Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ada satu pertanyaan yang sering kali tersirat di pikiranku.
Saat aku mengira sudah mengerti siapa dia yang sebenarnya,
mungkin aku malah melewatkan "dia" yang paling penting dari diri Iori Nagase.
Pertanyaan tersebut adalah, "Siapa sebenarnya Iori Nagase?"
Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya,
tapi memang harus kukatakan sekarang.
Bukan,
tapi memang sudah lama ingin kukatakan.
Aku benar-benar mencintaimu.
Jadi, maukah kau jadi pacarku?
Maaf.
Aku benar-benar minta maaf.
Menurutku, ada sesuatu yang janggal.
Jadi, bisakah kamu lupakan kalau aku pernah mencintaimu?
Sampai nanti.
Apa alasannya, Nagase?
Aku...
Bukan, aku bukanlah sosok Iori yang Taichi pikir.
...ada urusan.
14 Februari.
Hari Kasih Sayang.
Suasana bertabur senyum manis kegembiaraan sudah menyelimuti SMA Yamaboshi.
Tapi setelah cintaku ditolak oleh Nagase kemarin, suasana di pikiranku terasa pahit.
Hei, Yaegashi.
Kenapa sih?
Masuk angin, ya?
Kalau pasang tampang begitu, kau enggak akan dapat cokelat lho.
Sejujurnya, ini adalah saat paling buruk bagiku untuk merasa depresi.
Karena saat ini kami sedang berada di dalam fenomena aneh keempat yang disebabkan ulah Paria Gunung.
Tiga hari yang lalu, Paria Gunung kembali muncul di hadapan kami.
"Terusan Emosi".
Gampangnya, di manapun kau berada, apapun yang ingin atau tidak ingin kaukatakan,
emosimu akan diteruskan kepada yang lainnya.
Jadi semacam telepati?
Bisa dibilang begitu, namun juga tidak.
Waktu terjadinya fenomena kali ini, benar-benar secara acak.
Tentu saja, termasuk emosi siapa yang akan diteruskan atau siapa penerimanya.
Semua itu akan selalu berubah-ubah.
Apa maksudnya?
Tadi itu apa?
Rasanya pikiran Taichi langsung menggema begitu saja di dalam kepalaku.
Jadi itu maksudnya?
Ya.
Orang yang hati dan pikirannya diteruskan, dapat mengetahui siapa yang menerimanya.
Namun si penerima takkan mengetahui siapa lagi penerima selain dirinya.
Dia benar.
Aku tahu bahwa pikiranku ini diteruskan kepada kalian semua.
Ah.
Kalau begitu, aku permisi.
Oh.
Jika ada pertanyaan, aku akan menjawabnya sekarang.
Yang muncul waktu itu, Si Nomor Dua atau apalah itu, siapa dia?
Oh, kalau itu...
Dia mulai tertarik padaku.
Dengan kata lain, aku menjadi lebih menarik.
Tapi kalian tak membutuhkan ceritaku terkait masalah itu, 'kan?
Intinya, aku sudah menjelaskannya pada kalian.
Sampai jumpa lagi.
Ini bukan kali pertama bagi kita menghadapinya!
Jika kita tetap jalani semua ini seperti biasa, dia pasti takkan mengganggu lagi.
Benar.
Ini semua karena dia pikir kita ini menarik.
Semua ini akan berakhir jika dia sudah lagi tidak tertarik kepada kita, 'kan?
Ya, kali ini pun kita pasti mampu melewatinya.
Kau juga berpikir begitu, 'kan, Nagase?
Oh, iya...
Kita pasti bisa!
Bersama-sama kita hancurleburkan rencana Si Paria Gunung, sehingga dia tak lagi berani macam-macam dengan kita!
Rasanya aku jadi bersemangat!
Kita sudah berhasil sejauh ini,
kali ini pun kita pasti bisa!
Ya!
Justru kaulah yang paling mengkhawatirkan.
Eh?
Kok begitu sih, Inaba?!
{Title}
Hari-Hari
Yang Berantakan
Lalu, satu bulan pun berlalu.
Saat ini kami memang sedang dalam fenomena terusan emosi,
tapi justru karena itulah aku tak ingin mengubah keputusan yang sudah kubuat,
tepatnya, keputusan saat aku mengajak Nagase untuk berpacaran.
Jadi, bisakah kamu lupakan kalau aku pernah mencintaimu?
Boleh aku bicara sebentar?
Yaegashi, kamu sedang ada masalah dengan cinta, bukan?
Sekarang adalah Hari Kasih Sayang.
Hari yang paling banyak dipenuhi cinta setiap tahunnya.
Kalau kamu terus murung begitu, nanti bisa memengaruhi teman-teman yang lain.
Iya, aku minta maaf.
Jangan-jangan cintamu ditolak oleh Nagase, ya?
Eh, jadi benar?
Padahal kelihatan lancar-lancar saja.
Jadi, memang benar ya...
Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tak perlu ikut-ikutan murung begitu.
Akhirnya kesempatan terbesarku datang juga!
Hah?!
Ah, maaf.
Aku terlalu senang sampai tak bisa menahan diri.
Jadi kau masih mengincar Nagase?!
Biar kuperjelas, aku memang ditolak,
tapi bukan berarti kau sudah menang!
Iya, iya, kuhargai usahamu, pecundang!
Kampret nih cewek...
Tapi aneh,
padahal kalian sering terlihat bermesraan, tapi ternyata dia malah menolakmu?
Ngakak gan!
Eh, memangnya sifatmu selalu seperti ini?!
Kelihatannya kamu sudah lebih baik sekarang.
Capek rasanya otot mukaku karena memasang ekspresi yang tidak biasanya.
Jadi, itu tadi sengaja untuk menghiburku?
Tapi ini memang kesempatan di dalam kesempitan.
Aku masih ngakak nih.
Ternyata tadi itu kau memang sedang meledekku.
Bersemangatlah, Yaegashi.
Tidak ada gunanya memasang tampang murung terus.
Justru ini kesempatan buatmu.
Kenapa tidak coba berpacaran dengan Inaba saja?
Tunggu!
Kenapa kau juga tahu tentangku dan Inaba?!
Terlihat jelas dari luar kalau dia sedang jatuh cinta.
Mungkin orang lain tidak menyadarinya, tapi tidak denganku.
Karena aku adalah...
Love God dari kelas 1-3!
Semoga kau sadar kalau aku harus berhati-hati denganmu, Love God.
Nah, sekarang tinggal kuputuskan kapan akan kuberi coklat ini padanya.
Inaba...
Ada apa?
Oh, bukan apa-apa.
Seperti yang kukatakan tadi, kenapa tidak coba dekati Inaba saja?
Dan saat kamu bermesraan dengannya, aku akan menaklukkan Nagase!
Akhirnya tujuanmu memang itu-itu saja.
Akhirnya kaudatang juga, Taichi!
Kita punya masalah besar nih.
Ada apa?
Jangan-jangan Si Paria Gunung berulah lagi?
Bukan!
Ini tentang Pak Go, kemungkinan beliau takkan menjadi pembimbing kita lagi!
O-Oh, begitu...
Eh, memangnya kenapa?
Sekarang ini Pak Go membimbing dua klub, yaitu kita dan Klub Musik Jazz.
Tapi tahun depan, beliau sudah harus ikut mengurus bagian administratif.
Pastinya beliau semakin sibuk, jadi hanya bisa membimbing satu klub saja.
Tadinya aku sih mau bilang, "Ya, tak masalah, silakan saja ganti pembimbing kami",
tapi aku memperhitungkan tentang keberadaan Paria Gunung.
Jujur saja, mau tidak mau kita memang tak bisa dibimbing oleh guru lain karena Gotou jarang sekali datang kemari.
Justru kalau pembimbing penggantinya adalah guru yang teladan, beliau bisa datang kemari setiap saat untuk mengawasi kita.
Lalu, agar semua itu tidak terjadi,
kita harus mendapatkan perhatian terbanyak saat presentasi antar klub di akhir tahun guna mempertahankan Gotou.
Presentasi antar klub?
Oh iya, acara tersebut memang ada setiap akhir tahun.
Hei, bagaimana kalau sekarang kita langsung memata-matai Klub Musik Jazz yang sedang latihan?
Iori, ide bagus!
Aku juga penasaran Pak Go melakukan apa di sana!
Ya.
Memata-matai adalah hal mendasar dalam berperang!
Lihat, 'kan?
Kalian sudah mengerti alasan kami membutuhkan Pak Gotou di klub ini.
Pak Go mantap!
Tak bisa kupercaya.
Jadi kamu juga anggota klub ini ya, Shiroyama?
Ya, walau aku masih jauh bila dibandingkan dengan para kakak kelas di sini.
Shiroyama, kamu selalu saja merendah!
Padahal kamu 'kan pemusik terbaik di antara murid kelas satu!
Jangan dibesar-besarkan, ah.
Shiroyama lumayan populer, ya.
Sekarang aku tahu kenapa dia dijuluki "Sang Pangeran".
Katanya juga ada band profesional yang mengajaknya.
Ternyata kita memang tak bisa menilai seseorang dari luarnya.
Mengalahkan Klub Musik Jazz rasanya hampir mustahil.
Tunggu dulu!
Memang benar kalau saat ini kita sedang dalam situasi "Peperangan yang pasti gugur"!
Tapi, hari ini adalah tanggal 14 Februari!
Bukankah ada sesuatu yang lebih penting dari ini semua, saudara-saudara?!
Lho?
Kalian semua tidak sepikiran denganku?
Saat ini kita sedang dalam fenomena terusan emosi.
Jadi tak perlu membahas hal itu dulu.
Justru di situlah manfaatnya!
Lebih baik sekarang kita saling mengutarakan satu sama lain, sebelum suasananya menjadi canggung!
Oh, benar juga...
Aku ingin tahu kepada siapa kamu akan memberikan cokelat, Inaba.
Soalnya aku penasaran karena beberapa hari yang lalu kamu minta diajarkan membuat cokelat.
Serius?!
Inaba, jadi ada cowok yang sedang kausukai?!
Eh, kalau itu...
Mana bisa kukatakan di saat seperti ini kalau yang cowok yang kusukai adalah Taichi!
Eh, ada apa?
Apa ada yang menerima terusan emosi?
Ah, itu...
Aku memang menyadari ada sesuatu di antara kalian berdua, tapi...
Po-Pokoknya yang itu tak perlu dibahas lagi!
Aku tahu seharusnya kuberitahu ini juga pada kalian, tapi aku cuma belum menemukan saat yang tepat saja kok.
Oh, iya!
Saat ini, aku dan Iori sedang bersaing untuk mendapatkan Taichi!
Menggelikan, bukan? Silakan tertawa sepuasnya!
Inaba dan Iori saling memperebutkan Taichi?
Tapi tenang saja, bukan berarti semua ini berubah jadi persoalan yang rumit kok!
Bukankah begitu, Iori, Taichi?
Y-Ya, tak ada masalah apapun kok.
Walau terkesan aneh kalau aku bilang begitu...
...karena cintaku sudah ditolak oleh Nagase kemarin.
Benar-benar ditolak.
Eh?
Eh?!
Kalian semua mendapat terusannya, bukan?
Iori, dia menyatakan cintanya padamu...
...tapi kau menolaknya?
Apa-apaan itu?
Apa maksudnya itu?
Lalu, bagaimana dengan perasaanku?
Bukan, jadi aku...
Maaf.
"Maaf"?!
Kau juga kenapa sih, Iori?!
Kenapa kau menolaknya?!
Tunggu, tenang dulu, Inaban.
Memang benar aku menolaknya, tapi ada alasannya kok.
Aku juga berniat untuk menjelaskan padamu, jadi...
Bukan urusannya juga sih.
Kenapa malah dia yang membentakku?
Eh, yang tadi itu Iori?
Bu-Bukan begitu maksudku, Inaban!
Bukan maksudku untuk tidak acuh pada perasaanmu.
Maksudku adalah-
Malah kau sendiri yang murung padahal aku yang dibentak, egois sekali sih!{emosinya si Iori wa jadiin 'kau' biar GAR, sisanya sih masih kamu, masih anta sih}
Yang tadi juga cuma bercanda.
Itulah yang ingin kumaksudkan, tapi rasanya tak mungkin ya...
Dia berbeda dengan apa yang kubayangkan.
Tunggu, maksudku tadi itu-
Iori menakutkan!
Apa ini sifat Iori yang sesungguhnya?
Ah, tadi itu...
Bukan, bukan begitu maksudku, Iori!
A-Ada Apa?
Apa Iori mendapat terusan darimu, Inaba?
Setelah itu, Iori Nagase pun hancur.
Aku pulang.
Oh, kakak sudah pulang!
Bagaimana?
Dapat cokelat, enggak?
A-Ada apa, kak?
Jangan-jangan kakak enggak dapat secuil pun?!
Dapat kok, cokelat pertemanan.
Kalau begitu sih enggak apa-apa dong.
Ah, aku tahu!
Enggak dapat dari cewek yang kakak sukai, iya 'kan?
Lalu, kakak melihat si cewek itu malah memberikannya kepada cowok lain!
Maaf, aku ke kamar dulu.
Tunggu, sebenarnya ada apa sih?
Ini kuberikan cokelat untuk kakak, jadi jangan sedih begitu ya!
Cokelat ini bertabur cintaku di setiap gigitannya lho!
Terima kasih.
Eh, sebenarnya ada apa sih, kak? Kasih tau dong!
Selamat pagi, Iori!
Ah, selamat pagi, Nakayama!
Hei, apa kemarin kamu memberi cokelat pada seseorang?
Yah, aku memberinya pada beberapa orang yang selalu kurepotkan.
Bukan, maksudku cokelat untuk orang yang kamu cintai!
Kamu ini sangat populer lho.
Pastinya ada seseorang yang kamu cintai, iya 'kan?
Satu-satunya orang yang kucintai adalah...
...hanya kau seorang, Mariko!{omae dake, jadi wa pake 'kau'}
Duh, aku jadi salting nih, Iori!
Apa maksud penolakanmu?
Tidak ada maksud apa-apa juga kok.
Dia menyatakan cintanya, lalu kutolak, begitu saja.
Apa terjadi sesuatu yang membuatmu tak lagi mencintainya?
Lalu setelah kukatakan, kamu mau apa?
Habisnya aku jadi galau.
Galau karena apa?
Maaf ya, Inaban.
Mungkin kamu tidak bisa mengerti, tapi aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Taichi.
Jadi...
Kamu tak perlu mempermasalahkan tentangku lagi.
Apa ada hubungannya dengan fenomena terusan emosi ini?
Memang ada hubungannya...
Kalau begitu, pikirkan lagi!
Saat ini situasi kita tidak bisa dikatakan baik-baik saja,
karena setiap keputusan yang kita ambil bisa tak sesuai.
Lebih baik tunggu sampai keadaan normal kemba—
Kapan?
Memang benar suatu waktu fenomena ini pasti akan berakhir,
tapi bagaimana kalau muncul fenomena yang lainnya lagi?
Itu...
Manusia dipengaruhi oleh pengalaman di sekitarnya.
Lalu, apa bedanya dengan pengaruh yang dibawa oleh fenomena dari Paria Gunung dengan lingkungan di luar itu?
Lagi pula takkan pernah ada yang terjadi antara aku dan Taichi apabila bukan karena fenomena pertukaran jiwa.
Kalau begitu, keputusan yang kita buat di saat itu juga tak sesuai?
Dan juga, apa kamu benar-benar ingin aku dan Taichi berpacaran?
Apa yang kamu inginkan?
Apa yang harus kulakukan?
Nagase berpikiran begitu...
Lalu Inaba juga...
Apa kamu juga mendapat terusan emosinya, Inaban?
Ya.
Kita bisa terlambat.
Ayo.
Ada apa sih denganku yang sekarang?
Maaf ya, telat sehari.
Aku ikhlas lahir batin kalau harus mati sekarang juga dah!
Inaba.
Maaf tiba-tiba menyuruhmu kemari.
Aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin.
Tak ada yang salah kok.
Karena semua ini memang salahku.
Bukan itu, habisnya aku juga cukup kaget sih.
Kupikir kamu akan membicarakan dulu padaku sebelum mulai menembak Iori.
Itu karena...
Aku takut.
Jika aku bicara dan padamu dan kau menghentikanku,
mungkin aku akan semakin sulit memutuskannya.
Kau...
Jadi kau bingung memilih antara aku dan Iori?
Bu-Bukan, kau salah!
Salah, ya?
Ti-Tidak salah sih, tapi...
Aku memang mencintai Nagase.
Tapi bukan berarti aku tak mengerti perasaanmu.
Kau adalah sosok luar biasa yang pernah kukenal.
Be-Benarkah?
Kau langsung blak-blakan begitu.
Karena kau memang pintar, dan selalu memikirkan kami semua.
Kau juga benar-benar baik.
Dewasa, cantik,
dan yang terpenting, kau sangatlah imut.
Mungkin kau kurang pandai berolahraga ataupun memasak,
tapi ada banyak kelebihan lain di dalam dirimu.
Tu-Tunggu! Bitan dulu!
Lalu, lanjutannya?
Eh, harus dilanjutkan?
Lanjutkan dong!
Eh?
Tidak! Lupakan yang baru saja kukatakan!
Aku cuma salah bicara!
Lidahku tergigit tadi!
Oh...
Ini, terimalah walau telat sehari.
O-Oh, terima kasih.
Kau masih mencintai Iori, 'kan?
Ya.
Tapi, apa kau pernah berpikir untuk berpacaran denganku karena sudah ditolak olehnya?
Tidak, aku takkan melakukan hal serendah itu.
Yang menentukan rendah atau tidaknya itu adalah aku.
Yah, walau saat ini aku tak tahu harus berbuat apa.
Rasanya seluruh isi kepalaku bagaikan kapal pecah.
Tapi...
Yang pasti, aku tahu bahwa aku mencintaimu.
Ya, tunggu saja jawabanku di Hari Balas Kasih nanti ya.
Pasti.
Klub Peneliti Gaya Budaya
Tunggu dulu!
Yui, jadi kau juga memberikan Taichi cokelat yang sama denganku?!
Ke-Kebetulan saja kok!
Kupilih yang sama biar tak ada perbedaan!
"Tak ada perbedaan"?
Aku juga penasaran dan harus mendapat kejelasan sedetil-detilnya.
Yah, walau aku bersumpah, yakin, dan pasti bahwa aku tak peduli sedikit pun tentang Aoiki.
Memangnya harus dijabarkan sekejam itu, ya?!
Ta-Tahun ini Taichi sudah banyak membantuku, jadi aku cuma mengekspresikan rasa terima kasihku saja!
Tidak ada maksud khusus kok!
Sumpah?
Sumpah!
Bu-Bukan berarti aku mencintai Taichi kok!
Yah, walau aku sangat mencintainya sebagai temanku...
"Sangat mencintai"?
Sudah kubilang, tidak ada maksud khusus kok!
Dari tingkahmu ini, berarti kau memang sangat mencintai Taichi, ya.
Hah?
Memangnya kenapa?!
Tidak, tidak ada apa-apa, Kapten Inaba!
Omong-omong, syukurlah phobiamu sudah bisa teratasi.
Soalnya kau memberikan cokelat ungkapan pertemanan pada semua anak cowok di kelas.
Oh iya, kau bahkan memberikannya pada cowok ganteng dan berbadan atletis yang ada di langgar.
Tak perlu dibahas sampai segitunya!
Eh?! Tapi itu bisa jadi masalah besar buatku!
Mungkin aku harus mulai berlatih di langgar juga kali, ya...
Baiklah, kita diskusikan lagi tema untuk presentasi klub.
Apa yang harus kita presentasikan untuk mengalahkan mereka?
Silakan utarakan pendapat kalian masing-masing.
Saya, bu!
Pertama-tama, kalian bertiga selaku anggota cewek harus ber-cosplay yang seksi...
...guna merayu para anggota OSIS cowok agar dapat memengaruhi keputusan me-
Mungkin akan kupertimbangkan kembali kalau kamu bisa menghiburku dengan menari striptis.
Bagaimana kalau kita presentasikan artikel paling populer yang pernah terbit di Harian PGB?
Tapi bukankah sulit untuk mengalahkan mereka jika kita cuma mengandalkan itu?
Memang benar, soalnya mereka akan pentas di hadapan juri.
Kesannya pasti akan sangat jauh berbeda.
Bagaimana kalau kita berikan kabar utama yang lebih spesifik khusus untuk presentasi?
Kita bisa menarik perhatian para guru...
...yang sangat menyukai kutipan semisal "Usaha lebih penting dibandingkan hasil akhir" dan omong kosong semacamnya.
Tapi para guru pasti akan sangat kecewa kalau mereka tahu kalau kita melakukan "usaha" tersebut dengan licik.
Jurang yang memisahkan penampilan dalam dan luarmu sangat dalam.
Ah maaf, bukan begitu maksudku.
Aku!
Bagaimana kalau kita presentasikan "tempat spesial" yang ada di sekolah?
Memang butuh waktu cukup lama, tapi kita juga bisa memasukkannya ke Harian PGB Edisi Khusus.
Ah, iya...
Mempresentasikan sesuatu yang dibuat dan ditujukkan pada murid memang bisa memberi kesan positif.
Ditambah lagi, bisa jadi informasi berharga bagi semuanya.
Menurutku, itu ide bagus.
Baiklah, besok kita berpencar untuk mengumpulkan data!
Kita cari tempat yang menarik di sekitar sini dan membuat artikelnya sebelum presentasi antar klub dimulai.
Kau setuju, Ketua?
Ya.
Ada apa sih, Iori?
Hari ini kau tidak seperti biasanya!
Apa aku harus menjadi "diriku" yang biasanya?
Sudah kuduga, di sinilah tempat yang paling tidak nyaman.
Mereka sudah dengan egois menyimpulkan "Iori Nagase" yang sebenarnya.
I-Iori?
Tak usah dipedulikan.
Aku pulang duluan.
Tu-Tunggu, Iori!
I-Iori, apa sekarang kau sedang mengganti kesan dirimu menjadi "Si Cantik yang dingin"?
Apa kau ingin menggantikan Inaba yang sekarang ini sudah hampir kehilangan sifat dinginnya?
Apa yang baru saja terjadi, Aoki?
Apa emosi Iori diteruskan padamu?
Kupikir cara terbaik untuk saat ini adalah menjadi diriku sendiri.
Dengan begitu, Yui dan teman-teman akan kembali menjadi diri mereka yang biasanya.
Tapi ternyata malah tidak membuahkan hasil...
Selamat sore, Aoki.
Sepertinya aku belum pernah memanggil "Aoki" sebelumnya.
Apa yang kauinginkan dariku?
Aoki, bagaimana menurutmu tentang fenomena kali ini?
Fenomena yang paling buruk.
Memang benar.
Jadi menurutmu, apa yang bisa kaulakukan kali ini?
Aku akan menjadi diri sendiri.
Bukankah itu sama saja dengan tidak melakukan apapun?
Kau salah, ada maksud dari caraku itu.
Ah, berarti bukan begitu juga ya.
Bukan berarti kau tidak melakukan apapun,
tapi kau tidak bisa melakukan apapun.
Kaulah yang paling tak berguna di antara mereka.
Biar kutanya sekali lagi.
Apa yang bisa kaulakukan kali ini?
Kau tidak bisa melakukan apapun, Aoki.
Lalui, apa yang akan kaulakukan?
Aoki sedang apa ya sekarang...
Yui?!
Jika Yui memikirkan diriku, maka aku bisa terus berjuang.
Aku bisa terus berjuang lebih keras dibandingkan siapapun!
Aku akan menjadi diriku sendiri.
Untukku, Yui, dan teman-teman,
aku akan berjuang untuk presentasi antar klub.
Ternyata kau memang yang paling tak berguna.
Kau sama sekali tidak menarik.
Kalau begitu, cepat pergi dari kehidupan kami!
Jadi...
Itu saja yang ingin kusampaikan.
Mungkin ini terakhir kalinya aku berbicara padamu, Aoki.
Lebih baik begitu.
Jangan berani meremehkan kami!
Klub PGB takkan goyah hanya karena hal semacam ini!
{Preview}
Kalian Tak Merasakannya
Kalian Tak Mengerti
Minggu Depan
Siapa yang menembak atau yang sudah kutolak, bukanlah urusanmu.
Tapi apa memang itu yang hatimu inginkan, Inaba?
Kamu bukan Iori!
Sialan.
Mungkin kita harus membubarkan Klub Peneliti Gaya Budaya.
Kamu pikir aku adalah pembohong, 'kan?
hanarebanare itsu no watashi
sashinoberareteru te no naka
sashinoberareteru te no naka
kagi wo kaketa chiisai hako ni
kagi wo kaketa chiisai hako ni
shitteta hazu no michi no mikaku
shitteta hazu no michi no mikaku
shitteta hazu no michi no mikaku
itamu kizu wo hoobarugoto ni
itamu kizu wo hoobarugoto ni
mata netami ga netsujou ga
mata netami ga netsujou ga
tsumetasa ga hikari ga
tsumetasa ga hikari ga
kyozetsu ga kibou ga
kyozetsu ga kibou ga
karamariai nani mo dekizu ni
karamariai nani mo dekizu ni
sakebu
sakebu
torokeru amakute kuroi kanjou ha chocolate
torokeru amakute kuroi kanjou ha chocolate
risou nante mou moetsukete shimatta no
risou nante mou moetsukete shimatta no
yowamushi no miminari ha yamanai
yowamushi no miminari ha yamanai
afureteku watashi wo
afureteku watashi wo
mitsukete
mitsukete
Saatnya kutinggalkan diriku yang di masa lalu
Saatnya kutinggalkan diriku yang di masa lalu
Ke dalam genggaman tangan yang membawaku
Ubahnya kunci 'tuk membuka kotak kecil
Lalu berlari menuju persimpangan yang pernah kulihat
Setiap kurasakan luka dan sakit di pipiku
Dalam diriku yang haus akan gairah
Terasa sinar dingin menyilaukan
Mungkinkah itu penyesalan? Ataukah harapan?
Namun hatiku malah tak kuasa menahannya
Aku berteriak
Perasaan bergejolak, hitam, dan manis bak cokelat
Membakar seluruh keyakinan yang selama ini kusimpan
Di telingaku selalu terngiang akan kelemahanku
Temukanlah seluruhnya
Pada diriku
Ke dalam genggaman tangan yang membawaku
Ubahnya kunci 'tuk membuka kotak kecil
Lalu berlari menuju persimpangan yang pernah kulihat
Setiap kurasakan luka dan sakit di pipiku
Dalam diriku yang haus akan gairah
Terasa sinar dingin menyilaukan
Mungkinkah itu penyesalan? Ataukah harapan?
Namun hatiku malah tak kuasa menahannya
Aku berteriak
Perasaan bergejolak, hitam, dan manis bak cokelat
Membakar seluruh keyakinan yang selama ini kusimpan
Di telingaku selalu terngiang akan kelemahanku
Temukanlah seluruhnya
Pada diriku
Mi
chi
Ra
n
do
m
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.