All language subtitles for O Romeo 2026 AMZN Hindi (ORG 5.1) 1080p WEB-DL x264 ESubs

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bang.

Dia sudah di sini?

Belum... dia baru menelepon.

Halo. Di sini Ustara.

Dengar, kau tukang cukur.

Tuan Khan?

Bioskop Liberty. Ke sana... sekarang.

- Saya tidak bisa datang sekarang, Tuan.- Kenapa?

- Ini darurat.- Apa?

Urusan pribadi, Tuan. Saya tidak bisa datang sekarang.

Kau punya banyak waktu lain untuk urusan itu.

Berangkat sekarang. Targetnya akan segera sampai di sana.

Dengarkan saya dulu, Tuan...

Chhotu...

Chhotu...

Sudah kubilang dengan jelas...

jika ada yang menelepon, bilang aku tidak ada di rumah.

Dan itulah yang kukatakan.

Tapi dia bilang dia tahu kau ada di rumah.

Dan sedang menunggu seseorang.

- Bagaimana dia tahu? - Mana aku tahu?

Orang itu bekerja untuk Intelijen.

Dia pasti punya jaringan yang kuat.

Siapa orang yang berani menggangguku?

Aku bertanya terakhir kali, sebelum aku melakukan tindakan tegas.

Chhotu! Kau di mana?

- Matikan. Matikan. - Apa yang kau lakukan?

Matikan lampunya.

Ayo cepat.

Kurang ajar.

Siapa tadi itu?

Bukan aku.

Hei! Hei! Hei!

- Tunggu. Tunggu... - Apa yang kau lakukan? Tolong...

Jangan... tolong...

Kami...

Kami tidak melakukan apa-apa, Bos. Kami...

Chhotu kecil, tanya Chhotu besar siapa yang melaporkanku.

Aku yang melakukannya.

Hadapi aku!

Kenapa Nenek melaporkanku?

Kau benar-benar keterlaluan... tidak berguna sama sekali.

Orang tidak tahu terima kasih.

Jika bukan karena Tuan Khan, kau tidak akan berada di sini sekarang,

berpakaian rapi seperti ini.

Jalal pasti sudah menghabisimu sejak lama.

Di Portugal.

Portugal?

Kau dengar itu?

Ke mana tepatnya?

Yang ini atau yang itu?

Atau ke Teluk Benggala?

Khan hanya melindungi kepentingannya sendiri, Nek.

"Musuh dari musuhku adalah temanku..." Nenek belum pernah dengar pepatah itu?

O, Nenek... kau ini sungguh... tampang tua bangka,

tapi otaknya nekat...

tampang tua bangka, tapi otaknya nekat...

tampang tua bangka,

Akan kubunuh kau!

Kau yang lapor ke Khan, jadi kau saja yang pergi.

Kami mau pergi pesta.

Portugal.

"Mari kita berpesta."

- Bos... - Apa yang kau lakukan?

Bos... pintunya terkunci.

Di mana kuncinya?

Ada di sini.

Orang tidak bisa mengunyah tulang tanpa gigi.

Ke mana pun dia memanggil... kapan pun dia memanggil...

untuk alasan apa pun... kau harus pergi, paham.

Lihat...

Dua polisi ada di sini untuk menjemputmu.

Matikan!

Berikan kuncinya.

Tuan Khan.

Datang untuk menari tiang?

Kenapa?

Apa pekerjaan membunuh perlu seragam?

Sisanya?

Kau tidak mau menghitungnya?

Tidak, aku percaya padamu.

Ini. Ini model terbaru.

Saya tidak butuh ini, Tuan.

Dia punya seluruh pasukan orang-orang botak di dalam.

Ya Tuhan. Anda begitu perhatian padaku.

Bukan kau, aku mencemaskan si target.

Siapa targetnya, Tuan Khan?

Kenapa?

Anda menyuruhku membunuh orang setiap bulan.

Aku harus memeriksa koran pagi untuk tahu siapa yang kubunuh tadi malam.

Kau akan membalas budi padaku untuk tugas ini.

Kenapa?

Menteri keuangan Jalal.

Duggal?

Jayesh Duggal? Di dalam?

Di dalam aula?

Francis Coppola sedang bersama Mario Puzo di dalam sedang menulis naskah asli.

Mata... indah, bibir, luar biasa.

Tubuh... mengagumkan.

Di mana sudut pandang ibunya di sini?

Tak ada orang luar Bandra yang akan menonton filmmu, bodoh!

- Ya. - Ya apa?

Sekarang, dengar. Ambil plotnya dari sini.

Dan paruh pertama dari film Prancis yang kita tonton.

Apa...

Apa-apaan ini?

Pergi dan lihatlah.

Siapa di sana?

Pahlawan!

Hei, botak. Kejar aku.

Dengar, Ustara.

Aku... aku tidak... melakukan apa pun.

Sumpah. Aku...

Action!

"O Romeo..."

"Romeo..."

"O Romeo..."

"Satu nyawa..."

"untuk nyawa lainnya..."

Jayesh Bhai.

Jayesh Bhai.

Jayesh Bhai.

Jayesh Bhai.

Ayolah, mari kita sepakat.

Jayesh Bhai.

Manisku.

Gadisku yang cantik...

Jayesh Bhai.

Jantungku berpacu,

hatiku terasa malu.

Berapa kali lagi aku harus menyelamatkan nyawamu?

Sekarang, katakan terima kasih.

Terima kasih apa? Minta maaf sana.

Dia masih hidup. Lihat.

Bunuh dia.

Kenapa jadi aku?

Kau saja yang bunuh.

Kau yang buat kekacauan, malah aku yang disuruh bereskan.

Kau yang dibayar untuk membunuh, bukan aku.

Bunuh dia.

Kenapa serius sekali?

Aku kan cuma bercanda.

Kau jadi buronan setelah membunuh adik Jalal, brengsek.

Kau tidak membusuk di kuburan ataupun di penjara...

Berkat siapa?

Berkat kau. Singkirkan pistolnya.

Kau ingat?

Aku ingat.

Janji?

Dia bakal kabur nanti.

Tuan Khan, terima kasih.

Tidak masalah.

Katakan...

Aku akan setia pada biro selama aku hidup, tanpa banyak tanya...

Bukan begitu. Ucapkan seperti itu.

- Bagaimana? Katakan padaku. - Pelan-pelan.

Gunakan suara mesramu...

Seperti caramu berbisik pada wanita-wanitamu.

Seperti itu.

Aku akan setia... pada biro... selama aku hidup.

Aku tidak akan bertanya...

Atau menuntut jawaban.

Melupakan apa pun yang kudengar,

dan tak pernah mengingat apa yang kulihat.

Mau dibawa ke mana semua ini, Tuan Khan?

Jadi saudara jika mau, jadi ipar jika sedang mood.

- Siapa aku bagimu? - Penari tiang.

Dan kau harus menari sesuai perintahku.

Tentu saja.

- Siapa aku? - Ayah. Ayah angkat!

Dan kau... seekor anjing.

Hubungi Desai dari bea cukai.

Beri tahu dia uangnya sudah siap.

Kita bisa pergi besok.

Ke mana?

Fiji.

Aku sudah muak menjilat sepatu orang-orang IB ini.

Persetan dengan mereka!

Tapi para gadis sudah dipesan sampai Jumat.

Kita berangkat hari Sabtu.

Kau yakin kali ini, Bang?

Sumpah demi kau...

Setelah Jumat, pestanya lanjut di Fiji.

Lalu si Nenek?

Nenek bukan masalah. Kita beri dia sedikit ganja,

dia boleh mengeluh sepuasnya setelah kita sampai di sana.

Aku sangat menyayangimu.

Aku lapar sekali. Apa menu makan malamnya?

Ada yang dingin di kulkas. Ada yang panas di ranjang.

Maaf... tadi ada urusan mendadak, aku jadi terlambat.

Salam.

Kau sudah makan?

Semua ini pasti sudah dingin. Akan kupanaskan lagi.

Tidak, aku... baru saja berbuka puasa.

Kau sedang menjalankan ibadah puasa?

Aku menjalankan semuanya.

Dan tetap bekerja saat puasa?

Ya...

Aku sendirian... tidak punya pilihan lain.

Kau terlihat sangat berbeda dibandingkan di fotomu.

Berapa tarifmu untuk satu nyawa?

Tergantung targetnya.

Jika kau ingin seseorang dihabisi, katakan saja padaku.

Aku akan melakukannya gratis... khusus untukmu.

Membunuh empat orang... gratis... Bagaimana bisa?

Empat?

Ya.

Jalal, Pathare, Ansari, dan Shankar.

Siapa?

Jalaluddin Shah. Inspektur Pathare.

Jaksa Penuntut Umum Anjum Ansari dan Shankar Basode.

Siapa yang memberitahumu tempat ini?

- Bibi Shilpa di lorong belakang... - Siapa?

Biryani Chachi. Aku membawakan ini untukmu.

Bukankah ini kesukaanmu?

Duduklah.

Aku dengar dari orang-orang itu

bahwa hanya satu hal di dunia ini yang bisa membunuh Jalal.

Ustara.

Dan tiga lainnya, Shankar... Ansari...

Pathare?

- Kenapa kau ingin membunuh mereka? - Karena mereka bekerja untuk Jalal.

Mereka bekerja untuk Jalal?

Kau belum memberitahuku... tarifmu per orang.

Tarif, ya. Per orang.

Aku ingin ketiga target itu. Semuanya. Habisi mereka.

Bagaimana?

- Chhotu. - Ya, Bang.

Bodoh, cepat naik ke sini.

Ada apa? Apa dia kehabisan kondom?

Aku sudah menaruh satu paket penuh di kamarnya.

Ya, Bang?

Berapa tarif standar kita saat ini... per orang?

Per orang?

Dengar, kita punya kesepakatan.

Kau bilang dengan jelas, dari matahari terbenam sampai terbit...

Kau akan membuatnya terjaga sampai matahari terbit...

- Kupikir kau... - Mataharinya takkan pernah terbit.

- Bodoh. - Dia yang mengatakannya.

Tidak, tidak... dia di sini untuk menidurkanku.

Kenapa kau tidak memeriksa wajahnya?

Berikan albumnya. Sini albumnya.

Berikan albumnya padanya.

Lihat, Bang. Lihat...

Itu dia. Benar dia.

Ya, itu dia. Mirip sekali. Wah...

- Bukan, itu bukan dia. - Dia bukan orangnya.

Pergi sekarang juga. Bawa wanita ini pergi.

Pergi.

- Ayo... - Bang... aku melihatnya datang...

Mungkin dia muncul saat kau sedang bersamanya.

Dia mungkin baru pergi sampai halte bus.

Kami akan menjemputnya sekarang. Tenanglah...

- Tidak, jangan tenang. Jangan tenang! - Kau sebut ini keamanan, hah?!

- Lari. Lari ke halte bus. - Gadis itu muncul dari kedai Biryani!

Duduk santai di kamarku!

Suatu hari Jalal akan muncul...

Dan menembak mati aku!

Kalian pasti malah asyik main kriket.

Selamat pagi, Bang!

Selamat pagi! Selamat pagi... selamat pagi.

Milind Soman tampil tanpa busana demi iklan sepatu.

Memicu kehebohan di seluruh negeri.

Mayavati terpilih sebagai Kepala Menteri Dalit pertama di Uttar Pradesh.

- Kesempatan lebih baik bagi kaum minoritas... - Dia masih di sini.

Aku bisa menyuruh anak-anak.

Biarkan saja. Dia akan pergi sendiri.

Siapa itu?

Oh ya... maaf, maaf, maaf. Akan kubawa Bos ke sana.

Julie. Julie. Julie. Julie. Julie. Julie.

- Ustara. - Nyonya...

Kenapa kau lama sekali?

Gadis sialan itu di balik tirai, sedang berbaring di ayunan.

Berhenti tertawa. Jantungku berdebar kencang!

- Kau tahu apa yang dia katakan? - Apa?

Katanya dia takkan menari sampai kau muncul di sini.

- Dia benar. - Omong kosong.

Buang itu. Masuklah dan lihat sendiri.

Sudah penuh sesak.

Lihat, orang-orang sudah mulai tidak terkendali.

- Benarkah? - Kurasa aku harus menari telanjang saja...

- Wah, seksi sekali. - Lihatlah.

Julie. Julie. Julie. Julie. Julie. Julie.

Julie... kekasihmu sudah datang.

Sekarang menarilah, sayang.

Julie. Julie. Julie. Julie. Julie. Julie.

"Di hadapanmu, apa yang bisa kuberikan."

"Hati ini, hidup ini, keduanya milikmu untuk diambil."

"Di ujung jalan sang kekasih,"

"sebuah rumah menantimu."

"Aroma cinta itu langka, tapi tetap kubeli juga..."

"Dan sebotol racun, untuk malam-malam yang panjang"

"Aroma cinta itu langka, tapi tetap kubeli juga..."

"Dan sebotol racun, untuk malam-malam yang panjang"

"Mengumpulkan segala yang dibutuhkan untuk hidup dan mati..."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

"Aroma cinta itu langka, tapi tetap kubeli juga..."

"Dan sebotol racun, untuk malam-malam yang panjang"

"Mengumpulkan segala yang dibutuhkan untuk hidup dan mati..."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

Kau mau menjalankan tugas pembunuhan?

Aku akan hancurkan seluruh dunia untukmu...

Siapa namanya?

Julie...

Aku lebih baik menghadapi pisaumu sekali daripada mati setiap hari.

"Aroma cinta telah menerbangkan hatiku ke langit."

"Kedatangan Laila telah membuat gurun pasir pun bermekaran."

"Saat aku melihat sekilas bayanganmu, hariku akhirnya terasa lengkap."

"Mataku selama ini merasa haus, inilah saatnya untuk memilikimu."

"Saat aku melihat sekilas bayanganmu, hariku akhirnya terasa lengkap."

"Mataku selama ini merasa haus, inilah saatnya untuk memilikimu."

"Kau memilikiku sekarang."

"Hanya hati ini yang kumiliki, yang kini juga kau curi."

"Cinta adalah samudra yang harus diseberangi si pecandu..."

"sebagian tenggelam. Sebagian berhasil menyeberang."

"Sebagian tenggelam. Sebagian berhasil menyeberang."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

"Sebagian tenggelam. Sebagian berhasil menyeberang."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

"Di jalan kekasihlah tempat aku memilih tinggal."

Shane Warne dan Mark Waugh dituduh menerima suap.

Menciptakan kehebohan di dunia kriket.

Century dari Laxman membantu India meraih kemenangan mendebarkan.

Persiapan untuk Piala Dunia dimulai.

Petani di Punjab mengklaim mendapat keuntungan dua kali lipat...

Bisa kupanggil dia ke atas sekarang?

Kalau tidak, kita harus membangun kuil pemujaan untuknya.

Bang... harta karun.

Kak...

Inspektur Pathare harus dihabisi lebih dulu.

Ini laporan lengkap hidupnya selama sebulan terakhir.

Dia pergi ke Kafe Navroz Irani di Dadar setiap hari untuk Kheema Pav.

Dia bisa dihabisi dengan mudah di sana.

Siapa lagi di daftarmu?

Ansari. Shankar...

dan Jalal.

Kau mau membunuh Jalal?

Jalal ini bukan manusia, dia monster.

Jika dia sampai tahu,

ada seseorang di Mumbai yang mencoba merencanakan pembunuhannya...

Dia akan mencincangmu jadi potongan kecil hingga

takkan ada yang tersisa untuk dikubur.

Kau mau menjual itu padaku?

Tentu saja.

Kami akan menjualnya.

Tapi bagaimana kau akan menggunakannya?

Aku akan belajar.

Siapa yang akan mengajarimu?

Bagaimana kalau kau saja?

Aku akan mengajarimu...

Tapi gratis?

Tidak.

Aku bisa membayar biayanya.

Biaya?

Apa yang sanggup kau berikan?

Apa pun yang kau mau!

Kau mau tidur denganku?

Ya... aku mau.

Apa?

Aku akan tidur denganmu.

- Ayo, teman-teman. Hias ranjangnya. - Siap, Bang.

Hubungi penjual bunga.

Suruh dia kirim mawar... Ayo. Naiklah ke atas.

Berikan tanganmu.

Kau tampak seperti dari keluarga baik-baik.

Sebelum seseorang menjualmu ke rumah bordil, pergilah.

"Kau tak tahu, sayangku..."

"Ini adalah janji sejati."

"Untukmu, aku hidup..."

"Itulah tujuanku."

"Itu sebuah janji, sayangku."

"Ini janji... Ini janji..."

- - "Itu sebuah janji, sayangku." - Afshan.

- "Ini janji... Ini janji..." - Apa yang terjadi?

"Ini sebuah janji..."

- "Itu sebuah janji, sayangku." - Tunggu. Bagaimana kau bisa sampai di sini?

"Ini janji... Ini janji..."

"Itu sebuah janji, sayangku."

"Ini janji... Ini janji..."

"Ini sebuah janji..."

"Ini sebuah janji..."

"Saat sekring di rumah putus,"

"aku akan menciummu dalam gelap."

"Jika kau pernah hilang dari pandanganku,"

"aku akan berpegangan pada bayanganmu."

"Kau lebih berharga dari nyawa..."

HIDUP AFSHAN

Cairkan sekarang...

sebelum ditolak.

Gaji?

1500 Rupee.

- 1500 Rupee tidaklah cukup, Nak... - Aku akan menjaganya bak putri, Paman.

Itu janji saya.

Bisa kau siapkan 50.000 untuk mas kawin?

Aku butuh waktu. Enam bulan.

Enam bulan terlalu lama...

Aku akan menikahimu dalam tiga bulan.

"Akan kutumpuk kenanganmu sepanjang hari"

"dan mempertaruhkannya demi kesepianku."

"Saat jalanan terasa sepi,"

- "aku akan di jendela, memanggil namamu." - Mamdu.

Afshan Siddiqi, putri dari Habib Siddiqi,

pernikahanmu telah ditetapkan dengan mas kawin lima puluh ribu.

Apakah kau menerima?

Saya terima.

"Hidup untukmu, itulah tujuanku."

- Siapa itu? - Polisi!

- Mamdu. Apa... - Luar biasa.

Dia mengenalimu bahkan dalam kondisi begini.

Cinta sejati, Kakak Ipar...

- Cinta sejati. - Apa... apa yang terjadi padanya?

Tidak terjadi apa-apa, Ipar, tapi hampir saja...

Hei, Dokter, ke sini sebentar.

Ayo, siapkan peralatanmu.

Beri aku cahaya.

Cahaya...

Kakak Ipar punya cahayanya.

Kakak Ipar...

Tuan Jalal bilang, siapa pun bajingan yang...

Diamlah, keparat!

Tutup mulutmu.

Dia ini Kakak Ipar kita.

Maaf, Kakak Ipar.

Maaf ya, Kakak Ipar.

Siapa pun yang melakukan ini takkan hidup lama.

Aku butuh air panas.

Kau tahu tidak, Kakak Ipar?

Tuan Shankar sendiri yang datang mengantarnya dengan mobilnya.

Stereo mobilnya mantap sekali.

Kakak Ipar, tolong ke sini sebentar.

Jika seseorang mati,

Tuan Shankar bahkan tidak sudi datang ke krematorium.

Tapi dia sendiri yang datang mengantarkan Mehboob,

meskipun dia sedikit babak belur.

Lambaikan tangan padanya.

Kubilang lambaikan tangan padanya!

Lambaikan dengan kedua tanganmu, Kakak Ipar.

Nanti kalau dia sudah bisa bicara...

Teruslah melambai.

Katakan padanya untuk telepon Spanyol.

Sampai jumpa, Kakak Ipar.

Mamdu.

Maaf.

Maafkan aku, maaf...

Jangan...

Mamdu. Mamdu.

Semua ini...

"Untukmu... hanya untukmu."

Taruhan kriket. Bar penari.

Pencucian uang, kontrak pembunuhan, dan...

Dan apa?

Narkoba!

Kupikir sebagai akuntan,

tugasku hanyalah mengelola pembukuan.

Uang itu bisa milik siapa saja, aku tidak peduli.

Kau membohongiku.

Pekerjaan layak takkan bisa membayar tagihan kita, Afi...

Dari mana aku dapat uang mas kawin?

Aku tidak mau kehilanganmu, Afi...

Kau sudah memilikiku sekarang.

Kita akan pulang... ke rumah.

Kau tidak kenal Tuan Jalal, Afi.

Dia tidak suka melihat siapa pun meninggalkannya.

Dan aku tidak tahan dengan hidup ini.

Jadi, kau pilih...

Aku...

atau saudaramu, Jalal.

Baiklah, aku...

Aku... akan mencoba.

Jika kau gagal,

aku akan membunuhmu.

Seberapa cepat kau akan tahu?

- Sore nanti... - Kenapa sore?

Karena Spanyol tertinggal empat setengah jam dari kita.

Karena itulah.

Sampai jumpa.

Afshan. Afshan.

Ada telepon untukmu!

Bibi.

Sudah selesai?

Apa?

Mamdu... Mamdu...

Mamdu...

Ini jelas-jelas kasus murni dari rekayasa baku tembak.

Mehboob Qureshi dulunya bekerja untuk Jalal.

Tapi hanya sebagai seorang akuntan.

Pada hari dia dibunuh, Qureshi berencana berhenti dari pekerjaannya.

Yang mana tidak disetujui oleh Jalal.

Yang Mulia, semua orang tahu...

beberapa petugas Satuan Kriminal ada dalam daftar gaji Jalal.

Termasuk petugas... yang bersangkutan...

Inspektur...

Parathe.

Keberatan, Yang Mulia.

Namanya Pathare, bukan Parathe. Duduklah.

Yang Mulia, Mehboob Qureshi bukan hanya seorang gangster berbahaya,

tapi juga penembak jitu licik dari geng Jalal.

Pistol yang ditemukan dari mayatnya,

telah digunakan untuk melakukan lebih dari 10 pembunuhan.

Kriminal seperti Mehboob Qureshi adalah kanker bagi masyarakat, Yang Mulia.

Dan petugas seperti Inspektur Pathare

seharusnya diberi penghargaan karena telah memasmi mereka, Yang Mulia.

Bibi...

Totalnya dua puluh lima paket...

Ini akan memakan waktu.

Nihari-nya ternyata enak sekali.

- Meja terakhir. Kakak Abdul... - Silakan masuk. Selamat datang.

Nona Pembunuh.

Sudah menemukan target?

Masuklah, selamat datang.

Kau masih di sini?

Belum dipanggil.

Oleh siapa?

Yang Mahakuasa.

Siapa namamu?

Afshan.

Maaf, Afshan.

Mungkin aku terlalu kasar tempo hari.

Tidak apa-apa.

Di kota ini, pemakaman keluarga pun punya maksud tersendiri.

Kenapa mereka harus peduli rasa sakit orang asing?

Rasa sakit orang asing?

Membunuh orang itu tidak mudah, Afshan.

Saat waktunya tiba,

orang paling tangguh pun bisa kencing di celana.

Aku tidak pakai celana.

Wah, dialog yang mantap.

Nona pembunuh.

Tuan Desai. Selamat malam, Tuan.

Anda lupa hidangan penutupnya.

Ya, Tuan. Tunggu sebentar.

Ya?

Jujur? Kau menjaminnya?

Jika keadaan memburuk, bos... akan menembak kepalaku.

Tunggu, biar kutanya.

Bang, ini Desai dari Diu.

Katanya ada kapal kargo yang berangkat dua hari lagi ke Fiji.

Haruskah kuterima?

Lakukan saja.

Kami akan sampai besok malam, Tuan.

Senang?

Ayo, kemasi barang-barangmu.

Kita berangkat besok. Selamanya.

"Romeo berulah di gang belakang, membuat burung merpati beterbangan kemarin."

"Terbang melewati atap dan balkon yang rapuh... lalu mendarat di payung Juliet."

"Romeo berulah di gang belakang, membuat burung merpati beterbangan kemarin."

"Terbang melewati atap dan balkon yang rapuh... lalu mendarat di payung Juliet."

"Dia membawakan cincin perak, membidik tepat ke jantungmu."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

Tuan Pathare sudah datang.

Halo, Ansari.

Duduklah.

Tuan Pathare, khusus untukmu.

Lihat ini...

Dia keturunan Brahmin asli.

Satu-satunya adik perempuan dari lima bersaudara.

Mereka siap memberikan mahar apa pun yang kau minta.

Dan lihat yang ini...

Putri tunggal dari seorang pengacara senior di Kolhapur.

Dia berbakat dan cantik.

Mau pesan apa, Nyonya?

Teh Irani, teh Sulemani, teh lemon, teh hitam, kheema pav, butter pav.

Dan yang ini adalah yang terbaik dari semuanya.

Dia seorang agen asuransi pemerintah.

Gaji bersih 25.000.

Pesan butter pav.

"Sentuhan celak mata, untuk menjauhkan nasib buruk"

"agar istrimu tidak tahu."

"Sentuhan celak mata, untuk menjauhkan nasib buruk..."

"agar istrimu tidak tahu."

"Saat kau pergi ke negeri yang jauh, jangan lupakan aku..."

"jika kau bertemu seseorang sepertiku, jangan lupakan aku saat itu."

"Jangan lupakan aku..."

"Jangan lupakan aku..."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

"Toko sirih di bawah, rumah Julie ada di atas."

"Hati-hati melangkah, sayangku."

Apa-apaan... Apa maksud semua ini?

Aku sedang mencari istri, bukan pembantu.

Cari seseorang yang sebanding denganku.

Sebanding? Maksudnya?

Maksudnya yang cantik.

Bermata indah... mempesona, cantik.

Cerdas.

Berpenampilan menarik, lembut, bersuara merdu.

Seseorang yang punya kepribadian.

Berjiwa muda, langkah yang anggun, tatapan yang menghanyutkan.

Saat kita berjalan menyusuri jalanan,

semua mata harus tertuju pada kita.

"Pasangan yang luar biasa, kawan."

Ansari, aku harus pergi.

Kita bicara lagi nanti.

Apa yang kau lakukan, Nyonya?

Kau menumpahkan teh panas dan mau pergi tanpa membayar.

Siapa yang akan ganti rugi kerusakannya?

Bayar sekarang.

Harganya 12 rupee, Nyonya.

Nyonya, kubilang 12 rupee. Berikan uang pas.

Kriminal seperti Mehboob Qureshi adalah kanker bagi masyarakat, Yang Mulia.

Kita harus menghargai petugas seperti Inspektur Pathare karena telah membasmi mereka.

Hei...

Sialan, apa-apaan ini?

Dengar, Nona. Kau salah paham.

Apa salahku padamu?

Aku janda Mehboob.

Jangan... Jangan, Tuan Pathare.

Janda Mehboob...

Pergilah menyusul suamimu yang mati itu!

Ini Desai dari Diu. Apa yang harus kukatakan sekarang?

Tuan Desai... aku baru saja mau meneleponmu.

Sebenarnya... ada urusan mendesak.

Jadi, kami tidak bisa berangkat.

Biarkan kapalnya pergi. Biarkan saja.

Kapan jadwal berikutnya?

Mungkin sudah tidak ada lagi?

Tidak masalah.

Kalau memang takdir, kita pasti sampai di sana.

Kami akan hubungi jika ada rencana lagi di masa depan.

Ya. Terima kasih.

Bongkar kembali koper kalian.

Kita akan mati di sini.

Cari tahu apa yang terjadi pada suaminya.

Kita tidak akan pernah bisa keluar dari sini, kan?

Bahkan setelah mati pun, hantu kita akan bergentayangan di sini.

Ambilkan handuknya.

Handuk... Berikan dia handuk, brengsek.

Maaf, Bang.

Kita tidak pernah kekurangan senjata,

lalu kenapa harus melompat dari kereta yang melaju hanya untuk mencarinya?

Padahal hidup kita seharusnya berubah mulai besok.

Kenapa kau membunuh Ansari?

Tapi nama Ansari ada di daftar targetmu.

Tapi kau tidak punya perintah atau persetujuan untuk melenyapkannya.

Saya minta maaf, Tuan Khan.

Aku tidak tahu kenapa kami terlibat pertikaian.

Jika tidak kugorok lehernya, dia yang akan menembak kepalaku.

Apa yang kau lakukan?

Di restoran itu.

Untuk apa lagi? Makan kheema-pav.

Aku bersumpah...

Polisi punya sepuluh saksi mata yang melihatmu di sana bersama seorang gadis.

Gadis?

Ada pengiriman senjata bulan depan untuk Jalal di Nepal.

Ini operasi yang sangat rahasia.

Ya.

Kita harus sangat berhati-hati.

Dan sebelum aku memberi perintah,

lupakan kheema-pav, kau bahkan tidak boleh keluar untuk kencing.

Paham?

Paham.

Nona Pembunuh.

Luar biasa.

Kau punya nyali.

Tapi membunuh orang itu tidak mudah.

Sekali garis itu dilewati dan... kau merasakan darah...

seekor monster lahir di dalam dirimu.

Dan itu takkan pernah pergi.

Untungnya, kau tidak melewati garis itu.

Kau harus pulang setelah lukamu sembuh.

Sial.

Tuhan.

Ada jagoan lain... yang berani menantangku?

Jangan tertawa.

Ada.

"Tubuhku terasa hangat..."

"napasku terasa ringan."

"Matahari membuatku gelisah,"

"bayangan terasa pilu."

"Apa yang sedang terjadi padaku?"

"Apakah aku jatuh cinta, atau mulai hanyut ke dalamnya."

"Apakah aku jatuh cinta, atau mulai hanyut ke dalamnya."

"Apakah aku jatuh cinta, atau mulai hanyut ke dalamnya."

- Saudara Bagira, sudah kau potong ketumbarnya? - Sudah.

Hei... ayolah, masuk sana.

"Wahai Kekasih..."

"Wahai Kekasih..."

"Wahai Kekasih..."

"Wahai Kekasih..."

"Aku tercipta untukmu, dan akan selalu begitu..."

"Di mana pun kau memikirkanku, aku ada di sana."

"Selama satu abad..."

"tak sedetik pun terpejam..."

"Demi dirimuโ€”"

Tadi itu indah sekali. Apa yang sedang kau nyanyikan?

Lagu gubahan ayahku.

Gubahan?

Ayahku adalah seorang maestro musik klasik yang hebat.

Dan aku adalah murid kesayangannya.

Klan Gwalior.

Tapi katamu kau berasal dari Muzaffarnagar.

Ya, aku memang dari Muzaffarnagar,

meskipun garis keturunan musikku adalah Gwalior.

Kau sendiri dari mana?

Lucknow...

Dan klan Mumbai.

Bagaimana kau bisa dipanggil Ustara?

Dulu di Lucknow,

aku bekerja di sebuah pangkas rambut.

Suatu hari, gembong yang membunuh ayahku datang ke toko untuk bercukur.

Aku sudah lama menantikan hari itu...

Dari tenggorokan hingga ke pahanya,

aku menyayatnya dalam sekali tarikan.

Dokter yang melakukan autopsi

mengatakan, siapa pun yang membunuhnya adalah seorang seniman berdarah dingin.

Sejak saat itu, menjadi sebuah legenda...

Jangan macam-macam dengan Ustara.

Dia mengukir nyawa keluar dari raga.

Teruskan bernyanyi. Suaramu sangat menyentuh jiwa.

"Kau takkan pernah sendirian."

"Kita akan bertemu di mana pun kau mau."

"Meskipun kita berpisah jalan, kita takkan pernah menjauh..."

"Jika kau memikirkanku."

"Apakah hidup ini..."

Aku harus pulang sekarang.

Lukanya sudah sembuh.

Kupikir luka-luka ini takkan pernah sembuh.

Bang...

Khan.

Pakai speaker.

Tuan Khan.

Kau harus berangkat ke Nepal minggu depan.

Berkasnya akan sampai padamu sore nanti.

Ada pertanyaan?

Kali ini aku akan istirahat sejenak.

Tentu saja, jika kau berhasil selamat.

Sampai jumpa.

Bang, aku sedang berpikir...

Bagaimana kalau kali ini kita kabur saja?

Dari Bangladesh ke Yunani lewat Sudan.

Di mana itu Yunan?

Yunani.

Yunan itu dulu disebut Yunani.

Seperti di film-film, kita akan pergi ke Yunani.

Baiklah, siapkan semuanya.

Lalu aku akan belikan tiket pulang untuk gadis itu.

Kelas Ekonomi.

Kelas Bisnis atau Eksekutif juga boleh.

"Jantung berdegup pelan..."

Jika dia ingin pergi, tidak apa-apa.

"Bahkan senyuman pun tampak bersalah".

"Apa yang salah denganku?"

Aku akan kembali besok.-"Aku lebih suka kesunyian."

- "Apakah kau..." - Sudah dipanggil?

- Oleh siapa?-"... merapalkan mantra padaku?"

Yang Mahakuasa.

"Apakah aku jatuh cinta, atau mulai hanyut ke dalamnya."

"Apakah aku jatuh cinta, atau mulai hanyut ke dalamnya."

Apa yang akan kau lakukan saat kembali nanti?

Aku tidak tahu.

Aku tahu.

Bunuh diri.

Atau... menikah.

Sama saja.

Bunuh diri?

Kenapa?

Karena, Nona Pembunuh...

kau menyalahkan dirimu sendiri atas kematian Mehboob.

Jika kau tidak bisa balas dendam pada Jalal, kau akan melampiaskannya pada dirimu sendiri.

Apa kau ingin... balas dendam... pada Jalal?

Tidak. Aku tidak bisa.

Ansari itu hanya berjarak dua kaki dariku, tapi aku tidak sanggup menembak.

Kau tahu bagaimana aku membalas kematian ayahku dengan begitu mudah?

Aku melihat dia dibantai di depanku.

Mehboob-mu tidak mati dengan mudah...

Mereka tidak hanya menodongkan pistol ke kepalanya lalu 'dor'...

Mehboob tiada.

Bajingan-bajingan itu membuat Mehboob menderita sebelum menghabisinya.

Begini... Bang...

Sebenarnya, istriku ingin kami pindah kembali ke Muzaffarnagar.

Dan kau? Apa maumu? Katakan padaku.

Aku bingung, Bang.

Bingung denganku atau dengan istrimu?

Kau bodoh...

Tuan Jalal yang membayar uang mas kawin di pernikahanmu.

Tidakkah kau malu mengatakan kau ingin berhenti?

Aku juga tidak ingin berhenti, Tuan Shankar.

Aku akan tetap bekerja sampai Anda menemukan akuntan lain.

Baiklah. Sampaikan salamku untuk istrimu.

Terima kasih, Tuan.

Terima kasih banyak, Tuan Jalal.

Saya berhutang budi pada Anda.

Sampai jumpa.

- Sampai jumpa, Bang. - Sampai jumpa, Bang.

Sampai jumpa.

Baiklah, Tuan Shankar. Saya pamit dulu.

Minumlah teh dulu. Duduk.

- Tidak, Tuan. Lain kali saja. - Duduklah.

Kenapa terburu-buru?

- Ini agak dingin. - Anggap saja ini minuman ringan.

Pathare...

Lari. Kejar dia.

Berhenti, bajingan.

Tangkap dia.

Ayo. Pergilah, jagoanku dari Muzaffarnagar.

Bubar.

Ada orang?

Buka pintunya.

"Tolong aku, Ibu!"

"Selamatkan aku, Ibu!"

"Tolong aku..."

"Anakku sendirian di rumah..."

Cukup!

Senjata Jalal telah sampai di Kathmandu dari Karachi.

Pengirimannya di Raxaul melalui Birganj.

Kurir lokal lewat hutan.

Ada terowongan kereta api.

Terowongan Churia.

Tempat terbaik untuk menyerang.

Tapi di mana kita akan bermalam?

Ada desa di dekat sini. Kita akan cari tempat di sana.

Aku ingin melewati garis itu.

Tapi kenapa harus menjalankan operasi ini, Bang?

Ayo kita seberangi saja perbatasannya.

Khan tidak akan bisa menyentuh kita.

Operasi tetap berjalan sesuai rencana.

Setelah operasi dijalankan,

kita akan bertemu di perbatasan.

Kita?

Ya, aku dan...

Afshan.

Kau bekerja untuk Jalal.

Bukan untuk dia... Tapi bersamanya.

Dari Lucknow ke Mumbai, Mumbai ke Dubai,

Dubai ke Spanyol.

Kenapa kau kembali dari Spanyol?

Sebelum peristiwa 'Babri', dunia bawah tanah tidak tersentuh oleh agama.

Tidak ada Hindu atau Muslim.

Lalu, bahkan kami pun terpecah.

Jalal bekerja sama dengan ISI dan menjadi anak emas Pakistan.

Dan... aku tidak setuju dengan itu.

Kudengar kau kembali karena kau membunuh adik Jalal.

Aku harus melakukannya.

Dan jangan tanya kenapa.

Kenapa?

Bang. Bang. Bang.

Ini kami. Ini kami...

Sudah kubilang jangan mengikuti.

Bang... sudah pernah dengar cerita tentang sang raja dan burung nuri?

Apa?

Sama seperti hati raja yang terperangkap dalam burung nuri,

begitu juga hati kami terperangkap padamu.

- Benar, Bang. - Ya, Bang.

Tapi hati Abang sedang terperangkap di tempat lain.

- Salam, Kak. - Apa yang kalian... lakukan di sini?

Karena si nuri memanggil kami.

Nuri betina tepatnya.

Bang.

[bernyanyi dalam bahasa daerah]

Berhenti.

Lari. Lari!

Cepat lari! Lari!

Periksa. Periksa semuanya.

Periksa yang ini. Periksa yang itu juga.

Berbalik. Berbalik sekarang.

Tidak kelihatan apa-apa.

Bang.

Halo, Bang.

Kami sudah menangkap pengkhianatnya.

Ustara, kawanku.

Senjataku yang liar.

Bahkan cintaku pun tak ternilai...

dan kau malah memilih jadi musuhku, bodoh.

Aku terus berpikir tapi

tetap tidak mengerti kenapa kau membunuh Mohsin.

Anakku mati di dalam kandungan gara-gara kau,

istriku sampai jadi gila.

Bos...

Bisa tunggu sebentar?

Tahan.

Banteng itu benar-benar ancaman.

Matador itu takkan bisa keluar hidup-hidup.

Bagaimana kalau kubereskan dia?

Ancaman terbesar di dunia sudah tertangkap.

Tidak akan terjadi apa-apa.

Maaf membuatmu menunggu.

Tapi aku akan segera membunuhmu.

Itu janji.

Sumpah demi hatiku.

Kenapa kau membunuh Mohsin?

Silakan, cabut nyawanya sekarang.

Bang, tidak perlu ke sana.

Ayo.

Kemarilah.

"O Romeo..."

Bang.

Bang. Bang!

Siapa itu?

Ustara.

Jangan memancing amarah banteng yang buas.

Atau maut akan datang lebih awal.

Dan ya, itu bukan aku...

Kaulah pembunuh Mohsin yang sebenarnya.

Kau membunuh saudaramu sendiri bersama ribuan orang tak berdosa lainnya.

Termasuk anakmu sendiri.

Paham?

Haruskah kuucapkan selamat tinggal?

Maukah kau menjawab... sebuah pertanyaan dengan jujur?

Jika bukan karena aku,

kau pasti sudah menyeberangi perbatasan...

Tidak.

Sekarang katakanlah.

Kematian mereka adalah tanggung jawabku.

Kenapa?

Aku tidak bisa memikirkan cara lain

agar tetap bisa bersamamu.

Apakah kau menerima?

Ya, saya terima.

"Kau tidak menyadarinya, sayangku."

"Ini adalah janji yang sejati."

"Untukmu aku hidup,"

"itulah tujuanku."

"Ini adalah janji, sayangku."

"Ini janji. Ini sebuah janji."

"Ini adalah janji, sayangku."

"Ini janji. Ini sebuah janji."

"Sebuah janji..."

"Sebuah janji..."

Haruskah kita berangkat, Bang?

Panggil Afshan, lalu kita pergi.

Dia menyelinap pergi tadi malam.

Apa maksudmu dengan 'menyelinap pergi'?

Dia sudah pergi.

Saat aku periksa tadi pagi, tendanya sudah kosong.

Waktunya tiba, Bang...

Untuk menuju ke perbatasan.

Beginikah caraku berbisnis?

Oke, baiklah. Berapa banyak stok yang kita punya di pabrik?

Berapa banyak 'bubuk' dan 'krim' yang ada?

Katakan padaku.

Katakan padanya.

Sekitar 40 kilo 'bubuk',

dan jumlah yang sama untuk 'Krim Malana'.

Ubah 40 kilo bubuk itu jadi 120, dan lipat gandakan jumlah krimnya.

Siap, Bos.

Dan aku mau semuanya selesai dalam tiga minggu, mengerti?

Bos, mana mungkin dalam tiga minggu? Kami butuh setidaknya enam minggu.

Tiga minggu berarti tiga minggu.

Tidak boleh kurang atau lebih sehari pun.

Kau gila ya?

Bang...

Aku punya ide. Mau dengar tidak?

Katakan saja.

Bollywood sedang banyak mencetak film laris belakangan ini.

Haruskah kita naikkan uang perlindungannya dua kali lipat?

Ustara itu sudah membunuh Duggal dan kroni-kroninya di dalam gedung bioskop.

Siapa yang mau bayar uang perlindungan lagi, bodoh.

Tahan dulu.

Sayang...

Apa yang sedang kau lukis hari ini?

Bulan.

Bulan Biru?

Ya. Bulannya terluka. Sedang berdarah.

Apakah warna darah itu biru?

Iya...

Aku juga sebelumnya tidak tahu.

Tapi saat bulan kita lahir dengan warna biru,

seorang perawat menjelaskan padaku...

seluruh prosesnya.

Proses yang mana?

Saat napas terhenti, jantung pun berhenti berdetak,

begitu pula darah di dalam nadi kita.

Darah itu lama-kelamaan mulai

berubah menjadi biru... lalu biru tua...

menjadi ungu... dan akhirnya hitam.

Tapi jika dilihat melalui kulit, warnanya tampak biru.

Kau melukis langit.

Itu pun berwarna biru.

Ambil ini. Sekarang melukislah... di sini.

Bos...

Telepon.

Aku akan kembali nanti.

Kiriman yang hilang di Kathmandu itu

bukanlah milik pribadiku.

Aku harus menggantinya dengan uangku sendiri. Paham.

Lipat gandakan tenaganya jika perlu, tapi tiga minggu tetap tiga minggu!

โ™ช Mengerti? โ™ช Mengerti, Bang.

Rabia.

Sayangku, kau mau ke mana?

Mars. Ayo pergi.

Jika dia kembali, segera hubungi nomor ini, Bibi.

Jangan sampai dia tahu.

โ™ช Tolonglah, ini tidak perlu. โ™ช Simpan saja. Ini masih ada lagi.

Jalal sudah gila setelah kegagalan operasi Nepal.

Dia mempertaruhkan segalanya untuk menutupi kerugian itu.

Inilah saatnya... untuk mengakhiri imperium narkobanya.

Kapan kita menyerang?

Dia adalah Afshan Qureshi.

Detailnya ada di belakang. Dia harus ditemukan.

Bukankah dia dari kasus Ansari?

Apakah dia lari membawa uangmu...

Atau membawa hatimu?

Pantas saja kau menjadi seorang Romeo.

Baiklah. Sekarang, tentukan waktunya.

Segera setelah gadis itu ditemukan.

Bagus.

Anjing penjagaku mencoba menggigit balik.

Baiklah, Yang Mulia.

Biro intelijen negara akan meninggalkan semua tugas mereka

dan mencari gadismu ini.

Temukan dia.

Tuan Khan, Anda mau ke mana?

Mau ke mana lagi? Ke tempat yang biasa kudatangi.

Untuk berdoa?

Apakah pekerjaan yang kita lakukan nilainya kurang dari doa?

Aku membuatnya khusus untukmu.

- Dingin dan menyegarkan. - Lain kali saja mungkin.

Berikan saja pada si Romeo ini.

Ini akan mendinginkan api di hatinya.

Apakah kakimu sudah lebih baik?

Ya, sudah.

Jika kau bergeser sedikit, aku bisa pergi.

Kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri?

Lupakan dia.

Dia itu bom waktu yang berdetak...

Dia akan meledak dan menghancurkanmu berkeping-keping.

Kalau begitu anggap saja itu sudah terjadi.

"Hari-hari dipenuhi dengan rahmat,"

"dan malam-malam terasa lembut."

"Saat kegelapan turun dengan langkah yang syahdu."

"Aku takut... kau akan pergi."

"Apakah aku jatuh cinta..."

"atau sudah mulai hanyut ke dalamnya."

Bang, hari-hari kesepianmu sudah berakhir.

Bang, lihat siapa yang datang?

Kau mengenalinya? Nargis...

Sudah kubayar lima ribu.

Suruh dia pulang.

Ini uang mukamu.

Aku tidak mau. Simpan saja untukmu.

Kemari kau.

Kembalikan uangnya.

Kenapa kau memanggilnya saat aku memintamu tidak melakukannya?

- Bukan aku yang memanggilnya. - Lalu siapa?

Nenek yang melakukannya.

Ini adalah bekas luka cinta...

Hanya bisa disembuhkan dengan kenekatan, bukan kesepian.

Jika kau tidak mengambil kembali uang mukamu,

Aku tidak menerima amal.

Apa yang terjadi?

Apa aku melakukan kesalahan?

Apa aku harus melakukan hal lain?

Bang. Ada apa, Bang?

- Apa yang kau lakukan? - Tidak ada yang terjadi?

Bang. Bang.

Ada apa denganmu, Bang?

Ada apa?

Bang.

Apa yang terjadi?

Apa yang terjadi?

Apa yang terjadi?

Bos.

Bos. Bos.

Apa yang terjadi?

- Kenapa dia menangis? - Aku tidak tahu.

- Kenapa kita ikut menangis? - Mana aku tahu.

Diam kalian!

Diam!

Kau kenapa, Bang?

- Barangnya asli. - Terima kasih, Bos.

Tiga minggu hampir habis.

- Dan semua kirimannya sudah di sini. - Bersiaplah untuk melakukan pengiriman.

Ayo cepat. Cepat.

Lebih cepat lagi.

Ayo jalan.

"Hatiku terpenjara di antara dua tulang rusuk,"

"ia keluar terayun dengan sukacita..."

"Ia berkobar bagai nyala api yang membara,"

"dan bangkit untuk mencium langit."

"Hatiku terpenjara di antara dua tulang rusuk,"

"ia keluar terayun dengan sukacita..."

"Ia berkobar bagai nyala api yang membara,"

"dan bangkit untuk mencium langit."

"Cahaya kekasihku muncul dengan penuh kemeriahan."

"Muncul dengan ledakan."

"Muncul dengan goyangan..."

"Muncul dengan goyangan..."

"Cahaya kekasihku"

"muncul dengan penuh kemeriahan."

Keluar. Keluar. Cepat keluar!

"Saat api menghujam, bahkan air pun terbakar."

"Saat api menghujam, bahkan air pun terbakar."

"Hati itu hancur tergilas di bawah kaki."

"Seseorang menghancurkan hatiku, menginjak-injak hidupku."

"Ke mana dia pergi setelah menggodaku?"

"Saat darah mencair bagai emas."

"Cahaya kekasihku muncul dengan penuh kemeriahan."

"Muncul dengan ledakan."

"Muncul dengan ledakan."

"Muncul dengan goyangan..."

"Muncul dengan goyangan..."

Halo... Halo, Bang Jalal.

Bang Jalal...

Bisa dengar suaraku?

Tapi aku heran, bagaimana kau masih bisa bicara?

Atapnya tidak akan bocor lagi.

Bos, katanya atapnya tidak akan pernah bocor lagi.

Katakan padanya, itu lukisan istriku. Jika satu tetes saja jatuh mengenainya...

dia yang akan mulai bocor (berdarah).

Apa kau kehilangan suaramu?

Bicaralah.

Bos... dia di bawah perlindungan Khan.

Kami sudah mengatur rencana untuk melenyapkan Khan.

Begitu dia beres, Ustara takkan bertahan lama.

Tidak. Jika Khan pergi, Pandey akan menggantikannya.

Atau D'Sousa, Nayyar, Sharma... siapa pun.

Untuk menebang pohon, hantam akarnya, bukan cabangnya.

Benar, Tuan.

Siapa akarnya?

Ustara.

Tidak mungkin, jangan.

Aku sangat kesal...

Sialan, tidak mungkin. Cukup sudah.

Aku tidak mengerti, keparat.

Aku sungguh tidak tahu kenapa ini terjadi...

Tunggu.

Apa yang terjadi?

Ini sedang terjadi.

Kuberikan kalian berdua waktu satu minggu.

Jika Ustara belum mati pada hari kedelapan, salah satu dari kalian yang akan mati.

Ingatlah.

Cinta Jalal itu tak ternilai harganya.

Jangan sampai kau memusuhi dia.

Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?

Aku menelepon semalaman... ke Delhi.

Aku tidak punya jawaban atas satu pun pertanyaan mereka.

Jika ini operasi kita, kenapa kami tidak tahu apa-apa?

Dan kami bilang, ini operasi kita, dasar kau...

Beraninya kau menyerang Jalal tanpa persetujuanku?

Kehabisan kata-kata. Kau membuatku bungkam.

Tuan Khan, kupikir Anda akan senang,

dan memberiku hadiah.

Entah aku senang atau tidak,

kau tetap mendapatkan hadiahmu.

Visa Schengen sudah terlampir.

Aku tidak mau melihat wajah busukmu di Mumbai setelah 72 jam.

Bagaimana dengan Jalal?

Selamatkan saja dirimu sendiri.

Ada kabar tentang gadis itu?

Gadis itu...

Kanpur, Nagpur, Delhi...

Bulli...

Sudah kucari ke mana-mana. Tapi tidak ada kabar darinya.

Dia akan mati konyol karena gadis itu dan menyeret kita semua ke liang lahat.

BIRYANI BIBI

Apa peduli kita, Bos?

Mau Khan makan Biryani Bibi atau Vadapav dari Taman Shivaji, terserah dia.

Kita sudah punya paspor.

Lengkap dengan visa Schengen.

Kita bisa pergi ke mana pun kita mau.

Jerman, Italia, Prancis.

Kita dapat jackpot tanpa perlu bertaruh.

Tepat sekali, brengsek.

Bagaimana bisa kita dapat jackpot tanpa bertaruh?

- Ya. - Bos, Bibi sudah di jalan.

Oke.

Nyalakan mesinnya.

"Jayalah Ganesha!"

"Jayalah Ganesha!"

Apa yang dia lakukan di wilayah Shankar?

Lihat, itu Tuan Shankar.

Halo. Halo, Tuan. Selamat datang.

- Saya senang sekali Anda datang ke sini. - Terima kasih.

- Saya juga. - Saya dan istri sangat senang Anda di sini.

Jangan pergi sebelum makan.

- Halo, Tuan. - Halo.

Istri saya.

Istri Anda cantik sekali.

Ibarat kata, monyet mendapat kalung mutiara.

Ayolah, Tuan.

Apa maumu, Bibi?

Tuan, dia ibu mertua saya.

Halo.

Siapa namanya?

Bibi Shilpa.

Brengsek, maksudku istrimu.

Rani.

Rani Sharma.

Sharma... berarti orang India Utara.

Ya. Uttar Pradesh.

UP?

Ya, benar.

Di mana tepatnya?

- Sitapur. - Sitapur...

Ini perayaan Ganpati pertamanya, Tuan.

Dia bosan duduk terus di rumah.

Jadi kukatakan, biarkan aku membawamu ikut merayakan.

Silakan, tontonlah.

Kita semua akan menontonnya bersama.

Tuan, saya akan pergi memeriksa persiapannya.

Pathare.

Dengar...

Kita hanya punya waktu dua hari lagi.

Kita harus mendapatkan Ustara bagaimanapun caranya.

Dan hanya ada satu cara untuk menjangkaunya.

- Khan. - Tuan, semuanya sudah siap.

Kita akan menemukannya.

"Kemuliaan bagi Tuhan."

"Kemuliaan bagi Tuhan."

"Kemuliaan bagi Tuhan."

"Jayalah Ganesha!"

"Kemuliaan bagi Sang Pemberi Berkat."

"Jayalah Ganesha!"

"Datanglah lagi segera tahun depan."

"Jayalah Ganesha!"

Jayalah Ganesha!

Pujilah Dia!

"Selama satu abad, tak sedetik pun terpejam..."

"Hanya untukmu."

"Aku ada untukmu..."

Minggir. Beri jalan.

Bibi...

masuklah.

Apa Bibi menderita diabetes?

Bagaimana kau tahu?

Aku tidak bisa menemukan gula sama sekali, Bi.

Jadi kita terpaksa minum teh tanpa rasa ini.

Ini bukan salahku, Nak.

Aku tidak punya kuasa di depan mereka.

Aku harus melakukan apa yang mereka katakan.

Kenapa Anda memanggil saya ke sini, Tuan?

Apa?

Kenapa Anda...

Untuk memperkenalkanmu pada keponakanmu.

Keponakan saya?

Keponakan dari saudaramu, Devdutt Sharma. Sitapur.

Putrinya, Rani.

- Lihatlah. - Masuklah.

Aku tidak ingin terlibat dalam kekacauan ini.

Ini. Simpanlah.

- Simpanlah. Ini akan berguna nanti. - Tidak, Tuan.

Segera dia akan menikah dengan seorang perwira polisi terkenal.

Dia pandai bernyanyi... musik klasik.

Benar, kan?

Simpan saja. Simpan saja, Bi.

Apa yang kau bawa?

Biryani, Tuan.

- Untuk... Anda... - Untukku?

Bagus. Terima kasih.

Selama misi kita belum selesai,

kau akan menerima uang setiap bulan.

Aku akan mati jika Khan sampai tahu.

Atau bahkan Pathare.

Dan apakah bos akan melepaskanmu?

Kau kembali.

Kupikir...

"Yang kuinginkan hanyalah seorang kekasih..."

Apa yang kau inginkan dariku?

Kau telah mengubahku menjadi hantu.

Tak bisa membedakan apakah aku ada atau tidak.

Kenapa kau melakukannya?

Aku tidak ingin menanggung beban kematian lagi.

Cintamu menjadi penghalang bagi misiku.

Aku takut padamu... dan pada diriku sendiri.

Beberapa hari lagi, dan...

Aku menerima tugas membunuh itu.

Aku akan membunuh Jalal di rumahnya sendiri.

Maukah kau ikut denganku setelah itu?

Aku sudah melewati batas.

Tak bisa berbalik sekarang.

Maukah kau melakukan satu bantuan terakhir?

Serahkan aku pada takdirku. Kumohon.

Akan kulakukan, Nyonya Pathare.

Aku di sini untuk menagih bayaranku.

Bayaran apa?

Cepat sekali kau lupa.

"Maukah kau tidur denganku?"

Ya, aku mau.

Dengar...

jangan halangi jalanku.

Aku dikutuk, seperti laba-laba janda hitam.

Aku menelan kekasihku hidup-hidup.

Kekasih?

Laba-laba janda hitam...

Lepaskan pakaianmu.

Ayo cepat.

Sekarang!

Silakan.

Ambil bayaranmu.

Kau tidak tahu apa yang kau minta.

Kau menginginkan jiwaku, bukan tubuhku.

Dan kau takkan bisa mendapatkannya di kehidupan ini.

Aku akan mencabutmu dari setiap hela napasku,

sampai yang tersisa hanyalah kebencian terhadapmu.

Cinta adalah kutukan,

Itu menyerangku,

dan itu menyerangmu juga.

"Romeo. Oh Romeo."

"Satu nyawa... demi nyawa lainnya."

"Romeo. Oh Romeo."

"Satu nyawa... demi nyawa lainnya."

"Cabutlah nyawa dengan ciuman..."

Kelihatannya dompet tebal.

"Berikan nyawa dengan sukacita."

Hei... dompetmu.

Mana dompetmu.

"Romeo."

- Tidak ada. - Aku tidak bawa dompet.

"Satu nyawa... demi nyawa lainnya."

Brengsek!

Lari!

Terkutuk kalian!

Apa yang sedang kau lakukan, Bos?

Dihajar oleh para pecandu.

Sudah lama sekali aku tidak dirampok.

Tadi itu sangat menyenangkan.

Kenapa kau tidak lupakan saja dia?

Aku akan melupakannya...

Selamanya?

Selamanya.

Tapi ada satu syarat.

Setuju.

Kita tidak boleh membiarkannya terluka sedikit pun

sampai dia berhasil membunuh Jalal.

"Bersyukur pada cinta, atas anugerahnya..."

"Satu kata... seluruh bait puisi."

Bos, Pathare baru saja pergi setelah buang air.

Bos, Khan sedang minum jus di stasiun.

"Bersyukur pada cinta, atas anugerahnya..."

"Satu kata... seluruh bait puisi."

"Menanggung setiap rasa sakit dengan senyuman."

Bos, Afshan saat ini sedang membeli ikan.

Ikan.

"Inilah racun, yang harus kau telan."

Bos, Pathare sudah sampai di kantor polisi.

"Oh Romeo."

Bos, Khan sudah meninggalkan gereja.

Oke.

Ya, Bos.

Dia sudah sampai di rumah.

"Oh Romeo."

"Satu nyawa... demi nyawa lainnya."

Aku naik kereta lokal 12:32 dari Borivali.

Temui aku di Dahisar.

Aku akan berada di gerbong kedua.

Negi. Temui aku di Virar.

Siap, Pak.

Dia baru saja naik kereta lokal 12:32 dari Borivali.

Gerbong kedua dari mesin.

Sepertinya Ustara akan menemuinya di stasiun Dahisar.

Oke.

Tuan Khan.

Wah... ada tanda merah di balik cadar.

Itulah India kita.

Apa beritanya?

Beberapa hari terakhir ini dia bicara agak aneh.

Ustara... Pathare sialan itu sedang menunggu bersama pasukannya di stasiun Bhayander.

Bawa dia turun di stasiun Mira Road bagaimanapun caranya, atau identitasnya terbongkar.

Beri tahu aku jika kau tahu sesuatu.

Turunlah.

Apa yang kau lakukan di sini?

- Turun dari kereta ini. - Urus saja urusanmu sendiri.

Tuan Khan, di stasiun berikutnya...

Lepaskan dia.

Suami tercinta Nyonya Pathare sedang menunggu kalian berdua di stasiun depan.

Bersama seluruh pasukannya.

Kenapa kau tidak bilang dari tadi, bodoh?

Aku sedang tidak berminat.

[Pengumuman Kereta Api]

Suruh semua orang keluar.

Ini operasi kepolisian.

Kau juga.

Oh, Tuan Khan.

Banyak sekali darahnya.

Apa dia memukulmu?

Kami yang akan menanganinya.

Anda bisa pergi sekarang.

Sialan, kami bisa mengeluarkan kelinci dari topi.

Lalu kau mau menyuruhku pergi begitu saja.

Jika aku mulai bernyanyi,

kau sendiri yang akan jadi muridku.

Kenapa kau tidak audisi saja sampai stasiun berikutnya.

- Gaya Bade Ghulam Ali? - Ya, mulailah sekarang.

Aku merindukan kekasihku,

rasa sakit ini tak tertahankan...

Pathare...

Kau begitu menjiwai musik ini.

Andai saja aku bisa bilang hal yang sama tentang kejujuranmu.

Berdasarkan informasi rahasia, semalam, petugas polisi kita yang pemberani...

berhasil menembak mati gangster berbahaya, Ustara.

Dalam kejadian ini, pejabat senior IB Ismail Khan mengalami luka serius

saat sedang menjalankan tugasnya.

Afshan.

Afshan, ayo pergi.

Semakin cepat kita keluar dari sini, akan semakin baik.

Ayo, kemasi tasmu. Oke.

- Ayo, cepatlah... - Pergilah sendiri.

Pergilah.

Aku tidak akan pergi ke mana pun sebelum membunuh Jalal.

Apa kau sudah gila?

Dan bagaimana caramu menjangkau Jalal?

Tuan Khan sudah tidak ada lagi, begitu juga Ustara-mu itu.

Sekarang, bangunlah.

Allah pasti akan membukakan jalan.

Harus, Bibi.

Dan bagaimana jika tidak?

Pasti akan dikabulkan.

Dia tidak mungkin tidak adil.

Aku tidak akan pergi ke mana pun.

Ayolah, Afshan. Kita sudah terlambat. Bangunlah.

Rani, kemasi barang-barangmu.

Kau sudah kembali.

- Halo, menantuku. - Ibu mertua.

Diberkatilah kalian.

- Ada apa? - Apa?

Kenapa kau menangis?

- Ini cuma kena sabun... - Karena aku mau pergi.

Siapa di antara kalian yang bicara jujur?

Menantuku.

Aku tadi cuma bercanda, Ibu mertua.

Kami juga akan pergi.

Ke mana?

Lihat apa yang ada di tanganku.

- Apa? - Tiket bulan madu.

Ke Spanyol.

Wah...

Bang Jalal mengundang kita ke pestanya.

Akan ada karnaval besar di desanya.

Dia adalah Afshan Qureshi. Aku ingin kau menemukannya.

Brengsek.

Apa yang kau pikirkan?

Kita ini cuma sekumpulan orang bodoh.

Bajingan.

Ayo cepat.

Bang... aku ingin membunuhnya.

Pelacur itu meludahi wajahku, Bang.

Minggir.

Bang...

Kau sudah berjanji padaku.

Begitu aku membawanya ke sini, aku boleh melakukan apa pun padanya.

Apa memang begitu kataku?

Iya, Bang. Sumpah.

Dan untuk apa aku mengatakan itu?

Ya...

Aku... menginginkan Ustara...

dan masih menginginkannya!

Bagaimana aku bisa menangkapnya sekarang, Tuan?

Aku menembaknya dengan tanganku sendiri.

Dia sudah mati!

Ustara dan aku...

berasal dari golongan yang sama.

Ibarat... dua jantung yang berdetak dalam satu tubuh.

Hari di mana Ustara mati,

hatiku pasti akan merasakannya.

Kakak ipar.

Tolong kemarilah. Ada yang harus kubicarakan.

Ini tidak adil, Bang.

Jika aku tidak boleh membunuhnya,

maka bunuh saja aku.

Pathare.

Diam.

Pathare. Kubilang tenanglah.

Tenanglah.

Apa kau anak kecil?

Seperti anak kecil saja.

Kubilang tenanglah.

Astaga!

Luar biasa.

Apa kau senang sekarang, Kak?

Berbahagialah.

Dia akan datang.

Romeo-mu akan datang menjemputmu.

Sebuah keajaiban dia bisa tetap hidup.

Pita suara dan laringnya masih mengalami trauma ringan.

Butuh waktu, tapi dia akan pulih.

Berapa lama?

Itu tergantung pada kemauan si pasien sendiri.

Buka lebar-lebar.

Buka lebar-lebar.

Cobalah katakan sesuatu.

Apa saja.

Bodoh.

Apa?

Di mana pasporku?

Paspor?

Ke mana kau akan pergi?

Kau tadi tergeletak bak mayat di tepi pantai, Bos.

Bos...

Cobalah mengerti.

Kau sudah diberi kesempatan hidup kedua.

Berapa kali lagi kau mau mati demi dia?

Kakekmu dulu pernah bilang,

Jika pria bangkit demi cinta, dia Romeo.

Jika dia tenggelam karenanya, dia pria konyol.

Jangan kembali sebagai pria konyol.

"ada hanya untukmu..."

"Romeo."

Di sini Ismail Khan.

Tinggalkan pesan setelah bunyi bip.

Aku akan meneleponmu kembali jika aku sedang ingin.

Tuan Khan, tolong angkat teleponnya.

Aku sudah mencobanya selama dua hari.

Ini Rabia. Istri Jalal.

Ya, silakan. Apa yang ingin kau katakan?

Terima kasih, Tuan Khan.

Tolong dengarkan baik-baik.

Jalal telah dirasuki iblis.

Jika dia tidak dihentikan, dia akan... menghancurkan...

Halo. Rabia? Apa yang terjadi? Halo.

- Mohsin... - Halo, Rabia.

Kakak Ipar...

Bang Jalal mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri.

Dan kau malah mempersiapkan pemakamannya.

Sungguh nasib buruk.

Semua penjaga sedang berpesta. Bang Jalal sedang tidak ada di negeri ini.

Tapi aku mampir tanpa diduga.

Tunggu dulu, Kakak Ipar.

Kami akan mengeluarkan anak itu darimu, lalu mencincangmu.

Mohsin, lepaskan aku. Lepaskan aku.

Brengsek!

- Mohsin... Lepaskan aku. - Berteriaklah. Berteriaklah.

- Mohsin, lepaskan aku. - Siapa yang akan datang menyelamatkanmu?

- Tolong aku. - Kau akan merusak masa depanku.

Kenapa kau melakukannya?

- Lepaskan aku. - Apa kau sudah gila, Mohsin?

Aku sudah gila?

- Dia menikam kita dari belakang... - Mundur. Tetap di sana.

- Dia tadi bicara dengan Khan. - Tetap di sana.

Tetaplah di sana.

Kenapa?

Apa dia mengatakan yang sebenarnya?

Rabia?

Ya, itu benar.

Ada banyak lagi kebenaran yang tidak kau ketahui, Ustara.

Jalal telah bekerja sama dengan ISI.

Mereka sedang merencanakan ledakan di Mumbai.

Anakku... tidak boleh dibesarkan di bawah bayang-bayang seorang kriminal.

Lalu dia itu apa saat menikahimu?

- Dia seorang gangster... - Mundur.

Dia memang seorang gangster.

Ya. Benar. Memang benar.

Tapi sekarang... dia akan menjadi seorang teroris.

Rabia.

Rabia, berikan senjatanya. Kau sedang sakit.

Kita ini keluarga.

Mari kita selesaikan ini bersama. Berikan senjatanya.

Hanya satu hal yang tersisa untuk diselesaikan, Ustara.

Apakah kau ingin disebut sebagai teroris atau tidak?

Ustara, jangan...

Rabia.

Apa yang telah kau lakukan?

Ayo pergi.

- Aku tidak bisa pergi. - Rabia, ayo pergi.

Anakku... Anakku...

Kau akan terbunuh karenaku. Pergilah.

- Pergilah. - Rabia, dengarkan aku.

Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.

Aku yang melakukan semua ini.

Berteriaklah. Berteriaklah.

Berteriaklah, Rabia. Sekeras yang kau bisa.

Berteriaklah...

Berteriak!

Dari mana suara itu berasal?

Aku mendengar suara tembakan.

Seseorang mencoba melarikan diri.

Dia ada di gudang anggur di bawah.

Bawa dia pergi.

Ikutlah dengan kami, Rabia.

Jiwa anakku ada di sini.

Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.

Kakak ipar, mobilnya sudah siap.

Cepat pergi dari sini, Rabia.

Kau belum makan apa pun?

Aku tidak lapar.

Makanlah, Nona Pembunuh.

Perjalanan pulang masih cukup jauh.

"Selama seabad..."

"tak tidur sekejap pun..."

"Hanya untukmu."

"Aku ada hanya untukmu."

"Selama seabad..."

"tak tidur sekejap pun..."

"Hanya untukmu."

"Aku ada untukmu, dan akan selalu begitu...

"Aku ada untukmu, dan akan selalu begitu...

"Di mana pun kau memikirkanku, aku ada tepat di sana."

"Hanya untukmu."

"Romeo."

"O Romeo."

Bagaimana bisa seseorang mencintai begitu dalam?

Seharusnya aku menanyakan hal yang sama padamu, Nona Pembunuh.

Ayo pergi.

Ke mana?

Jalal masih hidup.

Aku tidak bisa membiarkanmu mempertaruhkan nyawa.

Tapi dalam bisnis kita, Nona Pembunuh,

sekali perintah bunuh diterima, ia tidak bisa ditarik kembali.

Dan aku sudah menerima kontrak untuk menghabisi Jalal.

Dari siapa?

Dari diriku sendiri.

Bisa kita pergi sekarang?

Bos.

Bos.

Bos.

Tuan Jalal. Ustara sudah kembali.

Rabia adalah pengkhianatnya.

Semua orang mati gara-gara dia.

"O Romeo."

"Romeo."

"O Romeo."

Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya,

persembahan banteng hari ini.

Kami punya pepatah...

Saat seekor anjing ditakdirkan mati, ia akan berlari menuju kota.

Dan saat seekor banteng akan mati,

ia akan berlari menuju Spanyol.

Biasanya nyalimu cuma ada di celana dalammu.

Sejak kapan jantungmu mulai berdetak di dadamu, brengsek?

Dari seorang hidung belang menjadi Romeo.

Dia bukan banteng biasa.

Dia banteng yang hebat,

yang memenggal kepalanya sendiri... demi menyelamatkan rumahku.

Tapi tidak ada lagi rumah yang tersisa, pun kepala itu.

Bahkan cintaku pun tak mampu kaubeli,

tapi kau justru memilih bermusuhan denganku.

Hanya satu dari kita yang akan keluar dari sini hidup-hidup hari ini.

Entah itu kau...

atau aku...

Ayo.

Ayo cepat!

Mari kita lihat apakah si banteng bisa bangkit. Keluarkan dan lambaikan sapu tangan kalian.

Semoga Tuhan memberkati jiwanya.

Semoga Tuhan memberkati jiwanya.

Sisakan sedikit berkat untuk jiwamu juga.

Jangan khawatir. Ini cuma pistol.

"Romeo..."

"O Romeo."

"Romeo, O Romeo."

"Satu nyawa untuk nyawa lainnya."

"Selama seabad..."

"tak tidur sekejap pun..."

"Hanya untukmu."

Tugas sudah selesai, Tuan Khan.

Jantungku berdegup kencang, aku merasa malu.

Hei tukang cukur, ada banyak lagi anjing seperti Jalal di dunia ini.

Selama kita belum menyingkirkan mereka,

siapa kau bagiku?

Dasar bajingan.

โ™ฅmamad1987

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.