Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitles by OnDemandKorea Ripped by -♥ Ruo Xi ♥-
(Karakter, tempat dan organisasi dalam drama ini adalah fiksi.)
.: Baalthazar :. IDFL™ SubsCrew
Maaf. Maaf. Kau tak apa?
Nasi kotaknya, tak kau beli?
Ya, belilah dulu.
Aku wali kelas Park Ji-min.
Hanyut... secara perlahan... dan mendalam.
Orang yang berbalik dan berpaling artinya...
membangun batu pertama...
dengan banyak kerikil kecil di hati mereka.
Orang yang pergi karena batu pertama...
kembali karena sakit hati akibat batu pertama.
Orang itu menghancurkan batu pertama dan membuat seluruh tubuh jadi batu pertama.
Di mana ada batu pertama tanpa bayangan?
Sinar matahari...
bersinar lebih terang dari batu pertama seperti itu.
.: Episode 3:. Angin Bertiup ke Arahmu
Kejutan.
Bagaimana kau ke sini?
Bagaimana apanya? Aku ke rumah kita apa aneh?
Bukan begitu.
Kau tak memberitahuku.
Kau di mana dan kenapa pulang selarut ini?
Aku hampir gila menunggumu.
Aku membaca buku di sekolah.
Kenapa bekerja sangat keras?
Lagipula kau takkan lama di sekolah itu.
Jung-woo, kau belum makan, kan?
Enak?
Ibu membuatnya seharian dari pagi.
Enak.
Ibu tak perlu repot begini.
Jagiya.
Kita pasutri, kan?
Min-young.
Kau mau daftarkan pernikahan kita?
Daftarkan?
Kita menikah di Amerika.
Itu Amerika, ini Korea.
Aku cuma bercanda dan kau menanggapinya serius.
Kenapa terburu-buru mendaftarkan?
Semua tahu kita sudah menikah.
Tapi secepatnya kita selesaikan.
Agar aku lebih tenang.
Jung-woo, kau sangat lucu.
Perlahan saja, nanti kalau ada waktu.
Aku takkan pergi.
Aku sudah milikmu.
Benar.
Sudah pulang?
Ya.
Kau pulang telat.
Manajerku mengajak ke karaoke.
Baguslah.
Ibu.
Sudah minum obat?
Cinta?
Bukan, kau.
Lehermu baik saja?
Itu sudah agak lama.
Benarkah?
Kau pasti lelah. Cepat mandi.
Ibu.
Kau mau dipijat?
Lehermu...
Tak usah.
Benar, aku bau alkohol.
Maaf. Aku akan mandi.
Sejak beberapa waktu, kami menjadi jam rusak untuk satu sama lain.
Perasaan tak bisa berhenti meskipun sudah rusak.
Sehingga tak pernah cocok walau sekali pun dalam sehari.
Ibu, sedang apa? Bukankah sudah selesai?
Kau bicara?
Ibu, akhir-akhir ini kau sangat aneh.
Apa ada kekhawatiran?
Istirahat kalau perlu.
Tak apa. Cepat duduk. Kau bisa telat.
Gelasnya di sini.
Tak apa, aku saja./ Tak usah, aku saja...
Maaf./ Tak apa.
Tidak. Biar kubersihkan.
Kau tak apa? Kau terluka?
Tak apa. Biar kubersihkan.
Maaf.
Siapa?
Apa aku terlalu pagi?
Tidak. Ada perlu apa?
Waktu itu terima kasih. Waktu pesta di rumahku.
Yang itu.
Ini.
Ketinggalan jadi kubawakan.
Permisi.
Tunggu.
Kau mau masuk untuk minum teh?
Kau bahagia?
Kupikir kau wanita paling bahagia di dunia.
Aku tak pernah bahagia atau tak bahagia.
Terkadang bahagia, terkadang tak bahagia.
Ji-eun.
Kau pernah mencintai pria selain suamimu?
Tak pernah.
Aku hanya mencintai suamiku.
Dia cinta pertamaku.
Dan juga akan jadi yang terakhir.
Aku percaya dia cinta pertamamu.
Tapi kau harus terus jalani hidup untuk tentukan cinta terakhirmu.
Tidak.
Itu takkan pernah terjadi.
Setidaknya dalam kehidupanku.
Sangat menyedihkan, kata-kata kau takkan jatuh cinta lagi.
Sepertinya ada salah paham.
Aku sangat membenci perselingkuhan.
Perselingkuhan dan cinta berbeda?
Tentu berbeda.
Kau sangat polos.
Tapi...
cinta tak dapat dikendalikan oleh kehendak.
Seperti tak bisa menahan bersin.
Pulanglah. Aku harus segera berangkat kerja.
Ji-eun. Jalani hidup sambil bertemu orang-orang yang ingin kau temui.
Hidup ini singkat.
Tak seperti itu. Kenapa selalu bicara begitu?
Karena aneh kau menyangkalnya. Seperti menahan bersin.
Selamat bekerja.
Aku jadi wanita yang perasaannya terbaca.
Kapan aku bisa jujur di hadapannya...
serta di hadapan diriku?
Di hadapannya, aku selalu merasa seperti gadis kecil.
Nyonya, ini sepatunya.
Aku beli.
Apa?
Nyonya. Silakan.
Terima kasih.
Daepyonim, Do Jagganim datang.
Do Jagga, selamat datang.
Hari itu tolong dimaklumi.
Editor kami orang baik tapi punya kebiasaan buruk ketika mabuk.
Asal kau terima proyek ini...
aku bisa tawarkan bonus opsional di luar biayamu.
Apa opsinya?
Jaminan jangka panjang bagus juga.
Ada yang kau inginkan, Do Jagga?
Kehidupan pernikahanmu bahagia?
Apa ada pernikahan seperti itu?
Kulihat kau baca bukunya.
Aku tahu kau akan memahami emosi tersebut.
Do Jagga.
Kau tahu, konten cinta dan perselingkuhan adalah ...
pelaris rahasia penerbitan kami di kalangan wanita usia 30-an dan 40-an?
Pertama kali kudengar.
Rawa Kehancuran adalah buku ke-7.
Selain itu, karya pertama seniman jenius Do Jagga setelah 3 tahun.
Ini bagus sekali.
Makanya kau akan memberiku bonus opsional.
Selama kau setuju.
Menurutmu kau bisa memenuhi keinginanku?
Yang kuinginkan...
cuma satu.
Cuma satu...
Apa itu?
Aku juga penasaran.
Sesuatu yang tak berarti bagimu...
tapi sekaligus, berarti segalanya.
Teka-teki Zen macam apa itu?
Apa kau bisa memberikannya padaku?
Kau sudah tahu, aku punya banyak untuk diberikan padamu.
Maka kuanggap kau setuju dan mengerjakan proyek ini.
Perhatian.
Perkenalkan.
Dia karyawan baru di tim kita.
Halo, aku Kang Chul.
Mohon bimbingannya.
Senang bertemu.
Ayo ke sana ketemu yang lain.
Baik.
Bagaimana ini? Dia tipeku banget.
Usap air liurmu. Dia pantas jadi anakmu.
Kenapa? Kenapa?
Ada apa ini?
Tadi sudah menyapamu.
Noonim. Kedepannya tolong bantu aku.
Bantu apa?
Ini sangat sulit. Semua klienku di pusat kebugaran kuserahkan pada temanku.
Lalu kenapa kau lakukan?
Kulakukan demi menunjukkan ketulusanku pada Soo-ah.
Kau pikir dia tak tahu kau tulus?
Kau tak lihat dia lari karena ketulusanmu yang tak masuk akal?
Kau tak mengenal baik kami, jangan bicara begitu.
Hai.
Kalian sedang apa?
Aku permisi dulu.
Permisi.
Semangat!
Ya.
Ibu Chang-gook.
Kau tahu kebakaran di persimpangan dekat toserba belum lama ini?
Ada kebakaran?
Kau tak tahu?
Kau tahu siapa pelakunya?
Bukan aku.
Istri pemiliknya. Usianya masih 30 tahun.
Apa dia salah makan?
Waktu tepergok selingkuh oleh suaminya, dia membakar rumah agar mereka semua mati.
Ya ampun.
Aku ingin bertemu jam 3 sore. Apa bisa?
Katup gas sudah kau tutup? Selalu waspada terhadap kebakaran.
Jangan pesan paket kirim ke rumah.
Orang asing adalah orang yang paling menakutkan.
Banyak orang yang menyerang wanita bersepeda.
Jangan naik taksi. Dunia ini sangat menakutkan.
Ganti kodemu.
Sulit untuk mengingatnya, jadi ada baiknya ganti ultahku.
Ji-eun, kau luang setelah pulang jam tiga, kan?
Noonim, ini...
Soo-ah, tunggu sebentar, Soo-ah.
Kau sudah gila?
Aku ingin dekat denganmu tapi kau tak mau melihatku lagi.
Bercerailah. Aku akan menunggu.
Bercerai?
Aku akan baik padamu.
Aku tak mencintaimu. Tertarik saja tidak.
Akhiri sampai di sini.
Park Ji-min.
Kenapa?
Ini larva kumbang.
Rawatlah.
Kenapa aku?
Karena menurutku kau lebih baik dariku.
Aku?
Aku khusus minta bantuanmu.
Rawatlah.
Terima kasih.
Ah-jin, kau terdaftar di kelas khusus. Ayo.
Kau dari sekolah mana? Sepertinya salah masuk kelas.
Aku di kelas ini.
SMP?
Kalau SMP kenapa ke sini?
Kenapa ada gangster di sini?
Dunia akan segera kiamat.
Kau sudah datang?
Kenapa kau di sini?
Bukankah kau bilang ingin bertemu denganku?
Aku?
Yang kudengar begitu.
Tidak?
Ji-eun. Jalani hidup sambil bertemu orang-orang yang ingin kau temui.
Hidup ini singkat.
Selamat bekerja.
Ji-eun, kau luang setelah pulang jam tiga, kan?
Tidak, aku ingin bertemu.
Ini...
Kau dan suamimu tak sopan.
Kalian sembarangan masuk ke studio orang lain.
Orang akan mengira ini rumah penulis.
Soal itu kau juga seperti suamimu.
Kenapa hari itu kau menggambarku?
Aku tak pernah menggambarmu.
Aku yakin ini aku.
Kalau kau mau, kau bisa berpikir seperti itu.
Kau boleh menyimpannya. Lagipula sudah kubuang.
Tidak. Tolong gambar aku lagi.
Tolong gambar aku lagi.
Kau ke sini untuk mengatakan itu?
Aku secara resmi meminta hasil karyamu.
Anggap aku sebagai klien.
Kalian benar-benar pasangan suami istri.
Sama tak sopannya minta karyaku.
Suamiku tak tahu.
Maka akan langsung kujawab.
Aku tak bisa.
Kenapa?
Karena aku tak mau menggambarmu.
Karena ongkosnya? Kalau itu...
100 miliar pun aku tak mau.
Alasannya aku tak merasa kau indah.
Keindahan apa yang kau maksud, Do Jagganim?
Entahlah.
Mungkin bisa kutemukan kalau kau lepas pakaianmu.
Apa tak terlalu membosankan...
nyonya anggun sepertimu dapat semudah ini dibaca?
Anggap kejadian hari ini tak ada.
Karena tak indah dipandang kita berdua.
Beri tahu aku kalau kau berubah pikiran.
Aku akan memberimu harga terbaik.
Walau 100 miliar tak masuk akal.
Keluargaku memelihara burung.
Nama mereka Cinta dan Bakti.
Nama yang cantik. Cinta dan Bakti.
Suamiku menyukai burung.
Aku cuma ahjumma yang memberi makan.
Dia pasti orang baik.
Katanya orang yang menyukai hewan adalah orang baik.
Dia baik hati.
Cinta jenis burung apa?
Burung nuri.
Seluruh badan Cinta berwarna biru langit.
Pasti sangat cantik.
Aku ingin tahu seperti apa Cinta.
Aku tak tahu apa bisa membantu...
tapi...
kalau ada pertanyaan soal memelihara burung, hubungi aku kapan saja.
Anggap aku teman.
Teman.
Sebentar.
Kenapa?
Kau tak lupa janji makan malam kita, kan?
Tentu tidak.
Baik, sampai nanti.
Maaf, istriku menelepon.
Kita pisah di sini saja.
Aku juga harus pulang.
Baiklah kau begitu.
Jantungku berdebar mendengar kata "teman."
Meski aku punya suami dan dia punya istri.
Jadi, takkan ada waktu yang pas untuk meneleponnya.
Di dunia ini...
ada seniman jenius dan seniman yang harus berusaha.
Maka agar jadi seniman sukses di Korea...
aku harus berusaha sangat keras.
Kau jenius?
Apa?
Apa hanya jenius yang bisa memilih antara keduanya.
Untuk apa jadi seniman yang harus berusaha? Hanya ada satu jalan.
Benar.
Kau datang?
Orang itu masih terpuruk?
Dia seniman bukan kepala perpustakaan.
Apa gunanya?
Pokoknya, aku berusaha mengerjakan buku bersama dia.
Tapi Kim Bit-na, apa kesukaan Do Jagga?
Apa maksudmu?
Dia minta kuberikan yang tak berarti bagiku tapi sekaligus segalanya.
Sudah pasti bukan uang.
Benar-benar. Dasar sinting.
Kerja dengan seniman lain saja.
Kalau seperti itu, aku takkan menunggu dia selama 3 tahun.
Banjangnim, maaf menyela. Tolong periksa ini.
Yang ini bagus. Yang ini saja.
Baik.
Siapa? Kurator baru?
Dia seniman yang belajar di Perancis. Aku berpikir untuk membesarkannya.
Seniman?
Kau ingin jadi sponsornya?
Sponsor apa?
Selamat sudah jadi profesor.
Terima kasih. Semua berkat dirimu.
Aku tak melakukan apapun.
Kau membiayai pendidikanku selama tiga tahun.
Itu keputusanku.
Kini, aku akan mengurusmu.
Jung-woo, lanjutkan pendidikanmu.
Aku sudah puas.
Kau giat belajar demi gelar magister di Amerika.
Tak merasa sayang?
Sama sekali tidak. Berkat itu, kini aku guru.
Sekolah alternatif itu?
Di sekolah alternatif itu, aku merasa bahagia.
Maaf.
Kupikir kau akan sedih.
Kau tak marah, kan?
Tak marah. Makanlah.
Jagiya.
Besok kita daftarkan pernikahan kita?
Ya.
Tak bisa.
Besok aku harus rapat seharian dengan para profesor.
Mau bagaimana lagi?
Lagipula dokumen tak penting.
Yang penting hatimu dan hatiku.
Ya. Sesukamu saja.
Kuturuti keinginanmu.
Pria itu menangis.
Dia berkata aku sangat berani dan baik hati.
Dia berkata aku tak tahu betapa dia mencintaiku.
Dia mencintaiku...
melebihi segalanya di dunia ini...
hingga membuatnya hilang akal.
.: Baalthazar :. IDFL™ SubsCrew
Teman.
Dasar, apa yang dikerjakannya sejak pagi yang damai ini? Apa ada perang?
Berisik.
Siapa akan menghabiskan semua kimchi itu?
Kurang ajar, tutup mulutmu.
Kau pernah dengarkan ucapan ibu?
Ibu.
Walau semua wanita di dunia serong, menantu ibu takkan pernah serong.
Ibu jelas melihatnya sendiri di bawah dekat tempat sampah daur ulang.
Ibu pasti salah paham.
Ibu demensia?
Demensia apa maksudmu?
Anak kurang ajar, kau ini minta dipukul.
Ibu, kapan datang?
Aku datang untuk membuat kimchi.
Semua bahan kusiapkan di rumah lalu kubawa ke sini.
Ibu tak tidur.
Bahkan pagi ini merebus daging babi.
Kau juga harus makan.
Tapi...
apa kau bertemu pria lain?
Apa?
Kudengar kau bersama pria di dekat tempat sampah daur ulang.
Siapa yang bilang?
Ibu yang membuat kimchi ini.
Apa yang kau lakukan di luar rumah sampai muncul prasangka begitu?
Tapi sebenarnya, siapa priia itu?
Itu...
Sebentar. Ji-eun? Maksudku bukan seperti itu.
Hanya saja banyak orang di dunia ini yang..
Kenapa memberi ini?
Beberapa hari lalu, sepupuku kesulitan mencari rumahku, jadi Ji-eun membantunya.
Terima kasih banyak.
Aku juga ingin menyapa sebagai tetangga baru.
Jadi itu sebabnya...
Begitu kejadiannya.
Aku benar-benar... aku tak tahu.
Ibu. Biasa saja.
Terima kasih.
Ji-eun, alangkah baiknya kalau kau bisa belajar membuat ini untuk suamimu.
Ya.
Kalau begitu, kuajari dia?
Kami akan sangat berterima kasih.
Tidak, tapi...
Dia punya banyak kekurangan, tolong ajari dengan baik.
Ya, ibu.
Aku permisi dulu.
Ya.
Jaga dirimu. Terima kasih banyak. Ini enak sekali.
Sampai jumpa.
Orang bilang hanya wanita cantik yang melakukan hal-hal cantik.
Tunggu.
Kau langsung datang, terima kasih.
Walau itu gara-gara dirimu.
Kenapa kemarin kau menyuruh Yoon Seonsaengnim datang?
Karena hanya itu cara bertemu./ Apa?
Kau ingin bertemu pak guru itu.
Kapan?
Kau tak bisa menipuku.
Tidak kok. Kenapa kau selalu bilang begitu?
Jagiya, cinta cuma sesaat.
Dan di saat itu, kita di surga.
Nikmati saat itu.
Takkan sering muncul dalam kehidupanmu.
Bahkan mungkin tak pernah kembali.
Tapi kurasa aku takkan pernah sampai ke surga.
Belakangan ini, aku terus memikirkan seorang pria.
Jangan-jangan kau jatuh cinta?
Aku takkan naik kereta ke neraka hanya demi sejenak di surga.
Aku bukan wanita bodoh seperti itu.
Apa itu? Taj Mahal?
Rumah anak-anakku.
Cinta dan Bakti sangat beruntung. Punya ayah yang membelikan rumah.
Tapi istrimu tak menyukai burung?
Dia tak tertarik.
Dia sangat aneh.
Kau Son Ji-eun dari SMA Ji-sang?
Benar, kan? Son Ji-eun dari SMA Ji-sang.
Min-young. No Min-young?
Ya, benar, aku Min-young.
Kau juga ingat aku?
Senang bertemu denganmu di sini.
Ya.
Kudengar setelah lulus kau sekolah ke luar negeri.
Aku baru kembali setelah lulus magister.
Magister? Hebat sekali.
Kini kau tinggal di Korea?
Semester depan aku mengajar di Universitas Hangook.
Aku sedang persiapan.
Ya.
Kau sudah menikah?
Sudah. Kau sendiri?
Sepertinya aku dengar kau menikah di Amerika.
Suamiku juga mengambil gelar magister.
Hebat sekali.
Maaf, aku harus kembali bekerja.
Kau pulang jam berapa?
Sudah lama sekali, kita pergi minum teh.
Nanti kau senggang?
Tak bisa, hari ini aku ada acara keluarga.
Maaf./ Tak apa. Kita bisa bertemu lagi.
Aku akan sering belanja di sini, kita bisa bertemu lagi.
Ya.
Bisa minta nomormu?
Begitu saja?
Boleh sering meneleponmu?
Tentu.
Rumah yang di dekat persimpangan...
Wanita pemiliknya membakar rumahnya karena serong.
Apa?
Mungkin dia tak tahan lagi.
Meski begitu...
Kau tahu guru biologi ganti foto profil?
Aku tak tahu.
Ini bunga morning glory?
Bukan. Itu bunga dalere.
Arti bunga itu, hanyut secara perlahan dan mendalam.
Apa ini? Sepertinya kalian lebih dekat dari yang kuduga.
Tidak, sungguh cuma...
Entahlah. Aku akan telepon menanyakannya.
Kalau kau mau silakan saja.
Baik.
Jangan lakukan.
Jangan. Bagaimana ini?
Kenapa kau menelepon begitu saja?
Hidupmu berubah gara-gara satu panggilan telepon?
Balaskan dendammu.
Ya, kau benar.
Aku tergila-gila pada pria gila.
Ibu, kau benar-benar serong?
Kau dari mana dan melakukan apa?
Bukan begitu. Cuma di rumah tetangga...
Ibu, kau kenapa belakangan ini?
Lihat anak-anak.
Anak-anak kenapa?
Cinta tadi muntah.
Kau akan bagaimana kalau mereka flu?
Lalu aku harus bagaimana?
Apa?
Aku harus bagaimana?
Apa maksudmu bagaimana?
Kau tak tahu tak ada obat kalau terkena virus?
Kalau mereka sakit atau terkena virus, aku yang salah?
Ibu, kau agak aneh.
Kuberitahu karena kau ibu mereka.
Kenapa aku ibu mereka?
Apa aku burung?
Aku sejenis burung?
Apa?
Aku ingin punya anak. Apa aku pernah bilang ingin burung?
Kau pernah memikirkanku setengah saja kau memikirkan Cinta?
Kau pernah memikirkan seperti apa hatiku?
Apa maksudmu?
Kau takkan bisa bayangkan pikiran di kepalaku selama ini.
Apa maksudmu?
Sudahlah.
Ibu.
Ibu, ibu, ibu!
Mulai sekarang jangan panggil aku ibu. Aku tak mau dengar.
Sejak hatiku mulai goyah...
rumah yang dulu tempat paling nyaman, jadi tempat paling tak nyaman.
Dan jadi tempat paling sunyi.
Sedang apa?
Menunggu telepon apa?
Harusnya ada paket yang datang.
Selarut ini?
Benar. Harusnya besok.
Dasar ahjumma...
Apa kesibukanmu hari ini?
Aku cuma minum teh dengan wanita tetangga kita.
Bergaullah dengan orang intelek.
Walau cuma satu orang.
Tidur di kamar kakaknya lagi.
Rupanya ini Cinta.
Sangat cantik.
Ji-eun, kabarmu baik?
Rupanya ini Cinta.
Sangat cantik.
Ji-eun, kabarmu baik?
Rupanya ini Cinta.
Sangat cantik.
Ji-eun, kabarmu baik?
Cinta cantik.
Aku baik saja.
Betapa menyenangkan kalau bisa mudah menelepon dan bercerita padanya.
Istana Alhambra lebih bagus
Bukankah Taj Mahal didirikan untuk makam ratu?
Percintaan mengharukan di zaman yang hebat, kan?
Aku benar-benar, benar-benar suka.
Anak-anakku pasti suka.
Istrimu juga akan suka?
Lihat detailnya.
Rupanya ini Cinta.
Sangat cantik.
Ji-eun, kabarmu baik?
Cinta.
Cinta, benar-benar... ayo sini.
Cinta. Cinta!
Tidak.
Cinta.
Cinta. Bagaimana ini?
Cinta. Cinta.
Bagaimana ini? Cinta.
Cinta.
Cinta.
Kau di mana?
Cinta.
Kau di mana?
Bagaimana ini?
Cinta.
Cinta.
Bagaimana ini?
Apa? Ibu, kau gila?
Ibu, kau bercanda, kan?
Bukan bercanda.
Sungguhan.
Kenapa aku ibu mereka?
Kau pernah memikirkan seperti apa hatiku?
Apa maksudmu?
Kau takkan bisa bayangkan pikiran di kepalaku selama ini.
Bakti.
Cinta ke mana?
Cinta benar-benar hilang?
Tidak, kan?
Cuma menakutiku.
Cinta.
Cinta.
Cinta terbang.
Ini yang selalu kau pikirkan?
Kau menakutkan.
Kau selalu berpikir membuang anak-anak kita?
Bagaimana....
Bagaimana kau bisa tega berkata begitu?
Kenapa?
Seharusnya kau buang Bakti juga.
Kenapa?!
Benar.
Aku membuang Cinta.
Karena aku muak dengan semuanya.
Karena hidupku sangat menyedihkan, cuma membersihkan tahi burung. Kenapa?
Cari Cinta.
Sekarang juga.
Cari Cinta sekarang juga.
Baik. Aku akan mencarinya.
Aku akan mencari Cinta!
Cinta.
Cinta.
Cinta, kau di mana?
Cinta pergi ke mana?
Cinta.
Apa orang itu tahu?
Cinta.
Aku ingin meneleponnya.
Cinta, kau di mana?
Tapi aku tak punya keberanian.
Cinta.
Cinta.
Cinta. Kembalilah.
Cinta.
Cinta.
Cinta hilang?
Cinta, kau sedang mencarinya?
Ini...
Mungkin, mungkin saja...
Sekali dalam hidupku...
cinta yang membuat jantungku berdebar akan menghampiriku?
(Perselingkuhan di Sore Hari)
.: Baalthazar :. IDFL™ SubsCrew
Kenapa kau selalu jatuh ketika hanya bersamaku? Tak sakit?
Ji-eun! Hari ini hari istimewa?
Aku akan menggambarmu.
Datang kapan saja kau senggang.
Kulepas pakaianku di sini?
Aku tahu ahjumma itu.
Video itu sudah menyebar di internet.
Gayamu sok intelek.
Aku juga ingin punya anak.
Kau sama manusia seperti mereka.
Bagaimana kita bisa jadi menyedihkan seperti ini?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.