All language subtitles for Air Mata Mualaf 2025 1080p WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik tekno]

[musik tekno tempo cepat]

[dialog samar]

[dalam bahasa Inggris] Maaf.

[dalam bahasa Inggris] Hei, kau!

Hei, Ethan.

Ethan.

Dasar jalang!

Jangan!

Kenapa kau…

[musik tekno berlanjut]

[terengah-engah]

[musik berakhir]

[muazin mengumandangkan azan]

[azan berlanjut]

[imam] Allahu Akbar.

[jemaah] Allahu Akbar.

Sami Allahu liman hamidah.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Assalamualaikum warahmatullah.

Assalamualaikum warahmatullah.

Hei.

[dalam bahasa Inggris] Kau sudah bangun.

Ini milikmu?

- Ya. - Maaf, ini aku kembalikan.

Tidak… Tidak apa-apa.

Pakai saja.

- Kau yakin? - Ya.

Terima kasih.

Kenapa aku ada di sini?

Kau terjatuh di depan masjid.

Jadi, kami membawamu masuk.

Dan kau terluka.

Jadi, tolong biarkan aku membersihkan lukamu dulu, oke?

Susan.

- Bisakah kau mengambilkan kotak P3K? - Ya, tentu.

Apa terlalu buruk?

Apa yang terjadi kepadamu?

Ada lagi yang bisa kubantu?

Tidak ada, tidak apa-apa.

- Terima kasih. - Terima kasih.

Bolehkah?

Ya, silakan.

Bismillahirrahmanirrahim…

Aduh…

Aduh…

Maaf.

Kau orang Indonesia?

- Kau Indonesia? - Ya.

Oh, ya?

Aku dari Magelang.

Aku dari Jakarta.

Aku Anggie.

Aku Fatimah.

Siapa yang memukulimu sampai begini?

Pacar.

Dia yang membuat hidupku berantakan.

Tidak usah dibahas.

Tidak apa-apa.

Aku siap mendengarkan.

Lukamu sudah selesai dibersihkan.

Terima kasih, ya.

Sama-sama.

Aku boleh duduk di sini sebentar?

Boleh.

Boleh. Istirahat saja di sini.

Ya?

Kalau butuh aku,

aku pasti ada di sekitar sini.

- Tidak akan jauh-jauh. - Oke.

- Beristirahatlah. - Terima kasih.

[Fatimah melantunkan taawuz]

Bismillahirrahmanirrahim…

[melantunkan ayat Al-Qur'an]

[lantunan ayat Al-Qur'an berlanjut]

[Fatimah melantunkan tasdik]

TIADA TUHAN SELAIN ALLAH

Ini, aku kembalikan. Terima kasih banyak.

Tidak usah. Kau simpan saja, kau bawa.

Di luar dingin.

Terima kasih, ya.

Oh, ya, tadi apa yang kau bacakan?

Itu Surat Al-Qasas.

Al-Qasas?

Ya.

Artinya?

Artinya, hanya Allah yang bisa menentukan manusia mana yang mendapatkan hidayah.

Jadi, seberapa pun manusia itu berharap mendapatkan hidayah dari Allah,

kalau Allah bilang belum, artinya belum.

Jadi, bisa dibilang, orang-orang yang mendapatkan hidayah

adalah orang-orang terpilih.

[musik lembut]

[Fatimah] Kalian mau bawa apa saat acara berikutnya?

[dialog samar]

[wanita] Aku belum begitu memikirkannya.

Tidak apa-apa. Terima kasih.

Fatimah.

Anggie.

- Anggie. - Hai.

- Apa kabar? - Aku baik.

- Kau apa kabar? - Aku juga baik.

Ada apa tiba-tiba?

Aku datang untuk belajar lebih banyak soal Islam.

Bolehkah aku bertemu ustazmu?

Luar biasa.

Mari bertemu dengan ustaz.

[ustaz dalam bahasa Inggris] Anggie, selamat datang.

Masyaallah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Di Islam, kita harus percaya kepada Allah Swt.

dan juga percaya kepada Nabi Muhammad saw.

Seperti yang kita percaya, "La ilaha illallah."

Tiada Tuhan selain Allah.

"Muhammadur Rasulullah." Nabi Muhammad adalah nabi Allah Swt.

Juga ada beberapa hal penting seperti salat lima waktu sehari,

beribadah puasa,

dan naik haji.

Jika kau mau penjelasan lebih dalam soal Islam,

kau bisa datang ke sini lagi dan aku akan jelaskan untukmu.

Aku ingin belajar lebih banyak Islam

dan berharap menjadi Islam yang benar.

Masyaallah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

[musik penuh harapan]

[Ethan] Anggie.

[dalam bahasa Inggris] Akhirnya kau menjawab teleponku.

Aku ke sini untuk memberitahumu.

Hubungan kita sudah selesai.

Anggie, aku janji untuk berubah.

Aku sudah melakukan semua yang kau minta. Aku sedang menjalani terapi.

Apa lagi yang kau mau?

Tidak.

Bukan soal itu.

Kau terus mengucapkan janji yang sama selama tiga tahun.

- Kumohon, Anggie… - Tiga tahun!

- Tunggu. - Tapi tak pernah kau tepati.

Kumohon, Anggie. Aku janji untuk berubah.

Tolong jangan tinggalkan aku.

Maaf, Ethan.

Aku tidak mencintaimu lagi!

[musik sendu]

Anggie, kau mau ke mana?

Pulang.

[musik sendu makin intens]

FILM KARYA INDRA GUNAWAN

[musik muram]

Selamat malam kepada para pendengar di mana pun Anda berada.

Berjumpa lagi denganku, Veronica.

Ada berita apa, Pak, di radio?

- …yang telah kami persiapkan… - Coba besarkan.

…di antaranya soal bom bunuh diri di Jombang.

Setelah kejadian serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Muntilan,

kasus bom bunuh diri juga terjadi di Polres Jombang.

Belum diketahui jumlah korban jiwa dan kerugiannya,

tapi diperkirakan sekitar puluhan orang berada di lokasi kejadian.

[musik jenaka]

Mbak Magda.

[Anggie terkekeh]

[Magda] Anggie!

[terkekeh]

Mbak Magda.

Ya Tuhan.

Kok perutnya tambah besar, tapi tambah cantik?

[Magda terkekeh]

Kapan lahiran?

Seharusnya sekitar minggu ini, tapi terserah dia.

[terkekeh]

[menghela napas]

Doakan lancar, ya.

Mbak Anggie, sudah pulang? Bibi bawakan tasnya, ya?

Ya, Bi, aku lelah.

Pak, Bu, Mbak Anggie pulang.

- Mama. - Anggie.

- Anak Mama sayang. - Terkejut tidak?

Sudah lama sekali kau tidak pulang.

Maaf.

- Kenapa? - Bau terasi. Mama ganti baju dulu.

- Tidak apa-apa. - Hei, Anggie.

- Hei! - Masih ingat pulang?

Anak hilang.

Kangen aku?

Biasa saja.

- Selamat datang di rumah. Akhirnya. - Terima kasih.

Lo?

- Papa! - Ada yang pulang.

- Tidak memberi tahu. - Kejutan.

[terkekeh]

Ya ampun…

Naik apa? Kok tidak mengabari? 'Kan bisa dijemput.

Tidak apa-apa. 'Kan ada taksi di bandara.

Ya.

Mau langsung makan atau cuci-cuci dulu?

- Tidak usah. Langsung saja, lapar. - Langsung saja?

- Oke. - Kelihatannya enak.

Kok sepertinya tahu kalau aku mau pulang?

- Terkejut juga, 'kan? - Naluri ibu.

Naluri seorang ibu.

[terkekeh]

Baik, mari kita berdoa bersama sebelum makan.

Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Amin.

Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kami mengucapkan syukur kepada-Mu

atas berkat makanan yang melimpah pada malam hari ini.

Semoga makanan yang akan kami santap ini

memperoleh berkat-Mu dan membuat kita sehat lahir dan batin.

Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Amin.

- Mari, silakan dimulai. - Ya. Pakai nasi tidak?

- Tamunya dulu. - Tentu saja.

Ma, Pa, aku mau bicara soal sesuatu.

Anggie, nanti saja. Kita mau makan.

- Kau tidak lapar? - Sesuatu yang penting?

Ya, Pa, penting untukku.

Soal jodoh?

- [terkekeh] - [tertawa]

- Ini lain, Pa. - Lebih penting?

Tentang aku.

Anggie.

Soal aku ingin berpindah keyakinan, Pa.

Anggie, ini lelucon?

Kumohon, Anggie. Tidak usah bercanda. Ini tidak lucu.

Tidak.

Aku sengaja datang ke Jakarta secara tiba-tiba

karena aku ingin secara langsung menyampaikan hal ini

kepada Mama dan Papa supaya jelas kalau aku ingin berpindah keyakinan.

Serius?

Aku serius.

Tuhan Yesus.

Aku ingin berusaha menjadi lebih baik, lalu aku menemukan itu saat ada di Sydney.

Aku ada di masjid dan mendengarkan sesuatu yang belum pernah kudengar.

Omong kosong!

Kau memang dari dulu dan selalu mencari masalah!

- Tuhan Yesus Kristus! - Apa-apaan?

- Kok jadi kayak begini? - Kau tega.

Tega banget.

Ini tak bermaksud menyakiti siapa pun, Ma.

Ini sangat menyakiti hati Mama, Anggie.

Maksudku supaya Mama juga tahu kalau aku akan menjadi lebih baik.

Kau mau coba bicara apa pun, dari dulu kau selalu cari masalah.

Kau sadar tidak?

Kok jadi begitu, Mas? Aku tak pernah cari masalah.

Aku hanya mau mengutarakan. Sebagai manusia dewasa, aku berhak, 'kan?

- Kau memikirkan Mama dan Papa tidak? - Anggie.

Keluar kau.

Keluar!

Aku masih keluarga ini, 'kan, Ma? Aku masih anak Mama, 'kan?

Keluar!

Willy, bawa dia keluar.

Ya, Ma.

- Ma? - Mama kenapa?

- Kasih obatnya. - Ma?

Obat apa?

Kau dengar kata Mama tadi, 'kan? Ayo, keluar dulu.

- Bi Tik, keluarkan barang-barang Anggie. - Ya, Mas.

Mama kenapa?

- Keluar kau. - Kenapa disuruh keluar?

Anggie, diam! Kau diam di sini.

Sekalinya kau pulang, kau menyakiti Papa dan Mama.

Aku tak mau menyakiti orang. Aku hanya mau jujur kepada mereka.

Aku mau bicara karena kupikir ini waktu yang tepat.

Tidak ada saat yang tepat, Anggie.

Kau tahu Mama kenapa?

Mama kenapa?

Mama pernah terkena stroke.

Mama kena stroke?

- Kok aku tidak… - Karena tak ada

yang mau mengganggumu membangun kehidupan barumu yang kau pilih di Sydney.

Inikah balasanmu?

Ini balasan dari anak yang paling Mama sayang, bela,

dan turuti kemauannya.

Kau jahat!

- Sudahlah, aku mau bicara sama Mama. - Diam!

Kau tak punya hak untuk membela diri.

Kau harus tahu,

bukan hanya meninggalkan kami, tapi kau juga meninggalkan Tuhan.

- Bi. - Ya, Mas.

Jangan pernah balik lagi ke rumah ini.

Aku tak mau Mama stroke lagi karenamu.

Mas…

- [pintu dikunci] - [musik muram]

[musik muram berlanjut]

[suara bel]

[musik memudar]

Anggie.

Kangen Anggie.

- Apa kabar? - Baik.

Kau apa kabar?

Alhamdulillah sehat. [terkekeh]

Kau di sini saja dulu sampai suasana di rumah lebih tenang.

Terima kasih, ya.

[terkekeh]

Yuk, masuk.

Aku kenalkan sama suamiku.

- Dia di dalam? - Ya.

- Aku sudah cerita semuanya. - Ya. [terkekeh]

- Aliya. - Ya, Bunda.

Teman Bunda sudah datang.

- Halo. - Sayang.

Halo, Tante Anggie.

Ya.

Kau menggambar apa?

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

- Apa kabar, Bang Ramli? - Alhamdulillah sehat.

Aku Anggie, juniornya Mbak Nina saat masih di Australia.

- Ya. - Kita sempat satu kelas, ya.

Terima kasih aku sudah boleh tinggal di sini sementara.

Sama-sama.

Nina banyak bercerita tentangmu.

- Mau jadi mualaf, ya? - Ya, Bang, insyaallah.

Subhanallah.

Bun, antar Anggie dulu ke kamarnya.

- Ya. - Biar dia bersih-bersih dulu.

- Ayo. - Terima kasih.

- Silakan. - Kamarnya dekat sana.

Yang ini?

Anak Ayah lagi menggambar apa?

Lagi menggambar Ayah dan Bunda.

Maaf, ya, Nina. Aku cuma bawa ini saja.

Tidak apa-apa. Ini bagus sekali. Terima kasih.

Sama-sama.

Oh, ya. Kau jadi melamar kerja di World Bank?

Sepertinya tidak.

Bang Ramli mau aku di rumah saja.

Jadi, kini aku sekarang ibu rumah tangga purnawaktu.

Wah, senang juga, ya.

Untuk Aliya karena selalu ada bundanya di rumah.

Tentu saja senang.

Lagi pula, Aliya dapat papa baru.

Oh, ya. Jadi, apa rencanamu setelah ini?

Aku juga masih belum tahu.

Kemungkinan aku akan kembali ke rumah untuk menjelaskan ke keluarga.

Sabar, ya?

Ya, terima kasih, Mbak. Doakan aku, ya.

Bismillah, ya.

Niatmu baik, 'kan?

- Ya. - Semoga dimudahkan Allah.

Insyaallah.

Mbak? Sakit, ya?

[menggumam]

Aduh… Tidak apa-apa.

Maafkan aku.

Biasa, agak linu setelah kerokan.

- [Nina terkekeh] - Oh…

Tidak apa-apa.

Alhamdulillah…

Bun, ini.

- Apa? - Acaranya Ustaz Reza jadi.

- Oh ya? - Ya.

Alhamdulilah…

- Anggie, kau ikut ya besok. - Nah…

Ya.

[menggumam] Ustaz Reza itu siapa?

Dia salah satu ustaz yang lagi viral sekarang.

Dia masih muda dan tampan.

Ya.

Kau pasti bisa belajar banyak darinya.

Benar. Apa, Bun, yang terkenal itu?

- Nasihat of the morning. - Nasihat of the morning.

Lumayan itu, Anggie. Bisa buat status.

[terkekeh]

Ya, aku menginap di rumah temanku sampai keadaan rumah membaik.

Tidak apa-apa, 'kan?

Ya, tenang saja. Aku akan menjaga diri.

Ya sudah.

Terima kasih, ya, Mbak.

Dah.

- [menghela napas] - [suara gelas pecah]

- [dialog samar] - [musik muram]

Aliya.

Kau kenapa, Nak?

Aliya?

[dialog samar]

[suara tangis Nina]

- [Nina tersedu-sedu] - Astagfirullahaladzim.

[menghela napas]

Begini, Anggie, sahabatmu agak ceroboh.

Tadi dia terpeleset.

Untung saja tidak kena pecahan gelas.

- Itu lebam. - Ya.

Tidak mau dibawa ke rumah sakit?

- Anggie, tidak apa-apa. Aku oke. - Kau tak apa-apa, 'kan?

Aku oke.

Tidak perlu. Biar aku yang urus.

Tidak usah, Anggie.

Ayo, Bun?

Bunda, lain kali hati-hati.

Kalau berjalan, pelan-pelan agar tidak terpeleset.

Rasulullah saw. memiliki seorang sahabat

yang tidak pernah bersilaturahmi kepada beliau

karena dia harus mengurus ibunya yang sakit.

Lalu, suatu hari, dia mendatangi Nabi saw. dan bertanya,

"Ya, Rasul, bagaimana aku bisa beribadah di masjid

sedangkan aku tak bisa meninggalkan ibuku yang sakit?"

Lalu, Nabi saw. menjawab,

"Barang siapa yang berbakti kepada orang tuanya

dan orang tuanya rida kepadanya,

maka dia juga akan mendapatkan rida dari Allah Swt."

[pria] Izin bertanya, Ustaz.

Bagaimana menurut Ustaz soal bom bunuh diri?

Katanya demi membela agama.

Islam diturunkan ke dunia

sebagai agama Rahmatan lil 'Alamin.

Agama pembawa kebaikan bagi seluruh alam semesta.

Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan kita kekerasan.

Islam adalah agama kedamaian.

Agama yang mengajarkan bagaimana kita bisa selamat di dunia dan akhirat.

Jadi, kesimpulannya, menurutku,

siapa pun pelaku pengeboman,

mereka sedang tidak membawa nilai-nilai Islam.

[Ramli] Wah.

Pak Ustaz, terima kasih banyak.

Aku dan keluarga mendapatkan pencerahan yang baru hari ini.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

- Oh, ya, Pak Ustaz. - Ya?

Perkenalkan, ini Anggie.

Sahabat Nina, istriku.

Lalu, dia ingin menjadi mualaf.

Subhanallah. Alhamdulillah.

Salam kenal. Aku Reza.

Aku Anggie.

Anggie, ini rezeki karena bisa bertemu langsung dengan Ustaz Reza.

Silakan tanya sebanyak mungkin

agar kau makin mantap bersyahadat.

Ya, Pak Ustaz, aku mau bertanya lebih lanjut tentang Islam

dan mungkin juga mau berkonsultasi.

Boleh.

Insyaallah nanti kita atur jadwalnya.

[musik lembut]

Aku berniat bersyahadat, Ustaz.

Lalu…

Apa yang harus kulakukan saat tak dapat izin dari orang tuaku?

Apakah Islam

mengajarkan untuk meminta restu kepada orang tua dulu

sebelum ingin berpindah keyakinan?

Justru nanti

saat kau sudah menjadi seorang Muslim,

kau harus lebih menyayangi orang tua dan saudaramu.

Bismillahirrahmanirrahim.

Bismillahirrahmanirrahim.

Asyhadu…

Asyhadu…

…an laa…

…an laa…

…ilaaha…

…ilaaha…

…illallaah.

…illallaah.

[musik sendu]

Wa asyhadu…

Wa asyhadu…

…anna…

…anna…

…muhammadar…

…muhammadar…

…rasuulullah.

…rasuulullah.

Keluar kau.

Aku bersaksi…

Aku bersaksi…

…bahwa tiada Tuhan…

…bahwa tiada Tuhan…

…yang wajib disembah…

…yang wajib disembah…

…selain Allah.

…selain Allah.

Jangan pernah balik lagi ke rumah ini.

Aku tak mau Mama stroke lagi karenamu.

- Mas… - [Reza] Dan aku bersaksi…

Dan aku bersaksi…

…bahwa…

…bahwa…

…Nabi Muhammad…

…Nabi Muhammad…

…itu utusan Allah.

…itu utusan Allah.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

[musik sendu berlanjut]

[terkekeh]

Bismillah.

Selamat, ya, Anggie.

Anggie, selamat.

[Aliya] Bunda!

Bunda!

Bunda!

- [suara gedoran di pintu] - [Aliya menangis]

Bunda!

Ayah! [terisak-isak]

Ayah, jangan! Itu Bunda!

[dialog samar]

Bunda!

Itu Bunda, Ayah!

Aliya, sudah.

- Aku mau sama Bunda! - Ya.

- Sama Tante dulu, ya. - Tidak, maunya sama Bunda!

- Tidak. - Sini dulu.

- Tidak! - [Ramli] Berani kau?

Jadi, itu yang kau lakukan selama ini?

Kau mau masuk neraka?

- Kau mau masuk neraka? - Tidak.

Diam kau. Diam! Tidak usah teriak-teriak!

[Nina terisak-isak]

Kau melawan kepadaku?

Sudah berani melawan kau kepadaku?

- Tidak mau. - Diam!

Aku hanya mau ibadah, Nina.

Tapi kau tak pernah mengizinkan!

Kalau kau dosa, aku juga berdosa!

Sakit, Mas!

Sakit!

[musik muram]

Mbak?

Bunda!

Sayang…

[Nina terisak-isak]

Mbak…

Anggie.

Aku di sini.

Mbak, maafkan aku tidak lebih cepat kemari.

Tolong aku, Anggie.

Aku tidak kuat…

Ini semua gara-gara dia mau menikah lagi.

Aku tidak kasih.

Kamu tidak bisa diam saja, Mbak.

Aku masih berharap dia akan berubah.

Orang seperti itu tak mungkin bisa berubah.

Percayalah kepadaku.

Aku tak tahu harus bagaimana lagi, Anggie.

Aku sedang hamil muda.

Apalagi kau sedang hamil.

Kau tega nanti anak-anakmu disakiti dia?

Kalau aku cerai,

anak-anakku tak punya bapak.

Mau dikasih makan apa mereka?

Semua anak pasti ada rezekinya.

Kau tak boleh pesimis.

Tidak bisa.

Aku sudah pernah cerai, Anggie.

Apa kata orang? Janda cerai dua kali.

Aku malu.

Malu, Anggie.

Nina, suruh temanmu keluar dari rumah ini.

- Tapi… - Mbak, sudah, tidak apa-apa.

Mbak tinggalkan semua ini.

Kita pergi sama-sama.

Mbak tak usah khawatir.

Ada aku.

Ini urusan rumah tangga kami.

Jangan ikut campur.

[lagu rohani diputar]

♪ Terimalah, Bapa, persembahan kami ♪

[Magda] Oke, kita rehat dulu, ya.

- Mbak… - Hai.

Bagaimana? Sudah siap?

Harus siap.

Tuhan Yang Maha Pengasih, kami mengucap syukur kepada-Mu.

Atas berkat-Mu, pada malam hari ini, kami telah selesai berkumpul bersama

mempelajari firman-Mu lebih dalam lagi.

Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Amin.

Ayo, tambah lagi.

Makananmu enak sekali.

- Ya. - Mari, Pak, silakan.

Terima kasih, Bu.

- Ini yang kemarin bagaimana? - Ya, yang dibawa.

Bagaimana?

Ya Tuhan.

Anggie, aku lupa malam ini persekutuan doa.

Pak, bukannya itu Anggie?

Anggie.

Pa, aku minta maaf.

- Masuk. - Pa.

- Sudah, masuk dulu. - Pa, aku…

Permisi, Om.

Pa, aku perlu bicara.

Masuk dulu.

- Ma. - [Joseph] Kenapa datang malam ini?

Di tengah persekutuan doa.

Apa maumu?

Mau membangkang di semua jemaat?

Mau bikin malu Papa dan Mama?

Papa ini penasihat kerohanian.

Tidak, Pa. Aku cuma…

Lepas kerudungmu.

- Lepas! - Pa, jangan…

Bikin malu saja.

Untuk apa datang ke sini lagi?

Papa dan Mama masih orang tuaku. Aku tak tahu harus pulang ke mana lagi.

Masa aku harus pulang ke Australia?

Kau masih mau menurut sama kami?

[ketukan pintu]

Masuk.

Maaf, Pa. Om Herry mau pamit.

Biar dia di sini. Kita urus nanti.

Pak, terima kasih banyak ya.

- Terima kasih atas jamuannya. - Ya, sama-sama.

Berkat selalu. Terima kasih, Bu Maria.

[musik melankolis]

[musik dari kotak musik]

[Maria] Kenapa, ya, dia tiba-tiba begitu?

Tidak penting kenapa.

Sudah kejadian kok.

Tentu saja penting, Pa!

Kalau kita tahu alasannya, bisa dicari solusinya.

Solusi kayak apa, Ma?

Orang kalau sampai berani pindah agama,

itu bukan cuma keras kepala, tapi yang bahaya keras hatinya.

Kapan dia pindah?

[menggumam] Seminggu, Ma.

Kenapa kau tidak bilang?

Lalu, dia cerita apa saja?

Tidak banyak, Ma.

Tapi dia bilang, dia dapat hidayah di Sydney.

Hidayah.

Salah kita apa, ya, Pa?

Apa dosa kita?

Kayaknya otaknya sudah dicuci.

Kita harus bersihkan.

[musik sendu]

[suara pintu dibuka]

Mas?

Mas Willy.

Kenapa aku dikunci seperti ini?

Buka!

Pa?

Anggie.

Pa, tolong jangan begini.

Aku bukan anak kecil lagi.

Fokuslah pada dirimu sendiri.

Renungi kesalahanmu

sampai kau kembali menemukan jalan yang benar.

[musik sendu berlanjut]

Renungi kesalahanmu.

[menghela napas]

[menghela napas]

[berdecak]

- Allahu Akbar. - ["Ave Maria" diputar]

Allahu Akbar.

Mama mau bicara denganmu.

Tapi sebelumnya, Mama mau minta maaf

karena kami terpaksa memperlakukanmu seperti ini.

Kenapa, Ma?

Aku tak pernah diajak bicara seperti wanita dewasa.

Aku juga punya alasan kenapa aku berpindah, Ma.

Aku bisa menjelaskan.

Apa? Kau mau jelaskan apa?

Apa pun yang kau jelaskan, Mama takkan bisa mengerti

karena kau sudah mengkhianati kami.

Aku tak mengkhianati Mama.

Aku merasa dengan berpindah keyakinan, bukan berarti aku menjadi tidak baik.

Justru aku merasa lebih baik.

Jadi, semua yang kami ajarkan kepadamu itu tidak baik?

Bukan begitu, Ma.

Lalu, apa?

Kau mau menjelaskan. Coba jelaskan!

Aku tak tahu mulai dari mana.

Kau sendiri saja tak tahu bagaimana cara jelaskannya.

Kau sendiri juga tak tahu kenapa kau ambil keputusan untuk pindah.

Apa kau berpikir dulu sebelum pindah?

Pakai akal tidak?

Tidak pakai akal, Ma, tapi pakai hati.

Aku tak tahu bagaimana jelaskannya.

Bagaimana cara aku menjelaskan saat pertama dengar azan di Sydney,

hatiku bergetar, Ma?

Aku tak tahu bagaimana cara untuk membuat Mama mengerti.

Setiap kali aku bersujud di atas sajadah,

hatiku tenteram.

[musik sendu]

Aku memang sekarang sudah Muslim,

tapi aku tetap anak Mama.

Kalau kau masih mau tetap jadi anak Mama,

batalkan keputusanmu kemarin!

Buka pintunya, Nina!

[terisak-isak]

Nina!

Nina!

Buka tidak?

Nina!

Buka pintunya!

Pergi, Mas…

[dering ponsel]

Halo, Nina.

Halo?

[tersedu-sedu]

Kau benar-benar harus pergi, Anggie?

Kalau bukan aku, siapa lagi?

Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadamu?

Tidak apa-apa. Aku ada temannya.

Hei, sama siapa?

Ada.

Itu temanku. Ya?

- Aku pergi dulu. - Hati-hati.

Mbak.

Ustaz, maaf ya mendadak seperti ini.

- Tidak apa-apa. Ayo jalan sekarang. - Oke.

[suara bel]

Asalamualaikum.

Ya.

Siapa?

Nina.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Anggie. Ustaz Reza.

- Mbak Nina. - Ada apa ini?

Tadi kau meneleponku. Kenapa?

Tidak ada apa-apa, Anggie.

- Bun… - Hanya mau tahu kabarmu saja.

Siapa yang datang?

Oh. Ada apa ini, Bun? Sampai Ustaz Reza datang dini hari.

Sepertinya Anggie mau kasih tahu kabar baik ke kita.

- Oh, ya? - Sudah direstui orang tuanya.

Oh, alhamdulillah.

Sudahlah, Bang. Tak usah pura-pura lagi.

- Apa? - Aku sudah tahu apa yang terjadi.

Mbak Nina, sekarang kasih tahu saja.

Mbak Nina, kenapa tidak bilang saja? Mumpung ada semuanya.

Anggie, jangan fitnah.

Astagfirullahaladzim.

Mbak, aku di sini. Aku melihat.

Tunjukkan kalau Mbak disakiti terus olehnya!

Anggie!

- Tunjukkan! - Anggie.

Anggie, kenapa kau?

Bisa-bisanya kau fitnah begini.

Pergi kau.

- Pergi! - Bun, sabar.

Istigfar.

Aku membukakan pintu rumahku untukmu.

Kini kau malah memfitnahku.

Ini zalim!

Tidak.

Islam tak membenarkan hal ini.

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Astagfirullahaladzim.

Maaf, Pak Ustaz.

Ayo masuk, Bun.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Mbak Nina, maaf.

Apa Anggie benar?

[musik muram]

Bun, masuk.

Nin?

Mbak Nina?

Bun.

Anggie.

Anggie.

♪ Air mata adalah hikmah ♪

♪ Dalam perjalanan ♪

♪ Hidupku ♪

♪ Engkau Yang Maha Pengasih ♪

♪ Dan Maha Penyayang ♪

♪ Hanya kuasa-Mu ♪

♪ Mampu mengubah hatiku ♪

Yang terpenting, kita sudah melakukan apa yang kita bisa.

Tapi nyatanya tidak cukup, ya, Ustaz.

Sekarang hanya Allah yang bisa melunakkan hatinya Nina.

Memberinya keberanian.

Menunggu apa lagi, Mas?

Aku sudah jelaskan semuanya.

Anggie harus menolong temannya.

Lalu, kau percaya begitu saja?

Kenapa kau tidak percaya?

Dia tak pernah berbohong.

Justru dia datang dari Sydney untuk berkata jujur.

Magda, kita sedang membantu dia untuk menemukan kembali jalannya.

Dia sudah menemukan kok, Pa.

Dikurung di dalam kamar tak akan membuat Anggie berubah pikiran.

Tidak. Caranya tidak seperti ini.

Jadi, kita harus bagaimana?

Memangnya siapa ustaznya?

[musik meresahkan]

Shadaqallahul-'adzim.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

- Akhirnya selesai satu surat. - Ya.

- Pak Ustaz. - Ya.

Mbak.

Ustaz, ada yang meneleponku terus-menerus dan beliau minta bertemu Ustaz.

Katanya penting.

Siapa namanya?

Namanya Joseph.

- Joseph? - Tunggu sebentar.

Itu papaku.

Oh…

Mohon maaf, Ustaz, sebaiknya tidak usah diterima.

Tidak apa-apa, Anggie.

Beliau mau bertemu secara baik-baik. Aku mau ketemu.

Tapi tak mungkin baik-baik, Ustaz.

Anggie, tidak apa-apa. Bismillah, kita bertemu dengan beliau. Ya?

Di mana?

Gereja.

Subhanallah.

Ya.

- Pa. - Ya.

- Ustaznya sudah datang. - Oh, ya?

Pak Ustaz, aku izin ke mobil, ya.

Ya, silakan.

Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.

- Selamat pagi. - Selamat pagi, Pak Joseph.

- Aku Reza. - Ya, aku akan segera ke sana.

Pa, Magda pecah ketuban.

Oh, ya?

Kalau begitu, kau cepat pulang.

- Papa bagaimana di sini? - Tak apa. Kami mengobrol berdua saja.

- Sekarang, cepatlah pulang. - Ya.

Mohon maaf, Ustaz, sudah membuatmu datang kemari.

[terkekeh]

Ya, Pak. Tidak apa-apa.

- Ya, silakan. - Terima kasih.

[musik meresahkan]

Benarkah Ustaz yang membimbing anakku?

Benar, Pak.

Aku yang sudah membimbing Anggie untuk membaca syahadat.

Kalau begitu, Ustaz sudah tahu bahwa Anggie tak mendapatkan restu kami.

Ya.

Anggie sudah memberitahuku.

Lantas, kenapa Ustaz membiarkan Anggie untuk durhaka kepada orang tuanya?

- Apakah Islam mengajarkan seperti itu? - Tentu tidak, Pak.

Tapi justru Islam malah mengajarkan kepada kami

untuk tetap selalu mengutamakan keimanan kepada Allah.

Anggie mendapatkan hidayahnya.

Begini, Ustaz,

aku ingin terus terang saja.

Tolong yakinkan Anggie untuk kembali menjadi anak kami.

Aku yakin Ustaz bisa dan berkenan membantu kami.

Insyaallah, Pak.

Insyaallah aku akan menyampaikan hal ini kepada Anggie.

Tapi ada hal yang perlu Bapak ketahui.

Anggie mendapatkan hidayahnya bukan karena dia yang mencari.

Tapi itu dihadiahkan langsung untuk Anggie dari Yang Mahakuasa.

Jadi, aku berharap Bapak juga harus berbesar hati

kalau Anggie tetap pada pilihannya.

Ustaz sudah berkeluarga?

Belum, Pak.

Coba bayangkan jika Ustaz ada di posisiku.

Punya anak, lalu suatu hari anakmu datang sudah dengan keyakinan yang berbeda.

Sekali lagi, aku berterima kasih karena kau sudah datang.

- Aku harus kembali ke dalam. - Baik, Pak.

- Terima kasih, Ustaz. - Terima kasih, Pak.

[musik meresahkan berlanjut]

[gelegar bom]

[riuh teriakan]

Pa!

[musik muram]

[gelegar bom]

Papa!

Kau kuat.

Ayo, Bu, sedikit lagi.

[suara tangisan bayi]

Selamat, ya, Bu.

Anaknya sudah lahir, perempuan.

Terima kasih.

[pewarta] Aksi bom bunuh diri terjadi lagi.

Kali ini terjadi di sebuah gereja di Jakarta.

Beberapa korban segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.

Diduga pelaku adalah seseorang yang menyamar sebagai jemaat gereja.

Polisi masih melakukan penyisiran di lokasi kejadian.

Dikhawatirkan adanya bom susulan.

Polisi belum memberikan pernyataan resmi

siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

[Anggie tersedu-sedu]

Papa…

Papa…

BERISTIRAHATLAH DENGAN TENANG JOSEPH IMMANUEL

♪ Hanyalah untukmu ♪

♪ Aku hanya selalu memujamu ♪

♪ Sang penguasa hatiku ♪

♪ Napasku ini napasmu ♪

♪ Jiwaku ini jiwamu ♪

♪ Aku hanya selalu memujimu ♪

♪ Sang penguasa hatiku ♪

♪ Ke mana pun ♪

♪ Langkah tujuanku ♪

♪ Aku akan ♪

♪ Selalu bersamamu ♪

♪ Penguasa hatiku ♪

Ibu, Semuanya, aku turut berduka cita.

Yuk, jalan.

Papa.

Papa masih patah hati, ya?

[musik sendu]

Maafkan aku, ya, Pa.

Papa pergi saat sedang patah hati sekali.

Aku janji akan menjaga Mama.

Juga akan menjaga Mas Willy dan Mbak Magda.

Aku janji, Pa.

Tapi aku izin, ya, Pa.

Aku tetap akan menjadi Muslim.

Ustaz.

Asalamualaikum, Anggie.

Alaikum salam.

Aku turut berduka cita, ya.

Terima kasih, Ustaz.

- Ustaz. - Bismillahirrahmanirrahim.

Anggie, aku minta maaf

atas semua yang sudah terjadi.

Aku permisi dulu, Ustaz.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

[musik sendu berlanjut]

Selamat siang. Dengan Mbak Anggie, ya?

- Ya. - Mari kuantar.

Di sini kamarnya, ya, Mbak. Ini kuncinya.

- Terima kasih, ya. - Sama-sama, Mbak.

[notifikasi pesan]

[notifikasi pesan]

[dering ponsel]

Halo, Nina?

[dialog samar]

- Aliya? Aliya kenapa? - [Ramli] Tidak tahu diri!

Akan kutampar kau!

Berani melawan suamimu?

Durhaka kau, Nina!

[musik meresahkan]

- Pak? - Ya, Mbak?

- Dengan Anggie. - Benar. Silakan, Mbak.

- Sesuai aplikasi ya, Pak. Ikuti peta. - Baik, Mbak.

Cepat, ya, Pak.

[Ramli mengerang]

[tersedu-sedu]

- Berani kau? Masih berani kau? - Mas…

- Bangun! Masih berani kau? - Mas.

Masih kurang puas kau? Kau berani denganku?

Istri tidak tahu diri!

Sampah!

Aku mau cerai!

- Aku mau cerai, Mas! Ceraikan aku! - Durhaka kau!

Aku cuma mau ibadah, Nina. Kau tak pernah mengizinkan.

- Aku tidak takut denganmu! - Kau tidak tahu diri!

Tidak ada yang mau sama kau lagi! Durhaka kau kepadaku!

Halo? Kantor polisi?

Namaku Anggie.

Ya, Pak, ada yang membutuhkan bantuan.

- Aku tidak takut, Mas! - Kau sudah berani mengancam?

- Ayah! - Sudah berani mengancam!

- Siapa yang mengajarimu? - Ayah!

- Aliya. - Kau.

- Mas… - Anak kecil! Tidak usah ikut campur!

- Jangan! - Mau melawan Ayah? Kau mau seperti Bunda?

- Sini! Biar Ayah didik! - Jangan pegang dia!

Dia anakku juga! Ikut Ayah!

- Jangan ikut Bunda! - Jangan!

Kau juga mau masuk neraka? Minggir kau! Dia juga anakku!

- Ini anakku, Mas. - Minggir.

[musik meresahkan berlanjut]

- Nin! - [suara bel]

Buka!

- Anggie! - Nina.

- Masuk, Pak. - Anggie!

- Tolong! - Sudah…

- Aku takut! - Tenang.

Ada di dalam, Pak.

Aku sudah bertekad untuk minta cerai.

Izin, Pak.

- Mari. - Terima kasih, ya.

Tidak apa-apa.

Kau pasti bisa.

Kau harus berani, ya?

- Sabar, ya. - Nina.

- Nina. - Nina.

- Mama… - Ya Allah, Sayang.

Mama, Papa.

[tersedu-sedu]

Kenapa kau, Nak?

Yang sabar, Nak…

Maaf, Ma, aku sudah tidak bisa lagi…

- [Anggie kecil] Papa. - [Joseph] Ya.

Kalau aku sudah besar, aku masih anaknya Papa?

Tentu saja.

Sampai kau besar dan tua,

kau masih anak Papa.

Kalau aku sudah menikah, masih anak Papa?

Ya ampun. Kecil-kecil bicara soal menikah.

[terkekeh]

Memangnya kau mau menikah dengan siapa?

[terkekeh]

Tentu saja. Sampai kapan pun, kau tetap anak Papa.

Selalu anak Papa.

Janji?

Janji dong.

Asalkan kau tetap sayang sama Papa dan Mama.

- Oke? - Oke.

[musik piano lembut]

Aku masih anak Papa, 'kan?

[denting gelas pecah]

[suster] Ibu kenapa tak mau makan?

Ini kenapa dipecahkan, Bu?

Aku hanya mau menyuapi Ibu.

Ma, ada apa?

Kok dipecahkan lagi?

Mama cuma mau sama Bi Tik. Titik.

Bu, aku sudah tidak kuat lagi.

Ibu cari yang lain saja, ya. Aku pamit dulu.

Sus, tolong… Aku naikkan lagi gajinya, ya?

Aku sudah beberapa kali ganti suster. Masa aku harus cari lagi?

- Terima kasih, Bu. Permisi. - Sus…

- Bi Tik. - [Bi Tik] Ya, Bu?

Ada apa, Bu?

Aku mau makan.

Sebentar, ya, Bu.

Aku ganti yang baru dulu, ya. Sebentar.

[musik muram]

[lonceng dibunyikan]

Ya, Ma?

Ini…

Popok Mama sudah penuh.

Kita ganti, ya, Ma.

Bi Tik?

Ma…

Kalau semuanya Bi Tik,

nanti dia lelah dan minta pulang. Bagaimana?

Sama aku saja, ya? Biar kusiapkan airnya.

Kalau begitu, tidak usah. Nanti saja.

Nanti bocor lagi, Ma, kena kasur.

Tidak apa-apa. Aku siapkan, ya?

[ketukan di pintu]

Sebentar, ya, Ma.

Bi Tik, tolong Mama.

[menggumam] Mbak Ara?

Siapa, Sayang?

[menggumam] Susternya Mama.

Tidak ada opsi lain? Harus banget yang begini?

"Begini" bagaimana? Maksudnya pakai cadar?

Ya, pakai cadar begitu.

Mukanya saja tidak bisa kita lihat. Tahu dari mana dia bisa dipercaya?

Mas, agennya bagus.

Aku direkomendasikan teman-temanku.

Semuanya pakai cadar begitu?

Tidak semua, tapi ada yang pakai.

Ya, kenapa tidak minta yang lain saja?

Memang kenapa? Gara-gara dia pakai cadar?

Ya, aku tidak munafik. Aku tak percaya dengan orang kayak gitu.

Mas, sudahlah. Kita tidak ada pilihan lain.

Lagi pula, ada aku dan Bi Tik di rumah. Aku yang tanggung jawab.

Mbak Ara, yuk masuk.

- Baik, Bu. - Kukenalkan dengan mertuaku.

- Sini, aku bantu. - Permisi, Pak.

- Susah, Tik. - Ayo, bisa, Bu.

- [Bi Tik mengerang] - [Maria merengek]

Turunkan ini dulu.

Celananya.

Ma, ini Mbak Ara.

Yang gantikan mbak suster kemarin.

Tidak mau. Mama sama Bi Tik saja.

- Bi Tik, dibantu Mbak Ara, ya? - Ya.

- Mau apa dia? - Ma, dicoba dulu.

Ayo, Mbak.

Ayo, Bu.

Satu, dua, tiga.

[menghela napas]

Nah… Berhasil, 'kan?

Mbak Ara, kuantar ke kamar, yuk.

Permisi, ya, Bu.

[menggumam] Yuk.

- Ada apa, Mas? - Kemarilah.

- KTP-nya sudah diminta. - Tentu saja.

Sesuai standar dari agennya.

- Aku mau lihat. - Nanti.

Kenapa kau ini?

Lalu, dia tidur di mana?

Tidur di kamarnya Anggie.

Tidak, sama Bi Tik saja.

Suster yang lain kok boleh di kamarnya Anggie?

Sama Bi Tik saja. Ya?

Ayo, Mbak.

[lonceng berbunyi]

Permisi, Bu.

- Ada yang bisa kubantu? - Panggil Tik.

Bi Tik lagi tidur, Bu.

Ibu haus, ya? Kuambilkan minum, ya?

Alkitab.

Kacamata.

Kenapa, Bu?

Pusing.

Tolong panggil Willy. Biasanya dia yang suka bacakan untukku.

Pak Willy sudah tidur, Bu.

Kalau begitu, biar aku saja yang bacakan.

[musik piano lembut]

[menggumam] Surat apa, Bu?

Yohanes.

"Seorang perempuan berduka cita ketika ia melahirkan

karena saatnya telah tiba.

Namun, sesudah ia melahirkan anaknya,

ia tidak ingat lagi akan penderitaannya

karena kegembiraan bahwa seorang manusia

telah dilahirkan ke dunia.

Demikian kamu juga sekarang. Berduka cita.

Tetapi Aku akan melihat kamu lagi

dan hatimu akan bergembira.

Dan tidak ada seorang pun

yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu."

Suaramu mirip…

[musik piano lembut berlanjut]

Tolong panggil Tik.

Aku mau minta dibalurkan minyak angin.

Sama aku saja, Bu.

Bi Tik bergantian denganku untuk menjaga Ibu

karena Bi Tik istirahat.

Kalau begitu, tidak usah.

[menggumam]

Kau tunggu di luar saja.

Nanti kupanggil saat butuh.

Lampunya dimatikan.

[tersedu-sedu]

[musik lembut berlanjut]

Ayo, Bu, biar sehat. Ya?

Coba, Bu.

Sedikit saja.

Minumnya, Bi.

[tersedu-sedu]

Terima kasih, Tuhan.

Ampuni…

Bapa kami yang ada di Surga.

Permisi.

Permisi.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Maaf, apa benar ini rumah Pak Joseph dan Ibu Maria?

Mbak Anggie ada?

Anggie sudah tidak tinggal di sini, Mas.

Kalau boleh tahu, di mana Anggie sekarang?

Aku kurang tahu, Mas.

Bolehkah aku bertemu dengan keluarganya?

Lagi pada sibuk, Mas.

Maaf, ya.

Ada bayi yang harus diurus.

Permisi.

Maaf, sebentar.

Aku mau titip pesan untuk Anggie. Boleh?

Tolong sampaikan ke Anggie.

Semua ini bukan salah Anggie.

Kuharap

Anggie tetap istikamah terhadap pilihannya.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

[musik lembut]

[tangisan bayi]

Mas.

Jessie. Mas!

Jessie tak bisa bernapas!

Jessie.

- Mas! - Sayang?

Jessie!

Kita ke dokter, ya?

Aku siapkan barang dulu. Aku ganti baju.

Sayang.

Ayo. Barangnya sudah semua?

Sabar, ya?

[musik meresahkan]

Awas kepala.

Titip Mama, ya?

[Maria] Mama…

Mama tidak mau…

Jangan…

Jangan…

- Bu? - Jangan…

[terisak-isak]

Mama…

[musik sendu]

Maaf, ya, Ma.

Aku mau pegang tangan Mama sekali saja.

Aku kangen.

[terisak-isak]

Anggie.

[musik sendu berlanjut]

Aku mau ke kamar mandi.

Tolong aku.

Permisi. Aku bantu, ya, Bu.

Hati-hati, Bu.

Ibu mau kutemani?

Tidak usah. Kau di sini saja.

Kau tidak ke mana-mana, 'kan?

Tidak, Bu.

[tangisan bayi]

Sabar. Jessie yang kuat, ya.

- Bi? - Ya, Mas Willy.

Mas Willy, bagaimana keadaan Nak Jessie?

Operasinya berhasil.

Tapi hemoglobinnya rendah sekali dan belum dapat donornya.

Doakan saja, ya.

- Ya, Mas. Semoga cepat sembuh. - Ya.

- Mama tidur? - Ya, Mas.

Ya sudah. Aku mau ambil baju dulu dan pergi lagi.

- Aku bantu, ya. - Tidak usah, terima kasih.

Aku ke belakang dulu, ya, Bu.

Permisi.

[menghela napas]

Anggie.

- Anggie. - Astagfirullahaladzim.

- Astagfirullahaladzim. - Anggie.

- Bangun! - Tidak.

- Mas. - Apa-apaan kau?

Lepas! Kau sudah gila, ya?

Nanti Mama bangun.

Maafkan aku. Mas, aku hanya mau berbakti.

Tidak, Anggie.

Aku sudah tidak kenal kau siapa dan tidak tahu apa maumu!

Bicara soal Mama, semua ini karenamu, Anggie!

- Maafkan aku, Mas. - Tidak.

Aku cuma mau merawat Mama. Sekali saja.

- Semua sudah terlambat, Anggie. - Mama sakit, Mas.

Aku cuma mau berbakti sama Mama sekali saja.

Aku tidak tahu kau siapa sejak kau pindah agama.

- Kau lihat? Semua kejadian ini karenamu! - Tidak…

Keluar dari sini sekarang karena aku tak mau melihatmu!

Keluar, Anggie.

- Bi, ambil barang-barangnya! - Mas.

Bi Tik.

- Jangan, Mas. - Anggie.

- Mama. - Anggie.

Mama…

Maafkan aku, Ma.

Sudah, Anggie. Kau keluar sekarang juga!

- Keluar! Aku tak mau lihat mukamu! - Jangan…

Biarkan Mama. Keluar dari sini, Anggie.

- Keluar! - Anggie.

- Aku tak mau melihatmu di sini! - Mama.

Willy! Jangan!

Keluar dari sini!

- Jangan! - Keluar!

- Bi Tik, ambil barangnya Anggie! Keluar! - Baik, Mas.

Anggie.

Keluar!

Keluar!

Mas…

Cukup!

Diam dan jangan pernah balik lagi ke rumah ini lagi!

Jangan!

Jangan pisahkan aku sama Mama, Mas.

Mas!

- Willy… - Ma.

Ma.

- [tersedu-sedu] Anggie. - Ma…

Ma.

Mama…

[tersedu-sedu]

Ya Allah, Ya Tuhanku.

Ampunilah segala dosaku, Ya Allah.

Dosa orang tuaku, saudara-saudaraku, Ya Allah.

Mampukanlah aku melewati ujian ini, Ya Allah.

Terimalah aku kembali di dalam keluargaku, Ya Allah.

Sehatkanlah keponakan hamba, Ya Allah.

Semoga aku dapat melewati semua ujian dari-Mu ini, Ya Allah.

Amin.

Mas.

Mas.

Mas, kita dapat pendonor.

- Benar? - Ya.

Puji Tuhan…

Jessie.

Maaf, ya, waktu itu aku menyelundupkan Anggie ke rumah.

[musik lembut]

Tidak usah dibahas dulu, ya.

Kita fokus dulu saja ke Jessie.

Aku cuma khawatir.

Pesan dariku tidak dibalas.

Aku kasihan.

Dia tak punya siapa-siapa lagi, selain kita, Mas.

Pak, ini nomor telepon pendonor darahnya.

Oh, ya.

Kalau boleh tahu, untuk apa, Pak?

Aku mau berterima kasih

kepada orang yang telah menyelamatkan anakku.

- Terima kasih, Sus. - Sama-sama.

Halo.

Bagaimana, Mas? Lancar?

Lancar.

Kondisi Jessie mulai membaik.

Syukurlah.

Maafkan aku, ya, Mas… Atas semuanya.

Anggie, aku…

[musik lembut berlanjut]

[terisak-isak]

- Papa sayang tidak sama aku? - Ya.

Tentu saja sayang. Masa tidak. [terkekeh]

Kalau Mama dan Anggie? Sayang tidak sama aku?

Papa, Mama, Anggie. Semua sayang sama Willy.

Sebagai sebuah keluarga, kita harus saling sayang dan menjaga.

Lalu, kau, sebagai laki-laki, harus bisa melindungi keluarga.

- Oke? - Oke.

[terkekeh]

Harus! Wajib!

Aku tidak menyangka, Ma.

Yang menyelamatkan anakku itu Anggie.

Tapi…

kalau aku harus memaafkan Anggie karena itu…

apa aku mengkhianati Papa?

Jujur, aku tidak tahu harus apa sekarang.

Semua begitu mendadak.

Tiba-tiba saja kejadian dimulai saat Anggie pindah agama,

Papa meninggal,

dan Jessie kelainan jantung.

Ma.

Aku minta maaf.

Aku minta maaf kalau aku tidak siap.

Aku tidak kuat menanggung semua ini. Maaf, Ma.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Willy.

Willy… Willy sayang, anak Mama.

Kau sadar tidak

betapa hebatnya kau?

Kau melalui semua ini sendiri.

Kau benar-benar anak laki-laki Mama yang kuat.

Mama bangga kepadamu.

[tersedu-sedu]

[hakim] Gugatan cerai Saudari Nina Astari binti Samsudin Johari telah dikabulkan.

Alhamdulillah.

Bunda…

[Ustaz Reza] Dunia hanyalah tempat cobaan dan ujian…

bagi mereka yang beriman.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 dikatakan,

"Dan Kami pasti akan menguji kamu

dengan sedikit ketakutan, kelaparan,

kekurangan harta, buah-buahan, dan jiwa.

Dan sampaikanlah kabar gembira

bagi mereka, orang-orang yang sabar."

Subhanallah.

[musik lembut]

[Anggie] Aku mau berterima kasih kepada Ustaz

karena telah membimbingku,

mengajakku, dan meyakinkanku untuk selalu istikamah.

Sama-sama, Anggie.

Ini sudah menjadi tugasku.

Aku juga mohon pamit, Ustaz.

Aku akan kembali ke Sydney.

Oh… Kupikir, kau akan terus di sini.

Kemarin, memang tujuanku ke Jakarta itu

hanya untuk menyampaikan kalau aku berniat menjadi Muslim.

Lalu, aku sudah menyelesaikan tugasku.

Walaupun akhirnya…

aku kehilangan papaku sendiri.

[musik muram]

Tapi aku coba mengambil hikmahnya.

Itu, 'kan, yang ada di ceramah Ustaz.

Sebelum kau pergi,

ada seseorang yang mau bertemu denganmu.

Siapa, Ustaz?

Jauh lebih baik

kau bicarakan hal ini dulu dengan keluargamu.

Kalau kau tetap mau pergi.

Datang ke sini, Mas?

Ya.

Bagaimana kabarmu?

Kau terlihat baik… Benar-benar terlihat baik.

Anggie.

Maafkan aku, ya.

[musik lembut]

Maafkan aku atas semua ini. Aku tahu aku salah.

Aku salah karena sudah menyalahkanmu atas semua kejadian ini

dan seharusnya aku berterima kasih kepadamu

karena kau sudah menyelamatkan Jessie.

Pulang ya, Anggie.

Jangan tinggalkan aku dan Mama.

Mama mencarimu.

Kita lupakan semuanya, ya, Anggie. Kita mulai lagi semua dari awal.

Kita lewati semua dengan cinta kasih kita sebagai keluarga.

Pulang, ya?

[musik lembut berlanjut]

Anggie, aku kangen.

Aku kangen.

Anggie, anak Mama.

Kok lama sekali pulangnya?

- Mama kangen… - Mama.

Ma.

Maafkan aku, ya, Ma.

Semuanya jadi seperti ini.

Anggie, Mama yang minta maaf.

[terisak-isak]

Mama lupa jadi orang tua.

Saat kau mencari perlindungan sama Mama,

Mama malah mengusirmu.

Maafkan Mama.

Anggie.

Kita satu keluarga.

Harus saling mengasihi,

walaupun kita beda keyakinan.

Mama…

Terima kasih, ya, Ma, sudah menerimaku di keluarga ini lagi.

Anggie anak Mama.

Mama menyayangimu, Nak.

[musik penuh harapan]

Mau makan? Yuk.

Yuk.

Benarkah ini Anggie yang masak, Bu?

Tentu saja. Aku pelan-pelan belajar memasak.

Anggie pintar masak, Ustaz.

Ya. [terkekeh]

Terserah kau saja, Anggie.

[terkekeh]

♪ Aku memilih-Mu ♪

♪ Dan aku bersaksi ♪

♪ Hanya Engkaulah Yang Maha Esa ♪

♪ Tiada Tuhan selain Engkau ♪

♪ Engkau sayang padaku ♪

♪ Ujian-Mu terus kujalani ♪

♪ Penuh keyakinan aku berserah ♪

♪ Duka di antara peristiwa ♪

♪ Air mata adalah hikmah ♪

♪ Dalam perjalanan ♪

♪ Hidupku ♪

♪ Aku telah memilih-Mu ♪

♪ Dan tak akan pernah ♪

♪ Berpaling dari-Mu ♪

♪ Apalah arti dunia ♪

♪ Langkahku selalu ♪

♪ Dalam rida-Mu ♪

♪ Engkau yang Maha Pengasih ♪

♪ Dan Maha Penyayang ♪

♪ Hanya kuasa-Mu ♪

♪ Mampu mengubah hatiku ♪

[musik lembut]

[musik memudar]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.