Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
FILM INI TERINSPIRASI KISAH NYATA. NAMUN, CERITA, KARAKTER,
DAN KONTEKS DRAMATISNYA HANYA REKAAN.
SEGALA KESAMAAN DENGAN INDIVIDU ATAU ENTITAS NYATA HANYALAH KEBETULAN.
Prakiraan cuaca masih memperkirakan adanya hujan petir sedang hingga lebat,
disertai angin permukaan yang menerbangkan debu.
Ini dapat memicu banjir di lembah dan daerah dataran rendah.
Kami menghimbau seluruh warga untuk tetap waspada
dan menjauhi wilayah yang tergenang air.
Seperti yang sudah kita bahas, hadis yang berterima ada dua jenis,
yaitu sahih dan hasan.
Contoh hadis sahih adalah hadis tentang manisnya iman.
Kita harus memahami maksud dan maknanya.
Mencintai Allah, Rasul-Nya, dan saudara-saudaramu karena Allah,
serta membenci kekafiran dan semua dosa.
Semua ini membuat kita merasakan manisnya iman di dalam kalbu.
Baiklah, Anak-anak.
Pastikan kalian belajar dengan tekun. Ingat itu.
- Semoga ujiannya mudah. - Mona, salin PR-nya.
MENUNTUT ILMU
FROM THE ASHES: THE PIT
WAHAI TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU HUKUM KAMI JIKA KAMI LUPA ATAU SALAH
KLINIK PSIKIATRI
APOTEK
Jangan biarkan apa pun mengganggu fokus belajarmu.
Barang-barang apa ini?
Di mana tasnya? Di mana kau meletakkannya?
Carilah. Cepat!
Nona! Periksa kompornya!
Ya Tuhan!
Ayolah. Ya ampun!
Ke mana barang-barangku?
Semuanya ada di situ!
Cukup! Hentikan, Semua!
Kau masih belum mencuci piring?
Itu piring tetangga.
Jangan lupa belajar untuk ujian akhirmu, agar kau bisa lulus.
Kau, matikan itu begitu kau kalah.
Semoga kau dapat hidayah.
Apa semua kejadian itu masih belum cukup?
Kau tidak belajar ataupun salat sebagaimana mestinya.
Kau hanya menonton TV seharian tanpa mau tahu pekerjaan rumah.
Kau bermain ponsel seharian. Ibu sungguh tak mengerti. Apa gunanya itu?
Apa yang Ibu dapatkan darimu selain masalah dan stres?
Hei!
- Astaga! Ibu membuatku kaget! - Apa yang kau sembunyikan?
Tidak ada.
Bagaimana kunjunganmu ke dokter?
Baik. Itu buang-buang waktu saja.
"Buang-buang waktu"? Kau harus bersyukur.
Sumpah, kalau bukan karena Bu Siham yang mengurus terapimu…
Ibu berutang budi padanya.
Kau tahu apa kata orang kalau mereka tahu kau ke psikiater?
Mereka akan bilang, "Dia kuat dan sedang terapi."
Katakan sesuatu. Kemarilah. Apa dokternya sudah menikah?
Ibu juga ingin menikahi dokter itu?
Ya, dia memakai cincin kawin.
Apa pekerjaan Ibu memalukan?
Menjadi seorang makcomblang lebih baik daripada janitor, bukan?
Benar, 'kan?
Siapa tamunya?
Itu ibunya Mona, temanmu.
- Mona? - Ya.
Mona bukan temanku lagi. Apa yang dia inginkan?
- Dia… Ayahmu pulang. - Aku pulang. Masuk, ya?
- Bantu ayahmu. - Baik.
- Aku pulang. - Cepat, masuklah.
Selamat datang!
Maaf membuatmu menunggu. Suamiku pulang.
Tidak apa-apa.
- Aku bisa kembali nanti jika kau sibuk. - Tidak.
Serius.
Ayo. Apa lagi yang kau cari?
Tidak ada hal khusus, asalkan keuangannya siap.
Ayolah. Tinggi, pendek, gemuk, kurus?
Tidak masalah, yang penting dia siap. Jangan seperti yang terakhir, ya?
- Lalu… - Aku tahu. Tidak berkulit gelap.
Aku tak bermaksud menyinggungmu.
Kenapa harus tersinggung? Apa aku yang akan menikahinya? Ayolah.
Baik, terima kasih.
Tolong secepatnya, ya?
Bagaimana kalau besok kita mengadakan taaruf?
- Kau serius? - Ya.
- Besok? - Ya.
- Aku belum memberi tahu Mona! - Lebih cepat, lebih baik.
Dia sungguh pria idaman. Dia kaya raya.
Aku tanyakan dia dulu dan semoga semua lancar.
Berkabar, ya?
- Pasti. - Kabari aku.
Yakinlah, dia pria idaman.
Tanyakan Mona dan kabari aku malam ini.
- Ya, pasti. - Baiklah.
Selamat datang kembali, Para Pendengar. Hari ini di Saudi…
Bau apa ini?
Ayah.
Sudah ada hasilnya?
Ayah! Ujian akhirnya baru dimulai besok.
Kenapa Ayah lupa? Ayah bilang akan membantuku belajar kalkulus.
Hei! Berikan ponsel itu!
Halo? Hei, Abu Uday.
Tidak. Mulailah menggali.
Bukan begitu kesepakatan kita.
Mimi. Pengisi dayanya.
- Apa? - Pengisi dayanya.
Tidak bisa.
Bukan urusanku.
Mimi!
Sebentar.
Cepat, Semua! Ayo, lebih cepat lagi! Kita tak punya banyak waktu!
Ayo, Pak!
Kau sedang melamunkan apa?
Cuaca hari ini buruk. Entah bagaimana mereka akan tetap fokus.
Hari ini hanya dua ujian. Tenang saja.
Sebaiknya kita memulangkan para siswi
dan menunda dua ujian itu sampai besok.
Ide yang bagus. Mereka tak butuh pendidikan.
Mari tutup sekolahnya dan rehat. Selesai.
- Kau bercanda, ya? - Ya…
Cuti melahirkan Mariam waktunya sangat tidak tepat.
Dia melahirkan lebih awal karena sering mengejar-ngejar para siswi.
Siham, hanya kau yang cocok untuk pekerjaan ini.
Kau baru satu semester di sini,
tapi kondisi sekolah ini sudah melebihi ekspektasi.
Kau bisa apa saat jadi wakasek dulu?
Cat semua pilar itu. Aku tak mau ada satu huruf pun di sana.
Tenang, aku menemanimu di sini, ya?
Baiklah.
Teman-teman, aku takut. Aku merasa belajarku kurang.
Sejujurnya, aku tak takut.
Semalam, ayahku fokus membantuku belajar.
Kau beruntung!
Jika ayahku membantuku belajar, aku akan di sini dengan mata hitam.
Seharusnya kau memasang kawat gigi, 'kan?
Apa maksudmu?
Mona! Kemarilah.
Ceritakan bagaimana kau bisa terus belajar di sekolah lamamu
setelah kebakaran itu.
- Dia sudah bilang. - Biarkan dia bicara.
Ayolah.
- Sejujurnya, itu menakutkan. - Benarkah?
Itu sangat menakutkan sehingga meja dan kursi berantakan.
Para siswi pun saling tersandung saat berlari.
Jujur, bagiku kau pahlawan.
Jika jadi dia, aku tak akan bisa belajar dengan rambut terbakar seperti itu.
Jujur.
Terima kasih.
Bahkan setelah itu, aku dituduh yang tidak-tidak.
Aku jadi teringat kepsek lama kita.
Dia menuduhku tanpa alasan yang jelas.
Astaga. Kau selalu mengatakan hal yang sama.
Apa kau tak bisa cerita yang jelas?
Lupakan saja. Mari kita belajar.
Mona.
Ayo bicara. Ini penting.
Kalau kau mencari ruang pemeliharaan, ada di sana.
Kau mau aku mengepel lantai dengan wajahmu?
Teman-teman, Bu Puff datang!
Ya, silakan. Teruslah bertengkar dan buang-buang waktu.
Saat ujian, kalian saling minta jawaban.
Bu, jujur, baju Ibu bagus sekali.
Ibu beli di mana?
Masha'el, kau rindu berada dalam masalah?
Kami bukan bertengkar, hanya bahas materi ujian.
Kau! Berikan itu pada Ibu.
Tunjukkan yang kau pegang itu. Apa itu?
Apa kami dilarang membaca?
Novel? Kami sudah bilang novel cinta itu dilarang, 'kan?
Bukan, Bu. Itu tentang seorang pria yang dirasuki setan perempuan.
Ya Tuhan, lindungilah aku.
Pantas celakmu terlihat seperti celak setan.
Hapus!
Bu Siham memanjakan kalian. Ayo!
Kemarilah.
Tunjukkan yang kau bawa itu. Apa ini?
Astaga! Kau merasa sedang ada di perjamuan, ya?
Ayo naik ke ruang ujian! Cepat!
Kata Ibu yang terpenting dari gadis adalah…
Apa? Sopan santun?
Bulu mata di sudut matanya.
Nona! Mau ke mana kau?
Kembali ke barisan!
- Kantongmu. - Aku tak punya.
Sumpah, aku tak punya.
Aku sungguh tak punya.
Buka kotak pensilmu.
Aku hanya punya cermin. Tidak ada yang lain.
Kalian dilarang membawa apa pun selain pena.
- Itu hanya cermin. - Masuklah.
Berhenti menggigit kukumu. Sayangi dirimu.
Tunjukkan kantongmu.
Masuklah.
- Dibalik. - Mona, beri aku jawabannya.
Benar, salah. Paham?
Dengarkan, Anak-anak.
Ibu tahu kalian gugup dan stres karena ujian,
tapi semoga ujian ini akan sangat mudah.
Semua soalnya mudah.
Yang terpenting, jangan ada yang meninggalkan tempat duduk.
Apanya yang lucu?
Maaf, Bu. Aku merasa ingin tertawa saat sedang gugup. Maaf.
Benarkah?
Kau pernah melihat Ibu marah, 'kan?
Jangan memaksa Ibu mempermalukanmu di sini!
Ya, maaf.
Dibalik dulu.
Dibalik dulu, ya?
Bu Widad.
Tidak boleh bawa kertas, 'kan?
Berikan pada Ibu.
Harus berapa kali tinggal kelas agar kau bisa mengerti?
Sumpah, Bu. Aku tak menyontek.
Fokus ke soal di hadapan kalian! Ayo!
Ibu akan kembali sejam lagi kalau-kalau kalian ada pertanyaan.
Anak-anak, baliklah lembar soalnya.
Ujian apa itu? Semuanya di luar silabus.
Ujiannya sulit.
- Semua jawabanku salah. - Sama.
- Bahkan… - Kau! Kenapa kau mengambilnya?
Terserah aku. Kau ada masalah?
Aku hampir tak bisa menahan diri di semester ini. Jangan memaksaku!
Kenapa? Aku tidak takut.
Jangan memaksaku.
- Hei! Jangan menyentuhku! - Sudahlah.
Mona, diam. Buka mulutmu hanya untuk makan.
Tolong hormati dia!
- Jangan! Hentikan! - Akan kutunjukkan!
- Aku akan bicara sesukaku! - Cukup!
Kubilang jangan menyentuhku! Aku segera kembali!
- Kau pikir bisa mendorongku? - Jangan! Hentikan!
- Dasar binatang! Berengsek! - Hentikan!
- Sudah! - Awas kau!
Jangan suka menghina!
- Awas kau! - Lepaskan dia!
- Hentikan! - Lepaskan dia!
- Cukup! - Kemari kau! Akan kuhajar kau!
Lepaskan dia!
Hentikan!
Mona.
- Binatang! - Jangan!
- Hentikan! - Habis kau!
- Cukup! Lepaskan aku! - Lepaskan dia!
Hei! Hentikan!
Cukup, Anak-Anak!
Bu, lihat perbuatannya terhadap wajahku!
Bu, lihatlah ini. Dia mencakarku!
Di mana? Aku tak melihatnya.
Kau mau kutunjukkan?
Bagaimana kalau perkelahiannya kalian lanjutkan di sini?
- Bu, itu bukan salahku. - Kau yang memulainya, 'kan?
Berhenti dan pergi ke Bollywood. Kau akan sukses di sana!
Aku bukan memukulmu.
Aku menyeka kotoran dari seragammu. Seharusnya kau berterima kasih.
Maksudmu, aku kotor?
- Bu, dia kerasukan! - Persetan denganmu!
Cukup! Kalian jangan kurang ajar!
Kalian beruntung karena ini ujian akhir,
jika tidak, kalian akan dikeluarkan.
Ibu akan memanggil ibu kalian.
Bu, jangan! Aku mohon! Aku ingin lulus!
- Ibuku tak bisa datang! - Kembali istirahat!
- Bu! - Pergi atau kalian tak boleh ikut ujian!
Pergi, Bodoh.
Aku mau beli jus.
Aku akan pilih yang cocok.
Entah harus memakai apa.
Biasanya kuperiksa, lalu kuputuskan.
Percayalah, dia pernah dipenjara.
Sungguh? Siapa yang bilang?
Kudengar dia juga memukul gadis di penjara.
Kalian juga mau kupukul? Mau?
- Bu Widad. Aku ingin bertanya… - Ya?
Ibu belum memberi nilai.
Aku bukan mau bertanya soal ujian, tapi…
Kurasa Masha'el bukan mau menyontek.
Seharusnya Ibu tak memberimu ini.
Semoga Tuhan membimbing kalian.
KITA HARUS BICARA. INI SANGAT PENTING.
- Boleh minta? - Aku tak suka aromanya di orang lain.
Maria, catatan Kimia-mu sudah kubuat.
Baik. Pelajari, nanti aku menyontekmu.
Kau tahu aku tak belajar.
Semoga berhasil.
Mona?
- Sedang apa kau di sini? - Kenapa kau ke sini?
Tidak cukupkah kau merusak persahabatanku? Atau kau ke sini mau mengejekku?
Aku merusak persahabatanmu?
Kau pasti tuli jika tak mendengar dia mengejekmu.
Orang yang kau kira mengejekkulah yang membuatku jadi seperti sekarang ini.
Hanya dia yang membantuku.
Kalian merasa jadi temanku? Di mana kalian?
Kau berharap aku percaya Maria benar-benar temanmu?
Tidak memanfaatkanmu?
Maksudmu, aku tak layak?
Atau apakah persahabatan kita itu tulus?
Mona, aku ke sini bukan untuk berdebat denganmu.
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Dengarkan jika kau mau. Jika tidak, terserah.
Katakanlah. Ada apa? Silakan, aku mendengarkan.
Apa maumu?
Kau tahu?
Aku sudah salah karena mencoba memperingatkanmu.
Masha'el, tunggu.
Aku ingin…
Dengar…
Dengar, sejujurnya, aku…
Aku hanya ingin mengerti…
Kenapa kita berhenti saling bicara sejak datang ke sekolah ini?
- Sebentar, ya? - Kau mau ke mana?
- Melihat ke mana gadis vulgar itu pergi. - Apa?
- Sampai nanti. - Siapa?
Mona, itu karena kupikir kau dan Hiba tidak suka padaku.
Kita telah melalui banyak hal, tapi seharusnya tak sampai seperti ini.
Mona, tenang. Semua akan baik-baik saja.
Tepat dugaanku.
Apa? Apa kau berpura-pura sedih?
Kau! Kenapa kau mengikuti kami?
Diam! Tidak ada yang bicara denganmu.
Masha'el ingin minta maaf padamu.
Aku minta maaf padanya? Untuk apa?
Ya, suka atau tidak. Sepertinya kau lupa sudah menamparku.
Aku ke sini untuk membalas tamparan itu, Kera!
- Aku kera? - Ya.
- Jangan menghina, ya? - Hentikan.
- Awas kau! - Lepaskan!
- Kau dengar? - Hentikan!
- Minggir! - Sudah!
Ayo!
- Awas kau, ya! - Hentikan
Sudah, hentikan!
Lebih cepat lagi!
Hentikan! Cukup!
- Ayo cepat! - Dasar kera!
- Teman-teman! - Awas kau!
Jangan buang-buang waktu!
Cukup! Teman-teman, hentikan!
Jangan berhenti!
Sudah! Hentikan!
Ayo, Anak-anak!
Ayo, Sayang!
Masuk untuk ujian kedua!
Kau lihat Masha'el?
- Di mana… - Cepat, Sayang!
- Ada yang lihat Masha'el dan Mona? - Tidak.
- Ayo! - Masha'el!
- Kau lihat Mona? Masha'el! - Hei…
- Hei! Cepat! - Mona!
- Cepat. - Masha'el!
Mau ke mana kau? Kemari.
- Aku mencari… - Saat hujan begini?
Aku mencari Masha'el dan Mona.
Mereka pasti di atas. Ayo.
Naiklah, cepat!
Ayo!
Petir bertasbih dengan memuji-Nya, malaikat juga karena takut kepada-Nya.
Bibi! Kemarilah.
Ya, Bu?
Terima kasih. Para siswi ini hilang dari kelas.
- Carilah mereka. - Baik.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Hei!
Sedang apa kau?
- Kau menyontek, ya? - Tidak, Bu.
Tunjukkan tanganmu! Ibu ingin lihat!
Apa ini?
Ini inisial namaku dan ayahku.
Ayahmu, ya? Ayahmu!
Ayahmu Mazen, 'kan? Sekarang jadi Hazen?
Terserah kau sajalah.
- Bu. - Ya?
- Aku mau ke toilet. - Bisa saat rehat saja?
Selain karena kondisi kesehatan, kau harus menunggu sampai ujian selesai.
Kita tunggu teman-temanmu sebentar lagi, lalu Ibu bagikan soalnya.
Sejak meninggalkan sekolah yang buruk itu, aku terus-menerus diberkati.
Halo, Bu Maria. Selamat datang.
Ada urusan penting apa sampai aku harus datang saat cuaca begini?
Pasti karena putri kita. Siapa lagi?
Maaf, tak ada yang bicara denganmu.
Astaga, ibu dan anak sama saja.
Putri kalian berkelahi dan saling menjambak.
Perilaku itu tak bisa diterima di sini.
"Menjambak rambut"? Tidak mungkin.
Aku yakin itu salah putrinya.
Semua salahnya? Kenapa? Putrimu malaikat?
Tenang, Marzouka.
Kau pernah bekerja dengan kami di sekolah lama dan kau tahu mereka.
Kau dulu petugas kebersihan, ya?
Bu Siham, bisa kita bicara?
Ini penting sekali.
Ibu-ibu, mari selesaikan masalah putri kalian dengan tenang.
Aku permisi sebentar.
Mona, Maria, dan Masha'el tak ada di ruang ujian. Mereka menghilang.
- Bagaimana bisa? - Mereka hilang!
Cuci tanganmu.
Cuci dengan benar atau kau ingin Ibu bawa ke kepsek?
Ada yang lain di sini?
Kurasa tidak.
Periksa lagi sebentar.
Tidak ada orang di sini.
Kenapa dia?
Kami menghapus catatan di tangannya,
bukannya kertas!
Ada-ada saja.
- Sudah cari ke segala tempat? - Ya.
- Belum ketemu juga? - Belum.
Bibi Samra, kau menemukan mereka?
- Tidak. - Di sana tak ada?
- Tidak ada di mana pun. - Ayo.
Di mana kita?
Kakiku!
Kakiku sakit!
Kakiku sakit!
Kakiku!
Kurasa kakiku patah!
Teman-teman!
Teman-teman! Ada yang dengar kami?
Keluarkan kami!
Maria!
Maria.
Maria.
- Kau tak apa-apa? - Di mana kita?
- Di mana kita? - Kau berdarah!
Di mana kita?
Apa yang telah kau lakukan?
Kau menyalahkanku atas hal ini juga?
Keluarkan kami.
Di mana kita?
Teman-teman! Aku takut sekali!
Di mana kita?
Ini air selokan?
Kakiku!
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ada yang dengar kami?
Kakiku!
Tidak, aku tak akan terlambat.
Seduh saja kopinya. Aku segera ke sana.
Maaf.
Karena menyebutmu remaja 40 tahun.
Kapan?
Barusan.
Aku memang memanggil kalian karena perkelahian itu…
Tapi baru saja terjadi sesuatu.
Bisa cepat diselesaikan? Aku mau pergi.
Bu Maria, ini sangat serius.
Putri kalian kabur dari sekolah.
Apa?
Mari mulai saja. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Aduh! Perutku, Bu! Aku harus ke toilet!
Silakan ke toilet setelah ujian selesai!
Bu Widad!
Mereka sudah ketemu, 'kan?
- Sepertinya mereka kabur. - Kabur?
Bagaimana bisa?
- Hafsa! - Sudah kubilang.
Jika berisik lagi, Ibu ambil soal ujian kalian!
Mereka tak mungkin kabur.
Mau Ibu ambil, ya?
Itu tak masuk akal, Bu!
Fokus pada ujianmu!
Sudahlah, tenang.
Bisa kau fokus pada ujianmu dan biarkan sekolah yang mengurusnya?
Aku sudah tak tahan lagi! Aku mau pergi dari sini!
Aku mau pergi dari sini!
Kau tak sendiri! Kita semua di sini!
Jika sendirian, aku tak akan jatuh!
Ini salahmu sendiri karena ikut campur urusanku.
Kalian serius? Ini bukan waktunya bertengkar.
Aku? Yang selalu jadi sumber masalah adalah kalian berdua!
Kau mau kukubur di sini?
Diam!
Bertengkarlah saat kita keluar dari sini!
Teman-teman, tolong!
Tolong! Ada yang bisa mendengar kami?
Tolong kami!
- Tolong! - Tolong!
- Tolong kami! Siapa saja! - Tolong, keluarkan kami!
Keluarkan kami dari sini!
Tolong!
- Keluarkan kami! - Ada yang dengar kami?
Tolong!
Kau tak melihat mereka?
Kau yakin?
Cari di sekitar sekolah dan laporkan hasilnya.
Baik.
Apa maksudmu? Mereka menghilang begitu saja?
Aku sudah bilang. Sekolah ini tidak pantas untuk kami.
Aku mengerti perasaanmu, Bu Maria.
Namun, sekolah punya aturan dan kami berharap semua orang mematuhinya.
Bagaimana sekolah ini bisa ceroboh?
Tidak ada staf, kepala sekolah, ataupun penjaga!
Gerbangnya terbuka dan siapa pun bisa keluar masuk seenaknya.
Sekolah ini tak bisa disalahkan atas kecerobohan siswi.
Jadi, bagaimana? Mereka akan gagal?
Hanya itu yang kau pedulikan?
Di mana putriku?
Jika dia terluka, kau yang harus bertanggung jawab, Siham!
Kubilang aku mengerti, Bu Maria.
Namun, kau tak berhak untuk meninggikan suaramu!
Sudah kubilang! Putrinya pasti telah memaksa Maria.
- Namun, kau tak percaya! - Kalau sebaliknya?
Maria dibesarkan dengan baik oleh keluarga terhormat!
Putriku dari keluarga pelayan?
Kau yang bilang, bukan aku!
Kau dengar itu, Bu Siham? Kau ingin aku tenang?
Jika tak suka sekolah kami, ini arsip putrimu, Bu Maria.
Carikan dia sekolah yang sesuai dengan standarmu!
Silakan tunggu di luar
sampai mereka ditemukan atau kembali sendiri.
Mari berharap yang terbaik.
Jangan, nanti kau bisa terpeleset.
Kau tak bisa.
Hentikan. Nanti kau jatuh.
Hentikan, nanti kau terluka.
Aku tak bisa.
Teman-teman.
Teman-teman, ada yang bisa memanjat bersamaku?
Mona, kau tak melihat kakiku?
Mona, kau memegang ponselku, 'kan?
- Apa masih berfungsi setelah terendam? - Ponsel…
Ponsel! Ponselnya hilang!
Apa maksudmu?
- Aku akan mencarinya. - Kau menjatuhkannya?
- Ketemu! - Berikan padaku.
Aku menemukannya!
Cepat, berikan padaku.
Ponselnya mati.
Coba lagi.
Tidak bisa!
Teruslah mencoba!
Tetap tidak bisa!
Ya Tuhan!
- Ada apa? - Tidak apa-apa.
Mona, ada apa? Katakan padaku!
Katakan! Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Ya Allah, ya Tuhanku!
Tutup pintunya, cepat.
KEPALA SEKOLAH SIHAM GHALEB
Tidak kusangka Mona dan Masha'el berulah lagi. Kukira mereka sudah berubah.
Kau baik-baik saja?
Kau beruntung melewatkan perdebatan ibu-ibu di sini.
Kenapa? Ada apa?
Mereka tak punya rasa tanggung jawab, hanya saling menyalahkan.
Benarkah?
Kukira para gadis itu jadi lebih dewasa setelah apa yang terjadi.
Kau benar.
Namun, mereka masih remaja, Siham.
Siapa yang melakukan ini saat hujan? Ini tak lazim.
Berapa lama lagi ujian kedua?
Kurang dari satu jam.
Kau menelepon ayah Mona?
Ya, tapi dia tak menjawab.
Aku akan menelepon ibunya.
Halo?
Halo?
Bu Mona?
Halo?
Aku tak bisa mendengarmu, tapi bisa kau datang ke sekolah?
Halo…
Panggilannya terputus.
- Ya Tuhan. - Yang Maha Lembut!
Semoga semua baik-baik saja.
AYAH MASHA'EL MEMANGGIL…
Kau juga disalahkan?
Masalah apa pun, meskipun di Mars, itu kesalahan kita.
Ya Tuhan, ampunilah aku.
Ya Tuhan, tolonglah kami.
Dia akan menceraikanku karena ini!
Astaga.
Kurasa itu bukan masalah bagimu. Kudengar kau makcomblang.
Katakan, bagaimana denganmu?
Aku menelepon Mimi, tapi teleponnya selalu sibuk.
- Kau mengizinkan putrimu bawa ponsel? - Apa anak-anak sekarang bisa diatur?
Apa kau bisa?
Aku tak bisa.
Gadis itu menguras energiku.
Aku sudah coba memukuli dan mengurungnya.
Ini bukan kali pertama.
- Bukan kali pertama? - Semoga Tuhan membimbingnya.
- Bu Siham? - Kau mau apa dengannya?
Aku akan bilang ini bukan kali pertama! Ini salah putrimu!
Apa kau senang membuat masalah?
Lihat saja nanti. Minggir!
Aku tak mau! Kau akan mengadukan putriku?
Lepaskan tanganku!
Bu, aku tak tahu jawaban atas soal ini.
Sayang, kenapa menangis?
Kami menyuruhmu belajar. Ujian tahun ini sulit.
Namun, kau tak mau mendengarkan.
Ibu tak mengajar hadis, tapi coba Ibu lihat.
"Isilah titik-titik berikut: Kebohongan menyebabkan…"
- Cari Maria juga! - Aku yakin Bu Ruba mau hadis lengkapnya.
Pikirkan hal itu.
Bu, aku juga punya pertanyaan.
MENUNTUT ILMU
Fokuslah pada lembar ujian kalian.
Hiba?
Kekacauan apa ini?
Masha'el!
Mona!
Apa kita boleh memakannya?
Itu yang kau pikirkan sekarang?
Maksudku, jika kita lama terjebak di sini.
Selama berhari-hari.
Kita akan berhari-hari di sini?
Tidak ada yang tahu kita hilang.
Itu pemikiranmu saja.
Orang tuaku pasti mencariku.
Orang tuaku juga.
Satu-satunya orang yang mencarimu ada di sini.
Di bawah tanah pun kau mencari ribut?
Kita sudah kacau.
Sudahlah, Masha'el.
Dia tak bermaksud begitu.
Sebenarnya…
Dia gadis baik.
Bagaimana kau tahu aku baik?
Jangan mendorongku.
Atau apa? Kau akan meninggalkanku?
Masha'el benar saat dia bilang kau lintah.
Aku tak pernah menganggapmu teman.
Kau hanya bilang, "Mona, jawab ini! Mona, ambil itu!"
Mona, lakukan ini! Lakukan itu! Mona, kerjakan PR-ku!
- "Mona, lakukan ini! Lakukan itu!" - Cukup.
Kau menjijikkan!
Kau menyebalkan dan menjijikkan!
- Kau hanya… - Mona, cukup!
Ada kabar dari satpam?
Dia bilang tak ada yang melihat mereka.
Apa putrimu pernah melakukan ini?
Kau tahu, Bu Siham, gadis-gadis seusia itu saling memengaruhi.
Putriku tak pernah nakal.
Kau yakin dia tak punya alasan untuk melakukan ini?
Tolong jaga ucapanmu.
Omong kosong apa itu?
Tentu saja tidak!
Aku hanya bertanya, Bu Maria.
Permisi sebentar.
Halo?
Putri manjamu bisa membuatku mati berdiri.
Entah ke mana dia pergi!
Hiba?
Bu Hafsa, siapa yang mengawasi ruang ujianmu?
Janitor itu.
Kenapa kau meninggalkan ujianmu?
Ada apa ini?
Anak-anak, kembali ke kursi kalian.
Kembali ke kursi kalian.
Ada apa ini?
Apa yang terjadi?
Tenang, Semua. Tidak terjadi apa-apa!
KEBAKARAN
Kemari kau! Kau menyebutku janitor tak beradab?
- Rambutku! - Kau menyebutku apa?
Masha'el!
Mona!
Masha'el! Mona!
Memang apa yang bisa kau lakukan?
Masha'el!
Tidak!
Aku di sini!
Apa? Mau mengajariku sopan santun?
- Ya, kalian! - Kau…
Teman-teman! Tolong aku! Aku terjebak di atap!
Kau tak tahu dengan siapa kau bicara!
Teman-teman!
Lain kali, jangan membuat keputusan atas hal yang bukan urusanmu.
Uruslah para siswi itu!
Ayo. Anak-anak, kembalilah.
Semuanya, kembali ke kelas. Tak ada yang perlu ditakuti.
Ya Tuhan…
Ayo, kembali ke kelas! Tidak ada yang perlu ditakuti!
- Ayo! - Bu Siham.
- Pipa kamar mandi pecah. - Nanti!
Tidak apa-apa! Kembali ke kelas, Semua!
- Lepaskan aku! - Hentikan, kalian berdua! Cukup!
- Kau dibesarkan oleh janitor. - Hentikan!
Aku lebih baik darimu!
Kau yang memulai!
- Lihat? Dia yang… - Bu Maria!
- Dia tak mau berhenti! - Cukup!
- Tenanglah. - Lepaskan aku!
Bu Ruba! Kumpulkan semua kertas ujian. Kita pulangkan semua siswi.
Ada apa?
Tutup katup utama dan carilah Hiba!
Cepat!
WAHAI GURUKU, KALIAN MENERANGI JALAN KAMI
Sedang apa kau di atas sini?
Kemarilah, cepat!
Kakiku!
Sebentar, coba kulihat kakimu.
- Kakiku! - Tenanglah.
Aku tak bisa.
Kau akan baik-baik saja.
Kau akan baik-baik saja.
Teman-teman, hujannya semakin deras.
Kita akan tenggelam.
Semoga hujannya akan berhenti.
Mungkin kita butuh lebih banyak air
untuk mengangkat kita keluar dari sini.
Ya, tapi aku tak bisa berenang.
Jangan khawatir.
Jangan khawatir, ada kami di sini.
Abdul Nour Khalifa!
Ayman Jamal!
Alih-alih mencari anak, kalian malah membuat masalah di sini?
Dia yang mulai. Aku tak melakukan apa-apa.
Lihat? Anak dan ibu sama saja!
Abdul Nour Jamal…
Baik, kami sudah cari di mana-mana, tapi mereka tak ditemukan.
Jadi, terpaksa aku harus menelepon polisi.
Jangan, Bu Siham. Kau bilang mereka mungkin kembali.
Tolong, Bu Siham. Kami tak mau ada skandal semacam itu.
Jangan melibatkan polisi.
Baik. Kita tunggu sebentar lagi.
Terima kasih.
Ahmed Al-Arodhi!
Ayo, masuklah.
Sedang apa kau di sana?
Aku mencari mereka.
Kami sudah melakukannya.
Namun, Bu…
Terlepas dari masalah yang dihadapi,
mereka mungkin sedang menikmati hujan, tapi kau mencari mereka.
Tidak mungkin.
Mereka tak mungkin kabur.
- Kami ada ujian. Aku tahu mereka. - Hiba.
Sejauh yang kutahu, dulunya kalian berteman.
- Mereka tak akan melakukan apa pun tanpa… - Tanpa apa?
Tanpa memberitahumu?
Itu yang mengganggumu? Kau merasa ditinggalkan?
Kenapa tak ada yang memercayaiku?
Aku kenal baik teman-temanku.
Apa mereka harus senasib dengan Amira?
Semoga tidak. Percayalah, Bu Siham sangat peduli hal ini.
Aku menunggu kami berbaikan dan jadi teman seperti dulu lagi.
Ada yang tidak beres.
Sopirku menunggu di luar.
Apa idemu akan berhasil?
Aku tak tahu.
Bagaimana jika gagal?
Apa kita akan mati?
Kita tak akan mati!
Tetaplah berharap.
Pikirkanlah hal lain.
Andai saja aku tak pernah ke sini.
Ini salahmu!
- Kenapa kau mengikutiku? - Mona, ini bukan waktu yang tepat.
Apa kita masih punya waktu?
Kenapa kau menguntitku?
Aku mau memberi tahu ibumu akan menikahkanmu lagi!
Maaf telah peduli kepadamu!
Teman-teman.
Teman-teman!
Maria!
- Maria! - Tolong!
Kemarilah!
- Pegang tanganku! - Aku tak bisa!
- Pegang! - Tarik aku!
- Maria! Ulurkan tanganmu! - Tarik!
- Terus pegang tanganku! - Mona!
Pegang! Maria!
Hiba!
Kau menemukan mereka?
Kau lihat mereka bersamaku?
- Lama. - Ya?
Apa Maria bilang dia akan kabur?
Tidak. Dia tak akan melakukan itu.
Hiba.
Duduk dengan tenang di sini atau tunggu sopirmu di luar.
Besok Ibu akan bicara dengan ibumu.
Kenapa kalian mengabaikan ini?
Ibu tak masalah sekolah ini kebanjiran?
- Para siswi itu masih… - Tidak, kami tak mengabaikannya.
Mereka yang kau maksud itu adalah biang masalah.
Entah apa yang mereka lakukan hari ini.
- Jangan bicara seperti itu! - Hiba.
Sayang,
tahun lalu jadi pelajaran yang pahit untukmu dan kami.
Ibu tak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Mereka pasti akan kembali. Percayalah.
Kau pulanglah agar Ibu bisa menenangkan pikiran.
Sopir kami ada di luar, Bu. Ayo, Hiba.
Syukurlah. Kau selamat. Terima kasih, Tuhan!
Menjauhlah dari lubang itu. Jangan sampai tenggelam.
- Teberkatilah hatimu! - Hujan masih turun.
Mona.
Ayo. Kemarilah.
Ulurkan tanganmu.
Masha'el.
Tidak apa-apa.
Mona!
Duduklah di sini.
Salut untuk sang koki.
Ayo ikut Ibu. Cepat.
Ada apa ini? Apa ulah mereka?
Kita hubungi orang tua mereka untuk menjemput. Ayo.
Halo? Ayah di mana? Ayah terlambat sekali.
Sepertinya kita akan mati di sini.
Jujur, aku lebih baik mati…
Daripada pulang untuk dipaksa menikah,
lalu bercerai, dan mengulang penderitaan yang sama.
Mona, tenanglah.
Semoga kita akan lulus,
kuliah, dan bersenang-senang bersama-sama.
Jujur, aku tak menyalahkan ibuku.
Dia tak bisa memaksamu menikah lagi.
Aku pantas menerima itu.
Aku telah menghancurkan hidupnya.
Apa maksudmu?
Pada hari itu…
Aku mengambil belanjaan dari ayahku.
Apa ini? Kau sendirian?
- Tidak apa-apa, Ayah… - Tidak, tinggalkan itu. Ambil ini.
Masuklah, nanti Ayah menyusul.
- Biarkan aku membantu Ayah. - Tak usah.
- Halo. - Hai.
Jadi, begitukah? Kau ingin bercerai?
Cobalah perbaiki keadaan daripada merusak pernikahanmu.
Aku? Dia punya istri kedua yang juga tinggal di gedung ini?
Ayo pergi, Mona.
Andai saja aku bisa tutup mulut!
Mona, sudah. Yang lalu biarlah berlalu.
Masha'el, sekarang aku berbagi kamar dengan sepuluh orang anak!
Mona.
Kau tidak bersalah.
Tempatkan dirimu di posisi ibumu.
Apa yang dia dapatkan?
Apa yang kudapatkan darinya?
Aku kehilangan ayahku.
Sekarang, dia ingin menikahkanku
dan menyingkirkanku.
KEHADIRANMU MENGHIASI SEKOLAH KAMI
KAMI MAJU BERSAMAMU DALAM BELAJAR DAN CINTA! SMA 887
Tidak bisa hidup dengan mereka…
Tak bisa hidup tanpa mereka.
Aku ingin putriku kembali!
Tenang, percayalah pada Tuhan.
Tenangkan dirimu.
- Ya Tuhan! - Tuhan akan menjaga keselamatan mereka.
Makanlah. Mona, cepat makan.
- Kita akan ada tamu. - Kalian lihat ponselku?
Berikan piringmu.
Masha'el.
Aku minta maaf karena mengatakan bahwa ini salahmu.
Aku merasa seperti orang jahat, bahkan pada keluargaku sendiri.
Mungkin aku pantas berada di sini.
Jika ada yang pantas menerima ini, akulah orangnya.
Doa ayahku telah dikabulkan.
Kalian tak terkait hal ini.
Sebentar!
Selamat datang, Cokelat!
Akhirnya kau datang. Sudah lama, ya?
Ini, sekarang berikan uangku.
Kau mau uangmu? Silakan ambil.
- Uangku. - Ambil sendiri.
- Itu bukan kesepakatan kita. Lepaskan! - Ambillah.
Ayah dan ibumu tahu kau menyembunyikan masalah!
Demi Tuhan.
- Aku tak melakukan… - Diam!
Kau jangan bicara!
Kau bawa aib dan membuat kami malu. Kau memalukan!
- Demi Tuhan. - Ayah…
Andai saja Ayah sudah mati sebelum melihatmu seperti ini.
Aku tak bisa melupakan wajahnya.
Dia tak mau berbicara ataupun mendengarkanku.
Dia tidak mau…
Aku mengecewakannya.
Tuhan menempatkan kita di sini karena suatu alasan.
Jika aku mati, mungkin mereka akan merasa lega.
Ayolah, kita semua pernah berbuat salah.
Ahmed Ali!
Ahmed Ali!
Ahmed Ali!
Gadis itu keras kepala.
Dia membuatku ragu dan merasa mungkin mereka ada di sini.
Bisa berhenti meragukan keputusanku?
Kau melihatnya. Kita mencari di mana-mana. Apa mereka ketemu?
Ke mana mereka? Apa mereka terbang?
Apa kau sudah tanya dia lagi?
Kalian semua berhentilah berspekulasi!
Kau lakukan saja tugasmu, ya?
Kesabaranku hampir habis. Sudah cukup.
Siham, kenapa kau bicara seperti itu? Aku sudah membantumu tanpa henti.
Itu adalah tugasmu, bukan bantuan.
Kenapa bicara begitu kepadaku? Jangan bicara seolah aku ini anak kecil!
Aku ini atasanmu! Kau mengerti?
Kuharap Mona dan Masha'el ada di sini untuk melihat usahamu bagi mereka.
Abdul Wahab Khalil!
Ayman Shakir!
Khalil Alawi!
Khalil Alawi!
Tolong!
Tolong!
Teman-teman. Begitu sajakah? Apa kalian akan menyerah?
Aku tak sanggup lagi.
Ini hukuman Tuhan untuk kita.
Kita harus mati karena sedikit kesalahan?
Kita ini masih muda.
Berbuat salah itu biasa.
Namun, itu egois.
Serius?
Aku tak egois!
Aku tidak egois!
Aku tak mengira akan sejauh ini.
Aku tak mau ayahku tahu.
MOUZNA
- Kau mau keluar sekarang? - Ya.
- Kau tak cemas ayahmu akan melihatmu? - Dia tak akan mengenaliku.
Kecuali tasku ini.
SMA PUTRI 887
Ayo, cepat!
Jangan dibanting.
Aku merindukanmu.
- Kau tahu sesuatu? - Apa?
Aku merasa kau memanfaatkanku.
Kau mengirim pesan saat ada perlunya, lalu menghilang.
Serius? Kau sungguh seperti Mouzna, bukan Mazen.
Ayo kita pergi.
Mazen.
Dia mahrammu?
- Ya, dia adikku. Tanya saja. - Mana KTP-mu?
Siapa namamu? Kau tak mau menyebut namamu?
Hei, Nona!
- Tunjukkan padaku. - Ya, baiklah.
Tas itu miliknya?
Besoknya, sekolah dapat laporan bahwa Lama menyelinap keluar
dan kepsek memarahinya di depan umum.
Namun, kau diam saja?
Ibu dan ayahku tahu, lalu tak mau bicara denganku.
Jangan bicara dengannya.
Kau tak pernah memberi tahu Lama?
Hentikan. Aku cerita bukan untuk dikuliahi.
Dia ingin dipuji.
Lama masih tak tahu apa-apa soal itu?
Aku telah melakukan kesalahan. Aku menyadari itu.
Aku sangat menyesalinya.
Ya Tuhan, maafkanlah aku.
Masha'el! Mona! Maria! Kalian bisa mendengarku?
Ya! Kami ada di sini!
- Masha'el! Mona! Maria! - Ya!
Tolong keluarkan kami!
Teman-teman, kalian mendengarku?
Omong kosong kekanak-kanakan apa itu?
Apa-apaan kau?
Ibu salah memperlakukanmu seperti orang dewasa!
Apa kejadian di sekolah ini yang kau rahasiakan? Katakanlah!
Hiba, kau tahu di mana mereka, termasuk Masha'el?
- Kau tahu di mana mereka? - Jawab.
Kau tahu atau tidak?
Kini kau melampiaskan masalahmu padanya?
Keputusan Ibu sudah final!
Mulai hari ini kau dikeluarkan! Mengerti?
Hentikan! Cukup!
Kau membakar sekolah, lalu mengeluarkan dia juga? Apa lagi?
Apa yang kudengar barusan?
Maksudnya, kebakaran itu?
- Ya? - Bukan!
Itu kecelakaan, sumpah.
Dia tak sengaja. Itu sebuah kecelakaan.
Dia tak sengaja. Itu kecelakaan karena rokok, sumpah!
Kami ada di sini!
Kau?
Ada korban yang tewas. Masa depan para siswi itu hancur.
Aku juga! Aku? Kau lihat? Aku!
Makhluk apa kau? Manusia macam apa kau ini?
Bibi Marzouka! Aku bersumpah dia tak sengaja!
Wajahku cacat seumur hidup karenamu, tapi kau masih bisa tidur nyenyak, 'kan?
Keluarkan kami!
Tolong!
- Teman-teman! - Ya!
Kami di sini!
Percayalah, Bibi Marzouka, itu kecelakaan! Ini bukan saat yang tepat!
Bu Siham! Ayo kita bantu para siswi itu!
Ayo bantu mereka! Cepat!
- Cepat, Bu Siham! - Masha'el!
Sebentar! Sabar!
Ada apa ini?
Ya Tuhanku! Kau…
Pak, kau masih mengejarku? Lupakanlah aku!
Kau pikir aku tak akan menemukanmu lagi?
Aku mencampakkannya hari itu! Lepaskan!
Jika kembali mendekati dia, kau tak bisa melihat matahari terbit lagi!
Mimi!
Kita akan mengeluarkan mereka. Itu pasti, percayalah.
- Mereka akan tenggelam… - Mereka pasti selamat.
- Kau bisa mendengarku? - Ya Tuhan!
Kami butuh Pertahanan Sipil sekarang!
Sudah kubilang mereka akan mengeluarkan kita.
Syukurlah. Kita akan keluar dari sini.
Apa ini?
Tidak!
Tidak!
Hujan sudah berhenti! Jangan mencari alasan lagi!
Cepat! Ayo, lebih dipercepat lagi!
Kau juga! Dari mana saja kau? Ayo!
Bagaimana aku bisa bersama kalian? Cepat!
Astaga.
Tolong panggilkan Bibi Haneen-mu.
Bibi Haneen!
Apa kabar?
- Yassine! - Bukan urusanmu.
Ya, aku datang!
Apa?
Di mana Mona?
Apa kau baru ingat punya putri?
Kau masuklah.
Itu bukan urusanmu.
Ke mana kau biarkan putrimu pergi?
Apa kau gila? Dia sedang belajar di dalam!
Putrimu telah kabur dari sekolah.
- Kau bahkan tak tahu! - Apa?
Kau tak menjawab teleponmu! Di mana ponselmu?
SAHAR
DUA PANGGILAN TAK TERJAWAB DARI SAHAR
ABU UDAY
Ya, Abu Uday?
Abu Rakan, segera ke sini. Kami membutuhkanmu. Kau di mana?
Ada apa? Apa yang kau lakukan?
Ada lubang besar di sekolah tetangga!
- Kami menyebabkan lubang besar, Pak. - Apa kau bilang?
Kau harus datang sekarang! Cepatlah!
Pusat, terjadi runtuhan di lokasi.
Tiga siswa terjebak di lubang runtuhan.
Menyingkirlah!
Tim, lakukan pemeriksaan di seluruh area.
Hiba, saat kau lihat, mereka masih hidup atau tidak?
- Periksa keamanan dinding sekolahnya. - Baik.
- Mereka hidup atau tidak? - Beri tahu kami!
- Mohammed, sabuk pengamannya sudah siap? - Sudah.
Pastikan tangganya dipasang dengan benar di lokasi.
Ada yang sudah keluar?
Minta tim memeriksa ulang penyangganya.
Periksa keamanan dinding sekolahnya.
Akhirnya, kita akan keluar.
Kamera termal telah tiba. Kami…
Sungguh tak kuduga.
Kamera termal telah diturunkan.
Terima kasih, Tuhan!
Segala puji bagi-Mu!
Kenapa kita berdiri di sini? Kita harus ke sana!
Apa ada kebakaran?
Ada siswi jatuh ke lubang runtuhan.
Lubang itu sedalam 8 meter.
Para siswi masih hidup.
- Abu Uday, ada apa? - Aku tak tahu.
Tanah runtuh dan ada orang yang terluka. Periksalah!
Begini, evakuasi kru dan ambil peralatannya.
Baik.
- Pastikan Bulan Sabit Merah di lokasi. - Permisi.
Tolong beri jalan.
Bulan Sabit Merah ada di lokasi dan siap.
- Dilarang masuk. - Hussam!
Aku pimpinan proyek di sini.
- Hussam! - Itu istriku. Permisi.
Tolonglah aku, Hussam! Tolong!
- Putrimu! - Bicaralah!
Tolong aku!
- Bicaralah! - Kami di kedalaman 6 meter.
Mereka datang. Kita selamat.
Kalian tak apa?
Kakinya patah.
Bisakah kau berdiri?
Kakiku tak bisa digerakkan.
- Pelan-pelan! - Seorang siswi patah tulang.
Ambil tandu dan penyangga untuk kaki kiri.
Baik!
Tandu dan penyangga sedang dikirim.
Permisi! Kami butuh seseorang untuk meyakinkan kami.
Meyakinkan… Kami hanya ingin tahu. Mereka masih hidup atau tidak?
Mereka akan baik-baik saja. Tenanglah, Bibi Marzouka.
Siswi kedua terluka, tapi dia bisa menaiki tangga.
- Kau siap menerima para siswi itu? - Siap.
- Permisi. - Ya?
Tolong katakan bagaimana kondisi para siswi itu. Aku kepala sekolah.
Pertahanan Sipil sudah temukan mereka. Sebentar lagi keluar.
Mereka merespons? Mereka baik-baik saja? Apa mereka mendengar kalian?
Penyelamatan sedang berlangsung. Kami berusaha maksimal.
Terima kasih.
Bulan Sabit Merah ada di lokasi dan siap.
Ini salah para pekerja!
Mereka sangat tidak kompeten!
- Diam kau! - Mau apa kau? Akan kuhajar wajahmu!
Berhenti mengganggu atau kalian akan kutahan.
Hei, Hussam!
Ayo, sudahlah!
Kita harus cepat. Tanahnya tidak stabil.
Bagaimana para ibu itu?
Mereka mencoba tabah, saling menguatkan, dan…
Semoga semua selamat.
Maaf. Aku tak bermaksud begitu.
Aku senang itu terjadi.
Aku merasa sangat lega.
Andai saja aku memercayai firasatku dan memulangkan mereka lebih awal.
Begitu aku melihat hujan turun.
Percayalah, tindakanmu sudah benar.
Semua sudah terjadi.
Syukurlah para siswi yang lain pulang dengan selamat dan aman.
Mona, kau naiklah.
- Kau bisa memanjat? - Ayo.
Mona, pergilah.
Jangan lihat ke bawah.
Siswi pertama sedang naik.
Pegang yang erat.
Jangan melihat ke bawah.
Mundurlah, tolong.
Tolong beri tahu kami perkembangannya!
Cepat. Tanahnya tidak stabil.
Siswi kedua terluka, tapi bisa naik tangga.
Kami mendapatkan siswi pertama.
- Tunggu. - Aku mau lihat putriku.
Siap menerima tandu.
- Mona. - Baik.
- Mona! Kau baik-baik saja? - Mona!
- Kau lihat Maria? - Kau tak apa?
- Maafkan Ayah, Sayang. - Kau baik-baik saja?
- Ya Tuhanku! - Permisi.
Ayo, naiklah.
Aku akan naik setelah kau. Tenang.
Ayo, Tim. Kau siap menerima tandunya?
Aku siap menerima tandu.
Tandunya sedang diturunkan.
Cepatlah. Tanahnya tidak stabil.
Tandunya sudah di tangga. Siap menarik?
- Siap. - Tariklah perlahan-lahan.
Lebih cepat lagi.
Tanahnya tidak stabil.
Bulan Sabit Merah ada di lokasi dan siap.
- Ya Tuhan, tolonglah kami! - Ya Tuhan!
Kami dapat siswi kedua.
Jaga tetap sejajar.
- Masha'el! - Masha'el!
- Masha'el, Sayang! - Kau lihat Maria?
Masha'el! Putriku!
Masha'el, kau dengar Ibu? Masha'el!
Putriku ada di sana! Katakan dia baik-baik saja! Tolong!
Kirim orang untuk memeriksanya!
Aku ingin melihat putriku!
Perhatian. Evakuasi siswi itu, sekarang.
Tanahnya tidak stabil.
"Katakanlah, 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.'"
Evakuasi!
Segera lakukan evakuasi!
SMA PUTRI 887
- Lubangnya amblas. Jangan mendekat. - Apa yang amblas?
Ayo!
Jauhkan para orang tua dari lokasi!
Kita butuh bantuan sekarang! Cepat!
Ayo!
Ayo, Tim! Cepat!
- Maria! - Cepat!
Maria!
Maria!
Maria!
- Maria! Kau dengar kami? - Maria!
KANTIN
Berkat doa orang tua, perhatian ibu…
UPACARA WISUDA
…guru dan usaha mereka, serta teman sekelas dan dukungan mereka,
kita berhasil mencapai hari pertama dari fase transisi kalian,
dari sekolah ke dunia nyata.
Menuju masa depan.
Semoga kami telah membekali kalian dengan semua hal yang dibutuhkan.
Ilmu pengetahuan, moral,
kesantunan,
ketekunan, dan keteguhan hati.
Ada satu hal yang harus kalian tahu.
Kalian tak luput dari salah, berapa pun usia kalian.
Tidak ada manusia sempurna.
Yang terpenting adalah belajar dari kesalahan itu dan memperbaikinya,
bukan mengabaikannya.
Jika diabaikan, situasinya justru memburuk.
Berusahalah jadi lebih baik dari diri kalian sebelumnya,
bukan dari yang lain.
Akhir kata, kami mendoakan kesuksesan dan kebahagiaan di sepanjang hidup kalian.
Sekarang, mari dengar sambutan dari siswi terbaik kita
dan terbaik di kelasnya, Lama Abdul Karim.
Bukankah dia yang selalu bilang, "Aku tidak belajar!"
Guru-guruku yang terhormat,
ibu-ibu yang terhormat,
teman-teman sekelasku, dan para hadirin upacara wisuda kami ini.
Kebersamaan kami selama ini telah mengajarkan hal-hal
yang hanya bisa dipelajari dari sesama kami.
Cepat, Bu! Kita sudah terlambat!
Ini wisudaku atau wisuda Ibu?
Sudah kubilang dia akan datang. Dia tak akan mangkir.
Maria!
Kenapa kau terlambat?
Bukan aku, tapi ibuku!
- Apa kabar? - Baik. Kau?
- Aku baik. - Berikan jubahmu.
- Cepat! - Aku cantik?
- Coba lihat rambutmu. - Tunggu.
Pada kesempatan yang berbahagia ini,
aku tak bisa menahan perasaan sedihku.
Lama, dengarkan. Semua ini adalah salahku.
Lama! Lama, maafkanlah aku.
Kau bilang…
Ini berarti hari-hari kebersamaan kita akan berakhir dan menjadi kenangan.
Kau tahu itu? Itu…
Aku sempat berharap tak tumbuh dewasa,
sehingga kita bisa memiliki lebih banyak waktu bersama.
Ayo!
Hari-hari kebersamaan kita telah mengajarkan banyak hal…
- Tidak! - …Yang tak diajarkan di dalam buku.
Semoga Tuhan memberkati pernikahan ini, memberkati kalian,
dan mempersatukan kalian dalam segala kebaikan.
- Selamat. - Terima kasih.
- Selamat, Nak. - Cepat, Bu. Ayo.
Ibu jadi pengantin!
Selamat, Bu!
Akhir kata, aku berharap kita semua
punya kehidupan yang bahagia dan sukses,
dan tentu saja, penuh petualangan.
Lama!
Akhirnya kita tak perlu belajar lagi.
Bagaimana dengan kuliahnya?
Astaga, Mona!
- Hei! - Mari nikmati saat ini!
Kalian semua!
Apa hari ini Ibu tetap memeriksa barang terlarang?
Hari ini, tidak boleh ada kesedihan!
FROM THE ASHES: THE PIT
Terjemahan subtitle oleh Maulana
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.