Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitle Wetv Dibawa Oleh@Dyah
[Lilin dalam Kubur]
[Episode 05]
Lari ke mana mereka?
Ke mana?
Sudah mati?
Ayo lihat.
Mau tanya,
melihat 3 orang asing tidak?
Ada yang gemuk,
yang kurus,
satu lagi tinggi.
Tidak lihat.
Akhirnya lolos juga.
Sekarang,
jika mau selamat, harus cepat pergi.
Cepat pergi.
Kuberitahu, jika sekarang ke pelabuhan atau terminal.
Sama dengan menyerahkan diri.
Menurutku kita sembunyi dulu,
setelah mereka tidak mencari
baru pergi dari sini.
Mengatakannya mudah,
sembunyi di mana?
Tunggu.
Aku lihat.
Apa ini?
Pemberian pak tua.
Dalamnya ada penunjuk arah.
Di atas Zhen, di bawah Kan.
Zhen bergerak, Kan berbahaya.
Bergerak saat bahaya.
Ini minta kita lari?
Lari ke mana?
Jimat ini mengatakan barat daya bagus.
Ke barat daya.
Tunggu.
Masih ada.
Meski banyak cobaan,
bersembahyang pada dewa.
Aku mengerti.
Maksudnya kita harus sembah pada dewa,
melindungi kita agar lancar.
Salah.
Di bawahnya masih ada.
Ini adalah Li.
Mengapa Li Gua?
Aku tidak mengerti.
Tidak perlu pikirkan.
Menurutku, kita ke barat daya,
sambil berpikir.
Benar kata Hu.
Seperti dulu,
Liu Bei ke Jiang Dong,
Zhu Ge Liang memberi 3 kantong,
akhirnya dibuka satu per satu juga?
Benar, 'kan?
Tunggu aku.
Nona, cari siapa?
Apa kabar, bibi.
Apakah ada Hu Ba Yi dan Wang Kai Xuan ?
Mereka sudah pergi.
Sudah sekitar 10 harian tidak pulang.
Terima kasih.
Baik.
Nona, mau apa?
Apa kabar pak.
Aku mencari orang.
Siapa?
Profesor Sun.
Apa ada surat?
Siapa yang merekomendasikanmu?
Surat apanya?
Ini...
Memperkenalkan pasangan.
Surat rekomendasi pun tidak tahu,
masih ingin masuk.
Pak,
aku datang khusus dari Amerika.
Aku teman profesor Chen Yong Ren.
Nona,
kamu orang luar?
Pantas tak tahu aturan.
Kamu tinggalkan pesan,
nanti kusampaikan.
Kapan aku bisa berjumpa dengannya?
Ini tidak pasti.
Profesor Sun ini,
emosinya buruk.
Bertemu atau tidak,
tergantung suasana hatinya.
Profesor Sun,
ada yang mencarimu di bawah.
Sudah kubilang tidak menjumpai siapapun, 'kan?
Dia datang jauh dari Amerika.
Presiden Amerika pun tidak kujumpai.
Ini...
Dia berikan pesan.
Aku taruh di sini.
Anda profesor Sun?
Aku Shirley Yang.
Profesor Chen yang memintaku kemari.
Anda mengenal simbolnya?
Punggung paman Chen,
tumbuh bintik merah yang sama dengan ini.
Lao Chen telah memberitahumu?
Benar.
Dua tahun lalu,
di antara tulang yang diangkat dari Desa Gu Lan.
Ada tempurung yang sempurna,
di atasnya ada simbol ini.
Ini tulisan apa?
Bukan tulisan.
Simbol ini seperti tulisan kuno,
tapi ada perbedaan besar di antaranya.
Banyak kebetulan di dunia ini.
Ada biji yang seperti kepala manusia,
sesuatu di punggung Lao Chen,
mungkin juga sebuah kebetulan.
Tidak parah, 'kan?
Profesor Sun,
aku tahu anda adalah ahli dalam simbol kuno.
Tahun lalu,
tongkat Firaun Mesir yang diangkat
dari makamnya.
Semua ahli tidak berdaya,
setelah arahan dari anda,
simbol itu terpecahkan.
Barulah tahu ini adalah
tongkat Firaun di legenda.
Jika anda mau membantu mereka,
mengapa tidak membantu teman lama?
Aku hanya mau tahu,
apa arti dari simbol di tempurung kura-kura ini.
Bukan tidak mau mengatakan,
pesan kuno ini adalah rahasia negara.
Sebelum ada kepastian,
kami tidak boleh mengatakannya.
Baiklah.
Aku juga tidak memaksa.
Tetapi
kuperlihatkan sesuatu lagi,
baru anda putuskan.
Lao Hu,
kenapa Si Buta Chen membantu kita?
Tidak tahu.
Sejauh ini,
yang dia katakan benar.
Itu,
bisakah kita istirahat dulu?
Aku tak sanggup lagi.
Lao Jin,
tubuhmu sangat lemah.
Sudah harus istirahat.
Jangankan dia.
Perutku kosong,
bahkan sudah keram.
Akhirnya ada tempat istirahat.
Ayo.
Tuan.
Tuan.
Apa kabar tuan.
Kami orang luar,
tersesat di sini.
Boleh beri kami air minum?
Tuan,
kamu paham bahasa kami, 'kan?
Anak muda,
bisa bicara dengan baik?
Aku paham.
Kalian haus,
lapar,
lelah.
Kami bukan orang jahat.
Benar.
Anda pernah lihat orang jahat sebaik diriku?
Kau tidak seperti orang jahat.
Kalian berdua,
belum tentu.
Masuklah.
Terima kasih.
Ini makanan sisa tadi siang,
semoga tak keberatan.
Tentu tidak.
Terima kasih.
Terima kasih, pak.
Baik.
Kalian berdua,
cepat kemari.
Kenapa? Kami sedang makan.
Cepat kemari!
Lihat sesuatu yang baru.
Apanya?
Yang jarang ada atau yg baru?
Kau tak apa, 'kan?
Hu, lihatlah.
Bagaimana?
Ini barang bagus.
Mengapa ada di sini?
Menurutku,
ini dari dinasti awal Zhou barat.
Sayangnya,
tulisannya kabur.
Kalau begitu,
sekitar sini ada kuburan dinasti Zhou.
Aku menyadari kau
sangat lincah dalam hal ini.
Wangi?
Lumayan.
Mataku hanya sedikit perih.
Anak muda!
Itu toilet.
Makan di sini.
Cepatlah.
Tuan,
batu pijakan di toilet anda
dari mana datangnya?
Dari aku kecil sudah ada.
Dulunya,
ada profesor dari Beijing,
mengatakan ini barang bagus,
Bagus memang bagus, tapi tidak bisa dimakan.
Kujadikan penutup toilet.
Tuan,
aku ingin bertanya.
Anda kenal Ma Da Dan?
Tentu aku tahu.
Dia itu,
dengan gerombolannya,
tak lama setelah datang ke desa Gu Lan
memulai usaha toko peti mati.
Nama panggilannya,
Raja Kejam.
Katanya,
di tokonya ada satu peti mati,
jika Ma Da Dan memukul peti itu,
maka akan ada satu orang mati.
Semakin kuat dia pukul,
tempat orang yang mati akan lebih jauh.
Saat bisnisnya tidak baik,
dia akan memukul peti matinya.
Benarkah?
Begitu mengerikan.
Jika begitu,
kalian tidak hancurkan tokonya?
Ini hanya rumor,
tidak ada bukti nyata.
Bagaimana hancurkannya?
Untuk apa kalian tanya ini?
Tidak,
hanya ingin tahu.
Ada teman yang membahasnya.
Kalian mau ke mana?
Kami ke arah barat daya.
Barat daya?
Pelabuhan, 'kan?
Hati-hati di jalan.
Jangan sampai berjalan ke dalam gua rahasia.
Gua rahasia?
Apa itu?
Yang di depan Kuil Tulang Ikan.
kelihatannya seperti tempat biasa,
jika tidak waspada,
akan jatuh ke dalam lubang dalam.
Jika kamu jatuh,
maka tidak bisa keluar lagi.
Kami penduduk lokal,
menyebutnya gua rahasia gunung Long.
Tempat itu sungguh mistis.
Pagi hari pun bisa tersesat di sana.
Penuh aura negatif.
Banyak orang yang mati di sana.
Bulan lalu ada sekelompok tim eksplorasi,
katanya mau menggali uranium.
Setelah ke dalam,
tidak keluar lagi.
Satu pun tidak keluar.
Hu,
jalan kita tak salah, 'kan?
Depan sana tak ada jalan.
Pang.
Sudahlah, Jin.
Jangan banyak bicara.
Ikuti saja Lao Hu.
Dan juga,
tubuh kecilmu tidak lincah.
Ini baru beberapa langkah,
kau sudah tertinggal.
Badanku ini,
bisa dibandingkan dengan kalian?
Aku di Beijing,
selalu di dalam rumah.
Sudahlah.
Seumur hidupmu,
hanya berbaring di ranjang.
Itu,
kita bernafaslah sebentar.
Bukankah ini terus bernafas?
Tidak bernafas sudah mati, 'kan?
Bukan.
Bahkan tak ada jalan setapak.
Ini sangat menyiksaku.
Bagaimanapun,
jarak tempuh kita tidak dekat.
Hu, tak salah arah, 'kan?
Seharusnya tidak.
Sepertinya,
si Buta Chen memang membantu kita,
menunjukkan jalan ke pelabuhan.
Puisi menyembah dewanya,
bagaimana bacanya?
Sesulit apapun keadaan.
Sertakan doa dalam setiap langkah.
Saat kita melewati Kuil Tulang Ikan.
Cepat sembahyang.
Sembahyang apanya?
Itu.
Apakah itu Kuil Tulang Ikan?
Mana?
Di sana!
Itu.
Iya, 'kan?
Jika Kuil Tulang Ikan ini tempat bagus,
akan kubakar buku Feng Shuiku
saat kembali nanti.
Ini cukup bagus, 'kan?
Angin berhembus.
Ada angin.
Di sini kekurangan air.
Jika di sini ada sungai besar,
air muncul lagi,
bukankah ini tempat pusaka?
Seberapa banyak sungai juga bukan tempat bagus.
Memperbaiki kuil dan rumah,
yang diperhatikan berbeda lagi.
Mendirikan kuil seperti membuat keuntungan,
jadi tempat membangun kuil
harus tempat jatuhnya bintang dan puncak gunung.
Itulah yang disebut dengan pedalaman gunung
tidak bisa didirikan kuil.
Selain Kuil Tulang Ikan ini,
kamu pernah melihat kuil di dalam lengkungan?
Meski kuil bawah tanah,
juga tidak perlu dibuat dalam lengkungan gunung.
Jika begitu,
tebakanmu benar.
Kuil Tulang Ikan ini,
untuk menutupi
kelakukan para perampok makam itu.
Kita cepat lihat.
Jika ada....
Lihat apa?
Mau mati?
Ma Da Dan segera menyusul.
Lagi pula,
tempat begini
jika memang ada kuburan,
juga bukan orang besar.
Dan juga sudah digali orang lain.
Ayo.
Tidak benar.
Yang membangun kuil ini adalah orang hebat.
Aku harus melihatnya dari dataran tinggi.
Bukan.
Ini tidak cukup tinggi?
Kalian duluan saja.
Aku istirahat sebentar.
Tidak apa, Jin.
Anda ikuti dari belakang.
Kutemani...
Ini cukup tinggi.
Lao Hu, pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Lao Hu,
lihat begitu lama,
apa yang kau temukan?
Xun Long Jue menyebut
110 gunung dan sungai,
banyak pusaka berharga.
Gunung Long ini,
terlihat seperti tanah suci.
Tapi tanahnya terlalu hancur,
bentuknya tidak jelas.
Sudah merusak kekuatan tanahnya.
Aku tidak mengerti,
meski ada makam juga bukan makam besar.
Untuk apa dia berusaha keras membangun kuil di sini?
Lao Hu,
begitu tinggi pun kita naiki?
Lao Hu,
mungkin kuil ini dibangun oleh pebisnis yang baik hati.
Mungkin tidak sengaja berbuat salah.
Mau apa ke sana?
Lao Hu.
Aku di sini, terlalu tinggi.
Aku di sini saja, tak ke sana lagi.
Baik.
Meski sekitar gunung ini gersang.
Tidak dijaga.
Tidak mendukung.
Tapi ada awan menutupi puncaknya.
Di bawahnya ada tempat tinggal.
Bisa menetap dengan damai.
Tinggi.
Tinggi sekali.
Cukup tinggi.
Kita pergi saja, ya?
Hu!
Bagaimana?
Ayo pergi.
Mengapa kau ke sana?
Aku salah jalan lagi.
Cepat jalan!
Lao Jin!
Lao Jin!
Gawat!
Hu!
Cepat!
Bertahanlah!
Mari!
Jangan gerak! Nanti semakin ke dalam!
Hu, aku cari sesuatu!
Lao Hu!
Pang!
Aku tak ingin mati!
Bertahanlah!
Tunggu aku!
Pang!
Berikan tanganmu!
Bertahan!
Lao Jin!
Pang, bertahanlah!
Kutolong Lao Jin!
Lao Hu!
Aku...
Pang!
Suara apa?
Ini di mana?
Mengapa aku di sini?
Pang, ini aku.
Lao Hu?
Kenapa kau juga di sini?
Apa aku bisa biarkan kamu sendiri?
Mari. Pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Tidak apa, kan?
Tidak apa. Pantat agak sakit.
Jangan tekan.
Sakit. Jangan tekan.
Ayo.
Hampir saja aku mati.
Lao Jin!
Aku tak kuat lagi.
Keluarkanlah tenagamu.
Lao Jin~
Tidak bisa. Pantatku sakit.
Kenapa?
Minta kamu teriak,
Kenapa seperti diapa-apain orang?
Apanya?
Apa itu Lao Jin?
Dia seperti sudah diapa-apain orang.
Omong kosong apa?
Lao Jin!
Lao Jin!
Sakit.
Di sini.
Lao Jin!
Pelan-pelan.
Tempat apa ini?
Lao Jin...
Lao Jin.
Ini jejak sepatu Jin, 'kan?
Apa ini?
Tanda gigitan?
Kenapa berguling dan merangkak di tanah?
Lari dari sesuatu?
Lari?
Lao Jin!
Di sini.
Lao Jin!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.