Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Breton
Bulgarian
Cambodian
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku sudah lama sekali tinggal di Sta. Lucia.
Banyak mendengar kisah tentang tempat ini.
Begitu banyak yang kudengar,
hingga sulit untuk membedakan
antara mitos dan kebenaran.
Namun aku tahu satu kisah yang nyata.
Tiap tengah malam,
di ujung koridor lantai tiga
di samping tangga,
ada sebuah toilet.
Tak ada lagi yang berani ke sana.
Karena jika kau masuk...
TOILET
di sana...
di bilik terakhir,
itulah tempatnya gantung diri.
Namanya...
adalah Erika.
Kau percaya padaku?
Kau tahu apa ini?
Saat kuhitung sampai tiga,
bantingkan tanganmu kemari, ya?
Satu...
dua...
tiga!
Sejak tadi kusuruh matikan lampu.
Renungkan dosa-dosa kalian dalam keheningan.
Pengakuan dosa akan dimulai besok pukul 06.00 tepat.
Jangan terlambat.
Berbaringlah!
Tutup mata!
Kalau tak bisa tidur, berdoalah.
Bersiaplah untuk mengakui dosa besok.
Kalian paham?
Ya, Sor Alice.
Jo.
Hei, Jo. Temani aku kencing.
Mich?
Tolong temani aku kencing.
Hei.
Lagi.
Siap...
Bu?
Senyumlah untuk kamera.
Baik, Anak-anak,
lebih merapat.
Ya?
Siap?
Pat, lihat ini.
Sayang sekali.
Kenapa kau tak tersenyum?
Tak apa-apa.
Mungkin aku terlalu banyak pikiran.
Terutama setelah yang menimpa Anna.
Benarkah? Sor Alice yang menemukannya?
Itu yang kudengar dari Suster Luz dan Costanza.
Entah kenapa dia melarangku bicara dengan gadis itu...
Sor Alice bisa mengurusnya.
Tapi...
Pat, kau terlalu memikirkan ini.
Joyce.
SEMUA UCAPANMU DI SINI DIRAHASIAKAN
Kau ketahuan di atap lagi?
Berikan padaku.
Sudah kosong.
Ini untuk apa?
Agar tak tidur.
Bukankah lebih baik beristirahat?
Apa kau sempat tidur?
Seharusnya kutemani Anna.
Dia mungkin masih ada di Sta. Lucia.
Joyce,
yang menimpa Anna bukan kesalahanmu.
Apa yang terjadi?
Dia melihat sesuatu?
Tak ada yang cerita atau bicara apa pun.
Cuma Anna yang tahu apa yang terjadi.
Aku tak tahu kita bisa pergi begitu saja.
Andai aku pergi sejak lama.
Kenapa?
Tiap hari selalu sama.
Makanya aku ke atap untuk menjernihkan pikiran.
Seolah-olah semua percuma, tak ada yang penting.
Joyce...
kau menyakiti dirimu lagi?
Sor Alice akan menghukumku.
- Joyce? - Aku telat lagi.
Kembalilah kemari jika butuh teman bicara, ya?
Ini untukmu, Bu Pat.
Kenapa kau tampak sedih di sini?
Itu bukan aku.
AKADEMI KHUSUS WANITA STA LUCIA
DIBERKATILAH MEREKA YANG PERCAYA TANPA MELIHAT
Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman mati kepada Ramon Pascual.
Pascual tertangkap basah
saat sedang memenggal kepala ibunya.
Pascual adalah salah satu kriminal yang dijatuhi hukuman mati
sejak diterapkan tahun 1993.
Pak Fidel.
- Selamat malam, Bu Consolacion. - Malam.
Kerja lembur lagi?
Seperti biasa.
Tak ada yang menungguku di rumah.
Mungkin kau harus mulai mencari...
seseorang yang menunggumu di rumah.
Agar tak perlu selalu bekerja.
Baik. Jaga dirimu.
Kau juga.
Selamat malam, Eri.
Apa kabarmu?
Aku membaca buku terakhir di perpustakaan.
Aku sudah baca semuanya.
Ayo pergi dari sini, Bu Pat.
Kita mau ke mana?
Ke mana saja.
Andai aku bisa meninggalkan tempat ini.
Kenapa tak bisa pergi?
Itukah yang dialami orang-orang...
sepertimu?
Mungkin.
Kau mau ikut denganku?
Eri...
apa yang terjadi pada Anna?
Apa dia melihatmu?
Aku tak sengaja.
Maafkan aku.
Mereka semua takut padaku.
Kenapa kau tak takut?
Haruskah aku takut?
Ayahku...
dahulu juga tak takut.
Kadang aku masih melihatnya.
Di pojok sana...
menatapku.
Menatap kita.
Di mana?
TOILET
Eri?
Eri...
Kita mau ke mana?
Kenapa tak bisa pergi?
Itukah yang dialami orang-orang...
Itu sesi keenam dengan Eri, tapi dia masih belum mau cerita.
Dia butuh teman bicara,
tapi dia tak mau cerita apa yang menimpanya.
Kenapa dia bunuh diri?
Jika tahu jawabannya, aku akan memahami murid-muridku.
Aku bisa menjaga mereka.
Kita menghukumnya sampai larut malam.
Setelah kejadian dengan Anna, seharusnya itu tak dilakukan.
Kita semua kenal Pak Fidel.
Sepanjang hidupnya, dia melayani Sta. Lucia.
Kalian percaya dia bisa berbuat seperti ini?
Menurutmu apa yang terjadi, Nak?
Aku tak tahu.
Akan kutanya anak-anak.
Mungkin mereka tahu.
Kita harus bagaimana, Sor Alice?
Kelas hari ini dibatalkan.
Hari ini kita berdoa dan berduka.
Besok...
kelas di Sta. Lucia dilanjutkan lagi.
Sor Alice, bukankah itu terlalu cepat?
- Banyak orang tua... - Tak bisa memaksa
mereka tinggal.
Masih ada yang memilih tinggal.
Itu yang penting.
Suster...
Bu Pat.
Ini bukan pertama kalinya seorang anak meninggal di sekolah ini.
Ini sudah pernah terjadi sebelumnya.
Sebagian ingat, kita semua ada.
Tapi kita bertahan,
menjaga iman kita.
Tuhan punya jawaban atas semua ini.
Tapi saat ini,
kita harus minta bimbingan dalam doa.
Sta. Lucia akan tetap menjadi
sekolah Katolik bermutu di negara ini.
- Kita tak akan goyah. - Maaf, Romo.
Bagaimana kau bisa bilang begitu di saat seperti ini?
Bu Consolacion,
boleh aku bicara?
Sebentar.
Berikan padaku.
Nanti kau dapat masalah lagi.
Korek apinya juga.
Sesi ini belum berakhir, ya?
Masuklah.
Aku Julian.
Penyelidik kasus ini.
Apa yang bisa kubantu?
Kau mengenal Fidel, bukan?
Dia bekerja di sini, bahkan sebelum aku masuk.
Membuatku berpikir...
jika dia tega begini, kenapa baru sekarang?
Itu juga pertanyaanku.
Benarkah kau membawanya ke Muntinlupa?
Ya.
Hukuman mati?
Belum bisa kupastikan.
Kau juga punya ini?
Mungkin ada orang lain
di tempat kejadian pada malam Clara dibunuh.
Akan kutanya jika murid-murid tahu sesuatu.
Mereka memercayaiku.
Bagus.
Pakai itu. Jika kau dapat informasi
yang berguna bagi penyelidikan...
hubungi aku.
Ini nomorku.
Terima kasih.
Umumnya percakapanku dengan anak-anak bersifat rahasia.
Rahasia mereka adalah rahasiaku.
Akan kuhubungi jika dapat sesuatu.
Bu Consolacion, aku di sini untuk membantu.
Ini belum akan dilaporkan ke pimpinanku.
Dia sudah yakin Fidel pelakunya.
Terima kasih.
Terima kasih waktumu.
Clara?
Bagaimana menurutmu?
Berapa usia kupu-kupu ini?
Kupu-kupu cuma hidup beberapa bulan.
Mereka tak tampak mati.
Seolah-olah masih bisa terbang.
Mereka tak bergerak...
karena terkurung.
Aku tahu...
kau mau bicara dengannya.
Kau tahu di mana dia kini?
Untuk apa kuberi tahu?
Kau tahu kau selalu bisa bicara denganku,
bukan?
Bu Pat, suaramu bagus.
Tak seperti suara ibuku.
Meski sudah puluhan tahun...
aku masih belum lupa suara ibuku...
Menggema,
masih menusuk di telingaku.
Seperti para suster yang memarahiku.
Mengepungmu, membuatmu sulit bernapas...
hingga kau sungguh tak berdaya.
Dan cuma ingin menyerah.
Aku masih bisa dengar teriakan para suster.
Bahkan kini setelah...
aku mati.
Ada yang datang.
Siapa, Eri?
Akan ada peraturan baru di Sta. Lucia.
Para murid harus selalu berpasangan.
Mereka akan ditemani rekannya
tiap akan menuju aula, atau ke kamar mandi,
atau saat istirahat.
Semua harus melapor hadir untuk setiap kelas.
Dan yang paling penting,
semua murid dan staf harus keluar dari sekolah pukul 18.00 tepat.
Mereka yang tak patuh akan diskors...
atau lebih parah lagi, dikeluarkan.
Aku ingin menekankan bahwa aku bisa,
dan akan berupaya sekuatnya untuk melindungi kesucian akademi ini.
Tubuh Kristus.
Kau masih ingat...
waktu aku sempat membela Ces
saat dia dirundung oleh Mary?
- Tapi aku tak bersalah. - Clara, jangan menyalahkan dirimu.
Jika kau melihatku butuh bantuan, apa kau akan menolongku?
Tapi kau sudah dewasa, bisa menjaga dirimu sendiri.
Kadang orang dewasa pun butuh pertolongan.
Baik, Bu Pat.
Jika suatu saat kau butuh bantuan, aku janji akan menolongmu.
Aku juga berjanji akan selalu ada untukmu.
Sor Alice?
- Halo, Julian? Ini aku, Pat. - Halo?
Adakah cara untuk bicara dengan Fidel?
Kasus Fidel sangat menarik perhatian.
Tak bisa sembarang bicara dengannya.
Aku cuma mau dengar alasannya.
Kau sendiri? Bagaimana kabarmu?
Tersangka pencekikan Sta. Lucia...
Aku belum dapat apa-apa.
Seolah-olah mereka mau melupakan semua,
hanya untuk menyelamatkan citra sekolah.
...dalam pembunuhan siswi,
Clara Nemenzo...
Maaf, Julian.
...yang mayatnya ditemukan pukul 06.00 oleh seorang suster di Sta. Lucia...
Pat? Halo?
Nanti kuhubungi lagi.
Kami akan berusaha keras
agar pelakunya dihukum mati.
Semoga Presiden mendengar. Semoga dia membantu kami.
Kami berhak mendapat keadilan dengan kematian bajingan itu.
Fidel Cariaso, pengurus Akademi Sta. Lucia,
kini didakwa atas pembunuhan.
Clara?
Clara?
Aku mengejutkanmu?
Jangan...
Jangan menatapku.
Clara?
Clara...
Jangan khawatir.
Aku tak sengaja.
Clara, siapa yang membunuhmu?
Ada yang datang.
Bu Consolacion!
Sor Alice...
sedang apa di sini?
Bukankah seharusnya aku yang bertanya?
Kini ada peraturan baru.
Tak ada yang boleh berada di sini lewat pukul 18.00.
Kau sendiri?
Aku cuma memastikan tak ada yang berkeliaran.
Fidel tak lagi di sini, tak ada yang mengurus sekolah.
Apa yang terjadi pada Clara pada malam dia dihukum?
Apa maksudmu, Patricia?
Seseorang mati malam itu, kita berdua tahu bukan Fidel pembunuhnya.
Jika kau mau buat kekacauan...
selagi yang lain masih berduka...
jangan datang kemari.
Bukankah kini aku paling dibutuhkan?
Saat anak-anak tak tahu harus berbuat apa?
Mereka akan tahu jika mau mendengarkan.
Aku cuma mau tahu apa yang terjadi.
Kuberi kau satu kesempatan lagi.
Pikirkan yang kau lakukan.
Jika kau ada di sini lagi malam-malam begini...
aku akan terpaksa menskorsmu, Patricia.
Paham?
Ini bukan tujuanmu di sini.
Sebaiknya kau berdoa, Patricia.
Agar hati nuranimu bersih.
Joyce?
Joyce!
Joyce...
Tolong kami!
Bu Pat?
Apa yang kau pikirkan?
Mungkin...
saudaraku.
Kau punya saudara?
Kakakku.
Kenapa tak pernah kau sebut?
Dia sudah tiada.
Sudah lama meninggal.
Apa yang terjadi padanya?
Orang tuaku tak ada malam itu.
Hanya ada aku dan kakakku di rumah.
Lalu...
Aku masuk ke kamarnya.
Lalu...
Aku masih ingat bau kamarnya.
Aku membuka pintu...
Tanda-tandanya sudah lama ada...
tapi tak ada yang mendengar.
Joyce.
Aku tak bisa menyelamatkan kakakku, Anna...
atau Clara.
Tapi kau...
Berjanjilah kau akan melawan ini.
Bagaimana kondisinya?
Kini bisa bicara, tapi dia masih...
perlu istirahat saat ini.
Kenapa kau kemari?
Kasusnya sudah ditutup.
Pat, Fidel membunuh Clara.
Tak ada yang bisa kita lakukan.
Pat.
Pat, tunggu.
Anak-anak, berhenti.
Anak-anak, berhenti.
Anak-anak!
Untuk memulihkan moralmu, kau harus dibersihkan.
Berhenti menangis.
Berhenti menangis!
Tegarlah.
Kau telah berdosa demi nama Tuhan. Kau harus dibersihkan!
Berhenti menangis!
Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan!
Jangan!
DIA TAK AKAN MELUPAKAN ANAK-ANAKNYA
ALICE S. NICOLAS KEPALA SEKOLAH
Sta. Lucia telah ada puluhan tahun.
Sejak dahulu kami begini.
Tak ada yang berubah.
Sekian lama aku di sekolah ini,
tak sekali pun...
ada yang meragukan metode kami.
Tak benar memperlakukan mereka seperti itu.
"Jangan ragu mendidik anakmu...
dia tak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan."
Kau cuma bicara soal disiplin, sementara anak-anak tersiksa.
Kau diskors sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Andai kau melakukan tugasmu,
Joyce tak akan mencoba bunuh diri.
- Sor Alice cuma manusia... - Dia salahkan aku soal Joyce.
Tak seharusnya kukatakan ini, tapi...
dia pernah mengalami ini.
Yang menimpa muridnya bahkan lebih parah.
Apa yang terjadi?
Kejadiannya sudah lama. Aku cuma dengar gosipnya.
Konon anak itu gantung diri...
di dalam Sta. Lucia.
Siapa namanya?
Aku tak ingat.
Kejadiannya sudah lama, sebelum aku ada di Sta. Lucia.
Aku butuh bantuan.
- Kenapa? - Aku perlu mengakses berkas Sor Alice.
Aku perlu tahu nama anak yang gantung diri.
Firasatku ini berkaitan dengan kejadian Clara.
Aku tak bisa, Pat.
Meski aku ingin membantu, aku bisa diskors.
Akan kulakukan sendiri.
Pat!
Aku sudah diskors.
Mereka bisa apa lagi?
Tunggu.
Sudah kembali ke kantor?
Ini hampir jam makan siang.
- Yang lainnya ada di bawah. - Tak apa, Romo.
- Ada yang mau kubereskan. - Itu bisa menunggu.
Makanlah bersama kami, ayo.
Kau kenal Erika Sayco?
Apa yang terjadi pada Erika?
Pada Clara?
Dahulu aku guru BP.
Saat itu, hanya suster yang diizinkan bekerja di Sta. Lucia.
Bagaimana kita bisa menolong orang yang tak mau ditolong?
Erika Sayco seperti itu.
Cara Tuhan adalah satu-satunya cara yang kutahu untuk menolongnya.
Tapi Tuhan tak cukup baginya.
Jadi, kau menyerah?
Kini aku mulai menyadari...
Tuhan tak memiliki semua jawaban.
Maafkan aku.
Lalu kenapa kau terus menghalangi?
Kenapa aku tak boleh menolong mereka dengan caraku?
Sampaikan kepada Erika, aku minta maaf.
Suruh dia minta pengampunan Tuhan atas hal yang dia lakukan.
"Hal yang dia lakukan?"
Bukan cuma Fidel yang ada di sini pada malam Clara meninggal.
Ada alasan kenapa roh tetap ada di bumi ini.
Aku tak pernah berani mencari tahu alasannya.
Inilah yang diajarkan kepada kami.
Aku berupaya keras menyembunyikan kebenaran ini...
dari Sta. Lucia, dari Clara,
dan darimu, Patricia.
Ada hal-hal yang terlalu jahat dan tak akan bisa kita pahami.
Ada jiwa yang dipenuhi oleh kebencian
hingga selalu ingin melukai orang hidup.
Saat itu, aku tak tahu harus berbuat apa, tak ada yang bisa kulakukan.
Aku tak sepertimu.
Aku tak akan menyerah menghadapinya.
Pat!
Pat!
- Pat! - Maaf mengganggumu.
- Tak masalah. - Masuklah.
Kutemukan apa yang kau cari.
Kau perlu lihat ini.
- Apa yang kau temukan? - Soal Erika, tak ada.
Dia gantung diri di toilet Sta. Lucia.
Cuma itu bukti yang kutemukan.
Itu dianggap bunuh diri, tapi aku memeriksa berkas ayahnya,
Ernesto Sayco.
Ayah Eri?
Dua tahun setelah kematian Eri, dia membunuh istrinya.
Di dalam mobil, di luar Sta. Lucia, dia mencekik istrinya.
- Itu yang dia ceritakan kepadaku. - Siapa?
Seorang muridku menceritakan soal ini.
Ernesto dijatuhi hukuman mati.
Mereka bilang dia jadi gila setelah kematian putrinya.
Tapi tak ada motif yang jelas.
Aku dapat pengakuannya.
Dengar.
Ya, aku membunuh istriku.
Kenapa kau membunuhnya?
Entahlah. Aku tak bisa mengendalikan diriku.
Kami sering ribut, tapi tak pernah begini.
Aku penuh dengan kemarahan.
Kemarahan yang tak pernah kurasakan...
Kau punya perekam kaset, bukan?
Ini pengakuan Fidel.
- Tolonglah, aku tak berniat melakukannya. - Bukan, aku tak akan tega melakukan ini.
- Tolonglah, aku bukan pembunuh. - Bukan salahku. Tak bisa kukendalikan.
- Kujulurkan tangan ke lehernya... - Kujulurkan tangan ke lehernya...
- Aku mencekiknya. - Aku mencekiknya.
- Entah kenapa kulakukan. - Tak bisa kendalikan diri.
- Tak ada kendali. - Entah kenapa.
- Kumohon, jangan masukkan aku ke penjara. - Entah apa yang merasukiku.
Aku punya keluarga!
Aku harus pergi.
Tunggu, mau ke mana?
- Aku harus pergi ke Sta. Lucia. - Tunggu, aku ikut.
Kenapa dia lakukan? Kenapa mendadak membunuh?
Jika memang benar, kenapa? Apa motifnya?
- Apa yang dia dapatkan? - Tunggu.
Aku tak mengerti ucapanmu.
Ada yang salah.
- Apa yang salah? - Semua!
- Aku bisa atasi sendiri. - Tunggu, kau mau ke mana?
- Pat! - Terima kasih!
Eri?
Eri?
Kenapa kau menangis?
Sakit.
Sakit sekali.
Begini saja.
Aku akan masuk.
Kau tak akan melihatku.
Aku tak akan melihatmu.
Tapi kita akan bicara.
Bu Pat, kenapa kau terus kembali kemari?
Aku mau tahu motif orang yang melakukan ini padamu.
Jika berhasil, mungkin aku akan tahu cara bicara dengan orang sepertimu.
Orang sepertiku?
Orang yang dianiaya.
Kau akan tetap ada?
Aku akan tetap ada.
Selamanya?
Selamanya.
Kau akan ikut aku...
ke Neraka?
- Apa? - Apa kakakmu ada di sana?
Bukankah bunuh diri itu dosa?
Itu yang diajarkan pada kami.
Sor Alice bilang begitu.
Orang sepertiku,
seharusnya tak pernah dilahirkan.
Eri, itu tak benar.
Itu yang mereka katakan padaku.
Aku tak punya teman.
Tak ada yang mau berteman denganku.
Bahkan dia.
Terutama dia.
Tak ada yang memahamiku.
Mereka tak mau dengar.
Bahkan di rumah...
ibuku memotong rambutku sampai pendek...
Begitu... jelek.
Aku ditertawakan.
Mereka semua.
Aku ingin mati.
Orang bilang, Tuhan selalu benar.
Hanya Tuhan satu-satunya.
Semua harus tunduk kepada-Nya.
Kebahagiaan-Nya harus diutamakan, meski kita menderita.
Aku berusaha pergi, tapi mereka melarangku.
Kita semua harus menderita demi Tuhan yang kita kasihi.
Tapi kuperhatikan hanya aku yang menderita.
Maka aku berjanji suatu saat nanti...
aku tak akan menderita sendirian.
Demi Tuhan, kita harus bersama-sama.
Orang tuaku datang ke Sta. Lucia untuk mengambil barang-barangku.
Saat itu, aku sadar aku bisa melakukan hal-hal
yang tak bisa kulakukan saat masih hidup.
Ibuku, begitu mudah dibunuh.
Dia lemah.
Tapi ayahku...
dia bahkan lebih lemah.
Apa yang kau lakukan?
Kau masih tak tahu?
Kupakai Fidel untuk membunuh Clara...
agar aku punya teman.
Tapi saat dia di sini, dia tak mau berteman denganku.
Dia seperti para gadis lain.
Eri, perbuatan mereka padamu memang salah.
Tapi ini...
Membunuh orang?
Seperti mereka membunuhku tiap hari.
Kini kau tahu...
masih ingin bersamaku?
Apa?
Aku sudah cukup puas sendirian.
Tapi suatu hari, kau muncul.
Berteman denganku.
Kau menyuruhku keluar dan berteman dengan yang lain.
Kau tahu apa yang kutemukan?
Tak ada yang akan memahamiku.
Orang-orang sepertimu!
Aku tak bisa hidup kembali,
tapi kalian bisa menjadi seperti aku...
Mati.
Pertama, Clara...
kini, kau!
Kau tak akan lari seperti dia, bukan?
Dia datang.
Bu Pat? Kenapa kau lari?
Bukankah ini yang kau mau?
Kini kita akan tahu ucapan dan pikiran mereka.
Tak perlu kau tanyakan lagi.
Eri, tolong jangan lakukan ini, mari bicara. Lepaskan Julian.
Dia datang.
Tolong!
Tolong!
Eri!
Setelah malam itu, aku tak pernah melihat mereka lagi.
Eri, maupun Clara.
Entah mereka ke mana.
Kini Sta. Lucia sangat sunyi...
Terlalu sunyi.
Aku tak tahu harus bilang apa lagi...
kepada Julian...
kepada polisi...
kepada Sor Alice.
Tak ada yang bisa kuajak bicara.
Tak ada yang akan percaya.
Jika Fidel membunuh Clara...
tak ada yang bisa kulakukan untuknya...
atau untuk Eri.
UNIVERSITAS HATI SUCI
Joyce?
Joyce?
Joyce!
Joyce!
Joyce!
Bu Pat...
Bu Pat,
jika kau bisa mendengarku...
Jika kau sungguh bisa mendengarku, tolonglah aku.
Joyce!
Aku di sini, Joyce.
Aku selalu di sini.
Terjemahan subtitle oleh Froellen (Ellen) Tjandra
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.