Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
- [musik lembut mengalun] - [gemeresik rumput, kicau burung]
[pria menyanyi lagu Ojo Dibandingke] ♪ Jelas berbeda bila dibandingkan ♪
♪ Tak ada yang bisa kupamerkan ♪
[nada sumbang] ♪ Aku tak sanggup bila tak bekerja ♪
♪ Jujur apa adanya ♪
♪ Siapa yang tak sakit hati? ♪
♪ Sudah menemani sejauh ini ♪
♪ Namun, semuanya tak berarti ♪
♪ Tak ada harganya ♪
[teriakan pria] Bajingan!
[bisikkan lirik lagu Ojo Dibandingke] ♪ Orang begini kok dibanding-bandingkan? ♪
♪ Kalau bersaing ♪
♪ Ya, pasti kalah ♪
To!
- Itu temannya, Mas? - Iya, Pak.
♪ Mengejarmu, ya, ku tak mampu ♪
Ndra. Ayo, Ndra!
[bahasa Jawa] Hei, apa ini main tarik-tarik saja?
Pasti modus.
Maksudmu apa sama istriku?
Aku bacok kepalamu!
Tidak sengaja, Pak.
Kamu kenapa sama istri orang?
Aku kira dia itu kamu tadi.
Anto bagaimana ini?
Penting.
[musik dangdut]
Kita tarik bersama.
Iya, sudah.
Pak. Tolong ya, Pak.
Bakal ramai ini.
Viral.
To!
- Ayo. - Ayo.
Kita sayang kamu. Ayo, sini.
Turun, Mas.
Benar dia mau bunuh diri.
[riuh teriakan warga]
Mas. Tolong, Mas!
Ini kakiku.
Hei, jangan tarik kantongku!
Jangan tarik!
- Ayo. - Ayo.
Buruan.
[alunan musik dangdut berlanjut]
- [gaok gagak] - [musik dangdut berhenti]
To, kamu kenapa tadi?
Orang, kok, diacuhkan.
Hei, To!
To!
- Woi! - Apa, sih?
Mau apa di jembatan hampir bunuh diri.
Jangan goblok, To.
- Aku… - Kata mbahku,
orang bunuh diri itu tak mungkin masuk surga.
- Siapa… - To, lihat muka Indra.
Dia tetap bertahan hidup walaupun mukanya seperti mayat.
[dentuman bas]
Maksudmu, apa?
Siapa yang mau bunuh diri?
Aku jernihkan pikiran saja.
Menjernihkan pikiran apa sampai berdiri di jembatan?
Orang tuanya Andini.
Bu Imas, minta aku menikah.
Andini hamil, To?
Tidak. Bu Imas…
Bu Imas yang hamil, To?
Ya, ampun, anak ini ngawur sekali.
[erangan] Makan ini!
[getaran ponsel]
Ya, Pak?
Ya. Sabar, Pak.
Ini dua langkah lagi sampai.
Siap. Siap, Pak.
Bingung.
[pria 1] Makan siang, Bro. Lauknya banyak.
Apa itu?
Ini, To.
Cuma perkedel, kan?
Di bawah nasi ini,
apa?
To… [gumam]
Ini…
Ayamnya kedinginan, To, aku selimuti.
Ya, ampun, Dim.
Usaha teman masih dicuri saja.
Moralmu di mana?
Moral.
Kantong.
Di kantongmu.
[musik jenaka]
Oalah!
Maling teriak maling.
Oalah!
[suara meludah]
Najis.
Masuk sendiri ke kantong.
- Tidak bisa aku cegah. - Sana.
Kan, ini belum ada lauknya.
Sudah.
[musik jenaka berlanjut]
Makan apa seperti ini.
Heh!
Tidak bayar lagi, kan?
To.
Kamu niat kerja atau tidak, To?
Kerja, kok, telat terus.
[debuk meja digebrak] To!
Iya, Pak.
Bapak bicara tidak didengar.
Pak, saya kan…
sudah lama kerja di sini.
Ya, saya tahu.
Kamu sudah lama ikut Bapak.
Saya bisa minta tolong tidak, Pak?
Minta tolong apa?
Mau pinjam uang.
[tertawa kecil] Oalah, To.
Mau pinjam berapa?
Seratus lima puluh juta.
Matamu, To!
Seratus lima puluh juta!
Kamu tidak lihat?
Warung lagi sepi seperti ini!
[musik mendayu]
Ya, yang sabar.
Bapak sudah punya rencana ekspansi membuka cabang baru.
Nanti ini juga buat kamu. Kamu yang pegang.
Tapi saya sudah tidak punya waktu, Pak.
Tapi Bapak sudah tidak punya duit.
Seratus lima puluh juta.
Buat apa, To?
[Dimas] Kok bisa sih, To?
Kok kamu tak pernah cerita, To?
[musik mendayu berlanjut]
[Bu Imas] Mau sampai kapan…
kalian kacau seperti ini tidak jelas.
Kamu niat tidak menikahi anakku Andini?
Sebenarnya dari dulu saya sudah ada niat melamar Andini.
- Ya, tapi, kan… - Tapi apa?
- Dar… - Mau bilang apa?
Mau bilang apa kamu?
Tapi apa?
Tunggu hari baik?
Tunggu tanggal baik? Tunggu wangsit?
Tidak jelas!
[kertak kipas] Iya kan, Pak?
- Pak! - [kertas robek]
Apa sih, Bu?
Ya, Anto ini diberi tahu!
[Pak Kardi] Iya, Bu.
To, kamu tahu tidak?
Kenapa matahari itu bisa tenggelam?
Apa?
[musik salsa]
Karena sudah sore?
[tertawa keras] Salah!
Matahari itu bisa tenggelam, ya, gara-gara matahari tidak bisa berenang.
- [tertawa] Ya, Bu? - [sentilan keras]
[efek trompet jenaka]
- Serius! - [Anto] Pak, Bu.
Misal pernikahannya sederhana…
Tunggu.
Enak saja.
Andini ini anakku satu-satunya.
Sederhana?
Tidak bisa.
[musik sedih]
Jangan dipaksa.
Ditabung saja duitmu.
Duitmu masih sedikit kan?
Masak menikahi anak orang dikasih makan warteg terus.
Bu, kasih saya kesempatan.
Saya kasih kesempatan satu bulan.
Lebih dari itu jangan harap kamu bisa ketemu Andini lagi.
Sanggup?
[tanpa suara] Sanggup.
Sanggup, Bu.
[musik sedih berlanjut]
Yang sabar, ya, To.
Bapak maunya kalian berdua bahagia.
Kalian berdua berniat menjalankan pernikahan dengan baik.
- Itu saja… - [Bu Imas] Ada yang ketinggalan.
Dengar ya, To!
Jangan coba-coba mempermainkan anak gadisku satu-satunya!
Awas kamu!
Bu, sudah kumarahi. Aman!
- Satu lagi. - Satu lagi.
- Mahar. - Mahar.
Seratus lima puluh juta.
Seratus li…
- [Pak Kardi] 150 juta, Bu? - [mengiyakan]
Serius, Bu?
[mengiyakan, dengkus]
- Seratus lima puluh juta, Bu? - [mengiyakan]
Satu bulan?
[mengiyakan]
[Indra] Yang sabar, To.
Pasti ada caranya.
Bagaimana caranya?
Seratus lima puluh juta hanya satu bulan.
Kalau gagal, aku tak bisa ketemu Andini lagi.
Bagaimana?
[Dimas] Bagaimana punya duit banyak?
Aku juga butuh.
Mau sewa kios.
Sewa pegawai.
Begitu itu, aku yang bantu terus.
Selamat datang, Kakak.
Silakan dicek keranjang kuningnya.
Silakan dicek.
Daster ini bisa dipakai tidur, main futsal, nonton reog, semuanya bisa.
Silakan, Kakak.
Aku mau beli kabel pengisi daya ponsel ori.
- [musik kendang] - Apa?
Ya, namanya kebutuhan orang kan beda-beda.
Oh, iya.
Kerja sebentar, tapi duitnya banyak terus.
[Indra] Sebentar, tapi banyak ya?
Begal. Itu langsung ada hasilnya, To.
Ya, hasilnya ditangkap. Kriminal.
Iya. Kriminal, ya, To.
Bagaimana kalau kita jadi model?
[Indra] Pas. Tahan.
Bagaimana, To?
- Model? - Iya.
Kalau aku, sih, bisa.
Oh, iya.
Kasihan Dimas, ya, To.
Sok ganteng.
Mukamu belakang semua.
Aku membela kamu, Dim.
Lama-lama aku pesugihan saja biar kaya.
To.
Berkelana?
Ayo, kalau mau aku temani.
Bercanda.
Pesugihan.
- Bahaya. - [Dimas] Iya.
Pesugihan harus pakai tumbal manusia, ya.
[Indra] Kata siapa?
[musik mencekam]
- [musik mencekam berhenti] - Ada, Ndra,
pesugihan yang tak pakai tumbal manusia?
Ya, ada.
To, ini cucunya Mbah Jati. Dukun paling sakti sekampung.
Pasti valid kalau bicara.
Alah.
Apa namanya, Ndra?
Sate gagak.
Tapi jangan, Dim.
Walaupun tidak pakai tumbal manusia, namanya pesugihan itu tetap ada risikonya.
Risiko apa? Kan, tak ada tumbalnya.
Pokoknya aku tidak mau.
To. Bagaimana, To?
- Alah. - [Dimas] Kita coba sekali, To?
BAYAR UTANGMU DARIPADA MBAHMU AKU KIRIM KE KAMBOJA.
Dalam hidup,
kalau ingin mendapatkan sesuatu kita harus mengambil risiko.
Kok berubah?
Kata mbahku, manusia itu harus berubah menjadi lebih baik.
Bagaimana, Dim?
Ini pintar, tapi tetap jelek.
Tapi pintar.
[musik riang]
[musik berhenti]
[Anto] Dik.
Loh, Mas Anto.
Mas tidak kerja?
Kerja, tapi mau beli garam.
Bu Imas.
[Bu Imas bergumam]
[Andini] Ibu.
- Ini disapa Mas Anto. - Bu.
[geraman Bu Imas]
[Bu Imas] Iya.
- Bu Imas. - Iya.
Ini pesanan Ibu yang via telepon tadi pagi, ya.
Terima kasih, ya, Mas.
Kok banyak sekali, Mas Denny?
Spesial buat Bu Imas. Penglaris juga buat saya.
Terima kasih. [tawa genit]
Mas, mau beli daging juga?
- Anu, saya… - [Bu Imas] Tidak mungkin, Mas.
Dia setiap hari makan tempe.
Kadang-kadang mentah saja dimakan. [terkekeh]
Bu, jangan bicara begitu.
Oh, iya, omong-omong, kita belum berkenalan.
Saya Denny.
[gemeretak tulang tangan]
Halo.
Iya. Seratus lima puluh juta?
Ambil dong.
Gede itu sapinya.
Ya. Nanti sore saya transfer, ya.
Terima kasih.
Maaf.
Beli sapi lagi, ya, Mas?
[Denny] Iya, Bu.
Harga spesial, tapi tidak pakai telur.
[Bu Imas, Denny tertawa]
Mas Denny ini humoris sekali.
[Bu Imas] Sudah ganteng, lucu,
sesuai selera saya banget.
- [dentuman bas] - Maaf, maksudnya anak saya.
Ya, sudah. Bu, Dik, saya izin pamit, ya.
Mas.
Tidak jadi beli garam?
Saya cari saja ke laut, Bu.
Cemplung sana.
Mas.
- Mas Anto. - Mas Denny.
Badannya bisa begini tidak, Mas?
Mbak Imas mau yang kanan, kiri, atau dua-duanya?
[racauan nakal] Mas Denny.
Mas Anto.
Mas.
Mas Anto.
Iya, Dik, kenapa?
Mas Anto marah, ya?
Mas.
Aku tidak mau kamu kepikiran.
Ya, nanti bisa… pakai uang tabungan aku?
Atau aku kerja serabutan juga tak apa-apa.
Apa kita…
kita kawin lari saja, Mas?
Dik. Sudah, kamu…
Biar Mas saja yang berusaha. Kamu cukup doakan Mas.
Cukup.
Iya, Mas.
Pokoknya,
aku pasti doakan yang terbaik buat Mas Anto.
[musik mendayu]
[Andini bersuara sedih] Mas.
Jangan menyerah, ya.
Janji?
Janji.
Mas pasti berusaha untuk mendapatkan kamu.
Terserah Imas-imas itu. [Anto tertawa]
[musik bergema]
[musik berhenti]
Bau daging kamu, Dik.
[dentuman bas]
Lagi apa ini?
Anu, kelilipan tadi, Bu. Mau aku tiup.
- Iya, Bu. - Alah!
Alasan!
Ayo, pulang.
Mas.
CINTAKU TERHALANG RESTU ORANGTUAMU
[Anto menyinyir] Imas-imas.
[alunan gitar listrik, tabuhan kendang]
[Dimas menirukan suara musik]
Duduk, To.
Kapan kita ritual sate gagak?
Katanya tidak mau. Risiko.
Namanya risiko harus diambil.
Kok berubah, To?
Namanya manusia harus berubah jadi lebih baik.
Bagaimana caranya?
Ya, tinggal kita bikin sate pakai daging gagak.
Jual ke dedemit, kita dapat duit, kaya raya sudah.
Sudah ayo, gas, kapan?
Ya, malam ini bisa, tapi kita belum punya gagaknya.
[geletuk gigi]
Badannya orang biasa.
Aku yang mengatasi. Tetanggaku punya. Aman pokoknya.
- Aman, ya? - Aman.
Eh.
Aman apa?
- Kamu apakan temanku? - Lepas, tidak!
[Dimas berteriak]
[kertak tulang]
[mengaduh pelan]
[Dimas berteriak kesakitan]
[cempreng] Bayar kapan utangmu? Bulan ini bengkak.
Mau rumahmu kusita?
Jangan macam-macam dengan temanku, ya, Mas.
Aku…
laporkan ke RT.
[para penagih utang tertawa]
RT-mu yang itu?
[terkesiap]
- [musik dangdut jenaka] - [suara mulut terbekap]
Makanya bayar!
Makanya bayar!
Aku…
laporkan RW.
[cempreng] RW-mu yang itu?
[musik dangdut jenaka]
Bayar!
[musik dangdut berhenti]
Sekampung kok terlilit pinjol semua.
Berapa utangnya?
Delapan puluh lima juta, total dengan bunga.
Saya kasih kau sampai bulan depan.
Kalau tidak bayar…
[alunan gitar listrik]
Paham?
Awas, jangan macam-macam sama Peaky Blunder!
Kok bisa, sih, Ndra.
Delapan puluh lima juta!
Aku ditipu.
[Indra] Aku yang goblok.
[suara kecil] Kok bisa?
[dentang kecil]
[suara kecil] Bagaimana?
Waktu itu…
aku sendirian di rumah.
Mbah Jati ikut ziarah ke makam wali.
Terus tiba-tiba ada telepon.
[getaran ponsel]
Ya, halo.
Iya, benar. Saya cucunya Mbah Jati.
Apa?
Mbah Jati kecelakaan?
Kaki dan tangannya terpisah?
[Indra berteriak]
Aku disuruh foto KTP biar bisa bayar rumah sakit.
[cekrek kamera]
Ya, aku foto KTP terus kukirim.
[Mbah Jati] Ndra.
Mbah!
- Mbah Jati! - Apa?
Bukannya habis kecelakaan?
Kecelakaan apa?
Aku baru pulang, habis nonton perahu balap.
DANA ANDA SUDAH DICAIRKAN
PEMBAYARAN PINJAMAN DILAKUKAN BULAN DEPAN BERIKUT DENGAN BUNGANYA.
[Dimas] Itu data pribadi.
Ndra.
Dasar goblok.
Teledor.
Lembab.
Rawa-rawa.
Sarang kelabang.
Dim, itu tak ada hubungannya dengan penipuan.
Pokoknya, goblok.
Pantas kamu mau ritual.
Iya, To.
Soalnya aku sudah mentok. Makanya, aku ingin ritual ini berhasil.
Ya, Dim? To?
[musik mencekam]
[gaok gagak dan deru motor]
Mohon maaf, pelan.
Nah, kan.
[alunan seruling samar yang mencekam]
Dimas di mana, Ndra?
Ya, tidak tahu. Kita janjiannya ketemu di sini.
Ini dulu tempat apa, Ndra?
To.
Kata mbahku,
dua puluh tahun yang lalu,
di sini tinggal sepasang kakek-nenek tua renta.
Tiba-tiba suatu hari, mereka mati bersama.
Kok bisa?
Kecapaian main pingpong di ruang tamu.
Terus, seramnya?
Ya, seram, To.
Tiap malam habis itu ada suara.
[meniru suara pingpong]
- [Dimas berteriak mengejutkan] - He!
Apa?
[umpatan tidak jelas Indra]
Kenapa, sih?
[terkekeh]
Hari ini kamu jadi apa, Dim?
Silakan dicek, Kakak. Semuanya.
[kecupan]
[terbahak-bahak]
[tawa susulan]
Kukira telat.
Itu, loh, bentukannya?
- Ayo. - Ayo.
[terbahak]
- [dentuman] - [Indra tertawa]
[cetrek sakelar]
Sini, Ndra.
- Apa? - Sini.
Ya, sudah.
Lah, direkam, Dim?
Iya, To.
Lumayan. Siapa tahu ada penampakan?
Aku unggah terus FYP.
Konten!
- Ini, fokus. - Iya. Maaf.
To.
Semoga sate gagak ini berhasil, ya.
Ya, kalau berhasil.
Kalau tidak, kesurupan saja, bagaimana?
Ya, kan ikuti kata-kata Indra.
Jualan sate gagak, dibeli dedemit, kita kaya, banyak uang.
- [Indra] Iya, benar itu. - [teriakan kaget]
Goblok!
Indra, goblok!
Kalau mau macam-macam, ini, loh, Dimas.
Tidak mau, aku masih muda.
Bagaimana?
Pakai baju, Indra!
Ya, kan, ini memang syaratnya. Aku lupa kasih tahu kalian.
Pakai baju, sana, loh!
Pakai baju bagaimana? Coba tengok sekali.
Tidak mau!
Aku dipelototi.
Dipelototi apa?
Itu.
Oalah.
Heru!
[bahasa Inggris] Tak boleh. Bersikaplah baik.
Heru, bersikaplah baik.
[suara tokek]
Anak baik.
Biasakan, Ndra, jangan diacung-acungkan begitu.
Jadi, aku pakai baju?
- Ya! - Iya!
- Tengok sekali. - Tidak mau!
Ya, sudah.
Sudah hilang.
[jijik] Ih.
Indra gila, sumpah.
Kenapa?
Mukamu telanjang.
Ini kan dari lahir.
Ini bagaimana?
Ikuti aku.
Sate. Satu tusuk satu juta.
Itu mantranya?
- Iya. - Terus?
Kamu yang mengipas, aku dan Dimas memutar.
Ayo.
Sambil sebut yang tadi. Hafal tidak?
- Iya, ayo. - Ya, sudah, ayo mulai.
- [musik menegangkan] - [bersama] Sate, satu tusuk satu juta.
- Yang semangat. - Sate, satu tusuk satu juta.
[bersama] Sate, satu tusuk satu juta.
Sate, satu tusuk satu juta.
Sate, satu tusuk satu juta.
Sate, satu tusuk satu juta.
Sate, satu tusuk satu juta.
Sate, satu tusuk satu juta.
[mantra dan musik menegangkan berlanjut]
[suara tokek]
[suara mantra mengendur kelelahan]
Sampai kapan ini dikipas?
- Sampai kapan ini? - Aku tidak tahu.
Satu tusuk, satu juta.
[suara menguap]
[hentakan musik]
[lambat] Satu juta.
Sate…
Sudah mau pagi.
Indra, bangun.
Satu juta.
[hentakan musik]
Kok berantakan seperti ini, ya?
Tidak tahu. Aku bangun sudah begini.
Jangan-jangan semalam ada orang, ya.
Ponselku?
Ponselku masih ada.
Ya, sudah, kita beres-beres saja. Nanti ada orang ke sini malah repot.
Minggir.
Ponselku.
Punyaku.
Aduh.
Awas.
Ayo, cepat.
[musik makin intens, berhenti]
[kicauan burung]
HAI, ANTO WICAKSONO SALDO RUPIAH 30.160.880
[helaan napas]
[Dimas berteriak]
- Apa sih? - Dedemit, To!
- To. - To.
Dedemit apa?
Lihat, To.
Ini penampakan, To.
Ini, To.
[musik mencekam]
Benar ini.
[musik mencekam berhenti]
Sini kuunggah. Pasti FYP.
Konten-konten.
Unggah matamu!
Kita sendiri pesugihan kalau ketahuan bagaimana?
Ampun. Tidak.
Berarti sebenarnya kita bisa berhasil, ya?
Ya, memang. Kalian saja yang tak percaya aku.
Kita itu telanjang,
biar mereka percaya kalau kita sama seperti mereka.
Tapi tidak mungkin telanjang saja. Pasti ada syaratnya.
Ini kalau mau pasti,
kita harus lihat dulu buku Mbah Jati isinya bagaimana.
Susah kalau itu.
Tak gampang ambil buku itu dari Mbah Jati.
Bagaimana, ya, caranya?
- [geletuk gigi] - [dentuman bas]
[Dimas tertawa bengis]
[petikan gitar oriental]
[tarikan napas]
[embusan napas] Yo.
Kalau tiga anak kampret ini sudah datang, pasti ada maunya.
Mbah.
Mbah Jati.
Ada apa?
[musik jenaka]
[kentut Indra]
[Anto terbatuk-batuk]
- Mau tanya, Mbah. - Tanya apa?
Anu, Mbah. Mau tanya soal buku.
[nada kesal] Buka, buku.
Tak ada buku itu!
[musik jenaka berlanjut]
[Mbah Jati] Aku ditugaskan
untuk menjaga buku itu dari orang-orang tak bertanggung jawab,
dan kalian…
belum pantas
untuk mendapatkan…
buku itu.
Apa itu?
Aku lagi puasa mutih?
Sayang sekali. Padahal ini pindang balado.
[suara perut lapar]
[tarikan napas]
[embusan napas]
Kalau pindang balado, kataku boleh.
Kalau begitu, bukunya juga boleh?
Tidak boleh!
[musik jenaka berhenti]
[geletuk gigi]
[Indra] Tak bisa kan.
Sudah dibilang, kok.
Tenang.
Aku dan Anto sudah punya rencana.
Rencana apa?
Sabar.
Hitung, To.
- Satu. - Dua.
- Tiga. - Empat.
[Mbah Jati berteriak] To!
Perutku kok mulas, ya? [kentut]
Masakanmu bagaimana sih?
[kentut]
Kok bisa, Mbah…
- Aduh. - Jati?
Kok bisa begitu, sih, Mbah?
Bahaya itu, Mbah.
Ayolah, Ndra.
[kentut]
[pintu berderit]
Banyak sekali bukunya ini.
[Mbah Jati] Ndra!
- Pergi. - Cokelat.
[Indra] Ya, Mbah.
Ya, Mbah.
Tolong, Ndra. Airnya mati!
Tips dan Trik Meditasi di Hari Bebas Mobil,
Seni Bersikap Bodo Amat.
[Indra] Aku ambilkan air. Tunggu sebentar, ya, Mbah.
Cepat! Ini sudah tak kuat!
- Yang mana? - Cokelat.
Sampul warna cokelat.
Cokelat semua.
Bersatu Tertawa Ala Bantul.
Ndra.
Mbah, airnya kutaruh di depan pintu.
[pintu berderit]
[gumaman tidak jelas]
Sini, dong.
Apa susahnya cari buku seperti begini?
Susahnya apa?
Ndra!
Kurang!
[gedebuk]
Ya, Mbah!
Kuning ini.
Ini, Sampul Warna Coklat.
Benar, kok.
Ayo, cari.
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
Apaan babi ngepet? Sate gagak.
- Ayo, Ndra! - Ini, Mbah. Ini.
Bilang kalau sudah.
[Indra berteriak]
- Ini apa. - Apa?
Airnya belum matang, Mbah.
Tidak usah. Orang cuma buat cebok.
Apa? Cebok, 'kan.
Kalau matang, kan, nanti ceboknya higienis.
Tahiku sudah berontak ini.
Mbah. Semangat, Mbah!
Jaga di sana saja.
- Cepat. - Ini sudah cepat.
[pintu berderit]
[aba-aba tanpa suara]
[kentut]
[kentut lagi]
[kentut lagi]
[musik kemenangan]
Mbak, lewat!
[teriakan] Woi, awas!
[kecupan]
- Posisimu, Dim! - Namanya, buru-buru.
Mbahku tadi kamu kasih apa?
- [gertakan] - [Anto] Mbahmu orang sakti.
Masa kalah sama mulas.
Sesakti-saktinya orang punya alat pencernaan juga.
[Indra] Kalau pantatnya cedera bagaimana?
Aman.
[kesal] Aman. Mana catatannya?
[alunan gitar jenaka]
Bagaimana?
Goblok! Tidak bisa dibaca ini!
Seperti tulisan dokter. Kamu menebus obat?
Ini seperti begini.
[gitar menggeloyor]
Bagaimana, sih, kamu?
Aku gugup. Tidak konsentrasi.
Terus bagaimana ini?
Apa kita kembali lagi? Mbahmu kita bius total.
Setuju.
Mbahku kan memang mau operasi sesar.
Setuju.
Goblok!
Ini, sudah aku foto.
- Tidak bilang dari tadi. - Bilang, To.
Siapkan minyak duyung,
kembang setaman, dan ritual harus dilakukan…
telanjang, Dim.
Kubilang juga apa. Keras kepala kamu.
Masak kita lihat Heru lagi, To.
[Indra] Syaratnya kan itu. Tapi, kan bukan cuma telanjang.
Ada yang lain.
Gagaknya bagaimana?
Tetanggamu masih ada gagak tidak?
[geletuk gigi]
Sudah.
Aku pernah dengar, kata orang ada yang jual di pasar.
- [bersama] Ayo. - Yakin?
Badannya orang biasa.
Ayo.
Yang mana, sih?
Sebentar, sabar. Aku agak lupa.
Sabar. Ini sudah capai putar-putar dari tadi.
Kamu tahu apa. Daerah kekuasaanku di sini.
Kekuasaanmu dari tadi tak ada yang hormat, kok.
Sebentar aku carikan.
AB Three ini.
Bagaimana, sih, ini toko perabotan.
Kan aku sudah bilang tadi terselubung.
Ini kedok saja.
- Permisi, mau beli. - Iya, sebentar.
- Bapaknya ada, Dik? - Bapak?
Iya, yang jual.
- Yang jualan? - Iya.
Sebentar, ya.
Saya bapaknya.
Meskipun begini, umur saya sudah 60 tahunan.
Tidak kelihatan ya.
- Tidak kelihatan, kan. - Pak.
Iya, Nak.
Mau ke mana?
Pamit mau memancing.
- [penjual] Hati-hati. - [anak] Ya.
[penjual] Salaman.
Anak saya nomor empat.
Adik mencari apa?
- Ini, Pak. - Kita mau membeli…
- Ga… - Gagak?
Iya, Pak.
Buat ritual?
Mau berapa? Satu ekor harganya 800 ribu.
- Wah, mahal banget. - Mahal sekali.
Satu ekor 400 ribu, ya?
Tidak bisa, Mas. Mencarinya susah.
Ya, sudah.
- Kita mencari di tempat lain saja. - Ya, sudah.
- Ayo. - Memang ada tempat lain?
Sudah. Ikuti caraku. Di pasar harus begitu.
Nih, pasti dipanggil lagi.
Satu, dua, tiga,
empat.
Pak, tolonglah. Empat ratus ribu bisa ya, Pak.
Tolong, Pak. Sekali saja.
Tidak bisa, Mas.
Delapan ratus ribu net.
Pakai caraku saja. Pasti manjur.
Dari Mbah Jati.
[semburan]
[alunan gitar jenaka]
Empat ratus ribu, ya?
Delapan ratus ribu.
Kurang berarti, kan, ya.
Sepertinya harus dua.
[semburan]
Kalau tidak beli, tidak usah begitu, Mas.
Begini.
Pak.
Empat ratus ribu, kalau ritualnya berhasil kami langganan.
Bagaimana?
- Setuju. - [Anto] Ini solusi.
[Indra] Kok cepat sekali?
Kok gampang?
Ini katalog gagaknya.
Mau yang liar, ke sana-sini dia.
Itu saja.
- [gaokan gagak] - Satunya, Ndra.
Ini, depan ini.
Nah, kelihatan gerbangnya, kan.
Sampai. Nah, ini gerbangnya.
- Turun, Dim. - Oke.
[Indra] Aduh.
Mau ke mana?
Ambil. Kuncinya ambil.
Kapok.
Serius di kuburan?
Kata mbahku,
kuburan itu malah dedemitnya dikit.
Soalnya tempat istirahat.
Ya, sudah.
Untuk permulaan,
mulai dari yang dikit dulu saja.
- Ayo. - Ayo.
Masuk. Dituntun.
Ayo.
Mau ke mana?
Cepat dong.
[Indra] Lama itu sedang apa?
Ya, dibantu dong, Ndra.
[Indra] Ini sudah semua?
- Syarat-syaratnya? - Iya.
Sudah sepertinya, ya?
[Dimas] To.
Sudah tak usah malu-malu ini demi duit.
[Indra tertawa]
Kok punyamu gundul seperti begitu, To?
Mana bawahnya berurat lagi, seperti bakso.
Beli satu, ya.
[Anto berteriak kesal]
Daripada Herumu.
Hitam lembab. Seperti lintah.
[Dimas tertawa]
Ini dong namanya Benny.
Punyamu tipis seperti sedotan.
Hati-hati dimakan penyu. [tertawa]
Bicaranya sudah. Cepat.
To. Ndra.
Kita coba.
Pas baca mantra kita minta satu tusuk sepuluh juta.
Tak kemahalan itu?
Kita coba saja.
Ya, sudah.
Coba, ya.
[bersama] Sate. Satu tusuk sepuluh juta.
Sate. Satu tusuk sepuluh juta.
Sate. Satu tusuk sepuluh juta.
[mantra berlanjut]
[musik mencekam menghentak]
[Dimas berteriak]
- [Dimas teriak] Sate! Satu tusuk 10 juta! - [Anto berteriak]
[Anto] Dimas, berhenti naiki aku!
Tahan dulu saja!
Kok malah pada pergi?
Kastemer itu!
[geraman genderuwo]
Om.
Ini. Apa…
Mau sate, Om?
Mau, ya?
[musik menghentak]
[suara kunyahan]
Bagaimana? Enak?
[geram genderuwo]
Wah.
[geram genderuwo berlanjut]
Om.
Om. Reviu.
[gemerisik daun]
[Indra] Om. Reviunya, Om.
[geram genderuwo]
Enak, kan?
[genderuwo menggeram lagi]
- [injakan kaki] - [desir]
[geram genderuwo berlanjut]
Bagaimana, Ndra?
[nada sinis] Bagaimana?
Itu kastemer pertama, malah ditinggal pergi sendirian aku.
Aku ya takut, Ndra.
Orang baru pertama lihat genderuwo.
Kalau takut itu, tidak usah jualan sate gagak.
Jualan takoyaki di pasar malam.
Jangan marah, dong.
[Indra] Ya, kalian yang bikin aku marah.
- [musik mencekam] - Tunggu, apa lagi ini?
[gemerisik daun]
- Duit! - Duit!
[alunan gitar ceria] Duit!
[Anto tertawa]
Asli ini?
Ini berarti kita berhasil.
- Iya, ini. - [Indra teriak girang]
Sepertinya pas ini sepuluh juta satu tusuk.
Ndra, aku lihat kamu tadi bicara sama dedemitnya.
Kamu mengerti?
- Ya, mengerti. - Bicara apa dia?
Katanya satenya tidak enak.
[musik mencekam]
Masak sih?
[musik mencekam berhenti]
[Dimas] Tapi,
genderuwonya kenapa bilang tidak enak, ya? Apa yang salah?
[Anto] Ya, tidak tahu.
Apa jangan-jangan satenya belum matang, ya?
- Apa… - Nah, ini dia.
Ada tulisan resep bisa disesuaikan.
Pantas.
Berarti tinggal ditambah bumbu, To?
Nanti kita coba pakai resepku, bagaimana?
Nah.
- Menarik. - Boleh.
Iya, kan?
Ini ada sepuluh juta, buat modal.
Kita menstok gagak, terus kita bagi tugas.
Aku meracik bumbu.
Aku membeli bahan-bahan di pasar.
Aku percaya sama kalian.
[suara jeda]
[musik jenaka]
Aku otak-atik di motor.
Aku kasih gerobak belakang biar enak kalau mau membawa barang.
Akur? Berangkat kita?
[bersama] Berangkat!
Berangkat ke mana, Mas?
Aku khawatir, Mas, sama kamu.
Kamu kukirim pesan tak dijawab.
Kutelepon tidak diangkat.
Kucari di warung tak ada. Kamu lagi apa?
Aku…
membantu Pak Slamet.
[Anto] Siapkan warung barunya itu.
Alah.
[Anto] Iya, kan, kamu tahu kalau warung barunya jadi aku yang pegang.
Tapi masak buka ponsel, jawab pesan, angkat telepon,
begitu saja tak bisa?
Ya, bisa. Tapi, tak enak sama Pak Slamet.
Orang lain sibuk.
[Anto] Ya, Mas minta maaf.
Kan Mas begini itu buat kamu.
[kesal] Buat kamu.
Begitu saja terus.
Sudah, begini, ya.
Misal, Mas lagi kerja.
Terus kamu telepon.
Andini kesayanganku.
[alunan gitar] Diam semua!
Hei, Slamet pria lusuh.
Diam kamu!
Aku CEO perusahaan ini.
Terus kuangkat, kan.
Iya, Dik. Sebentar.
Masih ada yang berisik.
Apa tidak dengar perkataanku?
Suatu hari, tukang-tukang yang malu, sudah tak malu lagi.
Sudah percaya diri dia.
Malu, mengerti tidak maksudnya?
- [nada manja] - Begitu dong, senyum.
- Aduh. - [Andini tertawa]
- Begitu dong senyum. - [Andini kesal manja]
Mas, meledek aku, ya? Kamu marah-marah.
[tawa Anto]
[musik romantis]
- Mas. - [musik menggeloyor]
Kok merem sih?
Biasanya habis cubit, cium. Tidak?
Itu di film-film.
Ya, bisa kalau mau seperti di film-film.
Ya? Kita ulang, ya?
Satu, dua, tiga.
[musik romantis lagi]
[kecupan]
[musik jenaka] Agak kasar begitu, ya, Dik.
[tabuhan drum]
[Anto mual]
[Dimas mual]
[mual]
[musik berpacu]
Mas.
Kamu cek dulu… barangnya.
Bagaimana? Bagus, kan?
[gaok gagak]
- [desing pisau] - [gelegar guntur]
[desing gerinda]
[musik berpacu berlanjut]
[gelegar guntur]
[kecupan]
[musik memudar]
[bersenandung]
Seperti ini saja?
Tidak aman, loh.
[mengumpulkan dahak]
[meludah]
Bajingan. Keluar sini!
Berterima kasih.
Apa?
Ini yakin di sini?
Kenapa tidak di kuburan lagi saja?
Soalnya, tempat ini sering muncul di siniar horor.
Katanya, tempat ini angker banget.
- Jangan mengarang. - Memang begitu kok.
Ini dulu tempat apa sih?
Kata mbahku,
dua puluh tahun yang lalu,
sebelum pabrik ini berhenti beroperasi,
di sini… banyak energi negatif.
Itu pabrik apa?
Baterai.
Oalah.
Tidak lucu.
Ingin jadi komika?
- Lagi serius. - Ya, sudah biar cepat selesai. Ayo.
Sumpah, Ndra.
Sudah dua kali. Masih jelek.
Ya, sudah, To, yang penting tidak gigit.
Sudah, ayo.
Tapi janji, jangan kabur.
- [Dimas] Iya. - [Anto] Ya, sudah.
Sate…
Sate satu tusuk…
Dua puluh juta.
Melunjak, To.
Yakin, To.
Sekalian, sudah telanjang seperti ini.
Aku bukan penghibur murahan.
Ayo, cepat.
Sate, satu tusuk 20 juta.
Sate, satu tusuk 20 juta.
Sate, satu tusuk 20 juta.
[bersama] Sate, satu tusuk 20 juta.
Sate, satu tusuk 20 juta.
Itu genderuwo vanila.
Setan.
Sate.
Ayo, langsung saja. Prasmanan.
Iya, To, tidak apa-apa.
Siapa itu?
Ampun, Om.
[denting kilauan gigi]
Itu yang dia doyan.
Enak.
Sama, ya. Sama seperti manusia.
Kalau sisa satu, malu-malu.
[geraman para setan]
Datang abangnya.
Disikat, kan.
Waduh.
Sekali suap.
[derum setan]
Sesak.
Iya.
[derum]
Tidak marah.
Tidak marah.
Itu pasti dia bilang sate ini enak banget.
Sok tahu.
Keseratan.
Apa maksudnya?
Serat. Minum.
[mengiyakan]
Satenya habis.
Oh, iya.
Ya, tapi…
Tapi apa, To?
Tapi kaya!
[terbahak]
- Kaya! - Kaya!
- Kaya! - Kaya!
[musik berhenti]
Ternodai, ternodai.
[musik dangdut ceria mengalun]
[Pak Kardi] Bu.
Kok lama banget sih dari tadi?
Mbak, mengajak COD jauh.
Nah, ini loh, Mas.
Haram mart, 100 persen nonhalal.
Tidak ada logo MUI.
Tidak ada.
Mau apa?
Mau itu. Kabel pengisi daya ori.
Pengisi daya ori?
Dari macam-macam.
Ini wangi rasa stroberi.
- Saya coba, ya, Mbak. - Iya.
Lumayan Kalau yang terlaris, yang mana?
Banana. Pisang.
- Saya coba, ya, Mbak. - Iya.
- Kanan. - Aduh, kanan.
- Sudah. - Terus.
- Tahan. - Tahan.
- Aduh, pusing. - Saya buka, ya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ikuti Ibu, loh.
Oh, iya.
Ini siapa sih, Dim?
Mulai sekarang, mereka yang akan buat ibu bekerja.
- Karyawan Ibu. - Iya.
- Toko Ibu? - Ya.
Aduh!
Ayo, sekarang jualan semuanya. Ayo.
[samar promosi para penjual]
Kenapa tidak dari dulu merasakan hidup seperti ini?
Banyak uang. Memang enak jadi orang kaya.
[racauan konstan Indra]
Lihat itu.
Kamu kenapa sih?
[terbata-bata] Ini alat pelemas syaraf.
Pusing berguna itu.
To…
ini perasaanku saja atau bagaimana?
Aku merasa uangku cepat habis.
Duitku juga belum cukup untuk mahar.
Belum biaya nikah, printilan, biaya gedung, suvenir, aduh.
Ya, sudah.
Kita ritual lagi saja.
Ayo, berani aku.
- Jalan. - Ayo.
Berarti besok kita ke pasar siapkan bahan-bahannya.
Aku ikut.
Kemari.
[musik semangat]
[Indra meracau]
Bagaimana?
Kita buat festival jajanan dedemit.
Dedemitnya datang.
[Anto, Dimas tertawa]
[musik dangdut]
Selamat datang di sate, Kakak.
Langsung ambil antriannya, ya.
Jangan rusuh.
Aman, ya.
Selamat menikmati.
[Indra] Terima kasih, Mbak.
[Anto] Awas, ketagihan.
Selamat menikmati, Mbak.
Langganan tetap datang.
[geraman genderuwo]
[geraman Indra]
[keplakan]
- Apa artinya? - Dua porsi.
Dua. Banyak, ya.
Satunya lagi. Ini satunya…
[bahasa Inggris] Berikutnya!
Tingginya.
- Kasih. - Selamat menikmati!
[geraman pocong]
Mas, jangan menyerobot.
[geraman berlanjut]
Asistennya.
Selebmit.
Seleb dedemit.
[Dimas, Indra tertawa]
[musik mencekam]
To, sini.
- Wih. - Lah.
Itu makanannya nanti ke mana, ya?
[musik berlanjut]
Itu lewat.
Bablas.
[Dimas] Enaknya jadi dia tak bisa usus buntu.
- [musik berhenti] - [gaok gagak]
[pintu berderit]
[desahan]
[musik mencekam]
[desau frekuensi radio]
[bisikan samar-samar]
[decit kipas angin]
[Anto berteriak]
[dentang benda bergelinding]
- [derik benda] - [desau benda]
[dengung radio]
[tawa kecil di radio]
[ketukan pintu]
[terkesiap]
- Pak Slamet, apa, Pak? - Apa sih?
Bapak ini kebetulan lewat depan rumahmu. Terus Bapak mencium bau gosong.
Makanya Bapak mampir.
Masak apa sih, To?
Masak telur, Pak.
- Masak telur saja kok… - Masak telur, Pak.
[tanpa suara]
- Apa, Pak? - [ketakutan] Itu apa?
Itu!
Apa?
Itu apa sih?
Beling, To. Beling itu.
Oalah, Beling. Aku kira ada yang bahaya.
Beling bahaya, To.
Kalau terkena kakimu.
Tertusuk, terus berdarah.
Terus, jalannya jinjit begini.
Malah seperti balerina.
Bapak pamit dulu.
[musik misterius mengalun]
Permisi, Mas. Cari siapa, ya?
- Mas? - Panggil saya Abah Budi.
[tabuhan drum]
Tapi sepertinya,
Anda terlalu muda kalau dipanggil abah.
[desutan Abah Budi]
Menjadi tua itu pasti.
Menjadi dewasa itu pilihan.
[nada sinis] Iya, lah.
Maksudnya, sedang apa di depan rumah saya?
Mas?
Sedang apa di depan rumah saya, Bah?
Tadi saya lewat di sini.
Saya mencium aroma gosong.
Oh.
Saya masak telur gosong.
- Telur? Yakin telur? - Iya.
- Bukan ubi bakar? - Bukan.
Masak buat siapa?
Ya, buat saya. Mau buat siapa lagi?
[napas tertahan]
- [efek suara cuitan] - Barangkali buat yang lain.
Rumahmu ini ramai banget, ya.
- [kokok ayam] - [embik kambing]
Ramai apa?
Tadi, rumahmu aku foto.
[musik misterius] Yang kecil-kecil ini namanya ops,
dan kalau menurut abah ini energinya sangat negatif.
Yang di mana kalau mereka ini bersatu,
mereka akan membentuk makhluk metafisika…
yang kita sebut dengan dedemit.
Sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini.
Aneh apa, Bah?
Zaman sudah canggih masih percaya takhayul.
Begini saja.
Ini buat kamu.
Suatu saat jika butuh…
[hentakan musik mencekam]
…kamu langsung hubungi Abah.
- [Abah teriak] - [dengung starter]
Apa, Bah?
Pompa bensin di mana, ya?
[hentakan musik keras]
Kita anggap ini ritual terakhir.
Sebentar.
Kok terakhir?
Padahal aku sudah mulai menikmati.
Siapa tahu kita bisa jualan produk lain?
Memang kamu mau jualan apa lagi?
Itu.
- [alunan gitar jenaka] - Sate gagak beku.
Matcha kembang setaman.
- Satu lagi yang pamungkas. - Apa itu?
Gagak keprek level 35.
Pedasnya sampai setan bilang aku bertobat.
[Dimas, Indra tertawa]
Satu gigitan berasa masuk akhirat.
- [Dimas, Indra tertawa] - Ya, itu.
Perasaanku tidak enak.
Di rumahku mulai ada gangguan. Memang kalian tidak?
Sebenarnya aku sering dapat bisikan.
Ya, aku juga.
Sering mimpi buruk dikejar-kejar dedemit minta sate.
- Nah, kan. - Tapi dia mampir,
namanya risiko pekerjaan.
Seperti ini saja, malam ini kita minta yang banyak.
Satu tusuk 50 juta.
Oke?
- Oke. - Oke.
Ayo, sudah. Siap-siap, ya.
Satu.
- Dua. - [musik penuh semangat]
[hentakan baju]
[bersama] Sate. Satu tusuk
lima puluh juta.
Sate. Satu tusuk 50 juta.
Sate…
[debam pintu]
[deru angin]
[musik mencekam]
[pocong] Sate!
Ayo.
Sate.
Ayo, ini.
Sate.
Sate.
Sate.
[sorak sate para dedemit]
[geraman genderuwo]
Mari merapat. Jangan takut.
Segera nikmati sate gagak kami.
Daging-daging ini diolah oleh koki berpengalaman.
Koki Anto, 28 tahun.
Ayo, silakan.
[musik semangat]
Anto yang sudah 30 tahun berkarier
di kapal tak berpenumpang. Ayo!
Ayo. Walaupun masih muda, tapi dia sudah berpengalaman lama.
Silakan.
[musik berlanjut]
Bagaimana satenya?
- [Indra] Mantap? - Ya.
Atas nama siapa?
Maaf, ya.
Cantik banget. Sayang, sudah mati.
Kalau masih hidup pasti jadi DJ dia.
[Anto] Pikiranmu. Berikutnya!
Seperti kenal?
[Dimas terperanjat]
[Indra] Bapak yang di jembatan.
[geraman genderuwo]
[kunyahan daging]
Ini berdua pasangan?
Kalau punya anak jadi apa, ya?
- [Dimas] Kuntul. - [berdesut]
Kuntilanak tuyul.
[kerincing]
[emosi tanpa suara]
[musik berhenti]
Satenya habis. Bagaimana?
Ya, bagaimana?
- Kamu hitung? - Tutup.
- Maksudnya? - Tapi kita sudah untung banyak.
Ya, sudah.
Dedemit sekalian.
Mohon maaf satenya habis.
Ya, tapi tenang saja.
Minggu depan datang lagi, ya.
Malam Jumat. Kita sedia…
[berbisik] Tidak. [normal] Kita sediakan lebih banyak lagi
dan bawa uang lebih banyak, ya.
[debuk meja] Sate!
Sate.
Kukira sendiri.
Sate.
Sate.
[Dimas] Sudah makan semua, kan?
Tenang. Perhatian, saudara-saudaraku yang berbahagia.
Semua bisa dibicarakan, Saudara-Saudara.
Saudara jangan memprovokasi, ya. Jangan sampai membuat keributan kecil.
Ingat! Ingat, ya! Tenang!
[Indra berteriak]
Ada yang pingsan!
Medik!
Medik!
Barang.
Semuanya sudah.
Masuk.
Cepat.
[Indra] Mereka mengamuk. Gara-gara kehabisan sate.
Ya, tapi, kan kita memang membawa stoknya segitu.
Tapi ada dedemit yang minta tambahan tadi.
Kamu ketagihan.
Bagaimana kalau disuruh dagang terus?
To, Ndra. Sebentar.
Kita kaya!
Kaya!
- [semua tertawa] - [musik gembira]
Aku menikah!
PENGANTIN BARU
Yang ini, batu apa ini?
Ini batu koko.
Batu koko? Baju koko, maksudnya.
Bercanda batu jadi baju, begitu?
Ayo, silakan dicoba.
Mau menagih, kan?
Jangan rebutan ini. Dibagi.
Ini bonus buat kalian.
Ini stoknya aku order langsung dari luar negeri, Bu.
Luar biasa kamu, Nak.
Kan anak Ibu.
Iya, dong.
Bangga Ibu.
Ini lagi jualan stok terbaru Ibu.
[tanpa suara]
[geraman genderuwo] Sate.
Sudah, sana pergi!
Mengotori sini, kamu.
Dikira penangkaran genderuwo.
[musik mencekam]
Ayo, Mas. Jadinya yang mana?
Sate.
[gagak bergaok]
Sate.
[tergagap] Bu, aku… [meracau]
Hei!
Apa sih ini bocah?
Senyum-senyum.
Ini, Dik.
Ya.
Apa itu, Mas?
Ini buat warteg. Logonya.
Tapi kalau kamu punya saran, ide, boleh.
- Mas. - Ya?
Pokoknya, apa pun yang Mas Anto kerjakan,
selama itu halal, aku pasti dukung,
Dan Mas Anto harus ingat,
kalau mengerjakan sesuatu harus dari hati.
Sama harus jujur.
Ya, Mas?
Mas.
[Anto terperangah]
Kok diam, sih?
Tidak apa.
Maksudnya itu,
Mas terharu kamu selalu dukung Mas.
Terima kasih, ya.
[melodi gitar sendu]
- Mas. - Ya?
Tapi, seperti aneh tidak.
Seperti tak menyangka begitu.
Seperti kemarin kita baru pacaran.
Terus, sekarang tiba-tiba sudah tinggal bersama.
Di sini, di rumah ini.
Tak menyangka begitu.
Iya, kan?
Aku sudah mengira ya.
- [decak Andini tak percaya] - Capai, Dik.
Kamu seperti tak suka aku di sini.
Pergilah. Aku takkan menginjakkan…
Jangan sentuh layar, Andini. Aku…
- [musik jenaka] - Apa sih?
Jangan sentuh aku!
Ya, bercanda.
Bercanda terus.
Ya.
Maksudnya itu, aku bangga begitu, Mas, sama kamu.
Aku senang kamu sudah memperjuangkan kita,
dan yang paling senangnya lagi,
kamu berhasil, Mas.
Kamu tepati janjimu. Terima kasih ya, Mas.
[dengkus]
Ya.
Ini kan semua buat kamu.
[musik romantis]
- Mas. - Apa?
Dilihat orang.
Orang apa? Sepi.
- [nada kecewa] Tidak jadi. - [musik jenaka]
- Tinggal disosor saja, Mas. - Iya, kelamaan.
Begini ini. [kecupan]
Kelamaan, Mas.
- Siapa kamu? - Tukang galon.
[alunan gitar jenaka]
- Kelamaan. - [Anto terperanjat]
Kok aneh.
Lounge.
Saatnya Anto, ya.
Pak Slamet.
Indra. Hei.
Sebentar, kamu dandan seperti ini malah seperti penjinak kobra.
Penjinak kobra.
Kobranya mana?
- Ini. - [Indra berdesis]
- Habis sudah, Pak? - [pria] Sudah, Pak.
Tambah lagi. Gratis hari ini.
Don. Aman, Don?
Keren, ya, Anto.
Ya.
Tapi itu… inilah gunanya teman.
Saling dukung cari rezeki bersama.
Yang penting halal, kan.
[satu petikan gitar]
Ya, halal, Pak.
Itu Anto.
[berteriak] To!
Kekencangan.
[pria] Anto.
- Pengusaha. - Kolega.
Pak Slamet.
To. Masyaallah.
Bapak bangga sama kamu, To.
Iya, kan, belajar dari Pak Slamet.
Kau benar-benar pekerja keras.
- Iya, Pak. - To.
Ini, kami berdua juga punya ucapan.
Terima kasih ya. Ini… [suara kecil] ucapan.
Suaramu kenapa?
Ini kecil.
- Kalau yang itu? - [suara besar] Ucapan!
[suara kecil] Ucapan.
[semua tertawa]
Bapak juga punya.
Apa itu, Pak?
Usapan.
Makan dulu.
Masih boleh?
- Aman ya? - Silakan.
Oseng tokek masih ada?
- Tidak lihat, To. - Makan, Pak.
- Bu. - [Bu Imas bergumam]
Bapak mana?
Oh, iya.
Tadi pesan kalau tak bisa ke sini.
Biasa, lihat pekerjaan.
Ada perumahan baru.
Bapakmu, kan, mandor.
Tambah, Bu, itu masih…
Iya, nanti tambah.
Dik.
- Bu, ini anaknya senyum-senyum. - Hamil?
[dengkus] Kenapa?
[petikan gitar ceria]
Kamu hamil?
Aduh.
Istriku hamil!
Ada apa?
Andini hamil!
[semua kegirangan]
Benar laki-laki.
Asyik.
Punya cucu.
- Hamil! - Hamil!
Kenapa, Nak?
Din.
[musik menegangkan]
Ke rumah sakit, To.
Jangan sampai Andini kenapa-kenapa. Ke rumah sakit.
- Titip wartegnya. - Aman, To.
Beri kabar ya, To.
[musik menegangkan]
[Dimas membaca mantra]
Kenapa malah buat mainan?
Ini benda keramat. Buat kamu tidak cocok.
Kembalikan!
Nanti diamuk mbahku bagaimana.
Kembalikan! Taruh!
[berdesis]
Ini saja.
[desis berlanjut]
[getaran ponsel]
Ya?
Bagaimana, To?
Aman?
[Indra bergumam]
Ini masih sama Dimas.
Iya.
Warung sudah kututup.
Iya.
Aman.
[mengiyakan]
Siap!
Iya.
Bagaimana Andini?
Katanya, Andini tidak apa-apa.
Cuma butuh istirahat saja.
Sekarang sudah di rumah semua.
Ya, sudah.
Tapi, Ndra.
Bicara soal rumah, ya.
Aku merasa di rumah…
seperti tidak enak begitu.
Merasa seperti dilihat dedemit.
Di rumah terasa tidak, Ndra?
Yang tenang.
Kata mbahku, dedemit itu tak akan menyakiti manusia.
[tabuhan drum]
[tabuhan berhenti]
[dentingan keras]
[erangan]
[desahan bergema] Sate.
[napas tertahan]
Sate.
Sate.
Sate.
[pekikan] Sate!
Kenapa ketakutan?
Tenang!
Sudah.
Ada apa?
Mimpi buruk, Mas.
Apa?
Tadi…
Tadi di sini… banyak dedemit, Mas.
Di situ. Terus…
Di sini, di situ.
Sampai di sini, Mas.
Tidak ada itu. Tidak ada.
Mimpinya apa?
Mimpinya…
mereka minta…
minta sate, Mas.
[musik mencekam]
- Sate? - Sate.
- [Indra] To, Anto. - [Dimas] To.
Untung rambutku tak rusak, ya.
- To! - Wih.
Mengenang masa lalu.
Ingat, tidak, ini pas SD?
Setelah pelajaran olahraga, lompat jauh.
Aku lompat…
injak tahi kucing.
[terbahak]
Sekelas bau tahi.
[terbahak]
Aku yang BAB di sana.
Kok bisa tahimu di sana?
Kamu BAB di sana?
Ya, kan, aku sudah kebelet. Toiletnya jauh, Dim.
Oalah!
To. Tahinya Indra ternyata, To.
Aku mau taubat. Aku tak mau ritual sate gagak lagi.
To!
Kenapa, To?
Iya, To.
Cerita, To. Kenapa?
Andini diganggu dedemit.
Apa?
Kok bisa?
Sepertinya mereka menagih kita untuk dagang lagi.
Oalah! Aku kira, apa?
Ya, bagus dong berarti.
Sate kita viral di dunia dedemit.
Nanti malam kita ritual.
- Beres! - Benar, To.
Benar bagaimana?
Lah, kan, kita tahu pekerjaan kita apa.
Risikonya apa.
Diganggu dedemit, kan, biasa.
- Apa? - Biasa, To.
Biasa matamu!
Andini hamil, Dim.
Kalau ada apa-apa pada calon bayiku, bagaimana?
Tapi, kondisi Andini bagaimana sekarang, To?
Sekarang dia takut sendiri. Minta ditemani terus.
To.
Masa mau berhenti, To?
Pikirkan nasibmu, anakmu.
Butuh biaya besar.
Iya, To.
Sebenarnya,
sayang juga, To, kalau berhenti sekarang.
Solusinya cuma satu, To.
Kita ritual, beres.
Justru itu yang mereka mau, Dimas.
Kalau kita ritual lagi, kita jadi budak dedemit.
Memangnya kenapa?
- Memangnya kamu apa? Budak juga, kan? - Kamu bilang apa?
Aku salah tidak, To?
Ndra. Aku salah?
Sudah.
- [dentang kaleng] - Wih.
To. Ingat, To.
Ingat.
Kamu bisa menikah.
Punya rumah. Punya segalanya.
Gara-gara apa?
Ritual.
Kalau kamu miskin, anakmu mau dikasih makan apa?
Makan, ya, tinggal makan!
Yang penting tidak makan uang haram.
[sorakan sinis] Bajingan!
Kamu bajingan, To.
Sudah punya semuanya baru bilang haram.
Munafik!
Dim, jangan bicara seperti itu.
Anto ini temanmu.
Teman apa? Teman tahi seperti ini!
Saat susah, mendatangi kita sendiri.
Saat senang, membela wanita tahi itu!
Bajingan, anjing!
Dari tadi bicara, kau dengar tidak, goblok?
Jangan bentak aku!
Itu makanya Andani sama anakku diganggu dedemit!
To.
Goblok!
Kalau mau ritual, pergi sana!
- Yang sabar. - [Dimas] Iya, aku ritual!
Aku ritual sama Indra!
Kenapa?
Kalau bukan karena bumbuku, ramai satemu?
Laku satemu itu?
Merasa paling tenar sekarang!
Iya!
Aku buktikan, To!
Kamu ini pecundang! Miskin!
Sudah sini, percaya sama aku!
Goblok!
Tak tahu diri!
- Anto, Dim. - Sudah!
Minuman, enam mendatar depan huruf…
A.
ASI.
A…
SI. Kurang banyak.
Ini.
Nah, ini. Angsle.
Pak.
Apa, Bu?
Aku kangen sama Andini.
Ya, tinggal telepon, Bu.
Aku ingin main di rumah Andini.
[alunan gitar jenaka]
Kenapa main di rumah Andini, Bu?
Main di sini saja. Mumpung sepi.
Diajak omong tidak jelas.
Andini itu kan lagi hamil.
Aku khawatir. Andini tidak terurus.
Anto, kan, lagi sibuk.
Ya, sudah.
Nanti malam kita main ke rumah Andini, ya, Bu.
Ya.
Sudahlah, Bu. Tidak usah khawatir.
Bapak yakin Anto bakal jaga anak kita dengan baik, ya.
Iya.
Sabar, Dik.
[Andini merintih]
Ini. [berdesut]
Tenang saja. Ini ada Mas.
[bisikan menenangkan]
[ketukan pintu]
[rintihan berlanjut]
Bah.
Tolong istri saya, Bah.
Akhirnya, kamu butuh bantuanku.
Ya.
[tarikan napas]
Dari awal,
saya sudah tahu kalau rumah ini bau gosong.
Iya, ayo.
Bau dedemit.
Ya, ayo, istri saya.
Sebentar, semua energinya negatif.
Apa?
Mau berkali-kali kamu pindah rumah,
dia akan tetap mengejar kamu.
Iya, ayo, baik.
Sebentar.
Apa?
Istrimu mana?
Makanya, di dalam. Di kamar, ayo.
Oh, iya, ya.
[hentakan musik]
[musik mengejutkan]
[pocong menggeram]
Coba jelaskan.
Pesugihan apa yang sudah kamu lakukan?
Sate gagak, Bah.
Tapi saya terpaksa, Bah. Saya butuh.
Saya sudah menduga itu.
Seharusnya, sebagai manusia,
jika menginginkan sesuatu…
kamu memohon kepada Sang Pencipta.
Bukan malah minta pada dedemit rendahan seperti mereka.
[musik mencekam]
Bah. Apa pun akan saya lakukan, Bah.
Yang penting, istri sama calon anak saya selamat, Bah.
Kamu harus melakukan ritual pembakaran harta.
Membakar sebagian harta
yang sudah kamu dapatkan dari pesugihan tersebut.
Sebagai simbol pembersihan.
[membaca mantra]
Itu hanya bersifat sementara. Nanti malam kita lakukan ritualnya.
Sekarang, kamu siapkan wadah untuk pembakaran.
Lilin, air, dan juga daun kelor.
Siap, Bah.
Itu saja?
Belum. Ada lagi.
Nasi kuning.
Ayam kampung.
Paha sebelah kiri, tiga potong.
Itu buat apa?
[nada kecewa]
[perut keroncongan]
Kamu dengar sesuatu?
- [dentingan] - Apa itu, Bah?
Dengar kerucuk-kerucuk?
Asam lambungku naik. Aku lapar.
Ternyata lapar saja.
Kalau tidak mau ya sudah, orang aku mau berantem sama dedemit.
Tidak kamu siapkan tenaganya,
aku kan butuh kalori.
- Aku siapkan. - Kamu tidak kelihatan.
Aku seperti ini, kamu tidak tahu.
[hentakan musik lemah]
[gemericik air]
Kita pakai resepnya Anto?
Tidak!
Ini aku bikin resep sendiri. Pasti lebih enak dari punya Anto.
Terus bumbu sama bahannya apa saja?
Kuanggap orang biasa.
Ini pasti lebih enak.
Pakai merica, garam, bawang merah, bawang putih.
Tomat, santan, air.
Loh kok pakai santan sama air?
Kita mau bikin tongseng gagak?
Ini inovasi.
Biar kita tidak ketergantungan sama Anto.
Sudah. Menurut saja sama aku.
[pelan] Kurang yakin aku.
Ndra…
Kita minta yang mahal, ya. Satu tusuk, 200 juta.
Ya, kemahalan, Dim. Seratus saja.
Genapkan saja 200, kalau 100 tanggung.
Ya, sudah tengahnya saja.
Seratus lima puluh.
Yang beli, kan, dedemit.
Kenapa kamu yang menawar?
Bakar baranya.
Sate, satu tusuk 200 juta.
Sate, satu tusuk 200 juta.
[guntur bersahutan]
Dik.
Bah. Ini, Bah.
- Dik. - [Abah Budi] Tenang saja.
[suara guntur]
Lilinnya.
Ini semua adalah simbol pembersihan.
Di hatimu harus ikhlas melepaskan semuanya.
Iya,
[Abah Budi] Ini.
Kamu harus bakar ini.
Biarkan api kembali ke api.
Selayaknya.
[membaca mantra]
Maksudnya apa?
Tidak tahu. Ramai di TikTok begitu.
Banyak duitnya.
Ayo, kita ke sana.
[suara guntur]
[gagak bergaok]
Pak. Ayo, Pak. Cepat, Pak.
Sebentar, Bu.
Kan capai dorong motor.
Pakai habis bensin lagi.
[gagak bergaok]
Pak.
Kok banyak burung gagak, ya?
Iya, Bu.
Banyak burung gagak.
- [hentakan musik keras] - Pak!
Kok burungmu banyak banget?
Iya, Bu.
Aku kok seperti Limbad, ya.
[gesekan korek api]
[gemuruh guntur]
Andini.
- Badannya panas banget, Pak. - Ya, Allah.
To!
- Waduh. - [Abah] Siapa itu?
Orang tua Andini.
Kamu tenangkan dulu.
Pak. Bu.
Andini kenapa, To?
Anu… Apa… Ini…
Nanti saya jelaskan, tapi biar kami selesaikan dulu ya, Pak.
[hentakan musik keras]
[geraman Andini]
Bah!
[Abah Budi] Rahayu!
Anak ini tidak salah!
Pergi!
[musik intensitas tinggi]
Segera lakukan.
- Andini! - Pak.
[geraman Andini]
[musik intensitas tinggi]
[gesekan korek api]
Tidak bisa, Bah.
- Andini. - [Anto] Tak bisa.
To. Kamu mengaku.
Sepertinya, kamu tidak sendirian, ya?
Di mana mereka sekarang?
Ini Mbah, minumnya.
Selamat menikmati.
[bahasa Inggris] Nikmati hidupmu!
[Dimas terkekeh]
Ramai, kan?
Apa kubilang?
Resepku pasti disukai dedemit ini.
[ponsel bergetar]
Anto.
Halo, To.
Apa?
Bakar harta?
Iya.
Iya.
Iya, aku sekarang ke sana.
Sudah, kita berhenti jualan. Kita harus ke Anto.
Tak sudi!
Sudah, tak usah pikirkan Anto.
Kita fokus jualan biar duit kita makin banyak.
[suara keras] Dim!
Tidak semua itu tentang duit!
Banyak yang cuma mau jadi kaya.
Kamu serakah dari awal!
Rasakan ini!
[erangan]
[dedemit mual]
[hentakan musik]
[dedemit mual, muntah]
Ada apa, Pelanggan?
[mual, muntah berlanjut]
[semua dedemit mual, muntah]
Sabar.
Medik! Tolong, medik!
Dihitung tidak, Ndra?
Kenapa, Ndra?
Hei! Kenapa semuanya?
Kenapa ini?
Sabar. Sebentar.
Bisa? Ini kenapa, Ndra?
Ndra, dia mau pergi.
Bos, mau ke mana?
- [geraman] - Bos?
Bayar dulu, Bos, kalau habis makan.
Bos, uangku, Bos!
Bayar!
Bapak ke mana?
Bajingan!
Uangku mana, uangku?
Hei! Bayar!
Bajingan!
Ndra, bagaimana kita?
[Dimas berteriak]
Ndra! Bagaimana, Ndra?
Bajingan.
[Dimas terengah-engah]
Ini sudah tak beres idemu.
Pokoknya, aku mau ke tempat Anto.
Kamu ikut atau tidak, aku tak peduli!
Itu urusanmu!
- [musik mencekam] - [geraman Andini]
Bah, bagaimana?
Cah Ayu.
[Abah Budi] Aku tahu kau siapa saja.
[teriakan mantra]
Pergilah kalian!
- [guntur] - [musik mencekam berhenti]
Andini.
[Pak Kardi] Nak.
[Bu Imas] Nak.
[musik menenangkan]
Nak.
- Pak. - Nak.
- Iya, ibu. - Bu.
Mas.
Aku mimpi buruk lagi, Mas.
Iya.
Bah, tadi istriku tak apa-apa, kan?
Tidak apa-apa.
Istrimu sempat ditawan dedemit.
Apa? Dedemit?
To. Jelaskan apa ini?
Iya, nanti saya jelaskan, Pak.
[Bu Imas] Sekarang!
Aku butuh penjelasannya sekarang!
[hentakan musik keras]
Mas, ini apa, Mas?
To. Apa ini, To?
- [Bu Imas] To! - To, apa ini?
[Abah Budi berteriak]
[jeritan misterius]
[suara porak-poranda]
[geraman]
[bunyi barang pecah]
[Pak Kardi] Setan!
Aku takut, Pak.
[Abah Budi berteriak]
[gaduh berhenti]
Mas!
[suara mendesing]
[Bu Imas menggeram]
[dentuman musik]
[Bu Imas] Sate.
Sate.
[hentakan musik]
[geraman] Sate.
- Ibu? - Bu!
[Pak Kardi, Andini] Bu.
Sate.
Bu.
Aku yang kesurupan, Bu.
[pura-pura] Aku minta soto pakai emping.
[gagak bergaok]
[Andini] Ibu.
[gaokan gagak berlanjut]
Bu.
Bu.
Sate.
Sate.
Sate.
Dedemit, pergi!
Dedemit, pergi! Dedemit, manut!
[hentakan drum]
Mas Budi?
[geram Bu Imas]
- Kamu, ya. - Iya.
Mbah Jati bagaimana kabarnya? Sehat, kan?
Alhamdulillah sehat juga.
- [Bu Imas menggeram] - [Anto berteriak]
Mas Budi ini muridnya Mbah Jati.
[Anto] Tolong!
[debuk pukulan]
Ini kenapa pada ke sini?
Ditelepon Anto. Katanya suruh ikut ritual bakar harta.
- [debuk pukulan] - [teriakan Anto]
Untung Anto telepon aku.
Ayo, coba.
To!
Anto!
- To. - To.
[geram Bu Imas]
Jangan!
Dim, pergi!
[geraman Bu Imas]
- Bagaimana ini, Bah? - Sini.
Aku takut kalau semakin pagi, kalian celaka.
- Mas. - Iya, Dik.
- [Andini] Mas. - Iya.
Ini sebenarnya ada apa sih?
Sabar. Nanti kujelaskan, ya.
Ayo, To. Fokus, To.
Ini tidak bisa, Bah.
[Dimas] To!
[hentakan musik]
Dim.
Tolong.
[geram Bu Imas]
Bu. Jangan, Bu.
[Indra] Mas Budi!
[Bu Imas menggeram]
Dedemit pergi! Dedemit manut!
[geram Bu Imas]
To, cepat lakukan, To!
Tunggu, korek apinya habis.
Ndra, halangi pintu depan pakai garam sekarang.
Ayo, Dim.
Harus bersamaan!
[Dimas, Indra berteriak]
Sate.
Pintar.
Jangan.
[terkekeh]
[berteriak]
To, cepat, To! Tenagaku sudah mau habis, To!
[geram Bu Imas berlanjut]
Mbak Kunti…
Ini mulutmu tak terurus. Sikat gigi, dong.
Bu. Ibu!
Bu.
Itu Mas Anto, Bu.
Tak peduli.
Bu.
Mas Anto.
Ibu!
Bakar, To!
To! Bakar, To!
[percikan api]
[suara kobaran api]
[Anto terengah-engah]
[geraman Bu Imas]
[dedemit berteriak]
Tolong.
Aku pulang kalau begini. Ampun!
[Pak Kardi pura-pura kesurupan]
Soto.
Soto!
[Pak Kardi] Aku suka…
Soto.
Pak, kesurupannya sudah.
Sudah, ya?
Saya kira masih, Mas.
Bu.
[musik menenangkan]
Jadi, selama ini…
semua yang kamu kasih buat aku sama calon anakmu itu
hasil pesugihan, Mas?
Tega kamu, ya!
To!
Kamu mau jelaskan apa, To?
Kok bisa kamu ambil jalan pintas seperti ini?
Kok tak berpikir kamu, To!
Apa yang kamu lakukan ini akan memakan korban!
Bapak kecewa sama kamu, To.
Padahal Bapak yakin kamu itu orang baik.
Minta maaf, Pak.
Saya terpaksa. Saya takut kehilangan Andini, Pak.
Takut kehilangan Andini?
Kamu tak takut berurusan dengan dedemit.
Kamu memang tidak pantas sama Andini!
[Bu Imas] Kembalikan Andini!
- [Bu Imas] Aku masih sanggup mengurus. - Bu.
Sebaiknya kalian cerai!
Bu. Ampun, Bu. Jangan.
Bu.
Bu. Andini lagi hamil, Bu.
Ini, Andini mengandung cucumu, Bu.
[kesal] Cucu!
Mau Ibu punya cucu dedemit?
Imas Indriyani!
Aku mengerti Anto memang salah.
Tapi kalau omong jangan sembarangan!
Seumur kamu boleh, Bu, semena-mena sama aku.
Tapi jangan semena-mena sama cucu kita!
Semua ini terjadi gara-gara tuntutanmu yang tak masuk akal!
[Pak Kardi] Dunia berputar bukan cuma buat kamu saja, Bu.
Semua orang berhak berbahagia.
Semua orang!
Dengan caranya masing-masing.
Ya, termasuk Anto dan Andini.
[teriak] Paham?
Pak. Bu.
Mohon maaf.
Saya janji, Bu, Pak.
Tak mau lagi. Takkan diulangi lagi.
Saya janji jadi suami yang bertanggung jawab.
Ya, Dik, ya.
Aku lakukan ini terpaksa, Dik. Aku sayang kamu.
Itu buat anak kita, ya.
[musik sendu]
[musik memudar]
[lagu "Komedi Romantis" mengalun]
[Anto] Orang itu kalau lagi kepepet
gampang sekali tergoda sama yang namanya jalan pintas.
Apalagi kalau sudah ada iming-iming duit banyak,
kaya mendadak, sampai dipuji-puji orang.
Lupa kalau semua itu tak ada yang instan.
Tapi, ya, begitu.
Hidupmu selalu ada misterinya.
Yang instan pasti ada akibatnya.
♪ Gelap sisi sembunyi ♪
♪ Kugadaikan yakinku untuk cinta ♪
♪ Dan kau yakin bersamanya ♪
♪ Kau pernah membuatku ♪
[Anto] Ingat, kalau mau berhasil harus lewat usaha dan kerja keras.
Sama yang paling penting
Jangan lupa bersyukur dengan hasil apa pun yang kita dapat.
♪ Inikah komedi romantis ♪
[Dimas] Iya, ya.
Maksud baik juga harus dibarengi dengan tindakan baik.
Jangan cuma demi mendapat pengakuan.
Demi dapat pujian.
Demi dapat perhatian.
Kita menggunakan cara-cara sembarangan.
Jadi, sadar…
kalau semuanya tak hanya bisa dinilai dengan nominal.
Bu, maafkan anakmu.
Aku salah mengambil keputusan.
Kupikir dengan cara ini bisa buat Ibu bahagia.
Dimas.
Ingat…
Maafmu Ibu terima.
Ibu cuma butuh kamu.
Bukan uang kamu.
♪ Inikah komedi romantis ♪
Di dunia ini,
Ibu cuma punya kamu.
♪ Terang yang tak pasti ♪
[Indra] Namanya manusia, ya, begitu.
Memang gampang sekali kena goda.
Apalagi zaman sekarang.
Segala hal harus dicek lagi kebenarannya.
Tak ada kata aman kalau sudah coba yang namanya pesugihan.
Lagi pula,
cuma orang goblok yang mau pakai pesugihan.
Ya, seperti aku begini.
Goblok.
Jelek.
Jelek sekali bahkan.
Ndra.
Apa?
Cepat. Itu ditunggu.
Ini sudah jadi, kok.
Mas, sudah jadi es tehnya. Ini.
[berbisik] Kamu yang antar.
Jangan diambil sendiri, Mas. Orang diantar begini kok diambil sendiri.
Ini.
Cakep.
- Silakan. - Ya.
Dik.
Istirahat di rumah saja.
Kasihan bayinya.
Tidak mau.
Pokoknya, aku temani kamu jualan di sini.
Pokoknya sampai kamu ketahuan pesugihan lagi…
Ini.
[gemeretak patah]
[suara kecil] Patah.
Tidak.
- Yakin? - Ya.
Iya. Duduk, Dik.
Sudah. Kasihan bayinya.
Di sini boleh, tapi duduk.
Hati-hati.
[musik misterius]
Bah.
To. Sate 100 tusuk.
Banyak sekali. Buat apa?
Sajen.
Cuma bercanda.
Oalah!
Jangan kurang ajar kamu.
Kamu itu aku selamatkan.
Iya, Abah Budi yang begitu.
Di rumah lagi ada acara keluarga.
Aku kasih bonus.
- Berapa? - Bungkusnya.
[berdua tertawa]
- Tidak lucu. - Aku siapkan.
[musik mencekam]
Setan memang tidak pernah menyerah menggoda manusia.
- Apa, Bah? - Tidak apa-apa.
Duduk. Aku siapkan.
[gagak bergaok]
[menyanyi sumbang Ojo Dibandingke]
[lagu asli Ojo Dibandingke]
Soal sepele, seperti tidak pernah bawa motor saja.
Heh, goblok!
Seperti ini caranya.
[terkekeh]
[suara pintu diguncang]
Allahu Akbar.
[bersenandung]
Bumi gonjang-ganjing.
[meniru suara kendang]
Cut!
Cut!
[mengaduh]
Dim!
To!
Ambulans!
Jangan.
[terbahak]
- Sekarang… - Bau, anjing.
Selamat menikmati.
- [kertak papan seluncur] - Jangan rusuh, Mbak.
Tenang semuanya selamat. Aman, ya.
Bagaimana satenya?
Mantap.
Pasti, Teman.
[musik dangdut]
[tepuk tangan]
Mantap.
Aku dihajar kuntilanak, kamu tidak tahu apa.
Jangan mengantuk.
Apa itu?
Apa itu, Bah?
Ada serangan.
- Serangan apa? - [bahasa Inggris] Serangan balik.
Dari Bahrain?
Ponaryo Astaman.
Arwahnya.
Masih hidup, Bah.
[terbahak]
[meracau]
Ya, sudah.
Aku pelintir dirimu. Pelintir.
[meracau berlanjut]
Bah. Tolong, Bah!
Bah!
Mau ke mana, woi?
[bergeram]
[pintu lemari berderit]
Eh.
Nah, ajian raga sukma.
Kemampuan melepaskan jiwa dari tubuh fisik.
Cocok.
Kalau aku tidak bisa balik bagaimana?
Andini sendirian. Sedih.
- Tenang ada aku. - Justru karena ada kamu.
Nah, ini.
Ajian Lima Daya.
Ilmu yang membuat seseorang kebal terhadap kematian.
- Kokoh. - Asoi.
Kamu tidak mau mati pengen jadi apa?
Angry Bird?
Mati, hidup lagi.
- Coba. - [meniru suara Angry Bird]
- Lagi. - [meniru Angry Bird]
- Terakhir sekali. - [meracau]
Nah, ini.
Buku harianku tersayang,
sore itu hujan turun deras sekali.
- Tante Mawar, bukan nama sebenar… - [desutan]
Cerita jorok mbahmu.
- Datang dengan… - [desutan]
Mbahmu laki-laki lajang.
[meniru suara Angry Bird]
[suara petikan gitar]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.