All language subtitles for marcello.hernandez.american.boy.2026.720p.web.dl.x264-NoRBiT-Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian Download
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Downloaded from YTS.LT

Official YIFY movies site: YTS.LT

Hadirin sekalian,

mari kita sambut putraku, Marcello Hernández!

Miami!

Vamos.

Tempat ini terasa seperti pesta keluarga.

Begitulah pesta keluarga kami. Kami harus menari.

Kami harus menari atau mencari keluarga baru, itu aturannya.

Sejak kecil aku harus menari. Begitu caraku memasuki rumahku.

Jika orang datang ke rumahku, ibuku memanggil, "Marcello!"

Usiaku enam tahun, dan aku harus keluar kamar begini.

Aku berkata, "Bu, aku tak mau menari."

Ibuku membalas, "Ya, dan Ibu tak mau kabur dari Kuba,

jadi menarilah."

"Oke, maaf. Aku tak tahu seperti apa itu. Maaf."

Kukira tarianku bagus.

Tiba-tiba ibuku bilang, "Marcello, bukan begitu.

Menari seperti yang Ibu ajarkan." Aku memohon.

"Jangan memaksaku menari seksi

di depan keluargaku."

Aku harus hafal tiap tarian.

Aku selalu iri pada anak-anak Amerika

karena mereka tak perlu menghafal tarian apa pun.

Anak-anak Amerika bisa beristirahat saat Natal, Tahun Baru, Thanksgiving.

Mereka tak perlu menghafal apa pun. Anak-anak Amerika hidup dengan bebas.

Mereka bilang, "Aku suka lagu itu." Lalu mereka melompat.

Lalu ibu mereka berkomentar, "Lihat, Tyler menari."

Aku bilang, "Tyler tak melakukan apa-apa."

Aku harus menggoyang pantatku.

Begitu masa kecilku. Pergi ke pesta dan menari.

Lalu ibu kami mengucapkan kata-kata terindah.

Apa bagian terindah dari pesta keluarga?

Berkumpul dengan sepupu, 'kan? Bukankah itu yang terindah?

Ya Tuhan.

Berkumpul bersama sepupu membuat kita…

Kita menggila.

Kita berakhir di area rumah yang tak pernah kita datangi sebelumnya.

Kita dan sepupu kita berakhir di unit AC rumah kita.

Kita di sana dan rasanya aneh berada di sana.

Seorang sepupu berkata, "Aku punya bulu. Sumpah.

Aku punya bulu. Entah dari mana. Aku punya bulu."

Sepupu lainnya aneh.

Dia berkata, "Makan kecoak, Kawan."

Aku kaget. Katanya, "Makanlah. Tak akan terjadi apa-apa.

Aku sudah pernah. Makan kecoak. Cepat."

Orang tua mabuk, dan anak-anak juga teler

karena kita minum Coca-Cola tanpa pengawasan.

Kita minum dari botol malam ini.

Dan mulut sepupu kita cokelat. Dia teler.

Kalian menggila di sana.

Tiba-tiba, seorang paman masuk dan berkata,

"Hei, Marcello, minum sedikit wiski. Takkan terjadi apa-apa padamu.

Ayo. Sedikit wiski. Takkan terjadi apa-apa padamu.

Makan kecoak, minum wiski. Sedikit wiski."

Lalu entah bagaimana, sekarang sudah pukul 02.00.

Pukul 02.00.

Dan saat itulah para orang tua sadar,

"Sial, aku belum melihat anakku selama sembilan jam."

Lalu mereka memanggil anak-anak, "Kembali ke lantai dansa!"

Sekarang pukul 02.00.

Usiaku masih enam tahun, tapi sekarang aku ingin menari.

Karena aku minum wiski.

Aku ingin menari.

Apa kegiatan anak-anak Amerika pada pukul 02.00? Omong-omong, ini Natal.

Di mana Sinterklas? Tak ada yang peduli.

Sinterklas akan datang saat pesta usai.

Pukul 02.00…

Apa kegiatan anak-anak Amerika pada hari Natal pukul 02.00?

Kalian menonton Elf?

Aku melakukan tarian seksi dengan tanteku.

Dan dia menari dengan agresif. Agresif.

Aku bertanya, "Bu, kenapa?"

Jawab ibuku, "Karena tantemu sedang melalui perceraian."

Dan itu bukan sikap tidak sopan.

Itu mendukung keluargamu.

Itu yang kulakukan. Aku menuruti ibuku. Dia menyuruhku menari, kulakukan.

Ibuku melalui banyak hal, jadi aku menuruti semua perintahnya.

Misalnya, aku mengidap ADD parah.

Semua orang bilang aku mengidap ADD.

Aku memberi tahu ibuku. Dia bilang tidak, jadi aku tak mengidap ADD.

Aku tak mengidap itu. Aku sedih karena aku ingin mengidap itu.

Dan semua orang… Omong-omong, mudah mengidap itu.

Jika mau, kau bisa mengidap ADD.

Kau ke dokter dan bertingkah aneh, kau mengidap ADD.

Hanya butuh dua detik.

Semua tahu aku mengidap ADD.

Aku punya guru di Miami yang tidak percaya ADD itu ada.

Dan mereka bilang mereka percaya karena Marcello.

Aku mengidapnya. Semua orang tahu itu.

Masalahnya, aku harus memberi tahu ibuku bahwa aku mengidap ADD.

Saat kubilang aku mengidap ADD, ibuku mengancam akan memberiku ADD.

Kubilang aku mengidap ADD.

Ibuku membalas, "Kau mau ADD? Ibu bisa memberimu ADD sekarang!"

Pada saat itu,

aku memutuskan untuk fokus.

Itu menyedihkan karena aku ingin pilnya.

Aku ingin pilnya karena aku tahu itu melakukan sesuatu.

Aku tahu itu melakukan sesuatu.

Aku punya seorang teman di SMA dan ibunya membiarkannya mengidap ADD.

Dia menemuiku pada hari Selasa.

Katanya, "Marcello, aku tak minum pil hari ini. Hari ini Selasa Bebas Pil."

Aku kaget, "Wow, seperti itukah hidupku?

Setiap hari adalah Selasa Bebas Pil untukku?"

Mengerikan. Seperti itulah hidupku.

Saat masih kecil, ADD-ku menjadi masalah besar di sekolah.

Setelah dewasa, masalahku dengan ADD terjadi saat menjalin hubungan.

Dengan wanita karena aku mengidap ADD parah,

dan tak pernah minum pil.

Dan wanita…

Mereka senang saat pria mendengarkan mereka.

Itu kesukaan mereka.

Dan itu kelemahan terbesarku.

Wanita itu baik.

Mereka tak butuh pria setinggi 2,13 meter yang berotot.

Wanita hanya ingin pria mendengarkan, mendampingi,

dan menghafal nama teman-temannya. Hanya itu keinginan mereka.

Kau harus tahu nama teman-temannya. Terkadang kau harus mendahuluinya.

Itu hal yang indah karena itu berarti wanita tidak dangkal.

Itu berarti mereka mencari pasangan. Mereka tak mengutamakan fisik.

Pria lebih dangkal. Aku punya teman yang sangat dangkal.

Aku tunjukkan foto gadis yang kusuka pada temanku, dan komentarnya, "Tidak.

Kau harus putus dengannya, Kawan."

Kutanya alasannya. Jawab mereka, "Karena, Kawan, dahinya mengerikan."

Aku bingung. "Kenapa? Dia ramah, pintar. Dia wanita baik."

Balas teman-temanku, "Kami bisa tahu dia pintar.

Bukan itu masalahnya, Kawan."

Pria ini terus membahas dahinya. Kubilang, "Bung, kau botak.

Kenapa berkata begitu, padahal dahimu tak berujung?"

Tapi begitulah pria. Pria memang seperti itu.

Wanita berbeda. Mereka bisa membawa apa pun ke temannya.

Wanita bisa membawa katak asli ke teman-temannya,

dan berkata, "Ini pacarku.

Aku mencintainya. Dia mencintaiku. Dan kami bertemu di rawa.

Kami akur. Kami saling mencintai."

Dan teman-temannya akan berkata, "Oke.

Kalau begitu,

krok-krok."

Mereka tak peduli dan mau menerima. Dan menurutku itu indah karena jarang…

Lebih jarang melihat seorang pria tampan

dengan wanita yang tak semenarik dirinya.

Tapi kita cukup sering

melihat seorang wanita cantik.

Dia baik. Dia pekerja keras.

Dia menyayangi keluarganya. Dia sempurna.

Lalu kau lihat suaminya.

Dan kau berkata, "Hei, selamat."

Suaminya membalas,

"Krok-krok."

Setiap kali melihat pasangan ini, aku berkata, "Ya Tuhan.

Pria itu mungkin pendengar yang sangat baik."

Pria itu mungkin berkata, "Tunggu. Mulai lagi."

Temanku bilang, "Aku yakin pria itu kaya."

Kubalas, "Tidak.

Pria itu mungkin punya

pertanyaan lanjutan."

Itu masalahnya.

Aku tak pandai mendengarkan, jadi aku takut.

Selain itu, secara umum wanita menakutkan bagiku.

Aku dibesarkan dengan wanita di rumahku.

Aku tumbuh dengan wanita saja. Aku, ibuku, adikku.

Saat SMA, sahabat ibuku dan putrinya pindah ke rumahku.

Aku melihat terlalu banyak.

Saat aku kecil, anak lelaki bilang perempuan tidak buang air besar.

Aku balas…

"Aku tahu cara mereka BAB.

Kurasa itu lebih buruk daripada kita."

Tidak. Aku melihat semuanya. Wanita amat menakutkan. Serius.

Dan hidup mereka di balik layar amat kejam.

Aku sudah lihat apa yang kalian sembunyikan.

Setiap wanita punya kumis. Kalian tahu itu?

Mereka punya kumis.

Dan mereka membuangnya dengan cara paling kejam.

Semua tindakan mereka kejam.

Mereka ke salon dan berkata, "Aku punya kumis."

Wanita di salon bertanya kumisnya mau diapakan.

Lalu wanita itu menjawab, "Aku ingin kau

mencabutnya dari wajahku!"

Dan mereka membayar wanita kecil dengan lengan besar

untuk mencabutnya dari wajah mereka.

Semua tindakan mereka kejam.

Aku takut pada wanita karena semua tindakan mereka kejam.

Semuanya. Mereka menata rambut dengan kejam.

Mereka mencabut alis mereka satu per satu.

Dicabut. Mereka suka. Mereka mengucapkan terima kasih.

Semuanya kejam. Rambut mereka.

Mereka pergi ke salon dan membakar rambut mereka.

Mereka menaruh bahan kimia di rambut mereka.

Dan berbagai bahan.

Rambut mereka dimasukkan ke foli seakan rambut mereka itu makanan.

Lalu mereka memasukkan kepala mereka ke microwave.

Lalu wanita itu duduk di microwave

dan membiarkan kepalanya dimasak di dalamnya.

Di sana panas. Mereka tanya, "Kepanasan, Melissa?"

Jawabnya, "Tidak, aku suka!"

Bayangkan kepala mereka dimasak dan radiasi yang masuk ke kepala mereka.

Mengerikan.

Karena itulah wanita agak berbeda.

Mereka agak berbeda.

Saat pria mau tahu apa kau mencintainya, dia menanyakannya.

Itu masuk akal.

Saat wanita mau tahu apa kau mencintainya, dia tanya, "Jika aku keledai,

dan kau kadal, apa menurutmu kita masih bisa bersama?"

Si pria bertanya, "Apa?"

Si wanita bertanya, "Jika aku keledai, dan kau kadal,

apa aku gagap saat bertanya?"

Si pria menjawab, "Rambutmu bagus, Sayang. Maaf."

Semua tindakan mereka kejam. Brazilian wax.

Asal kalian tahu, itu tak bernuansa Brasil.

Mereka menaruh kata "Brasil" agar kita mengira itu pengalaman tropis.

Itu bukan pengalaman tropis. Aku pernah melihatnya.

Aku pernah ke sana. Aku punya ibu tunggal, dan aku nakal. Aku jelas tahu itu.

Aku ke sana dengan sepatu bolaku.

Aku pergi ke salon, mereka panggil ibuku dan menaruhnya di meja bedah.

Lalu goblin kecil muncul lewat tirai.

"Halo!"

Aku tak lihat apa yang mereka lakukan, tapi mereka menaruh madu dan lakban…

di tubuh ibuku.

Lalu mereka berkata pada ibuku, "Kuhitung sampai tiga.

Satu, dua!"

Lalu mereka angkat seperti kepala tentara yang dia bunuh.

Lalu dia menatap ibuku dan berkata, "Sudah lama, ya."

Pasti sakit saat mereka tarik. Pasti sakit.

Tapi ibuku tak pernah teriak dan menangis. Wanita tak suka berteriak atau menangis.

Mereka cabut, dia bicara. Saat sakit, mereka bicara.

Mereka cabut, dan ibuku bilang, "Putraku kelas tiga. Kau tahu?"

Tentu aku takut.

Dan aku sudah melihat semuanya.

Aku pernah melihat wanita bersiap-siap meninggalkan rumah.

Wanita bersiap-siap pergi

adalah salah satu adegan terkejam yang pernah kulihat.

Mereka bisa mengubah kamar mandi menjadi laboratorium Dexter.

Ada ramuan, serum, krim,

listrik, dan air.

Kombinasi yang mengerikan.

Semuanya bercampur aduk. Semuanya terbakar di sana.

Ada krim yang jika disentuh dan dioleskan ke wajah akan merontokkan semua bulu.

Situasinya kejam.

Dia tidak merias wajahnya seperti ini.

Tidak. Dia punya pensil, lalu dia taruh ke matanya.

Air mata turun dari matanya. Dan dia keji.

Dia malah terus memakai pensilnya.

Matanya menolak pensil itu.

Jika mata bisa bicara, mata akan berkata, "Kumohon. Jangan pakai pensil lagi.

Kumohon jangan pakai pensil lagi."

Dia tak peduli. Dia terus memakai pensil.

Jika salah, dia berkata, "Harus kuulang lagi!" Begitulah.

Katakan itu tak menakutkan.

Pakaian yang wanita pakai untuk pergi itu gila.

Pria memakai kemeja, celana, sepatu, dan mungkin topi.

Sementara wanita, ada hal-hal yang kita tak tahu harus mereka pakai.

Dan cara mereka meliukkan tubuh mereka…

Mengerikan. Aku pengurus busana di rumahku.

Ibuku memanggil, "Marcello!" Aku masuk dan dia…

Dia meliukkan tubuhnya.

Kutanya, "Ada apa?" "Ibu akan menaruh siku di pantat Ibu."

"Apa?" Katanya, "Ibu akan menaruh siku…

Saat siku Ibu mencapai pantat, tutup ritsletingnya. Paham?"

Kubilang, "Itu berbahaya, Bu. Aku tak yakin itu aman."

"Tak aman, tapi harus kau lakukan."

"Oke, siku ke pantat. Ya."

Kataku, "Tak bisa kututup."

"Ibu bilang tunggu sampai siku Ibu mencapai pantat!"

Aku ada di sana melihat semua itu.

Menakutkan. Wanita tidak serapuh yang kalian kira.

Hidup mereka penuh kekejaman.

Lalu mereka pergi dan menyapa orang.

Tidak. Semuanya kejam.

Kau pergi ke kelab, dan melihat wanita.

Dia cantik. Kau berkomentar, "Aku suka pakaianmu. Kemejamu bagus."

"Itu bukan kemeja, Sayang."

Benda itu menjepit, oke?

Kalian tak tahu benda itu menjepit.

Kau kira dia memakai kemeja seperti ini. Tidak.

Dia memakainya seperti ini.

Dia harus memastikan itu menjepit.

Banyak tugas yang harus dia lakukan.

Itu ketat. Di penghujung malam, benda itu ada di lehernya.

Bersikap baiklah padanya.

Itu menakutkan.

Semuanya menakutkan. Dan darah. Aku melihatnya.

Orang tak memikirkan darah. Darahnya asli. Dulu aku anak kecil yang bahagia.

Dan aku punya adik perempuan yang bahagia.

Dan suatu hari, entah dari mana, tanpa alasan,

ada darah.

Dia berkata, "Ibu, darah?"

Dan ibuku berkata, "Selamat bergabung."

Dia tanya, "Darah hanya hari ini?"

Dan ibuku menjawab, "Darah selamanya."

Sekarang adikku yang bahagia menghitung hari-hari penuh darah

seakan itu penjara.

Dia mengatakan hal-hal menakutkan padaku. "Darahnya datang.

Tiga hari lagi darahnya keluar."

Kutanya, "Apa?" Jawabnya, "Darahnya mau es krim."

Kutanya, "Darahnya bisa bicara?"

Dia balas, "Aku bicara mewakili darah!

Darah itu bicara melalui aku."

Mengerikan.

Darahnya punya Bluetooth. Kalian tahu itu?

Jika tiga wanita berkumpul, siklusnya jadi berbarengan.

Itu menakutkan.

Lalu bayangkan kita harus mengajak mereka berkencan.

Bayangkan itu.

Bayangkan kau mengajak wanita berkencan, dan dia sudah lama tak berkencan.

Dia harus melalui minggu penuh siksaan.

Dia bayar orang untuk melakukan kengerian pada tubuhnya.

Cabut! Robek!

Dan itu butuh uang. Mereka membayar.

Masukkan kepala ke microwave. Uang. Mereka membayar semuanya.

Lalu saat kencan, mereka tanya, "Apa pekerjaanmu?"

Jawab pria itu, "Aku masih mencari tahu."

Wanita itu pun ingin bunuh diri.

"Itu tidak sepadan."

Jadi, pria harus membayar saat berkencan

karena saat wanita berkencan, dia sudah berutang.

Tak ada uang lagi.

Dan kau tak tahu di mana darahnya, jadi bayar saja dan minta maaf.

"Maaf atas apa yang kau lalui."

Jika mau mengajak wanita berkencan,

tapi kau tak mau membayar,

katakan padanya sebelum kencan bahwa kau tak mau membayar

jadi kalian berdua bisa datang dengan kumis.

Lalu biayanya bisa kalian bagi layaknya pria.

Begitulah masa kecilku. Aku besar di Miami di salon dan Brazilian wax…

Lalu aku kuliah di Ohio.

Kurasa bisa dibilang aku belajar di luar negeri.

Aku kaget saat sampai di Ohio

karena kupikir aku berkulit putih.

Lalu aku ke Ohio, dan mereka berkata,

"Hei, chico-rito."

Itu masa sulit.

Aku akan membahas orang kulit putih. Aku ingin bilang sesuatu sebelum mulai.

Aku ingin bilang aku tahu ini masa yang sulit

menjadi kulit putih.

Dan aku ingin bilang jangan bersedih.

Selama ini hidup kalian indah.

Tidak apa-apa.

Dan aku tahu sekarang banyak orang mengatakan

ini dan itu tentang kulit putih.

Selalu negatif.

Aku yakin itu bisa memengaruhi kesehatan mental kalian.

Tapi

aku ingin kalian tahu saat orang mengkritik kulit putih,

yang kami maksud bukan kalian semua.

Tidak. Ada sekelompok orang.

Aku tahu beberapa orang ingin tahu apa kalian ada di kelompok itu.

"Aku mau tahu apa aku termasuk.

Aku tak mau. Aku punya teman Latin. Aku tak termasuk, 'kan?

Apa aku termasuk kelompok itu? Katakankah karena aku ingin tahu."

Kubantu untuk mencari tahu apa kalian termasuk.

Jika kalian kulit putih,

dan saat kecil, ibu kalian memukul kalian,

kalian orang Hispanik.

Kami menerima dan menghargai kalian.

Sweet Caroline…

Kalian lihat? Kami terima.

Kami terima.

Nah, jika kalian berkulit putih

dan mendapati seseorang berkata sesuatu, dan reaksi kalian…

Kalau begitu, kalianlah yang kami bicarakan.

Mari kita nikmati ini bersama, ya? Bisa, 'kan?

Begini. Saat aku ke Ohio,

yang paling mengejutkan adalah pesta.

Cara orang kulit putih berpesta membuatku agak kaget

karena pesta di Miami berfokus pada wanita.

"Berapa wanita yang hadir? Pria tak diterima.

Khusus wanita.

Pesta malam ini akan dihadiri 700 wanita

dan empat pria."

Begitulah pesta kami. Di Ohio, fokusnya bukan wanita.

Fokusnya bir. "Akan ada berapa bir?

Jika kujual mobilku, bisa beli berapa bir?"

Dan reaksiku,

"Aku ingin pulang." Rasanya tak tepat.

Karena di Miami, kau menari. Kau harus menari.

Di Miami, musik membuatmu menari.

Kau tak punya pilihan.

Di Miami, tak masalah apa status sosialmu.

Quarterback tim football dan penyuka catur

menari dengan menjijikkan di lantai dansa.

Apa pun yang terjadi. Di mana pun, kau harus menari.

Bukan karena kau ingin, musiknya membuatmu menari.

Tak bisa berhenti. Musiknya membuatmu harus menari.

Kau duduk, berdiri diam, lalu kau dengar…

Lihat diri kalian!

Tak bisa berhenti. Kalian…

Harus. Kalian harus melakukannya.

Begitulah. Musiknya diputar.

Pria menari. Wanita ada di mana-mana.

Mereka tak mau menari.

Wanita Latin enggan menari. Mereka feminis tangguh.

Mereka tak tertarik menari.

"Aku tak butuh pria yang mengajakku bicara.

Aku tak butuh pria mendatangiku dan berkata,

'Kau cantik.' Aku tahu itu.

Aku tak butuh diberi tahu harus apa, siapa aku, dan harus tampak seperti apa."

"Kau tampak cantik." "Aku tak peduli ucapanmu.

Aku memakai pensil di mata dan jepitan. Jangan bicara padaku.

Aku melalui banyak hal untuk hadir di sini."

Tidak. Mereka menari.

Dan mereka tak mau menari.

Mereka feminis tangguh, mereka tak tertarik.

Lucunya, mereka punya energi feminis yang kuat,

tapi lirik musik di Miami sama sekali tidak feminis, bukan?

Liriknya tidak feminis.

Feminis Latin tangguh datang ke pesta.

Lalu pria di lagu itu…

Tiba-tiba, liriknya, "Aku membawamu ke rumahku.

Kau tak punya pilihan."

Dan para wanita ikut menyanyi, "Aku tak punya pilihan!"

Dia melakukan itu.

Keesokan harinya, dia kembali ke organisasi nirlaba.

Itu pukul 02.00 di Miami. Pukul 02.00 di Cleveland, Ohio,

suasananya sangat berbeda.

Kau hanya dengar…

Kecemburuan, mengubah semua…

Mengubah semua…

Tak ada wanita.

Para pria menghancurkan rumah.

Aku tak pernah merasa lebih seperti imigran saat itu.

Dan mereka menyanyikan lagu sedih.

Itu ganjarannya…

Kenapa ada ganjaran?

Tak masuk akal.

Kami tidak begitu. Latino tak punya lagu sedih.

Lagu paling sedih kami punya irama yang ceria.

Iramanya selalu ceria.

Istriku pergi, membawa anak-anak

Aku tunawisma, aku tak punya uang

Iramanya ceria. Kau tak tahu apa yang terjadi.

Liriknya, "Aku akan mati." Kau malah…

Kau tidak memikirkannya.

Tapi begitulah. Kami tak suka bersedih atau depresi.

Kami sulit merasa depresi.

Latino tak mengalami itu.

Aku dan adikku mencoba merasa depresi.

Saat kecil, kami mencoba merasakannya. Kami bilang, "Ibu, aku depresi."

Lalu ibuku membalas seperti lagu rap.

Ibu seakan membuat pertunjukan.

Kami bilang, "Ibu, kami depresi." Ibu kami…

"Kalian depresi.

Ya Tuhan.

Izinkan aku memperkenalkan diri lagi.

Aku ibumu dan saat usia 12 tahun,

Ibu harus pergi karena pemerintah merebut rumah Ibu.

Ibu harus ke AS sendirian, melakukan 27 pekerjaan,

lalu tidur di mesin cuci, bangun di dalam pengering.

Ibu tak punya teman, uang, mainan, YouTube,

Netflix, Amazon, Hulu,

YouTube TV,

Toys"R"Us, Best Buy, Target, Ibu tak punya apa-apa.

Ibu harus belajar bahasa Inggris dan membiayai kuliah Ibu sendiri.

Selagi melakukan itu, Ibu mengandungmu.

Kau tak menghancurkan hidup Ibu, tapi tetap menghancurkan.

Saat lahir, kau bahkan tak bisa jalan.

Ibu harus mengajarimu karena kau tak tahu cara berjalan.

Kau makin dewasa dan ingin berkegiatan.

Ibu harus menjemput dan mengantarmu,

lalu menjemput dan mengantarmu,

mengantarmu dan menjemputmu,

menjemput dan mengantarmu,

lalu menjemput dan mengantarmu lagi.

Terkadang Ibu harus mengantarmu lalu menunggu.

Lalu Ibu menjemputmu dan mengantarmu,

menjemputmu dan mengantarmu.

Jadi, jika ada orang di rumah ini yang berhak depresi,

sudah jelas itu Ibu."

Saat itulah aku menyadari bahwa kau harus memperjuangkan depresi.

Kau harus pantas mendapatkannya.

Dengar, aku tahu kesehatan mental itu serius.

Aku hanya menceritakan pengalamanku, dan aku tak boleh depresi.

Oke? Dan aku mencoba merasakannya.

Entah bagaimana hidupku jika aku depresi.

Tapi aku tahu tidak depresi membantuku dalam banyak hal.

Itu membantuku melalui situasi berat.

Hidupku tak selalu menyenangkan. Ini momen yang indah.

Aku berterima kasih pada kalian dan atas dukungan kalian.

Ini sangat berarti.

Orang-orang terkadang bertanya, "Marcello, kau menyukainya?

Kau suka tampil di Saturday Live Night?"

Dan mereka bertanya kapan syutingnya. Reaksiku…

"Tidak apa-apa."

Orang-orang bertanya apa aku suka tur, tampil, pekerjaanku.

Kubalas, "Apa aku suka?

Dulu aku pria yang sering berada di atas seluncuran di taman air.

Aku sangat menyukainya."

Apa yang terjadi padaku ini luar biasa.

Pekerjaanku dulu menjaga anak kecil dan berkata, "Tunggu."

Anak kecil pun berteriak, "Aku mau meluncur sekarang!"

"Kau harus menunggu. Maaf."

Itu pekerjaanku.

Ada anak kecil yang mendatangiku dan berteriak padaku.

Aku belajar banyak di pekerjaan itu.

Aku belajar tentang kerja keras, perjuangan,

berada di tempat yang salah, tapi harus bertahan.

Aku juga sadar aku tak suka anak kurus. Aku tak suka mereka.

Maaf. Aku tak suka. Kalian pernah lihat anak kurus?

Mereka kerasukan. Mereka…

Darah mereka mengalir terlalu cepat, dan mereka gila.

Anak kurus datang ke seluncuran, menatapku, dan berkata, "Dorong aku!"

Jujur, aku ingin mendorong mereka.

Tak boleh, tapi aku ingin. Aku tak suka.

Dan perkataan mereka tak jelas. Anak kurus berani bohong padamu.

Anak kurus mengaku lebih cepat dari mobil. Kubilang, "Tak mungkin.

Bodoh sekali. Kenapa berkata begitu?"

Anak kurus mau membeberkan rahasia keluarga.

Jangan beri tahu mereka. Mereka akan membeberkannya.

Anak kurus bilang, "Ibuku minum pil untuk tidur.

Ibuku memukul ayahku, dan ayahku menangis."

Kusuruh mereka diam.

Aku bisa membahas anak kurus sebab aku dulu kurus.

Aku mungkin anak kurus paling menyebalkan. Tindakan sangat menyebalkan.

Tindakanku yang paling menyebalkan…

Saat usiaku sepuluh tahun, aku naik bus sekolah

karena ibuku selalu bekerja.

Dan aku tak dihormati di dalam bus.

Aku anak baru dan bus itu seperti penjara.

Yang terlama di bus, mereka yang paling dihormati.

Dan aku anak baru di bus, jadi aku tak dihormati.

Jadi, suatu hari aku memutuskan untuk meyakinkan semua orang di bus

bahwa ibuku mengizinkanku merokok.

Dan mereka percaya.

Saat mereka merasa itu keren, aku pun bangga.

"Ayahku mengizinkanku minum alkohol."

Mereka merasa itu keren. Dan aku makin bangga.

Mereka bilang, "Kita harus menikmatinya karena Marcello akan segera mati."

Aku bagai legenda di bus itu.

Mereka mengira aku mabuk dan merokok pada usia sepuluh tahun.

Aku legenda.

Tiap kali aku naik bus, gadis-gadis meneriakkan namaku.

Lalu kubalas, "Tenang, Sayang, aku mabuk."

Aku anak keren di bus.

Lalu setelah dua atau tiga minggu menjadi legenda di bus,

aku pulang suatu hari, dan telepon rumahku berdering.

Aku menjawab telepon.

Dan sumpah, wanita di telepon berkata,

"Hai, ini Ana dari Layanan Perlindungan Anak."

Aku kaget.

"Aku menelepon karena sopir bus melapor

bahwa ibumu mengizinkanmu merokok dan ayahmu mengizinkanmu minum alkohol.

Kami ingin mengabarkan bahwa kami sedang mencarikan panti asuhan untukmu."

Lalu aku berteriak, "Tidak!

Mereka bahkan tak mengizinkanku minum soda!"

Dia berkata, "Aku paham kau takut,

tapi izinkan aku bicara dengan ibumu."

Aku berteriak, "Tidak!

Carikan panti asuhannya dulu!"

Tidak.

Katanya, "Ini serius. Aku mau bicara dengan ibumu."

Kubalas, "Oke.

Aku bicara dengan Tuhan sejenak.

Kuberikan teleponnya pada ibuku.

Ibuku tanya, "Siapa?" Kubilang, "Dia akan mengambilku!"

"Siapa?" Kujawab, "Wanita di telepon!"

Ibuku bingung, mengambil telepon dan mulai bicara.

Dia emosional, lalu berkata, "Oke.

Baik. Oke, baiklah."

Saat menutup telepon, dia berkata, menurut hukum,

dia dan ayahku harus melapor ke Layanan Perlindungan Anak.

Kuku dan paru-paru ibuku harus diperiksa untuk tahu apa dia perokok aktif.

Dan ayahku harus kencing di gelas untuk tahu apa dia suka minum alkohol.

Ya.

Ya.

Aku menyebalkan seperti itu.

Ya.

Mungkin yang paling menyebalkan.

Bayangkan rasa bersalah yang ditimbulkan ibuku selama dua minggu dia harus melapor.

Tiap hari, "Semoga harimu indah di sekolah, Marcello.

Ibu harus ke Layanan Perlindungan Anak

untuk tahu apa Ibu masih bisa jadi ibumu."

Aku merasa tak enak, bersalah, paranoid, sangat paranoid.

Kuberi tahu seisi sekolah, bahkan guru,

agar tak bicara di depan sopir bus

karena dia menyamar untuk Layanan Perlindungan Anak.

Aku panik. Aku tak pernah sepanik itu dalam hidupku.

Dua minggu itu terasa sangat lama.

Setelah dua minggu, orang tuaku duduk denganku.

Kami mengobrol.

Kata mereka, "Marcello,

ayahmu sudah lama berhenti minum, Ibu berhenti merokok 15 tahun lalu,

jadi tentu hasil tes kami negatif dan kau bisa tinggal bersama kami."

Dan reaksiku,

"Bagus, Ibu dan Ayah."

Dan kejadian itu sangat buruk

sampai mereka tak perlu menghukumku.

Aku menghukum diriku sendiri.

Mereka menatapku seperti ini.

Kubilang, "Ya, aku tahu.

Aku menyingkirkan TV dan Xbox-ku."

Aku hubungi Disney World dan bilang aku takkan datang lagi.

Setelah itu terjadi, kami tak pernah membicarakannya lagi.

Kejadian itu amat buruk sampai tak pernah kami bicarakan lagi.

Kejadiannya seburuk itu. Itu kejadian yang harus kami lupakan.

Si anak belajar. Lupakan saja. Kejadiannya seburuk itu.

Tak pernah kami bahas lagi. Aku tak minta maaf.

Aku tak pernah tanya perasaan ibuku.

Itu terjadi saat aku sepuluh tahun.

Saat berusia 21 tahun, aku tinggal di Ohio.

Dan aku melihat tanda Layanan Perlindungan Anak

di dalam CVS.

Aku takkan lupa.

Aku melihat tanda itu dan terperangah.

"Aku tak pernah membahas pengalaman kami dengan ibuku.

Aku tak pernah tanya seperti apa rasanya punya anak kurus."

Jadi, aku memutuskan untuk meneleponnya dan meminta maaf.

Aku menelepon ibuku, dan kubilang, "Apa Ibu ingat

saat Layanan Perlindungan Anak hampir mengambilku

karena sopir bus itu agen ganda?"

Dan ibuku membalas, "Ya, Marcello, Ibu ingat.

Dan Ibu lupa memberitahumu yang meneleponmu itu teman Ibu, Maria."

Dan aku senang itu lucu bagi kalian.

Aku sangat bingung.

Aku terkejut.

Ibuku bilang, "Adikmu cerita apa yang kau katakan di bus."

Kubalas, "Wow, aku tak tahu dia gadis kecil yang menyebalkan."

Ibuku bilang, "Adikmu cerita,

jadi Ibu pikir kau ingin berbohong? Kita lihat siapa yang lebih lihai."

Hingga hari ini, tiap tahun di hari ulang tahunku,

wanita jahat ini memosting di halaman Facebook-ku,

"Selamat ulang tahun dari Ana di Layanan Perlindungan Anak."

Terkadang orang bertanya-tanya,

"Benarkah Marcello itu Latin? Tampaknya dia bermain lakrose."

Dan aku akan memberi tahu kalian se-Latin apa aku ini.

Dulu ibuku memukulku di toilet wanita di mal.

Aku veteran sejati.

Bagi banyak orang, itu cuma toilet.

Bagi kami, itu bagaikan Koloseum.

Kami kehilangan banyak pria hebat di sana.

Aku tak pernah bersikap gila hingga layak dibawa ke Koloseum.

Terkadang di mal, ada anak bicara dengan ibunya.

Dia bilang, "Aku benci Ibu dan aku mau pulang."

Dan kalian bisa memutuskan ras anak itu.

Tiap kali kulihat anak bilang pada ibunya, "Aku benci Ibu dan aku mau pulang,"

kubilang pada ibuku, "Ibu tahu aku takkan begitu, 'kan?

Anak itu sudah kelewatan.

Aku berdoa dia mendapat ganjarannya.

Sekian, Yang Mulia."

Aku takkan pernah begitu pada ibuku.

Alasan aku dihukum adalah ibuku melihat

aku melakukan sesuatu

yang tidak dia sukai.

Kami tak dihukum karena ucapan kami. Kami tak berani bicara seenaknya padanya.

Kami terlalu takut bicara seenaknya padanya.

Kami katakan di kamar di belakangnya.

Di kamar, kami membayangkan berkata,

"Jangan bicara seperti itu. Kau akan kubunuh."

Lalu Ibu tanya, "Apa?" Kujawab, "Bukan apa-apa.

Aku cuma bicara sendiri."

Kami dihukum karena Ibu menyuruh kami melakukan sesuatu, tapi kami…

Terkadang, kami langsung sadar. Kalian pernah?

Pernahkah kalian langsung menyadari tindakan kalian dan akibatnya?

Pernahkah? Ibu kalian menyuruh kalian membuang sampah. Lalu kalian mengeluh.

"Jangan, Bu! Aku tak tahu lelaki itu! Aku tak tahu siapa yang melakukan itu!

Aku takkan melakukan itu setelah semua pengorbanan dan upaya Ibu.

Aku takkan pernah begitu."

Itu pernah kualami.

Yang kualami adalah kami hendak meninggalkan mal.

Tepat sebelum meninggalkan mal, kami di pintu mal.

Dan aku bisa merasakan udara di luar.

Aku tak sabar meninggalkan mal karena kami sudah sepuluh jam di mal.

Dan kami tak membeli apa pun untuk siapa pun.

Aku siap meninggalkan mal.

Tepat saat tiba di pintu, ibuku bilang, "Marcello, Ibu lupa pergi ke DSW. Ayo!"

Dan reaksiku seperti ini.

Bencana pun terjadi.

Saatnya pergi ke Koloseum.

Sekarang aku di toilet wanita di Miami pada awal tahun 2000-an

karena cara bernapasku salah.

Aku di dalam toilet, dan ibuku menjewer telingaku

sambil mengajariku tentang anatomi.

Aku belajar tentang tulang rawan dan bagaimana itu tidak bisa dihancurkan.

Dia menjewer telingaku. Aku teriak.

Ini di lingkungan yang bernuansa Latin karena musik di toilet itu,

Ayo, Sayang, menarilah

Ayo, Sayang, lebih lama…

Aku dipukul diiringi lagu Gloria Estefan.

Aku melihat ke seberang toilet, dan ada anak Latin lain yang dipukul.

Kutanya, "Kau melakukan apa?" Balasnya, "Tak ada."

Kujawab, "Aku tak paham. Pelan-pelan."

Katanya, "Tak ada.

Ibuku membelikanku sepatu kets,

dan aku tidak menyukainya."

"Apa tindakanmu saat tak suka sepatunya?"

Jawabnya, "Tak ada.

Dia menunjukkan sepatunya dan aku tak suka.

Lalu dengan sangat pelan, aku melakukan ini."

Itu namanya bunuh diri.

Kau pantas mendapatkannya.

Ibuku tak pernah memukulku dengan keras. Ibuku sering memukulku.

Itu sangat berbeda.

Dia sering memukulku, dan dia bicara denganku.

Tiba-tiba dia berpidato

yang membuatku mensyukuri apa yang terjadi.

Tiba-tiba, entah kenapa, ibuku berkata,

"Marcello, tahukah kau bahwa semua yang kau kira kau miliki itu milik Ibu?"

Aku bingung.

"Kau tahu kau tak punya apa-apa karena tak kerja dan tak punya uang?"

Aku bingung. "Kau tak kerja dan tak punya uang.

Ibu membeli semuanya. Yang kau kira milikmu itu milik Ibu.

Semua milik Ibu. Itu TV, Xbox, ranjang, seprai, pakaian dalam, baju Ibu.

Pintu dan udara milik Ibu. Jangan sentuh udara.

Jangan sentuh kulkas.

Kau tak punya apa pun. Semua milik Ibu. Ya?"

Aku bingung. Balasnya, "Kau tak punya apa pun!

Tak ada. Semuanya punya Ibu.

Kau tak kerja. Ibu kerja. Semua milik Ibu. Semuanya."

Kubilang, "Oke, aku paham." Balas ibuku, "Oke.

Selamat ulang tahun."

Dan saat kau tumbuh seperti itu,

saat kau tumbuh dengan pola asuh seperti itu,

TV dan film Amerika

mulai terasa sangat sulit dipercaya.

Aku tak pernah paham acara TV. Aku pulang…

Ibuku menjewerku di toilet, lalu aku pulang dan menonton Full House.

Jika tak tahu Full House,

itu acara tentang pria kulit putih yang istrinya meninggal,

lalu dia dan kedua temannya harus membesarkan tiga gadis kecil.

Mereka menyebutnya Full House

karena ada banyak orang dalam satu rumah untuk orang kulit putih.

Jujur saja.

Jika itu acara kulit hitam, Latin, atau Asia,

judulnya pasti House.

Setiap episode acara itu membuatku takjub

karena sikap putrinya gila.

Putri sulung akan bersikap seenaknya.

Tiba-tiba dia ingin merokok.

Aku di rumah berkata, "Jangan, D.J.!

Itu bisa sangat… Ayolah, D.J. Jangan lakukan itu."

Aku seperti nenekku menonton sinetron. "Kumohon, D.J. Kau bisa mati."

Tentu dia tak mendengarkanku.

Dia merokok dengan gadis berleher jenjang.

Ingat Kimmy, 'kan?

Dengar, aku suka Kimmy, dan seiring waktu dia terlihat cantik,

tapi saat itu, lehernya seram.

Jadi, mereka merokok.

Lalu D.J. pulang dengan bau rokok.

Paman Joey ada di dapur. Dia mencium bau rokok.

Katanya, "Astaga. Aku harus memberi tahu Bob Saget soal ini."

Dan dia memberi tahu Bob Saget. Itu ayahnya.

Lalu Bob Saget masuk ke dapur dan berkata, "D.J.

Kenapa ada bau rokok?

Kau dari mana?"

Aku sudah agak kesal. Kupikir, "Bicaralah, Bob Saget.

Kau tahu persis kenapa ada bau rokok.

Gadis itu tak menghormatimu di rumahmu.

Setelah semua kerja keras, pengorbanan,

dan uang yang kau habiskan,

dia berani merokok di belakangmu, Bob Saget.

Gadis itu kelewatan dan hari ini dia akan menerima ganjarannya."

Dan tentu saja, Bob Saget

hanya menatapnya, dan D.J. menatap ke kamera.

Dan kamera mengarah ke D.J., lalu dia…

Kupikir, "Jangan takut sekarang.

Kau sok dewasa saat merokok.

Bersikaplah dewasa sekarang."

Lalu muncul iklan.

Lalu aku berteriak gembira.

Setelah iklan,

Bob Saget akan menghajar jalang kecil ini.

Atau setidaknya memaksanya menghabiskan sebungkus rokok.

Setidaknya tunjukkan sesuatu, Bob Saget.

Setelah iklan selesai, D.J. menangis.

Dia lari menaiki tangga, dan kupikir,

"Lari memperburuk keadaan."

Untuk yang tahu saja.

Dia lari menaiki tangga.

Dia tiba di pintu lalu membantingnya.

Dia membanting pintu. Kupikir…

"Sudah dua kesalahan.

Sekarang hukumanmu pasti berat."

Lalu Bob Saget menaiki tangga. Aku berteriak pada Bob Saget.

Kubilang, "Lepas ikat pinggangmu, Bob Saget."

Bob Saget berlari naik.

Dia tiba di pintu, lalu D.J. mengunci pintunya.

Tepat.

Aku tak kesal. Aku bingung.

Kupikir, "Dari mana gadis ini mendapatkan kunci?

Dia pasti membayar sewa rumah ini."

Lalu Bob Saget tiba di pintu, dan dia membuatku takjub.

Bob Saget tiba di pintu dan mengetuk.

Lalu aku panik.

Kubilang, "Kau tak perlu mengetuk pintu! Itu pintumu!

Lepaskan pintunya,

dan pukul dia dengan pintu itu!"

Aku tahu itu bukan tindakan yang tepat, tapi aku haus darah saat itu.

Bob Saget mengetuk pintu.

Gadis itu membuka kunci pintu.

Gadis yang manis.

Lalu Bob Saget masuk ke kamar,

dan sekali lagi melakukan sesuatu yang tak bisa otakku pahami.

Aku memberinya instruksi yang simpel.

"Kau tak perlu memukulnya jika tak mau, tapi hancurkan barang favoritnya."

Pria itu masuk ke kamar gadis ini dan berkata, "D.J.

Kenapa kau merokok?

Kenapa kau melakukan itu, D.J.?

Kau tak hanya menyakiti Ayah, kau menyakiti dirimu sendiri."

Lalu D.J. berkata, "Maaf, Ayah."

Bob Saget membalas, "Tak apa, D.J.

Ayah sangat menyayangimu.

Tapi hari ini, Ayah sangat kecewa."

Lalu aku muntah.

Lalu D.J. berkata, "Jadi, kurasa aku tak bisa pergi ke pesta hari Jumat?"

Kupikir, "Jalang ini keterlaluan."

Dan Bob Saget berkata,

"Ayah rasa begitu."

Saat melihat itu, aku ingin merekam itu dan memberikannya pada ibuku.

Aku ingin menaruh TV di atas roda dan menemui ibuku

dan bilang, "Halo, Sharks. Terima kasih sudah menerimaku.

Aku ingin mempersembahkan metode lain, Ibu."

Ibuku akan berkata…

"Dari pengalaman Ibu, kau hanya belajar

saat Ibu menjewermu atau merusak barang kesukaanmu.

Dan karena itu, Ibu menolak."

Jujur, waktu menonton acara itu saat kecil, aku ingin kehidupan itu.

Sungguh. Aku ingin kehidupan itu. Itu tampak indah dan aman.

Dan aku iri, oke?

Setelah dewasa,

aku merasa bangga dengan caraku tumbuh dewasa.

Aku bangga punya orang tua imigran dan dibesarkan oleh mereka.

Paham?

Mereka menjadikanku kuat. Mereka menjadikanku kuat dan tangguh.

Dan aku merasa kelak aku ingin punya anak.

Aku merasa ingin punya anak yang tumbuh sepertiku.

Dan kupikir, terkadang saat orang tumbuh sepertiku,

dengan panggilan telepon palsu dan Koloseum,

mereka akan bilang, "Aku mau memutus siklus ini.

Aku akan memutus siklus kekerasan."

Aku ingin bilang malam ini, Miami, aku akan melanjutkan siklus itu.

Dan menurutku menarik tumbuh seperti kami dengan orang tua imigran.

Sangat menarik.

Kami tak boleh punya masalah kesehatan mental.

Kupikir karena itulah kami mencuri pekerjaan.

Kau lebih suka mempekerjakan siapa?

Antonio yang tak tahu dia mengalami masalah kesehatan mental,

atau Jake yang akan mengambil cuti?

Entahlah.

Aku menonton berita untuk pertama kalinya dalam hidupku

karena mereka membicarakan kami.

Gila. Tiap kali menyalakan berita, ada wanita kulit putih yang bilang,

"Imigran datang dan melakukan kejahatan."

Dan kupikir…

Aku tumbuh dikelilingi imigran. Semuanya imigran.

Orang tuaku, teman orang tuaku, guruku, semuanya.

Pelatih sepak bolaku. Semuanya imigran.

Dan mungkin kami melakukan kejahatan,

tapi yang terbesar adalah bekerja ilegal, yang merupakan kejahatan yang cukup bagus.

Ada banyak orang Amerika yang enggan kerja secara legal.

Jadi, kami mengisi kekosongan. Kami membantu.

Dan aku tak suka gambaran bahwa para imigran,

terutama imigran Latin, menakutkan.

Aku tahu tentang imigran Latin.

Aku tak tahu soal politik dan hukum.

Aku memahami imigran Latin. Aku dibesarkan dan kenal mereka.

Saat mereka berkata, "Para imigran itu menakutkan…"

Orang kulit putih bilang imigran menakutkan. Tidak.

Kami tak menakutkan dan orang kulit putih tak takut pada kami.

Kalian pernah lihat orang kulit putih di resor?

Apa mereka terlihat takut pada kami saat mereka berkata, "Hola.

Apa kabar?"

Mereka suka kami.

Mereka ke bar, bercanda dengan bartender Latin,

mereka tertawa, lalu berkata, "Santiago, kau harus pulang bersama kami."

Kalian menyukai kami.

Kami menyenangkan.

Aku tahu ada yang ingin imigran pergi dan ada yang sedih melihat imigran.

Mereka sedih melihat nasib imigran.

"Nasib imigran menyedihkan. Mereka diusir."

Aku ingin mengatakan sesuatu sekarang.

Kami akan kembali, oke?

Kami selalu kembali.

Kami pintar.

Kami pintar.

Kalian akan melakukan apa di perbatasan jika kubilang, "Bonjour"?

Kami akan baik-baik saja. Kami genius.

Aku terganggu mendengar orang kulit putih bicara seakan Latino menakutkan.

Semua punya orang yang menakutkan.

Aku ingin bilang pada orang kulit putih yang mengira Latino menakutkan.

Aku ingin bilang jika kau berkulit putih dan berpikir

imigran Latin itu datang ke Amerika

untuk menangkap sekelompok anak kecil dan menaruh mereka di basemen,

itu takkan terjadi.

Itu keahlian kalian.

Kami tak melakukan kejahatan itu. Kami tak suka anak kami sendiri.

Untuk apa kami menculik sembarang anak?

Itu tak menarik. Kami tak melakukan kejahatan itu.

Aku tahu aku agresif terhadap orang kulit putih,

tapi aku boleh mengatakannya karena punya banyak teman kulit putih.

Dan mereka menyukaiku.

Mereka tak keberatan. Jadi, santai. Kita semua punya kekurangan.

Dan pesanku adalah ingat ini, wahai kulit putih,

saat kalian menghakimi imigran Latin, ingatlah ini.

Ingat bahwa Latino melakukan kejahatan yang seru.

Apa kejahatan Latino? Silakan rasis.

Apa kejahatan Latino? "Aku mengemudikan pesawat berisi kokaina."

Itu kejahatan yang seru.

Itu kejahatan yang seru.

Kami terbang.

Seru.

Jadi, ingatlah ini saat kita menghakimi

dan saat kita menggeneralisasi imigran Latin. Ingat itu.

Ingatlah bahwa imigran Latin melakukan kejahatan seru

yang pantas ditampilkan di film.

Dan orang kulit putih melakukan kejahatan mengerikan

dari film dokumenter.

Miami!

Terima kasih!

Aku senang bisa kembali.

Terima kasih sudah datang malam ini dan mendukungku.

Di sini awal segalanya.

Untuk komunitas Latin, aku sayang kalian.

Makasih sudah mendukungku.

Aku sayang kalian. Selamat malam. Terima kasih.

DIDEDIKASIKAN UNTUK MENGENANG TÍO PEPITO JOSÉ MANUEL GONZÁLEZ

Terjemahan subtitle oleh Sheilla Mahersta

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.