Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kita alamin itu memang tujuan adalah bawa rumput pergi.
Cuma ngeliat temen sendiri yang udah hampir gak bernyawa itu sih yang paling
bikin takut.
Ya, ditetapkan boleh.
Didorong. Ya.
Atur nafasnya, Bu.
Tarik.
Tepang. Iya.
Sebentar lagi, Bu. Iya. Terus. Ibu bisa.
Ibu bisa.
Terus. Lagi, Bu. Ya.
Bagus. Terus, Bu. Nafasnya jangan lupa, Ibu. Terus.
Iya.
Terus.
Alhamdulillah.
Ibu.
Langsung ke dekat ibu bayar.
Biar merasakan detak jantung ibunya.
Mandri.
Mandri. Mandri, kenapa?
Udah masalah.
Kenapa?
Udah dilihat mata kamu.
Pasti ada yang kamu pikirin.
Terima kasih.
Kamu memang teman baik aku.
Pak Lelo, Lelo, Lelo, Leko.
Pak Lelo, Lelo, Lelo, Leko.
Harus bilang.
Coba latihan. Tarik nafas.
Lepas. Nah, gitu ya.
Gitu. Jadi itu.
Apa sih?
Ada apa sih?
Ada apa sih?
Kecua. Dari tadi cuman kecua doang.
Rangu kecuanya gede banget.
Saya itu wanita sensitif, Bu. Kalau lihat yang gede, gimana gitu?
Relax, relax, relax.
Ibu relax ya.
Napasnya tarik.
Pas, Ibu kan mau ngelahirin.
Ibu ngelahirinnya di 1, 2, 3, 4.
Saya itu bukan bidan, Bu. Tapi saya jago kalau buat bantu -bantu ngelahirin.
Saya panggilin dulu ya dokter country -nya ya.
Terima kasih
telah
menonton
Kamu kenapa, Rum?
Pelan -pelan, pelan -pelan.
Mual.
Masih jauh, Pik.
Harusnya udah deket, sih.
Udah gak jaman, Telolet.
Eh, ini diuruskan.
Biar ketok. Nah, ini kamu juga diberesin, dok. Permisi, pak.
Ini digeser. Digeser ke sana.
Pak,
dokter tetonya ada?
Kami yang mau PKL di sini dari Akademi Perawat Mahakarya. Kan saya sudah
Ganti sama yang baru.
Pak.
Kami yang mau PKL di sini.
Dari kampus mana?
Kami dari Akademi Perawat Mahakarya, Pak.
Jangan panggil, Pak, tuh.
Mas. Mas Heru.
Eh, nih.
Kalian yang bakal PKL di sini.
Sian.
Saya, Pika, ini, Arum, kami... Bukannya saya udah ngomong sama Dr. Teto ya?
Kalau yang PKL di sini harusnya laki -laki aja.
Nggak ngerti saya, Pak.
Tidak.
Iya, dok.
Nanti biar saya sendiri ngomong langsung sama dokter Teto. Biarkan bisa segera
dipulangin.
Pulang? Ini siapin asrama buat mereka berdua, ya.
Sementara aja.
Ini gimana sih?
Baik, dok.
Sementara.
Eh, ayo.
Silakan.
Ayo, ayo, ayo.
Ini siapa?
Harumi. Oh, Harumi.
Pika. Pika.
Dokter di sini ada berapa, ya?
Oh, yang tadi itu dokter Ringo.
Dia itu dokter umum.
Ada itu dokter Peto. Dia spesialis gigi. Ada lagi dokter Diana.
Dia dokter kandungan.
Cuma tiga itu aja?
Kan udah lima tahun tadinya tutup.
Sekarang baru buka lagi surat. Dari dinikasnya baru aja keluar.
Ya, tapi tenang aja.
Semua dokter praktek yang disini ada. Terus ini.
Fasilitas kesehatannya lengkap.
Eh, kesana ini ya. Kesana ini.
Bu, kalau yang ini siapa?
Oh, itu dokter Bagas.
Yang punya rumah sakit ini.
Ayo mbak, sini mbak.
Ini, maaf ya. Lagi diberesin.
Karena lagi banyak perbaikan.
Nah, kita lewat sini nih.
Ini arah asrama.
Yuk. Oh iya, di belakang sini juga bekas ada pabrik gula, tapi udah lama gak
kepake. Persis di belakang sini. Mbak?
Iya, Bu. Sini, sini. Ih, beratakan banget ini.
Maaf ya, ini lagi berbaik. Iya, Bu.
Mbak, nanti kalau perlu spray baru, ya, perlu juga bantal,
flimut, nanti bilang sama saya.
Oh, iya.
Silahkan masuk.
Makasih, Bu.
Masih banyak kerjaan. Makasih, Ibu Ida.
Iya, iya, iya.
Eh, Rum.
Ini gimana nih kalau kita beneran dipulangin cuma gara -gara kita bukan
-laki?
Lagi pula kan kita kesini juga karena rekomendasinya Pak Arief.
Gimana ya?
Kamu mau telepon Pak Arief aja.
Siapa tahu Pak Ariefnya bisa bantu.
Telepon Pak Arief ya?
Yaudah deh, aku naro tat kalian telepon. Ya? Iya.
Aku minum.
Ini aku bawa. Ada sama aku.
Aku beli langsung dari apoteknya, Dim. Gak mungkin dong palsu.
Eh, Rum. Ini katanya Pak Arief. Dia bakal ngomong langsung ke dokter Teto.
Rum, kamu lagi dapet?
Itu nembus.
Bawa pemelet nggak? Aku punya pemelet sih kalau kamu mau.
Bawa, aku bawa kopi.
Terima kasih.
Kamu ngapain di sini?
Di sini rusak.
Nggak bisa dipaku.
Udah sini, Bu.
Aku tunjukin di kamar madi yang lain.
Maaf, Bu.
Saya sudah bicara dengan dosen pemimpin kalian.
Memang kita lagi banyak sekali membutuhkan bantuan karena kondisi
dalam renovasi.
Saya pun paham.
Kenapa dokter inggo tuju mas.
Tapi.
Kalian. Tetap boleh pegail disini.
Saya pun juga tidak akan menyangkal.
Kalau tempat ini.
Memang butuh sekali banyak bantuan.
Dan kalaupun ada orang yang memang mau membantu.
Saya pasti terima.
Terima kasih, dok.
Ya.
Hei.
Aku cek pala sebentar ya.
Diam.
Yuk.
Itu mantan istrinya.
Ya walaupun sepertinya mereka masih berhubungan baik.
Dokter juga loh.
Oh iya?
Psikiater.
Malah dia punya praktek sendiri.
Kalau
misalkan
masih ada warga yang sakit.
Itu langsung diarahkan ke klinik Lembayung.
Sekarang sudah beroperasi kembali, sudah bisa menerima BPJS.
Ya dok, sebelumnya hal itu sudah saya arahkan ke warga.
Tapi dokter kan tahu sendiri, warga itu pada tahapnya. Karena masalah penduduk
diri yang lalu.
Mengenai rumor itu tidak usah dipikirkan PRD.
Lagipula kejadiannya kan sudah lama.
Sekarang klinik sedang direnovasi dan pastinya akan lebih bagus nantinya.
disampaikan ke warga. Nanti coba kita sampaikan ke warga lagi ya dok ya.
Oke, terima kasih banyak ya. Sama -sama.
Saya pamit, hari. Amin.
Dokter Ingo. Ya.
Saya ada urusan sebentar ke kota.
Tadi anak -anak PKL berangkat sama saya.
Saya titip dokter Ingo untuk pulang ke asrama ya.
Baik dok.
Bisa.
Sambal setinggu ya.
Tarung, Dika.
Iya, dok.
Mari. Mari, dok. Ya.
Kalian gak sama, kan?
Dok, saya izin.
Udah dijanji sama orang.
Saya pulangnya sendiri aja.
Duluan, pik.
Kenapa, Rum?
Kamu gak kangen sama aku?
Kangen.
Steve, ini mas.
Aku kan serius sama kamu, Rom.
Kita kesini cuma buat auto.
Gimana gini cara ini, Rom?
Gimana? Kita pernah ngelakuin ini sebelumnya, apa kiranya sekarang?
Kita pernah ngelakuin itu cuma sekali.
Itu juga karena aku, Rom.
Ingat siapa yang kasih aku minum.
Lihat. Sekarang laki -laki.
Rom, aku kan serius sama kamu. Dan aku mau tanggung jawab.
Kamu kan siap.
Kalau kamu siap, harusnya kamu ada buat aku.
Kamu gak suruh aku minum pilih itu.
Kemarin aku gugurin kemuan aku sendiri. Kamu kemana?
Kamu gak tau mau apa bener.
Karena semua harus ikutin kemauan kamu.
Rum.
Terima kasih.
Rum.
Ru. Ming.
Tini.
Itu kapan ruangan hidroterapi mau dibersihkan?
Oh. Saya minta semuanya dirapikan.
Interiornya dicopot. Dibersihkan semuanya. Supaya ruangannya bisa dialih
fungsikan untuk ruangan lain. Siap. Oke?
Baik.
Tolong, Pak.
Kok Pak lagi?
Mas dong Mas He Ru Iya mas
Jangan kerja maghrib -maghrib
Orai lo
Terima kasih.
Ini, kalau misalkan mau diganti.
Sama kalau misalkan rasa biosa sudah mulai hilang, pencilnya bisa langsung
diminum.
Untuk saya kembali lagi kapan, dok? Minggu depan, tadi saya bilang.
Terima kasih, dok. Ya.
Nanti di jalan, ya.
Terima kasih.
Ya.
Saya dari mana?
Maaf, dok. Saya tadi dari toilet.
Oh.
Saya masih ada pasien, dong.
Aro.
Ya, dok.
Masih masih ada pasien?
Yang tadi yang terakhir, dok.
Dari yang daftar lain.
Kamu gak apa -apa?
Gak apa -apa, dok.
Praktek saya masih setengah jam lagi.
Kalau misalkan ada pasien, kaburin saya.
Saya seru banget menitrasi.
Ya?
Gimana? Baik.
Dokter tuh.
Kayaknya dia beda ya sama dokter gue.
Kayaknya sih.
Bikin kelakuan apa kamu hari ini?
Lebih ramah gitu?
Dokter, terima kasih lagi.
Enggak, entar di trajer.
Trajer.
Sudah daftar?
Tanya.
Mbak.
Rum.
Aku lapor dulu ya.
Tahun namanya biar saya cek di pendaftaran.
Saya bersenya.
Wow!
Kamu kenapa?
Kamu kenapa?
Pasien.
Pasien tadi.
Pasien?
Eh, dok.
Maaf tadi, JCC mati tapi udah tak nyalain, dok.
Pak, merinding aku ini, Pak.
Alah, uang lana kok jerih.
Pak, ini perjalanan kita mulai dari sini.
Kamu ini... Nah itu tuh, gua palu.
Pak,
Pak.
Malah ketawa -ketawa, Mas.
Ini beneran, Mas.
Ini bukan main -main, Mas. Ini sudah tanda -tanda, Mas.
Kalau mau ngancurin ini semua, harus pakai ritual, Mas.
Ritual? Ritual apa?
Terserah, Mas Heru.
Pokoknya aku nggak mau ikut -ikutan, Mas. Kalau mau lanjutin, lanjutin, Mas.
mau selamat, Mas.
Halo?
Iya, iya.
Waduh?
Kita jemput.
Tapi sabar ya, agak jauh soalnya.
Iya, sabarnya.
Sumpah.
Hai Loro wedok ayu -ayu tapi gokongnya
tepas hahaha ya wisat lewat mulai ah hai
hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai hai
hai hai hai hai
Tunggu! Tunggu!
Tunggu!
Terima kasih.
Jangan kerja maghrib -maghrib.
Orai loh.
Loom... Kamu kenapa?
Kok tiba -tiba pergi?
Loom... Kamu kenapa?
Aku biasa bersalah tapi...
Enggak salah kenapa.
Malam sebelum Pak Heru meninggal, dia sempat
pegang bantet aku, Beg. Lanjut lagi.
Ya jangan pakai celana pendek, dong.
Pak Heru pegang bantet kamu.
Kok kamu gak cerita sama aku, Rums?
Semuanya enggak.
Aku yang pengen dirimu, enggak?
Aku, Bet.
Sekarang dirimu, enggak?
Mesti paruh, mesti paruh.
Atau kita pindah ke... Kamu temudinu?
Waw.
Mas, uang hidroterapi itu belum hanya dibenerin.
Ngapain?
Ngumet aku, dok.
Mesin rumput gak bisa hidup. Jenset mati.
Terus dokter itu juga nyuruh uang hidroterapi suruh dibongkar.
Buk nyuruh yang lain aja, mas.
Kan buktinya udah jelas.
Tukang pada sakit.
Mas Heru meninggal.
Tapi nanti kalau kita kenapa -napa, Mas?
Uwes, uwes, loh.
Aku udah ngomong sama tukang. Cuman tukang gak ada yang mau ke situ lagi.
apa lagi buat ngebongkar.
Gak.
Mendingan ruangannya tak tutup aja, yuk.
Yang penting gak kelihatan.
Dah.
Dah.
Jangan bercanda dah.
Dah?
Selamat malam dokter tantri.
Kok tuh ini kaya?
Ya tau toh. Yang suka pake bagiak di klinik ini kan cuma dokter tantri.
Terima kasih.
Terima kasih.
Pak, tolong Pak.
Tolong ya, Pak.
Pak.
Jangan lupa Pak Almar.
Masalah Almar, kan aku gak mungkin lupa.
Pergi ya.
Assalamualaikum. Waalaikumsalam.
Maafin aku, Da.
Aku bertahan demi duitnya, Da.
Demi Ibu.
Da, aku mau cerita.
Dah.
Itu.
Dah.
Terima kasih
telah
menonton. Aku mau berhenti aja.
Sebentar.
Beruk lurung.
Terus ini kamu.
Kamu maunya gimana?
Berhenti, Pink.
Aku mau pulang.
Pulang aja, Pink.
Coba.
Tahan ya.
Sebentar aja.
Aku gak bisa ngecewain orangtuaku lagi Rom.
Aku harus mulus. Aku harus bantu ibuku. Aku juga bingung Rom kalau kayak gini.
Atau gini aja.
Kalau memang kamu gak tahan.
Tidak apa -apa.
Lanjut sendiri saja.
Arom.
Arom.
Arom, bangun, Arom.
Kamu ingat pasal ini, polisi?
Dia yang mimpiin aku.
Tadi aku lihat dia.
Terangkan.
Lidahnya panjang.
Lidahnya panjang.
Lidahnya panjang.
Tidak.
Tidak.
Tidak. Tidak.
Terima kasih telah menonton.
Paman bimbing tinggal.
Ada gak yang Bu Ida belum ceritain sama saya?
Kalau Bu Ida gak jujur sama saya, saya gak bisa jamin keselamatan Bu Ida.
Assalamualaikum Bu Ida.
Waalaikumsalam.
Saya turut berduka cita ya, Bu, atas kepergiannya Pak Moming.
Bu Ida diancam sama dokter Ingo.
Sebenarnya ada apa sih, Bu, sama tempat ini?
Mulai dari kematian Pak Heru, sekarang kematiannya Pak Moming,
itu semua aneh, Bu.
Seharusnya kan Pak Bagas yang bertanggung jawab atas semua ini, Bu.
Kemana Pak Bagas, Bu?
Pak Bagas... Iya, harusnya
dia yang bertanggung jawab.
Fasilitas kesehatannya lengkap.
Kalau kamu gak cerita.
Aku juga gak bisa apa -apa.
Aku dilecehin di klinik.
Kamu.
Dilecehkan di klinik.
Terus.
Tadi.
Kamu cerita sama Dimas.
Dia bilang apa?
Orang.
Dia bilang aku merohan.
Semirian aja mbak.
Emangnya mbak mau kemana?
Mau Buddha.
Yaudah, saya antar ya.
Kasian udah malam gini, banyak sendirian.
Mbak mau pulang ke arah mana?
Ke sana.
Jadi, siapa yang melecehkan kamu, Rok?
Assalamualaikum. Iya, Tante.
Ada apa ya?
Dimas.
Dimas. Ada apa sama Dimas, Sandra?
Benar, ini jalanan ke rumah kamu.
Pemandangan ke rumah kamu indah ya.
Masih jauh.
Dimas yang bilang sama ibu, kalau Dimas mau ketemu temannya yang lagi PKL di
kilit lembah ibu.
ibu pikir pasti dimasukin ke kamu
ibu
pikir pasti dimasukin ke
kamu
Iya, Tante.
Kok ibunya terima telepon kamu?
Kenapa ada hubungan sama Diman?
Kenapa jalan sama Diman?
Rum.
Rum.
Rom. Kamu dari mana, Rom?
Kamu mau ke mana?
Berhenti, Pekal.
Aku udah kasih surat sama Durang ini.
Rom, tapi kita kan... Masih bisa ngomong kita, Pek.
Dari kemarin, semua kemauan kamu untuk tetap Pekal di sini aku ikutin.
Capek!
Lagian kenapa masih mau pegang sama aku?
Biar ketemu Dima.
Biar bisa ngobrol lagi sama Dima.
Biar bisa balikan sama Dima.
Kalau emang kayaknya gak apa -apa.
Ambil Dimasnya.
Rom.
Dengerin aku dulu, Rom.
Demi Allah, aku gak ada niatan kayak gitu. Gak usah bohongan sama Tuhan.
Rom.
Rom, tunggu.
Tunggu, Rom.
Pernah ngapain aja sama Dimas?
Pernah disuruh minum, dibikin mabok, terus ditidurin sampai hamil, tapi gak
tanggung jawab. Pernah disuruh abur si pernafis.
Jangan bilang... kamu dipaksa Dimas juga.
Rasul Cilopet.
Parung!
Alasan aku putus sama Dimas.
Karena aku gak mau dipaksa berhubungan badan sama dia, Rum.
Dan itu pun sebelum aku berhijab.
Hijab kamu dipakainya untuk rotot -rotot pindah tanganmu, kan?
Rum.
Dok.
Iya.
Kenapa?
Bagaimana keadaan Arum?
Arum pun isinya bayi.
Cuman masih belum sadar aja, Bika.
Saya sebelum ini sudah sempat membaca surat pengunduran dirinya, Arum.
Dari awal kan saya bilang sama kalian.
Saya tidak memaksa.
Kalau memang tidak nyaman, tidak betah, itu pilihan masing -masing.
Keputusannya seperti apa?
Kamu sendiri bagaimana?
Masih betah PKL di sini, kan?
Saya beraktif dulu ya.
Dok.
Sebenarnya ada sesuatu yang mau saya tanyakan ke dokter.
Ya.
Foto di depan, yang Bu Gida bilang itu Pak Baga, apa benar
dia pemilik Lembayung?
Kamu kenapa tanya itu?
Ya.
Karena setiap ada peristiwa... Pak Bagas itu gak pernah hadir.
Harusnya kan itu tugas Pak Bagas. Sebagai pemilik Lembayung.
Pemilik klinik Lembayung.
Itu saya.
Bukan Pak Bagas.
Maksud... Ya, saya jelasin.
Saya jelasin.
Ini.
Kenapa saya pasang foto Pak Bagas di situ?
Karena saya ingin melihat perilaku karyawan -karyawan saya.
Karena dulu, sebelum klinik ini sempat ditutup, saya sering sekali melihat
pegawai -pegawai saya, bahkan dokter, yang perilakunya itu saya lakukan.
Saya nggak mau kejadian itu terluang lagi.
Oke, saya melakukan itu.
Lalu Pak Bagas itu siapa, dok? Pak Bagas adalah supir pribadi keluarga saya.
Udah pensiun tapi.
Saya juga sudah minta izin sama Pak Baga.
Supaya fotonya bisa saya pajang di depan klinik.
Dan Pak Baga sangat mengerti.
Sekarang kamu mengerti maksud saya?
Saya praktek ya.
Mari.
Bu Ida?
Bu Ida mau kemana?
Saya mau pulang kampung, Mbak.
Suami saya sudah meninggal.
Buat apa lagi saya di sini?
Bu Ida?
Saya dititipkan sama pihak kepolisian dan klinik untuk menyerahkan
barang Pak Muming ke Bu Ida.
Kalau aku susah minta maaf ke kamu, aku ngomongnya lewat tiontin ini ya, kamu
baca.
Saya pamit, Mbak.
Pagi dok.
Pagi dok.
Pagi pak.
Ini dok, kemarin vitamin D yang dokternya siapin, saya cari 4 lain gak
Oh, bapaknya kemarin akhirnya ada banget? Iya.
Vitamin D yang 1000 IU, ini sih harusnya kalau yang...
600 iu sih ada.
Ntar buat ikut saya.
Hai, sayang. Aduh, maaf, maaf.
Maaf, dok.
Lari, lari.
Lu mau ketemu saya?
Enggak, dok. Saya lagi mau ke dokter kandungan. Tunggu suami saya.
Oke. Maaf ya, dok. Gak apa -apa.
Ya, ambil aku.
Bapak.
Kamu kenapa?
Dok, bangun, dok. Bangun, saya ini dokter Inggoy. Bika, Bika, tenang.
diri dulu, tenangin. Ya.
Tenang.
Biar ngomongnya jelas.
Kenapa?
Ini punya dokter Ingo, dok. Dia... Kamu lain ngambil barangnya dokter Ingo.
Dok, saya dalam bahaya, dok.
Hey, hey.
Oh,
percaya sama saya, dok.
Percaya sama saya.
Saya, saya curiga sama dokter Ringo, dok.
Saya ngerasa dokter Ringo ada hubungannya
dengan dokter tantri.
Dokter yang meninggal lima tahun lalu karena bunuh diri, dok.
Di situ buktinya.
Tantri.
Sudah lama saya tidak mendengar nama itu disebut orang lain.
Rasanya seperti dia masih ada di sini.
Tantri adalah dokter kandungan yang ada di klinik Lembayu.
Sampai dia ditemukan tewas di ruang hidroterapi.
Jadi, rumor itu benar.
Makanya setelah itu klinik jadi tutup.
Karena nggak ada yang mau datang ke sana.
Tapi semenjak saya pulang dari luar negeri,
Saya mau coba untuk mengelola kembali.
Situasinya jadi membahayakan ini, Bika.
Kita harus segera pindahin Aro.
Supaya Rinku gak tahu keberadaan dia.
Makasih ya dok.
Terima kasih
telah
menonton.
Terima kasih.
Harum!
Dokter Ketol.
Tolong.
Ini soal harum.
Klinik sekarang dong.
Lihat.
Terus mati, mati, dia yang salah, dia yang salah Terus mati
Put...
Terima kasih
Saya akan bilang. Jangan bilang siapa -siapa.
Dok,
ini digandung, Pak.
Cepetan gua pasang keluar aja!
Kau...
Kamu enggak bapak?
Biar saya aja.
aku pake ruangannya buat bukurin kendungan aku
maaf itu penting kita
udah aman
Jangan pernah bilang siapa -siapa Dan jangan pernah mencoba keluar
dari klinik ini
Terima kasih.
Gak tau ya.
Jangan bilang siapa -siapa ya.
Tahu saya juga melakukan itu sama Arum.
Tahu gak?
Tahu gak? Jawa lah.
Sampai jumpa.
Terima kasih.
Tiga, dengan saya.
Tantri itu terangkan saya.
Tantri itu terangkan saya.
Dia meninggal dalam keadaan hamil.
Saya bukan ayah dari anak.
Saya udah curiga kalau orang dalam.
Habis saya gak berani ngomong apa -apa.
Saya tahu.
Saya tahu, tapi saya gak bisa cerita sama siapa -siapa.
Habis saya tahu.
Sekarang saya bawa polisi ke klinik ini.
Dan saya cukup pintar untuk tahu.
Saya cukup tahu semua langkah saya dan akhirnya saya kembali ke klinik.
Tantri.
Nanti dibunuh di ruang hidroterapi.
Dan dia menghantui kita.
Kita harus ngancurin ruangan itu.
Agar nanti tenang, dok.
Sudah.
Dokter, tidak!
Tidak! Tidak!
Terima kasih.
Ayolah. Ayolah. Ayolah.
Selamat malam.
Kenapa kalian ini suka bermain -main ya?
Sama seperti bapak.
Yang suka bermain -main sama
ibu.
Padahal ibu sedang sakit keras.
Harusnya dari dulu saya membawa.
Jadi ibu gak kesakitan.
Cepet itu.
Ngambil minum cukup lama banget. Dari kecil lelat.
Kamu...
Namanya juga takdir ya.
Mungkin.
Memang baru sekarang.
Saya disuruh untuk membunuh.
Temennya mana?
Ayo lari
Lari
Terima kasih.
Pika. Pika.
Harum.
Harum.
Harum.
Bukit tak.
Kenal sama.
Kamu terima kasih.
Terima kasih.
Kangen.
Kangen.
Terima kasih.
Terima kasih
Terima kasih.
Tunjukin itu semua ke aku Tantri.
Aku janji.
Semua.
Akan ngasih tenungan buat kamu.
Terima kasih.
Terima kasih.
Pelajaran sih mungkin dari sisi agama pasti ya.
Udah pasti kalau kita cerita dari sisi agama.
Cuma pelajaran paling penting yang kita bisa ambil adalah jangan pernah
ninggalin teman kamu walaupun dia dalam kondisi yang gak baik. Karena jujur kita
ngalamin ini kan berdua ya.
Kita tuh sempet nangis bareng. Kita sering mau nangis bareng sampai keluar
-kata.
Untung aku ngalamin ini gak sendirian.
Untung aku bareng sama kamu.
Aku cekpang sebentar ya
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.