All language subtitles for Keadilan The Verdict 2025 1080p WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian Download
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili Download
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Hadirin dipersilakan untuk duduk.

Meskipun terdakwa, Dika,

sudah menjadi tertuduh telah melakukan pembunuhan,

tetapi karena bukti yang kurang kuat, maka kami tidak punya pilihan…

Mau apa kamu?

Ini ada apa, ya? Petugas.

Jangan, Ka. Ka, sabar.

Kelihatan sehat, ya.

Sidang Sadam udah dimulai, ya?

Banyak banget yang ngikutin kasusnya sampai datang ke persidangan.

Kamu pasti capek banget ya, nganter pengunjung?

Alah, cuma kerjaan fisik, kok.

Ya 'kan tetep aja gak enak buat dilihat.

Udah mati rasa aku.

Itu dia kenapa dunia ini butuh pengacara kayak kamu.

Gak tahu, lah.

Kalau aku sampai gagal lagi,

emang bukan takdirku kali ya, buat jadi pengacara.

Loh, kok gitu?

Ya, aku udah bolak-balik loh ikut ujian, tetap aja hasilnya sama.

Tiga kali loh, Mas!

Iya, tapi jangan pesimis gitu, dong.

Buat anakmu ini bangga, ya?

Masuk penjara atau ngaku gila? Pilihan lo gak ada yang bermartabat, Bang.

Karena saya benar-benar gak ngasih kamu pilihan apa-apa.

Maksudnya?

Kalau pilihanmu mau masuk penjara,

bilang sama bapakmu gak usah repot-repot telepon saya.

Lo emang selalu sekeras ini ya, sama klien lo?

Saya ini pengacara kamu.

Bukan guru kelompok bermain kamu.

Paham?

Dia menuangkan minyak ke wajah saya.

Kemudian menyalakan korek dan membakar rokok.

Lalu menyundutkan rokok itu ke wajah saya.

Yang Mulia.

Kami telah menerima kesaksian dari seorang dokter

bahwa sejumlah besar waktu dan uang

akan dibutuhkan untuk mengobati luka bakar tingkat tiga

yang diderita korban.

Terdakwa telah didiagnosa skizofrenia.

Hal ini disebabkan karena terdakwa menderita depresi yang berat

saat mendaftarkan diri ke universitas.

Dan proses ini terus berjalan, dan gejalanya tidak juga membaik.

Lalu kemudian, saudara terdakwa mengalami delusi

juga tingkat halusinasi yang cukup konstan.

Dan ini menyebabkan bahwa saudara tidak mampu membedakan

apakah tindakan itu merupakan tindak kriminal atau tidak.

Dalam hal ini, Yang Mulia, saudara tidak dapat dihukum

atas apa yang dilakukan dalam kondisi kejiwaan yang demikian.

Majelis hakim menyatakan

melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap korban, Noviandi Bimo.

Namun demikian, dengan melihat kondisi kejiwaan terdakwa,

yang menderita skizofrenia,

maka, terhadap perbuatannya tersebut

tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban terhadap terdakwa

oleh karena adanya alasan pemaaf.

Sebagaimana ketentuan dalam Pasal 44, Ayat 1,

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,

majelis hakim memutuskan

melepaskan oleh karena itu terdakwa dari segala tuntutan hukum.

Pak Hakim!

Ini sama sekali gak masuk akal, Pak Hakim!

Anak saya…

Pak… Pak Hakim!

Mana keadilan untuk anak saya?

Pak!

- Sudah. - Gak adil! Ini gak adil!

Bang!

Mak Aminah dipenjara gara-gara nyuri pisang.

Ini yang nyata-nyata bajingan, malah dibebasin.

Gue pikir lo bakal nyadar di bulan pertama tugas.

Nyadar apa, Bang?

Terkadang tempat ini gak ada hubungannya sama keadilan.

Entar juga lo bakalan nyadar.

Halo? Nina? Ya?

Gimana, Nin?

Ya udah.

Tahun depan 'kan bisa coba lagi. Ya?

Lulus!

Serius? Beneran?

Aku lulus dan nilai aku bagus.

Mantap!

Nin, sebentar, ya.

Saya hanya menjalankan tugas, Pak. Tapi untuk hal-hal di luar itu

yang pasti saya sudah pastikan tidak ada pengungkapan informasi pribadi.

Tolong dijaga saja agar Sadam tidak melakukan hal-hal bodoh lain.

Itu aja.

Sama bokap gua aja lo baik.

Ya, dia yang bayar.

Pilihan tempat yang cocok.

Jujur, saya sangat menyesal dengan kejadian ini.

Ya, mudah-mudahan dia bisa berubah.

Ini salah satu cara yang bisa saya lakukan sebagai ayah.

Oke, Pak.

Semoga ini jadi pelajaran berharga bagi keluarga Anda. Ya?

Pengalaman berharga?

- Luka bakar di wajah anak saya… - Bu, Bu.

- …gak akan hilang seumur hidupnya! - Ibu!

Dan kamu bilang itu pengalaman berharga?

- Ibu. - Iya?

- Anak setan itu harus dihukum. - Bukan begini caranya, Bu.

Lantas bagaimana caranya? Pak Raka!

- Tolong bawa ini ke ruang istirahat. - Lepas!

Manusia-manusia munafik kalian!

Lepas!

Terima kasih.

Maaf, Pak. Mungkin ibu itu masih belum terima hasil putusannya.

- Permisi. - Tunggu.

Ini voucer makan malam buatmu.

Jangan, Pak. Udah jadi tugas saya.

Diterima aja, Mas. Ya?

VOUCER RESTO DAN RUANG SELESA

RESTORAN DAN RUANG SELESA

- Malam, Pak. - Malam.

Ini apa gak berlebihan ya, Mas?

Gak apa-apa. Sesekali, lah. Kita harus ngerayain hari kayak gini.

Ini bagus banget loh tempatnya.

Kayaknya uang yang ada di tas aku dan di dompet kamu

gak cukup deh buat bayar makanannya.

Emangnya saldo yang ada di ATM aku cukup?

Hah, terus?

Ayo aja kita sering makan di sini nanti setelah anak kita lahir.

Asumsinya kamu harus cepat dapatin klien kelas kakap.

Kamu pikir aku bisa ke mana-mana

- sampai dia jalan sendiri? - Oh, iya.

Malam, Pak.

Kamu aja yang nyusuin, ya?

Oke. Kamu aja yang nyari duit, ya?

Enggak.

Dika mana, sih?

Udah sampe dia.

Lama, anjing.

Coy.

Lu jangan, ya.

Jalani hidup yang lurus.

- Jangan ngelakuin kriminal. - Banyak bacot. Lu tuh pura-pura gila.

Anjing, ke mana aja lu?

Lama banget.

Puas lu diakui sebagai orang gila di pengadilan?

Minum, nih. Nih, kasih minum.

Minum, Bro.

Ini malam gue. Oke?

Emang ngaruh ya ke daya tawar lo ke cewek-cewek?

Atau justru narik cewek yang sama gilanya?

Apa pun yang bikin hidup lebih hidup.

Kenapa enggak?

Buat apa juga, anjing?

Orang tua dari korban yang lu sakiti

bakalan tidur sambil mikirin buat bunuh lu.

Ya elah.

Emang bisa apa mereka, anjing?

Belum lagi ini korbannya gak berdaya.

Mereka bahkan gak punya duit, Dik.

Kalau pun ada duit, paling buat bayar listrik.

Bukan buat pengacara. Sok tahu lu.

Jangan ngeremehin orang yang gak berdaya.

Bokap gue udah ngarahin sekretarisnya buat bayar tagihan rumah sakit mereka.

Udah aman semua, Bro.

Kalau gue jadi lo, gue gak akan bakar muka orang sembarangan.

Ya jelas, lah.

Lu 'kan anak orang paling tajir sedunia.

Senegara, lah. Ya?

Masa lo mau punya catatan kriminal? Bisa dicoret dari KK lo.

Lo gak seharusnya ngelakuin kekacauan ini

dan gak ngeberesin semua saksi dan bukti.

Pinter banget berteori lo.

Paling di depan hakim lo mencret. Berak darah lo.

Lo berani juga karena lo tahu bakal diberesin sama bokap lo, 'kan?

Bokap gua?

Gua gak pernah minta dilahirin kaya, anjing.

Gue terima diri gue apa adanya, anjing!

Tapi lo…

Lo cuma datang, numpang minum.

Bacotnya doang lo gede.

Main cewek enggak lo, nyimeng enggak.

Berantem juga enggak lo.

Hidup lo banyak enggaknya, anjing.

Teori aja lo kenceng, bangsat.

Ada pepatah di Harvard Laws.

Harvard?

Di gerbangnya tertulis Surat An-Nisa: 135.

"Wahai orang-orang beriman,

jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan di dunia."

Enggak, lah. Nyatanya? Timo. Bajingan.

Ya, kamu sih masih sebel sama kasus kemarin.

Tapi emang gak adil, sih.

Tapi kita juga harus sadar kalo banyak sekali orang di luar sana

yang hidupnya masih terselamatkan karena hukum.

Seberapa efektif dan semanusiawi apa sih, hukum masih bisa nyelamatin orang?

Bukan tergantung hukum, tapi orangnya.

Gua suka, nih.

Oke, pertanyaan aku,

ketika kamu jadi pengacara nanti,

kira-kira kamu bakal ngebelain orang yang gak bener itu gak?

Gini…

Misalnya kamu adalah seorang dokter yang kerja di UGD,

terus tiba-tiba ada pasien datang ketusuk pisau,

tapi dia orang jahat.

Nah, kamu sebagai dokter kira-kira bakal nyelamatin dia

atau ngebiarin dia mati?

- Aku sih bakal ngobatin mereka. - 'Kan?

Aku bakal perlakukan mereka dengan sangat menyakitkan sampai mereka berpikir,

"Udah, gue mendingan mati aja, deh."

- Parah banget itu! - Kamu mau tahu detailnya, gak?

Ini aku rinci.

Enggak, deh. Aku percaya kok sama Badan…

Selamat malam, Bapak, Ibu.

- Selamat malam, Mas. - Malam.

Maaf mengganggu malam bahagianya.

Kami ada anggur spesial dari President Hotel.

Terima kasih, tapi saya lagi enggak.

- Kalau gitu untuk Bapaknya? - Oh, iya. Silakan, Mas.

- Saya tuang, ya, Pak. - Boleh.

Terus, Mas. Terus, jangan berhenti, Mas.

Mas, jangan norak.

Ya, namanya juga satpam.

Selamat menikmati makan malamnya.

- Terima kasih. - Makasih.

Jangan banyak-banyak minumnya. Kamu nyetir, loh.

Pengacara Nina,

pembela kebenaran dan keadilan,

selamat untuk lulus ujian profesi advokat.

Dan tentunya, selamat kepada saya

untuk posisi permanen sebagai satpam pengadilan.

Sekarang, gimana ceritanya kita bisa makan di restoran mahal banget ini?

Nina.

Nin.

Nin, kamu semarah itu, ya?

Di hari kelulusan aku?

Kamu gak ada rasa bersalah sampai bisa kompromi sama mereka?

- Ini gak ada hubungannya, Nin. - Gak ada hubungannya gimana?

Masih bisa lagi ngomong gitu. Kamu bahkan ikut persidangannya, loh.

Emangnya harus sejauh itu mikirnya, ya?

Aku cuma ngejalanin tugas aku.

Aku bahkan ngehalangin ibu itu supaya dia gak ditahan.

Nin…

Gak bisa cuma sekedar nikmati hari ini apa?

Kamu benar-benar ya,

udah mati rasa.

Aku minta maaf.

Ya udah kalo kamu mau pulang, kita pulang aja, yuk.

Gak tahu.

- Aku mau ke kamar mandi. - Nina. Nin.

Lo bener emang buat gue marah terus?

Bener?

Di sini?

Oke. Jangan ke mana-mana. Gue balik ke sana sekarang…

Hei!

Saya?

Ya ampun, Mas. Itu saya yang jatuhin ya, Mas?

Maaf banget, Mas. Saya gak sengaja, beneran.

Saya ganti ya, Mas. Jangan marah.

Kenapa minta maaf?

Emang lo ngerasa bersalah?

Tapi 'kan itu salah saya juga, Mas.

Beneran gak sengaja senggol. Saya ganti, Mas.

- Jangan marah. - Bacot, anjing.

Jaga ya mulut kamu.

Gue lagi makan malam di luar.

Pesta apa?

Kamu tahu 'kan kasus Sadam?

Aku sekarang lagi di restoran bapaknya Sadam.

Gak ngerti. Suamiku gak sensitif.

Aduh, panjang deh kalo diceritain sekarang.

Nanti ya sampe rumah aku cerita.

Iya, Ayu. Aku lagi makan malam dulu sama kakak ipar kamu.

Iya nanti sampe rumah aku telepon, ya?

Ini toilet wanita!

Tahu gua.

Terus ngapain di sini? Keluar!

Gue gak tahu kalo lo gak sendirian.

Maksudnya?

Tapi dia gak bisa bersaksi nantinya.

Mas, toilet wanitanya ada di mana, ya?

- Mari saya antar, Pak. - Oke.

- Di sana, Pak. - Terima kasih.

Mas.

Ini lagi dibersihin, ya?

Nin?

Nina?

Nin?

Nina!

Mas! Mas!

Tolong! Tolong!

- Iya, Pak? - Panggil ambulans sekarang!

- Nin? - Mas… Dia di sini.

Halo?

Iya.

Halo? Ya?

Saya butuh ambulans, Pak.

Mas! Mas! Mas!

Jaga dia sampai ambulans datang.

Halo?

Kak Raka, ada apaan, sih?

Nina kenapa?

Tadi sebelum Kakak nelepon, dia juga nelepon aku.

Buka.

Kalau saran saya sih mending kamu diam, gak usah ngelawan.

Kalau butuh pembelaan, hubungi pengacara.

Hak Miranda?

Masih bisa ketawa ya habis bunuh orang?

Santai. Permen.

Kamu tuh beruntung bapak kamu kaya.

Telepon.

Oke, saya sudah baca semua di proposal itu.

Jadi, langsung ke intinya, ya?

Dengan angka segitu, tadi saya dapat 30 persen saham, 'kan?

Iya, Pak.

Oke, kalo gitu saya…

Dika di mana sekarang?

Masih di rumah sakit, tapi bakal segera dipindah ke ruang tahanan.

Kita harus kirim pengacara sekarang.

Kalau soal itu, Dika sudah memilih pengacaranya sendiri.

Maksudnya?

Dia menghubungi Timo Gunawan dan itu sudah benar.

Timo adalah pengacara terbaik.

Tadi katamu di mana tempat kejadiannya?

Klubnya Sadam.

Tempatnya Wira?

- Hubungi Wira sekarang. - Baik.

Karya siapa itu?

Suami itu cewek.

Jadi, Anda membunuh atau tidak?

Blak-blakan juga lo.

Mungkin kita akan banyak membahas juga soal sopan santun.

Oke. Anda sudah terlalu tua… sepertinya.

Bagus, lah. Cocok kita.

Kita ini 'kan mau atur strategi.

Saya gak peduli mau Anda mukul, nonjok, bunuh.

Bukan soal.

Yang penting adalah memastikan Anda keluar dari sini. Gitu, 'kan?

Membunuh atau tidak?

Kalau saya bilang, saya juga gak yakin Anda bakal percaya.

Saya memang orangnya gak gampang percaya.

Tahu dari mana?

Babe gimana kabarnya?

Ya, dia pengen datang, pengen doang.

Gue gak pinter menghibur orang.

Kasih tahu gue bisa bantu apa.

Makasih.

Lo datang aja udah ngebantu.

Jadi sekarang kita fokus, alibi apa yang mau kita buat.

Saya menyarankan untuk Anda,

kita buat saja bahwa pembunuhan ini

tidak disengaja akibat alkohol yang terlalu banyak.

Dengan begitu, hukumannya bisa kurang dari lima tahun.

Gua gak mau dipenjara, bahkan untuk satu hari.

Oke. Kalau gitu kita pake alasan skizofrenia temanmu aja, ya?

Masa sama kayak Sadam?

'Kan gue ini bunuh orang.

Jadi, Anda membunuh? Oke.

Maksud gue,

ini 'kan kasus pembunuhan.

Emang masih bisa pake cara yang sama?

Bisa kasih tahu saya alasan apa Anda membunuh orang itu?

Itu lagi.

Dijawab alasan Anda membunuh seseorang di saat Anda baru pertama kali ketemu apa?

Atau Anda mungkin saat itu tidak bisa berpikir dengan jernih atau bagaimana?

Lo bisa jaga rahasia, 'kan?

Kalau enggak, lisensi pengacara lo bakal dicabut.

Saya juga gak mau izin pengacara saya dicabut.

Apalagi untuk monyet kecil kayak kamu begini.

Jadi alasan gue membunuhnya karena…

dia menarik aja.

Kayak orang yang bisa hidup tanpa hukum.

Saya gak habis pikir ya, tapi…

Dan gue bertanya-tanya, kayak apa sih hukum itu?

Gue bunuh orang, tapi hukum bisa bilang gue gak bunuh.

Dan gue pengen tahu rasanya kayak gimana.

Benar 'kan gue bisa ngelakuin itu?

Pelakunya pasti orang lain.

Masalahnya dia mengaku bersalah, Pak.

Dan hasil tesnya juga membuktikan hal yang sama.

Kamu yakin bisa menang di persidangan?

Saya boleh cerita satu hal lucu?

Ada seorang yang begitu terkenal namanya OJ Simpson.

Dia membunuh istrinya dan mantan pacarnya.

Dia pernah divonis tidak bersalah karena membunuh istri dan mantan pacarnya.

Ya, saya juga tahu itu.

Tapi kemudian, sepuluh tahun berselang,

dia kembali diadili, Pak,

dan divonis 33 tahun penjara hanya karena mencuri suvenir dari hotel.

Tiga puluh tiga tahun penjara karena kasus pencurian?

Anda tahu apa perbedaan antara dua kasus itu?

Saat dia diadili, dia tidak mampu menyewa pengacara mahal.

Jadi bukan soal bobot kasus kejahatannya seberapa besar.

Tapi siapa pengacara yang mendampinginya saat peradilan itu berlangsung.

Itu jauh lebih menentukan putusan hakim.

Saya tadi baru saja membeli gedung sebelum kamu datang ke sini.

Sebuah gedung yang disewa untuk kantor firma hukum Anda.

Jika Anda berhasil,

saya akan ubah namamu yang ada di dalam situ.

Jika Anda berhasil untuk tidak membiarkan setitik noda pun

pada kehidupan Dika.

Saya yakin kamu bisa.

Kita tunda kasus yang lain, fokus sama kasus Dika dulu.

Kumpulin semua dokumen termasuk jaksa.

Cari tahu semuanya tentang dia. Universitasnya di mana, keluarganya siapa.

Enggak… Siapa?

Bukannya satpam?

Oke, cari tahu tentang dia juga ya? Ya.

Bapak Raka.

Saat ini kondisi anak Bapak stabil.

Tapi saya pikir,

Bapak tetap harus mempersiapkan untuk kemungkinan yang terburuk.

Yang Mulia.

Dakwaan dari saudara jaksa tidak dapat kami terima

dan kami mengajukan permohonan

untuk diputuskan tidak bersalah. Terima kasih.

Selanjutnya, saya akan memeriksa saksi dari jaksa.

Saudara Saksi, silakan menempati kursi saksi.

Detektif Edo,

bisakah Anda menjelaskan kepada saya isi dari penyelidikan yang Anda lakukan?

Menurut laporan forensik,

Nina Ratnasari, yang meninggal, menderita kerusakan primer di kepalanya.

Ditikam sekali di sisi perut sebelah kiri, dengan pecahan kaca sepanjang 25 cm,

dan lokasi kejadian berada di toilet wanita hotel.

Apakah Anda menemukan sidik jari Dika dari barang bukti senjata?

Sewaktu penangkapan,

terdakwa menggunakan sarung tangan sepeda motor,

sehingga kami tidak bisa mendapatkan sidik jari dari senjatanya.

Cukup dari saya, Yang Mulia. Terima kasih.

Pengacara, silakan untuk pemeriksaan silang.

Terima kasih, Yang Mulia.

Baik, Saudara Saksi Ahli.

Saya akan menanyakan satu hal kepada Anda.

Mengapa Dika membunuh Nina?

Menurut saya, dalam kasus ini, terdakwa tidak memiliki motif.

Ini adalah kasus pembunuhan.

Saudara mengatakan bahwa tidak ada motif pembunuhan?

Ada banyak. Ada banyak sekali kasus pembunuhan tanpa motif.

Terima kasih pencerahannya.

Tapi rasanya kalau wilayah itu kita serahkan pada persidangan ini

untuk memutuskan apakah klien saya ini memiliki motif atau tidak.

Yang Mulia, dari saya rasanya cukup. Terima kasih.

Saudara Saksi, silakan kembali ke tempat.

Berikutnya,

Saudara Gilang, silakan duduk di kursi saksi.

Saudara Saksi.

Anda melihat korban, Nina Ratnasari,

yang kehilangan kesadaran pada waktu kejadian. Apakah betul?

Ya, benar. Saya bahkan menelepon ambulans.

Apakah Anda melihat saudara Dika di toilet tempat pembunuhan terjadi?

Ya, saya melihat dia di dalam toilet.

Tapi tidak ada CCTV di depan toilet?

Tidak ada.

Karena toilet merupakan ruang pribadi.

Tidak ada lagi, Yang Mulia. Terima kasih.

Saudara Pengacara, silakan untuk pemeriksaan silang.

Terima kasih, Yang Mulia.

Baik, Saudara Saksi.

Saksi lain mengatakan bahwa

Anda melihat Dika melarikan diri dari toilet, benar?

- Ya, betul. - Ya. Oke.

Anda lihat tidak Dika membunuh korban?

Dijawab saja. Tenang saja.

- Ya? - Saya…

Saya hanya melihat dia melarikan diri dari toilet.

Hanya melihat melarikan diri dari toilet. Baik, saya lanjutkan.

Saksi mengatakan tidak melihat apa yang terjadi di toilet. Betul, ya?

- Ya, betul. - Baik.

Seperti apa keadaan di dalam toilet itu?

Ibu yang meninggal kehilangan banyak darah,

karena tertusuk pecahan kaca.

Tertusuk pecahan kaca.

Apa yang terjadi setelah itu, Saudara?

Pecahan kacanya

dipegang suami korban.

- Keberatan, Yang Mulia. - Saksi, Anda lihat pecahan kaca ditusuk

atau kemudian Anda melihat pecahan kaca itu dicabut setelah ditusuk?

Yang Mulia.

Saya gak lihat sampai sejauh itu.

Saya cuma lihat

pecahan kaca itu dipegang.

Yang Mulia, kesaksian ini berbeda

dengan pernyataan yang diberikan ke polisi.

Sangat berbeda sekali.

Saudara Gilang, mohon dijawab dengan benar.

Saya panik, Yang Mulia.

Besok-besoknya saya baru sadar

kalau pecahan kaca itu dipegang suami korban.

Yang Mulia, pengacara membuat spekulasi dan pernyataan

yang sangat berbahaya bagi keluarga korban.

Saya hanya ingin menunjukkan, Yang Mulia, bahwa dakwaan jaksa itu salah.

Saya hanya mencari kebenaran di sini.

Yang Mulia Hakim, saya mohon izin untuk bisa menghadirkan saudara Raka

sebagai saksi di ruang persidangan ini. Terima kasih, Yang Mulia.

Malam itu saya pergi makan bersama istri saya ke restoran di Hotel President.

Lalu istri saya izin ke kamar mandi,

dan karena dia tidak kembali cukup lama, saya khawatir.

Akhirnya saya menyusul dia.

Masuk ke kamar kecil bukannya agak aneh, Saudara?

Pada waktu itu pukul 09.23,

dan di depan kamar kecil ada tanda "sedang dibersihkan".

Saya merasa aneh, karena seharusnya pada waktu tersebut

seluruh petugas sudah tidak ada lagi yang bekerja.

Bukankah lebih aneh karena Anda menganggap itu aneh?

Apalagi orang-orang yang paham atau terbiasa dengan industri perhotelan.

Apa yang terjadi ketika Anda masuk ke kamar kecil?

Lalu ketika saya masuk ke dalam kamar mandi,

saya menemukan istri saya berdarah,

dan perutnya tertusuk oleh pecahan kaca.

Jadi, Anda melihat Dika membunuh istri Anda?

Dika adalah orang yang membunuh istri saya.

Anda melihat langsung saudara Dika menusuk istri Anda?

Tidak.

Tapi saya lihat dia melarikan diri dari salah satu bilik kamar mandi wanita.

Apa Anda melihat wajahnya dengan jelas?

Saya mengejar dan menangkap dia di parkiran basemen.

Bagaimana Anda bisa begitu yakin?

Karena ada darah istri saya di pakaian dan sepatu yang Dika pakai.

Saudara…

Laporan forensik menunjukkan hal yang sama.

Baik, Saudara, kalau mengenai darah,

bukankah mungkin bahwa darah istri Anda di pakaian Dika itu didapat dari Anda?

'Kan Anda mengejar dan menghajarnya habis-habisan?

Begitu, 'kan?

Saya bertanya satu hal kepada Anda, mengapa Anda menyerang saudara Dika?

Karena dia orang yang coba membunuh istri saya,

dan dia melarikan diri.

Melarikan diri? Baik, kita buat asumsi.

Dan kalau asumsi saya benar,

besar kemungkinannya Anda adalah terdakwa dari pembunuhan ini.

Ini semua omong kosong. Saya tidak membunuh istri saya.

Yang Mulia, izinkan saya untuk menunjukkan apa yang dia lakukan.

Mohon izin? Terima kasih.

Sepeda motor terjatuh di tanah.

Raka mendekati Dika, menangkapnya, dan terus-menerus memukulnya.

Adegan ini bisa terasa cukup kekerasan bagi seseorang yang melihatnya.

Seorang wanita meninggal dunia di sebuah ruang sempit,

di sebuah kamar kecil.

Ada tiga orang laki-laki yang ada di sana.

Yang pertama adalah seorang mahasiswa yang tidak punya motif pembunuhan.

Yang kedua adalah pelayan restoran.

Seorang suami.

Kalau dilihat dari video ini,

siapa yang paling mungkin untuk jadi pelaku?

Yang Mulia Hakim, demikian. Terima kasih.

Kenapa sidangnya jadi kayak gini ya, Kak?

Tuan Raka Yanwar,

bagaimana pun kebenaran pasti akan terungkap.

Itu hanya soal waktu.

Saya minta sama Anda untuk sebaiknya

tidak ada yang perlu dibesar-besarkan atau dilanjutkan.

Saya hanya gak ingin ada korban lain,

yang ikut menderita akibat kematian istri Anda. Itu aja.

Anda pikir saya akan diam saja, ya?

Apa sekarang saudara saksi mengancam seorang pengacara?

Karena tugas saya mengungkap kebenaran,

meskipun telah dimanipulasi.

Salah saya sebagai pengacara, kalau saya membuat klien saya

masuk penjara padahal dia tidak bersalah.

Ya, kita anggap saja semua ini sudah selesai sampai di sini.

Tapi memang, Pak, ini agak lama…

Burhan, aduh. Lu gua tungguin lama banget, nih.

Sori telat, Pak. Macet.

- Burhan. - Iya?

- Gue langsung aja, ya. - Oke.

Kalo menurut gue, lo sebaiknya jangan nurunin tempo di pengadilan.

Karena gini, lawan lo 'kan gua.

Kalau kelihatan banget terlalu mencolok,

strategi yang lo pake pasti kebaca, gak mungkin enggak.

Karena Raka ini tuh…

Jangan salah, Pak, dia gak sesimpel yang kita pikir.

Tenang aja. Gue bakal ngelakuin tugas gue dengan benar.

Jangan remehin gue, lah.

Ini hakim gak main-main nih, Pak.

Dia ini terkenal sangat prinsipil orangnya.

Integritasnya tinggi banget, gak bisa digoyang, lah.

Lempeng aja lah, ya.

Sepertinya lawan yang susah, ya?

Kalau tujuannya melawan, iya.

Tapi saya melihat hakim ini tuh kalau di dalam catur tuh dia bidak catur.

Tergantung bagaimana kita memainkannya. Tapi bisa dimainkan. Gitu.

Ini menariknya, Pak.

Kamu bisa mempermainkan hal itu?

Bukan mempermainkan.

Memainkan. Beda tuh, Pak.

Terima kasih.

- Hati-hati, Pak. - Iya, Pak.

- Oke, Burhan. - Oke.

Saudara Jaksa, apa masih ada saksi yang mau Anda ajukan?

Tidak ada lagi saksi, Yang Mulia.

Anda yakin ini semua sudah cukup?

Cukup, Yang Mulia, terima kasih.

Baik, kami akan membuat keputusan di akhir minggu depan.

Biar saya yang menyelesaikan.

Anak itu kabur. Saya suruh dia untuk hapus CCTV.

Ngapain lo? Bawa masuk cewek-ceweknya, lah.

Baik, Bos.

Gak becus.

Maaf, Mas. Ruangan ini sudah saya tutup. Ayo keluar. Keluar!

Menurut postingan IG-mu,

tanggal 14 Juli jam 8 malam kamu ada di sini, 'kan?

Ngomong apa sih lu?

Dika bareng sama lo?

- Dika? - Apa yang kalian bicarain?

Tai anjing!

Lu suami cewek yang mati di hotel gue, 'kan?

Woi! Bawa keluar ini orang!

Woi! Ngapain lo di sini anjing? keluar!

Anjing!

Heh.

Bang…

- Mulai sekarang… - Bang…

…lo dengerin semua yang gue bicarain sama lo, ya?

- Setelah gue cari tahu, lo menarik, ya? - Iya, Bang.

Tawaran dari lo masih berlaku, 'kan?

Gue baru pertama kali nerima permintaan kayak gini.

Kesimpulannya apa?

Di persidangan, bukan kebenaran yang benar.

Tapi yang menang akan menjadi kebenaran.

Lo ada niatan ngebunuh Dika?

Sori ya, gue harus nanya.

Kalau pun gue terlibat, gue harus tahu.

Enggak lah, terlalu gampang.

Meskipun gue yakin itu cara yang paling sesuai

buat bajingan kayak dia, tapi…

Gue yakin itu bukan cara yang Nina mau.

Terus?

Pak Raka?

Yoga.

Saya udah dengar semuanya, Pak.

Betah juga kamu di sini.

Bapak tahu betul kalau saya tidak dididik untuk lapangan.

Dididik sih, tapi sayanya aja yang kurang berbakat.

Peralatannya masih ada, 'kan?

Dulu Bapak pergi begitu aja dan sekarang tiba-tiba balik.

Saya gak balik.

Ya, saya tahu, Pak.

Membawa senjata BIN, kalau dari sini sangat dilarang, Pak.

Oke, saya hitung sampai tiga kamu tembak, ya.

Satu, dua, tiga.

SOP.

Secara resmi, saya harus melarang Bapak.

Gak bakat agen lapangan katamu, hah?

Setelah selesai, tolong balikin ya, Pak, semuanya.

Bapak sendiri.

Kecuali bomnya.

Semoga bomnya tidak penting untuk dipakai.

Ya, semoga.

Hati-hati, Pak.

Salam buat Babeh ya.

Insyaallah tidak akan saya sampaikan.

Bagus.

Tadi gue lihat berita.

Wartawan nanyain apa?

'Kan bukannya gue bilang gue gak mau dipenjara sehari pun?

Kalau bukan karena uang bapak Anda,

Anda sudah berada di tahanan bersama penjahat beneran.

Jadi, coba latihan bersyukur.

Apa persidangan selalu membosankan?

Doa bapak Anda itu semoga Anda selamat, bukan semoga Anda gak bosan. Masuk.

Hari ini gua gak ke ruangan sidang, ya.

Gue ngerti, Bang.

Istirahat aja.

Ka, tolong kasih tahu gue apa yang bisa gue bantu.

Enggak, udah. Terima kasih.

Kalau gitu gue ke ruang sidang dulu. Kalau ada apa-apa entar gue kabarin, ya.

Gue bikinin kopi ya, Bang?

Makasih, ya.

TIDAK ADA SINYAL

Ka! Lo mau ngapain, Ka?

Jangan, Ka.

Ka, sabar.

Ini pengadilan. Sakral, Raka.

Kalau memang sakral, kenapa mau lari?

Ini situasi yang sebenarnya, Pengacara Timo.

Pilihan bagus.

Tahu apa yang dilakukan terhadap teroris, 'kan?

Oke. Oke, tenang. Tenang dulu.

Raka, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Oke?

Bicara baik-baik katamu, hah?

Anda yang membuat saya mengambil pistol ini.

Raka, sebelum kamu ngelakuin ini, kamu pikirin keluarga kamu.

Kalau kamu udah lakuin ini, gak ada jalan kembali, Raka.

Gak akan ada jalan kembali.

Persidangan ini juga.

Nina juga.

Kepada semuanya, saya minta maaf karena sudah menyandera kalian semua.

Tapi jika kalian semua mendengarkan perkataan saya,

saya akan mengeluarkan kalian dari sini hidup-hidup.

Kamu Amir, 'kan?

Tolong keluarkan ponselmu.

Bu, dompetnya disimpan aja.

Nal, maaf ya.

Anda ini mau ngapain, sih?

Dia harus membayar kejahatan atas pembunuhan Nina.

Yang Mulia, mulai sekarang persidangan ulang di sini.

Persidangan?

Anda tadi mengatakan persidangan ulang?

Bentar, kenapa harus mengadakan persidangan ulang? Aneh, Yang Mulia.

Karena saya akan membuktikan bahwa Dika yang bersalah.

Biar persidangan yang membuktikan Dika bersalah atau tidak, bukan Anda.

Jadi Anda mengatakan kalau pengadilan saya belum adil sejauh ini?

Jika Yang Mulia memulai persidangan lagi, saya akan menunjukkannya.

Bang, ada 40-an orang sandera di dalam,

termasuk hakim dan hakim anggota.

Apa ada yang terluka?

Tadi ada beberapa tembakan dari dalam, tapi sepertinya ada.

Siapa pelakunya?

Diidentifikasi sebagai satpam yang bekerja di pengadilan, Bang.

- Satpam? - Satpam.

Heh!

Kalau dia seorang satpam, artinya dia lebih familier

tentang gedung ini daripada kami.

Saya tidak tahu dulu dia ngapain, tapi dialah yang terbaik di bidang ini.

Apakah ada akses bagi kami untuk melihat ke dalam ruang sidang?

Semua pintu ditutup dan diblokir. CCTV dimatikan.

Sebentar.

Kalau emang dia sampai ngorbanin pekerjaannya,

yang dia mau itu apa? Uang?

Ini hari terakhir dari pengadilan pembunuh istrinya.

- Istrinya? - Iya, istrinya.

Dia dibunuh beberapa waktu lalu.

Karena Anda menganggap saya tidak membuat keputusan yang benar?

Jaksa telah menghilangkan bukti.

Sidang ini tidak pernah dilakukan adil sejak awal.

Jaksa, apa benar yang dikatakan saudara Raka?

Yang Mulia, itu hanya klaim sepihak dari suami korban.

Pemeriksaan hanya mengecualikan bukti dan saksi yang kurang dapat dibuktikan.

Permintaan saudara Raka tidak bisa saya kabulkan,

karena tindakan ini mengurangi otoritas pengadilan negara ini.

Saya Kemal, tim negosiator dari Mabes Polri.

Tuan Raka Yanwar,

semua percakapan mulai sekarang akan bersama saya.

Saya tidak akan berbohong, menipu,

atau melakukan apa pun di luar yang saya katakan.

Sekarang saya tanya, suara tembakan terdengar di ruang sidang.

Apakah ada yang terluka?

Tidak.

Belum.

Baik. Sekarang, dengarkan saya baik-baik.

Sejauh ini hanya ada beberapa pelanggaran hukum,

termasuk menghalangi jalannya persidangan dan kepemilikan senjata api ilegal.

Tapi jika Anda melangkah lebih jauh…

Saya sudah menanam bom di gedung pengadilan ini,

jadi jangan coba masuk.

Pakai ini.

- Tolong jangan… - Jangan buat saya

membicarakan itu dua kali.

- Saya… - Lepas seragammu.

Anda bukan lagi jaksa di ruangan ini.

Sebentar, Pak. Bang! Di belakang, Bang!

Iya. Identifikasi pemilik mobil dan para korban.

Oke.

Sudah lihat, 'kan?

Masih ada dua lagi.

Yang satu di ruangan ini,

dan yang satu adalah kejutan jika kalian mencoba untuk masuk ke sini.

Ada bom di ruang sidang?

- Tommy! - Ya?

Suruh mereka bubar. Tidak ada gunanya provokasi dia.

Dan jika kalian tetap masuk,

kalian akan menjadi saksi pertama

atas meledaknya gedung pengadilan negeri ini.

Ini gak ada kopi nih emang?

Cepat banget kamu datang kalau ada yang amis-amis.

Aku cuma ingin cepat pulang, Mal. Kamu gak pengen?

Raka Yanwar, 30 tahun.

Empat tahun bekerja sebagai satpam pengadilan.

Catatan bekerja sebelumnya gak bisa diakses.

Gak bisa diakses?

Ya, tahun 2016 sampai 2021.

Tom, ada info apa lagi?

Terakhir ada info tentang tersangka pembunuhan, Dika.

Ditangkap di TKP sehabis pengejaran oleh Raka Yanwar.

Dan hari ini adalah hari terakhir persidangan?

Ya. Tetapi kemungkinan besar vonisnya gak bersalah.

Gak bersalah?

Dan media tidak heboh, ada apa ini?

Dika itu anak tunggal dari Sudiyan Bono.

Sudiyan Bono?

Bos penebangan liar?

Permisi. Maaf, Pak.

Sepertinya Bapak harus menonton berita sekarang.

Ada penyanderaan di pengadilan, tempat Dika menjalani persidangan.

Penyanderaan?

Tapi dengan adanya drama penyanderaan dan pemberian hak-hak istimewa kepada…

Identitas pelaku telah terungkap.

Dia adalah Raka Yanwar, seorang inspektur pengadilan

dari Pengadilan Negeri Metropolitan.

Kasus tersebut sedang berjalan langsung di ruang sidang saat ini.

Beragam pendapat mengenai motif kejahatan tersebut.

Anjing!

Woi! Gimana ceritanya?

Data yang baru gue pegang dan sekarang wartawan semua sudah tahu.

Gimana ini?

Bang… Lihat.

Ditujukan ke Mabes Polri, di CC ke Intel dan semua media.

- Siapa yang ngirim? - Raka Yanwar.

Tadinya aku berpikir bahwa ini akan selesai tanpa benturan.

Anda ini sudah mengancam ruang sidang, mengancam akan menembak, meledakkan bom.

Apa lagi?

Kenapa tidak sekalian mengancam Hakim untuk memutuskan bahwa Dika bersalah?

Yang Mulia, jika Anda setuju untuk sidang ulang,

saya akan bebaskan sandera yang tidak ada hubungannya dengan sidang.

Anda akan bebaskan semua sandera?

Ya.

Dan setelah putusan selesai, saya akan menyerahkan diri.

Tapi jika Anda tidak mau,

tidak ada satu orang pun yang akan keluar dari ruang ini.

Ini tidak layak untuk dipertimbangkan, Yang Mulia.

Saudara Raka, apa Anda benar-benar yakin kalau Jaksa…

Dia kira saya ini bodoh.

Kalau mau tembak, tembak aja sekarang. Saya capek.

Tapi, Pak. Jaga-jaga.

Kita gak bisa mempertaruhkan nyawa untuk memastikan itu palsu, bukan…

- Diam. - Distorsi pengadilan, Yang Mulia?

Dia pun melakukan tindakan…

Bapak gak sendirian di sini.

Kita ini berdua, si bangsat itu sendiri.

"Kita"?

Kalau ada yang nyerang duluan,

paling enggak tiga orang… Kamu, saya, Timo mungkin,

yang lain pasti akan ngikutin.

Jangan bantah, ikutin aja.

Dan saya yakin Anda benar-benar sudah mencemari ruang sidang.

Anda dan jaksa yang mengotori pengadilan.

Heh, tolong saya! Timo!

Banting!

Raka?

Siapa yang kau tembak?

Ini Raka Yanwar.

Oke, lanjutkan. Terdengar suara tembakan.

Saya akan membebaskan satu orang sekarang.

Tertembak di tangan, ulah seniornya.

Tim Medis, bersiap.

Terjadi karena mereka mengabaikan instruksi saya.

Tidak ada bom di depan pintu. Raka itu hanya menggertak aja.

- Sabar, Bung. - Gak ingin pulang cepat?

Semua ada pedoman dan aturannya.

Ya udah, tunggu di tenda, deh.

Bergerak.

Kayaknya gak ada cara lain untuk meyakinkan

bahwa ada bom lainnya di situ.

Tutup telinga kalian semua.

Yang Anda lakukan ini adalah tindakan teroris, Saudara Raka.

Negara ini tidak pernah memaafkan teroris,

dan Anda baru saja membunuh abdi negara!

Tidak ada yang mati, Yang Mulia.

Itu peringatan kedua dari saya.

Kali ini peluru karet. Tapi lain kali jadi peluru asli.

Cek, cek, cek! Gimana kondisimu? Aman? Ayo, berdiri!

Apa yang terjadi, Wan?

Izin, Komandan. Untung ini hanya peluru karet.

M5. Dari mana si Raka dapat claymore M5?

Untuk menghentikan aksi penyanderaan ini,

Anda hanya perlu melakukan persidangan ulang lagi, Yang Mulia.

Apa ini?

Tiga orang ini bertemu ketika persidangan berlangsung.

Bukankah itu aneh?

Dua alumni fakultas hukum dari universitas yang sama

bertemu dengan senior jurusan ekonomi. Apa yang aneh?

Ini laporan autopsi dari pihak BPN

yang diserahkan penyidik ke kejaksaan, namun ditolak.

- Data itu terlalu lemah… - Pengacara Timo!

…untuk dijadikan bukti, jadi ditahan.

Terlalu kurang persuasif untuk dijadikan bukti, Yang Mulia.

Dapat dari mana data ini?

Tidak bisa mengungkapkan sumbernya.

Anda mencurinya,

atau pun mengambil dari sebuah tempat, sama aja.

Pak pengacara, ini juga semacam tips untuk Anda

menilai kualifikasi jaksa yang tanggung jawab di persidangan.

Yang Mulia,

sampai kapan Anda akan membiarkan penjahat ini mengontrol ruang sidang?

Lo udah gila?

Lo pikir gue bakal diam aja gitu

ngeliat lo ngancurin diri lo sendiri kayak gitu?

Oke, sekarang kasih tahu apa yang harus gue lakuin?

Raka, menyandera pengadilan itu artinya lo selesai, Raka.

Apa yang Nina mau itu bukan pengampunan, bukan balas dendam.

Tapi kebenaran. Penilaian yang jujur.

Gue yakin itu yang dia mau.

Orang ini kabur sehari setelah ngasih kesaksian palsu.

Dia pergi ke suatu tempat,

ke Semarang.

Gue udah ngelacak keberadaannya,

dan gue sangat butuh kesaksiannya Gilang.

Kalau gue bisa nemuin Gilang,

lo yakin dia mau bersaksi?

Gila, ya?

LETAKKAN IBU JARI DI TOMBOL HOME

BERKAS SAYA, KARTU SD, EVENT APLIKASI UNTUK DIGUNAKAN

Yang Mulia, hanya dua hal yang saya minta.

Anda hanya perlu bersikap adil

dan memberikan hukuman kepada yang bersalah.

Saya

sebagai hakim yang harus menilai dalam netralitas,

sudah sangat bersabar dengan semua situasi yang ada di sini,

di ruang sidang yang saya pimpin.

Saya belum membuat keputusan akhir.

Sudah menjadi wewenang penuh pengadilan

untuk mendengarkan pendapat dari kedua belah pihak sebelum keputusan.

Dan saya sekarang, ingin tahu kebenaran yang sebenar-benarnya dari kasus ini.

Saudara Raka Yanwar,

Anda tadi mengatakan akan mengakhiri penyanderaan ini

apabila ada persidangan ulang,

meskipun keputusannya tidak sesuai

dengan kebenaran yang Anda percayai. Betul?

Saya berjanji, Yang Mulia.

Dan apa pun hasil keputusannya, bisa jadi akan dianulir,

karena tidak pernah boleh ada persidangan yang ada di bawah paksaan.

- Saya mengerti. - Apa intinya?

Pengacara Timo!

Dan apabila aksi penyanderaan ini selesai,

Anda juga akan dihukum atas tindakan Anda, di sini, di ruangan ini, hari ini.

- Anda paham itu? - Saya tahu resikonya.

Tapi ada satu syarat.

Persidangannya harus disiarkan langsung melalui YouTube.

Ada alasan kenapa Anda minta itu?

Demi kebenaran.

Karena kasus ini sepenuhnya diabaikan oleh media.

Kalian udah bisa pergi dari sini sekarang.

Silakan, Pak. Diterima.

Dicek kembali, Pak.

Ibu, tolong bagikan dengan yang lainnya.

Pelan-pelan aja, Bu.

Saya bisa merasakan apa yang Bapak rasakan.

Saya tetap di sini sampai persidangannya selesai.

Ayo, ayo. Hati-hati.

Ayo.

Hati-hati. Ayo.

Ayo, Bu.

Ayo, Pak.

Nal, live di YouTube ketika sidang dimulai.

Oke, Ka.

Kalau Anda bekerja sama dengan dia, Anda sudah melakukan kejahatan.

Tidak dipidana.

Barang siapa melakukan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri atau pun orang lain,

karena ada ancaman atau serangan

pada saat itu di dekat dia yang melawan hukum.

Pasal 49 KUHP.

Usaha yang bagus.

Anda sebenarnya sedang memberikan saya kesempatan

untuk bisa mengambil sebuah resiko.

Anda ingin ini ditonton publik, 'kan?

Oke.

Kalau Anda berharap bahwa mereka akan ada di pihak Anda,

jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Sesuatu yang viral itu biasanya bertahan dua minggu, tidak lebih.

Mari kita mulai pertunjukannya.

Saudara Raka, silakan ke kursi jaksa.

Apa yang diinginkan oleh pelakunya?

Sidang ulang. Jadi sidang segera dimulai kembali.

- Sidang akan dimulai kembali? - Ya.

Hakim menyetujui permintaannya dan…

Benarkah penyandera akan diadili?

Ya, tergantung. Pokoknya sidang sudah diputus.

Kami ingin menemani,

tapi Hakim Hanum memaksa kami untuk keluar.

Saya, Raka Yanwar, petugas keamanan di pengadilan negeri ini,

dan saya juga pelaku di balik aksi penyanderaan yang sedang terjadi.

Sebulan yang lalu, istri saya, Nina, dibunuh tanpa alasan.

Lalu jaksa secara resmi memasuki persidangan,

tanpa menyerahkan bukti yang ada.

…berbondong-bondong ke depan pengadilan,

karena penasaran dengan situasi penyanderaan di ruang sidang.

Sementara itu, kasus pembunuhan yang tiada ujungnya…

Maaf, Pak. Sudah terhubung dengan Komisaris Ageng.

Makasih.

Mas Ageng.

Ya, ini Bono.

Sudah lihat siarannya?

Sepertinya saya minta bantuan, Mas.

Iya.

Saya akan mulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan ke saudara Dika.

Saudara Dika, silakan ke depan.

Baik, Yang Mulia.

Apa sih yang kalian lakukan?

Seluruh negeri menonton.

Kami mencoba cara yang terbaik.

Raka Yanwar berjanji untuk menyerah sesaat setelah putusan keluar.

Apa?

Keputusan keluar?

Sudah gila kalian.

Perintah komisaris adalah untuk segera menyelesaikan situasi ini.

Itu masalahnya!

- Siapkan penembak jitu. - Siap.

Penembak jitu di posisi.

Oke.

Ini 'kan live. Ya?

Dijawab, tenang.

Yang Mulia, izinkan saya menunjukkan

betapa tidak masuk akalnya argumentasi dari Tuan Raka Yanwar.

Silakan.

Saudara Dika, Anda mengenal Nina?

Tidak. Pertama kali saya melihatnya hari itu.

Lalu kenapa Anda ada di kamar kecil wanita?

Tolong dijawab.

Saya buru-buru dan toilet pria jauh.

Saya juga dalam kondisi mabuk malam itu.

Tapi saya pikir

tidak ada orang di sana karena ada tanda

"dalam pembersihan".

Saya berusaha keluar dengan cepat.

Tapi saya mendengar suara.

Saya melihat

Nina Ratnasari melalui pintu.

Dan tidak lama kemudian,

dia masuk melalui pintu, dan mereka mulai bertengkar.

Kamu gini karena udah jadi pengacara?

Apa hubungannya sama…

Anda masih ingat apa yang dipertengkarkan?

Dia ingin bercerai,

karena dia lolos ujian pengacara.

Diam kamu.

Itu sebabnya suaminya marah.

Dan kemarahan mulai membesar.

Saya melihat…

dia menusuk wanita itu dengan pecahan kaca.

Wanita itu sudah mati, tapi…

dia terus menusuknya.

Menusuk wanita itu dengan pecahan kaca.

Yang Mulia, keterangan saudara Gilang sebelumnya mengatakan

bahwa saudara Raka Yanwar memegang kaca tersebut.

Demikian dari saya. Terima kasih, Yang Mulia.

Saudara Raka, silakan.

Saudara Dika, Anda baru saja mengatakan bahwa Anda menyaksikan saya menusuk Nina.

- Betul? - Ya.

Kalau begitu Anda pasti melihat jelas

apa warna sarung tangan yang saya kenakan.

Tidak bersarung tangan.

Bagaimana mungkin saya tidak meninggalkan sidik jari

kalau tidak bersarung tangan?

Keberatan, Yang Mulia. Mohon izin?

Saudara Raka mengancam dan menekan klien saya.

Cukup itu saja, Yang Mulia. Terima kasih.

Yang Mulia, mohon izin untuk menyampaikan sesuatu

yang selama persidangan ini belum pernah disampaikan. Terima kasih.

Seperti yang, Yang Mulia, sudah lihat bahwa potongan-potongan puzzle ini

semakin menemukan titik terangnya.

Dan ini semakin jelas bahwa saudara Raka Yanwar

hanya berusaha lolos dari semua dosa-dosanya.

Anda ingin hasil akhir?

Putusan?

Anda ini sedang mencoba apa, sih?

Harusnya yang duduk di situ adalah Anda, bukan klien saya.

Tahu berapa banyak jumlah kasus seorang suami membunuh istrinya?

Dan itu dilakukan dengan tindakan kekerasan domestik.

Kekerasan yang sudah tertanam dalam diri Anda.

Target jatuh.

- Lo gak apa-apa? - Saya gak apa-apa.

- Tetap disiarkan. - Iya.

Gak apa-apa, Bang?

Saudara Raka, kita hentikan saja persidangan ini.

Anda butuh perawatan medis.

Tidak, Yang Mulia.

- Anda yakin? - Ya, saya yakin.

Para petugas polisi dan pihak terkait, dengarkan saya.

Ini ruang sidang saya.

Kalau kalian ganggu jalannya persidangan,

saya akan anggap sebagai ancaman serius bagi kekuasaan hukum.

Jadi jangan pernah lagi mengganggu persidangan ini. Paham?

Ya, baik, Bu Hakim.

Mulai sekarang,

segala upaya untuk memasuki ruang sidang pengadilan dilarang.

Tapi kita akan tetap melakukan hal terbaik untuk segala kemungkinan terburuk.

- Kalian mengerti? - Mengerti, Bang.

Saya akan beri tahu syarat keduanya.

Ya, silakan.

Ada seseorang yang akan masuk ke sini, dan saya akan memberikan sinyal.

Maaf, Pak Raka.

Ya, saya mengerti. Itu di luar wewenangmu.

Yang Mulia, saya mohon rehat sepuluh menit.

Gilang.

Gue mau ngomong.

Gue cuma mau ngomong!

Insaf, anjing! Diam dulu!

Langsung jalan 'kan, Bang?

Tapi gue paham.

Halo? Wati?

Gue kehilangan Gilang.

Hei, jangan nyerah.

Gue belum nyerah. Jadi, lo juga jangan nyerah.

Oke, oke. Ya, makasih.

Nal, tetap live.

Apa ini, saudara Raka?

Saya akan mempublikasikan percakapan antara Timo dan Bono, ayah terdakwa.

Untuk apa, Pak, mencari Gilang?

'Kan biar saya yang menyelesaikan.

Anak itu kabur.

Saya suruh dia untuk hapus CCTV.

Tapi sepertinya dia membuat cadangan.

Yang Mulia, sesuai dengan Pasal 31, Ayat 3 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016,

semua percakapan rahasia antara kedua belah pihak

tidak boleh dijadikan alat bukti di ruang sidang,

kecuali hal itu dilakukan oleh kepolisian.

Ini bukan bukti.

Saya juga curiga, makanya saya periksa, dan benar, ada bekas penyalinan.

Dan saya membuat jebakan terlebih dahulu. Orang-orang seperti itu gak bisa di…

Yang Mulia, yang sedang dilakukan oleh saudara Raka Yanwar ini

adalah memanipulasi informasi.

Ini tidak bisa dibenarkan.

Ya, saya setuju.

Ngaco Anda ini.

Berkas yang Anda ajukan tidak bisa dijadikan bukti.

Anda tahu itu?

Ya, saya tahu, Yang Mulia.

Saya hanya ingin mengingatkan, jika Anda melanggar hukum

dan membuat kesaksian palsu,

Anda tidak akan tidur tenang selamanya,

dan itu akan menghantui Anda.

Yang Mulia Hakim, saudara Raka Yanwar terlalu emosional

dengan barang bukti yang jelas belum terkonfirmasi keabsahannya.

Ya, saya setuju.

Saudara Raka, Ada lagi yang mau dikatakan?

- Saya ingin meminta saksi, Yang Mulia. - Saksi?

Siapa di ruangan ini yang bisa jadi saksi?

Ya, Pak?

Cuti yang saya berikan sama kamu…

Ya iya lah, Pak.

Keseimbangan hidup dan pekerjaan, Pak.

Dan kamu pasti tidak membantu Raka, 'kan?

Ya enggak, lah, Pak. Gimana caranya?

Wati, seharusnya kamu tuh tidak membantu orang

yang sudah meninggalkan satuan.

Iya, Pak. Saya tahu.

Saya juga seharusnya gak berkomunikasi sama orang kayak gitu, 'kan?

Terus kamu lagi ngapain di Semarang?

Libur. Sedang liburan, Pak.

Kamu lagi lari maraton sama siapa itu?

Aduh, saya kayaknya gak bisa ngumpet ya, Pak.

Wati, saya cuma mau bilang

kalau kamu mau lari maraton, tinggal ngomong aja, ya?

Iya, emang gitu dia orangnya, Pak.

'Kan bisa lari sama-sama. Itu 'kan lebih baik. Ya?

Oke, sampai ketemu di Jakarta.

Baik, Pak.

Saat ini, sebanyak 250 juta warga di Indonesia dan di luar negeri

sedang menonton siaran langsung

mengenai penyanderaan hukum melalui saluran berita dan YouTube.

Dan apa sebenarnya yang mendorong orang menonton

persidangan Raka Yanwar dengan ketegangan tinggi ini?

Apakah ini sebuah persidangan untuk mengungkapkan kebenaran?

Pak Raka, ini permintaan Anda yang kedua.

- Ya. - Anda tahu

- saya tidak bisa menunggu terlalu lama. - Saya tahu itu.

Keberatan, Yang Mulia. Saksi tidak sah.

Sejauh ini, saudara pengacara berpendapat bahwa Dika

tidak mempunyai korelasi dengan pembunuhan istri saya,

serta tidak mempunyai motif pembunuhan.

Saksi akan membuktikan motif pembunuhan Dika.

Motif pembunuhan?

Baik, saya izinkan. Silakan.

Saudara Saksi, Anda adalah teman lama Dika.

Apakah itu benar?

Iya.

Ketika hari H kejadian, ada di mana Anda?

Di klub hotel bersama Dika.

Apa yang kalian berdua lakukan?

Hari itu, hari saya divonis tidak bersalah.

Dika terlihat kesal akan hal tersebut.

Lalu apa yang terjadi?

Dia bilang…

dia bisa bebas tidak bersalah tanpa mengaku gila seperti saya.

Dia juga berbicara tentang Harvard.

Lo bakal diakui sebagai mahasiswa hukum Harvard sejati,

kalau lo bisa bebas bahkan setelah melakukan pembunuhan.

Eh, maksud lo…

Hei, dengerin dulu.

Kalau orang-orang rendahan itu aja bisa, kenapa gue enggak?

Dasar pengecut.

Saya tidak tahu kalau dia akan bunuh orang setelah keluar dari klub.

Saya menyesal, Yang Mulia.

Diam lo, gila! Ini semua bohong, Yang Mulia!

Pengacara bersikeras Dika tidak memiliki motif pembunuhan.

Memang betul, Yang Mulia.

Dia tidak memiliki motif pembunuhan ketika berada di meja klub.

Tapi setelah itu dia membunuh seorang istri,

seorang yang tidak bersalah, seorang ibu,

untuk menyaingi temannya.

Buat saya ini semua konyol.

Ini aib bagi karir saya sebagai seorang pengacara selama 15 tahun.

Melawan argumentasi dari seseorang

yang mengarang cerita sendiri di kepalanya.

Mohon izin, Yang Mulia, untuk berbicara dengan saudara saksi.

Silakan.

Saksi… Diam.

Anda kenal siapa pengacara yang membuat Anda didakwa tidak bersalah?

Ya.

Anda tahu alasan Anda dinyatakan tidak bersalah?

Tahu.

Apa?

- Skizo. - Skizofrenia.

Saudara saksi telah didiagnosis menderita skizofrenia akut.

Dia tidak punya kemampuan untuk hidup dalam kehidupan sosial,

hidup dalam delusi dan halusinasi.

Yang Mulia, itu benar.

Tapi saya benar-benar dengar kalau misal dia bilang itu ke saya.

Yang Mulia, pengacara mencoba untuk mengancam saksi,

yang mana saksi sedang bersaksi apa yang dia lihat dan rasakan saat itu.

Kok mengancam? Heh, yang bawa bom ke ruang sidang siapa?

Saya di sini yang berhak

menyatakan apa kesaksian itu bisa diterima atau tidak.

Saudara Raka, bisa tolong duduk?

Dan Pengacara Timo, tolong jaga mulut.

Maaf, Yang Mulia.

Anda jawab saya sekarang.

Anda ini menderita skizofrenia atau tidak?

Karena kalau tidak, artinya Anda harus siap menjalani persidangan ulang.

Iya atau tidak?

Dijawab, Saudara!

Iya, Yang Mulia.

Saya skizofrenia.

Terima kasih.

Kesaksian dari saksi tidak bisa diterima.

Saya Zee, melaporkan langsung dari depan gedung pengadilan Negeri Jakarta,

di mana situasi di sini masih mencekam…

MENCARI TARGET

Siapa lo?

Siapa yang nyuruh lo?

Mau gue bantuin gak?

Saudara Raka,

apa masih ada saksi atau bukti yang mau diajukan?

Tidak, Yang Mulia.

Yang Mulia,

saya hanya ingin menyarankan saja sebaiknya Yang Mulia membuat putusan.

Penyanderaan ini sudah semakin memuakkan.

Kami 'kan punya keluarga di sini.

Ya, saya juga sangat paham soal itu, Pengacara Timo.

Baik, jika demikian, saya akan…

Sebentar, Yang Mulia. Saya meminta saksi.

Sudah tidak ada saksi lagi, Saudara.

Saksi terus.

Keberatan, Yang Mulia.

Saya Gilang. Saya yang bersaksi pada sidang…

Saudara saksi tidak bisa lagi mengkoreksi kesaksiannya, Yang Mulia,

karena sudah dilakukan di persidangan.

Gilang hanya ingin mengakui sumpah palsunya, Yang Mulia.

Saudara Gilang, apa benar Anda sudah menyembunyikan sesuatu

pada saat kesaksian sebelumnya?

Saudara Saksi, saya minta jawab saya.

Apa benar Anda sudah melakukan sumpah palsu?

Pengacara Timo mendekati saya dan meminta saya untuk…

melakukan kebohongan pada persidangan pertama.

Saya hanya minta kamu untuk mengatakan bahwa suaminya

memegang pecahan kaca, itu aja.

Jadi Bapak nyuruh saya buat ngasih kesaksian palsu?

Ada gak saya ngomong kayak gitu?

Enggak ada. Saya gak ngasih saran itu.

Saya cuma minta kamu untuk mengingat kembali aja. Oke?

Kalau saya bilang saya gak mau, Bapak bakal ngapain?

Gini, saya tuh tahu kamu sekarang 'kan lagi dalam masa bebas bersyarat, oke?

Jaksa penuntut yang mendakwa kamu itu junior saya.

Bapak ngancem saya?

Enggak ngancem. Ngapain saya ngancem-ngancem?

Enggak, lah. Saya gak ngasih kamu uang 'kan kayak Bono?

Manusia itu kalau berbuat jahat tuh buat saya, ya manusiawi, lah.

Yang bahaya itu kalau membuat pilihan yang salah.

Susah hidup kamu.

Sampai ketemu di ruang sidang.

Pengacara menyarankan saudara saksi untuk bersumpah palsu, Yang Mulia.

Saya sudah benar-benar muak, Yang Mulia.

Tidak ada gunanya saya berdiri di pengadilan

yang dipimpin oleh seorang hakim yang tidak kompeten.

Pengacara Timo!

Saudara Gilang, memang betul Anda sudah membuktikan

bahwa Pengacara Timo melakukan tindakan yang ilegal.

Tapi Anda belum membuktikan apa pun bahwa saudara Dika

memang benar sudah melakukan pembunuhan. Betul?

Saya punya bukti penting.

Gilang, bukti apa lagi yang Anda miliki?

Benar, Yang Mulia.

Sebenarnya,

setelah kejadian itu,

saya diminta untuk menghapus rekaman video CCTV.

Lalu Anda mencadangkan rekaman CCTV itu untuk antisipasi ancaman?

Lalu kemudian Timo mengetahuinya?

Saya mungkin bodoh.

Tapi saya tidak sebodoh itu.

Orang yang mengikuti korban sambil membawa senjata adalah terdakwa.

Kenapa berbeda sekali dengan kesaksian sebelumnya?

Dia duluan yang mulai! Dia duluan!

Timo, lakuin sesuatu! Timo!

Heh! Matiin, anjing!

Kenapa lo? Hei, kenapa lo?

Dika!

Lo…

Gue udah bayar mahal-mahal! Gue gak mau dipenjara!

Lakuin sesuatu, anjing!

Bilang… Bilang gue gak bersalah.

Bilang! Bilang gue gak bersalah!

Yang Mulia, saya mohon untuk sidang ini ditunda, Yang Mulia.

Saat ini, terdakwa membutuhkan penanganan medis.

Saya mohon, Yang Mulia.

Raka,

tolong jangan lakukan.

Kita sudah sampai sejauh ini.

Kita sudah sampai di keputusan akhir.

Putusan? Buat apa putusan?

Anak dan istriku juga sudah mati.

Hari ini akan ada pengambilan keputusan atas persidangan

di Pengadilan Negeri Jakarta Timur kepada Raka Yanwar

atas percobaan pembunuhan, ancaman, dan kepemilikan senjata secara ilegal.

Raka Yanwar dituntut hukuman mati.

Sementara itu, terdakwa Dika dijatuhi hukuman 25 tahun penjara

karena pembunuhan berencana.

Jaksa Burhan dan Pengacara Timo

juga diperkirakan akan dijatuhi hukuman berat

setelah melanggar praktik penegakan hukum.

Sementara itu, pengusaha Sudiyan Bono juga akan didakwa

penghasutan pembunuhan dan penghilangan barang bukti.

Dan sekarang putusan final kepada Raka Yanwar.

Ancaman hukuman atas kejahatan

yang dilakukan oleh Raka Yanwar sangatlah jelas,

tapi dengan adanya drama penyanderaan

dan pemberian hak-hak istimewa kepada orang-orang beruang

nampaknya akan sangat berpengaruh

kepada sistem penegakan hukum di Indonesia.

Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah

melakukan tindakan penyanderaan sebagaimana dalam dakwaan penuntut umum.

Dua, menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu

dengan pidana penjara selama sepuluh tahun.

Terpidana Raka Yanwar dipersilakan untuk keluar dari ruang persidangan.

Hasil ujianku udah keluar.

Kita menang.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.