Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
=Road to Splendor=
(Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Zhi Zhi dari Grup Yuewen)
=Episode 29=
Sandiwara ini
mau kau mainkan sampai kapan?
Jiwa Ibu masih belum tenang.
Namun, kau sudah begitu tidak sabar ingin mengeruk semuanya sampai habis.
Sama seperti caramu memperlakukan Nenek sebelumnya.
Ayah sungguh merasa sakit hati dan merindukan ibumu.
Semuanya,
silakan kembali dulu.
Keluarga Fu yang akan mengatur perihal pemakaman.
- Tuan Zhao, turut berdukacita. - Tuan Zhao, turut berdukacita.
Saat aku menikah,
Ibu masih baik-baik saja.
Kenapa mendadak...
Dia tidak memberitahumu karena takut kau akan merasa bersalah.
Kondisi fisik dan stamina ibumu memang kurang baik.
Dia takut tidak sanggup bertahan,
juga takut perihal berduka akan menghambat pernikahanmu.
Setelah kau menikah,
dia pun bisa tenang.
Napas terakhirnya
gagal dipertahankan.
Ayah dan Ibu sering bertengkar.
Namun, Ibu selalu kalah berdebat dan hanya bisa memendam kekesalannya.
Dia sampai sering minum obat untuk menenangkan diri.
Kupikir dia baik-baik saja
sehingga akhirnya lalai dalam merawatnya.
Jangan berdebat tentang hal-hal ini lagi.
Siapa yang benar atau salah
tidaklah penting.
Yang penting adalah
memakamkan ibumu dengan layak
dan mengantar kepergiannya secara terhormat.
Aku sudah memutuskannya.
Aku akan mendirikan gubuk di sini
untuk menjalani masa berkabung atas kepergian istriku.
Semasa hidupnya, aku lalai dalam merawatnya.
Setelah dia meninggal,
aku tidak berani lalai lagi.
Harapan terakhir Ibu yang sesungguhnya
adalah dimakamkan di kampung halaman.
Dia ingin kembali ke tanah tempat dia berasal.
Aku mau mengantar peti matinya kembali
ke Keluarga Xie di Jiangnan.
Diam!
Sekarang, kau bukan lagi anggota Keluarga Fu.
Apa hakmu ikut campur dengan urusan Keluarga Fu?
Bagaimana denganku? Aku adalah menantu Keluarga Fu.
Apakah aku berhak membuat keputusan untuk Ibu?
Beraninya kau!
Jangan mengira hanya karena ada yang berada di pihak kalian,
kalian berani menentangku.
Dasar kalian para pengkhianat Keluarga Fu!
Nyawaku ini
sudah kukembalikan kepada Keluarga Fu sejak kejadian di Kuil Biyun.
Hari ini, apa pun yang kau katakan,
aku tetap akan mengantar Ibu kembali ke Keluarga Xie di Jiangnan!
Kau menentangku?
Kau...
Bukan hanya membuat Ibu meninggal karena emosi,
kau bahkan ingin memanfaatkan jasadnya untuk mendirikan tugu kehormatan.
Baiklah.
Mulai sekarang, hubungan kita sepenuhnya putus!
Kau berjaga saja di makam kosongmu.
Jaga dirimu dan jalani sisa hidupmu dengan baik!
Baik!
Fu Tingyun, dengarkan baik-baik.
Semasa hidupnya, ibumu adalah anggota Keluarga Fu.
Setelah meninggal pun, dia tetap menjadi arwah Keluarga Fu.
Sekarang, aku yang berhak menentukan di mana kau akan dikubur!
Aku akan membakarnya sekarang juga!
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Aku tidak ingin Ibu
tetap tinggal di tempat ini lebih lama lagi.
Aku sudah meminta Paman
mengatur orang-orang di Jiangnan.
Begitu surat izinnya tiba, Ibu akan diantar kembali
ke kampung halamannya di Jiangnan.
Ibu,
mulai sekarang,
kau tidak perlu lagi menjadi menantu baik Keluarga Fu.
Kau bisa kembali menjadi nona yang tidak punya kekhawatiran,
seperti saat masih berada di Keluarga Xie.
♪Angsa yang kesepian tidak menyadari musim gugur yang dingin♪
♪Jika takdir Langit tidak dapat diminta♪
Leluhur Keluarga Fu ada di Huaying. Lokasinya di arah barat dari ibu kota.
Namun, peti Nyonya Besar Kelima Keluarga Fu justru menuju arah selatan.
Nyonya Besar Kelima Fu memiliki satu permintaan terakhir,
yaitu tidak ingin dimakamkan di makam leluhur Keluarga Fu,
juga tidak ingin dimakamkan bersama Tuan Besar Fu.
Petinya menuju selatan
untuk diantar kembali ke Keluarga Xie di Jiangnan.
Tuan Besar Kelima Keluarga Fu menyebut dirinya berbakti.
Namun, kedua anaknya hanya berbakti kepada ibu, tidak kepada ayah.
Terlihat jelas bahwa dia pasti melakukan hal-hal yang tidak patut di balik pintu.
Aku bermaksud kembali ke Huaying untuk menemani kakakmu.
Namun, Ayah bersikeras tetap tinggal di ibu kota.
Jika dia mencari masalah denganmu, kirimlah surat kepadaku.
Aku akan memohon Tetua Klan agar turun tangan untuk membelamu.
Kakak Ipar telah mewujudkan harapan terakhir Ibu
dengan mengantarnya kembali ke Jiangnan.
Kau pasti akan dikritik banyak orang.
Kakak Ipar sudah menderita.
Lapor, Kaisar.
Beberapa waktu lalu, di upacara pernikahannya,
Tuan Zhao bersumpah akan mengakui Nyonya Besar Kelima Fu sebagai ibunya,
serta menghormati dan merawatnya seperti ibu kandungnya sendiri.
Hal ini menjadi kisah yang indah di ibu kota.
Kini, Nyonya Besar Kelima Fu telah meninggal,
tapi tidak terlihat Tuan Zhao menjalankan masa berkabung.
Jika berbakti hanya sebatas ucapan, rakyat tentu akan kecewa.
Bagaimana bisa perilaku seperti ini menjadi panutan para pejabat?
Salah. Ucapan itu hanyalah sekadar formalitas.
Apakah dia sungguh harus menjalankan masa berkabung?
Bukankah ini sembrono?
Kaisar, hamba memang ingin
menganjurkan diri untuk berkabung selama 100 hari
untuk menemani istriku
dan mengantar kepergian ibu mertuaku.
Baik.
Tindakan Pejabat Zhao ini adalah tindakan yang sangat berbakti.
Kuizinkan.
Nyonya terlalu banyak pikiran.
Dia baru kehilangan ibunya.
Biarkan dia beristirahat sejenak.
Aku membangunkanmu, ya?
Ayo.
Minum obat dulu.
Aku menambahkan
sebelas gram manisan bunga osmanthus ke dalam obat ini.
Tidak pahit.
Kenapa Tuan Kesembilan tidak menghadiri rapat istana hari ini?
Tuan Kesembilan sengaja mendirikan aula leluhur
dan menjalani masa berkabung selama 100 hari untuk Nyonya Besar Kelima.
Menurut aturan etika,
menantu tidak perlu berkabung untuk ibu mertuanya,
apalagi diberhentikan dari jabatan dan dilarang mengikuti rapat istana.
Sekarang adalah masa terpenting dalam penyelidikan kasus.
Aku khawatir akan menjadi beban bagimu.
Mulai sekarang,
jangan pernah bilang kau membebaniku.
Ibu Mertua tulus dalam memperlakukanku.
Masa berkabung selama 100 hari ini kujalani secara sukarela.
Ini tidak berkaitan dengan hukum etika,
melainkan dengan hati.
Apalagi, negeri sebesar ini. Tidak mungkin roda pemerintahan terhenti
hanya karena kekurangan satu orang sepertiku.
Tenang saja.
Memeriksa catatan keuangan memang membutuhkan banyak upaya.
Namun, aku sudah mengaturnya.
Yang terpenting bagiku sekarang
adalah kesehatanmu.
Mari kita bersama-sama
mengantar kepergian Ibu Mertua.
Kau masih merasa tidak enak badan?
Aku akan memanggil tabib.
Tidak apa-apa.
Aku hanya teringat pada Ibu.
(Setelah masa berkabung 100 hari)
(Kepala Biro Administrasi Kementerian Pendapatan)
Setiap catatan harus dihitung dengan jelas.
- Baik. - Baik.
(Biro Pengawasan)
Tuan Liu.
- Tidak boleh terjadi kesalahan. - Baik.
Semuanya, kerjakan dengan teliti!
- Baik. - Baik.
(Hari ini dilaporkan kelebihan 300 kuota garam)
Lapor, Kaisar.
Catatan keuangan pajak garam Anzhou sudah selesai diperiksa.
Memang ada masalah.
Lapor, Kaisar.
Kementerian Pendapatan memeriksa catatan keuangan dari setiap daerah
selama enam tahun terakhir
sejak penerapan sistem perdagangan garam lama.
Setelah diperiksa, penerbitan izin usaha garam,
penyusutan dalam perjalanan, dan berbagai hal lainnya
ternyata memiliki banyak celah.
Hanya dalam musim gugur dan musim dingin tahun lalu,
kerugiannya sudah mencapai 100.000 tahil.
Pejabat Yu,
selama ini, kau yang menangani urusan garam di Anzhou.
Hamba memang lalai dalam mengawasi. Harap Kaisar menjatuhkan hukuman.
Namun...
Lapor, Kaisar.
Biro Pengawasan juga telah memeriksa pajak garam dari berbagai daerah
dan menemukan bahwa perbedaan jumlah izin usaha garam
dan penyusutan di gudang memang sering terjadi.
Tahun lalu, jumlah penyusutan di tiga wilayah militer Barat Laut
bahkan lebih besar daripada di Anzhou.
Kenapa Biro Pengawasan juga ikut menyelidiki kasus ini?
Tuan jelas tahu Kementerian Pendapatan sedang menyelidiki Anzhou.
Kenapa tidak bekerja sama dalam penyelidikan?
Biro Pengawasan bertindak tanpa izin,
dikhawatirkan justru akan mengaburkan kebenaran.
Jika Barat Laut sungguh merugi, hamba bersedia menyelidikinya.
Sudah.
Sejak dulu, pajak garam memang selalu penuh kekacauan dalam pembukuannya.
Kini, kalian menyelidiki hingga dasarnya.
Apakah karena merasa pemerintahanku terlalu tenang?
Menurut hamba,
Tuan Zhao menyelidiki catatan lama hanya untuk menutupi kerugian.
Jika bisa memberikan nominal spesifik,
hamba bersedia
mencari cara untuk mengumpulkannya.
- Kaisar... - Penyusutan gudang yang wajar
selalu ada dari zaman dulu.
Hari ini, cukup sampai di sini dulu. Rapat selesai.
- Mengantar Kaisar. - Mengantar Kaisar.
Tuan Zhao.
Anak muda harus mempunyai batasan dalam bertindak.
Jika terlalu gegabah, bisa-bisa keluarga ikut terseret.
Apa maksud ucapan ini?
Jika bukan karena kau terburu-buru memeriksa catatan keuangan,
bagaimana mungkin
ibu mertuamu akan pergi secepat itu?
Namun, hari ini, kau kehilangan ibu mertuamu.
Besok,
entah siapa lagi yang akan menjadi korban.
Mohon Kesatria mengantarnya ke ibu kota.
Aku bersedia memberimu 10.000 tahil perak sebagai imbalan.
Aku hanya berharap kalian berdua kelak selalu sehati dan sejalan,
serta mampu melewati segala badai bersama.
Semoga menjadi pasangan yang serasi, saling setia hingga akhir hayat,
jodoh yang telah ditakdirkan Langit, dan menua bersama dalam kebahagiaan.
Ke depannya, semoga
kau menunggangi kuda yang gagah dan menuju masa depan cemerlang.
Terima kasih, Ibu.
(Ramuan Shenfu Pemulih Penyelamat Nyawa)
Siapa?
Jika bukan karena kau terburu-buru memeriksa catatan keuangan,
bagaimana mungkin
ibu mertuamu akan pergi secepat itu?
Apakah kau ingat resep ini?
Tuan Zhao.
Aku sudah tua dan pandanganku kabur sehingga tidak bisa melihatnya.
Coba kau lihat lagi.
Pengurus Kedai Obat Rengui di kabupaten sebelah
berkata bahwa kau rela bepergian jauh demi mengambil obat dari resep ini.
Nyonya!
Kesehatan istriku tidak baik. Itu resep untuk menenangkan pikiran.
Apa yang ingin kau lakukan?
Semangkuk obat ini
disiapkan menurut resep itu.
Jika itu ramuan obat untuk menenangkan pikiran,
bagaimana jika kau cicipi sendiri?
Kau ingin membunuhku?
Zhao Ling, kau tidak sadar diri. Kau ingin membunuhku?
Apakah kau tahu siapa penyokong di belakangku?
Apakah kau sanggup menyinggungnya?
Siapa?
Apakah Keluarga Yu?
Sebaiknya kau memikirkan alasan aku bisa berada di sini malam ini,
juga siapa yang memberitahuku semua perbuatanmu.
Yu Guodong, dasar tua bangka! Beraninya kau mengkhianatiku.
Menantuk baikku,
ini adalah semua surat-suratku dengan Keluarga Yu.
Mereka yang menyuruhku melakukan semua perbuatan jahat itu.
Selain itu, Nyonya Yu yang menghasutku untuk menyuruh Bibi Li memfitnahmu.
Nyonya Xie juga sama,
Kematian Nyonya Xie pun diatur oleh mereka.
Ambillah. Semuanya untukmu.
Anggap saja ini kasih sayang Ayah Mertua kepadamu.
Jangan!
Meskipun surat ini dibuang, masih ada kesaksianku.
Pasti bisa menjatuhkan mereka. Tolong ampuni aku.
Menantu baikku, tolong ampuni aku, ya?
Jika kau melepaskanku,
ke depannya aku tidak akan mengungkit tentang membalas dendam lagi.
Aku hanya akan menjadi Kepala Keluarga Fu yang hidup santai.
Kaisar memerintah negara dengan menjunjung kebaktian.
Aku pasti akan menyebarkan reputasi kebaktianmu.
Ini pasti akan bermanfaat bagi prestasi dan kariermu.
Kumohon, lepaskanlah aku, ya?
Saat ini, jika Ibu Mertua masih ada
dan kau bersedia mengeluarkan semua ini,
aku mungkin akan menghargai Quanhui
dan memanggilmu Ayah Mertua.
Kini, jika aku menerimanya,
Ibu Mertua harus ditempatkan di mana?
Zhao Ling, kau adalah pejabat tingkat empat.
Pejabat tingkat empat!
Dalam lima tahun, kau telah mencapai kedudukan
yang bahkan tidak pernah bisa kuraih seumur hidupku.
Apakah kau masih menginginkan masa depanmu yang cerah?
Ampunilah aku.
Berdasarkan ucapanmu,
ramuan obat ini
berkhasiat untuk menenangkan pikiran.
Aku tidak mau apa pun lagi. Tolong ampuni aku, ya?
Zhao Ling!
Meski sudah kehilangan hati nurani, aku tetaplah ayah kandung Fu Tingyun!
Kalian berdua akan menerima karmanya!
Karma ini
akan kutanggung sendirian.
Aku
adalah hukum karmamu.
Aku tidak mau apa pun lagi. Kumohon, ampunilah aku.
Kumohon, ampunilah aku!
(Pondok Awan)
Bereskan sampai bersih.
Jangan sampai menyisakan celah
untuk dimanfaatkan orang lain.
Baik.
Nyonya, pelayan dari kediaman Tuan Besar Kelima Fu
berkata ada urusan mendesak dan ingin bertemu denganmu.
Persilakan mereka masuk.
Masuklah.
Nona Kesembilan, terjadi masalah di Keluarga Fu.
Mohon Anda memberikan arahan.
Pada hari pemakaman Ibu, aku sudah berkata
akan memutuskan hubungan dengan Tuan Besar Kelima.
Aku bukan lagi anggota Keluarga Fu.
Masalah apa lagi yang menimpanya
sampai-sampai aku diminta membantu mengambil keputusan?
Tuan Besar Kelima
telah meninggal.
Apa katamu?
Kemarin hujan lebat. Pondok jeraminya bocor parah.
Tuan Besar pun memerintahkan kami
menebang pohon di gunung untuk memperbaiki atap pondok.
Kami bekerja sepanjang malam.
Saat pulang dini hari ini,
pondok jerami sudah terbakar oleh api hingga menjadi arang.
Aku mendengar dari penduduk gunung
bahwa pukul sebelas malam kemarin, terlihat kobaran api besar.
Setelah berteriak lama, tetap tidak ada yang menjawab.
Bukankah tadi kau sudah bilang?
Semalam hujan deras hingga atap pondok jerami bocor.
Kalau begitu, bagaimana mungkin bisa terjadi kebakaran?
Kami sungguh tidak tahu.
Tuan Ketujuh sudah membawa jenazah pulang ke kampung halaman.
Di kediaman, tidak ada orang yang bisa membuat keputusan lagi.
Selanjutnya,
urusan melapor kepada pejabat, memasukkan jenazah ke peti,
serta segala prosesi lainnya harus dilaporkan pada biro pemerintahan.
Kami hanya bisa memohon kepada Anda untuk membantu mengurus semuanya.
Sebelum Kakak Ketujuh dan Kakak Ipar Ketujuh pergi,
mereka memberikan stempel pribadi kepadaku.
Ambillah surat rekomendasi dan laporkan kematian ke biro pemerintahan.
Aku akan mengirim surat ke kediaman di Huaying.
Pemakamannya disederhanakan.
Aku akan meminta pengurus gudang keuangan
menyiapkan daftar peti mati dan pakaian jenazah yang dibutuhkan.
Akan kuserahkan kepada kalian satu jam kemudian.
Aku juga akan memberikan uang yang dibutuhkan kepada kalian.
- Terima kasih, Nona Kesembilan. - Terima kasih, Nona Kesembilan.
Kau bersedia membantunya mengurus pemakaman.
Ketulusan hati ini termasuk sudah membalas hubungan darah dengannya.
Jika kau tidak kuat untuk mengurus pemakamannya,
beri tahu Tuan Kesembilan.
Biar Tuan Kesembilan yang membantumu mengurusnya.
Tuan Kesembilan.
Tadi malam, Tuan Kesembilan tidak pulang.
Dia baru kembali pagi-pagi ini.
Pagi ini, pelayan Keluarga Fu datang melapor
bahwa pondok jerami kebakaran.
Ayah
tidak berhasil melarikan diri.
Dia sudah terbiasa berkabung di pondok.
Dupa dinyalakan siang dan malam.
Wajar jika ada kelalaian.
Tadi malam, Tuan Kesembilan
pergi ke mana?
Apakah kau pergi ke Balai Pengawal?
Aku dan dia sudah memutuskan hubungan.
Ke depannya, kami tidak berkaitan lagi.
Untuk apa Tuan Kesembilan melibatkan diri dengannya?
Bagaimanapun, dia adalah ayah kandungku.
Sebanyak apa pun kesalahannya,
tetap tidak pantas diperlakukan seperti ini.
Apalagi, tidak sepatutnya kau yang melakukan hal ini.
Dosa Tuan Besar Kelima sangat berat.
Terkait masalah Bibi Li sebelumnya,
dialah yang mencapai kesepakatan dengan Keluarga Yu.
untuk bekerja sama dari dalam dan luar.
Daripada mewaspadai penjahat setiap hari,
lebih baik...
Quanhui,
kau marah kepadaku?
Aku hanya tidak paham.
Apa sebenarnya alasanmu
hingga bisa melanggar batas moral?
Ada 10.000 alasan untuk membunuhnya,
tapi alasan Tuan Kesembilan
justru adalah alasan ke-10.001.
Sebaiknya memberi tahu Kakak Ipar saja.
Kalau terus begini, hubungan suami istri mereka pasti akan merenggang.
Kau yang beri tahu.
Aku tidak mau. Kau saja.
Aku tidak berani.
Ikatan orang tua dan anak.
Jika Kakak Ipar tahu
bahwa ibu kandungnya dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri, ini...
Apakah Langit ingin Tuan Kesembilan menderita sampai hatinya hancur?
(Jika bukan karena kau terburu-buru memeriksa catatan keuangan,)
(bagaimana mungkin)
(ibu mertuamu akan pergi secepat itu?)
(Namun, hari ini, kau kehilangan ibu mertuamu.)
(Besok,)
(entah siapa lagi yang akan menjadi korban.)
(Keluarga Yu, aku ingin kalian membayar utang darah ini!)
(Kediaman Xie)
Tuan Zhao, suasana hatimu hari ini benar-benar bagus.
Tidak mungkin sengaja mengundang kami kemari
hanya untuk mengagumi ikan, 'kan?
Tuan Wei, jangan meremehkan ikan koi di kolam ini.
Makhluk ini terlihat biasa saja,
tapi latar belakangnya tidaklah biasa.
Ikan yang ini sangat gemuk. Tuan Zhao, apakah ada rahasianya?
Ikan ini
berasal dari Prefektur Yongning.
Setiap generasinya lahir di rumah pejabat.
Ada satu keturunannya
yang pernah dipelihara di kolam di Akademi Hanlin.
Kini, ia juga terpengaruh aura mulia kabinet.
Tentu saja bukan makhluk biasa.
Ikan ini sudah dipelihara bertahun-tahun di ibu kota.
Kini, seluruh kolam adalah dunianya.
Lihatlah, ia dikelilingi oleh anggota faksinya, 'kan?
Namun, ikan ini hanya memakan batang teratai.
Jika ingin melindungi bunga-bunga di kolam ini.
ia tentu saja harus dikeluarkan.
Tergantung apakah kalian bersedia membantu.
Hari ini, kalian membantuku membangun kolam baru.
Kelak, saat mendapatkan biji teratai,
aku pasti akan membagikannya dengan kalian.
Sejak kecil, aku menyukai teratai.
Aku sudah lama jengkel melihat ikan-ikan yang rakus ini.
Seluruh teratai di kolam habis digerogoti.
Setelah mendengar ucapan Tuan Zhao, hatiku menjadi jauh lebih tenang.
Sini.
Biar kubantu.
Aku juga akan membantumu.
Tuan Zhao.
- Aku juga membantumu. - Aku juga membantumu.
Aku bersedia membantumu, Tuan.
Tuan Zhao, kau memahamiku.
Baik membantumu menangkap ikan maupun mengambil biji teratai untukmu,
aku tetap harus kembali untuk meminta izin dulu.
Tuan Wei.
(Dengan kekuatan Buddha, semoga Fu Shichang terlahir di alam suci)
Dalam hal melahirkan anak, orang seperti Tuan Besar Kelima
juga hanya mengerahkan tenaga untuk sesaat.
Utusan membesarkan dan mendidik anak ditangani oleh Nyonya Besar Kelima.
Terakhir, upacara doa selama tujuh hari ini juga bisa dianggap
telah menutup ikatan antara kalian sebagai ayah dan putri.
Sayangnya, dia pergi terlalu mendadak.
Nyonya Besar Kelima mungkin masih membencinya.
Ibu berbeda jalan dengannya. Mereka tidak akan bertemu di akhirat.
Apakah ada tamu di kediaman?
Hari ini, Tuan Kesembilan sedang menerima tamu penting.
Kami tidak menyangka Nyonya akan kembali secepat ini
sehingga tidak mengabari.
Siapa saja yang datang?
Tuan Wei dari Kementerian Personalia. Tuan Zhu dari Kementerian Pendapatan.
Jika tindakan Tuan Kesembilan hari ini tersebar,
pasti akan dicap sebagai membentuk faksi pribadi.
Kekuasaan Keluarga Yu sangat besar.
Sulit bagiku untuk bertahan sendirian.
Aku tidak punya pilihan lain.
Namun, kenapa harus terburu-buru?
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan Sekretaris Agung Yu,
tapi kau tidak bisa.
Soal membentuk faksi ini,
orang-orang yang hari ini bersenang-senang bersamamu di taman
kelak juga bisa menjadi orang
yang menghunus pedang kepadamu di istana.
Kini, kau menduduki jabatan tinggi.
Kenapa kau tidak belajar dari Sekretaris Agung Tian?
Hari ini,
kau pergi ke mana?
Aroma cendana.
Kau pergi ke kuil?
Aku pergi ke Kuil Tanshui
untuk menghapus rintangan dan memohon berkah.
Mengadakan upacara doa untuk Tuan Besar Kelima Fu.
Bukan hanya demi dia,
tapi juga demi dirimu.
Tuan Kesembilan,
aku merasa makin tidak bisa memahami dirimu.
Menurutmu, aku penuh dosa?
Kau yang mengambil alih
dosa-dosanya.
Orang bijak tidak menempatkan dirinya di dalam bahaya.
Tuan Kesembilan,
di depan kita adalah lautan api.
Melompat ke dalamnya mungkin terasa melegakan,
tapi aku khawatir yang tersisa hanyalah kehancuran.
Kita sudah bersusah payah sampai sejauh ini.
Kenapa kau begitu terburu-buru?
Bi...
bisakah kita melakukannya perlahan-lahan?
Anggap saja demi aku.
Sudah terlambat.
Aku dan Sekretaris Agung Yu sudah menjadi musuh bebuyutan.
Tidak bisa berhenti sekarang.
Kenapa?
Saat di Kota Linchun, kau mau mendengarkanku.
Meski jalan pejabat dan pedagang berbeda,
kau tetap bersedia menyidik kasus bersamaku.
Saat di Prefektur Yongning, kau juga mau mendengarkanku.
Meski kau ingin menjadi orang biasa yang hidup tenang,
pada akhirnya kau tetap memilih masuk militer.
Kenapa sekarang, ketika aku hanya memintamu untuk bergerak lebih perlahan,
kau tidak mau lagi mendengarkanku?
Quanhui,
meski perebutan kekuasaan di istana tidak menumpahkan darah,
bahayanya jauh melampaui perang di perbatasan.
Masalah ini menyangkut hidup dan mati.
Aku harus menang
agar bisa melindungi semua orang.
Agar bisa melindungimu.
Namun, aku juga ingin melindungimu.
(Cuplikan Episode Selanjutnya)
Barat Laut adalah akar Tuan Kesembilan.
Aku sungguh tidak sanggup melihatnya sebatang kara dan tanpa dukungan.
Dia tidak mungkin melakukan semua ini sendirian tanpa celah.
Hanya berharap jubah berdarah ini
akhirnya bisa terungkap ke hadapan dunia.
Sebagai Sekretaris Agung dinasti ini,
bagaimana bisa kau melakukan hal yang melanggar norma kesusilaan begini?
Lancang!
Ini jelas pemfitnahan.
Tuan Zhao hanya ingin membalas dendam.
Jika sungguh ingin berhadapan secara langsung,
yang hancur nanti hanyalah pihak yang lemah.
♪Masa lalu bagai sehelai daun gugur yang berpapasan♪
♪Begitu ringan, tapi langkahku berhenti karenamu♪
♪Merangkai suka duka menjadi kenangan tanpa sesal♪
♪Terukir dalam lingkar waktu♪
♪Ingin menghentikan waktu sejenak, tapi tidak mampu♪
♪Berpaling karena takut air mata tidak sanggup terbendung♪
♪Membekas jauh di relung hati, tapi kupendam dalam diam♪
♪Hangat genggaman tanganmu♪
♪Membuat kita percaya itu nyata♪
♪Satu janji untuk seumur hidup hingga kini masih terngiang♪
♪Di lautan manusia, sesaat kutemukan dirimu♪
♪Tanpa suara, tapi menerangi separuh hidupku♪
♪Menulis kasih yang tidak terucap dengan keheningan♪
♪Kusimpan rapat di sudut hati♪
♪Sejak itu, tidak ada lagi yang layak kutunggu♪
♪Berpaling karena takut hidup ini tidak lagi punya tempat untuk pulang♪
♪Andai kita bisa berjuang bersama meraih masa depan♪
♪Hangat genggaman tanganmu♪
♪Membuat kita percaya bahwa itu nyata♪
♪Satu janji untuk seumur hidup hingga kini masih terngiang♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.