All language subtitles for Pull Strings Episode 12

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

♪Kekacauan, langit, pusaran giok♪

♪Tiga alam, Dunia Primordial, berpegang teguh♪

♪Kaldron menempa ujung tombak sejati♪

♪Tungku menempa bulan sabit yang kosong♪

♪Misteri menanam benih Tao♪

♪Berani menciptakan alam semesta yang luas♪

[Penarikan Senar]

[Adaptasi dari novel dengan judul sama karya Yangui Zhengzhuan, Grup Yuewen]

Ini...

Formasi?

Bantu aku lihat

tinggal berapa lama lagi menuju malapetaka dunia.

Tinggal 30 tahun lagi menuju malapetaka dunia.

Tiga puluh tahun.

Pedang Xianyuan muncul, membuka Mata Laut,

terjadi malapetaka dunia.

Biarpun Peri Yunxiao gagal,

akan ada orang lain yang mendapatkan Pedang Xianyuan.

Kalau begitu,

satu-satunya cara untuk memecahkan masalah

adalah aku harus mendahului semua orang

dan mengambil Pedang Xianyuan.

[Tanah Terlarang Pulau Xiong]

[Episode 12]

Kenapa aku tidak bisa lepas darimu?

Aku ini sangat sulit dihadapi.

Ini yang kau balutkan?

Tentu saja.

Tenang saja,

hanya luka goresan.

Tidak ada masalah serius.

Apakah kau melihat Pedang Xianyuan

di dalam tanah terlarang?

Peri.

Betapa berbahayanya tanah terlarang itu?

Kau saja terluka setelah masuk,

jadi...

Kalau aku masuk,

bukankah bunuh diri namanya?

Memang sesuai dengan gayamu yang penakut.

Peri.

Siapa kau?

Kau memiliki energi kultivasi calon Dewi Suci.

Kau bisa melakukan apa saja, di langit maupun di bumi,

terbiasa merebut dengan kekuatan.

Namun, menurutku

secara pribadi,

itu namanya gegabah.

Kau harus coba percaya orang lain,

mungkin

bisa dapat hasil yang lebih baik.

Orang-orang di Desa Xiong ini

kelihatannya jujur,

sebenarnya sama sepertimu,

sama buruknya.

Bisa-bisanya memakai racun.

Racun?

Maksudmu panah ini?

Panah ini tidak beracun.

Tidak mungkin.

Sekarang aku merasa seluruh tubuh lemas,

dan kepalaku pusing.

Hanya luka panah biasa,

kenapa bisa begini?

Peri,

kau

sudah berhari-hari tidak makan.

Tidak apa-apa.

Kalau begitu, ayo.

Ini

adalah penawar yang khusus aku racik untukmu.

Setelah meminumnya, kau akan sembuh.

Ayo.

Makanlah.

Tenang saja.

Aku tidak akan menyakitimu.

Jika aku ingin menyakitimu,

kenapa aku harus bertindak di tanah terlarang tadi?

Ini datang dari mana?

Ini?

Ini...

Ini...

Ini aku...

Aku jujur saja padamu.

Kau tidak keracunan,

kau hanya lapar.

Kau menipuku lagi.

Manusia fana baru bisa lapar.

Mana mungkin aku tidak tahu?

Peri tentu tahu rasa lapar.

Namun, kau dulu adalah peri langit,

kau tidak masalah kalau tidak makan atau minum.

Kau tidak pernah merasakan lapar.

Tahu rasa lapar,

dan merasakan lapar itu dua hal yang berbeda.

Ya sudah kalau kau tidak mau makan.

Enak sekali.

Lumayan manis.

Aku yang memanggangnya.

Memangnya kau pikir?

Jangan bergerak.

Lumpur.

Bagian sini.

♪Berdiri di puncak awan, bahu membahu dengan matahari dan bulan♪

♪Terukir di hati, memikirkan rakyat jelata♪

Masih ada sedikit.

Masih ada sedikit.

♪Tidak pernah terbayangkan pertemuan di Dunia Primordial♪

♪Pemuda ini, awalnya sulit disukai♪

♪Berulang kali, teringat beberapa kali berpapasan♪

Di bawah sinar rembulan.

Changshou,

kau harus berjuang ya!

[Li Changshou]

Bukankah tanganmu lebih kotor?

Ya, sepertinya begitu.

Kau lihat bintang jatuh itu?

Bintang jatuh.

Dengar, ya.

Orang-orang di kampung halaman kami,

akan membuat permohonan begitu melihat bintang jatuh.

Mereka percaya permohonan itu pasti terkabulkan.

Konyol.

Bintang jatuh apaan?

Itu Dewa Bintang yang sedang berjalan.

Tidak sengaja terjatuh.

Lalu yang itu.

Lihat yang paling terang di utara sana?

Yang paling terang itu.

Cantik tidak?

Bagus tidak?

Dewa Bintang itu?

Aku mengenalnya.

Dia terang

karena dia botak.

Peri.

Aku tahu kau kenal para Dewa Bintang.

Namun, kau belum pernah

mengamati mereka dengan saksama

dari sudut pandang ini di Bumi, 'kan?

Langit malam yang luas ini, bukankah indah?

Hanya dengan menjadi manusia,

baru bisa merasakan kebahagiaan ini.

Namun, tubuh manusia

sangat rapuh.

Peri,

kau terlahir dengan kekuatan bawaan.

Sudah terbiasa melayang-layang sebagai peri.

Ini pertama kalinya

kau menjadi orang yang membumi.

Kesempatan langka.

Kenapa tidak menikmatinya dengan baik?

Benarkah menjadi manusia itu

begitu bahagia?

Tentu saja

tidak bahagia.

Tidak memiliki kekuatan sihir,

tubuh rapuh,

lahir, menua, sakit, mati,

semuanya lengkap.

Usia hanya beberapa dekade,

itulah kenapa begitu banyak orang ingin menjadi dewa.

Kalau begitu,

bagaimana cara menikmatinya?

Justru karena menjadi manusia itu sulit,

maka

makan sampai kenyang saja,

sudah bisa merasakan bahagia.

Lalu tidur nyenyak

juga bisa merasakan bahagia.

Hari ini selesai kerja lebih awal,

besok mulai kerja lebih siang,

tidak perlu bangun pagi,

bukankah itu lebih bahagia lagi?

Benar.

Namun, kebahagiaan itu

sudah lama tidak kubutuhkan.

Siapa bilang?

Aku tahu,

kebahagiaan Peri adalah

berbagai macam harta karun ajaib.

Kau pikir aku melakukan semua ini demi diriku sendiri?

Kalau demi diriku sendiri,

aku bisa saja hidup bebas,

kenapa harus bertarung dengan orang lain di mana-mana,

sampai terjebak di pulau terpencil ini?

Jika bukan karena semua yang aku hargai,

jika bukan karena

malapetaka dunia yang akan datang...

Malapetaka dunia?

Keindahan langit berbintang yang kau katakan ini,

aku tidak mengerti.

Kau juga tidak akan mengerti

beban yang kupikul.

Pedang Xianyuan pasti akan kubawa pergi.

Kau tidak perlu banyak bicara.

Kau pergilah sendiri.

Jadi...

Tentu saja aku ingin pergi.

Aku... aku tidak bisa pergi.

Aku mengerti.

Aku tidak mengerti

misi

yang dipikul Peri.

Peri pasti

tidak tahu masa depan yang kuhadapi.

Benar, 'kan?

Peri,

jika aku membantumu,

apakah kau percaya padaku?

Kau ingin membantuku?

Aku perlu kau percaya padaku.

Coba ceritakan.

Masih ingat cerita hantu

dari Hua Ritian?

Itu semua hanya karangan belaka.

Kebohongan terbaik apa pun,

tidak mungkin semuanya palsu.

Lihat orang-orang di Desa Xiong ini,

setiap hari bekerja keras,

bekerja tanpa mengeluh,

dan mencuci otak dengan nyanyian dan tarian.

Menurutmu, apakah mereka suka seperti ini?

Tidak suka.

Mereka takut.

Takut terhadap Dewa di sini

yang bisa menurunkan hukuman kapan saja.

Jika memang begitu,

apa rencanamu?

Karena penduduk Desa Xiong percaya pada dewa,

kenapa

Peri dan aku

tidak bisa

menjadi Dewa ini?

[Di dunia Ini Sama Sekali Tidak Ada Dewa]

[Karena Kami Adalah Dewa]

Makanannya datang.

Baru matang.

Harum sekali.

Lumayan enak.

Semuanya, berhenti sebentar.

Semuanya dengarkan baik-baik.

Di dunia ini...

Sama sekali tidak ada dewa.

Kenapa kau omong kosong?

Awasi Bai Shi dengan ketat.

Apa pun yang terjadi,

jangan alihkan pandanganmu.

Siluman laut!

Siluman laut datang!

Naik ke gunung!

Cari Xiong Laosan!

Semuanya, ikuti aku!

- Cepat! - Ikuti aku!

Ikuti!

Cepat!

Peri.

Perlu memegang erat seperti ini?

Aku memegangmu,

jika siluman laut menangkapmu,

aku juga bisa merasakannya.

Terima kasih atas perhatianmu, Peri.

Siapa yang perhatian padamu?

Kau berjanji akan membantuku mencari pedang.

Jika kau ditangkap siluman laut,

siapa yang akan membantuku mencarinya?

Dasar bajingan!

Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu.

Kenapa kau merebutnya dariku?

Kalau Peri yang mengatakannya,

yang kini dalam bahaya,

bukankah Peri sendiri?

Kau...

Aku tidak peduli.

Kau berjanji akan membantuku mencari pedang.

Jika kau berani mati di sini,

biarpun harus ke dunia akhirat,

aku juga akan pergi

untuk menangkapmu kembali.

Jangan khawatir.

Tanganmu

tidak akan kulepaskan.

Kenapa kau bersembunyi di sana?

Aku tidak bersembunyi.

Lalu kenapa kau terus mengintipku?

Aku tidak mengintip.

Kak Hua menyuruhku mengawasimu.

Kalau tidak, kau bisa menghilang kapan saja.

Andai saja aku bisa menghilang semudah itu.

Saudara Bai, jika kita bersatu,

pasti kita bisa melewati malapetaka ini dengan selamat.

Selama ada kami,

kau tidak perlu takut.

Aku tidak takut.

Justru kau yang takut.

Kau tidak perlu takut.

Mereka pergi meminta bantuan.

Kau akan segera tertolong.

Bantuan yang mereka cari

adalah ayah kandung Xiong Lingli,

Tetua Desa Xiong,

Xiong Laosan.

Tetua Xiong Laosan adalah pemimpin

yang paling bijaksana,

paling berwibawa

dan paling dikagumi di Desa Xiong.

[Xiong Laosan, Tetua Desa Xiong] Dia hidup menyendiri di tanah terlarang

di puncak gunung.

Dia hanya akan muncul

saat Desa Xiong dalam bahaya.

Ayah!

Ayah!

Ayah!

Ayah!

Ada siluman laut.

Siluman laut.

Ada siluman laut.

Siluman laut.

Siluman laut datang, siluman laut.

Bagaimana ini?

Yang seharusnya datang,

pasti akan datang.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Bagaimana ini?

Bagaimana?

Kenapa kalian semua panik?

Xiong Da, Xiong Er,

siapkan persembahan.

Nyalakan altar!

Pulau Xiong sungguh indah.

Kami cinta Pulau Xiong.

Dengarkanlah kata para dewa.

Hidup abadi selamanya.

Sudah memohon pada dewa.

Kau bisa selamat.

Kau tidak perlu takut.

Dewa?

Dewa apa?

Kau selamat.

Selamat apa?

Bagaimana bisa selamat?

Ada apa ini?

Cerita sebelumnya belum selesai,

sekarang pas bisa dilanjutkan.

Setelah siluman laut menyerang,

dan memakan orang waktu itu,

penduduk Desa Xiong

lari ke puncak gunung

untuk memanggil Xiong Laosan.

Xiong Laosan merapal mantra di altar,

dan memanggil dewa.

Dewa itulah

yang mengalahkan siluman laut,

menyelamatkan Desa Xiong.

Dewa?

Benar.

Dunia ini benar-benar ada dewa.

Kau terselamatkan.

Dewa Agung!

Lindungilah Pulau Xiong.

Dengarkanlah kata para dewa.

Hidup abadi selamanya.

[Lao Dao, Wang Cai]

Dengarkanlah kata para dewa.

Hidup abadi selamanya.

Ini...

Sihir apa?

Kau lihat!

Le.

Kau tidak apa-apa?

Aku tidak bisa mengawasinya lagi, Kak Hua.

Mataku jadi gelap.

Iya dan tidak.

Jadi, apa itu?

Ini formasi.

Formasi?

Aku sudah memeriksa fengsui di pulau ini dengan saksama.

Ingin mencari apakah ada formasi

yang membatasi kekuatan sihir kita.

Namun, setelah aku berpikir lagi,

Peri memiliki energi kultivasi Calon Dewi Suci.

Jika ingin menggunakan formasi

untuk membatasi kekuatan sihirmu,

itu pasti formasi yang luar biasa besar.

Lagi pula Pulau Xiong ini sangat kecil,

tidak mungkin memasang formasi sebesar itu.

Namun, kebetulan sekali

aku menemukan sebuah Formasi Melayang kecil.

Tidak disangka

ternyata untuk tujuan ini.

Dewa macam apa?

Hanya peran kecil yang tidak seberapa.

Di luar Pulau Xiong,

tentu saja mereka hanya peran kecil yang tidak seberapa,

tapi di Pulau Xiong,

kekuatan sihir kita hilang,

maka mereka adalah dewa agung.

Namun, yang membuatku penasaran adalah

bagaimana mereka

bisa menggunakan sihir,

dan bagaimana mereka memasang Formasi Melayang yang buruk ini.

Bagus.

Dewa.

Aku sudah merasakan ketulusan kalian.

Karena aku sudah datang kemari,

kalian tidak perlu khawatir lagi.

Bagus sekali.

Terima kasih, Dewa.

Dewa Agung.

Anda turun ke dunia?

Xiong Laosan.

Apakah persembahannya sudah siap?

Sudah siap.

Semuanya sudah kusiapkan di sini.

Sudah diletakkan.

Sudah diletakkan.

Guru.

Tidak ada apa-apa.

Xiong Laosan.

Persembahannya mana?

Bukankah semuanya sudah diletakkan di sini?

Bukankah ini cuma batu?

Iya, memang batu.

Yang kau minta kami gali itu memang batu.

Iya, memang batu.

Kami sampai lelah menggalinya.

Lihatlah anak-anak ini, mereka sampai kelelahan.

Yang aku suruh gali adalah batu?

Benar.

Guru, kalau begitu semua ini

kita bawa pulang saja?

Boleh.

Boleh dibawa semua.

Bawa saja semuanya.

Benar.

Anda bawa saja semuanya.

Jadi, bagaimana?

Mencari nafkah saja.

Wang Cai!

Aku di sini.

Siapkan altar

untuk melakukan ritual.

Xiong Da.

Ya.

Xiong Er.

Pukul gendang

untuk Dewa Agung,

buat menggetarkan kekuatan.

Baik.

Tolong!

Tolong!

Tolong!

Dewa Agung, tolong! Dewa Agung!

Dewa Agung, selamatkan aku!

Dewa Agung, tolong!

Apa yang terjadi?

Awasi dia!

Sedang diawasi.

Kenapa panik?

Dia terlalu lincah.

Bukankah siluman laut sudah kuusir?

Tidak, siluman laut belum pergi.

Siluman laut belum pergi, Dewa Agung.

Kalau tidak percaya, coba dengarlah.

Kalian dengarlah.

Siluman laut belum pergi.

Tolong aku, Dewa Agung.

Xiong Da, kau dengar tidak?

Siluman laut datang.

Siluman laut.

Jangan cari aku.

Xiong Lingli, tolong aku.

Tolong aku.

Tidak bisa, aku tidak bisa menolongmu.

Xiong Er, kau pergi lawan siluman laut.

- Lawan siluman laut. - Jangan cari aku.

Bukan, Guru.

Bukankah siluman laut seharusnya sudah pergi?

Iya.

Seharusnya sudah pergi.

Lalu ini...

Bajingan sialan.

Kalau cara ini tidak berhasil,

lihat saja nanti bagaimana aku menghajarmu.

Kak Ritian.

Hanya kau yang bisa menyelamatkanku.

Siluman laut belum pergi.

Guru.

Apakah orang ini

dari pihak kita?

Belum pernah lihat.

Siluman laut belum pergi.

Apa yang mau kau lakukan?

Bantu aku sebentar.

Tolong selamatkan aku.

Tolong selamatkan aku.

Kumohon, selamatkan aku.

Tolong!

Tolong!

Siluman laut.

Mundur!

Dasar berengsek.

Siluman laut sudah pergi.

Siluman laut sudah pergi.

Benar-benar hilang.

Terima kasih banyak, Kak Ritian.

Jika bukan karena kau menyelamatkan nyawaku,

aku tidak tahu harus berbuat apa.

Mulai sekarang,

aku pasti akan berguru denganmu.

Setiap hari melayanimu,

dan mengikutimu.

Terimalah penghormatanku, Dewa Agung.

Terima juga penghormatan kami.

Terima juga penghormatan kami.

Terima juga penghormatanku, Dewa Agung.

Terima juga penghormatan kami.

Bukan.

Kenapa kau ikut campur?

Terima penghormatan kami.

Terima penghormatan kami.

Dewa Agung, terima penghormatan kami.

Dewa Agung.

Lancang sekali!

Dewa Agung.

Dewa kecil dari mana kau?

Berani menantang Sekte Xifang?

Tidak.

Aku bukan...

Dia bukan Dewa kecil.

Dia bisa mengusir siluman laut, apa mungkin dia Dewa kecil?

Bagaimanapun,

dia itu Dewa Agung.

Benar.

Benar.

Dia pasti seorang Dewa Agung.

Kak Hua sembunyikan energi kultivasinya karena takut membuat kalian terkejut.

- Benar. - Jika dia mengerahkan seluruh kekuatan,

membolak-balikkan lautan

bukan masalah.

Generasi muda yang tidak tahu apa-apa!

Berani sekali

kalian meragukan kekuatan kultivator Sekte Xifang.

Kalian para petani desa,

melayani Dewa

akan mendapat perlindungan ilahi,

kebal terhadap senjata,

juga api dan air.

Tidak akan terluka meski dipukul atau dilukai.

Hari ini,

akan kutunjukkan pada kalian.

- Aku tidak percaya. - Bagus!

Bagus!

Bagus!

Bagus sekali!

Wang Cai!

Kau beri contoh pada mereka.

Bagus!

Guru, kau serius...

Nona, bisakah maju untuk mencoba?

Aku?

Kau yakin mau aku memukulmu?

Nona, silakan kerahkan seluruh kekuatanmu.

Wang Cai!

Wang Cai!

Wang Cai!

Wang Cai!

Guru.

Ke depannya kita

jangan datang ke desa ini lagi.

Tidak datang lagi.

Bisakah?

Tidak datang lagi.

Tidak akan datang lagi.

Dewa, jangan pergi!

Dewa, aku memukul terlalu kuat.

Maafkan aku.

Bangunlah.

Bangun!

♪Tubuh berlumur darah melawan ketidakpastian♪

Terbanglah.

Bangunlah!

Bangunlah!

- Dewa Agung! - Jangan mendekat!

Jangan mendekat lagi!

Kalau mendekat lagi, aku akan melompat.

Dewa!

Ayah.

Jangan melompat, Dewa!

Apa salah Pulau Xiong?

Silakan katakan saja.

Kami hanyalah manusia fana

yang lemah tidak berdaya.

Membutuhkan perlindunganmu.

Jangan melompat!

Aku mengerti.

Ini semua karena kita tidak memberikan persembahan kepada dewa.

Dia...

Dia marah.

Kalau begitu, mari kita keluarkan persembahan

untuk dewa.

Ayo!

Dewa, silakan diterima.

♪Hanya manusia fana, tidak mau kalah♪

Lingli.

Aku...

Kau malah melempar dewa hingga mati?

Aku tidak sengaja.

- Hari ini aku... - Kupukul...

- Kuhajar kau. - Aku tidak sengaja.

Masih bilang tidak sengaja?

Apa dewa yang bisa terbunuh oleh batu

termasuk dewa sungguhan?

Benar, Ayah.

Dewa

yang bisa terbunuh oleh batu,

apakah itu dewa sungguhan?

Lingli!

Pulau Xiong

sebenarnya adalah tanah yang diberkati.

Kalian orangnya.

Kalian orang luar

memiliki keraguan,

sehingga mendatangkan siluman laut.

Sekarang malah menyebarkan fitnah

untuk mencelakai Dewa.

Dewa telah mati,

kita harus bagaimana?

Pulau Xiong harus bagaimana?

Ayah, kau tidak apa-apa?

Ayah!

Itu...

Ayah!

Dewa sudah mati,

kalau begitu cari saja dewa lain.

Cih!

Mudah sekali kau bicara.

Kau pikir

bisa dicari dengan mudah?

Memangnya bisa dicari di mana?

Siapa yang bisa mengusir siluman laut,

dialah dewa.

Di sana.

Yang duduk itu.

Bukankah itu sudah ada?

Dewa sungguhan.

Aku?

Hanya...

Dia?

Kalian melihat sendiri

dewa palsu itu

tidak bisa mengusir siluman laut.

Dewa asli inilah yang mengusir siluman laut.

Dulu

ada juga orang yang mengaku sebagai dewa.

Itu palsu.

Kalau percaya pada mereka,

Pulau Xiong akan tertimpa bencana besar.

Betul.

Akan tertimpa bencana.

Benar sekali.

Bencana besar.

Bencana besar apa?

Tahu apa akibatnya bagi mereka?

Tahu?

Tahu?

Apa akibatnya?

Bakar mereka hidup-hidup,

sebagai persembahan untuk dewa laut.

Untuk menenangkan amarah Dewa Agung Sekte Xifang.

Akan bakar mereka hidup-hidup.

Bakar mereka hidup-hidup.

Kaulah orang luar.

Berbicara menyesatkan orang.

Akan kubakar kau!

Bakar saja.

Bakar saja.

Dia yang paling tahan bakar.

- Bakar saja. - Benar, bakar saja.

- Bakar, bakar saja. - Akan kubakar kau,

dan dipersembahkan untuk siluman laut.

Bukan aku.

Dia!

Kaulah yang akan kubakar

untuk dipersembahkan kepada Langit!

Bakar!

Bakar, bakar dia!

Bakar, bakar dia!

Bakar sampai mati!

Bakar!

Bakar sampai mati!

Kenapa kau tertawa?

Bukankah hanya siluman laut?

Aku akan mengajari kalian

cara mengalahkan siluman laut.

Mengalahkan siluman laut?

Belum pernah dengar

nama besar Sekte Dewa Laut?

Sekte Dewa Laut?

Sekte Dewa Laut?

Percaya pada Dewa Laut,

dapat kekuatan besar.

Aku tidak pura-pura lagi.

Benar.

Aku

adalah ketua Sekte Dewa Laut.

Selama kalian percaya pada Sekte Dewa Laut,

kalian

akan menjadi kuat.

Jika kau berbohong,

aku akan segera membakarmu.

Bakar aku?

Jika siluman laut datang lagi, kalian pasti mati.

Ya.

Tidak boleh dibakar.

Dew asli sudah mati, dia...

Ayah, tidak boleh dibakar.

Jangan dibakar.

Kalau siluman laut datang,

kita harus bagaimana?

Benar.

Tidak boleh dibakar.

Ayah.

Tiga hari.

Aku hanya butuh waktu tiga hari.

Dalam tiga hari,

aku akan membuat kalian cukup kuat untuk

mengalahkan siluman laut.

Kumohon padamu.

Kau yang membuatku jadi begini.

Kau tidak boleh berpangku tangan.

Kau biarkan saja mereka mengorbankanmu.

Kita bisa bertemu, ini adalah jodoh.

Masa kau tega membiarkanku mati?

Ya, tega.

Dia menyuruhku membantunya berakting.

Aku tidak tahu apa-apa.

Ubi bakar yang kau makan itu dari mana?

Tidak!

Kalian

mencuri stok makananku!

Ini miliknya?

Ada namanya?

Tidak ada.

Lihatlah.

Bai Shi.

Qing Luan.

Aku tidak akan mengampuni kalian!

Kau tidak mengejarnya?

Dia akan kembali.

Tempat terkutuk ini tidak bisa ditinggali lagi.

Desa Xiong memang tempat yang kumuh.

Siapa yang mau tinggal, silakan saja.

Aku sudah muak.

Kak Hua.

- Kenapa kau ada di sini? - Kenapa kau...

Aku...

Aku rindu rumah.

Kau?

Aku...

Datang mencari inspirasi.

Laut lepas

selalu bisa memberi

lamunan tidak terbatas.

Kata-kata yang mendalam sekali.

Laut lepas

selalu bisa memberi lamunan tidak terbatas.

Lamunan apa?

Ketua, kebetulan sekali.

Sudah makan?

Makanlah.

Ikan mentah?

Harus pakai kecap asin baru enak.

Di Pulau Xiong kami, semua segar tanpa diolah.

Makanlah.

Enak, 'kan?

Ketua.

Terima kasih, ya.

Hari ini aku membunuh Dewa Agung.

Untung ada kau.

Kalau tidak...

Masa lalu

sudah berlalu.

Jangan dipikirkan lagi.

Aku selalu merasa aku adalah orang yang sangat tidak berguna.

Kakak Pertama dan Kakak Kedua begitu kuat.

Hanya aku yang tubuhnya kecil.

Aku bahkan tidak bisa mencapai 100 kg.

Kakak pertamaku bilang kalau aku terus begini,

aku tidak akan bisa menikah seumur hidup.

Kau tersedak?

Biar kubantu tepuk punggungmu.

Tidak perlu.

Tidak apa-apa.

Kemampuan kerjaku kalah dari kakak pertama dan kakak keduaku,

dan selalu membuat masalah di desa.

Kalau bukan karena kau,

ayahku pasti sudah memukulku sampai mati hari ini.

Ketua.

Aku tahu kau bukan orang biasa.

Kau tahu?

Orang biasa

tidak seganteng dirimu.

Benar saja.

Kau adalah Dewa Agung.

Bagus sekali.

Desa kami terselamatkan.

Tidak perlu mengangkat batu lagi.

Terima kasih, Ketua.

Ketua, Anda tenang saja.

Mulai hari ini,

jika Anda punya perintah,

silakan cari aku saja.

Aku pasti akan membantu Ketua

mengalahkan siluman laut secepatnya.

Kau gila?

Ketua, silakan makan dulu.

Aku mau kembali istirahat.

Mulai sekarang,

aku adalah anggota Sekte Dewa Laut.

Semangat, Ketua!

Kak Hua.

Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal dari kami.

Kau tahu?

Aku juga mengerti

kesulitanmu melakukan ini.

Kau mengerti?

Tidak apa-apa.

Entah kau adalah Kak Hua,

atau Ketua Sekte Dewa Laut,

atau orang lain,

semua itu tidak penting.

Aku

tahu identitas aslimu.

Kau benar-benar tahu?

Eh, mana mungkin kau tahu?

Aku tentu...

Aku tentu saja tahu.

Identitas aslimu adalah

seorang pahlawan besar.

Kau selalu maju

di saat rakyat dalam kesulitan.

Kau adalah cahaya yang menghancurkan semua kegelapan

dan menerangi langit malam.

Lampu yang menuntun umat manusia.

Kak Hua.

Kau adalah pahlawan besar.

Kau pasti bisa mengalahkan siluman laut itu

dan menyelamatkan desa ini.

Kau adalah pahlawan besar.

Semangat!

Di mana kapalku?

Pendeta tua itu mengaku dari Sekte Xifang.

Itu sekte kecil yang kurang dikenal di Benua Xiniuhe.

Selama ribuan tahun tidak berselisih,

dan tidak memusuhi Tiga Sekte.

Tidak disangka

mereka diam-diam merambah pulau kecil di Laut Selatan.

Menggunakan siluman laut untuk mengintimidasi Pulau Xiong,

lalu menyebarkan kepanikan untuk menyebarkan ajaran.

Sekte Xifang ini juga bukan aliran yang baik.

Lagi pula, bisa memilih Pulau Xiong,

pasti juga karena menginginkan Pedang Xianyuan.

Jadi kau ingin menggunakan cara mereka

untuk melawan mereka kembali?

Menggunakan sihir,

agar bisa mengalahkan sihir.

Menurut penjelajahan Peri,

lokasi Pedang Xianyuan

seharusnya berada di tanah terlarang Pulau Xiong.

Namun, tanah terlarang Pulau Xiong dijaga oleh Xiong Laosan,

serta ada banyak sekali jebakan dan mekanisme.

Menerobos paksa jelas tidak bisa dilakukan.

Satu-satunya cara saat ini

adalah memanfaatkan nama Dewa Laut

agar Xiong Laosan mau membawa kita masuk.

Kalau mau memalsukan seorang ketua sekte,

kenapa tidak kau sendiri saja?

Karma ini

aku bahkan tidak bisa menghindarinya.

Lalu bagaimana denganku?

Menjadi ketua sekte itu berisiko.

Tidak bisa membiarkan Peri mengambil risiko.

Namun,

bagaimana kau membuat Hua Ritian

kembali menjadi ketua sekte?

Katakanlah.

Apa rencanamu?

[Rencana Kebangkitan Sekte Dewa Laut]

Apa yang paling penting

dalam mendirikan sebuah sekte?

Ketua sekte.

Salah!

Adalah keyakinan.

Keyakinan?

Saat aku kecil, aku pernah dengar,

saat gajah masih kecil, para pawang gajah

akan mengikatnya pada sebuah tiang kayu.

Bagi gajah kecil, tiang kayu itu

sangat kokoh.

Tidak peduli seberapa keras ia berusaha,

gajah kecil tidak bisa lepas dari tiang kayu itu.

Hingga akhirnya ia kehilangan harapan,

percaya bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan tiang kayu itu.

Kemudian,

gajah kecil itu tumbuh dewasa,

menjadi gajah besar.

Ia bisa dengan mudah mencabut tiang kayu kecil itu.

Namun, di hati gajah kecil itu

telah tertanam sebuah

pikiran kecil.

Ia tidak bisa mengalahkan tiang kayu besar ini.

Oleh karena itu,

gajah itu dengan tenang diikat

pada tiang kayu kecil ini,

menjadi gajah yang jinak.

Semua orang di Desa Xiong

adalah gajah yang dijinakkan itu.

Mereka telah dijinakkan terlalu lama,

sampai lupa betapa kuatnya mereka.

Jadi maksudmu...

Benar.

Persis seperti yang kau pikirkan.

Apa yang harus kita lakukan?

Mencabut tiang kayu dari hati mereka,

membuat mereka percaya apa?

Benar.

Tepat sekali.

Begitulah.

Membuat mereka percaya bahwa mereka bisa

mengalahkan siluman laut.

Tepuk tangan kalau sudah paham.

Silakan katakan.

Kau...

Lukisan apa ini?

Lukisan

pasir.

Lukisan

pasir?

Tembak!

♪Tidak perlu bertanya, malas berdebat♪

Naik!

♪Di Dunia Primordial ini♪

♪Siapa yang bernyanyi sambil minum arak♪

♪Bintang tertawa, kunang-kunang berkedip♪

Sejak kecil aku sudah dengar,

para pawang gajah akan mengikat gajah yang masih kecil

- pada tiang kayu yang besar. - Tiang kayu yang besar.

♪Malam ini di dunia, sudah jam berapa♪

♪Asap dapur masih mengepul♪

♪Aku ingin datang dan pergi dengan cepat♪

♪Apa salahnya jika jawabannya menjadi sia-sia♪

Bagus!

♪Kehidupan yang beragam♪

♪Bukankah ada dalam segala hal ini♪

♪Aku minum sambil merasakan angin sejuk♪

♪Riak yang paling stabil♪

Kemudian,

gajah kecil tumbuh menjadi gajah besar.

Namun,

ia sudah tertanam keyakinan

bahwa ia

tidak bisa mengalahkan tiang kayu besar ini.

Semangat!

Semangat!

Tidak apa-apa.

Tidak...

♪Tidak sudi meminjam kekuatan♪

♪Tidak gentar dikejar takdir♪

♪Di Dunia Primordial ini♪

♪Siapa yang mengamuk dengan pedangnya♪

♪Bendera gunung berkibar, ramai sekali♪

♪Menyeringai memamerkan keberanian palsu♪

♪Aku melemparkan cangkir dengan tangan terbuka♪

♪Terbiasa melihat pasang surut♪

♪Siapa yang bisa menghitung jam waktu♪

♪Kalau begitu, santai saja♪

♪Sudah jam berapa malam di dunia ini♪

Aku.

♪Aku ingin datang dan pergi dengan cepat♪

♪Apa salahnya jika jawabannya menjadi sia-sia♪

Mulai!

Sementara Desa Xiong

seperti gajah yang dijinakkan ini,

tidak menyadari kekuatan sendiri.

Kita harus

mencabut tiang kayu di dalam hati kita.

Percaya pada diri sendiri.

Percaya diri kita bisa mengalahkan siluman laut.

Tepuk tangan kalau paham!

♪Hanya senyum dengan tenang♪

Bagus!

Bisa menceritakan kisah yang begitu menyentuh

menjadi begitu menginspirasi.

Inilah alasan aku memilih Hua Ritian

menjadi ketua sekte.

Ulangi lagi, Ketua Sekte!

♪Melihat suka dan duka dunia♪

♪Pertemuan dan perpisahan, takdir tidak terhingga♪

♪Menghela napas, cinta berulang kali berputar♪

♪Kenangan dipenuhi kesedihan♪

♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪

♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪

♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪

♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪

♪Minum arak keruh lagi beberapa gelas♪

♪Ribuan gunung dan sungai, mengundangmu menyertai♪

♪Mengganti dengan kebaikan yang lapang dan mulia♪

♪Sayangnya cerita begitu singkat♪

♪Perlahan harapan di hati menjadi penyesalan♪

♪Kau telah pergi, menghilang bagai asap♪

♪Tangisan ini, takdir hidup belum usai♪

♪Kenangan masa lalu menghilang di malam hari♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.