All language subtitles for Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah 2025 1080p WEB.x264.AAC.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino Download
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese Download
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

- Bu? - Ya?

Aku ambil kipasnya Ibu, ya?

Jangan lupa dikembalikan, ya.

Ini makin parah ya, Bu?

Di kamar, 'kan, Bu?

- Aku ambil ya. - Ya.

Hei, Lin.

Lagi buru-buru, Yah.

Eyang!

- Mau sekolah? - Ya.

Hati-hati.

- Bu? - Ya?

Kunci motor mana ya, Bu?

Itu, ada di belakangmu.

Di mana, Bu? Tidak ada.

Bu?

Itu.

- Tidak ada, Bu. - Ini, digantung di sini.

Dari kemarin di sini taruhnya.

Cucu Eyang Uti.

Kok ini belum dikancing, Nis?

Titip dulu ya, Bu, aku sambil menyalakan motor.

Kenapa, Kak?

Harus ambil data ulang.

Ini kok mati, Ca?

- Bu? - Ya?

Kok ini kipasnya mengadat?

Ini ditepuk-tepuk, Kak.

Tidak jadi, Bu. Bisa.

Bu.

Baju olahraga Asya di mana, ya?

Ada di belakang.

Tolong masukkan ke tas ya, Bu, bajunya?

- Asya sudah terlambat banget ini. - Ya.

Bu.

Motornya tidak bisa distarter.

Ayah mana, Bu?

Ayah masih di belakang sepertinya.

Masih saja kau menanyakan Ayah.

Anis.

Ya sudah, Bu, jalan dulu. Asalamualaikum.

- Alaikum salam, hati-hati ya. - Bareng, Kak.

- Ya sudah, ayo. - Pamit ya, Bu.

Semoga makin sukses, pintar.

Skripsinya cepat selesai.

Jadi dokter yang hebat.

Amin.

- Duluan ya, Bu. - Ya.

Bu, Asya berangkat ya.

- Asya, hati-hati ya. - Ya.

- Dadah. - Ibu tidak ke ruko?

Ibu harus ambil cucian dulu di belakang.

Bu, jalan dulu ya.

- Ya. - Asalamualaikum.

- Dah. - Alaikum salam.

- Pagi, Bu Wulan. - Pagi, Bu.

- Ini cuciannya. - Terima kasih, Bu.

Ya, sama-sama.

Bu Wulan, sarapan dulu, Bu!

Naik sepeda terus, nanti makin kurus, lo.

- Mari, Bu, duluan. - Mari.

Ayo, Sayang. Sini, hati-hati.

Belajar yang benar ya, Nak.

- Selamat pagi, Bu. - Pagi.

Pagi, Nando.

- Mari, Bu, aku antar. - Titip ya, Bu.

Ya.

Coba aku lihat.

Kau yakin ini datanya benar?

Kenapa berbeda dengan sampel sebelumnya?

Ini aku sedang coba cek ulang, Dok.

Tapi kalau memang ada yang tidak sesuai,

aku masih bisa ulang, 'kan, ya?

Tidak perlu.

Kau pastikan saja samplingmu valid.

Kalau datamu tidak konsisten,

skripsimu harus diulang.

SELASA, 22 JULI

Pak?

Ini kenapa aku juga ditinjau ulang ya, Pak?

Efisiensi kementerian.

Semua mahasiswa yang di jalur ini sedang dievaluasi ulang.

Kau tidak sendirian, banyak yang mengalami juga.

Ya, Pak, tapi kalau aku…

Tapi aku tidak bisa apa-apa.

Sudah, pokoknya selama masa evaluasi, tidak usah aneh-aneh.

Banyak yang mau bertahan, persaingannya ketat.

Tapi aku lewat jalur tidak mampu, Pak.

Coba menghadap wakil dekan.

Bagaimana, Lin?

Disuruh menghadap wakil dekan.

Tapi tidak ada orangnya.

Aku tadi ke sana, katanya disuruh bersaing.

Persaingannya ketat.

Mau bersaing bagaimana?

Aku saja lewat jalur tidak mampu.

Mau bersaing sama siapa yang lebih miskin, apa?

Tapi kalau peninjauannya tak lolos,

bagaimana aku bisa kuliah ya?

Kalau tidak kuliah…

Menikah mungkin?

Ya, 'kan?

Aku sangat ingin menikah dengan anak orang kaya,

tak perlu yang namanya belajar, belajar terus tiap hari.

Kau sudah kaya dari sananya.

Menikah itu tidak bisa menyelesaikan masalah.

Bisa.

Suami kerja, kita foya-foya.

- Jangan kasih jatah ya, sebelum nikah. - Benar, itu.

Aku rasa,

Irfan sudah tidak sabar menikahimu.

Ya. Lihat itu, senyam-senyum sendiri. Tampan pula.

Tampan dan berduit.

Kalian ini.

- Duluan, ya. - Dah.

Sudah, cepat sana menikah.

Dia hanya menunggumu.

Kenapa si Lulu?

Duluan ya.

Jalan dulu, Yah.

Hei, Nis.

Buatkan kopi dulu.

Buru-buru, Yah, ada interviu lagi.

Bikin kopi cuma sebentar.

Kau kemarin banyak interviu.

Apa tidak ada yang lolos?

Belum ada yang kasih jawaban.

Sebanyak itu?

Itu mereka yang salah,

atau kau yang tidak mampu?

Dulu Ayah tidak pernah pilih-pilih kalau kerja.

Apalagi zaman sekarang.

Zaman lagi susah.

Yang mencari saja susah,

bagaimana yang cuma duduk-duduk dan merokok?

Jangan lupa kunci pintu, Yah.

Asalamualaikum.

Kau kenapa tidak lanjut di kos saja sampai skripsimu selesai?

Bolak-balik Jakarta dan Bogor itu jauh.

Sayang uang kosnya.

Lagi pula, bolak-baliknya tidak setiap hari.

Tapi tidak apa-apa.

Aku jadi bisa ketemu ayahmu dan ibumu.

Kayak mereka mau saja ketemu sama kau.

Mau lah.

Terus bagaimana?

Kapan kau mau lihat rumahnya?

Sebelum akad.

Aku sudah oke.

Lokasinya bagus.

Ya sudah, kalau kau sudah suka.

Sini, Sayang.

Lalu…

Beasiswamu bagaimana?

Masih belum jelas.

Bagaimana mau ambil spesialis kalau seperti ini?

Kasihan Ibu kalau harus menanggung semuanya.

Sayang.

Kalau kau menikah denganku,

kau tidak perlu lagi jadi beban Ibu.

- Sudahlah. - Kau jadi tanggung jawabku, Sayang.

Kita sudah berpacaran lima tahun, Sayang.

Kalau kita mau menikah, ya sudah tinggal menikah.

Tidak "tinggal" kali, Fan.

Kak, tolong.

- Berat banget. - Ya, sebentar.

Aduh, itu bocor juga lagi.

- Aku mau bantu. - Nando, jangan, Nak.

- Di sini saja. - Mau ke mana?

Sudah, di sana saja.

Lo, mau ke mana kau?

Jangan lari-lari.

Licin di sana, Nak. Jangan di sana.

Nando, jangan ke mana-mana.

Aduh.

- Aduh. - Cepat!

Aduh…

Nando di sini saja ya. Jangan ke mana-mana ya?

- Sini ya, Kak? - Aduh…

- Ibu naik, ya. - Bu, masih hujan juga.

Itu TV tolong dicabut listriknya. Hati-hati.

Nando, jangan ke mana-mana ya?

Sudah, ayo, Ca.

Ca, Kakak bantu Ibu ya? Sebentar.

Nando, kau di sana saja.

Hati-hati, Bu.

- Asalamualaikum. - Asalamualaikum.

Bu?

Kak?

Kok bisa separah ini, Kak?

Ya, jebol.

- Kak, tolong. - Ca, aduh.

Bu?

Ibu sedang apa di sana?

Alin, jangan di sana.

Minggir, itu bahaya.

Ya.

Bu, hati-hati!

Kak Alin, bantu aku.

- Kak. - Ca.

Tolong.

Sini.

Astagfirullah. Kapan selesainya, Ya Allah?

Ada laki-laki tidak di rumah ini?

- Kak. - Ca, tolong.

Ya ampun.

Kasih aku.

Buat apa coba berpura-pura jadi ayah?

Ayah mana?

Ma, mati lampu!

- Ca, lilin. - Handphone mana?

- Senter. - Senternya mana? Oke.

Ada tidak, Ca?

Ada, sabar sedang kunyalakan.

Fan, kau pulang saja.

Ini tidak apa-apa?

- Tak apa, sudah bisa kok. - Serius?

Ya.

- Terima kasih, ya. - Ya.

Bu.

Ini punya Ibu?

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Bu?

Aku bawakan ini, sekalian mampir.

Terima kasih, ya.

- Jebolnya parah? - Sut, Ca.

- Ya. - Siapa?

Selamat ulang tahun ya.

- Sudah tua. - Hari ini ulang tahun Ibu?

Apa?

Memangnya ini tanggal berapa?

Ternyata ya.

Ibu ulang tahun.

Kok bisa lupa ya?

Masih ada kue. Ayo, sini.

Besok aku mampir bisa?

Oke. Aku tunggu.

- Terima kasih banyak. - Ya.

Bu.

Duduk, Bu.

Selamat ulang tahun, Ibu.

Selamat ulang tahun, Ibu.

Selamat ulang tahun.

Kenapa?

Kami tidak ada yang ingat ulang tahun Ibu.

Maaf ya, Bu.

Yang penting kita semua sehat.

Ya, 'kan?

Eyang.

Selamat ulang tahun, Eyang.

Ini.

Tiup lilin sama Eyang.

Yuk, satu, dua, tiga.

Lagi.

Satu lagi.

Hore!

Selamat ulang tahun, Ibu.

Ibu sehat-sehat, ya.

Semoga Ibu panjang umur.

Kami sayang Ibu.

Loh? Kenapa ini?

Bocor?

Dari mana saja, Yah?

Dari mana, Yah?

Ibu mana?

Di kamar.

Kok bisa bocor ya, Bu?

Yah, namanya sudah lama tidak dibetulkan.

Tadinya uang ini mau aku setor ke bank.

Tapi sekarang seharusnya dipakai untuk bayar tukang, Ayah.

Uang itu aku pinjam.

Nanti aku kembalikan.

Ya?

Si Tita anaknya ulang tahun, masa…

Aku sudah belikan kado, Ayah.

Masa cuma kado, Bu?

Sudahlah, aman, ya?

Aku pasti ganti, masa tidak percaya pada suami sendiri?

Bukan begitu, Ayah. Ayah lihatlah.

Ini bocornya sudah tak keruan.

Ya, aku tahu!

Kau pikir aku tidak tahu?

Aku lihat semua ini.

Memangnya selama ini aku tak pikirkan?

Aku juga memikirkan!

Mau ke mana lagi, Yah?

Cari orang buat bantu membetulkan genteng.

Bu.

Itu Ayah cari tukang malam-malam.

Tidak jadi sama Pak Andri, Bu?

Ibu mandi dulu, ya.

Biru?

1 Januari 1997.

Aku pikir Biru akan lupa merayakan tahun baru bersama.

Tapi ternyata tidak.

Setelah isya, dia menjemputku di depan gang.

Ayo cepat!

Selamat Tahun Baru.

Selamat Tahun Baru!

Wah.

Ini berarti sudah tahun yang kelima ya?

Kita merayakan tahun baru bersama?

Aku yakin

akan ada perayaan yang keenam,

ketujuh, kedelapan, sampai ke seratus!

Manusia tidak hidup selama itu.

Ya.

Tapi cintaku

bisa hidup selama itu.

Apa?

- Biru. - Ya?

Harapanmu tahun ini apa?

Harapanku…

Semoga kita bisa sama-sama sampai tua.

Melihat kembang api.

Aku juga mau itu, Biru.

Tapi…

Kau tidak usah takut.

Aku pastikan semua itu bisa terjadi.

Tante sedang apa?

Nando.

Kok kau bangun lagi?

Bukannya sudah tidur?

Mama mana?

Kenapa tidur di sini, Lin?

Asya masih menelepon pacarnya.

Aku malas mendengarnya.

- Kak. - Ya?

Dulu Ayah sama Ibu pernah main kembang api tidak?

Tidak, dari dulu kita tidak pernah main kembang api.

Kalau waktu kita kecil, Kak?

Tidak.

Kenapa memangnya?

Bukannya Ibu suka ya main kembang api?

Tahu dari mana kau, Ibu suka main kembang api?

Kalau memang benar Ibu suka main kembang api,

lalu Ayah bilang tidak, Ibu bisa apa?

Buktinya dari dulu kita tak pernah main kembang api.

Ya sudah, tidur sana.

Nanti kejatuhan tokek, lo.

Bu.

Dulu Ibu

ketemu sama Ayah bagaimana, Bu?

Dikenalkan oleh kakekmu.

Kok tumben pertanyaannya seperti itu?

Jadi, Ibu sama Ayah dulunya tidak pernah pacaran, Bu?

Ya, pacaran, tapi sebentar.

Dulu…

sebelum menikah dengan Ayah, Ibu pernah bahagia, ya?

Memangnya Ibu kelihatan tidak bahagia, begitu?

Ibu bagaimana tahunya kalau dulu sudah siap menikah?

Apa ini? "Siap menikah"?

Kau mau menikah dengan yang mirip Ayah?

Kau menyebalkan.

Ya, halo?

Oh.

Ya, kemarin Mas Tio sudah cerita.

Katanya mau menyumbang makanan ya?

Oh. Ya sudah, nanti Mbak Wulan transfer.

Oke.

Siapa, Bu?

Tante Tita.

Ayah sudah transfer ke Tita belum?

Nanti saja ya.

- Aku mengantuk. - Tapi aku sudah tak ada uang lo, Yah.

Ini kita masih harus…

Hei, memang aku punya?

Kita mesti buru-buru, Ayah. Ini gentengnya sudah harus dibetulkan.

Nanti ya. Aku kerjakan nanti. Aku mengantuk.

Ibu harus ke ATM dulu.

Ya sudah, sama aku saja, Bu, sekalian jemput Nando.

Ibu siap-siap dulu, ya.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Hai.

Kok kau tak bilang mau datang jam segini?

Sengaja.

Ini lagi pada pergi, ya?

Cuma ada Ayah di dalam.

Oh pas banget, sekalian saja ajak Ayah.

- Ke mana? - Lihat rumah yang kemarin aku bilang.

Aku sudah buat janji.

- Yuk? - Fan.

- Aduh, hari ini? - Sebentar saja.

- Tapi kok kau tidak bilang padaku? - Sudah.

Kau lihat dulu rumahnya, Sayang.

- Itu tempatnya bagus. - Tapi aku harus menyelesaikan skripsi.

Belum selesai.

Katanya…

"Ya sudah, kalau kau suka."

Begitu.

Tapi, benar, tidak bisa hari ini.

Masih banyak yang harus aku revisi skripsinya.

Sayang.

Aku mau kita menikah.

Kalau kau masih fokus dengan info beasiswa

dan kuliah, mau sampai kapan?

Masih belum jelas juga, 'kan, infonya?

Lebih baik bersamaku, 'kan?

Lebih jelas.

Sebentar, handphone Ibu.

PANGGILAN SUARA TIDAK TERJAWAB

PANGGILAN MASUK: ANIS

Halo?

Lin, handphone Ibu tertinggal di rumah.

Boleh tolong bawakan ke ruko?

Ya, nanti aku antar.

Terima kasih, ya.

- Tante. - Terima kasih ya, Irfan.

- Sama-sama, Tante. - Ibu mau ke mana?

Ibu masih ada keperluan sebentar.

Ini kalian mau langsung pulang atau mau…

Kami mau…

Kami mau langsung pulang, Bu.

Ibu pergi dengan siapa?

Bersama teman Ibu.

Kebetulan Ibu mau panggil tukang untuk reparasi listrik di rumah.

Ya sudah. Hati-hati ya, Bu.

Kau hati-hati, ya.

- Mari, Tante. - Terima kasih ya, Irfan.

Kenapa?

Ikuti mereka, Fan.

Oke.

Sayang.

Tidak mungkin ibumu selingkuh.

Ya, tapi kau lihat saja sendiri.

Mungkin itu cuma teman.

Kok kau bisa berpikir seperti itu?

Sayang, sudah.

Itu.

Tidak mungkin, 'kan, cuma teman?

Kau mau bilang pada ayahmu?

Berengsek!

Pak, sudah selesai, ya.

Ya.

Permisi, Pak.

Ayah?

Sudah selesai listriknya?

Sudah, tadi…

Sudah selesai, sudah menyala. Ayah awasi tadi.

Lin?

Sini.

Habis jalan sama Irfan?

Ayah dengar obrolanmu dengan Irfan.

Sepertinya dia baik.

Bertanggung jawab.

Dan sayang padamu.

Ayah pasti setuju.

Ayah yakin Ibu juga setuju.

Ayah pergi dulu, ya.

Yah?

Ya?

Hati-hati.

Terima kasih.

Biru…

14 Maret 1997.

Hari ini Biru datang dan menyatakan keseriusannya.

Merintis usaha?

Ya, Om.

Sekarang memang masih kecil,

tapi aku akan fokus untuk mengembangkannya.

Bukannya kau itu mahasiswa kedokteran?

Betul, Om.

Kenapa buka usaha sablon?

- Aku melihat ada potensi… - Tidak fokus.

Kau itu laki-laki.

Kau akan menjadi suami

dan bertanggung jawab atas keluargamu.

Baik, Om, aku akan lebih fokus dan berusaha lagi, jadi…

Kau boleh pulang sekarang.

Bapak?

Silakan.

Biru…

Silakan.

Permisi.

- Bapak kenapa harus… - Diam!

Kau pikir Bapak tidak tahu?

Kau sering bolos sama laki-laki itu, 'kan?

Percuma Bapak bayar mahal pendidikanmu, kau malah asyik pacaran!

Kau ini perempuan, Wulan.

Masa depanmu ditentukan siapa suamimu.

Percuma pintar di pendidikan, tapi tidak pintar pilih suami!

Wulan, mau ke mana kau, Nak?

Biarkan saja, Bu, tak usah dikejar!

Biru!

Biru, kau mau ke mana?

Bapakmu benar.

Masa depanmu akan susah kalau bersamaku.

Kau tidak usah pergi, ya?

Maaf.

Maaf selama ini aku tidak pernah mendengarkan omonganmu.

Aku janji.

Setelah aku berhasil,

aku akan datang lagi untukmu.

Aku sayang padamu.

Maafkan aku.

Biru!

Biru…

Kau sendiri?

Tapi pekerjaan Ibu masih banyak.

Aku mau bantu Ibu.

Kau ingat tidak, dulu waktu kau masih kecil,

kau itu suka banget main air.

Semuanya dibasahi.

Sofa disiram.

Basah semua itu rumah.

Kayak waktu jebol kemarin itu.

Terus Anis lewat, terpeleset.

Jatuh.

Dia menangis kencang.

Terus Ibu minta kau minta maaf sama dia.

Bukannya minta maaf, malah tertawa.

Sekarang anaknya sudah besar.

Sudah mau jadi dokter.

Bu, sudah aku saja.

- Nanti kau lelah. - Aku sudah besar, Bu.

Sudah, Ibu istirahat saja.

Kenapa? Putus?

Ya. Putus, Bu.

Coba Ibu lihat.

Sepertinya masih bisa.

Ini mesti dipaku sepertinya.

Ya sudah, kau pakai sandal Ibu saja.

- Tidak, Bu, tidak usah. - Tak apa, Ibu sambil terapi biar sehat.

Ayo, pakai.

Bang, Bang.

Katanya mau punya mantu kaya raya.

Rokok saja masih minta.

Nanti aku ganti.

Rewel banget.

Bang, kau tidak khawatir?

Menantu boleh kaya,

tapi menikahkan anak butuh uang.

Tapi kau bekerja saja tak mau.

Kemarin menumpang duduk saja.

Utang di mana-mana.

Utang-utangku sudah lunas.

Maaf saja, Bang.

Istilah kata, istrimu yang bayar.

- Ya. - Hei.

Itu tempat cucian usahaku juga.

Nah, Wulan aku beri gaji dari sana.

Lagi pula, cuma karena rokok sebatang, kalian ungkit-ungkit usahaku.

Itu, aku kembalikan.

Mau ke mana, Bang?

- Ketemu investor. - Wah!

- Investor. - Belagu banget.

Ya.

- Asya. - Ya, Bu?

Makan bersama, yuk.

Kita belum pernah makan bersama sejak Kak Alin pulang.

Kak Anis itu sudah diterima kerja, 'kan?

Asyik. Bulan depan gajian, ya? Belikan aku kuota ya, Kak?

Enak saja, itu buat sekolahnya Nando agar Ibu tidak repot.

Kuota paling berapa?

Kak Anis baru keterima kerja.

Ya sudah, biarkan saja dia tenang dulu.

Ya sudah.

Aca minta Kak Alin saja.

Kak Alin, cepat kerja.

Ca, makanya kau itu sekolah yang benar agar dapat pekerjaan yang benar,

lalu bisa beli kuota sendiri.

Lihat, Kak, dengarkan.

Kau yang dengarkan.

Tapi untung Kak Alin lolos.

Kalau tidak, bebannya pasti di Asya.

Lo, kok beban?

Namanya usaha.

Dulu itu sebenarnya Kak Anis lolos.

Cuma karena Ibu tak punya uang, jadi, ya…

Dia gagal jadi dokter.

Untung saja Alin

dapat beasiswa.

Ibu dulu juga mau banget jadi dokter.

Tapi tak tercapai.

Gara-gara menikah dengan Ayah ya, Bu?

Kalau Nando, nanti mau jadi pengusaha.

Amin.

Biar hebat kayak Eyangkung ya?

Lebih hebat dari Eyangkung ya, Nak.

Tidak makan, Bu?

Ibu masih kenyang.

Siapa, Bu?

Dari teman Ibu.

Katanya besok dia mau kirim tukang.

Anis besok pagi ke mana?

Antar Nando, Bu.

Asya sekolah ya?

Ya, Bu.

Agak siang saja, Bu, aku sudah di rumah.

Besok kita ke rumah Tante Tita.

Kita semua harus ikut?

Tentu saja.

Aku di rumah kok, Bu.

Tidak ke mana-mana.

Kalau begitu, Ibu besok bilang pagi saja, ya?

Pak Andri ya, Bu?

Ada salep buat kutu air tidak, Bu?

Ada. Sebentar ya, Neng.

Ca.

Ya?

Ini orangnya?

Ya.

Dokter?

Ya.

Kenapa?

Dia sering ke rumah?

Tidak juga. Mungkin sebulan sekali.

Biasanya itu kalau ke rumah bawa obat kalau Ibu sakit.

Atau makanan.

Dari kapan, Ca?

Kenapa aku tidak tahu?

Kak Alin kalau pulang ke rumah paling sebulan, dua bulan sekali.

Di akhir pekan saja.

Pak Andri itu biasanya kalau datang, di hari-hari biasa seperti ini.

Cuma mampir.

Ini, Neng, salepnya.

- Oh. Terima kasih ya, Bu. - Ya.

Uangnya.

- Pas, terima kasih. - Tujuh belas ribu?

- Ya. - Ya, oke.

Ayah tahu, Ca, soal ini?

Ayah jarang di rumah.

Pulang cuma buat makan, tidur, mandi, lalu pergi lagi.

Lebih sering penagih utang datang daripada Ayah.

Separah itu ya, Ca?

Kak Alin curiga Ibu selingkuh sama Pak Andri?

Kalau Kak Anis tahu, dimarahi lo sama Kak Anis.

Menuduh Ibu seperti itu.

Hompimpa alaium gambreng.

- Gambreng! Kau jaga! - Kau jaga!

- Kak! - Ca, ada apa?

- Sini. Buruan! - Siapa?

Orang itu tahu aku, Kak.

Siapa, Ca?

Penagih utang.

Habis dari rumah pasti.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

- Bu. - Ya?

Ini salepnya.

Terima kasih.

Benar, 'kan?

- Terima kasih ya, Nak. - Ya, Ibu.

- Bu. - Lin, ini.

Sandalmu sudah bisa. Ibu betulkan. Cobalah.

Bisa?

Tadi ada penagih utang datang, Bu?

Tidak.

Aku dan Asya lihat di jalan.

Tidak ada.

Terima kasih ya, Bu.

Kau duduk saja.

Tidak apa-apa kok.

Alin?

Ya?

Sini.

Perkenalkan, ini Dokter Andri.

Kemarin tak sempat Ibu kenalkan.

Yang kedokteran, 'kan?

Ibumu suka cerita tentangmu.

Namanya juga anak yang hebat, ibunya bangga.

- Sudah selesai ya, Pak, dijamin aman. - Oh ya. Terima kasih, Pak Tarno.

Terima kasih, Pak.

Oke.

Kalau begitu, aku pamit ya.

Kalau ada apa-apa, kabari saja.

Terima kasih, ya. Sudah direpotkan terus.

Sama-sama.

Alin, aku pamit ya.

Asalamualaikum.

- Alaikum salam. - Alaikum salam.

Bu, itu tadi siapa yang datang?

Tukang, Yah.

- Apa? - Tukang membetulkan genteng.

Bagus amat mobilnya.

Kita siap-siap, yuk.

Asalamualaikum.

- Kok kau di sini? - Hai, Sayang.

Aku di-WA sama Ayah, katanya disuruh ikut.

- Ke Tante Tita? - Ya.

Katanya biar bisa lebih dekat sama keluarga besarmu.

Siapa itu?

Mas Tio.

Oh ya.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Apa kabar, sehat? - Sehat.

- Sehat, Mas. - Aduh…

Abangku ini.

Apa kabar?

- Selamat ya. - Terima kasih.

- Mas Tio. - Sehat-sehat?

- Ini Irfan? - Ya.

- Oh, akhirnya ketemu juga. - Ya.

Ayo silakan.

- Itu pacarnya Alin, Mas? - Ya.

Mereka sudah mau menikah.

Alin?

Jadi, kapan menikah?

Diam-diam saja ini?

Sudah, kalian tunggu saja undangannya.

Tidak usah banyak bertanya.

Seperti mau ikut menyumbang saja.

Lin.

Lihat Nando tidak?

Pacarnya Alin sudah kerja, Mas?

Sudah.

Kerja di kantor.

Posisi bagus juga.

Bagus itu, Mas.

Jadi, mereka berdua bisa mandiri.

- Ini, Mas. - Ya.

- Mbak. - Ya?

- Alin mau menikah itu. - Oh ya?

Ya, sama orang kantoran.

Bagus itu.

Asal jangan diminta pinjam uang lagi, Mas.

Seperti dengan mantannya si Anis. Sampai kabur begitu.

Kata siapa dipinjami terus?

Dapat berita dari mana kau?

Kalau yang kami dengar, Mas,

katanya masih ada kekurangan pembayaran.

Ya, Mas.

Sudah tahu anaknya ulang tahun, pembantunya malah pulang kampung.

- Ya… - Muak aku, Bu, seperti ini terus.

- Biar Ibu saja. - Nis.

Kenapa mantan suamimu

bilang ke mana-mana kalau Ayah punya utang sama dia?

Kenapa?

Memang benar, 'kan?

Tapi sudah Ayah bayar. Kau tahu itu.

Tidak enak, Ayah, ini rumahnya Tita.

- Apalagi masih ramai… - Diam, Wulan. Ya?

Ayo jawab, Nis.

Biasanya kau lancar kalau jawab.

Kenapa harus cerita-cerita seperti itu?

- Sengaja mau menjatuhkan Ayah? - Ayah.

Ayah itu pinjam uang buat modal usaha.

Dan kalau rumah tanggamu gagal,

jangan menyalahkan Ayah.

Itu memang suamimu kasar.

Dari dulu juga Ayah bilangnya begitu terus.

"Modal usaha". Memang ada yang berhasil?

Ini ada apa?

- Kak? - Apa?

Kau tidak tahu apa-apa, diam saja.

- Alin, sudah, tak usah ikut-ikut. - Tapi kau tak boleh begitu sama Ayah.

Kau pikir aku suka seperti ini, Lin?

Kalau bukan aku, siapa yang ambil sikap?

Ambil sikap apa?

Memangnya kau pernah cerita padaku soal rumah?

Kau tidak pernah di rumah. Kau tidak pernah pulang.

Sekalinya pulang, kau sibuk dengan Irfan.

Kau ada masalah apa dengan Irfan?

Bawa-bawa dia terus?

Aku sibuk skripsi, sibuk kuliah.

- Kau tidak mengerti. - Bisa tidak, jangan ribut di sini?

Asya tak pernah ikut campur kalau ribut di rumah.

Tapi ini di rumah Tante Tita, malu.

Sudah sering dianggap rendah, malah seperti ini sikap kita.

Ayah yang mulai, tahu?

Ya bukan waktunya saling menyalahkan, Kak.

- Kalian pikir gampang hidupku? - Ayah, sudah.

Punya anak tidak menghormatiku?

Dihormatin bagaimana, Yah?

Kita saja tidak bisa mengandalkan Ayah buat hal sekecil apa pun!

- Kak, sudah. - Aku ini bapakmu!

Aku kasih nama kau.

Jadi, menurut Ayah itu cukup?

Sudah, Kak. Sudah.

Kau tahu tidak, selama ini tiap bulan,

Ibu itu mengumpulkan receh buat bayar listrik, buat bayar utang Ayah.

Aku juga ikut berusaha, Anis!

Aduh, ini kalau tak ada yang mengalah, Ibu tidak enak. Ini rumah Tita.

- Tolonglah. - Aku mungkin bukan suami yang baik.

Aku mungkin bukan bapak yang baik, tapi aku juga ingin dihargai.

- Memang Ayah pernah menghargai kami? - Kak, sudah.

Pernah menghargai Ibu?

Yang kerja tiap hari sampai badannya sakit-sakitan?

- Sudah. - Bisakah kau tidak marah-marah?

- Kau hanya bisa marah-marah, bikin malu. - Sudah.

- Diam kau! - Sudah, Kak, apaan?

Jangan bertengkar!

- Jangan. - Tita, maaf. Aku minta maaf.

- Maaf. - Jangan bertengkar.

Malu sama yang lain. Sudah.

Sudah, ya.

Kembang api…

Dokter Andri itu Biru, 'kan, Bu?

Ibu masih berhubungan sama dia.

Kau kenapa baca-baca buku Ibu?

Kenapa memangnya?

"Kenapa memangnya"? Tidak sopan!

Pak Andri itu temannya Ibu.

Teman dari mana? Dia mantan pacar Ibu. Kau baca makanya!

Memangnya tidak cukup ya, Bu, masalah di keluarga kita,

- sampai Ibu harus selingkuh? - Hei!

Jaga mulutmu ya! Ini Ibu!

Kau kenapa cari masalah begini, Lin?

Kalau memang tak ada apa-apa, Ibu jawab!

Ibu ada hubungan apa dengan Dokter Andri?

Ca?

Asya?

Kau tahu Kak Alin menuduh Ibu selingkuh?

Tidak punya otak kau!

Kau tidak sadar, yang selama ini banting tulang buat kita siapa?

Anis.

- Sudah, Anis. - Kerja dari siang sampai malam.

Anis, sudah.

Sudah, Nak.

Ibu dapat apa?

Ibu dapat uang ya?

- Bu. - Alin!

Tenang dulu ya, Nak. Tenang dulu.

Tenang dulu.

Kau sudah tahu, 'kan, Kak?

Kenapa kau diam saja?

Jahat banget kau, tahu tidak?

Kalian semua tega banget sama Ayah!

Selama ini kau pernah memikirkan tidak, Lin?

Apa yang sudah Ibu lalui?

Lihat aku.

Apa kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri?

Yah?

Belum selesai urusanmu sama dia?

- Ayah… - Kalian lihat, 'kan?

- Siapa yang menghancurkan keluarga ini? - Ayah.

- Ayah. - Bu, sudah biarkan saja.

- Ayah! - Bu, sudah.

- Tolong kejar Ayah. - Tidak.

Terserah dia mau apa.

Nanti ada masalah lagi.

- Cepat kejar Ayah dulu. - Sudah, Bu, biarkan saja.

Sudah.

Kau kejar.

Gara-gara kau ini.

- Dokter Andri mana? - Bapak boleh duduk untuk…

Dokter Andri?

Dokter Andri!

Dokter Andri! Mana Dokter Andri?

- Kenapa ya, Pak? - Mana Dokter Andri?

Ayah.

- Jauhi istriku! - Ayah!

- Mengerti kau? - Sudah, Ayah!

Jangan pernah kau ganggu ibu dari anak-anakku!

- Bapak salah paham. - Apa salah paham?

- Ayah, sudah! - Aku ingatkan sekali lagi.

Jauhi istriku!

Mana pimpinan rumah sakit ini?

Jangan pernah pekerjakan dokter tukang ganggu istri orang!

Aku bisa jelaskan ke Bapak.

- Ayo ke ruanganku. - Tidak perlu!

Jauhi istriku, mengerti?

- Ayah, ayo pulang. - Jangan keluar, Pak.

Hei, Pak!

Pak!

- Pak! - Apa?

Apa? Mau apa?

Cari aku kalau tidak terima.

Kita bicara ke ruanganku.

Kalau kau mengira aku dan ibumu punya hubungan spesial,

kau salah.

Aku tahu Dokter mantan pacar Ibu.

Kami memang pernah punya cerita.

Aku tak bisa bohong soal itu.

Kalau bukan karena ibumu,

aku tak mungkin bisa seperti sekarang ini.

Tapi itu dulu.

Ketika orang sudah tua,

mereka tidak lagi punya teman, Alin.

Mereka hidup dengan kehidupannya masing-masing.

Pelan-pelan pergi.

Pelan-pelan gugur.

Jadi, dalam batasannya,

keberadaan ibumu itu

sangat berarti buatku.

Dan aku harap begitu juga sebaliknya.

Jadi, Dokter mengaku?

Dokter masih punya hubungan sama Ibu?

Kalau soal itu, kau salah.

Salah bagaimana, Dok?

Dokter masih sering ketemu sama Ibu.

Mengunjungi Ibu ke ruko.

Membetulkan genteng.

Buat apa?

Aku tidak berhak mengatakannya, Alin.

Tinggal bilang saja, Dok.

Dokter punya hubungan apa sama Ibu?

Ca.

Tolong ambilkan obat Ibu.

Di laci, di dalam plastik.

Ya, Bu, sebentar ya.

Kak?

Ya?

Mengaku saja, Dok!

Ibu selingkuh, 'kan, sama Dokter?

Lebih baik kau pulang sekarang.

- Ibu. - Ibu tidak apa-apa, Sayang.

Tidak apa-apa.

Puas kau menyalahkan Ibu?

Bu.

Maafkan Alin, Bu.

Tak ada yang perlu dimaafkan.

Ibu.

Maaf.

Ibu, maafkan.

Ibu kenapa tidak pernah bilang?

Kenapa sendirian?

Ibu tak bermaksud seperti itu, Sayang.

Aku harusnya tahu, Bu.

Ibu…

Ibu tidak apa-apa.

Tak apa-apa. Ibu tidak apa-apa.

Maaf.

Kami semua sayang sama Ibu.

Ibu juga sayang sekali sama kalian.

Assalamualaikum warahmatullah.

Sakitnya Ibu parah, Lin?

Kanker pankreas.

Stadium empat.

Tidak bisa dioperasi?

Sudah menyebar ke hati.

Banyak yang tak bisa bertahan sampai tahunan.

Aku yakin pasti Ibu kuat.

Ada yang bisa kita lakukan tidak, Kak?

Kemo?

Obat yang kita temukan,

itu obat pascakemoterapi.

Ada obat antimual sama pereda nyeri.

Cuma itu yang Ibu bisa lakukan.

Paliatif.

Biar Ibu tidak merasakan sakit.

Kok bisa ya?

Selama ini Ibu sekuat itu menyembunyikan sakitnya?

Ayah tahu tidak, ya?

Aku tidak tahu.

Bodoh banget aku menuduh Ibu seperti itu.

Maafkan aku.

Maafkan aku, Ca.

Aku tak pernah ada di rumah, jadi, tak tahu apa yang kalian lalui.

Kalian tahu tidak?

Selama ini aku sebegitunya cari kerja,

itu sebenarnya karena aku ingin menabung

biar bisa bawa Ibu keluar dari rumah ini.

Seingin itu aku membahagiakan Ibu.

Tidak mau lihat dia lelah lagi, biar aku saja yang lelah.

Tapi aku malah tidak lihat dia sakit.

Aku juga salah.

Kita semua salah, Kak.

Tak ada yang pernah benar-benar mendengarkan Ibu.

Pokoknya mulai sekarang,

kita harus lebih sering mendengarkan Ibu.

Memeluk Ibu.

Kumpul bareng seperti ini. Ya?

Kita harus jaga Ibu mulai sekarang.

Ya, pasti.

Pagi, Bu.

Pagi.

Asya sudah berangkat, Nak?

Sudah. Nando juga sudah aku antar.

Bu, teh serainya tidak diminum?

Ini baru Ibu mau minum.

Nanti aku bantu Ibu ya di ruko.

Kau tidak usah repot-repot bantu Ibu, Lin.

Harusnya kau selesaikan skripsimu itu.

Makin cepat makin bagus.

Beasiswaku sedang ditinjau ulang, Bu.

Kampus sedang ganti kebijakan.

Kalau memang tidak dilanjut,

semester depan sudah harus bayar.

InsyaAllah masih bisa dilanjut, Nak.

Aku mau ambil cuti dulu, Bu.

Biar bisa menemani Ibu. Bantu Ibu di sini.

Nanti sambil cicil skripsi kok, Bu.

Kau tak boleh seperti itu, Alin.

Kau harus jadi dokter.

Kau jangan sampai di-DO seperti Ibu.

Kau harus punya bekal untuk jadi mandiri. Mengerti?

Ya.

Tak diangkat?

Nanti saja, Bu.

- Pagi, Bu Wulan. - Pagi, Pak.

Ini, Bu.

Jatuh temponya minggu depan ya, Bu.

Aku sebetulnya sudah tidak bisa lagi membayar, Pak.

Sebaiknya Bapak langsung ke Pak Tio saja.

Datangi saja orangnya.

Maaf ya, Pak.

Pak?

Pak, bangun.

Bangun, Pak.

Ada apa?

Pakai tanya ada apa.

Bayar utang Pak. Bung.

Sudah ke ruko?

Sudah, tapi istri Bapak tak ada duit.

Makanya kami ke sini.

Malah diam.

Bayar, Pak.

Kami lelah menagih terus.

Mas, kalau uangnya ada, sudah pasti dibayar.

Mas kembali lagi saja minggu depan.

Nanti aku pasti lunasi.

Lusa. Kalau uangnya belum ada juga, nanti kami ambil dari Bapak.

Ayo, Bung.

Lusa, Pak.

Wah, bagaimana?

Gunting, batu, kertas.

Kak Alin?

Kak Alin, ada Kak Irfan.

Ramai-ramai.

Mari, silakan.

Silakan.

Terima kasih.

Maaf, Ibu Wulan, kalau kami datangnya mendadak begini.

Kami yang minta maaf, Bu. Ini…

Rumahnya berantakan sekali dan kami belum siap-siap.

Mari, silakan.

Aku pikir kau sudah tahu.

Sudah tahu bagaimana? Memangnya kau bilang?

Ya, aku bilangnya sama Ayah.

Ayah bilang katanya kau juga sudah setuju.

Yah, aku berasumsi pasti itu perbincangan orang tua dan anak.

Lagi pula, masalahnya itu di mana?

Memang ini tujuan kita, 'kan?

Kalau kita menikah,

aku juga lebih enak

bantu masalah laundry ibumu, masalah orang tuamu.

Masalah laundry?

- Ini bisa dibahasnya nanti saja? - Maksudnya apa?

Ayah bilang apa?

Kemarin Ayah meneleponku.

Ya?

Katanya lagi ada masalah di laundry ibumu.

Terus?

Harus bayar utang.

Kau meminjamkan uang ke Ayah?

Ya?

Berapa?

- Sudah, Lin. - Kau meminjamkan berapa?

- Tidak banyak. - Jawab saja, Fan, berapa?

Tujuh puluh juta.

- Lin. - Fan, kau tak mengerti.

Ayah tidak tahu apa-apa soal laundry.

Dia ke sana saja tidak pernah.

Ini bukan buat laundry.

Sayang, kau mau telepon Ayah ya?

Sayang, jangan telepon Ayah. Aku tidak enak sama Ayah, Sayang.

Lalu, bagaimana?

- Bisa tidak dibahasnya nanti? - Tapi kau tidak bisa seperti ini.

- Tapi orang tuaku di depan. - Kau pinjamkan Ayah uang.

Kau tidak bilang padaku. Kau bawa keluarga kau ke sini.

Aku merasa seperti dijebak kalau begini caranya.

"Jebak"?

Kok kau berpikir begitu?

Ya, terus kau maunya apa?

Kau maunya apa?

Kau mau aku pulang?

Bawa keluargaku pulang, begitu?

Begitu, Lin?

Begitu?

Gila kau, Lin.

Maaf ya, Bu.

Kami yang minta maaf.

- Ini salah paham ya, Bu. - Ya.

Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Bu?

Asalamualaikum.

- Alaikum salam. - Tante, pamit ya.

Yuk.

Belum tidur, Nak?

Tadi Irfan bagaimana?

Marah tidak?

Bu.

Ibu kenapa mau menikah dengan Ayah?

Kalau Ibu tidak menikah dengan Ayah, ya tidak ada kau, Sayang.

Tapi aku tak apa-apa, Bu.

Aku tidak ada, tidak apa-apa.

Aku tidak perlu dilahirkan, Bu.

Asal Ibu

punya hidup yang lebih baik.

Jadi, dulu,

waktu Ibu putus sama Biru,

Ibu sempat

sangat terpukul.

Saat itulah ayahmu datang dalam kehidupan Ibu.

- Bapak memanggil? - Ya.

Tolong ambilkan tas Bapak di kamar Nak, ya?

Hei, tunggu.

Kenalkan, anaknya teman Bapak.

Masih muda dan sudah sukses.

Tio.

Wulan.

Bagus namanya.

Bulan, 'kan, artinya?

- Ayo siapa yang mau? - Aku!

Oke. Dari sini ya, nanti kita ke sini, lalu ke sini. Oke?

- Oke. - Oke.

- Apa itu? - Kambing guling.

Kau harus coba. Ini, sebentar.

Enak, 'kan?

Ini makanan favorit keluargaku.

Dan nanti kalau kita sudah menikah,

yah ini bakal jadi makanan sehari-hari kita.

Ayo, kita minum dulu. Pelan-pelan.

Minum dulu ya, sebentar.

Ada apa?

Tidak.

Kaget saja, tiba-tiba menikah.

Ya, kita kenal memang buat menikah.

Wulan, aku sudah punya semuanya.

Aku sudah punya rumah sendiri,

pekerjaan…

Dan kau harus tahu kalau ayahmu itu jauh lebih nyaman

dan tenang kalau kau menikah denganku.

Memangnya kau tidak kasihan,

dia harus kerja habis-habisan buat bayar kuliahmu

dan tidak selesai-selesai?

Kau juga tahu kalau sekarang ayahmu ikut kerja bersama ayahku?

Tapi yang terpenting,

kalau kau tidak lanjut kuliah, tidak apa-apa, 'kan?

Wulan,

aku janji,

aku tidak akan mengajakmu hidup susah kok.

Ayo kita makan.

Setelah ayahmu menikah dengan Ibu,

usaha ayahmu itu sukses.

Lalu, dia

berusaha untuk mengembangkan usahanya.

Dan dia meminjam uang di bank dengan jumlah yang sangat…

Yah…

Tapi namanya juga hidup ya.

Punya misterinya sendiri.

Ayah bangkrut.

Kok bisa, Bu?

Ibu masih bisa melihat hal yang baik dari ayah?

Sekarang aku jadi mengerti, Bu.

Kenapa Kak Anis segitu tidak sukanya sama Ayah.

Sudah cukup, Bu.

Ibu sudah berkorban banyak untuk kami.

Ibu sudah merelakan mimpi Ibu.

Ibu sudah bekerja setiap hari.

Biaya sewa ruko setiap bulan juga Ibu yang bayar, 'kan?

Buat menghidupi kita.

Sementara Ayah?

Selama ini aku diam saja, Bu.

Selama ini itu aku diam saja soalnya aku pikir,

"Yah, dia memang ayahku."

Dia akan selalu jadi ayahmu. Selalu.

Tapi lihat sikap Ibu seperti ini, aku makin tidak terima.

Ayah sudah menyusahkan Ibu.

Ayah sudah bikin kita susah.

Tak semua orang bisa bangkit dari keterpurukan.

Ayahmu bukan orang jahat.

Dia cuma orang yang kalah.

Hei, korek.

Merokok sendirian saja kau.

Ayah mana?

Bapakmu?

Itu, main judi.

Yah?

Ayah!

Tujuh puluh juta?

Itu harga aku, 'kan, Yah?

Kau jangan bicara seperti itu, Lin.

Itu buat kita semua.

Dan Ayah pikir, itu yang terbaik buatmu.

Supaya kau bahagia,

dan supaya Ibu tak lagi memikirkan masa depanmu.

Ayah tahu Ibu sakit?

Ya.

Tapi dia sudah ke dokter.

Sudah dapat obat.

Ayah tahu Ibu sakit,

tapi kenapa Ayah masih di sini main judi?

Ayah kenapa tidak pulang, menemani Ibu,

tidak mengantarkan Ibu ke rumah sakit?

Kami butuh Ayah di rumah.

Ayah pulang malam itu bukan karena tak peduli.

Ayah lakukan ini semua buat kita sekeluarga.

Buat Ibu juga.

Tapi Ayah perlu waktu.

Dan kalian harus mengerti.

Harus sabar.

Karena kalau usaha Ayah ini berhasil,

dan Ayah kaya lagi,

kalian pasti mengerti.

Jadi, maksud Ayah,

kami harus tunggu Ayah kaya dulu?

Biar Ayah peduli sama kami?

Ayah tahu tidak Ibu sakit apa?

Apa?

LULU: ALIN, KAU BAIK-BAIK SAJA?

Tidak perlu! Jauhi istriku, mengerti?

Pemotongan anggaran itu dilakukan dari pusat.

Jadi, pihak kampus tidak bisa berbuat apa-apa.

Pak, kampus tidak bisa bantu ya?

Aku jalurnya dari jalur yang beda dari yang lain, Pak.

Mohon maaf, karena sumber dananya sama.

- Terima kasih ya, Pak. - Ya, silakan.

Bagaimana?

Gila ini kampus!

Mau bagaimana lagi?

Semuanya tergantung aku.

Kalau mau lanjut, ya semester depan bayar.

Sepertinya aku mau cuti dulu.

Maaf ya, Bu.

Tak ada yang perlu dimaafkan, Nak.

Mama.

- Mama. - Duluan ya, Bu.

- Ya. - Ayo, Sayang.

Mama, ayo!

Ibu?

Ibu?

Biayanya cukup mahal.

Ini tidak ditanggung BPJS.

Tapi kalau Ibu mau,

sekali lagi, ini atas persetujuan pasien.

Yang akan kita lakukan.

Kalau gajiku besar, Lin,

aku pasti akan biayai kuliahmu.

Mahal kali, Kak.

Tidak adil juga untukmu.

Kapan, Lin, hidup itu adil sama kita?

Bagaimana dengan Irfan?

Aku sedang memintanya untuk jemput.

Sekalian minta tolong bawa kursi roda.

Kau jadi menikah dengannya?

Lebih gampang begitu, 'kan?

Daripada aku jadi beban di rumah?

Masa depan tidak jelas.

Ya pokoknya, kau pikirkan baik-baik.

Aku tidak mau kau seperti aku.

Seperti Ibu.

Yang berpikir menikah itu

adalah jalan keluar dari semua permasalahan hidup.

Lalu, aku harus bagaimana ya, Kak?

Lin, kau punya pilihan.

Dan apa pun pilihanmu, aku pasti dukung.

Hanya saja kali ini aku minta, kau jangan pilih buat lari.

Kau minta tolong Irfan untuk jemput?

Sekalian bawa kursi roda, Bu.

Dari rumahnya, ada yang tidak terpakai.

Bu.

Yuk.

Ibu masih kuat, tidak apa-apa.

Bisa, Bu?

Terima kasih ya, Nak.

Tidak apa-apa?

- Halo. - Lo, Ibu?

Ibu sedang apa?

Ibu, duduk saja.

- Ibu harus istirahat. - Ibu sedang ingin masak.

- Ibu merasa segar banget hari ini. - Ibu masak apa?

- Masak sup. - Apa?

- Kesukaan Asya? - Ya.

- Ada tempe orek? - Ada tempe.

Kesukaanmu.

Yuk, masak.

- Itu dua-duanya. - Asya harus belajar masak.

Asya.

Tidak apa-apa.

Biar aku potong.

Ini dipotong seperti ini.

- Takut. - Tidak.

- Belajar. - Tidak.

- Asya. - Ya sudah.

- Bakal menyiprat lagi tidak? - Tidak.

Ini punyaku!

Kanguru.

- Itu kelinci? - Kelinci. Lihat ini.

Ini kupingnya, matanya, kakinya.

Kepanjangan itu!

Dulu itu waktu Ibu hamil Kak Anis,

Ibu mengidam kelinci lo.

- Oh ya, Bu? - Masa?

Ibu tidak salah? Mengidam macan kali, Bu.

- Kak Anis lebih mirip macan. - Setuju.

- Setuju. - Aku tidak pernah marah, selalu nangis.

Mengidam dipelihara atau dimakan, Bu?

Ibu mengidamnya waktu itu

tidak untuk dimakan.

Kasihan kalau dimakan.

Ibu maunya cuma elus-elus.

- Elus begitu. - Kalau waktu Asya?

Ibu mengidamnya apa?

Kalau Asya, dulu Ibu mengidamnya alpukat.

Makanya kulitnya cantik.

Memang ya?

Cantik.

Lalu, aku bagaimana, Bu?

Kalau Alin,

Ibu mengidamnya

menyanyikan lagu RA Kartini.

Jadi, waktu itu Ibu pernah

lagi ketiduran di bus itu,

ada yang membangunkan, "Bu.

Tadi Ibu mengigau lo.

Mengigau nyanyi lagu "Ibu Kita Kartini".

Memang Ibu itu cucunya RA Kartini?"

Aduh, jadinya seperti ini anak-anak Ibu.

- Kalian tahu tidak? - Apa?

Arti "cinta itu buta" apa?

Ada yang tahu?

Tidak tahu.

- Tidak tahu. - Cinta itu buta?

Cinta itu buta,

itu adalah cinta seorang ibu kepada anaknya,

ketika dia mengandung anak-anaknya

dan dia tak pernah tahu wajah anak-anaknya,

tapi dia tahu bahwa dia cinta.

Bu?

Bu?

Bu.

Kak?

Ca!

Bu?

- Kak? - Apa?

- Ibu. - Kenapa?

Bu…

Ibu, bangun.

Bu.

Bu?

Bu?

Wulan…

Wulan…

Wulan.

Ibu sudah tidak ada, Kak.

Kita tidak punya siapa-siapa lagi.

Ibumu kemungkinan mengalami emboli paru masif.

Gumpalan darah yang dapat menyumbat paru-paru secara mendadak.

Ini komplikasi serius yang biasa terjadi

pada pasien kanker lanjut seperti beliau.

Terutama kanker pankreas.

Aku juga belum minta maaf soal waktu itu, Dok.

Tak masalah, Lin.

Tak usah dipikirkan.

Oh, ya.

Setelah ibumu tahu kalau beasiswamu dihentikan,

dia menitipkan ini.

Aku sempat menyarankan

kalau uang itu dipakai untuk biaya pengobatan lainnya.

Tapi dia menolak.

Dia lebih memilih uang itu dipakai untukmu,

Anis, dan Asya.

Terima kasih, Pak.

Banyak banget.

Tiga ratus lima puluh juta?

Ini bisa buat melunasi utang-utang ayahmu, ya.

Lalu, kenapa ayahmu harus pinjam dari aku

kalau ternyata punya tabungan segini banyak?

Ya, karena itu tabungannya Ibu, bukan Ayah.

Kalau Ayah sampai tahu Ibu punya uang sebanyak ini,

sudah pasti habis.

Makanya Ibu simpan buat kami.

Buat aku meneruskan kuliah.

Kau yakin?

Begini, Sayang.

Hubungan kita tujuannya apa?

Kita mau menikah, 'kan?

Kalau kau meneruskan sekolah dan kau nanti ujung-ujungnya…

Ujung-ujungnya nanti aku jadi seperti Ibu dan kau seperti Ayah, bagaimana?

- Tidak mungkin seperti itu. - Kau tidak tahu itu, Fan.

Tak ada yang tahu hidup ke depannya akan seperti apa.

Dan aku tak mau bergantung pada siapa pun.

Aku tidak paham maksudmu.

Tidak semua orang mau dikasih payung, Fan.

Banyak yang suka berjalan di bawah hujan.

Aku tidak menyangka selama ini Ibu menabung sebanyak ini buat kita.

Ini banyak banget, Kak.

Sudah.

Sudah, Yah.

Sudah!

Memang sudah rusak, mau diapakan lagi?

Mau dibanting kayak apa pun juga tidak bisa menyala lagi!

Ayah banting, 'kan, waktu bertengkar dengan Ibu?

Mungkin kalau Ibu tidak nikah dengan Ayah, kipas anginnya tidak akan rusak!

Atau rumah tidak akan bocor!

Tidak pernah Ayah betulkan, 'kan?

Ayah tak pernah di rumah.

Mungkin kalau Ibu tidak menikah dengan Ayah,

Ibu tidak perlu bawa baju kotor ke mana-mana.

Kalau Ibu tidak menikah dengan Ayah, Ibu tidak perlu mencuci baju setiap hari!

Sampai tangan dan kakinya hancur.

Kalau Ibu tidak menikah dengan Ayah, Ibu pasti masih hidup.

Kenapa harus Ibu? Kenapa tidak Ayah?

Kenapa bukan Ayah saja yang mati?

Kak, sudah.

Kenapa harus Ibu?

Ayah itu kenapa?

Selama ini Ayah ke mana saja?

Sebagai satu-satunya laki-laki di rumah ini,

harusnya Ayah menjaga kami.

Tapi selama ini malah cuma Ibu yang menjaga kami.

Sadar tidak, Ayah,

aku selama ini marah sama Ayah itu karena aku mau melindungi Ibu, Yah.

Nando sampai sekarang masih suka bertanya, Yah.

"Eyang ke mana?

Eyang kapan pulang?"

Nando tidak punya ayah.

Tapi aku tak pernah terpikir kalau dia juga tidak akan punya eyang.

Jauh sebelum Ibu meninggal,

Asya lebih dulu merasa tidak punya ayah.

Ayah pernah memikirkannya tidak?

Maafkan Ayah.

Pertanyaanmu sederhana,

tapi berhasil membuat Ibu berpikir.

Di usia senja Ibu,

Ibu baru punya pertanyaan.

Kenapa Ibu menikah dengan Ayah?

Wulan?

- Pergi dulu. - Hati-hati, ya.

Tolong ambil tas Bapak, Nak.

Maaf, Pak, aku sedang buru-buru.

- Mari, Om. Mas. - Ya.

Lalu, Ibu membayangkan

seandainya Ibu tidak menikah dengan ayahmu.

Barangkali sekarang Ibu sedang menikmati masa tua Ibu

setelah Ibu melewati masa muda penuh kejayaan.

Yah, barangkali Ibu menemukan hobi baru yang tak pernah terpikirkan.

Atau mungkin

Ibu sedang luang dan menjemput cucu-cucu Ibu di sekolah.

Mungkin

sekilas kehidupan yang tidak Ibu pilih itu memang lebih baik.

Lebih nyaman.

Ibu tidak perlu naik sepeda setiap hari

atau pakai salep setiap malam.

Tapi dari pertanyaanmu itu juga,

Ibu merasakan lagi

seandainya Ibu tidak menikah dengan ayahmu,

tidak akan ada kaki mungilmu

yang membasahi seisi rumah.

Membuat Ibu panik dan khawatir.

Dan tidak akan ada tangisan kakakmu yang jatuh karena ulahmu.

Dan adikmu, Asya,

dia juga tak akan lahir di dunia ini.

Sekalipun Ibu harus menjalani hidup seperti ini ribuan kali, Sayang,

memilih keputusan-keputusan yang mungkin salah,

Ibu akan lakukan lagi

karena Ibu ingin melihat wajah kalian.

Anak-anak Ibu.

Dan Ibu ingin bersama kalian.

Ibu ingin melihatmu bahagia. Bahagia dan merdeka, Lin.

Sesuai arti namamu yang Ibu berikan.

Nando, jalan yuk. Mama sudah siap.

Ya, Ma.

Lin, belum jalan?

Lebih siang sedikit, kereta penuh lo.

Ya.

Sebentar lagi.

Ya sudah. Kalau sudah selesai sidang, kabari ya.

Pasti lulus.

Jangan jemawa.

Ca, ada paket itu.

- Apa? - Paket.

Paket. Pacarnya Aca.

Paket apa?

Pacarmu, Ca.

- Asya berangkat ya. - Hati-hati ya, Ca.

- Dadah, Nando. - Kak.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Hati-hati, Kak.

- Tidak mau bareng? - Tidak usah.

- Dadah, Tante Alin. - Dah, Nando.

Dah.

- Ayo. - Yuk.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.