Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
ANNA (Director's Cut) [Episode 1]
Bae Suzy
Jung Eun Chae
Kim Jun Han
Park Ye Young
ANNA
English Subtitle by Coupang Play Ripped by WiXMEDIA_ID
Subtitle Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Nung
Instagram @nungstagram_ Twitter @nurqodriah
Tadi pagi juga kamu tidak sarapan.
Aku tidak lapar.
Yoo-mi, kalau kamu tidak makan,
nanti para Paman petani yang sudah bekerja selama setahun...
pasti akan merasa sedih.
Eiiy, Ayah. Mereka tidak akan peduli selama hasil panennya masih bisa dijual.
Para petani tidak akan tahu, apakah aku makan atau tidak.
[Penjahit Baekma]
Sepertinya mereka tentara yang kita bahas kemarin.
Ya.
Hai, Yoo-mi.
Hyung-nim, mereka yang aku ceritakan kemarin.
Ya.
Ini Sang-ho, penjahit yang aku ceritakan padamu sebelumnya.
Sang-ho, Si Penjahit. Senang bertemu denganmu.
Ini istriku, Catherine.
Ini Kolonel Phillips dan istrinya.
Aku butuh bantuanmu.
Silakan duduk di sini.
Kau bisa mengukurnya dulu.
Sini.
Siapa namamu?
Namanya Yoo-mi.
Aku Lee Yoo-mi. Usiaku enam tahun.
Yoo-mi.
Nama yang cantik.
Apa kamu tahu bagaimana caranya bermain piano, Yoo-mi?
Yoo-mi, dia bertanya apa kamu tahu cara bermain piano.
Apa kamu ingin aku mengajarimu untuk bermain piano sungguhan?
- Tea-pot. [Teko teh] - Tea-pot.
- Spoon. [Sendok] - Spoon.
- Scone. - Scone.
[Roti panggang khas Eropa, yang dibuat tanpa ragi]
Betul! Sekali lagi.
Tea-pot. Ya!!
Spoon.
- Scone. - Bagus sekali, Yoo-mi.
Jangan menghafal kunci piano saat kamu memainkannya.
Coba baca dan pahami nadanya.
Tapi aku mengingatnya.
Benar, kamu cukup pintar untuk belajar sesuatu dengan cepat.
Mulai sekarang, kita akan banyak mempelajari hal yang lainnya.
Seperti mengajarimu balet, dan caranya menggambar.
Dan dua orang lainnya meletakkan siku mereka di bantal,
dan berbicara dengan hati-hati.
Queen!
Aku tahu hidup di Korea membuatmu merasa kesepian.
Tapi bukan berarti kau bisa membohongi orang lain.
Kau bukan dari keluarga bangsawan.
Dan kau juga bukan keluarganya Putri Diana.
Aku benci tinggal di kota pinggiran ini!
Aku tidak mau diremehkan orang lain!
Demi Tuhan Catherine! Tidak ada yang meremehkanmu!
Itu hanya delusimu! Kau pikir dunia hanya berputar di sekitarmu!
Terserah apa katamu!
Yoo-mi menang!
Mungkin kamu menang, tapi kamu melewatkan satu hal.
Ekspresi wajahmu berubah saat kamu mendapatkan kartu AS.
Kenapa?
Kamu hanya bisa menang jika lawanmu tidak tahu kartu apa yang kamu punya.
Ini bukan hanya tentang pocker,
tapi pastikan orang lain tidak bisa membaca pikiranmu.
Yoo-mi.
Tadinya aku ingin memberinya padamu secara cuma-cuma,
tapi piano itu harganya sangat mahal.
Tolong terjemahkan.
Hyung-nim, pianonya terlalu mahal untuk diberi padamu.
Mereka tidak punya hati nurani.
Tidak apa-apa.
Mereka merawat Yoo-mi selama 2 tahun, dan itu juga membutuhkan usaha.
Mereka mau merawatnya karena mereka tidak punya anak dan bosan.
Kau sudah memberi mereka begitu banyak jas setelan gratis.
Sudah kubilang, tidak apa-apa. Astaga!
Terima kasih.
Yoo-mi.
Ingatlah...
...pocker face.
[Wajah yang tidak menunjukkan perasaan.]
Aku khawatir pada Yoo-mi.
Aku tidak tahu dia mirip siapa. Banyak yang ingin dia lakukan,
dan banyak yang ingin dia makan.
Lalu, apa salahnya?
Kita tidak punya apa-apa.
Jangan khawatir, Yoo-mi pasti bisa mengatasinya.
Hai.
- Lee Yoo-mi. - Ya?
Apa kamu benar-benar akan berhenti setelah minggu ini?
- Ya. - Kenapa?
Bukannya kamu bilang mau masuk ke sekolah seni?
Kamu 'kan hebat. Teruskan saja.
Untukku balet...
hanya sekadar hobi.
Tapi, kalau kamu berhenti sekarang...
rumor itu akan jadi kenyataan.
Siapa yang bilang?
Rumor apa?
Bo-ra bilang...
dia melihat toko jas ayahmu di pasar.
Dan dia bilang kamu itu miskin.
Apa lagi?
Dia juga bilang kalau ibumu...
sepertinya dia menyebarkan rumor.
Katakan persis seperti yang kamu dengar.
Bahwa ibumu bisu.
Benarkah?
Aku akan benar-benar berhenti dalam 2 bulan.
Hanya sampai kompetisi musim gugur ini, Ayah.
Tidak ada banyak waktu tersisa untuk berlomba.
Sekali ini saja, ya?
Ayah juga tahu.
Tapi bukankah persiapannya menghabiskan banyak uang?
Aku tidak akan memakai make-up dan aku akan meminjam pakaiannya.
Untuk terakhir kalinya.
Benar-benar yang terakhir kalinya. Ya? Aku mohon.
Ayah, biarkan aku pergi kali ini.
Sekali ini saja. Sekali ini saja.
Aku mohon.
Hanya sekali. Sekali ini saja.
Ibu.
[Kompetisi Balet Musim Gugur ke-7]
Nomor 21 dari kelompok tingkat SMP.
Jung Bo-ra, 14 tahun. The Nutcracker.
Ibu, tunggu di sini ya.
Nomor 27 dari kelompok tingkat SMP.
Lee Yoo-mi, 14 tahun. Esmeralda.
- Cepat! - Sebentar!
Cepat!
Dompet ibu tidak ada, tunggu dulu.
Bu, tolong pegang ini sebentar.
Aku pastikan akan membuatmu pindah sekolah hanya dalam satu tahun.
Apaan sih? Nyebelin!
Ibu.
- Woo-hee. - Ya?
- Kau tidak boleh menyerah. - Ya.
Waktunya masih banyak.
- Ayo, berusaha tingkatkan nilaimu. - Ya.
Oke, silakan pergi.
Terima kasih.
Duduk, Yoo-mi.
Sepertinya Yoo-mi...
kau bisa diterima di sekolah ini bahkan di jurusan humaniora sekalipun.
Waktunya tinggal 5 bulan lagi sampai ujian masuk universitas.
Seni?
Tapi, aku agak khawatir untuk jurusan seni...
karena kamu agak terlambat memulainya.
Itulah kenapa aku rajin mengikuti les seni.
Ya, aku percaya padamu.
Yoo-mi, nilai rata-ratamu sangat bagus kali ini.
kau melewatkan kelas tambahan,
tapi nilaimu tidak boleh turun jika kau ingin masuk ke jurusan seni.
- Kamu tahu 'kan? - Ya.
Hai.
Oke, silakan pergi.
Anakku peringkat satu di sekolahnya.
Itulah kenapa.
- Wow, peringkat satu? - Ya.
Dia kelas berapa?
Kelas 3 SMA.
Dulu waktu dia masih kecil,
aku sendiri yang membuat mantel dan roknya.
Aku punya usaha menjahit setelan jas di pasar di bawah sana.
Belakangan, ini sangat populer di kalangan anak remaja.
Ya.
Ngomong-ngomong, itu berapa?
- Harganya? - Ya.
Nanti kami akan ke sini lagi.
- Ayah, ayo pergi. - Kenapa? Kamu tidak suka?
- Katanya itu sedang nge-trend. - Ayo, pergi.
Kalau begitu, kita ke tempat lain?
Dipikir-pikir lagi, aku peringkat satu,
dan aku bahagia dengan nilaiku, sepertinya itu saja sudah cukup.
Yoo-mi, jangan begitu. Kita pergi saja---
Ayah, belikan aku donkatsu.
Nanti aku pergi ke bimbel setelah makan donkatsu. Ayo!
Oke, ayo kita makan donkatsu!
Aku lapar.
Ayo cepat kita makan donkatsu!
Yoo-mi.
Apa harus jurusan seni?
Kenapa kau ingin menggambar?
Ah, Pak Guru ini benar-benar...
Berapa kali harus kubilang?
Seni itu indah.
Dan aku suka hal-hal yang indah.
Tidak. Tidak. Itu hanya kebohongan.
Lihat lukisan ini.
Ini tidak indah sama sekali.
Aku bertanya karena aku cemas. Ini tentang diterima di perguruan tinggi.
Kamu itu pandai. Lakukan yang kau kuasai.
Ssaem, aku ini...
saat hatiku sudah bertekad, akan kulakukan segalanya.
Selalu seperti itu.
- Bagaimana kelasnya? Lancar? - Ya.
Gurunya menyebalkan sekali.
Kenapa dia selalu memarahimu?
- Tidak tahu. - Apa?
- Tidak tahu. - Kamu tidak tahu?
Selesaikan minggu depan, oke?
Ya.
Selalu ada orang yang terlambat.
Aku pegang janji kalian, ya.
[Temui aku di gudang, di jam istirahat makan siang.]
Jangan mengeluh. Ketua kelas.
Perhatian.
Beri salam pada Pak Guru.
- Terima kasih. - Selamat beristirahat.
Hei, Yoo-mi!
- Dia kemana? - Gak tahu, dia langsung pergi.
Mungkin dia sedang buru-buru.
Wow! Tangsuyuk?
- Kelihatan enak, 'kan? - Terima kasih!
Kamu suka tangsuyuk?
Sangat suka!
Makan yang banyak.
Pelan-pelan makannya.
Masuklah.
- Telepon aku kalau sudah di rumah. - Ya.
Sampai jumpa besok.
Dah!
Dah!
Cepat pulang.
Ibu, Yoo-mi sudah pulang.
Sejak kapan?
Sudah tiga bulan.
Kenapa kamu gak ngomong?
Kamu pacaran tapi masih bisa dapat nilai bagus?
- Wah, iri banget! - Wah, luar biasa!
Beruntung banget kamu!
Apa dia Son Jae-hyuk dari SMA Hongil?
Dia selalu menempel padamu.
- Benar. - Itu pasti dia.
- Dia ganteng ya? - Aku dengar katanya ganteng.
Aku ingin melihatnya.
Untuk sekarang, masih sulit mengatakan siapa orangnya.
Aaaahhh!!!
Ini cinta yang murni.
Hei, Lee Yoo-mi.
Ibu Jung menyuruhmu ke ruang BK.
Aku iri, ternyata sudah 3 bulan.
Ibu memanggilku?
Yoo-mi.
Kamu harus menjawab jujur pertanyaan dari ibu.
Apa kamu berpacaran dengan Pak Guru Seni Musik?
Beberapa orang melihatmu,
dan dia juga sudah mengaku.
Hal yang umum jika seorang siswa menyukai seorang guru.
Tapi, adanya hubungan nyata di antara kalian berdua,
itu bisa menjadi masalah.
Apa maksudnya?
Hei, Lee Yoo-mi.
Meskipun keadaan ekonomi keluargamu kesulitan,
kami memujimu karena pintar dan rajin, tapi beraninya kau mengangkat kepalamu?
Sonsaeng-nim...
Berbicara dengan Yoo-mi sendirian tidak akan membantu.
Kita harus memanggil orang tuanya masuk--
Orang tuanya?
Apa mereka memiliki koneksi?
Kim Sonsaeng.
Ada laporan eksternal ke polisi.
Kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri.
Kita harus menyelesaikan semuanya sebelum dinas pendidikan dan polisi datang.
Sonsaeng-nim, aku mohon maaf.
Aku mohon maaf.
Padahal baru sekali mengajar, tapi bagus sekali kelakuanmu ini.
Aku hanya memperlakukan dia dengan baik.
Yoo-mi yang mendekatiku lebih dulu.
Aku seharusnya menolak. Aku mohon maaf.
Aku mohon maaf.
Aku mohon maaf.
Mendekatimu?
Tidak seperti itu.
Kenapa Pak Guru berbohong?
Hey, kamu!
Bisa diam tidak?
Berani-beraninya menyela orang dewasa yang sedang berbicara.
Aku mohon maaf.
Perhatian.
Beri salam kepada guru.
Terima kasih.
Hei, itu beneran?
Kenapa nanya ke dia?
Kita harus konfirmasi.
Tetap saja, jangan tanya begitu padanya.
Anakku, makan yang teratur dan jangan sampai sakit.
Jaga dirimu.
Bagaimana dengan bajingan itu?
Kenapa tidak dipecat? Kenapa hanya diskors?
Kenapa harus aku yang pergi dini hari seperti ini?
Pak, yang Anda katakan berbeda.
Sekolah kami tidak menerima siswa pindahan secara paksa.
Aku mohon padamu.
Hanya ada 4 bulan tersisa sampai ujian...
dan semua orang sangat sensitif.
Bagaimana jika ada masalah?
Tidak tidak. Itu tidak akan terjadi.
Putriku sangat pandai belajar.
Bulan lalu, dia ranking 2 di sekolahnya dalam penilaian ujian masuk universitas.
Di semester sebelumnya, dia ranking 1 tingkat sekolah.
Ya, Pak. Silakan duduk.
Ya.
- Tunggu sebentar. - Ya.
Halo.
Apa benar ini dengan Bu Jung Ha-na di SMA Wanita Hongjae?
Ya, halo, aku dari SMA Wanita Seowon,
tempat Lee Yoo-mi dipindahkan.
Kami baru tahu setelah dia pindah
bahwa dia ditandai sebagai siswa istimewa.
Bisakah beritahu kami, ada apa maksudnya?
Ya. Ya.
Ya.
Ya. Nilainya bagus, tapi...
Baiklah kalau begitu, Sonsaeng-nim. Aku akan mencoba berbicara dengan Yoo-mi.
Ya, mari Bu.
Ya.
Kesini kamu.
Rata-ratamu peringkat berapa?
Peringkat 1.
Peringkat untuk tes masuk kuliah?
5% teratas.
Yoo-mi, hanya ada empat bulan.
Jangan mencoba berteman dan fokus saja untuk belajar.
Paham?
Ya.
Pak, kita perlu bicara.
- Ya. - Di sebelah sana.
Katanya kamu ingin kuliah di sini.
Anggap saja seperti kamu pindah ke Seoul lebih awal.
Wali kelas barumu tampaknya baik. Benar, 'kan?
Sebentar lagi ujian, tahanlah sebentar.
Itu tidak seperti...
yang dibicarakan oleh orang-orang.
Aku tahu.
Beli seragam sekolah dan kebutuhan lainnya dengan uang ini.
Ada anak kos yang memberi tahuku kalau makanan di rumah kos ini enak.
Biar aku saja, Ayah cepat pergi.
Jika terlalu banyak menangis, nanti kamu bisa sakit.
Ayah pergi, ya.
- Sudah mau pergi? - Ya.
Putriku belum pernah ke Seoul,
jadi tolong jaga dia baik-baik.
Tolong jangan khawatir.
Anda berasal dari mana?
- Kami dari Hongcheon. - Astaga, jauh juga ya.
Ya. Setelah ujiannya,
dia akan mencoba masuk ke universitas di sini. Dia pindah ke Seoul lebih awal.
Maaf kami hanya memiliki kamar besar yang kosong.
Anda pasti terbebani.
Tidak, tidak sama sekali. Terima kasih.
Ya.
- Kalau begitu, aku pergi dulu. - Ya.
Ayah!
Maafkan aku.
Telepon ayah nanti ya.
Bisakah kecilkan volumenya?
Ibu!
Ini ibu 'kan?
Ibu tidak kangen aku?
Aku ingin dengar suara ibu.
Waktunya habis.
Jangan menulis apa-apa lagi.
Angkat tangan di atas kepala.
Barisan terakhir akan mengumpulkan lembar jawaban.
Barisan pertama akan mengumpulkan lembar soal.
Ibu ulangi sekali lagi, ujian yang terakhir itu sangat mudah.
Kalian semua dapat nilai tinggi, jadi jangan terlalu senang.
Kalian harus mengurangi 30 poin dari skor kalian...
untuk mendapatkan skor biasa.
Keterlaluan!
Jung Hye-min. Jung Hye-min, maju.
Choi Yeon-ji.
Lee Yoo-mi.
Kim Jung-mi.
Song Min-ji.
Jung Se-young.
Jang Moon-ju.
Maaf, Anda belum diterima di universitas tujuan Anda.
Nomor peserta ujian 421723.
Maaf, Anda belum diterima di universitas tujuan Anda.
Yoo-mi, ada telepon dari Hongcheon.
Ya, Ayah.
Kenapa kamu tidak pernah menelepon?
Ibumu khawatir.
Aku kerja paruh waktu selama liburan, jadi aku sibuk.
Belakangan, orang-orang memakai baju siap pakai,
jadi pelanggan ayah berkurang.
Bagaimana Ibu?
Bagaimana kabarnya?
Hmm, kemarin kami pergi ke rumah sakit.
Katanya ibumu menderita demensia tahap awal.
Apa?
Ya. Demensia.
Kamu bisa datang akhir pekan nanti?
Maaf.
Tidak apa-apa.
Kalau masih enggan melihat orang lain, kamu tidak perlu datang.
Dan juga...
Apa...
pengumuman penerimaan belum diumumkan, 'kan?
Aku diterima.
Benar, 'kan?
Bagus sekali, anakku!
Semua orang bertanya, tapi kami khawatir karena kamu belum menelepon.
Ibu Yoo-mi!
Yoo-mi bilang dia diterima!
Kenapa kamu tidak langsung menelepon?
Itu bukan sesuatu yang hebat.
Apa maksudmu?
Kamu sudah berusaha sendirian.
Nanti aku telepon lagi.
Omo! Selamat, Yoo-mi.
Kamu begitu pendiam, jadi aku tidak tahu.
Bilang saja kalau ingin makan sesuatu, nanti aku buatkan.
Astaga, dingin.
Ayah. Ayah, di sini.
Yoo-mi!
Upacara penerimaan sudah selesai.
Apa kita datang terlambat?
Kami terlambat karena ibumu mabuk perjalanan.
Tidak apa-apa. Tidak terlalu penting.
Ibu muntah-muntah?
Ibu muntah di rest area, maaf.
Padahal kami ingin berkeliling di sekolahmu.
Tidak ada apa-apa, nanti saja.
Ini hadiah.
Anak-anak zaman sekarang sering membawa yang seperti ini.
Tapi ini mahal.
Apa maksudmu? Aku harus membelikan yang paling mahal untuk anakku tersayang.
Ayo kita foto bersama.
Katanya ibumu ingin foto bersama.
Foto?
Kita foto di sini saja.
- Mana kamera ayah? - Ini.
Maaf, boleh minta tolong fotokan kami?
Terima kasih.
- Kita foto di sini. - Ya.
Ya, mulai ya.
Satu, dua, tiga.
- Ini. - Astaga, ini 'kan mahal.
Dia berhasil dalam ujiannya dan diterima di universitas, berkat bantuanmu juga.
Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih.
Tidak apa-apa, tidak usah.
Dia sangat pendiam, malah aku yang berterima kasih.
- Benarkah? - Tentu saja.
Terima kasih, sudah menyukainya.
Ya.
[Akademi Daehyeon]
Aku mau daftar untuk kelas pengulangan ujian SAT.
[Biaya kuliah Yoo-mi]
"Suspect".
Terima kasih untuk melonnya.
Katanya kamu mahasiswa baru di kampusku, aku dengar dari ibu kos.
Aku berasal dari Daegu.
Aku mahasiswa tingkat 2 jurusan Ilmu Politik. Han Ji-won.
Aku mengulang setahun. Kalau kamu?
Aku...
Lee Yoo-mi.
Kamu pemalu, ya? Lee Yoo-mi?
Majalah sekolah kami sedang mencari penulis baru.
Apa kamu tertarik?
Maaf, aku belum pernah mencobanya.
Selamat tinggal.
Yoo-mi! Kita pergi bareng?
Apa kamu ingin bergabung dengan Monte Cristo?
Ekskul dance?
Yoo-mi, kamu sudah memutuskan ekskul apa?
Belum.
Pilih dengan hati-hati.
Mereka menjual naengmyeondi kantin, dan rasanya enak banget.
Kamu harus nyobain!
Minta nomormu.
- Apa? - Nanti aku kasih nomorku juga.
Ya.
Ini.
Lee Yoo-mi.
Gedung itu adalah pusat budaya.
Tim redaksi kami ada di lantai dua. Oke?
Hei, Han Ji-won!
Hai.
Aku pergi duluan, ya. Dah!
Ya. Selamat tinggal.
Kalau bosan, mampir saja ya. Dah!
Hei, cepatlah.
- Maaf banget! - Gak apa-apa.
Kenapa kamu terlambat?
- Kalian benar-benar marah. - Tidak, tidak apa-apa.
Permisi.
Apa kamu tahu di mana gedung pusat budaya?
Terima kasih.
3 sin B dan 3 sin C.
Nilai apa yang kita cari di sini?
Kita perlu mencari derajat sudut A.
Itulah pertanyaannya.
Kemudian, lihat ini.
[Datang ke ruang pengeditan, nanti aku traktir makan pizza.]
Kenapa enak banget?
Makan yang banyak, supaya berat badanmu naik.
- Kamu terlalu kurus. - Makan yang banyak.
Jangan malu pada kami dan makanlah dengan percaya diri.
Bukankah dia sangat imut?
Dia sangat gugup saat pertama kali aku ajak bicara.
- Kamu juga seperti itu. - Aku?
- Kamu juga sama! - Iya.
Menarik.
Ingatanmu yang aneh.
Sebenarnya ini pertama kalinya aku makan dengan banyak orang sejak datang ke sini.
- Benarkah? - Jadi selama ini kau makan sendirian?
- Tanpa teman? - Ya.
Asalmu dari Hongcheon, 'kan?
Alumni kampus kita juga banyak yang dari sana.
- Benar. - Aku dari Inje, Gangwon-do.
Kamu sekolah di mana di Hongcheon?
Bukan, Hongcheon itu rumah saudaraku.
Ooohh.
Aku dulu tinggal di luar negeri.
- Benarkah? - Luar negerinya di mana?
Di Amerika.
Ayahku menjalankan bisnis di sana.
Kamu pintar bahasa Inggris ya?
Berarti kamu native ya? Ajari kami.
Kita buat kelompok belajar TOEIC?
Tidak, aku tidak bisa.
Kamu dari jurusan apa?
Jurusan estetika. Awalnya aku suka menggambar,
tapi begitu kembali ke Korea, semuanya tidak berjalan lancar.
- Kamu melukis tapi di jurusan Estetika? - Iya ya?
Yoo-mi.
- Pas! - Cocok untukmu.
Pakai ini, gratis untuk mahasiswa baru.
[Majalah Universitas Wanita Yi-hyeon]
Yoo-mi, kamu sudah baca ini?
[Siapa Yang Memindahkah Kejuku?]
Belum? Mau kupinjami?
- Ini sangat bagus. - Ya.
Tapi kamu harus mengembalikannya ke perpustakaan sekolah besok.
- Besok? - Ya.
Oke, kamu pasti bisa.
Ya, Ayah. Ini aku.
Aku harus menghadiri rapat di kampus.
Bukan, itu MT. Ini rapat.
Uang sakuku tidak cukup untuk membayar biaya keanggotaan.
[Reporter Editorial - Lee Yoo-mi]
Ya, kami berkumpul untuk presentasi.
Ayah, besok ya?
Terima kasih, Ayah.
Lee Yoo-mi kelas pengulangan ujian SAT. Ini pembayaran untuk bulan ini.
Kelas pengulangan ujian SAT? Lee Yoo-mi.
Kehadiranmu...
Jika kamu terus bolos seperti ini, kamu bisa dikeluarkan.
Tinggal sebulan lagi sebelum ujian SAT.
Maaf, aku tidak akan bolos lagi.
Waktunya habis.
Hentikan pengerjaannya dan angkat tangan kalian ke atas.
Hentikan pengerjaannya dan angkat tangan kalian ke atas.
Peserta yang duduk di belakang yang akan mengambil lembar jawaban.
Peserta yang duduk di depan yang akan mengambil lembar soal.
Tapi sepertinya akan sulit masuk ke kampus ini dengan nilaimu.
Aku tidak yakin.
Apa kamu tidak tertarik dengan kampus lain?
Halo?
Yoo-mi, kenapa belakangan ini kamu jarang kelihatan?
Apa sesuatu terjadi?
Tidak.
Hanya saja... aku sibuk.
Oooh.
Besok kamu pergi ke pertemuan, 'kan?
Pertemuan?
Ya, pertemuan untuk departemen editorial di Seoul.
Ooh...
Waktu itu aku sudah bilang padamu.
Benar... aku lupa.
Kenapa? Kamu tidak bisa datang?
Tidak, aku bisa datang.
Jam berapa?
Ya.
Halo. Lama tidak bertemu.
Aku Han Ji-won dari Universitas Wanita Yi-hyeon.
Halo, aku Han Yu-young.
Halo, aku Kim Min-ji.
Halo, aku Lee Yoo-mi.
Kamu cantik!
Seperti yang kuduga, mahasiswa baru memang sangat populer.
Aku sangat bangga.
Dia cantik!
Terima kasih. Universitas kami menerima orang berdasarkan penampilan.
Pada pertemuan tahun lalu, kami mengatakan kami akan berbicara tentang tahun ini...
Perhatikan baik-baik.
Satu, dua, tiga.
Hilang, 'kan?
Di sini!
Wow!!
- Kok bisa? - Astaga, boneka sedang berbicara.
[Pertemuan Umum Editorial Universitas di Seoul]
Kenapa kamu di luar?
Karena pemanas ruangannya...
kepalaku jadi sakit.
Mau jalan-jalan?
Di sebelah sana ada taman kampus.
Kamu tidak kedinginan? Karena tidak memakai jaket.
Tidak apa-apa.
Wah, ada salju turun.
Wah, benar!
Cuacanya dingin, ya.
Halo?
Yoo-mi? Apa benar ini Lee Yoo-mi?
Ya Sonsaeng-nim, benar Yoo-mi.
Hey, kamu lagi ngapain?
Kenapa kamu tidak datang ke sekolah mengambil rapormu?
Itu sudah lama diumumkan.
Nilaiku berapa, Bu?
Nilaimu lebih buruk dari tahun lalu.
Yoo-mi, apa kamu masih keukeuh harus ke Universitas Yi-Hyeon?
Tidak bisakah menyesuaikan nilaimu dan pilih kampus lain di Seoul?
Jangan mengulang ketiga kalinya, itu melelahkan!
Mempertahankan harga diri itu bukanlah apa-apa.
Nanti aku akan telepon lagi, Bu.
Perlu bantuan?
Bantu aku meletakkannya di punggungku.
Bisakah aku berjalan dengan tas ini?
Kamu mau ke mana?
Liburan backpacking, ke Eropa.
Wow! Aku hampir jatuh ke belakang.
Liburan? Bagaimana dengan kuliahmu?
Kelasku selesai minggu lalu.
Aku mengajar paruh waktu selama tujuh bulan untuk ini.
Apa yang kamu lakukan selama liburan?
Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri, jadi aku takut.
Aduh! Aku terlambat!
Dadah, Yoo-mi.
Ya, dah!
Aku tidak suka orang yang menyentuh barangku tanpa izin.
Itu karena barangnya ada di sampingku.
Tapi kenapa kamu membawanya kemana-mana?
Untuk les privat.
Kupikir kamu tidak kerja paruh waktu.
Aku ingin menabung dan pergi liburan, backpacking.
Oooh.
Tahun depan...
aku akan pergi ke New York.
- New York? - Ya.
Semacam program pertukaran pelajar,
aku akan menghabiskan tahun terakhirku di universitas lain.
Oooh.
Kamu sedih?
Tidak, ini kabar baik untukmu.
Selamat.
Jangan pergi backpacking.
Bagaimana jika kau ikut denganku?
Bersama?
Ya.
Kamu bisa belajar bahasa Inggris selama setahun,
dan aku juga bisa kuliah.
Omong-omong, ibuku menyuruhku menikah setelah aku lulus.
Dia bilang kita harus pergi bersama.
Dia ingin bertemu denganmu.
Sekian untuk hari ini.
Terima kasih.
Tunggu, teman-teman.
Angkat tangan untuk yang mengulang kelas.
Ya, sudah.
Siapa yang mengulang untuk ketiga kalinya?
Ya, sudah. Keempat kali?
Hei, jangan tertawa. Masih bisa tertawa?
Teman-teman.
Yoo-mi.
Jae-ho pindah begitu jauh untuk belajar,
jadi aku khawatir membiarkannya pergi sendirian.
Apa orang tuamu akan mengizinkanmu?
Oh ya, apa pekerjaan ayahmu?
Astaga, dingin!
Bukankah itu aneh?
Cuaca menjadi sangat dingin pada hari ujian SAT.
Waktu berlalu dengan cepat, ya?
Dulu kamu duduk di sini sambil makan sebelum memulai ujian.
Aku akan pergi dan bermalam di Hongcheon sebelum kembali besok.
Oh, begitu?
Orang tuamu pasti senang!
Aigoo, tidak perlu repot-repot membeli ini.
Rasanya pahit.
Yang baik untuk tubuh biasanya memang pahit.
Kenapa kamu datang tanpa memberitahu dulu?
Kalau kamu menelepon, ayah bisa menjemputmu di terminal.
Ooh.
Ayah, aku terpilih sebagai mahasiswa berprestasi penerima beasiswa.
Benarkah?
Jadi, kau menerima beasiswa?
Tidak, bukan seperti itu...
tapi lebih baik dari itu. Untuk belajar bahasa.
Apa itu?
Aku bisa pergi ke Amerika dan belajar bahasa Inggris selama setahun.
Dengan beasiswa?
Bukan, bukan begitu.
Kampus hanya memberiku kesempatan.
Oooh.
Semua orang pergi untuk belajar bahasa, itu sebuah kebutuhan.
Ayah.
Tolong bantu aku sekali ini saja.
Aku benar-benar ingin melakukannya dengan baik.
Kesempatan seperti ini tidak akan pernah datang lagi.
Aku berjanji ini yang terakhir kalinya.
Tolong, Ayah.
Kang Jae-ho dan Lee Yoo-mi. Dua orang menuju ke New York, benar?
- Ya. - Ya.
Kami mencoba yang terbaik untuk bersiap,
tapi ada begitu banyak yang harus diperiksa.
Oh iya, dan ini.
Ini jamu herbal yang harus dia minum.
Tolong pastikan dia meminumnya.
Ya, Bu.
Aku merasa nyaman sekarang
karena kamu pergi bersamanya.
Hati-hati dalam memilih tempat tinggal.
Jika tidak, kau akan berakhir--
Bu, sudah cukup!
Ngomong-ngomong, di mana ayahmu?
Astaga, dasar orang tua itu...
Dari Incheon ke Bandara JFK New York.
Penumpangnya adalah Kang Jae-ho dan Lee Yoo-mi.
Silakan menuju ke gate nomor 36 sebelum waktu keberangkatan.
- Terima kasih. - Ya.
Ibuku berlebihan, ya 'kan?
Aku kira dia akan datang jauh-jauh ke sini mengikuti kita.
Itu karena dia merasa khawatir.
Kita lihat foto paspormu dari dekat.
Jangan!
Waktunya masih banyak, tunggu dulu di sini.
- Aku beli kopi dulu. - Oke.
Oh ya, coba telepon ayahmu sekali lagi.
Aku khawatir.
Oke!
Halo, Ibu.
Ayah, aku pergi dulu ya.
Ibu bicara apa? Pelan-pelan saja.
Yoo-mi...
Dia palsu!
Ayahmu bertanya pada kenalannya dan cari informasi di kampusnya,
tapi tidak ada mahasiswi bernama Lee Yoo-mi di kampus itu!
Apa?
Apa kau dengar ucapanku?
Mereka bilang tidak ada yang bernama Yoo-mi di universitasnya.
Di mana kau bertemu gadis seperti itu?
Kau belum naik pesawat, 'kan?
Ibu sudah kembali lagi ke bandara.
Bagaimana dengan Ibu?
Ya.
...Bersambung
Subtitle Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Nung
Instagram @nungstagram_ Twitter @nurqodriah
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.