All language subtitles for [Eiein] Labinak Mereka Ada di Sini (2025) INDONESIAN NF WEB hi_id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino Download
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian Download
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese Download
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[anak-anak bernyanyi samar]

[musik menegangkan mengalun]

[narator wanita] Berabad-abad lalu

di hutan utara,

lahirlah sekte pemuja Bhairawa,

Dewa Kekacauan.

Di tahun 1935,

seorang arkeolog menemukan kuil itu,

lalu menghilang.

Tak ada yang pernah menemukannya lagi,

bahkan bayangannya pun tak tersisa.

Mereka percaya

daging manusia membawa keabadian.

Kini, mereka bersembunyi

di balik kekuasaan.

Kaum Labinak masih hidup.

[narator berbisik] Mereka ada di sini.

[musik kresendo]

[riuh seru-seruan]

[wanita 1 menyanyikan mantra]

[wanita 1 menyanyikan mantra]

[wanita 1 menyanyikan mantra]

[riuh seru-seruan]

- [wanita 2 mengerang] - [riuh seru-seruan]

[ramai menggeram]

Bu. Lihat, deh.

Orang-orang ini tuh beruntung banget, ya.

Udah cantik, pendidikannya tinggi.

Aku bisa, enggak, ya, kayak gini?

[Ibu mendengus]

- Anjing! - Hei.

Udah berapa kali, sih, Ibu bilang? Ngomongnya jangan kayak gitu, gak sopan.

Ya, maaf, Ibu.

Lagian sopirnya jahat banget, sih.

Masa aku mengkhayal aja enggak boleh?

Ya, tetap aja, enggak boleh ngomong kasar kayak gitu. Ya?

Iya. Maaf, ya, Ibu.

[musik bahagia mengalun]

Nah, ini reda. Ya udah, yuk.

- Yuk. - Jalan, yuk.

Yah…

Bu.

Tasnya rusak lagi.

Sabar, ya, Nak.

Nanti kalo uangnya udah turun, kita beli tas baru,

terus benerin atap yang bocor. Ya?

♪ Kau tak pernah jauh ♪

Kita tuh kenapa miskin, ya, Bu?

Ya, tapi 'kan, kita kaya hati.

♪ Tak ada yang bisa pisahkan ♪

♪ Aku dan kamu ♪

[deru sepeda motor berhenti]

[musik berhenti]

[Diana] Bu Najwa.

Barangkali Bu Najwa masih ingat dengan saya?

Tapi sepertinya Bu Najwa sudah lupa, deh, sama saya.

[Diana mengekeh]

Enam belas tahun yang lalu, di Jakarta,

saat Bu Najwa menerima penghargaan beasiswa itu,

saya ada di panggung itu dengan Ibu.

[Diana mengekeh]

[Najwa] Ini… Ini Bu Diana?

[Diana tertawa pelan]

Aduh, gimana, sih, ini?

Jago buat modul, tapi pelupa.

[mengekeh] Maaf, Bu. Soalnya Ibu kelihatan muda banget.

[Diana dan Najwa tertawa pelan]

[Diana] Rahasianya makan sehat, olahraga teratur, meditasi,

terus botoks?

- [Najwa tertawa pelan] - [Diana mengekeh] Tanam benang?

Kamu pasti Yanti.

Iya, Bu.

Terima kasih.

Kamu pintar banget, ya?

Pialanya banyak.

[keduanya tertawa pelan]

Nanti mau kuliah di mana?

[musik lembut mengalun]

Di Jakarta banyak, lho, universitas yang bagus.

[mengekeh]

Bu Najwa, sekolah kami eksklusif.

Hanya merekrut tenaga pengajar terbaik

untuk anak-anak para anggota yayasan.

Dan kami berkomitmen untuk berkontribusi besar dalam pendidikan.

Guru-guru yang mengajar di yayasan akan mendapatkan gaji yang layak,

tempat tinggal yang bagus,

dan anak-anak mereka akan diberikan beasiswa.

[mengemu]

[menggumam]

Maaf, Bu, tapi saya…

Tapi saya sangat berharap Bu Najwa bisa menerima penawaran ini.

Karena mengingat 16 tahun yang lalu yayasan kami yang mensponsori kuliah Ibu.

[mengesah]

[Diana menghela napas, berdecak]

Bu.

Pikirkan baik-baik.

Mau sampai kapan Bu Najwa bertahan menjadi guru honorer?

[mengesah]

Untuk kamu, semangat terus belajarnya.

[mengekeh] Makasih, Bu.

Saya pamit.

[Diana menghela napas]

[deru mesin mobil]

[debak pintu mobil ditutup]

[deru mobil menjauh]

[degar petir]

[derak keras mesin jahit]

[Diana] Ibu Najwa,

anak itu mewarisi kecerdasan dari Ibu,

dan kami tentu tidak ragu untuk memberi beasiswa untuk sekolah Yanti,

dan di universitas mana pun yang dia mau.

Ini juga kesempatan bagus untuk Yanti tumbuh di lingkungan yang baik.

Terpelajar, dengan relasi dari kami.

Dan tentu saja, masa depannya akan cerah.

- [derak keras, denting pelan] - [terkesiap]

- [debak-debuk] - [Yanti mengerang]

- [Yanti] Ibu! - Yanti?

[Yanti] Ibu!

[Yanti menangis] Ibu.

[terisak-isak] Ibu.

- Uang kuliah… - Ya ampun.

Uangnya

[degar petir] - [terisak-isak]

[Yanti] Ibu.

[menangis] Nanti buat aku kuliah gimana, Bu?

Ibu!

Uang kuliah…

[terisak-isak] Uang kuliah, Bu…

- Bantuin, ya. - Iya.

Ini taruh sini aja, ya?

[musik lembut mengalun]

[musik lembut berlanjut]

- [musik berubah mencekam] - [gemuruh]

[gemuruh semakin keras]

♪ Tangan yang kau ulur penuh janji manis ♪

♪ Katamu cinta, tapi lidahmu berbisik ♪

♪ Di balik senyum palsu kau hitung darah ♪

♪ Yang mengalir sunyi dari celah… ♪

Senang, enggak?

[keduanya tertawa pelan]

Makasih, Bu.

Pak, ini kita enggak salah jalan?

[sopir] Enggak, kok, Bu. Ini gerbangnya di depan.

♪ Kau biarkan lemah terjepit suara Kau duduk di kursi… ♪

♪ Di atas tubuh tak bersuara, tapi sejarah Tak tidur, ia menunggu untuk berbicara ♪

Ibu Najwa, Yanti.

Selamat datang di perumahan kami.

Gimana perjalanannya? Lancar?

Lancar, Bu.

Tapi itu di depan kenapa ada tulisan pemakaman umum, ya, Bu?

Itu sudah lama, tapi sengaja dibiarkan.

Alasan keamanan. [Mengekeh]

Yanti, ini rumah kamu.

- Makasih, Bu. - Dibuka.

[menghela napas]

[berseru kagum]

- [musik lembut mengalun] - Wah. [Tertawa pelan]

[musik berubah misterius]

[musik berangsur berhenti]

Beliau ibu saya, Oma Ina.

Tapi suka dipanggil Oma Cantik.

Halo, saya Lusius.

Pimpinan yayasan.

Hai.

Dan itu Eva, anak saya.

- Oh, iya. - Nanti, mereka akan sekelas.

Saya cuma mau mampir untuk bilang selamat datang dan semoga Anda betah.

- Saya tinggal dulu, ya. - Terima kasih, Pak.

Oh, iya, Bu. Ini Jodas.

Tempat curhatan anak-anak sekolah.

Biasa dikenal dengan "pawang hantu anak-anak sekolah".

[keduanya berseru keras, tergelak]

Hantu?

Bercanda. Enggak ada yang lihat hantu di sini.

Adanya gangguan disosiatif yang disebabkan oleh tekanan dan situasi tertentu.

Jadi, Bu Najwa, kalau ada anak sekolah yang kesurupan,

tolong jangan didoain, tapi panggil saya.

Mungkin cerita hidupnya berat.

Iya, Pak.

Oh, iya, Bu. Di gudang ada beberapa barang yang mungkin bisa dipake. Silakan.

Iya, baik, Bu.

[jangkrik mengerik]

[kiang-kiut samar]

[derak berulang]

- [musik kresendo] - [terkesiap]

- [menarik napas] - [bisikan seram]

[wanita berbisik seram]

[musik mencekam mengalun]

[murid-murid riuh terkagum]

[Najwa] Ini Ibu bukan sulap, ya.

Atau Ibu kebal, jadinya tuh enggak ngerasa sakit pada saat terbakar.

Ini adalah fisika.

Nih, kenapa tadi enggak sakit pada saat terbakar? Ada yang tau, enggak?

[bersama-sama] Enggak tau, Bu.

Enggak ada yang tau?

Karena yang terbakar bukan kulit kita.

- [dering bel sekolah] - [murid-murid bersorak pelan]

[mengemu] Minggu depan, kalian bikin kelompok, ya.

Masing-masing satu kelompoknya lima orang,

lalu nanti kalian presentasi cara bikin api,

tapi tidak boleh bikin apinya pakai korek.

- Ya? Oke. - Oke, Bu.

- [siswa] Oke, Bu. - [siswi 1] Makasih, Bu.

- Sama-sama. - [siswi 2] Makasih, Bu.

- [bahasa Inggris] Terima kasih, Bu. - [bahasa Indonesia] Ya.

- Permisi, Bu. - Ya?

[mengemu]

Maaf, Bu Najwa, boleh gak, untuk tugas minggu depan saya gak ikut kerja kelompok?

Soalnya minggu depan kakek saya ulang tahun.

[mengemu]

Oh, iya. Enggak apa-apa.

Ulang tahun yang keberapa kakeknya?

Ke-120. Terima kasih, ya, Bu.

[musik menyeramkan mengalun]

Selamat ulang tahun, ya, buat kakeknya!

[keletuk di papan tik]

[musik mencekam mengalun]

[musik kresendo]

- [musik tiba-tiba mereda] - Bu?

[musik menegangkan mengalun]

Panggil aja Ratih.

Saya ngajar Bahasa Indonesia.

Saya Najwa, ngajar Fisika.

Iya, tadi saya ngintip pas kamu ngajar.

Betah di rumah baru?

[mengemu] Masih adaptasi.

[dering bel sekolah]

Nanti ngobrol lagi. Saya buru-buru.

Bu!

Tunggu, Bu.

Hari pertama?

Kamu orang baik.

[Jodas] Bu Najwa.

Boleh duduk sebentar?

Iya? Ada apa, Pak?

Ini dari Bu Diana.

- Oh, iya. Wah, terima kasih. - Sausnya enak banget.

[musik misterius mengalun]

Ini…

Ini maksudnya semuanya buat saya, Pak?

Iya. Dari yayasan.

Biar ngajarnya lancar.

Oh.

PERAWATAN KULIT FOREVER YOUNG

[kiang-kiut pintu dibuka dan ditutup]

Halo, Bu Najwa.

- Pak. - Gimana ngajar hari ini?

Lancar, Pak.

Ini mau dibangun apa, Pak?

Peternakan spesial.

Tau ini, 'kan? Daging Kobe? Gampang dikunyah, kualitas terbaik?

Karena belakang ini saya khawatir dengan kualitas daging yang menurun terus

karena terkontaminasi racun, mikroplastik, dan masih banyak lagi.

Tapi sementara ini, isinya masih suplai untuk yayasan.

Oh, iya.

Yanti suka dengan makanan dan buah-buahan yang saya kirim?

Makanan terbaik dan terenak yang pernah kami makan, Pak.

Senang saya dengarnya.

Saya akan ngirimin makanan organik setiap hari.

Terima kasih, Pak.

Ini kalo peternakan, bukannya enggak boleh dibangun di tengah pemukiman, ya, Pak?

Di lahan terbuka, iya.

Tapi belum ada aturannya jika dijalankan di bawah tanah, 'kan?

- Oh, bawah tanah. - [menggumam]

Bu Najwa, mau saya anter?

Kan, kita rumahnya searah. Jadi, sekalian aja saya turunkan.

[musik mencurigakan mengalun ]

[mengemu]

Oh, iya. Makasih, Pak.

[Lusius] Iya, ini juga buggy-nya baru aja kita beli. Jadi, kalo saya masih agak…

Kagok nyetirnya, saya minta maaf terlebih dahulu, ya.

Oke.

Bu. Lihat, nih.

[bahasa Inggris] Bioskop rumah.

[bahasa Indonesia] Keren, ya?

Itu di gudang tuh banyak, lho, Bu, barang-barang yang bagus.

Ibu cek, ya.

- Lihat. Dari calon papa gue. - [menggumam]

- "Gue." [tertawa pelan] - [Yanti mengikik]

[musik menyeramkan mengalun]

[musik mencekam mengalun]

- [musik mencekam mengeras sesaat] - [Najwa berteriak tertahan]

[gelemprang]

[musik menyeramkan mengalun]

[musik perlahan makin intens]

[musik mencekam berlanjut]

[Najwa] "Labinak."

Engkau terbaring di atas kuburan.

Ribuan kembang putih terhampar.

Langit di atasmu merah tembaga.

"Kematian hanyalah tidur panjang, diiringi tarian."

[musik mengerikan mengalun]

[terkesiap]

[klik berulang lampu]

[musik mencekam mengalun]

[bisikan seram] Najwa.

[bisikan seram] Najwa.

[bisikan parau menyeramkan] Pergi.

- [musik kresendo] - [derap langkah]

- Bu. - Ha?

Ibu ngapain?

Ibu boleh tidur sini, enggak?

Kenapa?

Enggak apa-apa, kangen aja.

Sini.

Bu Najwa, boleh minta tolong untuk diisi angketnya?

Mudah, kok. Hanya "ya" atau "tidak".

Sebenarnya tes kejiwaan ini dilakukan sebelum Bu Najwa mengajar.

Tapi dikarenakan kami yang menginginkan Bu Najwa,

ini cukup diisi saja sebagai legalitas.

Oke. Ini saya isi seka…

[Najwa memekik]

- Stop! Jangan! Biar saya. - Bu Najwa!

Jangan sampai kulit Ibu rusak.

[musik misterius mengalun]

- Biar saya aja. - Maaf.

- [mengemu] Bu. - Iya?

Saya nemuin buku jurnal di gudang, dan…

Nemuin ini juga.

Oh.

Ini Bu Sri.

Dulu guru di sini.

Tapi sudah pindah ke luar negeri

karena masalah gaji yang lebih besar.

Tapi di buku jurnal yang saya temuin di gudang itu,

dia nulis sesuatu yang aneh soal puisi.

Soal puisi kematian,

terus soal…

Arwah dan banyak angka-angka.

Dan kayaknya memang ada hubungannya sama saya,

karena saya memang ngerasa kayaknya rumah saya berhantu.

[Nadia dan Jodas tertawa]

Bu.

Bukannya Bu Najwa percaya sama sains?

Oh, ya, memang. Tapi 'kan…

Energi yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.

Bukannya Tuhan juga begitu?

[menggumam]

Teologi.

[tertawa]

Baiklah kalau begitu.

Besok saya masakin makan siang lagi.

[mengemu]

Saya pamit, ya. [Tertawa pelan]

Bu Diana emang enggak percaya hantu.

Tapi kasihan dia.

Sendirian.

Tapi Pak Jodas percaya, 'kan?

Percaya.

Tapi bukan berarti "melihat" itu adalah suatu hal yang benar.

Melihat hantu memiliki banyak kemungkinan,

salah satunya dari perwujudan trauma akan masa lalu.

Dengan kata lain, hantu yang kita pikir kita lihat

belum tentu benaran hantu.

Mari.

[musik misterius mengalun]

[musik kresendo]

[Diana bersenandung]

Pak Jodas benar. Ini semua enggak nyata.

Tapi kamu tetap harus hati-hati. Hantu itu ada.

Bu Ratih.

Ngelihat Yanti hidup di lingkungan begini, dia senang, dia bahagia,

rasanya tuh enggak adil kalo saya fokus sama yang kayak beginian.

Saya perlu bicara sama Jodas.

Kamu yakin Jodas orang baik?

["Rindu Lukisan" oleh Hendri Rotinsulu diputar]

[musick berubah mencekam]

♪ Rindu lukisan mata suratan ♪

[musik berubah mencekam]

♪ Rindu bayangan nan meliputi ♪

♪ Paras seri wajahmu ♪

[musik berubah mencekam]

[musik menyeramkan mengalun]

["Rindu Lukisan" oleh Hendri Rotinsulu berlanjut]

[semua riuh berseru-seru]

[semua riuh berseru-seru]

[musik mencekam makin intens]

Ibu!

Bu Ratih?

[derak, debak]

Bu Ratih?

[musik kresendo, lalu berhenti]

- Ibu? - Eh. Udah pulang?

Ini kenapa, ya, Bu? Kok mati lampu?

Pasti tikus-tikus itu, nih.

♪ Tangan yang kau ulur penuh janji manis Katamu cinta… ♪

Eva.

Ini tuh semuanya punya kamu?

Punya Mama.

Mau coba?

Sini.

Cantik.

Gua unggah, ya. Gua tandai.

Boleh.

Ini mama kamu emang enggak marah kalo aku pake lipstiknya?

Mama udah enggak ada.

Waktu dia bunuh diri…

Dia pake lipstik itu.

[musik sendu mengalun]

Pas gue peluk…

Mama cantik banget.

Tapi dingin.

Gue kesepian.

[Eva terisak]

Tapi gue untung, ada lo.

Gue ngerasa kayak…

Punya saudara.

Ya udah, jangan sedih-sedih lagi. Ya?

Gadis-Gadisku, ini Oma bikinin minuman segar untuk kalian.

Oma.

- Ayo. - [bahasa Inggris] Terima kasih.

- Yanti. - [bahasa Indonesia] Makasih, Oma.

Eva, kamu udah bilang, belum, sama Yanti

kalo kita mau ngajak dia liburan ke vila keluarga?

Yanti mau ikut liburan sama kita?

Yah, ke vila keluarga.

- Bisa, 'kan? - [mengemu]

Aku izin ke Ibu dulu, ya?

Ya.

[musik misterius mengalun]

Udah ngerjain PR, belum?

- Yang mana? - Gue kok enggak ngerti, ya?

- Yang mana? - Yang ini.

Yang ini tuh bisa pake cara Horner, jadi…

Angka… Ini kan, ada empat…

[Najwa] Iya, terima kasih, ya, Bu Ratih, udah mau temenin saya.

Saya kasihan sama Yanti kalo saya enggak kasih pergi.

Ya.

[mengemu]

Iya. Makasih, ya, Bu.

[musik kresendo]

[cicit tikus]

[kiang-kiut]

[degar petir]

Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah…

[derau hujan]

[wanita berbisik seram] Najwa

Pergi.

Najwa

Pergi.

Najwa

- Pergi! - [menjerit]

[terengah-engah]

[ceklek pintu terbuka]

Bu?

Yanti.

Kamu, nih. Main enggak jelas. Enggak ingat pulang.

Main enggak jelas gimana, sih, Bu? Orang cuma depan rumah.

Emangnya enggak cukup, ya? Pindah ke sini, ke Jakarta,

kamu bisa dapet pendidikan yang bagus, sekolah yang bagus,

kamu bisa kuliah di kampus yang kamu pilih sendiri,

dapet fasilitas bagus kayak gini?

Yanti, emang Ibu tuh bukan orang kaya, Yanti.

Tapi apa iya ini enggak cukup?

Ibu beliin sesuatu.

[derak pintu dibuka dan ditutup]

[gemuruh petir]

[keriang-keriut]

- [musik menegangkan mengalun] - [derak pelan]

[derak berulang]

[derak berulang]

[derus pintu terbuka]

[derak berulang]

Bu!

- [musik kresendo, lalu berhenti] - [derus pintu tertutup]

[bernapas berat]

[terengah-engah]

[bernapas berat]

[bernapas cepat]

[berteriak]

Yanti! Kenapa?

[Yanti terengah-engah]

Tadi ada…

Ha?

Makanya kalo dibilangin sama Ibu, jangan ngelawan.

Ini akibatnya.

Kualat.

[tertawa kecil]

[keduanya tertawa pelan]

[keduanya terbahak]

[Najwa tertawa seram]

Bu.

Bu.

Bu!

- [tertawa seram] - [bernapas berat]

[memekik]

[berteriak]

[terkesiap]

[terengah-engah]

[musik lembut mengalun]

♪ Terbanglah tinggi sejauh engkau mau ♪

♪ Tak perlu takut aku kekal di jiwamu ♪

♪ Jika nanti kau temukan bahagiamu ♪

♪ Maka itu bukti dari jejak… ♪

Ibu beneran enggak apa-apa ditinggal sendirian?

Badannya anget, lho.

Enggak apa-apa. Nanti kan, ada Bu Ratih yang temenin.

Bu Ratih itu temannya Ibu yang mana?

Guru Bahasa Indonesia kamu. Makanya jangan main ponsel terus.

- [tertawa pelan, mengembus] - [mengembus]

Pelukan Ibu itu tempat yang paling aman dan nyaman di dunia.

Aku janji bakal bikin Ibu bangga.

- [kecup berulang] - [mengikik]

- Udah, yuk. - Ya.

Yuk, Bu. Pamit, ya.

- Jaga diri, ya. - Iya.

♪ Tak perlu takut aku kekal di jiwamu ♪

♪ Jika nanti kau temukan bahagiamu ♪

[bip berulang pintu mobil]

♪ Sayangku ♪

[reporter] Yayasan Payung Emas kembali memberikan beasiswa nasional

bagi para mahasiswa berprestasi dari daerah tertinggal.

Tak hanya mahasiswa, untuk menandai 50 tahun

komitmen YPE terhadap pendidikan Indonesia…

[debak keras]

[musik menegangkan mengalun]

[musik menegangkan berlanjut]

- [derak pelan] - [desahan seram]

[musik kresendo]

[wanita berbisik seram] Kamu akan mati.

Pergi.

Pergi.

[geraman seram]

[embusan seram]

[bisikan seram]

[mengesah]

[wanita berbisik seram] Pergi.

[dentang bel rumah]

- Bu Ratih? - Selamat siang, Bu Najwa.

Bu Ratih?

Bu Ratih, guru Bahasa Indonesia di sekolah?

Bu Najwa.

Tidak ada guru Bahasa Indonesia yang namanya Bu Ratih di sekolah kita.

[musik misterius mengalun pelan]

Sekolah saya yang lama maksudnya, Pak.

Oke. Kalo gitu, saya mau ngasih ini. Ini dari Bu Diana.

Ini buah-buahan.

Seperti biasa, jangan segan kalo ada apa-apa, untuk telepon saya.

Mari, saya duluan.

- Makasih, Pak. - Mari.

[musik mengerikan mengalun]

[terkesiap] Ha?

[klik berulang lampu]

[musik kresendo]

[bernapas berat]

[mengesah]

[terengah-engah]

[wanita melantunkan mantra]

[semua riuh berembus keras]

[semua riuh berseru-seru]

[musik kresendo]

- [decur darah] - [mengerang]

[musik mencekam mengalun]

[semua riuh menggeram]

[berteriak]

[klik ponsel]

[keletuk di papan tik]

AKADEMI PAYUNG EMAS

BERISTIRAHATLAH DENGAN TENANG

- [ceklek kaset diputar] - ["Rindu Lukisan" dimainkan]

[degar petir]

- [ceklek kaset diputar] - ["Rindu Lukisan" dimainkan]

[ponsel bergetar]

[Yanti] Halo, Ibu.

Yanti.

Halo, Bu Najwa.

[Najwa] Hai, Eva. Lagi pada ngapain?

Ini, kita lagi mengulas kosmetik. Kasih tunjuk. Lihatin.

Lihat, deh, Bu. Tuh. Kosmetiknya Eva banyak banget.

Rambut aku tadi habis dikeritingin. Bagus, enggak?

Bagus.

[Yanti] Ibu kok jam segini udah di kamar?

Masih enggak enak badan, ya?

Enggak, enggak apa-apa.

Yanti, kamu kapan pulang?

Tiga hari, Ibu. Kan, udah tau.

Bu Ratih enggak jadi dateng?

Enggak tau.

Enggak jadi, enggak tau… Nanti.

Nanti kapan?

[degar petir]

[musik mencekam mengalun]

[dentang bel rumah]

RATIH MENELEPON

[debak]

[ponsel bergetar]

[dentang bel rumah]

- [terengah-engah] - [dentang bel berulang]

[ponsel bergetar]

Pergi!

Saya enggak mau keluar! Pergi!

Pergi!

Pergi!

[Najwa] Maaf, saya merepotkan.

Saya enggak tau harus minta tolong sama siapa lagi.

Makan…

Ialu minum obat.

TABLET LORAZEPAM

Tidak ada telepon dari Sri,

pun juga pesan darinya.

Ada.

Tapi enggak tau hilang ke mana.

Pak Jodas kenapa enggak bilang kalo Sri dan Ratih itu orang yang sama?

Dan dia hilang

saat pergi dari rumah ini.

Lagi pula…

Kalian dekat, 'kan?

Saya tidak tahu kalau Sri dan Ratih adalah orang yang sama.

Pak Jodas pernah bilang

hasil psikolognya Sri itu enggak bagus. Kenapa?

Dia lihat hantu juga.

Saya paham pembicaraan kamu.

Kalau memang selama ini yang saya lihat itu halusinasi

dan yang semalam saya lihat itu bukan hantu…

Kenapa harus lagu itu yang nyala?

Pertanyaan yang sangat baik, Bu Najwa.

Pertanyaannya, kenapa dari ratusan lagu yang sudah terekam di memori Bu Najwa,

malah lagi itu yang muncul?

- ["Rindu Lukisan" versi seram mengalun] - [detak berulang]

[detak berulang mengeras]

Semakin cepat kamu menemukan penyebabnya,

tentunya semakin baik.

Dan jikalau hasil psikologi kamu buruk…

Kamu harus segera dipulangkan.

Malam itu, 16 tahun yang lalu.

Saya pulang jalan kaki dari kampus.

Telat.

Tidak seperti biasanya.

Karena saya harus tunggu giliran dari dosen pembimbing.

Bernapas dengan perlahan, Bu Najwa.

[bahasa Inggris] Pelan-pelan saja.

[bahasa Indonesia] Saya ada di sini,

dan kamu aman.

Mobil jip hitam berhenti.

[Najwa] Satu laki-laki memakai topeng singa keluar,

dan saya ditarik masuk ke dalam mobil.

Mobilnya bagus.

Joknya kulit. Mungkin karena pelakunya orang kaya,

sehingga belum tertangkap sampai saat ini.

Jikalau kamu bertemu dengan pelakunya sekarang,

akankah masih ingat?

Saya cuma lihat ujung liontin dari kalungnya.

[Najwa] Saya enggak mampu membela diri saya.

Karena waktu itu saya sedang demam dan maksa untuk masuk kuliah malam.

[Jodas berbahasa Inggris] Tak apa-apa.

Tak apa-apa.

[bahasa Indonesia] Kamu sudah melakukan yang terbaik.

Untuk kamu,

dan juga untuk Yanti.

Yanti.

Yanti enggak tau tentang ini.

[bernapas berat lalu terisak]

Kebenaran itu seperti matahari, Ibu.

Kita tidak akan bisa menyembunyikan kebenaran selamanya.

[denting pisau terjatuh]

[tertawa kecil]

Najwa.

Kupikir kamu sadar

bahwa sama seperti kekayaan,

kecerdasan juga membawa kutukan itu sendiri.

Saya sebenarnya suka sama Ratih. Suka sekali.

[musik menyeramkan mengalun]

Tapi gimana? Kamu, saya, Ratih.

Kita semua hanya manusia biasa.

Yang harus mengikuti keinginan sang raja.

[musik menegangkan mengalun]

Sudah dipikirin nanti kamu akan ambil Sejarah di universitas mana?

Oh, ya? Di mana?

Harvard? Oxford? Yale?

Di Jakarta aja, sih, Pak.

Kenapa?

Tiga universitas itu terbaik di dunia untuk belajar sejarah.

Nak.

Kalau kamu bareng sama kita…

Kamu bisa dapetin itu semua.

Kenapa, Yanti?

Ibu enggak bisa dihubungin.

Mungkin Ibu lagi istirahat.

Nanti kita coba hubungin lagi, ya?

Bangun.

[klik berulang lampu]

[wanita berbisik seram] Najwa

Sini.

Sini. Ikut.

Aku di sini.

Najwa…

Sini.

Ikut.

Masuk.

Sini.

[gemeletap langkah]

[musik mencekam mengalun]

[ceklek pintu dibuka]

[musik kresendo]

[ceklek pintu terbuka]

Kamu akan mati!

[berteriak]

[terengah-engah]

- [musik kresendo, lalu berhenti] - [lagu pop bermain]

[dering ponsel]

Yanti, dengerin Ibu baik-baik.

[ponsel bergetar]

Aku, ayahku, dan semua leluhurmu, Lusius,

kita semua adalah langsung keturunan dari raja

yang memuja Dewa Bhairawa.

[degar petir]

Kita boleh saja mengambil apa pun dari manusia yang menjadi tumbal kita.

Najwa akan melakukan tugasnya.

Pa.

[Najwa] Yanti, dengerin Ibu baik-baik.

Lusius, Eva, omanya, dan semua orang yang ada di sini,

mereka semua jahat.

Mereka mau numbalin kita.

Kamu cari cara keluar dari sana diam-diam,

cari polisi.

Tunggu Ibu di sana.

- Tunggu Ibu di sana. - [bip pesan suara selesai]

Tumbal yang tidak rela dimakan akan melemahkan sihir Dewa Bhairawa.

Satu per satu anggota yayasan kita menjadi gila atau bunuh diri

karena saya gagal menemukan tumbal yang tepat.

[musik menegangkan mengalun keras]

Sepuluh tahun kita gagal.

Kalau tahun ini kita gagal juga,

harus keturunan langsung raja yang mati sebagai penggantinya.

Bisa Ibu, bisa saya…

Bisa Eva.

Kita tidak boleh gagal.

Ritual persembahan ke-50 harus tetap dilakukan tepat waktu,

saat bulan penuh.

[terengah-engah]

[wanita 1] Sudah, ya.

[percakapan samar]

[Najwa] Tolong!

Tolong!

Mbak! Tolong!

- Bu Najwa? Mau sekarang atau nanti? - [pria 1] Ayo!

- [riuh tertawa] - [wanita 2] Ayolah!

- [wanita 3] Lari, Najwa! - [pria 2] Ayo, Najwa!

[terengah-engah]

[tertawa]

Mau ke mana, Bu Najwa?

[para pengejar riuh berteriak]

- [terkesiap, berteriak] - [anjing menggonggong]

[Jodas berbahasa Inggris] Tak apa-apa.

Tak apa-apa. Dia enggak gigit sama sekali.

- [bahasa Indonesia] Jangan, Pak. Udah. - [bahasa Inggris] Tak apa-apa.

[berteriak]

- [Diana] Bravo! - [pria 1] Bravo!

- Bravo! - [tertawa]

- [tergelak] - Bravo. [tertawa]

[musik klasik mengalun]

[musik menegangkan mengalun]

[bahasa Indonesia] Silakan.

Ini dia.

Enak?

[Lusius] Yanti.

Kamu senang tinggal sama kami?

Biasanya kan, aku cuma berdua sama Ibu.

Mungkin kalo aku punya bapak, rasanya kayak gini.

[tertawa kecil]

Mungkin sudah saatnya kamu punya bapak juga.

Kamu mau jadi bagian dari keluarga ini?

Maksudnya Pak Lusius mau ngelamar Ibu?

[Yanti tertawa pelan]

Ibu kamu akan kami tumbalkan.

[musik menegangkan mengalun pelan]

[bernapas berat] Eva!

Eva, lepasin! Aku mau pulang!

Aku mau ketemu sama Ibu!

Karena keluarga kita istimewa.

[mengerang]

[musik menegangkan berlanjut]

Dan ibu kamu

cuma manusia biasa.

Eva.

Eva, tolongin aku, Va!

Kamu tau rasanya pisah dari ibu, 'kan?

Aku enggak mau!

[musik makin intens]

Cukup.

[Najwa] Yanti?

Yanti?

Yanti!

[gemerencing kunci]

[ceklek gembok dibuka]

Halo, Najwa.

Mana Yanti?

Oh, dia baik-baik saja.

Sehat, pintar, cantik.

Saya mau ketemu Yanti.

Akan ada waktunya.

Seharusnya semua racun dalam tubuhnya sudah bersih.

Jadi, rasa dagingnya pasti akan spektakuler.

Dewa Bhairawa menganugerahi kami kejayaan dan panjang umur bukan tanpa sebab.

Kami harus menjaga kalian, manusia biasa.

Dan kami juga mewakili Dewa Bhairawa

dalam menyantap tumbal terbaik.

Kalau kamu tidak bersedia,

Dewa Bhairawa akan mengambil ganti keturunan raja.

Anak saya.

Maaf.

Anak kita.

[berteriak]

[musik menyeramkan mengalun]

[Oma Ina] Sudah 50 tahun aku mendirikan yayasan.

Sudah terlalu lama kita hidup diam-diam mempertahankan tradisi keturunan raja.

Tapi tidak lama lagi, era baru kita akan datang.

Hari ini, kita akan menyambut cucuku, Yanti.

Dia akan membunuh ibunya

sebagai persembahan tertinggi kepada Bhairawa,

Dewa yang mulia atas segala berkatnya.

[para pengikut melantunkan mantra]

[Lusius melantunkan mantra]

[Lusius terus melantunkan mantra]

[berseru keras]

[wanita menyanyikan mantra]

- [Lusius berteriak] - [semua ikut berteriak]

[mengerang]

Labinak!

[para pengikut bersorak]

[Najwa mengerang]

[Najwa] Jodas.

Jangan, Pak Jodas.

Jangan, Pak Jodas. Tolong saya, Pak Jodas.

[Najwa terisak-isak]

- Anakku. - [Najwa] Pak, jangan, Pak.

[Najwa memekik sambil menangis]

Persembahkan ibumu, Nak.

Untuk Tuhanmu yang baru.

Aku.

Bhairawa.

[Najwa terisak-isak]

[Najwa] Yanti, jangan.

Yanti.

Yanti, jangan. Sadar. Yanti, jangan. Kamu anak baik. Ibu sayang sama Yanti.

Yanti, jangan! Yanti, sadar! Jangan, Yanti!

Yanti.

Sadar.

Sadar, Yanti.

Ibu sayang sama Yanti.

[terisak-isak]

[Yanti] Makasih, ya, Ibu.

Akhirnya kita ke Jakarta.

Senang, enggak?

Makasih, Ibu.

Pelukan Ibu itu tempat yang paling aman dan nyaman di dunia.

[Yanti menjerit]

- [para pengikut berteriak] - [jeluak]

[Najwa] Yanti. Talinya, Yanti. Yanti.

[bernapas berat]

[musik menegangkan mengalun]

Yanti. Cari lemari yang muat sama kamu.

Enggak, Bu. Aku enggak mau pisah dari Ibu.

[Jodas] Najwa!

- Enggak. Udah, cepetan! - Gak mau! Kita gak boleh pisah lagi, Bu!

Yanti, sembunyi. Sembunyi!

Najwa?

[cicit tikus]

Tidakkah kamu bahagia melihat kehidupan Yanti sekarang?

[tersengal pelan]

Seorang ibu itu…

Harus berkorban untuk anaknya.

Masa orang secerdas kamu enggak paham?

Ha?

[musik mencekam mengalun]

Aku lakukan padamu seperti apa yang kau lakukan padaku!

Kulakukan padamu seperti apa yang kau lakukan padaku!

[menjerit]

[berteriak]

[mengecap]

[Jodas mengerang]

- [Jodas mengerang] - [debak-debuk]

[Jodas mengerang]

[Najwa dan Yanti terengah-engah]

- [Yanti] Enggak mau! - [Najwa terengah-engah]

[Yanti] Lepas!

- [Najwa] Lepas! - Bu!

[Najwa] Yanti! Lepas!

Lepas!

- Jangan! - Bu…

- Yanti! - Ibu!

- Jangan, Yanti. - [Yanti] Bu.

[Yanti merejan] Bu!

Jangan bunuh Yanti.

Bunuh saya.

[Najwa] Bunuh saya!

Tolong, Pak.

[Yanti] Pak, tolong.

Saya gak apa-apa. Saya gak apa-apa dikurung… seumur hidup, saya gak apa-apa,

asalkan saya sama Ibu.

[terisak-isak]

Pak, tolong, Pak.

Saya enggak butuh barang-barang yang mewah.

Saya enggak butuh tinggal di rumah yang bagus. Saya enggak butuh, Pak.

Saya enggak apa-apa enggak sekolah, asalkan saya sama Ibu.

Yanti…

Saya kalo enggak sama Ibu, saya sama siapa, Pak?

Tumbal harus diserahkan, Anakku.

Ibumu…

- Pak. - …akan bebas.

Dan seluruh keluarga kita akan selamat,

kalo kamu mau menggantikan ibumu.

Yanti, jangan.

Jangan.

Saya mau menggantikan Ibu.

Apa?

[Najwa] Yanti…

Saya mau menggantikan Ibu.

Lusius!

Jaga Yanti.

Bu!

Yanti, dengar Ibu. Dengar.

Ibu udah pernah hidup bahagia dengan kamu, dan itu cukup buat Ibu.

Sekarang giliran kamu yang bahagia, ya, Nak?

Kejar mimpi kamu.

Enggak.

Dan kelak mimpi kamu tercapai…

Kamu harus ingat siapa diri kamu.

Bu, enggak gitu, Bu! Enggak! Jangan!

[musik dramatis mengalun]

Ibu!

Bu!

Ibu, maafin Yanti.

[Yanti terisak-isak]

[para pengikut berseru]

Ibu Stella, Bapak Ridwan, selamat datang di perumahan kami.

Gima perjalanannya? Lancar?

- [bersamaan] Lancar, Bu. - Wah, bagus!

Tapi kok di depan ada plang pemakaman umum, ya?

Ini saya.

Saya perlu bantuan.

Kamu lapar, 'kan?

Datanglah kemari, Sumanto. Sudah lama enggak makan enak.

[musik menegangkan mengalun]

♪ Abadikan aku ♪

♪ Wahai gelap ♪

♪ Lepaskan daging dari derita ♪

♪ Kuberi jiwaku yang rekah ♪

♪ Untuk hidup dalam sunyi selamanya ♪

♪ Jerit Roro ♪

♪ Terperangkap ♪

♪ Menari di pusaran takdir ♪

♪ Namun, tak gentar ♪

♪ Aku melangkah ♪

♪ Demi waktu yang tak bernafi ♪

♪ Mereka bilang kutuk kekal ♪

♪ Namun, bagiku surga yang kekal ♪

♪ Tak perlu cinta, tak perlu cahaya ♪

♪ Asal abadi dalam dunia yang hampa ♪

♪ Abadikan aku ♪

♪ Wahai gelap ♪

♪ Lepaskan daging dari derita ♪

♪ Kuberi jiwaku yang rekah ♪

♪ Untuk hidup dalam sunyi selamanya ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.