All language subtitles for Lebih Dari Selamanya 2025 1080p.WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Saya terima nikahnya dan kawinnya Rifa Anastasia, binti Andre Sulaiman

dengan mas kawin emas 10 gram dan seperangkat alat solat, dibayar tunai.

Gimana, saksi? Sah?

- Sah! - Alhamdulillah.

Sini. Biar… Biar tambah ganteng.

Satu, dua, tiga.

Gimana sih? Begini, ya?

Oke. Satu, dua, tiga.

- Oke, ya. - Hitung lagi, ya.

- Kita hadap belakang aja. Lucu juga. - Oke.

Ayo.

Oke. Satu, dua, tiga.

Sayang.

Tolong ambilin kardus yang isinya sendok.

- Di situ. - Iya.

Sebelah sana.

Kamu kok pakai sandal? Ini aku lagi mengepel loh.

Maaf.

- Lepasin. - Ya. Nanti aku lepas.

Kamu udah selesai belum potong tempenya?

Belum. Sedikit lagi.

Potong tempe aja. Ini aku sudah selesai loh masaknya. Tuh.

- Kamu udah selesai? - Udah dong.

Ih, sombong.

Kalo gini gimana?

Ditutupin lagi kumisnya…

Ini adalah masakan Chef Rifa yang terkenal.

Cobain.

Kok sedikit banget sih?

Kan nyobain.

Bagaimana, Bapak Juri?

Enggak enak, ya?

Terima kasih, Bapak Juri!

Terima kasih, Juri. Terima kasih, Bapak Juri.

Selamat ulang tahun

Buatlah harapan.

Angkanya salah.

34 tahun ini umur biologis aku.

Tapi umur aku baru dimulai empat tahun yang lalu.

Waktu aku ketemu kamu.

Semoga adek bayi lahir dengan sehat, selamat,

dan kita berdua selalu diberi kesehatan, diberi waktu yang lama banget

untuk bersama-sama saling mencintai susah senang bersama.

Amin.

Aku cinta kamu.

Aku juga cinta kamu.

Tiup lilinnya.

Bareng-bareng aja.

Satu, dua…

SELAMAT ULANG TAHUN

- Sakit! - Kamu bisa. Sedikit lagi.

Satu tarikan napas, Bunda.

- Ini enggak mau maju. - Bantu doa.

Aku pengin kayak begini selamanya.

Enggak ada yang selamanya.

Jawabannya nyebelin.

Harusnya jawabannya itu yang bikin senang istri.

Ya, Sayang.

Aku juga mau selamanya sama kamu.

Sama-sama sampai surga.

Pokoknya, selamanya sama kamu.

Begitu.

Enggak asyik!

- Kok enggak asyik? - Enggak pakai hati.

Papa pakai hati loh.

Kok begitu?

Aku kemarin jalan-jalan cari hadiah buat kamu, terus aku nemu ini.

Aku bayangin kalau suami aku pakai jam tangan ini.

Pasti ganteng banget.

Wow!

Enggak suka, ya?

Aku suka banget.

Tapi aku enggak siapin hadiah apa-apa buat kamu.

Aku enggak perlu hadiah!

Aku itu perlunya kamu.

Terima kasih, ya,

udah jadi istri yang terbaik.

Sudah jadi ibu yang terbaik buat Nasya.

Ganteng banget suami aku!

- Sekarang waktunya kita makan. - Oke.

Aku udah siapin menu spesial untuk kamu.

Kamu cobain, ya? Kamu cobain.

Ya. Ini waktunya makan, ya.

Gimana?

Enak banget!

Syukurlah.

Aku beruntung banget punya suami kayak kamu, tahu gak sih?

- Ini udah mulai berlebihan. - Enggak! Enggak berlebihan.

- Enggak! - Aku enggak bisa hidup tanpa kamu.

- Aku yang enggak bisa hidup tanpa kamu. - Alah! Bisa aja!

- Kamu bisa. - Enggak, aku enggak bisa.

Kalau aku meninggal duluan, kamu bakal menikah lagi, kan?

- Kok kita jadi bahas ini? - Tapi iya, kan?

Aku enggak akan menikah lagi kalau misalkan kamu meninggal…

Jangan-jangan kamu yang nikah lagi kalau aku meninggal duluan.

Ih, kok dibalik begitu sih?

Ya, oke, aku akuin aku memang genit, tapi kan cuma sama kamu.

Kalau kamu…

Sayang.

Kita lagi merayakan hari ulang tahun pernikahan.

Jadi, tolong, jangan membahas yang kayak begini. Ya?

Tapi kamu perlu tahu ya.

Kalau sampai aku meninggal duluan, terus kamu menikah lagi…

aku tuh bakal sedih.

Sedih banget.

Sayang,

kamu lihat wajah aku.

Kamu lihat mata aku.

Aku enggak akan buat kamu sedih.

Sekarang, senyumnya mana?

Tapi kalau sampai aku meninggal duluan,

aku bakal pastikan kamu enggak menikah lagi.

Kalau perlu aku hantuin kamu.

Camkan itu.

Iya.

Ternyata benar.

Aku meninggal duluan.

Hati-hati dengan ucapanmu.

Karena ucapanmu bisa jadi kenyataan.

Aku meninggal.

Pak!

Pak!

Ini aku, Pak!

Kamu enggak sedih?

Padahal aku pikir kalau aku meninggal duluan,

kamu loh yang menangisnya paling kejer.

Ini kamu enggak nangis sama sekali.

Pak Salim.

Turut berduka cita ya, Pak.

Ya, makasih, Bu.

Bu Rifa dulu pernah tolong saya

waktu anak saya mau masuk sekolah SMA.

Saya berniat untuk mengembalikan

yang pernah dikasih almarhumah untuk saya, Pak.

Enggak usah, Bu. Disimpan saja. Ya?

Tapi saya sudah janji untuk mengembalikan uang almarhumah, Pak.

Enggak apa-apa, Bu. Saya yakin Bu Rifa juga ikhlas.

Enggak apa-apa. Simpan saja.

Ya, Allah!

Bu Rifa orang baik.

Kenapa harus Bu Rifa yang dipanggil duluan?

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

Ayo.

Asalamualaikum.

Nak, udah mau masuk tuh.

Nasya kangen Ibu.

Bapak juga kangen sama Ibu.

Ibu udah enggak sakit lagi.

Ibu udah senang di sana. Ya?

Nasya sekolah, ya?

Ayo, sekolah.

Ayo, Nak.

Ya?

Hari ini ke makam Ibu aja boleh enggak?

Besok Nasya sekolahnya.

Nasya janji.

Besok Nasya sekolah, ya?

Kamu tunggu di sini, ya, Nak?

Papa kerja dulu, ya. Nanti kita makan siang bareng.

Astagfirullah.

Kenapa?

Ibu Ani bisa menjelaskan?

Pak John?

Pak Salim?

Pak Salim? Itu ditanya.

Bapak bisa jelasin?

Tolong disimak, Pak Salim. Kita lagi bahas evaluasi ini.

Ya. Baik, Pak.

Bapak.

Nanti kalau misalnya dapat ranking, jadi jalan-jalan, kan?

Kamu enggak dapat ranking juga jalan-jalan, Nak.

- Beneran? - Beneran.

Bapak yakin kamu udah melakukan yang terbaik.

Nah, di sini kelas aku.

- Ini kelasnya? - Ya.

Ayo.

Tunggu. Aku boleh di sini aja, enggak?

- Enggak boleh. - Aku maunya di sini.

Kenapa? Grogi, ya?

Mungkin.

- Bapak? - Ya udah, Bapak masuk ya?

- Oke. Dah. - Dah.

- Hei. - Nasya!

- Nasya, kita duluan, ya. - Ya, Nasya. Aku pamit dulu, ya.

- Dah. - Dah.

Selamat ya, Sayang. Ibu bangga banget sama Riri.

- Ya. - Ibu janji ya, mau beliin hadiah.

Nasya orangnya punya pendirian, Pak. Enggak gampang ikut-ikutan.

Ya.

Kalau bukan karena didikan orang tuanya,

berarti karena genetiknya ya, Pak?

Dua-duanya, Bu.

Genetik dari ibunya, juga pendidikan dari kita. Orang tuanya.

- Hai, Nasya. - Hai.

- Kamu sehat? - Mama masuk dulu, ya.

- Kamu sudah ambil rapor? - Oh, Bapak aku lagi ambil tuh rapornya.

- Yang duduk di depannya Bu Elsa. - Oh, itu ya?

Ibu kamu enggak ikut, ya?

- Baik, saya pamit dulu, Bu Elsa. - Siap.

- Terima kasih. - Mari, Pak. Sama-sama.

- Nak, maaf, Nak. - Ya?

- Kamu dari kelas 6C, kan? - Ya.

Kamu lihat Nasya enggak?

Aku enggak lihat Nasya, Om. Dari tadi enggak perhatiin Nasya.

- Kamu lihat Nasya? - Aku enggak lihat, Om.

- Makasih, ya. - Ya.

Bu.

Nasya kangen.

Nasya udah belajar yang giat, Bu.

Nasya udah berusaha pintar.

Nasya udah berusaha dapat ranking.

Nasya kangen Ibu.

Ibu kangen sama Nasya.

Nasya.

Nilai kamu bagus banget.

Bapak bangga sama Nasya.

Ibu juga pasti bangga sama Nasya.

Ya, Allah.

Ayo, Nak.

Sini. Peluk Bapak.

Pak Salim, bangun.

Udah adzan subuh loh.

Masih mengantuk. Masih jam segini.

Bu, aku tuh enggak biasa bangun jam segini.

Yah, harus dibiasain.

Selama jadi suami aku,

pokoknya kamu harus bangun sebelum salat subuh, ya?

- Ayo. - Ya.

Terus aku bangun pakai apa? Pakai alarm?

Ya, aku alarmnya.

Sudah bangun?

Bangun, Pak.

Sudah subuh.

Bismillah.

Kenapa aku?

Kata orang, jatuh cinta itu cuma satu kali.

Kalau hilang dan lepas,

aku enggak kebayang sih rasanya bakal kayak gimana.

Dan aku enggak mau menyesal.

Oke, Bu Mila, makasih!

Aduh, ya Allah!

Keliling-keliling.

Asalamualaikum!

- Pak Salim! - Wa alaikumsalam.

Tetangga baru, Pak Salim.

Sudah laku?

Ini kita mau urus dulu ke Pak RT, pindahan.

Yang pindahan keluarga?

Saya sih lihatnya sendiri aja, Pak.

Pak Salim, Nasya sebentar lagi mau lahiran ya, Pak?

Ya, insyaallah.

Masyaallah! Paten sekali, ya! Cucu pertama, ya?

Ya.

Pak Salim, menikah lagi. Biar nanti cucunya punya oma baru.

Enak aja! Enggak ada ya, oma muda.

Pak Salim, udah 14 tahun, Pak Salim.

Pasti Ibu juga izinin.

Enggak! Aku enggak izinin.

David, ya, aku hantuin juga nih. Siap-siap nih!

Pak Haji Romli aja tuh, Pak,

menikah lagi dia. Makin muda dia.

Apalagi istri mudanya lucu, imut, dan menggemaskan.

Jadi ngiler saya.

David nih, Pak,

kalau misalkan istri lagi pulang ke rumah mertua…

Aduh, Mak. Sepi sekali rumah, Pak.

Apalagi kalau udah masuk ranjang, kan?

Enggak ada lawan.

- David. - Ya, Pak?

Ini udah lama pohon enggak disiram.

Saya bukan pohon, kenapa disiram? Astagfirullah. Pak Salim!

Lain kali jangan ajak saya ngobrol, saya ditunggu Pak RT.

Saya cabut dulu.

Ya Allah!

- David? - Ya!

- Bilangin sampahnya tolong diangkut! - Oke, Opa Muda.

Resek!

Jadi, kondisi jantung Pak Salim itu

tidak bisa dibilang baik-baik juga.

Bapak yakin enggak mau kasih tahu Nasya?

Saya enggak mau bikin dia tambah repot, Dok.

Pak Salim sekarang tinggalnya sendirian toh?

Ya.

Saran saya Pak Salim kasih tahu Nasya, ya?

Nasya lagi hamil, Dok.

Dan saya enggak mau bikin dia tambah repot dengan mengurusi bapaknya.

Saya ini masih kuat, Dok.

Oke, kalau itu maunya Pak Salim.

Cuma

kurang-kurangi pikiran berat, ya?

Saya ini…

masih sering kepikiran istri saya, Dok.

Saya ini masih merasa kalau istri saya masih ada di samping saya, Dok.

Ya. Orang yang sudah pergi

biasanya menginginkan orang yang ditinggalkannya itu

untuk hidup lebih baik lagi, Pak.

Jadi, jaga makanan saja tidak cukup, Pak.

Jantung kita erat hubungannya dengan kondisi mental kita.

Yah, sepertinya sudah waktunya Pak Salim untuk melanjutkan hidup

tanpa membebani diri dengan bersedih terus.

Dokter tahu, kan, saya ini terlambat menikah.

Sudah berkali-kali saya dijodohkan dengan orang tua saya.

Sampai saya bertemu dengan Rifa.

Semuanya begitu natural…

begitu indah.

Begitu mengalir, Dok.

Dan kalau sampai saya harus melupakan Rifa…

saya enggak sanggup, Dok.

Mengikhlaskan, Pak.

Mengikhlaskan itu berbeda dengan melupakan.

Saya yakin

almarhumah akan jauh lebih tenang…

jika Pak Salim melanjutkan hidup dengan bahagia.

Ya?

- Bapak? - Pak.

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

Pak.

Bapak.

Kalian juga check-up?

Masih dua jam lagi, Pak.

Nasya minta datang lebih cepat.

Katanya Bapak ada jadwal ketemu sama dr. Dibyo?

Ya.

Lagian Bapak keterlaluan. Bikin khawatir.

Setiap aku telepon, enggak pernah diangkat.

Masa?

Maaf, ya.

Bapak ini lupa menyalakan nada dering.

Aga, tolong. Yang mana?

Sebentar, Pak.

- Udah, Pak. - Ya.

Bapak mah. Terus kata dr. Dibyo apa, Pak?

Jantung Bapak masih kuat kayak anak muda.

- Bohong! - Benar.

Bapak jaga kesehatan.

Kalau Bapak kenapa-kenapa,

nanti Nasya enggak punya orang tua lagi.

Hei, Aga, begini nih. Ini mulutnya suka begini sama Bapak tuh.

Mungkin karena lagi hamil, Pak,

Nasya memang jadi lebih sensitif sekarang.

- Apa sih kamu? Kok sensitif? - Kok aku?

Enggak kok, biasa aja, sama aja.

Jangan ribut di depan cucu Bapak.

- Gimana kabarnya cucu Bapak? - Pinter ini, Pak.

Alhamdullilah, Pak, kayaknya bakal jadi pemain bola.

- Tendangannya keras. - Alhamdullilah, ya Allah.

Oh, ya, Bapak mau diantar pulang?

Udah, enggak usah. Bapak bawa mobil kok.

Lagian kalian masih lama di sini, kan?

- Yah, tungguin sih, Pak. - Tungguin, Pak.

Udah, enggak usah. Bapak jalan duluan, ya?

Masih ada kerjaan. Ya?

Ya udah.

- Hati-hati, ya, Pak. - Wa alaikumsalam.

- Hati-hati, Pak. - Ya, Pak.

- Dijaga cucu Bapak. - Baik, Pak.

- Jaga anak Bapak, ya? - Siap.

Kayaknya kamu terlalu khawatir deh, Sya.

Bapak baik-baik aja tuh.

Kesepian itu enggak baik-baik aja, Mas.

Sudah.

Kita doain yang terbaik aja buat Bapak.

Ya?

Nasya udah besar ya, Pak?

Udah mau punya anak lagi.

Dia sama suaminya akur, ya?

Kayak kita!

Senang banget aku lihatnya.

Kawula muda, berikut ini akan kita putarkan

lagu yang diminta oleh Nadya dari Pondok Indah,

yang katanya mau dengar lagu cinta-cintaan.

Langsung aja kita putarkan, lagu "Kita" dari Sheila on 7.

Lagu kita ini, Pak!

Aduh jadi ingat masa muda ya, Pak!

Di saat kita bersama

Di waktu kita tertawa, menangis, merenung

Oleh cinta

Kau coba hapuskan rasa

Rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku

Juga mimpiku

Fales banget ini si Bapak.

Biarlah, biarlah Hariku dan harimu

Terbelenggu satu

Oleh ucapan manismu

Dan kau bisikkan kata

Cinta

Dan kau percikkan

Rasa sayang

Pastikan kita

Seirama

Walau terikat…

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam, Pak.

Permisi, Bu, Mbak, Mas.

Saya mau berduaan dulu sama istri saya.

- Tempatnya dibersihin dulu ya, Mas? - Ya.

Biar nanti pas mengobrol sama istrinya itu nanti nyaman. Begitu loh, Pak.

Ya.

Mpok.

- Bapaknya mau berdoa. Buru-buru. - Sebentar.

- Sebentar, Pak, ya? - Itu, Mpok. Daun-daunnya. Bersihin.

Ibu.

Alhamdullilah banget, Mas!

- Nanti dibagi rata ya. - Ya.

Mpok. Nah.

Ibu.

- Ini. - Aduh, Mas, saya ikhlas pokoknya.

Terima kasih, ya, Mas.

- Ya udah. Silakan, Mas. - Silakan, Pak.

- Permisi, ya, Mas. Mari. - Ya, mari.

Masyaallah.

Asalamualaikum.

Ibu apa kabar?

Bu.

Sebentar lagi Nasya lahiran.

Sebentar lagi aku jadi kakek.

Kamu jadi nenek.

Aku tahu.

Ya Allah.

Aku kangen mengobrol sama kamu.

Ini kan kita lagi mengobrol.

Cuma kamu enggak bisa dengar aku aja.

Aku tuh kayak hantu gitu loh, Pak.

Ada, tapi enggak kelihatan.

Eh…

Aku kan memang hantu ya, Pak.

Tapi aku senang banget Bapak enggak menikah lagi.

Enggak usah ya, Pak?

Supaya nanti kita bisa sama-sama ke surga.

Ya, Pak?

Kok parkir di sini sih?

- Malam. - Aduh!

Malam.

Malam.

Pak Salim, saya Mila.

Saya tahu Pak Salim dari Bang David.

Baru pindah hari ini ke sini, pindahan dari Jogja.

Mbak. Di sini setiap rumahnya sudah punya tempat parkirnya sendiri.

Oh, ya, Pak. Saya bukan lagi parkir di sini.

Ini mobil saya bermasalah. Bannya bocor.

Besok juga pagi-pagi saya ada urusan.

Jadi, saya pikir saya coba aja benerin sendiri.

Tapi Dongkrak saya macet, ya.

Jadi, saya juga lagi coba…

Mbak.

Nanti begitu selesai, tolong dipindahkan mobilnya ke tempat parkir.

Pak, boleh pinjam dongkrak, Pak?

Biar cepat selesai.

Makasih banyak, Pak.

Nanti kalau sudah selesai, segera saya kembalikan…

Pagi, Pak Salim.

Pagi, Mbak Mila.

Ini, Pak, dongkraknya. Mau dibalikin.

- Oh, ya. - Makasih banyak ya, Pak.

Ya, sama-sama.

Sama ini, Pak.

Ucapan terima kasih saya.

Ini apa, Mbak?

Ini saya masak. Semoga Bapak suka, ya.

Saya ini banyak pantangannya, mbak.

Ini makanan sehat kok, Pak.

Kok baik amat!

Diterima aja, Pak. Tetangga baik.

Kalau enggak diterima, nanti saya jadi enggak enak hati, Pak.

Saya terima, ya.

Makasih, ya, Pak.

Ya. Sama-sama.

- Mari. - Mari.

Itu maksudnya apa sih, Pak, diterima segala makanannya?

Maksudnya apa? Bapak, kan, biasanya juga masak sendiri.

Ya, masuk.

Permisi, Pak Salim. Pak Salim dipanggil Pak Rendy.

Ya.

Ini Wildan, Pak Salim.

- Halo, Pak Salim. Saya Wildan. - Salim.

Dia ini fresh graduate di kampus tempat saya kuliah.

Bagus itu.

Jadi, begini, Pak. Wildan ini luar biasa.

Dia bikin aplikasi yang secara otomatis

bisa memastikan pendataan gudang secara ringkas

dengan rasio kesalahan…

Berapa persen?

- Sampai saat ini belum salah sih, Pak. - Nah, itu dia.

Jadi, lebih efisien dan lebih praktis.

Jadi, maksud Pak Rendy…

saya sudah tidak di…

Enggak, Pak Salim. Enggak. Tenang, Pak.

Pak Salim ini, kan, sudah 20 tahun menjadi orang kepercayaan ayah saya.

Jadi saya enggak mungkin menggantikan Pak Salim dengan sebuah aplikasi.

Tapi sekarang ini harus serba cepat, Pak.

Zaman sudah berubah.

Jadi, saya mau pindahkan Pak Salim ke…

Ke mana tadi?

- Namanya Company Monitoring Division. - Itu dia.

Divisi Pemerhati Perusahaan.

Pak Rendy.

Saya ini sudah 20 tahun kerja di perusahaan ini, Pak,

dan saya belum mendengar divisi itu, Pak.

Yah, memang kami buatkan khusus untuk Pak Salim.

Maksud saya, kami buatkan khusus untuk orang-orang terpilih,

orang-orang yang loyal kepada perusahaan, dan orang-orang yang berprestasi.

Nanti akan ada perubahan job desc.

Jadi, Pak Salim ini enggak perlu datang seminggu penuh.

Cukup dua atau tiga hari aja.

Biar banyak waktu sama keluarga.

Halo. Asalamualaikum.

Wa alaikumsalam.

Bu, aku udah mau jalan pulang.

Ada yang mau aku omongin, penting.

Tumben, Pak. Pulang sore-sore.

Ada apa, Pak?

Nanti aja, ya. Aku ceritanya di rumah.

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

Asalamualaikum.

Wa alaikumsalam.

- Kamu basah-basahan begini. - Ya.

Tadi aku menerobos hujan.

Aku enggak tahu aku mulai kehujanan dari mana.

Aku udah punya firasat. Kamu mandi dulu, ya?

Enggak. Aku mau ngomong dulu.

Tadi, aku…

Sayang, mandi dulu, ya?

Aku udah masakin air hangat. Kesehatan kamu itu lebih penting. Ayo.

- Enggak. Aku pengin ngomong dulu. - Nanti kita bisa ngomong.

Kamu bisa sakit. Jangan kayak begini dong.

- Mandi dulu, ya. - Enggak.

Sayang…

mandi dulu, ya?

Ayo. Mandi dulu ya.

Ya.

Diminum dulu, Pak. Mumpung masih hangat.

Mau ngomong apa?

Aku dipecat.

Bu. Ibu…

Jadi…

perusahaan saat ini sedang tidak sehat.

Jadi separuh karyawan dirumahkan untuk waktu yang…

belum ditentukan.

Alhamdullilah.

Astagfirullahalazim.

Aku tuh pikirnya waktu kamu telepon…

kamu mau bilang, "Bu, aku udah enggak cinta lagi sama kamu.

Aku udah menemukan perempuan yang bisa bikin aku lebih nyaman."

Aku pikir ada masalah apa.

Jadi, kamu pikir…

Kamu pikir aku dipecat itu bukan masalah?

Nasya baru lahir, Bu.

Kita enggak punya tabungan.

Kita enggak punya tabungan, Bu!

Dan aku harus setiap bulan bayar cicilan rumah.

Ini bukan sesuatu yang kecil, Bu.

Ini masalah buat kita.

Ya. Ini masalah.

Tapi enggak perlu dibesar-besarkan.

Nasya baru lahir, Bu!

Nasya baru lahir.

Satu-satunya penghasilan kita itu dari pekerjaan aku.

Pak, memang Nasya baru lahir.

Tapi yang hilang itu pekerjaan kamu.

Bukan rezeki yang udah disiapkan Allah buat kita.

Lagi pula, apa yang perlu aku takutin?

Aku menikahi kamu.

Aku yakin,

aku tahu…

kamu lelaki pejuang yang enggak mungkin membiarkan aku sama Nasya kelaparan.

Aku sedih sekali.

Bukan karena…

dibuatkan jabatan bohongan.

Bukan karena…

aku sudah merasa enggak dibutuhkan lagi.

Tapi karena kamu udah enggak ada.

Aku udah enggak punya kamu tempat aku berbagi.

Kalau kamu ada di sini…

kamu akan bilang ke aku…

"Yang hilang cuma pekerjaan.

Bukan rezeki yang sudah ditetapkan Allah untuk kita."

Ya, kan?

Ya, Pak.

Aku di sini.

Kamu masih bisa berbagi sama aku.

Aku dengar kamu.

Enak, Pak?

Enak?

Ya, enak lah. Orang dibikinin sama tetangga cantik.

Enak, kan?

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

Wa alaikumsalam.

Sebentar, Nak.

Hei, Nak.

Bapak kenapa enggak bilang kalau jantung Bapak memburuk?

Jantung Bapak baik-baik aja.

Dokter Dibyo bilang sama aku. Udahlah enggak usah bohong lagi.

Bapak tuh bukannya bohong, tapi gak pengen kamu khawatir.

- Bapak gak pengen kamu khawatir. - Apa, Pak?

Bapak egois, tahu enggak?

Kok Bapak egois?

Kenapa sih, Nak?

Kamu itu datang pagi-pagi, terus marah-marah.

Ini apa, Pak?

Ini apa, Pak?

Ini baju-baju ibu kamu, Nak.

Empat belas tahun.

Bapak masih simpan baju-baju Ibu.

Bapak masih mengikat Ibu di hati Bapak.

Bapak enggak mau melupakan Ibu.

Dengan enggak peduli sama diri Bapak sendiri?

Nasya bahkan hampir enggak pernah lihat Bapak bersosialisasi.

Kapan terakhir kali Bapak senang-senang, Bapak tertawa lepas?

Kehilangan enggak begitu caranya, Pak.

Bapak juga harus hidup demi Ibu, dong!

Nasya sebentar lagi mau jadi orang tua, Pak.

Tapi kalau Bapak kayak begini terus,

siapa yang bakal ajarin Nasya buat jadi orang tua?

Bapak juga harus hidup demi Nasya.

Nasya enggak tahu siap atau enggak jadi orang tua, Pak.

Tapi Nasya enggak siap kehilangan Bapak.

Ya.

Bapak mengerti.

Nasya takut, Pak.

Kenapa?

Kalau Nasya menikah, nanti Bapak sendiri.

Kok begitu?

Hei, kamu tenang aja.

Bapak akan baik-baik aja.

Bapak janji.

- Janji? - Janji.

- Janji dong, Pak. - Ya. Janji.

Janji.

Maafin Bapak, ya, Nak?

Bu, ini enggak sayang, Bu?

Bajunya masih bagus.

Terus mainan Nasya juga gak ada yang rusak.

Justru karena masih bagus.

Masa mau kasih sumbangan tunggu jelek dan rusak?

Nanti kalau Nasya punya adik, gimana?

Insyaallah, buat adiknya ada rezekinya sendiri.

Kasih yang terbaik. Nanti Tuhan beri balasan yang terbaik.

Ya, kan, Pak?

Ini baju-baju beneran mau disumbangin, Pak Salim?

Maksud Ibu?

Ya, masih bagus begini. Mending dijual lagi kalau saya sih.

Justru karena masih bagus.

Mau kasih sumbangan masa tunggu jelek dan rusak?

Bu?

Mbak.

Kasih yang terbaik,

nanti Tuhan berikan balasan yang terbaik juga.

Ya, kan, Pak?

Pak Salim.

Malah ketemu di sini sama tetangga.

Ya.

Halo, Mbak Mila.

Mbak, makanan untuk anak-anak.

Wah.

Terima kasih banyak loh, Mbak Mila.

Ini cuma buat anak-anak aja nih?

Ada kok, udah dilebihin buat pengurus juga.

Alhamdullilah.

Mbak Mila sering ke sini?

Enggak kok, Pak. Jarang.

Sering kok, Pak.

Seminggu bisa tiga kali.

Mbak…

- Mbak Mila, tolong ditandatangani, ya? - Oke.

Sebentar, Mbak.

Mbak Mila enggak bawa mobil?

Mobil saya masih di bengkel.

Mbak Mila mau ke mana?

Mau pulang.

Jangan bilang Bapak mau anter!

Saya anter, ya.

Pak Salim, makasih ya, sudah dikasih tumpangan.

Enggak apa-apa. Searah kok.

"Searah kok."

Pak Salim sering ke Panti juga?

Ya. Dulu sering.

Dipaksa sama istri.

Dipaksa? Orang kamu yang mau ikut.

Tapi dari dia saya belajar soal berbagi.

Soal penderitaan orang lain.

Soal Ibu… Saya turut berduka cita ya, Pak.

Makasih loh.

Cari empati, ya?

Enggak apa-apa. Udah lama kok.

Udah lama? Orang masih baru juga.

Aku doain ini mobilnya mogok.

- Astagfirullahalazim! - Astagfirullahalazim!

Astagfirullahalazim.

Maaf ya, Pak.

Aku enggak tahu doanya langsung dijabah, Pak.

Enggak apa-apa, Mbak. Mbak di dalam aja.

Enggak apa-apa, Pak. Saya temenin.

Tebar pesona, kan?

Aku tuh sedih…

kamu sama Nasya enggak bisa lihat aku.

Enggak bisa dengar aku.

Aku merasa kesepian.

Aku butuh teman hidup aku.

Jangan jatuh cinta lagi ya, Pak?

Biar kita bisa sama-sama lagi.

Asalamualaikum.

Pak Salim?

Cuma mau balikin ini aja.

Oh ya.

Pepes tahunya enak.

- Makasih ya. - Sama-sama, Pak.

Mari.

Pak?

- Maaf. - Ya?

Bapak tahu bubur ayam yang enak dekat sini?

Ini, Pak Salim. Seperti biasa, enggak pakai kacang.

Ini untuk mbaknya.

Spesial. Enggak pakai seledri.

Ya. Terima kasih.

- Terima kasih. - Ya. Sama-sama.

Pak Salim udah lama gak ke sini?

Yah, kira-kira…

lebih dari sepuluh tahun lah.

- Udah legendaris dong ya, bubur ini. - Ya.

Sebentar, Pak.

Silakan.

- Makasih, ya. - Sama-sama.

Saya jadi penasaran.

Kalau buburnya seenak ini,

kok bisa Pak Salim berhenti datang ke sini?

Ada banyak tempat yang berhenti saya kunjungi

sejak istri saya meninggal.

Maaf ya, Pak.

Enggak apa-apa.

Ibu…

pasti luar biasa banget ya, Pak?

Ya.

Sangat.

Kalau kamu sendiri? Bagaimana?

Sudah menikah?

Maaf.

Maaf ya, kalau saya enggak sopan.

Enggak apa-apa.

Hampir.

Hampir?

Calon suami saya meninggal…

satu hari sebelum kami menikah.

Ya Allah.

Lucunya, orang tua saya berkali-kali mencoba menjodohkan saya, Pak.

Tapi…

sulit untuk saya memberi ruang untuk hati yang lain.

Saya sudah menemukan cinta sejati saya.

Lebay, ya, Pak?

Enggak.

Sama sekali enggak.

Biasanya dibilang lebay saya.

Makan lagi, Pak.

- Asalamualaikum, Pak Andre. - Wa alaikumsalam, Pak Salim.

- Subuh di masjid, Pak? - Ya.

Asalamualaikum, Pak Salim.

Wa alaikumsalam.

Ini.

Saya banyak masaknya.

Ya.

- Makasih, Mbak Mila. - Sama-sama.

Pagi, Semua.

Pagi, Pak.

- Pagi, Pak Wildan. - Pagi, Pak Salim.

Ini perkembangan jantung Pak Salim luar biasa ini, Pak. Semakin membaik.

- Oh, ya? - Ya.

Waduh, senang sekali saya.

Dok, apa karena ini saya mengubah menu makanan?

Bisa jadi.

- Tapi Bapak tetap perlu hati-hati, ya? - Ya.

Ini Mbak Mila semua yang masak?

Iya. Tapi maaf ya, kalau rasanya kurang enak.

Udah lama gak masak banyak.

- Enggak apa-apa. - Enggak lah, Mbak.

Ya udah.

Jangan deh, Nasya aja.

- Oh, ya. - Bapak, maaf.

- Mas. - Ya.

Makan yang banyak, ya?

Iya.

- Mbak. - Makasih ya, Nasya.

Ini buat bumil.

Kamu tuh yang harusnya makan banyak.

Bapak pepesnya aja, ya?

Ya, deh.

- Enggak apa-apa kok, opor juga. - Tapi kan Bapak enggak bisa…

Enggak pakai santan opornya.

Ya udah deh.

Sekali-kali ya, Pak?

- Alhamdulillah. - Kamu juga ya, Mas.

- Siap. - Ini.

- Ini telurnya. - Ya. Makasih, Nasya.

Wah, Nasya, kita harus belajar banyak ini.

Coba aku cobain dong.

Ayo.

Gimana?

Ini beneran enak sih, Mbak.

- Aku mau dong resepnya. - Ya, boleh.

Nanti kapan-kapan kita masak bareng ya, di rumah Mbak?

Boleh.

- Aku mau dong, Mas. - Selamat makan.

Enak.

Pak.

Ibu pasti sudah ikhlas kalau Bapak menikah lagi.

Udah sepuluh tahun, Pak.

Sepuluh tahun itu sebentar, Nak, dibandingkan dengan selamanya.

Begini loh, Pak.

Nasya berterima kasih banget

Bapak udah membesarkan Nasya dengan sangat baik.

Tapi di satu sisi, Nasya itu enggak suka kalau melihat Bapak sendirian.

- Kesepian gitu, Pak… - Nasya.

Seumur hidup Bapak…

Bapak ini cuma mau jadi suami dari satu orang.

Ibu kamu.

Makasih ya.

Kamu apa kabar?

Aku masih sama.

Bohong.

Udah ada gantinya aku, kan?

Enggak.

Enggak ada yang gantiin kamu.

Kalau udah mau lupa juga enggak apa-apa kok, Pak.

Yang udah pergi

enggak boleh jadi penghalang untuk yang masih ada.

Ya, kan, Pak?

Aku di sini sendirian, Pak.

Aku ingin bareng sama kamu,

Nasya.

Kenapa, Pak?

Mas?

Sayang?

- Kamu kenapa? - Sakit, Mas.

Ya udah. Kamu tunggu sini, aku siapin mobil dulu ya.

- Ya, cepat, Mas. - Ya, sebentar.

Pak?

Pak?

Pak!

Pak Salim!

Tolong!

Tolong!

Mila, tolongin Mas Salim!

- Mas Salim jantungnya kambuh! - Wa alaikumsalam.

Bang David!

Bang David. Udah selesai?

- Cepat, cepat! - Ya, sudah selesai, Bu.

Tanda tangan di sebelah kiri, di bawahnya.

- Bang David, pas nih. - Ya?

Ini kok Pak Salim belum ada ya di luar rumah? Tumben.

Oh, ya. Biasa jam segini udah muncul dia.

Ya udah, saya sekalian bawa SPT-nya lah, Bu.

- Ya udah, kita coba cek. - Ya udah, ayo ikut, Bu.

- Ayo! Ayo, cepat! - Enggak biasa-biasanya ini.

Asalamualaikum!

Asalamualaikum!

Asalamualaikum!

Pak Salim?

Pak Salim?

Salim?

Asalamualaikum!

Kayaknya tidurnya pulas sekali, Bu.

Iya. Nanti kita coba lagi ya, Bang.

- Jangan! - Ya, gak enak gangguin.

- Enggak! - Saya keliling lagi.

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

- Bang David! - Bang David!

- Dobrak aja. - Dobrak aja.

Dobrak? Jangan, enggak enak.

Habis firasat saya kok enggak enak, ya?

Tumben kan Pak Salim belum bangun jam segini.

Kalau itu, iya. Cuma janganlah berpikiran negatif.

- Saya yang tanggung jawab. - Ya udah, ini pegang, Bu.

- Pak Salim! - Astagfirullahalazim! Pak Salim!

Pak Salim!

- Pak Salim! - Pak Salim!

- Ini kenapa? Cek dong. - Pak Salim!

- Ya, sabar. - Astagfirullah. Pak Salim.

- Cepat! - Ini bawa ke rumah sakit aja ya, Bang.

- Saya siapin mobil. - Ya. Siapin mobil.

Hati-hati.

Aduh, Pak Salim.

Kenapa ya, Dok? Padahal udah dikasih ASI dari tadi.

Enggak apa-apa kok, Bu. Ini normal.

Bayi yang baru lahir menangis, itu enggak perlu khawatir, ya? Oke?

Mari ya, Bu.

Makasih, Dok.

Sabar, Nasya.

Kenapa ya, Mbak? Belum berhenti juga ini menangisnya.

Nasya.

Boleh Mbak coba?

Tolong ya, Mbak.

Sayang.

Ya, Sayang.

Sayang.

Masyaallah, Mbak. Mas.

Bapak.

Udah sejam dari tadi enggak berhenti menangis.

Digendong Mbak Mila langsung berhenti nangisnya.

Pak.

- Mbak Mila, terima kasih ya. - Sama-sama.

Makasih ya, Mbak.

Cucunya, Pak.

Selamat ya, Pak.

Sayang, berhenti ya, habis digendong tante Mila, ya?

Iya. Berhenti menangisnya.

Benar rupanya.

Perpisahan itu sesuatu yang mengerikan.

Lebih seram dari kematian itu sendiri.

Betapa beruntung mereka yang menghembuskan napas

bersamaan dengan orang-orang terkasih.

Tidak ada yang ditinggalkan.

Tidak ada yang meninggalkan.

Pergi bersama menuju keabadian.

Beruntung betul mereka yang ditakdirkan bersama di dunia…

dan bersama di alam berikutnya.

Tidak perlu merasakan sakitnya perpisahan.

Tidak perlu merasakan kejamnya kesepian.

Asalamualaikum, Bu.

Maaf ya, Bu.

Aku udah dua minggu enggak nengokin kamu.

Enggak apa, Pak.

Aku paham kok.

Dan aku tahu.

Aku hampir mati, Bu.

Nasya udah lahiran.

Aku udah jadi kakek.

Kamu jadi nenek.

Nama cucu kita Ana.

Katanya gabungan dari Arga dan Nasya.

Norak banget!

Cucu kita itu gemuk, lucu.

Ya Allah, lucu banget.

Enggak berhenti menangis, Bu.

Siapa pun yang gendong, enggak berhenti dia menangisnya.

Aku tahu, Pak.

Aku tahu kamu mau ngomong apa.

Rumah di seberang sudah ada yang tempatin.

Aku tahu.

Yang tempatin namanya Mila.

Perempuan. Sendirian.

Dan belum pernah menikah.

Ya, aku tahu.

Cucu kita cuma bisa berhenti menangis…

- saat digendong sama Mila, Bu. - Aku tahu.

Padahal dia belum pernah punya bayi.

Aku berharap…

kamu yang gendong cucu kita, Bu.

Dan Nasya itu dekat sekali dengan Mila.

Aku sampai berpikir tentang pilihan.

Aku sampai berpikir…

- tentang perasaan aku, Bu. - Pak.

Enggak usah dilanjutin, Pak.

Aku ikhlas.

Aku ikhlas kalau Bapak mau melanjutkan hidup sama dia.

Mila itu cantik, Bu.

Sikapnya lembut.

Dia pinter banget masak.

Masakannya enak, Bu.

Dan dia perhatian banget sama aku.

Tapi Mila bukan kamu, Bu.

Aku enggak bisa melupakan kamu.

Kamu yang aku butuhkan.

Aku sendiri, Bu.

Aku…

Aku kangen sama kamu, Bu.

Aku kangen sama kamu.

Aku kangen, Bu.

Kamu harus kuat, Sayang.

Udah lama menunggunya, Bu?

Beruntung mereka yang terlahir sendirian,

menemukan belahan jiwa dalam perjalanan

dan tidak bisa dipisahkan,

meski oleh kematian.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.