Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Selamat siang. Halo.
Apa negara bagian Minas Gerais masih jauh?
Gak, gak jauh kok.
Kamu bakal sampai sana dalam lima menit.
Terima kasih. Sama-sama.
Pengantin baru.
ONLY GOOD THINGS
Ibumu ninggalin kamu, ya?
Makanlah, Nak.
Ayo cepat.
Tenang, tenang, tenang.
Kepalamu terbentur keras sekali.
Halo?
Halo.
Antonio, ayahmu menyuruhku cari tahu, apa kamu udah memikirkan tawarannya.
Dia menunggu jawabannya hari ini.
Udah aku pikirkan.
Terus gimana?
Aku gak bakal menjualnya.
Dengar, Antonio, ayahmu gak bakal terima penolakan.
Kamu tahu itu.
Aku gak tahu apa-apa, Samuel.
Dia gak bermaksud jahat padamu.
Dia cuma ingin kamu menikah.
Dia juga menyuruhmu mengatakan itu padaku?
Ini rumahku, Samuel.
Dan aku gak bakal pergi, meski Tavares menginginkannya.
Bisa kamu sampaikan padanya.
Kalau jadi kamu,
aku gak bakal cari ribut sama ayah sendiri.
Aku lihat ada pagar rusak di padang rumput.
Kamu harus memperbaikinya.
Ternak yang berkeliaran di sana bisa masuk ke tanah ayahmu.
Kamu tahu kan, itu bakal memperparah konflik.
Pas udah menyala, atur pelan-pelan.
Lihat ini.
Paham? - Ya.
Makin lebar dibuka,
airnya bakal makin dingin.
Paham.
Aku bisa sendiri.
Semua baik-baik saja?
Ya.
Memangnya kenapa?
Gak ada apa-apa...
Cuma pria di gerbang rumah itu.
Rasanya agak aneh.
Aku sembunyikan motormu di hutan dekat jalan raya.
Sepertinya ada yang rusak.
Semoga masih bisa jalan.
Tadi kamu mau ke mana?
Ke Porangatu.
Tapi ini bisa kejadian di mana saja.
Kalau mau, besok kita bisa ambil motormu.
Tapi gak perlu buru-buru.
Kamu bisa tinggal di sini sampai sembuh.
Aku gak mau merepotkan.
Gak usah khawatir.
Kamu juga belum kasih tahu namamu.
Marcelo.
Musim semi
menyembuhkan duka.
Segalanya berubah.
Di sini, wahai pengembara,
tempat bernaungmu.
Andai saja kamu mengerti.
Aku bisa membantumu,
tapi kamu gak mau.
Di mana kamu berkelana?
Di mana kamu berkelana?
Katakan saja padaku,
dan aku berjanji,
kamu bakal merasa tenang.
Aku menghabiskan
seluruh malamku
mencari
Ujung Dunia.
Aku bingung,
lelah,
aku tersesat.
Kisahku bukanlah hal baru.
Di mana kamu berkelana?
Nasibku ada di tanganmu.
Di mana kamu berkelana?
Nasibku ada di tanganmu.
Sini.
Kapan kamu berencana pergi ke Porangatu?
Gak tahu.
Belum kepikiran sampai sana.
Gak ada lagi yang menahanmu di sini.
Kamu udah hampir pulih dari cedera.
Motormu juga udah bisa jalan lagi.
Kamu mau aku pergi?
Gak, bukan gitu maksudnya.
Cuma saja, di sini gak ada apa yang kamu cari.
Ada apa?
Pas bangun aku gak lihat kamu.
Aku kira kamu udah pergi.
Tadi itu apa?
Tunggu di sini.
Marcelo, bicara padaku!
Peternakan Tavares
Mayat Samuel ada di bak truk.
Samuel udah kuanggap anak sendiri.
Bukan darah dagingku.
Tapi setidaknya, dia gak punya masalah sepertimu.
Ini bukan masalah, Pa.
Kami cuma manusia.
Ini aku, ini Marcelo.
Sampah.
Apa Papa berniat menyembuhkanku?
Aku mencoba mencabut dosa itu darimu.
Tapi akhirnya,
aku malah makin menjauhkanmu.
Sekarang kau ingin membunuhku juga.
Apa kau pikir aku tega membunuh ayahku sendiri?
Ambil ini.
Ini punya Samuel.
Kamu gak bakal pernah jadi laki-laki.
Papa udah tua.
Sakit-sakitan.
Bisa bertahan beberapa tahun lagi saja itu udah keberuntungan.
Aku gak perlu membunuh Papa.
Karena Papa adalahโ
darah dagingku,
warisanku,
masa depanku.
Papa bakal mati sendiri.
Papa bakal bersamaku sampai akhir.
Suatu saat waktu bakal menyembuhkanmu.
Kebencian yang Papa simpan itu.
Tapi saat Papa menyadarinya, semuanya udah terlambat.
Papa bakal ada di dasar sungai atau di tanah pemakaman yang basah.
Aku gak pernah bangga punya anak sepertimu.
Gak masalah.
Aku juga gak pernah bangga punya ayah sepertimu.
Bukankah ini menakjubkan?
Apa?
Keheningan ini.
Aku sangat suka.
Aku ingin menghabiskan hidupku seperti ini.
Aku ingin menua bersamamu.
Benarkah?
Benar.
Aku bakal menghabiskan 30 tahun ke depan bersamamu.
Kita gak bakal hidup selama itu.
Bodohnya.
Ciumanku membekas di bibirmu.
Segalanya terasa indah, terasa indah.
Aku gak ingat...
Aku pernah menderita,
dan duka itu meninggalkan bekas di dalam diriku,
bekas yang besar.
Tapi sekarang akhirnya aku paham...
Berita penting dari Goias, Brasil, dan seluruh dunia.
Dengarkan siaran langsung Hit News.
Selamat pagi, teman-teman. Ini Hit Radio! Aku masih menggantikan sementara
Kolonel Uzeda, yang sedang mengabdi untuk Brasil.
Aku ingin menyapa William dari layanan taksi yang mengantarku ke sini.
Tadi dia mendengarkan radio sebelah, lalu aku bilang padanya:
"Will, ganti radionya, atau kamu harus turun di tengah jalan."
"Aku gak sanggup dengarnya lagi..."
Kapan terakhir kali kamu melihat pasanganmu?
Tiga hari lalu.
Setelah makan malam,
Marcelo bilang dia harus pergi ke apotek.
Dia mengatakan sesuatu pada Helga di dapur
dan gak pernah kembali lagi.
Helga?
Ya, dia udah bekerja pada kami selama beberapa tahun terakhir.
Mau minum?
Dan siapa ini?
Asistenku.
Dia udah bekerja denganku sejak tahun lalu.
Ada hal lain yang hilang?
Marcelo pergi dengan pakaian yang dia pakai saat itu.
Cincin kawinku juga hilang, sama seperti punya Marcelo.
Apa kamu tahu, mungkin ada kerabat atau teman
yang melihat atau bicara dengannya akhir-akhir ini?
Dia hampir gak punya keluarga lagi.
Maksudku, dia memang gak punya keluarga.
Teman-temannya gak ada yang melihat atau berkomunikasi dengannya sejak itu.
Apa kamu tahu, apa dia punya masalah dengan seseorang?
Atau apa dia sedang menghadapi masalah yang
bisa menjelaskan kepergiannya?
Gak ada.
Mungkin cuma aku yang dibenci Marcelo.
Setelah hidup bersama bertahun-tahun,
sulit membedakan antara benci dan cinta.
Apa Helga masuk kerja hari ini?
Gak, hari ini dia libur.
Dia masuk dua kali seminggu.
Untuk memastikan detailnya, aku butuh data kontaknya.
Tuan Antonio,
aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin terdengar kurang menyenangkan.
Marcelo mungkin gak hilang.
Biasanya, saat orang dewasa seperti Tuan Marcelo,
pergi tanpa alasan yang jelas,
...itu bisa dijelaskan karena dia memang memutuskan buat pergi.
Selamat pagi, Helga.
Astaga, Tuan Antonio, Anda mengejutkanku.
Selamat pagi.
Kenapa foto ini ada di dapur?
Temboknya kelihatan kosong sekali.
Bukannya tadi ada di kamarmu?
Iya.
Terus apa yang kamu pajang di tempatnya?
Kenangan.
Kangen sama papamu, ya?
Ayo ikut.
Ayo.
Edu?
Apa?
Lihat ini.
Papamu gak bakal lama, dia bakal segera balik.
Dia bakal balik lebih cepat dari yang kamu kira, liat aja nanti.
Wah, tadi itu luar biasa.
Tapi kalau mau belajar dari nol,
apalagi kamu gak punya banyak kenalan buat diajak ngomong,
kamu harus latihan ngobrol.
Iya, aku yakin kita cuma bisa belajar kalau terus-terusan latihan.
Lewat pembiasaan, kayak yang sering orang bilang.
- Sepupuku pergi ke Italia... - Ayo pergi.
Selamat siang.
- Selamat siang. Maaf mengganggu.
Bisa tolong jagain Duke sebentar?
- Tentu.
Aku harus beli obat sebentar, tadi lupa.
- Tentu. Dia sangat manja.
Aku bakal cepat.
Gak usah khawatir, kami bakal jagain dia.
Kayaknya kita butuh yang kayak gitu juga.
- Kamu setuju? Gak tahu. Kita gak pernah punya anjing.
Udah saatnya.
Ya, aku bahagia,
tanpa mencintai siapa pun.
Aku ingin tertawa, bermain, bermimpi, menyanyi, tersenyum.
Gak ada yang bisa menghentikanku.
Aku pernah mencintai,
dia yang membuatku menderita.
Dan...
supaya gak pernah menangis lagi, aku berhenti mencintai.
Begitulah hidupku sekarang, sambil menyanyikan lagu.
Mereka yang pernah mencintai dan gak bisa melupakan cinta itu,
gak bakal paham gimana caraku hari ini, bisa hidup dan menyanyi sambil tersenyum.
Mereka yang pernah mencintai seseorang dan melewati semua yang udah aku lewati,
setelah mendengarku, bakal sadar kalau aku berbohong,
dan mungkin aku bakal menangis saat bernyanyi.
Terima kasih.
Segitu dulu buat sekarang.
Ada apa?
Apa kamu gak ngerasa cerita ini aneh?
Yang mana?
Kamu tahu persis cerita yang mana, Edu.
Pertama Tuan Marcelo hilang.
Sekarang Duke juga hilang tanpa jejak.
Tuan Antonio bilang ada teman yang bakal jagain Duke.
Sejak kapan orang menitipkan anak-anak mereka ke orang lain?
Gak tahu.
Helga?
Duke itu cuma anjing.
Gak bagi Tuan Marcelo.
Mungkin saja.
Tapi ya sudahlah.
Tuan Antonio pasti punya alasannya sendiri.
Tiap kali aku lihat foto itu di dapur,
badanku merinding dan dadaku rasanya sesak.
Firasat buruk, kamu paham kan?
Mereka kelihatan bahagia banget di foto itu, Edu.
Anda punya dua pesan suara dari...
Marcelo.
Tekan 1 buat mendengarkan. Tekan 2 buat menghapus.
Tunggu nada buat mendengarkan pesan.
Apa kamu masih ingat?
Menurutmu, apa Antonio tenang-tenang saja soal hilangnya Marcelo?
Kayaknya sih iya.
Gak tahu apa ini ada hubungannya sama dia...
Karena mereka gak begitu sering berantem.
Tapi Tuan Marcelo gak mungkin hilang gitu aja, dia gak bakal bisa ninggalin Duke,
tanpa ngasih tahu aku dulu.
Tuan Marcelo selalu peduli sama rumah ini.
Kalau Eduardo? Apa yang bisa kamu kasih tahu soal dia?
Tuan Marcelo...
Dulu dia cemburu sama Eduardo.
Dan,
pas Eduardo muncul, hubungan mereka mulai berubah.
Interaksi mereka berdua.
Maksudku, aku gak tahu apa yang terjadi,
tapi ini aneh banget.
Tuan Marcelo hilang tanpa sinyal apa pun.
Ini mencurigakan.
Itulah alasan kenapa aku meneleponmu.
Bikin merinding. - Paham.
Aku pulang dulu ya,
kalau Tuan gak butuh apa-apa lagi.
Oke, baiklah.
Mau minum sesuatu?
Iya.
Anggap saja rumah sendiri.
Kecuali yang itu.
Ini brandy milik Marcelo.
Ini hadiah dariku buat ulang tahun pernikahan kami yang ke-40.
Anda pasti kangen banget sama Tuan Marcelo, ya?
Kangen?
Aku gak yakin itu perasaan yang tepat.
Lebih tepatnya perasaan lega.
Kalau Anda memang semenderita itu,
Anda kan bisa cerai saja.
Mungkin.
Tapi semuanya gak semudah itu.
Apa kamu pernah punya selingkuhan?
Gak.
Perjanjian kami gak membolehkan hal semacam itu.
Boleh disentuh kok,
kalau kamu mau.
Demi Tuhan, Helga!
Kamu mau bikin aku mati ketakutan?
Halo, Tuan Antonio.
Halo, Helga.
Semua aman?
Iya.
Cuma agak gak fokus saja hari ini.
Nona Batalha meneleponku.
Dia bilang kalian berdua sempat ngobrol kemarin.
Tuan Antonio?
Menurutmu, apa yang terjadi di sini?
Kurasa Anda melakukan sesuatu pada Tuan Marcelo.
Kamu pikir aku sanggup melakukan hal buruk pada Marcelo?
Gak, bukan gitu maksudku. Bukan soal itu.
Tapi...
Hanya saja Anda,
dulu Anda terlihat sangat...
bahagia.
Maaf aku harus bilang begini.
Tiap kali aku melihat Anda, aku teringat foto itu.
Persis kayak sekarang.
Wajah Anda berseri-seri penuh kebahagiaan di foto itu.
Tapi sekarang โ cuma ada kengerian, Tuan Antonio.
Benar-benar mengerikan.
Hai, Antonio.
Hari ini aku mampir ke rumah lamamu di Batalha.
Di dalam lemari laci kamar tidur, aku nemuin ransel kulitku.
Ternyata isinya kosong.
Dan kamu gak bakal percaya,
tapi di atas sisa-sisa tempat tidur itu,
ternyata ada topimu dan jaketku.
Jaketnya udah gak muat lagi di aku.
Rasanya,
seolah itu milik orang lain.
Tempat bikin keju dan kandang di halaman belakang
udah ditumbuhi semak belukar.
Kebun itu sekarang jadi milik hutan.
Rumahnya penuh debu.
Kamu bahkan gak bakal bisa lagi lihat warna kekuningan di lantainya.
Di langit-langit ada kelelawar dan sarang laba-laba di mana-mana.
Atap dapurnya ambruk menimpa kompor.
Dan retakannya merambat ke semua tembok.
Alam perlahan-lahan menelan semuanya.
Aneh ya,
pas aku melewati gerbang,
aku ngerasa kalau...
yang tersisa dari kita cuma rumah ini.
Yah,
rumahnya udah terbengkalai.
Sebentar lagi gak bakal ada yang tersisa dari kita.
Tapi aku rasa kamu gak bakal peduli soal itu.
Sungai itu.
Sungainya, Antonio.
Masih tetap sama.
Antonio.
Kadang aku berpikir kalau kita seharusnya gak usah keluar dari sungai itu.
Di bawah air
kita hidup melampaui waktu,
sendirian di seluruh dunia.
Dua jiwa untuk selamanya.
Sync & Translated By ~Satoru Golojo~
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.