All language subtitles for Taxi Driver S03E11 2025 1080p Viu WEB-DL H 264 AAC-ADWeb[EZTVx.to].ind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

"Lee Je Hoon"

"Jang Hyuk Jin, Bae Yoo Ram, Kim Eui Sung, Pyo Ye Jin"

"Taxi Driver 3"

"Drama ini adalah fiksi"

"Tokoh, kejadian, dan latar belakang"

"Dalam drama ini adalah fiksi"

"Anak-anak dan hewan direkam sesuai undang-undang yang berlaku

Masing-masing 10 dolar!

Di sini ada dua ekor besar!

- 15 dolar. Dan 3 dolar. - Ukuran sedang.

Tuna kecil.

45 dolar untuk nomor 15! Baik, dua ekor besar.

"Peringatan"

"Dilarang masuk tanpa izin Perkumpulan Nelayan"

"Jika terjadi kecelakaan akibat melanggar"

"Kami tidak bertanggung jawab"

"Anggota Perkumpulan Nelayan Pulau Samheung"

Sudah pergi...

Jeong Byeong Su?

"Sungai sang wanita..."

"Taxi Driver 3"

"Episode 11"

Mulai beroperasi.

Kalau aku yang turun tangan, semua bajingan ini akan mati.

Jangan mengendap-endap seperti itu.

Aku menunggu kamu selesai bicara.

Aku bukan bicara, aku hanya berguman.

Dia juga mendengar gumamanmu dengan jelas.

Siapa?

Di kursi sebelah Paman.

Dia terus menemani sepanjang perjalanan.

Maksudmu,

ada seseorang di sini?

Tuhan selalu berada di sisi kita.

Kenapa kamu ini?

Ada yang ingin aku sampaikan.

Baik, biar kuluruskan.

Kamu punya adik angkat bernama Da Som.

Namanya Park Da Som.

Benar. Adikmu, Park Da Som,

membeli 98 dolar di aplikasi barang bekas untuk hadiah ayahnya.

Dia membeli sarung tangan,

- tapi yang dia dapat batu bata. - Benar.

Astaga, ayahnya terluka parah.

Da Som bilang ayahnya sering dioperasi setelah kecelakaan mobil.

Berapa umur Da Som?

Delapan tahun.

Dia menjadi keluarga kami dua tahun lalu.

Pasti sulit bagi anak delapan tahun untuk menabung 98 dolar.

Dia menabung uang jajan

pemberian ayah selama setahun lebih untuk membelinya.

Baiklah.

Uang 98 dolar yang ditabung Da Som itu,

akan kugenapkan jadi 100 dolar dan kuberikan padanya.

Kamu tidak boleh begitu.

Kenapa?

Aku bisa beri dia 100 dolar untuk membeli sarung tangan baru, bukan?

Tapi itu bukan uang Da Som.

Da Som ingin memakai uangnya sendiri

untuk membeli sarung tangan untuk ayahnya.

Memang tidak sama.

- Kak Maria. - Da Som.

Aku datang bersama paman yang kakak ceritakan.

Halo, Paman Pahlawan.

Apa?

Kak Maria bercerita. Katanya, ada pahlawan melindunginya.

Astaga.

Tapi

sarung tangan ayahku...

Apa Paman bisa menemukannya?

Sarung tangan seharga 98 dolar yang kamu beli itu...

- Biar paman carikan. - Benarkah?

Bisa ceritakan detailnya di mana dan dari siapa kamu beli?

Sopir Seo.

Suku cadangnya tiba sebelum malam. Akan kutelepon setelah selesai.

Jadwal ganti oli juga bersamaan, jadi, aku sibuk sampai tak fokus.

- Jin Eon sibuk sampai malam. - Kepala Park.

Aku harus ke luar urus asuransi. Bisa jaga ruang akuntansi?

Go Eun pergi dinas luar.

Aku sedang sibuk. Coba telepon Sopir Kim Do Gi?

Tidak bisa. Dia baru pulang setelah menyetir jauh semalam.

Sepertinya dia baru saja tertidur.

Benar juga.

Kita tidak boleh membangunkan orang yang habis menyetir jarak jauh.

Baiklah, aku akan tanya Pak Jang

Astaga,

Sepertinya aku harus turun tangan.

Aduh, panas!

"Taksi Mewah"

"Seoul 24M 5283"

"Taksi Mewah"

Menipu Da Som yang belum genap sepuluh tahun,

dan merampas 98 dolar miliknya.

"Taksi Mewah"

Kejahatan itu tidak bisa dianggap ringan.

"Taksi Mewah"

Lima dua delapan tiga.

Mulai beroperasi.

"Taksi Mewah"

"Taksi Rainbow"

Aku tidak bisa jalan. Tidak terlihat apa-apa.

Hentikan. Astaga.

"Taksi Rainbow"

Hentikan semprotannya, aku sesak.

"Satu minggu kemudian"

"Satu minggu kemudian"

Untuk menempelkan filmnya, tidak boleh ada sebutir debu pun.

Aku sedang mengelapnya sampai kacanya tidak terlihat.

Go Eun.

Ada sisa air di bagian sampingnya.

- Yang ini? - Bukan, di sebelahnya.

- Di sebelahnya? - Di sebelahnya lagi.

- Di sebelahnya? - Di sebelahnya lagi.

- Sebelah mana? Aku menyerah. - Bukan,

maksudku di sini. Di sini.

Nanti saja kerjakan saat Kepala Choi datang.

Tidak bisa. Aku janji pada Sopir Seo akan selesai hari ini.

Kepala Choi pergi ke mana?

Teleponnya tidak diangkat, pesan tidak dibaca.

Pekerjaannya belum selesai?

Belum.

Ternyata lama juga jika dikerjakan sendirian.

"Sendirian?" Aku sudah membantumu sampai lenganku mau copot.

Kepala Choi masih belum bisa dihubungi?

Belum bisa.

Apa perlu kutanya Pak Jang, barangkali ada kabar darinya?

Tadi pagi sudah kutanyakan.

Katanya dia cuti beberapa hari, tapi teleponnya masih tak diangkat.

Dia cuti ke tempat sebagus apa sampai tidak mengangkat telepon?

Apa mungkin dia pergi ke luar negeri?

Dia pergi naik Taksi Mewah, jadi, pasti masih di dalam negeri.

Membuat semua orang khawatir. Awas saja kalau sudah kembali.

- Bisa traktir aku kopi? - Baiklah.

- Kepala Park juga mau? - Tidak usah.

Apa aku harus menyelesaikannya sendiri?

Jin Eon.

Gyeong Gu!

- Kamu baik-baik saja? - Aku sudah coba menghubungimu.

Kenapa penampilanmu berantakan begini?

Sebenarnya kamu dari mana dan habis melakukan apa?

- Lima ribu dolar-ku. - Apa?

Lima ribu dolar?

Kepala Choi, kemari dan duduklah. Sedang apa kamu sendirian di sana?

Benar. Kenapa kamu diam saja di situ seperti orang yang bersalah?

Bukan begitu.

Aku di sini saja, aku lebih nyaman di sini.

Cepat kemari dan duduk selagi kuminta dengan baik.

Go Eun yang baik yang selalu memintaku dengan baik.

Jadi, yang ingin dibeli Da Som adalah sarung tangan, 'kan?

Benar. Kalau barang baru, harganya sampai 200 dolar,

tapi itu dijual seharga 98 dolar karena katanya pernah dicoba sekali.

Tapi, bukankah itu terlalu mahal untuk dibeli anak kecil?

Ayahnya dirawat di rumah sakit karena kecelakaan,

lalu dokter bilang untuk menjaga tangan dan kakinya tetap hangat.

Jadi, Da Som memakai semua uang tabungannya seumur hidup

dan membeli sarung tangan terbaik dengan uangnya dari aplikasi loak.

Kurang ajar, tega-teganya menipu anak kecil.

Bajingan ini, awas saja kalau sampai kutangkap.

- Kenapa tak beri uangnya ke Da Som? - Hei.

Kalau begitu, itu bukan uangnya Da Som lagi.

Apa bedanya?

Aku juga tidak bisa menjelaskannya. Tapi itu berbeda.

Tapi kenapa saat mau ambil kembali 98 dolar itu

kamu malah sampai tertipu 5.000 dolar?

Itu dia. Bagaimana bisa begitu?

Begini ceritanya.

Aku hampir saja berhasil menangkap bajingan itu.

Saat aku buka aplikasi barang bekas yang diberitahukan Da Som,

unggahan penipuannya ternyata masih terpampang di sana.

Tunggu, ini dia.

- ID-nya Raja Pancing. - Raja Pancing.

Waktu itu nama panggilannya "Raja Pancing".

Namanya saja sudah membuatku kesal, bajingan ini.

Lokasinya juga sama.

Bajingan ini benar-benar tidak punya takut.

Pokoknya, sekarang dia pasti tertangkap.

"Aku ingin membeli ponsel."

"Aku ingin transaksi langsung."

Aku pura-pura mau transaksi langsung untuk memancingnya keluar.

Saat dia muncul, langsung kusergap dari belakang.

Bagaimana?

Salahku adalah transfer uangnya dulu agar penjual percaya.

Begitu terima uang, dia tidak bisa dihubungi lagi.

Kamu sudah melaporkan unggahannya?

Sudah kulaporkan,

tapi dia mengunggahnya lagi dengan ID yang lain.

Tapi semahal apa pun ponsel itu, harganya tak sampai 5.000 dolar.

Benar.

- Tentu saja tidak. - Tapi kamu tertipu 5.000 dolar?

"Aku ingin membeli sepeda."

"Karena ini barang mahal, aku ingin transaksi langsung."

Karena jumlahnya sangat menggiurkan, dia pasti akan datang.

Saat itu juga aku

akan mencengkeram tengkuk Bajingan Itu.

Salahku menyetujui uang muka separuh untuk membuatnya percaya.

Sial. Dia langsung memutus kontak setelah menerima separuh uangnya.

- Sudah lapor polisi? - Kasus Da Som atau aku?

- Bukan begitu. - Maksudku secara keseluruhan.

Aku bawa rekening transfer Da Som dan pergi ke kantor polisi.

Tapi polisi bilang akan sulit menangkapnya segera.

Tanpa diselidiki dahulu? Kenapa?

Walau bawa nomor rekening ke polisi, rekeningnya pasti bodong.

Dan kalaupun polisi mengajukan permohonan pembekuan,

uangnya pasti sudah dipindahkan ke luar negeri.

Itulah sebabnya kejahatan daring ini sulit dilacak.

Seperti kasus penipuan suara kita waktu itu.

Betul, mereka bilang persis seperti itu.

Astaga, kamu pernah mengalaminya, bagaimana bisa...

Rasanya dia seperti berada tepat di depan mataku.

Melihat punggungnya saja tidak, tapi kamu kehilangan 5.000 dolar.

Kami saling bertukar pesan dan bahkan saling menelepon.

Jadi, aku pikir bisa langsung menangkapnya begitu saja.

Sambil mencari uang Da Som, kita cari juga uang Kepala Choi.

Tentu saja. Orang yang mencari uang Da Som

malah kembali seperti Da Som, jadi, apa boleh buat?

Terima kasih.

Bolehkah aku tahu nomor resi dari paket batu bata milik Da Som?

Aku sudah memfoto semuanya.

Aduh, bagus sekali, Da Som kita ini.

Begitu kita lacak resi itu,

kita bisa tahu alamat pengirimnya.

Biar aku pergi memeriksanya.

Ternyata ada cara sesederhana itu.

Kalian memang hebat.

Dasar.

Kamu tidak akan bekerja, kenapa ikut keluar?

Kalau Sopir Kim keluar dengan taksi, itu namanya bekerja.

Aku hanya akan menagih kembali uangku yang ditipu.

Kalau teringat semua ulahnya, aku tak mau membantunya.

Kalau ingat dia lagi, aku masih gemetar saking marahnya.

Aku lebih baik kembali wajib militer lagi.

Yang dipermasalahkan Kepala Choi bukan uang 98 dolar itu,

tapi ketulusan hati Da Som di baliknya.

Kepala Choi memang seperti itu.

Hanya saja dia terkadang membuat orang sangat kesal.

- Ayo. - Baik.

Aduh, menyebalkan sekali!

"Utamakan Keselamatan"

Lalu, aku harus melakukan apa? Apa aku cuci mobil saja?

- Akan kubersihkan sampai mengilap. - Cuci saja dirimu sendiri!

- Aku? - Cepat mandi!

Sepertinya di lantai satu apartemen ini.

Cepat juga kita menemukannya.

Permisi?

Apa ada orang?

Sepertinya tidak ada orang.

Padahal kita menemukannya dengan cepat.

Kenapa? Ada masalah?

Pak Sopir, minggir!

Mundur.

Nona! Bisa mendengar aku?

Kamu tidak apa-apa?

Nona Go Eun!

- Nona, kamu sudah sadar? Aku... - Ya.

- Naikkan ke punggungku. - Baik.

Tunggu sebentar.

Kamu juga

datang untuk meminta uangmu kembali?

Bagaimana ini?

Aku tidak punya uang sama sekali.

Aku memang datang untuk mengambil kembali uangku.

Tapi sepertinya kamu bukan orang

yang kami cari.

Kamu juga korban,

bukan?

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Semua orang di sekitarku hanya menyalahkan aku.

Maafkan aku karena salah sangka.

Nona Yoo Min Jung.

Bisa jelaskan padaku

apa yang sebenarnya terjadi?

Astaga, Nak, barang-barangmu mahal sekali.

Aku tidak tahu akan semahal ini karena hamil.

Aku berhenti bekerja dan kami hidup dari penghasilan suamiku.

Makanya, aku ingin lebih berhemat untuk biaya hidup, walau sedikit.

"Perlengkapan Bayi - Boks Bayi, Kereta Dorong, Kursi Mobil"

"Ini hadiah, tapi terlalu kecil untuk bayiku, jadi aku jual"

"Ibu Woori Hyunjoo, Demi keamanan, gunakan pembayaran via aplikasi"

Bagus juga.

Ah, jika masih dijual, aku mau beli semuanya sekaligus.

"Jika masih dijual, aku ingin beli semuanya sekaligus"

Kumohon. Kamu juga berdoa, ya?

- Semoga bisa datang minggu ini. - Tolong kirim nomor rekeningmu.

- Ibu Yoo Min Jung, silakan masuk. - Baik.

Uangnya baru saja aku transfer.

"Pembayaran terkirim"

Hati-hati.

Beberapa hari kemudian, paketnya tiba.

Saatnya buka paket.

Kamu tahu betapa cermatnya Ibu memilih semua barangmu ini?

Apa-apaan ini?

Angkat teleponnya!

"4. Nomor Resi dan Foto Barang di Dalam Paket"

Barangnya ini...

Ini ID dari aplikasi barang bekas yang aku lihat,

nomor rekening, nomor resi.

Aku mengumpulkan semua barang bukti termasuk nomor telepon.

Tapi semuanya milik orang yang berbeda-beda.

Bahkan, ponselnya pun ponsel sekali pakai

Sepertinya ini ponsel bodong.

Pulanglah dan tunggu di rumah.

Kami akan menghubungimu setelah ada hasilnya.

Kira-kira kapan?

Kapan, ya?

Kami juga harus meminta kerja sama dari pihak aplikasi,

dan menunggu balasan dari mereka.

Jadi, sulit untuk memberitahukan waktu pastinya.

Hei, menu hari ini apa? Jeyuk atau donkasu?

- Hari ini sup nasi. - Permisi...

Apa nanti benar-benar akan ada kabar?

Dihubungi? Ya, tentu saja. Ya.

Aku tahu kamu pasti kesal,

tapi untuk kasus ini, jangan terlalu berharap dan tunggu saja.

Itu akan lebih baik untukmu.

Hei, kenapa sup nasi lagi?

Jika polisi tidak bisa berbuat apa-apa,

aku memutuskan untuk melawan bajingan itu dengan caraku sendiri.

Aku terlalu marah untuk diam saja.

Aku membagikan pengalamanku ditipu.

Kalian semua juga berhati-hatilah. Semoga kamu dapat ganjaran.

Kucari semua unggahan yang memakai ID itu dan melaporkannya.

Dia mengunggah lagi. Unggahan ini penipuan.

Jangan pernah bertransaksi. Serius.

Saat itulah

bedebah itu menghubungiku.

Halo?

- Kita belum berkenalan. - Apa?

Ini siapa?

Biarkan perbuatanku setelah ini menjadi perkenalanku.

Pertama, kita ganti ponselmu.

Halo?

Hei?

Apa maksudnya?

Barang gratis?

Sejak saat itu,

mulai menggangguku dengan cara yang aneh.

Halo...

"Teks di layar: Apa sepedanya sudah ada yang ambil?"

Bukan aku yang mengunggah soal sepeda.

"Aku lihat unggahan barang gratis. Masih ada?"

"Aku mau kereta dorong bayinya"

"Anda unggah pembersih udara gratis?"

"Hai, soal kereta bayi yang kamu unggah..."

Halo?

"Apa masih bisa dapat barang gratisnya?"

Sudah kubilang, bukan aku yang mengunggahnya!

"Kalau sedang membagikan gratis, hubungi aku"

"Kalau tidak ada yang mau, biar aku saja"

"Jika lemari lacinya gratis, aku ke sana"

Sebenarnya ini semua apa?

"Aku! Aku mau barang gratisnya"

"Jika kereta dorongnya masih ada, aku mau!"

Karena siang dan malam aku mendapat pesan & telepon dari orang asing,

"Kalau belum ada yang ambil, aku mau"

aku sama sekali tidak bisa menjalani kehidupan normal.

Sudah diaktifkan. Ponselnya bisa langsung dipakai.

Baik, terima kasih.

Ya, sudah semua. Terima kasih.

"Pendaftaran Baru, Pindah Nomor, Ganti Perangkat"

Enak.

- Ada apa? - Anda memesan jokbal, bukan?

- Tidak, aku tidak memesan. - Ini, nomor yang ini, bukan?

Bukan, kubilang aku tak memesan. Anda salah alamat.

- Bayar 49 dolar untuk bossam-nya. - Maaf, aku mau menutup pintu.

Mungkin teman serumahmu memesan? Aku sibuk. Cepatlah bayar.

Maaf, tapi sudah kubilang aku tidak memesan.

Kubilang alamatnya sudah benar.

Aku mau menutup pintunya. Tolong lepaskan ini.

- Tunggu sebentar, tunggu sebentar. - Berikan 49 dolar.

Permisi!

- Permisi? - Siapa?

Tolong buka pintunya.

Ya, siapa?

- Sebentar saja. - Hah?

- Kena kamu, jalang. - Siapa kamu?

Kamu pikir bisa lari usai menipuku? Dasar penipu sialan!

Menipu apa? Aku tidak menipu.

- Cepat kembalikan uangku, sialan! - Anda siapa?

- Kumohon, kembalikan uangku! - Memangnya kamu siapa!

Para tetangga! Ada penipu yang tinggal di sini!

Panggil polisi! Para tetangga! Ada penipu yang tinggal di sini!

Hei, perempuan sialan! Kembalikan uangku! Kembalikan!

Para tetangga, di sini... tolong panggilkan polisi!

Penipu ini...

Aku juga korban.

Para bajingan itu tahu dataku, makanya mereka bisa menipu begini.

- Apa kamu sekongkol atau bukan... - Hentikan!

- Mana kutahu, dasar jalang! - Ibu! Hentikan.

- Tolong periksa rumahku. - Tenang dulu.

- Kumohon, periksa rumahku sekali. - Jangan bohong, dasar jalang!

"'Warga Baik' Melaporkan penipu. Semuanya harap berhati-hati"

Di aplikasi itu.

mereka menetapkan aku sebagai penipu.

Foto dan alamat rumahku,

"Sampai menipu uang jajan anak-anak?"

bahkan nomor ponselku pun ikut disebarkan.

"Jangan hidup seperti itu, Berengsek"

"Dasar gila, di mana nuranimu? Dasar maling!"

"Kembalikan uangku, atau kukejar seumur hidup"

"Tidak diajari sopan santun? Kubunuh kamu..."

"Dasar penipu, aku pasti akan menangkapmu"

"Dunia yang mengerikan"

Bukan begitu, Pak.

Mana mungkin aku melakukannya? Sungguh.

Aku benar-benar minta maaf. Baik. Baik.

Hei, Yoo Min Jung.

Apa ini?

- Bukan begitu... - Kenapa kamu juga ikut-ikutan?

Pikirkan juga bayi di dalam kandunganmu.

Tolong dengarkan aku.

Kumohon?

Halo, Pak. Aku baru pulang kerja, tapi...

Berkas? Sekarang?

Tidak masalah. Segera aku kirimkan. Baik, terima kasih.

Astaga...

- Kondisinya baik. - Terima kasih.

- Sampai jumpa minggu depan. - Baik, terima kasih.

- Tolong selesaikan. - Baik. Aku bantu bersihkan.

- Silakan bersiap-siap, lalu keluar. - Terima kasih.

Halo?

- Ini aku, Yoo Min Jung. - Hah?

Halo?

Bagaimana kamu tahu nomor teleponku?

Tentu saja aku tahu.

Aku langsung tahu sehari setelah kamu mengaktifkannya.

Mau kulihatkan sesuatu yang lebih seru?

Tunggu... halo.

Hei, halo.

Hei.

Halo?

Permisi, Pak Detektif.

Bajingan Itu ada di sini.

Ah, itu...

Agak sulit untuk menjelaskannya lewat telepon.

Bisakah Anda datang ke kantor polisi?

Baik.

Ya, silakan masuk.

Aku rasa aku sedang diancam. Tadi dia mengirimkan ini.

Baik, aku paham.

Begini, ada laporan yang masuk.

Laporan?

Ada beberapa laporan penipuan masuk untuk rekening Ibu Yoo Min Jung.

- Silakan duduk. - Maksud Anda aku menipu?

Benar.

Baik, pertama, bisakah Anda mengisi ini dahulu?

Mana ada hukum seperti ini di dunia? Aku ini korbannya.

Bajingan Itu bahkan mengirimkan ini kepada aku.

Tenang dahulu, Bu.

Bajingan Itu tahu nomor rekeningku.

Dia menyalahgunakan nomor rekeningku untuk pengembalian dana!

Karena uang masuk ke rekening Anda, entah banyak atau sedikit,

Anda harus tetap diperiksa. Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi kamu tahu, bukan, kalau aku korbannya?

Justru itu aku mengerti. Tolong isi saja surat keterangannya.

Astaga, sungguh. Cerewet sekali wanita ini.

- Aku ini korbannya. - Benar.

- Menyebalkan sekali. - Semakin kucoba membela diri,

yang kudapatkan hanyalah keputusasaan.

Di sini nama dan nomor induk kependudukan Anda.

Pada akhirnya, aku pindah untuk menghindari bajingan Itu.

Sayang.

Halo?

Tempat tinggal barumu nyaman?

Ayolah, kenapa kamu terkejut begitu?

Suaramu sedang kurekam sekarang.

Akan kulaporkan kamu ke polisi atas tuduhan pengancaman.

Astaga.

Ibu ini, sudah mengalami semua itu dan masih belum kapok juga.

Apa polisi melindungimu, Bu?

- Hei! - Polisi itu,

tidak bisa menangkapku.

Tapi aku, bisa menangkapmu.

Asal aku mau,

kapan pun bisa.

Permisi. Pesanan ayamnya sudah datang.

- Pesanan ayamnya sudah datang. - Aku...

Aku tidak tahu kamu suka apa, jadi kupesankan dua rasa.

Tidak apa-apa, 'kan?

- Ini semua salahku. - Sepertinya ada orang di dalam?

- Anggap saja tak pernah terjadi. - Pesanan datang.

"Pasar Dotori, Yoo Min Jung"

Aku sudah mengirimkan satu nomor rekening.

Kirim 30 juta won ke rekening ini, permohonan maafmu akan kuterima.

Aku mengaku salah.

Aku tidak akan mengulanginya lagi.

- Aku tidak punya uang. - Bagaimana kalau pesan jokbal saja?

Sialan, sudah tua, kenapa masih bertingkah menyebalkan?

Kumohon! Aku mengaku salah!

- Permisi! - Permisi! Tolong buka pintunya!

- Permisi! Ini pesanannya! - Permisi! Bu!

- Permisi! Tolong buka pintunya! - Cepat buka pintunya!

- Hei, hei, hei. - Ah, permisi!

- Ini pesanan! - Pesanan!

- Tidak ada siapa-siapa. - Aduh, pesanannya...

- Apa-apaan ini? - Permisi, jokbal!

Hei, tidak dengar? Tidak dengar?

- Ah, terbuka. Orangnya keluar. - Ternyata Anda di dalam.

Anda di dalam, kenapa tak buka? Kami semua menunggu.

- Tolong bayar pesanannya. - Kami datang mengantar pesanan.

- Tolong bayar pesanannya. - Cepat bayar.

- Tolong bayar. - Apa yang Anda lakukan sekarang?

- Cepat bayar. - Kami harus segera pergi.

- Kalau sudah keluar, ambil ini. - Astaga, kubilang bayar!

- Itu... itu darah, bukan? - Apa ini?

- Anda tidak apa-apa? Bu, itu... - Kenapa dia?

- Permisi? - Anda tidak apa-apa?

- Ibu, Anda tidak apa-apa? - Anda tidak apa-apa?

Astaga, darahnya banyak sekali. Ibu! Bagaimana ini!

Anda tidak apa-apa?

Ibu, Anda tidak apa-apa?

- Hei! Panggil 119! - Bu, sadarlah!

Bu, Anda tidak apa-apa?

"Surat Petisi"

ID orang lain, ponsel ilegal, rekening bank pun ilegal.

Tak ada yang atas namanya sendiri. Semuanya palsu.

Ada satu yang asli.

Apa itu?

Suara.

Suaramu sedang kurekam sekarang.

Akan kulaporkan kamu ke polisi atas tuduhan pengancaman.

Rupanya Anda masih belum jera juga setelah mengalami semua itu.

Memangnya polisi melindungi Anda?

- Hei! - Polisi tak akan bisa menangkapku.

Namun, aku bisa menangkap Anda.

Asal aku mau,

kapan pun bisa.

Dari nada bicaranya, dia yakin takkan pernah tertangkap.

Artinya, ini bukan pertama kalinya dia menelepon seperti ini.

Lalu,

paket yang katanya diterima oleh Bu Yoo Min Jung itu...

Semakin kulihat, semakin menjengkelkan.

Kamu terpancing olehku?

Panggilannya juga tentang memancing. Sial, bajingan itu menyebalkan.

Astaga, si pembual ini. Bagaimana cara kita menangkapnya?

Kita harus temui yang memotretnya lebih dahulu.

Foto? Foto yang diambil di klinik kandungan itu?

Benar.

Bagaimana? Lokasinya benar?

Sepertinya benar?

Kalau hanya difoto dengan ponsel, kualitasnya tidak akan sebagus ini.

Dengan pengambilan sudut tinggi seperti ini

kurasa Sopir Kim benar. Foto itu diambil dari atas sini.

- Go Eun. - "Aku perlu CCTV semua akses masuk

dan akses keluar gedung saat Yoo Min Jung ke klinik."

Pasti itu yang mau kamu katakan, bukan?

Ya.

Tak banyak orang berlalu-lalang setelah makan siang.

Jadi, hampir tidak ada orang. Kita bisa menemukannya dengan cepat.

Lihat itu? Dia bahkan membawa tas kamera.

Dia mengambil foto dengan lensa foto tele.

Kamu sudah menemukannya?

Aku juga akan carikan di mana kamu bisa menemuinya.

Dia sampai menyewa Agen Detektif Swasta

untuk memotret korban?

Bagi pelaku itu, ini pasti cara ampuh untuk mengancam.

Kebanyakan korban takut dan berhenti setelah menerima fotonya.

"Agensi Detektif Modu"

"Agensi Detektif Modu"

"Kami Bantu Temukan Orang yang Anda Cari"

"Agensi Detektif Modu"

Ada perlu apa?

Aku mencari sesuatu.

Mencari sesuatu itu keahlian kami.

Silakan duduk di sini.

- Terima kasih. - Tentu saja.

Masalah pribadi, kekhawatiran yang Anda pendam,

Curiga tapi tanpa bukti,

dan sulit melakukannya sendiri karena tak punya waktu dan keahlian.

Staf kami yang berpengalaman

bisa mengumpulkan bukti dengan cermat dan memergoki seseorang

demi kepuasan pelanggan kami.

- Mendengarnya saja sudah meyakinkan - Tentu saja, semua ini

kami lakukan dengan jaminan kerahasiaan yang ketat.

Nah, sekarang giliran Anda.

Apa yang sedang apa cari tahu?

- Tes paternitas juga keahlian kami. - Foto ini

sepertinya diambil oleh pegawaimu.

Bisakah aku memeriksa informasi pribadi klien Anda?

- Anda polisi? - Bukan.

Kalau bukan polisi, maka,

kamu akan menghadapi situasi yang sangat sulit.

Aku? Atau Anda?

Kamu ini bicara apa?

- Kamu pikir aku akan celaka? Hei! - Siap!

Tunggu sebentar.

Aku tidak ingin membuat keributan.

Aku juga tidak ingin merusak properti.

Cukup berikan aku data pribadi kliennya,

maka tidak akan terjadi apa-apa.

Kenapa kalian mendengarkan ucapan dia?

- Cepat bawa dan habisi dia. - Siap!

Kopinya enak, ya?

Apa rasa kopinya cocok dengan selera Anda?

Siapa yang membuat kopi ini?

Aku.

Begini, sebenarnya...

Kami tidak membocorkan informasi tentang klien kami...

Jadi, sebenarnya...

Maksudku...

"Kami bisa menemukan titik lokasi pantulan bulan di danau"

Lihat, permintaannya hanya lewat telepon,

dan yang kami lakukan hanya mengirim foto yang kami ambil.

Benar.

Maksudmu, orang yang menyewa Agen Detektif Swasta itu

adalah Kepala Choi.

Sudah kubilang aku tidak menyewanya. Aku difitnah!

Mereka menyalahgunakan data pribadi korban penipuan mereka secara acak.

Tapi, kupikir-pikir lagi, ini aneh.

Untuk apa repot-repot menyewa detektif swasta

untuk mengusik Bu Yoo Min Jung?

Serangkaian tindakan balasan terhadap Yoo Min Jung sejak awal

merupakan campuran dari dua motif yang berbeda.

Yang satu sensitif pada hal-hal kecil dan penakut,

ciri-ciri penipu yang rajin.

Satunya lagi berani dan kejam.

Pelaku menikmati permainan sadistis.

Kasus ini lebih kuat mengarah ke tipe yang kedua.

Jadi, pelakunya sekelompok, bukan satu orang?

Jelas sekali mereka terorganisasi.

Sejujurnya, pada awalnya

aku sempat frustrasi, kenapa masih banyak yang tertipu olehnya.

Ternyata hal itu mungkin saja terjadi.

Melihatnya terus membuatku gila.

Dia seolah dekat, tapi tak tergapai.

Mereka mengirimiku pesan dan meneleponku.

Rasanya sedikit lagi aku bisa menangkapnya.

Tapi tidak tertangkap juga.

Aku punya satu ide.

Ide?

Kalian mau mencobanya?

Selama mereka pakai jaringan pribadi dan mengalihkannya via IP asing,

sulit untuk mengejar mereka. Makin dikejar, sembunyi makin dalam.

Jadi, kita jangan mengejar, tapi buat mereka datang sendiri.

Bagus kalau mereka datang sendiri. Tapi bagaimana caranya?

Mulai sekarang, bagaimana kalau kalian lakukan yang kukatakan?

Pertama-tama, Penggemar Super Rainbow.

Konser pertama Elements.

Dicari tiketnya.

Bukan begitu, tulis lebih memelas, Pak Jang.

Apa-apaan "Dicari tiketnya"? Ini untuk konser Elements!

- Baiklah, baiklah. - Ketik saja, "Sangat butuh..."

- "Plis." - "Butuh banget, Plis."

- "Plis." - Benar begitu.

- "Plis banget." - "Plis..."

- Benar, benar. - Lalu, apa lagi?

- Emoji menangis? - Benar, emoji menangis.

- Wah, Anda hebat. - Baiklah.

Sopir Kim, tolong komentari unggahan Pak Jang.

Ya.

"Penggemar Super Rainbow"

"Aku juga sedang mencari tiket Elements"

Supaya terkesan seolah-olah transaksinya sedang berjalan lancar.

Yang lain juga terus lakukan seperti ini.

Mulai!

- Aku mencari... - Terus beri komentar.

Jadi, tiket Elements ini sekarang sangat populer

dan sangat sulit didapatkan. Terus unggah biar kesannya begitu.

Tambahkan emotikon menangis. Kalian pasti bisa. Benar.

Giliranku.

- Seperti itu. Bagus. - Ini sudah bagus?

Terus unggah selayaknya penggemar Elements.

Pacarku sangat ingin menonton konser ini,

tapi katanya sudah habis terjual.

Wah, luar biasa!

Aku juga sedang mencari tiket ini.

Bagaimana cara mendapatkannya, ya?

"MontirTerhebatSejagad: Bagaimana cara dapat tiketnya?"

- Makan umpannya. - Bagus.

Bagus, bagus, bagus.

Bagus!

Sekarang, Pak Sopir Kim Do Gi, unggah kalau kamu mencari tiketnya.

Lebih bagus lagi kalau kamu bilang mencari dalam jumlah banyak.

Paket Belakang Panggung VIP Konser Pertama Elements

Ingin membeli tiket dalam jumlah besar.

Ini konser pertama Ro Mi kami,

jadi, para Peri harus datang. Emoji menangis.

Semakin banyak, semakin bagus.

"Kirim"

"Unggahan baru telah dikirim"

Pak Sopir Peri kita hebat sekali.

Kalau begitu, aku akan membuat unggahan ini muncul di paling atas.

Jika mereka mencari mangsa mereka pasti melihatnya, bukan?

"Konser Pertama Elements, Tiket Paket VIP dan Belakang Panggung"

"Ingin membeli dalam jumlah banyak"

"Raja Pancing: Kami ada tiketnya. Butuh berapa lembar?"

Ketemu.

- Itu dia pelakunya. - Bagaimana kamu tahu itu dia?

Aplikasi barang bekas ini mewajibkan penjual memverifikasi lokasi.

Jadi, data GPS-nya akan tertinggal seperti ini.

Lalu seperti yang kalian lihat, data GPS si penipu

- hampir cocok, bukan? - Begitu, ya.

- Sudah kebiasaan, ya. - Kalau begitu, sergap tempatnya...

Ayolah. Kamu pikir dia akan memakai alamatnya sendiri?

Sopir Kim, balas pesannya.

"Berapa jumlah maksimal yang bisa aku beli?"

"Bisa sampai 50 lembar"

"Raja Pancing, bisa 50 lembar"

Minta bukti tiketnya.

"Bolehkah aku minta bukti tiket fisiknya?"

Untuk membuktikan, dia harus membeli setidaknya satu lembar tiket fisik.

Karena dia membeli tiket asli, dia akan lengah.

Dengan begitu, permainan selesai.

Tunggu dulu, tapi...

Pasti banyak pembeli tiket di sini. Bagaimana cara menemukan penipunya?

Untuk apa repot-repot menemukannya?

Kalau tidak ditemukan, lalu bagaimana?

Elements masih dalam proses pengerjaan album,

jadi, mereka tidak punya jadwal konser.

Itu dia Manajer Elements kita.

Begitu, ya. Jika konsernya palsu,

situs web-nya juga palsu?

Benar!

Ini situs web buatanku.

Situs web palsu.

Jadi, satu-satunya yang membeli tiket dari situs web ini

- hanya si penipu itu? - Ya.

Ini dia pelakunya.

"Elements First Fusion"

"Manajer Elements"

"Bolehkah aku minta bukti tiket fisiknya?"

"Bank Hanseong 192-18-01225"

"Kirim pembayarannya ke nomor rekening ini"

"Aku akan langsung kirim lewat kurir resmi"

Dia langsung kirim fotonya begitu selesai membeli.

Niat sekali dia.

Tnggu sebentar.

Jika kita sedikit jual mahal, dia tidak akan curiga, bukan?

Seperti sedang berkencan saja.

Sial, negosiasi segala.

"Tanyakan apa pun pada AI TERBAIK"

"Buatkan situs web agensi periklanan palsu"

"Ini stok promosi kami"

"Kami tidak bisa memberikan diskon lagi"

Lihatlah. Mereka bahkan membuat situs web ini untuk membalas pesan.

Mereka memang terlihat seperti penjual sungguhan.

Tolong kirim paketnya ke alamat ini.

Tautannya sudah kukirim.

Baiklah.

Hari ini dapat korban lagi.

"Peta Find"

"Peta Find"

Sudah kuduga dia ada di depan mata.

Ini bagianmu, Sopir Kim.

Tangkap mereka.

Demi 5.000 dolar-ku.

Sial.

Bisa transaksi langsung? Aku bawa tunai, transfer itu repot.

Kenapa mendadak begini?

"Manajer Elements"

Sial, lebih baik aku telepon saja.

- Ya. - Halo?

Suara berbeda.

Aku sedang di kantor pos.

Langsung kukirim lewat kurir resmi kalau uangnya sudah Anda transfer.

Bisakah kita transaksi langsung? Aku mau cepat terima tiketnya.

Tolonglah.

Tentu saja bisa transaksi langsung.

Tapi masalahnya,

Aku sedang berada di Tongyeong.

Tongyeong?

Kebetulan sekali.

Aku juga sedang di Tongyeong.

Anda di Tongyeong?

Anda di Tongyeong sebelah mana?

Aku sedang di kantor pos, jadi, aku bisa langsung kirim.

Aku akan langsung ke sana.

Baiklah, kalau begitu.

Kita bertemu di Persimpangan Jungang tiga jam lagi.

Baik. Aku akan langsung ke sana. Hati-hati di jalan.

Memangnya ini Tongyeong?

Telah dikembalikan.

Tunggu! Tunggu!

Tunggu!

Kamu tahu aku mau naik!

Sial.

- Mau makan apa? - Malatang saja?

- Bagaimana kalau Tteokbokki? - Malatang!

Kalian ingin sekali, ya?

- Hei. - Hei, berhasil dapat korban?

Sial, dia ada di Tongyeong. Semuanya jadi runyam.

Sudah sampai tahap mana?

Aku menyuruhnya bertemu di Persimpangan Jungang 3 jam lagi,

lalu kututu teleponnya.

Sepertinya sekarang mereka sedang membicarakan kita?

Berikan nomornya.

Sebentar.

Coba periksa.

Aku telepon.

"Ruang Telepon, Kafe Belajar Tyler"

Halo?

Permisi, apa benar ini telepon orang yang mau jual tiket konser langsung?

Ya, benar. Aku sedang menuju lokasi pertemuan.

Kakakku mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke sana.

Jadi, katanya dia sepertinya tidak bisa datang hari ini.

Aduh, apakah dia terluka parah?

Aku sedang buru-buru. Bagaimana jika kamu yang datang menemuiku?

Maaf, aku merasa kurang nyaman bertemu orang asing sendirian.

Nanti aku sampaikan agar kakakku menghubungi Anda setelah dia sadar.

Baik, aku mengerti. Kalau begitu, semoga lekas...

Hebat sekali dia berbohong dengan wajah tanpa dosa seperti itu.

Pantas saja orang-orang tertipu.

Benar, itu yang kumaksud.

Apa kamu tidak kesulitan belajar untuk menjadi polisi?

Katanya tahun ini penerimaannya paling banyak.

Tingkat persaingannya paling rendah.

Sepertinya aku harus bertanya apa yang sedang terjadi.

Sial, aku terlambat lagi ke tempat les.

Apa? Ke mana sepedaku?

Siapa yang mencuri barang orang lain?

Hei! Kemarilah!

Pak, ke Noryangjin!

Ayo cepat jalan.

Sepertinya ada yang salah dengan ini.

Kenapa erat sekali?

Kamu ini siapa?

Kurasa Anda salah orang.

Aku hanya pekerja paruh waktu.

Aku tidak tahu apa-apa.

Aku sungguh tidak tahu apa-apa.

Untuk apa topengnya kamu lepas?

Padahal lebih baik kamu tetap memakainya.

Dalam satu jam,

kamu akan memohon-mohon untuk dibunuh saja.

Tiga puluh menit.

Itu pun kalau kamu masih hidup.

Kumohon ampuni aku.

Aku benar-benar tidak tahu apa-apa!

Kalau begitu, coba ceritakan apa yang kamu ketahui saja.

Bibi ini sudah mengalami semua itu, tapi masih belum jera juga.

Apa polisi melindungimu, Bibi?

Mereka tidak akan bisa menangkapku.

Suara ini pun kamu tidak kenal?

Sepertinya ini masih tumpul.

Lakukan saja seadanya.

Lagi pula, bukan dagingku yang akan dipotong.

Itu suara Kepala Manajer kami.

Di mana dia sekarang?

Aku juga tidak tahu.

Aku sungguh hanya pernah berbicara lewat telepon

dan belum pernah bertemu langsung dengannya. Sungguh.

Kamu bilang belum pernah bertemu dengannya?

- Ya. - Kalau begitu, semua rekanmu

juga belum pernah bertemu dengan yang disebut Kepala Manajer itu?

Kami tidak merasa perlu untuk bertemu.

Dia mengirim keperluan kami lewat kurir dan transfer uang kami.

Untuk apa lagi kami bertemu dengannya?

Lagi pula, aku ini sudah berpengalaman.

Berpengalaman?

Yang kamu sebut "pengalaman" itu

berarti jumlah korban

yang kamu berhasil menipu, benar?

Potong bagian ini saja?

Atau bagian ini? Atau kita mulai dari pergelangan kaki?

Pergelangan tangan?

- Itu... - Sakit!

Potong di sini saja.

- Aku bahkan belum menyentuhmu. - Tunggu...

Ada noda apa ini di sini.

Tolong aku! Ampuni aku! Aku mengompol.

"Fight Korea"

Apa lagi yang bisa menghasilkan uang?

Crypto sepertinya lumayan.

"Nari Coin"

"Anak Anjing Hilang"

"Bagi yang kehilangan anak anjing di air mancur Taman Namyangcheon"

Kamu benar-benar imut.

Aku pemilik Bangwool. Aku akan segera ke sana.

Kemarilah.

Ini dia.

Hei, makan!

Halo? Apa benar Anda yang membawa Bangwool kami?

Bangwool sekarang milikku.

"Mango"

Mulai sekarang, namamu Mango Enam.

Mango Enam.

Bukan, ya? Tujuh.

Jangan.

Jangan merengek, aku benci mendengarnya.

Tembak!

Hentikan. Jangan menggonggong.

Kamu mengabaikanku?

Hei, bukankah sudah kubilang jangan merengek!

"Adegan penembakan terhadap hewan dibuat dengan CGI"

"Taxi Driver 3"

Sepertinya kejahatan dianggap bisnis yang sangat menguntungkan.

Apa kamu pernah melakukan pekerjaan seperti ini?

Manusia atau hewan, percuma saja diajak bicara.

- Kita lihat siapa yang akan mati. - Hei!

Ada pihak yang menjalankan bisnis bagi yang ingin menjadi penjahat.

- Pulau Samheung? - Bukankah di ujung paling utara?

Bukankah ini agak aneh?

Orang-orang di pulau ini...

Bagaimana menjelaskannya, ya? Seolah mereka tidak manusiawi.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.