Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Alejandro!
Pergi sembunyi.
Jangan keluar, jangan bersuara.
Jangan lakukan apa pun.
Cepat.
Taruh senjatanya dan jangan bergerak,
Letakkan!
Sudah...
Salinas, aku dapat dia!
Kita bertemu lagi, dokter.
Tiga ratus kilometer untuk sampai ke sini,
perjalanan yang panjang juga.
Apa maumu, Salinas?
Perang sudah selesai.
Yang menanglah yang menentukan kapan perang berakhir.
Perang sudah selesai. Titik.
Bukan perangmu, dokter.
Dan bukan perangku.
Jangan sentuh aku!
Kalian akan ditangkap dan membusuk di penjara seumur hidup.
Kamu mau menua di balik jeruji?
Kamu mau...
el Gurre?
- Kalian gila. - Mungkin.
Ulangi.
Aku suka dengar kamu bicara tentang gila, dokter.
Persetan denganmu!
Tahu berapa kali aku menembak selama empat tahun perang?
Dua kali.
Aku tidak suka menembak,
aku tidak suka senjata.
Aku tidak pernah mau membawanya.
Aku jalani peranku di perang duduk di meja kerja.
Salinas si Tikus, ingat?
Teman-temanmu memanggilku begitu.
Tapi tahu apa yang terjadi?
Aku habisi mereka, satu per satu.
Aku pecahkan kode pesan mereka lalu aku buat mereka diawasi.
Dan aku hancurkan mereka.
Itu berlangsung empat tahun.
Tapi kenyataannya aku hanya menembak dua kali.
Pertama kali saat malam.
Aku menembak ke gelap, tanpa sasaran.
Kedua kalinya...
hari terakhir perang.
Aku menembak saudaraku.
Kami sampai di rumah sakit sebelum tentara.
Kalian sudah kabur.
Kalian sudah tahu apa yang akan terjadi,
jadi kalian lepas jas penyiksa itu
dan lari.
Tahu apa yang paling kuingat?
Tidak terdengar satu keluhan pun.
Tidak ada suara, dokter, sama sekali.
Hening total.
Kalian sudah mencabik mereka.
Mereka hanya ingin mati.
Lalu aku temukan saudaraku.
Miguel.
Miguelito.
Kamu dengar aku?
Suara itu...
Suara itu terdengar seperti dari neraka.
Bunuh aku.
Aku bisa rasakan tulang wajahnya.
Saudaraku.
Tak ada yang bisa diminta untuk melakukan hal seperti itu.
Mereka tak bisa memintanya padaku.
Aku tak bisa hentikan, aku terus berteriak,
tapi seperti dari jauh.
Lihat aku, Roca.
Aku bilang, lihat aku.
Sepanjang perang
aku hanya menembak dua kali.
Aku akan menembak sekali lagi,
yang terakhir.
- Aku tak ada hubungannya. - Tidak?
Aku tak terlibat dengan...
- Kamu ada di sana! - Aku tidak ada saat itu...
- Omong kosong apa itu? - Sungguh.
Itu rumah sakitmu!
- Rumah sakitku? - Kamu dokter yang merawat mereka!
Kamu yang mencabik mereka!
- Diam, brengsek! - Aku tak bunuh siapa pun!
Kubunuh kamu!
Pergi.
Pergi!
Pergilah!
- Siapa itu? - Anaknya.
- Apa maksudmu? - Itu anaknya.
Anak Roca.
Seharusnya tak ada siapa pun!
Kalian bilang tak ada siapa pun!
Kumohon.
Jangan lakukan hal bodoh, letakkan senjata itu.
Sekarang kamu tahu siapa ayahmu,
sekarang kamu tahu dia pembunuh.
Dia sudah bunuh puluhan orang.
Kadang dia meracuni mereka perlahan dengan obatnya.
Beberapa dia bunuh dengan membelah dada
lalu membiarkan mereka mati.
Ayahmu dijuluki Hiena,
kamu tahu?
Teman-temannya memanggilnya Hiena.
Dan mereka menertawakannya.
Begitulah kenyataannya, Nak.
Sekarang sudah terlambat, meski kamu pegang senjata.
Kumohon, jangan.
Biarkan dia, kumohon.
Kumohon.
- Jangan lakukan hal bodoh. - Dia ayahku!
Hentikan dia.
Hentikan dia, kumohon.
Salinas, kami sudah tangkap anak itu,
tapi di mana anak perempuannya?
Anak Roca ada di sini, tapi anak perempuannya di mana?
Cari dia!
Apa yang sudah kamu lakukan?
Apa yang sudah kamu lakukan?
- Kumohon... - Sudah cukup.
Apa yang sudah kalian lakukan?
Tenanglah, Nak.
Mengerti?
Begitulah hidup, paham?
Selamat malam.
Aku ingin beli tiket.
Sudah lama kamu menunggu?
Tidak. Kenapa?
Lupakan saja, maafkan aku.
Tidak.
Aku mau yang itu.
- Yang ini? - Ya.
Itu nomor yang bagus.
Bagaimana kamu tahu?
Itu pekerjaanku.
Dengar...
maukah kamu minum segelas denganku?
Aku?
Ya.
Aku tidak bisa.
Aku harus jaga kios tetap buka,
aku tidak bisa pergi sekarang, aku tidak punya siapa-siapa...
Aku tidak bisa.
Ikut aku.
Tolong.
Ikut aku.
Saat orang menang lotre
mereka tidak bisa menyimpannya sendiri.
Tidak?
Lucunya, orang pertama yang mereka beri tahu
adalah seorang anak.
Mungkin ada pesan moralnya,
tapi aku tidak pernah bisa memahaminya.
Beberapa cerita lahir dengan pesan moral,
itulah alasan mereka ada,
untuk menyampaikan sesuatu yang dalam.
Tapi ada juga cerita yang hanya cerita.
Aku tahu siapa kamu
dan aku tahu kenapa kamu di sini.
Bertahun-tahun lalu
kamu melihat tiga orang membunuh ayahmu dengan kejam.
Aku satu-satunya dari mereka yang masih hidup.
Kamu datang ke sini mencariku.
Dan sekarang kamu menemukanku.
Saat aku kecil
namaku Nina.
Tapi semuanya berakhir hari itu.
Hari ketika ayah dan saudaraku
dibunuh.
Aku suka nama itu.
Nina.
Suatu hari seorang pria bernama Ricardo Uribe
membawaku bersamanya,
Dia seorang apoteker.
Dia bilang pada semua orang aku anaknya.
Dan semua orang percaya.
Dia menyimpanku di belakang apotek.
Malam hari dia duduk di sofa
dan menyuruhku menyandarkan kepala di pangkuannya.
Dia bercerita padaku tentang kisah-kisah perang yang menakutkan.
Lalu dia mencium keningku
dan membiarkanku tidur.
Suatu malam musim dingin
Uribe pergi ke Riviera.
Tinggal dia dan Count Torrelavid.
Mereka sampai pada titik
di mana para pemain kehilangan rasa nyata.
- Kamu suka berjudi? - Tidak.
Kalau begitu kamu tidak akan mengerti.
Belsito, hacienda terindah di daerah itu,
Kamu bisa pertaruhkan apotekmu.
Tapi kamu juga punya anak perempuan cantik.
Belsito lawan anakmu,
itu tawaran yang adil.
Semua mata tertuju padanya.
Dia tak sempat berpikir.
Dia menatap kartu tanpa menyentuhnya.
Count datang menjemputku keesokan harinya.
Tapi lalu dia lakukan sesuatu yang tak terduga.
Dia menunggu
sampai aku berusia 14 tahun
dan menikahiku.
Aku memberinya tiga anak.
Ya?
- Bisa dua teh? - Segera.
Laki-laki begitu sulit dimengerti.
Count hanya melihatku sekali sebelum hari itu.
Dia bertanya:
"Siapa anak itu?"
Dan mereka memberitahunya.
Maafkan aku.
Kamu punya...
cara aneh menceritakan kisah ini,
Seolah-olah
kamu tidak peduli.
Sebaliknya.
Aku terlalu peduli pada segalanya.
Aku rindu pada setiap hal yang pernah kualami.
Terima kasih.
Benarkah mereka memanggilmu Tito?
Kamu pernah lihat ayahku sebelum hari itu?
Aku tahu siapa dia.
Benarkah kamu yang menembaknya duluan?
Apa yang kamu ingat?
Kamu ingat?
Aku tak lakukan hal lain
sudah lama sekali.
Aku ingat segalanya.
Awalnya, tentu saja,
aku diam karena takut,
tapi lama-lama orang berhenti memikirkan perang.
Namun,
pada suatu saat,
terdengar kabar bahwa anak perempuan Roca masih hidup.
Dia bersembunyi di sebuah desa di selatan.
Aku tidak tahu harus berpikir apa.
Rasanya tak masuk akal
dia bisa selamat dari neraka itu.
Tapi dengan anak-anak, kita tak pernah tahu.
Akhirnya, seseorang
Dia melihat anak itu
dan bersumpah itu memang dia,
Saat itu aku sadar
aku tak akan pernah bebas dari hari itu,
aku maupun yang lain.
Tentu saja aku mulai bertanya-tanya
apa yang mungkin dia lihat
dan dengar.
Dan apakah dia ingat wajahku.
Siapa tahu apa yang terjadi di kepala seorang anak
saat melihat hal seperti itu.
Orang dewasa punya ingatan,
rasa keadilan
dan sering juga rasa dendam,
tapi anak-anak?
Aku meyakinkan diri
bahwa takkan terjadi apa-apa.
Tapi lalu...
Salinas mati.
Dengan cara yang aneh.
Selamat pagi, dokter.
Anda kenal Salinas?
Ternyata ada hubungannya dengan obat-obatan Uribe.
Mungkin kebetulan, tapi jelas aneh.
Semua orang yakin
anak itu tahu sesuatu,
bahwa dia terlibat.
Sekarang sulit dimengerti,
tapi waktu itu memang aneh.
Negara terus maju meninggalkan perang,
dengan kecepatan luar biasa.
Tapi ada seluruh dunia
yang tak pernah keluar dari perang itu
dan tak bisa menyatu dengan bangsa yang bahagia itu.
Aku salah satunya.
Kami semua begitu.
Bagi kami, tak ada yang benar-benar selesai.
Dan anak itu jadi ancaman.
Jadi kami putuskan
bahwa, bagaimanapun caranya,
anak itu harus disingkirkan.
Sekarang semua tampak...
gila,
tapi dalam kenyataan kami
semua terasa sangat masuk akal.
Anak itu harus disingkirkan.
Mereka tugaskan Count.
Count Torrelavid.
Pria itu bermain
dua sisi sepanjang perang.
Dia bekerja untuk mereka, tapi dia salah satu dari kami.
Dia mendatangi Uribe
dan bertanya
apakah dia lebih suka hidup di penjara
atas pembunuhan Salinas,
atau lenyap begitu saja,
dengan menyerahkan anak itu padanya.
Uribe pengecut.
Dia menyerahkan anak itu pada Count.
Lalu kabur.
Dia meninggal sepuluh tahun kemudian
di sebuah desa terpencil di seberang perbatasan.
Dalam sebuah catatan dia menulis bahwa dia tidak melakukan apa pun
dan bahwa Tuhan
akan mengejar musuh-musuhnya
sampai ke gerbang neraka.
Semua orang mengira
Count itu
akan membunuh anak itu.
Tapi dia tidak melakukannya.
Dia membawanya tinggal di rumah,
dan akhirnya berkata:
"Jangan khawatir soal anak itu."
Berbulan-bulan orang hanya membicarakan itu,
tapi lama-lama semua melupakannya.
Anak itu tumbuh besar dan memberinya
tiga anak.
Dia tak pernah terlihat di luar.
Mereka memanggilnya Donna Sol.
Donna Sol.
Beredar kabar aneh tentang dirinya.
Katanya dia tidak pernah bicara.
Tak seorang pun pernah mendengar dia mengucapkan sepatah kata.
Mereka pikir dia sakit.
Tanpa tahu alasannya...
orang-orang takut padanya.
Permisi.
Boleh aku bawakan sesuatu untuk makan malam?
- Aku tidak lapar, terima kasih. - Tolonglah, kamu tamuku.
Aku benar-benar tidak lapar.
Terima kasih.
- Kita pesan pencuci mulut. - Tentu.
Tempat ini bagus.
Ya.
Apakah teman-temanmu yang menceritakan semua kisah ini?
Ya.
- Dan kamu percaya pada mereka? - Ya.
Ceritakan sisanya padaku.
- Untuk apa? - Tolonglah.
Ini bukan ceritaku, ini ceritamu.
Kamu lebih tahu daripada aku.
Tapi aku ingin mendengarnya darimu.
Bertahun-tahun sudah berlalu,
aku bisa tidur di malam hari
dan di sekelilingku
ada orang-orang yang tidak memanggilku Tito.
Aku tidak ingat perjalanan dengan kereta.
Yang menuntunku hanyalah emosi,
aku tidak bisa berpikir,
Tuan.
Dia menawariku minum.
Aku bertanya apakah dia ingat aku.
Dia tahu siapa aku.
Aku ingin bertanya.
Aku ingin tahu.
Kami bicara sedikit tentang pekerjaan.
Bahkan tentang politik.
Lalu aku bertanya tentang dia.
Terima kasih sudah datang.
Aku langsung mengerti.
Lalu aku berdiri dan pergi.
Dia menyuruh seorang anak mengantarku ke stasiun.
Aku ingat betul
karena dia tak lebih dari 14 tahun,
tapi sudah mengemudi mobil.
Carlos.
Anak sulungku, Carlos.
Sebelum meninggalkan Belsito,
saat aku melewati lorong panjang,
dengan semua pintu tertutup,
aku berpikir bahwa di suatu tempat, di rumah itu,
dia ada di sana.
Aku ingin sekali melihatnya.
Aku tidak akan berkata apa pun,
tapi aku ingin melihat wajahnya lagi...
setelah semua tahun itu.
Sesaat aku begitu yakin
dia akan keluar
dan berjalan melewatiku tanpa sepatah kata.
Tapi itu tidak terjadi.
Hidup tak pernah sempurna,
selalu ada yang kurang.
Orang-orang melihat kita duduk di sini,
bersama.
Mungkin mereka kira kamu saudaraku.
Mungkin mereka bertanya-tanya
apakah kita kekasih.
Atau mungkin mereka pikir kita pasangan biasa.
Apa lagi yang kamu tahu tentang aku?
Sekitar sepuluh tahun kemudian,
Count meninggal dalam kecelakaan mobil.
Kepadanya tertinggal tiga anak, Belsito, dan semuanya.
Tapi keluarga Count tidak menyukainya.
Jadi mereka bilang dia gila,
bahwa dia tak bisa dibiarkan sendiri dengan ketiga anak itu.
Kasusnya dibawa ke pengadilan.
Hakim
memutuskan mereka yang benar.
Dia dibawa pergi dari Belsito
dan diserahkan pada perawatan dokter.
Dia berakhir di rumah perawatan di Santander.
Benarkah?
Dua tahun kemudian, dia kabur
dan menghilang.
Mereka mencarinya sebentar, lalu berhenti,
mereka yakin dia sudah mati.
Sering kali orang gila menghilang.
Kamu punya anak?
- Kenapa?
Kamu harus percaya pada dunia untuk punya anak.
Pasti indah bisa membuat pilihan seperti itu.
Saat itu aku bekerja
di sebuah pabrik di utara.
Aku tidak berpikir apa-apa.
Aku terkejut
mendengar dia jadi gila.
Aku bertanya-tanya
gila seperti apa.
Mungkin dia berkeliaran...
berteriak.
Atau mungkin dia hanya diam di sudut.
Mungkin dia menggenggam erat seutas tali
atau kepala seekor burung robin.
Bayangan kita tentang orang gila
memang aneh...
Benar.
Kalau kita tidak mengenalnya.
Empat tahun kemudian...
el Gurre mati.
Mereka menemukannya dengan peluru di punggung,
di depan kandangnya.
Mereka menemukan sebuah catatan,
tertulis nama seorang perempuan.
Namanya.
Sejak hari itu...
aku mulai menunggunya.
Aku tahu tak ada yang bisa menghentikannya
dan dia pasti akan datang juga padaku.
Aku tahu dia tidak akan menembakku dari belakang
atau mengirim pembunuh bayaran yang bahkan tak mengenalku.
Aku tahu dia sendiri yang akan datang
untuk menatapku tepat di wajah,
mungkin untuk bicara sebentar,
karena hari itu aku yang membuka pintu rahasia
dan aku juga yang menutupnya.
Itu tak pernah dia lupakan.
Aku simpan rahasia ini di dalam diriku
sepanjang hidup...
seperti penyakit.
Aku pantas duduk di sini bersamanya.
Uribe...
mengambil kartu-kartu Count,
menggesernya perlahan di antara jarinya,
membukanya satu per satu.
Lalu dia berdiri
dan berpamitan dengan sopan.
Tak ada yang tertawa.
Tak ada yang berkata sepatah pun.
Uribe tidak memikirkan apa yang sudah hilang,
tapi apa yang tidak pernah dia menangkan.
Aku tidak sepenting itu baginya.
Dan sekarang katakan padaku,
kenapa ceritaku harus dianggap kurang benar dari ceritamu?
Ayahku...
adalah ayah yang luar biasa.
Dia pria yang luar biasa.
Percaya atau tidak.
Kenapa kebenaranku harus dianggap kurang benar dari kebenaranmu?
Aku tahu apa yang terjadi hari itu,
meski aku ingat sangat sedikit.
Aku ingat aku merasakan sesuatu,
tapi yang kurasakan begitu aneh
hingga terasa seperti mimpi.
Semuanya lenyap dalam kebakaran itu.
Tapi inilah yang kutahu:
kamu masuk ke rumahku,
kamu menembak ayahku,
lalu Salinas juga menembaknya.
Akhirnya, el Gurre
menyodokkan moncong senapan mesin
ke dalam mulut ayahku...
dan meledakkan kepalanya.
Bagaimana aku tahu?
Bunuh aku!
El Gurre yang menceritakannya padaku.
Dia suka menyombongkan diri.
Dia binatang.
Kalian semua begitu.
Dalam perang, manusia jadi binatang.
Cukup.
Bagaimana Tuhan bisa mengampuni kalian?
Cukup.
Tapi lihatlah dirimu,
kamu tampak seperti orang biasa,
dengan mantel lusuhmu,
dan saat melepas kacamata
kamu menyimpannya hati-hati dalam kotak cokelat.
Tirai kiosmu bersih.
Sebelum menyeberang jalan,
kamu menoleh kanan dan kiri,
seperti orang biasa.
Tapi kamu melihat saudaraku mati
tanpa alasan.
Dia hanya anak kecil.
Satu letusan mesiu
dan dia lenyap.
Kamu hanya berdiri di sana
dan tidak melakukan apa pun.
Kamu berusia 17 tahun, tidak cacat, tapi membiarkan itu terjadi,
karena memang begitu kejadiannya,
bukan halusinasi demam.
Kumohon,
bisakah kamu jelaskan bagaimana itu mungkin?
Kami sedang berperang.
Tapi perang sudah selesai.
Tidak. Kamu tidak tahu apa-apa.
Kalau begitu jelaskan padaku.
Kami percaya pada dunia yang lebih baik.
Apa? Maksudmu apa?
Dunia yang adil...
di mana yang lemah tidak harus menderita
karena kejahatan orang lain.
Di mana siapa pun berhak bahagia.
- Dan kamu percaya itu? - Tentu.
Kami semua percaya.
Kami harus melakukannya dan kami tahu caranya.
- Menurutmu itu aneh? - Ya.
Kami tahu caranya dan kami melakukannya,
Kamu tidak bisa menanam
tanpa lebih dulu membajak.
Kamu harus lebih dulu membelah tanah.
Kamu tidak bisa bermimpi dunia lebih baik
dan berharap itu diberikan padamu
hanya karena kamu memintanya.
Kamu harus berjuang.
Sekali kamu paham itu,
tidak ada bedanya lagi
apakah yang jadi korban anak-anak, perempuan, atau orang tua.
Kami tahu, seberapa pun mahal harganya,
hadiahnya akan sangat besar,
karena kami tidak berperang demi uang
atau demi sebidang tanah atau demi sebuah bendera,
kami melakukannya demi dunia yang lebih baik.
Kami sedang mengembalikan
kepada jutaan orang kehidupan yang layak,
kesempatan untuk bahagia,
untuk hidup dan mati dengan bermartabat.
Apa artinya jika seorang anak mati di tembok?
Atau sepuluh, atau seratus?
Jutaan anak lain
menunggu kami melakukannya
dan kami melakukannya.
- Tapi kamu sungguh percaya itu? - Kenapa tidak?
Karena perang sudah kalian menangkan,
tapi menurutmu ini dunia yang lebih baik?
- Aku tak pernah menanyakannya. - Tidak benar.
Kamu sudah menanyakannya ribuan kali,
kamu hanya takut pada jawabannya.
Dan kamu juga sudah bertanya ribuan kali
apa yang kamu lakukan di rumahku hari itu,
siap membunuh seorang pria dengan darah dingin.
Seorang pria yang belum pernah kamu lihat.
Kenapa dia tidak diberi hak untuk diadili?
Karena kamu sudah terlanjur membunuh
dan tidak bisa lagi berhenti.
Dan sepanjang waktu
kamu terus memutar di kepalamu tentang "dunia yang lebih baik"
agar tidak perlu memikirkan
semua orang yang sudah kamu bunuh.
Demi balas dendam,
itulah alasanmu membunuh,
itulah alasan kita semua membunuh.
- Tidak benar. - Tidak perlu malu.
Itu satu-satunya obat untuk rasa sakit.
Itu satu-satunya hal
yang membuat kita tidak gila.
Itu satu-satunya racun yang membuat kita bertarung.
Tapi apakah itu membuat kalian bebas? Tidak.
Itu membakar hidup kalian.
Itu memenuhi kalian dengan hantu.
Kamu bahkan tidak ingat lagi apa itu hidup.
Apa yang kamu tahu?
Kamu benar,
aku hanya orang gila...
yang tidak tahu apa-apa tentang hidup.
Seorang anak
yang tidak mengerti apa-apa.
Kamu akan mengerti,
tapi aku terlalu lelah
untuk menjelaskan apa pun.
Lakukan apa yang harus kamu lakukan, tapi biarkan aku tenang.
Saat aku melihat
tutup pintu rahasia itu terbuka,
aku sadar cahaya masuk
dan aku menoleh.
Aku melihat wajah mudamu.
Dalam arti tertentu
semua terasa wajar bagiku.
Aku senang kalau justru kamu, anak itu,
yang datang menjemputku.
Tapi lalu kamu menutup kembali penutupnya.
Kegelapan kembali datang.
Suara langkah kaki anak itu
semakin menjauh.
Aku merasa tersesat.
Ketakutan itu tak pernah meninggalkanku.
Sejak saat itu
aku hanya berharap
anak itu kembali menjemputku.
Maafkan aku.
Aku sangat menyesal.
Pilihlah sebuah hotel.
Yang kamu suka.
Yang tenang.
Betapapun hidup terasa tak bisa dimengerti, kita menjalaninya
dengan satu keinginan untuk kembali ke neraka yang membentuk kita.
Tak ada yang lebih kuat dari naluri
untuk kembali ke tempat kita dihancurkan
dan mengulang saat itu selamanya,
tapi tiba-tiba, dengan belas kasih
TANPA DARAH.
Sub : SubSource >> rawe OpenSubtitles >> FreePalestina Subdl >> RaWe
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.