Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, PERUSAHAAN, DAN KEJADIAN
DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI
EPISODE 15
Ada apa?
Seharusnya aku bekerja,
tapi aku terus membolos dan tidak mau keluar dari sini,
jadi, ibuku mengirim beberapa orang.
Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.
Kepalkan tangan lalu buka.
Syukurlah tidak ada kerusakan saraf.
Sarafku rusak tidak masalah,
asal aku masih bisa membuat keramik.
Aku akan berhenti menjadi dokter.
Mau minum soju denganku?
Ini membuatku gila.
Kau yang pertama merayuku.
Dia jelas menatapku genit.
Katamu sedang sedih dan memintaku membelikan minuman.
Kapan aku berkata begitu? Dasar gila.
Sayang, pria ini pasti psikopat.
Aku takut.
Kau gila, sebaiknya kau sadar.
- Mau kuberi pelajaran? - Aku bukan psikopat.
Aku jelas tidak merayu pacarmu.
Aku hanya...
Cha-young!
Berengsek ini memukuliku sampai begini.
Katakan kepada petugas bedebah ini harus ditahan.
Kau merayu pacarku.
Aku memukulimu karena pantas. Dasar kau mesum!
Diam. Astaga.
Apa kau keluarga Pak Moon?
Astaga, Cha-young.
Kurasa rusukku patah.
Aku kesulitan bernapas.
Hei.
Diam.
Bu.
Aku tak ada hubungan dengan Pak Moon ini.
Tolong jangan menghubungiku lagi.
Proses saja berdasarkan aturan dan hukum.
Aku periksa kamera pengawas dan dapat keterangan saksi.
- Tolong periksa ini. - Terima kasih.
- Kau tidak terluka, 'kan? - Tidak, aku tak apa-apa.
Kurasa tanganmu tergores.
Sialan.
Diam.
- Sakit, 'kan? - Aku tak apa-apa.
KASUS CACAT KONSTRUKSI HANDO SPORTS CENTER
CEO SINMYEON CONSTRUCTION, JO CHEOL-U, MENDAPAT BEBAS BERSYARAT
KORBAN ROBOH MENCAPAI 10 TEWAS DAN 68 LUKA-LUKA
Bagaimana tanganmu?
Tremornya.
Masih ada.
Itu tidak disengaja.
Aku berusaha yang terbaik.
Sayang sekali jika kau tak percaya padaku.
Jika kau ingin menyalahkan kurangnya kemampuanku,
aku akan menerimanya
dengan senang hati.
Jika tangan ini
tidak mengalami kecelakaan,
kurasa aku bisa mengunggulimu dengan kemampuanku.
Ya.
Mungkin benar.
Maka Geosung
juga akan menjadi milikku.
Ya, mungkin.
Tapi lalu apa?
Apa yang akan terjadi
setelah itu?
Aku akan mengalahkan Lee Jun dengan kemampuanku
dan karena itu
Geosung menjadi milikku.
Tapi lalu apa?
Apa aku akan bahagia
setelah semua itu?
Tidak.
Benar, 'kan?
Kurasa juga begitu.
Untuk apa kita
begitu keras bertikai?
Kurasa sojunya sudah habis.
Kau menyimpan alkohol?
Kau ingin tinggal lebih lama?
Aku suka tempat ini.
Bisa bernapas di sini.
Bagaimana rumah sakit?
Ada banyak dokter lainnya.
Dan kurasa aku bahkan tak kompeten sebagai dokter.
Kau lebih tahu itu daripada yang lain.
Tapi Paman dan Bibi tak akan membiarkanmu di sini.
Mereka akan kirim orang lagi dan merusak tempat ini.
Atau mereka datang dan melakukannya sendiri.
Tidak apa-apa. Aku akan buat lagi saja.
- Kau memanggil sopir? - Ya.
- Tolong tunggu di mobil. - Baik.
Ingat untuk menyimpan kotak P3K di mobil.
Kita mungkin akan segera butuh lagi.
Aku pergi.
Kalau begitu kita pergi.
Ada yang ingin kuberi tahu.
Ikan pollock itu bukan aku.
Kurasa kau ingin memukuliku.
Kenapa memukul ikan kering?
Ia bahkan tak berbuat salah.
Ini.
Aku di sini, jadi, jangan pukuli ikan tak bersalah.
Silakan pukul yang sebenarnya ingin kau pukul.
Bagaimana kau keluar?
Aku membuat keributan di kepolisian.
Kurebut pistol dan bilang mereka mati jika mengejar.
Tae-hyun!
Kau sungguh percaya itu?
Jelas karena aku tak berbuat salah.
Apa lagi?
Kau sungguh mengira aku cukup kacau
hingga merebut pistol polisi dan kabur?
Ada tiga saksi yang melihat jalang itu
merayuku lebih dahulu.
Dan rekaman kamera pengawas menunjukkan aku sungguh tak bersalah!
Kau pasti malu punya adik sepertiku.
Kurasa kau ingin aku pergi.
Kenapa kau menampungku saat itu?
Seharusnya kau mengusirku. Kenapa kau menerimaku kembali?
Karena kita keluarga.
Karena kau satu-satunya keluargaku di seluruh dunia.
Dan karena aku lupa bahwa kau juga meninggalkanku
sama seperti yang dilakukan Ibu.
Kau ingin aku pergi sekarang?
Mulai sekarang, katakan saja aku bukan adikmu.
Katakan kau tak ada hubungan denganku sama sekali,
sama seperti yang kau katakan kepada polisi tadi.
Kau tidak membantah.
Baiklah. Mari putuskan hubungan secara resmi.
Entah kau hapus namamu dari kartu keluarga,
atau aku saja.
Nenek ingin kau
mewarisi Geosung sejak awal.
Karena itu dia pergi ke Wando dan membawamu ke Seoul.
Aku hanya pemacu yang bertugas melatih
dan menghasutmu karena kau tak punya nafsu berkuasa.
Siapa menulis novel itu?
Kau mengarang cerita itu?
Kurasa kita terlalu banyak minum.
- Istirahatlah. - Ayahmu, Lee Jae-hun,
satu-satunya putra sah keluarga Geosung.
Ayahku tidak tahu
bahwa Kakek bukan ayah biologisnya.
Kuharap dia tak pernah tahu.
Jika dia tahu, begitulah adanya.
Tapi kini kau tahu, artinya hanya lima orang yang tahu.
Nenek, kau dan aku,
Kakek, yang meninggal karena terkejut saat tahu,
dan ibuku, Yoon Hye-mi.
Sebaiknya kau pergi.
Tapi jika itu benar,
bukankah lebih masuk akal merahasiakannya sampai mati?
Aku hanya tak ingin curang.
Satu hal yang paling kubenci adalah curang.
Sudah kukatakan kepada mereka ribuan kali.
Tapi tak ada yang mendengarkan.
Semua orang sangat egois.
Bagaimana aku menemukanmu jika kau bersembunyi?
Aku sangat merindukanmu.
Aku pasti bau alkohol.
Maafkan aku.
Tidak apa-apa.
Aku tak bisa mencium apa pun, kau tahu.
Apa hal buruk terjadi?
Tidak.
Kau tampak agak sedih.
Entah kenapa.
Apa karena aku belum makan malam?
Mau kubuatkan makan malam?
Tidak, tak apa-apa. Sudah larut.
Nanti bobotku naik.
Aku bisa buat sesuatu yang rendah kalori.
Di mana aku melihatnya?
Di kebun sayuran?
Sungguh tak perlu.
Ini enak.
Kau koki yang baik.
Aku juga ingin menjadi koki.
Aku suka dadar labu.
Aku senang.
Ibuku juga sangat menyukainya.
Katamu ibumu meninggal karena kecelakaan, 'kan?
Pasti sangat berat.
Tapi aku merasa lebih berat bagimu.
Bukankah seharusnya kugenggam tanganmu lebih dahulu?
Lain kali.
Kau bisa lakukan lain kali.
Hari ini, aku genggam tanganmu.
Bu Jung.
Berkat kau, aku bisa menikmati momen-momen biasa yang berharga ini.
- Apa kau menjagaku? - Enak?
Aku akan terus berbagi kehangatanmu dengan mereka
- yang masih membutuhkannya... - Aku lebih suka yang renyah.
...dan melanjutkan hidupku.
Aku ingin menceritakan cinta pertamaku, yang kutemui lagi setelah berbagai derita,
juga kisahku tentang keluarga dan lukaku,
yang masih tersisa di benakku.
Banyak yang ingin kuceritakan kepadamu, Bu Jung.
Aku akan ceritakan lebih banyak
saat bertemu denganmu.
Selamat malam.
Hari saat kita bukan lagi "kita"
Hari saat kita menjadi asing
- Astaga. - Bukankah dia Min Dae-sik?
Aku berbalik dan melihatmu
Lalu menyesal telah pergi
Kau...
- Astaga, dia mahir sekali. - Masih
Di dalam hatiku
Dia penyanyi hebat.
Tapi aku tak bisa menghentikanmu
Bisakah kau pahami Alasan aku tak bisa menghentikanmu?
Aku menentukan pilihan demi dirimu
Maafkan aku, cintaku saja
- Cukup. - Tidak cukup untukmu
Semoga kau menemukan Seseorang yang lebih baik
Aku berbalik dan melihatmu
Tolong diam.
Apa? Kau tersentuh dengan laguku?
Aku menulis musik dan liriknya sambil memikirkanmu.
Ingin dengar sekali lagi?
- Dae-sik. - Ya?
Kau ingin mati?
- Ya. - Dasar kau...
Jangan pukul kepalaku. Belakangan ini kepalaku sakit.
Tak hanya belakangan ini. Pasti kepalamu bermasalah.
Tahu alasan kau kuputuskan?
Benar, kenapa kau memutuskanku?
Karena
kau bukan lelaki.
Yeong-sil, aku lelaki.
Astaga, tidak bagiku.
Bagiku, kau...
Kau hanya anak-anak.
Bahkan dengan janggut ini.
Aku selalu menggendongmu karena kakakmu sangat lemah.
Kau mungkin tak ingat.
Hei!
Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih menganggapku bukan pria?
Jawab aku. Itu membuat jantungmu berdebar, 'kan?
Tidak,
tidak sama sekali.
Kau sering menciumku saat masih kecil.
Kau mengecupku di bibir setelah makan, buang air, bahkan setelah muntah.
Kau selalu melakukannya.
Berhenti mengganggu rumah sakit ini.
Pulanglah selagi aku masih bicara baik-baik.
Seharusnya kau tak di sini,
Nak.
Astaga, aku tak percaya ciuman pertamaku dengan dia.
Tidak, itu bukan ciuman.
Itu hanya kecupan di bibir.
Bibirnya sangat lembap...
Kenyal... Tidak.
Astaga,
pakaianmu bagus sekali.
Aku suka dasi yang kau pakai.
- Kau selesai menyanyi hari ini? - Ya.
Direktur Kwon, kau kenal pria ini?
Dia relawan di rumah sakit kita.
Dia juga menyanyi untuk pasien dan keluarganya sewaktu-waktu.
Kudengar kau suka berbenah dan mencuci pakaian.
Apa?
Direktur Kwon.
Kau jelas tak tahu masa lalunya.
Dia dahulu...
Apa?
- Wisman? - Dia tahu dahulu aku preman.
Dahulu dia preman, lalu kenapa?
Katamu kau meninggalkan geng untuk menjadi penyanyi.
Benar. Seharusnya jari-jariku dipotong,
tapi kalau begitu aku tak bisa main gitar,
jadi, kubiarkan diriku babak belur.
Kuterima akibatnya dan pergi selamanya.
Astaga.
Dan aku operasi plastik di seluruh wajah.
Astaga.
Seharusnya kau mencari tahu sebelum memutuskan.
Benar. Belakangan ini, saat tidur...
- Cukup. - Buruk sekali.
Direktur Kwon.
Kau belum dengar nyanyiannya?
Aku tak percaya dia tinggalkan geng untuk menyanyi
meski tak bisa menyanyi. Aku tak paham.
Mendengarnya menyanyi tak mungkin baik untuk pasien.
Ini penyalahgunaan medis. Ini pelanggaran.
Tak perlu mahir bernyanyi untuk menjadi penyanyi.
Benar. Banyak penyanyi yang tak mahir bernyanyi.
Kau bisa makan Walau tak pandai memakai sumpit
- Saat makan... - Astaga, hei. Cukup.
Astaga, aku yakin dia minum lagi.
Apa? Ingin buang air besar?
Astaga, menjijikkan.
Kau jauh-jauh ke rumah sakit untuk buang air besar?
Direktur Kwon, kau tahu?
Dia penguntit.
Dia mengejarku, mengaku menyukaiku.
Walau niatnya baik,
kita tak bisa terima sembarang orang.
Kau tak apa-apa?
Mau kutepuk punggungmu?
Tidak, aku tak apa-apa.
Kau sudah lihat hasil pindai CT otaknya?
Ya.
Bagaimana menurutmu?
Dia memberitahuku
belum ingin Nona Ha tahu soal penyakitnya.
Katanya dia akan katakan sendiri saat tiba waktunya.
Baiklah.
Bukan begitu.
Baiklah.
Nenekmu sedang tidur.
Baik. Nanti kutelepon lagi.
Kudengar kau membolos kerja
dan membakar keramik di studio.
Bagaimana keadaanmu?
Cukup baik.
Bukan kau, maksudku ibumu.
Putranya kabur memberontak ke gunung hanya untuk menggali tanah.
Dia pasti sudah gila sekarang.
Saat ibumu pingsan, akan kukunjungi di rumah sakit.
Dengan berondong agar nikmat.
Tidak...
Tidak. Jangan!
Tidak!
Tidak... Astaga.
Tidak!
- Ibu. - Nenek.
- Tidak... - Astaga.
- Tidak. - Ibu.
Nenek.
Kau tak apa-apa?
Hei, kapan kau...
Apa?
Astaga.
Ibu.
Kurasa kau mimpi buruk.
Soal apa itu? Kau tampak buruk.
Kau baru menepis tangan Jun?
Kenapa begitu?
Kenapa?
Jun, kurasa dia sedang tak ingin melihatmu.
Keluar.
Kau yang keluar.
Kenapa Ibu tak ingin melihatnya?
Jun salah apa?
Kenapa kau menepis tangan cucu sulungmu, Ibu?
Bisa diam? Dia sedang tidur.
Dia tidak tidur.
Dia hanya menepis tangan Jun untuk mempermalukannya.
Untuk apa itu, Ibu? Kenapa?
Kenapa kau berusaha mempermalukan Jun?
Apa masalahmu dengan...
Begitu rupanya. Apa ini
karena dia bertindak konyol dan berkata ingin mundur?
Ibunya memberitahuku
bahwa Jun
mengalami puber lagi.
Dia terlalu sibuk untuk puber saat sekolah.
Jadi, dia puber lagi.
Jadi, dia melawan tanpa alasan...
Jun.
Jun, nenekmu sungguh butuh istirahat.
Jadi, sementara ini,
- lebih baik kau tak datang. - Berengsek! Bisa kau bicara begitu?
Berani kau melarang putraku datang lagi?
Kenapa tanganmu diperban?
Kau mengirim orang-orang itu
menghancurkan semuanya.
Aku hanya minta mereka merusak, bukan melukaimu.
Kau terluka parah?
Sayangnya, tak separah itu.
Kang merawatku dengan baik.
Kang merawatmu?
Dia dahulu sangat baik dan lembut.
Sebelum kita merusaknya.
Kembali saja ke rumah sakit.
Bukankah kau pengecut jika melawanku seperti ini?
Aku ingin menjadi
saudara yang baik untuk Kang setidaknya sekali.
Aku ingin berkata orang tuaku salah sekali saja dalam hidupku.
Tapi...
aku menahan amarahku
dan sampai sejauh ini dengan menjadi pengecut seperti katamu.
Lalu?
Itu membuatmu begini.
Jika kau tetap pengecut, kau bisa mendapatkan lebih.
Kenapa berhenti?
Karena kau terlalu salah, Ibu.
Kubiarkan untuk kali kedua. Tapi tak akan ada kali ketiga.
Jika kau merusak propertiku lagi, aku akan panggil polisi.
Maafkan aku.
Kami tak bisa menerima pasien lagi.
Lalu kami harus bagaimana?
Kami harus ke mana?
Orang seperti kami harus apa?
- Maafkan aku. - Kami harus mati seperti ini?
- Aku tak tahu harus berkata apa. - Kami harus bagaimana?
Ya.
Begini...
Kau belum makan, 'kan?
Masalahnya
sebelum Seon-ae pergi,
dia memintaku mengurus makananmu.
Katanya kau selalu makan mi instan.
Katanya kau mungkin
akan makan makanan dari kantin jika dia pergi.
Maafkan aku.
Kau ingin ini kubawa pergi?
Tinggalkan saja. Aku akan makan.
Terima kasih.
Kenapa...
kau berterima kasih kepadaku?
Apa?
Aku yang mendapat makanan.
Kenapa kau bersyukur atau menyesal soal itu?
Kau benar.
Kenapa aku begitu?
Aku yang bekerja keras membuat ini.
Aku bertingkah seperti Seon-ae tanpa sadar.
Ada apa denganku?
Aku pasti sudah gila.
[Netflix Ver] jTBC E15 'Chocolate' -♥ Ruo Xi ♥-
Sayang.
Keluar dari sini sekarang. Keluar!
Jika kau tak pergi, aku panggil orang mengusirmu.
Bu Han.
Seon-suk, kenapa masih di sini?
Pergi saja. Pergi!
Cepat pergi dari sini sebelum suamiku datang.
Kau tak cukup memeras saudara iparmu?
Dia bayar biaya RS Ayah, studi, dan uang saku kalian.
Dia bekerja keras banting tulang
tanpa tidur dan pulang ke rumah.
Tapi kalian sibuk minum-minum.
Kenapa suamiku
harus membayar minuman, pakaian, dan sepatu kalian?
Seon-suk, memang kau meminjaminya uang?
Maafkan aku. Aku salah.
Tak akan kuulangi lagi...
Lupakan. Pergi saja!
Kuserahkan semua
untuk hidup normal tanpa mencemaskan keluargaku.
Pergi dari sini! Keluar!
Keluar!
Dia harus pergi ke mana?
Sayang.
Saudara-saudaramu bukan orang asing.
Mereka sudah kuanggap keluarga.
Kenapa mengusir mereka jika aku tak keberatan?
Sayang...
Kurasa
dia salah mengiramu sebagai saudarinya, Nona Moon.
Kurasa begitu.
Sebenarnya saudara-saudaranya agak egois.
Seon-ae bekerja keras menjaga mereka.
Dia bahkan berhenti kuliah untuk membayar biaya rumah sakit ayahnya.
Kini mereka punya keluarga sendiri,
tapi dia tua dan sakit,
kurasa mereka memutuskan hubungan dengannya.
Maaf kau harus menghadapi itu semua.
Aku tak apa-apa.
Dia terkadang seperti itu, tapi biasanya dia sangat baik.
Dia anggap aku seperti saudara.
Kau mau kue beras?
Bu Han terus membicarakan ini beberapa hari belakangan.
Sepertinya dia ingin makan ini, jadi, aku membuatkannya.
Seon-ae tidak suka kue beras.
Dia selalu terpaksa makan kue beras tak laku saat masih kecil,
jadi, dia bahkan tak mau menciumnya.
Ibu mertuaku bekerja sebagai pembantu di toko kue beras omaegi.
Aku yang menyukai
kue beras omaegi.
Boleh aku coba?
- Tentu. Aku ambilkan piring. - Tidak perlu.
Ini lezat.
Rasanya mirip kue beras buatan ibu mertuaku.
Benar.
Minum air ini.
Terima kasih.
Hei, Bu Han.
Seon-ae.
Sayang, kapan kau pulang?
Ibumu
membagikan kue beras kepada rekan-rekanku di rumah sakit dan berkata,
"Tolong jaga menantuku.
Tolong lupakan kesalahannya
dan tolong pahami kekeliruannya.
Tolong maafkan dia jika berbuat salah."
Apa ibuku berkata begitu?
Astaga, wanita tua itu.
Ada apa?
Kenapa kau menangis?
Kenapa kau lakukan itu?
Apa?
Kenapa kau lakukan itu padaku?
Apa yang kulakukan padamu?
Aku hanya bekerja keras
dan berusaha memenuhi kebutuhan.
Kenapa kau lakukan itu padaku?
Kenapa?
Kenapa kau lakukan itu padaku?
Kenapa kau lakukan itu? Kenapa?
Kenapa?
Kenapa...
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa...
YUN HUI-NA
- Berapa suntikan morfin? - Enam. Masing-masing 10 mg.
Kami memberimu jumlah maksimum pereda nyeri.
Sakitnya akan membaik seiring waktu.
Kau bisa menahannya?
Apa itu?
Tolong nyalakan musik.
Musik? Baik, tentu. Sebentar, Hui-na.
Kita dengarkan siapa hari ini?
Bagaimana dengan Seventeen?
Kita mulai, Hui-na. Kau dengar itu?
Perjalananku untuk berjumpa denganmu Akan menjadi perjalanan bagus
Dan saat kutahu perasaanmu padaku
Itu membuatku gugup
KEPINGAN KENANGAN KAMI
KAU PENGANTIN PALING CANTIK YANG PERNAH KAMI LIHAT
MAAFKAN AKU, MIN-SEONG, AKU MENYAYANGIMU
JI-YONG, BERSENANG-SENANGLAH DENGAN AYAH DI SANA, DARI MIN-YONG
SEONG-CHEOL, JANGAN SAKIT DI SURGA
Orang-orang di sanatorium ini
bukan hanya mereka yang sekarat.
Mereka juga menjalani hidup di sini.
Mereka menghargai setiap hari yang mereka miliki.
Tapi kurasa ada juga dokter
yang menemani pasien hingga akhir agar bisa wafat dengan damai,
bahkan saat tak bisa meneruskan pengobatan.
Satu hal yang paling kubenci adalah curang.
Sudah kukatakan kepada mereka ribuan kali.
Tapi tak ada yang mendengarkan.
BIBI HYE-MI
Ini Kang, Bibi Hye-mi.
Ingat yang kau katakan sebelumnya?
Aku tak memberimu jawaban yang layak karena terburu-buru.
- Tolong ambilkan aku espreso. - Baik, Bu.
Masuklah.
Hui-na.
Aku suka gaya rambutmu hari ini. Sangat seksi.
Aku merasa sehat hari ini.
Ya, aku bisa lihat.
Seseorang mengirimkan songpyeon. Mau ditaruh di mana?
- Kantin? - Tidak.
Hari ini sangat cerah, jadi, aku ingin keluar.
- Halo. - Hai.
Halo.
Halo.
Hai.
Hai.
Kau tak apa-apa?
Kenapa melakukan ini?
Karena orang-orang menunggu.
Aku YouTuber terkenal.
Pengikutku 10.000 lebih.
Tapi kau sedang sakit. Kau tidak boleh...
Orang-orang tak tahu aku sakit.
Aku ingin tetap begitu, jadi, sebaiknya kau merahasiakannya.
Halo, semua. Ini aku, Hui-na.
Biar kutunjukkan yang akan kuperkenalkan hari ini.
Ini yang kita makan setiap tahun saat liburan Chuseok.
Ini dia.
Ini songpyeon dari tiap daerah di negara ini.
Aku tahu aku janji siaran langsung Chuseok ini,
tapi aku tak menepatinya karena flu.
Sekarang,
ini songpyeon labu dari Provinsi Chungcheong.
Ini sungguh lezat.
Ini songpyeon bunga prem dari Provinsi Jeolla.
Cantik, 'kan?
Astaga.
Dan yang ini
songpyeon kentang Provinsi Gangwon.
Ini sungguh lezat.
Hei.
Hei.
Hei, bangun.
Hui-na!
Ini sungguh menyebalkan.
Aku harus merekam ulang.
Maaf aku membuatmu menderita.
Aku bahkan tak pernah bisa mengajakmu makan di tempat bagus.
Semoga
kita bertemu lagi di surga.
Sayang.
Sudah kukatakan dilarang merekamnya di sini.
Tolong pergi.
Keluar.
Kenapa? Kenapa tak boleh merekamnya?
Aku akan pergi setelah merekam istriku.
Tidak boleh.
Aku tak ingin bicara dengan budak sepertimu.
Di mana direkturnya?
Dia sedang tak ada di sini.
Kau tak boleh merekam di sini jika Dr. Lee tak mengizinkan.
- Hubungi pimpinan Geosung. - Baik, Pak.
Kenapa dia tampak tak asing?
Sialan. Seakan semua mengira mereka punya hak
untuk menyalahgunakan kuasa.
Jika kau salah,
kau harus minta maaf.
- Apa? - Jangan menghindar
dan membuat orang iba memanfaatkan istrimu yang sakit.
- Apa katamu barusan? - Pak.
Astaga.
Sepuluh orang kehilangan nyawanya
di gedungmu yang dibangun dengan buruk.
Kau pikir berapa perusahaan konstruksi di Korea yang mematuhi rencana,
menggunakan material benar, dan selesai konstruksi tepat waktu?
Perusahaan lain melakukan hal yang sama.
Aku hanya tertangkap karena sedang sial.
CEO SINMYEON CONSTRUCTION, JO CHEOL-U, BEBAS BERSYARAT
Benar. Aku membacanya di koran.
Dia dibebaskan bersyarat pada kasus cacat konstruksi.
Orang-orang mati.
Ya, jadi, aku membayar mereka, 'kan?
Orang-orang
kehilangan nyawa.
Semua orang akan mati.
Katanya takdir manusia ada di surga.
Ada orang-orang yang terjebak di gedung yang runtuh,
tapi sebagian selamat, tak seperti yang mati.
Mereka selamat
dan hidup dengan baik.
Benar.
Orang-orang yang mati hanya tak beruntung,
sama sepertiku yang tertangkap.
Kau paham? Berengsek.
- Dr. Lee, jangan. - Bajingan rendah!
Pak! Siapa kau?
- Berengsek! - Kau bisa apa?
- Untuk apa itu? - Berani sekali kau?
Lalu kenapa jika mereka selamat?
Kau pikir hidup mereka akan sama?
Mereka masih bernapas
dan hidup bukan berarti hidup mereka baik-baik saja!
Kau tak hanya membunuh sepuluh orang.
Kau membunuh puluhan ribu orang.
Mereka yang mati,
mereka yang selamat,
dan seluruh keluarganya.
Kau membunuh mereka semua.
Kau paham?
Jika kau bersalah,
akui saja dan minta maaf!
Kenapa kau memukulinya seperti itu?
Bisa katakan sesuatu?
Aku Moon Cha-young, kakak Tae-hyun.
Kau keluarganya?
Tidak, kami tak ada hubungan sama sekali.
Kau bukan kakakku. Kukira kita sudah putus hubungan.
Jika kau tetap di sini,
kau juga akan dapat masalah.
Jadi, pergi saja dari sini.
Dia bukan kakakku, kau bisa bicara denganku.
Bisa tolong berbalik dan pergi?
Aku membuatmu datang ke kantor polisi dua hari berturut-turut.
Apa kau bodoh?
Tak lama lagi aku akan mengganti nama depan dan belakangku.
Mungkin nama Inggris seperti DiCaprio atau Ashton.
Apa yang kau lakukan?
Kita di kantor polisi.
Tolong jangan salah paham.
Kami bersaudara.
Aku benci mengakuinya, tapi kami mirip. Orang tua kami sama.
Kami...
Kami keluarga.
Dia keluargaku.
Kukira hanya aku yang menderita.
Kukira hanya aku yang hidupnya malang.
Maafkan aku.
Maafkan aku, Tae-hyun.
Maafkan aku.
Kapan kau datang?
Satu jam 20 menit lalu.
Lehermu sakit?
Kutebak kau duduk seperti itu setidaknya dua jam.
Tae-hyun mungkin akan bebas besok.
Ya, dia memberitahuku.
Adikmu memintaku membelikanmu cokelat.
Katanya kau harus makan cokelat saat sedang kesulitan.
Mari berbagi.
Aku tak makan cokelat.
Kenapa Pak Ha meninggalkanmu sekotak cokelat?
Aku suka saat masih kecil.
Tapi aku berhenti memakannya setelah ibuku meninggal.
Cokelat pasti menjadi makanan jiwamu.
Kurasa itu memberimu kekuatan.
Aku berjanji pada diriku
bahwa aku akan menjadi orang yang bisa membantu orang lain
jika berhasil selamat.
Saat berada di sana,
aku memutuskan menjadi orang baik
yang selalu berbagi dengan orang jika aku hidup.
Itu yang kukatakan.
Aku ingin menjadi seperti wanita yang memberiku cokelatnya.
Bagiku,
cokelat
seperti sebuah kompas.
Mereka menunjukkan arah tujuan.
Aku harus ke toilet.
Maaf. Aku akan segera kembali.
Baik.
Sekalipun berat,
kau harus bertahan hingga bantuan datang.
Makan cokelatnya
dan keluar dari sini hidup-hidup.
Jika dia makan cokelat sendirian
alih-alih memberikannya kepadaku,
dia mungkin masih hidup.
Aku selalu merasa bersalah
dan hatiku sakit.
Wanita
yang memberimu cokelat.
Seperti apa...
rupanya?
Kurasa kau tak tahu namanya.
Aku tahu namanya.
Aku tak pernah melupakannya.
Bu Jung Su-hui.
CHOCOLATE
Kau ada waktu besok malam?
Kita pesta ulang tahun.
Aku siapkan semua. Kau hanya perlu datang.
Aku tak punya permohonan. Aku punya semua yang kuinginkan.
Terima kasih telah berkahi aku
dengan momen ini.
Perlukah kita
kabur bersama?
Aku sempat khawatir
kau bahagia, Ibu.
Tapi sekarang,
aku punya kau, Cha-young.
Aku tak akan pernah
pergi tanpamu.
Bisa beri aku sedikit waktu lagi?
Maafkan aku.
Terjemahan subtitle oleh Eries Septiani
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.