Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ada jalan keluarnya.
Kita bisa bilang
bahwa Woo Il melakukannya karena terlalu setia.
- Ayah. - Dia sudah pergi.
Kita bisa bilang sudah menemukan buktinya dan langsung memecatnya.
Kumohon hentikan!
Apa kamu meneriaki ayah?
Apa kini Ayah mendengarku?
Ayah mungkin masih belum mendengarku.
Apa?
Kenapa Ayah mau hanya suara Ayah yang didengar?
Ayah membungkam
suara dan rintihan orang lain. Ayah hanya memedulikan
jika suara Ayah didengar.
Kamu pikir itu demi kepentingan ayah sendiri?
Ini semua demi dirimu.
Dunia ini penuh dengan suara. Bila diam saja,
kamu tidak bisa bertahan hidup.
Aku tahu.
Aku juga tahu.
Aku penasaran apa yang salah denganku.
Aku selalu menyalahkan diri sendiri.
Aku hidup dalam rasa malu.
Bagaimana dengan Ayah?
Kenapa Ayah bisa begitu tebal muka?
Hwan Gi.
Aku sudah bicara dengan pers saat menuju kemari.
Aku minta mereka menunggu sampai kita mengumumkan posisi resmi.
Tidak perlu lagi menutupi atau menghindari masalah.
Aku akan bertanggung jawab dan turun dari jabatan.
Apa?
Untuk melindungi perusahaan, itu solusi terbaik.
Biar aku yang bertanggung jawab.
Hanya aku yang berurusan dengan hal buruk ayahmu.
Dia ayahku.
Hwan Gi.
Aku memintamu datang
untuk menyerahkan perusahaan kepadamu.
Siapa diriku sampai bisa mendapatkan perusahaan?
Hak apa yang kumiliki?
Aku memercayaimu.
Hanya kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan.
Kamu bodoh.
Pergilah.
Aku harus pergi ke mana?
Ayah membuang foto ibu dan kakakmu
agar kamu melupakan semuanya dan menemukan jalanmu sendiri.
Bagaimana aku bisa melupakan semuanya?
Ji Hye dan Ro Woon.
Bahkan nama kami tidak terpisahkan.
Apa itu anggapanmu selama ini?
Ayah menamakanmu Ro Woon
dengan harapan hidupmu akan menyenangkan.
"Ro Woon" bukan digabungkan dengan "Ji Hye"
dan berarti "bijak".
Jangan terjebak seperti ayah.
Keluarlah ke dunia yang luas ini.
Hidup dengan orang yang menyadari kemampuanmu.
Ayah.
Hiduplah dengan senyuman, bukan air mata.
Kamu terlihat jelek saat menangis.
Bisa-bisa kamu dikembalikan kemari.
Silent Monster...
- Lihat ke depan. - Baiklah.
- Ini dia. - Hati-hati.
- Sedikit lagi. - Angkat.
Bertahanlah.
Bos pasti marah.
Apa Anda baik-baik saja?
Bos, apa Anda pingsan?
Anda sudah bangun.
Kami sudah memutuskan nama panggilanmu.
Apa?
Kami semua akan memanggilmu Bos.
Kenapa Anda harus mengundurkan diri?
Pergi bukan berarti Anda bertanggung jawab.
Maaf aku tidak bisa bersama kalian
sampai akhir.
Berkat kalian semua,
aku bisa berubah.
Kami yang berubah.
Anda membantu kami semua berkembang.
Setelah Anda meninggalkan kami,
siapa lagi yang bisa kami percaya?
Kumohon jangan pergi.
Kenapa Anda membuat wanita menangis?
Kumohon jangan lakukan ini.
Aku tidak mau menjadi sentimental.
Bahkan Sun Bong saja menangis.
Aku sudah berusaha agar tidak menangis.
Ini lampu merah.
Jangan katakan apa pun.
Lampu merah sudah menyala, mengerti?
Ini.
Kumohon jangan pergi.
Kumohon jangan pergi.
Bukan karena kamu Eun Yi Soo.
Karena itu kamu.
Permisi. Keluarlah.
Sebaiknya kali ini kamu tidak kabur.
Apa kamu tidak mau keluar?
Sepertinya ini adalah 100 persen kesalahanmu lagi.
Kenapa kamu mengemudi tanpa melihat ke belakang?
Seberapa besar pun usahaku untuk menjaga jarak darimu,
aku hanya
tidak bisa menjauh darimu.
Dia menjadi sendirian lagi.
Kenapa kamu sendirian lagi?
Lampu merah?
Lampu hijau.
Lalu kenapa kamu tidak membangunkanku?
Biarkan aku ikut, mengerti?
Jangan menendangku saat aku membangunkanmu.
Apa aku menendangmu?
Dia sendirian bahkan saat kami bersama-sama.
"Episode 16, Tidak Masalah Bila Malu"
Bos!
Bos!
Bos.
Bos, kita ada masalah besar. Keluarlah.
Bos, cepatlah.
Kita punya masalah besar.
Ada apa? Apa yang terjadi?
- Aku bosan. - Apa?
Kamu membuatku khawatir. Astaga.
Itu masalah besar bagiku.
Aku mungkin akan mati karena bosan.
Kamu selalu mengurung diri di kamar. Kamu tahu ini sudah berapa hari?
Aku kemari untuk merasa bosan.
Benar, tapi sampai kapan kamu akan seperti ini?
Baiklah.
Aku akan mati bosan.
Kenapa dia makan keripik di ranjang?
Dari rasa manis, asin, dan pedas,
bahkan rasa keripik itu enak jika dimakan bersama.
Dia bahkan belum mandi.
Ditambah lagi, kenapa dia tidur dengan memakai baju pergi?
Haruskah aku memberitahunya?
Tidak, jangan sampai hal kecil merusak momen bahagia kami.
Tapi malam ini aku akan tidur di kasur itu.
Debu dari luar, remah keripik,
dan tungau akan berpesta di kasur itu.
Apa yang harus kulakukan?
Saat aku menyuruhnya mandi, dia mungkin...
Haruskah aku mandi? Kalau begitu...
Dari kepala sampai kaki?
"Bahu"
Ya, dia mampu melakukannya.
Dia akan berasumsi pikiranku kotor.
Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan kepadaku?
Ya, aku harus memancing dia ke suatu tempat.
Selagi dia melakukan hal lain,
aku akan membersihkan selimut.
Kamu sebaiknya keluar.
Udaranya sudah cukup hangat.
Benarkah?
Aku tidak mau. Aku masih mau tidur di kasur.
Katamu kamu bosan.
Kamu menyuruhku tetap bosan.
Kini aku bosan. Ini sempurna.
Aku gagal.
Kamu mau bermain ini?
Orang yang menang dapat satu permintaan. Bagaimana?
Ya. Giliranmu.
Astaga.
Astaga, yang benar saja.
Astaga.
Itu curang.
Cepatlah. Kita tidak punya waktu.
Ya.
Kenapa kamu menjadi sangat kompetitif?
Cepatlah. Ayo!
Jangan!
Itu akan jatuh.
Ya, ya! Ya!
Kamu sangat senang karena menang?
Ya, aku senang. Aku bersemangat.
Baiklah. Apa permintaanmu?
Jangan bergerak
Itu dia. Sudah selesai.
Tunggu sebentar.
Jangan bergerak. Satu, dua.
Aku mau lihat.
Baiklah.
Jangan sebarkan foto ini.
Tidak. Aku dapat permintaanku.
Kini kamu bisa mandi.
Mataku... Lihatlah bibirku.
Bagus. Itu sudah biasa.
Pergilah mandi.
Aku menyukainya.
Kamu hebat melakukan riasan.
Hari ini aku akan tidur seperti ini.
- Seperti itu? - Ya.
Tidak boleh. Kulitmu bisa rusak.
Pergilah mandi. Jangan merusak kulitmu.
Tidak masalah jika hanya semalam.
Kita harus main lagi. Aku akan membalasmu.
Ayo.
Permintaanku adalah
kita tidur seperti ini.
Lalu besok, kita harus keluar ketika baru bangun.
"Di suatu tempat kamu bisa dengar gemanya"
"Mari lihat musim gugur di lembah"
"Ayo pergi liburan"
Ini menyenangkan.
Apa aku terlalu bersemangat? Aku sangat lapar.
Aku akan mengudap.
Lagi?
Haruskah aku makan keripik.
Astaga.
Astaga.
Sayang jika dibuang.
Sayang jika dibuang.
Aku menjatuhkan semuanya.
Itu berlebihan.
Itu bukan kasurnya sendiri.
Dia membuat kasur kami sebagai tempat berpesta tungau dan debu.
Dan kini, mobilku juga?
Apa dia tidak tahu arti mobil bagi pria?
Haruskah kularang dia makan di mobil?
Aku akan terlihat berpikiran sempit.
Lagi pula, hari ini dia terlihat bersemangat.
Kamu mau?
Tidak.
Apa lampunya merah?
Tidak.
Ayolah. Katakan saja kepadaku.
Kamu harus bilang agar aku tahu.
Ini tidak akan berhasil.
Keripik akan membantu. Ini.
Buka mulutmu.
Tidak. Aku sedang mengemudi.
Ini berbahaya.
Membosankan jika selalu makan masakan rumah.
Kamu sesekali perlu mengudap.
Lihat?
Saat kamu makan keripik, hal itu dapat menghilangkan stres.
Ini.
Aku akan memilihkan keripik yang terlihat enak. Ini.
- Tidak. - Ayolah.
Ini, buka mulutmu. Bagus. Kunyah.
- Aku sedang menyetir, hati-hati. - Keripik terakhir.
- Tidak perlu. Aku tidak mau. - Keripik yang terakhir.
Bukankah rasanya enak? Apa kamu mau lagi?
Aku tidak mau. Hentikan.
- Keripik besar? - Aku tidak mau.
Keripik terakhir.
Tunggu. Tunggu sebentar.
Bos, apa kamu mau membicarakannya?
Keputusan yang bagus.
- Bisakah aku jujur? - Tentu saja. Katakanlah.
Jangan menggangguku saat sedang menyetir.
Aku tidak bisa fokus.
Itu berbahaya bahkan bagi pengemudi hebat.
- Keselamatan yang terpenting. - Baiklah.
Aku mengganggu, bukan?
Serta
aku tidak suka saat orang makan di mobilku.
Kamu tidak boleh tidur dengan tangan berminyak, mengerti?
Mandilah sebelum tidur.
Jika tidak mandi, kamu akan sakit.
Itu menjijikkan.
Apa? Masih ada lagi?
Televisi. Ya. Saat kita menonton televisi,
fokuslah.
Kenapa kamu selalu bertanya jika tidak memperhatikannya?
Jangan menonton atau jangan bertanya.
Setidaknya, jangan penasaran.
Aku merasa lega. Apa masih ada lagi?
Apa kamu selama ini menyimpan semuanya?
Ya. Aku menyimpannya dan akhirnya bisa bilang.
Kamu pikir aku suka semuanya tentangmu?
Aku tidak mengatakannya.
Apa? Katakan. Apa yang mengganggumu?
Ada banyak hal. Bos, kamu selalu...
- Apa? - Kamu selalu...
- Apa? - Ini menyebalkan.
Tidak mungkin kamu menyimpan sesuatu.
Kamu bicara dahulu sebelum berpikir.
Maksudmu aku tidak memikirkan perkataanku?
Bukan, bukan. Aku salah bicara.
Bukan itu maksudku. Tapi...
Kamu bisa pergi sendiri. Aku tidak akan naik mobilmu.
Pergilah sendiri.
Aku tidak tahu lagi.
Cepat hentikan aku.
Hentikan aku. Hentikan aku.
Kenapa dia tidak menghentikanku?
Bos. Aku...
Hei!
Kamu pergi?
Apa ini?
Apa kamu pikir aku akan pergi?
Kamu memang pergi.
Aku tidak bisa meninggalkan mobilnya terparkir di sana.
Itu akan mengganggu orang lain.
Kamu mencemaskan banyak hal. Sungguh beruntung.
Tetap saja,
kenapa kamu tega meninggalkan aku di sini?
Aku memberitahumu karena kamu bertanya.
Jangan marah.
Jangan menangis.
Aku...
Aku tidak tahu kamu menyimpan semua hal itu.
Aku suka semuanya tentangmu.
Bahkan jika kamu tanya, tidak ada hal yang kubenci darimu.
Hanya aku yang tersenyum.
Kamu sama sekali tidak seru.
Kamu selalu menyimpannya selama ini.
Aku tidak bermaksud seperti itu.
Aku juga bahagia.
Aku senang bahwa aku merasa bersalah.
Kita hanya orang yang berbeda.
Kita bisa mulai saling mengerti.
Tetap saja, kenapa kamu tega meninggalkanku?
Maafkan aku.
Aku tidak bisa meninggalkan mobil di jalan. Seperti yang kubilang,
mobilku adalah...
Ini pertengkaran pertama kita
karena hal kecil, sama seperti pasangan lainnya.
Kamu mengubahku menjadi
orang biasa.
Benarkah?
Kamu melihat watakku dan berusaha mengeluarkan sifat asliku.
Jika aku melakukan semuanya,
setidaknya sifat jelekku tidak terlihat
Kini kamu sudah melihat semuanya.
Kamu tetap tidak bilang hal yang ingin dan harus kamu katakan.
Apa lagi yang ingin kamu dengar?
Hal yang sangat kamu pedulikan.
Mungkin orang yang kamu tinggalkan?
Berapa lama kamu akan sendirian?
Kenapa aku sendirian? Kamu bersamaku.
Bos.
Aku selalu sendirian sampai bertemu denganmu.
Aku selalu berada di tempat yang sama,
ragu-ragu, tapi kamu membuatku berlari.
Aku di sini!
Kamu berlari ke arahku tanpa rasa ragu.
Kamu membuka hatiku yang sudah tertutup
dan membawa diriku keluar.
Itu karena kamu mendengar ketukanku.
Bukan, aku tidak mengetuk.
Aku menendang pintunya dan menggoyangkan dengan keras.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Aku menjatuhkanmu dengan alasan balas dendam.
Walaupun mengetahuinya, kamu membiarkanku melakukannya.
Kini akhirnya kamu
keluar dari pintu itu.
Jadi, pikirkanlah tentang kita.
Hingga kini,
kita selalu mementingkan orang lain.
Walaupun selalu sendirian,
kita tidak pernah sendiri.
Serta karena diriku, kamu menutup diri lagi.
Aku hanya mau bersama satu orang.
Kamu baru saja meninggalkanku di jalan
agar tidak menyulitkan orang lain.
Kamu orang seperti itu.
Kamu menjaga orang yang ada di dekatmu.
Seperti yang kamu katakan, aku berbeda darimu.
Aku harus memastikan semua pintunya terbuka lebar.
Aku sudah membuatmu dalam masalah.
Di sebelah sana.
Aku bosan. Aku mau bermain dengan banyak orang.
Hwan Gi, makanannya enak.
Bukankah begitu, Ro Woon?
Astaga.
Aku pasti membuatmu terkejut.
Maafkan aku. Minumlah.
Cobalah ini. Rasanya enak.
Tidak perlu. Aku bisa mengambilnya sendiri.
Kamu mau sup lagi?
Aku akan mengambilkannya.
Kini aku lihat
adikmu sama seperti kamu.
Perbedaannya adalah Yi Soo berhasil berubah.
Salahkah aku?
Sejujurnya, aku sangat gugup saat perjalanan kemari.
Aku tidak tahu cara menghadapimu.
Sejujurnya,
ini juga tidak mudah bagiku.
Aku memintamu datang karena Bos.
Maafkan aku.
Aku tahu tidak ada gunanya mengatakan hal ini sekarang.
Kamu salah.
Itulah yang selalu ingin kudengar
selama tiga tahun ini.
Kita tidak bisa menjadi akrab, bukan?
Tentu saja hal itu memerlukan
sedikit waktu.
Apa kamu akan tetap dengan Hwan Gi?
Jika tidak nyaman berada di dekatku,
aku akan menjauh.
Aku sudah lama duduk di sini. Kulit matiku sudah terkelupas.
Yi Soo, bisakah kamu menggosok punggungku?
Apa?
Apakah terlalu tiba-tiba?
Semacam itu.
Aku sudah lama tidak menggosok tubuh.
Bagaimana...
Aku sungguh-sungguh.
Aku belum pernah melakukannya.
Gosok lebih keras.
Apa ini sudah cukup?
Bagaimana? Banyak kulit mati?
Yi Soo dan aku berhubungan kembali.
Benarkah?
Ada apa denganmu? Kupikir kamu akan senang.
Kamu tidak punya waktu berpacaran.
Bagaimana dengan perusahaan?
Kita kehilangan sebagian besar klien. Tidak ada banyak pekerjaan.
- Apa? - Apa kamu khawatir?
Kalau begitu, kembalilah.
Tahukah kamu bahwa ayahmu menarik diri dari pemilihan?
Kamu tidak bisa tidur?
Maafkan aku.
Apa aku membangunkanmu?
Tidak. Aku masih bangun.
Tidurlah.
Karena kita tidak bisa tidur,
haruskah kita menonton film porno?
Apa?
Porno?
Itu...
Apa yang kamu...
- Kamu menonton film porno? - Kamu tidak perlu menontonnya.
Asal kamu tahu saja, Itu film yang bagus.
Kamu sangat mesum.
Apa yang akan kamu
tonton?
Ini...
Bagaimana?
Pria itu seksi, bukan?
"Penutup kepala Eun Hwan Gi akhirnya terbuka"
- Apa aku terlihat tampan? - Ya. Kini sempurna.
- Di sini? - Lebih ke kanan.
Baiklah, bagus. Tunggu sebentar.
Satu, dua, tiga.
Hal pertama yang kupikirkan saat mengingatnya adalah...
Kesannya yang dingin?
Aku ada pengumuman.
Tolong mulai siapkan presentasi.
Siapa yang bertanggung jawab dalam hal itu?
Aku?
Dia memancarkan aura yang membuatnya sulit didekati.
Terserahlah.
Singkatnya, dia sulit disukai.
Tapi dia tampan. Aku mengakui hal itu.
Dia sangat tampan.
Astaga, jaga ucapanmu. Kita harus memotong bagianmu.
Tapi jika sudah mengenalnya,
kalian akan tahu bahwa dia orang yang baik.
Bagaimana tentang bioskop horor itu?
"Kunjungilah bioskop terjelek
untuk malam horor tidak terlupakan yang akan membuatmu merinding."
- Aku suka ide itu. - Ada juga ide ini.
Bukankah kerjaku bagus?
Dia mendengarkan walaupun kamu membicarakan hal tidak penting.
Itulah sifatnya.
Kami tidak menggunakan pangkat di dalam perusahaan.
Saat ini aku menjadi sopir.
Dia dengan sukarela menjadi sopir bagi pegawainya.
Dia pria yang tahu cara memperhatikan seseorang
dengan tulus.
Saat kami kesulitan, dia tiba-tiba muncul.
Sama seperti hantu.
Bahkan hingga hari ini, aku selalu menengok ke belakang.
Kami merasa Anda akan selalu memperhatikan dari suatu tempat.
Semuanya berjalan baik walaupun tanpa Anda.
Kami semua bekerja keras di posisi masing-masing.
Semuanya berakhir seperti keinginan Anda.
Perusahaan ini tidak perlu atasan.
Astaga, hentikan. Dia akan salah paham.
Kami tidak bilang bahwa tidak mau Anda kembali.
Kami hanya berharap Anda tidak terlalu khawatir.
Cepatlah kembali sebelum kami semua melupakan Anda.
- Cepatlah kembali. - Hwan Gi, kami merindukanmu.
- Itu... - Astaga, Sun Bong.
- Kembalilah! - Kami menunggu Anda.
- Cepat kembali! - Kemarilah!
Kami membuat bahan promosi untuk Silent Monster
dan pikir sebaiknya harus memasukkan pengenalan singkat tentangmu.
Aku yang mengedit video itu.
Semuanya menunggu kepulanganmu.
Kebosanan ini
harus berakhir malam ini.
Tidak, aku menarik ucapanku.
Menyedihkan jika merasa bosan pada hari terakhir.
Aku...
Hari ini aku mandi.
Yi Soo juga menggosok punggungku.
Kini kulitku sangat lembut.
Yi Soo?
- Benarkah? - Ya.
Aku mau lihat.
- Kamu menggelitikku. - Ayolah. Tunjukkan kepadaku.
Geli.
Tunjukkan kepadaku. Aku mau lihat punggungmu yang halus.
Berhentilah menggelitikku.
- Hentikan. - Kenapa?
- Hai. - Hai.
Masuklah.
Astaga.
Aku Eun Bok Dong.
Ya, aku tahu.
Ayah.
- Kamu keluar saja. - Apa?
Ayah bilang, keluarlah.
Aku memintanya keluar karena aku sangat malu.
Aku seharusnya membesarkan anakku dengan lebih baik.
Aku
malu dengan diriku sendiri.
Aku minta maaf.
Astaga.
Setiap orang tua tahu rasanya.
Hal itu bisa terasa sangat memalukan.
Tapi dari pengamatanku, kamu seharusnya bangga kepadanya.
Astaga, terasa enak.
- Itu. - Kembang api.
Benar.
Teman-teman, dia sudah sampai!
- Ayo. - Hati-hati.
Cepatlah! Kita harus bersembunyi!
Kami sudah kembali.
Terasa aneh.
Sepertinya di sini tidak ada orang.
Kenapa? Apa kamu berharap ada kembang api
dan semua orang berbaris menyambutmu?
Bukan itu maksudku.
Dia sudah sampai.
Kurasa kamu bukan lagi milikku seorang.
Saat liburan, kamu benar-benar milikku.
Apa kamu sedih?
Bagaimana jika aku sedih?
Aku bisa dapat ciuman?
Cium... Lagi?
Ayolah, sebelum semua orang datang.
Tunggu. Ayo lakukan di sana.
Bisakah sekarang kita keluar?
- Keluar? - Sekarang?
- Satu, dua, tiga. - Ayo.
Kembali.
Kembali ke dalam. Duduklah.
Sejak kapan mereka dekat?
Semua itu berkat diriku.
Tidak. Aku yang menjodohkan mereka.
Kurasa kita sudah kehilangan waktu yang tepat.
Mungkin ciuman itu akan berlangsung lama.
Untuk sementara, kita tunggu sebentar.
Tidak, jangan. Itu menjijikkan.
Haruskah kita melihatnya?
Ayo lihat.
Aku iri.
Aku merindukan suamiku.
Kakiku keram, tapi ini menarik.
Bertahanlah.
Kita tidak boleh mengganggu.
Mereka tidak akan melakukan lebih jauh, bukan?
Jika mau melihat, bisakah dilakukan dengan nyaman?
Kini sudah sempurna. Diamlah.
Kurasa mereka akan melakukan lebih jauh.
Berhenti melihat.
"Maaf, lampu merah"
Sudah melewati Hari Natal lainnya.
Tapi tidak ada banyak perubahan.
Masih banyak yang dipikirkannya.
Ini adalah...
Dia mencemaskan apa kali ini?
Dia sedang menulis surat.
Apa? Surat yang dia tulis saat Hari Natal tahun lalu?
Dia masih menulisnya?
Dia menulis untuk klien, pers, dan bahkan pegawai.
Ada lebih dari 400 surat.
Kartu ucapan Natal menjadi kartu ucapan Tahun Baru.
Jika seperti ini, akan masuk musim semi.
Hari ini, dia mau menyelesaikan surat tersebut.
Serta dia tetap melanjutkan
melakukannya dengan perlahan.
Perutmu kini sudah besar.
Ya.
Aku takut.
Suamiku melakukan vasektomi dan aku tetap hamil.
Bisakah kamu bayangkan betapa kuatnya bayi ini?
Peganglah.
- Bisakah kamu merasakannya? - Kini ada anggota baru
di Silent Monster.
Sedangkan satu anggota keluar.
Ayo mulai rapat kita.
"Bahan segar dipanggang setiap hari"
"Aroma yang akan memenuhi toko itu"
Itu dia.
Yoo Hee, kamu ada kartu poin dari toko roti ini, bukan?
Tentu saja. Aku pelanggan tetap.
Bagaimana menurutmu jika menulis
nomor keanggotaanmu di akhir proposal ini?
Menunjukkan bahwa kita sering makan roti mereka.
Aku yakin banyak perusahaan akan menyerahkan proposal
padahal mereka belum mencoba rotinya.
Sun Bong, bagaimana kamu mendapatkan ide itu?
Kenapa aku tidak bisa seperti kamu?
Jika seperti itu, aku bisa menikmati pekerjaan.
Semua yang kucoba terasa sulit.
Sudah seharusnya sulit. Kerjamu sudah bagus.
- Apa? - Jika memikirkan hal yang mudah,
orang lain juga bisa memikirkannya.
Hal yang sudah biasa.
- Tetap saja... - Intuisi tidak datang dengan mudah.
Kamu harus berpikir dan cemas untuk membangun intuisimu.
Sun Bong, aku tidak tahu bahwa kamu banyak berpikir.
Aku mau ke kamar kecil.
Aku sangat karismatik.
Kuharap aku tidak membuat mereka bosan.
"Konser Piano, 'Memory'"
Aku sudah ragu-ragu selama setahun.
Hari ini aku akan mengajaknya.
Semuanya, cepatlah! Se Jong sudah tampil.
Se Jong?
Kami bersama aktor dari film noir aksi, "My Shy Brother".
Dia pencuri sorotan kamera, Jang Se Jong. Hai.
Hai. Aku aktor Jang Se Jong.
Bisakah kamu menjelaskan peranmu di film ini?
Tentu. Dalam film ini...
Aku tidak menyangka Se Jong akan masuk televisi.
Aku juga. Dia audisi lebih dari 100 kali. Akhirnya dia berhasil.
Di dalam film ini, aku memerankan karakter...
Kita mempromosikan film itu.
Kita membuat film gagal itu menjadi berhasil.
Kudengar kamu dan aktris itu terlihat cocok.
Banyak orang yang penasaran jika kalian berdua berpacaran?
Itu tidak benar.
Sebenarnya, ada orang yang aku suka.
Apa dia pacarmu?
Kuharap dia pacarku,
tapi dia hanya wanita yang aku suka.
Ada apa dengannya?
Apa dia masih gila?
Seperti apa wanita itu?
Dia orang yang membantu
mengejar mimpiku.
Kami hanya saling menyemangati
karena ada di bidang yang berbeda.
Jika boleh, bisakah aku mengirim pesan untuknya di sini?
Ya, lakukanlah sambil melihat ke arah kamera.
Tidak, jangan! Apa yang dia lakukan?
Dia baru terkenal. Kenapa melakukan hal ini?
Perlu waktu satu tahun
untuk mengatakan hal ini.
Aku menyukaimu,
Kim Gyo Ri.
Se Jong sangat keren.
Sejak kapan kalian dekat?
Aku sama sekali tidak tahu hal ini.
Aku sangat malu.
Se Jong.
Aku terlalu lama, bukan?
Terima kasih Se Jong. Kamu terlalu lama.
Gyo Ri, aku menyukaimu.
- Apa? - Apa?
Aku sedang menyatakan cinta. Apa yang kamu lakukan?
Apa maksudmu? Aku juga mau menyatakan cinta.
Aku sudah menunggu satu tahun.
Aku yang berusaha sampai sekarang.
Aku menunggu menyatakan cinta setelah berhasil membuat kejutan.
Gyo Ri, ikutlah ke konser ini bersamaku!
Tidak ada konser! Berpacaranlah denganku!
- Hentikan. - Pergilah.
Tunggu.
Terima kasih sudah menyukaiku.
Ini sangat tiba-tiba.
Kini aku mau fokus bekerja.
- Apa? - Apa?
Seperti kata Sun Bong, aku harus fokus berpikir.
Astaga, itu cara paling umum untuk menolak seseorang.
Dia tidak suka kalian berdua.
Ini karena Sun Bong mengganggu.
- Drama sudah merusak dirimu. - Ini salahmu.
- Kenapa kamu melakukannya? - Kamu keluar.
- Hei. - Hwan Gi.
Aku merindukanmu.
- Benar. - Bisakah aku memanggilmu Hwan Gi?
Ya. Selamat atas debutmu.
- Ayo sama-sama menontonnya. - Baiklah.
Anda harus menyelesaikan pekerjaan agar kita bisa pergi.
Kamu benar.
Kalian semua tahu ini hari apa, bukan?
Harga diri Silent Monster bergantung pada hal itu.
"Hari Olahraga"
Se Jong!
Kemarilah, bolanya di sini.
Hei.
- Apa yang kulakukan? - Oper bolanya ke sana.
Gol!
Jika tidak hamil, aku akan terbang di lapangan.
Kenapa hanya aku yang bermain?
Bos, apa yang kamu lakukan? Fokuslah dalam pertandingan ini.
- Anda harus berusaha lebih baik. - Ayo.
- Ayo. - Ayo.
- Sepak bola serius. - Semuanya, minggir.
- Ayo. - Terus!
- Ayo. - Kamu bisa melakukannya.
- Ayo. - Ayo.
- Ayo. - Ayo.
Oper bolanya.
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku menyundulnya?
Apa lebih aman jika memakai dada?
Atau yang lebih keren...
Jika aku gagal, mereka akan kecewa.
Tunggu, bagaimana jika aku berhasil?
Mereka semua akan melihat ke arahku.
Apa itu?
Kenapa?
Kenapa kamu melakukan itu?
Dia menggemaskan. Sangat manis.
Cuaca yang sempurna untuk menderita.
Cuaca yang sempurna untuk menebarkan abu.
Tunjukkan kemampuanmu.
Ini dia.
Ayo, Sun Bong!
Ayo, Ro Woon!
- Ayo, Ro Woon! - Siap dan mulai.
- Bertahanlah! - Kamu bisa melakukannya.
Bertahanlah!
Fokus.
- Mulai. - Ayo, Gyo Ri!
Kamu hebat.
- Kamu hampir menang. - Bertahanlah.
Bertahanlah!
Kamu bisa melakukannya!
Menyerahlah!
Menyerahlah sekarang juga!
Tidak!
"Hadiah kedua"
Aku akan mengumumkan pemain terbaik.
- Siapa yang menang? - Pak Kang Woo Il!
"Hadiah pertama"
Ini acara untuk kalian.
Aku tidak enak karena telah bersenang-senang.
Tetap saja, aku menghargai hadiahnya.
Sebagai balasannya, aku akan mentraktir makan malam.
"Hadiah pertama"
- Selamat. - Terima kasih.
- Cium dia! - Cium dia!
- Cium dia! - Cium dia!
Aku iri.
Kembalilah ke tempatmu.
Sebelum kita menutupnya,
ayo dengar sesuatu dari Pak Eun.
Aneh melihat adikku mencium pria.
Seperti yang kalian tahu,
aku tidak terbiasa
bicara di depan banyak orang.
Aku ingin mengatakan hal berbeda kepada kalian masing-masing.
Itu sebabnya aku...
Ini adalah...
Kartu ucapan Natal yang kutulis tahun lalu.
Maaf terlambat memberikannya.
Aku akan memanggil kalian satu per satu.
Nona Park Bo Gyung.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Terima kasih untuk kerja kerasmu.
Nona Dang Yoo Hee.
- Terima kasih. - Pak Woo Hae Yong.
Pak Um Sun Bong.
Nona Jung Yi Yun.
Pak Jo Sun Yong.
Pak Jang Se Jong, Pak Baek Jun.
Nona Yoo Hyun Joo, Nona Kim Gyo Ri.
Surat terakhir.
Nona Lee So Hee.
Itu saja.
Aku tidak dapat.
- Kamu tidak dapat? - Benar.
Kenapa aku tidak dapat? Bos.
Bos.
Bos.
- Bos. - Turun hujan.
Bos.
Bos.
Apa kartu ucapanku berbeda dari orang lain?
Apa kamu mau diam-diam memberikannya?
Bukan seperti itu.
Aku tidak menulis surat untukmu.
Kamu bohong.
Kamu menggodaku, bukan?
Aku tidak akan tertipu. Berikan kepadaku.
Di mana suratku?
Kamu sungguh tidak ada surat untukku?
Aku tahu kamu lebih mementingkan pegawaimu.
Kamu bahkan setahun ini fokus bekerja.
Kamu tidak menghabiskan banyak waktu bersamaku.
Aku melalui semua itu.
Aku tahu kamu sudah pengertian.
Aku menghargainya.
Kini perusahaan sudah membaik.
Apa aku tetap menjadi
prioritas keduamu?
- Bukan seperti itu. - Itu benar.
Apa tadi kamu tidak melihatku terkena bola?
Apa kamu berharap aku berlari ke arahmu dan menghiburmu
di depan semua pegawai?
Bagaimana dengan Pak Kang? Dia bahkan mencium Yi Soo.
Itu...
Perlakukan aku dengan adil. Aku salah satu pegawaimu.
Kenapa kamu tidak menulis surat untukku?
Masalahnya adalah
aku menulis surat untukmu.
Usahaku lebih besar untuk menulis suratmu.
Aku berkali-kali menulisnya.
Aku mau menyampaikan perasaanku
dengan jujur.
Itu hanya alasan.
Lupakanlah.
Kamu tidak mencintaiku.
- Kenapa kamu bilang seperti itu? - Bagiku, cinta bukan
tentang ragu-ragu atau memikirkan harus berbuat apa.
Bukan sesuatu yang kamu pikirkan.
Kamu harus melakukannya seperti orang gila.
Aku bukan orang seperti itu.
Tentu saja bukan.
Kamu akan basah.
Aku orang yang seperti itu.
- Astaga. Ro Woon, kamu basah kuyup. - Ro Woon.
Kamu akan demam.
- Kenapa kamu jalan di bawah hujan? - Kamu basah kuyup.
- Apa ini? - Kenapa kamu melakukannya?
- Astaga. - Jangan main hujan.
Suara apa ini?
Astaga. Lihatlah itu.
- Astaga. - Astaga.
- Apa yang terjadi. - Tidak dapat dipercaya.
Astaga.
Ro Woon, aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu, Ro Woon!
Pergilah.
Aku mencintaimu, Chae Ro Woon!
Aku mencintaimu!
Di bagian mana kamu terkena bola?
- Apa? - Apa di bagian ini?
Semua orang melihat.
Tunggu, apa di bagian ini?
Pasti di bagian ini.
Astaga.
Aku mencintaimu.
- Astaga. - Astaga.
Aku tidak bisa melihatnya.
Sudah cukup.
Kalian berdua, carilah kamar.
"Terima kasih sudah menyaksikan My Shy Boss"
"My Shy Boss"
- "My Shy Boss", berjuang. - Berjuang!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.