Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Berabad-abad lalu
di hutan utara,
lahirlah sekte pemuja Bhairawa,
Dewa Kekacauan.
Di tahun 1935,
seorang arkeolog menemukan kuil itu,
lalu menghilang.
Tak ada yang pernah menemukannya lagi,
bahkan bayangannya pun tak tersisa.
Mereka percaya
daging manusia membawa keabadian.
Kini, mereka bersembunyi
di balik kekuasaan.
Kaum Labinak masih hidup.
Mereka ada di sini.
Bu. Lihat, deh.
Orang-orang ini tuh beruntung banget, ya.
Udah cantik, pendidikannya tinggi.
Aku bisa, enggak, ya, kayak gini?
- Anjing! - Hei.
Udah berapa kali, sih, Ibu bilang? Ngomongnya jangan kayak gitu, gak sopan.
Ya, maaf, Ibu.
Lagian sopirnya jahat banget, sih.
Masa aku mengkhayal aja enggak boleh?
Ya, tetap aja, enggak boleh ngomong kasar kayak gitu. Ya?
Iya. Maaf, ya, Ibu.
Nah, ini reda. Ya udah, yuk.
- Yuk. - Jalan, yuk.
Yah…
Bu.
Tasnya rusak lagi.
Sabar, ya, Nak.
Nanti kalo uangnya udah turun, kita beli tas baru,
terus benerin atap yang bocor. Ya?
♪ Kau tak pernah jauh ♪
Kita tuh kenapa miskin, ya, Bu?
Ya, tapi 'kan, kita kaya hati.
♪ Tak ada yang bisa pisahkan ♪
♪ Aku dan kamu ♪
Bu Najwa.
Barangkali Bu Najwa masih ingat dengan saya?
Tapi sepertinya Bu Najwa sudah lupa, deh, sama saya.
Enam belas tahun yang lalu, di Jakarta,
saat Bu Najwa menerima penghargaan beasiswa itu,
saya ada di panggung itu dengan Ibu.
Ini… Ini Bu Diana?
Aduh, gimana, sih, ini?
Jago buat modul, tapi pelupa.
Maaf, Bu. Soalnya Ibu kelihatan muda banget.
Rahasianya makan sehat, olahraga teratur, meditasi,
terus botoks?
Tanam benang?
Kamu pasti Yanti.
Iya, Bu.
Terima kasih.
Kamu pintar banget, ya?
Pialanya banyak.
Nanti mau kuliah di mana?
Di Jakarta banyak, lho, universitas yang bagus.
Bu Najwa, sekolah kami eksklusif.
Hanya merekrut tenaga pengajar terbaik
untuk anak-anak para anggota yayasan.
Dan kami berkomitmen untuk berkontribusi besar dalam pendidikan.
Guru-guru yang mengajar di yayasan akan mendapatkan gaji yang layak,
tempat tinggal yang bagus,
dan anak-anak mereka akan diberikan beasiswa.
Maaf, Bu, tapi saya…
Tapi saya sangat berharap Bu Najwa bisa menerima penawaran ini.
Karena mengingat 16 tahun yang lalu yayasan kami yang mensponsori kuliah Ibu.
Bu.
Pikirkan baik-baik.
Mau sampai kapan Bu Najwa bertahan menjadi guru honorer?
Untuk kamu, semangat terus belajarnya.
Makasih, Bu.
Saya pamit.
Ibu Najwa,
anak itu mewarisi kecerdasan dari Ibu,
dan kami tentu tidak ragu untuk memberi beasiswa untuk sekolah Yanti,
dan di universitas mana pun yang dia mau.
Ini juga kesempatan bagus untuk Yanti tumbuh di lingkungan yang baik.
Terpelajar, dengan relasi dari kami.
Dan tentu saja, masa depannya akan cerah.
- Ibu! - Yanti?
Ibu!
Ibu.
Ibu.
- Uang kuliah… - Ya ampun.
Uangnya
Ibu.
Nanti buat aku kuliah gimana, Bu?
Ibu!
Uang kuliah…
Uang kuliah, Bu…
- Bantuin, ya. - Iya.
Ini taruh sini aja, ya?
♪ Tangan yang kau ulur penuh janji manis ♪
♪ Katamu cinta, tapi lidahmu berbisik ♪
♪ Di balik senyum palsu kau hitung darah ♪
♪ Yang mengalir sunyi dari celah… ♪
Senang, enggak?
Makasih, Bu.
Pak, ini kita enggak salah jalan?
Enggak, kok, Bu. Ini gerbangnya di depan.
♪ Kau biarkan lemah terjepit suara Kau duduk di kursi… ♪
♪ Di atas tubuh tak bersuara, tapi sejarah Tak tidur, ia menunggu untuk berbicara ♪
Ibu Najwa, Yanti.
Selamat datang di perumahan kami.
Gimana perjalanannya? Lancar?
Lancar, Bu.
Tapi itu di depan kenapa ada tulisan pemakaman umum, ya, Bu?
Itu sudah lama, tapi sengaja dibiarkan.
Alasan keamanan.
Yanti, ini rumah kamu.
- Makasih, Bu. - Dibuka.
Wah.
Beliau ibu saya, Oma Ina.
Tapi suka dipanggil Oma Cantik.
Halo, saya Lusius.
Pimpinan yayasan.
Hai.
Dan itu Eva, anak saya.
- Oh, iya. - Nanti, mereka akan sekelas.
Saya cuma mau mampir untuk bilang selamat datang dan semoga Anda betah.
- Saya tinggal dulu, ya. - Terima kasih, Pak.
Oh, iya, Bu. Ini Jodas.
Tempat curhatan anak-anak sekolah.
Biasa dikenal dengan "pawang hantu anak-anak sekolah".
Hantu?
Bercanda. Enggak ada yang lihat hantu di sini.
Adanya gangguan disosiatif yang disebabkan oleh tekanan dan situasi tertentu.
Jadi, Bu Najwa, kalau ada anak sekolah yang kesurupan,
tolong jangan didoain, tapi panggil saya.
Mungkin cerita hidupnya berat.
Iya, Pak.
Oh, iya, Bu. Di gudang ada beberapa barang yang mungkin bisa dipake. Silakan.
Iya, baik, Bu.
Ini Ibu bukan sulap, ya.
Atau Ibu kebal, jadinya tuh enggak ngerasa sakit pada saat terbakar.
Ini adalah fisika.
Nih, kenapa tadi enggak sakit pada saat terbakar? Ada yang tau, enggak?
Enggak tau, Bu.
Enggak ada yang tau?
Karena yang terbakar bukan kulit kita.
Minggu depan, kalian bikin kelompok, ya.
Masing-masing satu kelompoknya lima orang,
lalu nanti kalian presentasi cara bikin api,
tapi tidak boleh bikin apinya pakai korek.
- Ya? Oke. - Oke, Bu.
- Oke, Bu. - Makasih, Bu.
- Sama-sama. - Makasih, Bu.
- Terima kasih, Bu. - Ya.
- Permisi, Bu. - Ya?
Maaf, Bu Najwa, boleh gak, untuk tugas minggu depan saya gak ikut kerja kelompok?
Soalnya minggu depan kakek saya ulang tahun.
Oh, iya. Enggak apa-apa.
Ulang tahun yang keberapa kakeknya?
Ke-120. Terima kasih, ya, Bu.
Selamat ulang tahun, ya, buat kakeknya!
Bu?
Panggil aja Ratih.
Saya ngajar Bahasa Indonesia.
Saya Najwa, ngajar Fisika.
Iya, tadi saya ngintip pas kamu ngajar.
Betah di rumah baru?
Masih adaptasi.
Nanti ngobrol lagi. Saya buru-buru.
Bu!
Tunggu, Bu.
Hari pertama?
Kamu orang baik.
Bu Najwa.
Boleh duduk sebentar?
Iya? Ada apa, Pak?
Ini dari Bu Diana.
- Oh, iya. Wah, terima kasih. - Sausnya enak banget.
Ini…
Ini maksudnya semuanya buat saya, Pak?
Iya. Dari yayasan.
Biar ngajarnya lancar.
Oh.
PERAWATAN KULIT FOREVER YOUNG
Halo, Bu Najwa.
- Pak. - Gimana ngajar hari ini?
Lancar, Pak.
Ini mau dibangun apa, Pak?
Peternakan spesial.
Tau ini, 'kan? Daging Kobe? Gampang dikunyah, kualitas terbaik?
Karena belakang ini saya khawatir dengan kualitas daging yang menurun terus
karena terkontaminasi racun, mikroplastik, dan masih banyak lagi.
Tapi sementara ini, isinya masih suplai untuk yayasan.
Oh, iya.
Yanti suka dengan makanan dan buah-buahan yang saya kirim?
Makanan terbaik dan terenak yang pernah kami makan, Pak.
Senang saya dengarnya.
Saya akan ngirimin makanan organik setiap hari.
Terima kasih, Pak.
Ini kalo peternakan, bukannya enggak boleh dibangun di tengah pemukiman, ya, Pak?
Di lahan terbuka, iya.
Tapi belum ada aturannya jika dijalankan di bawah tanah, 'kan?
Oh, bawah tanah.
Bu Najwa, mau saya anter?
Kan, kita rumahnya searah. Jadi, sekalian aja saya turunkan.
Oh, iya. Makasih, Pak.
Iya, ini juga buggy-nya baru aja kita beli. Jadi, kalo saya masih agak…
Kagok nyetirnya, saya minta maaf terlebih dahulu, ya.
Oke.
Bu. Lihat, nih.
Bioskop rumah.
Keren, ya?
Itu di gudang tuh banyak, lho, Bu, barang-barang yang bagus.
Ibu cek, ya.
Lihat. Dari calon papa gue.
"Gue."
"Labinak."
Engkau terbaring di atas kuburan.
Ribuan kembang putih terhampar.
Langit di atasmu merah tembaga.
"Kematian hanyalah tidur panjang, diiringi tarian."
Najwa.
Najwa.
Pergi.
- Bu. - Ha?
Ibu ngapain?
Ibu boleh tidur sini, enggak?
Kenapa?
Enggak apa-apa, kangen aja.
Sini.
Bu Najwa, boleh minta tolong untuk diisi angketnya?
Mudah, kok. Hanya "ya" atau "tidak".
Sebenarnya tes kejiwaan ini dilakukan sebelum Bu Najwa mengajar.
Tapi dikarenakan kami yang menginginkan Bu Najwa,
ini cukup diisi saja sebagai legalitas.
Oke. Ini saya isi seka…
- Stop! Jangan! Biar saya. - Bu Najwa!
Jangan sampai kulit Ibu rusak.
- Biar saya aja. - Maaf.
- Bu. - Iya?
Saya nemuin buku jurnal di gudang, dan…
Nemuin ini juga.
Oh.
Ini Bu Sri.
Dulu guru di sini.
Tapi sudah pindah ke luar negeri
karena masalah gaji yang lebih besar.
Tapi di buku jurnal yang saya temuin di gudang itu,
dia nulis sesuatu yang aneh soal puisi.
Soal puisi kematian,
terus soal…
Arwah dan banyak angka-angka.
Dan kayaknya memang ada hubungannya sama saya,
karena saya memang ngerasa kayaknya rumah saya berhantu.
Bu.
Bukannya Bu Najwa percaya sama sains?
Oh, ya, memang. Tapi 'kan…
Energi yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Bukannya Tuhan juga begitu?
Teologi.
Baiklah kalau begitu.
Besok saya masakin makan siang lagi.
Saya pamit, ya.
Bu Diana emang enggak percaya hantu.
Tapi kasihan dia.
Sendirian.
Tapi Pak Jodas percaya, 'kan?
Percaya.
Tapi bukan berarti "melihat" itu adalah suatu hal yang benar.
Melihat hantu memiliki banyak kemungkinan,
salah satunya dari perwujudan trauma akan masa lalu.
Dengan kata lain, hantu yang kita pikir kita lihat
belum tentu benaran hantu.
Mari.
Pak Jodas benar. Ini semua enggak nyata.
Tapi kamu tetap harus hati-hati. Hantu itu ada.
Bu Ratih.
Ngelihat Yanti hidup di lingkungan begini, dia senang, dia bahagia,
rasanya tuh enggak adil kalo saya fokus sama yang kayak beginian.
Saya perlu bicara sama Jodas.
Kamu yakin Jodas orang baik?
♪ Rindu lukisan mata suratan ♪
♪ Rindu bayangan nan meliputi ♪
♪ Paras seri wajahmu ♪
Ibu!
Bu Ratih?
Bu Ratih?
- Ibu? - Eh. Udah pulang?
Ini kenapa, ya, Bu? Kok mati lampu?
Pasti tikus-tikus itu, nih.
♪ Tangan yang kau ulur penuh janji manis Katamu cinta… ♪
Eva.
Ini tuh semuanya punya kamu?
Punya Mama.
Mau coba?
Sini.
Cantik.
Gua unggah, ya. Gua tandai.
Boleh.
Ini mama kamu emang enggak marah kalo aku pake lipstiknya?
Mama udah enggak ada.
Waktu dia bunuh diri…
Dia pake lipstik itu.
Pas gue peluk…
Mama cantik banget.
Tapi dingin.
Gue kesepian.
Tapi gue untung, ada lo.
Gue ngerasa kayak…
Punya saudara.
Ya udah, jangan sedih-sedih lagi. Ya?
Gadis-Gadisku, ini Oma bikinin minuman segar untuk kalian.
Oma.
- Ayo. - Terima kasih.
- Yanti. - Makasih, Oma.
Eva, kamu udah bilang, belum, sama Yanti
kalo kita mau ngajak dia liburan ke vila keluarga?
Yanti mau ikut liburan sama kita?
Yah, ke vila keluarga.
Bisa, 'kan?
Aku izin ke Ibu dulu, ya?
Ya.
Udah ngerjain PR, belum?
- Yang mana? - Gue kok enggak ngerti, ya?
- Yang mana? - Yang ini.
Yang ini tuh bisa pake cara Horner, jadi…
Angka… Ini kan, ada empat…
Iya, terima kasih, ya, Bu Ratih, udah mau temenin saya.
Saya kasihan sama Yanti kalo saya enggak kasih pergi.
Ya.
Iya. Makasih, ya, Bu.
Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah…
Najwa
Pergi.
Najwa
Pergi.
Najwa
Pergi!
Bu?
Yanti.
Kamu, nih. Main enggak jelas. Enggak ingat pulang.
Main enggak jelas gimana, sih, Bu? Orang cuma depan rumah.
Emangnya enggak cukup, ya? Pindah ke sini, ke Jakarta,
kamu bisa dapet pendidikan yang bagus, sekolah yang bagus,
kamu bisa kuliah di kampus yang kamu pilih sendiri,
dapet fasilitas bagus kayak gini?
Yanti, emang Ibu tuh bukan orang kaya, Yanti.
Tapi apa iya ini enggak cukup?
Ibu beliin sesuatu.
Bu!
Yanti! Kenapa?
Tadi ada…
Ha?
Makanya kalo dibilangin sama Ibu, jangan ngelawan.
Ini akibatnya.
Kualat.
Bu.
Bu.
Bu!
♪ Terbanglah tinggi sejauh engkau mau ♪
♪ Tak perlu takut aku kekal di jiwamu ♪
♪ Jika nanti kau temukan bahagiamu ♪
♪ Maka itu bukti dari jejak… ♪
Ibu beneran enggak apa-apa ditinggal sendirian?
Badannya anget, lho.
Enggak apa-apa. Nanti kan, ada Bu Ratih yang temenin.
Bu Ratih itu temannya Ibu yang mana?
Guru Bahasa Indonesia kamu. Makanya jangan main ponsel terus.
Pelukan Ibu itu tempat yang paling aman dan nyaman di dunia.
Aku janji bakal bikin Ibu bangga.
- Udah, yuk. - Ya.
Yuk, Bu. Pamit, ya.
- Jaga diri, ya. - Iya.
♪ Tak perlu takut aku kekal di jiwamu ♪
♪ Jika nanti kau temukan bahagiamu ♪
♪ Sayangku ♪
Yayasan Payung Emas kembali memberikan beasiswa nasional
bagi para mahasiswa berprestasi dari daerah tertinggal.
Tak hanya mahasiswa, untuk menandai 50 tahun
komitmen YPE terhadap pendidikan Indonesia…
Kamu akan mati.
Pergi.
Pergi.
Pergi.
- Bu Ratih? - Selamat siang, Bu Najwa.
Bu Ratih?
Bu Ratih, guru Bahasa Indonesia di sekolah?
Bu Najwa.
Tidak ada guru Bahasa Indonesia yang namanya Bu Ratih di sekolah kita.
Sekolah saya yang lama maksudnya, Pak.
Oke. Kalo gitu, saya mau ngasih ini. Ini dari Bu Diana.
Ini buah-buahan.
Seperti biasa, jangan segan kalo ada apa-apa, untuk telepon saya.
Mari, saya duluan.
- Makasih, Pak. - Mari.
Ha?
AKADEMI PAYUNG EMAS
BERISTIRAHATLAH DENGAN TENANG
Halo, Ibu.
Yanti.
Halo, Bu Najwa.
Hai, Eva. Lagi pada ngapain?
Ini, kita lagi mengulas kosmetik. Kasih tunjuk. Lihatin.
Lihat, deh, Bu. Tuh. Kosmetiknya Eva banyak banget.
Rambut aku tadi habis dikeritingin. Bagus, enggak?
Bagus.
Ibu kok jam segini udah di kamar?
Masih enggak enak badan, ya?
Enggak, enggak apa-apa.
Yanti, kamu kapan pulang?
Tiga hari, Ibu. Kan, udah tau.
Bu Ratih enggak jadi dateng?
Enggak tau.
Enggak jadi, enggak tau… Nanti.
Nanti kapan?
RATIH MENELEPON
Pergi!
Saya enggak mau keluar! Pergi!
Pergi!
Pergi!
Maaf, saya merepotkan.
Saya enggak tau harus minta tolong sama siapa lagi.
Makan…
Ialu minum obat.
TABLET LORAZEPAM
Tidak ada telepon dari Sri,
pun juga pesan darinya.
Ada.
Tapi enggak tau hilang ke mana.
Pak Jodas kenapa enggak bilang kalo Sri dan Ratih itu orang yang sama?
Dan dia hilang
saat pergi dari rumah ini.
Lagi pula…
Kalian dekat, 'kan?
Saya tidak tahu kalau Sri dan Ratih adalah orang yang sama.
Pak Jodas pernah bilang
hasil psikolognya Sri itu enggak bagus. Kenapa?
Dia lihat hantu juga.
Saya paham pembicaraan kamu.
Kalau memang selama ini yang saya lihat itu halusinasi
dan yang semalam saya lihat itu bukan hantu…
Kenapa harus lagu itu yang nyala?
Pertanyaan yang sangat baik, Bu Najwa.
Pertanyaannya, kenapa dari ratusan lagu yang sudah terekam di memori Bu Najwa,
malah lagi itu yang muncul?
Semakin cepat kamu menemukan penyebabnya,
tentunya semakin baik.
Dan jikalau hasil psikologi kamu buruk…
Kamu harus segera dipulangkan.
Malam itu, 16 tahun yang lalu.
Saya pulang jalan kaki dari kampus.
Telat.
Tidak seperti biasanya.
Karena saya harus tunggu giliran dari dosen pembimbing.
Bernapas dengan perlahan, Bu Najwa.
Pelan-pelan saja.
Saya ada di sini,
dan kamu aman.
Mobil jip hitam berhenti.
Satu laki-laki memakai topeng singa keluar,
dan saya ditarik masuk ke dalam mobil.
Mobilnya bagus.
Joknya kulit. Mungkin karena pelakunya orang kaya,
sehingga belum tertangkap sampai saat ini.
Jikalau kamu bertemu dengan pelakunya sekarang,
akankah masih ingat?
Saya cuma lihat ujung liontin dari kalungnya.
Saya enggak mampu membela diri saya.
Karena waktu itu saya sedang demam dan maksa untuk masuk kuliah malam.
Tak apa-apa.
Tak apa-apa.
Kamu sudah melakukan yang terbaik.
Untuk kamu,
dan juga untuk Yanti.
Yanti.
Yanti enggak tau tentang ini.
Kebenaran itu seperti matahari, Ibu.
Kita tidak akan bisa menyembunyikan kebenaran selamanya.
Najwa.
Kupikir kamu sadar
bahwa sama seperti kekayaan,
kecerdasan juga membawa kutukan itu sendiri.
Saya sebenarnya suka sama Ratih. Suka sekali.
Tapi gimana? Kamu, saya, Ratih.
Kita semua hanya manusia biasa.
Yang harus mengikuti keinginan sang raja.
Sudah dipikirin nanti kamu akan ambil Sejarah di universitas mana?
Oh, ya? Di mana?
Harvard? Oxford? Yale?
Di Jakarta aja, sih, Pak.
Kenapa?
Tiga universitas itu terbaik di dunia untuk belajar sejarah.
Nak.
Kalau kamu bareng sama kita…
Kamu bisa dapetin itu semua.
Kenapa, Yanti?
Ibu enggak bisa dihubungin.
Mungkin Ibu lagi istirahat.
Nanti kita coba hubungin lagi, ya?
Bangun.
Najwa
Sini.
Sini. Ikut.
Aku di sini.
Najwa…
Sini.
Ikut.
Masuk.
Sini.
Kamu akan mati!
Yanti, dengerin Ibu baik-baik.
Aku, ayahku, dan semua leluhurmu, Lusius,
kita semua adalah langsung keturunan dari raja
yang memuja Dewa Bhairawa.
Kita boleh saja mengambil apa pun dari manusia yang menjadi tumbal kita.
Najwa akan melakukan tugasnya.
Pa.
Yanti, dengerin Ibu baik-baik.
Lusius, Eva, omanya, dan semua orang yang ada di sini,
mereka semua jahat.
Mereka mau numbalin kita.
Kamu cari cara keluar dari sana diam-diam,
cari polisi.
Tunggu Ibu di sana.
Tunggu Ibu di sana.
Tumbal yang tidak rela dimakan akan melemahkan sihir Dewa Bhairawa.
Satu per satu anggota yayasan kita menjadi gila atau bunuh diri
karena saya gagal menemukan tumbal yang tepat.
Sepuluh tahun kita gagal.
Kalau tahun ini kita gagal juga,
harus keturunan langsung raja yang mati sebagai penggantinya.
Bisa Ibu, bisa saya…
Bisa Eva.
Kita tidak boleh gagal.
Ritual persembahan ke-50 harus tetap dilakukan tepat waktu,
saat bulan penuh.
Sudah, ya.
Tolong!
Tolong!
Mbak! Tolong!
- Bu Najwa? Mau sekarang atau nanti? - Ayo!
Ayolah!
- Lari, Najwa! - Ayo, Najwa!
Mau ke mana, Bu Najwa?
Tak apa-apa.
Tak apa-apa. Dia enggak gigit sama sekali.
- Jangan, Pak. Udah. - Tak apa-apa.
- Bravo! - Bravo!
Bravo!
Bravo.
Silakan.
Ini dia.
Enak?
Yanti.
Kamu senang tinggal sama kami?
Biasanya kan, aku cuma berdua sama Ibu.
Mungkin kalo aku punya bapak, rasanya kayak gini.
Mungkin sudah saatnya kamu punya bapak juga.
Kamu mau jadi bagian dari keluarga ini?
Maksudnya Pak Lusius mau ngelamar Ibu?
Ibu kamu akan kami tumbalkan.
Eva!
Eva, lepasin! Aku mau pulang!
Aku mau ketemu sama Ibu!
Karena keluarga kita istimewa.
Dan ibu kamu
cuma manusia biasa.
Eva.
Eva, tolongin aku, Va!
Kamu tau rasanya pisah dari ibu, 'kan?
Aku enggak mau!
Cukup.
Yanti?
Yanti?
Yanti!
Halo, Najwa.
Mana Yanti?
Oh, dia baik-baik saja.
Sehat, pintar, cantik.
Saya mau ketemu Yanti.
Akan ada waktunya.
Seharusnya semua racun dalam tubuhnya sudah bersih.
Jadi, rasa dagingnya pasti akan spektakuler.
Dewa Bhairawa menganugerahi kami kejayaan dan panjang umur bukan tanpa sebab.
Kami harus menjaga kalian, manusia biasa.
Dan kami juga mewakili Dewa Bhairawa
dalam menyantap tumbal terbaik.
Kalau kamu tidak bersedia,
Dewa Bhairawa akan mengambil ganti keturunan raja.
Anak saya.
Maaf.
Anak kita.
Sudah 50 tahun aku mendirikan yayasan.
Sudah terlalu lama kita hidup diam-diam mempertahankan tradisi keturunan raja.
Tapi tidak lama lagi, era baru kita akan datang.
Hari ini, kita akan menyambut cucuku, Yanti.
Dia akan membunuh ibunya
sebagai persembahan tertinggi kepada Bhairawa,
Dewa yang mulia atas segala berkatnya.
Labinak!
Jodas.
Jangan, Pak Jodas.
Jangan, Pak Jodas. Tolong saya, Pak Jodas.
- Anakku. - Pak, jangan, Pak.
Persembahkan ibumu, Nak.
Untuk Tuhanmu yang baru.
Aku.
Bhairawa.
Yanti, jangan.
Yanti.
Yanti, jangan. Sadar. Yanti, jangan. Kamu anak baik. Ibu sayang sama Yanti.
Yanti, jangan! Yanti, sadar! Jangan, Yanti!
Yanti.
Sadar.
Sadar, Yanti.
Ibu sayang sama Yanti.
Makasih, ya, Ibu.
Akhirnya kita ke Jakarta.
Senang, enggak?
Makasih, Ibu.
Pelukan Ibu itu tempat yang paling aman dan nyaman di dunia.
Yanti. Talinya, Yanti. Yanti.
Yanti. Cari lemari yang muat sama kamu.
Enggak, Bu. Aku enggak mau pisah dari Ibu.
Najwa!
- Enggak. Udah, cepetan! - Gak mau! Kita gak boleh pisah lagi, Bu!
Yanti, sembunyi. Sembunyi!
Najwa?
Tidakkah kamu bahagia melihat kehidupan Yanti sekarang?
Seorang ibu itu…
Harus berkorban untuk anaknya.
Masa orang secerdas kamu enggak paham?
Ha?
Aku lakukan padamu seperti apa yang kau lakukan padaku!
Kulakukan padamu seperti apa yang kau lakukan padaku!
Enggak mau!
Lepas!
- Lepas! - Bu!
Yanti! Lepas!
Lepas!
- Jangan! - Bu…
- Yanti! - Ibu!
- Jangan, Yanti. - Bu.
Bu!
Jangan bunuh Yanti.
Bunuh saya.
Bunuh saya!
Tolong, Pak.
Pak, tolong.
Saya gak apa-apa. Saya gak apa-apa dikurung… seumur hidup, saya gak apa-apa,
asalkan saya sama Ibu.
Pak, tolong, Pak.
Saya enggak butuh barang-barang yang mewah.
Saya enggak butuh tinggal di rumah yang bagus. Saya enggak butuh, Pak.
Saya enggak apa-apa enggak sekolah, asalkan saya sama Ibu.
Yanti…
Saya kalo enggak sama Ibu, saya sama siapa, Pak?
Tumbal harus diserahkan, Anakku.
Ibumu…
- Pak. - …akan bebas.
Dan seluruh keluarga kita akan selamat,
kalo kamu mau menggantikan ibumu.
Yanti, jangan.
Jangan.
Saya mau menggantikan Ibu.
Apa?
Yanti…
Saya mau menggantikan Ibu.
Lusius!
Jaga Yanti.
Bu!
Yanti, dengar Ibu. Dengar.
Ibu udah pernah hidup bahagia dengan kamu, dan itu cukup buat Ibu.
Sekarang giliran kamu yang bahagia, ya, Nak?
Kejar mimpi kamu.
Enggak.
Dan kelak mimpi kamu tercapai…
Kamu harus ingat siapa diri kamu.
Bu, enggak gitu, Bu! Enggak! Jangan!
Ibu!
Bu!
Ibu, maafin Yanti.
Ibu Stella, Bapak Ridwan, selamat datang di perumahan kami.
Gima perjalanannya? Lancar?
- Lancar, Bu. - Wah, bagus!
Tapi kok di depan ada plang pemakaman umum, ya?
Ini saya.
Saya perlu bantuan.
Kamu lapar, 'kan?
Datanglah kemari, Sumanto. Sudah lama enggak makan enak.
♪ Abadikan aku ♪
♪ Wahai gelap ♪
♪ Lepaskan daging dari derita ♪
♪ Kuberi jiwaku yang rekah ♪
♪ Untuk hidup dalam sunyi selamanya ♪
♪ Jerit Roro ♪
♪ Terperangkap ♪
♪ Menari di pusaran takdir ♪
♪ Namun, tak gentar ♪
♪ Aku melangkah ♪
♪ Demi waktu yang tak bernafi ♪
♪ Mereka bilang kutuk kekal ♪
♪ Namun, bagiku surga yang kekal ♪
♪ Tak perlu cinta, tak perlu cahaya ♪
♪ Asal abadi dalam dunia yang hampa ♪
♪ Abadikan aku ♪
♪ Wahai gelap ♪
♪ Lepaskan daging dari derita ♪
♪ Kuberi jiwaku yang rekah ♪
♪ Untuk hidup dalam sunyi selamanya ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.