Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERSEMBAHAN NETFLIX
Dia duduk di mana?
Dekat dapur.
Persetan!
Kau lihat pohon melengkung di sana?
Pohon yang mana?
Aku melihatnya.
Ayo,
masukkan gigi mundur.
Perlahan...
Jangan injak terlalu...
Berhenti.
MOBIL INSTRUKTUR
Kau terlalu jauh.
Ulang lagi.
Jangan injak gas terlalu keras.
Mulai lagi dari awal.
SEKOLAH MENGEMUDI DRAGON PORT
Pak Zhang,
kau sudah ambil tes...
enam kali?
Lengan panjang kita sudah sampai digulung.
Aku harus jaga reputasi di sekolah.
Kau tahu kenapa kau terus gagal tes?
Karena kau memaksa menyetir mobil manual.
Tapi menyetir mobil otomatis bukan menyetir sungguhan.
Kalau mobilnya bergerak, itu menyetir namanya.
Siapa peduli manual atau bukan?
Tunggu.
Halo?
Kau di mana?
Aku sedang bekerja.
Hakim tadi marah.
Dia bertanya kenapa ayahnya tak datang.
Katakan padanya aku di tempat kerja.
Dia mau dengar opinimu.
Bisakah kau datang dan bilang pada hakim untuk berikan A-Ho kesempatan?
Kenapa tak bilang saja sendiri?
Hakim ingin menemuimu dan mendengar opinimu.
Mau tahu yang kupikirkan?
Semoga dia dipenjara
sampai tua dan mati.
Kenapa berkata begitu?
Kau bisa datang besok?
Baik.
Ada masalah di rumah?
PENGADILAN DAERAH TAIPEI TAIWAN
Apa kau mendesak Radish untuk menyerang Oden?
Tidak.
Lantas kenapa dia memotong tangannya?
Aku tak tahu.
Kau tak tahu?
Kau tahu dia bawa golok?
Hanya saat kami tiba.
Lantas apa kau tahu bisa membunuh manusia dengan golok?
Kami hanya ingin menakutinya.
Motor yang kau naiki malam itu...
Siapa pencurinya?
Siapa pencurinya?
Bicara.
A-Ho, katakan.
Kau mau timpakan kesalahan padaku?
- Katakan! - Aku tak bertanya padamu.
Duduk.
KURSI KORBAN
Aku pencurinya.
Asisten, ada tanggapan?
Yang Mulia,
mohon diketahui kalau anak muda ini menyesal.
Berikan dia kesempatan untuk kembali ke masyarakat.
Ada tanggapan dari orang tua?
Pak...
Jika mau tahu opiniku, biar kusampaikan dengan tegas...
sebagai orang tua, kami gagal mendidiknya.
Kurasa kami pun tak akan berhasil ke depannya.
Semoga kau memenjarakannya untuk mendidiknya.
Kenapa bicara begitu di depan hakim?
Seperti kataku di telepon, penjarakan sampai dia mati.
Kau tak bisa berikan dia kesempatan?
Bukankah aku berikan dia kesempatan untuk dipenjarakan dan bertobat?
Ayah...
ada apa kemari?
Ayah bawakan uang kuliah.
Ayah lupa berikan kemarin.
"Raih hari ini. Tentukan jalanmu."
RAIH HARI INI TENTUKAN JALANMU
Semester ini hampir berakhir. Kenapa baru sekarang?
Sebagai penyemangat saja.
Kalau tak butuh, pakai saja sebagai buku coretan.
Ayah sebentar saja.
Uangnya di dalam buku. Jangan lupa membayar.
APA IMPIANMU?
Apa Chen Jian Ho tinggal di sini?
Boleh tahu kau siapa...
Bisa bicara di dalam?
Kau sibuk?
Kemarilah.
Namanya Xiao Yu.
Usianya 15 tahun, kelas sembilan.
Baru-baru ini tingkahnya aneh.
Aku membawanya ke dokter.
Katanya, dia hamil.
Sudah kutanyakan siapa ayahnya.
Katanya, Chen Jian Ho.
Bisa kutemui biang keladinya?
Kau tak tahu?
Tahu apa?
A-Ho sudah diusir.
Ke mana?
Belakangan dia membuat masalah.
Dia ada di lapas remaja.
Luar biasa, Xiao Yu.
Kau bahkan tak sebut satu kata pun soal ini.
Lalu, ibu macam apa dirimu?
Kau tak mau katakan sesuatu?
Aku...
Baiklah.
Sampai jumpa di sidang.
Berdiri yang tegak.
Aku akan tanyakan informasi pribadimu.
Jawab dengan jelas.
Siapa namamu?
Chen Jian Ho.
Sebutkan tanggal lahirmu.
19 April 1996.
Nomor identitas.
A151907326.
Kau terkena dakwaan apa?
Penyerangan.
Lama hukumanmu?
Tiga tahun.
Berlutut.
101896.
- Siap. - Berdiri.
Ambil barang-barangmu.
Masuk.
CHEN JIAN HO 101896
"Bahkan mereka yang mengendalikan diri pernah melakukan kesalahan,"
kata Sima Guang.
"Orang terpelajar yang mencari arah,
tapi malu akan baju dan makanan seadanya,
tak pantas diajak bicara."
"Baju dan makanan seadanya", sebenarnya
bukan berarti "menjijikkan."
Beberapa mengartikan "pakaian lusuh," tapi bukan berarti begitu.
Jadi...
Hei, kau.
Kau yang di situ.
Kau yang di situ.
Ya, kau.
Kau...
tak setuju pada isi materiku?
Bukan begitu, Pak.
Atau...
Atau kau tak percaya pada ucapan Sima Guang?
Bapak percaya?
Jujur, aku juga tak percaya.
Tapi yang kupercaya
kau akan keluar dari kelasku.
Keluar!
Mari lanjutkan.
MOBIL INSTRUKTUR
Bersiap berganti jalur.
Lampu lalu lintas 30 meter lagi.
Lihat 90 derajat ke tiap arah.
Pastikan tak ada mobil datang.
Bersiap berganti jalur.
Berganti jalur.
Berganti jalur selesai.
Bu.
Kau menyetir di antara dua jalur.
Benar juga...
Rasanya berbeda sekali
menyetir di jalanan.
Instruktur, kau sudah menikah?
Aku sudah menikah.
Berapa anakmu?
Satu.
Sudah bekerja?
Belum.
Tahun depan dia masuk kedokteran.
Anak baru.
Sudah lama kau di sini?
Di sini jika tak tahu aturan, kau harus bertanya.
Mengerti?
Kau bisu?
A-Bin, biar aku saja.
Tak bisa menyapa?
Kau ini bisu atau bagaimana?
Berdiri...
Berdiri.
Berdiri tegak.
Berdiri tegak.
Apa? Kau tak bisa berdiri?
Tak bisa berdiri?
Kurang ajar!
- Habisi dia. - Lepas!
Sudah.
Berdiri.
RAIH HARI INI
Pak Chen.
Pak Chen.
Pak Chen.
Aku ayah Oden.
Ada masalah?
Ini soal Oden.
Hakim sudah memutuskan.
Ada kompensasi sejumlah 1,5 juta.
Ada hubungannya denganku?
TENTUKAN JALANMU
Tidak. Tadi aku pergi ke rumah Radish.
Kulihat rumahnya. Hanya neneknya yang tinggal di sana.
Orang tuanya pergi.
Kalau rumahnya seperti itu,
tak mungkin mereka mampu membayar.
Pak...
Aku panggil apa, ya?
Boleh kupanggil Oden Senior?
Nama keluarga kami Qiu.
Pak Qiu.
Pulanglah, tanyakan Oden,
siapa yang memotong tangannya.
Kalau A-Ho yang memotongnya,
aku pergi ke ATM sekarang dan membayarmu.
Pak Chen.
Jangan mendekat!
Apa...
Berhenti!
Berhenti!
- Apa-apaan ini? - Berhenti!
Chen Jian Ho.
Kenapa serang Huang Shi Long?
Dia lebih dahulu.
Kau menyerang lebih dahulu?
Aku hanya tak mau mereka berkelahi.
Tak mau mereka berkelahi?
Bukankah mencekiknya itu berlebihan?
Chen Jian Ho, dengar.
Masa tahananmu bergantung pada kelakuanmu.
Kau bisa mengacau tiap hari.
Tapi biar kuberi tahu,
kau akan ada di sini lebih lama dari yang lain.
Bisa kita hentikan ini sekarang?
Chen Jian Ho.
Lihat aku.
Bisa?
Huang Shi Long.
Bisa?
Bisa?
Tulis pernyataanmu. Jangan bertatapan.
Kau juga.
Chen Jian Ho, cepat.
Ibumu di sini.
Chen Jian Ho, jendela lima.
Xiao Sheng Xuan, jendela delapan.
Angkat teleponnya, sebutkan nomor dan namamu.
101896, Chen Jian Ho.
Ada apa denganmu?
Tak apa-apa.
Aku terbentur jendela.
Pakai otak jika mau berbohong.
Jendela apa yang bisa membuatmu seperti itu?
Ibu harus tanya...
Kau punya musuh di luar?
Kau berutang uang?
Ada omong kosong yang belum kau beri tahu?
Beri tahu kami.
Jangan biarkan kami tak tahu saat orang mengetuk pintu kita.
Semua baik-baik saja.
Jangan bilang semua baik-baik saja.
Ada yang kau perlukan?
Bisa belikan aku dua...
146?
- 146. - Ya.
Dan dua pasang 904.
904.
Dua pasang.
Mi instan dan kudapan.
428 juga.
428 apa?
Telur besi.
Kenapa kau mau telur besi?
Aku sudah lama tak membawanya.
Berapa?
Lima.
Terlalu banyak.
Ibu ambilkan dua.
Lihat bagaimana dua angka ini terhubung.
Lihat, 8 dikali 2 sama dengan 16.
2 dikali 8 juga 16.
Dan seterusnya.
Lihat, 8 dikali 3 sama dengan 24.
3 dikali 8 juga 24.
Seperti itulah.
Ini, lihat...
Kunjungan Chen Jian Ho berakhir.
Baik, terima kasih.
Taruh barangmu di sini.
Akan kukembalikan setelah pemeriksaan.
Ini buku tulismu.
Saat kau masuk,
tempat dudukmu di barisan belakang kelas.
Silakan.
Sebagai tambahan,
hasil 1 tambah 2 tambah 3 sama dengan 6.
Kalau kutukar,
1 tambah 3 tambah 2...
Hati-hati.
Huang, kau sedang apa?
Duduk yang rapi.
Mata ke depan.
Chen Jian Ho, kau juga.
Ambil barangmu.
Duduk.
Cepat.
Semuanya, perhatikan ke depan.
Permisi.
Makanmu sedikit sekali.
Kau masih marah pada guru sastramu?
Halo, aku Guo Xiao Zhen.
Ibuku bawa banyak makanan hari ini.
Aku tak bisa habiskan sendiri.
Ayo makan bersama.
Makanlah sepuasmu.
Sekenyang mungkin.
Jangan tidur malam ini
atau kupukul kau sampai muntah.
6 dikali 1 sama dengan 6.
6 dikali 2 sama dengan 12.
6 dikali 3 sama dengan 18.
6 dikali 4 sama dengan 24.
6 dikali 5 sama dengan 30.
6 dikali 6.
6 dikali 6.
36.
6 dikali 6 sama dengan 36.
6 dikali 7.
40.
6 dikali 8.
6 dikali 8.
48.
Kalau enam orang beli amfetamina darimu
dan masing-masing 8 kantong,
berapa kantong yang kau jual?
48.
Benar.
Itu artinya "6 x 8 sama dengan 48".
Jika delapan orang memotong tubuhmu,
masing-masing memotong 6 kali,
berapa kali kau terpotong?
48 juga.
Bodoh.
Lima potongan saja kau mati.
Tak butuh potongan tambahan lagi.
Namaku Chen Jian Ho.
Semua memanggilku A-Ho.
Panggil aku A-Ho juga.
Guo Xiao Zhen.
Guo Xiao Zhen.
Ada yang menjemputmu?
Tidak.
Aku naik bus.
Aku bisa naik bersamamu?
Kau sejalan?
Tak apa-apa, aku bisa pulang nanti.
Halo, namaku Chen Jian Hao.
Aku tahu.
Bagaimana bisa?
Kau terkenal di bimbingan belajar.
Para guru membanggakanmu.
Kali terakhir,
aku bertanya sesuatu.
Kenapa tak kau jawab.
Terakhir, pertanyaanmu terlalu banyak.
Aku tak tahu harus jawab apa.
Aku juga tak mengenalmu.
Kenapa aku belum melihatmu di kelas?
Aku baru masuk bulan lalu.
Aku sudah mengulang ujian dua kali.
Aku hampir menyerah,
tapi aku di sini.
Kau naik bus apa?
Nomor 257.
Guru sastra pernah membahas
Kesederhanaan untuk Putraku Sima Guang?
Aku tiba-tiba teringat
cerita Sima Guang muda yang menjebol tangki air.
Kau pernah dengar?
Maksudmu saat
Sima Guang
menjebol tangki air
dan menyelamatkan seorang anak yang tenggelam di dalamnya?
Tidak.
Di cerita sebenarnya,
Sima Guang dan anak-anak lainnya main petak umpat.
Sima Guang yang pertama jaga.
Setelah dia menemukan semuanya,
dia tiba-tiba berkata,
"Satu orang masih bersembunyi."
Semua saling menatap dan bilang,
"Tidak. Semuanya di sini.
Siapa yang menghilang?"
Tapi Sima Guang bersikeras.
Satu anak itu masih belum ditemukan.
Mereka kebingungan.
Jadi, mereka mulai mencari anak yang dia bicarakan.
Setelah mencari sebentar,
akhirnya, di bawah pohon,
mereka menemukan tangki air besar.
Semuanya gembira setelah melihat tangki itu.
Mereka menunjuk tangkinya dan berkata,
"Dia pasti ada di sana."
Tapi hanya Sima Guang
yang tetap terdiam.
Sima Guang mengambil...
Nomor 257.
Lalu?
Lalu, Sima Guang
mengambil batu besar
dan memecahkan tangkinya.
Tangkinya pecah.
Namun tak ada air yang keluar.
Semuanya tercengang.
Karena mereka melihat anak kecil
duduk di sudut gelap tangki
melihat ke luar.
Kau tahu siapa anak itu?
Sima Guang sendiri.
Maaf.
Aku menceritakan
kisah yang buruk.
Kau jadi melewatkan busnya.
Mau pulang?
Ya, sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Kenapa kau di sini?
Aku mencari Chen Jian Ho.
Ibumu tahu kau kemari?
Naiklah.
SEKOLAH MENGEMUDI DRAGON PORT
Dia ayah A-Ho.
Namanya Xiao Yu.
Dia teman A-Ho.
SEKOLAH MENGEMUDI DRAGON PORT
Tunggu sebentar di sini.
Beberapa hari lalu,
ibunya berkunjung
dan bilang kalau dia hamil.
Dia mengandung anak A-Ho.
Aku ingin memberitahumu lebih awal, tapi dia...
Dia tiba-tiba muncul.
Untuk apa?
Dia mencari A-Ho.
Kau gila?
Kau tak katakan ulah putramu?
"Putraku"?
Dia putramu juga.
Masa bodoh.
Aku juga ingin katakan sesuatu.
Kau tahu Oden Senior?
Dia ayah Oden.
Belakangan dia datang menemuiku.
Dia mau kita bayar kompensasi satu juta lebih.
Putramu benar-benar luar biasa.
Dia dipenjara, tapi kita masih harus membersihkan kotorannya.
Kau bisa diam?
Aku sudah muak!
Telepon ibu gadis itu dan bawa dia pulang.
Xiao Yu!
Xiao Yu!
Xiao Yu!
Kau sedang apa?
Aku mau pulang!
- Jangan lakukan itu. - Pergi!
- Aku pulang! - Jangan!
Kau mau ke mana semalam ini?
Aku mau pulang!
Berhenti.
Pergi!
- Ada apa? - Pergi. Aku mau pulang.
Baiklah.
Aku mau pulang...
Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?
Aku baru bicara dengannya soal bayinya.
Kutawarkan apa dia mau mengaborsinya.
Dia bilang ingin mempertahankannya.
Lalu, kutanyakan siapa yang merawatnya.
Dia tak bicara.
Lalu, kami bertengkar.
Dia sudah bilang padamu?
Bilang apa?
Kalau aku bukan ibunya.
Kau ingat sepuluh tahun lalu...
ada berita soal bus tur yang terbakar di jalan tol?
Banyak yang tewas dalam kebakaran.
Saudari dan suamiku di antaranya.
Mereka meninggalkan anak.
Itulah Xiao Yu.
Kami memutuskan membesarkannya.
Kakak iparku tak keberatan.
Saat anak-anak, Xiao Yu menggemaskan.
Dia berubah setelah tumbuh dewasa.
Kau sudah menikah?
Saat mengurusinya beberapa tahun ini,
aku tak punya waktu...
Aku tak memikirkan seorang kekasih, apalagi pernikahan.
Yang bisa kulakukan sekarang
hanyalah menjaga Xiao Yu di sisiku
sampai dia melahirkan.
Itu yang terbaik untukmu,
Xiao Yu, dan A-Ho.
Bagaimana menurutmu?
- Perhatikan saat kutunjukkan ini. - Baik.
Aku harus membuat poni di depan.
Berapa lama lagi?
Hampir selesai. Hanya poninya saja yang belum.
Perhatikan.
Kau mau digerai saja?
- Digerai saja. - Mau dikuncir samping?
- Tidak. - Digerai.
Baik...
Xiao Yu.
Kau melihat apa?
Bantu bawakan itu ke sini.
Itu panas.
Gulung. Tasnya di sebelah sana.
Gulung kabelnya.
Jangan kusut.
Atur kursi, sandarannya,
periksa sabuk pengaman,
lalu periksa jendela.
Periksa spion kiri, dan kanan.
Nyalakan mobilnya.
Ada rintangan di depan.
Penguji meminta untuk memutar.
Beri lampu berbelok.
Bersiaplah berganti jalur.
Lihat 90 derajat ke tiap arah. Pastikan tak ada mobil yang datang.
Ganti jalur.
Berganti jalur selesai.
Pak, pelan-pelan.
Kita tak sedang balapan.
Sudah berapa lama kau menyetir?
Lima belas tahun.
Berapa usiamu sekarang?
Dua puluh tujuh.
Kau mulai menyetir saat usia tiga belas tahun?
Ya.
Kenapa menunggu selama ini untuk SIM?
Aku tak pernah punya waktu.
Memang apa pekerjaanmu?
Aku di tim kebersihan Balai Kota.
Baik, jangan bicara lagi.
Belok kiri di persimpangan.
Pak Chen,
kau sudah mempertimbangkan
yang kali terakhir kukatakan?
Ada pertimbangan lain?
Soal 1,5 juta itu.
Aku sudah memikirkannya baik-baik,
aku tak mau membayar sepeser pun.
Kasihanilah kami sedikit.
Kenapa kau tak mendidik putramu dengan baik?
Seharusnya kau tahu ini akan terjadi kalau dia mengacau.
Bagaimana kalau dia yang menilai?
Kau biarkan orang asing menilai?
Apa-apaan itu?
Kau sendiri masuk ke mobilku.
Aku ingin mengabaikanmu.
Jangan memaksakan nasib.
Menepi!
Keluar.
Bukan kau.
Kau.
Keluarlah.
Kau tak akan dapat sepeser pun dariku.
Aku akan lapor bosmu.
Akan kukatakan semuanya.
Aku warga negara yang dilindungi hukum.
Sidang sudah menentukan. Sudah selesai.
Ambil saja dari keluarga Radish.
Kalau keluarga mereka punya masalah,
jadilah warga negara yang baik
dan bantu mereka mencari bantuan hukum.
Kenapa kau bicara begitu?
Tunggu, satu lagi...
Tak peduli kau lapor bosku atau siapa pun.
Tak ada gunanya.
Hei.
Kenapa kau mengatakan hal itu?
Ibu.
Ada apa?
Semua baik-baik saja.
Jangan bilang semua baik-baik.
Aku tahu ada yang salah.
Xiao Yu akan cek kehamilan besok.
Ibu sibuk.
Bibinya sedang tak ada di Taipei.
Ibu sudah minta ayahmu mengantarnya.
Ibu kira mereka akan lebih mengenal,
tapi ayahmu marah.
Aku bisa antar Xiao Yu.
Kau tak ada kelas?
Tak apa-apa. Aku akan hadir di pertemuan kedua.
Tidurlah, Bu.
Halo.
Aku boleh masuk?
Ya.
Kau sedang apa?
Aku sedang berlatih mengepang.
Bibi dan Paman bertengkar hebat.
Nanti kau terbiasa.
Mau kuantar cek kehamilan besok?
Ya.
Atau kau mau bertemu A-Ho?
Kau mau menemuinya?
Bolehkah?
Bisa.
Kalau Bibi tahu, akankah dia marah?
Kalau begitu, jangan beri tahu.
Hati-hati.
Tutup.
Satu.
Satu.
Satu, dua, satu.
Satu, dua.
Mulai hitungan "satu".
Dua.
Tiga.
Empat.
Satu, dua.
Tiga, empat.
Satu, dua.
Tiga, empat.
- Satu, dua, tiga. - Empat.
Ulangi.
Lebih keras.
Satu.
Satu.
Satu, dua.
Satu, satu, dua.
Satu, dua.
- Halo. - Ada yang bisa kubantu?
Kami ingin menemui seseorang.
Nama anaknya?
Chen Jian Ho.
Apa hubunganmu?
Aku kakaknya.
Dan gadis ini?
Pacarnya.
Pacar tak bisa berkunjung. Dia bukan anggota keluarga.
Maaf, tapi kami datang dari Taipei.
Kami tak bisa dapat keringanan?
Maaf, tak bisa.
Sudah aturan institusi.
Baik, terima kasih.
Maaf, aku tak pastikan sebelumnya.
Mau kita pergi dan kembali lain kali?
Tak masalah. Kau masuk saja.
Ada apa?
Aku masuk sendiri saja.
Baiklah, masuklah sendiri.
Zhou Zheng Long, jendela lima.
Chen Jian Ho, jendela tujuh.
Angkat teleponnya dan sebutkan nomor dan namamu.
101896, Chen Jian Ho.
Kenapa kau di sini?
Tadinya aku akan antar Xiao Yu cek kehamilannya.
Lalu kutawarkan bertemu denganmu.
- Kami pun datang. - Cek kehamilan?
Kau tak tahu?
Usia hamil antara dua-tiga bulan.
Ibu tak beri tahu?
Sial!
Jian Ho, kendalikan emosimu
atau kunjungan ini akan diakhiri.
Di mana Xiao Yu sekarang?
Dia di luar. Tak bisa masuk.
Ibu sudah datang berkali-kali.
Tampaknya dia ingin katakan sesuatu, tapi tak bisa.
Kau juga tak sampaikan apa pun.
Ibu tahu karena ada yang membawa Xiao Yu ke rumah kita.
Ibu tetap diam agar tak membuatmu khawatir.
Tapi kenapa kau...
- Cukup. - Kenapa menghindar dari masalah?
- Kenapa kau di sini? - Kau tak peduli?
Kau bawa Xiao Yu ke sini, tapi aku tak bisa melihatnya.
Kenapa kau yang beri tahu, bukan Ibu?
- Chen Jian Ho, kau bisa tenang? - Chen...
Aku di sini sekarang. Aku tak bisa apa-apa.
Jian Ho, cukup.
Kunjunganmu berakhir.
A-Wen.
A-Wen.
Bau apa itu?
Ada yang membawa truk sedot tinja dan menyemprot isinya ke mana-mana.
Bos marah besar.
- Apa hubungannya denganku? - Dia mau menemuimu.
Temuilah.
Di mana dia?
Di mana dia?
KONSTRUKSI DA ZHAN
Kurang ajar!
Bau sekali.
Kemari kau!
A-Wen.
Lihat.
Truk sedot tinja ini dibawa ke sini tadi pagi.
Aneh...
Tak ada yang melihatnya.
Saat aku tahu, sudah terlambat.
Sudah disiram ke mana-mana.
Akhirnya aku tahu dia datang ke sini untukmu.
Kita harus bagaimana?
Hari itu, kau meninggalkanku di pemakaman gunung itu.
Aku berjalan dan berjalan sampai malam. Tak kutemukan jalan turun.
Dasar biadab!
Kenapa tak kau panggil polisi.
Sudah kupanggil.
Mereka pergi...
sedang sarapan.
Mereka menyuruh menelepon saat ada nyawa yang terancam.
Sekarang apa?
Tangani ini sekarang.
Turunkan selangnya sekarang.
Keluarkan truknya dari sini.
Ayo bicarakan ini di kantor.
Mau bicara apa lagi? Kalau kau tak berjanji...
Jika tidak, tak usah bicara!
Bukankah ini pemaksaan?
Ambil uangnya hari ini!
Tanpa uang itu, aku tetap di sini!
Sudah kubilang, aku tak akan pergi.
Jangan lupa
putramu yang memotong tangan putraku!
Kenapa tak tanggung jawab?
Bosmu...
Bos...
Bukankah kau bosnya?
Tentukan sekarang!
A-Wen...
berapa uang yang dia inginkan?
Putraku tak memotong tangan anaknya.
RAIH HARI INI TENTUKAN JALANMU
Jangan langsung bahas itu.
Sejujurnya, putramu harus tanggung jawab.
Kalau kau tak membayar, dia akan bawa masalah lagi.
Kami pun bisa gulung tikar.
Pengadilannya?
Apa putusannya?
1,5 juta.
Bukankah terlalu banyak?
Akan kubicarakan padanya, apakah 600.000 cukup.
Aku juga tak punya 600.000.
Kalau mau tahu, tawar saja 200.000.
Akan kuberikan tiga hari lagi.
Sedikit sekali.
200.000 cocok untuk kewajiban moralku.
Suruh dia cari sisa kewajiban moral dari keluarga Radish.
Siapa?
Zhang, dari lantai empat.
Pak Chen.
Maaf, ini sudah malam.
Tapi ada orang di bawah.
Dia mirip putramu. Bisa melihatnya?
Itu bukan A-Hao.
Itu bukan A-Hao.
Itu bukan A-Hao.
DIAM DAN HORMATI
Bu Chen.
Aku Xiao Zhen, aku sudah meneleponmu.
Tunggu aku di mobil.
Kau kenal dari mana?
Kami satu kelas di bimbingan belajar.
Kalian sering bertemu?
Untuk beberapa waktu,
dia sering mengantarku pulang.
Kapan kalian terakhir bertemu?
Sabtu kemarin.
Kami ke kebun binatang bersama.
Kebun binatang?
Dia terlihat berbeda?
Perasaan yang kudapat hari itu...
sama seperti biasanya.
Dia sangat baik.
Kadang terlihat seperti...
dia menyebarkan seluruh kebaikannya
dan lupa untuk diri sendiri.
Di jalan pulang,
dia menanyakanku...
"Menurutmu apa ciptaan teradil di dunia?"
Makhluk hidup?
Katanya "matahari."
Dia tak bilang alasannya.
Dia hanya tertawa.
Lalu?
Lalu,
kami tak pernah bertemu lagi.
Kenapa?
Dia tak lagi datang ke kelas.
Aku mengiriminya SMS.
Dia tak membalas.
Bagaimana bisa?
Aku masih melihatnya setiap hari pergi pagi sekali,
dan pulang larut malam.
Kukira...
dia pergi menghadiri kelasnya.
Pada hari kejadian itu,
dia tiba-tiba mengirimiku SMS.
Apa isinya?
Kau belum melihat?
Dia menghapus semua SMS dan riwayat panggilan
dari ponselnya.
Dia juga merapikan kamarnya...
seolah-olah tak ingin merepotkan kami.
Bisa kirimkan SMS itu?
Bu Chen, maaf.
Aku sungguh...
Aku sungguh tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.
Kau pacarnya?
Aku tak tahu.
Tapi aku mengharapkannya.
Ciptaan teradil di dunia adalah matahari.
Terlepas dari garis lintang,
sepanjang tahun ini, seluruh tempat di Bumi
mendapat rentang siang dan malam yang sama.
Kita pergi ke kebun binatang beberapa hari lalu.
Matahari bersinar
begitu kuat hingga hewan tak tahan.
Mereka semua mencari tempat bernaung.
Aku kebingungan. Aku kehabisan kata-kata.
Aku juga berharap, seperti hewan-hewan itu,
aku bisa bersembunyi dalam naungan.
Namun melihat sekitarku,
aku sadar bahwa tak hanya hewan yang bersembunyi,
tapi kau,
adikku,
bahkan Sima Guang.
Kalian bisa menemukan semua sudut gelap tempat bernaung.
Tapi aku tak bisa.
Aku tak punya tangki air,
tak ada tempat sembunyi,
hanya sinar matahari.
24 jam, tanpa terganggu,
hangat dan berseri,
menyinari segalanya.
Jian Ho...
Berhenti!
Berhenti berlari!
Berhenti!
Tunggu!
Jongkok.
Jongkok sepenuhnya.
Ini soal kakakmu?
A-Ho.
Ada banyak hal yang tak bisa kita ubah.
Kami berduka soal kakakmu.
Tapi menjadi marah seperti ini
tak ada gunanya.
Pikirkan keluargamu.
Mereka menunggumu di luar sana.
Menunggu apa?
Menungguku menjadi orang yang lebih baik?
Menungguku menjadi orang sebaik kakakku?
Sejak kami kecil...
semua orang menyukainya.
Nilainya bagus.
Dia tampan.
Mengagumkan.
Saat dia tak masuk sekolah medis, dia memutuskan mengulangi tesnya.
Dia luar biasa.
Saking luar biasanya, aku membencinya.
Kata mereka, aku payah
dan menyedihkan.
Tapi setidaknya aku masih di sini.
Tapi kakakku?
Saking baiknya dia hanya melakukan satu kesalahan selama hidupnya,
yaitu melompat dari tempat tinggi.
Dia luar biasa.
Dia luar biasa.
Lucu sekali.
Dia sangat suka tidur.
Jangan bangunkan dia.
Xiao Yu.
Kau harus istirahat.
Sejak Xiao Yu pindah bersama kami,
dia belum bertemu A-Ho.
Menurutku,
saat anaknya berusia satu bulan,
kita akan bawa Xiao Yu menemuinya.
Tentu.
Tapi...
Tapi mereka harus menikah dahulu
sebelum Xiao Yu bisa menemuinya.
Seperti apa A-Ho itu?
Aku tak mengenalnya.
Saat usianya sekitar empat tahun...
dia suka berboncengan pakai sepeda.
Kukira tak masalah...
untuk bersepeda dengannya.
Tapi tak lama setelahnya...
setelah dia naik sepeda,
dia menolak untuk turun
dan memintaku untuk terus mengayuh.
Beberapa kali kami bahkan bersepeda dua sampai tiga jam.
Dia tak mau turun.
Kenapa tidak kau larang?
Dia bisa membuat masalah.
Dia tak mau tidur di malam hari.
Dia mengamuk semalaman.
Semua berjalan seperti ini
selama sekitar dua tahun...
sampai dia masuk SD.
Saat SD, dia sangat tak bahagia.
Kukira teman sekelasnya mengganggunya.
Saat kutanya, dia tak mau menjawab.
Saat SMP, dia benar-benar berbeda.
Dia bergabung tim tinju.
Dia berkelahi di sekolah.
Dia berkelahi di luar sekolah
sampai terjadi insiden itu.
Dari penjelasanmu,
bagaimana bisa aku tenang jika Xiao Yu kubiarkan dengannya?
Tentu saja tidak.
Tapi setidaknya kita bisa khawatir bersama.
Lepaskan tekanan. Tenang.
Jangan bergerak atau berbicara.
BANYAK BERKAT
Maaf sudah menunggu. Aku Michael.
Aku Amy.
Chen Jian Ho.
Wang Ming Yu.
Chen Jian Ho, bersediakah kau menikahi Wang Ming Yu?
Aku bersedia.
Wang Ming Yu, bersediakah kau menikahi Chen Jian Ho?
Aku bersedia.
Tanda tangan istri di sisi kanan, suami di sisi kiri.
Hanya menghidupkan suasana.
RAIH HARI INI TENTUKAN JALANMU
Pertama,
mari hormati semua yang telah wafat.
Dengan SIM ini,
kehidupan baru akan dimulai untukmu.
Kalian bisa minta ibu dan ayahmu
uang untuk membeli mobil.
RAIH HARI INI TENTUKAN JALANMU
Bagi yang mengemudi tanpa SIM
bisa berbalapan liar tanpa khawatir,
tanpa takut tertangkap.
Para murid yang belum lulus,
jangan bersedih.
Hidup memang penuh perjuangan.
Bulan lalu,
aku menghadiri upacara pemakaman putraku.
Aku juga harus menguatkan diri
dan tetap mengajar kalian.
Hidup ini tentang meraih setiap hari dan menentukan jalanmu sendiri.
Hal menyakitkan akan selalu berlalu
dan dilupakan.
Aku selalu berpikir
bahwa hidup selayaknya jalanan.
Selama kalian memegang setir,
berhentilah saat melihat lampu merah.
Injak gas perlahan saat lampu hijau
dan mengemudi dengan stabil.
Dengan begitu, jalan kehidupan akan halus dan tenang.
Bagi yang tak lulus,
ingatlah kesalahan kalian
dan perbaiki lain kali.
Alasan ini terjadi pada putraku,
karena aku tak perhatian.
- Bahkan jika aku perhatian... - A-Wen.
aku tak menganggapnya serius.
- Seperti inilah akhirnya. - A-Wen.
- A-Wen. - Orang-orang...
Ada apa?
Kelas sudah berakhir. Ada yang harus kembali bekerja.
A-Wen.
A-Wen.
Ada apa denganmu?
Maksudmu apa?
Ada yang bilang padaku saat kau bicara dengan murid-murid,
kau sering bertingkah aneh dan teralihkan.
Apa pemakaman putramu
ada kaitannya dengan yang tak lulus?
Kau menakuti mereka.
Tidak, aku hanya mencoba meyakinkan mereka.
Lebih baik kau cuti sebulan.
Kau memecatku?
Lihat dirimu sendiri.
Rambutmu mulai beruban. Menyedihkan sekali.
Jika kau kupecat,
dan ceritanya sampai menyebar di seluruh kantor kita,
habislah aku.
Baris ketiga.
- Lagi. - Lagi.
Hei, kalau sudah, jangan ambil lagi.
Yang lain juga butuh makan.
Baik.
Kembalikan.
Chen Jian Ho, saat kau selesai makan,
siapkan barang-barang di kamarmu dan bersiaplah untuk keluar.
Hati sebuah bunga
Tersembunyi di putiknya
Telah melewatkan musim berseminya
Hatimu
Telah melupakan musim itu
Dan tak pernah membiarkan yang lain Dengan mudah memahaminya
Kenapa tidak
Kau pegang tanganku?
Bersama kami akan dengar Senandung matahari dan bulan
Siang mengikuti malam
Siang mengikuti malam
Berapa banyak suka dan duka Yang hidup adakan?
Musim semi datang dan pergi
Bunga mekar dan layu
Jika kau bersedia
Jika kau bersedia
Biarkan mimpi mengalir Menuju lautan hatimu
Musim semi datang dan pergi
Bunga mekar dan layu
Jika kau bersedia
Jika kau bersedia
Biarkan mimpi mengalir Menuju lautan hatimu
Itu dia.
Ayahmu ada kelas pagi ini,
jadi, dia tak ikut menjemputmu.
Tak masalah.
Kau berencana apa?
Mencari pekerjaan.
MOBIL INSTRUKTUR
Pekerjaan apa?
Kita lihat saja.
Apa pun yang tersedia.
Kenapa sikapmu begini?
Apa maumu dariku?
Agar aku memeluknya dan memujinya?
Dia saja tak menyapa. Aku harus bagaimana?
Pekerjaan ini cukup mudah.
Hanya soal inventaris dan pindahan kotak.
Kami bisa memintamu bekerja lembur.
Apa pekerjaanmu lama?
Aku baru keluar dari lapas remaja.
Benarkah?
Pekerjaan di sini tak sulit.
Kau hanya harus berusaha.
Jika bekerja keras, kami akan ajari kemampuan yang kau butuhkan, ya?
Kau ini muda. Kerjakan saja.
Tenang saja.
Apa pekerjaan lamamu?
Aku baru keluar dari lapas remaja.
Itu...
Lapas?
Taoyuan, Changhua, Kaohsiung?
Changhua.
Bekerjalah besok.
Ada dua sif.
Pukul 08.00 hingga 16.00.
Dan pukul 13.00 hingga 21.00.
Bagaimana jika sif kedua?
A-Sheng,
pinjamkan mobilku untuk latihan.
Angkat lebih tinggi.
Bukan begitu.
Seperti ini. Lakukan ini.
Cuci dari atas ke bawah.
- Bisa? - Ya.
Angkat lebih tinggi.
Tangan kanan...
Sekali lagi.
Bu Chen, maaf.
Tak masalah.
DISEWAKAN
Awas kepalamu.
Ruangan ini sekitar 66 meter persegi.
Ruangannya gelap.
Kenapa tak nyalakan lampu?
Kau mau merampok?
Ruangan ini digunakan untuk ruang santai pegawai.
Kini bisa jadi kantor atau kamar tidurmu.
Kau sudah menginap di sini selama hampir sebulan.
Apa kau minggat dari rumah? Atau istrimu yang mengusirmu?
Mana bisa aku kembali?
Setelah A-Ho kembali,
aku tak sanggup bicara padanya.
Aku di kamarku seharian,
tak mau pergi ke mana pun
di tempat dia berada.
- Sama seperti istriku. - Ya, cukup.
Bisakah kau dewasa?
Kau ini seorang ayah.
Kenapa cekcok dengan putramu?
Kau berencana mengabaikannya
dan biarkan sampai semuanya rusak?
Ayah.
Ayah.
Ayah mau ke mana?
Ayah berjalan-jalan
mau membeli rokok.
Begitu.
Aku pulang beberapa hari lalu,
tapi tak melihat Ayah.
Kapan?
Beberapa hari lalu.
Kau butuh sesuatu?
Aku hanya mau bertemu.
Ayah.
Aku tak bisa ikut.
Aku ke arah sini.
Kau mau ke mana?
Aku harus kembali.
RAIH HARI INI TENTUKAN JALANMU
Selamat datang.
Mau beli apa?
Satu bungkus Longlife putih.
90.
Kembalian 1.000.
Bisa berikan recehan 50? Aku tak punya kembalian.
Tak masalah.
910 kembaliannya.
Ayah,
mau minum-minum?
Kau tak bekerja di tempat cuci mobil?
Setelah cuci mobil tutup pukul 21.00,
aku bekerja sif malam di sini.
Kau tak lelah?
Aku bisa tidur lima hingga enam jam.
Aku bisa.
Kenapa keluar selarut ini?
Kakakmu baru datang menemui ayah.
Kakakku?
Ayah memimpikan kakakmu...
Dia ada di gang seberang.
Jadi, Ayah datang untuk memastikan dia masih di sini?
Ayah...
Ayah tahu dia mendatangiku?
Ya.
Ibumu tak memberi tahu.
Dia membawa Xiao Yu juga.
Di samping kunjungan itu,
ada satu waktu lain.
Apa tujuannya?
Dia hanya berkata...
"Aku datang menemuimu."
Ada apa?
Tak apa-apa.
Di mimpi tadi, dia mengatakan hal yang sama.
"Aku datang menemui Ayah."
Dia pria yang sangat baik...
dan selalu penuh perhatian.
Tapi sebenarnya, tak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.
Kini semua tak masalah.
Ayah...
Aku akan pindah.
Kau tak nyaman di rumah?
Sebenarnya sejak aku kembali,
aku sudah ingin pindah.
Aku tak mengira Ayah yang pindah lebih dahulu.
Ayah belum pulang.
Ibu tak katakan apa-apa.
Dia sama sekali tak mengeluh.
Aku berharap Ayah bisa pulang.
CINTA
Pukul berapa ini?
Hampir pukul 15.00.
Tadinya aku ingin tidur siang.
Aku malah tertidur sebelum aku tahu.
Aku ingin diskusikan sesuatu denganmu,
tapi kau tak pulang.
Jadi, aku memutuskannya sendiri.
Ada apa?
Aku menyewa toko.
Aku ingin buka salon kecantikan.
Kenapa?
Xiao Yu masih muda.
Dia tak boleh bekerja di kelab.
Kalau kita punya toko sendiri, akan lebih mudah mengurus anaknya.
Xiao Yu juga bisa bekerja lebih lama.
Kau bayar dia berapa?
Itulah yang aku ingin tanyakan.
Kita bisa lepaskan polis asuransi kita?
Baiklah.
Apa pun yang menurutmu terbaik.
TIGA TAHUN KEMUDIAN
Siapa?
Siapa?
A-Ho.
Ini aku.
Astaga, A-Ho.
Tak kukira kau sembunyi di sini.
Ini mobil bosmu?
Pelanggan titipkan di sini malam ini.
Radish, jangan mengacau.
Bagaimana membukanya?
Kini aku harus bersihkan lagi.
Aku hanya bertanya cara membukanya.
Aku tak pernah lihat mobil ini.
Radish, kau tak boleh begini.
Aku hanya duduk di dalam. Aku lakukan apa?
A-Ho.
Duduklah di dalam.
Aku mau katakan sesuatu.
Tak bisa di luar sini saja?
Kau mau katakan apa?
Jangan merokok di dalam.
Kau tak bilang saat kunyalakan.
Aku sudah merokok, kau baru mulai mengeluh?
A-Ho,
hukumanmu berapa lama?
Satu setengah tahun.
Astaga. Satu setengah tahun.
Setelah kau bebas,
kau tak mengunjungiku?
Aku tak tahu kau di mana.
Kau pasti tahu kalau tanya.
Kau tahu, A-Ho,
hal pertama yang kulakukan setelah bebas adalah mencarimu.
Mobilmu punya asbak?
Aku hanya bertanya wadah puntung rokoknya.
Kenapa menatapku begitu?
Bukankah itu tak nyaman?
A-Ho,
aku ingin berbisnis.
Bisa pinjam 1,5 juta?
Di mana aku bisa dapat 1,5 juta?
Aku tak punya uang, mengerti?
Aku akan kembali padamu.
Pikirkanlah.
Jangan langsung dijawab.
Bagaimana cara keluarnya?
SEMOGA BERLIMPAH REZEKI DAN KESEJAHTERAAN UNTUK SEMUA
Bu Chen.
Bu Chen.
Ingat aku?
Aku teman A-Ho, Radish.
Aku melihatmu dari belakang, jadi, aku ingin menyapa.
Apa kabar, Bu Chen?
Baik.
Semuanya baik.
Siapa dua orang ini...
Istri dan anak A-Ho.
Berarti kau mantan pacar A-Ho, Xiao Yu?
Kau sudah tinggi dan terlihat dewasa. Aku hampir tak mengenal.
Sudah bertemu A-Ho?
Sudah.
A-Ho tak memberitahumu?
Aku mendatanginya pekan lalu.
Belakangan sedang sibuk apa?
Aku bekerja.
Bu Chen...
ini kartu namaku.
Perusahaan kami menawarkan layanan manajemen finansial.
Bu Chen, kalau butuh bantuan, kabari aku.
Kau pasti sibuk, silakan lanjutkan.
Kabari aku jika ada sesuatu.
Sampai jumpa, Nak.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
A-Ho.
A-Ho.
A-Ho, telepon.
Halo?
A-Ho.
Aku menelepon. Kenapa tak menjawab?
Kau mengabaikan teleponku?
Tidak, aku sedang bekerja.
Kau senggang sekarang?
Akan kutraktir kopi.
Jangan sekarang.
Aku masih bekerja.
Sebentar saja.
Radish, aku sungguh tak bisa.
Masih ada mobil untuk dicuci.
Bagaimana kalau aku bicara pada bosmu dan kumintakan rehat untukmu?
Kau dengar?
Bagaimana kalau pukul 15.00? Kutunggu di luar tempat cuci mobil.
Kau tak boleh kemari.
Kakak Chao...
bisa aku ambil rehat dua jam pukul 15.00 nanti?
Temanku di rumah sakit. Aku ingin menemuinya.
Ada yang serius?
Tidak.
Baik.
Saat aku bertemu ibumu kemarin,
dia bawa banyak barang.
Dia berjalan bersama istri dan anakmu di jalanan pasar.
Astaga, A-Ho. Kau luar biasa.
Kukira kau mempermainkan perempuan itu.
Tak kukira kau menikahinya.
Bukankah kau dipenjara?
Bagaimana bisa punya waktu untuk anak?
Tatapan apa itu?
Aku tak datang meminta uang.
Radish, aku benar-benar tak punya uang.
Aku tahu.
Anak dan istrimu masih sangat muda.
Tak usah dijelaskan.
POLISI
A-Ho,
pergilah ke gang sebelah kantor polisi.
Kau akan melihat kantor anggota dewan.
Ada enam peluru di sini.
Tembakkan semua ke kantor itu,
lalu teruslah bergerak maju.
Kau akan lihat gedung parkir.
Pergi ke toilet lantai B1. Ada tong sampah di pintu.
Masukkan tasnya di dalam, selesai.
Kenapa tak kau lakukan sendiri?
A-Ho.
Ini permintaan dari orang lain.
Tiba-tiba aku memikirkanmu.
Bantulah aku
dan akan kulupakan soal uang yang kuminta darimu.
Bukankah kataku akan kuberikan uangnya?
Kau berani menolakku?
Ada jaket kulit di tas.
Kau bisa memakainya.
Baik, polisi datang untuk mendenda.
Bantulah aku.
Aku tak akan mengganggu lagi.
BARANG MILIK WANFU
Ada yang bisa kubantu?
Aku ingin bertemu Radish.
Dia sedang keluar.
Begitu.
Silakan duduk.
Mau minum apa?
Tidak.
Paman Chen,
sudah menunggu lama?
Tidak juga.
Paman Chen, bagaimana kau ke sini?
Katamu liftnya rusak
dan aku harus pakai tangga.
Aku
menaiki tangga.
Paman Chen, kau ini sangat penurut.
Aku hanya bercanda.
Begitu.
Paman Chen, kenapa kau ingin menemuiku?
Kita bisa cari tempat tenang
untuk membicarakannya?
Di sini cukup tenang.
Tak nyaman berbicara di sini?
Baik.
Mau bicara di luar?
Di sini cukup tenang?
Paman Chen, ada maksud apa?
Kudengar dari istriku,
kau sudah bebas.
Karena kau baru bebas,
aku cemas kau menghadapi situasi sulit.
Sulit? Maksudnya?
Mungkin kau berencana membuka bisnis.
Paman Chen,
kukira kau datang ke sini untuk meminta bantuanku.
Aku tak mengira kau ingin membantuku.
Paman Chen, kurasa kau tak peduli kalau nasibku sulit.
Kau hanya ingin aku menjauhi putramu,
dan tak mengganggunya.
Tidak.
Tidak, bukan itu maksudku.
Di hari aku bebas,
aku tak bisa menemukan rumahku.
Kau tahu kenapa?
Rumahku disita.
Nenekku masih tinggal di sana saat itu.
Dia terpaksa tinggal di panti wreda.
Saat sidang memutuskan biaya kompensasi,
keluargaku tak ada uang.
Waktu itu, kenapa kau tak menawarkan bantuan?
Kini kau menawarkan amplop,
dan berkata ingin membantuku?
Paman Chen,
kau mencemaskan sesuatu?
Tidak.
Aku tak cemas.
Baiklah, kuberi tahu kecemasanmu.
Kau cemas kalau A-Ho kupergunakan untuk melakukan hal-hal gila.
Paman Chen, tenang.
A-Ho sudah hidup baik sekarang.
Dia akan baik-baik saja.
Setidaknya...
dia tak akan seperti kakaknya.
Kudengar kakaknya...
Berapa lama kau bebas?
Hampir tiga tahun.
Dan kau sudah
bekerja selama itu?
Ya.
Kau?
Berapa lama kau bekerja di sini?
Aku sudah lama bekerja di sini bersama ayahku.
Tapi setelah kehilangan tanganku,
aku mulai bekerja keras.
Pada akhirnya,
mereka tak bisa
mengembalikan tanganmu?
Tentu saja tidak.
Potongan Radish sangat bersih.
Sekali potong jatuh ke dalam sup.
Kata dokter,
jika itu jatuh ke tempat kotor,
aku masih berkesempatan.
Tapi karena jatuh ke sup,
tak ada kesempatan.
Semua otot berkontraksi.
Apa?
Kau mau lihat bekasku?
Lihat.
Seperti leher ayam tanpa kepala.
Kau merasakan sesuatu?
Terasa sesuatu?
Kau menanyakan
yang kurasakan di sini?
Berikan tanganmu.
Tenang, tak akan kupotong.
Rapatkan jarimu.
Lalu, regangkan.
Lebih keras.
Lebih keras.
Lebih keras.
Begitu rasanya tak punya tangan.
Oden.
Aku minta maaf.
Tak apa-apa.
Kembali bekerja.
Aku harus pergi.
Hei.
Ada apa?
Ini jelas kopi, bukan asam.
Kenapa kau gugup?
Radish, aku akan pulang.
Bagus.
Aku sedang senggang.
Mau pergi?
Mobil itu berbeda.
Hei, jangan masuk!
Hati-hati.
Ini kopi.
Kali terakhir, aku menjelaskan pada bosku kenapa ada bau rokok.
Kali ini aku tak merokok.
Aku hanya minum kopi.
Aku ada kerja lain tengah malam nanti.
Pekerja keras sekali.
Pekerjaan apa?
Aku punya sif tengah malam.
A-Ho...
kau punya dua pilihan.
Satu,
pergilah bekerja, aku menunggu di sini sampai kau kembali.
Atau dua,
kita pergi sekarang,
menikmati perjalanan
dan kembali nanti.
Kenapa saat itu katamu sudah berakhir?
Kau mau apa dariku?
A-Ho,
kau sudah berubah...
dari setelah lima tahun yang lalu.
Pergilah bekerja.
Lihat wajahmu.
Aku akan duduk sambil minum kopi.
Kalau ada yang kotor,
kubantu membersihkan.
Kita tak kemudikan mobil ini?
Tentu kita harus mengemudikannya.
Kapan lagi kita ini
dapat kesempatan menyetir mobil ini?
Kau merasa aku berutang padamu?
Kau bisa jujur?
Tentu saja kau berutang padaku.
Saat kita pergi mencari Oden,
apa kusuruh memotong tangannya?
A-Ho,
aku tak berniat membahas perasaanku padamu.
Tapi karena sudah kau mulai,
akan kuberi tahu.
Saat kau dirundung oleh Oden dan meminta bantuanku melampiaskan dendam,
tanpa ragu aku setuju.
Saat bergegas dan melihat Oden,
kupotong tangannya saat itu juga.
Aku tak pernah menyesalinya.
Bahkan sekarang, perasaanku tetap sama.
Radish, aku tak berpikir kau akan melakukannya.
Bukankah kita sepakat hanya untuk menakutinya?
Takuti dia.
Aku dengan golok, kau dengan pisau semangka.
Kau bahkan mencuri motor.
Sejak kapan kau mengatakan hanya untuk menakutinya?
Di ruang sidang itu,
kau timpakan segala kesalahan padaku.
Aku dipenjara tiga tahun lebih lama darimu.
Saat kau bebas,
kau tak mengunjungiku sekali pun.
Setelah melintasi tikungan, menepi.
TANAH DIJUAL
Keluarlah.
Belok kiri, ke jalan itu.
Terus berjalan.
Tanyakan orang yang kau temui
di mana toko jeruk.
Ingat senjata itu kali terakhir?
Aku menyimpannya.
Baik.
Anggaplah aku berutang.
Tapi ini benar-benar yang terakhir.
Di mana aku bisa beli jeruk?
TANAH DIJUAL
Kau sudah makan?
Itu...
Belum.
Aku bisa...
pergi sekarang?
Radish.
Radish.
Radish.
Radish.
Radish.
Radish.
Sial.
Kau mau apa?
Kau senggang?
Ayo jalan-jalan.
Baik.
CEGAH KEBAKARAN HUTAN
Kau tak apa-apa?
Kau terkilir?
Tak apa-apa.
65 tumpukan, tepatnya.
Hari itu, setelah kau pergi,
apa yang terjadi?
Setelah aku pergi...
Setelah aku pergi...
Aku tak melihat Radish.
Dia menunggumu di mobil?
Entahlah.
Saat aku kembali,
aku tak menemukannya.
Kenapa kau tak pakai uangnya? Mau berikan ke orang lain?
Aku tak pernah lihat uang sebanyak itu.
Aku tak berani memakai sepeser pin,
dan aku tak tahu kapan Radish kembali mengambilnya.
Apa hubungan Radish denganmu?
Dia...
Pria yang selalu membawa masalah.
Ambil.
Itu uang pengantaranmu.
Ini...
Ambil.
Radish tak akan membawa masalah lagi.
Kenapa?
Dia sudah mati selama beberapa bulan.
Kudengar dia dipukuli sampai mati.
Wajahnya rusak sampai tak dikenali.
Hentikan mobilnya.
Kau tak akan terlambat ke salon?
Tak apa-apa.
Xiao Yu sudah terlatih. Tak masalah.
Aku lebih cemas dengan A-Ho.
Hidupnya masih belum stabil
dan mencuci mobil itu tak ada masa depannya.
Kau harus beri tahu A-Ho,
"Raih hari ini. Tentukan jalanmu."
Jangan ulangi kata-kata itu.
"Raih hari ini. Tentukan jalanmu." Omong kosong.
Setiap kau bilang begitu, kami menjadikannya olokan.
Anak sulungmu sudah tiada.
Anak bungsumu tak kunjung baik.
Kau sudah membantunya?
Kau sudah membantunya?
"Raih hari ini. Tentukan jalanmu."
Sudah kau amalkan prinsipmu itu?
Kalau sudah,
lalu kenapa kau masih jadi instruktur mengemudi?
Saat itu, siang hari,
aku sedang makan bento di kantor
saat ada berita muncul di televisi.
Ada yang menembaki kantor anggota dewan.
SEKOLAH MENGEMUDI DRAGON PORT
Kamera pengawas merekam pelakunya dari belakang.
Dahulu dia kurus dan pendek.
Saat itu rasanya aneh...
tapi aku tak yakin.
BERITA PUKUL 12.00
Kau ingat pernah cerita soal Radish?
Dia memberi kartu nama?
Aku pergi menemui Radish saat itu.
Bahkan kutawari dia 200.000,
agar setelah dia ambil uangnya, dia akan tinggalkan A-Ho.
Aku menunggunya dua jam di sana.
Dia kembali
dan terus memanggilku
"Paman Chen."
Dia menyapaku dengan hangat.
Tapi kata-katanya menyiksaku.
Kau tahu aku ini instruktur mengemudi.
Aku harus bagaimana?
Setelah itu, aku tak pergi bekerja selama dua pekan.
Kau tak peduli kapan aku pulang ke rumah
dan tak bertanya aku ke mana.
Aku hanya duduk di seberang tempat cuci mobil A-Ho,
melihat anakmu pulang dan pergi bekerja tiap hari.
Lalu, kuikuti dia ke toko swalayan,
dan kuamati dia setiap jam.
Aku seperti pengasuhnya 24 jam.
Entah kenapa aku seperti itu.
Suatu hari,
Radish akhirnya muncul ke tempat cuci mobilnya.
Tak lama setelahnya,
mereka pergi dengan mobil Bentley
dan mengarah ke timur laut.
Kau tahu Bentley itu apa, 'kan?
Itu mobil impor kelas atas.
Jika aku bekerja di sekolah mengemudi seumur hidup pun
mustahil aku beli mobil itu.
Kumatikan lampu mobilku
dan mengikuti dari jauh.
Kami lama berkejaran di jalan
dan akhirnya berhenti di suatu tempat.
Kulihat A-Ho keluar,
membawa tas,
lalu dia masuk ke dalam gang.
Kau tahu aku ini instruktur mengemudi.
Aku tak pandai.
Aku ingin lakukan sesuatu untuk anakku, tapi aku tak tahu harus bagaimana.
Tak lama setelahnya...
Radish keluar dari mobil.
Dia berdiri di samping Bentley.
Aku tak berpikir panjang.
Aku hanya mengoper tuas gigi.
Kaca depanku rusak.
Saat aku keluar...
Radish tergeletak di tanah, tanpa nyawa.
Aku menyeretnya jauh ke semak-semak pinggir jalan.
Saat itu mulai hujan lebat.
Radish tak akan kembali.
Kutinggalkan dia di sana.
Saat aku pergi,
hujan masih turun.
Aku bahkan memikirkan A-Ho bawa payung atau tidak
dan apakah dia baik-baik saja.
Dalam pekerjaanku, aku bertemu banyak wanita
yang berisik dan bergosip.
Mereka sering menanyakanku,
"Instruktur Chen, kau sudah menikah?"
"Berapa anak?"
Aku selalu jawab, "hanya satu."
Kau tahu kenapa hanya satu?
Karena dalam pikiranku,
aku tak pernah mengakui A-Ho.
Tapi belakangan,
wanita berisik dan suka bergosip terus menanyakan hal yang sama.
"Instruktur Chen,
kau punya anak berapa?"
Aku masih menjawab, "hanya satu."
Karena kini aku hanya punya satu.
Ibu.
Ibu sedang apa?
Merapikan kamar kakakmu.
Berhenti melihat.
Bantu ibu ambil buku itu ke ruang keluarga.
Akan dibawa Ayah ke tempat daur ulang.
Ibu,
lihat ini...
2013 RAIH HARI INI. TENTUKAN JALANMU
2012 RAIH HARI INI. TENTUKAN JALANMU
2011 RAIH HARI INI. TENTUKAN JALANMU
2010 RAIH HARI INI. TENTUKAN JALANMU
2009 RAIH HARI INI. TENTUKAN JALANMU
Ayah pasti memberinya ini.
Dia tak tulis satu kata pun.
Tampaknya dia tak pernah memakainya.
Taruh saja di tumpukan buku.
Jangan sampai ayahmu melihat.
Ibu,
cuacanya cerah hari ini.
Bagaimana kalau kita jalan-jalan?
Ibu, ayo.
Kau sedang apa?
Ibu, aku hanya meminjam sepeda ini.
Awasi sekitar.
Sejak kapan kau belajar membuka kunci?
Ibu, aku tahu cara ini sejak masih anak-anak.
Ayo.
Naik.
Ini tak baik.
Bu, ayo. Naik.
Cepat.
Sudah?
Sudah.
Terjemahan subtitle oleh Gilang Toni
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.