Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sialan!
Marni!
Saya tidak mau kembali lagi!
Saya tidak mau jadi alat untuk kekayaan kamu lagi!
Berhenti! Berhenti!
Sampai matipun saya tidak akan memaafkan kamu!
Seperti biasa, Bu Ambar.
Baik, Pak.
Apa, Gus?
Kenapa yah, Pak Kades, setiap tahun selalu ada orang hilang?
- Semuanya perempuan. - Waduh.
Ini Erlin nih, kenal saya.
Dia itu bukannya hilang, Pak, kabur sama pacarnya.
Keluarganya tidak tahu.
Itu masalahnya.
Tidak usah khawatir, Pak.
Tapi tetap mengkhawatirkan, Pak,
karena akhir-akhir ini banyak warga yang kehilangan uang, 'kan, Pak?
Bahkan Bu Sidah ini kemarin habis memecat pegawainya
gara-gara tidak bisa bayar pegawai loh, Pak.
- Mbak Ambar loh terancam dipecat. - Iya, iya.
Apa jangan-jangan kampung kita ini ada maling, ya, Pak?
Waduh.
Kalau soal maling, dari dulu sampai sekarang
tidak pernah dengar saya cerita-cerita seperti itu.
Tidak usah mengada-ada lah, Pak.
Kalau soal Ibu Sidah,
itu 'kan masalahnya orang usaha, Pak.
Iya, 'kan?
Kadang sepi, kadang ramai.
Ya, 'kan? Wajar itu.
Tapi ini pernah kejadian di kampung sebelah, Pak.
Adik saya yang tinggal di sana sering kehilangan uang,
padahal di dalam rumah loh, Pak.
Hampir setiap hari uangnya hilang.
Kalau masalah kampung sebelah itu, saya tidak bisa kasih komentar.
Tapi, tidak usah mengada-ada lah, ya?
Jangan terlalu dipikirkan.
Ya?
Menurut saya, lebih baik itu…
coba pelatihan kerja di kapal pesiar itu loh.
Pendaftarannya sudah mulai.
Minggu depan sudah bisa daftar.
Ya, 'kan?
Masa seminggu hilangnya lima ratus ribu, Bu?
Iya, ini sudah Ibu ikat.
Ibu tandai, biar tidak hilang.
- Jemput Aji, Put? - Iya, Pak.
Mbar, sudah ditambah ayam belum?
Jangan tahu sama tempe aja.
Tidak usahlah, Bu.
Put, kalau ada rezeki jangan ditolak.
Terima kasih, Bu.
Sampaikan pada suamimu, ya?
Kesempatan bagus ini.
Ibu Sidah itu sudah baik sama kita loh, Put.
Dari semua pekerjanya,
cuma Ibu yang tidak dipecat.
Bu Sidah itu hanya kasihan, Bu, sama kita.
Mau sampai kapan kita hidup dari belas kasihan orang?
Aku tidak mau, Bu, hidup kita seperti ini terus.
Aku mau mengubah nasib keluarga kita, Bu.
Terus Ibu harus bagaimana?
Makanya 'kan, aku sudah bilang, Bu,
aku mau ikut pelatihan pelayaran ini loh.
Buat tambah-tambah, buat aku dan Ibu, buat Aji juga.
Terus uang pendaftarannya bagaimana?
Put, lima ratus ribu itu lebih baik buat uang kontrakan.
Buat bayar SPP Aji.
Sudah dua bulan, Put…
kita sudah nunggak.
Jangan coret-coret tembok terus, Ji.
Terus diulangin.
Ini makan dulu.
Sejak Bapak tidak ada hidup kita jadi tambah susah, Bu.
Pokoknya aku tidak mau kamu ikut pelatihan
untuk kerja di kapal itu.
Bu, namanya orang mau sukses, mau kaya,
ya, harus ada yang dikorbankan, Bu.
Buat apa sukses, buat apa banyak uang kalau jauh dari keluarga?
Ibu tidak peduli kalau ada orang mau ikut, ada orang mau daftar,
tapi kamu tidak boleh.
Kita sudah tinggal bertiga.
Masa kamu mau meninggalkan Ibu, mau meninggalkan Aji juga?
Berisik, Ji!
Ki…
Kiki!
Aduh.
Dengerin aku tidak, sih? Foto-foto terus.
Iya, dengar, aku dengar. Kupingku belum budek, Put.
Put, kalau kataku nih,
selagi masih ada orang tua, sudah nurut aja.
Aku dari kecil hidup berdua saja sama Bang Nurdin,
tidak punya orang tua.
Lagian 'kan, benar apa kata ibumu.
Kamu 'kan, perempuan, cakep.
Mending kamu ikut Bintang Idol aja, audisi sana, cocok!
Terus aku harus bagaimana?
Hidup dari belas kasihan orang seumur hidup, gitu?
Tidak enak loh, Ki, lihat pandangan orang ke kita.
Seperti merendahkan, gitu loh.
Zaman sekarang mau dapat uang gampang, Put.
Jual kesedihan, dapat uang.
Korupsi, dapat uang.
Pesugihan, dapat uang.
Tinggal kamu pilih aja, mau cara yang mana.
Kalau cari uang itu gampang, ya, semua orang sudah kaya.
Aku juga mungkin sudah kaya.
Mau apa-apa, tidak susah seperti ini.
Iya, setiap hari ke mal, deh, kamu.
Beli baju, beli apalah, kalau sudah kaya. Iya, tidak?
Gitu, dong, senyum!
Dari tadi muka ditekuk aja seperti pintu angkot.
Aku hanya tidak mau dari lahir sampai mati hidup miskin, Ki.
Serba susah.
Ya sudah biar tidak sedih, kita foto dulu aja, deh, ya?
Tidak, tidak.
Foto-foto terus.
Foto 'kan, buat kenang-kenangan doang!
- Makan nih! Makan, buka mulut. - Apaan?
Tolong!
Balikin sini!
- Mbar. - Iya, Bu?
Maaf, ya, Ibu terpaksa memberhentikan kamu.
Ya, kamu mengertilah,
uang Ibu belakangan ini hilang-hilang terus.
Jadi, untuk gajimu yang terakhir,
Ibu baru bisa bayar kamu bulan depan.
Tidak apa-apa, ya?
Bu…
Tapi aku boleh pinjam dulu tidak, Bu?
Buat bayar SPP Aji, Bu.
Bagaimana, ya, Mbar?
Buat bayar gajimu aja, Ibu belum bisa.
Maaf, ya?
Tidak apa-apa, Bu.
Terima kasih, selama ini sudah baik ke aku.
Tembong.
Pak Kades ada?
Cerobong…
Cerobong hitam…
Cerobong hitam…
Bu…
- Ibu… - Cerobong hitam…
Cerobong hitam…
Cerobong hitam…
Cerobong hitam…
Ibu…
Ibu mau ke mana, Bu?
Ibu? Bu…
Mbak Putri!
Mbak Putri!
Bu!
Ada apa, Ji?
Bu… Bu…
Ibu…
- Bu. Mau ke mana, Bu? Bu! - Bu…
Bu! Ibu!
Bu!
Kenapa, Bu?
Ibu mau ke mana?
Kok panas badannya?
Yuk, ke kamar, ya?
Ayo, Bu.
Ayo, Ji.
Bu…
Bu… Ayo, Bu.
Kenapa, Bu?
Sebentar, Ji.
Mbak ambil kompres sebentar, ya.
Sebentar, Bu.
Kucing mungkin, Put.
Kucing? Kucing dari mana? 'Kan aku tidak punya kucing di rumah.
'Kan mungkin, abis siapa lagi?
Aji, bukan. Ibu kamu, bukan.
Tapi aneh loh, Ki.
Ibuku tuh demam, sampai tidur berjalan, gitu loh.
Ibuku tidak pernah seperti itu.
Seperti orang sini, deh, kamu sekarang mikirnya.
Apa-apa mistis, apa-apa hantu.
Put, kalau ibumu sakit, bawa ke puskesmas.
'Kan aku juga jadi khawatir.
Apa lagi ibumu 'kan, janda, Put.
Maksudnya?
Maksudnya, kalau janda 'kan, biasanya di…
Apa?
Dilupakan aja, ya? Kita tidak usah bahas.
Cep, ini uang seribu, fotokopi empat lembar, delapan ratus.
Sisanya buat kamu, dua ratus.
Kamu bebas dah beli apa saja.
Dua ratus, Bang?
Dua ratus, Bang Nurdin?
Ya sudah, nanti uang kembaliannya saya kumpulin.
Saya mau belikan motor, 'kan tinggal tambahin sepuluh juta.
Itu mah kamu ngelunjak namanya.
Sudah pada kenal belum, nih?
Tidak usah kenalan, Bang.
Tidak penting, Put. Dia tidak penting.
Penting, Ki, ini mah.
Putri, ini Cecep, sepupunya Kiki.
Dia mau ikut pelatihan biar bisa kerja di kapal pesiar.
Nanti kamu bisa bareng sama dia.
- Bareng, Bang? - Tidak.
- Tidak 'kan, Ki? - Tidak apa-apa, bareng aja.
Kiki, temannya cantik banget, beda.
- Beda sama siapa? - Sama Kiki.
Tidak, dong, Kiki 'kan sepupu saya yang paling cantik.
Yang lain 'kan, semuanya laki-laki.
Itu kamera diutak-atik aja tidak dipakai.
Sini, Abang fotoin.
Tidak usah, Bang.
Sudah sini!
Bang Nurdin memang paling mengerti.
Saya mah tahu, Cep, isi hati kamu.
- Tidak usah, Mas. - Usah.
Ayo cepetan, Ki.
Sebentar dulu.
Memangnya di sini tidak apa-apa foto bertiga?
Pamali tahu!
Nanti yang di tengah kena sial.
Sudah, Ki, cepetan!
Rusak, deh, kamera aku ada kamu. Awas, awas!
- Biar saja rusak, saya mau di tengah. - Tidak mau! Awas kamu!
Alasan aja kamu mau dekat-dekat teman aku, 'kan?
Tidak. Tidak ada alasan apa-apa.
- Awas. Awas tidak? Awas! - Awas, Ki. Saya bagusnya di tengah. Awas!
Aduh, Ki.
- Ki… Kiki, jangan sentuh saya. - Sudah cepetan. Abang foto, ya?
Satu, dua, tiga.
Bu…
Bu…
Ibu…
Ibu…
Bu…
Sekali lagi maaf, ya, aku ganggu malam-malam.
Ibuku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Aku sudah cari ke mana-mana, tapi tidak ketemu, aku…
Aku harus cari ke mana lagi, Ki?
Makanya digembok ibumu, biar tidak hilang.
- Kiki! - Kiki!
Kamu tidak boleh gitu.
Ya sudah, Put, kamu tenang dulu, ya.
Cep, ayo kita ke siskamling, minta warga bantu cari.
Bang, tidak apa-apa biar saya saja.
Abang istirahat saja di rumah
soalnya 'kan, lagi tidak enak badan juga.
Sama… Aku ikut, Mas.
Sekalian titip Aji, ya, Mas Nurdin.
- Terima kasih, ya. - Ayo.
Cep… Kamu hati-hati, ya, Cep.
Kamu jaga mereka, ya.
Iya, Bang, saya jagain Putri.
Aku?
Iya, sekalian.
Sekalian katamu?
- Bang… - Ya, hati-hati.
Ki…
- Ibuku loh. Katanya harus sayang ibu. - Ayo, Putri.
Jadi, tolong dipastikan RT-nya dari Pak Ilham itu,
jangan sampai salah pilih, nomor tiga.
Selamat malam, Pak.
Saya Cecep.
Ada apa, Put?
Pak… Ibu saya hilang, Pak.
Ibumu tidak hilang, Put.
Saya sudah cari ke mana-mana, tapi tidak ketemu, Pak.
Ini sebenarnya saya tidak boleh kasih tahu kamu
karena ibumu minta untuk dirahasiakan, tapi…
karena kamu sudah di sini,
saya kasih tahu, ya.
Ibumu datang ke saya untuk minta dicarikan kerjaan.
Kebetulan saya ada teman yang cari pegawai di kota.
Ibumu tadi bilang dia mau naik bus yang paling malam,
supaya bisa sampai di kota besok pagi.
Memang kamu tidak tahu kalau ibumu itu
sudah diberhentikan Bu Sidah?
Aku baru dari Bu Sidah.
Benar, Ibu sudah dipecat, tapi belum dibayar gajinya.
Terus ini uang apa?
Sebanyak ini loh.
Kalau memang ibuku ke luar kota…
harusnya dia bawa baju 'kan, bawa uang?
Ini tidak loh.
Sandalnya saja masih di sini.
Aji!
Sudah dibilang berapa kali jangan kotorin tembok!
Dengerin tidak, sih, Mbak ngomong?
Ibu suka mengigau soal itu, Mbak.
Cerobong hitam.
Apa?
Cerobong hitam.
Cerobong ini?
Cerobong hitam?
Sini, Ji.
Cerobong pabrik?
Pak Karsono, Ki.
Pabrik Pak Karsono?
Maaf…
Pak Karsono itu siapa?
Katanya dia orang kaya di sini dulu.
Saking kayanya, dia punya pabrik sendiri di dalam hutan.
Tapi sudah lama tidak ada yang berani masuk ke dalam hutan itu.
Memangnya kenapa?
Soalnya kata orang, dia melihara tuyul.
Tuyul?
Aduh, tidak enak firasat saya.
Dan di hutan itu ada kuntilanaknya.
Kuntilanak hitam.
Kuntilanak hitam, Ki?
Itu kata siapa?
Ya, kata warga sekitar, Cep.
Setahu saya nih,
kuntilanak hitam itu yang paling seram
dibanding kuntilanak yang lainnya.
Soalnya dia punya dendam yang dibawa mati.
Tapi memang…
hubungannya sama ibunya Putri apa?
Aku harus cari ke sana.
Apa? Mau ke mana?
Pabrik Pak Karsono? Put?
Janganlah. Bahaya, Put.
Ini ibuku, Ki.
Aduh. Ya sudah, ayo, Cep.
Kok ayo? Tidak, tidak.
Ini orang tua loh hilang.
Seorang ibu.
- Surga di telapak kaki… - Ibu.
Ibunya Putri tidak pakai sandal.
Kamu mau surganya lecet-lecet?
Dia mengangguk. Mau, Put. Ayo.
Saya menggeleng, Ki.
Ki… Kiki… Ki…
Aku ikut, Mbak.
Ji… Kamu di rumah aja, ya?
Mbak tidak lama, kok.
Oke?
Kalau ada yang datang selain Mbak atau Ibu,
jangan dibukain, ya?
Tapi kalau sampai malam Mbak belum pulang,
kamu ke rumahnya Mbak Kiki, ya?
Ini benaran kita tidak perlu minta bantuan warga?
Seram banget, tahu!
Apalagi sudah mau magrib, pamali keluar magrib-magrib.
Ayo, pulang saja.
Ya sudah, kalau Mas Cecep mau pulang, tidak apa-apa.
Ya sudah, kalau Mas Cecep mau pulang, tidak apa-apa.
Belum apa-apa sudah ketempelan.
Put, Ki, hati-hati.
Iya, iya, cepat.
Di sini kalau malam seram juga, ya?
Tuh, 'kan?
Malam itu memang waktunya mereka keluar.
Kalau matahari terbit, mereka tidak ada.
- Siapa? Kunti? - Kiki!
Jangan disebut, sudah malam. Jaga mulutnya.
Iya, nanti aku kasih satpam mulutku biar dijaga.
Sekalian kopi sama rokok.
Put…
Aduh…
Siapa itu?
Kiki! Bodoh banget!
Sembarangan banget, sih, kamu ngomongnya.
Pamali, tahu!
Kamu lihat apaan, sih?
Tidak ada.
Sudah, ayo, cepetan.
Dijaga tuh mulut kamu!
Kenapa kamu tidak langsung cegah mereka?
Bodoh kamu!
Kalau mereka sampai ke sana duluan, habis kamu!
Jangan, jangan. Ampun!
- Apa? Apa? - Aji…
- Aji? - Aji.
Kamu kenapa di situ?
Kamu yang mainin mainan aku kemarin itu, ya?
Sudah, tidak apa-apa.
Ayo, main.
Lepas! Lepas!
Lepas!
Tolong!
Mbak Putri!
Buka, Mbak Putri!
Mbak Putri!
Buka, Mbak Putri!
Mbak Putri!
Buka, Mbak Putri!
Mbak Putri!
Buka, Mbak Putri!
Hei.
Ada apa, Ji?
Mau ke mana kamu?
Ya ampun, bangunan horor begini aja digembok.
Dikira hantu tidak bisa nembus kali.
Kiki!
Kamu kalau ngomong suka sembarangan!
Bang Nurdin nelpon lagi.
- Halo, asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Iya? Kenapa, Bang?
Ki, kamu di mana? Kok belum pulang?
Canggih juga ya, ini pabrik kimia?
- Gemboknya aja bikin pusing kayak TTS. - Pabrik kimia?
Kamu lagi di pabriknya Pak Karsono?
Ki, jangan bilang kamu lagi di pabriknya Pak Karsono, ya?
Tidak, Bang. Tidak, tidak mungkinlah.
Jangan bohong sama abangmu. Kamu lagi di mana?
Ki?
Ketemu kapak nih!
Kapak?
Bisa nih, buat buka gembok.
Ki, kamu jangan bohong sama Abang. Kamu lagi di mana?
- Apa, Abang? Apa? Halo? - Ki.
Kok putus-putus ini suaranya?
- Sinyalnya jelek, Bang, di sini. - Kok bisa sinyalnya jelek?
- Ya sudah, nanti telpon lagi, ya, Bang. - Kok bisa sinyalnya jelek?
- Tidak ada sinyal ini. - Halo, Ki?
- Tak ada sinyal, sudah. Asalamualaikum. - Ki? Halo?
Suara kalian berdua berisik banget.
Hampir aja Bang Nurdin tahu.
Lagian kamu pakai bohong sama Bang Nurdin.
Awas, awas, saya mau mengeluarkan tenaga saya yang paling kuat.
Sini, Mas.
Tidak akan bisa, Putri. Saya aja tidak bisa.
Itu gemboknya mahal.
Keren. Itu baru temanku.
Ternyata tidak mahal-mahal amat gemboknya.
Mas, ayo.
Bu…
Tempat yang ada kelelawarnya sudah pasti tidak ada orangnya.
Malah ada penunggunya.
Sudah pulang aja, yuk.
Sayang banget, ya.
Pabrik sebesar ini, tidak ada yang meneruskan.
Pelihara tuyul, sih.
Orang yang melihara tuyul 'kan, anaknya berumur pendek.
Keburu mati duluan.
Kiki…
Kamu tahu hal-hal begini dari mana, sih?
Ya, dari warga sekitarlah.
Makanya kalau orang cerita tuh, nyimak.
Put… Put…
Bu… Ibu…
Bude Ambar?
Bu…
Aku baru tahu Pak Kiman kerja sama Pak Karsono.
Ini yang namanya Pak Karsono?
Itu orangnya.
Kiki! Kenapa, sih, kamu foto-foto?
Maaf, maaf.
Buat kenang-kenangan ini.
Sejarah. Sejarah.
Ini baru nih, aku merinding.
Cep, kata kamu tidak mungkin ada orang yang masuk sini, 'kan?
Iya, Ki.
Mungkin aja ibuku.
- Put. Put. - Put. Putri.
Tadi kapaknya kamu taruh di mana?
Di depan.
Cepat ambil!
- Hantu mana bisa ditebas, Kiki. - Takutnya orang, bukan hantu.
Terus kalau orang, mau kamu tebas?
Udah, cepetan ambil, daripada kamu yang aku tebas!
Put… 'Kan? 'Kan? Nempel-nempel aja kamu!
Kamu yang mau dekat-dekat aku terus.
Put…
Bude Ambar?
Bu…
Ibu?
Ki, lihat, deh.
Ini kenapa ada di sini, ya?
Put, lihat nih.
Ini 'kan cerobong pabrik…
terus ini rumah siapa, ya?
Apa jangan-jangan…
rumahnya Pak Karsono?
Tidak jauh dari sini harusnya.
Kita harus coba ke sana, Ki.
Ki, Put…
Saya menemukan sesuatu.
Kalian harus cek.
Yuk, cepat.
Ini benaran, Put?
Tidak apa-apa.
Permisi.
Sempit banget jalanannya.
Ini seperti uang yang ada di tas Ibu.
Jangan-jangan, ini uang tumbal.
Uang tumbal?
Uang tumbal itu
uang yang sengaja ditaruh di suatu tempat untuk cari korban.
Katanya, yang mengambil secara tidak sadar akan jadi tumbal.
Put…
Put, kok ada foto ibu kamu di sini?
Put…
- Lari! Lari! - Lari!
Kiki! Kiki! Ki!
Pergi!
Ayo, Put!
Putri, ayo cepat!
- Putri! - Putri, cepat!
Ayo, cepat!
Ayo, cepat! Ayo!
Put, ayo! Putri, ayo!
- Putri! - Put!
- Put… - Put… Putri. Ayo, Put!
Kita tidak ada waktu lagi, Put. Kita harus cepat.
- Aku yakin Ibu ada di sana. Ibuku. - Put…
Putri. Sadar, Put, ini tuh bahaya!
Justru karena bahaya, Mas!
Justru karena bahaya aku tidak mau terlambat!
Aku harus temukan ibuku malam ini.
Apa yang dibilang Putri…
benar, Cep.
Kalian itu dari awal tidak pernah sadar, ya?
Kalian tidak pernah sadar kalau ini bahaya!
Saya sudah pernah mengalami situasi seperti ini
dan saya kehilangan teman-teman saya!
Kita butuh bantuan, Put.
Kalau saja tadi saya sama Kiki tidak menolong kamu…
bisa mati kamu.
Selama ini aku tidak pernah baik ke ibuku.
Dan sekarang bahkan aku tidak tahu ibuku masih hidup atau tidak.
Aku tidak mau ibuku berakhir di selebaran itu.
Siapa lagi yang menolong ibuku kalau bukan aku?
Siapa?
Satu lagi,
aku tidak pernah minta Mas Cecep untuk ikut.
Jadi kalau Mas Cecep mau pulang, silakan.
Kamu juga, Ki.
Pulang aja, ya?
Tidak.
Aku tidak akan pulang.
Ki…
Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian di sini.
Kiki…
Kita sudah jalan sejauh ini, Put.
Ki…
Percuma kalau kita balik.
Ki, kamu tidak mengerti, Ki.
Ki…
Tidak apa-apa, Cep.
Aku bisa.
Saya akan tetap balik, untuk minta bantuan warga.
Tenang, ya? Tenang.
Kita cari Ibu sama-sama, ya.
Kita harus temukan rumah di foto tadi, Ki.
Harusnya tidak jauh.
Hati-hati, Put.
Ke mana, ya, Ki?
Ini benaran lewat sini, Put?
Coba dulu, yuk.
Sepertinya itu rumahnya, Put.
Tolong!
Kamu tidak dengar, Ki?
Tidak.
Sudah. Ayo, Put.
Jangan pikir karena kamu anak kecil,
aku tidak tega untuk menyakiti kamu!
Diam!
Gila!
Ada kolam renang sebesar ini di dalam rumah, Put.
Ini tidak wajar, Put.
Memang ada yang masih tinggal di sini?
Kiki!
Lagi apa?
Kepencet jempol, kameranya.
Bude…
- Bude Ambar? - Bu…
Ibu…
Bu…
Ibu…
Bude Ambar?
Ki… Ki… Ki!
Kenapa?
Put… Put…
Aku…
Aku lihat…
Apa, sih?
Ayo, ikut aku.
Tuh, 'kan?
Benar, Put. Pak Karsono melihara tuyul.
Banyak banget uangnya.
Ki… Kiki!
Itu bukannya Pak Kiman sama istrinya yang sudah lama hilang, ya?
Bu… Marni?
Tapi, kenapa foto Pak Kiman ada di sini?
Jangan macam-macam.
Pesugihan tuyul.
Jangan bikin salah lagi.
Tuyul akan hidup selama tuannya masih hidup.
Tuyul membutuhkan seorang wanita untuk menjadi ibu susunya.
Tuyul takut dengan cermin.
Put…
Pantas rumah sebesar ini tidak ada cermin.
Ternyata ke sini larinya semua uang yang hilang.
Ki, aku tahu persis ini uang Bu Sidah.
Tapi 'kan… Pak Karsono sudah lama meninggal.
Tidak mungkin dia ada kaitannya sama ini semua.
Kecuali…
Kecuali ada orang lain yang melihara tuyul.
Berarti selama ini dia bohong
soal perempuan-perempuan yang hilang.
Aku tidak percaya Pak Kiman begitu.
Benar 'kan, kataku?
Kalau mau kaya cepat, tinggal pesugihan aja.
Aku 'kan tidak mau seperti itu.
Bu…
Bude…
Ibu…
Bu…
Bu…
- Kamu yakin, Put? - Ayo.
Bahaya, Put.
Ya sudah, kamu jaga di sini aja, ya.
Aku ke atas.
Ya sudah, kamu hati-hati, ya?
Tunggu sini.
Bu…
Ibu…
Hati-hati, Put.
Kiki…
Putri…
Cep…
Cecep.
Bu… Ibu…
Bu. Ibu…
Bu…
Ini Putri, Bu.
- Ya Allah, Bu. - Ada tuyul.
Dia menghisap darah Ibu, Put.
Yang penting sekarang kita keluar dari sini, ya, Bu.
Kamu tidak seharusnya di sini, Put. Bahaya, Put.
- Aku tidak mau kamu kenapa-napa. - Bu… Ibu…
Ada tuyul.
Ibu, dengarkan Putri.
Ini, Bu. Ini semua ulah Pak Kiman, Bu. Ibu dijadikan tumbal.
Yuk. Ayo, keluar.
- Pak Kiman? - Ayo.
Tumbal?
Ayo, Bu. Pelan-pelan.
Ayo, Bu.
Sedikit lagi.
Ayo, Ki.
Ki? Kiki?
- Kiki ada di sini? - Ibu…
- Kiki? - Kiki ada di sini?
Iya, Bu. Kita cari Kiki dulu, ya. Pelan-pelan.
Pak Kades?
Aduh…
Kebetulan ada Bapak ini.
Merinding banget saya, Pak, tidak ketemu orang.
Iya, Pak, saya tadi cari adik saya, Pak.
Si Kiki tadi telepon.
Kedengeran dia bilang lagi di pabrik kimia.
Pabrik kimia 'kan, hanya ada di sini, ya?
Dia tidak ngaku.
Bapak ngapain di sini?
Kebetulan, Pak. Tapi tidak apa-apa, ya, Pak?
Bapak temenin saya. Ngeri juga, Pak.
Syukur kalau ketemu setan,
kalau ketemu orang jahat, seram, Pak.
Apalagi kalau mau pinjam uang.
Tapi, Pak, jujur,
zaman sekarang banyak banget orang jahat, Pak.
Benar.
Silakan.
Saya jalan duluan nih, Pak?
Aduh, jadi tidak enak ini.
Tidak apa-apa saya jalan duluan di depan Pak Kades?
Ini sebenarnya saya tidak tahu, sih, Pak, arahnya ke mana ini.
Tapi omong-omong, Bapak kenapa jalannya begitu?
Seperti lagi gendong tuyul aja.
Tapi tidak mungkin 'kan, kalau Bapak melihara tuyul?
Masa Pak Kades melihara tuyul?
Cecep?
Cep…
Cecep?
Cep, ayo. Kamu ngapain di sini?
Cerminnya ada di sini semua.
Ki?
Kiki!
Ki?
Ki…
Kiki…
Bu…
Bu. Kiki, Bu.
- Ki… Kiki… - Put!
Sudah, sudah.
Dengar, kita harus pergi, ya?
Kita sudah tidak bisa lakukan apa-apa lagi, Nak.
Kiki, Bu.
Tempat ini bahaya, kita harus keluar, ya?
Ya?
Ayo, Ji, pelan-pelan.
Ayo, Ji.
Ji…
Hei, hei!
Bu. Ayo, Bu.
Put, Put. Lari Put!
- Lari sekarang! - Hei!
Naik.
Naik!
Mau ke mana kamu?
Tidak perlu seperti ini, Mbar.
Meskipun kamu lolos dari aku, kamu tidak akan lolos dari Sumarni.
Kuntilanak hitam yang akan menyerang siapa pun
yang datang ke sini selepas magrib.
Kamu itu sudah paling aman di loteng.
Dia tidak bisa menyerang kamu di sana.
Sialan!
Paku baja, paku kelapa.
Tajamnya menembus tulang sumsum dan jantung.
Duniamu bukan duniaku.
Pergi yang jauh, seberangi lautan!
Pergi!
Ambar! Putri! Keluar kalian!
Tidak kasihan kalian sama Aji?
Aji aman sama aku.
Sekarang.
Tapi kalau kalian terus bersikap seperti ini…
Put, dengarkan Ibu satu kali ini aja.
Satu kali ini aja.
Apa, Bu?
Berani-beraninya kamu kabur dari aku.
Mana Putri?
Jangan bawa anak-anakku.
Aduh.
Aji…
- Ibu? - Sini, Nak.
Sini, Nak.
- Ini Ibu. - Ibu?
Sini, Aji.
Ibu.
Aji!
Ji… Aji?
Aji? Aji?
Aji.
Aji tidak apa-apa?
Mas?
Mas…
Mas… Mas Cecep.
Mas… Mas…
Ibu bisa selamat kalau tuyul itu mati.
Tuyul bisa mati kalau tuannya mati.
Tapi 'kan, tidak mungkin aku bunuh Pak Kiman.
Basah.
Satu-satunya yang mengancam Pak Kiman itu…
kuntilanak hitam.
Tapi 'kan, Pak Kiman punya jimat.
Ji…
Mbak butuh kamu.
Aji… Aji…
Yuk.
Mau apa kamu?
Mau bunuh aku, Mbar?
Aku tidak takut mati!
Buat apa kamu mati sia-sia untuk sesuatu yang tidak berguna?
Hei, aku tahu hidupmu tidak enak.
Miskin.
Tapi ingat, Mbar, anak-anakmu.
Mereka masih butuh ibunya.
Kamu… lebih berguna di sini.
Kenapa aku?
Kenapa?
Kamu sendiri yang melakukan ini ke dirimu.
Kamu sendiri yang memilih untuk jadi ibu susu anakku.
Hei.
Kalau istriku masih hidup,
aku tidak butuh kamu dan perempuan-perempuan itu, Ambar.
Bajingan!
Kamu sengaja mengincar aku selama ini!
Ini bukan masalah pribadi, Ibu Ambar.
Aku tidak mengincar siapa-siapa.
Tapi memang biasanya orang miskin
yang suka mengambil yang bukan haknya.
Seperti uang yang dipinggir jalan.
Kamu dan anak-anakmu…
akan mati!
Jangan bawa anak-anakku!
Nak…
Makananmu siap.
Sialan.
Bocah!
Aji…
Keluar, Ji.
Di mana kamu?
Tolong.
Tolong.
Tolong.
Tolong.
Ibu…
Ibu…
Sialan!
Ibu!
Aji.
Aji.
Ibu!
Anak miskin!
Mau apa lagi kamu?
Tidak kapok-kapok kamu, ya!
Lepas!
Ibu!
Ibu! Ibu! Ibu!
- Ibu! - Ibu… Bu…
Hei, buka! Buka!
Ibu…
Hei!
Hei, buka!
Ayo, Bu…
Aji! Aji! Ji…
Bu… Ibu di sini dulu, ya, Bu.
- Aji… - Pelan-pelan, Bu. Iya, iya.
Putri jemput Aji, yah?
Ji…
Aji!
Hei! Buka!
Cukup, Marni! Bukan aku yang menyebabkan kamu mati!
Cukup, Marni.
Marni!
Bukan salahku…
Marni!
Aku suamimu, Marni.
Aku suamimu.
Aku…
- Mbak? Mbak Putri. Mbak. - Aji.
Aji.
Ibu? Ibu.
- Bu… - Ibu…
- Ibu… Bu… - Ibu… Bu…
- Bu… - Bu…
- Bu… - Udah, Bu.
Anakku.
- Bu. - Bu.
Ibu…
Ibu…
Maafkan Ibu, ya, Put.
Jaga Aji.
Jangan ngomong seperti itu. Kita pulang, ya, Bu.
- Ayo, Bu. - Pulang, Bu.
Ayo, Bu.
Ibu…
- Bu… - Ibu… Bangun, Ibu. Bangun…
- Pulang, ya, Bu? - Bangun…
Ibu…
Maafkan Putri, Bu.
Sebentar dulu. Memangnya di sini tidak apa-apa foto bertiga?
Pamali, tahu!
Nanti yang di tengah kena sial.
Udah, cepat foto.
Rusak, deh, kamera aku ada kamu. Awas, awas!
Sudah biarkan saja rusak, saya yang penting di tengah.
Satu…
Dua… Tiga.
Dok. Maaf, saya sudah bisa ketemu pasiennya?
Iya, boleh.
Di dalam juga sepertinya sudah ada dua orang yang menjenguk.
Terima kasih, Dok.
Orang itu biasanya ditimpa rezeki…
Ini malah ditimpa drum.
Lagian juga biasanya kalau orang merantau itu jadi sukses.
Kenapa mas Cecep sial terus, ya?
Mila, terima kasih banyak, ya,
sudah antar Eneng ke sini.
Putri.
Mila, Eneng, ini Mbak Putri.
Put, saya turut berduka cita, ya, atas ibumu.
Aku juga turut berduka cita, ya, Mas.
Kiki dan Mas Nurdin…
Terima kasih.
Meskipun sebenarnya saya sudah bilang,
kalau foto bertiga itu pamali.
Meninggal itu karena takdir, Mas.
Kita tidak boleh percaya hal-hal seperti itu.
Mila, kamu kenapa?
Ada kabar, Cep.
Dari dusun Ranca Bugang.
Dusun pocong?
KEJADIAN, TOKOH DAN PERUSAHAAN YANG DIGAMBARKAN DALAM FILM INI ADALAH FIKSI.
KESAMAAN APA PUN PADA TOKOH ATAU KEJADIAN DAN PERUSAHAAN SEBENARNYA
MURNI KEBETULAN BELAKA.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.