All language subtitles for Ozora Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel 2025 1080p WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese Download
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik muram]

MEMPERSEMBAHKAN

SEBUAH FILM KARYA ANGGY DAN BOUNTY UMBARA

PENAFIAN

[musik rock diputar]

[deru kendaraan]

Ini.

- Terima kasih. - Kau tidak bosan baca buku itu terus?

Sampai lecek bukunya.

Buku boleh lecek, Ren, tapi tidak dengan pemikiran.

Gus Dur, 'kan?

Satu-satunya presiden yang pemikirannya terbuka banget.

Bukan cuma buat semua agama,

tapi buat semua suku dan lapisan masyarakat. Bahkan…

Bahkan buat orang-orang minoritas yang tidak dianggap sama negara sendiri?

Aku hafal.

- [musik rock berlanjut] - [deru kendaraan]

[Mario] Ayo ikut aku sekarang.

Aku mau kasih pelajaran kepada Wareng.

Tahu Wareng, 'kan? Wajah Kureng, si anak PL.

Lewat dulu, Sobat. Aku lagi tidak enak badan.

PESAN BARU

Lalu, aku pergi ke kantin dan makan.

Biar aku tidak sebal lagi.

Oke.

Ya, kenapa?

Tidak asyik banget.

PESAN BARU

Kord lagu "Kuning" apa, ya? Habis C. Aku lupa.

Tadi sudah kukirim kordnya.

Oh, ya?

[musik meresahkan]

Siapa?

Astrid.

Mau apa lagi dia?

SUDAH DI JALAN

Kartu pelajar.

Padahal ada di rumahku.

Aku sudah bilang kirim instan saja, tapi dia bersikeras mau ke sini.

Mungkin dia masih menyukaimu.

Masa bodoh. Tidak peduli.

Bagaimana ini? Malas banget. Bilang apa, ya?

Tanya mobilnya apa.

Camry katanya.

Suruh dia foto pelatnya.

Kalau aku tak beri tahu sekuriti, dia tak bisa masuk.

Ya, silakan, Pak.

Itu siapa?

Bukannya anaknya Pak Hadi?

Yang mana?

Nah, itu motornya.

Ya sudah.

Aku parkir di depan saja.

Bagaimana? Sudah dibalas?

Katanya sudah di depan.

Kok bisa? Coba aku yang chat.

[suara mobil mendekat]

[musik meresahkan]

[Renjiro] Hei, kartu pelajarnya tidak ada.

Ini rumahku. Kompleksku. Bisa tidak jangan cari ribut?

Ini.

[Dennis] Ini Dennis.

Aku sudah jauh-jauh kemari. Rumahmu itu jauh.

Hargai aku dan waktuku. Ya? Turun.

Turun sekarang. Aku tunggu.

Hati-hati, Reng.

Aku juga sudah malas.

[menghela napas]

Reng, aku beri tahu ayahku saja, ya. Biar lapor sekuriti.

Tidak usah, Ren. Biar aku saja.

Santai, ini ayahku.

Biar kutangani sendiri saja.

Untuk apa pakai bohong?

Aku cuma mau mengobrol, Reng.

Biar sama-sama enak.

Boleh, 'kan?

Bisa tidak jangan mengobrol di rumahku?

Bisa. Aku justru mau mengobrol di sana.

[musik meresahkan]

Yuk.

Reng.

Tidak apa-apa, Ren.

Aman.

Cuma mau mengobrol saja.

Ayo, Sayang!

David mana?

Ada, lagi…

Lagi mengobrol sama…

temannya di luar.

[menghela napas]

Renjiro, ada apa?

Pi…

Boleh panggil sekuriti?

Ada yang resek di luar.

Kenapa?

Ada mantannya David.

Masa harus panggil sekuriti dan diusir? Namanya juga mantan. Tidak apa-apa.

Tolong, Pi.

Telepon sekuriti, ya?

Ya, Papi telepon.

Halo, Pak Rasyid?

- Bisa datang? - Habiskan, ya?

Ayo, ke sini sebentar, Pak.

[Dennis] Untuk apa kau menghalangi? Aku tidak takut! Anjing!

Kau pikir aku takut?

Apa?

Kau pikir aku takut sama polisi?

Lapor, Anjing! Lapor!

Hei!

Mi?

- Mami? Ada apa? - David, Pi!

- Mi? - Renjiro, kau tidak usah keluar.

- Kenapa… - Jangan keluar rumah.

Renjiro, dengarkan Papi. Tetap di rumah. Jaga Kimi.

- Pi, David kenapa? - Sudah.

Pi!

[terengah-engah]

[tercekat]

Siapa kau? Kenapa kalian di sini?

Kau apakan teman anakku?

Dia sudah melecehkan adikku, Tante.

Kenapa mukanya bonyok begini?

David!

[Rudi] Mami!

- Pi! - Astaga, David.

Kau apakan?

Hei, kau anggota?

- Bukan, Om. - Lalu, siapa?

- Tolong ambil mobil, Pi. - Ya. Tunggu, Mami.

Kemari kau! Pegangi kepalanya. Ayo!

Sini!

[musik menegangkan]

- Pi, mau ke mana? - Kau tahu nomor telepon papanya David?

- Tidak. - Tanya teman-temannya. Telepon.

- Ya, nanti aku cari. Pi? - Sudah.

- David kenapa, Pi? - Tidak apa-apa.

Pi!

- [Natalia] David… - [Rudi] Pak Ali, buka pintunya.

[Natalia] Pak, sebentar.

Pak, buka pintunya. Aduh…

- Pak, kepalanya. - [sekuriti 1] Baik.

- [Natalia] Pelan-pelan, Pak. - [Rudi] David.

David, jangan pergi.

[David terus tercekat]

[notifikasi ponsel]

[musik menegangkan]

[sirene ambulans berbunyi]

RUMAH SAKIT ANGGARA

- Hei, siapa kau? - Aku Jonathan.

- Bapaknya David? - Ya, benar.

- Crystalino David Ozora. - Aku yang bawa David kemari.

- David di mana? - Di IGD

Mas, bagaimana David?

- Bapak siapa? - Rudi. Bapaknya Renjiro, temannya David.

- David? - [Olive] Kakak…

- David? - Kakak.

David?

Kakak? Kakak, bangun…

- Kakak… - Liv, kita tunggu di depan, ya?

- Tidak mau! - Olive, tunggu di depan sama Mama.

- Ya, kau tunggu di depan. - Kakak!

- Ya, Kakak dicek dulu sama dokter. - Kak…

- Yuk, Nak. - Pak, kami periksa dulu.

[musik muram]

[Amel] Ya?

- Mel. - Mbak.

David kenapa, Mel?

Kita tak ada yang tahu.

- Di mana Jo? - Di dalam.

Ayo.

[terkesiap]

David.

Bangun.

Papa di sini, David.

Sudah ada yang urus administrasinya?

Belum, Mbak.

- Aku urus dulu, ya? - Ya, terima kasih.

David…

[ustaz] Bismillahirrahmanirrahim.

Crystalino David Ozora bin Jonathan Latumahina…

Ikuti kata-kataku, ya?

- Asyhadu… - Asyhadu…

- …an la… - …an la…

- …ilaha… - …ilaha…

- …illallah… - …illallah…

- …wa… - …wa…

- …asyhadu… - …asyhadu…

- …anna… - …anna…

- …muhammadan… - …muhammadan…

- …rasulullah. - …rasulullah.

[musik lembut]

Selamat, ya, David. Tinggal keislamannya yang digali lagi.

- Harus semangat! - Ya, Mbak. Terima kasih.

- Kami pamit dulu, ya? - Ya.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Dengar itu.

Cantik, ya, Pak?

Mbak Retno?

Ya. Pintar lagi.

Seperti itu kalau mau cari istri.

Papa tidak mau?

Boro-boro, Vid.

Mengurusmu dan Olive saja Bapak belum benar.

Bagaimana berpikir mencari istri?

Untuk apa mengurusku? Aku sudah keurus.

[terkekeh]

David.

Bapak tadi kaget.

Waktu dihubungi Gus Rifky, Bapak langsung cepat-cepat kemari.

Tidak menyangka kau langsung menjadi mualaf.

Sudah yakin dengan pilihanmu?

Bukan karena ikut-ikutan Bapak, 'kan?

[musik lembut]

Aku memilih jalan ini karena yakin ini jalan terbaik untukku.

Bukan karena ikut-ikutan Bapak atau siapa pun.

Bagaimana konsekuensinya?

Ibu kandungmu, nenekmu, kakekmu, saudara-saudaramu?

Insyaallah siap, Pak.

Ya sudah.

Tapi kau harus ingat satu hal.

Ujian itu akan selalu ada.

Tapi yang harus kau pegang adalah janji Allah.

Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan hambanya.

Jadi, kalau sampai dikasih ujian, kau pasti bisa melewatinya.

Ya?

[musik muram]

[menghela napas]

Hei…

[mengembuskan napas]

Ikan cupangmu tak ada yang mengurus.

Bangun, yuk, David.

Bapak yakin kau pasti kuat.

Bangun, ya?

- [musik menegangkan] - [keletak]

David?

David?

Dok? Dokter!

Dok! Tolong, Dok!

Dok? Dokter!

Dok! Tolong, Dok!

Dok! Tolong, Dok.

Maaf, ya, Pak.

Sus, obatnya.

[terengah-engah]

Ini tidak benar.

Kami dari pihak keluarga tidak dikonfirmasi.

Lagi pula, ini belum tentu perkelahian.

Ya, Bu, kami hanya mengikuti yang ada di formulir.

Tapi formulir ini salah.

BAP resmi dari polisi belum keluar.

- Mbak tidak bisa ambil keputusan sepihak. - [suster tergagap]

Begini saja, Bu, kami akan coba bicarakan dengan atasan kami.

Untuk sementara, Ibu tak perlu membayar biaya apa pun

sambil menunggu surat keterangan resmi dari kepolisian dan pihak asuransi.

Akan kami kabari secepatnya.

Baik, terima kasih.

Sama-sama, Bu. Maaf, dengan ibu siapa?

Aku Mellisa, mewakili pihak keluarga David Ozora.

Baik, Bu.

Mas Rustam, ini kejadian sebenarnya bagaimana?

David berantem?

Kita tidak tahu, Mbak.

Mas Rustam bagaimana? Ada info?

Infonya memang seperti itu.

Yang berkelahi dengan David ditahan di Polsek Pesanggrahan.

Proses hukumnya bagaimana? Ada yang mendampingi?

Kawan-kawan dari LBH Ansor sudah mengambil alih.

- [Melissa bergumam] - Kau ikut juga, 'kan?

Aku berjaga kalau teman-teman butuh.

Ya. Lalu, urusan rumah sakit bagaimana?

Sudah kutangani sementara.

Tapi aku tetap harus memperbaiki beberapa data David di sini.

Asuransi tidak mau membayar karena rumah sakit dapat info dari polsek

yang bilang kalau ini karena perkelahian.

Perkelahian?

Maksudnya berantem?

Kau percaya?

- [menghela napas] - Biar kutanya kepadamu.

Kalau berantem, seharusnya lawannya ada di sini sekarang sama David.

- Mas… - Paling tidak, dia luka-luka.

- Ya. - Sudah, tenang.

Tidak bisa. Itu keterangan palsu. Bohong.

Aku tak percaya.

- Sudah, Mas. - Kau lihat keadaan David, 'kan?

Ya.

- Sampai sekarang belum sadar. - Ya, aku paham.

- Anakku babak belur. - Ya, aku paham.

- Aku tidak terima. - Kita harus tenang.

- Ya? - Ya, nanti GERD-mu kambuh.

Aku tahu David.

David tidak mungkin berantem.

Ya.

Sudah, Jo, tenang dulu.

Jo…

Kau di sini saja, ya?

Dampingi David. Fokus dengan kondisinya.

Urusan polsekta, biar aku dan kawan-kawan GP Ansor yang urus.

Mas Rustam benar.

Tak mungkin kita bisa tangani sendiri.

Kau pengurus GP Ansor, serahkan semua ke Banser.

Aku pamit.

Terima kasih.

Ya. Pamit, ya?

- Ya. - Ya.

[Jonathan] Ya.

[terbatuk]

Minum ini.

- Terima kasih. - Pelan-pelan.

Pelan-pelan saja. Om tidak menggigit.

[terkekeh]

Lucu.

Bapak kelihatannya saja galak dan seram.

Tatoan, sok Rambo.

Padahal hatinya Rinto.

[terkekeh]

Biarkan saja hati Bapak kayak Rinto.

Yang penting kelakuannya tak seperti Mulyono.

Mulyono?

Kepala sekolahku?

Benar juga, ya? Kepala sekolahmu…

Benar juga.

- Apa? [terkekeh] - Apa-apaan, Bapak?

Tumben David perhatian sama cewek.

Biasanya, dia usil sekali.

Sama Olive, adiknya, aduh usil sekali.

- Beda, Pak. - Jelas beda.

[musik lembut]

Astrid.

David dari kecil dibesarkan tanpa ibu.

Jadi, hanya Om, David, dan Olive.

Jadi, kalau dia sampai macam-macam, menyakiti, dan berbuat yang tidak-tidak,

langsung laporkan ke Om, ya.

- Tidak mungkin, Pak. - Tidak ada yang tidak mungkin.

Pokoknya, kau jangan sampai kasar, apalagi menyakiti.

Ya, Pak.

Pak Jonathan?

Bagaimana, Dok?

Kami sudah melakukan CT Scan kepada David.

Tidak ada kelainan pada otaknya.

- Alhamdulillah. - Kami akan melakukan tes lanjutan.

Tapi untuk saat ini, karena kesadaran David sangat rendah,

kami harus memindahkan David ke ICU untuk penanganan selanjutnya.

Oh… Kenapa David belum sadar, Dok?

Kami juga masih belum memastikan apa penyebabnya

- karena harus ada pemeriksaan lanjutan. - Ya.

Tapi jika dilihat dari luka-lukanya,

bisa jadi ini disebabkan oleh benturan benda tumpul.

Tolong lakukan yang terbaik, Dok.

[dokter] Ya, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk David.

Tapi untuk saat ini,

David harus segera dipindahkan ke ICU dengan persetujuan Bapak.

[Jonathan] Ya, apa pun lakukan.

Ibu dan Bapak harap tunggu di sini sebentar.

Ya.

[musik muram]

Om…

Om dari David, ya?

Kau… Kau kenal David?

Kondisi David sekarang bagaimana?

Yah… Dia masih belum sadar.

Aku turut menyesal, Om.

Awalnya hanya berantem saja.

Tapi malah jadi begini.

Sebentar…

Siapa kau?

A… Aku temannya.

Ya, tapi ada hubungan apa dengan kejadian ini? Kenapa ada di sini?

[polisi] Samuel.

Ikut aku.

- Kenapa? - Aku permisi dulu.

- Sebentar, Pak, aku belum selesai bicara. - Bang, tenang dulu.

Santai.

- Hei. - Ya.

Siapa anak yang tadi itu?

Sam… Samuel.

Kenapa dia di sana?

Ya, Pa.

Kau tenang saja.

Aku sudah menelepon ayahku.

Tidak ada yang akan masuk penjara

[polisi] Silakan, Pak.

[Rustam] Apa ini? BAP?

Sudah jadi saja.

Menurut keterangan saksi, Dennis datang ke David untuk minta pertanggungjawaban.

Menurut Dennis, itu karena David melecehkan Astrid.

Begini, Pak,

yang namanya berkelahi, pasti melibatkan kedua belah pihak. Benar?

Nah, kalau begitu, kenapa BAP ini sudah dibuat,

sementara salah satu pihak masih tidak sadarkan diri di rumah sakit?

Apakah BAP ini valid?

Pak…

Kami di sini mewakili pihak keluarga.

Kami berhak tahu apa yang terjadi dengan keponakan kami sampai dia koma.

Jadi, aku tanya sekali lagi, siapa saksinya?

[menggumam] Ada dua, Pak.

Keduanya melihat langsung.

Ada dua?

Lalu, hanya kesaksian mereka berdua yang dimasukkan ke dalam BAP ini?

Ki.

Pertanyaan kami,

kenapa kesaksian teman David dan orang tuanya tak ada di BAP?

Pak, karena mereka berdua tak lihat langsung kejadiannya.

Mereka ada di sana, Pak!

Kejadian ini terjadi di depan rumah mereka.

Mereka yang membantu menghentikan kejadian dan membawa korban ke RS.

Artinya mereka saksi, 'kan?

Lihat Dennis dan Samuel.

Mereka bebas bermain gitar dan ponsel.

Aku ketemu Samuel di luar. Dia bebas berjalan-jalan di kantor ini.

Begitukah perlakuan kalian?

Sudah. Begini, ya, Pak.

Kami menolak BAP ini.

Kami ingin semua saksi diperiksa.

Ke depannya,

kami, selaku pihak keluarga, bersama dengan kesatuan Banser,

kami akan jaga dan mengawal polsek ini sampai keadilan untuk kami ditegakkan.

[terkekeh]

- Bang Rustam. - Kenapa, Ki?

Mobil barang bukti mau dibawa keluar.

- Itu mobil barang bukti? - Ya.

- Siapa yang bawa? - Sam.

Memangnya boleh seperti itu?

Hei, sebentar.

- Aku foto dulu. - Ya, Bang.

Foto dan beri tahu mereka. Hei!

Apa ini? Tidak jelas. Sebentar, tanya dulu.

Aku butuh penjelasan.

- Pak, sebentar. - Ya, Pak?

- Mobil itu mau ke mana? - Menjemput satu saksi lagi.

Itu barang bukti. Memang boleh meninggalkan polsek?

Sudah ada jaminannya, Pak. Dennis masih kami tahan di sini.

- Jaminan bagaimana? Itu barang bukti. - Maaf, ya, Pak.

Untuk keterangan lebih lanjutnya, Bapak bisa bicara dengan komandan.

- Permisi. - Kami butuh kejelasan! Tak bisa begini!

- Hei! - Pak!

Pak Jo.

- Terima kasih, Pak. - Ya.

Aku tak bisa membayangkan kondisi David jika tidak lekas dibawa ke RS oleh Bapak.

Kalau Pak Jo ada di posisiku, pasti juga melakukan hal yang sama.

Di otakku cuma berpikir bagaimana caranya agar David cepat dapat pertolongan.

Yang perlu kita pikirkan bersama adalah supaya David lekas pulih.

Terima kasih, Pak.

Selamat malam, Pak.

Bagaimana kondisi David?

Kalian siapa?

Kami dengar kabar ini dan mau menengok David.

Dengar kabar dari mana?

Kami mewakili keluarganya.

Oh, ya? Keluarga dari mana?

Kami mewakili keluarga Dennis.

- Keluarga Dennis? - Ya.

- Mau apa? - Kami siap memindahkan David

- ke RS yang lebih bagus. - Lalu?

- Perawatannya lebih baik. - Begitu, ya?

Semua biaya akan ditanggung sampai David pulih.

Hei, beri tahu bosmu. Kita ketemu di pengadilan.

Lihat kondisi anakku sekarang. Lihat!

- Aku akan tuntut sampai pengadilan. - Sudah, Pak Jo.

Aku akan tuntut keadilan untuk anakku.

Tenang. Kalian pergi. Pergi!

Pergi!

[musik menegangkan]

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Siap! - Siap. Kita tak bisa dipermainkan.

Keadilan harus ditegakkan. Ya?

Jangan kasih mereka kesempatan untuk bertindak semaunya.

[riuh orang-orang] Setuju!

- [Rustam] Kita tunjukkan sekarang! - Setuju!

- Kalian siap? - Siap!

- [musik meresahkan] - [berdeham]

Halo, Pa?

Di luar ramai sekali, Pa.

Ya, aku tahu…

Ya, aku tahu ini kantor polisi.

Tapi bagaimana kalau mereka masuk?

[siswa 1] Bayangkan, sekamar.

[siswa 2] Tapi kalau sudah sekamar begitu…

[siswa 3] Parah tidak?

Astrid…

- Lihat itu. - Hei.

Ada apa?

Cabut, yuk.

- Cabut yuk. - Lo?

[berdecak]

Kau pacaran sama Astrid?

Ya, kau tahu sendiri.

Kenapa?

Ada kabar yang tidak enak.

Aku juga tahu dari yang lain.

Tapi kau santai saja, ya, Reng?

Aku dapat cerita dari temanku, Farel.

Katanya, Astrid dan Dennis jalan bareng akhir pekan kemarin.

Astrid bilang kepadaku

dia jalan sama keluarganya akhir pekan lalu.

Bukan cuma itu.

Katanya mereka…

check in. Yah, HS.

Tahi kau.

- Sungguh? - Ya.

Aku sudah tanya.

Aku ada fotonya, tapi sudah kusuruh hapus.

[musik muram]

Reng! Reng, tunggu.

Reng, apa-apaan? Tunggu dulu.

Reng, masa kau lebih percaya omongan orang tidak jelas daripada aku?

Aku tidak pernah berbuat apa-apa.

Kau harus percaya kepadaku.

Ini kurang jelas apa?

[terisak-isak]

Yah…

Itu foto lama sebelum bersamamu.

Aku ada bukti lain. Tak perlu kutunjukkan, 'kan?

Reng, tolong.

- Sudah berapa kali, Astrid? - Ini terakhir, tolong.

- Akhirnya selalu begini. - Tidak. Sudah tidak lagi.

- Sudah. - Tolong jangan putuskan aku.

Reng, aku tidak begitu lagi.

- Kita berteman saja. - Tidak.

- Tidak mau, Wareng. - Sudah.

- Wareng, tidak mau. - Sudah.

Wareng!

[terisak-isak]

[musik muram]

RUMAH SAKIT ANGGARA

- Pak Jo, aku pamit. - Ya.

- Salam untuk keluarga. Terima kasih. - Siap.

- Yuk. - Ya.

- Minta doanya saja. - Pak Jo, aku pamit.

Terima kasih, ya.

Jo, kau tidak perlu khawatir.

Pokoknya, sebagai pihak asuransi,

aku akan membantumu menangani semuanya.

Yang penting, saat ini kau fokus pada kesembuhan David. Oke?

Ya, terima kasih.

Sama satu lagi.

Aku tahu ada dokter spesialis saraf yang bagus di RS Yudhistira.

Kalau memang perlu, kabari aku.

- Ya, kabari saja aku. - Oke.

- Ya? - Oke. Terima kasih.

- Hati-hati. - Ya.

- Robert yang tahu, 'kan? - Ya.

Bang, ini mobilnya.

- Beda pelat nomornya. - Ya.

Benar juga, ya.

- Siapa itu? - Siapa, ya?

- Itu Sam. - Sam.

Hei, tunggu sebentar, aku mau bicara!

Tenang, Pak. Ada apa ini?

Ini mobil semalam, 'kan? Kenapa pelat nomornya beda?

[menggumam] Yah… Masih sama, Pak.

Sama dari mana? Ini berbeda. Aku punya foto semalam. Lihat.

Bagaimana? Ini berbeda. Berbeda, 'kan?

Baik, Pak. Kami tanyakan komandan.

Ya sudah, di mana komandannya? Dari kemarin tidak kelihatan.

- Belum datang. - Tidak usah banyak alasan! Dengar, ya.

Kami di sini menuntut kejelasan.

Jika kalian terus tutupi, polsek ini akan kami tutup. Mau?

- Tenang, Pak. - Atau kita bakar saja sekalian. Ya, 'kan?

- [riuh warga] - Minta kejelasan. Jangan main-main!

Sampaikan ke dalam!

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Gus, maaf. Ini…

Polsek ini sembarangan. Mereka bikin BAP tidak benar.

Kini mau mencemarkan barang bukti.

Rustam, sabar.

Senjata orang beriman adalah sabar.

[lantunan ayat Al-Qur'an]

Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Kita harus hadapi semua ini dengan tenang.

Aku paham, Gus.

[dering ponsel]

Halo, Mas Rustam?

Serius?

Yakin berbeda?

Sudah difoto?

Oke. Disimpan foto-fotonya. Jangan sampai hilang, ya, Bang?

Nanti kita pakai di pengadilan.

Ya, aku kabari Bang Qadir dulu.

Pagi, Pak. Aku Evie, mamanya Dennis. Istri dari Rajasa Anum.

Atas nama Dennis, aku minta maaf.

Aku tahu Dennis sudah keterlaluan sampai David jadi begini.

Tapi ini hanya persoalan anak muda, Pak.

Aku dan keluarga besar akan menanggung seluruh biaya rumah sakit.

Aku bahkan sedang menyiapkan rumah sakit yang lebih baik dari ini.

Tidak ada biaya yang cukup yang dapat mengganti apa yang dialami putraku, David.

Aku sudah bilang kepada dua orang suruhan Ibu.

Kita akan bertemu di pengadilan.

- Tidak ada jalan damai. - Ada apa ini?

Aku mamanya Dennis.

Pergi sekarang sebelum kuusir.

[pria] Kau tahu siapa Rajasa Anum, 'kan?

Boleh aku menjenguk David?

- Aku sudah bilang pergi! - Jo!

Jo, sudah!

Sebaiknya Ibu pergi.

Lupakan semua usaha damai Ibu.

Satu-satunya usaha yang perlu Ibu lakukan

hanya bersiap menghadapi kami di pengadilan.

[musik menegangkan]

- Kita hanya bertemu di pengadilan, Bu! - Sudahlah…

Ini.

Ini. Geser saja ke kanan.

- Bagaimana ini? - [menggumam]

Nanti aku akan berkoordinasi dengan petugas yang di depan.

Jika sudah ada hasilnya, aku konfirmasi ke komandan.

- "Komandan"? - Ya.

- Bisakah kami bertemu? - Saat ini tak bisa.

Beliau tak ada di tempat.

Gus, maaf. Soal kesaksian…

- Itu mereka? - Dapat perlakukan istimewa.

Ini apa-apaan?

Kami tak pernah melihat ada kasus pelaku yang diistimewakan begini.

Ada apa dengan mereka? Kenapa kau perlakukan berbeda?

Kalau kau tidak serius menangani dengan baik,

tidak memperlakukan kami dengan baik,

kami juga ada upaya dan reaksi.

Lalu, itu ada kaitannya dengan hukum.

Allahu Akbar.

[musik muram]

[terengah-engah]

[Gus Rifky] Di saat seperti ini, kita bisa dikuasai amarah dan angkara murka

sehingga menghadapi semuanya dengan panas.

Tapi kita bisa juga menghadapi ini semuanya dengan kepala dingin.

Sabar.

Serahkan semuanya kepada Allah.

Tawakkaltu 'ala Allah.

[musik muram]

Assalamualaikum warahmatullah.

[Jonathan] Aku tak tahan melihat kondisi David seperti ini, Gus.

[menghela napas]

[Gus Rifky] Jo, aku mengerti. Wajar sebagai orang tua.

[terengah-engah]

Bangun, David.

[musik muram berlanjut]

- [David] Nah, 'kan? Itu. - [Olive] Bukan.

- [Olive merengek] - [David] Gampang banget.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Sini, Mel.

Selamat datang. Kenalkan, ini jagoanku, David. Ini yang bungsu, Olive.

- Halo. - Halo, Amel.

- Halo, Tante. - Amel.

Tante calonnya Bapak yang baru, ya?

Sut! Kepo saja.

- Aku mau tahu. - Sok tahu.

Lihat itu, Tante Amel bawa apa.

- Tante bawa donat. - Donat!

Ayo makan.

- Yuk. - Yuk.

- Ada yang stroberi tidak? - Nanti coba kita lihat.

Sepertinya ada.

[musik lembut]

- David. - Ya?

Kenapa?

Menurutmu bagaimana jika Bapak menikah sama Amel?

Kau tak perlu memanggilnya "mama".

Bapak tahu pasti berat bagimu.

Panggil senyamanmu saja.

Pak…

'Kan aku yang selalu bilang ke Bapak buat

cari istri lagi.

- Serius? - Ya, Pak, aku serius.

Jadi, kau setuju?

Kalau Bapak…

[Amel dan Olive tertawa]

…dan Olive bahagia,

aku ikut senang melihatnya.

Sudah, itu saja.

Oh, ya.

Astrid ke mana, ya? Kok tidak pernah kelihatan?

Sudah tidak, Pak.

Tidak apa-apa.

Masih bisa cari lagi.

Cari pacar lagi.

[tertawa]

- [Jonathan] Terima kasih atas doanya. - Terima kasih.

- Sampai bertemu lagi, ya. Terima kasih. - Terima kasih.

[musik penuh harapan]

Pak Jonathan?

Pak, kami sudah melakukan beberapa tes untuk David.

Hasilnya, trauma di kepala David cukup berat.

Saranku, sebaiknya David dipindahkan ke RS dengan fasilitas yang lebih lengkap

dan dokter spesialis yang bisa menanganinya.

Karena di rumah sakit ini, fasilitas kami masih kurang, Pak.

[menghela napas]

Kapan David bisa dipindahkan?

Segera, Pak.

Jika ada keluarga yang punya referensi rumah sakit dan dokter,

akan kami urus perpindahannya.

Biar kubicarakan dulu dengan keluarga.

Baik, Pak.

Terima kasih, Dok.

[musik muram]

Halo?

Waktu itu kau sempat bilang ada dokter saraf terbaik

yang bisa menangani pasien dengan kondisi seperti David.

Ya.

[musik menegangkan]

Jadi, memang secepatnya harus kita pikirkan proses pemindahannya.

- Ada RS rekomendasi… - Bang Rustam.

Kenapa, Ki?

Bisa bicara sebentar?

Ya sudah, bicara saja.

Ada masalah apa?

[menggumam] Tidak ada apa-apa, Bang. Sebentar saja.

Sebentar, Jo.

Ada apa?

Rajasa Anum datang ke sini.

- Rajasa Anum ada di sini? - Ya, aku lihat dia masuk ke lift.

Rajasa Anum?

- Bapaknya anak itu? - Tenang, dengarkan aku.

- Di mana dia? - Tenang dulu, biar aku yang atasi.

- Mas! - Jo! Bawa dia ke dalam.

- Ki, bantu dia. - Sudah.

- Sudah. Istirahat sekarang. - Mas…

- Asam lambungnya kambuh. - Pelan-pelan.

- Beri dia minum. - Pelan-pelan, Mas.

Hati-hati.

- Suster, tolong. Tolong dia. - Sus, tolong.

Mau apa kau kemari?

Pak, kumohon.

Aku tahu Dennis salah,

tapi masalah ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan.

Kekeluargaan?

Hei, kami ini bukan keluargamu. Sudah, Bapak pergi saja sana!

Pak, tolong…

Aku mohon.

Masalah ini sudah merembet ke mana-mana.

Aku akan penuhi semua yang Bapak minta.

Pak, dengarkan aku sekarang. Ya?

Tanyakan kepada anakmu di mana hatinya saat menganiaya anak kami.

Anak Bapak bertarung dengan konsekuensi atas perbuatannya, tapi anak kami…

Dia bertarung untuk tetap bisa bernapas.

Untuk bertahan hidup.

Jadi, Bapak tak perlu memohon di sini. Kubilang pergi!

Oke.

Oke.

Aku pergi.

Ayo.

Kalian pastikan dia keluar dari sini.

Baik, Pak.

Astagfirullahaladzim.

Berapa lama sampai dia dipindahkan?

Kami akan usahakan secepatnya, Bu.

- Terima kasih, ya. - Sama-sama.

[musik menegangkan]

[sirene ambulans]

Dokter.

- Aku Nathan. Jonathan. - Nathan.

[musik menegangkan berlanjut]

IGD DAN PUSAT TRAUMA

Permisi, Dok.

Aku Romi, Om. Alumni Pangudi Luhur, sekolahnya David.

Oh… Ya.

Aku turut bersimpati ya, Om, untuk David.

Terima kasih.

Doakan saja semoga David cepat pulih.

Supaya dia bisa kembali normal lagi.

Ya, Om.

Om…

Maaf,

ini aku punya sesuatu.

Tapi kuharap Om yang kuat ya melihatnya.

Dennis kirim ini kepadaku.

Dia bilang…

PL sudah ditundukkan.

Kapan dia kirim?

[Romi] Di malam kejadian itu, Om.

Lalu, dia kirim ini kepadaku pakai video sekali lihat.

Tapi langsung kurekam pakai ponsel lain.

- [David tercekat] - [Dennis mengerang]

[David tercekat]

[Dennis mengerang]

[David tercekat]

[Dennis] Itu gara-gara kau mempermainkan pacarku. Anjing!

Tendangan bebas!

- [Dennis mengerang] - [David tercekat]

- [Dennis terbatuk] - Om!

Tolong!

Om?

- Tolong. - Jo? Lo?

- Mas… - Jo.

- Angkat, Pak. - Duduk, yuk. Naik.

[dokter] Ayo, Pak.

Yuk…

[terisak-isak]

David dipukuli…

dan mereka mau membungkam kita pakai uang.

Kita harus melawan.

Satu-satunya cara pakai kekuatan rakyat.

Tolong bantu aku sebarkan video ini.

Bantu aku memperjuangkan keadilan untuk David.

[pria] Orang ini sudah lemas, tapi masih dihajar juga.

Astaga, ini kenapa? Ya ampun…

- Kasihan banget, 'kan? Parah banget. - Parah banget.

[pewarta] Beredar di media sosial, rekaman video penganiayaan David Ozora

oleh Mario Dennis Saputro, anak pejabat kementerian Indonesia.

[wanita] Parah banget.

Astaga!

Tega banget.

Mario Dennis dan Sam menganiaya David Ozora.

Terungkap fakta-fakta baru terkait kasus penganiayaan

yang dilakukan Mario Dennis…

Penganiayaan yang dilakukan kepada David Ozora

dilakukan secara terencana.

Terlihat korban yang sudah tidak berdaya, dianiaya oleh Mario Dennis Saputro.

Bagaimana keadaan David?

Pak, aku belajar spesialis saraf di universitas terbaik di dunia.

Aku harus jujur sama Bapak.

Kondisi yang dialami David ini

adalah kondisi yang dokter saraf mana pun takut untuk hadapi.

Secara medis, David mengalami diffuse axonal injury.

Sederhananya,

urat-urat saraf David menuju ke kepala itu putus.

Itu mengakibatkan kesadaran David sangat rendah.

Tapi masih bisa sadar?

[menghela napas]

Kalaupun sadar, fisik David tak bisa kembali seperti semula.

Bisa jadi David akan hidup dengan kondisi cacat,

vegetatif, atau tidak produktif.

Apa yang bisa diupayakan?

Kami akan upayakan semaksimal mungkin.

Bantu David.

Pasti, Pak.

[Olive terisak-isak]

Aku kangen Kakak, Pak.

Kakak akan bisa balik lagi tidak ke sini?

Kau kangen digangguin Kakak, ya?

Aku tidak keberatan diledek terus.

Digangguin terus.

Yang penting, Kak David pulang.

Bapak juga kangen sama Kakak.

Tapi sekarang Kakak di rumah sakit dan ditangani dokter terbaik.

Tugas kita, minta sama Allah.

Kita berdoa supaya Kak David cepat pulang agar bisa berkumpul dengan kita.

Ya?

Olive.

Siap-siap, ya.

Biar bisa ketemu Kakak.

- Bisa? - Sudah? Ayo.

Terkadang aku berpikir

seharusnya dari awal aku bisa mencegah David untuk pergi.

Seharusnya aku tanya dia ada masalah sama siapa.

Seharusnya aku bisa mencegah Dennis untuk menyakiti David

kalau tahu dari awal.

- Mas, sudah… - [Jonathan terisak-isak]

Sudah…

Tidak ada gunanya memikirkan apa yang sudah terjadi.

Kau tahu David seperti apa.

Paling tidak suka menyusahkan orang.

Dia tak akan cerita kepadamu kalau masih bisa dia tangani sendiri.

[terisak-isak]

[musik muram]

Aku takut.

Aku takut kalau meninggalkan David sebentar…

- Aku takut… - Mas…

Aku mengerti.

Aku mengerti banget, Mas.

Tapi sekarang kita bisa apa?

Bisa berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan David.

Harus bisa ikhlas

dan yakin ketetapan apa pun yang Allah kasih buat kita

adalah yang terbaik untuk David.

Mas.

David membutuhkanmu, Mas.

David butuh bapaknya.

Bukannya katamu sudah putus?

Sudah.

Dia yang kirim. Bukan aku.

Tidak usah kau tanggapi lagi.

Dia cewek orang.

Dia terus yang coba menghubungiku.

Blokir saja daripada ribet.

Aku duluan, ya.

Aku tunggu di kantin. Oke?

Pak?

- Ya, Dok? - Ikut aku.

Ayo.

David?

David.

[musik muram]

Jadi, menguap itu pertanda kalau David sudah bisa bernapas sendiri.

Tandanya, batang otak David tidak cedera.

Berarti peluangnya untuk sadar cukup mungkin?

[menghela napas] Aku coba realistis, ya, Pak.

Tapi bukan bermaksud membatasi harapan Bapak.

Jadi, kemungkinan David untuk benar-benar sadar

hanya dua persen.

Tapi dua persen itu hanya kemungkinannya.

Itu harapan yang tak boleh kita lepas.

Bapak harus tetap berharap sama mukjizat.

[terkekeh]

Mukjizat hanya berlaku untuk nabi, Dok.

Aku hanya manusia biasa.

Manusia biasa juga tetap harus punya doa dan harapan, 'kan, Pak?

Tidak ada yang mustahil.

[musik muram]

Ya.

Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.

Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

[Retno] Aku pernah sepertimu, Jo. Cuma bisa pasrah.

Aku pernah ikhtiar dengan berbagai cara agar bisa punya anak.

Cara apa pun kulakukan.

Salah satunya, ya, doa.

Ada amalan yang insyaallah bisa bantu David.

Amalan apa, ya, Mbak?

Bacalah Al-Fatihah 100 kali.

Di ayat kelima, kau ulang 11 kali.

lyyaaka nasta'iin.

Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Tapi kau harus ikhlas, Jo.

Bersihkan hatimu, fokus hanya pada kesembuhan David.

Ikhlas itu melapangkan hati kita atas segala ketetapan Allah.

Itu yang bisa mengalahkan vonis dokter.

Tapi untuk bisa ikhlas,

kau harus bisa membersihkan hatimu.

Kau harus bisa bersihkan hatimu dari dendam, Jo.

Aku tak tahu bisa atau tidak.

Bisa.

Pasti bisa. Harus bisa.

Bagaimana, Mbak?

Hanya kekuatan doa yang bisa menembus langit, Jo.

Juga mengguncang singgasana Allah.

Satu lagi.

Kau tak berdoa untuk David sendirian.

Seluruh warga NU, bahkan sampai pelosok, mendoakan David.

Banyak yang peduli sama David.

Jutaan umat Islam berdoa untuk kesembuhan David.

Juga umat dari agama lain.

Kristen, Buddha, Hindu, dan lainnya.

Mereka semua juga ikut mendoakan David.

Jangan pernah meremehkan kekuatan doa.

[musik penuh harapan]

[Renjiro] Reng.

Bangun, Reng.

Nonton konser lagi, yuk.

Ada Rumahsakit ini.

Yuk.

♪ Halusnya awan ♪

♪ Menyatu dan menghalang ♪

♪ Namun kau pun hanya bisu ♪

♪ Tetap sinariku dengan cahaya ♪

♪ Kuningmu ♪

♪ Ceritakan padaku ♪

♪ Indahnya keluh kesahmu ♪

♪ Tetaplah di istanamu ♪

♪ Langit yang biru kelabu ♪

♪ Biarlah rinduku ♪

♪ Kusimpan bersama mimpiku ♪

♪ Bilakah kau ajakku ♪

♪ Bertemu kembali selalu ♪

♪ Kutunggu kuningmu ♪

♪ Di setiap waktuku ♪

♪ Tetaplah di istanamu ♪

♪ Langit yang biru kelabu ♪

♪ Biarlah rindumu ♪

♪ Kusimpan bersama mimpiku ♪

[wanita] Semua biaya pengobatan nanti akan ditanggung oleh pemerintah

dan Menteri Keuangan.

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali

dan David bisa cepat pulih kembali.

Terima kasih banyak, Bu Menteri.

[pewarta] Sementara itu KPAI menanggapi permintaan perlindungan AG

agar diberi perlindungan terkait kasus Mario Dennis Saputro

yang menganiaya Crystalino David Ozora.

Mereka sedang membuat narasi

bahwa David melakukan pelecehan dan Astrid adalah korbannya.

Mereka gila!

Tidak mungkin David begitu.

Aku tak pernah membesarkan anakku untuk menjadi bajingan.

Kita sama-sama tahu itu, tapi publik juga harus tahu.

Narasi ini harus dilawan sama narasi juga.

Kita harus buat mereka tahu bagaimana David sebenarnya.

Apa yang sebenarnya menimpa David.

[Jonathan] Mel, kita sudah lama berteman. Kau yang paling tahu soal aku dan David.

Kau saja, ya, yang menangani kasusnya David.

Jadi kuasa hukum sahnya.

Kau yang lebih kenal David seperti apa. Kau tahu persis itu.

Seperti ucapanmu, narasi harus dibalas dengan narasi.

Aku percaya kau bisa melawan narasi mereka.

Para pembohong yang mengaku menjadi penguasa.

Aku butuh bantuanmu, Mel.

[musik muram]

Bapak.

David?

David?

[pintu ditutup dengan kencang]

[musik lembut]

David.

Bapak cuma ingin kau kembali.

Kau tak perlu melakukan apa-apa.

Yang penting kita bisa berkumpul bersama.

Sama Olive dan Amel.

Cepat kembali, ya, David.

Bapak tunggu.

["Sholawat Asyghil" diputar]

Gus Dur?

[selawat berlanjut]

[selawat berakhir]

Asalamualaikum, Gus.

Alaikum salam.

Kau ganteng.

Wajahmu tidak kureng.

Kenapa dipanggil Wareng?

Wajah Kureng.

[terkekeh] Namanya juga anak-anak, Gus.

Ini tempat apa, Gus?

Kok Gus Dur ada di sini?

Sekarang ini tempat tinggalku.

Aku tinggal di sini.

Enak, 'kan?

Ya, Gus.

Indah.

Kenapa kau ada di sini? Mengikutiku?

Aku…

Aku mau ikut Gus Dur.

Aku mau tinggal di sini, Gus.

Bismillahirrahmanirrahim.

[melantunkan Al-Fatihah]

Belum waktunya kau mengikutiku.

Pulang, Vid.

Bapakmu menunggumu.

[David terengah-engah]

Ayo bangun.

Sudah, sana.

Pulang ke bapakmu. Pulang sana.

[musik lembut]

David?

David?

Sus? Suster!

Sus?

[pewarta] Polda Metro Jaya mengambil alih penyelidikan kasus penganiayaan

David Ozora yang dilakukan oleh anak mantan oknum pejabat negara.

Para pelaku akan menjalani proses…

Hari ini kami akan mengumumkan status MD yang naik menjadi tersangka.

Bersama SL, satu terduga lainnya.

Untuk saksi anak, AG, saat ini statusnya masih sebagai saksi.

Kami dari pihak kepolisian akan melakukan proses ini secara transparan

dan tentunya sesuai dengan proses hukum yang berlaku dan alat bukti yang ada.

David, bisa lihat senterku?

David.

Ini Bapak.

Bapak di sini.

Pelan-pelan, ya, Pak.

David sudah koma 20 hari.

Dia masih butuh waktu untuk mengembalikan kesadarannya.

[pintu dibuka]

Dok…

Ya, Pak?

Dengan kondisi David yang seperti sekarang,

adakah kesempatan untuknya?

Aku belum berani janji apa-apa.

Tapi seperti perkataanku kemarin, selalu ada kemungkinan, meski kecil,

David akan pulih dan kembali seperti semula.

- Alhamdulillah. Terima kasih, Dok. - Ya? Sama-sama.

[pewarta] Tersangka dalam kasus penganiayaan David Ozora,

yaitu Mario Dennis Saputro, sekali lagi menarik perhatian.

Dalam sebuah video yang beredar

terlihat Mario Dennis bisa memasang borgol kabel ties sendiri.

Peristiwa ini pun membuat keluarga korban dan warga geram.

Wah. Halo, Ki.

- Jo. - Halo.

Coba baca dulu.

Jo, LPSK mau menghitung berapa restitusi yang akan kita tuntut.

Tidak. Tidak ada yang namanya restitusi.

Mas, duduk dulu.

- Dengar Mbak Amel dulu. - Aku tak mau berdamai dengan mereka.

- Kita dengar dulu. - Aku tak mau dapat duit mereka. Haram.

Ini bukan untukmu. Ini untuk David.

Restitusi itu ganti rugi materil yang laik didapatkan korban.

Tidak ada hubungannya dengan jalan damai.

Tuntutan hukum dan penjara tetap akan dijalani.

Nyawa David tak ada nilainya.

Aku mengerti, tapi ini bukan hakmu untuk memutuskan.

Bukan kau yang dipukuli.

Restitusi itu haknya David untuk semua yang telah dia alami.

Ini penggantian untuk kerugian fisik dan mental David.

Ya, Mas.

Mbak Mel benar.

Bukan artinya kita hargai David dengan uang. Tapi ini hak dia.

Ya?

Oke, Jo?

Aku ikut saja.

[musik muram]

[ponsel berdering]

Anak ini berbohong.

Ada fakta yang tidak ketemu.

Pak.

- Tunggu sebentar, ya, Bu. - Mau tanya saja, Pak…

- Aku Rudi. - Aku Mellisa.

Saat balik, hanya Renjiro sendiri saja, ya, Pi?

Ya. Kita hafal anak kita seperti apa. Jadi, kupikir, ada apa ini?

Begitu aku lihat, David sudah babak belur.

♪ Hidup 'tuk sementara ♪

♪ Tak tergapai ♪

[warga mencemooh]

♪ Mengapa kita ♪

♪ Hidup untuk tersiksa ♪

♪ Jejak hitammu tak terhapus ♪

♪ Hidup 'tuk sementara ♪

David, sedikit lagi.

Ya… [terkekeh]

Hebat.

Sudah sampai!

Aku kesal.

Istriku diperlakukan seperti itu membuatku kesal.

Ini 'kan anak penguasa Jaksel.

- Ini dia yang mengaku penguasa Jaksel. - [Rajasa tertawa di video]

Nah, lihat itu.

[Rajasa bernyanyi] Akulah si monster itu

Siapa yang bisa kalahkan aku?

Pede banget lagi.

Tapi kita tetap tidak boleh meremehkan mereka.

Apa pun bisa terjadi.

Bagaimanapun juga, orang tua Terdakwa

berpengaruh di Jakarta Selatan.

Aku tidak takut.

Insyaallah Penguasa yang sebenarnya ada bersama kita.

Kita bisa menang, Jo.

Tapi kau harus ikuti semua rencanaku, ya?

[pria] Hakim memasuki ruang sidang.

Silakan duduk.

Sidang dibuka

dan tertutup untuk umum.

[pria] Mohon izin, Yang Mulia.

Kami menolak kehadiran pengacara Korban

karena korban sudah ditemani oleh Jaksa Penuntut.

Mana pengacara Korban?

Pihak anak berkonflik hukum menolak kehadiran Anda sebagai pengacara Korban.

[Mellisa] Mohon izin, Yang Mulia.

Menurut Undang-Undang Peradilan Pidana Anak,

kuasa hukum Anak Korban berhak untuk mewakili kepentingan Anak Korban

dalam setiap tahap persidangan.

Terlebih lagi, Anak Korban hingga saat ini masih belum berdaya, Yang Mulia.

Sehingga keberatan dari pengacara Anak Berkonflik Hukum

tidak berdasar dan mengada-ada.

Keberatan ditolak. Kita lanjutkan sidang.

Saudara Terdakwa Dennis.

Tolong ceritakan bagaimana kejadian pada malam tanggal 20 Februari 2023.

[menghela napas]

[musik rock diputar]

[Sam] Katamu dipaksa.

Dipaksa bagaimana?

Yah…

Tanganku ditarik,

padahal aku sudah memohon.

Tapi dia malah meraba-raba.

[Sam] Benar, itu orangnya.

Lebih baik kuhajar daripada kulaporkan, 'kan?

Kau benar.

Apa yang harus kulakukan? Ikut memukuli?

Tidak usah. Kau rekam saja.

Kuhajar sendiri juga habis dia.

- Si anjing. - Ya sudah. Mana ponselmu?

Duduk.

Sudah, kau duduk.

Kau tahu, 'kan, aku pacarnya Astrid?

Aku tidak mau tahu.

Sudah bukan urusanku.

Aku pacarnya Astrid,

jadi, kau jangan macam-macam denganku.

Mengerti?

- Mengerti tidak? - Ya, Den.

Sam, ambilkan becengku.

Kokang sekalian.

Pistol Dennis.

Di kaki.

Pistol?

Pistol?

Kau yakin, David?

Ya.

Lalu, ditaruh di mana pistolnya? Ingat tidak?

Kayaknya di mobil.

Jangan-jangan itu yang membuat mereka bersikeras mengamankan mobil.

[musik meresahkan]

Ya.

Kau yakin?

Bang, izin. David cerita katanya ada pistol.

Yang Mulia.

Seperti yang kita lihat, tidak ada bukti senjata apa pun.

Apalagi senjata api seperti yang dituduhkan oleh pihak Jaksa.

Bagaimana, Jaksa? Ada tanggapan?

Cukup, Yang Mulia.

Baik.

[wartawan] Tapi, Mbak, aku lihat di CCTV tidak ada senjata api.

Tidak terlihat di CCTV bukan berarti tak ada di sana.

Semua mengindikasikan kalau senjata itu ada.

Dari fakta yang terungkap,

pelaku berusaha mengeluarkan mobil dari TKP, tapi tidak berhasil.

Justru ketika di polsek, mobil itu bisa keluar, ini ada apa?

Itu barang bukti. Apa yang ditutupi?

Termasuk ancaman penembakan yang diterima Korban. Semua ada buktinya.

Tapi kelanjutan sidangnya bagaimana, Mbak?

[hakim] Lalu, bagaimana kelanjutannya?

[Dennis] Kau bilang kepadaku, kau tak melakukan apa-apa kepada Astrid.

Tapi Astrid bilang, kau memaksanya untuk bersetubuh denganmu.

Apa maksudnya itu?

Tidak, Den. Aku tak melakukan apa-apa.

Lalu, apa maksudnya?

Pacarku bohong? Astrid bohong kepadaku?

- Ayo duel. Satu lawan satu. Ayo! - Aku takut.

Seharusnya kau pikirkan itu sebelum aneh-aneh sama Astrid.

Sekarang kau push-up. Push-up!

Push-up!

[musik meresahkan]

- Kalau sakit, tak usah dikepal. - Diam kau, anjing!

[David terengah-engah]

Kepalkan.

[mengerang]

Bagaimana caranya Astrid masih mau denganmu?

- Kau lemah begini. Lemah! - [Sam] Den, sekuriti.

- Bangun. - Berdiri.

Sedang apa ini?

Biasa, Pak, COD-an. Itu, rumah yang ada mobilnya.

Oh…

- Oke. - Ya. Terima kasih, ya, Pak.

Ya.

Tobat kau kepadaku.

Tobat!

Aku tidak paham, Den.

Contohkan.

Begini caranya tobat.

Tobat.

[mengerang]

[David mengerang kesakitan]

Berdiri.

Kau tahu plank?

Tahu, 'kan?

Kau plank sekarang.

Plank.

Hei.

Lihatlah.

Rekam, Sam.

[mengerang]

[David tercekat]

Itu gara-gara kau main sama cewekku, anjing!

[David tercekat]

Sudah seperti bermain bola.

Tendangan bebas kali, ya?

Tendangan bebas!

[David tercekat]

[berseru]

Anjing!

[Astrid] Sam.

Sam, hentikan.

Sam.

Sam, cepat!

[Sam] Sudah, Den. Sudah.

[Dennis] Sudah apa?

Kenapa kau menahanku?

Kau pikir aku takut jika anak orang mati?

Kau pikir aku takut sama polisi? Lapor, anjing!

Lapor!

Masa bodoh! Laporkan saja!

- Mau apa kau? - Sudah!

[Natalia] Hei!

Apakah Terdakwa Sam berusaha menghentikan atau melerai?

Aku di sana masih emosi, Yang Mulia.

Kalau dia tidak meleraiku,

masih akan kuhajar lagi.

Oh… Jadi, kau masih punya keinginan untuk menghajar lagi?

Bukan keinginan, Yang Mulia.

Tapi aku masih dalam kondisi emosi.

Ya, emosi.

Kalau tidak ada teriakan itu…

Bukan, Yang Mulia.

Dia mendorongku, Yang Mulia.

Dia bilang, "Den, sudah."

Kalau dia tidak seperti itu, maka akan kuhajar terus.

Lalu, tujuannya untuk apa?

Mau bikin dia mati atau bagaimana?

Bukan, Yang Mulia. Itu…

Karena emosi, aku tak lihat kondisinya.

Kau yang melakukan itu. Seharusnya kau tahu kondisinya.

Dia sudah lelah kau suruh push-up.

- Pakai tobat segala, 'kan? - Pada saat itu, aku tidak…

Kau diam dulu.

Kau diam.

Siap.

Kau bilang kau masih emosi.

Lalu, sudah dilerai sama Terdakwa Sam.

Kalau kau benar-benar ingin mengklarifikasi,

seharusnya pemukulan itu tidak terjadi.

Lalu, apa niatmu? Supaya dia mati?

Bukan, Yang Mulia. 'Kan sudah kujelaskan kalau…

Dia sudah tidak berdaya lagi.

Kau datang ke sana untuk klarifikasi soal pelecehan, 'kan?

- Kau tanya tidak kepadanya? - Aku tanya.

Dia bilang dia tidak tahu. Mustahil dia tak tahu.

Artinya, kau ambil kesimpulan sendiri.

Kau berasumsi sendiri.

Jika memang tak melakukannya, kenapa dia harus mengaku?

Kau juga tak lihat secara langsung, 'kan? Benar, 'kan?

- [pria] Saksi Natalia. - Ya?

Bisa saja Ibu salah lihat apa yang terjadi malam itu

karena posisi Ibu cukup jauh.

Tidak, Pak.

Aku melihat dari balkon lantai dua rumahku.

Di jalanan pun ada lampu yang membuat semua kejadian terlihat sangat jelas.

Ya. Jadi, aku dan Rasyid yang membawa David ke rumah sakit.

Lalu, selama di mobil, aku terus memanggil nama David.

"David."

Aku cemas anak itu makin parah.

Dia juga terus keluar darah dari mulut, hidung, dan kuping.

Pak, kepalanya.

Pelan-pelan, Pak.

David. Ini Om Rudi.

Mami tunggu di sini, ya.

Tidak ada satu helai rambut pun keluar dari kompleks ini.

[musik menegangkan]

Asum, jaga mereka bertiga. Tidak ada yang boleh pergi dari sini.

Baik, Bu.

Saat David tiba di RS Yudhistira Hospital, tingkat kesadarannya ada di level 3,

atau dalam kondisi koma.

Setelah kami melakukan serangkaian tes dan CT scan,

David mengalami diffuse axonal injury.

Cedera traumatis pada otak yang disebabkan oleh benturan keras benda tumpul

yang bisa mengakibatkan kecacatan hingga kematian.

Apakah David bisa kembali pulih seperti sebelumnya?

Secara fisik, ya.

Secara mental, David akan mundur sekitar delapan tahun.

[musik muram]

Kalau ada…

satu hari

yang tidak ingin terjadi…

aku akan memilih tanggal

20 Februari 2023.

Hari saat ditentukan kepadaku…

yang hampir kehilangan anakku,

Crystalino David Ozora.

- [musik muram] - [Jonathan terisak-isak]

Hari ketika…

karena sebuah kearoganan…

yang dilakukan oleh Terdakwa Dennis…

Sam…

dan juga Astrid…

Mereka hampir mengorbankan sebuah nyawa.

Nyawa yang mereka tukar dengan kepuasan semata.

Aku membesarkan David, anakku…

untuk menjadi anak yang tidak pernah menyakiti orang lain..

Hancur rasanya melihat mereka dengan mudahnya menyakiti David.

Tapi hari ini,

Dennis yang berbalik harus berhadapan dengan konsekuensinya.

Bukan hanya dengan para hakim, denganku,

tapi dengan seluruh masyarakat Indonesia yang mendukung David.

Para Hakim yang terhormat,

pada saat ini,

anakku, David, sedang berjuang untuk mengembalikan kondisinya.

Aku berharap perjuangan ini juga dilakukan di tempat ini

dengan memberikan hukuman yang setimpal kepada para terdakwa.

Hukuman yang bukan hanya konsekuensi untuk Dennis…

tapi sebagai bentuk tonggak perjuangan

bahwa keadilan tidak mati.

Bahwa keadilan tidak akan kalah di tangan penguasa zalim.

Termasuk dia.

Si Penguasa Jaksel.

[musik meresahkan]

- Mohon izin, Yang Mulia. - Ya.

Saudara Saksi Jonathan…

Melihat penampilanmu,

pastinya memiliki masa lalu yang…

tak seperti orang tua pada umumnya.

Nah, sebagai orang tua,

bagaimana kau mendidik anakmu?

Aku membesarkan dua anakku dari bayi seorang diri.

Tanpa kehadiran ibunya.

David sudah masuk pesantren dengan kurikulum internasional.

Aku yakin kemampuan bahasa asing David melebihi kemampuan bahasa asing anakmu.

David masuk SMK Pangudi Luhur pada gelombang pertama…

artinya dia diterima karena kemampuan akademisnya.

Dia anak yang cerdas.

Aku tak pernah mendidik anakku

untuk diancam,

diinjak-injak,

dan dianiaya.

Yang seharusnya Bapak tanyakan,

bagaimana Bapak Rajasa Anum, yang kau wakilkan,

mendidik anaknya untuk menganiaya anak di bawah umur.

Memukul, menendang…

menginjak batang leher anak yang sudah bersimbah darah di aspal.

[orang-orang berseru]

[hakim] Hei, tenang.

[ketukan palu]

Ada pertanyaan lagi?

Tidak ada, Yang Mulia.

Cukup dariku.

[musik muram]

- Ki. - Ya.

Oke, Jo.

- Alhamdulillah, ya. - Alhamdulillah.

Mas…

Om Jo. [terisak-isak]

Om Jo.

Om Jo, aku minta maaf.

Aku benar-benar minta maaf, Om.

- Aku minta maaf. - Sudah.

- Sudah. - Om Jo…

Kau pertanggungjawabkan saja di hadapan hukum. Oke?

- Om Jo, aku minta maaf. - [Mellisa] Sudah. Kita pergi saja.

Om… Om Jo!

Om Jo.

Aku tak bersalah.

[hakim] …menyatakan Astrid Gregorius, alias Astrid,

terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana.

Pengadilan memutuskan dan menjatuhkan pidana kepada Anak

dengan pidana Anak selama tiga tahun enam bulan.

[ketukan palu]

Menyatakan Terdakwa

Samuel Lucius Lutuna, alias Sam…

terbukti secara sah dan meyakinkan

bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan penganiayaan berat,

yang direncanakan lebih dahulu.

Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa

dengan pidana penjara selama lima tahun.

- [ketukan palu] - [orang-orang bersorak]

Menyatakan Terdakwa Mario Dennis Saputrio alias Dennis,

telah terbukti secara sah dan meyakinkan

bersalah melakukan tindakan penganiayaan berat

yang telah direncanakan.

Menjatuhkan pidana penjara

kepada Terdakwa Mario Dennis Saputro, alias Dennis,

dengan pidana penjara selama 12 tahun.

Membebani Terdakwa Mario Dennis Saputro, alias Dennis,

untuk membayar restitusi kepada Anak Korban

Crystalino David Ozora, alias Wareng,

sebesar 25 miliar

140 juta

161.900 rupiah.

- [ketukan palu] - [orang-orang bersorak]

[pria] Mantap!

[musik muram memudar]

Sebentar. Ayo senyum.

Bapak mau mengabari ibu-ibu online-mu.

[terkekeh]

David sudah membaik. Sudah boleh pulang.

Cakep.

- Wah… - [ketukan pintu]

Masuk.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Lihat itu, ada siapa.

- Hai. - Halo.

Amel. Ini Olive. Kau kangen Kakak, 'kan?

- [Olive terkekeh] - Itu Kakak.

Lucu banget.

Aku mau kabari.

Olive.

[terkekeh]

Kak, sudah enakan?

Atau masih pusing?

Pusing dengar kau bicara.

Hei!

- Artinya, dia sudah sembuh. - [terkekeh]

Tidak enak ini. Godaanmu kurang mantap.

Jawabnya singkat-singkat.

[David terbatuk]

Minum, David.

Lagi?

Terima kasih, Ma.

[musik lembut]

Sama-sama.

Makanya, pelan-pelan.

[terkekeh]

Dia panggil "mama".

- Aduh… - Sungguh?

- Tidak sakit. - [terkekeh]

Ya…

Aku butuh bantuan untuk biaya pengobatan David.

[pria] Siap, Jo. Nanti kutransfer.

Nanti kukabari teman-teman juga, ya.

Terima kasih, ya.

Santai, Jo. Kau pasti juga akan melakukan hal yang sama untuk yang lain.

Omong-omong, bagaimana dengan para pejabat yang pada pansos?

Katanya mau membiayai?

[terkekeh]

Tidak ada. Tidak ada sepeser pun.

Aku juga tak perlu kirim invoice, 'kan?

[pria di telepon terkekeh]

Sudah, Jo, tenang. Dari kami saja yang peduli sama David.

Insyaallah cukup.

Terima kasih.

[pewarta] Pemirsa, proses penyidikan kasus gratifikasi

yang melibatkan mantan pejabat negara, Rajasa Anum, terus dilakukan.

KPK hari ini menetapkan Rajasa Anum sebagai tersangka.

Sementara itu, KPK menemukan tindak korupsi dan pencucian uang

yang dilakukannya dan diduga mencapai ratusan miliar rupiah.

Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Rajasa Anum

dengan pidana penjara selama 14 tahun

dan pidana denda sebesar 500 juta rupiah.

Dengan ini, kami nyatakan sidang ditutup.

[ketukan palu]

[musik penuh harapan]

Bisa.

Bang Jo.

Tapi sekarang David sudah sehat?

Yah, kalau dibilang sehat secara fisik, alhamdulillah sehat.

Oke, ini pertanyaan terakhirku, Bang Jo. Pertanyaan terakhir.

Kau boleh jawab atau tidak.

Apa kau bisa memaafkan dan mengikhlaskan kejadian ini?

[terkekeh]

[menghela napas]

Ya Allah, aku tak tahu bagaimana harus bersyukur.

Nikmat dan mukjizat-Mu terlalu besar untuk orang-orang penuh dosa seperti kami.

Ampuni kami, Ya Allah.

Berikan kami kelapangan hati

untuk menerima kadar dan apa pun yang telah Kau tuliskan untuk kami.

[musik lembut]

David.

[David] Pak, kata pelatih selamnya, aku cepat banget.

Cuma tiga bulan, padahal yang lainnya sembilan bulan.

Mana? Coba, Bapak mau lihat.

Nanti kukirimkan, ya.

Di mana Mama dan Olive?

- Ini - David? David! Hai!

Halo.

Kau lagi butuh apa?

Kabari, ya. Nanti Mama kirimkan.

Ya, Ma. Mama masak, ya?

Aku kangen makan bareng.

Minggu depan, ya? Kita mau ke Bali.

- Lo? Lihat, 'kan? - Bali?

- 'Kan kejutan. - Gagal kejutannya.

Oh, ya. Yah, maaf…

Tidak apa-apa.

Bagaimana adikmu ini?

- Aku lupa. - Tak apa.

Tidak apa-apa.

- Tak apa. - Bagaimana kau di sana? Senang?

- Senang banget, Pak. - Alhamdulillah.

Pak…

Terima kasih, ya, tidak pernah putus harapan sama aku.

Ya, David.

Sebagai manusia, kita cuma bisa berharap dan yakin.

Bapak yakin waktu itu kau bisa melewati ini semua.

Kau pasti kuat.

Itu juga seizin Allah.

Sesuai namamu, 'kan? Ozora.

Ya.

Ini juga Ozora namanya.

- Ya. - Artinya apa?

Ozora artinya…

- [David dan Olive] Kekuatan Tuhan! - [Jonathan terkekeh]

- Hore! - Dah, Semua!

["Gelap Gempita" oleh Sukatani diputar]

♪ Di dalam otak mereka ♪

♪ Hanyalah kekuasaan ♪

♪ Di dalam hati mereka ♪

♪ Tak ada kepuasan ♪

♪ Di dalam cara mereka ♪

♪ Terpampang kedzaliman ♪

♪ Di dalam harap mereka ♪

♪ Cahaya kemenangan ♪

♪ Di dalam otak mereka ♪

♪ Hanyalah kekuasaan ♪

♪ Di dalam hati mereka ♪

♪ Tak ada kepuasan ♪

♪ Di dalam cara mereka ♪

♪ Terpampang kedzaliman ♪

♪ Di dalam harap mereka ♪

♪ Cahaya kemenangan ♪

♪ Di dalam otak mereka ♪

♪ Hanyalah kekuasaan ♪

♪ Di dalam hati mereka ♪

♪ Tak ada kepuasan ♪

♪ Di dalam cara mereka ♪

♪ Terpampang kedzaliman ♪

♪ Di dalam harap mereka ♪

[Chicco] Jadi, saat kau melangkah…

Bung Chicco, bagaimana kabarnya?

Bung Jo, kabar baik.

Lihatlah progresnya David.

Terima kasih sudah membantu progresnya David menjadi seperti ini.

Aman. Yang penting dia sehat.

- Ya sudah. Aku lanjut latihan. - Oke.

- Kalau mau di sini tak apa-apa. - Tak apa-apa. Aku di luar saja.

- David, Bapak di luar, ya. - Ya, Pak.

Lanjutkan, David.

♪ Di dalam otak mereka ♪

♪ Hanyalah kekuasaan ♪

♪ Di dalam hati mereka ♪

♪ Tak ada kepuasan ♪

♪ Di dalam cara mereka ♪

♪ Terpampang kedzaliman ♪

♪ Di dalam harap mereka ♪

♪ Cahaya kemenangan ♪

[musik memudar]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.