Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Pursuit of Jade]
[Episode 27]
Hati-hati.
Changyu.
Aku bisa menjelaskannya.
Kamu membohongiku.
Kamu membohongiku di Lin'an.
Membohongiku di kamp militer.
Kamu selalu membohongiku!
Lukamu ini juga palsu, 'kan?
Apakah kamu terluka?
Kamu tidak perlu urus.
Kata-kata yang kamu ucapkan tadi,
aku bisa menjelaskan semuanya.
Ikut aku pulang untuk mengobati luka dulu.
Aku hanya seorang tukang jagal wanita.
Mana mungkin aku membiarkan Adipati Wu'an yang terhormat mengurusiku?
Tidak perlu aku urus, ya?
Kalau begitu, kenapa kamu membiusku dan pergi ke medan perang?
Apakah kamu tahu apa itu medan perang?
Itu tempat nyawa manusia tidak dianggap berharga.
Saat kamu merebut kambing dan garam,
apakah kamu melupakan semua yang kukatakan kepadamu?
Saat merebut kambing dan garam,
kamu juga membohongiku, 'kan?
Adipati Wu'an,
apakah membohongi orang itu menyenangkan?
Aku pergi ke medan perang,
itu semua karena kamu membohongiku.
Aku membiusmu,
karena aku takut kamu akan mati di medan perang!
Aku boleh mati,
tapi kamu harus hidup dengan baik!
Kalau aku mati,
kamu bawa Fan Changning
dan carilah tempat untuk tinggal.
Buka toko daging semur juga boleh,
membangun kandang ternak untuk beternak juga boleh.
Asalkan kamu hidup,
kamu bisa melakukan semua yang ingin kamu lakukan.
Kelak, carilah sarjana lemah lembut yang kamu sukai,
melahirkan dan membesarkan anak.
Aku juga tidak bisa mengaturmu.
Namun, selama aku masih hidup,
seumur hidup ini,
kamu tetap adalah milikku.
Jalan!
Jalan!
Nyonya,
adik kecilmu, Mandi, terluka parah.
Dia di mana?
Jin Yuanbao sudah membawanya kembali ke kamp.
Nyonya, kerudung Anda.
Jalan!
Jalan!
Adipati,
Penasihat Militer terluka.
Cepatlah sadar.
Kamu sudah bersama kami sejak usiamu belasan tahun.
Kalau kamu pergi tanpa mengatakan apa pun,
bagaimana cara aku menjelaskan kepada adikmu?
Ada apa dengan Mandi?
Dadanya tertusuk hingga tembus.
Darahnya terus mengalir.
Tadi Nona Tabib Militer sudah datang,
dia hanya menggelengkan kepala,
lalu pergi tanpa berkata apa-apa.
Bagaimana bisa begini?
Tadi saat kami membersihkan medan perang,
entah bagaimana,
tiba-tiba muncul seorang prajurit kecil
dari tumpukan mayat.
- Mandi! - Mandi!
Maksudmu,
anak yang menjaga mesin pelempar batu itu?
Benar, anak itu.
Aku tidak seharusnya berbelas kasihan.
Waktu itu, kalau aku membunuh anak itu,
Mandi pun tidak akan terbaring di sini.
Bukankah sudah kubilang jangan berkerumun?
Ada apa?
Nona Bengong,
tolong selamatkan dia.
Tenang saja, tidak ada masalah besar.
Tidak ada masalah besar?
Tadi aku mendengar kamu bilang,
dadanya tertusuk hingga tembus.
Cermin pelindung jantungnya yang tertusuk hingga tembus.
Untungnya ada itu yang menahannya,
jadi organ dalamnya tidak terluka.
Cermin pelindung jantung ini,
adik Mandi yang memintaku memberikannya kepadanya.
Kalian para pria dewasa,
saat aku membersihkan lukanya,
kalian semua menutup muka,
bahkan tidak berani melihatnya.
Sekarang malah menakut-nakuti diri sendiri.
Bagaimana dengan wajahnya
dan bibirnya itu?
Orang yang sudah mati tiga hari pun tidak sepucat itu.
Itu karena terlalu terkejut.
Tubuhnya sedari awal lemah.
Makanya aku menyuruh kalian jangan berkerumun di sini,
biarkan dia beristirahat dengan baik.
Sudah tidak ada masalah.
Aku lanjutkan pekerjaanku dulu.
Terima kasih.
Syukurlah.
Sudah tidak apa-apa, Kak.
Syukurlah karena tidak apa-apa.
Syukurlah karena tidak apa-apa.
Cabut.
Lapor!
Jenderal Shi Hu telah dibunuh oleh seorang prajurit wanita
dari pasukan musuh yang menggunakan pisau jagal.
Apa katamu?
Jenderal dibunuh oleh seorang prajurit wanita.
Dik Hu.
Tidak mungkin.
Dik Hu memiliki keberanian yang luar biasa.
Jenderal Shi Hu memiliki keberanian yang luar biasa.
Hamba melihatnya sendiri.
Palu Gada Emas Jenderal Shi Hu telah direbut.
Tiga pukulan...
Tidak,
dia dibunuh dengan dua pukulan.
Kubilang mustahil.
Selidiki lagi!
Baik!
Tidak.
Orang itu pasti adalah Fan Changyu.
Fan Changyu.
Lapor!
Pasukan Yanzhou dan Pasukan Jizhou
berkumpul dari arah barat daya.
Mereka sedang bekerja sama untuk mengepung kita.
Kini, pasukan kita diserang dari tiga arah.
Ayo berangkat.
Ayahanda sedang menunggu kita di Kota Lu.
Pangeran Pewaris.
Kubilang mundur.
Pangeran Pewaris benar.
Rencana besar Raja
tidak bisa ditunda.
Mundur!
Aku membawa orang dan mati-matian menghalangi mereka di medan perang,
tapi tetap tidak berhasil.
Shi Yue membawa pergi Sui Yuanqing,
dan aku sendiri malah terluka.
Cendekiawan memang tidak berguna di medan perang.
Kusuruh kamu memakai zirah, kamu tidak mau.
Kamu malah ingin belajar seperti Zhuge Liang.
Kamu pikir kamu mirip dia?
Xie Jiu.
Pergi ke kamp Pasukan Yanzhou dan panggil Tabib Militer Lu ke sini.
Baik.
Kembali.
Luka kecilku ini
tidak perlu sampai memanggil tabib militer.
Tidak perlu repot-repot demi hal kecil.
Lukanya tidak parah, ya?
Baiklah.
Panggil tabib hewan ke sini.
Baik.
Kembali.
Apakah tidak ada tabib lain di pasukan ini?
Bagaimana kalau
kupanggilkan Tuan Putri Agung ke sini
untuk memeriksamu?
Pergi beri tahu Yang Mulia,
aku terluka sangat parah,
nyawaku dalam bahaya.
Namun, Anda tidak terlihat seperti itu.
Dari luar memang tidak kelihatan.
Di dalamnya sudah rusak.
Baik.
Aku masih ada urusan penting.
Aku pergi dulu.
Saudara Kecil Gongsun,
kudengar kamu terluka parah dan tidak bisa diselamatkan,
jadi aku sengaja datang membacakan doa dan mengantarmu pergi.
Om Mani Padme Hum.
Om Mani Padme Hum.
Om Mani Padme Hum.
Om Mani Padme Hum.
Jangan dilanjutkan lagi.
Kalau kamu terus melafalkannya, aku benar-benar akan mati.
Saudara Kecil Gongsun,
kamu sudah banyak menanggung kesulitan dalam perjalanan ini.
Tidak.
Adipati memikirkan kepentingan negara,
aku sangat mengaguminya.
Aku rela berbagi suka dan duka bersamanya.
Tidak ada kesulitan.
Kali ini saat berhadapan dengan Pasukan Chongzhou,
Adipati beruntung dan bisa selamat tanpa cedera.
Guru Kekaisaran, Anda juga tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.
Aku tidak khawatir soal muridku yang berengsek itu.
Setengah bulan yang lalu,
di antara Pasukan Jizhou yang mengantarkan perbekalan ke gunung,
ada seorang murid tidak resmiku.
Dia nekat naik ke gunung untuk mengantarkan perbekalan
dan tidak pernah turun lagi.
Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Prajurit kecil pengantar perbekalan?
Benar.
Dia juga murid Anda?
Benar.
Namun, setahu aku,
syarat Anda untuk menerima murid sangat tinggi.
Di seluruh Dinasti Yin ini,
hanya Jiuheng yang bisa masuk ke dalam penilaian Anda.
Bagaimana bisa seorang prajurit biasa di jalan
bisa menarik perhatian Anda
dan bahkan belum resmi?
Gadis ini memiliki fisik yang sangat bagus.
Dia adalah bakat yang langka dalam ilmu bela diri.
Hanya saja, dari segi kecerdasan, dia sedikit kurang.
Dia tidak suka membaca buku.
Itulah alasan aku
menganggapnya sebagai
murid tidak resmiku.
Gadis?
Yang Mulia, pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Yang Mulia, Anda baik-baik saja?
Yang Mulia, ini tidak sesuai etika.
Xie Jiu bilang dia hampir mati,
masih bicara soal etika?
Tunggu aku.
Guru Kekaisaran.
Apakah murid yang Anda maksud itu bermarga Fan?
Benar, marganya Fan,
namanya Changyu,
berusia 19 tahun.
Kenapa? Saudara Kecil Gongsun, kamu mengenalnya?
- Apa murid berengsekku itu mengenalnya? - Gongsun!
Jadi, ini yang dimaksud Xie Jiu dengan kamu hampir mati?
Hampir.
Organ dalamku sudah rusak.
Salam kepada Tuan Putri Agung.
Yang Mulia!
Aku pamit dulu.
Yang Mulia.
Yang Mulia, dengarkan penjelasanku.
Yang Mulia!
Yang Mulia, hati-hati. Yang Mulia.
Dengarkan aku.
Yang Mulia, dengarkan aku.
Kenapa Kepala Akademi mempermainkanku?
Aku tidak mempermainkanmu. Aku hanya...
Maafkan aku.
Aku...
Aku hanya tidak menyangka
Yang Mulia akan datang mengunjungiku dengan begitu cemas.
Jadi...
Kepala Akademi, jangan dilepas lagi.
Sudah terlambat.
Aku yang gegabah.
Aku hanya ingat
Yang Mulia pernah memberiku semangat saat akan berperang.
Kepala Akademi.
Kata-kata tadi pagi
hanya untuk membangkitkan semangat para prajurit.
Jangan terlalu dipikirkan.
Kulihat tubuh Kepala Akademi juga baik-baik saja.
Aku masih ada pasien lain yang perlu dirawat.
Aku permisi dulu.
Yang Mulia, apakah sakit?
Sakit, tapi aku tahan.
Nona Fan.
Regu Juru Masak memasak sup jahe untuk menghangatkan badan.
Aku mengantarkan semangkuk untukmu.
Tidak perlu, Jenderal Jiu.
Berikan saja kepada orang lain.
Ada urusan lain?
Waktu itu, menyembunyikan hal ini darimu
bukan niat awalku.
Aku dijebak orang
dan dikejar,
lalu terdampar di Lin'an.
Kebetulan kamu menyelamatkanku di tengah tanah bersalju.
Jika waktu itu aku memberitahumu identitasku,
aku khawatir akan mendatangkan bencana.
Jadi, aku memilih terus menyembunyikannya.
Aku tidak menyalahkanmu karena menyembunyikannya waktu itu.
Jadi, kamu marah padaku
karena menyembunyikannya darimu kali ini?
Aku sangat senang
kamu bisa datang mencariku.
Aku juga tahu
jika kamu tahu faktanya,
kamu akan makin marah.
Jadi, ada banyak penjelasan
yang tidak terucapkan meski sudah sampai di bibir.
Ning diculik
karena identitasku.
Aku minta maaf kepadamu.
Ning diculik,
aku tidak menyalahkanmu.
Kamu bahkan terluka demi menyelamatkannya.
Kamu membohongiku di gunung,
aku juga tidak menyalahkanmu.
Kamu tidak menyalahkanku tentang apa pun.
Apakah kamu ingin memberitahuku
bahwa kita akan berpisah?
Kita tidak pernah bersama,
bagaimana bisa berpisah?
Apa yang kamu katakan?
Apa maksudmu kita tidak pernah bersama?
Apa maksudmu?
Kita sudah ada perjanjian.
Kamu berpura-pura menjadi suami matrilokalku,
tapi di dunia ini sama sekali tidak ada orang bernama Yan Zheng.
Karena Yan Zheng itu palsu,
maka surat perjanjian pernikahan itu
juga palsu.
Kalau begitu, kenapa kamu datang mencariku?
Kenapa kamu bilang akan menyembelih ternak untuk menghidupiku?
Kenapa kamu mengambil keputusan sendiri
untuk menggantikanku pergi ke medan perang?
Yang kucari adalah Yan Zheng,
bukan Xie Zheng.
Apa bedanya?
Itu semua aku.
Tidak sama.
Aku tidak bisa menganggapmu,
Adipati Wu'an, sebagai Yan Zheng.
Adipati Wu'an adalah pahlawan yang agung,
berasal dari keluarga bangsawan.
Jika dia bersama seorang tukang jagal wanita,
seluruh dunia akan mentertawakannya.
Aku masih punya kesadaran diri tentang hal ini.
Aku yang memutuskan siapa yang akan kunikahi.
Apa urusannya dengan orang lain?
Kamu bukan hanya tukang jagal wanita.
Kamu juga pahlawan wanita yang telah berjasa.
Kalau kamu benar-benar takut ditertawakan oleh dunia,
boleh saja.
Aku bisa meminta Kaisar untuk menganugerahkan pernikahan.
Mulai sekarang, hubungan kita akan sah.
Siapa yang berani mentertawakan kita?
Changyu,
โช Wanita cantik mengenakan hiasan kepala yang mewah โช
namaku Xie Zheng,
nama kehormatanku Jiuheng.
Aku berasal dari keluarga militer,
penduduk ibu kota,
dianugerahi gelar Adipati Wu'an.
โช Berjalan melewati kerumunan orang sambil tertawa dan berbincang riang โช
Dengan hati yang tulus,
aku ingin melamarmu sebagai istriku.
Semoga seumur hidup aman dan tenteram,
โช Ribuan kali mencari sosok dia di tengah keramaian โช
menjaga ketenangan sepanjang masa.
โช Ribuan kali mencari sosok dia di tengah keramaian โช
โช Tiba-tiba menoleh โช
โช Orang itu malah berada โช
โช Di tempat di mana cahaya lampu mulai meredup โช
โช Ribuan kali mencari sosok dia di tengah keramaian โช
โช Ribuan kali mencari sosok dia di tengah keramaian โช
โช Tiba-tiba menoleh โช
โช Orang itu malah berada โช
โช Di tempat di mana cahaya lampu mulai meredup โช
Aku sudah mengerti.
Guru.
Kenapa Anda datang ke sini?
Lukamu ini benar-benar agak aneh.
Ini tidak terlihat seperti luka perang,
malah lebih mirip
luka akibat perkelahian.
Jangan-jangan dipukul lagi...
Dalam pertempuran ini, Raja Changxin
kehilangan seorang jenderal besar, Shi Hu.
Namun, Shi Yue melakukan serangan mendadak
dan menyelamatkan Sui Yuanqing.
Itu akibat kelalaian rencanaku.
Dua jenderal paling andal di bawah Raja Changxin
adalah Shi bersaudara.
Dengan kematian Shi Hu,
sama saja mematahkan satu lengannya.
Kudengar saat kamu menyambut kedatangan pasukan Yanzhou,
Shi Hu sudah mati.
Siapa lagi di militer yang bisa menaklukkan penjahat ini?
Shi Hu dibunuh oleh istrinya.
Istri? Istri siapa?
Istrinya?
Kamu sudah menikah?
Bukankah kamu bilang mati pun tidak akan menikah?
Kenapa kamu menikah tetapi tidak memberitahuku?
Ceritanya panjang.
Hanya jodoh di saat susah.
Saat susah?
Aku tidak tanya padamu.
Bagaimana wanita itu membunuh Shi Hu?
Saat itu, jumlah musuh lebih banyak.
Nyonya Adipati merebut palu perangnya.
Menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan...
Ini...
Membunuh Shi Hu dengan tiga pukulan?
Dia pasti keturunan jenderal terkenal.
Bukan.
Bukan?
Pasti wanita luar biasa di dunia ini.
Jiuheng,
kamu harus memperlakukannya dengan baik.
Shi Hu sudah mati.
Shi Yue pasti tidak akan tinggal diam.
Ada lagi Raja Changxin itu,
bertekad menguasai Kota Lu.
Sekarang bagaimana kamu menghadapinya?
Jika aku mengerahkan Pasukan Keluarga Xie
bekerja sama dengan He Jingyuan dari dalam dan luar
untuk membereskan Raja Changxin,
pasti akan ada orang yang mengintai di belakang.
Kini Wei Yan ini
demi menutupi kesalahan besar
yang dilakukan Wei Xuan di Barat Laut,
pilihan terbaik saat ini
adalah merebut jasa militer menumpas pemberontak Chongzhou.
Menurut pendapatku,
dia merebut jasa militer justru bukan hal buruk.
Kenapa Guru Kekaisaran berkata demikian?
Di Dinasti Yin, siapa lagi
yang sudah diangkat menjadi Adipati di usia muda?
Bulan yang purnama akan kembali menyusut,
air yang penuh akan meluap.
Sekalipun kamu menumpas pemberontak,
meraih jasa perang
dan kembali ke ibu kota,
apa lagi yang bisa dianugerahkan Kaisar padamu?
Saat ini situasi politik pemerintahan sedang rumit.
Lebih baik menahan diri,
tenang mengamati orang lain bertarung hidup dan mati.
Maksud Anda,
biarkan Keluarga Li dan Wei Yan bertarung dulu,
lalu kita ambil keuntungan di akhirnya?
Wei Yan memegang kekuasaan militer.
Di luar ada He Jingyuan menjaga Jizhou.
Karena itu, selama bertahun-tahun ini,
Guru Kekaisaran Li tidak berani berkonfrontasi langsung dengan Wei Yan.
Jika tidak, dia tidak akan mengirim
cucu kesayangannya, Li Huai'an,
ke Barat Laut
bergabung ke dalam militer.
Kalau begitu,
pemberontakan Raja Changxin
adalah untuk memberi kekuasaan militer pada Keluarga Li?
Perhitungan Keluarga Li terhadap Raja Changxin
belum sampai sejauh ini.
Justru putra sulung Raja Changxin, Sui Yuanhuai,
kabarnya diam-diam sering berhubungan dengan Keluarga Li.
Tidak ada asap kalau tidak ada api.
Sangat mencurigakan.
Sui Yuanhuai.
Aku jadi teringat beberapa kabar lama.
Setelah Putra Mahkota Chengde dan Jenderal Senior Xie
gugur di Jinzhou,
Mendiang Kaisar tiba-tiba mengumumkan turun takhta
[Rajin Mengelola Urusan Negara]
dan menyerahkan takhta kepada Kaisar saat ini,
Qi Sheng.
Suatu hari Istana Putra Mahkota tiba-tiba terbakar.
[Kebajikan, Kebijaksanaan, Keluhuran Budi, dan Kemuliaan]
Istri Putra Mahkota dan Cucu Kekaisaran tewas dalam lautan api.
Saat itu Ratu Changxin
membawa Tuan Muda Pertama bertamu di Istana Putra Mahkota.
Tuan Muda Pertama terbakar hingga wajahnya hancur
dan tidak bisa menemui orang.
Mendiang Kaisar juga tidak memberikan kompensasi apa pun.
Raja Changxin menyembunyikan kekuatan selama bertahun-tahun.
Dia punya dendam pada istana.
Hal ini tidak bisa dipalsukan.
Setelah turun gunung,
segera kirim surat ke ibu kota
untuk menyelidiki secara diam-diam kasus kebakaran Istana Putra Mahkota.
Putra Sulung Raja Changxin, Sui Yuanhuai,
punya orang kepercayaan bernama Zhao Xun.
Di tangannya ada sebuah stempel Istana Putra Mahkota.
Enam belas tahun lalu,
seseorang yang selamat secara kebetulan
dari kebakaran besar di Istana Putra Mahkota itu.
Namun, sekarang
Sui Yuanhuai malah mengeluarkan perintah penangkapan terhadapnya.
Kita harus mendahului dia
untuk menemukan keberadaan Zhao Xun.
Tadi di tenda Saudara Kecil Gongsun,
aku tidak enak bertanya banyak soal urusan pribadimu.
Sekarang aku tanya padamu.
Dalam pernikahan kali ini,
kamu menikahi istri sah atau selir?
Tentu saja istri sah.
Karena pernikahan resmi,
kenapa wajahmu murung?
Aku menyembunyikan identitas dan membohonginya.
Kini dia
tahu akan menikah dengan Adipati Wu'an,
dia tidak mau menerimanya.
Dia bilang,
dia tidak butuh jasa militer untuk sepadan denganku.
Sungguh wanita yang bijaksana.
Sangat mirip dengan murid perempuan baru
yang kuterima di Baxia.
Kamu mau menukar Adipati Wu'an dengan suaminya,
dia juga tidak akan mau.
Istriku juga demikian.
Jabatan tinggi dan gaji besar baginya
tidak ada artinya.
Masih kalah nyata dibanding semangkuk nasi.
Jika diberi beberapa ekor ayam panggang lagi,
dia lebih bahagia daripada dewa.
Dia tidak pernah perhitungan terhadap pekerjaan sebanyak apa pun.
Tenaganya seperti tidak pernah habis.
Sepanjang hari tertawa dan gembira.
Kenapa aku merasa
yang mereka bicarakan seperti orang yang sama?
Guru.
Aku punya satu permohonan.
Katakan.
Aku memohon Guru
untuk mengangkat istriku sebagai anak angkat.
Kamu ingin memberinya
status keluarga pihak istri yang terpandang,
untuk membungkam mulut orang banyak?
Benar.
Aku tidak peduli asal-usulnya.
Namun, aku juga tidak ingin
orang-orang menggunakan asal-usulnya sebagai alasan
untuk mencelanya.
Bagaimana kalau gadis itu tidak mau
dan hanya ingin jadi rakyat biasa?
Aku menghormati pilihannya.
Jika dia bersedia mengikutiku,
aku pasti tidak akan membiarkannya terjatuh lagi.
Tidak disangka,
kamu ternyata orang yang setia.
Seperti ibumu.
Baiklah.
Aku menyetujuinya.
Siapa nama istri
yang baru kamu nikahi?
Berapa umurnya?
Marga Fan, nama Changyu.
Umur 19 tahun.
Kamu...
Istrimu?
Murid perempuan Anda?
Kamu adalah suami matrilokal itu?
Anda ditangkap untuk memperbaiki bendungan?
Kamu...
Adipati...
Ada apa?
Aku lihat sudah pukul 23.45.
Anda juga harus istirahat.
Bagaimana luka Xie Wu?
Tabib militer bilang organ dalamnya aman.
Hanya perlu istirahat untuk memulihkan luka dalam.
Syukurlah.
Pergi bawa kudaku kemari.
Adipati, ini...
Pergi.
Siap.
[Xie]
Apakah Adipati yang menyuruhmu jaga di sini?
Ya.
Aku tidak akan meninggalkan kamp.
Tolong Jenderal bantu aku menjaga Ning sebentar.
Baik.
Siapa itu?
Keluar!
Aku.
Kenapa kamu datang?
Tidak bisa tidur.
Keluar untuk menenangkan pikiran.
Kamu juga tidak bisa tidur?
Di medan perang melihat terlalu banyak orang mati.
Hati terasa sesak.
Saat pertama kali aku ke medan perang,
juga tidak bisa tidur.
Semalaman mimpi buruk.
Namun, saat kedua kali ke medan perang,
orang yang kubunuh lebih banyak dari yang pertama.
Sepanjang malam,
aku sama sekali tidak bisa tidur.
Lalu aku keluar cari tempat sembarangan untuk menangkap ikan.
Menangkap ikan semalaman
sampai kehabisan tenaga.
Begitu pulang, aku langsung tertidur.
Sejak saat itu,
aku tidak pernah mimpi buruk lagi.
Semua sudah berlalu.
Jika kamu masih merasa sesak,
mari kita bertarung beberapa jurus.
Kenapa?
Takut?
Ayo.
Apa-apaan ini?
Air susu dibalas air tuba.
Ini namanya taktik perang penuh tipu daya.
Masuk akal juga bicaramu.
Kamu sama sekali tidak serius bertarung denganku.
Di medan perang, aku tidak akan menang lawan kamu.
Pertarungan jarak dekat kebanyakan mengandalkan kecepatan.
Kamu mahir menggunakan pisau pendek.
Namun, jurusmu berat dan bertenaga.
Kurangi tenaga kasar.
Ikuti arus gerakan.
Gunakan kelincahan
untuk meningkatkan kecepatan.
Lagi.
Ayo.
Tadi kamu menahan diri saat memukul.
Aku tidak bodoh.
Harus coba dulu pola gerakanmu baru memukul.
Lagi.
Ini sudah matang. Hati-hati panas.
Enak sekali.
Rasanya asam manis.
Apakah kamu bawa bumbu?
Tidak.
Aku memetik beberapa buah.
Buah-buah ini ada yang asam ada yang pedas.
Kamu sudah mencicipinya satu per satu?
Kenapa? Tidak enak, ya?
Jangan terlalu baik padaku.
Kamu adalah Adipati Wu'an.
Aku hanya tukang jagal wanita biasa.
Kamu adalah istri terbaikku.
Aku menyukaimu.
Jangan menyukaiku.
Kamu seharusnya mencari istri yang sederajat denganmu.
Hidup dengan gemilang
dan dihormati ribuan orang seumur hidup.
Dihormati orang?
Aku, Xie Zheng, sampai di titik ini,
mengandalkan jasa militer,
bukan penghormatan ribuan orang.
Aku Adipati Wu'an yang gagah.
Jika menikahi istri saja
harus takut pandangan orang dunia,
bukankah itu terlalu pengecut?
Dulu aku
tidak pernah terpikir untuk menikah.
Orang yang kejam seperti pamanku,
ataupun setia seperti ibuku,
bukanlah yang kuinginkan.
Aku lahir di medan perang,
mati di medan perang.
Kukira seumur hidupku ini
ditakdirkan gugur di medan perang.
Karena itu,
aku tidak ingin seorang wanita menjanda karenaku.
Namun, setelah bertemu kamu,
aku malah
jadi agak takut mati.
Sudahlah.
Cerita tentangmu.
Setelah semua ini berakhir,
apa yang ingin kamu lakukan?
Apakah kamu masih mau memelihara seratus ekor ternak
dan menyembelih seratus ekor ternak?
Masa depan terlalu jauh.
Aku hanya bisa memikirkan hal yang ada sekarang.
Aku sudah janji pada Ning
mau mencari Kak Qian dan Bao'er.
Ada juga Paman Zhao,
Jin Yuanbao, dan yang lainnya.
Lalu tetangga lain yang terlunta-lunta di tempat asing.
Aku ingin membawa mereka pulang.
Meskipun Lin'an sudah hancur,
kami bisa mengandalkan kedua tangan
untuk membangunnya kembali bata demi bata.
Baik.
Nanti setelah semua ini berakhir,
aku akan memohon ditempatkan di perbatasan Barat Laut.
Dengan begitu,
segala urusan ibu kota tidak ada hubungannya lagi denganku.
Nanti aku akan membangun kembali Lin'an bersamamu.
Bagaimana?
Kamu mau
tinggal di Lin'an?
Hari-hari bersamamu di Lin'an
adalah masa-masa paling bahagia
dalam hidupku.
Kakak Ipar, Bibi memanggilmu makan siang!
Setiap pagi dibangunkan oleh suaramu menyembelih ternak.
Ikut Ning, Paman Zhao,
bermain catur bersama,
membuat boneka salju.
Sampai siang,
masih bisa makan mi usus ternak buatanmu.
Masih bisa dengar Bibi Zhao menggosip soal desa.
Tiga puluh tahil.
Cepat lihat siapa yang datang!
Saat malam tiba, aku akan bersamamu
mendengar suara serangga sambil belajar bersama.
Semua itu
sangat kurindukan.
Kamu menggenggam begitu kuat,
apakah tidak takut tanganmu berdarah lagi?
Aku lebih takut kamu memukulku.
Itu karena kamu suka menciumku sembarangan.
Jika kamu tidak memukulku,
aku tidak akan menciummu sembarangan.
Makanlah.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.