All language subtitles for NIA 2025 1080p WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ya Allah!

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa

orang-orang yang gugur

di jalan Allah itu mati

Sebenarnya, mereka itu hidup

dan dianugerahi rezeki

di sisi Tuhannya

Maha besar Allah yang Maha Agung.

Kak Rini.

Bangun.

Sekolah.

Wah, Mayang. Masak nasi goreng?

Cobain, Kak?

Pakai seragam dulu, baru makan.

Pelit benar! Mentang-mentang kamu yang masak.

Cepatlah, terlambat nanti ke sekolah.

Ayah mau ke mana?

Ayah pergi ke Medan, belajar mengaji.

Ayah!

Ayah!

Ayah pergi lagi, lama nanti pulangnya.

Ibu?

Ibu, kenapa menangis?

Ayah menceraikan Ibu, Nak.

Ayah menceraikan Ibu.

Itu ada empat boks, ya, Nia.

Masing-masing tiga puluh.

Pergi dulu, ya, Bu.

Ya, hati-hati!

- Asalamualaikum - Waalaikumsalam.

Pak! Pak!

Pak! Pak!

Tolonglah bukakan pintu, Pak.

- Telat lagi kamu Nia? - Iya, Pak.

Maaf, ya, Pak.

Makasih, ya, Pak.

Asalamualaikum, Bu.

Waalaikumsalam, Nia.

Terlambat lagi Nia?

Iya, Bu.

Ambil gorengan.

Ya, ini dia.

- Silakan masuk, ya. - Terima kasih, Bu.

Iya, Nak.

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Maaf, Bu. Nia telat.

- Surat izinnya mana? - Ini, Bu.

Ya, duduklah.

Nia.

Kena sangsi bakam (bakti kampus) lagi kamu?

Tenang.

Nanti aku bantu.

Jadi, cuma karena kau menjual kambing

kau diceraikan?

Sudah kutitipkan uang pada Datuk Wandi

untuk keperluan sehari-hari, tapi

kambing itu kau jual dengan harga murah.

Bukannya satu tapi lebih dari tiga.

Kau tahu, 'kan? Kambing itu tabunganku.

Untuk biaya kuliah Nia masuk ke perguruan tinggi.

Supaya dia bisa mengangkat derajat keluarga kita.

Bang, Eli sudah mencoba menelepon Abang berulang kali.

Tapi ponsel Abang tidak pernah aktif.

Tapi kau 'kan, bisa tunggu aku telepon.

Jangan ambil keputusan sendiri.

- Tapi, Bang - Sudahlah.

Jangan kau menjawab lagi.

Jangan salahkan kalau kujatuhkan talak untukmu!

Mulai hari ini, kau kuceraikan!

Saat Abang pergi ke Medan.

Aku jual kambing-kambingnya, Kak.

Aku dan anak-anak juga butuh makan, Kak.

Butuh beli obat.

Buat sakit tenggorokanku.

Tenggorokanmu sudah diperiksa belum?

Itu kambuh lagi.

Harus diperiksa benar-benar.

Ya, Li?

Sudahlah.

Kau tenangkan diri dulu. Mungkin harus lebih banyak berdoa, Li.

Pasti ada hikmah dalam setiap takdir Allah.

- Nia. - Iya, Bu?

Tolong bawakan 20 gorengan ke ruang guru, ya.

Terus Nia ditunggu Bu Emi di ruang kepala sekolah.

Ya, siap, Bu.

Nia. Selamat, ya.

Kamu masuk 40 persen dari siswa yang punya

kesempatan masuk perguruan tinggi tanpa tes.

Alhamdulillah, Ibu.

Tapi itu masih tentatif, tergantung kampusnya.

nilai kamu tidak boleh turun semester ini, ya.

Baik, Bu.

Seandainya, kamu tidak diterima di penguruan tinggi

yang kamu pilih, masih ada beasiswa dari Universitas Putra Indonesia.

Semuanya gratis.

Uang saku diberikan,

tempat tinggal disediakan.

Tapi, Bu.

Universitas Putra Indonesia, 'kan, di Padang.

Jauh dari rumah Nia.

Nanti Nia tidak bisa berjualan.

Tidak ada uang nanti untuk Ibu, Rini, dan Mayang.

Nia pilih di kampus di Lubuk Alung saja, Bu.

Lebih dekat.

Jadi?

Nia menolak beasiswa yang diberikan oleh Universitas Putra Indonesia?

Gimana, Bu, ya?

Jauh dari rumah, Bu.

Nia masih bisa membiayai kuliah Nia sendiri, Bu.

Kasih saja beasiswanya ke yang lain, Bu.

Ibu salut dengan Nia.

Berarti kamu menerapkan konsep, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.

Alhamdulillah.

Hei, di mana dia tidur?

- Di situ dia! - Apa?

Astagfirullahaladzim.

Andri!

Bangunlah!

Astaga, Andri! Kamu seperti tidak punya rumah!

Tidur seperti kucing pindah-pindah.

Bagaimana kamu, Andri?

Kemarin tahu tidak, Nek?

Dia tidurnya di gorong-gorong.

Di gorong-gorong?

Kamu pikir cucu saya ini tikus?

Andri, dengar, dengar!

Ayah kamu sedang sakit.

Uang tidak ada!

Jadi, sekarang kamu yang harus cari duit, ya, Andri.

Cepatlah bangun.

Di mana mencari duit?

Di kotak amal!

Kau pikir cucuku maling?

Macam-macam saja kamu ini!

Bapak kau ini sedang sakit!

Baiklah…

Ayolah!

Ayo kita tuntun dia!

Cepat-cepatlah.

Ini ada lontong lima puluh, tahu bakwan seratus, ya, Kak.

Iya, Kak.

Kak, saya pergi dulu, ya.

Iya.

Asalamualaikum, Kak.

Waalaikumsalam.

Sudah, Ika!

Pulanglah.

Saya bisa sendiri!

Udah!

Biar balik bareng kita!

Kak?

Ayo.

Beli gorengan?

Tahu isi…

Bakwan…

Tahu isi…

Kak…

Ini. Aku beli minuman.

Terima kasih, Ika.

Kenapa menangis?

Ayah ibuku bercerai.

Aku harus benar-benar bersiap.

Jadi tulang punggung keluarga.

Nia.

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

- Cepat pulangnya, Kak? - Kak…

saya sedang tidak enak badan ini.

Dagangan tidak banyak yang laku.

Tidak apa.

Nanti sore Nia yang menjual.

Iya, Kak.

Iya.

Ini uangnya, Kak.

Iya.

Istirahatlah dulu di rumah.

- Iya. - Iya.

Jangan lupa minum obat.

- Ya? - Asalamualaikum.

- Hati-hati, ya, Li. - Ya.

Asalamualaikum, Bang Rama.

Waalaikumsalam

Nia sehat?

Alhamdulillah Bang, sehat.

Abang gimana?

Masih berobat jalan.

Baru pulang dari dokter tadi.

Abang semangat, ya.

Abang pasti sembuh.

Amin.

Abang kangen sama Nia.

Tidak sabar mau segera liburan ke Padang.

Yang penting Abang sehat dulu.

Iya.

Lama sekali, ya, kita nggak ketemu.

Sejak awal kenalan tiga tahun lalu di Kayu Tanam,

kita LDR-an saja.

Kamu nggak kangen sama Abang?

Ya, kangen lah.

Aku nggak dengar, kok.

Ya, udah.

Nanti Abang telpon lagi, ya.

Asalamualaikum.

Ya. Waalaikumsalam, Bang.

Asalamualaikum, Pak Haji.

Waalaikumsalam.

Ada apa, Andri?

Biasa Pak Haji, kasbon. Uang.

Kasbon kamu saja belum lunas, Ndri.

Empat ratus ribu.

Masa mau nambah lagi?

Bapak di rumah, sakit.

Ini ada uang dua ratus ribu.

Saya minta kamu, servis AC kamar 110 sama 112.

Ini uangnya.

Iya.

Iya Pak Haji, makasih.

Besok pagi jam delapan saya ke sini.

Ya. Jangan telat, ya.

Bu. Ibu.

Kenapa, Bu?

Kenapa, Bu?

Air, ambil air.

- Mayang… - Air…

- Iya, Kak? - Mayang, ambil air hangat!

Iya, Bu.

Bang…

Cepat

Nek, ini uang.

Alhamdulillah, dapat uang.

- Belilah beras sama obat buat Bapak, ya. - Masyaallah

Iya, Nak.

Andri, apa ini?

Astaghfirullahalazim.

Andri! Ini 'kan, narkoba

yang membuat kamu masuk penjara!

Dan sekarang kamu kembali mau memakainya lagi, Andri?

Barang ini…

Andri! Andri, sini!

Andri, Sini!

Andri!

Ya Allah, Andri!

Kembali, Nak!!

Daripada kamu mati sia-sia nanti, Nak.

Ya Allah, lebih baik kamu masuk penjara seumur hidup!

Andri!

Tarik nafasnya, Bu.

Baik, Ibu, silakan duduk.

Waalaikumsalam, Makwo.

Sudah di rumah sakit?

Sudah Makwo, sedang di rumah sakit.

Bagaimana? Ibu sudah diperiksa?

Sedang diperiksa Makwo sama dokter.

Nanti kalau ada biaya-biaya nanti Makwo transfer, ya.

Selesai urusan Makwo, Makwo ke rumah.

Iya baik, Makwo. Terima kasih banyak, ya, Makwo.

Iya, sama-sama, Rini.

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam, Makwo.

Ini hasil pemeriksaannya Bu Eli.

Ini Bu Eli sudah kunjungan yang kedua, ya, Dok.

- Iya, makasih, Suster. - Sama-sama, Dok.

Baik, Bu Eli. Dari hasil pemeriksaannya Bu Eli terdiagnosis penyakit hipertiroid.

Apa itu, Dok?

Hipertiroid itu merupakan gangguan atau kelainan pada kelenjar tiroid Ibu.

Gejalanya apa, ya, Dok?

Gejalanya Ibu bisa sering gemetaran,

dada sering berdebar-debar,

dan berat badan Ibu, cenderung turun.

Tapi Ibu juga sering batuk-batuk.

Ya, batuk-batuk yang dialami Ibu sekarang,

itu merupakan suatu infeksi virus atau infeksi bakteri

akibat dari daya tahan tubuh Ibu yang sedang menurun pada saat ini.

Selain hipertiroid, Ibu ada gangguan pada jantung.

Lalu, baiknya bagaimana, Dok?

Saya akan buatkan resep, Bu Eli harus istirahat yang cukup,

nanti obatnya harus dihabiskan, ya.

Iya. Baik, Dok.

Sebentar lagi, Nia 'kan ujian.

Sementara tinggal di rumah Makwo dulu.

- Iya. - Biar fokus belajarnya.

Iya, Makwo, iya.

Ya sudah, Kak Rini saja yang gantikan jualan.

Tidak ada, ya. Apa pula Rini berjualan? Malu.

Kenapa malu? 'Kan cari uang halal.

Mayang saja yang berjualan.

Mayang masih kecil,

capek jalan keliling kampung.

Tidak apa,

Nia saja yang berjualan sepulang sekolah.

Tapi Nia harus fokus belajar.

Iya, Makwo.

Nia bakal fokus belajar.

Tapi Nia suka jualan, kok, Makwo.

Sekalian olahraga berjalan kaki.

Minggu depan Nia tinggal di rumah Makwo.

Iya, Makwo. Iya.

Ibu mengizinkan, Bu?

Iya…

Gorengan…

Tahu isi…

Gorengan…

Nia.

Abang. Beli gorengannya, Bang?

Tidak. Mau negur saja.

Ya, Bang.

Iya. Terima kasih, ya.

Bakwan…

Nia!

Echa!

Mau, ya.

- Campur? - Iya.

- Ini uangnya, Nia. - Oh, iya.

Ini cabenya.

Makasih, ya, Ca.

Iya, Nia.

Tahu isi…

Bakwan…

Adik.

Ya, Bang.

Berapa gorengan satu?

Seribuan, Bang.

Beli lima, ya.

- Campur, Bang? - Iya.

Ini, Bang.

- Lima ribu, ya. - Terima kasih, Bang.

Gorengan…

Tahu isi…

Kak Nia! Satu kambing lagi belum masuk kandang!

Kakak mau ke mana?

Cari kambing.

Ikut.

Kalian mau ke mana?

Satu kambing belum masuk kandang.

Itulah! Kambing kalau nggak di sharelock, lupa jalan pulang, 'kan?

Tutup pintu!

Kambing hilang, masuk maling!

Ke mana itu kambing, ya?

Kak, Mayang takut.

Kuburan.

Takut apa?

Hantu?

Nanti kita meninggal juga dikubur.

Tapi 'kan, kalau kita meninggal kita tidak jadi hantu.

Kita tinggal di surga.

Amin, amin. Insya Allah.

Jangan takut, ya.

Derajat dirimu lebih tinggi daripada makhluk halus.

Baca-baca doa saja.

Udah mau hujan ini. Mana, sih, kambingnya?

Itu suaranya!

Itu kambingnya!

Kamu tunggu di sini, ya, Mayang.

Oke, Kak.

Aduh,

kamu ini.

Ayo Kak, cepat, udah hujan ini!

Iya, Mayang!

Ini kamarmu Nia.

Waktu itu 'kan, ini kamarnya Abang Iqbal,

Tapi sekarang Abang Iqbal 'kan, sudah kerja dia di kota.

Kamarnya kosong.

Anak Makwo lelaki semua, nggak ada yang tinggal di sini?

Ada yang kuliah, kerja.

Kalau boleh begitu,

Nia bolehlah kerja jualan gorengan.

Kenapa?

Bolehlah, Makwo.

Kalau Nia tidak jualan,

nanti Ibu, Kak Rini, Mayang.

Tak ada uang untuk makan sehari-hari. Boleh, ya?

Nia janji akan tetap fokus belajar.

Benar?

Percaya sama Nia, Makwo.

Tapi satu minggu sebelum ujian,

Nia harus berhenti berjualan.

Nanti urusan Ibu, Mayang, Rini,

biar Makwo bantu.

Benar, Makwo?

Percaya sama Makwo.

Makasih, Makwo.

Makwo yang terbaik.

Sudahlah. Yuk.

Makan dulu.

Makwo bikin dendeng paru, Kesukaanmu.

Enak itu.

- Sa. - Nia.

Nia.

- Asalamualaikum, Bu - Waalaikumsalam.

Akhir-akhir ini Ibu perhatikan nilai kamu menurun.

Semester lalu, nilai kamu bagus sekali.

Ibu khawatir

seandainya nilai kamu naik turun seperti ini,

kamu nggak bisa, masuk Universitas Negeri.

Nia akan berusaha menaikkan nilai Nia.

Nia juga telah menabung untuk kuliah nanti.

Bisa tidak berhenti dulu jualannya?

Fokus belajar.

Nia akan membagi waktu, Bu.

Tapi jangan sering telat.

Nanti kena sanksi terus.

Kalau mendapatkan sanksi,

Nia akan menjalankan, Bu.

Ya sudah, ayo masuk ke kelas.

Adik.

Ketemu lagi kita.

- Sudah maghrib masih jualan? - Ya, Bang.

- Ini mau pulang. - Jadi…

Tiap hari kalau pulang lewat sini?

Iya, Abang.

Rumahku dekat dari sini.

Mau durian?

Tidak, Abang, terima kasih.

Saya tidak suka durian.

Ambillah satu.

Tadi, Abang dapat durian jatuh.

Tidak usah.

Permisi.

Jam berapa ini, Nia?

Ya Allah.

Makwo baru aja pulang selesai mengaji di Surau.

Bukannya belajar Silat itu sampai jam empat sore?

Kenapa pulang malam?

Maaf, Makwo.

Tadi Nia,

menemani Echa ke rumah saudara.

Iya, tapi 'kan, bisa telepon.

Kasih kabar!

Tidak baik, Nia.

Perempuan pulang malam-malam.

Bahaya!

Mengerti, Nia?

Maaf, Makwo.

Sudah, tidak usah lagi ikut silat-silat itu.

Jangan jadikan kegiatan itu, alasan kamu

bisa pergi sesuka hati!

Masuk!

Echa jangan lagi ajak Nia jalan ke mana-mana, Ya!

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Asalamualaikum, Nia.

Waalaikumsalam, Bang.

Semalam Abang mimpi.

Mimpi apa, Bang?

Nikah dengan kamu.

Nia,

kamu dengar Abang?

Dengar, Bang.

Selulus SMA nanti kita nikah, mau?

Nia masih mau lanjut kuliah, Bang.

Abang

hanya takut usia Abang tidak sampai kalau menunda terlalu lama

menikah dengan Nia

Abang jangan bilang begitulah,

Abang pasti sembuh.

Abang bosan minum obat jantung ini setiap hari.

Sertai dengan doa, Bang.

Doa

dan ikhtiar berobat nggak kurang-kurang.

Tapi kondisi Abang naik turun.

Apalagi sejak bulan lalu kakak Abang wafat.

Abang takut sekali kehilangan orang-orang yang Abang sayang.

Termasuk kamu, Nia.

Abang kirim kamu uang satu setengah juta.

Belikan cincin, ya.

Tidak usah, Bang.

Biar Abang yakin kamu memang mau mengikatkan hati kamu sama Abang.

Nanti kita lanjut lagi, ya, Bang.

Asalamualaikum.

Siapa yang telponmu, Nia?

Bang Rama.

Siapa itu Rama?

Pacar kamu?

Nia… Nia.

Fokus dulu, Nak.

Ya Allah.

Tidak baik,

otakmu yang cerdas itu buat pikir

yang belum kamu perlukan. Memang Nia sudah mau menikah?

Lulus SMA, Nia kuliah.

'Kan itu cita-cita Nia?

Kamu anak pandai,

prestasimu bagus.

Sekolah di sekolah favorit karena kamu dapat beasiswa.

Saudaramu tidak seberuntung kamu, Nia.

Jangan sia-siakan itu.

Nggak ada orang sukses itu berjuang setengah-setengah.

Nggak ada, Nia!

Berhenti berkegiatan.

Berhenti pacaran.

Mandi dulu sana.

Belum Isya, 'kan?

Paman…

Apa yang kamu bawa itu?

Dapat dari mana?

Biasa.

Rumah kosong kampung sebelah.

Belilah, Paman.

Seratus lima puluh.

Mau kamu?

Tambahlah, Paman.

Coba kamu lihat kursi itu semua.

Sepi.

Lihat itu travel?

Tidak ada yang sewa mobil itu.

Kos-kosan pada terlambat membayar.

Dari mana dua ratus? Kalau tidak diambil, aku masukan lagi.

Iya, iya.

Ya sudah taruh saja di situ. Di bawah wastafel.

Paling ujung, paling ujung.

Maaf, Paman?

Apa lagi, Andri?

Saya numpang tidur di rumah, ya.

Kenapa di rumahmu? Punya masalah, ya, kamu?

Kabur dari rumah, ya?

Tidak.

Kepala saya pusing.

Bapak minta uang terus.

Anaknya 'kan, ada di Pekanbaru.

Mintalah ke dia.

Tidurlah di kamar Heri.

Sana.

- Boleh? - Iya.

- Terima kasih, ya, Paman. - Iya.

Aku mau pulang ke rumahku dululah, Ika.

Kamu tidak betah tinggal di rumah Makwo Ita?

Bukannya tidak betah.

Makwo itu 'kan baik.

Disiplin.

Aku tahu Makwo sayang aku.

Makwo 'kan tidak punya anak perempuan.

Tapi…

Sudahlah.

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sudah pulang sekolah, Nia?

Sudah, Makwo.

Tapi Nia mau pulang ke rumah Nia dulu, ya.

Nia tersinggung, ya?

Semalam, Makwo tegur Nia?

Tidak, Makwo.

Nia tidak tersinggung.

Cuma…

Nia benar-benar lagi mau urus Ibu saja dulu.

Ibu 'kan, sakit.

Kak Nia pulang.

- Yang Makwo nasehatkan ke Nia semalam, - Seminggu tak bertemu, serasa setahun.

Itu untuk kebaikan Nia sendiri.

Jangan marah.

Iya, Makwo.

Udah dulu, ya, Makwo.

Nia mau salat Ashar.

Iya. Asalamualaikum, Makwo.

Waalaikumsalam… Warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi Ananda semua.

Pagi, bu…

Pagi ini…

Kita kedatangan Bapak Gubernur Sumatera Barat,

Buya Mahyeldi.

Buya pagi ini,

ingin memberikan motivasi untuk Ananda semua,

Sebelum Ananda melaksanakan ujian.

Silakan, Buya.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Buya datang mengunjungi sekolah-sekolah

pada hari Ujian Nasional ini.

Berharap segala kegiatan ujian

berjalan lancar.

Buya doakan kalian semua

dapat lulus dengan nilai yang baik.

Amin.

Ingat selalu,

apa yang kita lakukan sekarang,

akan berdampak di masa depan.

Selalu lakukan yang terbaik

untuk setiap tugas yang menjadi tanggung jawab kita.

Selamat ujian Ananda semua.

Terima kasih, Buya.

Kak Nia, Kak Ika…

Sini berenang.

Tidaklah, tidak bawa baju ganti.

Tidak apa,

nanti juga kering itu

baju di badan pas pulang.

Masuk angin nanti.

Nggak apa-apa masuk angin,

daripada masuk geng motor!

Kau lagian udah tahu mau berenang, tidak bawa baju

Kita itu mau berenang air, bukan mandi bola! Nggak bawa baju.

Cepat!

Jangan siram-siramlah, basah.

Nakal!

Kau jadi kuliah di Lubuk Aluang?

InsyaAllah.

Kau kuliah di mana?

Mungkin di Jakarta.

Atau…

Kawin saja kali, ya?

Kawin?

Perempuan ujung-ujungnya di dapur.

Jangan berprinsip seperti itu.

Harus kerja.

Tidak baik perempuan bergantung lelaki.

Kalau kamu 'kan jiwa wirausahanya memang hebat.

Aku 'kan mau jadi pengusaha.

Sekaligus guru.

Wah, luar biasa.

Iyalah.

Yayangmu telepon.

Kamu.

Asalamualaikum, Bang.

Iya, Bang.

Nia…

Ibu Abang wafat.

Ibu Abang wafat?

Innalillahi wainnailaihi raji'un.

Abang. Abang yang sabar, ya, Bang.

Abang nggak bisa lihat Ibu untuk terakhir kalinya.

Abang tidak bisa pulang ke Indonesia.

Karena di sini juga masih dalam perawatan.

Nia, kamu jangan pernah tinggalin Abang, ya.

Karena cuma kamu orang terdekat Abang, walaupun kita berjauhan.

Bang. Abang harus kuat, Bang.

Masih ada Nia yang sayang sama Abang.

- Ibu! Ibu! - Iya!

- Ibu! - Ada apa Nia?

Nia lulus sekolah, Ibu!

Nia lulus sekolah!

Alhamdulillah.

Nilai Nia bagus Ibu!

Masya Allah.

Masya Allah, Nia.

Hebat Kak Nia, Mayang bangga sama Kak Nia.

Terima kasih, ya, Mayang.

Selamat, ya, Nia.

Terima kasih, Kak.

Kak Rini nyusul Kak Nia, lulus sekolah cepat.

Nyusul? Kau pikir sekolah seperti balapan motor?

Malulah,

Kak Nia 'kan, adiknya Kakak.

Masa adik lulus duluan?

Tidak ada aku malu

Memang waktu SD aku pernah tidak naik kelas,

tapi aku tidak malu. Biasa saja!

Sebenarnya, guruku itu mau menaikkan aku kelas tapi aku menolak.

Aku tidak mau naik-naik kelas, tinggi.

Takut aku ketinggian. Nanti aku jatuh.

Walau tidak pandai di sekolah tapi Kakak pandai masak,

nanti Kakak mau buka restoran biar bisa kaya raya.

Amin.

Nia…

Ibu…

Minta maaf, ya, Nak.

Ibu belum…

belum bisa memberi

hadiah kelulusan Nia.

Ibu tidak usah

memikirkan hadiah untuk Nia.

Justru…

Nia yang mau kasih hadiah untuk Ibu.

Nia mau kasih…

hadiah untuk Ibu?

Ini… hasil jualan Nia.

Tapi cuma seperempat gram emas.

Untuk Ibu.

Untuk Ibu, ini Nak?

Hadiah ini

yang dapat Nia berikan, walaupun

tidak bisa membalaskan kasih sayang Ibu.

Yang telah mengurus Nia sedari kecil.

Masuk, ya.

Jangan hilang-hilang terus jadi kambing.

Jangan keluar-keluar.

Sudah mau magrib ini.

Baik-baik, ya.

Aduh!

Asalamualaikum, Bu.

Waalaikumsalam.

Ini, Nia. Ibu sudah siapkan.

Makasih, ya, Bu.

Berdandan kamu, Nia.

Iya, Bu. Nia lagi tidak enak badan, jadi berdandan.

Supaya tidak pucat, Bu.

Kalau tidak enak badan jangan berjualan.

Tidak apalah.

Asalamualaikum, ya, Bu.

Iya, Bu.

- Iya. - Udah mau hujan.

- Pinjam payung boleh? - Iya.

Tunggu sebentar, ya.

Ini payungnya, Nia.

Iya hati-hati, ya.

- Berangkat, ya, Bu - Iya.

Gorengan…

Tahu isi…

Gorengan…

Tahu isi…

Bakwan…

Hai, Nia!

Sudahlah.

Tidak usahlah bucin (budak cinta) seperti itu.

Dia sudah punya cowok lagi.

Siapa yang bucin?

Aku cuma mau beli gorengan.

- Ya, Bang? - Nia dandan, ya?

Berapa?

Dua puluh ribu.

Oh…

Saya ambil.

Iya.

Ini ada cabenya di sini.

Iya, Nia.

Terima kasih, Nia.

Pintar berdandan.

Aduh, enak.

Aduh, hujan!

Ya Allah!

Terkejut aku!

- Rin? - Apa?

Coba telepon, Makwo.

Barangkali Nia ada di rumah Makwo.

Iya, Bu.

Ibu. Tolong Nia, Ibu.

Ibu. Tolong Nia, Ibu.

Ibu…

Tolong Nia, Ibu.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Attahiyyaatul mubaarakaatush…

Asalamualaikumwarahmatullah…

Asalamualaikumwarahmatullah…

Astagfirullahaladzim.

Astagfirullahaladzim.

Astagfirullahaladzim.

Astagfirullahaladzim.

Astagfirullahaladzim.

Ibu. Tolong Nia, Ibu.

- Ibu. Tolong Nia, ibu. - Aku memohon ampunan kepada Allah.

- Ibu. Tolong Nia… - Astagfirullahaladzim.

Ibu. Tolong Nia, Ibu…

La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah.

La Ilaha Illallah

Muhammadur Rasulullah.

La Ilaha Illallah

Muhammadur Rasulullah…

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Ya, Kak Ita.

Ada Nia ke rumah Ika?

Tidak ada, Kak.

Pesan saya pun nggak ada dibalasnya, ini.

Nia belum pulang sampai sekarang.

Sudah malam Nia belum pulang.

Ke mana dia?

Kami sedang bingung sekarang.

Ke mana si Nia ini, ya?

Kalau dapat info, kabarin, ya.

Iya.

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Rin…

Hujan sudah berhenti.

Ayo cari Nia.

- Cepat. - Pake kerudung dulu, Bu.

Ayo. Ayo, cepat!

Ibu, ikut.

- Sudah, Ibu. - Ayo, ayo.

Mayang kunci pintu.

Iya.

Aduh, Nia.

- Ke mana kamu? - Bisa tidak?

Nama yang dilaporkan, Pak?

Nia Kurnia Sari, Pak.

Umur?

Delapan belas tahun.

- Delapan belas tahun? - Iya.

Terakhir terlihat di mana dia, Pak?

Tadi sore, Pak.

- Tadi sore? - Iya, tadi sore.

Kegiatannya ini apa, Pak, biasanya?

Dia jualan gorengan, Pak. Keliling kampung.

Boleh kita tahu ciri-cirinya atau ada foto yang bisa diperlihatkan kepada saya?

Tadi, sih, dia perginya serba hitam-hitam, Pak, pakaiannya.

- Serba hitam-hitam? - Iya.

Kenapa, Bang?

Tidak apa-apa, gerah.

Di grup WA warga kayu tanam,

ada info Nia gadis penjual gorengan

itu belum pulang.

Padahal tadi sore,

dia baru saja jual gorengannya ke kita, ya.

Kemana Yaya?

Asalamualaikum.

- Waalaikumsalam. - Datuk, Makwo.

Yaya sudah lapor ke polisi.

Semoga mereka cepat bergerak mencari Nia, ya.

Iya, amin.

Kapan polisi bergerak?

Harusnya malam ini juga polisi mencari Nia.

Tenanglah dulu.

Insyaallah,

Nia selamat.

Iya, tapi ini aneh juga, ya?

Sudah malam seperti ini, belum ada kabar Nia.

Mudah-mudahan,

Nia segera ketemu.

Mayang takut Kak Nia diculik.

Kamu jangan bikin Ibu tambah khawatir.

Harusnya kamu tidak membangunkan Nia sore tadi

untuk berjualan.

Dia 'kan sedang tidak enak badan.

Kemarin kakinya habis ketusuk paku. Jadi, agak demam dia.

Ponsel siapa itu bunyi?

Punya Nia.

Tadi dia nggak bawa ponsel saat berjualan karena lagi diisi daya.

Iya, Rama. Ini Kakak.

Nia belum pulang hingga kini, Rama.

Ke mana, ya, Kak, Nia?

Entahlah.

Kami juga semua di sini sedang gelisah menunggu Nia.

Kalau sudah ada kabar,

Tolong beri tahu, ya, Kak.

Iya, Rama. Nanti Kakak kabari, ya.

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Nia!

Nia, pulang Nia!

Tak bisa, Kak.

Nia, pulang Nia. Semua orang mencarimu Nia.

Pulang.

Gelap, Kak.

Tidak tahu jalan pulang.

Pulang Nia.

Pulang.

Kakak.

Tolong Nia, Kak.

- Nia… - Nia…

- Nia… - Nia…

Pak…

Tampaknya itu baskom gorengan Nia. Itu, Pak.

Kenapa berserakan di situ?

Jangan-jangan…

Hei. Orang kampung!

- Ada apa, Bang? - Ini, Pak.

Itu baskomnya!

- Itu baskomnya! - Itu payungnya!

- Itu payungnya! - Itu baskomnya!

Ibu!

Mayang, Rini!

Tidak sekolah?

Bu…

Tadi kami lagi pergi ke sekolah, Bu.

Cuma ada warga yang bilang gorengan Nia ditemukan.

Hanya gorengan yang ditemukan?

Lalu di mana Nia?

Tidak tahu, Bu.

Hanya gorengan saja yang berserakan di belakang rumah.

Tidak jauh dari sini, Bu.

Izin Komandan,

kami sudah sampai di TKP.

Laksanakan pencarian dan jangan lupa berdoa.

Siap! Perintah, laksanakan!

BERITA VIRAL

Tempat gorengan yang dicurigai milik Nia Kurnia Sari.

- Paman! - Astaga!

Apalah kau ini! Aku sedang nonton ini.

Ditemukan oleh warga setempat

- tempat kejadian tak jauh dari… - Berita Nia, Paman?

- …kediaman Nia. Pihak kepolisian menduga… - Paman, saya curiga.

- Nia adalah korban dari tindak kejahatan. - Gadis penjual gorengan yang hilang itu.

Saat ini pihak kepolisian

- Padang Pariaman telah membentuk tim… - Abang Andri pelakunya.

- Kenapa kamu bisa mencurigai, Andri? - …untuk melakukan pencarian

- dan penyelidikan terkait kasus ini. - Cobalah,

Paman tanya ke dia.

- Di mana? Di kamar? - Iya.

Dri, bangunlah!

Hari sudah siang, masih tidur saja!

Tahu kamu?

Orang sekampung kayu tanam kini sedang heboh.

Gadis penjual gorengan itu hilang.

Tahu kamu di mana keberadaannya?

Tidak tahu aku, Paman.

Aku terus terang cemas dengan keberadaan kamu sekarang di sini.

Tahu kamu?

Carilah kerjaan di luar yang benar

Tidak usah pilih-pilih kerjaan.

Yang penting menghasilkan.

Nia Kurnia Sari,

Gadis penjual gorengan asal Padang Pariaman

dilaporkan hilang saat berjualan gorengan.

Kepolisian, Polres Padang Pariaman

saat ini tengah melakukan pencarian dan penyelidikan

terkait kasus ini.

- Bang! Bang Rama! - Diluar dugaan!

Diduga, Nia Kurnia Sari

menjadi korban dari tindak kejahatan asusila

setelah baki berisi gorengan

yang di curigai milik Nia Kurnia Sari ditemukan…

Mohon izin, kami dari anggota K9 Polda Sumbar,

siap untuk melaksanakan pelacakan.

Izin, kami dari Polres Padang Pariaman

sudah melakukan penelusuran ke arah sana.

Kami menemukan barang bukti yang diduga milik korban.

Rendi, tolong amankan.

Siap!

Ayo, kita mulai melaksanakan pelacakan!

Siap! Laksanakan!

Belum,

ini masih belum kencang.

Bang. Abang ke arah sana.

Saya ke arah sini.

Siap! Ayo di depan.

Lang, ayo kita cari capung!

Di mana, ya?

Tangan!

Kakak ada tangan!

- Tangan… - Tangan siapa tuh!

- Ayah! - Ayah, tolong!

Ada tangan!

Kak!

Ada apa, Ya?

Nia, Kak…

Nia meninggal, Kak!

Hujan turun…

Di senja itu

Saat kau melangkah melintas batas hidupmu

Air di daun…

Dan tanah basah

Semua menjadi saksi suatu peristiwa

Kau pergi tinggalkan…

Genangan air mata

Dan kesedihan yang tak usai jua.

Jadilah bidadari di surga…

Ya Allah…

Hamba terlalu lemah,

untuk memahami.

Kenapa anak sholeha seperti ini,

Harus mengalami peristiwa yang sangat tragis.

Tapi yang hamba tahu, Ya Allah.

Seperti halnya

kambing yang telah disembelih

tak akan lagi merasakan sakit

saat dikuliti.

Hamba mohon padamu, Ya Allah.

Terimalah

Nia…

jadi salah satu bidadari di surga-Mu.

Tak semua orang yang Tuhan pilih

Untuk pergi dan menjadi

Inspirasi…

- Mungkin ini - Kasihan anak Ibu.

- Cara Illahi - Nia…

Memberi pesan bagi yang menyadari

Bukan seberapa

Lama usia kita

Tapi seberapa bermanfaatnya

Hidup kita…

Kau pergi tinggalkan

Genangan air mata

Dan kesedihan

Yang tak usai jua

Jadilah bidadari

Di Surga…

Namamu akan selalu di hati…

Dikenang dengan

Segenap doa suci

Tak semua orang yang Tuhan pilih

Untuk pergi dan menjadi

Inspirasi…

Inspirasi…

Bang!

Bang!

Bang Rama!

Bang Rama!

Abang mau bunuh diri?

Bang, sadar, Bang!

Bang!

Nggak ada gunanya gue hidup.

Semua yang gue sayangi,

- mati… - Bang!

Abang harus kuat, Bang.

Abang nggak boleh lemah, Bang.

Untuk apa gue hidup?

Penyakit jantung ini juga akan membunuh gue, kok.

Lebih baik,

gue mati sekarang supaya bisa

nyusul Ibu, Kakak, dan Nia.

Bang!

Dengar, ya!

Ibu dan Nia mau Abang sembuh.

Sakit jantung Abang pasti sembuh.

Aku percaya sama Abang, aku percaya…

Abang pasti bisa melewati semua ini.

Ayo Bang, kita pulang.

Selamat pagi, Rekan-Rekan.

Pagi!

Sengaja saya kumpulkan Rekan-Rekan di sini

Untuk menindaklanjuti

laporan dari masyarakat.

Diduga kuat,

ini merupakan

dugaan tindak pidana pembunuhan.

Dari informasi yang sudah kita dapat,

pelakunya mengerucut ke satu orang.

Yaitu, atas nama Andri.

Silakan setelah ini, Rekan-Rekan melaksanakan pencarian.

Apabila ditemukan,

segera tangkap dan amankan.

- Jelas? - Siap! Jelas!

Seingat saya, ya, Pak.

Itu orangnya.

Ini,

kawanku Taufit.

Waktu kejadian Abang ada di sini?

Maksudnya, Pak?

Kejadian yang waktu sore itu!

Yang Nia jualan gorengan di situ!

Itu.

Saya ada, Pak, berdua.

Kita berdua sedang main catur.

Di situ ada Didi dan Heri.

Tapi main gim.

Tapi saya ingat, Pak.

Si Andri waktu itu bagi gorengan ke saya.

Sudah itu dia pergi, Pak.

- Ke mana arahnya? - Ke sana, Pak!

Tidak tahu dia ke mana.

Sungguh, Pak!

Bapak yang punya warung ini?

Iya. Iya, saya yang punya, Pak.

Heri di mana?

Ri…

Ri…

Ya, Paman?

Kamu tahu di mana rumah Andri?

Tahu, Pak.

Ya, Pak Dadan?

Apa Andri ada di situ, Pak Haji?

Tadi saya lihat,

Andri sedang tidur di mushola dekat hotel ini.

Saya minta tolong, Pak.

Nanti bilangin ya, Pak.

Jangan ke mana-mana, nanti saya mau ke situ.

Baik.

Makasih, Pak.

Stop, Pak.

Di sini Pak Dadan.

Si Andri tidurnya.

Pak Yudi.

Pak Yudi tunggu sini saja, ya.

Andri!

Andri!

Andri!

Iya, Paman.

Kamu yang membunuh Nia gadis penjual gorengan itu?

Jawab pertanyaanku!

Jawab pertanyaanku!

Iya?

Saya…

Khilaf, Paman.

Gila!

Tidak masuk akal!

Kesetanan kamu!

Kamu perkosa?

Kamu perkosa?

Kamu perkosa gadis itu?

Di mana otak kamu?

Iya?

Ke mana otak kamu?

Ke mana otak kamu?

Anak gadis itu kamu bunuh!

Kau sudah tahu, 'kan?

Pergi dari kampung ini.

Dan jangan pernah tunjukkan wajah kamu lagi di sini!

Paham kamu?

Saya masih melakukan pemantauan di sekitar restoran dekat danau.

Copy.

Polisi!

Polisi sudah menunggumu.

Polisi dan Buser sedang mencarimu!

Pergi dari kampung ini.

Menghilang kamu dari kampung ini.

Mengerti kamu?

Jangan sekali-kali lagi menampakkan muka di sini!

Pak Yudi,

nanti seumpamanya kalau ada Polisi yang datang sama Buser,

jangan bilang tadi saya ketemu Andri, ya.

Memangnya ada apa, Pak?

Tidak apa-apa, Pak Yudi.

Pak Yudi mau saya antar balik ke hotel?

Nggak usah, Pak.

Kebetulan saya mau ke restoran depan.

Ya.

Jangan bilang, ya. Pak Yudi.

Pak Polisi!

- Sedang mencari Andri? - Ya.

Dia lari ke sana!

Itu dia!

Copy, copy, Gagak hitam.

Copy.

Ya, tersangka melarikan diri ke arah bukit.

Komandan,

sepertinya ini tas pelaku

Periksa!

- Ayo kita kejar. - Siap, Komandan!

Apa yang dialami Nia,

Insyaallah ada hikmahnya.

Karena Allah tidak akan

menjadikan satu peristiwa

tanpa maksud dan tujuannya.

Seperti firman Allah,

dalam surah At-Taghabun, Ayat 11.

Tidak ada satu musibah pun

menimpa seseorang

tanpa seizin Allah.

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah,

niscaya Allah akan memberi petunjuk pada hatinya.

Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Keluarga Nia

tidaklah sendirian,

saya bersama tokoh-tokoh masyarakat,

akan selalu mendampingi

di masa-masa menyedihkan ini.

Semoga

kita semuanya selalu

dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kami merasa mendapatkan kehormatan sekali

atas kehadiran Datuk Rajo Bijo nan Kuniang

yang telah mau membantu keluarga kami.

- Dek, ayam penyet bungkus satu, ya. - Baik, Bang.

Mukanya kenapa ditutup, Bang?

Lagi batuk.

Polisi menemukan tas pelaku

yang ada alat penghisap sabu.

Ya itulah,

mereka tidak sadar.

Menggunakan narkoba bukan hanya merugikan dirinya sendiri,

tapi juga merugikan keluarga dan orang lain.

Contohnya, Nia jadi korban.

Dan pengguna narkoba kalau tidak segera berhenti

akan berakhir di tiga tempat,

rumah sakit jiwa, penjara atau kuburan, itulah.

- Miris sekali, ya, Pak? - Ya, begitulah.

Andri?

Didi?

Benar?

Kau yang membunuh Nia?

Iya.

Saya membunuh Nia.

Astaghfirullahaladzim.

Kenapa?

Ayo,

sekarang ikut saya untuk menyerahkan diri ke Polisi.

Andri, mau ke mana?

Pak! Andri yang sudah membunuh Nia, Pak!

Berhenti!

Kejar! Kejar!

Monitor, tersangka sudah kami ketemukan!

Kejar! Kejar! Kejar!

Berhenti atau kami tembak!

POLISI

Ke mana itu orang?

Lebih baik, sekarang kita berpencar!

Saya dan Kevin akan mencari ke arah sungai!

- Oke, kami ke sana! - Siap!

Ayo!

Lapor, Komandan. Tadi kami menemukan tersangka, tapi tersangka melarikan diri

Dan kami kehilangan jejak!

Baik, lanjutkan pencarian.

Saya dan tim K9 juga melakukan pencarian dengan anjing pelacak.

Siap, Dan!

Kita cari arah situ!

Anak gadis sebelum magrib pulang, ya!

Buronan itu belum ketangkap!

Iya, nanti mati dibunuhnya!

Pulang kalian!

- Iya! - Iya, Mak!

- Kak Rini - Apa?

Ada kambing masuk kamar Kak Nia.

Ya, keluarkanlah!

Lihat dulu sini, ada yang aneh.

Tunggu dulu, Kakak lagi motong ini.

Lihat dulu sebentar.

Apa, sih? Kakak lagi masak terong balado untuk Ayah.

Cepatlah!

Apa, sih, tunggu!

Apa?

Lihat itu, Kak!

Kangen dia sama Nia.

Mayang juga kangen sama Kak Nia.

Abang menyesal

Telah meninggalkan kalian semua.

Abang ke Medan itu

Abang mengaji, khuruj.

Berdakwah empat bulan.

Dan selama khuruj itu,

ponsel Abang,

Abang titipkan ke pimpinan rombongan.

Itulah sebabnya,

Abang tidak bisa berkomunikasi dengan kalian.

Bukan maksud Abang,

melepaskan tanggung jawab dan menelantarkan kalian.

Abang minta maaf,

karena telanjur

memberikan talak ke Eli.

Karena Abang emosi.

Tidak apa, Bang.

Tidak apa.

Karena sepantasnya

Abang kembali

ke istri pertama dan anak-anak di Dumai.

Eli ikhlas, Bang.

Eli juga yakin,

Nia…

juga pasti ikhlas.

Perkawinan…

Pesta meriah…

Berbahagia awalnya.

Tapi apa mereka bisa menjadi orang tua yang baik?

Untuk apa menikah?

Punya anak?

Kalau akhirnya tidak mampu mengurus anak dengan baik.

Seperti aku.

Cuma lahir untuk hidup dan disia-siakan.

Bu…

Pulanglah, Bu.

Ibu dari subuh di kuburan Nia.

Makanlah dulu, Bu.

Nanti Ibu sakit.

Ibu, Kak Rini.

Lihat siapa yang datang…

Ayah jemput Kak Kifli dari Dumai.

Biarlah Kifli sama saya.

Bawalah si Rini sama Nia.

Sekali-kali, Kakak dan Abang bisa nengok Kifli di Dumai.

Saya 'kan, tidak punya anak.

Tidak apa-apalah,

biarkan si Kifli di sini.

Lagi pula…

Yang menjaga adik Abang juga.

Ya Allah…

Ya Allah…

Kifli…

Ibu…

Izinkan Kifli

buat tinggal bersama Ibu.

Walaupun Kifli tidak bisa menggantikan Kak Nia,

tapi Kifli janji, Bu.

Kifli akan menjaga keluarga sebagai anak lelaki yang sudah besar.

Sudah lima belas tahun, Kifli.

Ini Kifli?

Nia…

Adikmu Kifli, pulang.

Siapa itu?

Di sini, Bang.

Tadi saya lihat ada laki-laki dalam rumah!

Mungkin yang maling mesin air itu?

Atau si Andri yang buronan itu?

Iya, bisa jadi.

Mari kita tangkap pembunuh itu, kita hajar ramai-ramai!

Ayolah, tadi saya lihat orang itu dari jendela belakang, ayo.

Halo, kantor polisi? Lapor, Pak.

Boleh kita izin untuk mendobrak pintu rumahnya?

- Boleh Pak, silahkan. - Ayo.

Cek belakang! Cek kamar dulu!

- Cek Belakang! - Laksanakan!

Bang!

Ini ada nasi baru, Bang!

Kayaknya ada orang yang baru makan di sini, Bang.

- Buka! - Tangkap!

- Andri! - Andri!

- Andri! - Andri!

- Andri! - Andri!

Andri, turun kau!

Turun kau, Andri!

Andri takut, Bang.

Kooperatif kau, Andri!

Biar kami lindungi kau dari amukan massa.

Andri takut, Bang.

Turun kau, Andri! Atau aku tembak kau!

Turun!

- Iya, Bang. Iya. - Sini kau!

Jangan main-main kau!

- Andri! - Turun!

- Turun! - Andri!

Orang-orang yang apabila ditimpa musibah

Mereka mengucapkan

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali

Asalamualaikum.

Waalaikumsalam, Makwo.

Mana Ibu kalian?

Di dalam, Makwo.

Bu… Bu, ada Makwo!

Li…

Iya, Kak.

Pelakunya sudah ke tangkap, Li!

Alhamdulillah.

Orang jahat itu

sudah ke tangkap, Li!

Pembunuh itu…

harus dihukum seberat-beratnya!

Harus!

Aku tidak rela!

Aku tidak rela!

Benar-benar tidak rela!

Kalau dia masih hidup!

- Pembunuh harus dibunuh! - Ibu.

Ya Allah, Ibu.

Pembunuh harus mati!

Akhirnya…

- Nia.. - Pembunuh harus mati!

Harus mati!

Nia…

Abang sekarang duduk sendiri di sini.

Memikirkan kamu,

mengenang semua tentang kamu.

Abang berharap kamu baik baik saja, ya, di sana.

Semoga Abang terus kuat melawan sakit ini,

dan melawan rasa sepi kehilangan kamu.

Doakan Abang segera sehat.

Terima kasih sudah pernah hadir di hidup Abang.

Sampai ketemu kelak di surga, Nia.

Cinta Abang,

tidak akan hilang untuk Nia.

Selamanya…

Bang Tama itu sakit. Dia sendiri yang menanggung,

nggak ada orang lain yang peduli sama Bang Tama itu.

Kalau Nia jauh, apa yang bisa Nia lakukan.

Itu Bang Tama.

Bang Tama sendiri di sana,

nggak ada Bang Tama nuntut apa pun sama Papa.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.