Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Naze ni hazumu sono koe meguru nichijou RIZUMU?
Futo shita hyoujou no KIMI ga mabushikute
Mezamade kibou oboete no ha itsukara datta darou?
Mitsumerusa KIMI ha nani ga matteiru?
KIRAMEKI he to CONNECT BOKU wo oikoshitte
Nana-iro ni tsunagatteru yo
Zenryokutte susumu michi hikari no ko egaku youni
Todoita sono egao nukumori wo shita
Itsudatte koko ni aru takarani wo shinjite yukou
Sou yatte umareteku asu ni naritai nda
何故に弾む其の声 巡る日常リズム?
ふとした表情の キミが眩しくて
目覚希望覚えてのは 何時からだっただろう?
見つめるさキミは何が待っている?
キラメキへとコネクトボクを追い越しって
七色に繋がってるよ
全力って進む未知光の 子描くように
届いた其の笑顔 温もりをした
何時だってここに有 宝にを信じて ゆこう
そうやって生まれてく明日に なりたいんだ
Mengapa suaramu terdengar begitu seirama dengan keseharianku?
Membuat kepedulianmu terasa sangat menyilaukan
Sejak kapan kumulai menyadari harapan yang mulai terbangun?
Apa yang kaulihat di sana saat sedang menungguku?
Kilauan yang s'lalu terhubung, melewatiku satu persatu
Menuju tujuh warna yang kesemuanya mulai terhubung
Melangkah dengan kekuatan penuh, tinggalkan seluruh jejak cahaya
Menggapai senyumanmu yang begitu hangat menenangkan
Yakinlah bahwa harta terbaik di sini pasti 'kan kita dapatkan suatu saat
Karena dengan begitu, kita dapat meneruskan hari esok
Maaf tiba-tiba memanggilmu ke sini.
Kau cewek yang sangat populer, Nagase,
dan aku yakin kau pasti punya cowok yang disukai.
Tapi kudengar kau tidak memberikan cokelat pada siapapun saat Hari Kasih Sayang...
Jadi...
Se-Sebenarnya aku...
Dari dulu aku sudah menyuka—
Tak perlu dilanjutkan.
Eh?
Tak perlu dilanjutkan, aku juga tak ingin mendengarnya.
Kenapa?
Apa kau membenciku?
Aku tidak membencimu kok.
Lalu kenapa perilakumu yang sekarang berbeda dari biasanya?
Biasanya kau selalu tersenyum dan ceria.
Siapapun pasti menyukaimu.
Kehangatanmu bagaikan cahaya mentari.
Begitu ya.
Jadi kamu juga menyukai aku yang seperti itu.
Bukan "aku" yang sekarang ini, 'kan?
Maksudku...
Kamu tak kenal diriku yang sebenarnya.
Masih ada lagi yang ingin kamu bicarakan?
Ternyata yang seperti ini pun tidak bisa.
Aku tak sanggup melakukannya.
Percuma saja, sia-sia, mustahil.
Aku memang pembohong.
Tidak, aku tidak bohong.
Belum pernah, walau sekalipun.
Tapi...
Rasanya harapan dan kenyataan makin menjauh dariku.
Aku tak bisa meneruskannya.
Aku tak sanggup lagi.
Aku sudah tak bisa lagi menjadi "diriku" yang biasanya.
Kudengar kamu menolak cinta Shiroyama dengan tanpa perasaan.
Memang.
Bagaimana bisa kamu menolaknya dengan tanpa ekspresi begitu?
Kamu memang sombong.
Padahal selama ini kamu hanya berpura-pura menjadi gadis yang baik.
Bukankah kamu sendiri yang sombong?
Hah?
Siapa yang menembak atau yang sudah kutolak, bukanlah urusanmu.
Ternyata perilakumu memang kurang ajar.
Dilihat dari manapun, perilakumu sendirilah yang kurang ajar.
Ada apa sih denganmu?!
Kenapa harus kamu?!
Padahal aku... Aku...
Sebenarnya aku...
"Padahal aku", apa?
Sialan.
Kalian Tak Merasakannya
Kalian Tak Mengerti
Hei, kamu sudah dengar?
Nagase menolaknya lho!
Tak kusangka kalau Iori sekasar itu.
Tapi nyatanya memang begitu.
Kita semua sudah ditipu olehnya.
Dia itu bagaikan serigala berbulu domba.
Hei, Iori...
Saat ini ada gosip yang menjelek-jelekkanmu...
Tapi aku tahu kalau itu semua bohong.
Karena kamu bukanlah orang seperti yang digosipkan.
Aku yakin mereka semua yang mengarangnya.
Kalau begitu, biarkan saja.
Tak perlu dipedulikan.
Memang wajar sih kalau kamu kesal karena gosip itu.
Aku sama sekali tidak merasa kesal.
Sudah cukup, aku tak sanggup lagi.
Duh, Iori, jangan menakut-nakutiku begitu dong!
Sebenarnya gosip itu ada benarnya.
Baiklah, nanti kita bicarakan lagi.
Maaf.
Seharusnya Nagase selalu tersenyum dan jauh lebih ceria.
Kamu pikir aku adalah pembohong, 'kan?
Hari ini kita mulai pengumpulan datanya.
Memang tak ada banyak waktu tersisa, tapi kita harus tetap berusaha.
Ya.
Belakangan ini tingkahmu cukup aneh, Nagase.
Maaf, kalau aku salah.
Tapi...
Kalau ini ada hubungannya dengan penolakanmu padaku, maka kau tak perlu memikirkannya lagi.
Maaf.
Pasti ada sesuatu yang menganggumu, bukan?
Mungkin aku memang tak bisa banyak membantu, tapi jika butuh bantuanku, aku selalu ada untukmu.
Terima kasih atas perhatianmu.
Aku tak butuh bantuanmu!
Mau sampai kapan kau terus ikut campur?!
Jadi begitulah.
Dari sini kita berpencar saja.
Mungkin lebih baik Klub Peneliti Gaya Budaya dibubarkan saja.
Syukurlah kau memanggilku.
Soalnya aku canggung masuk ke tempat seperti ini.
Memang benar sih, tempat ini juga penuh dengan pasangan.
Lagian aku juga tak mau orang lain salah sangka dengan hal yang mereka karang sendiri.
Maaf.
Bukan salahmu juga kok.
Karena memang begitulah adanya.
Inaba, tentang yang kaupikirkan tadi, apa kau benar-benar ingin membubarkan klub?
Ya, belakangan ini aku selalu kepikiran.
Paria Gunung menempatkan kita berlima di atas "panggung"-nya.
Lalu dia berikan skenario berupa fenomena yang selama ini terjadi dan mengamati perilaku kita.
Lalu aku berpikir, jika "panggung" tersebut tak lagi ada yang mengisi, maka dia akan menghentikan semua fenomena ini.
Jadi kita bubarkan klub agar dia tak lagi mengganggu...
Yah, walaupun tak ada jaminan berhasil.
Belakangan ini tingkah Iori sangat aneh.
Seluruh kelas pun sudah mulai merasakan dampaknya.
Kalau terus begini, maka reputasi Iori akan semakin memburuk.
Dan juga...
Kau ingin bilang jika kita semua berpencar, maka fenomena ini akan berakhir,
dan Nagase pun akan merasakan dampak baiknya, begitu?
Tapi apa memang itu yang hatimu inginkan, Inaba?
Iya, iya!
Aku juga ingin kita semua tetap bersama.
Aku juga tak mau klub ini dibubarkan.
Sudah kuduga.
Sejak kapan kau pintar membaca pikiran orang lain?
Soalnya aku juga sama denganmu.
Aku ingin kita tetap bersama.
Tetap bersama walau apapun yang terjadi.
Mungkin aku kenal kalian semua karena Klub PGB,
tapi aku tetap ingin melakukan banyak hal bersama kalian.
Dan juga bersamamu, Inaba.
Bisa kauulangi bagian terakhirnya?
Dan juga bersamamu, Inaba?
Bukan begitu, dengan perasaan seperti yang sebelumnya!
Dan juga bersamamu, Inaba!
Kita kesampingkan dulu masalah pembubaran klub,
karena kalau terus begini, keadaan Iori akan semakin buruk.
Aku ingin dia kembali menjadi dirinya yang biasanya, tapi...
Rasanya selama ini aku sama tidak mengerti siapa sebenarnya Nagase itu.
Aku juga.
Sebelumnya, aku selalu beranggapan yang paling mengerti dirinya dibandingkan siapapun.
Mungkin kalau aku tidak jadi penghalang, maka kalian pasti sudah berpacaran sekarang,
dan Iori takkan berubah menjadi seperti itu.
Menurutku tidak.
Karena dari awal aku memang tak mengerti apa yang Nagase rasakan.
Bisa saja dia memang menolakku walau apapun alasannya.
Kau tidak salah kok, Inaba.
Akulah yang salah karena sudah ditolak.
Ada apa?
Aku ditolak!
Apaan sih? Kau kenapa?
Aku ditolak! Aku ditolak!
Aku ditolak!
Sip!
Kau ini sedang apa sih?
Aku ingin meninggalkan yang telah lalu, jadi kuteriakkan saja.
Soalnya aku tidak mau kalau terus-terusan terjun di dalamnya.
Aku harus menghadapinya, menerimanya, memikirkannya, dan terus melangkah maju.
Kau ini keren juga...
...buat golongan yang cintanya ditolak.
Golongan yang cintanya ditolak.
Tak perlu diulang juga kali.
Apa yang ingin kamu bicarakan, kak?
Duduk di situ.
Kenapa kamu jadi berlagak sok dewasa begitu?
Sama sekali enggak cocok.
Kenapa kau malah duduk di sebelahku?
Harusnya kau duduk berhadapan denganku.
Sudahlah.
Aku sedang sibuk, jadi tolong dipercepat ya.
Kau memberikan cokelat padaku saat Hari Kasih Sayang, bukan?
Iya.
Lalu kaubilang kalau cokelat itu bertabur cintamu dalam setiap gigitannya, bukan?
Oh, mungkin iya.
Terus?
"Terus"?
Yang ingin kubicarakan adalah, aku memang mencintaimu, tapi cuma sebatas kakakmu saja.
Kita ini bersaudara, jadi pada dasarnya tidak boleh men—
Kakak, kamu ini lucu banget sih!
Tentu saja bukan itu maksud dari cintaku!
Soalnya kamu adalah kakakku!
Ah, begitu ya.
Maksudku, aku juga tahu, tapi ini cuma untuk memastikan saja kok.
Dasar kakak ini.
Jadi kamu memang sangat mencintaiku, ya?
Tentu saja, karena kita ini bersaudara.
Kakak, sini kubisikkin.
Omong-omong,
ini adalah ciuman pertamaku.
Mantap! Dapat ciuman di pipi dari adikku tercinta!
Menjijikkan.
Jadi hari ini kita harus bermain sepak bola, ya?
Ini sih namanya penyiksaan di cuaca dingin.
Kalau kamu sih enak, Yui.
Soalnya kamu ahli dalam berbagai olahraga.
Eh, aku juga kedinginan kok sama seperti kalian.
Iori...
Tak perlu bicara padaku.
Ada apa, Yui?
Iori selalu ada di saat aku butuh bantuan.
Di saat aku depresi karena tak sanggup untuk pergi ke sekolah,
Iori selalu menjengukku setiap hari.
Iori adalah sosok yang baik, ceria, dan bisa diandalkan.
Dia benar-benar perempuan hebat.
Tapi saat ini Iori sedang kesakitan.
Bisa kurasakan dari terusan emosi yang dia berikan.
Tapi aku tidak tahu apa penyebabnya.
Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, namun tak bisa mengertikannya sebagai teman.
Aku bisa merasakan sakitnya, tapi tak bisa membantunya.
Klub Peneliti Gaya Budaya
Saat aku mengurung diri di dalam kamar, apa mereka juga merasakan apa yang kurasa?
Tapi semua ini takkan terselesaikan kalau cuma dipikirkan saja.
Saat ini kami aku dan teman-teman harus fokus dengan presentasi antar klub,
sampai Iori kembali lagi.
Kafe yang pas untuk kencan,
restoran Cina yang murah dengan porsi banyak,
toko yang menjual berbagai aksesoris lucu...
Wah, ternyata tempat yang kita temukan ini hebat-hebat ya.
Tapi membuat selebaran dan menyebarkannya secara manual mungkin cukup berat dilakukan.
Kita terlalu banyak menyia-nyiakan waktu.
Tapi kalau tidak begini, kita takkan bisa mengalahkan Klub Musik Jazz.
Kau yakin judulnya harus diperindah per huruf begini?
Iya dong.
Kita takkan bisa menang kalau kerjanya setengah-setengah.
Soalnya aku benci dikalahkan!
Yui, kaulah yang paling bagus dalam menyusun ini.
Kalau tidak fokus nanti lama selesainya.
Oh, maaf.
Aku merasa tadi Iori ada di depan pintu.
Jadi hari ini Nagase juga tidak datang...
Yah, pasti banyak yang harus dia pikirkan.
Soalnya kita tidak tahu kapan dan emosi siapa yang akan diteruskan.
Jadi ya apa boleh buat.
Tapi aku yakin, kita pasti—
Aku takut! Takut sekali!
Aku sangat ketakutan!
Ada apa?
Apa barusan terjadi terusan emosi?
Ya.
Kau tak perlu memberitahu mereka, Yui.
Ya, aku tahu.
Pokoknya, Iori pasti tahu kita semua ada untuknya di saat dia butuh bantuan!
Makanya, kita harus menunggu sampai saat itu tiba!
Ya.
Itulah yang kusukai darimu.
Wogh, akhirnya aku mendapat pesan cinta dari Yui!
Bukan begitu!
Aku cuma memuji karena sikap tenggang rasamu saja!
Jangan berlebihan menanggapinya!
Se-Sebenarnya ada apa?
Aku sih sudah bisa menebaknya.
Tapi kau benar, Aoki.
Saat ini kita harus melakukan yang terbaik, termasuk juga bagian Nagase.
Aku akan menemui Iori.
Ke-Kenapa tiba-tiba begitu?
Aku harus bicara dengannya, dan bagianku akan kuteruskan besok,
jadi biarlah aku menemuinya sekarang.
Apa rencanamu?
Apa kaubutuh bantuanku?
Aku bisa sendiri kok.
Inaba juga melakukan yang terbaik baginya.
Jadi aku juga harus bisa!
Menurutku sekarang bukan waktu yang tepat untuk menemuinya.
Aku setuju.
Kita tunggu saja sampai dia kembali atas keinginannya sendiri.
Kalau terburu-buru begitu nanti malah tambah runyam.
Tenang saja!
Kamu sendiri juga sering terburu-buru.
Rasanya aku punya firasat buruk.
Bukan Iori, tapi kau.
Percayakan padaku, takkan terjadi apa-apa kok.
Karena aku sudah jauh lebih kuat.
Maaf, tiba-tiba memanggilmu ke sini.
Sebelumnya kita juga pernah dalam situasi seperti ini, 'kan?
Bedanya, waktu itu kamu yang sedang dalam masalah.
Ya.
Waktu itu kamu sudah membantuku.
Jadi sekarang adalah giliranku.
Bagaimana pendapatmu tentang fenomena terusan emosi kali ini?
Bagaimana apanya?
Misalnya, apa fenomena ini berat dan menyiksamu?
Ya, mungkin berat.
Bi-Bisa diperjelas lagi?
Aku akan melakukan apapun untuk membantumu, Iori.
Menurutku takkan ada yang bisa kamu lakukan untukku.
Sebenarnya ada apa denganmu, Iori?
Soalnya senyummu ceria dan selalu mencoba untuk membuat kami semua larut dalam kesenangan.
Tapi belakangan ini kamu selalu murung.
Kamu sudah berulang kali membantuku.
Setidaknya, aku juga ingin membantu supaya kamu kemba—
Bisakah kau untuk tidak mengulang-ulang bagian "kembali seperti biasanya"?{di sini dia berubah dari "kamu" ke "kau", walau yang diucapin sama aja, tapi cara pengucapannya lebih badass}
Kau tak merasakannya.
Kau tak mengerti.
Dan bukan hanya kau saja.
Semuanya sama.
Kalian tidak mengerti siapa "aku" yang sebenarnya.
Apa maksudmu?
Aku sudah lelah.
Semua sudah berakhir, aku tak bisa melanjutkannya lagi.
Semua masih belum berakhir!
Kamu pasti bisa jika terus berusaha!
Aku sudah tak lagi bisa berteman dengan Yui.
Aku menyayangimu, Iori, dan itu takkan berubah sampai kapanpun.
Walau seberapa banyak perubahan padaku?
Tepatnya,
walau semua yang ada padaku berubah?
Ya.
Lalu, mana bagian diriku yang ingin kaujadikan teman?
Jika semuanya berubah, maka "aku" bukanlah aku lagi.
Karena aku akan menjadi orang lain.
Tapi sebelumnya kita selalu melakukan hal bersama-sama.
Jadi, selama ada ingatan tentang kebersamaan di masa lalu,
maka tak peduli seberapa besar perubahan pada orang itu,
bahkan jika berubah menjadi penjahat keji, kau tetap menganggapnya sebagai teman?
Jadi sifat asli ataupun perasaannya tak kaupedulikan?
Kalau itu...
Kamu bukan Iori yang kami kenal!
Itulah mengapa aku tak lagi bisa berteman dengan Yui.
Jadi temanmu berubah menjadi penjahat?
Tidak sampai segitunya kok.
Saat ini dia sedang menjadi sosok yang negatif saja.
Jadi kau merasa cemas lalu menghubungiku?
Ya.
Kupikir akan ada pencerahan jika meminta saran dari pihak ketiga.
Memang sih aku mau membantu, tapi sulit karena tidak tahu detil masalahnya.
Jangan bilang kalau kamu masih saja bergantung pada orang lain?
Dia memang benar.
Halo dan selamat siang, Kiriyama.
Oh, matahari sudah terbenam, jadi selamat malam.
Ah, aku memang tidak biasa menyapa dengan cara itu.
Ada apa, Kiriyama?
Kau terlihat gugup.
Apa maumu?
Ah, tolong jangan gunakan kekerasan.
Karena aku jauh lebih kuat darimu.
Tapi, kau memang sudah menyadarinya.
Apa yang kamu inginkan dariku?
Kiriyama, bagaimana menurutmu dengan fenomena kali ini?
Kau takut?
Setiap bagian dari dirimu terkuak.
Setiap bagian dari hatimu terkuak.
Tolong aku!
Yui, di mana kau?!
Di mana kau?!
Syukurlah, terusanku sampai dan mereka akan menolongku!
Aoki dan Taichi pasti akan menolongku!
Kamu masih saja bergantung pada orang lain?
Ada apa?
Aku takut dan sangat membenci fenomena terusan emosi ini.
Tapi aku takkan lari lagi.
Selama ini aku sudah banyak mempermalukan diri di hadapan mereka.
Jadi tak masalah bila mereka semua tahu setiap bagian dariku.
Tapi aku tak mau terus-terusan bergantung pada mereka.
Selama ini mereka sudah berjuang keras,
maka aku pun sama!
Seharusnya aku tak meminta pertolongan mereka.
Dan seharusnya aku pun tidak menyelesaikannya sendiri.
Tapi kami akan melewati ini semua bersama-sama!
Mungkin percuma saja kalau tetap kuteruskan.
Aku lelah, mungkin kusudahi saja.
Apapun yang kukatakan tak ada pengaruhnya.
Apa maksudmu?
Kau memang sudah menjadi lebih kuat, Kiriyama.
Mungkin kau lebih tidak menarik daripada Aoki.
Justu itulah aku harus menjadikannya semenarik mungkin.
Tidak, tak perlu kaupedulikan.
Selamat tinggal.
Selamat tinggal...
Kiriyama!
Jadi kamu yang pertama sampai ya, Taichi?
K-Kau baik-baik saja, Kiriyama?
Ya, maaf sampai membuatmu berlari jauh ke sini.
Aku sudah baikkan.
Dia juga sudah pergi.
Oh, syukurlah.
Taichi, aku sudah gagal.
Apanya?
Pembicaraanku dengan Iori menemui jalan buntu.
Mungkin aku malah semakin mempersulit keadaannya.
Kalau itu sih sama.
Nagase benar-benar menghindar dari kita semua.
Itu tidak benar.
Aku yakin Iori sedang menunggu bantuan kita.
Taichi, belakangan ini kamu kelihatan lebih payah!
Padahal sebelumnya kamu selalu bergerak lebih dulu!
Lagian, bagaimana bisa kamu hanya diam saja melihat semakin parahnya situasi yang dialami Iori?
Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk membantunya.
Tapi aku tidak tahu apa yang Nagase inginkan.
Semuanya benar-benar kacau.
Apa yang harus kulakukan?
Kamu ini sudah payah, plin-plan pula!
Aku juga bingung harus melakukan apa!
Padahal aku sudah berusaha tapi malah memperburuk keadaan saja!
Jika kamu memang mengacaukannya, maka pikirkan supaya di lain kali tidak kacau lagi!
Eh, Kiriyama, bisa tenang dulu?
Sebenarnya aku memang tak pantas menasihatimu seperti ini,
tapi karena kamu terlalu payah jadi mau tidak mau harus kulakukan!
Jangan pernah kamu ulangi lagi, bodoh!
Ma-Maafkan aku.
Menurutmu dengan meminta maaf semua dapat terselesaikan?
Apa cukup hanya dengan meminta maaf saja?
Yah, walau aku sendiri sudah memaafkanmu.
Te-Terima kasih...
Itukah yang harus kukatakan sekarang?
Hei, Kiriyama.
Apa?
Aku kita lewati semua ini bersama.
Ya, bersama-sama.
Yui! Sebentar lagi aku sampai!
Dia datangnya selalu saja kelamaan!
Atau mungkin ini memang keahliannya Taichi?
Apa yang sedang kaubicarakan?
Bukan apa-apa.
Sekarang adalah hari terburuk sejak pagi tadi.
Jepitan rambut kesayanganku rusak,
bertengkar dengan ibuku,
bangun terlambat,
dan badanku serasa sulit digerakkan.
Tapi semua itu pastilah suatu pertanda akan terjadinya sesuatu yang buruk di hari ini.
Tak perlu bertele-tele cepat katakan apa maumu.
Semua yang kaulakukan sudah sangat berlebihan.
Lalu, kau mau aku melakukan apa?
Katakan pada kami dari lubuk hatimu yang terdalam.
Kalian semua sudah tahu apa isi hatiku dari fenomena ini.
Itu cuma sebagaian dan tidak mewakili keseluruhan!
Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulutmu!
Kenapa aku harus mengatakan semuanya padamu, Inaban?
Iori, kau sudah pernah membantuku.
Jadi sekarang adalah giliranku.
Memang kesannya egois, tapi kita ini kan teman.
Teman selalu saling membantu.
Jadi mintalah bantuan kami!
Jangan seenaknya menyamakanku dengan kalian!
Apa yang sebenarnya terjadi padamu?
Sifatmu yang biasanya bukanlah seperti ini.
Kau benar-benar aneh!
Kau jadi begini sejak menolak cinta Taichi!
Aku tahu kau sudah muak dengan fenomena ini,
tapi katakan alasannya...
Lagian, kenapa kau menolak cinta Taichi?
Aku tidak mengerti!
Karena kau mencintai—
Kubilang, cukup!
Kau ingin tahu sisi hatiku yang paling terdalam?
Baiklah, akan kukatakan semuanya lewat mulutku.
Kau terlalu egois.
Kalau ditanya, akulah yang tidak mengerti.
Kau terus memaksaku untuk berpacaran dengan Taichi.
Terus dan terus kauulangi, "Kalian berdua pacaran saja!"
Dan saat aku sudah memantapkan diri untuk bersama Taichi,
kau malah menghalangi dan mengatakan bahwa dirimu pun mencintainya.
Tapi saat kubilang kalau aku sudah tak memiliki perasaan apapun padanya, kau malah marah padaku.
Apa-apaan kau ini? Apa yang kauinginkan dariku?
Sampai sejauh mana keegoisanmu itu?
Kau mendukung perasaanku, tapi setelahnya kau malah menjadi penghalang dan mengacaukan semuanya.
Bukankah kau sendiri yang keterlaluan?
Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku?
Seharusnya akulah yang bertanya "ada apa denganmu"?
Penentuan
Dan Pemecahan
Minggu Depan
Kubuat kau berteriak! Kubuat kau menangis!
Aku mencintai Nagase.
Kerja keras pasti membuahkan hasil.
Apakah kita berlima bisa melakukan presentasi bersama?
Kenapa kau harus menutup-nutupinya begitu?!
Aku tidak layak merasakan hal yang sama dengan mereka.
hanarebanare itsu no watashi
hanarebanare itsu no watashi
sashinoberareteru te no naka
sashinoberareteru te no naka
kagi wo kaketa chiisai hako ni
kagi wo kaketa chiisai hako ni
shitteta hazu no michi no mikaku
shitteta hazu no michi no mikaku
shitteta hazu no michi no mikaku
itamu kizu wo hoobarugoto ni
itamu kizu wo hoobarugoto ni
mata netami ga netsujou ga
mata netami ga netsujou ga
tsumetasa ga hikari ga
tsumetasa ga hikari ga
kyozetsu ga kibou ga
kyozetsu ga kibou ga
karamariai nani mo dekizu ni
karamariai nani mo dekizu ni
sakebu
sakebu
torokeru amakute kuroi kanjou ha chocolate
torokeru amakute kuroi kanjou ha chocolate
risou nante mou moetsukete shimatta no
risou nante mou moetsukete shimatta no
yowamushi no miminari ha yamanai
yowamushi no miminari ha yamanai
afureteku watashi wo
afureteku watashi wo
mitsukete
mitsukete
Saatnya kutinggalkan diriku yang di masa lalu
Saatnya kutinggalkan diriku yang di masa lalu
Ke dalam genggaman tangan yang membawaku
Ubahnya kunci 'tuk membuka kotak kecil
Lalu berlari menuju persimpangan yang pernah kulihat
Setiap kurasakan luka dan sakit di pipiku
Dalam diriku yang haus akan gairah
Terasa sinar dingin menyilaukan
Mungkinkah itu penyesalan? Ataukah harapan?
Namun hatiku malah tak kuasa menahannya
Aku berteriak
Perasaan bergejolak, hitam, dan manis bak cokelat
Membakar seluruh keyakinan yang selama ini kusimpan
Di telingaku selalu terngiang akan kelemahanku
Temukanlah seluruhnya
Pada diriku
Ke dalam genggaman tangan yang membawaku
Ubahnya kunci 'tuk membuka kotak kecil
Lalu berlari menuju persimpangan yang pernah kulihat
Setiap kurasakan luka dan sakit di pipiku
Dalam diriku yang haus akan gairah
Terasa sinar dingin menyilaukan
Mungkinkah itu penyesalan? Ataukah harapan?
Namun hatiku malah tak kuasa menahannya
Aku berteriak
Perasaan bergejolak, hitam, dan manis bak cokelat
Membakar seluruh keyakinan yang selama ini kusimpan
Di telingaku selalu terngiang akan kelemahanku
Temukanlah seluruhnya
Pada diriku
Mi
chi
Ra
n
do
m
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.