All language subtitles for Tu Yaa Main 2026 1080p WEB-HDRip Hindi.DDP5.1.x264.MSubs

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew Download
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Persetan dengannya dan cincinnya!

Sulu, dengarkan aku.

Kamu lebih baik tanpanya. Kamu beruntung.

Pecundang itu tak pernah tahu cara menghargaimu.

Bahkan di pernikahannya sendiri, dia masih memperhatikanmu!

Dasar pecundang!

Baguslah kamu tidak berakhir dengannya.

- Benar sekali. - Tentu saja. Aku selalu benar.

Semangat sekali, Brengsek?

Tahan nafsumu itu.

Paham?

Begitu juga denganmu.

- Mau ke mana? - Mau ke mana?

- Hei, Sulu… - Hei, Bodoh!

Kesempatanku hilang.

Aku sudah lama mengusahakan ini.

Kamu malah datang dan merusak segalanya.

- Kalau kamu macam-macam... - Hei!

Kalau kalian diam saja di sana, kalian berdua akan kehilangan peluang.

Jackpot!

Sepertinya ini hari keberuntunganmu!

Hei!

Sulu!

Sulu!

Sulu!

Hei, Aku tidak terlalu jago berenang!

Sulu!

Kamu di mana?

Ke mana dia pergi?

Hei!

Sulu!

Berhenti menggodaku.

Kamu di mana?

Sudah kubilang…

Sekali aku menangkapmu, takkan kulepaskan.

Sulu!

Sulu!

Ayo...

Kamu di mana?

Sulu!

Ya! Kena kau.

Dapat...

Oh tidak! Sialan!

Ini semua salahku.

Kamu tidak bersalah, kan?

Tidak, ini salahku.

Aku mengikutimu ke sini.

Jadi kembalilah.

- Pergilah... cepat pergi. - Pergi ke mana?

Ke mana?

Sial, aku terjebak di sini sekarang.

Tolong!

Siapa pun, tolong!

Tolong!

Siap?

Aku selalu siap.

Sudah siap? Siap, Tuan?

Tanya aku?

Aku sudah menunggu lama sekali. Kalian lama banget nyiapinnya.

Ayo mulai pestanya Bisa kita mulai dengan Anda, Mbak?

Ms. Vanity.

Tapi kamu pasti sudah tahu, jadi…

Avani Shah.

Namaku Maruti Kadam.

Tapi di lingkunganku, panggilanku AF.

Aala Flowpara dari Nala Sopara.

Aku mau uang. Aku mau senang-senang

Kapan kamu memutuskan menjadi influencer?

Aku sudah suka tampil sejak kecil.

Aku bukan sekadar influencer.

Aku borongan. Content creator, sutradara,

asisten sutradara, produser, penyanyi, dan juga rapper.

Pokoknya, aku paket lengkap.

Ingin sibuk

Aku mau uang. Aku mau senang-senang

- Mau uang, dan cintamu - Dan pengikutmu?

2,3 juta dan terus bertambah.

Belum banyak, baru ribuan untuk sekarang.

Tapi bakal segera meledak kok.

Aku mau uang. Aku mau senang-senang

- Makanan favoritmu? - Sushi.

Bakwan bawang pakai roti, apa pun yang digoreng pakai roti…

Perkedel kentang, sayuran tumbuk, daging cincang… pakai roti!

- Kopi atau teh? - Teh, sudah jelas.

Matcha selamanya.

Teh Nagori. Setengah gelas.

♥ᴹʸᴹᵃᵈ♥

Pernah coba?

Mainlah ke tempatku, biar kuberi kamu rasa.

Ingin sibuk Ayo mulai pestanya

Datanglah, wahai hujan!

Lihat gayaku

Hei bodoh, aku luar biasa kuat

Aku tak takut pada seluruh dunia

Datanglah, wahai hujan!

Lihat gayaku

Hei bodoh, aku luar biasa kuat

Aku tak takut pada seluruh dunia

Ku mau tenar, ku punya gaya… Serta senyum sejuta watt

Dompet kosong, tapi aku membara Jalananku, kekuasaanku

Aku mau uang. Aku mau senang-senang

Mau uang, dan cintamu Ku ingin berdansa dan berjaya

Ingin sibuk Ayo mulai pestanya

Aku mau uang. Aku mau senang-senang

Mau uang, dan cintamu Ku ingin berdansa dan berjaya

Ingin sibuk Ayo mulai pestanya

Jadi, bagaimana kolaborasi hebat kalian bisa terjadi?

Bagaimana ceritanya?

Tata bahasa Marathimu berantakan!

Bagaimana kamu mau menulis esai panjang?

Grammar itu nilainya 20 poin… Maruti, bawa dia.

Aku baru bangun, Bu.

Lalu? Kamu begadang bikin video tapi tidur sampai siang.

Kapan kamu mau benar-benar bekerja dan cari uang?

Inilah pekerjaanku dan cara cari uangku.

Dari sinilah sumber penghasilanku.

Dan sudah kubilang, ini bukan "video", tapi "reels".

Kalau orang tak lihat reels-ku, mana mereka tahu lagu rap-ku?

Tunggu saja sampai viral…

Cuma demam yang bisa viral, yang lain tidak.

- Sana ambil air. - Saat reels-ku benar-benar viral nanti,

kubelikan tangki air emas khusus buat kita.

Orang-orang bakal mengantre, lihat saja nanti.

Kelas sedang berlangsung!

Kak,

bilang ke kucingmu jangan jilati bubuk proteinku.

- Sumpah, akan aku buang kucing itu. - Cepat isi air dan…

Biar dia yang kerja, dasar babi.

Tahu tidak?

Seniman tak ada harganya di sini.

Aku bukan babi, Bung. Aala Flowpara dari Nala Sopara!

Paham maksudku?! Ngerti kan, Bung?

Kutampar kau, konyol.

Semua orang di sini berkeringat!

Saat aku sukses nanti, kubawa kau pergi bersamaku

Gayaku, Swag-ku Bikin mereka terperangah

Tak peduli perasaannya Suasananya harus terasa mantap

Saat aku bilang Nala, kamu bilang Sopara!

Nala Sopara!

- Nala Sopara! - Hei, Maruti… Apa lagi?

Berhenti menyanyi dan pikirkan cara cari uang, bodoh.

Baiklah, aku akan cari orang untuk bayari tagihanku juga.

- Keras, Bung! - Menjijikkan. Dia tak tahu malu…

kalian semua juga sama saja.

Tentu saja aku malu. Aku malu tinggal di sini.

Untuk tinggal di Andheri, kamu harus kerja keras, tahu.

Dengan kerja kantoran,

air ledeng akan mengalir di sini sebelum aku sempat pindah ke Andheri.

Benar!

Memangnya ada gadis kaya yang menganggur menunggumu.

Tentu saja ada.

Bedanya, dia tidak menganggur…

tapi sedang rebahan di kasur empuknya, menungguku datang.

Aku sudah menunggu 15 menit di sini.

Berharap kamu berhenti untuk bernapas.

Kenapa kakak iparku latihan golf di dekat kolam renang?

Dia menunggu persetujuanmu.

Dia pikir aku akan membujukmu untuk berfoto bersama

rekan bisnis dan keluarga mereka.

Yang sangat ingin berfoto dengan Ms. Vanity!

Ya ampun!

Ya ampun!

Mereka sampai nekat ke klub ini hanya untuk melihatmu.

Kami penggemar beratmu.

Boleh foto bareng?

Kak.

Selesaikan dulu, aku akan datang.

Ms. Vanity selalu siap melayani.

Avani,

kamu tahu tidak harus melakukannya, kan?

Iya, tapi…

Aku ingin melakukannya.

Oke, Flow, siap? Kamera mulai.

- Cut, cut, cut! Sebentar… - Dan aksi!

Mundur sedikit.

Huruf "F" -nya miring lagi. Ya.

Aku gigih, aku pasti akan mencapainya

Perwakilan Nala Sopara Musik.

Tunggu apa lagi Tunggu apa lagi kau

- Lihatlah langit, cobalah terbang - Keren, Bung!

Tunggu apa lagi

Buang banyak waktu dan energi hanya untuk bikin video ini…

Mencolok, tapi masih terlihat murahan.

Kita bisa buat lebih baik.

Akan kulihat mimpiku jadi nyata

Potong kakiku, aku takkan berlutut

Kesuksesanku akan bersinar di mana-mana

Hati dan pikiranku berkata ikuti saja arusnya

Pemikiranku berbeda Teman-temanku mendukungku

Inilah Flowpara Perwakilan Nala Sopara

Kuutarakan isi hatiku Aku jadi buah bibir

Kulakukan apa kata hatiku

Bung! Hei! Kalian tidak boleh syuting di sini.

Syuting tidak dilarang di sini.

- Kamu merusak kameraku! - Siapa yang mau bayar ini?

Berhenti mendebat dan pergi sana.

Dengar, Gembel, kamu tidak tahu…

Kami mungkin tinggal di Nala Sopara,

tapi kamera ini impor dari Taiwan.

Beraninya kamu menerbangkan drone di atas rumah kami?

Rumah? Kamu pasti bercanda!

Drone itu ada di langit.

- Apa langitnya juga punya vila ini? - Jawab!

Aku tidak peduli. Jangan syuting di depan rumah kami.

- Tunggu sebentar. - Kamu tidak bisa begitu.

Kalau tidak mau ada orang di sekitar sini,

kenapa bangun rumah mentereng begini?

- Kubilang jangan syuting di sini. - Kenapa…

- Mereka juga sedang syuting! - Lupakan mereka.

Kamu sadar tidak itu rumah siapa?

- Tidak. - Itu rumah Ms. Vanity.

Ms. Vanity... dua juta pengikut. Gadis dari foto kolam renang itu!

- Oh, aku tahu… - Ya.

Dia tadi memperhatikanku.

Dan aku membalas tatapannya.

Benar. Dan di tengah momen itu,

kalau tadi satpam memukul kepalamu,

kamu akan kehilangan sisa sel otakmu yang sedikit itu.

Boleh aku bicara jujur?

Aku ingin sesukses dia.

Aku ingin angka pengikut sebanyak itu.

Dia itu Ms. Vanity.

Dia pemain lama di bidang ini. Itulah kenapa dia di puncak.

Kamu tidak paham permainannya.

Tidak. Kamu yang tidak paham aku.

Aku ke sini bukan untuk belajar. Aku ke sini untuk bermain.

Dan untuk menang.

Kepalaku pusing sejak pagi tadi.

- Mau teh? - Oh!

Dapat teh lima rupee cuma bayar 2,5.

Itu pun cuma setengah gelas.

Kasur hotel ukuran besar ini empuk sekali.

Ada kamar mandi dalamnya juga.

- Hei… - Jadi…

Camkan kata-kataku.

Suatu hari, Ms. Vanity bakal like, share, dan subscribe Aala Flowpara.

Aku bersumpah.

Abang kita sedang duduk di sana Bantai, pesan satu botol

Dia membawa wewangian Tapi kau minta bunga cempaka

Publik mungkin naif Tapi jangan sok jagoan

Jangan cari bidadari di sini Minta Ramba saja sebagai gantinya

Jadi rencananya, kita geser kamera dari penampilan utama…

Bisa berhenti sebentar?

Dari penampilan utama ke Avani, dua atau tiga kali.

Kamu harus sambil minum ini atau pegang ini, oke?

Ini jus jeruk.

Apa pun katamu, Bos.

Mumbai kota yang kacau

Kau harus bayar jika naik tumpangan

Kapan pun teman berkumpul Harus ada kesenangan

Bersama Ramba, dan sedikit miras

Abang kita sedang duduk di sana Bantai, pesan satu botol

Dia membawa wewangian Tapi kau minta bunga cempaka

Publik mungkin naif Tapi jangan sok jagoan

Jangan cari bidadari di sini Minta Ramba saja sebagai gantinya

Abang kita sedang duduk di sana Bantai, pesan satu botol

Dia membawa wewangian, tapi…

Aku gugup banget, Bung.

- Masuk angin? - Bukan.

Ini jaketmu.

Sudah beres.

Dan ini mahkotamu.

- Sana, beraksi! - Hajar, Kawan!

Apa kabar, Mumbai? Mana suaranya…

Malam ini penontonlah yang akan memberiku mahkota.

Konser rap nomor satu di India…

- Ya! Persis seperti itu! - Bagus, gitu dong. Mantap.

- Hari ini pahlawan lokal, besok superstar. - Hajar, Bung!

Jadi, inilah jagoan baru kita!

Temuan baru Spotify tahun ini!

Sambutlah… Aala Flowpara dari Nala Sopara!

Apa kabar semuanya?

Sekali lagi, Aala Flowpara?

- Apa-apaan ini? - Keluar sana!

Ayo nyanyi, Bung.

Maruti!

- Ayo, menyanyilah. - Mulai lagunya.

Flow…

Hei, nyalakan musiknya.

Dia tidak menyanyi.

- Putar saja musiknya. - Oke, siap.

Ayo, Maruti!

Masa mudaku mempertanyakanku Dan situasiku mengabaikanku

Kantongku mungkin kosong Tapi semangatku tetap tinggi

Keringat menghiasi bahuku Kalahkan mereka yang merasa kuat

Itulah aturan mainnya

Itulah alasan aku masih berdiri di sini

Aku tak kalah dari siapa pun

Tak ada lagi yang bisa hilang dariku Jadi aku tak takut gagal

Apa kata dunia nanti Itu tak masalah bagiku

Dunia ada karena aku Bukan aku ada karena dunia

Inilah Flowpara dari Nala Sopara

Sudah kutandai di dalam peta Jangan kasihani aku

Kunnyanyikan lagu ini tulus Dari lubuk hatiku

Rumah dan hidupku mungkin sederhana Tapi bakatku akan jadi harta berharga

Hanya keberanian yang kupunya sampai akhir

Aku tak mau mati sia-sia Aku ingin jadi abadi

Semangatku takkan pernah luntur Meski tubuhku hancur lebur

Mataku tajam bak burung hering Singa berkeliaran tanpa rasa takut

Mimpi mereka yang berani terbuka Harus menjadi nyata

Siapa pun yang menanggung pedih Lakukanlah dengan bijak

Jangan bekerja dengan ceroboh Harus tepat sasaran

Tak peduli apa perasaannya…

Tapi suasananya harus mantap!

Ini bukan mimpi, ini perjalananku…

Yo, Miss Vanity, gadis kolam renang Semua berakhir di tempatmu berada!

Itulah kenapa hidup terasa seperti gim

Lingkaranku diisi pemain-pemain hebat

Keberanian ini bukan pinjaman, tapi bawaan

Memang belum ada yang tahu Tapi akulah berita heboh hari esok

Abangku di sini!

Gila…

Kamu hebat sekali.

Penampilan yang luar biasa!

Bahkan Ms. Vanity ikut menikmati.

- Aku juga sempat meliriknya… - Samping…

- Itu keren sekali, Bung. - Terima kasih.

- Sampai jumpa di lapangan. - Keren banget tadi.

Terima kasih.

- Kelihatan pintar. - Terima kasih.

Ya ampun, Bung!

Mari kita lanjut, Bapak dan Ibu…

- Di mana dia? - Siapa?

Ms. Vanity.

…untuk Hip-Hop.

Ayo. Dia pasti ada di kerumunan.

Ini cerita lama Dari lorong-lorong Bombay

Pesan teror Suhani di lingkungan sekitar

Di usia yang begitu muda Banyak ketegangan yang dirasa

Ayahku seorang pemabuk Yang menghamburkan pensiun ibuku

Jaggu juga bilang, Bos, setuju

Jai Veeru dari Kurla konsumsi ganja

Jalanan penuh taksi hitam-kuning dan bajaj

Dari Andheri ke Churchgate Sarapan di kereta

Inilah Bombay Bukan, Bung. Ini Mumbai

Inilah Bombay Bukan, Bung. Bukan

Minggir, minggir.

Dia yang pakai gaun biru.

Gaun biru.

Apa yang kamu lakukan?

Ms. Vanity!

Ms. Vanity!

Bagaimana menurutmu penampilanku?

Aksi panggungku tadi.

Lumayan.

Untuk pemula.

Dia bilang lumayan, Bung!

- Mau kolaborasi? - Kolaborasi?

Avani, jangan ladeni pecundang ini.

Cepat masuk mobil.

Kolaborasi.

Kau dan aku.

Kirim DM di Picsta.

Dia minta kamu kirim DM.

Sudah kulakukan. Sudah masuk ke DM-nya.

Tapi kamu tidak balas.

Diam, Pecundang!

Aku tidak membalas orang asing.

Orang asing ini tidak berbahaya.

Turun dari mobilku!

Aku menyebut namamu di panggung.

Itu bukan berarti kita berteman.

Jadi, ayo kita kenal...

Ayo pergi, Bung.

Kita harus saling mengenal.

- Ya, saling mengenal. - Apa artinya itu?

Kau seorang rapper, Bung

Inilah Bombay

Avani,

kenapa meladeni gembel seperti itu?

Hanya karena dia menyebut namamu di dalam lagu rap-nya,

bukan berarti kau harus memberinya perhatian.

Tapi nyanyiannya bagus tadi.

Orang itu punya bakat.

Tentu saja. Sangat berbakat.

Ini bukan soal bakat.

Kenapa kau begitu terganggu dengan interaksi mereka?

Sudahlah, Shubhangi.

Tingkahnya benar-benar seperti gembel.

Menurutku dia lumayan manis.

Kamu serius? Avani, kumohon.

Kamu bilang dia manis?

Hei Avani,

Anjing liar juga manis.

Bukan berarti kamu harus membawanya pulang.

Ini selalu jadi masalahnya.

Dia memberi makan anjing liar, lalu anjing itu mengikutinya pulang.

Kuharap dia benar-benar mengikutiku pulang.

Kamu pasti bercanda.

Serius? Mereka mengikuti kita?

Mau kolaborasi tidak?

Jangan beri dia harapan.

Hei, Bung, setir yang benar.

Yash, tenanglah. Tolong hati-hati.

Bisa berhenti tidak?

Kenapa kamu berpikir berlebihan?

Kamu mengupil saja tetap bakal dapat like.

Dia tidak pernah mengupil.

Sesekali, kamu harus coba.

- Itu higienis. - Ayo, pelankan mobilnya.

Pelankan mobilnya, tolong.

Yash, kumohon, tenanglah.

Apa kita akan mengupil bareng saat kolaborasi nanti?

Kita akan buat sesuatu yang epik.

Biar kontennya yang membuktikan.

Bukan soal kamu atau aku.

Kamu kenapa, sih? Pelankan mobilnya!

Shubhangi, diamlah.

Siapa yang lebih populer?

Kamu atau aku?

Tapi siapa yang takut buat kolaborasi?

Kamu atau aku?

Siapa yang mengejarku dengan nekat?

Kamu atau aku?

Bung, dia bilang aku nekat!

Kamu tidak paham.

Aku sudah mapan. Tak ada tekanan.

Bagaimana?

Hentikan mobilnya.

Apa? Kamu sudah gila?

Hentikan mobilnya.

Aku tidak mau menghentikannya.

Hentikan mobilnya!

- Shubhangi, aku tidak akan... - Berhenti!

Apa dia sudah gila?

Ayo pergi dari sini.

Tapi ke mana?

Kamu mau kolaborasi, kan?

Kreatif sedikitlah.

Diam-diam dan licik

Saat mata kita bertemu, apa yang terjadi?

Haruskah kita ikuti mereka?

Benar, ikuti dia.

ID-nya Aala Flowpara. 20 ribu pengikut.

Jangan lupa like, share, dan subscribe.

Dan ID-ku adalah…

Fabric_HeartStealer.

Dengar, Bung.

Turunkan aku di bundaran?

Aku akan naik taksi pulang.

Kamu boleh tarik ongkos kalau mau.

Sok jago karena dilihat gadis-gadis, ya?!

Kuharap kamu tidak membuatku jatuh.

Ayo naik.

Panggil aku Valentino Rossi-nya Nala Sopara.

Mau lihat aku ♪standing♪?

- Oke, ayo tes keahlian motormu. - Apa?

Apa yang kamu lakukan? Kamu gila?

Kamu sudah gila?

Apa kabar, para Vanity kecilku?

Jangan tiru ini di rumah.

Aku mengambil risiko kecil hari ini karena...

Kulihat seseorang berisiko di panggung,

dan akhirnya berhasil menguasainya.

Kenalkan teman baruku, Aala Flowpara.

Apa kabar, semuanya?

Aku menerima ajakan kolaborasi spesialnya.

Jadi, Tukang Ojek, ceritakanlah.

- Namanya… - Maruti!

Bung, kata Kakak kamu pulang subuh.

Aku mau tahu detailnya.

Apa yang terjadi selama tiga jam? Bagaimana? Berapa kali?

- Jangan bikin aku bosan. - Aku mau setiap detailnya.

- Ceritakan apa yang kamu lakukan. - Bung!

Jangan kurang ajar. Biarkan aku tidur.

Oke, oke. Aku paham.

Begini persahabatanmu? Begini cintamu padaku, Bung?

Kamu benar-benar menghancurkan hatiku. Bagus sekali.

Apa yang kamu lakukan dengannya selama itu?

Katakan!

Kenapa?

Apa yang kamu lakukan, Bung?

Apa kamu sempat menginjak rem?

Kenapa kamu ingin tahu?

Dan apa ini yang kamu lakukan?

- Katakan padaku. - Apa urusanmu?

Kumohon, katakanlah.

Inilah alasan kenapa gadis-gadis takut padamu.

Kumohon, katakanlah.

Mundur sana.

Ke mana kamu pergi dengannya?

Apa?!

Kamu makan karbo lewat tengah malam?

Tolong katakan kamu cuma makan sayurannya, bukan rotinya.

Aku tidak makan roti gulungnya.

Aku makan roti gulungnya.

Pakai ekstra mentega.

Tidak!

Ini.

Rasanya luar biasa.

Rasanya seperti masakan rumah.

Enak sekali.

Apa ibumu juga jago bikin pav bhaji?

Tidak, ibuku jago bikin farsan.

Farsan itu apa?

Farsan…

Itu sejenis camilan.

Seperti kamu.

Camilanmu benar-benar ampuh buat Ms. Vanity.

Kamu bikin dia merasakan auramu,

abangkuku ini memang Aala Flowpara!

Sayang…

Dia memanggilmu "camilan", dan kamu langsung terkesan?

Tidak juga.

Tapi ya, dia lumayan menarik.

Menarik.

Lalu apa?

Ceritakan.

Ayo.

Bung, dia takkan mengirim pesan.

Kesempatanmu cuma buat satu malam.

Jadi katakan padaku, apa kamu memanfaatkan peluang itu?

Malah dia yang bersemangat… Di mana?

Aku melihat beberapa puisi di postinganmu.

Kamu menulis juga?

Kenapa?

Aku tidak terlihat seperti penulis?

Bukan begitu.

Ayahku sangat suka puisi.

Hati-hati… atau kamu akan mati konyol,

dan aku membusuk di penjara di masa mudaku.

Kalau aku ingin mati,

aku sudah menenggelamkan diri di kolam renangku sejak lama.

Kamu tahu apa tragedi hidupmu?

Ada lautan luas di luar sana.

Tapi kamu malah mau mati di dalam kolam renang sekecil ini.

Belajarlah dariku.

Aku tinggal di kamar ukuran 3x3 meter.

Tapi aku hidup bak raja, dari Virar sampai Churchgate.

Kalau begitu, tunjukkan hidupmu padaku, dari Virar sampai Churchgate…

Tentu saja. Kapan pun kamu mau.

Nanti aku jemput.

Yang ini?

Ya.

Terima kasih.

Aku senang hari ini.

Maksudku, aku menikmatinya.

Hubungi aku kalau kamu mau.

Bukannya aku menunggu atau apa.

Ms. Vanity…

Aku tidak punya nomormu.

Nanti kukirim lewat DM.

Kalau aku mau.

Dia tidak kirim pesan, ya?

Sudah kubilang takkan dikirim.

Kenapa kamu menunggunya?

Dia kirim pesan, kan?

Sudah kubilang pasti dikirim!

Apa ini? Dia mengirim pin lokasi.

Tantangan diterima, Bung!

- Aku harus pergi! - Mau ke mana?

Sampai jumpa nanti sore.

Tak kusangka kamu akan menghubungiku.

Memangnya kamu menunggu?

Tidak juga.

Kamu tahu temanku, Fabric?

Dia bilang gadis sepertimu takkan tertarik pada pria sepertiku.

Belum tentu kamu tipeku.

- Mau ke mana, Manis? - Nanti kuceritakan.

Aku selalu bertaruh pada harapan.

Lagi pula,

aku tidak tertarik menjadi tipemu.

Tapi ada peluang kamu bisa menjadi sepertiku.

Diam-diam dan licik Saat mata kita bertemu, apa yang terjadi?

Saat jantung berdegup kencang

Untuk pertama kalinya, apa yang terjadi?

Orang asing menjadi Kekasih, kekasih, kekasih

Tanpa sadar dan tak sengaja Mereka jatuh cinta

Apa ini?

Bagaimana ini terjadi?

Tak ada yang tahu

Wah, gila! Keren sekali! Ponsel ini mantap banget!

Buatmu, ini cuma uang receh.

Flow, aku bukan "tante girang" -mu.

Kalau begitu, jadilah.

- Aku benar-benar tidak gengsian. - Terus kenapa?

Kamu tertarik padaku hanya karena aku kaya?

Waktu kecil, aku sudah bertekad...

pacarku harus berasal dari kawasan elit di pusat kota.

Pacar?

- Jadi sekarang kita resmi? - Gaslah.

Nol persen toksik.

Seratus persen puas.

Atau jaminan uang kembali.

Bagaimana menurutmu?

Perlu aku pasang di status?

Diam-diam dan licik Saat mata kita bertemu, apa yang terjadi?

Aku berkelana Mengelilingi kota

Kulihat banyak wanita cantik

Aku sangat yakin Tak ada satu pun orang

Yang sepertimu

Itu membuat jantung berdegup kencang Ikatan apa itu?

Kini aku tahu Apa itu cinta pertama yang sebenarnya

Orang asing menjadi Kekasih, kekasih, kekasih

Tanpa sadar dan tak sengaja Mereka jatuh cinta

Apa ini?

- Bagaimana ini bisa terjadi? - Jadi, bagaimana menurutmu?

Tak ada yang tahu

Fabric dan aku menyiapkan ini untukmu!

Hei, hei, dia mau kabur.

Hatiku berdoa Jika aku memang ditakdirkan

Maka cintamu yang kucari

Saat kamu bertemu seseorang

Yang menggetarkan hatimu Lalu apa yang terjadi?

Saat napasmu Mulai berpadu, apakah itu?

Orang asing menjadi Kekasih, kekasih, kekasih

Tanpa sadar dan tak sengaja Mereka jatuh cinta

Apa ini?

Bagaimana ini terjadi?

Tak ada yang tahu

Lyra bertanya apa kita pacaran atau cuma sekadar teman kencan?

Kamu bilang apa?

Aku bilang...

"Kamu sudah gila ya, Sobat?"

Mantap!

Masalah pergaulan.

Sobat.

Kuharap kamu tidak terbawa perasaan.

Kamu gila ya?

Kamu juga cuma main-main, kan?

Jika kita tak punya masa depan, kenapa aku membuang waktu bersamamu?

Tunggu.

Kamu marah?

Jangan bercanda. Aku tidak bisa berenang.

Aku bisa saja tenggelam.

Aku takkan membiarkanmu tenggelam, Flow.

Ingat gadis yang kuceritakan? Ini Avani, temanku.

Bu, kuharap makanannya tidak terlalu pedas untuknya.

Dia sangat cantik, kan?

Ayo foto bareng.

Aku malu… Enak sekali, Tante.

Terima kasih.

Semoga tidak terlalu pedas.

Tidak, pas kok.

Meski kepedasan pun, dia takkan bilang langsung di depanmu.

Diamlah.

Mau minum?

Apa kamu sering masak poha di rumah?

Kadang-kadang.

Tapi tak seenak ini.

Kamu harus coba camilan buatannya.

Dari Nala Sopara sampai Borivali,

Ibu memasok camilan ke setiap apotek dan toko kelontong.

Mereknya "Kusum Vitthal".

Dia ini Ms. Vanity, Kak.

Dia takkan mau mempromosikan camilan kita di reels-nya.

Flow, jangan remehkan aku.

Ms. Vanity bisa melakukan apa saja.

Sudah, nikmati saja gorengannya. Oke?

Mau bilang apa lagi? Aku pergi dulu.

Bagaimana pendapatmu tentang ibuku?

Beliau luar biasa.

Iya, kan?

Sifatnya mirip denganku.

Dan bagaimana dengan "kerajaanku" ini?

Pasti kamu tak dapat pemandangan begini dari balkon vilamu.

Aku duduk di sini untuk menulis semua laguku.

Kalau Ibu mulai cerewet,

aku kabur ke sini.

Di mana ayahmu?

Beliau pergi saat aku umur lima tahun.

Kata Kakak,

Ibu dan Ayah sering bertengkar.

Aku tidak ingat banyak.

Apa kamu pernah mencoba mencarinya?

Paman pernah melihatnya di Satara sekali.

Bersama keluarga barunya.

Dia terlihat bahagia.

Takdir memang punya caranya sendiri.

Cerita kita hampir sama.

Tapi situasimu berbeda.

Kedua orang tuamu sudah tiada.

Tapi…

bagaimana rasanya sebelumnya?

Apa mereka sangat menyayangimu?

Mereka juga sering bertengkar... seperti kucing dan anjing.

Maksudku,

hal itu tidak terlalu mengganggu Tara atau…

Entahlah.

Mungkin dia sudah biasa dengan drama itu.

Tapi setiap kali mereka bertengkar,

aku biasanya menangis tersedu-sedu.

Hari itu pun mereka sedang berteriak,

dan aku mulai menangis keras.

Sampai benar-benar tak terkendali.

Lalu untuk menghiburku,

Ayah mengajak kami jalan-jalan dan…

Dan?

Mereka berdua tewas dalam kecelakaan mobil itu.

Tapi aku selamat.

Ayo, ayo, ayo!

Halo!

Apa ada orang di sana?

Halo!

Ada orang di sana?

Avani!

Tolong!

Avani!

Maaf, aku panik. Aku tak tahu harus apa.

Kamu panik. Jadi kamu datang padaku.

Kenapa kamu bilang ke Kakak dan Kak Ipar?

Avani! Avani!

- Keluar, aku perlu bicara denganmu. - Lihat apa yang telah kamu perbuat.

Aku akan mengurusnya, maafkan aku.

Avani, buka pintunya. Aku perlu bicara.

Inikah orangnya?

Serius, Avani?

Katakan kamu tidur dengannya hanya karena rasa kasihan yang aneh.

Pernah dengar tentang pengaman?

Tara.

Kenapa kita mencari alasan untuk ini?

Dia tidak serius dengannya.

Tak mungkin. Lihat saja dia.

Ini cuma Avani yang sedang jadi Avani.

Kak, aku tak bisa membicarakan ini denganmu di depan Vikram.

Seharusnya kamu buat batasan sejak awal.

Urusan kita belum selesai.

- Avani, tunggu! Avani! - Avani!

- Dekat stasiun? - Di stasiun.

- Avani, kamu serius? - Nanti kuhubungi.

- Ya, terserah kamu. - Avani, tunggu.

- Hubungi aku. - Oke?

- Vikram, lakukan sesuatu. - Baiklah.

- Apa? - Ayo pergi.

- Avani. - Ada apa?

Bisa kita pergi sekarang, Flow?

- Avani! - Luar biasa!

Apa yang terjadi?

Suasana di rumah sedang tegang.

Kakak dan Kak Ipar tahu soal kita.

Terus? Bukan masalah besar.

Kamu tak bisa dipercaya.

Aku…

hamil.

Mau minum teh?

Tidak, Tante. Terima kasih.

Mau gorengan? Bisa kusiapkan dalam dua menit.

Jangan mengganggunya terus.

Dia bilang tidak mau.

Kenapa malah kamu yang kesal?

- Kamu lapar? - Tidak.

Tante, aku lapar.

Sana pulang.

Halo?

Aku datang.

Ada masalah apa?

Bagaimana kabarnya?

- Avani mau pergi selama beberapa hari. - Pergi?

Liburan ke Goa bersamamu, Sobat.

Ini kunci rumah pantai di Goa.

Penjaganya sudah tahu kalian akan datang.

Juga…

Tara dan Vikram ingin bicara padamu.

Mereka menunggu di bawah.

Di sini?

- Jojo! - Popo!

Tara.

Di mana Avani?

Ada di atas.

Dia sedang kesal. Kalau melihat kalian, dia pasti akan meledak.

Ya, aku tahu.

Itulah sebabnya aku ingin bicara padamu.

Lihatlah tempatmu ini.

Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Avani?

Apa kamu sudah gila?

- Tehnya. - Tidak, terima kasih.

- Kamu mau? - Tidak.

Kalau butuh apa-apa, aku di dalam. Oke?

Kamu mau punya anak darinya sekarang?

Apa kamu mau membungkus camilan seumur hidupmu?

Mari berpikir realistis, Avani.

Aku sudah bicara dengan dr. Bhatia.

- Begitu kamu kembali dari Goa… - Ini ide siapa?

Idemu, atau ide Tara dan Vikram?

Apa bedanya?

Kami hanya ingin yang terbaik untukmu.

Dengar, Lyra.

Aku yang menentukan yang terbaik bagiku.

Bukan kamu. Bukan Tara. Bukan Vikram.

Avani memang suka labil begini.

Dia masih kekanak-kanakan, pikirannya belum jernih.

Kamu pria yang cerdas dan bijak.

Aku bisa melihatnya.

Apa maksudmu?

Bujuklah dia untuk pulang ke rumah.

Kumohon.

Dan kami yang akan mengurus situasinya.

Situasi?

Dia hamil. Katakan saja langsung.

- Bicaralah padanya. - Tara…

Kenapa kita bertele-tele?

Ini soal uang, kan?

Sebutkan hargamu.

Anggap saja ini imbalan atau apa pun.

- Buat saja dia mau pulang. - Maruti!

- Sisanya kami yang urus. - Maruti!

Ada apa ini? Siapa mereka?

Ada masalah apa?

Siapa dia?

Hanya teman.

- Apa? - Cuma teman.

Ibu masuk saja dulu. Masuklah. Tidak ada apa-apa.

Saat seorang pria tahu harga dirinya,

tak ada jumlah uang di dunia ini yang sanggup membelinya.

Jadi, bagaimana kalian mau membayarku?

Pergilah. Sana.

Cepat pergi. Pergi kalian.

Dia sama gilanya dengan gadis itu.

Hei, kamu, ke sini sebentar.

Ya, aku bicara padamu.

Ada apa?

Mimpi kelas menengah sering kali mati…

karena keangkuhan kemiskinan.

Asal kamu tahu saja.

Dulu aku bermimpi bisa mendengar suaraku sendiri di radio.

Aku ingin menjadi penyanyi.

Tapi aku tidak bisa.

Aku menjadi seorang suami.

Lalu menjadi seorang ayah.

Demi memikul beban itu,

aku menjadi seorang sopir.

Kupikir itu hanya sementara,

tapi aku tidak pernah menyadari...

kapan itu menjadi selamanya.

Apa kamu mau jadi seniman sambil menggendong anak?

Satu tangan memegang bayi menangis,

tangan satunya memegang mikrofon?

Semua gaya keren ini...

akan hilang sekejap mata saat kamu melihat popok basah.

Dan hanya baunya yang tersisa…

bau dari mimpi-mimpi yang mati.

Dia paham kok, Bu.

Jangan khawatir.

Rai Harrie…

Kau tanya siapa penguasanya? 7Bantaiz orangnya.

Pria pilihanmu ini keturunan langka

Cantik, seluruh dunia pun tahu Wajah dan jati diriku

Bahkan para preman Di kotamu tunduk padaku

Jalurku, permainanku, ketenaranku Tak tertandingi, ini kelas elit

Kawan-kawan mengeluh tempat ini sesak

Awalnya kau lepas genggamanku Lalu kau bilang itu salahku

Koneksiku orang-orang berpengaruh

Namaku adalah sebuah merek Kalung emas yang kukenakan

Dari bukan siapa-siapa jadi pahlawan Dari arang menjadi berlian

Sudah kuhitung semua bintang

Bicara ala Munna Bhai Gaya kerah tegak Jackie Shroff

Aku di puncak Apa pun yang kubuat adalah kelas atas

Ya, kami membawa Kobaran api ini dari Kota Mumbai

Aliran Punjabi Pemuda Marathi dan lagu ini asyik

Bagaikan tembakan kemenangan India di tahun '83!

Ini hip hop sungguhan Bukan omong kosong belaka

Mereka yang mendukungku itu spesial Sisanya tak ada artinya

Bisa kubuat orang berkuasa menangis Itu hal yang mudah bagiku

Di sini, segalanya beres pelan-pelan

Kau tanya siapa penguasanya? 7Bantaiz orangnya

Pria pilihanmu ini keturunan langka

Cantik, seluruh dunia pun tahu Wajah dan jati diriku

Bahkan para preman Di kotamu tunduk padaku

Jalurku, permainanku, ketenaranku Tak tertandingi, ini kelas elit

Bengali Baba menyebutnya kutukan Saturnus.

Maksudnya?

Saat nasib buruk menimpa, kau akan tak berdaya dalam segala hal.

Jika ada yang ingin kau katakan, katakan langsung di depanku.

Polisi!

Kendaraan roda dua…

♪ Pak. ♪ Parkir di dekat jalan.

Apa masalahnya?

Kalian dari mana?

Hei, dengar, Tawde si cerewet ada di luar.

Berapa lama lagi kalian akan selesai?

Lihat kekacauan ini.

Bilang bosmu untuk buka dompetnya.

Atau kolam ini akan terlihat persis seperti danau di luar.

Paham?

Lalu pergilah berenang bersama ikan-ikan.

Kecilkan suaramu.

Tawde nanti dengar.

Biar aku yang urus dia.

Tapi selesaikan ini dengan cepat.

Aku harus menguras kolamnya besok.

Bikin pusing saja.

Kenapa dia muncul saat aku sedang sibuk-sibuknya?

Jai Hind, Pak.

Katakan padaku,

mobil siapa itu?

Begini, aku mau bilang tadi…

♪ Maksudku… ♪ Bukan mobil bosmu, kan?

Bukan.

♪ Lisensinya sudah diperbarui? ♪ Belum, Pak.

♪ Belum? ♪ Belum.

Lalu siapa wajah-wajah baru ini?

Untuk pelatihan?

Kelompok terakhir musim ini, Pak.

Mereka akan pergi besok pagi.

Aku juga akan menguras kolam untuk perawatan.

Kamu bilang begitu minggu lalu.

Kamu mempermainkanku?

Tidak, Pak.

Janji kali ini. Datanglah besok.

Kolamnya akan ditutup.

Dengar,

jika aku kembali lagi

dan melihat orang lain bersamamu,

aku akan mengurung kalian semua.

♪ Jelas? ♪ Siap, Pak.

Banyak omong kosong.

Ini tamu-tamu kami.

Mereka datang dari Mumbai.

Motor mereka mogok.

Berikan mereka kamar deluks.

♪ Oke? ♪ Baik, Pak.

Nona, Anda bisa menginap di sini.

Tidak masalah. Aman kok.

Oke?

Hubungi aku jika butuh apa pun.

♪ Kamu punya nomorku? ♪ Ya, punya.

♪ Jaga mereka baik-baik. ♪ Siap, Pak.

Jai Hind, Pak.

Ayo,

kutunjukkan kamarnya.

Ayo, Bung.

Lewat sini.

Aku tak ingin memenuhi rumah itu.

Terus apa? Apa aku harus membesarkan anakku di tempat kumuh?

Apa yang akan kumakan? Kukasi makan apa mereka nanti?

Masalah ini jadi makin nyata, Bung.

Sekarang aku paham kenapa ayahku pergi.

Dia punya dua anak di usia 21 tahun.

Itu pasti membuatnya ketakutan setengah mati.

Itu benar anakmu?

Kamu yakin?

Jangan bicara sembarangan.

Kutampar kau nanti.

Avani-ku itu setia.

Dan itu bayiku. Hanya saja aku belum ingin jadi ayah. Apa itu susah dimengerti?

Apa itu sesulit itu untuk dipahami?

Aku paham. Tapi jelaskanlah padanya.

Jelaskan dengan penuh kasih sayang.

Lalu kabari aku apa jawabannya.

Oke, sampai jumpa nanti.

Kamu pikir aku menjebakmu, Flow?

Bukan begitu.

Lalu…

Jangan bersikap dingin begitu.

Kita akan cari jalan keluarnya.

Lyra memberikan nomor dokter kepada Fabric.

Haruskah kita ke sana setelah perjalanan ini?

Apa kamu benar-benar ingin membesarkan anak?

Did I say that?

Kamu tidak mau membesarkan anak,

tapi kamu juga tidak mau aborsi.

♪ Lalu maumu apa? ♪ Tidak ada.

Kamu, Lyra, dan Fabric sudah merencanakan semuanya, kan?

Apa?

Berhentilah berakting seolah kamu peduli dan terlibat.

Jadi aku cuma berakting?

Mau ke mana kamu?

Kamu baik-baik saja?

Apa?

Kamu baik-baik saja?

Aku baik-baik saja.

Mau bir?

Sedikit saja, ayolah!

Selamat.

Tak ada orang atau hal apa pun yang layak membebani hatimu seperti ini.

Tarik napas dalam-dalam dan embuskan semua yang mengganggumu.

Ingatlah ini.

Nona, pemeliharaan sedang berjalan.

Kolamnya sangat kotor.

Anda mau makan siang apa?

Apa saja yang ada. Aku ikut saja.

Aku tak peduli...

Kami tak punya dapur di sini.

Simpan di lemari merah.

Kita harus pesan makan.

Cepat katakan biar aku bisa telepon.

Dengar, pesan dua menu Chinese saja dan selesai.

Oke.

Katakan padaku. Di mana bengkel terdekat?

Sekitar tiga kilometer. Mekaniknya ada di pojokan.

- Dekat pasar? - Ya.

- Pak. - Ya?

- Suruh Nona keluar dari kolam. - Oke.

Aku harus menguras kolamnya.

Polisi akan datang dan memarahiku.

- Nanti kuberi tahu dia. Simpan ini. - Tolong ya.

Tolong beri tahu dia.

- Tentu. - Aku akan bawakan makananmu.

Oke.

Ms. Vanity.

Ini bukan dapurmu…

di mana koki menjentikkan jari, dan prasmanan pun muncul.

Kamu harus bilang mau pesan apa.

Jangan sinis padaku, Flow.

Aku terjebak di sini karena kita naik motormu.

Karena kamu bilang kamu butuh istirahat.

Dalam sedetik, hidupku berubah dari "Anak Gaul" jadi "Anak Kaburan".

Kuharap Kak Iparmu yang gila itu belum menghabisi keluargaku.

Oh, sudahlah.

Jangan berlebihan.

Lagipula, ini bukan drama romansa beda kasta yang berat.

Popo,

kalau aku bicara sekarang, dia akan meledak.

Kamu Avani Shah, dan aku Maruti Kadam.

Keluargamu akan lebih bermasalah dengan Kadam si miskin daripada pria kaya lain.

Pikirkan saja bagaimana kita lanjut dari sini, Maruti.

Aku sedang mengusahakannya,

tapi kamu harus keluar dari kolam dulu.

Ikut aku ke bengkel.

Akui saja kamu butuh uang untuk memperbaiki motormu.

Ambil saja dari tasku.

Lihat ke sini… Halo! Permisi!

Aku cuma ambil segini. Jangan tuduh aku merampokmu nanti.

Dan jangan khawatir, nanti kuganti uangmu kalau sudah pulang.

Mengapunglah terus di sana.

Kita sedang dalam masalah besar, dia malah mau jadi duyung.

Ayo semangat dan tersenyumlah! Kamu akan baik-baik saja!

Kaulah tujuanku, cintaku Kaulah...

Bapya, catat pesanan ini.

Satu nasi goreng.

Dua ayam bumbu kuah.

Ya, apa saja boleh.

Tentu saja.

Dan tambahkan 500 ekstra untuk kami.

Ya, tentu. Anggap saja ini hari keberuntunganmu.

Berhenti mengeluh.

Nanti akan segera kami lunasi.

Biar aku yang urus rumah pompa. Berantakan sekali.

Kirimkan dengan cepat.

Tukang leding ini tidak berguna.

Dia tidak memperbaiki apa pun.

Angkat teleponnya, pemalas!

Aku takkan pernah mempekerjakannya lagi.

Entah di mana bajingan itu sekarang!

Tidak ada yang beres.

Aku harus membersihkan ini sendiri.

Apa sih yang dia kerjakan?

Sialan.

Apa masalahnya sekarang?

Coba saja minta kerja lagi, Keshu!

Keshu, kekacauan macam apa yang kamu berikan padaku?

Siapa di sana?

Siapa itu?

Kurang ajar!

Bajingan!

Siapa di sana?

Apa yang terjadi?

Menyala dong! Ayo!

Hei… ayolah!

Kaulah tujuanku, cintaku Kaulah tujuanku, cintaku

Hatiku berkata begitu, cintaku

Kaulah tujuanku, cintaku

Ganga!

Setiap kali monster lahir di planet ini…

Seorang juru selamat lahir untuk membinasakannya.

Wah, Kawan.

Itu keren sekali.

Cepatlah!

Dengar, paketnya sudah siap, aku pergi mengantarnya sekarang. Paham?

Vasanta!

Pesananmu datang!

Vasanta!

Halo, Nona!

Nona!

Halo, Nona!

Halo!

Ini mi Anda, Nona.

Ayo bangun.

Kuharap dia tidak mati.

Ada orang di sana?

Ini bukan untukmu.

Ini untuk dia. Paham?

Ya.

Jangan dimakan.

Atau nanti malah kamu yang dimakan.

Oke, mari.

Ya.

Tak ada satu jiwa pun di reruntuhan ini.

Ya. Jangan khawatir, sudah kuantar ke Nona itu.

Beres, Bos.

Anggap saja ini hari keberuntunganmu.

Ya, jangan stres.

Oke, baiklah.

Aku selesai untuk hari ini, oke?

Ya.

Mata burung hering yang tajam Singa berkeliaran tanpa rasa takut

Mimpi mereka yang berani terbuka

Tolong!

Belum diperbaiki juga?

Belum, Pak. Butuh waktu mencari kabel penggantinya.

Hei!

Jangan rusak reputasi Konkan.

Mau aku kurung, hah?

Motornya pun takut padamu.

Akhirnya nyala juga.

Tapi bagaimana kamu berkendara di badai begini?

Mau bagaimana lagi, Pak?

Aku harus berangkat sekarang agar sampai Goa malam ini.

- Ambil ini. - Tidak usah, Pak.

Ambil saja. Makanlah.

Jangan sungkan.

Sejujurnya, aku memang lapar sekali.

- Pak Polisi. - Ya?

Boleh saya minta selfie?

- Sama saya? - Ya, Pak.

Aku bakal terlihat keren di depan kawan-kawan

di lingkunganku kalau mereka tahu aku akrab dengan polisi hebat.

Cepat foto.

Tugas memanggil.

Ada buaya yang masuk ke desa sebelah.

- Masuk ke pabrik kelapa. - Serius?

Ya.

Warga setempat melemparinya dengan kelapa sampai mati.

- Benarkah? - Ya.

Dengar, kita menghancurkan hutan,

meledakkan pegunungan.

Menguruk danau demi gedung tinggi.

- Buayanya harus pergi ke mana? - Benar juga.

- Aku pergi dulu. Tugas utama. - Baik, Pak.

- Sampai jumpa. - Terima kasih atas bantuannya.

Mari.

- Pak Polisi. - Ya?

- Sabuk pengaman. - Oh, iya.

Lihat, aku memperhatikan.

Semoga motornya tidak berulah lagi.

Popo!

Apa ada orang di sana?

Tolong!

Flow!

Ada orang di sana?

Tolong!

Flow!

Tolong!

Hubungi Flow!

Hubungi Flow!

Ayo, angkatlah.

Angkat teleponnya.

Angkat...

Avani?!

Avani?!

Hei, kenapa dia meninggalkanmu di sini?

Avani!

Avani!

Avani!

Halo!

Tolong!

Apa ada orang?

Vasanta!

Avani!

Ayo, cepat!

Ayo, bangun!

Avani!

Avani!

Avani, bangunlah.

Avani!

Bangun, Avani, kumohon. Avani!

Halo!

Avani!

Avani!

Avani!

Apa yang terjadi?

Bagaimana kamu bisa jatuh?

Kenapa kamu bisa terluka?

Aku tidak tahu.

Bagaimana bisa jatuh?

Apa Vasanta melakukan sesuatu?

Entahlah.

Oke, tunggu. Akan kucari jalan keluar. Tunggu di sini.

Flow!

Flow!

Kamu baik-baik saja? Flow?

- Kamu tidak apa-apa? - Tidak. Lenganku…

Lenganku.

Lenganku! Tak bisa digerakkan.

Jangan khawatir, Flow.

- Ada apa? - Tunggu,

- berikan tanganmu. - Jangan, jangan disentuh.

- Diamlah. Jangan. - Oke.

- Avani, kumohon. - Takkan terjadi apa-apa.

- Kamu gila? Jangan disentuh. - Berhenti bergerak.

- Percaya padaku, ya? - Kumohon.

Hitungan ketiga.

- Oke? - Ya.

Satu…

Kamu mematahkan lenganku.

Diamlah!

Katanya hitungan ketiga.

Lenganku. Kamu mematahkannya.

- Diam, sudah kuperbaiki posisinya. - Tanganku…

Coba angkat lenganmu!

Bisa.

Kaulah tujuanku, cintaku

Kaulah tujuanku, cintaku

Hatiku berkata begitu, cintaku

Kaulah tujuanku, cintaku

Di mana penjaga sialan itu?

Halo, Fabric?

Halo! Halo...

Fabric?

Kamu telepon Fabric?

Ponselnya mati.

- Harusnya telepon polisi saja! - Ponselnya mati total.

Lebih baik kamu diam saja.

Ini semua salahmu.

Kamu pembawa sial.

Kamu pikir ini salahku?

Sudah dibilang jangan dekat-dekat kolam.

Tapi apa kamu pernah dengar kata orang?

Berenanglah terus di kolammu itu.

Bagaimana cara buka kunci ponsel ini?

Luar biasa!

Kamu pikir aku sengaja melakukan ini?

Kita terjebak di sini gara-gara kamu.

Kalau saja kamu tidak keras kepala, kita pasti sudah sampai di Goa.

Iya, ini semua salahku.

Kamu tidak melakukan apa pun, kan?

Tidak, aku bersalah.

Aku mengikutimu ke sini.

Jadi pergilah.

- Pergi saja… tinggalkan aku. - Pergi ke mana?

Ke mana?

Si jenius mana yang bikin kolam sedalam 6 meter tanpa ada tangga!

Sialan, aku benar-benar terjebak sekarang.

Tolong!

Siapa pun, tolong!

Tolong!

Tolong!

Seseorang, tolonglah!

Ya Tuhan, selamatkan aku juga.

Avani!

Berhasil kulepas sekrupnya.

Avani!

Ayo, cepat, cepat!

Halo!

Ada orang di sana?

Halo!

Ada orang di sana?

Avani.

Tolong!

Avani!

Tolong!

- Tadi siapa? - Tolong.

Ada orang datang?

Aku dengar suara mobil.

- Tolong! - Tolong!

Ada orang di luar?

Tolong!

Tolong!

Tolong!

Tolong!

Kurasa mereka sudah pergi.

Harusnya kamu teriak lebih keras.

Andai kamu teriak lebih keras…

Apa lagi yang bisa kulakukan?

Ada orang tadi, tapi mereka pergi.

Kamu merusak kesempatan kita.

Avani, kamu malah asyik bersiul… Diamkan saja dia!

Popo, diam!

Apa kamu lihat jalan keluar di saluran itu?

Diamkan dia, atau aku akan…

Apa kamu menemukan jalan keluar?

Tidak bisa, airnya terlalu tinggi.

Jadi aku tidak berani lanjut.

- Apa maksudmu tidak lanjut? - Maksudku ya aku berhenti.

Sudah berapa kali kubilang? Aku tidak bisa berenang!

Sana pergi sendiri kalau mau.

Baiklah.

Aku akan pergi.

Ocehkan saja terus, aku akan cek.

Popo, diam!

Popo!

Avani!

- Diam, Popo. - Avani! Avani!

Benda apa itu?

Avani, mundur.

Mundur perlahan.

Aku di sini. Jangan khawatir.

Jangan melihatnya. Jangan tatap matanya.

Terus bergerak.

Teruslah bergerak.

Mundur. Avani, mundur.

Pindah!

Tetap di sana…

Dia pergi…

Dari mana datangnya?

Kenapa kamu buka salurannya?

Kita harus mencoba sesuatu biar bisa keluar dari sini.

Mana aku tahu kalau…

"Godzilla selokan" itu bersembunyi di sana.

Flow.

Kenapa dia tidak menyerang kita?

Entahlah, aku juga bingung.

Di film ♪Khoon Bhari Maang♪, muka Rekha langsung dikoyak.

- ♪Khoon Bhari Maang♪? - Ya.

Aku milikmu, cintaku

Engkaulah kekasihku

Film thriller garapan ayahnya Hrithik.

Apa kamu tidak pernah nonton di TV?

Flow, bisa fokus tidak?

Iya, cuma kasih tahu saja.

Bagaimana kita keluar?

Harusnya dipikirkan sebelum melompat ke sini.

Diam.

Dia tidak datang karena suaraku.

Dia datang karena bau darahmu.

Apa kita coba lewat saluran itu saja?

Wah! Jenius sekali!

Terus kalau dia mengikuti bagaimana?

Tidak perlu.

Duduk tenang saja di sini.

Pasti akan ada orang yang datang.

Cahaya bulan seolah menyeringai Bagaimana mungkin aku bisa tidur?

Dia tak menemuiku Tapi aku pasti akan merindukannya

Biarkan aku hidup dalam ingatannya

Karena dia berada jauh dariku

Cahaya bulan seolah menyeringai Bagaimana mungkin aku bisa tidur?

Dia tak menemuiku Tapi aku pasti akan merindukannya

Biarkan aku hidup dalam ingatannya

Karena dia berada jauh dariku Tersenyumlah sedikit

Hidupku terasa sangat membosankan Buatlah menjadi ceria

Mimpiku belum terpenuhi Wujudkanlah itu jadi nyata

Aku ingin tetap hidup Tapi kau berada jauh dariku

Bunga-bunga kecil itu telah berubah Menjadi daun-daun yang layu

Kini aku miliknya Kedatangannya menghentikan langkahku

Aku tak lagi hidup di dunia ini

Aku mencintaimu, tapi tak sanggup mengucapkannya

Aku tidak menangis tersedu-sedu

Di dunia yang hitam putih ini

Dia begitu berwarna dan cerah

Terkadang salahnya, terkadang salahku

Meski ini semua cuma dialog ala film

Dia tumpuanku, dia terasa selalu di sisiku

Hanya kau yang nyata Tak ada orang lain di sampingku

Layang-layangku dulu terbang tinggi

Kuingat semua malam yang liar itu Malam-malam liar itu

Cahaya bulan seolah menyeringai Bagaimana mungkin aku bisa tidur?

Dia tak menemuiku Tapi aku pasti akan merindukannya

Biarkan aku hidup dalam ingatannya

Karena dia berada jauh dariku

Avani, kurasa dia sudah pergi.

Sepertinya sudah pergi.

Avani!

Ada apa?

Kamu tidak apa-apa?

Lihat ke sana.

Dia sedang hamil.

Itulah sebabnya dia tidak menyerang.

Dia hanya ingin tempat yang aman.

Tempat yang aman?

Untuk siapa?

Dia butuh tempat yang aman!

Inilah alasan aku lebih suka pantai.

Kolam renang tidak ada gunanya.

Melihat telur-telur itu malah membuatku lapar.

Apa?

Apa kamu melatih Popo?

Duduk, berdiri, ambil barang?

Apa dia bisa pesan makanan online?

Dia jauh lebih pintar darimu.

Oh, ya?

Mari kita tes dia.

Biar kulihat sepintar apa dia.

Popo!

Ambil paketnya. Ambil dan lempar ke sini.

Popo! Popo!

Ambil kotaknya dan lempar.

- Ambil kotaknya dan lempar. - Ayo, Popo.

- Ambil dan lempar, Sayang. - Gigit pakai mulutmu dan lempar!

- Ambil dan lempar. - Aku juga bilang hal yang sama padanya.

Dia lebih mengerti aku.

Omong kosong apa ini? Popo!

- Ya, ayo, Sayang. - Ambil, ambil!

- Hei, Bodoh. Bukan di sana, ke sini. - Ayo...

Jangan bicara begitu padanya.

Begitulah cara kami menyayangi di lingkunganku.

Popo!

- Ayo, Popo. Ya, ya! - Popo, lihat aku.

- Bawa ke sini. - Ayo, Popo.

Ambil dan lempar, Sayang.

- Bawa ke sini. - Ayo, Popo.

- Ya, Sayang. - Ambil kotak itu.

- Kotaknya. Ambil. - Bagus, Popo.

- Bagus. - Ambil.

- Ayo. - Popo!

Popo!

Apa?

- Ya. Lompat, Sayang. - Popo, gigit pakai mulutmu.

- Ya, jatuhkan. - Bagus.

- Mundur, mundur sedikit - Ayo, Popo.

- Suruh dia mundur. - Ya.

Lari! Ambil ancang-ancang! Lari dan lempar.

- Ya. Ya, kamu bisa. - Oh, sial... tamatlah kita!

Popo benar-benar pintar.

Diamlah.

Aku sudah lelah.

Aku tidak bisa di sini menunggu mati.

Ayo kita keluar dari sini.

Bisa raih lampunya?

Tidak, angkat aku.

Tadi katamu tinggimu 173?

Dan katamu tinggimu 170.

Oke, lupakan itu...

Raih lampunya.

Ada celah di bawahnya.

- Kelihatan? - Ya, tapi...

Terus bagaimana?

Pegang lampunya, lalu celah itu.

Kamu bisa naik ke atas dengan mudah dari sana.

Pelan-pelan dengan bahu kiriku ya.

Dalam hitungan ketiga.

Aku akan dorong kau ke atas. Paham?

- Oke. - Oke.

Tiga.

Dua.

Satu.

Kau tak apa?

Ayo, coba lagi.

Avani, cepatlah! Dia menuju ke sini.

Pegang celahnya, Avani.

Cepatlah! Avani, kumohon.

Pecahkan kacanya.

Aku tak tahan lagi, Avani! Cepatlah!

Cepat, Avani! Ayo.

Avani, kau harus cepat! Dia sudah dekat!

Dia terlalu dekat, Avani. Cepat, cepat, cepat!

Sudah dapat pegangannya?

Avani, tarik dirimu! Angkat kakimu... Ayo.

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Bertahanlah, Avani!

Mengalir...

Ya Tuhan.

Bagaimana tanganmu?

Tumpukan beratmu dan tetap tenang.

Ya, aku sudah hubungi semua temannya di Goa.

Sudah menelepon semua tempat favoritnya.

Nihil.

Ini lokasi terakhirnya.

Ya, kami sedang bicara dengan polisi sekarang.

Akan kukabari lagi nanti.

Arjun, ini sungguh bukan gaya Avani.

Menghilang tanpa kabar selama 24 jam.

Pasti ada yang tidak beres.

Kau menyeretku seolah aku menculik mereka!

Teman kami juga hilang. Apa kami menyalahkanmu?

Kau orang terakhir yang dia telepon!

Tapi teleponnya terputus! Sudah kukatakan itu pada polisi!

Pak, apa-apaan ini? Ambil saja yang Anda mau dan biarkan kami pergi.

Hei, diam!

- Apa ini? - Hei!

- Siapa nama lengkapmu? - Fabric.

Nama aslimu!

Purushottam Dhamdhere.

Purushottam Dhamdhere.

Ya, tunggu sebentar.

Tim dari Kepolisian Goa sedang berpatroli

dan menyiagakan setiap RS, pos jaga,

serta gerbang tol di sepanjang jalan tol Goa-Bombay.

Tim siber sedang melacak lokasi terakhir mereka.

Jadi, jangan khawatir.

- Tara… - Terima kasih.

Kita akan temukan mereka, oke?

Aku sangat ingin dia selamat.

- Tenang, mereka sedang mencarinya. - Sebentar, Bro.

Permisi, Nona.

Maruti itu pria yang tangguh.

Jangan khawatir. Dia akan melindunginya.

Kau juga santai saja.

Hanya ingin bilang itu.

Makanlah. Ini enak.

Kami tidak akan ke mana-mana.

Kabari jika butuh uang tunai.

Maaf.

Apa untungnya bagimu melakukan ini?

Apa yang ingin kau buktikan? Katakan saja.

Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?

Aku takkan mau punya bayi.

Masih banyak yang ingin kulakukan, Avani.

Aku ingin jadi orang sukses...

Keluar dari hidupku yang menyedihkan.

Jika aku jadi kau,

aku akan sadar kalau kita belum siap punya anak.

Kau memacariku karena ingin sensasi di hidupmu yang membosankan.

Kini anak ini jadi pelarianmu, "proyek" barumu.

Jika aku hanyalah proyek bagimu, lalu kau menganggapku apa?

Kau juga memanfaatkanku untuk kabur dari hidupmu yang kacau!

Jadi, berhentilah berlagak seolah kau tulus dan aku ini palsu.

Kau pikir aku sudah siap?

- Kau pikir aku merencanakan semua ini? - Lalu kenapa kau lakukan ini?

Kenapa kau ingin bayi itu, Avani?

Dengar, kita bisa memalsukan ketenaran dan pengikut.

Tapi jadi orang tua bukan akting. Kau harus melakukannya sungguhan.

Apa kau tak lihat ibu dan kakakku?

Ya.

Aku melihat mereka.

Aku melihat banyak cinta di rumah kecil itu.

Ya Tuhan! Cukup sudah drama anak orang kaya ini.

Jangan romantisasi kemiskinanku.

Kau tinggal di rumah seluas 1.000 meter.

Lengkap dengan kolam renang.

Kami hanya punya satu tangki air untuk seluruh lingkungan.

Kau punya segalanya, Avani.

Tapi kau tidak menghargainya.

Aku punya segalanya yang tak kumau, Flow.

Aku kesepian di rumah seluas 1.000 meter itu.

Mungkin bayi ini…

Mungkin aku takkan merasa kesepian lagi. Entahlah.

Mungkin saat dia lahir nanti...

Aku takkan terlalu merindukan orang tuaku. Entahlah.

Tepat sekali.

Kau tidak tahu.

Kau tidak tahu, Avani.

Kau bertaruh besar pada kata "mungkin" ini.

Bayi takkan menyembuhkan kesepian atau masalahmu.

Suatu hari kau akan temukan alasan kuat punya anak... bukan pelarian.

Sampai saat itu, aku bersamamu.

Aku berjanji.

Aku akan mendukungmu sendirian.

Tak tahu ini hujan atau air mata. Sialan!

Tak ada yang beres di tempat ini!

Dua tangga, keduanya tak berguna.

Sudah berkarat.

Bautnya juga longgar.

Jika ada satu tangga lagi, aku bisa memanjat ke atas.

Konstruksi yang buruk! Mau coba lagi, Avani?

Flow!

- Flow! - Ya?

Flow.

Popo!

Itu buaya pincang yang tadi.

Bagaimana dia bisa ke sana?

Dia turun lewat saluran air, kan?

Dia menuju ke arah Popo.

Pasti ada jalan keluar lewat saluran air itu.

Flow!

Avani, haruskah kita memeriksanya?

- Flow! - Apa?

Dia menuju ke arah Popo!

Ya, kita harus lakukan sesuatu. Kita harus bertindak.

Ayo pergi.

Popo! Turunlah.

- Popo! - Cepat turun.

Popo!

Ayo, Popo.

Lihat aku.

Popo, ayo, ayo. Kemarilah.

Kemari.

Popo.

Popo, kemari. Kemari.

Kumohon, kumohon, lompatlah.

Sayang, ayolah, lompatlah.

Ayo, ayo.

Cepatlah!

Flow!

Flow!

Kumohon!

Tidak!

Tidak!

Kumohon!

Kumohon!

Avani…

Avani!

Avani!

Dengar.

Kau harus keluar dari sini, oke?

Kau akan turun lewat saluran air

dan keluar dari sini.

Lalu cari bantuan.

Oke?

Avani!

Avani.

Dengar, dengar, Avani.

Dengarkan aku.

Keluar lewat saluran air, dan cari bantuan, oke?

♪ Tidak. ♪ Ada apa?

Aku tidak mau pergi tanpamu.

Aku tidak bisa berenang.

Aku tak bisa berenang. Kau tahu itu.

Tapi kau akan pergi.

Kau tahu kenapa?

Karena kau pemberani.

Kau kuat. Benar, kan?

Kau akan pergi, kan?

Kau mau pergi, kan, Avani?

♪ Oke? ♪ Ya, oke.

Tunggu sebentar.

Ambil ini.

Ini liontinku.

Congkel tutup saluran airnya dengan ujung yang tajam.

Dan simpan pemantik ini…

Untuk jaga-jaga… siapa tahu perlu membuat api.

Oke? Oke.

Avani, tunggu.

Kau akan kembali menjemputku, kan?

Kau takkan melupakanku, kan?

Aku tahu kau akan kembali.

Aku tahu itu.

Oke.

Pergi, cepat pergi.

Cepatlah.

Cepat.

Tolong!

Tolong!

Tolong!

Ada orang di sana?

Apa ada orang di sana?

Yang Maha Harum dan Pemberi Rezeki

Bagaikan buah yang terlepas dari ikatan tangkainya.

Bebaskanlah kami dari maut, dan dari kematian.

Kami memuja Sang Bermata Tiga.

Kaulah tujuanku, cintaku.

Hatiku berkata begitu, cintaku.

Kaulah tujuanku, cintaku.

Hatiku berkata begitu, cintaku.

Halo!

- Halo! - Ya, Vasanta?

- Halo! - Halo!

- Halo! - Halo!

- Ya... - Halo!

Sekarang ponselnya mati.

Ada yang tidak beres.

Ayo kita periksa.

Pak… - Kakak ipar saya… - Ya.

- Dia akan menikah. - Oke.

Saya harus membeli beberapa barang.

Bukannya dia baru menikah tahun lalu?

Ini pernikahan keduanya.

Sialan! Dia benar-benar sedang bersenang-senang!

- Baiklah, pergilah. - Baik.

Kurasa ini hari keberuntunganmu.

Kumohon, kumohon.

Ya Tuhan, kumohon.

Halo!

Ayolah, kumohon.

Sialan!

- Pak! - Hei!

- Pak! Ini saya, Pak! - Ayo keluar.

Selamatkan saya, Pak.

Sedang apa kau di bawah sana? Ayo keluar.

Pak, saya terjebak di sini. Tolong bantu saya.

Keluar perlahan. Ayo.

Aku tidak bisa berenang.

Aku akan tenggelam.

- Airnya terus naik! - Oke.

- Kakiku tidak menyentuh dasar! - Baik, biarkan aku berpikir.

Pak, tolong.

Ya, bertahanlah.

- Pak, cepatlah. - Ya, ya.

Bukan lewat sana.

- Jangan ke sana. Itu terkunci. - Apa?

Terkunci.

Sial!

- Cari tali atau apa saja. - Tunggu.

Cari tali. Cepatlah!

Ya, tunggu sebentar.

Biar kucari.

- Cepatlah, Pak! - Aku datang!

Pak!

- Pak! Pak! - Kemarilah!

Kemari. Pelan-pelan saja.

Aku tidak bisa.

- Sialan. - Cepatlah, Pak!

Bertahanlah, aku datang.

Flow!

Avani!

Ada dua ekor!

Aku tahu!

Avani…

Flow!

Flow!

Teruslah menendang!

Avani…

Ayo!

Pegang gagang pintunya!

Ayo!

Masuklah!

Flow…

Mobil ini ada radionya!

Halo!

Halo!

Ada yang mendengarku?

- Halo! Ada orang di sana? - Halo?

- Halo! - Periksa dasbornya.

Di sini…

Hati-hati dengan itu.

Bagaimana cara membukanya?

- Flow. - Ya?

Flow!

Yang kedua ada di belakangmu!

Pergi, pergi, pergi sekarang!

Cepat, Avani. Cepat!

Pukul lebih keras, Avani!

Avani!

Hati-hati. Awas serpihan kacanya.

Awas!

Kau bisa terluka.

Lari, lari!

Flow!

Avani, tembak!

Flow!

Tembak! Tembak! Tembak! Tembak dia!

- Flow! - Tembak!

Maruti, menyingkir!

Flow…

Saluran airnya…

Kita harus lewat saluran air.

Ini satu-satunya jalan keluar.

Flow!

Kita harus lewat saluran air, oke?

Ini satu-satunya jalan kita.

Flow! Flow, dengarkan aku!

Dengarkan aku! Flow!

Kau percaya padaku? Oke?

- Pergilah. Tinggalkan... - Tidak.

Tidak, Flow. Aku takkan pergi sendiri kali ini.

Kau percaya padaku? Kau percaya padaku?!

Oke?

Flow! Flow! Flow, kau tak apa?

Flow, kau baik-baik saja?

Pergilah duluan.

Aku tak bisa.

Flow. Dengar. Dengarkan aku, oke? Ada jalan keluar.

Ada jalan keluar. Oke? Ada jalan keluar. Aku melihatnya.

- Kuatlah. Kita hampir sampai. - Pergilah...

Percayalah padaku.

- Flow! - Kumohon.

Flow! Sekarang! Cepat!

Flow?

Flow?

Satu, dua, tiga…

Flow.

Ayolah. Satu, dua, tiga…

Satu, dua, tiga…

Flow?

Flow? Flow, ayolah.

Flow, bangunlah!

Flow, ayolah!

Bangunlah, aku tahu kau kuat. Aku tahu itu.

Satu, dua, tiga…

Ayolah, Flow! Kumohon, bangunlah!

Maruti, kumohon, ayolah!

Kumohon!

Kumohon!

Kumohon.

Kumohon…

Flow…

Flow…

Flow…

Hei.

Flow.

Kau menyelamatkanku.

Dan kau menyelamatkanku.

Kakiku... Aku tak bisa merasakannya.

Apa mereka masih ada, atau sudah dimakan buaya?

Mereka masih ada.

Mungkin buayanya tak suka rasanya.

Jangan buat aku tertawa, Nona.

Semuanya terasa sakit.

Hentikan.

Boleh aku tanya sesuatu?

Ya.

Siapa yang paling berani di kolam?

Kau atau aku?

Siapa yang membawa kita ke sini?

Kau atau aku?

Siapa yang rela berkorban nyawa?

Kau atau aku?

Siapa yang membunuh buayanya?

Kau…

atau aku?

Hatiku hidup sepenuh hati Begitu aku terbebas

Hatiku hidup sepenuh hati Begitu aku terbebas

Telah kureguk secangkir mimpi

Aku mulai hidup kembali… Setelah semua yang kau lalui,

- menurutmu apa itu cinta? - Cinta adalah…

Segalanya nyata.

Tanpa filter.

Cinta itu... sesuatu yang lain.

Tak bisa diungkap kata-kata.

Tak bisa kujelaskan rasanya.

Terlalu dalam?

Sederhananya…

cinta itu sebuah kolaborasi.

Di mana kau harus menyukai, membagikan, dan berlangganan.

Lalu, kapan kolaborasi berikutnya?

Bagaimana menurutmu?

Kunjungi Subsource.net "mamad1987"

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.