All language subtitles for Herman 2025 1080p WEBRip x264 AAC5 1

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ada kegelapan di sini.

Menghantuiku.

Mengubahku.

Aku takut...

akan jadi apa aku nanti.

Alice.

Tidak! Ooh! Ah!

Ia memanggilku.

Selalu lebih buruk saat badai datang.

Satu lagi malam yang hangat.

Satu lagi makanan yang lezat.

Kesepian sekali di sini.

Mencari Tuhan yang tak pernah kupercayai.

Ia selalu berharap aku percaya.

Sudah 40 tahun lamanya...

sejak ia merenggutnya dariku.

Kuberharap bisa melihatnya untuk terakhir kali.

Sosok aslinya.

Bukan tipu daya jahat ini.

Tapi itu hanya dongeng.

Realitaku adalah kegelapan.

Penderitaan.

Suara itu.

Dan aku tak tahan lagi.

Aku harus mengakhirinya...

sebelum semuanya terlambat.

Hanya ada satu jalan keluar.

Tuhan, kasihanilah aku.

♪ Memang harus dirimu ♪

Aku tahu, Sayang.

Aku takkan melupakan hal seperti itu.

Hanya kau yang mengerti diriku.

Satu-satunya...

yang tak menganggapku sebagai semacam...

Entahlah.

Apa jadinya aku tanpamu.

♪ Tak ada orang lain yang membuatku berdebar ♪

Kau koki yang hebat.

♪ Harus dirimu ♪

-♪ Dirimu yang hebat ♪ -♪ Dirimu yang hebat ♪

-♪ Memang harus dirimu ♪ -♪ Memang harus dirimu ♪

Apa maksudmu?

Entah apa lagi yang bisa kulakukan untukmu.

Entah bagaimana lagi cara menemanimu.

Apa lagi yang kau mau dariku?

Aku tidak cemburu.

Setidaknya aku mencoba tidak cemburu.

Hanya terlalu banyak pikiran saja.

Ketika orang benar berseru minta tolong,

Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakan.

Tuhan itu dekat kepada

orang-orang yang patah hati, dan menyalamatkan yang remuk jiwanya.

Banyak kemal--

Herman.

- Siapa di sana? - Suster Mary dan Suster Josephine dari biara.

Maaf mengganggu Anda, tapi

listrik kami padam saat pemanas mati.

Tolong, boleh kami masuk?

Di luar sangat dingin dan badai.

Terima kasih.

Baiklah. Terima kasih.

Terima kasih.

Baik.

Ini untuk Anda.

Sekarang sudah hangat.

Anda baik sekali mau menampung kami.

Suster Josephine tidak tahan dingin terlalu lama

dengan kondisinya saat ini.

Apa kondisinya?

Penglihatannya sudah kabur dan dia sering kebingungan

beberapa bulan terakhir.

Begini, tempat ini tidak luas dan

aku sedang punya banyak urusan.

Saya sangat mengerti,

dan janji kami akan pergi setelah badainya reda.

Ya ampun.

Tahu tidak, aku...

Aku tidak seharusnya menerima tamu.

Benar.

Anda telah mengambil sumpah kesunyian.

Kau mengenalku?

Tentu saja. Kami mendoakan Anda.

Seharusnya kalian tidak di sini.

Saya tahu, dan...

Janji, kami tidak akan datang jika tidak terpaksa.

Saya hanya tahu Anda punya perapian yang menyala dan...

ᴹʸᴹᵃᵈ ᵃᵏᵃ ᵐᵃᵐᵃᵈ¹⁹⁸⁷

Hanya sampai listrik kami kembali menyala.

Menurutmu kapan itu terjadi?

Segera.

Kami harap begitu.

Baunya enak.

Apa Anda sedang memasak?

Takkan kubiarkan kau merenggutnya dariku.

Tidak kali ini.

Apa semuanya baik-baik saja?

Ya. Aku segera ke sana.

Wah. Ini lezat sekali.

Ini sup kelinci, kan?

Aku suka sup kelinci.

Ini hidangan yang mewah.

Apa Anda sering memasak ini?

Hanya di saat-saat langka.

Acara apa itu?

Apa Anda sedang merayakan sesuatu?

Tidak juga.

Apa semua baik-baik saja?

Dengar, jika kalian ingin tetap di sini...

Aku lebih suka...

dan kupikir lebih baik...

jika kita tidak saling mengganggu.

Ini bukan masalah pribadi.

Aku hanya terkesan dengan masakannya.

Maksudku, siapa yang mengajari Anda memasak seperti ini?

Koki yang hebat.

Ada apa?

Oh, tidak apa-apa.

Anda mengingatkanku pada seseorang.

Kuharap itu pertanda baik.

Jika boleh bertanya...

apa yang membuat Anda ke sini?

Bukan hal sepele memilih untuk hidup menyendiri.

Dia tidak sendirian.

Maaf. Apa katanya tadi?

Terkadang Suster Josephine asal bicara.

Ia ada di sini bersamamu.

Apa yang ada di sini?

Kegelapan.

Kau sudah melihatnya?

Ia tak bisa dilihat.

Ia hanya bisa menunjukkan.

Menunjukkan apa?

- Rasa sakit. - Baiklah, sebaiknya kita...

Tidak. Bagaimana dia bisa tahu?

Seperti Sisifus...

mendorong batu ke puncak gunung...

lalu jatuh tergelincir...

lagi dan lagi...

selamanya.

Kurasa penglihatan Suster Josephine baik-baik saja.

Yesus berkata, barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan.

Tuhan menempatkan kita di sini, di dalam kegelapan.

Kenapa? Untuk melihatku menderita?

Herman, jika Anda menderita...

kami ada untuk Anda.

Anda tidak tahu...

apa yang kalian hadapi.

Mungkin tidak, tapi saya tidak takut.

Seharusnya Anda takut.

Ia akan merenggut semua yang Anda cintai.

Apa yang ia renggut darimu?

Semuanya.

Maaf.

Semua ini akan segera berakhir.

Kegelapan tak bisa dihindari.

Kau harus...

melewati kegelapan itu,

atau kehadirannya akan terus menetap di sini.

Aku sudah mencoba.

Aku sudah mencoba.

Ini lebih buruk daripada mati.

Di sisi lain kegelapan,

ada cahaya.

Mungkin Suster Josephine benar tentang satu hal.

Mungkin kita di sini karena suatu alasan.

Mungkin kami bisa membantumu.

Aku tidak butuh bantuan.

Aku tidak ingin berada di sini lagi.

Lalu kau ingin berada di mana?

Bersamanya.

Siapa dia?

Apa kau pernah menikah?

Kalian harus pergi dari sini.

Di sini tidak aman.

Kenapa tidak aman?

Suster Mary, Anda tidak mengerti.

Ia akan menulari kalian.

Ia perlahan menyerang pikiranmu. Membuatmu memikirkan banyak hal.

Ia membuatmu melihat sesuatu, dan...

membuatmu merasakan sesuatu.

Hal-hal mengerikan.

Seperti apa?

Cepatlah, selagi kalian masih bisa.

- Tolong jangan suruh kami keluar. - Kalian harus pergi dari sini!

Percayalah padaku. Kalian tidak ingin...

Tidak apa-apa, Herman. Tuhan akan melindungi kami.

Kami harus tetap di sini.

Kami harus.

Kalian membuat kesalahan besar.

Apa suasananya jadi lebih gelap?

Ya.

Keadaan hanya akan memburuk.

Tidak harus memburuk.

Anda tidak tahu apa yang Anda bicarakan.

Kupikir Anda sudah terlalu lama sendiri, Herman.

Tapi tak apa-apa. Kami di sini sekarang.

Apa ada orang lain yang peduli padamu?

Tidak ada lagi.

Tadi itu istrimu, kan?

Anda pasti sangat mencintainya.

Seperti apa sosoknya?

Aku turut sedih, Herman, atas apa pun yang sedang kau lalui saat ini.

Namun ketahuilah bahwa kau dicintai.

Tuhan sungguh mencintaimu.

Ia terlalu baik untukku, dan ia menyadarinya.

Itu tidak mungkin benar.

Ia meninggalkanku...

demi pria lain.

Aku turut menyesal.

Apa pengampunan yang sedang kau cari?

Apa maksudmu?

Apa kau menyakiti seseorang?

Hentikan.

Apa itu alasanmu bersembunyi sendirian di hutan ini?

Hentikan! Kubilang hentikan!

Maafkan aku.

* Hanya saja... * Hanya saja apa?

Ia membuatmu melakukannya. Ia tahu segalanya.

Tak ada yang memaksaku melakukan apa pun.

Aku ingin membantumu. Aku ingin menolongmu.

Aku tahu kau terluka.

Tak ada yang bisa dilakukan siapa pun untukku.

Hanya kau yang bisa menolong dirimu.

Aku akan merasa tenang jika tahu kau takkan menyakiti dirimu, Herman.

Yah...

kalian datang di waktu yang salah.

Dengar.

Aku tidak mendengar apa-apa.

Ia di sini.

Herman, jangan.

Itu tidak nyata.

Kau tidak nyata!

Keparat kau!

Apa yang kau lakukan?

Aku melihatnya.

Maksudku, kupikir aku...

* Maafkan aku. * Tidak apa-apa.

* Aku sudah mencoba memperingatkanmu. * Tak apa. Tak apa.

Aku tahu itu ketidaksengajaan. Badai ini...

membuat kita semua sedikit kehilangan akal.

Aku tahu kau takkan menyakitiku.

Kuharap aku bisa seyakin itu.

Ini harus berakhir sekarang.

Mau ke mana kau?

Herman, kumohon. Semuanya baik-baik saja!

Aku tahu itu tadi kecelakaan.

Herman, kumohon. Turunlah ke sini dan bicara pada kami!

* Ada orang di pintu. * Tidak!

Abaikan saja.

Aku akan membukanya.

Pasti seseorang dari biara.

Jangan, jangan dijawab.

Ini tipu muslihat. Begitulah cara kerjanya.

Mana mungkin ini tipuan?

Apa Anda belum kapok juga?

Setidaknya kita harus melihatnya.

Kita tidak harus mengizinkan mereka masuk.

Halo?

Ada orang di sana?

- Jangan. Jangan. - Aku perlu meminjam telepon.

Kumohon, Herman. Seseorang butuh bantuan kita.

Hei, maaf sekali mengganggu Anda.

Aku baru saja mendaki, dan sekarang semua peralatanku basah kuyup.

Bolehkah aku meminjam telepon?

Tidak. Maaf. Kau harus pergi.

Herman, jangan kasar begitu. Dia tampak tidak berbahaya bagiku.

Aku janji aku tidak berbahaya.

Boleh aku meminjam telepon?

Terima kasih.

Terima kasih. Terima kasih banyak.

Di sini nyaman dan hangat.

Hai. Aku... aku James.

Aku Suster Mary.

Ini Suster Josephine...

dan Herman, pemilik pondok ini.

Baiklah, Herman si pemilik pondok,

aku berterima kasih kau membawaku keluar dari hujan deras itu.

Astaga, di luar dingin sekali.

Maaf.

Tolong jaga ucapanmu.

Oh, maafkan saya, para Suster.

Aku tidak bermaksud apa-apa.

Aku hanya bukan tipe orang religius.

Tidak apa-apa.

Tapi aku mau belajar, jadi kenapa tidak?

Aku selalu senang berbagi firman Tuhan...

bagi mereka yang mau mendengarkan.

Anda baik sekali.

Wah. Kalian sungguh luar biasa, ya?

Begini, James...

teleponnya ada di dapur.

- Silakan memakainya. - Baik, baik.

Sebelum kau melanjutkan perjalananmu.

Ya, aku butuh waktu sebentar untuk...

menghangatkan diri dan menelepon.

Dia hanya berjarak beberapa jam dengan mobil.

Beberapa jam?

Setidaknya ada nada sambung.

Hei, Sayang.

Aku bisa sampai di sana besok.

Aku pastikan untuk tiba tepat waktu.

Ada kabar baik.

Temanku sedang dalam perjalanan,

tapi dia bilang jalan utamanya ditutup,

jadi dia butuh waktu agak lama untuk sampai.

Tapi dia menitipkan pesan,

untuk kalian semua,

terima kasih banyak sudah...

menampung dan menjagaku tetap hangat sampai dia tiba.

Dengar, aku tidak bermaksud kasar, tapi...

Apa yang akan Yesus lakukan, Herman?

- Yang benar saja? - Aku yakin Dia akan mengizinkanku tinggal.

Oh, baiklah. Kalau begitu.

Kurasa kami tak bisa membiarkanmu di luar.

Herman, sikapmu sangat mulia, aku menghargai itu.

Maksudku, membiarkan orang asing masuk ke rumahmu.

Aku sangat menghargainya.

Tiba-tiba saja kau jadi orang religius.

Aku hanya mengikuti arus.

Lagipula, aku memang menantikan...

akhir pekan yang menyenangkan.

Apa kau sering berkemah sendirian?

Sesekali.

Aku suka waktu untuk diriku sendiri.

Itu membawamu ke sini malam ini.

- Apa? - Maksudnya...

dari semua tempat yang ada, kau memilih hutan ini.

Aku hanya mencoba untuk pulang.

Baiklah.

Kau tahu apa yang bersemayam di sini?

Sudahlah, Suster Josephine. Dia ini tamu kita.

Apa yang dia bicarakan?

Apa kau merasakannya?

Aku merasa dingin dan basah, ya.

Ada kegelapan di sini.

Apa itu lelucon tentang kulit hitam?

Kehadiran gelap mengintai di antara kita...

melampaui apa yang mata kita lihat.

Apa kalian sedang membicarakan semacam makhluk gaib di sini?

- Apa yang terjadi? - Terkadang Suster Josephine...

Tidak, tidak. Dia benar.

Dengar, tanpa bermaksud tidak sopan.

Aku tahu ada hal-hal aneh yang terjadi di sini...

di luar sana, di dalam hutan.

Tapi, kuyakinkan kalian bahwa tak ada makhluk gaib apa pun.

Ini hanya badai yang lewat, itu saja.

Dengar, kami tidak butuh kau memercayai kami,

tapi kau sudah diperingatkan.

Yah, karena kita punya banyak waktu luang,

kegelapan apa yang kalian maksud ini?

Rasanya kita sangat aman di sini.

Tapi kau tidak aman di sini.

Tak ada satu pun dari kita yang aman.

Apa aku baru saja masuk ke semacam sekte agama?

Karena aku tidak ikut-ikutan urusan klenik seperti itu.

Semakin lama kau di sini...

ia tumbuh di dalam dirimu. Ia tumbuh di dalam kita semua.

Kurasa aku akan baik-baik saja.

Dulu aku pun berpikir begitu.

Dengar, semakin lama kau tinggal, keadaannya akan semakin memburuk.

Jika aku jadi kau, aku akan menyuruh temanmu segera kemari...

secepat mungkin.

Akan kupastikan pesan itu sampai kepadanya.

Semuanya baik-baik saja, Herman.

Aku juga ada di sini.

Siapa tahu? Mungkin kita bahkan akan menikmati kebersamaan ini.

Aku tidak begitu yakin.

Ya ampun. Ini lezat sekali.

Hei, tentu. Silakan saja.

Aku menghargai itu, kawan.

Ini luar biasa.

Seharusnya kau membiarkanku menghangatkannya untukmu.

Oh tidak, tidak perlu. Begini saja sudah enak.

Tidak apa-apa.

Ya, Sayang.

Kau suka itu?

Wah. Dia cantik sekali.

Letakkan itu.

Tenang, kawan. Aku tidak sedang menidurinya.

Apa yang baru saja kau katakan?

Dengar, aku tidak mencoba mencari masalah, oke?

Kalau begitu, jangan lakukan.

Aku mengerti, sobat.

Separah itu, ya?

Tolong tinggalkan kamar tidurku.

Akan kulakukan.

Jadi... Kami berkumpul suatu malam, dan...

dia mulai bercerita padaku tentang pria ini.

Aku tidak percaya dengan semua yang dia ceritakan padaku.

Suaminya sejahat itu padanya?

Dia kasar.

Menyiksanya.

Secara fisik?

Secara mental.

Dia mengekangnya.

Kurasa bagus dia punya seseorang untuk diajak bicara.

Ya.

Sebenarnya, aku punya ide.

Lebih baik kita merayakannya, kan?

Herman, kau tidak keberatan, kan?

Sebenarnya, aku keberatan.

Aku biasanya tidak minum, tapi kurasa segelas anggur tak apa.

Kau yakin tidak mau segelas, Herman?

Tidak. Terima kasih.

Bagaimana kalau musik?

Maukah Anda memutar piringan hitam favorit Anda?

Tunggu. Dengar, dengarkan cerita ini.

Jadi, aku sedang mendaki sendirian, kan?

Lalu aku mulai mendengar suara gemerisik di belakangku.

Awalnya aku tidak berpikiran apa-apa,

jadi aku terus berjalan saja.

Lalu suaranya mulai makin keras.

Aku berhenti dan mendengarkan,

tapi tidak ada suara.

Aku mulai panik karena kupikir,

apa ini cuma halusinasiku?

- Apa aku... - Benar.

- Apa aku berhalusinasi? Seperti... - Tentu saja.

Dan kemudian, aku terus berjalan.

Lalu tiba-tiba, demi Tuhan, aku mendengar geraman rendah,

sangat dalam...

datang dari semak-semak sekitar enam meter dariku.

Saat aku semakin mendekat,

suaranya mulai makin keras dan makin keras...

sampai geraman itu terasa hanya berjarak satu setengah meter dariku.

- Apa? - Tunggu, ini makin seru.

Aku mengambil batu dari tanah sepelan mungkin...

untuk membela diri.

Lalu akhirnya, tentu saja karena aku tidak melihat ke arah itu,

aku memberanikan diri untuk berbalik dan, bum!

Tepat di sana. Seekor singa gunung.

Hanya menatapku, mengerang padaku.

Dan aku takut, kan?

Aku takut.

Tapi ini bagian terbaiknya.

Aku menatap tepat ke arah hewan ini.

- Ya. - Menatap matanya.

Lalu ia berhenti begitu saja.

- Luar biasa. - Tunggu dulu.

Ia berbalik begitu saja...

dan berjalan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

- Itu menakjubkan. - Gila sekali.

Rasanya seolah ia melihatku.

Melihat diriku yang sebenarnya.

Kau tahu?

Mungkin itu kuasa Tuhan.

Entahlah.

- Ups. - Oh! Kau mabuk.

- Tidak. - Baru segelas.

Wah, kalau begitu itu pasti anggur yang enak.

- Aku, um... - Jelas dia sudah punya orang, Suster.

Dia pelayan Tuhan.

Berhentilah mengganggunya.

Maaf, kurasa mungkin Anda salah paham.

Apa maksudmu?

Aku telah mengabdi pada gereja.

Dengar, aku hanya mencoba bersikap ramah, itu saja.

♪ Dengan segala kekuranganmu, aku tetap ♪ ♪ mencintaimu. Memang harus dirimu ♪

Kau benar.

Aku minta maaf.

Apa komitmen tidak berarti apa-apa bagimu?

♪ Memang harus dirimu ♪

Maafkan aku.

Kurasa temanmu seharusnya sudah sampai sebentar lagi.

Temanku?

Sudah berjam-jam.

Apa yang terjadi?

Itu ulahnya.

Saat dia tahu aku bersamanya...

Aku bahkan tak sanggup mengucapkannya.

Apa yang terjadi?

Dia sudah mati.

Siapa yang mati?

Seharusnya aku melakukan sesuatu.

Seharusnya aku menyelamatkannya. Seharusnya aku berbuat sesuatu!

Kau tak boleh di sini.

- Keluar dari rumahku! - Aku takkan pergi ke mana pun!

Kumohon, Herman. Aku ingin James tetap di sini.

Dia terikat padamu.

Begitu juga kami.

Kegelapan membawa kita ke sini. Tak ada gunanya melawan.

Cukup soal kegelapan itu.

Tak ada gunanya melawan.

Omong kosong. Semuanya.

Tak ada Tuhan. Tak ada iblis. Tak ada...

tak ada semua itu.

Rasa takutlah yang mengendalikan kalian.

Bukan semacam makhluk gaib...

Apa ada yang melihatmu di hutan?

Apa ada orang lain yang tahu kita di sini?

Tidak.

Aku sendirian.

Haruskah kita membukanya?

Jangan, jangan buka pintunya.

Jangan buka pintunya!

Aku takut.

Tinggalkan kami! Pergi sana!

Kurasa ia sudah pergi.

Ia tak pernah pergi.

Dengar, itu bukan apa-apa. Tak ada apa pun di luar sana.

Aku bisa melindungi kalian. Jangan khawatir.

Ia datang dalam banyak wujud.

Aku akan membuka pintunya.

Kumohon jangan.

Mungkin itu hanya dahan yang membentur pintu.

Itu bukan dahan.

Lihat, tidak ada apa-apa di luar sana.

Puas?

Apa itu?

Oh, tidak. Oh, tidak.

- Kita harus menolongnya. - Tolong aku. Aku sekarat.

- Kita harus menolongnya, Herman! - Jangan, jangan. - Apa kau sudah gila?

- Kita tak boleh membiarkannya masuk. - Dia terluka.

- Ini tidak seperti kelihatannya. - Kita perlu menolongnya.

- Aku takkan duduk diam di sini melihat seseorang mati! - Tak ada yang bisa kita lakukan.

Cepat tolong dia. Cepat, cepat!

Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi padamu?

Ia di sini.

Apa yang di sini? Apa yang kau bicarakan?

Kegelapan itu.

Tenanglah. Kau baik-baik saja?

Sini, biar kubantu.

Tolong aku! Tolong aku!

Tenanglah. Ayo. Mari bawa dia ke dalam!

Nah, begini.

Sini, duduklah. Ayo.

Bagus. Bagus.

Baiklah.

- Oke. - Oke. Ini dia.

- Bagaimana? - Sempurna. Terima kasih.

Jangan, jangan, jangan.

Ada yang tidak beres.

- Ini tipuan. - Semuanya baik-baik saja.

Dia butuh bantuan kita.

Kau baik-baik saja, Bung?

Sepertinya ada yang menghajarmu sampai babak belur.

Cukup sudah.

Kurasa ini tidak separah yang kita duga.

Atau setidaknya...

tidak seperti yang kau duga.

Dia tidak terluka.

Aku tidak mengerti.

Itu dia.

Kau mengenalnya?

Bukan, bukan. Aku...

Dia di sini untuk merenggutnya dariku.

Merenggut siapa, istrimu?

Herman, bicaramu tidak masuk akal.

Apa-apaan yang sebenarnya terjadi?

Dia berasal dari tempat gelap itu.

Dengarkan dia.

Dia tahu.

Wawasanmu sangat tajam.

Aku hanyalah bidak...

sama seperti kita semua.

Bagian kecil...

dari kegelapan yang besar.

Dengar, kawan, aku tidak tahu siapa kau...

tapi kau harus kembali ke tempat asalmu yang terkutuk itu.

Tidak apa-apa, James.

Bukan kau yang ia incar.

- Bagaimana kau tahu namaku— - Apa yang kau inginkan dariku?

Kurasa kau sudah tahu.

Kemalangan orang benar itu banyak,

tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.

Kegelapan telah datang menjemputmu.

Aku di sini untuk membawamu ke sana.

Bagaimana caranya?

Kau sudah melihatnya, kan?

Tempat yang gelap itu.

Saat kau sudah siap.

Namun sebelumnya, ia ingin menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya...

jauh di dalam sana.

Sang monster.

Tidak.

Kaulah monsternya.

Kaulah iblisnya.

Kau yakin soal itu?

Apa kau yakin...

bahwa kau tidak...

merasakan sesuatu?

Ya.

Itu dia.

Herman?

Kau baik-baik saja?

Herman?

Herman? Ada apa?

Boleh aku masuk?

Dia mulai gila.

Apa yang... kau lakukan padanya?

Tuhan, tolonglah kami.

Dan maut... tidak akan ada lagi.

Tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau pun rasa sakit.

Sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu.

Herman?

Oke, semuanya harap tenang.

Jika aku merasakan sesuatu, demi Tuhan, aku akan mulai menyerang.

Herman?

Memang.

Pasti memang begitu.

Suster Josephine?

Tidak, tidak, tidak. Jangan.

Kau. Kau yang melakukan ini!

Aku? Tanganku bersih.

Bagaimana dengan tanganmu?

Aku takkan pernah melakukannya. Kau pelakunya.

Kalian harus percaya padaku.

Dia itu iblis.

Dia di sini untuk menyiksa kita.

Apa aku yang bertingkah aneh, dan mengancam akan bunuh diri?

Akui sajalah, Herman.

- Kau seorang pembunuh. - Bukan.

Kau yang melakukan ini.

Kau pembunuh.

Kau harus pergi dari rumahku.

Pergi kau sekarang.

Kau tidak tahan, bukan?

Kau tidak sanggup mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.

Hentikan, Herman! Ini bukan dirimu.

Dia harus mati!

Lepaskan dia!

Kau sakit. Kau tidak tahu apa yang kau ucapkan.

Kita harus menahannya.

Akan kubunuh kau, keparat. Akan kubunuh kau!

Dia hanya akan makin parah jika kita tidak menghentikannya.

Kumohon jangan biarkan ini terjadi.

Aku hanya ingin kau sembuh, Herman.

Pikiranmu sedang kacau.

Itu dia! Dialah pelakunya.

Dia membodohi kalian semua.

- Lepaskan aku. - Maafkan aku.

Tidak, tidak.

Herman.

Kumohon.

Kau pikir aku orang jahatnya, bukan begitu?

Jika aku jahat...

maka kau juga jahat.

Kau pikir kau bisa bersembunyi di hutan ini...

berpura-pura menjadi...

orang yang paling suci.

Kebenaran selalu kembali terungkap...

tak peduli seberapa dalam kita menguburnya.

Dengar.

Kau tidak tahu apa-apa. Dia gila.

Aku hanya ingin menolongnya, tapi...

dia benar-benar sudah gila.

Terdengar akrab?

Aku sangat takut.

Aku di sini bersamamu.

Dia ada di sana untuknya...

seperti yang kau tak bisa lakukan.

Terkadang...

kau hanya butuh tempat untuk bersandar.

Lepaskan ikatanku.

Lepaskan aku!

Suara apa itu?

Lepaskan aku.

Dengan senang hati.

Kau keparat licin!

Kau tak ada untukku, Herman.

Tidak apa-apa.

Aku akan memeriksanya.

Kau melepaskannya?

Kau bajingan tak berguna!

Herman,

apa yang kau lakukan? Letakkan pisaunya.

Takkan kubiarkan dia menyentuhmu.

Bicaramu melantur, Herman. Itu hanya halusinasimu.

Benarkah begitu?

Tidakkah kau tahu apa yang pria ini lakukan pada istrimu?

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.

Herman, dengarkan aku. Ini tidak nyata, oke?

Kau akan membiarkannya meniduri istrimu...

di rumahmu sendiri?

Hentikan, Herman! Kau bisa membunuhnya!

Lepaskan aku.

Kau!

Kau merenggutnya dariku!

Apa yang telah kau lakukan?

Apa yang telah kau lakukan, Herman?

Bukan aku. Itu dia!

Aku melihatmu melakukannya, Herman. Itu kau.

Alice.

Kau tidak sehat, Herman. Tidakkah kau sadar?

Alice, kumohon.

Herman, ada apa dengan dirimu?

Kau tidak boleh pergi.

Jangan pergi.

Suster Josephine benar.

Ada kegelapan di sini.

Tidak!

Tidak! Maafkan aku.

Aku minta maaf.

Maafkan aku.

Kau! Lihat apa yang telah kau lakukan!

Kurasa kau sedang bingung.

Siapa kau?

Akan kutunjukkan.

♪ Dengan segala kekuranganmu, ♪ ♪ aku tetap mencintaimu ♪

Kau koki yang hebat.

-♪ Memang harus dirimu, ♪ -♪ Dirimu yang hebat ♪ -♪ Memang harus dirimu ♪

-♪ Memang harus dirimu ♪ -♪ Memang harus dirimu ♪

Kau punya hati yang baik, Herman.

Kau hanya terlalu banyak berpikir. Selalu terjebak dalam pikiranmu.

Aku tahu. Itu kutukanku.

Tidak.

Itulah yang membuatmu menjadi dirimu. Dan aku mencintaimu.

Kau selalu melihat sisi baik dalam diriku, Alice.

Dan itu sangat...

berarti bagiku.

Aku ingin menghabiskan sisa—

Kemarilah, kau pengecut.

Di mana?

Di mana kau?

Apa yang terjadi?

Di mana sebenarnya aku ini?

♪ Memang harus dirimu ♪ ♪ Memang harus dirimu ♪

Herman.

Halo? Halo?

Herman, ada apa dengan...

Apa yang kau lakukan padanya?

Herman.

Alice?

Alice?

Alice, di mana kau?

Kenapa kau lakukan ini padaku, Herman?

Kau bilang kau takkan pernah menyakitiku.

Jangan melawannya.

Biarkan saja ia membawamu.

Lihat dirimu.

Apa yang kau inginkan dariku?

Hadapilah.

Hadapilah.

Mustahil melakukan penelitian bermakna tanpa...

Hei, aku mau berangkat.

Sebentar. Aku sedang mencoba memahami ini.

Tentu.

Kau mau ke mana?

Acara mendaki dari kantor.

Mendaki?

Ya. Sudah kuberitahu soal ini seminggu yang lalu.

Aku tidak ingat kau mengatakannya.

Yah, sudah kok.

Kau saja yang tidak dengar.

Yah, terkadang kau memberitahuku saat aku sedang...

sedang sibuk mengerjakan hal lain.

Kau merespons, kok.

Oke. Aku tidak ingat, tapi tidak apa-apa.

Terima kasih.

Tahu tidak, kurasa itu adalah sesuatu...

yang pasti aku ingat jika kau memberitahuku.

Kau selalu sibuk dengan sesuatu, Herman, atau kau hanya...

tidak memperhatikan.

Wah.

Hei, aku tidak mengeluh.

Itu kenyataannya. Dan aku mengerti.

Aku sungguh mengerti.

Itulah yang membuatmu hebat dalam pekerjaanmu.

- Terima kasih. - Ya.

Lagipula, ini bukan masalah besar.

Ini semacam acara "team building".

Rasanya agak aneh jika diadakan di hari Minggu.

Mereka sesekali melakukan hal seperti ini.

Ini tidak seaneh itu.

Kurasa aku tidak diundang.

Herman, mengajakmu ke gereja bersamaku selama satu jam saja tidak pernah bisa.

Hanya satu jam.

Yah, itu berbeda.

Itu adalah pilihan sadar yang kubuat.

Benar.

Lagipula, ini hanya untuk staf.

Tentu saja begitu.

Bisa tolong jangan membesar-besarkan ini?

Aku tidak membesar-besarkannya.

Hanya saja kau menghabiskan banyak waktu...

dengan orang-orang kantor.

Herman, ini wajib.

Artinya aku tidak punya pilihan.

Sampai jumpa sore ini.

Hadapilah, kau pengecut.

Biarkan aku mati saja.

Hanya itu yang tersisa bagiku.

Belum saatnya.

Ia ingin memberimu satu kesempatan lagi.

Lihatlah.

Alice.

Dia masih hidup?

Mana mungkin?

Dia sudah mati.

Dia tidak terlihat seperti mayat.

Alice.

Aku hanya memberinya apa yang dia inginkan, Herman.

Dia tidak bahagia bersamamu.

Tak seharusnya jadi begini.

Kemalangan orang benar itu banyak,

tetapi Tuhan...

melepaskan dia dari semuanya itu.

Mereka hanya teman, Herman.

Aku boleh punya teman.

Teman yang membuatmu pulang larut dan mabuk bersama?

Ya, kau tahu, saat suamimu tidak memberikan...

dan membentakmu setiap kali kau menghabiskan waktu dengan orang lain.

- Siapa yang membentak? - Dan tidak mendengarkan sepatah kata pun yang kau ucapkan.

Rasanya menyenangkan bersama orang

yang benar-benar peduli dengan apa yang ingin kau katakan.

Jadi itu yang terjadi?

Bajingan kantor itu tempatmu mengadu sekarang?

Dengarkan dirimu sendiri.

Jika kau mau buang egomu sebentar saja...

dan benar-benar mendengar apa yang kukatakan?

Tapi kau hanya mendengar apa yang ingin kau dengar.

Aku mendengarkanmu, Alice.

Aku hanya ingin bersama orang yang peduli padaku,

yang benar-benar mencintaiku dan tidak hanya ingin memilikiku sepenuhnya.

Apa kau selingkuh?

Ya Tuhan, kau pasti bercanda.

Jawab saja pertanyaannya.

Tidak, aku tidak selingkuh, bajingan.

Aku merasa tidak bisa mempercayaimu.

Kau tidak percaya pada siapa pun.

Kau posesif dan kau paranoid.

Dan aku tidak bisa lagi begini.

Alice.

Alice!

Aku tidak sanggup.

Aku tidak sanggup melakukannya.

Ya, sebaiknya kau pulang dan bunuh diri saja.

Teruslah bersembunyi dari kehidupan.

Bersembunyi dari kenyataan.

Aku sudah mati, apa pun pilihannya.

Ia tahu apa yang kau inginkan...

lebih dari segalanya.

Alice.

Penebusan.

- Aku tidak mengerti maksudmu. - Tuhan.

Kau telah menguburnya begitu dalam.

Apa yang kau bicarakan?

Kau punya pilihan.

Berlari kembali ke zona aman,

kembali bersembunyi,

atau hadapi kegelapan secara langsung.

Pikirkan dia.

Pikirkan Alice.

Apa yang akan kau lakukan demi kesempatan untuk memperbaiki segalanya?

Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Herman.

Aku datang, Alice!

Apa yang kau inginkan dariku?

Hei.

Apa yang kau lakukan di luar sini?

Sangat dingin.

Berhenti!

Kau tidak apa-apa.

Tidak apa-apa.

Aw! Hentikan!

Aku tidak tahan lagi.

Hadapi kenyataannya.

Ini salahmu.

Kau melakukan ini padaku!

Dan siapa aku?

Kau harus menghadapi realita, Herman.

Kau telah diberi kesempatan langka...

untuk melihat dirimu secara jujur.

Aku tidak sanggup menanggungnya.

Tentu kau bisa. Kebenaran akan membebaskanmu.

- Katakan saja. - Aku tidak bisa.

Katakan saja.

Aku merasa sangat terluka,

dan aku sangat marah.

Berhenti mencari alasan.

Dia meninggalkanku!

Benar.

Lalu apa yang terjadi?

Ya Tuhan, Herman!

Tolong hentikan! Ini tidak seperti yang kau duga!

Lepaskan dia! Lepaskan dia!

- Lepaskan dia! - Kenapa kau memaksaku melakukan ini?

Kenapa kau memaksaku melakukan ini?

Lepaskan dia!

Aku tidak mengerti kenapa kau melindunginya.

Kau tidak sehat, Herman.

Tidakkah kau sadar?

Alice? Alice! Jangan.

Maafkan aku. Maafkan aku, Alice.

Kau sudah paham sekarang? Katakan.

- Aku... - Kau apa?

Akui kebenarannya untuk pertama kali...

dalam hidupmu yang terkutuk ini.

- Katakan! - Aku membunuhnya.

Aku membunuh Alice-ku tersayang.

Aku pantas mati.

Aku pantas mati.

Mungkin saja.

Tapi hal itu tidak membawamu ke sini untuk membunuhmu.

Lalu untuk apa?

Untuk menghadapi orang yang paling kau sakiti.

Lihatlah.

Alice.

Alice.

Maafkan aku, cintaku.

Aku yang melakukan ini padamu.

Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah menyakitimu.

Aku tak pernah merasa sakit...

seperti saat kupikir kau sedang bersama orang lain.

Sesuatu.

Sesuatu merasukiku.

Sebuah kegelapan.

Aku bukan diriku sendiri.

Aku takkan pernah memaafkan diriku atas apa yang kulakukan padamu.

Tak ada yang bisa membenarkan perbuatanku.

Herman.

Alice, Alice-ku tersayang.

Herman-ku.

Aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu.

Maafkan aku.

Apa yang terjadi dengan kita?

Ini semua salahku.

Kau benar, Sayang.

Ada yang salah dengan diriku.

Dan aku telah membohongi diriku sendiri selama bertahun-tahun.

Aku tak sanggup menanggung kenyataan atas perbuatanku.

Aku lebih baik mati.

Kau punya hati yang baik, Herman.

Itulah sebabnya aku jatuh cinta padamu.

Tidak.

Tidak, jangan tinggalkan aku.

Kumohon. Tetaplah bersamaku, Sayang.

Aku tak bisa melakukan ini sendiri.

Mungkin...

mungkin aku bisa tetap di sini bersamamu.

Aku tak ingin kembali.

Aku tak bisa kembali.

Bangunlah, Herman.

♪ Orang lain yang kulihat ♪ ♪ mungkin tak pernah jahat ♪

♪ Mungkin tak pernah marah atau ♪ ♪ mengatur. Tapi mereka takkan cocok ♪

♪ Karena tak ada orang lain— ♪

Apabila orang-orang benar itu berseru,

Tuhan mendengar,

dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

Tuhan itu dekat

kepada orang yang patah hati,

dan menyelamatkan yang remuk jiwanya.

Kemalangan orang benar

itu banyak,

tetapi Tuhan melepaskan dia

dari semuanya itu.

Kunjungi saya "HANYA" di "Subsource.Net"

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.