All language subtitles for [GreyOwlNoona] Drama Stage. E06.Anthology.ID

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Translated by Noona Abu-Abu. http://www.greyowlnoona.wordpress.com

Edited at https://subtitletools.com

Ayo fokus.

Apa itu? Itu lagu yang tak pernah kudengar.

Teleponnya nanti saja bagaimana?

Kau apa-apaan?

Apa yang kau lakukan?

Aku sedang mengajar.

Kembalikan.

Jagalah sopan santun.

Disini bukan hanya ada kau.

Ada teman-temanmu yang ingin belajar.

Akan kukembalikan ini setelah pelajaran selesai.

Kembalikan sekarang.

Kaupikir kau sesuatu karena dipanggil 'guru'.

Bahkan tak ada yang mendengarkanmu.

Guru les itu, berbeda dengan guru sekolah.

Bukan hanya mengajar yang penting.

Kau juga perlu sedikit bercanda dengan mereka dan membuat mereka nyaman.

Kau ternyata tidak tahu tentang hal itu.

Kau pernah melihat laman pencari kerja?

Ada banyak orang yang mengantri untuk mendapatkan pekerjaan ini.

Bagi lulusan universitas tak ternama di Amerika yang tak bisa mendapat kerja,

bukankah hanya ini yang bisa mereka lakukan?

Sejujurnya juga,

kalau kau lulusan Hardvard, akankah kau bekerja disini sekarang?

Buat apa hidup?

So-yi!

Bibi!

Kenapa repot-repot mengirim sebanyak ini?

Itu tidak banyak.

Makanlah. Nantinya juga pasti cepat habis.

Simpanlah kentang dan ubi-ubiannya di tempat teduh.

Makanlah kastanye-nya saat kau bosan.

Orang kuno macam apa yang makan dirumah?

Makanlah meskipun tak sempat.

Itu Soyi?

Ya.

Apa ini?

Ah, ini bau, bagaimana aku memakannya?

Berhentilah mengirimiku,

aku akan beli sendiri kalau aku butuh.

Hei, aku sampai lupa wajahmu.

Cepat datanglah kemari.

Aku juga ingin,

tapi jadwal mengajarku itu full.

Aku disini sangat populer, tahu.

Mendaftar di kelasku lebih sulit daripada ticketing konser.

Ti- apa?

Ah, aku kini bahkan tak mengerti omonganmu.

Ah, bagaimana bibi bisa berubah begini.

Kau mengirimkan apa lagi, ini?

Apa?

Oh, ya.

Aku menemukan itu saat merapihkan perpus.

Itu yang kau buat dulu, kan.

Disitu ada namamu juga.

[Antologi]

16 tahun lalu, Nonsan

Cepatlah.

Ah, bau kotoran.

Hei, kau tak tahu betapa berharganya bau ini?

Itu bagus untuk tubuh, hiruplah sebanyak-banyaknya.

Hei, kau tahu bagaimana fertilizer dibuat?

Ah, benar.

Waktu kau kesini saat masih 5 tahun,

kau hampir jatuh ke kubangan penuh tai, kan.

Kenapa kau membicarankan itu?

Makanya, pedesaan itu bagusnya untuk liburan saja.

Sebenarnya siapa kapan dimana bagaimana dan kenapa manusia hidup disini?

Lalu apa aku hantu?

Ah, menyebalkan.

Ah, tai!

Ini bukan tai, tau.

Ah, jauhkan!

Apa-apaan?

Mulai sekarang ini kamarmu.

Entah kau menyukainya atau tidak.

Buat apa beli meja belajar?

Aku disini hanya sebentar.

Kamarnya masih dingin.

Disini memang lebih dingin dari Seoul.

Mincheol, kau sedang apa? Cepat nyalakan api!

Oh ya, nak.

Kau belum sarapan ya?

Aku membuatkanmu makanan, tapi lupa.

Nak, mau kurebuskan jagung dulu?

Nenek, tak perlu.

Aku terlalu menanti kedatanganmu.

Tunggulah sebentar.

Dingin, tutuplah pintunya.

Min-chul kau dimana?

Cepat nyalakan api untuk masak.

Kau ngapain? Masuk kesitu segala?

Kau bisnis sampingan? Usaha bahan pangan sehat, begitu?

Bahan makanan?

Anak-anak, tutup telinga.

Kambing putih dan hitam.

Itu lumayan kalau dijual.

Hei!

Mereka namanya whitie dan blackie, tahu.

Hei, kau tau julukan Yeo Mincheol ini?

Harimau Nonsan, tahu.

Prajurit bahkan tak mampu menatapku.

Oh, begitu?

Dia mirip siapa bisa omongannya begitu?

Tentunya bukan mirip paman,

aku kan mirip nenek.

Kau mulai masuk sekolah senin besok.

Karena dekat, kau cukup jalan saja.

Apa aku harus sekolah?

Berisik.

Besok pergilah denganku,

kau perlu beli seragam baru.

Tidak perlu.

Aku disini hanya sebentar, buang uang saja.

Kalau kau pindah sekolah, kau kan harus pakai seragam.

Tidak perlu.

Sudahlah, dia bilang tidak mau.

Nak, mau kurebuskan kentang?

Pakai gula yang banyak.

Tentu. Kentang kan enaknya kalau dimakan pakai gula.

Kau mirip denganku, tahu caranya makan.

Kalian memang mirip.

Kenapa tidak bisa?

Ah, benar-benar.

Ah, tolong bisalah.

Ah, dapat.

Ibu?

Ibu, aku sekarang di rumah nenek.

Oh, So-yi.

Kenapa kau belum tidur jam segini?

Disini masih belum jam 10, tahu.

Ibu, tidak bolehkah aku tak usah sekolah?

Lagipula aku hanya sebentar disini.

Aku akan berlibur saja selagi menunggumu datang.

Omongan apa itu?

Tunggulah sebentar.

Ah, tempat ini sangat menyebalkan.

Dikamar mandi tidak ada shower,

handuknya bau, airnya pun keruh.

Siapa telepon jam segini?

Ah, tidak.

Tidurlah lagi.

Makanya, jemputlah aku.

Jemput aku besok.

So-yi.

Ibu tidak bisa bicara lama-lama.

Jangan merepotkan nenek. Baik-baiklah disana. Makanlah teratur, jangan sampai sakit. Mengerti?

Baik-baiklah disana.

Ibu akan telepon lagi.

Kututup.

Kalau aku baik-baik disini,

kau akan berpikir aku tidak apa-apa.

Lalu kau tak akan datang.

Pikirnya aku akan menurut?

Lihat saja, aku tak akan beradaptasi.

Aku akan buat kekacauan.

Dingin.

Ini dimana?

Setelah banyak hal, disini bahkan ada pembakar.

Semuanya duduk.

Halo.

Miyoung cepat duduk.

Hari ini tak perlu.

Ada sesuatu yang lebih penting.

Kita punya teman baru dari Seoul.

Namanya Shin So-yi.

Segalanya akan terasa asing baginya,

jadi bantulah dia agar bisa beradaptasi.

Ya.

So-yi,

perkenalkan dirimu.

Aku tidak ada niat beradaptasi di sini.

Aku akan pindah ke Amerika sebentar lagi.

Jadi jangan pedulikan aku.

Baiklah.

So-yi tempatmu,

disana sepertinya bagus.

Duduklah.

- Hari ini siapa yang piket? / - Saya.

Ah, Changsoo?

Hari ini, jam ke-5 diganti dari matematika ke bahasa.

Aku jelas bilang akan ada ujian setelah istirahat.

Bekerja keraslah.

Terlihat jelas berbeda.

Wah, seragam Seoul sangat cantik.

Kau benar-benar akan ke Amerika?

Tapi apa yang kau dengarkan?

Dia akan ke Amerika, pasti saja lagu barat.

Lagu pop?

Lalu kau pasti jago bahasa inggris.

Disini Jinhyun yang paling jago bahasa inggris.

Kenapa kau ke Amerika?

Sekolah?

Kau pergi dengan ortumu?

Tapi kenapa kau kesini?

Orang tuamu?

Hei, aku minta tolong.

Tidak bisakah kalian tak usah pakai dialek?

Itu mengingatkanku kalau aku ada dipinggiran.

Jadi aku cukup terganggu.

Hei!

Memang siapa disini yang tak bisa ke Amerika?

Dan juga, Seoul?

Dari Seoul kesini hanya butuh 2 jam, tahu.

Benarkah?

Tapi kenapa trend disini tertinggal setengah tahun dari Seoul?

Ikat rambutmu itu,

sama persis dengan yang sudah kubuang musim semi lalu.

Jangan menghalangi sinar matahari, minggir.

Kau sungguh ingin dipukuli?

Kurasa,

jam istirahat sudah selesai.

Duduklah.

Apa yang kau lihat?

Kucongkel juga, matamu.

Choi Sungji. Kenapa masih berdiri?

Kau tak mau duduk?

Benar kau, kan?

Buka buku!

Benar.

Tidak ada pemberitahuan khusus.

Sudah kuberitahu kan, hari ini kita akan memilih siswa yang akan mengerjakan antologi.

Ya.

Kalian mungkin berpikir untuk apa membuat semacam itu,

tapi selama hidup, yang tersisa bagi kalian hanyalah kenangan.

Sebagian besarnya akan dikerjakan Jinhyun,

kita butuh seorang lagi untuk membantunya.

Sungji.

Aku cukup mengerti perasaanmu,

tapi kelinci-kelinci di peternakanmu sepertinya makin kurus.

Kau merawatnya dengan baik, kan?

Akan kuberi makan dengan teratur.

Bagus.

Selain Sungji,

tidak adakah yang ingin membantu Jinhyun?

Aku akan melakukannya dengan anak baru.

Baiklah, bagus kalau So-yi yang mengerjakannya.

So-yi saja yang membantu.

Hei kau!

Hei, berhenti.

Berhenti!

Kubilang berhentilah.

Kau bicara dengan siapa?

Aku?

Dia?

Atau dia?

Kalian berdua jangan ikut campur.

Kau mengenalku?

Yah.

Tidak juga, tapi aku tak bisa bilang tak mengenalmu.

Kau bicara apa?

Double negative setara dengan positif.

Lucu sekali.

Hei, pembakar.

Itu kau, kan?

Tindakanmu itu kriminal, tahu.

Aku sama sekali..

tidak tahu apa maksudmu.

Aku mengerti.

Untuk melakukan hal seperti itu

tentu diperlukan muka setebal ini.

Sudahlah.

Antologi atau apapun itu,

lakukan saja dengan gadis tadi.

Lagipula aku akan pergi ke Amerika.

Baiklah.

Kalau begitu sebelumnya.

Kau bisa melakukannya sebelum pindah.

Hei!

Aku sudah bilang tak mau.

Kau tak mengerti bahasa korea?

Sampai ketemu besok.

Apa kau psiko?

Atau sosiopat, semacam itu?

Mari bekerja sama...

Tugas antologi.

Hei!

Aku tak mau.

Takkan kulakukan!

Astaga, bayiku sudah pulang sekolah.

Nak,

Teman-temanmu memuji kau cantik, begitu kan?

Cantik apanya?

Gedung sekolahnya sudah tua, mejanya pun sudah jelek.

Anak-anaknya...

Jangan bicarakan lagi...

Bukan kau yang mengganggu anak-anak polos seperti mereka?

Polos?

Mereka itu baik.

Jangan sombong

hanya karena kau dari Seoul.

Jangan juga mengungkit-ungkit tentang Amerika

Nonsan? Hanya ada sawah (non) dan gunung (san) saja disini.

Nenek, ini boleh dimakan?

Jangan.

Itu mau dibuat kue. Nanti kuberi.

Dan juga, paman.

Kau tak tau anak-anak itu lebih parah?

Kau buruk dalam menilai orang,

makanya masih belum menikah juga.

Ibuku saja sudah 2 kali.

Apa anak ini mengoleskan racun ke lidahnya?

Wah, meski keluarga kita semua pandai bicara

kau tak ada tandingannya.

Ibu. Kenapa menyiramku?

Hei.

Cepat beri dia makan,

letakkan itu dikamarnya.

Cepat!

Hei!

Kudengar ibumu bercerai.

Kudengar dia membuangmu dan menikah lagi di Amerika.

Akankah kau jadi ke Amerika?

Orang yang akan ibumu nikahi...

kudengar orang ras hitam.

Jaga mulutmu.

Kau yang harusnya jaga sikap.

Kenapa kau begini padaku?

Jangan lakukan.

Antologinya.

Apa?

Coba lakukanlah,

akan kucincang kau.

Kau menggangguku hanya karena masalah itu?

Kalau kau tetap melakukannya,

tahulah bahwa aku akan memeras habis air matamu.

Kau mau kemana?

Hei.

Hei, kau tak dengar?!

Dia kenapa lagi?

Kau...

Akan kulakukan antologinya.

Apa?

Akan kulakukan denganmu.

Cewek gila itu!

Hei, kau gila?!

Kau tak dengar perkataanku?

Lepas.

Lepas!

Aku sudah bilang kau akan kucincang.

Apa pergi ke atap sekolah cukup?

Pergilah.

Wah,

pemandangannya bagus.

Seperti film koboi.

Kita hisap satu sebelum mulai.

Mau satu?

Tidak.

Untuk apa?

Kalau ke Amerika aku akan dengan mudah menemukan ganja atau ekstasi.

Kau saja puaskan.

Jangan sok hebat kau.

Hei.

Apa kau gila?

Lepas.

Kau yang lepas.

Cobalah membicarakan ibuku lagi, aku akan---

Cobalah dekat-dekat dengan Jinhyun, aku takkan diam.

Aku tidak tertarik dengannya.

Aku paling benci kalau cewek melakukan hal begini.

Kau pikir kau saja?

Aku juga.

Tapi,

Jinhyun itu beda.

Hei,

kurasa itu karena standard di sini rendah.

Tapi, cobalah ke Seoul.

Tampang yang seperti dia,

akan dengan mudah kau temukan dimana-mana.

Ini bukan masalah tampangnya.

Dia berbeda.

Dia..

Dia itu suci.

Cowok gila itu.

Kau sudah benar-benar dibutakannya.

Hei, sepertinya kau tak tahu aslinya dia.

Dia itu--

Kau boleh menjelekkanku,

tapi jangan Jinhyun.

Kau mau mulai lagi?

Lap saja darahmu.

Kau mau kabur?

Kau yang harusnya lap.

Yaampun.

Kenapa kau?

Apa yang terjadi?

Wah, apa kau habis latihan militer?

Tunggu disini.

Akan kuambilkan handuk.

Kau benar-benar seperti pengemis.

Paman!

Apa disini selalu begini?

Hei, meski mereka luarnya begitu hati mereka lembut.

Kau becanda?

Mereka jahatnya bukan main.

Astaga.

Apa yang kau bicarakan?

Satu ikan dari Seoul sudah mengotori satu lautan Nonsan.

Anak-anak itu pasti terkejut sekali.

Pergi sana kau!

Lihatlah ini.

Tak usah melawannya.

Ibu! Kenapa terus menyiramku?

Dia mirip siapa bisa begitu?

Apa-apaan kau?

Isi antologi...

Bisa berupa gambar atau tulisan anak-anak lain.

Atau bisa juga foto.

Kau mau apa?

Dan ada yang harus kau terima dari mereka.

"Mimpiku" dan rolling paper.

Dan kurasa bahan tulisannya juga kurang.

Jinhyun,

makanlah.

Hei!

Keluargaku mengadakan perayaan kemarin.

Hei!

Pergilah ke tempat kalian sendiri!

Dan juga, apa kalian kerasukan setan kelaparan?

Hei, dengar baik-baik.

Aku takkan mengerjakan antologinya.

Kenapa tak makan? Kau mau kemana?

Jangan makan kalian.

Satu saja.

Berkumpul, berkumpul.

Pak!

Bapak minum sebanyak apa?

Hari ini, bapak rasa tidak bisa mengajar.

Aku akan istirahat disana,

kalian mainlah dodgeball berpasangan saja.

Pak!

Itu permainan apa?

Ah, kalian.

Kalian tak pernah memainkannya?

Jinhyun.

Sini.

Lalu...

Kau kenapa pakai baju itu?

Kau anak pindahan?

Dia dari Seoul.

Kenapa kau belum punya seragam olahraga? Sinilah.

Kesinilah.

Dia kenapa?

Cepat, cepat.

Perhatikan

Siswa laki-laki

dan siswa perempuan

akan menjadi satu tim dan bermain dodgeball.

Tapi yang penting di sini.

Kalau siswa laki2 terkena bola,

tidak apa-apa.

Tapi, kalau siswa perempuan yang kena,

mereka kalah.

Jadi,

Kalau siswa LK berdiri di depan,

dan siswa PR di belakangnya, itu akan menguntungkan.

Mengerti?

Ya.

Kalau begitu, bentuklah tim kalian.

1, 2, 3 Semangat!

Sembunyilah.

Urusi saja dirimu.

Jangan pedulikan aku.

Hei!

Apa yang kau lakukan?

Begitu saja tak becus.

Hei, kalau kau tak bisa mengenai cewek itu, awas kau.

Aku mengerti.

Pukul bolanya!

Mereka ngapain?

Kijoon! Kenapa kau memukul Sungji?

Anak ini.

Kau berenang malam?

Itu bukan helaan napas biasa.

Itu napas yang keluar saat seseorang merasakan hembusan angin tertentu di hatinya.

Angin?

Ya.

Angin itu terasa menyejukkan tapi menggelitik

Rasanya seperti menggetarkanmu.

Wah, aku ingin tahu siapa yang menghembuskannya padamu.

Apa-apaan?

Lalu apa arti dibalik helaan napasmu itu?

Kau tak perlu tahu.

Nak.

Anginnya kencang.

Dingin, ya?

- Ibu beli selimut? / - Tentu.

Untuk anak ini.

Buat apa beli ini segala?

Aku takut kau kedinginan.

Nenek.

Apa?

Kau yang terbaik.

Kau juga.

Sudah, tidurlah.

Ini akan dimasukkan ke dalam antologi,

jadi masing2 harus menulis minimal 10 baris.

Kalau begitu pikirkan dan tulislah baik2 hari ini,

kumpulkan besok.

Ke Shin So-yi.

Hei, kita sudah umur berapa disuruh menulis cita-cita.

Menggelikan.

Aku harus tulis apa? Presiden?

Tulis saja hal pertama yang kau pikirkan sebelum tidur.

Kalau ada hal pertama yang muncul,

pasti itulah yang sejujurnya.

Hei, Sungji.

Kau kan ingin membuka restoran ayam.

Tulis saja itu.

Ah, rapor.

Yaampun, kalian peka sekali.

Hasil nilai seluruh sekolah sudah keluar.

Bulan depan ada pertemuan wali murid.

Jadi jangan mimpi untuk memalsukan nilai.

Lagi-lagi peringkat satu dari seluruh sekolah ada dikelas kita.

Selamat, Song Jinhyun.

Raporku...

Peringkat satu lagi?

Aku sudah bilang, kan?

Jangan belajar.

Kalau berlebihan kau bisa serakah.

Kau bahkan tak punya tujuan.

Katanya akan menelpon lagi.

Dia lupa atau apa?

Tulis saja hal yang pertama kali terpikir sebelum kau tidur, malam ini.

Kalau ada yang pertama kali muncul,

pasti itulah yang sesungguhnya.

Bagaimana bisa kutulis itu sebagai impian?

Sudah kalian teteskan pereaksi ke kaca objek?

Ya.

Karena ini percobaan tim, satu orang saja yang diambil darahnya.

Aku saja.

Kau tulis hasilnya saja.

Sini kubantu.

Tusuklah sekali saja.

Sudah.

Ini mah bukan apa a--.

Gol. AB Rh positif.

Ya. Tulislah.

Aku mendengar dari Kang Hyunwoo anak kelas 1-2.

Katanya di laboratorium ada hantu.

Hantu? Disini?

Barangnya tertinggal disini,

jadi dia kesini tengah malam.

Lalu ia mendengar suara kotak musik, 'ding ding'.

Lalu dia melihat semacam goblin terbang.

Bahkan terdengar suara tangisan hantu perawan.

Kyungsoo.

Kenapa mengobrol?

Kau tidak mengerjakan percobaan?

Apa kau sudah selesai?

Di sekolah mana saja selalu ada omongan tak jelas.

Iya juga.

Di sekolahku yang di Seoul,

katanya tiap tengah malam patung Raja Agung Sejong membacakan Manuskrip Hunmin Jeongeum.

Nggak masuk akal.

Hei, ini menarik.

Masukkan ke dalam antologi.

Apa kita harus melakukan sejauh ini?

Apa yang kita lakukan selarut ini?

Meski begitu, terimakasih karena mau menemaniku.

Hei, mana ada yang namanya hantu?

Kau tunggu 100 tahun pun takkan muncul.

Hei, jangan berisik.

Kalau ditunggu nanti juga tahu.

Hei.

Waktu itu, kenapa kau melakukannya?

Apa pemilik ladang yang kau bakar itu musuh orang tuamu atau semacamnya?

Kenapa kau melakukan hal semacam itu?

Kau sudah benar-benar menipu anak-anak lain, tahu.

Bagaimana bisa seseorang begitu berbeda luar dan dalamnya?

Dan juga,

kenapa kau pintar sekali?

Kau pasti senang.

Kau bisa masuk universitas manapun yang kau mau.

Kalau kau pasti kuliah di Amerika, dong.

Belum pasti, juga.

Tapi,

Kau juga belum menulisnya kan?

Kalau kau sih, kan memang dasarnya pintar,

kau bisa jadi apapun.

Dokter? Jaksa? Hakim?

Sudahlah.

Aku bahkan tak tau impianku, untuk apa tahu impianmu.

Sebelum tidur---

Sudah kucoba.

Tapi...

Aku hanya terpikir satu hal.

Aku berharap tidur seperti ini saja,

dan tidak bangun lagi keesokan harinya.

Tapi aku tidak bisa menulisnya begitu, kan?

Kau benar.

Aku menyedihkan.

Kau...

Memang waktu kecil impianmu apa?

Aku tak mau bilang.

Kau tahu kalau kau mudah ditebak?

Apa?

Saat aku melihatmu....

Kurasa aku tahu apa yang kau rasakan.

Jangan bercanda.

Beneran, kok.

Karena itu aku jadi jujur.

Di depanmu saja.

Kau jenius.

Apa?

Gol. darahmu kan AB.

Memang golongan darahmu apa?

Aku golongan AO.

Ibuku A, ayahku O.

Orangtuaku...

Dua-duanya golongan O.

*curhat secara tidak langsung kalau orangtuanya bukan kandung

Oh..

Begitu.

Ada cahaya.

Apa itu goblin-nya?

Suara kakinya juga terdengar dekat.

Memang hantu punya kaki?

Kalau punya pun, bukankah akan melayang di udara?

Apa itu?

Kalian...

Bu guru.

Paman.

Sudah makan?

Goblin apa yang pakai senter?

Kami masuk diam-diam mumpung sedang bertugas.

Jadi kami mematikan lampu-lampu sedikit.

Tapi, apa bu guru selalu tertawa seperti hantu begitu?

Hei, hantu?

Hantu mana yang suaranya secantik itu?

Sunhwa bilang,

aku lebih lucu dari Yoo Jaesuk.

Meski aku hanya bernapas dia tertawa lepas.

Lalu...

Suara kotak musik itu apa?

Hadiah 200 hari pacaran.

Kau akan menikah? Dengan si kuno itu?

Hei, apa-apaan kau menyebut gurumu 'si kuno'?

Aku hanya lulusan perguruan tinggi pinggiran.

Pekerjaanku yah paling begini-begini saja.

Dengan kondisi seperti ini, bagaimana aku bisa berguna bagi Sunhwa?

Yaampun.

Bagaimana kau akan membela negara ini dengan mental selemah itu?

Masa depan pertahanan negara ini sungguh cerah sekali.

Yaampun anak ini.

Kemampuan berbahasamu memang luar biasa.

Kalau dalam hal ini, bukannya kau mirip aku?

Kudengar dari Sunhwa,

kau sudah mulai bisa beradaptasi di sini.

Ini semua...

Apa karena cowok itu?

Kau ngomong apa?

Kenapa juga kau keras kepala sekali?

Membuat orang-orang berinvestasi hal yang tak jelas?

Uang sebanyak itu, bagaimana kau akan membayar kembali mereka semua?

Tidak bisakah kau diam?!

Aku tidak bisa merawat Jinhyun lagi.

Mau dihentikan bagaimanapun juga, dia pasti akan tetap ingin kuliah.

Cepat kembalikan saja dia ke ibunya.

Paman.

Ya?

Orang tuanya Jinhyun itu orang seperti apa?

Mereka baru menikah beberapa tahun yang lalu.

Meski aku tak tahu pasti,

Di mata orang-orang sekitar, mereka baik.

Itu melegakan.

Kau...

Merasakan cinta pertamamu?

Tidak, tahu.

Ah, begitu ya?

Tapi, yang namanya cinta pertama itu juga lucu.

Itu benar-benar permainan kata-kata.

Apa maksudmu?

Maksudku, apa persisnya cinta pertama itu?

Apa itu cinta yang paling pertama dirasakan?

Atau cinta yang paling kuat kau rasakan?

Kalau bukan itu juga,

apa itu cinta yang paling berkesan?

Jadi maksudku,

apa definisi yang tepat dari 'cinta pertama'?

Ya apa lagi?

Cinta pertama.

Yang pertama kali.

Paman.

Apa?

Laki-laki itu...

Apa benar tak bisa melupakan cinta pertamanya?

Entahlah.

Kalau begitu perempuan itu...

Apa bisa meyakini cinta pertamanya?

Bagaimana aku tahu itu?

Ini pertama kalinya buatku juga.

Kyungsoo itu tingginya berapa?

Dia?

Mungkin 170cm?

Mungkin lebih pendek sedikit.

Impiannya adalah menjadi atlet basket.

Dia minum pil kalsium yang dibelikan bibinya di luar negeri.

Setiap hari dia minum 1 liter susu.

Makanannya lauk teri goreng.

Dan juga, harus tidur tepat jam 9.

Dia itu...

Harus berhenti nonton video dulu.

Tapi apa sesungguhnya yang mereka percaya, sehingga bisa sepolos ini?

Kau masih belum menulisnya, kan?

Akan kau tulis?

Aku tak mau menulisnya.

Kalau anak-anak polos itu tahu kalau impianku adalah mati, mereka bisa-bisa shock berat.

Hei, itu membuatku shock juga, tahu.

Apa kau tahu kau sekarang itu aneh sekali?

Biasanya berjalan lurus itu yang paling gampang.

Berjalan pelan dan berkelok-kelok begini yang paling susah.

Kau mau coba naik?

Tidak.

Aku tak bisa.

Mana ada orang yang tak bisa naik sepeda?

Secara umum, orang yang tidak bisa naik sepeda bisa digolongkan jadi 3.

Yang pertama,

yang tidak punya ayah.

Kedua,

yang ayahnya sibuk.

Lalu ketiga...

Yang ayahnya selingkuh.

Aku cukup menyedihkan, kan?

Impianku juga sulit untuk ditulis.

Terimakasih atas kerjasama kalian selama ini.

Sekarang hanya tinggal menulis rolling paper saja.

Kalian sudah bekerja keras.

[Kelas 1-1 No. 17 Song Jinhyun]

[Kelas 1-1 No. 20 Shin Soyi]

Haruskah kita tempelkan daun mapel-nya dengan foto-foto lama?

Posisinya bagaimana?

Kutempel atas-bawah saja, ya?

Kau ngapain?

"Semoga impianmu tak menjadi kenyataan.' -Soyi-

. -Jinhyun

Song Jinhyun!

Titik?

Hanya satu titik?

Apa kau benar-benar tak punya bahkan sepatah katapun untuk dikatakan padaku?

Berikan padaku.

Berikan.

Kalau sudah ditulis nggak bisa diubah lagi.

Omong kosong.

Kalau begitu akan kuberikan 2 titik untukmu.

Sudah saja, ya.

Ah, cepat berikan padaku. Sudah apanya?

Sudahan saja.

Ah, aku tak mau lagi.

Kubereskan, ya...

Cepat berikan...

Paman.

Haruskah aku beli seragam?

Terserah saja.

Jorok.

Aku akan sibuk karena pelatihan.

Mulai sekarang,

kau yang siapkan sarapan anak-anakku, ya.

Terserah saja.

Apa ini? Apa kau cermin?

Kau memang keponakanku.

Selarut ini kau masih bisa makan?

Hei, dasi!

Bagaimana kau bisa lupa dasi tiap hari?

Hei.

Kau.

Ya, kau.

Kemarilah.

Aku?

Ya.

Kemarilah.

Kau sudah sejak kapan pindah kesini?

Kenapa masih pakai ini?

Ah, aku disini hanya sebentar.

Aku sudah dapat izin wali kelas juga.

Tata tertib siswa itu tugasku.

Kau tak ada uang untuk beli seragam?

Pak, dia anak di kelasku...

Situasinya agak---

Hei! Kalau kita membiarkan situasi semua orang, untuk apa ada tata tertib sekolah?

Angkat tanganmu disana.

Pak...

Kau ngapain?

Beraninya kamu melotot pada gurumu?

Ibumu Yeo Minsook, kan?

Aku teman satu SMP-nya.

Sejak awal dia berniat membuangmu kesini

lalu menikah di Amerika.

Kalau kau sudah sebesar ini,

harusnya kau urus dirimu sendiri.

Kenapa kau ingin mengikutinya ke Amerika?

Pak!

- Aku tak mau sekolah lagi. / - Apa?

Sekolah sampah seperti ini terlalu kotor buatku!

Apa?

Sa- sampah?

Anak tak punya sopan santun itu!

Kau mau kemana?

Tak mau berhenti?

Dia belajar dari siapa bisa tak sopan begitu?

Shin Soyi.

Soyi.

Lepas.

Jangan mengikutiku sebelum aku membunuhmu.

Ayo pergi.

Kau tak bersalah, kenapa kau yang lari?

Jangan sok tahu.

Shin Soyi.

Jangan sok tahu. Enyahlah kau.

Kata-katanya benar.

Ibuku membuangku kesini.

Aku selalu bilang akan ke Amerika, dan juga aku bilang tak mau sekolah lagi.

Tapi itu semua bohong.

Aku orang yang seperti itu.

Seperti apa memangnya?

Jangan menghina dirimu sendiri.

Dan juga, jangan kau benci ibumu.

Kau ingin bertingkah sok baik sampai akhir?

Soyi.

Kalau ada seseorang yang tak kuinginkan untuk menghiburku...

Itu kau, orangnya.

Jadi jangan mengikutiku.

Sebelum aku benar-benar membunuhmu.

Soyi.

Shin Soyi.

Aku membelikan sesuatu untukmu.

Ini.

Ukurannya aku kira-kira.

Kau bilang ke ibu kalau aku ingin tinggal disini?

Aku meneleponnya.

Lalu? Apa dia dia senang?

Bukan seperti itu.

Itu juga akan menyakitkan sekali baginya.

Katakan padanya, jangan omong kosong.

Dia membuangku karena aku menjadi penghalang hidupnya, kan?

Aku yang bilang...

Akan merawatmu.

Apa?

Kenapa?

Memang kau siapa?

Kaki ibumu...

Pembuluh darah di betisnya pecah.

Dia menyembunyikannya dan tetap bekerja selama satu dekade.

Mana ada waktu untuk duduk bagi salesperson mall, sepertinya?

Aku...

Hanya berharap ibumu menikmati hidupnya dengan nyaman.

Lalu aku?

Bagaimana dengan hidupku?

Aku tahu, nak.

Aku mengerti perasaanmu.

Ibu mana yang tak mengerti anaknya?

Tunggulah sebentar lagi.

Semuanya akan baik-baik saja.

Apa kau tahu betapa kasihannya ibumu?

Baik... Anak lebih penting dari cucu, kan?

Bukan begitu.

Kau tak tahu betapa ibumu menyayangimu?

Mincheol!

Mincheol!

Mincheol, bangunlah cepat!

Mincheol!

Soyi menghilang.

Soyi tak ada.

- Apa maksudnya itu? / - Cepat-cepat...

- Lapor polisi... Cepat lapor... / - Ngapain polisi...

Cepat! Cepat!

Soyi menghilang...

Ibu... Ibu...

Ibu, polisi!

Lapor polisi, cepat!

Anakku menghilang...

Soyi!

Hei Shin Soyi!

Whitie!

Shin Soyi!

Soyi!

Hei, Shin Soyi!

Kemarilah.

Maafkan aku, whitie...

Aku sangat marah...

Jadi kurasa aku harus ke Amerika.

Kau juga terlahirlah kembali sebagai manu---

Janganlah.

Jangan terlahir kembali. Tak ada bagusnya juga.

Hei, Shin Soyi!

Apa-apaan itu?

Kau memakaikannya yang seharusnya kau pakai?

Ayo pulang dulu.

Para orangtua khawatir.

Kau saja yang pulang.

Aku takkan pulang.

Lalu?

Kau akan kabur dengan kondisi begini?

Ya.

Aku akan ke Amerika.

Aku akan menanyainya. Aku akan membuat kekacauan.

Aku takkan diam saja.

Lalu?

Kau pikir hatimu akan tenang jika begitu?

Kau seperti ini sekarang...

Hanya akan memastikan kalau kau akan dibuang.

Jangan asal bicara!

Kau tak tahu apa-apa.

Kau benar-benar berpikir aku sungguh tak tahu apa-apa?

Ya.

Kau tak mengerti aku.

Lalu kenapa kalau kedua orang tuamu bukan orangtua kandung?

Memang kenapa kalau kau membakar ladang karena sedih mengenai hal itu?

"Kau dan aku sama,

jadi bukan hanya kau yang tak beruntung."

Kau ingin mengatakannya?

Jangan bercanda.

Hanya karena kau tak beruntung sedikit, jangan berpikir kau tahu rasa sakitku.

Itu sombong, kau tahu?

Baiklah.

Kau benar.

Itu benar.

Aku minta maaf.

Kali pertama aku melihatmu,

aku berpikir kalau kau sama denganku.

Selama ini aku selalu berpikir aku orang paling tak beruntung di dunia.

Aku selalu berusaha untuk menyembunyikannya.

Sesuatu yang harusnya tak terlahir...

Aku berpikir itu aku.

Saat aku berumur 7 tahun,

Aku pernah mencari ibuku dengan hanya sebuah alamat.

Pamanku memasukkanku ke kartu keluarganya.

Ibuku telah memiliki keluarga baru.

Waktu itu ibuku mengatakan ini padaku....

"Anggap sajalah ibu sudah tak ada."

Di dalam hatiku, aku telah membunuh ibuku, hari itu.

Dan aku juga telah memutuskan...

Untuk tidak menaruh hati pada siapapun.

Cinta manusia pada manusia lain...

Aku tak percaya hal itu.

Karenanya...

Aku memutuskan untuk jadi pendeta.

Maafkan aku, Jinhyun...

Aku minta maaf.

Impianku saat aku kecil...

Apa kau tahu?

Tidak.

Pelangi.

Pelangi...

Cantik sekali.

Saat itu...

Aku pikir aku benar-benar bisa jadi pelangi.

Kau bisa.

Nak!

Nak! Kau sudah kembali.

Hei, anak nakal! Kau dari mana saja baru kembali?

Whitie...

Whitie...

Nenek... Maafkan aku... Aku salah.

Tidak apa-apa.. Tak apa.

Yang penting kau selamat.

Dimana Whitie-ku?

Mana Whitie?

Apa kau menjualnya?

Lalu apa?

Kau memakannya?

Bukan. Itu..

Dia kabur.

Paman.

Paman, aku minta maaf.

Tak apa.

Hei!

Bagaimana bisa kau pulang sendiri?

Berisik, kau!

Whitie!

Kemana kau pergi?

Whitie!!!

Halo?

Ini aku...

Ya.

Aku tahu.

Kenapa menelepon?

Yah...

Nggak papa.

Aneh...

Apanya?

Hanya saja...

Aku senang.

Itu aneh sekali...

Aku juga...

Yaampun.. Tak apa Whitie...

Kau tahu betapa khawatirnya ayahmu ini, mengira kau hilang?

Jangan khawatir lagi. Tidurlah yang nyenyak...

Shin Soyi, anak nakal itu.

Lihat saja setelah pelatihanku selesai.

Akan kuhabisi, kau.

Kau dengar itu?

Ya.

Terdengar seolah dia ada disampingmu.

Hei! Kau pikir aku tak tahu kalau kau mendengar semuanya dari dalam?

Anak itu sengaja.

Kalau begitu...

Karena sudah larut...

Selamat malam.

Kau juga.

Wooo...

Shin Soyi...

Diamlah...

Sekarang, ada 2 cewek gila di tanah Nonsan.

Kau cari mati?

Dia dan aku sangat berbeda.

Bisa kaget Jinhyun kalau dia melihat ini.

Ada apa ini?

Jinhyun kan tak pernah bolos?

Jangankan bolos...

Telat saja dia tak pernah.

Hei, apa kalian sudah dengar?

Apa?

Keluarga Jinhyun...

Kabur di tengah malam.

Kudengar orang tuanya menerima banyak uang

dari orang-orang untuk diinvestasikan.

Mereka melarikan uangnya dan kabur.

Mereka benar-benar kabur?

Makanya itu...

Sudah kubilang kita tak boleh percaya sembarang orang.

Uangku hilang semua.

Yaampun...

Tuan Putri sudah datang?

Soyi!

Ini Ibu.

Aku harus lihat wajah Soyi dari dekat.

Lihat seragammu...

Kau sudah benar-benar jadi gadis Nonsan.

Lihat wajahmu.

Pipimu sepertinya akan meledak!

Masakan Nenek lebih enak dari masakan Ibu, ya?

Yaampun, anak ini.

Kau bahkan tak menjawabku.

Kau masih marah?

Astaga.

Soyi...

Ibu, dia anak siapa?

Astaga, aku malu.

Sama persis seperti dirimu 10 tahun lalu.

Soyi.

Orang-orang desa bisa salah paham, melihatmu menangis begini.

Setelah melihat ibu, kau langsung menangis terduduk.

Soyi.

Peluk ibu.

Ibu...

Apa?

Apa ibu benar-benar berniat membuangku?

Ibu...

Masih bisa hidup meski tanpa Kimchi...

Tapi tidak jika tanpamu...

Kalau tak ada Kimchi, Ibu kan tak bisa makan.

Ibu minta maaf.

Ibu salah.

Lupakan saja.

Haruskah aku memeluk anak kesayanganku?

Saat itulah aku tahu.

Anak itu telah menghilang dari duniaku selamanya...

Dan aku tak bisa melihatnya lagi.

Di hari itu...

Aku pergi ke Amerika.

Dan sekarang...

Lembaran ke-17 umurku...

Terbuka di depan mataku.

[Jinhyun]

"Semoga impianmu tak terwujud..." -Soyi-

Setelah kau datang, temperamen Sungji tak seburuk dulu.

Kalian memang cewek gila kembar yang sesungguhnya.

Berbahagialah di Amerika...

Kesamaan Shin Soyi dengan selebriti :

Mereka cantik.

Masa depan suram.

Tidak...

Masa depanmu cerah.

Akan kurelakan anak suci itu kepadamu,

Sampai bertemu lagi.

Di dalam sini...

Terdapat sebuah hadiah luar biasa yang tak pernah kubayangkan.

Kalian harus mempertahankan struktur 'subjek-predikat-objek'.

"I eat hamburger."

Subjek : I, Aku.

Hamburger.

Eat : Makan.

Maafkan aku, anak-anak.

Aku minta maaf pada kalian.

Sejujurnya aku memandang redah kalian.

Seperti saat aku berkata bahwa Seojoon tidak pandai pandai meski sudah serajin ini.

Dan kubilang Seyoon selalu salah pengucapan 'kitchen' dan 'chicken'.

Tapi setelah kupikir-pikir.

Aku saaangat bodoh dalam belajar.

Youngwoon sangat menyakiti hatiku...

Tapi ternyata sebenarnya aku dulu lebih parah darimu.

Maafkan aku yang tak bisa berkaca diri.

Aku lulusan universitas tak jelas di Amerika, jadi susah dapat kerja.

Karena itu aku kembali ke Korea.

Ini pekerjaanku untuk mendapat uang.

Tapi meski begitu, aku juga ingin membantu kalian walau hanya sedikit.

Karena itu, tolong...

Tak apa-apa meski nilai kalian hanya naik 1 poin.

Tolong perhatikanlah aku saat di kelas.

Aku ada di kelas, tutuplah...

Makasih.

Sejujurnya impianku...

Adalah lulus dari Harvard,

Harvard, katanya...

dan bertemu pria seperti Brad Pitt,

dan tinggal di Beverly Hills.

Tapi kenyataannya aku guru les akademi swasta di Mirim-dong,

single,

dan tinggal di apartemen sempit.

Meski begitu, anak-anak...

Bermimpilah.

Apa butuh uang untuk punya impian?

Ayo mulai pelajaran..

Itu menakutiku. Kenapa dia tiba-tiba begini?

Hidup itu tak semudah yang kau pikirkan.

Itu berlubang, berliku dan penuh rintangan.

Kalau diriku saat 17 tahun, melihat hidupku yang sekarang...

Dia pasti akan sangat tenang.

Dulunya aku pernah menganggap hidupku saat 17 tahun adalah hidupku yang paling kelam.

Tapi di musim semi itu...

Anak itu menjadi pelangi hidupku.

Kalau aku bisa memutar waktu, akan kukatakan pada diriku yang sekarang.

Bahwa hidupku ini... Tidak terlalu buruk...

Tidak buruk... Sama sekali.

Kau...

Pelangi dalam hidupku.

Aku bukannya...

Tak menyukaimu...

Aku menyukaimu.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.