All language subtitles for That.Untold.Story.2024.WEB-DL.x264-Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Nikmati film favorit Anda dengan SUBTITLE berkualitas dari TERASKATA

Alih bahasa : Agus Leo >> TERASKATA Support: https://trakteer.id/BungLeo/tip

Contact Us @ +62 857 3104 1995 (WhatsApp Text Only)

Aku tak tahu mau bilang apa.

Kalau saja mereka bangun lebih awal, mungkin saja mereka bisa menang

- Aku lapar, aku mau makan sesuatu. - Apa yang kau katakan?

Aku pernah memiliki sepotong waktu.

Dalam potongan waktu itu...

Meski kata-kataku sederhana,

aku mampu menggambarkan tiap denyut waktu.

Dengan jiwaku yang telah kering,

Aku menyimpan setiap detik, setiap gerak, setiap bisikan.

Namun potongan waktu itu hanya sekejap.

Seperti sebuah kisah… yang baru saja memulai bab pertamanya.

Kebaikan yang berhenti di permukaan.

Tahukah kamu?

Dalam kehidupan ini...

Ada banyak benih yang tidak diterima.

Segalanya tersembunyi di sudut yang tak terlihat oleh dunia.

Mereka bermekaran menjadi bunga.

KISAH YANG TAK DIKETAHUI ORANG

Aku meneleponmu, tapi kau tak menjawab.

Kebiasaan buruk tak bawa ponsel saat bekerja.

Sudah pulang ke negara asal, tapi masih belum berubah.

Kenapa video call?

Bagaimana kabarmu belakangan ini?

Lumayan bagus.

Tanpa aku, mana mungkin kau baik-baik saja?

Kalau tak ada urusan, tutup saja.

Kemarilah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.

Bisa kau perbaiki ini? Ini pekerjaan mendesak.

Seberapa mendesak?

Dua ratus ribu sebulan.

Minimal tiga bulan.

Kau sudah gila?

Hari ini saham sedang bagus.

Bagimu, saham itu penting?

Bagiku, menyelesaikan restorasi jauh lebih penting.

Kalau tiga bulan...

Sepuluh ribu saja.

Tukang tipu.

Aku yakin, barang yang kau sukai,

tetap kau perbaiki meski tak dibayar.

Aku mau kerja lagi.

Barangnya akan kukirim padamu.

Halo, Xiao Tian.

Kantor polisi mana?

Hei, siapa walimu?

Katanya kau dipukul? Lukanya di mana?

Tak apa.

Beberapa anak muda sedang naik taksi.

Kebetulan ada seorang nenek.

Merasa bahwa nenek itu kesulitan berjalan.

Pria itu hanya ingin mendahulukan si nenek.

Menurutku, kedua belah pihak bertanggung jawab.

Siapa yang pertama kali memanggil taksinya?

Apa?

Supir yang memukul itu kamu, bukan?

Aku bertanya: Siapa yang duluan memanggil taksi?

Kalau kamu tak mau minta maaf dan ganti rugi,

kita bertemu di pengadilan.

Kamu mau berapa?

Minta maaf dan bayar lima ribu.

Baik.

Tapi beri aku waktu beberapa hari.

Sekarang aku belum punya uang sebanyak itu.

Kalau begitu, minta maaf dulu.

Maafkan aku.

Karena kalian sudah sepakat berdamai,

setelah menandatangani surat mediasi, kalian boleh pergi.

Tunggu.

Ini nomor ponselku.

Akan segera kukirim uangnya.

Li Jia, ini orangnya bukan?

Katanya mau segera datang.

Kenapa baru sekarang muncul?

Maaf ya, Bos. Begitu terima telepon, aku langsung turun.

Tapi mobilku terhalang.

Benar-benar bikin repot.

- Mau ke mana? - Huasheng Golden Plaza.

TAKSI - KOSONG

Di sana sedang diperbaiki. Tak bisa dilewati.

Ke Huasheng Golden Plaza, Pak?

Pak, ke Huasheng Golden Plaza?

Naiklah.

Terima kasih.

KARTU PENGAWASAN LAYANAN PENGEMUDI TAKSI KOTA JIANGZHOU

Nama Pengemudi: Chen Mingsheng Nomor Plat Mobil: 江C.J4763

Ini nomor ponselku.

Akan segera kukirim uangnya.

Kamu cukup nekat...

berebut taksi dengan nenek tua.

- Aku tak niat berebut. - Lalu kenapa jadi ribut?

Supir itu, dia meremehkan aku.

Perilaku seperti itu memang mudah membuat orang meremehkan.

Kakak merasa aku memalukan, ya?

Hidup ini milikmu sendiri.

Tak ada yang bisa mempermalukan orang lain.

TAKSI - 江C.J4763

Aku sering memikirkan satu hal.

Kalau Xiao Tian tak berkelahi denganmu...

Kalau hari hujan itu aku tak naik taksimu...

mungkinkah sekarang semuanya berbeda?

Tempatnya sudah dekat.

Kamu jalan kaki saja.

Terima kasih.

Langit mulai gelap. Tak usah bicara lagi. Cepat jalan.

Ayo, kita dorong bersama.

Sisanya biar aku yang urus.

Kamu pulanglah dulu.

Singgah dulu di rumahku, berteduh dari hujan.

Kakimu perlu ditangani.

Tak perlu. Terima kasih.

Aku bahkan tak melihatnya. Kau takut apa?

Itu tak ada hubungannya.

Atau kamu masih menyimpan dendam?

Itu pun tak ada hubungannya.

Uangmu...

sedang kusiapkan.

Akan segera kukirim.

Aku bukan sedang menagih.

Dan bukan pula sedang berunding.

Sertifikat izin taksimu, kau dapatkan dengan cara apa?

Memberi hadiah? Atau menyuap?

Tak apa. Langsung masuk saja.

Sejak kapan kita memulainya?

Jika aku menanyakan padamu...

Apa jawabanmu akan sama denganku?

Katakan...

Bahkan aku tak punya jawabannya.

Maaf.

Aku tertidur.

Namaku Yang Zhao.

Halo, Nona Yang.

Namaku Chen Mingsheng.

Kamu tak bisa terus begini. Aku akan mengantarmu ke RS.

Sudah kukatakan berulang kali, luka tak boleh kena air, kan?

Semuanya terinfeksi?

Apa yang terjadi?

Semalam aku kehujanan.

Kondisimu sekarang terlihat jauh lebih parah dari sebelumnya.

Rawat inap dulu.

Tak usah, pulang dan istirahat sebentar sudah cukup.

Begitulah yang kau katakan terakhir kali.

Kita pasang infus anti-radang dulu, baru bicara.

Eh, tiang infus ini rusak.

Nona, tolong bantu pegang ini sebentar.

Maaf merepotkanmu.

Tinggalkan prostetikmu untuk saat ini.

Kenapa belum selesai? Orangnya menunggu!

Kamu tinggal di mana?

Tak perlu.

Aku bisa naik taksi sendiri.

Masuk mobil.

Terima kasih banyak untuk hari ini.

Aku lapar.

Kita makan dulu.

Kamu ingin makan apa?

- Bu Zhang, pesan dua mangkok wonton alam. - Baik.

Tambah telor ceplok seperti biasa?

Ya.

- Terima kasih. - Terima kasih.

Kamu tahu cara memilih tempat yang tepat.

Aku sangat suka.

Kalau begitu, aku naik dulu.

Aku akan mengantarmu ke atas.

Tak usah.

Kamu pulang dan beristirahatlah.

Aku meneleponmu, tapi tak dijawab.

Aku datang menemuimu.

Aku datang untuk mengambil kaki palsuku.

Dokter bilang, hanya boleh dipakai setelah lukanya sembuh.

Sebenarnya, tak separah itu.

GURU SUN

Halo, Guru Sun.

Baiklah, aku mengerti.

Terima kasih, ya.

Adikku tak ada di sekolah. Aku harus mencarinya.

Malam-malam biasanya main ke mana?

Akan kuantar kamu ke sana.

Kakak.

Ikut Kakak pulang.

Hei cantik, ayo bersenang-senang sebentar.

Minggir!

- Dia, Kakakku. - Minggir!

- Dasar, perempuan! - Minggir!

Kamu pergi ke pinggir jalan dan tunggu Kakak.

Kakak pergi ambil mobil dulu.

Apa yang kau lakukan?

Jangan sentuh barang itu.

Barang apa?

Aku tak tahu apa yang kau bicarakan?

Aku tak menyentuh barang itu.

Jangan bilang apa pun ke kakakku. Kau dengar?

Aku tahu kau tak menyentuhnya.

Aku antar kamu pulang dulu.

Tak usah.

Aku bisa pulang sendiri.

Bai Ji!

Hei, Wen Lei.

Kak, mulai sekarang jangan hubungi sopir itu lagi.

Oke?

Urus dirimu sendiri.

Dia bukan orang baik.

- Dia... - Apa teman-temanmu orang baik?

Apa kamu orang baik?

Tentu saja aku orang baik.

Jangan asal bicara tentang orang lain.

Terlebih lagi, jangan mudah menyimpulkan tentang orang lain.

Aku sudah kenyang.

Chen Mingsheng, kamu bisa masak, kan?

Aku teringat kamu kembali.

Kamu sangat mirip dengan mereka.

Semua masih menjaga kisah masa lalu.

Chen Mingsheng...

Aku datang menemuimu.

Aku sudah hampir sembuh.

Aku ingin bertemu denganmu.

Kenapa?

Aku tak tahu?

Aku cuma ingin melihatmu.

YANG: Kalau kamu ada waktu, bisa ajari aku masak?

Di sini.

Kau tak salah tempat.

Aku tinggal di sana.

Yang di situ adalah tempat kerjaku.

Kamu mau lihat-lihat sebentar?

Biasanya aku bekerja di sini.

Yang itu kamar Xiao Tian.

Itu semua barang antik?

Di dalam juga ada beberapa yang palsu.

Ada saja pedagang yang curang. Barang palsu dikirim, aku yang harus memperbaiki?

Begitu aku tahu, langsung kutahan.

Seperti bank yang menyita uang palsu.

Intinya sama saja, kan?

Kamu memperbaiki semua jenis barang antik?

Tidak.

Aku hanya memperbaiki tembikar dan porselen.

Aku tak terlalu mengerti soal kayu.

Ini kiriman dari klien lama.

Dia bersikeras agar aku memperbaiki kotaknya juga.

Aku sudah cari banyak bahan kayu.

Rasanya semua tak terlalu cocok.

Ini dari Yunnan, kan?

Kamu paham soal kayu, ya?

Sepertinya aku pernah melihatnya di sana.

Yunnan, ya?

Di daerah Guangxi seharusnya juga ada.

Aku akan cek dulu.

Hei...

Bukannya kamu mau belajar masak?

Ayo.

Hari ini kamu mau ajari aku masak apa?

Iga asam manis.

Kentang tumis cabai hijau.

Kamu suka cahaya fajar atau senja?

Senja.

Bagaimana denganmu?

Dulu aku tak pernah menyukai senja.

Setiap kali senja tiba,

aku selalu kembali masuk ke rumah...

dengan kesendirianku.

Terkadang ada semacam perasaan ditinggal oleh alam semesta.

Tak pernah terpikir olehku...

suatu hari...

aku juga akan merasa...

cahaya senja begitu indah.

Apa masih terasa sakit?

Sudah tidak.

Aku sudah terbiasa.

Besok ada acara? Kamu lupa ambil kaki palsumu.

Besok teman-teman datang ke rumah untuk makan malam.

Boleh aku ikut?

Kak, iga asam manisnya benar-benar enak.

Sejak kapan belajar masak?

Hmm.

- Boleh saja, tapi mereka agak ribut. - Tidak apa-apa.

Kamu mau makan apa?

YANG: Iga asam manis.

Benar, kan?

Bagaimana Kak Sheng bisa berhubungan dengannya?

Kalian kenal dia?

Dia perempuan lima ribu yuan itu, saat di Kantor Polisi Lingkong.

Ssst...

Apa kalian tak salah orang?

Tanda tangan di dokumen mediasi itu adalah Yang Zhao.

Tak mungkin aku salah.

Kecilkan suaramu!

Entah apa yang dia kejar dari Kak Sheng.

Meledak, dapat!

Hei, rapikan mejanya.

- Ayo, waktunya makan. - Ya.

Serius, 6688 kau anggap meledak?

Aiya, kau berhasil.

Kami pergi, Kak Sheng.

Kak Sheng, anu...

Ada apa?

Tidak ada apa-apa.

Ayo pergi. Sampai jumpa.

Xue?

Kau sudah kembali ke tanah air?

Aku langsung ke sini begitu mendarat.

Kau kembali hanya untuk mengawasiku bekerja?

Aku datang untuk menghadiri acara lelang.

Kau masih merokok seganas itu, ya?

Turun pesawat langsung segar? Hebat juga.

Aku putuskan makan malam denganmu dulu, baru istirahat.

Kalau begitu, tunggulah.

Aku harus selesaikan pekerjaan hari ini.

- Tambah enam botol bir lagi. - Baik.

Pesan dua botol saja.

Kak Sheng tak minum alkohol.

Kak Sheng itu mudah mabuk, minum atau tidak, tak ada bedanya.

Anak ini congkak juga, ya?

Ada apa?

Malam itu...

Kalian memang ingin mengatakannya, kan?

Kak Sheng, katakan, kenapa kau begini?

Kenapa kau bisa bersama dia?

Ada apa dengannya?

Kak Sheng,

Orang seperti dia...

sama sekali berbeda dengan kita.

Sebelumnya dia...

saat masih di kantor polisi, memeras uangmu.

Sekarang tiba-tiba berubah lagi jadi seperti ini.

Kenapa kau pilih tempat seperti ini untuk makan?

Orang seperti ini, terganggung secara mental.

“Obsesi” merujuk pada seseorang yang tergila-gila pada penyandang disabilitas

atau terobsesi ingin menjadi difabel.

Kak Sheng, dengar baik-baik...

Perempuan seperti dia, dia itu--

begitu lihat "itu tuh", dia langsung--

Dia--

Apa? Apa maksudnya?

Terus terang saja, itu kelainan!

Kau ini kenapa?

Pelankan suaramu, jangan berisik di tempat publik.

Kenapa?

Chen Mingsheng...

Keinginanku itu sungguh-sungguh.

Perasaanku juga tulus.

Aku tak menyembunyikan apa pun.

JEDA - TIDAK MENERIMA PENUMPANG

Aku jarang menyaksikan fajar menyingsing.

Terkadang malah menarik tirai jendela.

Saat sinar matahari menerobos masuk.

Aku akan langsung gugup.

Karena...

Aku harus menghapus diriku dari ingatan.

Yang tersisa hanyalah senja.

Baru setelah itu aku bisa menghela napas lega.

Masa-masa seperti ini.

Telah lama berlalu.

Tak disangka...

Aku pun merasakan...

fajar begitu indah.

Ayo kita pergi...

Mohon tarik kakimu.

Silahkan, makanan terakhir.

Kamu kenal mereka?

Tidak kenal.

Pergi panggil petugas kereta.

Ada orang di dalam.

Oi...

Kalau kau terburu-buru, pergilah ke gerbong lain dulu.

Kau kenal mereka, bukan? Apa yang kau lakukan di dalam toilet?

Aku tak tahu.

Lalu bagaimana kau bisa bertengkar dengan mereka?

Aku mau buang air.

Orang itu menghalangi dan tak membiarkanku masuk.

Silahkan tanya pada petugas kereta.

Dia yang menyerang duluan.

Tidak! Kau pergilah ke gerbong lain, bisa?

Oi, cepat keluar!

Hei, bukan kau saja yang ingin buang air!

Kau tak mengerti omongan orang, ya?

- Hoi, keluar! - Kau mau berhenti atau tidak!

Permisi, beri jalan!

Jangan berkerumun. Minggir, beri jalan!

Semuanya! Kembali ke kursi masing-masing.

Hei! Apa yang kau lakukan?

Dia melarangku masuk ke toilet

Dia memukulku dengan sesuatu yang ada di dalam tasnya.

Tak apa, kami sudah tahu inti persoalannya.

Hari ini sudah tak ada lagi jadwal kereta.

Besok datanglah lebih awal. Aku bantu kalian urus penjadwalan ulang.

Tak perlu bantuan, biar kami urus sendiri.

Kepala Polisi Sun sudah keluar.

Apa yang kalian lakukan?

Hei!

Kenapa kau hapus fotoku?

Chen Mingsheng...

Kemarilah.

Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?

Kejadian hari ini.

Kamu mendengarkan aku?

Mengapa kamu begitu mengenal dunia narkoba?

Dulu aku...

pernah terlibat dengan barang-barang itu.

Kau pernah memakainya?

Tidak pernah.

Tatap aku.

Sungguh, tidak pernah.

Lalu, mengapa?

Aku tak ingin membohongimu.

Tapi aku benar-benar tak bisa mengatakannya.

Chen Mingsheng, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.

Apa alasanmu mengungkap kedua orang itu?

Aku tahu dia sedang kecanduan,

dan dia sepertinya pergi ke toilet

untuk memakai barang itu.

Bukan begitu. Kamu sudah menyadarinya sejak awal.

Kamu sempat bimbang cukup lama, tapi akhirnya kamu mendekatinya. Kenapa?

Kenapa kamu berbohong pada polisi?

Aku tak ingin cari masalah.

Jadi, berkata menurutmu jujur pada polisi adalah "mencari masalah"?

Kenapa kamu tak membiarkan wartawan mengambil foto?

Aku tak ingin menarik perhatian.

Kamu pandai berkelahi, ditubuhmu penuh bekas luka.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Dulu aku...

- pernah jalani operasi... - Bahu dan punggungmu penuh luka.

Coba jelaskan, operasi apa itu? Bagaimana bisa sampai seperti itu?

Apa semua ini tidak penting?

Kamu enggan bicara terus terang denganku.

Aku akan tanya satu pertanyaan terakhir.

Chen Mingsheng...

Kamu orang baik,

atau masih jahat?

Aku bukan orang jahat.

Aku bukan orang jahat.

Pagoda putih itu,

saat dilihat di siang hari,

tak ada istimewanya.

Namun, jika saat menjelang malam tiba,

justru malah lebih bisa memperlihatkan putihnya.

Seolah-olah itu abadi.

Tak satu pun akan ditelan oleh malam.

Yang Zhao...

Maukah kamu...

Kamu...

Bersediakah kamu?

Kamu tahu sebelum aku bicara.

Cukup?

Tambah sedikit lagi.

Aku angkat telepon dulu.

Kau pergi ke luar kota untuk apa?

Kau mengawasiku?

"Kau mengawasiku?"

Sudah masuk kantor polisi, masih perlu diawasi?

Cepat kembali!

Pergi main sampai begini!

Orang lain sudah berhasil menghubunginya.

Kau lupa, bagaimana kakimu bisa putus?

Tugasmu sekarang cuma pura-pura mati! Kau masih berani muncul bicara?!

Kalau begitu...

- aku akan pindah tempat. - Kau diam saja di sini.

Tunggu kabar dariku.

Chen Mingsheng...

Karena sudah terlanjur terbongkar.

Siapkan mentalmu.

Kak Sheng,

jangan salahkan Xu Zhi kalau dia bicara keras.

Menurutmu maksudnya...

aku harus pulang?

Bersabarlah.

Lihat apakah Xu Zhi bisa redakan masalah ini.

Kak Sheng...

- kalau bukan karena berita itu-- - Sudah, pergilah!

Kak Sheng, kami pergi dulu.

KANTOR POLISI DEPAN STASIUN BERHASIL MENGUNGKAP KASUS NARKOBA

Stroberi, blueberry, punya berbagai macam rasa

Oh, kalau itu Ayah sudah tahu.

Bai Ji!

- Ayah. - Lihat! Ada perkelahian!

Cepat! Di sini! Ada yang mulai menyerang!

Pergilah, bersembunyi di sana.

Berhenti!

Ayah!

Di depan anak kecil, kalian malah berkelahi?

Kau dengar ya, jangan ikut campur.

Kalau kau masih banyak bicara, kau juga akan kuhajar!

Kuhajar kau!

Ayah!

Adik, kamu tak apa-apa?

- Ayah, aku takut. - Tak apa-apa.

Hei!

Lumayan juga.

Namaku Bai Ji.

Siapa namamu?

Jiang Ming.

JEDA - TIDAK MENERIMA PENUMPANG

Ini.

Apa yang kau lupa?

Hari-hari kecil ini, sepertinya sudah dimulai, ya?

Belum sarapan?

Sarapan kaki nenekmu?

Bersiaplah.

Katanya hari-hariku sudah dimulai?

Apa yang perlu dipersiapkan?

Aku tak bercanda.

Sudah dikonfirmasi.

Bai Ji tahu kau masih hidup.

Dia pasti akan datang mencarimu.

Sekarang Bai Ji sangat ketat dalam mengatur anak buahnya

Pendatang baru sama sekali tak bisa masuk.

Orang yang dia percayai...

tak banyak.

Lagipula...

Ada satu hal yang belum pernah kukatakan padamu.

Lao Yan...

telah gugur.

Kapan?

Sebulan lalu.

Bai Ji yang melakukannya.

Kau, masuklah.

- Lao Yan. - Ya.

Ini lulusan terbaik yang dikirimkan ke tim kita.

Mulai sekarang dia ikut kau.

Nomor polisi: 087026.

Siap melapor.

Sepertinya kau cukup tangguh, Nak.

- Bisa tahan kerasnya tugas? - Bisa!

Bisa?

Kalau bisa tahan, bagus.

Aku tahu hidupmu tak mudah.

Tapi siapa pula yang hidupnya mudah?

Kalau kau masih banyak bicara, kau juga akan kuhajar!

Lebih keras lagi!

Jangan tahan!

Ayo!

Coba kau ingat tim kita dulu.

Tak banyak yang bertahan.

Coba pikirkan lagi mereka yang hancur karena narkoba.

Keluarga yang tercerai-berai, istri pergi, anak-anak terpencar.

JEDA - TIDAK MENERIMA PENUMPANG

Tenang saja.

Begitu Bai Ji ditumbangkan...

aku akan pertaruhkan nyawaku agar kau bisa menikah.

Ya?

Dalam dua hari ini,

persiapkan dirimu dulu.

Begitu buru-buru ingin bertemu denganku?

Ada apa?

Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.

Apa itu?

Mungkin...

aku akan pergi untuk sementara waktu.

Ke mana?

Aku akan kembali ke pekerjaan lamaku.

Seperti yang di kereta itu?

Berbahaya?

Pekerjaan berbahaya, bukan?

Berapa lama?

Tak tahu.

Temani aku ke rumah orang tuaku.

Yang Zhao...

Nanti saja.

Jika ada kesempatan...

baru kita kunjungi mereka.

Itu pilihanmu.

Aku tak akan ikut campur.

Aku hanya ingin tahu...

berapa lama sebenarnya?

Setengah tahun?

Setahun?

Aku benar-benar tak tahu berapa lama sebenarnya?

Seandainya...

kamu menyukai orang lain.

Tak usah pikirkan aku.

Tak usah tunggu aku lagi.

♪ Dirimu yang begitu lembut ♪

♪ Bagai awan dan hujan yang tak bisa kutebak ♪

♪ Nafasmu yang lembut, begitu menenangkan ♪

Chen Mingsheng...

kau benar-benar berengsek.

♪ Aku terus mengejarmu, yang tak pernah berhenti ♪

♪ Aku enggan meninggalkanmu ♪

♪ Kuingin engkau kembali ♪

♪ Ku akan menunggu hingga kembang api berkembang ♪

Aku mengerti.

♪ Keberadaanmu selalu mengisi ruang ♪

Aku akan pergi malam ini.

♪ Ku akan menunggumu kembali ♪

♪ Meskipun harus lampaui gunung dan laut ♪

Bolehkah aku menghubungimu?

♪ Bayang punggungmu masih membekas dalam satu denyut di kejauhan ♪

Tidak.

♪ Kuingin menemanimu ke tempat yang jauh ♪

Jika ada kesempatan...

Aku akan menghubungimu

♪ Aku enggan meninggalkanmu ♪

Aku mengerti.

♪ Kuingin engkau kembali ♪

♪ Ku akan menunggu hingga kembang api berkembang ♪

♪ Keberadaanmu selalu mengisi ruang ♪

♪ Ku akan menunggumu kembali ♪

♪ Meskipun harus lampaui gunung dan laut ♪

♪ Bayang punggungmu masih membekas dalam satu denyut di kejauhan ♪

♪ Aku ingin menemanimu ke tempat yang jauh ♪

DETAIL

KONTAK DARURAT

HAPUS SEMUA DETAIL

TELAH DIHAPUS

Menunggu...

adalah penderitaan yang paling menyiksa.

Kakak...

kamu kenapa?

Melukis, lalu dihapus. Dilukis lagi, dihapus lagi.

Ada hubungannya dengan pria itu?

Benar, kan?

Namanya Chen Mingsheng.

Sebulan...

Dua bulan...

Tiga bulan...

Kamu tak kunjung berkabar.

Ayo keluar jalan-jalan.

Sudah berapa lama kau tak keluar rumah?

Kalau sempat, jalan-jalanlah.

Hei.

Oke, sebentar lagi sampai.

Cuma gara-gara satu ponsel, kau jadi begitu gelisah.

Jika saatnya melepas, maka lepaskan.

Kau ini kenapa?

Sudah kulepaskan.

Aku mengkhawatirkan kondisimu saat ini.

Pulanglah bersamaku.

Ke mana?

Amerika.

Kembali ke studio lamamu.

Kau tinggal di sini untuk bekerja? Untuk adikmu?

Atau untuk pria itu?

Alasannya tak penting.

Yang penting...

Aku tak akan pergi.

Belakangan Bai Ji sering terhubung dengan beberapa nomor.

Kontaknya cukup intens.

Ikuti saja.

Kalau dia kembali, bagaimana?

Tak ada rasa lelah.

Tapi juga tak ada siksaan.

Sekarang Bai Ji jauh lebih hati-hati.

Kalau tidak, tak mungkin berbulan-bulan tak keluar.

Kali ini dia ke kota

untuk membeli kado ulang tahun untuk putrinya.

Ada satu nomor yang muncul di Jiangzhou.

Kapan?

Tenang saja.

Aku tahu...

Bai-ji utus orang untuk menyelidikimu.

Perusahaan taksi Jiangzhou.

Kantor polisi Chuanbei.

Semuanya sudah kami atur.

Kalau dia berani biarkan kau keluar sendirian,

itu berarti kau sudah mendapatkan kembali kepercayaannya.

Kami mundur dulu.

Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat diakses.

Silakan coba beberapa saat lagi.

Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat diakses.

Kak Sheng, kau minta aku cari tahu nomor milik Yang Zhao,

Sudah seminggu ini tak ada penggunaan.

Lalu, nomor yang kuminta kau selidiki saat kita di hotel itu,

sejak kapan itu pernah ada di Jiangzhou?

Juga seminggu lalu.

Aku sudah kembali ke Jiangzhou.

Kau khawatir soal keamanannya?

Semuanya sudah diatur. Percayalah pada kantor.

Besok pagi aku naik penerbangan pertama pulang.

Ada yang menghubungimu dari sana?

Tidak ada.

Dia tahu barang pesanan anaknya baru bisa diambil besok sore.

Cepat tutup jaringannya.

Cepat?

Tak ada yang benar-benar cepat atau lambat.

Hati-hati.

Baiklah.

Mari makan wontonnya.

- Tambah telur mata sapi, ya. - Baiklah.

Orang-orang sekarang itu benar-benar aneh ya?

Setiap kali datang, satu orang pesan dua mangkuk.

Biar aku selesai makan dulu, baru kita bereskan bersama.

Baik, mohon tunggu sebentar, ya.

Makan pelan-pelan ya, Nak.

Terima kasih.

Seandainya...

kamu menyukai orang lain.

Tak usah pikirkan aku.

Bolehkah aku menghubungimu?

Jika ada kesempatan, aku akan menghubungimu.

Hei...

Chen Minsheng?

Ini aku, Yang Zhao.

Apa kamu ada tempat aman untuk bicara?

Ada.

Omong kosong!

Memang ada.

Aku menghubungimu seperti ini, apa akan ada masalah?

Maaf, aku tak ingin membuatmu celaka. Aku hanya... tak tahu harus berbuat apa.

Aku hanya ingin mengucapkan dua kata padamu.

Aku sangat merindukanmu.

Aku tahu.

Aku juga merindukanmu.

Mmm...

Kalau begitu, bekerjalah dengan baik.

Aku tutup dulu ya.

Aku ingin dengar suaramu lagi.

Baiklah.

Apa yang ingin kamu dengar?

Sudah makan belum?

Aku sudah makan.

Kalau kamu?

Jaga dirimu baik-baik.

Kak Jiang Ming, kau ada di dalam?

Ya.

Ayahku minta kau keluar untuk potong kue.

- Baik. Aku segera keluar. - Cepat, ya.

Sudah cukup.

Cepat pergi.

Sudah, ya. Aku tutup.

Hmm...

Setelah selesaikan yang satru ini, aku pensiun.

Hidupku sudah cukup.

Semua urusan setelah ini sudah diatur.

- Terima kasih, Kak. - Bersulang.

"TEMPAT BERKUMPULNYA INSAN BIJAK DAN BERBAKAT DI SINILAH KEJAYAAN TUMBUH"

PENGUMUMAN PRESTASI

Hei.

Wen Lei.

Kak!

Baik.

Kakak!

Apakah semuanya terjadi karena aku menghubunginya?

Bukan.

Ketika operasi penangkapan berlangsung.

Penyamaran Kak Sheng sudah terbongkar.

Namanya Bai Ji. Dia pengedar.

Orang gila.

Sudah lebih dari sepuluh tahun.

Kau sama sekali tak pernah goyah?

Aku bisa terima jika orang lain mengkhianatiku.

Kecuali kau, Berengsek!

Polisi? Kenapa harus kau, Jiang Ming?

Namamu ini juga pasti palsu, bukan?

Ayo kita saling mengenal kembali.

Namaku Bai Ji.

Siapa namamu?

Jangan bergerak! Polisi! Diam ditempat!

Chen Mingsheng!

Kak Sheng disuntik racun oleh pengedar narkoba.

Kami bertindak secepat mungkin, sudah dilakukan detoksifikasi.

Chen Mingsheng...

Aku datang menemuimu.

Ini berbeda dari yang kau katakan.

Maaf...

Maaf...

Sebenarnya...

Saat dia diminta kembali ke Yunnan. Dia menolaknya.

Aku tahu kau penyebabnya.

Pada akhirnya dia setuju.

Kecuali dalam lingkup tugas polisi.

Dia pun menyadarinya.

Kalau kita tak memberantas orang-orang gila ini…

Cepat atau lambat, mereka akan menemukan kalian.

Jadi...

Aku mengerti.

Aku paham apa yang dia maksud.

Hei, Xue Miao. Bisakah kau bantu aku?

Katakan.

Bantu aku mencari ahli medis profesional.

Ahli medis apa?

Infeksi racun.

Aku ingin...

terkena sinar matahari.

Apa kamu menyesal?

Kamu menyesal?

Aku tak menyesal.

Aku cuma...

punya sedikit...

penyesalan.

Kalau saja...

aku lebih berusaha...

sedikit lebih keras...

segalanya pasti akan berbeda.

Cukup, Chen Mingsheng. Jangan dipikirkan.

Dokter mendesak agar Kak Sheng beristirahat.

Kamu ada keinginan makan sesuatu?

Wonton alam.

Yang Zhao...

Wonton alamnya...

tambah...

telur mata sapi.

Baiklah.

Yang Zhao...

Yang Zhao...

Yang Zhao...

Dokter ahlinya sudah dihubungi.

Mereka sudah pernah melakukan banyak operasi serupa.

Kirimkan data rekam medisnya padaku.

Aku sudah minta para ahli untuk mengadakan konsultasi bersama.

Baik.

Aku akan langsung pergi ke dokter untuk minta rekam medisnya

Keluarga pasien, silakan minggir dulu.

Yang Zhao...

Wonton alam...

ditambah...

telur mata sapi.

Terima kasih.

Aku pernah memiliki sepotong waktu.

Dalam potongan waktu itu...

Meski kata-kataku sederhana,

aku mampu menggambarkan tiap denyut waktu.

Dengan hatiku yang kering,

aku bisa mengingat semua detail.

Kisah itu...

Ayo, kita dorong bersama.

Terjadi pada suatu malam hujan deras yang mengguyur tanpa henti.

Di sebuah kamar yang diterpa cahaya senja.

♪ Menemanimu menatap senja ♪

Di sebuah pagoda putih yang sunyi di pegunungan.

Yang Zhao...

♪ Kamu berkata itu terlalu sepi ♪

Kamu...

Bersediakah kamu...

♪ Cahaya terakhir semakin ditekan, ♪

♪ semakin dirindukan, semakin menyakitkan ♪

Meskipun tak seorangpun tahu,

Tak ada yang peduli.

Ini.

♪ Itu adalah sebuah episode yang telah berlalu ♪

♪ Tetaplah engkau di hatiku ♪

Kamu suka cincin seperti apa?

♪ Tapi kenanganmu tak dapat kusentuh ♪

Kenapa?

♪ Yang kutakutkan saat mengenangmu adalah tangisan ♪

Kamu mau membelikan untukku?

♪ Maka aku memilih diam ♪

Mmm.

Aku tak mau.

♪ Jika aku terlalu naif pernah melupakanmu ♪

Aku tak suka hal seperti itu.

♪ Mungkin masih kamu, yang membuat hatiku terasa getir ♪

Lalu, kamu suka seperti apa?

♪ Luka yang tertinggal kala itu ♪

♪ Cahaya yang dulu kau beri ♪

Aku suka...

makan sarapan buatanmu,

♪ Tak mampu membuatku untuk menggapaimu ♪

makan malam, juga makan siang.

♪ Jika aku terlalu bodoh lupa cara untuk melupakan ♪

Semudah itu, ternyata.

♪ Pastilah kau yang akan pergi ♪

♪ Waktu berlalu terlalu cepat ♪

Yang kumaksud adalah setiap hari.

♪ Kuberharap... (Kuberharap) ♪

Boleh?

♪ terus melangkah ke arahmu (terus melangkah ke arahmu) ♪

♪ Memandang jauh ke depan ♪

Boleh.

♪ Aku pernah memiliki sepotong waktu ♪

♪ Ia menyempurnakan semua imajinasi ♪

♪ Lupa cara untuk melupakan ♪

Ini tidak enak, Chen Mingshen.

♪ Diriku yang keras kepala tak akan melepaskan ♪

♪ Rasa sakit yang tertinggal kala itu ♪

♪ Yang pernah memberiku sebuah mimpi ♪

♪ Semakin kumemikirkannya, semakin hampa, semakin gelisah ♪

Siap, gerak!

♪ Jika aku terlalu naif pernah melupakanmu ♪

♪ Pasti itu tanganmu yang masih melekat di tubuhku, tak mau kulepaskan ♪

Untuk nomor induk polisi...

Petugas dari Jiangzhou, nomor 087026.

CAHAYA ABADI

♪ Ada sebagian rasa utuh… ♪

♪ karena selalu ada seseorang yang memilih ♪

♪ untuk tetap kuat ♪

Yang akan terus dikenang!

Hormat, gerak!

♪ Jika aku terlalu bodoh lupa cara untuk melupakan ♪

♪ Karena kisah kita terus tumbuh di dalam ingatan ♪

♪ Ada sedikit rasa utuh yang tersisa ♪

♪ karena selalu ada seseorang yang memilih ♪

♪ untuk tetap kuat ♪

EMPAT TAHUN KEMUDIAN

CAHAYA ABADI

Aku tak tahu lukisan apa ini.

Kau pasti tahu.

Dua hari yang lalu, Kakakku...

Setelah pergi dari sini...

Dia bilang...

"Tahun ini, ternyata aku lupa hari peringatanmu."

Ini adalah hal terakhir yang dia tinggalkan untukmu.

Mulai sekarang...

Dia benar-benar tak akan datang lagi.

Tak apa jika aku juga telah melupakanmu.

Aku tak bisa memaafkan, tapi aku juga telah melupakan.

Bahkan kisah yang paling hambar sekalipun,

harus ada sebuah akhir juga.

Sekarang...

Kisah yang tidak diketahui siapa pun,

akhirnya lengkap.

♪ Kamu... kamu... ♪

♪ Bayangan yang samar ♪

Chen Mingsheng...

♪ Jangan... jangan pergi ♪

aku datang menemuimu.

♪ Tak akan kuucapkan satu kata pun lagi… ♪

♪ Kamu... kamu... ♪

♪ Takdir yang tenggelam dalam kedalaman ♪

♪ Sebelum semuanya dimulai ♪

Kenapa lukisannya agak tidak mirip?

Kenapa gunung salju dilukis jadi merah?

- Lihat! Ada perkelahian!

Cepat! Di sini! Ada yang mulai menyerang!

Lumayan juga.

Siapa namamu?

Jiang Ming.

Jika gunung salju...

Jika takdir dapat diramalkan...

Jika waktu...

Jika tahun-tahun yang telah berlalu dapat diulang kembali.

Orang yang hanya lewat itu.

Apakah aku masih bisa masuk ke dalam mimpimu?

Tapi kamu...

Maukah kamu bersedia menoleh kembali?

“Ada hal-hal yang, sekali dimulai, tak bisa dihentikan”

“Ada orang-orang yang, sekali ditemui, sulit untuk ditinggalkan”

TERASKATA SUBTITLE, jembatan bahasa untuk pengalaman sinematik Anda

Alih bahasa : Agus Leo >> TERASKATA Support: https://trakteer.id/BungLeo/tip

Contact Us @ +62 857 3104 1995 (WhatsApp Text Only)

♪ Kamu... kamu... ♪

♪ Misteri yang tak terungkap ♪

♪ Terlelap dalam keheningan ♪

♪ Tak meninggalkan jejak ♪

♪ Kehidupan... ♪

♪ Tak mudah untuk dilalui ♪

♪ Kebijaksanaan yang hanya bersatu sejenak ♪

♪ Akhirnya, kita memilih jalan yang berbeda ♪

♪ Aku ingin seperti angin ♪

♪ Yang mengikutimu dalam perjalanan jauh ♪

♪ Aku ingin seperti hujan ♪

♪ Yang hadir secara tiba-tiba ♪

♪ Aku ingin seperti potret ♪

♪ Yang membangunkanmu dari kenangan ♪

♪ Aku ingin seperti bumi ♪

♪ Yang menemanimu dari fajar hingga senja ♪

♪ Aku ingin seperti bumi ♪

♪ Yang menemanimu pulang ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.