altar untuk bertobat.
Aku tidak mau pergi.
Kenapa?
Aku akan menunggunya kembali.
Bai Shi?
Dia sudah dimakan oleh siluman laut.
Tidak akan kembali lagi.
Kau tidak memahami dia.
Jangan menunggunya lagi.
Cepat ikut aku.
Bajingan itu selalu banyak tipu muslihat.
Penuh siasat licik.
Sama sekali tidak menyenangkan.
Namun, ada satu hal
yang sangat kuyakini.
Hal yang tidak pasti
tidak akan dilakukannya.
Aku sedang bicara denganmu.
Kita tangkap atau tidak?
Kau yang tentukan.
Sebaiknya serahkan ini
kepadaku saja.
Mundur!
Begitulah manusia fana.
Mereka tidak punya kekuatan sihir.
Segala hal harus bergantung pada dewa.
Dewa mana yang manjur,
dewa itulah yang mereka percayai.
Pandangan Peri sangat luar biasa.
Tentu saja Peri tidak sudi melihat mereka.
Peri apa?
- Namaku... - Peri Yunxiao.
Kau mengenalku?
Aku sudah mengenalimu sejak awal.
Apa maumu?
Aku bersedia membantu Peri.
Kau
ingin membantuku?
Apakah Peri
sedang mencari Pedang Xianyuan?
Jangan panik, Peri.
Paviliun Tianya hanya ingin
berteman dengan Peri.
Berteman?
Hanya dengan bicara saja?
Pedang Xianyuan
adalah senjata dewa kuno.
Dulu Kaisar Siluman menggunakannya untuk menaklukkan Tiga Alam,
sungguh bergelora.
Sayangnya, dulu energi kultivasiku masih dangkal,
tidak bisa hadir langsung di medan perang,
menyaksikan kehebatan Pedang Xianyuan.
Aku menyebarkan ajaran di Pulau Xiong,
adalah untuk mencari Pedang Xianyuan.
Asalkan bisa melihat sekilas harta karun surgawi ini,
aku sudah sangat puas.
Kau hanya tahu Pedang Xianyuan ada di Pulau Xiong,
tapi tidak tahu seperti apa rupanya?
Makanya aku menyuruh orang di Desa Xiong menggali Pulau Xiong sampai habis,
lalu berikan batu besar itu padaku.
Selama Pedang Xianyuan masih ada di Pulau Xiong,
suatu hari nanti pasti akan kutemukan.
Sudah berapa lama
mereka menggali seperti ini?
Mungkin ratusan tahun.
Sudah menemukan apa?
Hanya batu.
Paviliun Tianya hampir tidak muat.
Berarti
kau juga tidak menemukan Pedang Xianyuan?
Lalu, apa gunanya kau?
Aku orang luar,
tapi Peri berbeda.
Kau sudah lama tinggal di Pulau Xiong,
mereka sudah menerimamu.
Jadi kau bisa mencari tahu
hal-hal yang tidak bisa kutemukan.
Peri.
Bagaimana kalau kita bekerja sama?
Kau urus urusan dalam, aku urus urusan luar.
Asalkan Pedang Xianyuan ditemukan,
aku pasti akan memberikannya.
Bagaimana?
Aku sedang menunggu seseorang.
Tolong jangan ganggu aku.
Sayang sekali. Sangat disayangkan.
Pada akhirnya aku terlambat.
Sudah ada yang mendahuluiku.
Namun, orang yang ditunggu Peri,
apa dia tidak akan menipumu?
Peri,
apa pun hasil rencananya,
aku harap kau ingat satu hal.
Entah itu merahasiakan atau menipu,
terkadang
tidak selalu berniat buruk.
Apakah dia benar-benar ditelan siluman laut,
atau memanfaatkan kesempatan untuk kabur,
dan meninggalkanmu sendirian di pulau ini?
Memangnya aku tidak ingin pergi?
Namun, bisakah aku pergi?
Ke depannya, jika Peri tahu sesuatu,
tolong beri tahu aku.
Paviliun Tianya
pasti akan membantu Peri
menemukan Pedang Xianyuan.
Jadi,
kau membohongiku?
Bajingan!
Begitu rupanya.
Pantas saja akhir-akhir ini aku tidak bisa menemukanmu dalam mimpi.
Namun, Peri Yunxiao terperangkap di Pulau Xiong,
dia tidak bisa menggunakan kekuatan sihir.
Itu adalah hukuman baginya.
Lumayan bagus.
Aku juga mendapat informasi,
ada sekte bernama Sekte Xifang
yang juga mengincar Pedang Xianyuan.
Istana Langit juga perlu waspada.
Sekte Xifang?
Kedua orang suci Sekte Xifang
selalu menjauhi perselisihan,
tidak ikut campur dalam pertarungan tiga sekte.
Kenapa kali ini
begitu tertarik pada Pedang Xianyuan?
Adipati Timur.
Aku ingin tahu
sebenarnya apa itu Pedang Xianyuan?
Kenapa Pulau Xiong bisa membuat orang kehilangan kekuatan sihir?
Benaran ingin tahu?
Mohon padaku.
Aku, Li Changshou...
Bangun!
Aku hanya mengujimu.
Sudahlah.
Bagaimanapun kau sudah pernah ke Pulau Xiong,
jadi aku tidak menyembunyikannya darimu.
Pedang Xianyuan
adalah harta karun yang ditempa oleh keturunan Leluhur Penyihir.
Keturunan Leluhur Penyihir?
Kau tahu keturunan Leluhur Penyihir?
Kuceritakan padamu.
Keturunan Leluhur Penyihir itu
bertubuh tinggi, besar,
sehat, kuat dan tidak terkalahkan.
Kenapa mereka tidak berlatih sihir?
Karena mereka merasa diri mereka
sudah bisa menaklukkan klan lain.
Mereka bahkan mendirikan tugu peringatan untuk mereka sendiri.
Coba tebak apa yang tertulis di tugu itu?
Tugu itu tertulis,
"Di Dunia Ini Sama Sekali Tidak Ada Dewa,
Karena Kami adalah dewa."
Lihatlah.
Sungguh sombong.
Ya.
[Karena Kami Adalah Dewa] Aku sudah melihatnya.
Sepuluh ribu tahun lalu,
keturunan Leluhur Penyihir membuat
Pedang Xianyuan yang bisa membatasi semua sihir.
Berharap menguasai Tiga Alam.
Membatasi semua sihir?
Mungkinkah...
Pintar.
Tahukah kau
kenapa kekuatan sihirmu hilang di Pulau Xiong?
Karena Pedang Xianyuan
tertancap di suatu tempat di Pulau Xiong.
Pernah dengar tentang Perang Dewa dan Iblis?
Pernah.
Ribuan tahun lalu, tiga sekte bersatu mengalahkan Klan Siluman.
Artefak yang digunakan Kaisar Siluman saat itu
adalah Pedang Xianyuan.
Setelah Pedang Xianyuan ditempa,
Klan Siluman muncul.
Sayang sekali.
Pedang Xianyuan
bisa membatasi semua kekuatan sihir,
tapi tidak membatasi ilmu siluman.
Hampir membuat Klan Manusia punah.
Tidak membatasi ilmu siluman?
Ternyata yang digunakan orang itu adalah ilmu siluman?
Seribu tahun lalu,
Master Agung Xuan Du mengalahkan Kaisar Siluman,
lalu menyegel Pedang Xianyuan di Pulau Xiong.
Menyerahkannya kepada sisa keturunan Leluhur Penyihir untuk dijaga.
Tampaknya orang-orang di Desa Xiong
seolah telah lupa bahwa mereka adalah keturunan Leluhur Penyihir.
Sekte Xifang takut mereka akan teringat jati diri mereka,
makanya tidak mengizinkan mereka melihat tulisan tugu.
Meskipun Master Agung Xuan Du
menyegel Pedang Xianyuan di Pulau Xiong,
tapi dia juga khawatir keturunan Leluhur Penyihir
memanfaatkan pedang itu untuk menimbulkan malapetaka lagi.
Master Agung bilang,
jika keturunan Leluhur Penyihir ingin berbuat onar dengan Pedang Xianyuan,
kecuali seluruh Klan Penyihir berlumuran darah di Pulau Xiong.
Seluruh Klan penyihir berlumuran darah di Pulau Xiong?
Sudahlah.
Begini saja.
Terkait Sekte Xifang yang baru saja kau sebutkan,
aku akan mengirim seseorang untuk menyelidikinya secara rinci.
Aku terlalu sibuk, kita bicara lagi lain kali.
Adipati Timur!
Seperti yang kita sepakati sebelumnya, menebus kesalahan.
Jabatanku di Istana Langit...
Menebus kesalahan apa?
Apakah kau sudah menangkap Peri Yunxiao?
Peri Yunxiao sudah kukurung di Pulau Xiong.
Bagaimana jika dia kabur?
Pulau Xiong sudah kubuatkan
formasi yang kuat.
Masih ada kelompok lain yang ingin mencuri pedang.
Ketua Paviliun Tianya, Bian Zhuang,
seekor siluman kupu-kupu besar,
dan dua murid serta seorang pendeta tua,
satu bernama Wang Cai.
Paviliun Tianya terletak di tepi Laut Selatan.
Peta. Petanya ada di sini.
[Paviliun Tianya, Pulau Xiong]
Kau sudah menyelidiki semuanya?
Sisakanlah sedikit untukku.
Aku juga menyelidiki
bahwa Istana Langit membiarkan Sekte Xifang
berbuat jahat di Laut Selatan.
Ini kelalaian, ketidakpedulian!
Apa maksudmu?
Kalau aku memberitahukan hal ini kepada Kaisar Langit,
bukankah itu akan menyulitkan Adipati Timur juga?
Laporkan saja!
Kau laporkan saja!
Kalau kau hebat, cari kembali Kaisar Langit.
Aku benar-benar salut padamu.
Aku sudah lama tidak mau kerja lagi.
Tempat apa ini?
Istana Langit yang begitu besar,
semua urusan sepele, selalu mencariku.
Semua masalah buruk, selalu mencariku.
Apa aku sanggup?
Kaisar Langit tidak ada?
Tentu saja dia tidak ada.
Dia tidak mau jadi Kaisar Langit,
seharian ribut
mau jadi seniman.
Sudahlah.
Dia kabur, dia senang.
- Aku yang menderita. - Seniman?
Cepatlah kembali!
Laba-laba kecil penuh dengan kaki.
Manusia di dunia penuh dengan mulut.
Sejujurnya,
aku adalah seorang seniman.
Kaulah yang membuatku jadi begini.
Tepuk tangan kalau paham!
Di mana ada orang?
Kaisar Langit.
Batu spiritual di Tiga Alam bahkan tidak bisa ditemukan.
Kau benar-benar ingin tinggal di Istana Langit?
Baiklah, kau bantu aku selesaikan satu urusan.
Yaitu temukan Kaisar Langit
yang kukatakan tadi.
Aku akan mewujudkan keinginanmu.
Adipati Timur.
Kalau... maksudku, seandainya,
ada yang mencelakainya, bagaimana?
Apa yang akan terjadi?
Maka dia harus bersiap
untuk reinkarnasi.
Reinkarnasi?
Reinkarnasi?
Reinkarnasi!
Reinkarnasi!
Dengarkanlah kata para dewa.
Hidup abadi selamanya.
Pulau Xiong sungguh indah.
Kami cinta Pulau Xiong.
Dengarkanlah kata para dewa.
Hidup abadi selamanya.
Pulau Xiong sungguh indah.
Semuanya, bergerak cepat!
Jangan lamban!
Di Pulau Xiong hanya ada sapi dan kuda yang mati kelelahan.
Tidak ada ladang yang tidak tergarap.
Hidup abadi selamanya.
Penipu!
Semuanya penipu!
Ayo kita bakar dia!
Bakar dia!
Bangun!
Siapa?
Kak Hua, ini aku.
Aku datang menyelamatkanmu.
Ke Le'er.
Ditinggalkan semua orang, hanya kau yang setia.
Pelankan suaramu.
Aku bantu kau turun dulu.
Jangan-jangan kalian mengira
aku tidak bisa melihat trik kecil itu?
Memotong benang merah, memotong takdir...
Ada gosip lagi.
Ada perjodohan lagi?
Kenapa benangnya emas?
Ketua Paviliun Tianya, Bian Zhuang?
Bolehkah aku tahu,
Nona dari keluarga mana?
Namaku
Ke Le'er.
Ke Le?
Omong-omong...
Kau jangan omong.
Sungguh nama yang bagus.
Meski Paviliun Tianya
tersebar di puluhan ribu dunia,
aku juga sudah pergi ke banyak tempat,
bertemu banyak orang.
Aku pikir tidak akan ada lagi pemandangan
yang membuatku terkesan,
tapi Le...
Tunggu sebentar.
Aku tahu kau tidak sabar,
tapi jangan terburu-buru dulu.
Aku sudah punya orang yang kusuka.
Benar.
Siapa?
Dia.
Kau?
Percayalah padaku.
Aku sama terkejutnya denganmu.
Kau?
Soal perasaan tidak bisa dipaksakan.
Namun,
bukan berarti tidak bisa dibicarakan.
Kau!
Menyakiti saingan cinta adalah tanda ketidakmampuan.
Masuk akal.
Di mana pengikut Sekte Xifang?
Dewa Agung!
Dewa Agung!
Dewa Agung!
Dewa Agung!
Bakar dia
sebagai persembahan langit.
Baik.
Tidak boleh!
Kalau kau tidak berbicara, hampir saja kulupakan.
Bawa juga sekalian
gadis cantik ini.
Bakar dia!
Bakar dia!
Apa yang kau lakukan?
Lepaskan aku!
Agak lembut.
Pelan-pelan.
Jangan.
Aku bukan Sekte Dewa Laut.
Aku bisa mewariskan sekte lain.
Kau mau mewariskan sekte apa lagi?
Sekte apa?
Sekte apa?
Aku ingin
menjadi
cahaya.
Menjadi cahaya?
Benar, 'kan?
Hentikan!
Kenapa?
Maksudku,
membakar dia
hanya merusak lingkungan.
Imut.
Ada benarnya juga.
Kau memang teliti.
Siluman laut datang!
Siluman laut!
Siluman laut datang!
Jangan menyerangku!
Ini tidak benar.
Kebetulan 10% kekuatan sihir yang kupinjam dari Peri Yunxiao
belum habis terpakai.
Aku adalah
Changgeng, utusan pelindung Sekte Dewa Laut.
Atas nama Ketua Sekte Dewa Laut,
datang untuk membunuh siluman laut.
Kini siluman laut sudah mati.
Bian Zhuang dari Sekte Xifang itu,
segera keluar dan mengaku kalah!
Changgeng?
Ke Le'er!
Cepat datang selamatkan aku!
Cepat datang selamatkan aku!
Kau bukan Changgeng?
Aku Kak Hua-mu.
Aku salah paham?
Bian Zhuang!
Habislah kau.
Bantuanku sudah datang.
Aku adalah ketua Paviliun Tianya,
mana mungkin takut
seorang kultivator tingkat rendah?
Le.
Setelah aku mengalahkan pria berjanggut itu,
aku akan kembali.
Aku...
Bunuh!
Jangan lari!
Ayo!
Jangan cuma menonton saja.
Cepat datang selamatkan aku!
Cepat datang selamatkan aku!
Aku sudah hampir mati tertekan.
Diam kau!
Jangan lari!
Kau...
Kenapa kau terus berlari?
Mau bertarung atau tidak?
Bian Zhuang, Ketua Paviliun Tianya.
Kau punya tiga kelemahan.
Kalau kau bisa sebutkan satu,
aku ikut margamu.
Cinta agung tidak terbatas.
Ketua.
Kelemahan pertamamu
adalah terlalu lambat.
Aku belum mengerahkan tenaga.
Lihatlah.
Kelemahan keduamu
adalah penglihatanmu buruk.
Aku memang sengaja.
Kelemahan ketiga,
juga yang paling fatal.
Formasimu
payah sekali.
Aku benar-benar salut!
Sekarang
akan kutunjukkan padamu
formasiku.
Mesin Cuci
Bukaan Depan.
Akan kutunjukkan padamu
Teknik Montase.
Mana orangnya?
Keluar!
Keluar, kita
bertarung lagi!
Kau masih tidak mau menyerah?
Bai Shi?
Tidak mungkin.
Aku melihatmu ditelan dengan mataku sendiri!
Kuberi tahu pada kalian,
Dewa Agung Changgeng yang menyelamatkanku.
Dewa Agung Changgeng?
Aku mengerti.
Percaya pada Sekte Dewa Laut,
jika terjadi sesuatu, akan ada dewa agung yang menyelamatkan.
Pasti begitu.
Sekte Dewa Laut sungguh hebat.
Percaya pada Sekte Dewa Laut!
- Aku akan Percaya pada Sekte Dewa Laut! - Percaya pada Sekte Dewa Laut!
Percaya pada Sekte Dewa Laut!
- Percaya pada Sekte Dewa Laut! - Dia penipu!
Dia menipu kalian.
Aku penipu?
Justru kau yang penipu, 'kan?
Kau yang mengendalikan siluman laut itu, Bian Zhuang.
Aku tidak tahu.
Bisa-bisanya tidak mengaku.
Namun, Pendekar Changgeng
sudah menduga kau akan melakukan ini.
Pendekar Changgeng memintaku menunjukkan sesuatu kepada kalian.
Silakan lihat layar besar.
Dewa Agung, kami sudah berusaha sebaik mungkin.
Perintah yang Anda berikan,
Dewa Agung,
kami tidak pernah berani lalai.
Kalau begitu, gali terus.
Gali beberapa ratus tahun lagi,
aku tidak percaya tidak bisa menemukan Pedang Xianyuan.
Bagaimana kalau
tidak menemukannya?
Aku akan mengirim siluman laut untuk memakan kalian semua.
Salah. Ini tidak benar.
Jangan lupa,
hanya aku yang bisa mengendalikan siluman laut.
Aku adalah dewa kalian.
♪Kehidupan yang beragam♪
♪Bukankah ada dalam segala hal ini♪
Katakan!
Trik apa yang kau gunakan?
Beraninya kau bicara lancang lagi di sini!
♪Aku genggam langit luas ini♪
♪Takdir tidak akan sia-sia♪
♪Biarkan pikiran punya bobot♪
Siapa yang tidak beretika, buang sampah sembarangan?
Aku!
♪Tidak terkendali♪
♪Hanya senyum dengan tenang♪
Ayah.
Patuhlah.
♪Tidak sudi meminjam kekuatan♪
♪Tidak gentar dikejar takdir♪
Baik.
Aku tahu.
Aku tahu apa yang kalian cari.
Namun, kuberi tahu kalian,
percuma saja.
Karena aku sudah mencarinya berabad-abad,
dan mencoba segala cara.
Menyerahlah.
Tidak perlu menggali batu lagi.
Percaya pada Sekte Dewa Laut!
♪Melihat suka duka dunia♪
♪Pertemuan dan perpisahan, takdir tidak terhingga♪
♪Menghela napas, cinta berulang kali berputar♪
♪Kenangan dipenuhi kesedihan♪
♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪
♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪
♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪
♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪
♪Minum arak keruh lagi beberapa gelas♪
♪Ribuan gunung dan sungai, mengundangmu menyertai♪
♪Mengganti dengan kebaikan yang lapang dan mulia♪
♪akungnya cerita begitu singkat♪
♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪
♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪
♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪
♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.