Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Lagi!
Botak!
- Itu! - Eh, tolong!
BAGIAN SATU
Lucu orang-orang Batak ini.
Woi!
Maaf, ya!
Botak…
Woi!
Kampret!
Hai, aku Gema. Dan ini caraku meninggal.
Kalian tak salah dengar.
"Caraku meninggal."
Tapi sebelum meninggal, kenalan dulu mungkin, ya?
- Pagi. - Pagi, Nu.
Orang suka salah sebut. Namaku Gema, bukan Geuma.
Aku lumayan baru bekerja di agensi kreatif ini sebagai…
Seperti kalian peduli saja sebagai apa?
Yah, pekerjaannya oke.
Tapi, aku merasa…
Kalian melihatku tidak?
Tidak, ya? Eh!
Aku di sini.
Hai.
Aku di sini. Halo! Nah!
Dekat juga.
Sampai mana tadi, ya?
Oh, ya. Di sini gajinya lumayan.
Yang pakai baju ungu namanya Mbak Kerin.
Kalau yang di sana, Bang Ilham.
Kalau yang di sana…
Sepertinya kita kurang mundur.
Lihat, itu aku.
Gemas sekali, 'kan?
Kalau yang ini, tidak gemas.
Ini papaku.
Dia sangat jago berjualan.
Maaf, maksudku dia sangat jago menipu.
Papa bisa buat ratusan orang
menaruh uangnya di investasi bodong punya dia.
Dia selalu bilang, dia melakukan semua ini untukku.
Agar aku bisa sekolah.
Tapi aku suka kepikiran,
anak orang-orang yang dia tipu putus sekolah atau tidak, ya?
Lagi pula, biaya pendaftaran investasinya lebih besar dari uang sekolahku.
Memang tukang bohong saja.
Kata Papa, kalau mau uang jajan, bantu Papa kerja.
Investasi sekarang juga! Bergabung sekarang juga!
Mari bersama menjadi keluarga yang sukses!
Ini contohnya.
Gem, ayo! Ayo!
Teladan keluarga bahagia dan sukses.
Genius.
Makan di mana kita?
Tidak tahu, terserah.
- London Fried Chicken! - Semua kok "terserah"?
- Pilih. - London Fried Chicken!
Ya sudah, Bakso Pak Kumis.
London Fried Chicken!
Lagi panas begini, makan bakso?
Yang benar saja kamu.
Sate Srengseng saja.
Bi.
- Terima kasih. - Ya, Bu.
Kalau mamaku itu, ibu rumah tangga.
- Gem, Mama arisan, ya. - Ya.
- Gem, Mama arisan, ya. - Ya.
Gem.
- Mama arisan? - Ya.
Hai, ini aku, Ninja Cat!
Temani aku untuk bertualang hari ini, ya!
Hai, namaku Gema! Temani aku main hari ini, ya!
DAFTAR KEINGINAN
Kita mau bikin presentasinya soal apa?
Film, musik, atau kartun?
Atau apa?
Entahlah, kalian saja yang pikirkan.
Kartun saja, yuk.
Shinchan saja yang gampang dicari.
Nah! Aku baru mau bilang.
Ideku itu!
Alah, caper. Si Bimo dulu kena tabok bapaknya di sekolah.
Makanya, dia jadi sok jagoan agar tidak malu.
Lihat itu.
Korsleting!
- Gema! - Eh!
Kau sepertinya lagi berpikir.
Ada ide kartun lain?
- Kalau Ninja Cat? - Alah!
Jelek! Kebanyakan bilang, "Hai, aku Ninja Cat!"
Pantas saja kena tabok bapaknya. Lagi pula…
Hei! Beban kelompok!
Bukannya mengerjakan, malah…
Cacat mental!
Camen!
- Yuk! - Mau ke mana?
Yuk! Mulai sekarang, panggilnya Camen!
Lebih cocok!
Camen!
- Yang keras! - Camen!
Camen!
Camen!
Cacat mental!
Camen!
Camen!
Camen!
Itu dia! Dari tadi dicari!
Camen.
Memang ayahmu benar-benar punya istri baru?
Siapa yang bilang?
Mama dan teman-temannya di kantin.
Berarti, dia itu poligami,
kawin lari, atau istri barunya punya dua suami?
Ya.
Ayahku menikah lagi… dengan ibumu!
Apa?
Aku maunya bilang begitu.
Ya.
Ayahku menikah lagi… dengan ayahmu!
- Ha? - Ha?
Gem, nanti jangan lupa, ya, pintu dikunci.
Aku pulangnya malam. Aku sudah bawa kunci.
Oke. Hati-hati…
Kak. Hati-hati, Kak.
Yuk, Gem!
Terima kasih, ya.
Dah.
Mama akhirnya gonta-ganti pacar.
Tapi kasihan, mungkin dia kesepian.
Tidak apa-apa, ya, Gem?
Ya, tidak apa-apa.
Setelah Papa Mama cerai, rasanya…
Sama saja. Papa sekarang di kampung bersama istri barunya,
tapi Papa baik, membiayaiku sampai kuliah,
dan rumah ini untuk aku katanya.
Walaupun sengketa.
Tapi untukku.
Tapi sengketa.
Aku tidak pernah bertemu Papa lagi.
Tidak tahu juga dia di mana.
Kalau sekarang dia di…
Eh…
Ini, Gem.
- Oh, ya. Terima kasih, Bang Ilham. - Ya!
Kenapa, Ham?
Bicara sendiri lagi, kasihan.
Bukan itu, kenapa kau malah buka YouTube di laptopmu?
Laporan bulanannya mana?
Danu buka YouTube di laptopku.
Kau buka apa?
- Yang jorok, ya? - Bukan.
Takut pacarnya lihat.
Bagaimana apanya?
- Kau lihat kliennya seperti apa? - Nay!
Kau berapa tadi? Sudah bayar, belum?
Aku bilang apa, ya?
Hai, Semuanya. Apa kabar?
Sok asyik, ya?
Lagi makan, ya?
Iya, lagi makan. Lagi pula, melakukan apa lagi?
Aku boleh bergabung?
Putus asa, ya?
- Banyak! - Ayo!
Ya, aku juga mau…
- Lihat saja… - Itu tanda bahaya.
Teman-Teman, balik, ya.
- Dah, Nay! - Dah!
- Pergi dulu, Geng. - Dah.
Ya.
- Dah, Teman-Teman. - Ya.
- Sama-sama, Dan? - Yuk.
Eh…
Duluan, ya.
- Ini ganteng. - Ya, dari sedotan.
- Apa? - Entahlah.
Hai.
Halo.
Itu.
Selamat malam.
Apa cinta mereka akan mengalahkan bulan?
Tonton Cinta Atas Serigala.
Setiap hari pukul 19.00 malam.
Hanya di ACTV.
Halo, Kak.
Papa meninggal, Ma?
- Hai, Gem. - Hai.
Papa kamu kena serangan jantung katanya.
Oh… Tahu dari mana?
Poin bonus!
Itu yang pakai baju putih, istri barunya.
Jauh juga, ya, dia bawa jasad Papa dari kampung.
Kamu itu tahunya
Papa benar-benar di kampung?
Ya, memang di mana?
Kampung Melayu.
Anjing, Jakarta Timur?
Dia tidak ingin kamu tahu dia ada di mana,
takut keceplosan katanya kalau lagi ditanya polisi.
Kok Mama baru bilang?
Lupa.
Mantap! Informasi sepenting…
Gema!
Papa lagi meninggal, kamu masih saja komat-kamit.
Terima kasih, Pak Adit,
atas jasa-jasa Bapak selama ini.
Lihatlah betapa hebatnya mereka.
Kami bisa sukses karena Bapak!
Sukses bersama Smartdex!
Sukses bersama Smartdex!
Sukses bersama Smartdex!
Sinung Jatmiko alias SJ sampai hari ini masih belum ditemukan.
Para nasabah Smart Infestation Forum yang merasa dirugikan
masih belum menemukan titik terang…
- Kita tes dulu, ya. - Sebentar, Pak.
Nama Bapak sekarang Aditya Fitra.
Gem.
Jangan!
Ingat, ya. Ini untuk kebaikan kamu, Nak.
Ya, Pa.
Gema sayang Papa, 'kan?
Sayang.
Nanti kalau Om Polisi tanya Papa di mana,
bilang, "Papa ke surga".
Tapi…
Papa benar-benar ke Surga?
Tidak.
Tenang.
Papa tidak ke surga.
Gem.
Sedih, ya?
Bingung. Dekat juga tidak.
Ya… sedih.
Aku tidak.
Semuanya boleh lebih rapat lagi?
Istrinya boleh di sebelah almarhum?
Istrinya yang itu.
Gem, duluan, ya.
Oke, boleh lihat ke sini semua, ya.
Saya hitung, ya. Satu, dua…
Di pemakaman itu fotonya senyum atau tidak, ya?
Tiga.
Maaf, tadi saya harus pulang cepat.
Sudah, tidak usah minta maaf.
Sudah, besok kau tidak usah masuk, aku tidak akan potong cutimu. Oke?
Pak…
Tidak apa-apa, saya bisa masuk besok.
Aduh, Gema, dengarkan.
Yang namanya orang lagi berduka, ada lima tahap dukanya.
- Yang pertama itu penyangkalan. Orang… - Iya, Pak.
Ya sudah, saya besok libur. Terima kasih, ya, Pak.
Ya, sama-sama, Gem.
Aku lanjutkan, ya. Yang kedua itu kemarahan.
Kau seperti marah-marah, seperti,
"Kenapa aku? Kenapa? Ya Allah, cobaan apa yang Engkau limpahkan kepadaku?
Nay, dia datang.
Aku lagi buat konten, Ham.
KECOCOKAN CINTA
- Apa? - Gema…
Teman-Teman, ke ruang rapat, yuk? Ada yang mau kubahas. Sebentar, ya.
Oh… Ya…
Gema. Ayahnya.
Gema.
Em…
Aku tahu kita jarang mengobrol, tapi…
Aku sudah dengar tentang apa yang terjadi.
Turut berdukacita, ya, Gem.
Terima kasih, ya, Mbak Kerin.
Mungkin kau sekarang butuh waktu untuk memproses semuanya,
dan kalau kau butuh teman mengobrol…
Bilang saja. Aku ada di sana.
Turut berduka, ya, Gem.
Aku baru dengar soal ayahmu.
Semangat, kau harus kuat.
Orang lagi berduka, disuruh kuat?
Tolong peka, Ilham.
Aku minta maaf, Gema.
Tidak, maksudku, ayahmu hidupnya sudah cukup lama.
Jadi, disyukuri. Daripada mati muda? Ya, 'kan?
Menurutmu ada waktu yang lebih tepat untuk meninggal?
Tidak, apa…
Pernah dengar istilah "orang baik matinya cepat"?
Eh, "orang baik dipanggilnya cepat".
Nah, itu maksudnya ayahmu pasti baik.
Siapa nama ayahmu? Dia baik itu. Siapa?
- Ilham, sudah selesai? - Namanya dulu…
Maaf.
Pekerjaan tidak beres,
mengucapkan belasungkawa juga tak beres.
Maksudku mau menyemangati sebagai sesama yatim.
Astaga.
Hanya karena kau juga yatim,
kau tidak berhak berbicara tentang realitas seseorang.
Maaf, saya salah. Ampun.
- Ker! - Tunggu sebentar lagi, ya, Dri.
Ya sudah. Aku duluan, ya.
Teman-Teman!
Aku punya oleh-oleh dari Turki.
- Apa ini? - Ini Adriana.
Wah.
- Ilham. - Bagus, Nu!
Bagus, 'kan?
Kau jalan-jalan melulu. Uang dari mana, Nu?
Ya, tidak begitu, Ham. Kau tahu pekerjaan kita lagi banyak.
Dibanding aku stres, akhir pekan lalu aku pergi memulihkan diri.
Jumat berangkat, Minggu pulang.
Semacam perjalanan singkat.
- Terima kasih, Nu. - Santai. Gem!
Untukmu.
- Terima kasih, ya, Danu. - Santai.
Gema, mau ke kantin?
Ya, mau makan siang.
- Sama-sama, yuk! Sama-sama? - Ayo!
Kau lagi mau makan sesuatu?
London Fried Chicken.
- Boleh. Ayo pergi! - Gas. Boleh.
- Yuk! - Ayo.
Nay!
Wah, Turki!
- Ker! - "Mr. Worldwide!"
Terima kasih, Nu.
- Terima kasih, ya. - Hampir bisnis.
Tapi cuma tiga hari, 'kan? Kupikir…
"Sepadan atau tidak, ya?" Akhirnya ekonomi saja.
Aku sudah pesan yang kepala ayam.
- Enak! - Terima kasih.
Jadi, berdasarkan pengalamanku ini,
menurutku pribadi. Cappadocia itu terlalu dibesar-besarkan.
- Serius? - Ya. Sumpah.
Aku lebih suka di pedesaannya, budaya lokalnya, seperti di Bhirgi.
Bhirgi?
- Bhirgi. - Itu yang benar?
Ya.
- Kau harus ke sana sendiri, Ham. - Bagus foto-fotonya.
Omong-omong, oleh-oleh yang kuberikan tadi buatan tangan. Bagus sekali kualitasnya.
- Benarkah? - Ya!
- Yang ini. - Keren sekali.
- Bagus, 'kan? - Bagus.
Gem, omong-omong, aku turut berduka, ya, soal ayahmu.
- Semoga ayahmu bisa diterima di sisi-Nya. - Amin.
Amin. Terima kasih, ya, Adriana.
Adri saja, tidak apa-apa.
Terima kasih, ya, Adri.
Gema…
Turut berduka, ya, Gem.
Turut berduka, Bro.
Terima kasih, ya, Semua.
Gem, tapi memang ayahmu sudah sakit?
Tidak.
- Tanya saja. - Serangan jantung saja.
Ya ampun! Awas.
Gem…
Jantung itu berbahaya bagi orang yang sudah berumur.
Iya, 'kan?
Ya, kalau untuk seusia kita begini, masih aman.
"Seusia kita?"
Ya ampun, perkara beda umur sebelas, dua belas tahun saja dipermasalahkan.
Sebelas, dua belas itu hitungannya.
Makan di sini juga, Bro?
Ya, aku diajak. Aku pergi saja.
Ha?
Oh, tadi aku bilangnya di ruangan kita, Bro.
Iya, tapi kedengaran, suaranya sampai ke ruanganku. Aman.
Jadi, aku langsung beberes, terus pergi. Seperti…
Memang aku tidak diajak?
- Diajak! - Diajak, 'kan?
- Masa tidak diajak? - Tempatnya sudah disiapkan!
Mana mungkin aku tidak ikut?
Tak akan tertelan makanan kalian kalau tak ada aku!
Parah…
Gem, sudah kau jalani
lima tahap duka yang aku bilang?
Ini Pak Cokro, bosku.
Sudah, Pak.
Pakai "Pak". "Bro" saja! Yang lain juga begitu.
"Bro?"
"Bro?"
Bro, Bre, Cuy, terserah kau. Yang penting kita akrab. Ya, 'kan?
Dia kurang "funky".
Parah!
"Bro…"
Gem, tapi sebelum ayahmu meninggal, kau memimpikannya?
Ilham…
Karena aku begitu.
- Kenapa dibahas di sini? - Sudah, ya? Tak usah bicarakan kematian.
- Pesanannya, Kak. - Nah!
Tak usah buru-buru, Gem.
Itu hitungannya dimimpikan, Gem.
Saat kakakku meninggal, sama, aku juga memimpikannya.
Datang begitu saja.
Pakai baju putih. Aku ngeri melihatnya.
Oh, kau tinggal di sana?
Kapan-kapan kita main!
DAFTAR KEINGINAN
Oh, ya? Ayahmu unik, Gem.
Ya sudah, kalau kau butuh apa-apa, mau cerita, ke aku saja, ya?
- Nay! - Hai!
Ini dia. Bro!
Necis mana, ini dan yang ini?
Ini, Pak… Bro.
Ini, ya? Terima kasih, Bro.
- Selamat pagi. - Selamat pagi, Gem.
- Selamat pagi. - Bagaimana pagimu?
- Bagus. - Bagus?
Senang mendengarnya.
Nanti siang mau makan bersama-sama lagi?
Mau.
Mau di mana?
- London Fried Chicken? - London Fried Chicken? Boleh.
Sekali lagi, Gem.
Kalau butuh apa-apa…
Gem, sudah tidak kepikiran ayahmu?
Begitu, gembira lagi.
Ilham, biarkan orang lain berduka. Tolong belajar lagi.
- Ini milikku. Gem. - Ya.
Aku akan sering siaran langsung, tapi aku mau kerja dulu.
Sapa dulu para penontonku!
Hai!
Para penonton? Penonton! Yang menonton cuma satu!
Hei, terserah.
Lalu, saat sudah sampai, dia meninggal, Gem.
Jadi, itu teori konspirasi kenapa kopi Indonesia bisa enak,
karena Hitler mati di Garut.
Masuk akal.
Kalau ini dan ini, mana yang lebih funky?
Ini, Bro.
Ini, Bro.
Aku sudah duga!
Selamat pagi, Gem.
Pagi!
Nanti siang mau makan siang bersama lagi?
Boleh.
Mau di mana?
London Fried Chicken?
Lagi?
- Boleh. - Oke.
Kalau kau rindu ayahmu, ajak mengobrol saja.
Kata nenekku, dia percaya di Islam, kalau belum 40 hari, arwahnya masih di sini.
Aku Kristen, Ham.
Kalau di Kristen, 23 hari mungkin, ya?
Ham, di Islam tidak ada yang seperti itu.
Tak usah didengarkan.
- Tapi kata nenekku begitu. - Tidak ada! Sumpah!
Kita harus beri tahu dia. Kau jelaskan, aku rekam suara, ya?
Iya.
Duluan, Gem!
Hei! Naya.
- Mana yang lebih trendi? - Selesaikan hari ini saja, jadi…
Selamat pagi, Semuanya.
- Halo. Pagi, Gem. - Pagi, Gem.
Nanti siang mau makan lagi di London Fried Chicken?
Aduh, aku bosan, Gem.
Maaf, Gema, aku sebenarnya setuju dengan Danu kali ini.
Dan aku bawa bekal.
Kapan-kapan lagi, ya, Gem?
Oke.
- Pagi, Sobat Yatim! - Pagi…
Nah!
- Sudah, sip. - Sobat yatim?
Hai, Gem! Laptopku ketinggalan! Maaf!
Pagi, Semuanya.
- Pagi, Gem. - Pagi, Gem.
Kenapa, Gem?
Ha? Tidak apa-apa.
Pagi, Nu, Dri.
- Pagi, Ilham. - Pagi, Sobat Yatim.
Kenapa, Gem?
Tidak, tadi aku bercanda, "Pagi, Sobat Yatim."
Maksudnya?
Tidak, kemarin kau bilang, "Pagi, Sobat Yatim." Jadi, aku mau coba…
Oh, iya, benar.
Pagi.
- Ham. - Eh!
Laporan bulanannya mana?
- Dia melewatkan latihan kaki! - Iya!
Susunya cuma sampai pinggang.
Ya, 'kan? Begini.
- Palu mana? - Tidak tahu.
Kau kenapa seperti banyak pikiran?
Masa harus ada yang meninggal dulu, baru aku ditemani?
Memang kalian tidak berteman lagi?
"Ditemani."
Kami berteman, tapi tidak ditemani. Mengerti?
Oh, maksudmu itu.
Eh…
Perasaan yang aku rasakan ini normal atau tidak?
Normal.
Tuhan Yesus juga lebih senang saat bersama murid-muridnya
daripada saat sendiri dan disalib.
Kok jadi ke sana?
Lagi pula, Tuhan Yesus disalib bertiga, tidak sendiri.
Nah, apalagi.
Tuhan Yesus disalib saja masih ada temannya. Kau?
Ya Tuhan.
Aku senang sekali, dari kemarin aku jadi dekat dengan teman-teman.
Tapi aku tidak mau ada orang yang kukenal meninggal lagi.
Kita bunuh orang sembarangan saja.
Benar juga itu.
Temanku akan bertambah di penjara.
Memangnya ada yang akan menemanimu di penjara?
Bangsat.
Kau masih bisa begini?
Aku lebih jago.
Fokus dulu! Ini bagaimana?
Oh!
Opa dan Oma?
Yang benar saja.
Ya, tidak apa-apa kalau kau bilang mereka meninggal,
karena memang sudah bertahun-tahun mati.
- Tidak! - Woi! Gema!
Dengarkan aku dulu, Gema!
Gem!
Gema.
Mau lihat?
Yuk, sini!
Ayo!
Lucu, ya.
Gemas sekali!
Boleh pegang?
- Ada apa berkumpul? Aku tak diajak? - Bro, lihat!
Ini, Bro!
Kok bawa hamster ke kantor?
Tapi lucu, 'kan, Bro?
- Tidak apa-apa, Bro. Ada kandangnya. - Iya.
- Wow! - Kecil.
Gemas!
Tapi menggemaskan.
Menggemaskan, 'kan?
Memang sangat menggemaskan.
- Aduh… - Tapi itu sudah divaksin, 'kan?
Sudah, Bro. Tidak ada penyakit. Tenang saja.
- Kau beli, Nu? - Masa hari begini beli?
- Aku adopsi. - Ha?
Kau mengadopsi hamster?
Ya!
Boleh coba pegang, Bro.
- Memang benar. Iya, taruh… - Bro. Ayo, Bro.
Taruh!
Ya sudahlah.
Tak usah menghakimi aku.
Ayo masuk!
Turut berdukacita, Gem. Kamu pasti sangat kesepian.
Kami semua ada di sini untukmu, Gem.
- Astaga, bro! - Kucingmu meninggal?
Semoga kucingmu diterima di sisi-Nya, ya.
Kok mereka biasa saja?
Apa belum melihat cerita Instagram-ku?
Mungkin kalau misalnya aku posting…
- Turut berduka, ya, Gem. - Terima kasih.
Pasti sedih sekali ditinggal anabul.
Aku juga dulu punya kucing.
Namanya Lion.
Ini? Lucu sekali, ya?
Dia meninggal karena sudah tua, sampai sekarang aku juga tak bisa melupakannya.
Kalau aku boleh tahu, kalau boleh saja dan kau tak keberatan pastinya,
kucingmu meninggal kenapa, ya, Gem?
Belum menyiapkan.
Itu…
Tidak apa-apa.
Maaf sekali aku bertanya, aku tidak sangat sopan.
Waktu itu, aku juga tidak mau bicara soal kucingku selama tiga hari.
Tapi maksudku, kalau lebih dari tiga hari, juga tidak apa-apa.
Mungkin setahun? Mungkin dua tahun?
Mungkin lebih? Atau mungkin kau tak mau membicarakan kucingmu lagi?
Maaf.
Turut berduka, Gem.
Kau tidak harus kuat.
Kalian sedang apa? Mengopi, yuk.
Baru satu!
Aku bilang juga apa?
Kalau orang yang sudah keriput, pasti lebih banyak yang peduli!
Si Naya bahkan cuma balas ceritaku, tidak mengucapkan langsung.
Sudah! Sesuai rencana awal saja!
Kau bilang Oma dan Opa meninggal,
tapi dua minggu lagi.
Harus ada jeda. Jadi, mereka tidak curiga.
Mereka akan maklum.
Iya, ya?
Kalau amit-amit ketahuan, anak-anak kantor akan maklum?
Kalau itu, tidak.
Maksudnya Oma dan Opa yang maklum kalau kita bohong.
Hmm.
Makanya, jangan sampai ketahuan!
- Ini serius? - Serius!
Serius?
Opa, Oma…
Sekali ini saja…
maafkan aku, ya.
Maafkan aku, ya.
Aku tidak akan dimaafkan.
SINGAPURA
Datang pertama?
Pagi, Nay.
- Masih bau Changi. Bagaimana Singapura? - Kau bisa saja.
Singapura sangat seru.
Tapi Gardens By the Bay sempurna!
Kau bisa buat banyak konten di sana!
Kau lagi mengerjakan desain yang kemarin, ya? Coba lihat!
Jangan!
Nanti saja, Nay! Kau harus coba menginap di Marina Bay Sands.
Nu.
Ya?
BCA mau ada kampanye baru.
Sorotannya tentang kartu kredit mereka yang bisa diajukan dari aplikasi MyBCA.
- Terus, apa yang mau ditunjukkan? - Ini.
Bagaimana cara menunjukkan ke penonton, ya?
Iya, ya. Bagaimana cara menunjukkannya, ya?
Ini harus jelas, karena mau tayang di bioskop.
Begini saja!
Nanti kau ambil tangkapan layar, terus masukkan suara viral seperti…
Begitu!
Bagus itu!
- Tidak salah aku bertanya kepadamu. - Ya, 'kan?
Benar.
- Ke kantin, yuk. - Ayo!
Mungkin tidak usah?
Mungkin tidak usah, ya?
Batalkan saja, takut dosa.
Gem.
Kami mau ke kantin.
Kau kenapa, Gem?
Ha? Kau kenapa, Gem?
Aku ikut.
Gem.
- Jadi, Dri? Yuk! - Kau lihat.
- Ha? - Dia menangis.
Oh, ya?
- Meninggal? - Astaga.
Bagaimana ceritanya, Gem?
Dimakamkannya semalam.
Aku masuk neraka atau tidak, ya?
Opa dan omaku meninggalnya bersamaan.
Bersamaan?
Ya ampun. Kasihan sekali.
- Pasti aku masuk Neraka. - Kok bisa?
Tidak apa-apa, Ker, aku cerita.
Tidak terpaksa.
Bagaimana, Gem?
Opa dan omaku itu dua sejoli yang tak terpisahkan.
Opaku sudah sakit strok lama, sampai akhirnya meninggal.
Omaku sangat terpukul.
Serangan jantung, sampai akhirnya meninggal juga di tempat.
Ya ampun, Gem. Pantas aku melihatmu menunduk saja, bersandar di meja.
Aku kira kau mengantuk.
Tidak apa-apa.
Maaf. Kau kenapa, Gem?
Tadi malam…
aku telat makan, sibuk mengurus pemakaman.
Sepertinya asam lambung.
- Aslam? - Aku bawa obat.
- Aku ada. - Ada?
- Sejujurnya, itu karena deg-degan. - Harusnya bawa.
- Ada! Ini! - Aku bawa.
- Itu, ya. - Ya sudah.
- Simpan saja. - Terima kasih, ya.
Turut berduka, ya, Gem.
Terima kasih, ya, Nu.
Kau bawa apa?
Tidak, bukan apa-apa.
Gem.
Kau pasti sangat dekat dengan oma dan opamu.
Mereka sudah seperti orang tuaku sendiri, Ker.
Sekarang, semuanya…
rasanya hampa.
Sangat hampa.
- Gem… - Gem.
Semangat.
- Sudah, kau mendingan makan. - Ya, makan.
Minum dulu. Kau sudah minum tadi?
Gorengan mau? Mau gorengan?
Kau minum dulu.
MAL MERLION
Lagi apa?
Mengagetkan saja.
Memikirkan liburan selanjutnya ke mana lagi?
Kalau itu, aku sudah tahu.
- Ker… - Ya?
Ada yang aneh dengan Gema.
Ya, dia memang habis kena musibah. Pasti tak akan seperti biasanya.
Justru karena musibahnya itu, Ker.
Coba pikirkan.
Sudah sebulan ini, ada saja kabar meninggal dari Gema.
- Berturut-turut, lagi. - Nu.
- Ya, 'kan? - Kau tak peka.
Kau tak memikirkan kesehatan mentalnya dia?
Kau menghakimi, menyebarkan suasana negatif, dan itu perilaku toksik.
Jadilah lebih baik, Nu.
Kalau teman lagi berduka itu, seperti ini.
- Gema! - Hai!
Jumat, sepulang kantor, mau menonton bersama anak-anak?
- Mau! - Mau?
Gema suka menonton apa?
- Apa saja suka! Semua suka! - Semuanya suka? Jadi, bebas, ya?
- Bebas. - Oke.
- Jumat? - Oke.
- Selamat malam, silakan. - Malam.
Jangan.
Lagi ada film horor atau tidak, ya?
Tidak perlu ditanya.
Silakan, mau menonton apa, Kak?
Bagaimana kalau Gema saja yang memilih?
- Boleh. - Ayo, Gem.
- Pilih. - Sini.
Mau menonton apa?
Bagaimana? Mau menonton apa?
Yang lagi seru apa, Kak?
Lagi ada Bayi Setan Reborn,
Hantu Setan Iblis Dua,
dan Setan Loncat: Lompatan Terakhir.
Ya sudah, kalau begitu Setan Loncat saja. Kedengarannya menarik.
Boleh, itu yang kisah nyata di utas Twitter. Ingat?
Tahu, 'kan?
Kisah nyata atau kisah Twitter?
Ya sudah, Mbak, yang itu.
Jadi, totalnya enam tiket di pukul 19.00, ya, Kak?
- Ya. - Oke.
Maaf, aku saja. Santai. Aku mau mentraktir Gema.
Tenang, sekalian kalian juga, aku traktir.
Dalam rangka apa?
Ya, sekali-sekali untuk teman, masa tidak boleh?
Iya, 'kan, Gem?
- Benar. - Dompet kita sama.
- Oh, iya! - Wah!
- Oh, iya. - Oh, iya.
Ini aku beli saat ke Jepang.
Aku beli bekas di Pasar Senen.
Oh, iya, Gem? Kau belanja barang bekas, Gem?
- Keren! - Keren!
Itu artinya kita sayang Bumi.
Benar!
Bagus!
- Sayang Bumi? - Ya!
Aku juga beli pakaian dalam bekas.
Sepertinya kalau Opa dan Oma melihat aku bahagia hari ini,
mereka akan memaafkanku.
Ya, 'kan?
Jadi, mereka mati ada gunanya.
Jangan menghakimi aku dulu.
Maksudku, saat mereka hidup, mereka berguna untuk banyak orang.
Saat meninggal, masih berguna.
Permisi.
Kenapa?
Tidak, ini anak-anak mau beli berondong. Kau mau?
Boleh.
Maaf, aku kebiasaan komat-kamit.
Aduh, susah menjelaskannya.
Tidak apa-apa, santai.
Tak apa-apa. Kau tak perlu meminta maaf dan menjelaskan.
- Tidak apa-apa. - Kalau aneh, aku minta maaf.
- Tidak aneh. Sama sekali tidak. - Apa ini, Gem? Tidak!
Aneh.
Tapi lebih aneh baju Pak Cokro. Ya? Sudah.
Bajumu tidak aneh sama sekali.
Kau dengar suara-suara?
Kau menonton di bioskop, kok tidak mengajakku?
Saya tidak tahu, Pak.
Aku lihat di cerita Instagram Naya, kau yang bayar.
- Tidak, itu… - Kau tidak asyik!
Figurin ini punyamu, Gem?
- Sepertinya aku pernah lihat. - Ya.
- Apa nama kartunnya? Ninja… - Ninja Cat.
- Ninja Cat! - Ya! Ninja Cat!
- Kau tahu, Dri? - Aku menonton
saat SMP.
Omong-omong, SMP-mu di mana, Gem?
Bibit Bangsa Nasional.
- Yang di Puri? - Ya!
- Beda setahun, ya? Kau 2008, 'kan? - Oh, iya?
GRUP
TIDAK ADA HASIL UNTUK "GEMA"
Boleh, Nay. Kabari saja, ya.
Oke, sampai jumpa. Terima kasih.
Berani. Mentol. Maskulin.
Baru, Bentoel SuperMild.
Membuatmu sangat lelaki.
Bagaimana ini? Ini.
Pagi, Semuanya!
Pagi, Semuanya.
Camen, otakmu korsleting, ya?
- Apa kau? Ikut-ikutan saja, Camen! - Sok asyik, tahu?
Benar, 'kan? Hei. Orang aneh!
Namaku Gema, aku suka begini.
TAMAT
- Camen! - Kau kira bagus begitu? Bagus?
Kok begini?
Malu!
Camen!
Ha?
Ini apa?
Ini apa?
Hei! Akhirnya kok begini?
Sebentar dulu. Beri minum dulu.
Ini apa? Tidak mau! Akhirnya jangan seperti ini!
Gema!
Cut dulu. Cut!
Kenapa?
Penyakit jantung tidak menurun, 'kan?
Ini bertahan berapa lama, ya?
Kau kenapa? Takut ditinggalkan lagi?
Ini bertahan berapa lama, ya?
Bisa jadi sebentar lagi.
Takkan bertahan selama itu.
Harus ada yang meninggal lagi, Gem.
Aku tahu siapa yang harus meninggal berikutnya.
Siapa?
Itu, di belakangmu.
Gem, masih belum transfer aku, ya?
Aku lagi butuh.
Aku tidak mau juga harus sampai jual rumah kita untuk keperluan sehari-hari.
Nanti kamu tinggal di mana?
Tapi ingat, ya, Gem.
Semua orang harus lihat kejadiannya.
Kematian Mama ini harus bombastis.
Kalau tidak, takutnya kita ketahuan bohong.
Ya, Gem? Ya, 'kan, Gem?
Ya, 'kan? Ya, memang. Klien kalau minta, suka ada-ada saja.
Iklan TV kita benar tayang sekarang?
Benar, sebentar lagi harusnya.
- Sini. - Mana?
- Mana? - Berikan saja.
Bro, silakan duduk.
Aman, aku dari tadi duduk melulu.
Aku kurangnya apa?
Kamu 12 kali menyelingkuhiku!
Kamu tidak puas?
Kamu kurangnya cuma satu, Mas.
- Kamu kurang… - Apa?
Aku kurang apa?
- Kamu kurang… - Apa, Bi? Aku kurang apa?
Kurang diskon!
Belanjol!
♪ Belanjol! Belanja daring Ya, cuma di Belanjol! ♪
Halo, saya Marcel Candrawinata.
Halo, saya Kimberly Washington pemain dari Cinta Atas Serigala.
Kunjungi Belanjol, dan nikmati diskonnya!
Ini…
Biarkan dia memasak!
Aku sujud, Dri, kalau ini!
Kalian tertawa, ya?
Ini. Skrip seperti ini yang memang menghasilkan uang!
Sok idealis.
- Berak. - Marah.
Marah.
Sinetronnya bagus. Aku menontonnya.
Oh…
Selamat siang, pemirsa.
Pesawat Indo Airline dengan nomor penerbangan
DT510 rute Jakarta-Bali baru saja dilaporkan hilang kontak.
Pusat kontrol mencatat pesawat yang terakhir…
Tapi ingat, Gem. Semua orang harus lihat kejadiannya!
Kematian Mama ini harus…
Bombastis.
Mama!
"Mama?"
TERJADI SAAT INI
Tapi kok aku jadi curiga, ya, Nu?
Saya juga, Bro.
Menurut pengamatan saya,
sebelum ayahnya Gema meninggal, tak ada anak kantor yang dekat dengannya.
Terus, tiba-tiba kucingnya meninggal.
Terus bulan lalu, kakek neneknya meninggal, pada hari yang sama.
Menurut pengamatan saya, menurut saya,
Gem cuma caper. Dia bohong.
Tapi aku curiganya dia disantet, Nu.
Lagi pula, mana ada
orang berbohong cuma untuk mencari perhatian?
Danu.
Sudah suuzan,
kemarin menonton bioskop tak mengajakku.
Sudah kurang seru sekarang.
Gem…
Sabar, ya.
Ingat, ada lima tahap duka saat orang berduka.
Yang pertama itu penyangkalan.
155 TEMAN, TAMBAH TEMAN, KIRIM PESAN
BERI KOMENTAR SEBAGAI DANU SANGKALA
AKUN INI PRIVAT
Ayu?
AKUN INI PRIVAT
FOTO YANG DITANDAI
Sial, dia tidak bohong!
Selamat pagi, Anak Durhaka.
Pagi.
Hai! Pagi!
Jadi, bagaimana, Bu, perasaannya?
Saya sangat sedih sekali, suami saya sampai sekarang tidak ketemu.
Pa. Mau terjadi apa, aku juga tidak…
Hei! Mau mencari Mama di puing-puing pesawat, ya?
Sialan kau.
Halo, Ker.
Halo, Gem.
Hai.
Kau lagi di mana?
Aku lagi di rumah saja, Ker.
Aku menelepon karena aku dan teman-teman mau memastikan kau tak apa-apa.
Aku sehat.
Terima kasih, ya.
Gem? Gem, bernapaslah! Ambil napas!
Ya? Jangan lakukan yang aneh-aneh, Gem. Kami di sini untukmu.
Kalau butuh apa-apa, beri tahu saja aku.
Terima kasih, ya, Ker. Terima kasih untuk perhatiannya.
Ker…
Ada yang membunyikan bel pintuku.
Ya, siapa tahu dari pihak polisi atau maskapai.
- Ha? - Semoga beri tahu kabar baik, Gem.
Oh, iya! Iya…
Oke, sampai jumpa.
Dari kemarin, orang sekantor perhatian kepadaku.
Sekantor!
Anjrit!
Terima kasih makanannya, Gem.
Kamu jago masak.
Sehat, Gem?
Sehat.
Puji Tuhan, kalau begitu.
Bagaimana kantor?
Kantor juga sehat.
Cucinya nanti saja.
Tak apa-apa, sekarang saja.
Belakangan ini…
sibuk, ya?
Lumayan.
Aku hubungi, tak pernah dibalas.
Jaga kesehatanmu.
Jangan seperti aku.
Kemarin sempat tifus sepertinya.
Tapi tak sempat ke dokter.
Karena belum cukup uangnya.
Sudah, ya.
Aku tidak minta uang.
Aku ke sini untuk jenguk kamu saja.
Iya, aku transfer juga agar Mama
tidak perlu jual rumah sengketa ini untuk kebutuhan sehari-hari.
Terima kasih, ya, sudah memperbolehkanku tinggal di sini.
Gem.
Aku memang tak mau jual rumah ini.
Aku benar-benar peduli padamu.
Pedulinya kok selalu setelah tanggal 20? Selalu.
- Itu kebetulan saja. - Kebetulan, tapi setiap bulan.
Gem.
Kamu harus mengerti.
Hidup aku berat. Habis cerai, aku sendirian.
Aku?
Sudah, nanti aku buat autodebit.
Jadi, setiap bulan otomatis terkirim ke rekening kamu.
Jadi, kamu tidak perlu datang ke sini untuk berbasa-basi,
kalau ujung-ujungnya minta uang saja. Oke?
Pacar?
Kejutan!
Anjrit!
Lihat? Masa iya orang lagi terpukul, kita berteriak, "Kejutan"?
Lagi pula, idemu belum tentu bagus, Ker.
Coba. Ayo.
Turut berduka, ya, Gem.
- Mendingan, 'kan? - Agak kurang.
Ya, 'kan?
Ibunya Gema masih hilang, belum meninggal. Kita mau menyemangati, bukan menyumpahi.
Mana kita bawa donat.
Setelah kupikir-pikir, kita datang untuk menyemangati atau merayakan, ya?
Tidak juga, Nay.
Donat tidak selalu ada di momen senang, momen sedih juga bisa.
Seperti perpisahan, karyawan mengundurkan diri.
- Benar. - Berarti sesuai.
Ini perpisahan Gema dan ibunya.
Mamanya hilang. Hitungannya pisah, 'kan?
Pisah, 'kan, Nay?
Menurutku, pemilihan waktu kita tidak tepat, Teman-Teman.
Ya, inilah idenya Pak Cokro.
Sudah, percaya padaku.
Gema butuh kita.
Aduh, dia lagi menunggu kabar ibunya.
Pasti dia lagi panik di dalam.
Ada Mama. Kalian bisa apa?
- Pak… - Pak, sudah.
- Sambil menunggu saja. - Nanti ada Gema, tidak enak.
Taruh!
Maaf, Pak.
- Gem. - Hai, Gem.
Maaf sekali sebelumnya. Kami mengganggu, ya?
Tidak.
Aku malah senang ada kalian di sini.
Apa sudah bilang tadi. Dia butuh…
Tentu saja, Gem. Itu kenapa aku ajak teman-teman ke sini.
Jadi, beri tahu kami jika kau butuh apa pun.
Terima kasih banyak, Teman-Teman.
Di saat seperti ini, aku sungguh butuh kalian.
Lihat, 'kan? Apa kubilang?
Donatnya diberikan.
Kami bawa donat untuk perpisahan…
Untukmu! Gem.
Untukmu.
Gem…
Teman-teman kamu, ya?
Kalau begitu, aku duluan, ya.
Yuk, mari.
- Ya. - Mari.
Gem. Itu pacarmu? Pacar?
Kau berondong, Gem?
Wah! Kami ganggu atau tidak?
Tidak. Tidak, aman.
Mendingan kau kejar, daripada dia kesal.
- Iya… - Tidak perlu.
- Kita balik saja mungkin. Ya. - Yuk, pergi. Yuk.
Jangan! Jangan. Maksudnya…
Kalian masuk saja. Aman.
- Ayo, masuk. Tak apa-apa. - Serius?
Sebentar!
Sebentar! Maksudnya, aku… Satu menit! Aku…
Aku habis…
Omong-omong, sebelum kalian menghakimi,
cara berdamai setiap orang itu berbeda-beda.
Dan mungkin ini caranya Gema, ya, Ilham.
Aku tidak bilang apa-apa, anjir.
Maaf, Semuanya. Agak berantakan.
- Bagus, Gem. - Ini rapi, Gem.
Gem.
Tembokmu kok banyak paku, tapi tidak ada fotonya?
Ya, habisnya aku suka sedih kalau melihat orang yang aku sayang sudah tiada.
- Sabar, ya, Gem. - Sabar.
Jujur, masih suka kepikiran kalau melihat foto mereka.
Lihat fotoku saja!
Ilham, jangan.
Kalau begini, tahu kurangnya apa?
Kopi!
Ya, si paling kopi.
Gem, ibumu sudah ada kabar?
Omong-omong, rumahmu cukup luas. Kau tak takut sendiri di sini kalau malam?
Untuk apa aku takut, Ker? Hantunya keluargaku.
- Gem! - Dia suka lelucon gelap!
Ini, lelucon gelap.
"Pia", "Pia" apa yang tidak disukai Ilham?
- "Pia" apa? - Apa itu?
"Piatu!" Chuaks!
Tidak ada ibunya, 'kan?
Bro, tapi… aku "yatim".
Oh. "Tim", "Tim" apa yang tidak disukai Ilham?
"Yatim!" Chuaks!
Tidak ada ayahnya, 'kan?
Oh! "Yat", "Yat" apa yang…
Ya, dan ini bagian akhir dari tur rumah kita, Bapak dan Ibu Terhormat.
Terima kasih penjelasannya.
- Aman, Pak? - Terima kasih.
Ini halaman depan, aku sering ke sini untuk…
bengong.
Tapi halaman depanmu sangat luas, Gem.
Kau pasti saat kecil sangat suka, ya, main di sini?
Ya.
Oke, kita masuk lagi.
- Yuk. - Aku jadi ingat, Gem.
Saat kecil, aku dan ayahku
juga suka main bola di halaman belakang rumah.
Kau juga, ya?
Ya.
Lihat. Siap, semangat!
Oke!
- Siap? - Siap!
Mari bersama menjadi keluarga yang sukses!
Ya! Ya! Ya!
- Gema! - Papa!
Oke.
- Pa… - Ya?
- Ha? - Jadi main bola?
Jadi!
Bi!
Gema!
Mari bersama! Semangat!
Semangat!
- Terus? - Kulitnya kecokelatan.
Tipe kesukaanku. Paham, 'kan?
- Seperti Pak Cokro? - Ha?
Terima kasih, lewat.
Tapi lanjut, 'kan?
- Tidak, Dri. - Ha?
Kenapa tidak lanjut? Anak ini sok jual mahal.
Bukan begitu, Bro.
Jadi, waktu itu aku sakit. Terus, paginya dia tanya,
"Bagaimana, Nay? Sudah lebih enak?"
Aku bilang, "Sudah".
Terus, kata dia, "Puji Tuhan".
Oh…
- Beda server. Susah. - Susah.
- Hati-hati dijebak, Nay! - Ha?
Dijebak makan babi!
Anjing!
Kok anjing? Babi!
Berarti kau LDR, ya?
Ha? Kok LDR?
LDR, R-nya "Rohani".
- Ini lucu! Lucu sekali! - Apa?
- LDR, 'kan? LDR, Long-distance Rohani. - Apa? Iya.
Jadi, rohaninya berjauhan! Berarti beda agama!
Kasihan, beda agama.
Memang itu tadi, Bro!
Teman-Teman, ini saputangan siapa, ya? Ada di lantai kamar mandi.
- Itu punya Mam… Pacarku. - Ha?
- Eh? - "Mami?"
Kau memanggil pacarmu "Mami", Gem?
- Tidak, bukan… - Cie!
- Gemas! - Habis!
Menurutku, itu kode. Dia mau kau menghampirinya pasti, si Mami.
- Ada inisialnya. - Apa?
A.
- A - A?
- Amanda? - Anggora?
Adriana?
- Jadi, Gema memanggilku "Mami"? - Adriana, ya?
- Gem. Siapa? - Malu.
- Siapa? - Gem, bilang saja.
- Begitu saja. - Kita saja.
- "A" siapa? - A?
Gem. Maaf, aku ke toilet dulu, ya.
Apa, Gem?
Kena kau denganku!
Semoga tidak ada.
Ha?
Kenapa orang yang namanya "Ayu" banyak sekali?
Sial!
Nu?
Kau baik-baik saja?
Tahinya melawan, Nu?
Oh, iya. Tidak apa-apa.
Ya sudah, cepat. Kita mau foto bersama, yuk.
Ya, nanti aku menyusul!
Nanti saja ceboknya! Sudah, ayo cepat!
Berak melulu, seperti burung. Yuk.
- Sepertinya Pak Cokro tak kelihatan. Oke. - Tak kelihatan?
Terima kasih, Gem.
- Pamit. - Balik, ya.
Aku yang berterima kasih, kalian sudah datang.
- Hati-hati, ya. - Sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Dah.
Gem, semangat, ya.
Sabar. Tidak apa-apa.
Sabar…
- Tidak apa-apa. - Semangat, ya.
Tidak apa-apa, Gem.
Kau juga jangan lupa istirahat.
Aman.
- Ya? - Ya?
Kabari, ya, kalau ada apa-apa.
- Oke? - Jangan berpikir macam-macam. Ya?
- Dah! - Sampai jumpa!
Sampai jumpa, Gem!
Semangat, Abangku!
Hati-hati dijebak, Nay! Dijebak makan babi!
Kau seharusnya tampil di komedi tunggal, Gem.
Hantunya keluargaku.
LDR, R-nya "Rohani".
Lucu.
Hati-hati dijebak makan babi!
Harusnya pakai… Biar ketawa.
Tapi… Tidak.
Dijebak makan babi!
Dijebak makan babi!
Ya, 'kan, Teman-Teman?
Ya, 'kan?
Ya, 'kan, Teman-Teman?
Ha?
Teman-Teman?
Bicara sendiri lagi. Kasihan.
- Kenapa, Gem? - Ha? Tidak apa-apa.
Mulai sekarang, kita panggil dia Camen!
Camen!
Kau kenapa? Takut ditinggalkan lagi?
Sudah semua.
Harusnya kita jangan buat Opa dan Oma meninggal bersamaan.
Aku tahu arahnya mau ke mana.
Padahal, kalau misalnya kita buat Opa meninggal duluan,
terus Oma meninggal beberapa minggu kemudian,
itu akan lebih masuk akal!
Sudahlah, Gem.
Stop!
Stop bagaimana?
Ini idemu dari awal, bohong soal Opa dan Oma meninggal!
Ideku adalah idemu juga!
Kau kira ada otak di dalam kertas foto tipis ini?
Bodoh sekali membuat Opa dan Oma meninggal bersamaan.
Gem…
Kau sekarang sudah cukup dekat dengan mereka.
Semua daftar keinginan yang kita mau juga sudah terkabul.
Mau usahamu sebesar apa pun,
mereka memang tidak akan memberi perhatian sebesar ini setiap hari.
Dan itu tidak apa-apa, Gem.
Makanya…
siapa yang harus meninggal berikutnya?
Kita harus buat mereka sadar,
kalau aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mereka!
Kau gila, ya?
Aku bicara dengan fotoku saat masih kecil. Kalau bukan gila, apa namanya?
Tenang dulu, tenang. Kau tak akan dapat…
Saat anak-anak lain punya tongkrongan
untuk main bola, ke warung internet, bahkan kerja kelompok,
kau sendirian!
Mereka akan tetap jadi temanmu, tapi bukan begini terus caranya.
Kerja kelompok, Gema!
Kau tahu betapa menyedihkannya kita iri
terhadap orang-orang yang melakukan hal paling membosankan dalam dunia ini?
Kita iri pada orang yang mengerjakan PR bersama, Gema!
Astaga! Kau baru saja bersenang-senang dengan mereka!
Kau bisa tenang sedikit?
Harusnya jangan buat Opa dan Oma meninggal bersamaan.
Tahu kenapa kita selamanya akan sendirian?
Karena kau ingin punya sahabat, tapi yang kau pikirkan dirimu sendiri!
Diam kau.
Kau iri, 'kan, karena aku punya teman dan kau tidak?
Aku adalah kau, Goblok!
Aku tidak membutuhkanmu.
Kenapa aku diberi tahu kalau dia sekarang baru meninggal?
Ram…
Bangun, Ram!
Kenapa tidak ada yang memberitahuku?
Cukup, Mas…
Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan kembaran aku seperti ini!
Aku tidak bisa hidup tanpa kembaranku! Bangun, Rama!
Rama! Bangun, Rama! Ini kakak kamu, Rama!
Bangun! Rama, bangun! Rama!
- Bangun! Jangan diam saja! Bangun. - Sudah, Mas!
Bantu aku, Semuanya. Bantu!
Bantu aku bangunkan dia! Ayo, Rama.
Rama, bangun! Kakak ada di sini.
Ayo! Kenapa diam saja? Bantu aku!
Lama, ya?
Liftnya eror melulu, ya, Mas?
Gem.
Kenapa, Gem? Ada kabar tentang ibumu?
Ha? Belum.
Kok kau masuk, Gem?
Bukannya kau disuruh istirahat oleh Pak Cokro?
Iya, mendingan aku di sini daripada kepikiran sendiri di rumah.
Oh.
Gem, kami lagi presentasi ide. Kau tak apa-apa. Di sini saja dulu, ya?
- Tak usah pikirkan pekerjaan. - Istirahat dulu, oke?
Tidak apa-apa, sebentar. Maaf!
Oke, Teman-Teman. Bisa dimulai presentasi idenya.
Kalau oke, iklan televisinya bisa naik minggu depan, 'kan?
Yang Belanjol kemarin, si Kimberly Washington…
- Nama aslinya Boah… - Teksnya oke, 'kan?
Mas!
- Mas, tas temannya ketinggalan! - Oh, terima kasih.
Hei!
- Gema! - Gem!
- Astaga! - Gema!
Hai, aku Gema, dan ini caraku meninggal.
DAFTAR KEINGINAN
Langkah pertama, aku meninggal!
Langkah kedua, buat bukti bahwa aku sudah mati!
Bagaimana caranya? Banyak!
Aku akan buat berita bahwa aku benar-benar meninggal.
Aku juga akan cari orang-orang, seperti di film!
Aku akan cari figuran, dan aku akan belajar berakting!
Dan aku juga harus menjamin figuran-figuran itu bisa berakting.
Aktingku juga harus bagus, karena…
Langkah ketiga, buat acara duka!
Teman-teman harus lihat bahwa aku memang sudah mati.
- Ya. - Ya.
Petinya saya antar hari ini, Mas?
Meninggalnya masih minggu depan.
Ha? Bagaimana?
Pak RT!
Izin info ke warga, minggu depan rumah saya akan dipakai syuting konten.
- Ya! - Kalau ada teman kantor saya, ramai, Pak.
Ya!
Akan ada karangan bunga, bendera kuning, dan properti lainnya.
- Ya! - Karena ada yang mau meninggal.
Ha? Siapa yang meninggal?
- Syuting, Pak. Bohong, bukan sungguhan. - Ya!
Langkah keempat! Aku akan ganti identitas.
Dan aku akan berakting sebagai orang lain.
Aku akan menunjukkan ke orang-orang itu bahwa
aku ini sekarang bukan Gema lagi.
Aku adalah… Bima.
Bima Pradana?
Bima adalah saudara kembarnya Gema.
Masuk akal! Kami mirip, tapi kami bukan orang yang sama.
Jadi, orang melihatku seperti, "Dia bukan Gema.
Gema sudah mati, dia ada di peti."
Pak, di luar saja. Jangan di situ.
Gema sudah dua hari tidak masuk.
- Ya. Kukirim pesan, belum balas. - Sumpah?
Mungkin lagi mengurus soal perkembangan ibunya.
Langkah kelima!
Aku, Bima, akan menggantikan Gema di kantor.
Kantor kekurangan satu orang.
Aku akan datang ke kantor sebagai saudara kembarnya Gema,
dan aku pasti diterima.
Pak Cokro pasti menerimaku, karena Pak Cokro.
Tapi teman-teman yang lain tidak mungkin menolakku.
Karena aku sudah kehilangan kakek, kehilangan nenek,
kehilangan ibuku, kehilangan ayahku, dan sekarang kehilangan saudara kembarku.
Otakku dan Otak Gema masih sama!
Karena kami satu orang.
Setiap kali mereka melihat mukaku,
mereka akan ingat Gema. Mereka akan menyesal.
Karena menyesal, mereka tidak akan lagi meninggalkanku!
- Logo kemarin sudah aku sketsa… - Jadi empat…
- Gema? - Ini masih sama.
Permisi, Semuanya.
Gem?
Maaf agak mendadak.
Saya ingin…
- datang ke sini karena… - Empat hari ke mana saja?
Sudah ada kabar soal ibumu, Gem?
Itu apa, Gem? Seperti tahi lalat.
Saya…
bukan Gema.
Saya adik kembarnya.
Bima.
Ha? Bagaimana maksudnya?
Gema punya kembaran?
Berarti memang tahi lalat!
Gema meninggal?
Bim.
Maaf sebelunya, bukannya aku bermaksud tidak sopan, tapi…
Kami semua punya pertanyaan yang sama. Jadi, maaf, aku harus tanya…
Gema meninggal karena apa?
Terima kasih, Ham.
Saya tinggal di luar kota.
Jadi, Gema harus mengurus kasus Mama sendirian.
Dan dia sering sekali
pulang pagi karena itu.
Selepas mengurus kasus Mama,
kurang lebih dini hari,
Gema tertabrak truk.
Harusnya kita lebih perhatian ke dia.
Aku turut prihatin mendengarnya, Bim.
- Terus, Bim? - Ya…
- Saya… - Tidak, sebentar!
Kalian serius memercayainya? Serius?
Tidak ada yang merasa aneh?
Sudah beberapa bulan ini Gema memberi kita kabar duka terus.
Terus, tiba-tiba dia menghilang.
Habis itu, dia mati!
Aneh sekali! Mana buktinya?
- Karena ini? - Nu!
- Stop! - Karena ini, kau jadi kembarannya Gema?
Gema tidak pernah cerita dia punya kembaran.
Terima kasih.
Keluarga kami ditimpa musibah bertubi-tubi.
Ya…
Saya paham kalau kalian tidak percaya,
tapi saya tidak bohong.
Silakan.
Saya juga paham kalau kalian kaget
tiba-tiba Gema punya kembaran.
Sejak orang tua kami pisah,
saya dan Gema memang tidak tinggal bersama.
Tapi kami mengobrol, masih dekat.
Saya jujur kaget Gema tidak pernah cerita ke teman-temannya bahwa
- dia punya saudara kembar. - Danu.
Memang sedih.
Ini…
Oh, iya. Maaf.
Itu terjadi pagi hari, kurang lebih…
Bim.
- Aku turut berduka, ya. - Terima kasih.
Bim, ini…
- Bim. Boleh mengobrol berdua sebentar? - Ya, boleh.
- Sebentar. - Ya. Terima kasih.
Terima kasih.
Ya.
Ini pasti mejanya Gema.
Dia tak berubah, ya?
- Bim. - Ya.
Sebelumnya, aku minta maaf, Gem…
Bim. Maaf.
Orang tua kami juga sering salah sebut.
Tidak…
Aku benar-benar minta maaf. Turut berduka, ya.
Terima kasih.
Nanti…
datang ke acara dukanya Gema, ya?
Teman-temannya Gema.
Nanti pukul 19.00 malam, akan ada acara duka di rumahnya Gema.
Ini kesempatan terakhir kita untuk melihat Gema.
Saya yakin
Gema akan bahagia kalau teman-temannya ada.
Ya sudah, saya izin ke ruangan manajernya Gema dulu, ya.
Pak Cokro…
…ruangannya di sebelah sana.
Dompet kita sama.
- Oh, iya! - Ini aku beli saat ke Jepang.
Aku beli bekas di Pasar Senen.
AYU MENERIMA PERMINTAAN BERTEMAN ANDA
Kau tidak ikut, Nu?
Duluan saja, Ker.
Aku mau menyiapkan hadiah terakhir untuk Gema.
Dasar aneh.
♪ Orang lain kau hampiri ♪
♪ Jangan jalan terus ♪
Shalom.
Shalom.
Ini katanya syuting. Mana kameranya?
Baru pertama kali syuting, ya, Mas?
Saudara…
Ini acara kamera tersembunyi yang di TV.
Jadi, memang kameranya tak kelihatan.
Mungkin kameranya di sebelah Mas.
"Karena bagiku, hidup adalah untuk Kristus…"
"…dan mati adalah keuntungan."
Saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan.
Mereka yang mati dan percaya kepada Tuhan
sesungguhnya telah pergi meninggalkan dunia dalam damai.
Ya Allah…
Kristen!
Karena segala perbuatan baik mereka menyertai mereka.
♪ Suara ♪
♪ Bisikan "hai" menjalar ♪
♪ Mengikis bunga ♪
♪ Layu sampai aku ♪
♪ Akhirnya ♪
♪ Merasakan ♪
♪ Mati suri di taman ♪
♪ Mati suri di taman ♪
♪ Mati suri di taman ♪
Mereka siapa?
♪ Mati suri di taman ♪
Ini, minum dulu.
Turut berduka, ya, Mas…
- Mas Bima. Turut berduka, ya, Mas. - Bima.
Yang sabar, ya, Mas.
- Kuat. - Kuat, Mas.
Kalian temannya atau saudaranya Gema?
- Saudara. - Teman.
Terima kasih, ya, Semuanya, sudah datang.
Gema…
sangat baik orangnya.
Seandainya saya bantu-bantu soal urusan Mama,
mungkin Gema tidak akan…
- Bim… - Bim…
Tak usah buru-buru, ya?
Bim.
Kau harus…
Yang kuat.
Terima kasih.
Saya izin masuk dulu sebentar.
- Ya. - Ya.
- Alah. - Mas. Bagaimana akting saya tadi?
Bagus, Pak.
Saya tadi tambah improvisasi dari skrip yang ada.
Oh, iya.
Ini kartu nama saya.
Siapa tahu butuh untuk syuting yang lain.
- Ini sudah selesai, ya, Mas? - Belum, Pak.
Ini syuting eksperimental. Jadi, Bapak ikuti alurnya saja.
Improvisasi seperti tadi bagus.
- Oke. Kalau begitu, saya lanjut ke depan. - Oke.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Saya sudah bilang, aman saja…
Bim…
- Maaf, Pak. Tadi saya butuh waktu… - Bukan!
Ada…
Pak Pendeta, khotbahnya indah sekali. Terima kasih, ya, Pak.
Ini masih, ya? Puji Tuhan.
Terima kasih juga, ya, Mbak, sudah mendengarkan khotbah saya tadi.
Omong-omong, Mas Bima ke mana, ya?
Di dalam, Pak. Masih sangat terpukul.
Oh. Baik. Kalau begitu, saya izin ke dalam dulu, ya.
Ya, Pak.
Haleluya.
Kasihan sekali Gema.
Dari dulu, aku perhatikan dia sering melamun di kantor.
Ditambah lagi, dengan masalah ibunya sekarang.
Aku tidak tega.
Kalian ingat waktu kita makan siang bersama?
Gema juga hampir tertabrak gara-gara melamun.
Mungkin karena banyak pikiran.
Mudah-mudahan dia sekarang sudah bahagia, ya.
Setidaknya dia sudah bisa bertemu lagi dengan mamanya.
Gema!
Pacarnya Gema datang?
Gema?
Turut berduka, ya, Mbak.
Turut berduka, ya, Mbak.
- Turut berduka, Mbak. - Turut berduka…
Gema kenapa?
Mbak belum dengar kabarnya?
- Nay… - Ker, kau saja.
- Pak. - Sudah, kau saja.
- Tak bisa, Ker. - Aku tak bisa, Ker.
Gema kecelakaan tadi subuh, Mbak. Dia…
ditabrak saat mau…
menyeberang.
Gema!
Padahal aku datang mau meminta maaf.
Maaf, Mama telat, Gem.
Panggilan sayang Gema ke pacarnya benar-benar "Mama"?
Sepertinya begitu. Itu yang paling masuk akal.
Mbak, maaf.
Mbak pacarnya Gema, 'kan?
Aku mamanya.
Gema berpacaran dengan mamanya?
Sepertinya begitu. Itu yang paling masuk akal.
Berarti Mbak selamat dari kecelakaan pesawat?
- Ya Allah! - Bro…
Mama kamu selamat!
Kecelakaan?
Maksudnya?
Ini semua siapa?
Teman-temannya Gema?
Ini…
teman-teman dan saudara-saudara dari keluarganya Gema. Katanya Bima, Mbak.
Siapa Bima?
Saudara kembarnya Gema, 'kan, Mbak?
Mana orangnya?
Yang ini tidak masuk akal, Dri. Aku puyeng, Dri.
- Maaf, Pak. Tadi saya butuh waktu… - Bukan! Ada…
Ada kabar baik! Ternyata mama kamu selamat!
Ha?
Tapi kabar buruknya…
ternyata selama ini Gema…
ada hubungan terlarang dengan mama kalian.
Mama datang?
Ya, dia ada di depan.
- Ha? - Ya sudah. Yuk, jelaskan dulu.
- Sudah ditunggu! Yuk! - Ha?
Ayo.
Ke sana.
Ma…
Ini aku, Bima.
Anakmu yang… lama hilang.
Sini!
Apa ini, Gem?
Eh, ayo! ini masih syuting!
Syuting?
Kamu buat lelucon, ya?
Kamu buat lelucon? Ha?
Kalian juga? Bubar! Pulang semuanya!
Istigfar, Bu. Istigfar.
Lucu, ya? Menurut Pak Pendeta, itu lucu, ya?
- Bubar! - Maaf, Bu. Saya khilaf.
Bubar!
Ya.
Kalian semua ditipu Gema!
Kaget, 'kan? Aku jelaskan.
Yang pertama, Bima!
Bima sebenarnya Gema!
Ya, 'kan, 'Gem?
Hai, apa kabar?
Kedua! Ibunya Gema sebenarnya masih hidup! Ini.
Lihat! Lihat, Semuanya! Ini!
Ini ibunya! Sehat walafiat!
Selain itu, sepertinya Gema tidak pernah punya kucing…
Nu!
Kami sudah tahu.
Oh!
Ini! Lihat!
Kalian lihat peti ini?
- Peti ini sebenarnya… - Kosong.
Tidak ada isinya, Nu. Orangnya ada di situ.
Ini. Lihat! Kalian lihat ini di tanganku?
Aku sudah mencetak semua berkasnya. Ini adalah bukti…
Bahwa aku bohong.
Aku sudah cerita ke semua orang bahwa aku bohong tentang semuanya, Nu.
Sial!
Maaf, ya, Nu.
Ternyata kau benar.
Gem.
Gema.
Gem, lihat…
Asalamualaikum, Mas.
Saya pendeta.
- Ha? - Yang semalam.
Hmm?
Maaf, ya, Mas. Sepertinya dompet saya ketinggalan di sini.
Aman, Pak.
Syuting yang kemarin, akhirnya memang harus diusir, ya?
Ya, Pak.
Tapi seru, Mas!
Saya belum pernah dapat syuting dengan improvisasi sebanyak itu!
Saya jadi tidak bisa membedakan mana yang dari skrip, mana yang bukan.
Terus, yang jadi teman-teman Mas, aktingnya bagus!
Apalagi saat ceritanya Mas meninggal.
Yang jadi teman-teman Mas…
Akting kehilangannya… Itu harus dapat aktor terbaik dari FPI.
Persahabatannya itu, Mas. Sangat tulus!
- Begitu, ya, Pak? - Ya, Mas!
Apalagi saat kecewa.
Saya jadi ikut merasa sesak.
Alhamdulillah! Ketemu, Mas! Dari awal, saya sudah menyangka dompet saya di sini!
Oh, iya.
Terus, si Gema itu akhirnya apa?
Iya, ya.
Aku melakukan apa, ya?
Halo, Teman-Teman Semua.
Aku ke sini mau meminta maaf secara langsung kepada kalian.
Tapi aku mengerti kalau kalian belum bisa atau tidak akan memaafkan aku.
Aku belum pernah punya sahabat,
aku sangat senang saat diperhatikan kalian.
Aku jadi takut tidak diperhatikan lagi,
dan malah membohongi kalian.
♪ Di tengahmu aku mau ♪
♪ Peluk dengan atensimu ♪
♪ Rindu nada dialog, hangat ♪
Sebentar.
Aduh!
Mau menambal?
Pasti kena paku! Aku yakin.
- Tapi antre, Bang. - Ini uangnya. Bang.
- Saya titip, ya. Saya buru-buru. - Sebentar.
- Buru-buru? - Terima kasih.
Ha? Ini kurang!
♪ Tinggal ♪
♪ Dan jangan meninggalkanku Bolehkah ulangi waktu? ♪
Tolong jangan mengira kado ini sebagai sogokan.
Kalian selalu berusaha untukku,
sedangkan usahaku malah untuk membohongiku kalian.
Ini bentuk ketulusan permintaan maafku.
Baik kalian menerima aku lagi atau tidak.
Temanku berpura-pura mati demi mendapatkan perhatian? Ha? Kok bisa?
Anggap saja ini kenang-kenangan perpisahan dariku.
Teman-Teman.
Beri aku waktu lima menit, aku mau menjelaskan sesuatu kepada kalian.
Kau kenapa, anjrit?
Tidak apa-apa.
Halo, Teman-Teman. Aku ke sini mau meminta maaf
- secara langsung… - Gem, kau pucat sekali.
Kau habis melakukan apa?
Tadi ban motorku bocor. Jadi, aku lari dari Semanggi,
takut kalian sudah pulang.
Kenapa kau tidak naik taksi daring, Gem?
- Ponselku mati. - Besok juga bisa.
Iya juga.
Boleh kita bicara nanti, Nay? Aku mau…
Kau butuh minum. Ambil air…
- Minum… - Jangan gerak…. Jangan gerak!
Aku mau…
- Tapi aku mengerti… - Tapi mukamu sangat pucat, Gem. Sumpah.
- Tadi Naya sudah bilang! - Kau sudah makan siang?
- Belum, aku belum sarapan. - Astaga!
Dia asam lambung, Teman-Teman!
Ini aku mau…
Aku mengerti kalau kalian belum bisa atau tidak akan memaafkan…
Eh?
Belum bisa atau tidak akan memaafkanku…
Gem, sumpah. Kalau sampai ini tipuanmu yang lain, keterlauan…
Astaga!
Kenapa semua muntah-muntah?
Kalian kenapa?
Kok kau sangat pucat?
Tolong dia…
- Aku tidak mau! - Bro!
Tidak mau!
Maaf, ya, jadi merepotkan kalian semua.
Aku… ke sini mau minta maaf secara langsung.
Kami sudah baca suratnya, Gem.
Silakan dibuka kadonya.
Gem…
- Ini… - Penggiling kopi otomatis.
Agar kau tak perlu lelah lagi menggiling kopi secara manual.
Aku juga dulu punya kucing.
Namanya Lion.
Ini. Lucu sekali, ya?
Lion.
Maaf, ya, Ker.
Tapi kacamataku masih bagus.
Coba kau pakai, Bro.
Ha?
Bagus, Bro.
- Keren, Bro. - Cocok.
Sudah malam. Balik, ya?
WAKTU BERCERITA BAGIAN SATU, MENGHAPUS…
Pak Cokro.
Saya ambil barang-barang saya dari meja saya, ya.
Terima kasih untuk selama ini.
Oke.
Gem, maaf.
Kok aku dapat tatakan gelas, ya?
Karena aku sering dapat fail darimu, suka ada jiplakan airnya.
Siapa tahu kau butuh.
Oh…
Terima kasih.
Jangan sampai SP3, ya, Bro.
Terima kasih, ya, Pak.
"Bro."
Terima kasih, Bro.
Mau balik bersama?
Terima kasih, ya, Gem.
Sebenarnya soal ke luar negeri, barang bermerek, dan oleh-oleh itu bohong.
- Nu! - Ha? Ya Tuhan.
Gema bohong, Danu bohong, siapa lagi yang bohong?
Sebenarnya aku tak suka kopi.
Ha?
Aku sebenarnya keponakan Pak Cokro.
Ha?
Pantas kau bisa bekerja di sini.
Maaf, Om.
Sebenarnya aku beli pengikut.
Nay!
Jujur, sebetulnya aku tidak seumuran dengan kalian.
- Sudah tahu, Pak. - Sudah jelas, Pak.
Bawa oleh-oleh, Nu?
Pret.
Sudah, Nay!
- Om, yang laporan… - Sekali lagi kau panggil "Om",
kubakar kau.
Eh, hai. Aku Gema, dan ini caraku hidup lagi.
- Mau liburan? - Iya. Tapi kali ini sungguhan.
Aku lagi buat anggaran. Rencananya lima bulan lagi, aku mau ke Bangkok.
Ke Bangkok naik pesawat atau naik Photoshop?
Wah, Dri!
- Anak ini kita musuhi lagi saja? - Kalau begitu, tak kami maafkan.
Ya, bercanda.
- Dri, aku punya sesuatu untukmu. - Apa?
Ini ada teh.
- Katanya enak. - Wah. Eh?
- Kalau teh, suka, 'kan? - Sebenarnya, Gem…
Tidak. Suka.
Terima kasih, Gem. Aku buat, ya?
Kau juga mau, ya? Sip!
Aku bekerja di agensi kreatif sebagai analis data.
- Gokil! - Itu bisa!
Dan mereka adalah sahabat-sahabatku.
Kalau setahun lalu kalian bilang kepadaku
mereka akan menjadi temanku,
aku pasti kaget.
Eh! Maaf.
Karena… Masa kalian bisa berbicara?
Walaupun tak pernah bicara balik, terima kasih, ya, sudah selalu menemani.
♪ Dan sekarang semua rasa sudah gila ♪
♪ Dan gila pun merasakan punya jiwa ♪
♪ Namun, kau tak pernah juga bilang gila ♪
♪ Takkan pernah Takkan pernah hilang gila ♪
♪ Di antara sejumlah bilang Yang menggila ♪
♪ Di samping kawan ♪
♪ Jangan kau buang Yang merasakan berjiwa ♪
♪ Di samping lawan ♪
♪ Dan kuharap menjadi bagianmu ♪
♪ Ku bisa gila tak berharap ♪
♪ Dan kuharap menjadi harapanmu ♪
♪ Ku bisa gila ♪
♪ Dan kuharap menjadi bagianmu ♪
♪ Ku bisa gila tak berharap ♪
♪ Dan kuharap menjadi harapanmu ♪
Seperti anak kecil.
Makannya berlepotan.
Terima kasih, Ma.
Mama kok tidak tambah?
Tidak.
♪ Takkan pernah Takkan pernah hilang gila ♪
♪ Dan kuharap menjadi bagianmu ♪
♪ Ku bisa gila tak berharap ♪
♪ Dan kuharap menjadi harapanmu ♪
♪ Ku bisa gila ♪
Gem!
Saya turut berdukacita, ya, Bu.
Saya akan mengabari teman-teman yang lain.
Oke.
- Oke. Aman. Terima kasih, Nu. - Aman? Oke.
Gema meninggal.
Ha?
Meninggal?
Gema meninggal? Pret!
Nanti ibunya berteriak "lelucon" lagi. Astaga.
Masa orang meninggal melulu, Bro? Aku sumpahi meninggal sungguhan.
Sabar, ya.
Aku mengerti, kamu pasti sedih meninggalkan mereka.
Kami juga meninggalnya tidak ada yang pernah siap.
Terima kasih, ya.
Maaf, aku bersedih.
Tidak apa-apa.
Kau tidak perlu meminta maaf.
Kau juga tidak perlu menjelaskan.
Kamu kenapa sedih? Mau cerita?
Ya, aku sedih saja meninggalkan mereka.
Sahabat-sahabat aku… Mama…
Sabar, ya. Kamu tidak sendiri.
Kami mau jadi sahabat kamu.
- Ya, mau. - Kami mau.
Nama kamu siapa?
Gema.
- Gema, kami sayang kamu. - Selamat datang, Gema.
♪ Tinggal, dan jangan meninggalkanku ♪
♪ Bolehkah ulangi waktu? ♪
♪ Tinggal, biarkan ku sampaikan sesalku ♪
♪ Sampai kau lelah ♪
♪ Tinggal dan jangan ♪
♪ Meninggalkanku ♪
♪ Sendiri, dihimpit ruang kosong ♪
♪ Di antara sunyi ♪
♪ Sesali ♪
♪ Keheningan yang ditinggalkan memori ♪
♪ Di tengahmu aku mau ♪
♪ Peluk dengan atensimu ♪
♪ Rindu nada dialog, hangat, senyum ♪
♪ Keklisean itu ♪
♪ Tinggal, dan jangan meninggalkanku ♪
♪ Bolehkah ulangi waktu? ♪
♪ Tinggal, biarkan ku sampaikan ♪
♪ Sesalku, sampai kau lelah ♪
♪ Tinggal dan jangan ♪
♪ Meninggalkanku ♪
♪ Ribuan ♪
♪ Panggilan ku takut takkan kau ♪
♪ Hiraukan ♪
♪ Mungkinkah ♪
♪ Kita buat nostalgia ♪
♪ Di masa depan ♪
♪ Di tengahmu aku mau ♪
♪ Peluk dengan atensimu ♪
♪ Rindu nada dialog, hangat ♪
♪ Senyum, keklisean itu ♪
♪ Dan jangan meninggalkanku ♪
♪ Bolehkah ulangi waktu? ♪
♪ Tinggal, biarkan ku sampaikan ♪
♪ Sesalku, sampai kau lelah ♪
♪ Tinggal dan jangan ♪
♪ Meninggalkanku ♪
♪ Tinggal dan jangan meninggalkanku ♪
♪ Bolehkah ulangi waktu? ♪
♪ Tinggal, biarkan ku sampaikan ♪
♪ Sesalku, sampai kau lelah ♪
♪ Tinggal dan jangan ♪
♪ Meninggalkanku ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.