Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik suram mengalun]
PENAFIAN
[teriakan para warga]
[gerantang]
[pewarta 1] Tsunami terjadi akibat gempa
berskala 9,1 sampai 9,3 skala Richter
- yang mengakibatkan gelombang tsunami… - [pewarta 2] Akses putus akibat material.
Responden akan terus melakukan penelusuran di kawasan yang terdampak.
- Kami akan kembali kepada Anda… - [pewarta 3] Tsunami menghantam pesisir
dalam hitungan menit setelah gempa besar mengguncang.
Ratusan warga dilaporkan hilang.
Gelombang setinggi belasan meter…
[musik suram mengalun]
Foto ini gue dapat dari Pak Panji.
Pak Panji adalah salah satu anggota tim SAR yang bertugas di Banten.
Dari 29 posko yang tersebar di Banten,
fokus utama kita
ada di posko yang dekat dengan Masjid Al-Mahsyar.
Ini baru lima hari pascabencana gempa dan tsunami,
dan trauma mereka akan bencana masih membekas di hati.
Mereka terpaksa menghadapi kenyataan yang baru.
Trauma kehilangan orang tua.
Beberapa dari kita
melihat foto-foto bencana seperti ini
seperti kita melihat foto-foto bencana yang biasa kita lihat di internet.
Biasa saja.
Ya, karena enggak terjadi di depan mata kita.
Tapi…
dengan bantuan kita, sekecil apa pun,
akan membuat mereka sadar kalau mereka itu tidak sendirian.
Untuk teman-teman yang ingin membantu…
bisa transfer di rekening yang ada di layar ini, atau…
dengan tunai yang akan dikumpulkan oleh teman-teman saya di sini.
Sekian dan terima kasih.
[pria bersorak]
[musik muram mengalun]
Ma, ini boks yang terakhir, ya. Di gudang udah enggak ada lagi.
[Laras] Hmm.
Udah, biarin. Biarin, Mama aja yang pakaian.
Kamu mendingan urus ini, mainan-mainan lama kamu.
Udah Mama pisahin juga, siapa tau masih ada yang mau kamu simpan.
- Iya. - [Malik] …perkembangan Tsunami Banten.
- Jadi, kami sudah berkoordinasi… - Ma, Papa, Ma.
…dengan pemprov Banten untuk memastikan semua bantuan tersalurkan dengan baik.
[Laras] Si Papa rambutnya beda lagi.
Yah…
Tetap aja Papa ganteng.
- [Arya] Oh, iya. - [musik lembut mengalun]
- Gambar aku waktu kecil Mama simpan? - Mana? Lihat.
[Arya] Ini.
[Laras] Iya, lagi.
Aku kira udah Mama buang.
Ya, masa Mama buang?
Lucu banget begitu. Itu kan, kenangan kamu waktu kecil.
Dulu, kamu pernah nangis-nangis pulang sekolah,
gara-gara guru agama kamu di kelas bilang,
"Kita enggak akan pernah tau
dosa apa yang kita lakuin yang bisa bikin kita gagal ngelewatin Sirat.
Jatuh, deh, ke neraka." Katanya.
[musik menegangkan mengalun]
- Asalamualaikum. - [Arya dan Laras] Waalaikumsalam.
[Arya menghela napas]
- Pa? - [Malik] Hmm?
Besok aku ke posko. Papa jadi blusukan, enggak?
Belum tau.
[mengesah]
[pria di video] Halo, saya baru kena tsunami.
Saya selamat, tapi…
ketimpa puing, enggak bisa nyelamatin anak saya.
[musik sendu mengalun]
Azka!
[terisak] Saya sendiri di sini. Tolong, tolong selamatin anak saya.
Tolong kirim bantuan ke sini secepatnya.
Ke Desa Asah. Asah…
[musik menegangkan mengalun]
REKAM
REKAM
[Arya] Pa…
Lihat, deh, Pa.
Aku nemu gambar waktu aku kecil, Pa.
Nih, Pa. Lihat, Pa. Ada yang kita bertiga, Pa.
- Ngelewatin jembatan Sirat… - Hei.
Ya?
Papa udah ngelakuin kesalahan besar.
Pa?
[musik kresendo]
[musik sendu mengalun]
[mengesah]
Mau ke mana? Papa mau pergi lagi?
[mengesah]
Iya, ada yang harus aku urus.
- [musik mencurigakan mengalun] - [bernapas berat]
Kamu tidur dulu aja, ya. Enggak usah nungguin aku.
Oke.
- Pak. Kuncinya. - Ya?
Iya, makasih.
[decit bel mobil]
Enggak usah, saya cuma ada urusan sebentar.
Maaf, Pak, tapi Bapak tahu, kita harus tetap ikuti protokol.
Ke mana pun Bapak pergi, saya wajib mengawal Bapak.
[debak pintu mobil ditutup]
Udahlah. Saya istirahat aja.
[pintu diketuk]
[Malik] Arya.
- Ada apa, Pa? - Arya…
Papa butuh bantuan kamu.
[musik seru mengalun]
[deru starter mobil]
[pengawal] Tunggu, Mas Arya.
Ada apa, Pak?
[musik menegangkan mengalun]
Ini ada di luar.
Oh, iya. Ini… Lupa saya.
- Makasih, ya, Pak. - Hati-hati, Mas Arya.
Halo?
[Arya] Pa? Udah aman, Pa.
Sebenarnya kita mau ke mana, sih, Pa?
Ke rumah lama kita.
Ini… ada hubungannya sama kesalahan Papa?
[mengesah]
Bukan cuma kesalahan, Arya.
Ini dosa besar.
[musik mengeras sejenak]
- Papa udah… - [detak berulang lampu sen]
[mengesah] Masuk tol, ya?
[denting sabuk pengaman]
Bentar, Pa, ini… Emang agak ke dalam ini.
- Tunggu bentar. - Biar Papa aja. Kamu fokus nyetir.
[raungan klakson]
[gerantang]
[decit ban]
[debum keras]
[gelobok]
[musik menegangkan mengalun]
[mengerang]
[musik seru mengalun]
[berseru] Pa!
Pa!
[tersengal-sengal]
- [musik suram mengalun] - [terengah-engah]
[batuk]
[tersengal-sengal]
[banyak orang berbahasa Arab] Tiada Tuhan selain Allah.
[musik mencekam mengalun]
[bernapas berat]
[pria] Ya Tuhan kami…
Ampunilah dosa-dosa kami…
[mengerang]
[bahasa Indonesia] Ma?
[menggumam, batuk]
[Laras] Arya.
Sut…
[tersedak]
Ma, Papa mana?
[Arya] Ma?
Tenang dulu, ya?
- Aku mau ketemu Papa, Ma. - Iya.
- Ya, Papa mana? - Iya, Arya. Arya bisa tenang?
[musik sedih mengalun]
Arya, Mama minta kamu yang kuat, ya?
[terisak pelan]
Papa…
Papa udah dimakamin kemarin.
[musik mengeras]
Kita harus ikhlas, ya?
- Enggak. Enggak mungkin. - Eh, kamu…
- enggak boleh gitu. - Enggak mungkin.
- Arya. Arya! - Aku mau ketemu Papa sekarang.
- Arya jangan gini… - Mau ketemu. Papa di mana? Kamar berapa?
- Arya, jangan gini. - Aku mau ketemu Papa!
- Aku masih… Papa ada di sebelahku! - Papa udah pergi.
- Enggak, Papa di mana? Aku mau ketemu! - Arya, Papa udah pergi!
Papa udah enggak ada.
- Pasti gara-gara aku, Ma, Papa meninggal… - Enggak. Arya, dengarin Mama. Enggak.
Arya, Mama butuh kamu kuat, ya?
- Papa meninggal gara-gara aku. - Enggak, Arya.
[terisak-isak]
[mengesah] Kita ikhlasin Papa, ya?
Yang penting, Mama sama kamu.
- [terisak] - Ya, 'kan?
[derak pintu dibuka dan ditutup]
Asalamualaikum.
Pengemudi truk yang menabrak Malik sudah menyerahkan diri.
Dia mengaku salah, dan katanya ngantuk.
[menghela napas]
Dan… [mengemu] Tapi saya pastikan
hukum tetap berjalan hingga dia bisa mendapat ganjaran yang setimpal.
Satu ini… Saya enggak enak sekali bicara sama kamu. Gimana, ya?
Pemerintah mau segera menarik semua fasilitas Malik.
Tapi kalo misalnya kamu masih butuh waktu, Arya masih butuh waktu…
[bahasa Inggris] Pelan-pelan saja.
[bahasa Indonesia] Saya bisa atur itu semua.
Enggak apa-apa.
Saya dan Arya juga enggak pantas untuk menerimanya.
Ya, mungkin lebih baik…
diserahkan aja fasilitasnya untuk calon wakil menteri yang baru.
Itu satu lagi, ya. Itu kenapa Malik menolak protokolnya pada malam itu.
Kalau saat itu dia dan Arya
pergi bersama pengawal, kan, kejadiannya tidak seperti ini.
Arya baru siuman.
Jadi, saya belum berani nanya-nanya soal kejadian malam itu.
- Ya udah. Udah. - Iya…
[pengawal berbisik]
[mengesah] Saya minta maaf, saya harus pergi.
Saya turut berdukacita sedalam-dalamnya.
Saya sangat kehilangan.
Kalau kamu dan Arya butuh apa, kamu segera hubungi saya kapan pun. Ya?
Saya serius. Kapan pun.
Ya. Terima kasih, ya.
Pak.
Panji?
[mengemu] Maaf, aku baru sampai sekarang.
Selama enam harian, aku mencari korban yang masih hilang. Jadi, aku baru bisa…
Enggak. Enggak apa-apa. Beneran, enggak apa-apa.
Arya gimana keadaannya?
Arya…
udah siuman.
- Syukur alhamdulillah. - Alhamdulillah.
Gimana keadaan kamu?
Enggak tau, ya.
Aku enggak bisa rasain apa-apa.
Yang ada di pikiran aku, Malik masih ada.
Lagi nungguin dia pulang kerja.
Ketemu sama aku, ketemu sama Arya.
Siapa tau ini bisa…
Belum sebulan Malik ngasih ini.
[musik sendu mengalun]
Ternyata untuk yang terakhir kalinya.
Kamu kan, pernah bilang kangen terjun ke lapangan.
Kalo kamu mau jadi relawan medis lagi, ya, tinggal bilang aja.
Siapa tau itu bisa ngebantu kamu ngelewatin masa-masa sulit.
[berembus]
Enggak, Ji. Aku enggak mungkin balik ke sana.
Itu kan, tempat pertama kali aku ketemu sama Malik.
[mengesah]
Orang setulus dia…
Kok aku bisa enggak tau, ya?
Dia ngelakuin ini semua karena dia mau…
Dia mau pergi selamanya.
Ini terlalu cepat, Ji.
Mestinya…
[terisak-isak]
Biarpun kita tau orang yang kita sayangi bakal pergi,
kita enggak akan pernah siap.
Yang harus kita tau…
semua ada batas waktunya.
Makasih, ya.
Makasih udah jadi teman yang baik buat aku.
Permisi, Bu Laras. Bisa ikut saya sebentar?
Iya, bisa.
Kalo kamu butuh apa-apa, bilang aja, ya.
Iya.
[musik lembut mengalun]
[Malik berbahasa Inggris] Selamat ulang tahun, Mama.
[Laras berbahasa Indonesia] Apaan, sih?
- Apa ini? Arya! - [Arya, Inggris] Selamat ulang tahun!
[Malik berbahasa Indonesia] Ini jadi pengganti kalo misalnya aku hilang.
- Kamu bisa-bisanya mengejutkan aku. - [Malik tertawa]
- [Laras] Mana? Coba lihat. Mau lihat. - [Malik mengecup]
- [Arya] Mau, dong! Ikut! Papa ikut! - Terima kasih.
[bahasa Inggris] Selamat ulang tahun, Sayang.
- [Laras, bahasa Indonesia] Terima kasih. - [Arya, Inggris] Selamat ulang tahun, Ma!
[musik menegangkan mengalun]
[Malik bersuara serak] Arya.
[musik mencekam mengalun]
[bahasa Indonesia] Papa.
[berembus]
[musik kresendo]
[Malik mengesah seram]
[musik makin intens]
Tolong Papa…
[berteriak]
Ma?
Arya? Arya!
[Arya bernapas berat]
Arya, kamu kenapa?
[terengah-engah]
Tadi… Tadi aku lihat ada Papa di sini, Ma.
- Ini… Tadi ada darah di sini. - Arya.
Aku lihat Papa di situ terluka, Ma.
- Arya! - Papa…
Papa kesakitan, Ma, tadi. Tadi Papa minta tolong sama Arya, Ma.
- Tadi… Tadi ada Papa di situ. - Arya, kamu cuma mimpi.
[tercekat]
Kamu cuma mimpi.
Mimpi.
Mama tau, ini berat buat kamu, ya?
Tapi kamu harus ikhlasin Papa.
[musik sendu mengalun]
[kicauan burung-burung]
[Arya] Dulu…
setiap ngobrol sama Papa…
ada yang selalu pengen aku omongin sama Papa.
Tapi selalu aja aku tunda-tunda.
Jadi, aku minta maaf…
kalo aku bisa ngomongnya sekarang.
Aku bangga banget sama Papa.
Aku banyak belajar sama Papa.
Aku masih belajar gimana caranya jadi orang yang baik.
Jujur.
Tulus.
Terima kasih atas semuanya, Pa.
[berembus]
- Kita jalan? - [Arya mengesah]
Ya.
Asalamualaikum, Pa.
Asalamualaikum.
Arya pamit, Pa.
[musik sendu berlanjut]
[musik menegangkan mengalun]
[musik suram mengalun]
[Arya berembus]
Oke.
[mengemu]
[menghela napas]
- [derak berulang] - [musik mencekam mengalun]
[musik mencekam berlanjut]
- [gelebap] - [musik mencekam mengalun]
[musik mencekam berlanjut]
[mengerang seram]
- [Malik menggumam seram] - [Arya berteriak]
- [Arya] Tolong! - [bersuara serak] Tolong Papa…
- [Malik bersuara serak] Arya… - Papa?
[Laras] Arya?
Arya! Kenapa?
[terkesiap]
Ma, Papa… Ma.
Ma, di malam aku sama Papa kecelakaan,
Papa ngajakin aku ke rumah lama.
Katanya, Papa mau perbaiki dosa besar Papa.
- Dosa besar? - Iya.
Kita harus ke rumah lama, Ma, supaya Papa bisa tenang.
[musik seru mengalun]
Arya.
[jangkrik mengerik]
[musik menegangkan mengalun]
[gemerencing kunci]
[musik menjadi pelan]
Kalo rumah ini ada kaitannya sama dosa besar Papa,
apa yang Papa lakuin di sini?
[musik menegangkan mengalun]
[Arya] Apa yang udah Papa sembunyiin di sini?
[mengesah]
[musik menegangkan berlanjut]
[musik kresendo]
- [berteriak] - [debak-debuk]
Arya!
[menghela napas]
[musik menegangkan mengalun]
Ma.
[Arya] Ini uang siapa, Ma?
[Laras] Uang semua?
[Laras] Mama nemu ini di meja kerja Papa.
[musik menegangkan mengalun pelan]
[Malik di rekaman] …enggak ngerti.
Tadi kamu bilang soal video?
[Malik] Itu gimana maksudnya?
[pengawal] Staf TI melapor ke saya.
Ada korban tsunami di Banten yang mengunggah video ke Facebook.
Dia berharap agar cepat dapat bantuan.
Posisi korban terimpit bangunan.
Terisolasi.
Korban itu berasal dari Desa Asah.
Desa Asah?
[mengesah] Masih ada yang selamat, ya?
- Kamu ke TI. Sudah dihapus videonya? - Siap, Pak.
Satu lagi.
Pantau media sosial, jangan sampai video-video sejenis itu keluar.
- Baik, Pak. - Tunggu. Saya mau lihat dulu videonya.
[Alim] Buat apa?
[musik mencurigakan mengalun]
Kamu sudah buat laporan pengeluaran untuk Desa Asah?
Laporan pengeluaran untuk Desa Asah itu sangat penting.
Kalau itu ada, orang-orang akan melihat
bahwa kita sudah memberikan dana untuk Desa Asah.
Dan orang-orang tidak akan bertanya lagi.
[mengesah] Jadi, dengan begitu, kita akan lebih mudah mengambil dana dari sana.
Hei.
Dibuat. Ayo, laporannya. Segera.
Tap, tap, tap…
[Alim] Begitu.
Hei.
[musik menegangkan mengalun]
- Sudah? - Iya, Pak.
- Siang, Pak. - Siang.
Saya ambil videonya.
Apa Pak Alim sudah setuju?
Kamu itu bawahan saya. Kirim ke surel saya.
[musik mereda]
Oke.
Di sini, kan… Ini dana bantuan buat Desa Asah. Udah cair.
Baru cair tahap pertama.
Ini ada laporan pengeluaran tahap-tahap berikutnya…
Dua…
Tiga…
Udah dibikin sama Papa.
[mendeham]
Bentar. Ini… Aku enggak ngerti, deh. Ini…
Maksudnya Papa bikin laporan palsu, gitu? Enggak, 'kan?
Kamu dengar sendiri, 'kan, di rekaman?
Pak Alim, ada Papa,
mereka semua ngerencanain buat ambil uang dana bantuan, termasuk Desa Asah.
[berembus]
Enggak mungkin.
Kesalahan…
Kesalahan?
Iya, kesalahan ini kesalahan yang Papa sembunyiin dari kita.
Aku enggak percaya Papa ngelakuin hal kotor kayak gini. Ini bukan Papa.
Terus, itu apa?
Terus, semua uang di dalam sana apa?
Itu semua dana yang udah cair tahap pertama.
Ini, minggu lalu, bukti-bukti transfer tadi…
Tapi coba kamu lihat di sini. Ini beda lagi.
- Ma… - Ini Papa yang bikin laporan, 'kan?
Kita enggak tau apa-apa soal ini. Jangan asal nuduh Papa.
- Ini Papa yang bikin! - Kita enggak tau! Mama enggak dengar?
- Alim yang pengaruhin Papa! - Arya, uang itu ada di sini!
Ada di rumah Papa, di rumah kita berdua!
Papa enggak ngejelasin apa-apa sama kita
- soal ini! - Papa enggak jelasin? Papa udah mati!
[Laras berembus]
- [musik sendu mengalun] - [Laras menghela napas]
Aku enggak nyangka Mama enggak percaya sama Papa.
[berembus]
Semua pasti rencana Alim.
[mengesah]
[mengesah] Malik…
[musik romantis mengalun]
Cantik.
Coba, aku mau lihat.
[musik menegangkan mengalun]
[gemuruh, degar]
[bersuara serak] Kamu bahagia, 'kan?
- [gerantang] - [bernapas berat]
[mengerang seram]
[Laras memekik]
[Malik bersuara serak] Tolong…
- [teriakan wanita] - [bernapas berat]
- [Laras terengah-engah] - To…
[berteriak]
[Malik bersuara serak] Tolong…
[bersuara serak] Tolong…
- [menjerit] - [Malik mengerang seram]
[degar]
[jeritan]
[Laras berteriak]
[Panji] Pelan-pelan.
Ayo…
Ya, pelan-pelan. Pelan-pelan.
Kaki dulu masuk.
[korban pria] [terengah]
[Jiyat] Gespernya…
[musik suram mengalun]
[derak gerobak]
Pak, sudah… Sini, saya bantu. Saya bantu, ya.
Sebentar.
- Saya bantu. Sebentar. - [korban] Ya.
[musik mengeras]
- Ayo, Pak. Pelan-pelan. - Iya, Pak.
Ya, Pak.
Ahmad, Jiyat!
[Panji] Masuk.
Ini, Pak.
- [korban] Terima kasih. - [Panji] Iya.
Terima kasih, Pak.
[gelegak]
[korban mengerang pelan]
Bapak dari desa mana?
[mengemu] Desa Asah.
Di tempat saya enggak ada bantuan yang datang.
Saya harus mencari istri saya berhari-hari sendirian.
Itu istri Bapak?
Iya, Pak. Istri saya.
[gagap] Saya cuma mau istirahat sebentar, Pak.
[mengesah]
Saya mau makamin istri saya di kampungnya.
Baik. Biar kami bantu, ya, Pak? Ya?
Terima kasih, Pak.
[meringis]
- [Panji] Jiyat? - [Jiyat] Ya?
Luka segede ini.
[Jiyat] Siap.
- Ahmad! - Ya, Pak?
[Ahmad] Pak?
- Masih punya daftar tim SAR aktif? - Ada, Pak.
- Minta yang Desa Asah, dong. - Siap, Pak.
[Jiyat] Ya, Pak. Maaf, ya.
- [meringis] - Kakinya bisa digerakin, Pak?
Ini, Pak.
- Lanjut. - Siap.
[korban pria terengah]
[Jiyat berbicara samar]
[Panji] Kok enggak ada yang gua kenal semua, ya?
[tik berulang kibor]
[musik menegangkan mengalun]
Jadi, kamu mau gertak Om gitu, ya, dengan kertas-kertas ini?
Saya punya rekaman suara Om dan Papa.
Ngomongin penggelapan dana bantuan Desa Asah.
Dan saya di sini enggak bermaksud menggertak Om.
Saya di sini cuma pengen tau kenapa Papa saya ikut terlibat.
Karena saya yakin. Pasti Om, 'kan,
yang nyuruh Papa saya menyembunyikan dana bantuan Desa Asah tahap pertama?
Kamu pikir kalo ini duit Om?
Ya, Om. Semuanya ada di kertas.
Itu duit papa kamu.
[Alim mengemu]
Jangan nuduh papa saya, Om. Saya tau papa saya pejabat jujur.
[mendecak] Eh.
Kamu mau minum apa? Teh, kopi, susu?
Jangan terlalu naif, Arya.
Tak butuh waktu lama untuk pejabat publik seperti papa kamu masuk ke barisan kami.
Memang papa saya salah…
tapi papa saya enggak kayak Om.
- Papa saya menyesal. - Salah?
Definisi "salah" di sini aja Om bingung.
Oh, iya. Kamu belum berkeluarga, ya? Belum punya anak, istri.
Jadi, gini. Suatu saat, pasti kamu akan paham.
Tidak ada yang salah dari laki-laki yang ingin membahagiakan anak dan istri.
Maksudnya apa?
Duduk.
[derak pintu terbuka]
Arya? Ayo makan.
Arya?
Kamu datangin Alim?
Mobil aku.
Kalung Mama.
Papa beli pakai uang dana bantuan Desa Asah.
Aku enggak percaya sama Papa, Papa setega ini sama manusia.
Percuma yang Papa ajarin ke aku.
Kita harus buka kasus ini, Ma.
Aku udah enggak peduli Papa akan dipandang apa sama orang lain, tapi yang jelas
pejabat sebusuk Alim harus diadili.
Oke.
[mengesah]
Terus, apa?
Kalo kasus ini terungkap,
pemerintah jadi tau semuanya…
berarti…
dosa Papa akan selalu ada.
[musik sendu mengalun]
Kita selesaiin apa yang lagi Papa perbaikin.
Ya?
Perbaikin?
Buat apa?
Buat apa perbaikin kesalahan pencuri?
Buat apa?
Karena dia masih papa kamu.
Udah, pokoknya percaya sama Papa. Oke?
- Kita hitung bareng-bareng, ya, Arya. - Di sini, nih?
- Satu, dua, tiga. - Dua, tiga.
[bahasa Inggris] Kejutan!
[terkesiap]
[bahasa Indonesia] Bentar, Pa. Ini yang tipe Frontier?
[bahasa Inggris] Ya.
- [bahasa Indonesia] Ini punya siapa, Pa? - Ya, punya kamu. Masa punya tetangga?
- Ini beneran punyaku? - Ya.
- Makanya… [tertawa] - Makasih, Pa!
Coba.
Wah, ini benar tipe yang aku mau!
[tergelak]
- Ini beneran punyaku, Pa? - Punya kamu.
Persis seperti yang kamu mau, 'kan?
Pa, ini bisa dicoba, enggak, Pa?
Ini.
[bahasa Inggris] Ayo.
- [bahasa Indonesia] Kita coba sekarang. - Sekarang?
- Sekarang! Ayo. - [Arya berseru]
- [Arya berbahasa Inggris] Ayo! - [Arya dan Malik bersorak]
[bahasa Indonesia] Cepat banget, Pa! Ini kencang banget, sih!
Tenaganya berasa banget.
Ini kalo ngedaki, sih, enggak ada masalah, Pa.
- Daki terus, naik terus. - Iyalah. Akselerasinya juga mantap ini.
- Iya. Ini. - Wah…
[Arya dan Malik menggumam kagum]
[Arya] Wah!
Papa tau, lah, kamu udah ngincer ini sejak lama.
Ha?
Kok Papa bisa tau, sih? Papa lihat galeri Arya, ya?
[keduanya tertawa]
- Apa yang Papa enggak tau soal kamu? - Curang.
- [bersorak] Mantap banget nih. - Wah, mantap.
Papa, sih, seharusnya enggak ngelakuin itu ke mereka.
Ha? Maksudnya?
Seharusnya Papa enggak ngelakuin ini ke mereka.
"Mereka" tuh siapa maksudnya, Pa?
[musik menegangkan mengalun]
Lho? Ini kenapa?
Pa, ini kok mobilnya mati, ya?
[derak kunci diputar]
Papa?
Pa?
Pa?
Papa?
[musik mencekam mengalun]
Papa?
[musik kresendo]
[merejan]
[musik mencekam berlanjut]
[musik makin intens]
[gemeretak]
- [bersuara serak] Arya! - Papa!
- Pa! - [bersuara serak] Arya…
- [bersuara serak] Tolong Papa, Arya… - Pa!
- Pa! Jangan, Pa! - Tolong…
- Pa, jangan, Pa! Pa! - Arya…
Pa!
[berteriak]
[terengah-engah]
[ustaz di video] Ketika masing-masing hendak dikembalikan ke jasadnya,
Allah menahan roh orang yang sudah mati di sisinya,
dan Allah melepaskan roh orang yang masih hidup ke tubuhnya.
Artinya, ada mimpi khusus yang terjadi
atas izin Allah SWT.
Mimpi khusus inilah yang menjadi dimensi
tempat pertemuan roh orang yang sudah mati dan roh orang yang masih hidup.
Biasanya mimpi khusus ini terjadi
karena roh orang mati ingin menyampaikan pesan
atau meminta tolong untuk urusan dunianya yang belum selesai.
[Arya] Ma?
Mama mimpiin Papa semalam.
Aku juga.
Di mimpi,
Papa minta tolong sama Arya.
Minta tolong buat bantuin nyeberang.
Mungkin yang Papa maksud itu bantuin nyeberang Jembatan Shiratal Mustaqim, Ma.
Ini mungkin kenapa setelah aku kecelakaan,
aku mimpiin jembatan itu.
Udah tugas kita, keluarga yang masih hidup,
untuk nyelesaiin semua utang dan tanggung jawab Papa.
Cuma kita yang Papa punya, Arya.
Mama nemuin video ini.
- Ini. - [klik kibor]
[mengesah]
[pria di video] Saya selamat, tapi…
ketimpa puing, enggak bisa nyelamatin anak saya.
[terisak] Azka!
[pria di video terisak] Saya sendiri di sini.
Tolong selamatin anak saya.
Tolong kirim bantuan ke sini secepatnya.
Ke Desa Asah.
Azka!
- [menghela napas] - [musik suram mengalun]
Dengan begini,
apa dosa Papa masih bisa diampunin?
Apa ini udah terlambat?
Oke, kalo dari ceramah yang barusan Mama lihat…
sebelum terjadinya kiamat…
arwah orang yang meninggal itu ditempatkan di alam kubur. Ya, 'kan?
Tapi dosanya masih bisa diampunin.
Selama keluarga terdekat mau nyelesaiin semua urusan almarhum yang belum selesai…
Mama yakin, Papa pasti punya kesempatan, 'kan?
Ya.
[dering bel rumah]
Pak?
Ada perlu apa, ya?
Paket, Mas.
Oh…
[musik menegangkan mengalun]
Pak? Kayaknya saya pernah lihat Bapak. Di mana, ya?
[musik menegangkan berlanjut]
Apa, Arya?
[musik dramatis mengalun]
Terus, kita harus gimana, Ma?
Kita harus pindah ke tempat yang lebih aman.
[musik dramatis berlanjut]
Habis itu, Mama jual kalung Mama,
terus nanti hasilnya bisa digabungin sama uang-uang yang kita temuin.
Totalnya bisa kita beli bahan-bahan bantuan buat Desa Asah.
Kita jual aja mobil Mama.
Berapa pun hasilnya, yah, yang penting laku.
Pokoknya, kita kembaliin apa pun yang Papa ambil dari Desa Asah.
Selebihnya, dana bantuan yang udah telanjur dikorupsi sama Alim,
itu urusan dia sama Tuhan.
- Baik. Saya terima, ya. - [Laras] Ji.
Kamu masih kontakan sama teman kita? Yang di bisnis farmasi?
- Si Fattah, 'kan, maksud kamu? - [Laras] Ya! Iya, Fattah.
Ada, nanti aku kirim lewat pesan ke kamu.
[mengemu] Nanti malam kamu berjaga di posko mana?
Di Posko Tujuh. Ada apa, sih, Ras?
Nanti aku jelasin.
- Kalau ada apa-apa… - Santai.
[musik dramatis mengalun]
Oke.
[percakapan samar]
- [deru mesin truk] - [musik dramatis berlanjut]
Ma. Ambil Tol Merak, Ma.
Oke.
[pria memakai pengeras suara] Mohon perhatian.
Berdasarkan informasi BMKG,
gempa susulan masih mungkin terjadi.
Jika terasa guncangan,
segera mencari area terbuka dan tetap tenang. Perbekalan, obat…
[musik menegangkan mengalun]
- [para warga] Pak! - [pengawal 1] Ya. Sabar.
Bergantian. Sabar boleh? Bergantian.
- [musik menegangkan berlanjut] - [pengawal 2] Sabar, Bu, ya.
[pengawal 1] Sehat-sehat, Semuanya.
- Ya, Bu. - Bergantian.
- Ya. - [wanita] Makasih, Pak.
[percakapan samar]
Masuk. Ya.
Sama Bapak, ya.
[korban mengaduh]
[para korban mengaduh]
[musik kresendo]
- Ini benar enggak ada yang kamu kenal? - Tidak ada, Pak.
[bayi menangis]
Ya udah, deh. Bantuin Pak Ricky, sana.
Siap.
[derak berulang]
[menghela napas]
Aku butuh bantuan kamu, Ji.
Sebentar…
Ini bantuan dari mana? Laras?
Ada penggelapan dana bantuan ke Desa Asah.
[Panji] Penggelapan dana?
Malik?
Terus, siapa yang bikin data fiktif ini?
Ini kok sama kayak laporan pengeluaran palsu yang Papa bikin, ya?
Iya.
Itu data tim SAR yang pergi ke Desa Asah.
Setelah aku cek, nama-nama mereka enggak ada di BASARNAS.
Ya udah. Berarti jelas, 'kan?
Ini semua cuma buat nutupin aja.
Desa itu enggak pernah dapat bantuan apa-apa.
Ini udah sepuluh hari, Om, setelah bencana gempa dan tsunami.
Selama itu Desa Asah bertahan tanpa bantuan.
Belum lagi, tadi aku dengar kemungkinan besar ada gempa susulan.
Kita harus cepat nolongin mereka, Ji.
Kalo enggak, korban terus bertambah.
Ini kan, prosesnya ribet.
- Biar aku ngomong sama mereka, nanti… - "Mereka" siapa?
- Pemerintahan, Ras. - Pemeri… Yakin?
- Kita ngomong sama Pak Alim, dia di sini… - Alim terlibat.
Pak Alim?
Kalo sampai Alim tau kita ikut campur sama dana bantuan ini,
Alim pasti akan ngehabisin kita, Ji.
Ngehabisin aku sama Arya.
Alim yang ngerencanain, Om, penggelapan dana tahap-tahap berikutnya.
Jadi, Alim berusaha semaksimal mungkin supaya Desa Asah tetap terisolir.
Enggak… Ini terlalu berisiko buat kalian. Ya?
Udah, biar aku dan tim SAR yang kirim bantuan ini.
Alim aja bisa masukin data fiktif, 'kan, ke tim SAR kamu?
Ya, berarti udah punya kontrol orang dalam, dong, di tim kamu?
Tolong, Om.
Ya udah.
Aku siap-siap dulu.
Ini kan, kalung aku.
[mengemu]
Ya, aku nemu di kantor lama kamu, waktu kamu masih jadi relawan.
Kalian tunggu di mobil aja, ya? Biar aku siap-siap.
- Oke. - Ayo, Ma. Ayo.
Yuk.
[musik menegangkan mengalun]
[anak-anak riuh bermain]
[tertawa pelan]
- [Malik] Tahan. - [Arya kecil bersorak]
[Arya kecil] Hore! Aduh!
[Malik tertawa]
[bersorak]
- Gimana, Arya? - Enak.
- Segini aja. - Ayah!
- Pak? - Ayah!
- Arya, tunggu. - [wanita] Mas! Mas, tolong, Mas!
Kamu tunggu sini dulu, ya?
[perempuan] Ayah!
[terisak] Ayah bangun, Ayah! Ayah, bangun!
Arya.
Ayah!
[perempuan menangis]
- Pa? Papa? - [Malik] Ya?
Kenapa papanya anak tadi enggak bangun?
[musik sendu mengalun]
[kertak barang jatuh]
Arya.
Semua manusia yang hidup pasti akan pergi.
Pergi ke mana?
Pergi ke kehidupan berikutnya. Akhirat.
Tapi aku enggak mau Papa sama Mama pergi. Aku maunya kita sama-sama terus.
Dulu, Papa juga sama takutnya kayak Arya,
ketika ayahnya Papa, Kakek, meninggal dunia.
Tapi sebelum pergi, Kakek pernah bilang
kalo nanti di akhirat, ada satu-satunya tempat buat kita berkumpul lagi.
- Namanya sur… - Ga.
Surga.
Nah, di surga, kita bisa berkumpul lagi, dan enggak bakal kepisah lagi.
Gimana caranya bisa ke surga?
Udah, Arya bobo aja dulu sekarang, ya?
Besok Papa ceritain lebih lengkap. Oke?
Oke.
[kecup]
[bahasa Inggris] Selamat tidur, Sayang.
[Laras berbahasa Indonesia] Aduh, serius banget gambarnya.
Udah sampai mana?
[Arya] Udah di Jembatan Shiratal Mustaqim, Ma.
[Laras] Waduh.
- Pa? - [Malik] Hmm?
Ini kok gambarnya jadi tentang akhirat, sih?
Oh, itu karena kejadian di taman kemarin itu, lho.
Oh… Iya.
Bagus, ya.
- Terus, ini apa? - Jembatan.
Jembatannya kok gede banget?
Bukannya Shiratal Mustaqim itu tipis kayak… Apa tuh?
[mengemu] Rambut dibelah tujuh.
Kenapa? Eh, Mama salah, ya?
- Jelasin. - "Rambut dibelah tujuh" itu cuma kiasan.
Manusia yang pahalanya dikit bakal susah lewatin Sirat,
susahnya itu kayak lewatin rambut tipis dibelah tujuh.
Jadi, bukan bentuk jembatannya yang setipis
- rambut tipis dibelah tujuh. - [Laras] Jadi?
Terus, tiap manusia nanti ada tantangannya sendiri-sendiri,
tergantung amal dan dosanya. Benar, 'kan, Pa?
Benar, kamu benar banget.
Tuh, Ma. Mungkin Allah pengen dia belajar soal akhirat dari kecil.
[tertawa kecil] Iya.
[musik seru mengalun]
[jangkrik mengerik]
Ini puing-puing dari Desa Asah?
Bisa jadi.
Enggak ada desa di dekat sini selain Desa Asah.
[warga desa] Tolong!
Stop!
[depus mesin kendaraan]
- [warga desa] Tolong! - Kenapa, Ma?
Dengar, enggak, tadi?
[musik menegangkan mengalun]
[derak pintu mobil dibuka dan ditutup]
Halo?
[musik mengeras]
[Laras] Halo?
Halo?
[warga desa] Tolong!
- [Laras] Kenapa, Ji? - [mengerang]
[mendengus]
[terkesiap]
[Laras terengah-engah]
[musik dramatis mengalun]
[Malik] Pagi tadi,
bantuan dana tahap pertama sudah cair untuk sebagian besar wilayah terdampak,
dan…
laporan yang Bapak Menteri lihat adalah
kebutuhan medis pangan, Pak, untuk per lokasinya.
Iya.
Ini yang kamu tanda tangani.
Yang ini, kamu simpan.
Ini laporannya beda, Pak. Kenapa… Kenapa disimpan, Pak?
Dana dari pemerintah yang akan turun untuk pemulihan Desa Asah menyentuh 100 miliar.
Setengahnya bisa kita ambil, tapi kita harus bersabar
karena turunnya pasti akan bertahap.
Dua puluh lima miliar yang tahap pertama sudah saya bagi rata.
Kamu sudah terima, dong, dua miliar kemarin?
Pak Menteri, tapi ini beda, Pak. Ini bencana alam, Pak.
Sama aja!
Duduk.
Saya…
Saya akan menyerahkan yang dua miliar itu ke Desa Asah, Pak.
Saya enggak mau jadi bagian dari dosa ini.
Dosa? Kita enggak mencuri.
Kita hanya mengambil apa yang memang jadi hak kita.
Apa kabar uang kita yang enggak diganti sama negara? Hmm?
Saat negara tidak mau menurunkan dana untuk masyarakat, siapa yang nalangin?
Saya.
Bahkan mungkin uang kamu juga ikut terpakai.
Tapi kan, kita pejabat negara, Pak. Itu sudah tanggung jawab kita.
kita berkorban untuk negara bukan hanya uang,
tapi juga pikiran, tenaga, dan juga waktu.
Total!
Tapi masyarakat dan negara melihatnya kita enggak becus kerja.
Tapi enggak apa-apa. Enggak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang.
Kembali ke masalah yang tadi.
Kita tidak mencuri.
Kita hanya mengambil apa yang menjadi milik kita.
Dan dengan uang itu, kita bisa berbagi lagi.
[bahasa Inggris] Seimbang.
Harmoni.
[bahasa Indonesia] Catat.
[musik dramatis mengalun]
[musik seru mengalun]
[deru mesin kendaraan]
[klik kunci diputar]
[musik sendu mengalun]
[berteriak]
- [mengerang] - [derak pistol]
[berseru]
[deru mesin kendaraan]
[musik menegangkan mengalun]
- Jalan. Masuk! - Ya.
- [Laras] Masuk. - [menggeram]
[terengah-engah]
- [Panji menggeram] - [keletak benda jatuh]
- [berseru] - [mengerang]
Sial!
[mengerang]
[deru starter kendaraan]
[Laras] Gas, Arya!
[berteriak]
[Laras] Panji!
[musik kresendo]
- [debak pintu ditutup] - [meringis]
[Laras] Jalan!
[tersengal-sengal]
[terengah-engah]
Aku ingat orang itu, Ma.
Dia yang nganter paket ke rumah.
Dia nabrak aku sama Papa.
Katanya Alim, orangnya udah ditangkap.
[bernapas berat]
- [musik seru mengalun] - [deru starter motor]
- [Laras] Stop! - [Panji] Stop…
Gimana, Ji?
- Akses keputus. - Ha?
Kita enggak bisa lanjutin perjalanan kita.
Ini akses paling dekat ke Desa Asah.
[Laras mengesah] Terus, gimana?
Apa kita harus jalan kaki?
[Laras] Ya udah, kita bawa aja seperlunya.
Kita bisa bawa beberapa alat medis
sama obat-obatan yang paling dibutuhin.
[Panji] Ya, benar. Begitu kita sampai, kalo ada kekurangan, tinggal balik aja.
- [Laras] Ya udah, gitu aja. - [Panji] Yuk, bantuin.
[jangkrik mengerik]
- Bentar lagi hujan. Kita harus buru-buru. - Oke.
- [deru mesin motor] - [terkesiap]
Gimana nih? Ini gimana?
[deru mesin motor]
[Laras mengemu]
Lurus ke situ. Yuk. Ambil barang-barang ini.
- Oke. - Cepetan.
[mengerang]
[mendengus]
[deru mesin motor]
- [Panji berseru] - [debam motor jatuh]
[musik seru mengalun]
[mengaduh]
[cling pisau diayunkan]
Lari!
Ma! Ma, ayo, Ma! Kita lari, Ma! Ma!
[musik menegangkan mengalun]
- [cling pisau diayunkan] - [mendengus]
[mengerang]
[berseru]
- Lari! - Ma! Ayo, Ma!
Ma, ayo, Ma!
[musik seru mengalun]
[merejan]
[dor pistol dari kejauhan]
Panji!
- Ma! Ayo, Ma! Ma! - Panji!
- Ayo, kita harus pergi sekarang, Ma! - Panji…
Ma! Ayo, kita harus segera pergi!
Ayo!
Ayo!
- [Laras berteriak pilu] - [derau hujan]
- Enggak ada siapa-siapa, Arya! - Cari terus, Ma!
Ayo, tetap cari, Ma! Ayo!
[keduanya terengah-engah]
Ma, ayo, Ma! Ayo, Ma! Ayo!
Ayo, Ma. Ayo.
Ayo, Ma!
[musik dramatis mengalun keras]
[mengerang]
[berteriak]
[keduanya bernapas berat]
Ayo, Ma! Bangun, Ma!
Ayo. Ayo. Ayo.
[mendengus]
[musik menyeramkan mengalun]
[musik mencekam mengalun]
[tangisan wanita]
[wanita] Tolong!
[musik mengeras]
[Laras] Arya! Kita cek.
[Laras terengah-engah]
[wanita] Tolong…
Tolong…
[Laras] Arya!
- Ma? Ayo. - [Laras] Ibu, angkat kaki, ya? Oke.
- Yuk. - Satu, dua, tiga!
[berteriak]
- [merejan] - [dengung besi didorong]
- [Arya dan Laras terengah-engah] - [mengerang]
[Laras terkesiap]
[musik dramatis mengalun]
- [bernapas berat] - [wanita mengerang]
Ini. Ayo. Ayo, Bu. Berdiri, Bu.
[batuk]
[Arya] Ayo.
- [Arya] Bu, ayo, Bu! Ayo keluar, Bu! - [Laras] Arya.
- Sini, Bu! Ayo! - [batuk]
[Arya] Ma! Mama!
Ma!
[musik melankolis mengalun]
[terisak-isak]
[menangis]
- [bernapas sesak] - Ma!
Ma.
Ayo jalan lagi, Bu.
Ma! Ma…
Ayo, Bu. Ayo.
- Kenapa? Oke… Oke. - [wanita terbatuk]
- [musik mengeras] - [Arya dan Laras terkesiap]
Ma? Ini gimana, Ma?
Arya, dia…
Ma, kayaknya kita telat, Ma.
- Kita terlambat. Ini makin banyak korban! - Arya!
- Kita udah enggak bisa nolongin lagi, Ma! - Arya! Arya, dengar Mama! Arya, dengar.
Masih banyak yang butuh kita. Masih banyak!
Kita cari lagi, ya?
[Laras] Ayo!
Ma, bentar, Ma! Ada orang. Bentar.
Ma, ada warga, Ma. Ada warga.
[tersengal-sengal]
- Pak! - Arya…
Bukan…
Arya, bukan!
- Lari! - [klik pistol dikokang]
Arya, lari!
[berteriak]
- [merejan] - [mengerang]
- Laras! - Lari, Arya!
[mendengus]
[merejan]
[mengerang]
- [berseru] - [gemeretak]
- [merejan] - [mengerang]
[musik melankolis mengalun]
[musik melankolis berlanjut]
[Laras terengah-engah]
- [merejan, berseru] - [berteriak]
[debak]
- [musik seru mengalun] - [Laras berteriak]
- [bak] - [mengerang]
[berteriak]
[tercekat]
[bernapas berat]
- [berseru] - [mengerang]
[berteriak]
[keduanya berteriak]
- [pembunuh merejan] - [mengerang]
- [merejan] - [berteriak]
[Laras] Stop!
- Stop! [batuk] - [berseru]
- Stop! - [Arya mengerang]
- [debak-debuk bangunan runtuh] - [Laras meringis]
[Laras berteriak]
- Ma! - [kiang-kiut benda meluncur jatuh]
[bernapas berat]
[berteriak]
[terengah-engah]
Ma!
Mama!
[merejan]
[tersengal-sengal]
[musik melankolis mengalun]
[Arya terengah-engah]
[berembus]
[musik mencekam mengalun]
[Arya kecil] Habis kiamat, semua manusia yang mati pasti akan dibangunin, Ma.
Terus, kita dikumpulin di Padang Mahsyar, Pa.
- [Laras menggumam] - Di sana, amal dosa kita ditimbang.
[Laras dan Malik menggumam]
[Arya kecil] Nah, ini kita lagi lewatin jembatan.
[Laras menggumam]
Ada yang tau, enggak, ini jembatan apa?
- Apa? - Jembatan Shiratal Mustaqim.
- [musik mencekam mengalun] - [banyak orang berbahasa Arab]
[pria] Ya Tuhan kami…
[banyak orang berbahasa Arab] Tiada Tuhan selain Allah.
[pria] Allah…
[raungan hewan]
[orang-orang berteriak kesakitan]
- [kernyau] - [teriakan]
[teriakan]
[bahasa Indonesia] Tapi Arya tau? Shiratal Mustaqim sebenarnya Al-Qur'an.
Jadi, cuma Al-Qur'an satu-satunya jembatan kita ke surga.
[pria berbahasa Arab] Ampunilah dosa-dosa kami…
- [musik mereda] - [berembus]
[bahasa Indonesia] Maafin papa saya…
Maaf, bantuannya telat datang.
Maafin papa saya, Mas.
[musik sendu mengalun]
[pewarta] Sebuah utas Twitter yang dibuat oleh akun anonim viral.
Utas ini berisi bukti-bukti dugaan korupsi dana bantuan bencana Desa Asah di Banten
yang dilakukan oleh Menteri Sosial Alim Budiman.
Hari ini, sidang menyatakan Alim tidak bersalah atas bukti yang tidak kuat.
- Dalam utas, anonim itu menyebutkan… - [ponsel bergetar]
…nama terduga pelaku korupsi lainnya, yakni Malik Pangestu.
[Alim] Nah.
Sudah melihat beritanya, belum?
[musik mencurigakan mengalun]
Sayang sekali, ya?
Hukum di negeri ini tidak bisa menyentuh orang-orang seperti saya.
Dan karena kebodohan kamu,
dana yang seharusnya milik saya dikembalikan pemerintah untuk Desa Asah.
Dan orang bodoh itu harus menerima ganjarannya. Paham, ya?
[menghela napas]
[teriakan orang-orang]
- [musik mencekam mengalun] - [berteriak]
[teriakan]
[musik mengeras]
[teriakan]
[tercekat]
[tertawa pelan]
[Alim tertawa]
- [merengek] - [musik makin intens]
- [bernapas berat] - [debak keras]
[berdoa dalam bahasa Arab]
[musik menegangkan mengalun]
[bahasa Indonesia] Ya Allah…
masukkan kami ke dalam surga-Mu. Amin.
[musik kresendo]
Arya?
[musik dramatis mengalun]
[musik lembut mengalun]
[musik bahagia mengalun]
[musik bahagia berlanjut]
Mama!
Arya?
Arya!
[musik kresendo]
Papa mana, Ma?
[musik mencekam mengalun]
Pa?
Papa.
Papa!
[musik dramatis mengalun]
Pa!
[terengah-engah]
[berteriak]
Papa!
[merejan]
- Mas! - [mengerang]
[Malik] Tolong!
Mas!
Pa! Ayo, Pa! Papa pasti bisa, Pa!
[bernapas berat]
[Laras] Bagus banget, Arya!
- Bagus banget. Akhirnya selesai. - [Malik berbahasa Inggris] Selamat.
[bahasa Indonesia] Pa, berarti kita beneran kumpul di surga, ya, nanti?
- Amin. - Amin.
Punya harapan kayak Arya tadi boleh-boleh aja,
tapi Arya harus ingat, semua itu yang menentukan adalah Allah.
[mengesah] Ya, kalo misal nanti, kita enggak pernah tau,
kita enggak ngumpul di surga,
Papa pengen Arya tau
kalo Papa bangga dan bersyukur banget…
pernah jadi ayah kamu di dunia.
[musik melankolis mengalun]
[Laras] Ayo.
[berembus]
[mengerang]
Itu Papa! Ayo!
- Pa! - Ayo, Pa!
- [berteriak] - [menjerit]
Papa!
[pria berbahasa Arab] Tiada Tuhan selain Allah.
Maha Suci Engkau, tidak ada sekutu bagi-Mu.
Ampunilah kami,
dosa-dosa kami.
Dan Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tiada Tuhan
selain Allah.
Maha Suci Engkau, tidak ada sekutu bagi-Mu.
Ampunilah kami,
dosa-dosa kami.
Dan Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, limpahkanlah selawat, keselamatan, dan keberkahan
kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, serta kepada keluarganya.
[musik dramatis mengalun]
[musik dramatis berlanjut]
[musik menegangkan mengalun]
TERIMA KASIH KEPADA KEPALA DESA DAN MASYARAKAT CISOMANG LEBAK BANTEN
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.