Afrikaans
Akan
Albanian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
WELL GO USA ENTERTAINMENT
FILMKO
PLEASE NO RESYNC/RE-UPLOAD/DELETE-CREDIT
t e r j e m a h a n b r o t h 3 r m a x
Guru,
coba perhatikan aku.
Semenjak aku mengikutimu,
aku cenderung berpikir kalau
aku ini tak mirip babi lagi.
Bagaimana anggapan spesiesku nanti?
Kurasa itu bagus buatmu.
Kau lihat semua lemak pada dirimu?
Jika kau bisa kurangi, kau sepenuhnya akan segar kembali.
Lihatlah Wujing.
Dia begitu berenergi!
Guru, kenapa di dunia fana ini mereka semuanya berpasangan?
Ingatlah, Wujing.
Seluruh dharma muncul dari keadaan yang sudah ditakdirkan.
Ikutilah takdirmu.
Guru,
jika kau ditakdirkan punya kehidupan asmara suatu hari nanti,
apa yang akan kau lakukan?
Untuk pertanyaan ini...
mungkin aku harus...
memeriksa dulu dalam buku suci perjalanan.
Cuilan,
kuingin tahu apa kau baik-baik saja sekarang.
Cuilan.
Baijie,
jangan bingung lagi.
Kau harus belajar dari Wukong dalam hal ini.
Kau tahu, dia tak pernah punya masalah semacam itu.
Guru. Kakak-tertua itu tak tahu apa-apa.
Guru bisa tahu dari senjatanya. Apa guru tak tahu?
Apa maksudmu? / Dia hampir tak punya cinta.
Tanya tongkat kesayangannya...
Apa yang tadi kau omongkan?
Ayo katakan lagi.
Kakak-tertua lihai sekali membawa tongkatnya.
Memang benar namanya, sang Raja Kera Tampan.
Itu tak perlu diomongkan lagi. / Kau lagi senang hari ini, Kakak-tertua.
Makanya kau keluar tak pakai celana.
Sungguh keren.
Celananya dicuri ketika kumenikmati ketenangan.
Jika kutangkap pencuri menjengkelkan ini,
aku juga akan mencopot celananya
dan membiarkan telanjang tongkatnya.
Kenapa menatapku? Aku tak suka celanamu.
Lucu sekali!
Wukong.
Celanamu ada disini.
Guru, jika kau suka,
bilang saja padaku.
Celananya siapa yang tadi kau bilang mau kau copot?
Wukong,
kuperhatikan ada lubang di celanamu,
jadi kutambal. Coba pakailah.
Indahnya. Aku suka, biar kucoba.
Kakak tertua.
Tampaknya ada siluman disini.
Aku tak tahu siapa sebenarnya dirimu?
Kami cuma sekedar lewat.
Aku tak akan mengganggumu jika kau tak menggangguku.
Tapi jika kau tetap menggangguku,
pasti aku akan membalasnya. Aku adalah Panglima Tianpeng.
Tunjukkan dirimu. Jangan halangi aku.
Dewa sungai lokal.
Apa dia menjawab?
Dia bilang apa?
Enyahlah.
Hanya ada satu cara.
Kak Sha. Lewat saja! / Baik.
Ikan yang besar banget!
Guru! Guru! Hati-hati!
Guru!
Jangan cemas, Guru! Ada aku disini!
Guru!
Guru!
Wukong!
Kakak!
Kakak!
Aku tak apa-apa! Biarkan saja!
SANG RAJA KERA 3
Guru!
Guru, kau tak apa-apa?
Sepenuhnya tak apa-apa.
Kami adalah pengembara dekil, yang kotor dan berdebu.
Mohon maafkan aku orang bijak.
Kau...
adalah...
seorang pria?
Anu, orang bijak,
apa aku tak seperti...
seorang pria?
Kau siapa?
Yang Mulia.
Kenapa kau lama sekali? Lain kali kita tak bisa sembunyikan lagi.
Biar kubantu.
Kalian, bubar. / Ya, Paduka.
Apa yang terjadi, Yang Mulia? / Coba tebak...
yang kulihat barusan tadi.
Memang ada apa?
Hari ini, aku...
melihat seorang pria. / Tak mungkin.
Bagaimana mungkin ada makhluk beracun itu di Negri-Wanita?
Pastinya ini takdir. Bahkan aku bicara sama mereka.
Bagaimana rupanya? / Dia itu...
bermata besar dan
berkelopak mata ganda.
Senyumnya itu... begitu hangat
dan begitu baik.
Oh aku tahu.
Dia sakit. Yang Mulia sakit.
Sepertinya sekarang saatnya membuka Buku Leluhur.
Pria peringkat pertama diantara semua racun.
Menurut manusia, jika detak jantungmu cepat, bagian tubuhmu lemah, dan kau gemetaran,
itu berarti kau dikutuk oleh
Racun Cinta dari pria.
Lanjutkan.
Kemudian...
Kemudian apa? / Habislah.
Habislah? Artinya tak ada obatnya?
Itu akhir tulisan bagian itu.
Ada bagian yang hilang disini.
Kutukan ini amat merajalela.
Hanya menyerang sistem syaraf pusat.
Menular, umumnya dari pria ke wanita.
Ratu Pembimbing.
Ratu leluhur pernah berkata
diantara semuanya di dunia ini,
hanya pria yang paling berbisa,
Penuh tipu daya.
Bila kau sudah terinfeksi Racun Cinta
kau akan mengalami patah hati
dan mati dengan kesedihan mendalam.
Penawarnya adalah
memotong akar penyebabnya.
Pria harus dibunuh.
Dibunuh semuanya?
Bunuh mereka semua.
Bunuh mereka.
Kau pasti lelah hari ini.
Kembali dan beristirahatlah.
Pengawal.
Pergilah.
Masuklah.
Ya, Ratu.
Mana Bajie?
Kak Sha. Mana Bajie?
Guru, mana Kakak-kedua?
Apa yang kau lihat?
Mari kita mandi bersama. / Tentu!
Baguslah.
Guru.
Tolong!
Guru, tolong!
Wukong, jangan pakai kekerasan.
Amitabha.
Tangkap mereka.
broth3rmax
Lihat, itu pria.
Semuanya wanita.
Mereka menakutkan sekali, Bu.
Orang bijak, aku dimana?
Negri-Wanita Liang Barat.
Hey, apa tak ada pria disini?
Kau tuli ya?
Negri-Wanita.
Aku penasaran, dosa apa yang telah kami perbuat?
Menjadi pria, itu kejahatan besar.
Itu sungguh lucu.
Apa yang kau lihat?
Paduka Ratu sudah datang.
Rusa itu. / Rupanya dia.
Hey, nona. Jangan memandang guruku mesra begitu.
Kau dengar aku?
Wukong. Mana sopan santunmu?
Yang Mulia, Ketua Pendeta memberitahu Dewa Sungai resah kemarin.
Dia menduga akan ada sesuatu yang berbisa.
Sesuai dugaan, kami menangkap keempat makhluk berbisa ini
dan seekor kuda jantan. Buat buat keputusan yang bijaksana
dan jangan tolelir kesalahan mereka.
Yang Mulia, rombonganku kesini secara tak sengaja.
Kami tidak berbisa. /Jangan berdalih!
Barang buktinya ada disini.
Jelaskan pada kami
setelah kau melihatnya.
Leluhur kami meramalkan
akan ada seorang biksu
membimbing seekor monyet,
babi, dan algojo berkulit biru kesini.
Kedatangan mereka akan menyebabkan berakhirnya Negri-Wanita ini.
Kita punya gambar untuk membuktikannya.
Astaga.
Astaga.
Sama persis.
Ya ampun, lihat, lihat.
Gambarku tampak hidup.
Sudah jelas itu kelelawar.
Jadi itu seekor Babi-Kelelawar?
Itu tak mungkin monyet.
Sudah jelas itu kecoak. / Monyet Kecoak.
Wukong... / Spesies baru? / Sudah hentikan!
Bawa mereka untuk dieksekusi. / Ya, Paduka.
Tunggu!
Tunggu dulu.
Maksud Yang Mulia,
dia harus menanyai mereka secara pribadi,
sebelum mereka dibunuh.
Bawa mereka pergi.
Guru, jika kau setuju
aku bisa bicara sama mereka sendiri.
Guru, jika kau memerintahkan,
aku bisa membobolnya, dan menghancurkan semuanya.
Kakak-tertua, aku yakin Guru tak setuju.
Wukong,
apa lagi yang kau tunggu?
Bobol sekarang.
Yang Mulia, paduka kesini malam-malam begini.
Paduka cuma ingin menemui dia 'kan?
Ya.
Tidak, aku cuma ingin tahu apa itu racun atau apalah itu,
sebelum Ratu Pembimbing membunuh mereka.
Sekarang, tunjukkan semangat kalian.
Mengagumkan.
Ayo berangkat!
Ayo!
Guru...
Pergi saja.
Terbang!
Guru, kau tak apa-apa? Pelan-pelan.
Bajie, ulurkan tanganmu.
Guru, sepertinya ada yang pasang tabir penghalang disini.
Seperti dugaan, kita tak bisa keluar.
Lalu kita harus bagaimana?
Kita kembali saja dan tanyai gadis itu.
Aku tahu dimana si Paduka itu.
Wujing, apa kita ini jalan balik?
Guru, Yang Mulia ada disini.
Siapa yang berbuat ini?
Kejam sekali.
Sudahlah.
Tadi kita diserang.
Siapa yang melakukannya?
Pasti mereka.
Semuanya, sekarang saatnya menguji tujuan kita.
Kemampuan apapun yang kalian punya,
tunjukkan saja. Kita harus temukan jawaban tentang jalan keluarnya.
Wukong, tapi kemampuan apa
menurutmu yang kupunya?
Guru, kau tak punya kemampuan apa-apa.
Kami tadi baru...
diserang.
Jadi...
kau yang melakukannya?
Kami tak melakukannya.
Aku harus tanyai kalian secara pribadi.
Kenapa kau menatap begitu? / Ya aku menatapmu, memang kenapa?
Kata gurumu kau tak boleh kasar. Berani kau pukul aku?
Kutantang kau menatap lagi. / Baik, kutatap lagi, memang kenapa?
Kata gurumu tak boleh kasar. Apa berani kau pukul aku?
Apa kau berlagak galak?
Aku tak suka pria tua.
Tak usah repot-repot.
Aku sungguh tak tertarik padamu.
Ada perbedaan antara kita.
Tak ada perbedaan sekarang?
Jika kau kalah, kau harus katakan sejujurnya.
Silahkan saja!
Apa aku menang?
Tunggu dulu!
Sekali lagi.
Kalah lagi.
Aku mengecewakan Guru. Aku mengecewakan Kakak-tertua.
Kamu macho banget!
Kau... ini...
yang lebih macho.
Aku tak takut mati. Kenapa aku harus takut padamu?
Kalau begitu matilah di depanku.
Kamu duluan mati di depanku.
Baik.
Dasar sombong!
Ratu Leluhur pernah berkata,
diantara semua yang ada di dunia ini,
hanya pria yang paling berbisa,
penuh tipu daya. Awalnya, pria mendapatkan wanita dengan kebohongan.
Lalu, dia membuat wanita mengandung bayinya.
Setelah bayi itu lahir, dia mengabaikan wanita.
Akhirnya, dia berpaling ke wanita lain di luar.
Apa memang begitu?
Amitabha.
Yang Mulia,
sebenarnya, aku...
cukup berbeda dari jenis pria yang kau sebutkan tadi.
Ya memang.
Ratu Pembimbing berkata kalau kebohonganlah yang diucapkan pria.
Sekarang aku tahu...
kau sama saja dengan pria lain.
Jika kau tak percaya padaku, Yang Mulia,
kenapa repot-repot mendatangiku?
Karena...
Karena aku merindukanmu.
Tapi kata mereka ini penyakit.
Harus diobati.
Harus diobati.
Yang Mulia,
apa kau...
sudah minum obatnya? / Ini penyakit Racun Cinta.
Tak bisa diobati.
Jadi...
apa kau berbisa?
Jadi kau merindukanku?
Yang Mulia,
sebenarnya, aku bukanlah
pria yang baik untukmu.
Aku seorang biksu.
Banyak hal yang tak boleh kulakukan.
Dan lagi, banyak sekali aturan dan perintah yang harus kupatuhi.
Seperti apa?
Misalnya,
aku vegetarian. (hanya makan sayur)
Aku juga begitu.
Aku selalu bangun pagi-pagi.
Aku juga tak pernah tidur.
Aku bukan waria.
Aku juga bukan.
Yang Mulia,
mohon lepaskan kami.
Tunjukkan kami jalan keluar.
Biarkan kami pergi ke Barat.
Kau membenciku? / Tidak, aku tak membencimu.
Aku hanya punya satu tujuan dalam hidupku.
Yaitu pergi ke Barat untuk memperoleh kitab suci,
dengan begitu aku bisa kembali untuk membantu menyingkirkan penderitaan di dunia.
Catatan perjalanan ini
mencatat semua pemikiran dan wawasanku selama perjalanan.
Kau akan mengerti setelah membacanya.
Simpanlah baik-baik.
Aku tak punya salinannya. Kau bisa mengembalikan setelah membacanya.
Kau tak perlu begitu.
Memberikan padanya begitu saja.
Baik hati sekali.
Wukong, kapan kau masuk ke sini?
Anu aku... masuk saat kau bicara soal vegetarian.
Karena kau telah menerima hadiahnya, katakan
dimana jalan keluarnya?
Aku tak tahu jalannya.
Kerabat kami tak pernah berusaha keluar dari Negri-Wanita.
Kembalikan itu.
Tapi akan kucoba setiap cara untuk bantu kalian menemukan jalan keluar.
Ratu Pembimbing datang.
Ratu Pembimbing, aku telah menanyai mereka.
Yang Mulia,
apa Paduka jatuh cinta padanya?
Tidak, kenapa aku harus begitu?
Baiklah kalau begitu. Jadi ijinkan aku...
membunuh mereka semua besok.
Apa Yang Mulia tak masalah?
Ya, tak masalah.
Para makhluk beracun ini memang harus dibunuh. / Baik.
Ya baiklah.
Wukong.
Ada yang tak beres dengan wanita.
Ratu Leluhur.
Dimana Yang Mulia? / Yang Mulia mengira ini akan
begitu kejam untuk menyaksikannya.
Oh.
Aku telah mengganti panahnya yang buat hukuman mati.
Pura-puralah mati sebelum ini berakhir.
Temui aku di kaki Gunung Saintess nanti.
Aku punya rencana.
Kali ini,
kami semua akan baik-baik saja?
Hukum mati mereka!
Wujing!
Guru, matilah cepat.
Kenapa aku harus mati?
Dia sudah tahu triknya.
Sungguh mati beneran!
Perhatikan dan pelajari.
Guru!
Guru!
Gu...
Mengagumkan.
Ayo.
Tunggu.
Pengawal, ganti anak panahnya dengan yang lebih kuat.
Kenapa diganti?
Menjadi pria itu kejahatan besar.
Menjadi pria jelek
itu kesalahan ganda! / Apa kau punya selera?
Kulitku ini mulus, paham?
Tembak! / Aku protes!
Habislah aku.
Lempar mereka ke jurang!
Ya Paduka.
Tetap tenang.
Guru. / Wukong.
Bajie. / Dia tak apa-apa.
Ini Dewa Sungai. Tempat semua tentang Negri-Wanita dimulai.
Dewa Sungai.
Dahulu sekali,
leluhur kami dikhianati oleh
seorang pria tak setia di hari pernikahan mereka.
Terlebih lagi, pria itu
bahkan berusaha membunuhnya.
Jadi...
dia memilih untuk datang ke sini, memasang tabir penghalang
untuk mengasingkan diri.
Aku ingat sekarang. Setelah itu,
dia mencatat pengalaman hidupnya saat di dunia luar
ke dalam Buku Leluhur di Perpustakaan Kerajaan.
Tapi di Buku itu ada bagian yang hilang.
Sepertinya halaman buku itu menuliskan jalan keluar dari Negri-Wanita.
Jadi bisa dianggap, leluhurmu
menyuruh udang laut kecil untuk menjaga...
Shh...
Tempat ini, ada jalannya, bagian yang hilang ini
kemungkinan
tersembunyi di sekitar sini.
Jadi apa yang harus kita lakukan...
Wukong! / Cepat cari!
Ini pasti wajah leluhurmu dalam pahatan ini 'kan?
Ya. Ini tanah keramatnya.
Tak ada yang pernah masuk. Jadi kau aman disini.
Pasti.
Wukong!
Lihat.
Bagian yang hilang yang kau katakan...
apa seperti itu?
Ya memang itu. Ambillah!
Tangkap. / Aku harus sembunyi.
Aku harus pergi. Capek sekali.
Aduh sakit! Ayo.
Kau tak akan bisa.
Banyak orang ya. Aku harus sembunyi.
Aku akan terbang.
Tolong katakan, jalan keluarnya.
Monyet terkutuk. Monyet!
Jagoan besar, hajar dia!
Kakak-tertua, biar aku bantu.
Wah kacau ini, aku lari saja!
Yang Mulia.
Tongkat Emas!
Gawat ini! Aku harus lari.
Guru. Lari!
Kau sudah menemukannya?
Tidak.
Nggak kena!
Aku harus sembunyi!
Ayo!
Aku harus lari! Capek sekali.
Ayo keluarlah!
Tembak aku...
kalau kau bisa.
Yang Mulia.
Tak bisa mengenaiku.
Nggak kena lagi!
Oh, aku...
sembunyi.
Berlindung.
Aku akan lari! Tak apa-apa.
Tolong aku! Aku berhenti! Aku sudah berhenti!
Sakit!
Jangan mendekat, atau kurobek ini.
Sakit! Itu dagingku. Jangan!
Tolong jangan!
Aku berhenti. Jangan robek aku.
Kau menangkap tubuhku,
tapi kau tak bisa mendapatkan... tulisanku!
Guru!
Terbang!
Jangan lakukan ini padaku. Aku salah.
Lepaskan aku. / Anak sialan.
Beraninya kau berkompetisi denganku!
Jangan main api denganku!
Guru.
Tulisannya.
Tertulis bahwa
gerbang ini hanya bisa terbuka
setelah kau setelah kau belajar apa itu cinta sebenarnya.
Jadi apa itu cinta?
Begini...
itu sesuatu yang...
tak banyak diketahui olehku.
Tapi aku pernah dengar
kabar bahwa
juga ada percintaan
di Negri-Wanita ini.
Dulu ada seorang gadis yang jatuh cinta dengan sungai.
Tapi mereka tak pernah saling bertemu.
Ada apa diluar Negri-Wanita?
Seandainya mungkin,
aku ingin keluar untuk melihatnya.
Aku membayangkan,
andai aku bertemu orang pertama diluar,
seperti apa rupanya?
Andai ada orang bisa mendengarku,
apa kau bisa menjawabku?
Siapa dirimu?
Mengapa aku tak bisa melihatmu?
Tapi aku bisa merasakan
yang ada di pikiranmu.
Aku yakin kalau kau juga bisa merasakanku.
Jika...
aku datang kesini mencarimu tiap hari.
Apa kau akan selalu ada disini?
Seseorang tak bisa menemukan jalan keluar
sementara yang lain tak bisa menemukan jalan masuk.
Namun sungai itu
tetap menunggu gadis ini dan
berhenti mengalir
semenjak itu.
Aduh!
Perutku sakit.
Ow!
Guru kenapa ini?
Tolong, Kak Monyet. / Apa yang terjadi denganmu?
Oh, aku tahu. Mereka kecebur ke sungai
dan airnya terminum.
Memang kenapa airnya? / Air dari Dewa Sungai
bisa membuatmu hamil.
Selamat ya! Jadi kalian hamil.
Wukong.
Aku hamil.
Tak bisa kupercaya!
Aku akan jadi ibu.
Dia melayanimu dengan baik.
Apa yang harus kita lakukan? / Kita harus pergi dari sini.
Belum juga menemukan jalan keluarnya.
Lalu kalian bertiga hamil pula. Kenapa kalian ceroboh sekali?
Kita harus bagaimana?
Kakak-tertua.
Sekarang kami yang mengalami, bukan dirimu.
Yang sedang hamil.
Tak apa. / Benar juga ya.
Wukong.
Lakukan sesuatu. / Guru, apa aku terlihat
pernah melahirkan?
Sebenarnya, masih ada satu cara.
Monyet. Lekaslah!
Guru dan saudara-saudaramu akan melahirkan 3 hari lagi.
Tak ada waktu lagi.
Jangan khawatir. Aku segera kembali!
โช
Orang bijak yang Agung. Apa aku cantik?
Dirimu-yang-kayak Manusia?
Apa kau takut?
Pria? / Kamu yang pria.
Jaga mulutmu.
Mereka bilang akulah wanita yang paling cantik di negri ini.
Menjengkelkan!
Guruku sedang hamil.
Aku mau cari air Musim Semi Penggugur Kandungan, kau punya?
Baik. Tunggu sebentar.
โช Apa aku cantik?
Kami punya Musim Semi Yin dan Yang disini.
Jadi aku harus campurkan Yin dengan Yang
lalu Yang dengan Yin, 7 sampai 8 kali bergantian.
Setelah itu, akan kutambahkan Goji, jujube,
daun bawang, bawang putih, dll, dengan lebih dari 49 rempah berharga
dan merebusnya selama 81 hari.
Maka kau akan mendapatkan air Musim Semi Penggugur Kandungan
porsi untuk 1 orang.
81 hari? / Ya. / Tak bisa begitu.
Ada yang lebih cepat? / Tentu.
Kalau begitu akan kupercepat mencampurkan Yin dan Yang
lalu Yang dengan Yin terus begitu 7 sampai 8 kali lebih cepat
sehingga aku bisa merebusnya selama 81 hari lebih cepat.
Apa kau punya persediaannya?
Tentu! / Kau sungguh-sungguh?
Lihat.
Tapi sekarang sudah habis.
Sungguh mengecewakan!
Aku tahu ini butuh proses ketelatenan.
Namun saat kau
bisa menggendong anakmu,
kau akan sadar
semua penderitaan itu
sungguh sepadan. / Yang Mulia, apa maksudmu
kau ingin aku melahirkan...
bayi ini?
Karena kau ingin menyelamatkan dunia,
bagaimana bisa kau mengabaikan bayi ini?
Setiap nyawa yang lahir sama berharganya.
Guru!
Aku sungguh putus asa! / Wujing.
Ada apa?
Jenggotku rontok semua.
Tapi kau terlihat cerdas 'kan? / Ya.
Tapi sekarang aku sungguh cemas.
Aku sungguh kacau.
Aku tetap saja makan dan tidur
kayak babi.
Apa yang mengganggumu? / Diam!
Guru.
Jangan mempengaruhi ibu hamil.
Aku tak mau hidup lagi.
Sebenarnya, Air Musim Semi Penggugur ini tak bisa menggugurkan kandungan.
Air Musim Semi Penggugur yang asli ada dalam mataku.
Kau harus menyentuhku dengan perasaan yang tulus
dan membuatku meneteskan air mata dengan perasaan yang tulus.
Dan itulah Air Musim Semi Penggugur yang kau inginkan.
Orang bijak yang Agung. Sentuhlah aku.
Disentuh. Ya disentuh.
Bukan menyakiti.
Hatiku. Kau harus menyentuh hatiku Orang Bijak yang Agung.
Perasaan tulus.
Dengan perasaan tulus, bro.
Air mata karena dipukuli itu tidak termasuk.
Apa itu perasaan tulus?
Saat seorang pria
bersama seorang wanita,
cinta adalah perasaan yang tulus.
Dasar bodoh.
Tiba-tiba aku punya perasaan bahagia.
Aku sungguh bahagia.
Oh, tidak.
Bayi Tang.
Bayi Tang tak ada detak jantungnya.
Tadi dia menendangku.
Tak apa. Dia cuma tertidur.
Pejamkan matamu. Rasakan denyut jantungnya.
Lahirkanlah dia... aku akan bantu membesarkannya.
Jika aku yang merawatnya
tak peduli betapa beratnya
ini adalah tugasku sendiri.
Orang bijak yang Agung. Kenapa kau pergi ke Barat?
Untuk mendapatkan kitab suci dan pencerahan
seluruh makhluk hidup.
Seluruh makhluk hidup?
Kau sungguh agung.
Tapi semua bayi keguguran ini juga
termasuk juga makhluk hidup 'kan?
Tiap kali mereka keguguran
aku akan nyalakan lilin disini
untuk menerangi jalan para bayi itu.
Jika mereka tak menyingkirkan bayinya
bagaimana mungkin kami bisa sampai ke Barat?
Terserahlah.
Aku akan jadi jahat kali ini.
Selama Guru bisa sampai ke Barat,
betapapun parah keadaannya,
aku hanya bisa berkata: Ayo! Ayo! Ayo!
Lepas.
Diamlah. Aku hampir menangis.
Orang bijak yang agung. Tolong katakan pada gurumu
bahwa aku sangat iri padanya
karena memilikimu.
Kenapa kau begitu dingin?
Guru, aku mendapatkan air Musim Semi Penggugur.
Guru, air Musim Semi Penggugur.
Wukong,
akan kuberitahu keputusan besarku.
Aku telah memutuskan
akan melahirkan bayi ini.
Guru mengira ini sudah berakhir?
Kalau begitu baiklah.
Oh yeah! Kita akan punya bayi.
Mari kita rayakan.
Membeku!
Guru, tugasku adalah melindungimu.
Kau bukan orang biasa.
Yang dihalangi oleh seorang anak,
bagaimana kau bisa melanjutkan
dan bagaimana aku bisa melindungimu?
Mencair!
Bayinya tak ada.
Kenapa kau memutuskan begitu terhadapnya?
Itu anaknya dia.
Kau tak lebih paham guru ketimbang diriku.
Bagaimana kalau dia lebih
dari sekedar yang kau pahami?
Aku kasih tahu ya,
di hati guruku, memperoleh kitab suci adalah segalanya.
Tak ada hal lain di hatinya.
Ini bukan ucapanku sendiri.
Jika kau tak percaya, tanya saja pada Buddha.
Saat aku masih kecil,
biksu di kuil menyuruhku
untuk menyalin kitab suci
lalu aku kesal.
Waktu aku melatih tulisan tanganku
pikiranku jadi tenang.
Jangan khawatir.
Aku baik-baik saja.
โช
broth3rmax
Pisahkan mereka. Singkirkan biksu jahat ini.
Ratu Pembimbing.
Dia bukan seperti yang kau sangka.
Yang Mulia, aku cuma tak ingin kau mengkhianati kehendak Leluhur
dan mempertahankan kekeliruanmu. / Tapi...
bagaimana bila Leluhur itu yang keliru
semenjak awal,
Maka kita adalah bagian dari kekeliruannya.
Dan selamanya tetap begitu.
Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku bisa yakinkan dirimu.
Aku hanya memenjarakan dia mulai sekarang.
Aku tak akan melukai dia.
Semua yang kulakukan
hanya demi dirimu.
Jangan cemas, Yang Mulia.
Aku akan baik-baik saja.
Bukankah kita akan pergi ke penjara?
Paduka.
Usir dia.
Kemana kau akan membawaku?
Jalan!
Dorong dia ke laut!
Yang Mulia!
Tidak!
Dalam aula, hari itu...
ramalan Leluhur yang kusampaikan
ada satu bagian yang tak aku baca.
Tertulis,
suatu hari nanti,
Yang Mulia akan meninggalkan Negri-Wanita.
Tak mungkin.
Yang Mulia dipilih oleh surga. Dia punya garis keturunan dari Negri-Wanita.
Jika dia pergi,
semua yang ada disini akan sedih.
Negri-Wanita tak akan lagi ada.
Kakak-tertua.
Sun Wukong. Kau manusia ajaib.
Mohon selamatkan Yang Mulia.
Dimana Guruku?
Sekarang dia berlayar
bersama Yang Mulia
ke Laut Penderitaan.
Laut Penderitaan?
Lautan ini tak bertepi,
tak ada jalan pulang.
Saat kau terjebak, kau akan mengapung seumur hidupmu.
Tak ada yang bisa keluar hidup-hidup.
Aku yakin
bisa memulangkanmu ke pantai, Yang Mulia.
Guru!
Yang Mulia...
Guru!
Guru!
Aku butuh minum air.
Ini rasanya pahit.
Hanya akan membuatmu lebih haus.
Dagingku
bisa membuat yang fana menjadi kekal.
Jika kau tak keberatan,
kau boleh menggigitnya.
Bagaimana rasanya
berada diluar Negri-Wanita?
Di sana juga ada
lautan penderitaan.
Tapi di atas laut itu,
semua orang ada di pulau.
Semua orang
mengapung.
Lalu kapan akhir pengapungan mereka?
Selama aku bisa memperoleh kitab suci itu,
aku berkewajiban menuntun mereka ke tepian.
Namun, selain penderitaan,
juga ada kesenangan.
Sayang sekali bila
aku tak sanggup untuk
menunjukkanmu tempat itu dalam hidup ini.
Itu tak penting.
Di kehidupan selanjutnya.
Tentu.
Di kehidupan selanjutnya.
Sungguh mengejutkan!
Gerbang ini
tepat di ujung Laut Penderitaan ini.
Gerbang ini terbuka.
Lalu apa cinta itu?
Aku akan pergi bersamamu.
Bagaimana dengan Negri-Wanita?
Akan kutinggalkan kekuasaan dan kekayaanku.
Kau bisa patuhi semua aturan dan perintah.
Guru!
Guru! / Terbang!
Guru!
Wukong. / Guru!
Guru! / Wukong, kau tak apa-apa?
Guru, ayo kita pergi.
Ayo kita pergi.
Guru, apa kau sungguh akan mengajak dia?
Anak ini punya garis keturunan Negri-Wanita.
Kau adalah pembimbing bangsa ini sekarang.
Satu-satunya tugas dalam hidupmu
adalah merawatnya.
Jangan kau menentang kehendak surga.
Apa kau ada disini?
Hari ini adalah yang terakhir.
Aku tak akan ke sini lagi.
Karena mulai sekarang
aku telah menerima tugasku.
Kuhabiskan sisa hidupku
untuk melindungi anak ini.
Dia akan jadi Ratu Negri-Wanita.
Sementara kita tetap menunggu cinta memulai,
ternyata
ini menjadi sebuah akhir.
Dewi Kasih-sayang. (Kuan Yin)
Wahai Leluhur,
rakyat kita di Negri-Wanita
akan memotong rambutnya
untuk menganyamnya ke dalam Lampu Abadi.
Kami mohon,
leluhur kami bisa menyelamatkan Yang Mulia,
bisa menyelamatkan Yang Mulia,
Lampu Keabadian,
harus membakar sampai habis.
Hanya dengan begitu
Yang Mulia akan punya kesempatan bangun kembali.
Xuanzhang.
Di dunia ini, kau hanya bisa melupakan
sesuatu yang tak pernah kau miliki.
Akankah kau memilih mencintai seseorang
atau seluruh makhluk hidup?
Ingat, di hari kau memakai jubahmu lagi,
adalah ketika kau melanjutkan perjalanan menuju Barat.
Tanamkan ini dalam pikiranmu.
Apa kau merindukanku?
Dewi Kasih-sayang.
Terpasang!
Membeku!
Wukong.
Kita bawa saja jubah ini.
Seiring waktu,
mungkin kehidupan cinta ini
akan menghilang.
Saat itulah, pastinya Guru bisa memakai jubah ini lagi.
Andai waktu adalah obat yang terbaik,
mungkin tak begitu banyak ada
penderitaan tak tersembuhkan serta keengganan berpisah.
di dunia ini.
Kenapa kau masih disini?
Kau akhirnya bangun.
Aku bermimpi.
broth3rmax
Kau telah menungguku selama 20 tahun.
Itu keluar. Lampu Abadinya muncul.
Yang Mulia mungkin telah bangun.
Cepat lihatlah Yang Mulia.
Tidak, tidak... aku tak bisa.
Semua sudah ada takdirnya sendiri.
Pergilah temui lautan.
Tidak.
Tidak!
Guru!
Yang Mulia.
Ratu Pembimbing. / Yang Mulia.
Yang Mulia, kau tak apa-apa? Anakku.
Aku tak akan pernah meninggalkan ratuku.
Mohon pergilah.
Guru!
Guru.
Guru!
Guru!
Terbang!
Buddha.
Mereka tenggelam dalam Laut Penderitaan.
Mohon petunjuk,
bagaimana caraku memberi mereka keselamatan.
Dewa Sungai Lupa,
selama 20 tahun lalu,
kau terlalu terobsesi.
Sekarang bahkan kau berniat melakukan dosa amat besar.
Apa kau tahu kesalahanmu?
Dewa Sungai, bertobat dan selamatlah.
Aku bermimpi.
Aku memimpikan
rambutmu itu panjang
dan kita menua bersama
tapi
kau tak bahagia.
Dewa Sungai Lupa.
Aku mengerti akar penderitaan dalam dirimu.
Sebenarnya,
gerbang itu selalu ada di sana.
Selalu jadi keengganan kita
sehingga menahan kita untuk melewatinya.
Lahir sebagai bagian dari segalanya,
cinta adalah alasan kita terlahir di dunia ini,
dengan reinkarnasi tiada akhir.
Namun cinta yang pada akhirnya kita mengerti sepenuhnya
bisa jadi abadi.
Aku telah belajar dari cinta ini
bahwa cinta pada seseorang atau dunia ini
semata-mata adalah sama.
Aku akan membacakan doa untukmu seribu kali sehari,
sampai aku mencapai Biara Guntur.
Hingga aku bisa mengabadikanmu di atas mimbar
yang diterangi Buddha
untuk membantumu memperoleh
ganjaran yang layak dengan segera.
โช
Sampai jumpa. / Tidak.
Kita tak akan bertemu lagi.
Di kehidupan selanjutnya.
Murid-murid, tempat apa di depan itu?
Pegunungan, saling menjulang.
Ada namanya? / Pegunungan Berapi.
Astaga, kedengarannya panas.
Ayo berangkat!
JANGAN BERANJAK DULU, MASIH ADA LAGI...
broth3rmax, 3 Maret 2018
PLEASE NO RESYNC/RE-UPLOAD/DELETE-CREDIT broth3rmax, 3 Maret 2018
Hey, berhenti. Kami disini.
Maaf.
Mana Kakak-tertua dan Kakak-keduamu?
Mereka pergi duluan
dan menyuruhku untuk berpamitan pada kalian.
Tak mungkin, bagaimana bisa? Mereka jahat sekali.
Kakak-kedua menyuruhku
untuk membacakan pesan ini untukmu
dengan penuh perasaan,
tulus dan mendalam.
"Mbak."
"Maafkan aku karena pergi diam-diam."
"Aku belum mewujudkan cita-citaku."
"Aku membutuhkan perjalanan menuju ke Barat ini."
"Janganlah menungguku."
"Kecuali untuk
penampilanku yang ganteng,
lupakan saja semua tentang diriku yang lainnya."
"Kumohon."
Sebenarnya,
aku lebih suka penampilanmu yang asli.
Maksudmu yang ini?
Dia tak sedang membicarakanmu.
Dia bicara soal Kakak-keduamu.
Sebenarnya, penampilan kulit birumu
cukup cerdas juga.
Tapi bagaimana penampilanmu bisa dengan kostum ini?
Jika kuberitahu padamu, jangan ketakutan.
Aku adalah Jenderal Pembuka-Tirai.
Jenderal Pembuka-Tirai?
Apa fungsinya?
Kau sendiri tak tahu? Di surga, saat Kaisar Giok meninggal,
Aku membukakan tirai untuknya.
Mengangkat tirainya. / Kamu sungguh berbakat.
Bukankah itu tugas penjaga?
Itu jabatan yang penting! / Ya, memang.
Kamu keren banget.
Kita tak akan bertemu lagi.
SAMPAI JUMPA DI MONKEY KING YANG LAIN
SEKIAN
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.