Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Panas!
- Panas. - Tahan.
Daeng.
- Mama! - Panas!
- Iya, sebentar. - Mama!
- Panas! - Tahan.
- Tahan. - Mama!
- Iya tahan. - Mama!
Tiara.
- Tahan. - Panas.
- Tiara, - Tahan.
Panas.
- Tahan. - Mama.
- Mama… - Panas.
- Tahan, Daeng Sayu. - Mama…
- Tahan. - Panas.
Mama…
Mama, kenapa?
Daeng, tolong istriku.
Sembuhkan istriku, Daeng.
Panas…
Mama lagi diobati. Sabar, ya.
Sudah, jangan nangis.
Ada apa dengan istri aku, Daeng?
Dia sakit apa?
Istrimu terkena kiriman. Doti.
Doti?
Daeng Sayu…
Daeng Sayu.
Daeng Sayu…
Daeng Sayu.
Daeng Sayu.
Daeng Sayu.
Bagaimana?
Sejak kita tidak lagi melakukan ritual persembahan
bagi para leluhur,
kampung ini dilanda penyakit aneh yang berujung kematian.
Menurut Sanro, meninggalnya Daeng Sayu, karena doti.
Ini tidak bisa kita biarkan.
Sebelum ada korban lain,
kita harus segera bertindak.
Masalahnya,
sudah empat orang yang meninggal secara tidak wajar
setelah diobati dengan Daeng Rate.
Tidak salah lagi,
pasti Daeng Rate pelakunya.
Ayo kita ke rumah. Daeng Rate,
kita bunuh dia!
- Bunuh dia! - Bunuh!
Bunuh dia.
- Bunuh! - Bunuh!
Bunuh!
Bunuh Daeng Rate!
- Bunuh! - Bunuh Daeng Rate!
Bunuh Daeng Rate, bunuh!
- Bunuh! - Bunuh!
- Bunuh Daeng Rate! - Bunuh!
- Bunuh! - Bunuh!
- Bunuh! - Bunuh!
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim. Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
- Bunuh! - Bunuh!
Bunuh Daeng Rate.
- Bunuh dukun doti! - Bunuh Daeng Rate!
Bunuh Daeng Rate!
Bunuh Daeng Rate!
Bunuh Daeng Rate!
- Bunuh dukun doti! - Bunuh Daeng Rate!
Daeng Rate! Keluar kamu Daeng Rate.
Keluar kamu Daeng Rate, atau kami bakar rumahmu.
- Bakar! - Bakar!
Bakar!
Ada apa ini Daeng?
Tenang, Sayang. Tenang.
Bawa masuk Ikhsan ke kamar,
biar aku yang hadapi mereka.
Tapi aku khawatir Daeng.
Mereka sangat beringas.
Tenang, ada Allah yang Maha Melindungi.
Bapak. Kenapa mereka membakar rumah kita, Pak?
Ikhsan, dengar Bapak.
Insya Allah semua akan baik-baik saja.
Bakar, ayo bakar dia.
Astaghfirullahaladzim.
Ada apa ini? Ada apa?
Daeng Rate sejak kita tidak lagi melakukan persembahan,
kampung ini dilanda penyakit aneh.
Dan itu semua karena ulahmu, Daeng Rate.
Penyakit yang melanda kampung ini
tidak ada hubungannya dengan ritual persembahan.
Allah ingin mendekatkan kita semua kepada-Nya.
Memohon ampun kepada-Nya.
Tapi sudah tiga warga yang meninggal,
sejak kamu obati.
Malam ini, Daeng Sayu meninggal secara tak wajar.
Menurut Sanro,
meninggalnya penduduk itu semua karena doti.
Itu semua pasti karena ulahmu Daeng Rate.
- Bunuh… - Bunuh!
Tenang.
Aku bukan dukun doti, seperti yang kalian tuduhkan.
Aku hanya mengobati orang, dengan ilmu Allah.
Sementara hidup dan mati manusia, hanya di tangan Allah.
Bohong.
Kampung ini seperti menerima kutukan.
Sejak kedatanganmu di sini.
Betul.
Kamu adalah keturunan dukun doti
yang ingin membunuh kami satu per satu
melalui wabah penyakit ini.
Ayo, tunggu apa lagi bawa dia!
- Bawa dia! - Bawa!
- Bawa dia! - Bawa!
- Bawa! - Hentikan.
Kalian semua sudah memfitnah suamiku
suami aku bukan dukun doti.
Dia hanya ingin
mengajak kalian untuk meninggalkan kemusyrikan
dan kembali ke ajaran tauhid.
Daeng Rannu, masuk kamu.
Kami tidak butuh penjelasanmu
atau mau kami ikut seret juga!
Masuk, Sayang. Masuklah!
Aku pasrahkan semuanya pada Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
- Ayo bawa dia! - Bawa dia!
Bawa dia.
- Ayo! - Bawa!
Bapak… Bapak…
- Bawa! - Ayo!
Ibu kenapa Bapak dibawa?
Apa salah Bapak, Bu?
Bapakmu sudah difitnah, Nak.
Kita doakan Bapak.
Semoga Allah melindunginya.
- Ayo! - Bawa dia!
- Bawa! - Bawa dia!
- Bawa dia! - Bunuh!
- Ayo! - Bawa dia!
- Bawa! - Bawa dia!
- Ikat dia! - Ayo!
Astaghfirullahaladzim.
Ikat dia!
Lepaskan. Lepaskan.
Kita harus bakar dia,
agar semua penyakit
ilmu hitam di kampung ini musnah selamanya.
- Bakar dia! - Bakar!
- Bakar dia! - Bakar!
- Bakar dia! - Bakar!
- Bakar dia! - Bakar dia!
Kalian semua, telah memfitnahku.
Bakar dia.
Semoga Allah,
mengampuni apa yang kalian perbuat padaku.
Bakar dia.
- Bakar dia! - Bakar!
- Bakar dia! - Bakar!
Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar.
Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah
yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Allah Maha Besar.
Ma,
izinkan aku untuk berziarah ke makam Bapak
beberapa hari ini aku sering memimpikan Bapak.
Sepertinya Bapak memintaku, untuk berziarah ke makamnya.
Tidak.
Mama tidak mengizinkanmu ke sana.
Tapi Ma,
mimpi bertemu Bapak terasa nyata,
mimpi di sepertiga malam, Ma.
Menurut Pak Kiai,
Ikhsan harus berziarah ke sana.
Mama,
tidak ingin
terjadi apa-apa dengan kamu.
Cukup.
Mama dan bapakmu.
Yang menerima semua ini.
Doakan Ikhsan
agar selalu dalam lindungan Allah, ya, Ma.
Jangan sampai, ada yang tahu
kalau kamu anak dari Daeng Rate.
Jangan pernah percaya,
satu orang pun.
Kecuali Daeng Tiro.
Iya, Ma.
Kamu dari mana dan mau ke mana?
Sepertinya kamu datang dari jauh.
Permisi, Pak.
Aku dari Kota, mau ke kampung Jonjo'.
Apakah masih jauh?
Jalan saja terus.
Ikuti aliran sungai ini.
Kampungnya ada di ujung sana.
Baik.
Ya, terima kasih, Pak.
Hati-hati, Nak!
Permisi, Pak.
Makam bapakmu
ada di bawah pohon besar,
hanya ada batu
sebagai penanda
yang bertuliskan nama Bapak.
Selama ini,
hanya Daeng Tiro
yang merawat makam bapakmu.
Asalamualaikum, Pak.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Daeng, ini sepertinya penyakit kiriman.
Ada orang yang mengerjai dia.
Siapa yang tega melakukan ini Daeng Rewa?
Kalian keluar,
aku akan mengobatinya.
Terima Kasih.
Keluar kamu dari tubuhnya.
Kasihan anak ini.
Mau keluar atau dipaksa?
Ada apa Daeng Rewa?
Rina menggigit tangan aku.
Astaghfirullahaladzim.
Rina anak baik Daeng.
Siapa yang tega berbuat keji padanya?
Dia terkena doti.
- Astaghfirullahaladzim. - Ya Allah.
Tenanglah.
Kenapa Engkau berikan cobaan ini kepada keluargaku.
Tenang, Ma.
Daeng Rewa
sejak kematian dukun doti dulu,
kampung ini baik-baik saja Daeng Rewa.
Dan sudah tidak ada kejadian-kejadian aneh
di kampung ini Daeng Rewa.
Berarti
ada orang yang sengaja memainkan ilmu doti di kampung ini.
Sabar Daeng.
Aku
akan berusaha menyembuhkan anak kamu.
Dan aku juga akan mencari tahu,
siapa dibalik semua ini.
Terima kasih Daeng Rewa.
Terima kasih.
Terima kasih.
Asalamualaikum.
Asalamualaikum, Daeng.
Alaikum salam.
Apa benar ini rumah Daeng Tiro?
Iya, aku Daeng Tiro.
Aku Ikhsan,
anaknya Daeng Rate.
Masya Allah, Ikhsan.
Kamu meninggalkan kampung ini sejak kecil.
Sekarang sudah dewasa.
Ayo masuk, Nak. Ayo masuk.
Ma…
Mama…
Ini Ikhsan datang.
Ikhsan? Ikhsan?
Anak Daeng Rate.
Ya Allah, Ikhsan.
Tante pangling.
Ya Allah.
Jadi anak muda itu mendatangi makam Daeng Rate?
Betul, Daeng.
Kami melihat dia berdoa di makam dukun doti itu.
Dia juga mendatangi rumah Daeng Tiro.
Sepertinya orang itu, anak Daeng Rate.
Awasi dia terus,
cari tahu siapa dia sebenarnya.
Siap Daeng.
Ini hidangan kampung, Nak.
Semoga kamu suka.
Aku rindu makanan tradisional kampung.
Terima kasih, Tante.
Ini Sari.
Kamu masih ingat?
Pasti ingat, Om.
Sari 'kan teman main kecil aku.
Bersama Tiara.
Sini, duduk sini Nak.
Apa kabar, Sari?
Baik Ikhsan.
Kamu makin gagah.
Terima kasih, Sari.
Iya,
Tiara sekarang di mana?
Dia sedang kuliah di Kota.
Tapi sekarang ada di sini,
sedang berlibur sambil menjenguk bapaknya.
Selagi aku di sini,
bagaimana kalau kita bertemu dengan Tiara?
Begini Nak,
sesuai pesan Mama kamu.
Sebaiknya kamu jangan terlalu bergaul di kampung ini.
Bukan Om mau membatasi,
tapi kampung ini tidak aman buat kamu.
Jika urusan kamu sudah selesai,
sebaiknya, kamu segera pulang.
Aku mengerti, Om.
Tapi boleh 'kan, Om,
sebentar saja, aku ingin menikmati suasana kampung ini.
Mengenang masa kecilku.
Istirahatlah dulu
yang penting kamu sudah ziarah ke makam bapakmu.
Bapakmu itu orang yang saleh.
Hanya saja, dia menjadi korban fitnah yang keji.
Insya Allah. Dia tentu tenang di surga,
dan dia pasti bangga pada anaknya
yang sudah menimba ilmu. Di pesantren.
Tentu ini menjadi bekal yang baik untuknya di akhirat.
Amin… Terima kasih om.
Ibu.
Ingat ini malam Jumat, Bu.
Jangan lupa bakar dupa, ya.
- Baik, Pak. - Baik.
Maaf Tante,
kenapa dupa itu diletakkan di depan rumah?
Tiap malam Jumat, jelang maghrib
kami bakar dupa sebagai tolak bala.
Sebaiknya malam Jumat itu mengaji,
membaca Al-Quran.
Itu yang dianjurkan.
Iya, Nak.
Ini hanya tradisi warga di sini.
Bukan suatu kewajiban.
Om, ini sudah masuk waktu magrib
tapi kenapa aku tidak mendengar suara azan, ya?
Bukannya ada surau yang tidak jauh dari sini?
Itulah sebabnya, aku meminta kamu untuk berhati-hati.
Orang-orang di kampung ini,
tidak ada yang berani keluar ketika maghrib menjelang.
- Astaghfirullah. - Semakin lama,
orang-orang semakin jarang ke surau.
Kenapa bisa seperti itu, Om?
Besok Om ceritakan.
Sekarang ambil wudhu,
kita salat berjamaah, ya?
Iya, Om.
Astaghfirullah.
Rina.
Istighfar, Nak. Istighfar.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Pak, tolong Rina Pak.
- Istighfar, Nak. - Ya Allah.
- Rina. - Pak, Rina Pak.
Rina. Rina.
Panggil Daeng Rewa.
Aku takut terjadi apa-apa
dengan Rina, Pak.
Jaga Rina. Aku panggil Daeng Rewa.
Iya, Pak. Hati-hati, ya.
Rina.
Sesungguhnya orang-orang kafir,
sama saja bagi mereka,
kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan,
mereka tidak akan beriman.
Sejak Rina sakit,
suasana kampung
semakin mencekam.
Ngeri sekali.
Tapi apa betul?
Rina sakit begitu,
karena doti?
Menurut cerita orang-orang begitu.
Berarti,
kalau Rina
sakitnya karena doti.
Tidak mungkin selamat.
Jangan berkata seperti itu.
Umur manusia hanya Allah yang tahu.
Kita berempat ini,
kalau disuruh jaga maling,
ya, kita berani.
Tapi kalau disuruh jaga ilmu hitam.
Aku tidak bisa.
Sudah.
Jangan bahas itu lagi.
Aku bisa kencing berdiri di sini.
Bahas yang lain saja!
Iya, iya.
Tapi ini bagaimana?
Aku sudah hampir menang, malah dihancurkan.
Bukan cuma catur yang berantakan.
Sekarang, perasaanku juga berantakan.
Perasaan lagi.
Dan penglihatan mereka ditutup.
Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Kenapa tiba-tiba panas?
Padahal api unggun juga sudah mati.
- Iya. - Kalian merasa panas tidak?
Ada apa, ya?
Apa karena mau hujan?
Jika dikatakan kepada mereka,
"Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi."
Mereka menjawab,
"Kami hanya pembuat kebaikan."
Maha benarlah Allah yang Maha Agung.
Tolong…
Tolong…
Astaghfirullahaladzim.
Allah, tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Dia.
Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
Tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.
- Hentikan! - Tiada yang dapat memberi syafaat.
- Hentikan! - Astaghfirullahaladzim.
- Rina, ini Mama. - Hentikan.
Rina.
Rina, jangan Rina.
Istighfar Rina.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Rina, sadar, Nak.
Kamu harus mati!
Tolong…
Tolong…
Tolong. Tolong.
Tolong.
Rina ampun Rina.
Ini mama kamu, Rina.
Aku bukan Rina!
Ampun.
Jangan Rina. Jangan Rina.
Daeng Intang.
Daeng Intang.
- Daeng Intang. - Tolong.
Lepaskan, Rina! Itu Mama kamu, Nak.
Dia bukan Rina.
Dia sudah dirasuki iblis.
Daeng Intang. Astaghfirullahaladzim.
Daeng Rewa, tolong Rina.
Keluar kamu dari tubuhnya.
Kasihan anak itu.
Aku tidak akan keluar dari tubuhnya.
Sebelum aku diberikan tumbal.
Biar perempuan ini
menjadi tumbalku.
Mau keluar atau aku paksa?
Rina.
Rina.
Maafkan aku, Nak.
Aku tidak mampu mencegah amarah orang-orang
dan aku tidak bisa menyelamatkan bapakmu.
Sudah, Om.
Semua sudah terjadi.
Peristiwa itu memang, masih membekas hingga kini.
Tapi kami menerima semuanya dengan ikhlas.
Sebagai ujian Allah kepada keluarga kami,
meskipun aku sering dibayangi oleh mimpi buruk.
Ini sudah masuk waktu Zuhur.
Bagaimana kalau kita salat berjamaah di surau?
Sambil kita bersihkan kembali.
Siapa tahu dengan kita bersihkan,
orang-orang akan kembali salat berjamaah di surau.
Tapi, Nak.
Itu sangat berisiko.
- Risiko kita dimusuhi oleh orang-orang? - Iya.
Yang tidak menginginkan masyarakat, salat berjamaah di rumah Allah.
Ini tidak bisa kita biarkan, Om.
Apa pun risikonya, Ikhsan akan hadapi.
Ini jihad melawan kebatilan, Om.
Tiada tuhan selain Allah.
Tiada tuhan selain Allah.
Siapa yang berani azan di surau?
Beraninya dia.
Sepertinya dia bukan orang sini.
Sedang apa di situ?
Ayo ambil wudhu. Kita salat berjamaah.
Ingat pahala salat berjamaah itu,
lebih besar tujuh kali lipat daripada salat sendiri di rumah.
Ayo.
Ya, begitulah keadaannya, Nak.
Tak apa, Om.
Kewajibanku untuk mengajak dan mengingatkan,
sudah kuterapkan.
Perkara mereka mau atau tidak,
itu urusan mereka.
Allah Maha Besar.
Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.
Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar.
Daeng.
Daeng Rewa.
Daeng Rewa. Daeng.
Ada yang bisa dibantu Daeng?
Daeng Rewa ada?
Ada.
Ada apa pak Syahril?
Daeng,
tolong istriku kesurupan.
- Kesurupan? - Iya, Daeng.
Ayo ke sana.
Tiara, jaga rumah.
Iya.
Sadar Siti.
Sadar, Anakku.
- Istighfar Siti. - Panas.
- Panas. - Istighfar Siti.
- Panas. - Sadar.
- Sadar Siti. - Sadar Siti.
- Jangan Kak Siti, Jangan. - Tolong hentikan dia.
Tolong kejar dia. Tolong kejar dia.
Tolong kejar dia.
Tolong, tolong.
Tolong.
- Mundur kalian. - Tolong.
- Tolong. - Kejar dia.
- Ya Allah, Kakak, tolong. - Kamu cepat kejar dia.
Siti… Siti…
Jangan, Siti. Siti.
Siti kembali, Siti! Siti.
Siti, jangan!
Si… Siti…
Siti.
Siti.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Alaikum salam.
Sari.
Kok tahu Bapak ada di sini?
Tadi ada warga yang bilang, kalau Bapak sedang membersihkan surau.
Pak. Bu Siti istri Pak Syahril, baru saja meninggal.
- Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. - Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.
Tadi Pak Amir ke rumah
ingin mengajak Bapak melayat bersama.
Baik kalau begitu, Bapak segera pulang.
Nak Ikhsan, selepas asar langsung pulang.
Salat magrib di rumah saja.
Iya, Om.
Pak,
Sari boleh membantu Ikhsan membersihkan surau?
Iya boleh.
Tapi ingat, selepas asar
ingatkan Ikhsan untuk segera pulang, ya.
Baik, Pak.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Terima kasih, Sari.
Iya.
Kenapa bisa begini?
Daeng Rewa.
Apa sebenarnya yang terjadi pada istriku?
Semua kejadian demi kejadian ini adalah…
Siti.
…kiriman doti.
- Siti… - Kakak…
Sabar, Ibu.
Astaghfirullahaladzim.
Ya Allah, Siti.
Asalamualaikum.
Pak Syahril, sabar.
Pak Kepala Dusun. Ini korban kedua setelah Rina.
Yang terkena kiriman doti di kampung kita ini.
Kenapa teror doti kembali menghantui kampung ini?
Kita harus cari tahu penyebab semua ini,
jangan sampai peristiwa lalu berulang kembali.
Aku dengar ada
pemuda yang datang ke kampung ini dan tinggal di rumah
Daeng Tiro.
Pak Dusun tahu?
Aku juga sudah dengar dari warga,
Nanti aku tanya Daeng Tiro langsung.
Iya.
Terima kasih, Sari.
Makanannya sangat enak.
Kamu atau mama kamu yang masak?
Aku dan Mama.
Bagaimana rasanya kembali ke kampung ini?
Aku sangat senang bisa kembali ke kampung ini.
Seperti mengenang masa kecil kita.
Hore! Dapat.
Aku juga dapat.
Dapat lagi.
Aku juga.
Ikhsan. Ayo kita hitung.
Enam, tujuh, delapan.
Aku dapat enam.
Ikhsan kamu dapat berapa?
Aku cuma dapat empat.
Aku pemenangnya. Aku pemenangnya.
Ikhsan kalah.
Masa-masa itu,
kampung ini begitu damai.
Kita bermain di sungai,
di sawah,
dan mengaji di surau ini.
Semua menjadi hilang sejak peristiwa itu.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Aku kehilangan kamu, setelah kamu
meninggalkan kampung ini secara tiba-tiba.
Ya, semua terasa begitu cepat.
Aku juga tidak pernah membayangkan. Akan meninggalkan kampung ini.
Ya.
Tiara sedang ada di sini, 'kan?
Bagaimana kalau kita menemuinya?
Kita mengenang masa kecil kita dulu.
Iya.
Dia datang padaku.
Raja dari semua yang berucap.
Yang jadi tanpa dijadikan.
Yang berbuat tanpa diperbuat.
Hingga sampai Raja.
Menakuti darahnya.
Astaghfirullahaladzim.
Rina. Istighfar, Rina.
Istighfar, Rina.
Astaghfirullahaladzim.
Pak Dusun,
tujuan kita ke sini
karena ada yang harus dibicarakan, Pak Dusun.
Sepertinya,
ada yang ingin mengusik ketenangan kampung kita, Pak Dusun.
Iya benar, Pak Dusun.
Karena sejak kematian istri Pak Syahrir,
serta sakitnya Rina
katanya akibat doti, Pak Dusun.
Pak Dusun, kita harus bertindak.
Sebelum ada korban lagi.
Aku curiga
dengan kedatangan tamu tak diundang di kampung kita.
Sejak kedatangannya.
Tiba-tiba kejadian demi kejadian,
terjadi di kampung ini.
Maksudmu, tamu siapa?
Orang yang datang, dan tinggal di rumah Daeng Tiro.
Siapa dia?
Kami juga belum tahu pasti.
Sepertinya,
dia anak Daeng Rate.
Yang pulang ke kampung ini
dan ingin membalas dendam, atas kematian bapaknya dulu.
- Daeng Rate dukun doti? - Iya, Daeng.
Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti,
itu fitnah namanya.
Aku akan tanya ke Daeng Tiro.
Karena memang belum ada laporan ke aku.
Kalau ada tamu yang datang di kampung ini.
Istighfar Rina,
Istighfar.
Astaghfirullahaladzim.
Rina.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Rina. Rina.
Rina.
Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Rina.
Rina.
Ada kabar duka, Pak Dusun.
Rina, anak Daeng Lalang meninggal dunia.
Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Rina meninggal?
Kenapa, Pak? Sakit?
Iya, katanya sakit mendadak.
Pak, aku boleh ikut ke pemakaman Rina?
Ikhsan,
Rina itu teman kecil kita juga.
Om, boleh aku ikut ke pemakamannya?
Bukan aku melarang
tapi ini demi kebaikan kamu sendiri.
Baik, Om. Aku paham.
Kalau begitu, aku lanjut membersihkan surau, ya.
Iya, dilanjutkan.
Aku pergi dulu.
Sabar, Daeng Lalang.
Sabar, ya.
Aku senang ketemu kamu lagi, Tiara.
Sudah lama kita tidak bertemu, setelah kamu kuliah di kota.
Iya.
Ingat Ikhsan?
Teman kecil kita dulu.
- Ingatlah dia kan teman main kita dulu. - Iya.
Tapi semenjak dia pindah, kita tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.
Dia ada di sini,
baru dua hari dia di sini.
Datang untuk berziarah ke makam bapaknya.
Iya?
Lalu, dia di mana sekarang?
Jadi, Rina meninggal karena doti?
Iya, begitu kata orang-orang.
Dengarkan aku.
Ilmu hitam,
di manapun ada karena sesuai firman Allah.
Setan itu musuh nyata bagimu sampai hari akhir.
Setan akan selalu menggoda manusia dengan beragam cara.
Oleh karena itu, semakin kita jauh dari Allah,
maka setan semakin senang menggoda manusia.
Meramaikan kembali surau ini dengan salat berjamaah,
adalah salah satu cara kita
untuk menghentikan langkah-langkah setan.
Ajak warga yang lain untuk salat berjamaah di surau.
Kembali mengaji di surau selepas magrib.
Semakin kita mendekatkan diri kepada Allah,
Insya Allah,
tidak ada ilmu hitam yang mampu mengalahkan ilmu Allah.
Ikhsan.
Kamu pasti lupa dengan aku.
Kamu Tiara, 'kan?
Iya.
Tiara?
Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi.
Dan aku tidak pernah bermimpi kita akan bertemu bertiga.
Aku juga senang sekali, bisa ketemu kamu lagi.
Jadi, Ikhsan itu anak Daeng Rate?
Iya.
Dia datang ke sini mau berziarah ke makam bapaknya.
Apa bisa setelah urusannya selesai.
Daeng bujuk dia untuk segera meninggalkan kampung ini.
Sebenarnya, aku sudah sering menyarankan.
Tapi aku tentu tidak bisa memaksanya,
ini 'kan kampung halamannya juga.
Dia itu lulusan pesantren.
Dia datang kemari, berinisiatif untuk membersihkan surau
sekaligus mengajak masyarakat untuk sholat berjamaah,
dan mengaji bersama di surau.
Itu tidak salah,
tidak ada yang salah sebenarnya.
Hanya waktunya saja yang tidak tepat.
Di saat kejadian demi kejadian aneh, terjadi di kampung ini.
Aku tidak mau,
kejadian yang dulu pernah terjadi, terulang lagi.
Aku mohon Daeng,
bujuk dia untuk segera meninggalkan kampung ini.
Ini demi kebaikan kita bersama.
Ya.
Ya? Bujuk, Daeng.
Kampung ini harus kembali seperti dulu.
Anak-anak bisa mengaji ke surau tanpa rasa takut,
atau dibuat takut sama hal yang berbau mistik.
Aku mau bantu kamu Ikhsan.
Terima kasih, Tiara.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Sari.
Kamu tidak ikut mengaji?
Tidak, aku lagi datang bulan.
Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu, ya.
Iya.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Demi masa,
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Permisi, aku Pak Akbar, orang tuanya Aco.
Aku mau menjemput anakku.
Anak Bapak, sedang mengaji di sini.
Permisi. Aku tidak mau anakku, diajar mengaji sama anak dukun doti.
Maaf, bapakku bukan dukun doti.
Kamu tidak tahu apa-apa, ya.
Semenjak kedatangan kamu di kampung ini,
di kampung ini banyak kejadian aneh.
Astaghfirullahaladzim.
Jangan memfitnah aku,
setelah kalian memfitnah bapakku.
Aco, ayo pulang!
Tapi 'kan, Pak. Aco masih mau mengaji.
Bapak bilang pulang.
Mengaji saja di rumah dengan ibu kamu.
Jangan mengaji dengan anak dukun doti.
Ayo pulang!
Tidak apa-apa,
Aku tidak memaksa kalian untuk mengaji di sini.
Tapi dengan kita salat berjamaah bersama,
mengaji bersama,
kita telah memuliakan rumah Allah.
Dan sesungguhnya itulah orang-orang yang beriman.
Bagaimana masih mau mengaji?
- Masih. - Bagus.
Ayo kita mengaji lagi.
Dengan menyebut nama Allah
yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dari mana kamu?
Mengaji di surau, Pak.
Sejak kapan kamu mengaji di surau?
Semenjak surau itu dibersihkan,
lalu diperlakukan layaknya rumah ibadah.
Kamu,
tidak tahu apa-apa tentang kampung ini.
Bapak sekolahkan kamu di kota, agar kamu tidak terbawa pengaruh buruk
orang-orang di sini.
Apa maksud Bapak pengaruh buruk?
Justru Tiara mau Pak, para warga bisa kembali ke surau.
Mengaji bersama, salat berjamaah,
biar terhindar dari pengaruh buruk.
Jangan sok tahu kamu.
Pasti ada yang memengaruhi pikiran kamu.
Sudahlah kamu kembali ke kota,
tidak ada gunanya lagi
kamu berbuat baik untuk warga di kampung ini.
Dengar.
Bapak tidak akan mengizinkan kamu, mengaji di surau itu.
Ya, sebetulnya Bapak tidak melarang kamu mengaji.
Tapi jangan di surau itu!
Apalagi kamu belajar mengaji sama anak dukun doti itu.
Bapak Ikhsan bukan dukun.
Almarhum cuma guru mengaji, Pak.
Lagi pula Ikhsan datang ke sini baik-baik.
Dia membersihkan surau,
mengajar anak-anak mengaji.
Tiara sebagai anak yang juga lahir di kampung ini,
punya kewajiban.
Biar warga bisa kembali memuliakan rumah Allah.
Kalau kamu tidak mau mendengar, Bapak akan memaksa kamu kembali ke kota.
Tiara bukan lagi anak kecil, Pak.
Tiara sudah mahasiswa,
Tiara berhak untuk menentukan sikap menegakkan yang hak.
Maaf Bapak, Tiara masuk kamar.
Tiara.
Ikhsan.
Kampung kita ini, makin meresahkan
setelah kematian Istri Daeng Syahril dan Rina.
Ditambah lagi istri Daeng Lalang,
yang depresi karena kematian. Rina.
Rina kamu makan dulu, ya, Nak.
Ayo makan, Rina.
Kamu tidak mau dengar kata-kata Mama.
Ayo makan.
Ayo makan, Rina.
Mama sayang kamu, Nak.
Begitulah Pak Dusun.
Sejak Rina meninggal,
istriku jadi depresi.
Bahkan,
dia sudah tak mengenaliku lagi, Pak Dusun.
Siapa kamu?
- Ayo, ini makanan kesukaan kamu. - Pergi.
Pergi! Pergi!
Pergi! Pergi!
Pergi kamu. Pergi!
Siapa yang tega melakukan semua ini terhadap keluargaku, Pak Dusun?
Dia akan mendapat balasannya.
Sabar, Daeng.
Serahkan semua kepada Allah.
Siapa yang berbuat jahat,
pasti akan merasakan balasan dari kejahatannya.
Sabar.
Kalau kamu tidak mau makan, Rina,
biar Mama yang makan.
Mama rindu, Nak.
Belum lagi isu yang tersebar,
ada mayat hidup yang memangsa ternak warga.
Pak kambingnya berisik, Pak.
Pak.
Sepertinya ada pencuri di kandang kambing kita, Pak
coba Bapak lihat ke belakang, Pak.
Iya, ya.
Ibu tunggu di sini, ya.
Aku cek di kandang.
Hati-hati, Pak.
Iya, iya.
Se… Se… Setan!
Setan, Bu!
Setan makan kambing.
- Mana mungkin ada setan. - Ada setan makan kambing.
Tidak mungkin, Pak. Masa ada setan makan kambing.
Bapak ada-ada saja.
Benar, Bu.
Ada setan makan kambing di bawah.
Kasihan warga di sini diteror oleh si doti.
Doti memang ada,
hanya saja,
ada yang memanfaatkan situasi.
Untuk kepentingan tertentu.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Allah Maha Besar.
Ikhsan.
Sedang apa kamu?
Ada sesuatu yang ghaib menggangguku, Om.
Ketika aku sedang berzikir.
Ada ular masuk ke kamarku lalu melilitku.
Dan menghilang berbentuk gumpalan asap.
Astaghfirullahaladzim.
Itu kiriman ilmu hitam.
Kamu harus berhati-hati.
Rupanya, ada orang yang mengincarmu.
Kamu harus banyak berdoa dan berzikir.
Ada apa, Ikhsan?
Aco kamu kenapa, Nak?
Aco.
Ya Allah, Aco.
Sejak kapan dia begini?
- Aco. - Sejak pulang dari surau, Daeng.
Dia muntah-muntah,
lalu badannya mendadak panas.
Sudah kubilang, jangan ke surau.
Surau itu dibangun oleh Daeng Rate.
Dia itu dukun doti, yang berkedok guru mengaji.
Iya, Daeng.
Aku sudah melarang anakku untuk pergi ke surau.
Tapi, anak Daeng lah yang mengajak anak-anak untuk mengaji di surau.
Sudah, sudah.
Sadar, Nak.
Astaghfirullah, Aco.
Aco.
- Aco. - Ayo keluar.
Aco.
- Aco. - Sudah.
Dan Allah menutup pendengaran mereka
dan penglihatan mereka.
Tiara.
Tiara.
Buka pintunya!
Tiara.
Maha Benar Allah yang Maha Agung.
Ada apa, Pak?
Tiara sedang mengaji.
Kalau kamu mengaji,
jangan keraskan suara kamu.
Sakit kuping Bapak.
Sudah, mengajinya dalam hati saja.
Astaghfirullahaladzim.
Bukan termasuk bagian dari kami
orang yang nyata, khona terhadap Al-Quran.
Menurut hadis Bukhari Muslim,
artinya itu memperbagus suara
dalam membaca Al-Quran dengan suara yang indah.
Jangan mengajari bapakmu.
Ini pasti karena pengaruh anak dukun itu.
Sehingga kamu berani menentang bapakmu.
Aku tidak menentang Bapak.
Aku hanya ingin menyampaikan kebenaran.
Jangan ceramahi bapakmu!
Sudah.
Bapak tidak mau
kamu ketemu sama anak dukun itu lagi.
Apalagi sampai kamu mengajak anak-anak mengaji di surau itu.
Awas!
Sampai Bapak lihat,
Bapak tidak akan segan-segan mengurung kamu dalam kamar.
Dan Bapak juga tidak akan segan-segan,
menyuruh orang-orang untuk mengusir dia dari kampung ini.
Bapak, Ikhsan bukan dukun doti, Pak.
Justru Bapak sekarang yang jadi dukun.
Bapak belum bisa meninggalkan ritual-ritual lama,
dan itu menyesatkan, Pak.
Itu musyrik.
Jaga omongan kamu.
Tahu apa kamu?
Ritual leluhur
adalah ajaran yang harus dihormati.
Bapak bukan dukun.
Bapak
diberi kelebihan
membantu mengobati orang-orang yang sakit.
Mengobati dengan cara yang salah.
Karena Bapak mempraktekkan ilmu hitam, Pak.
Jaga omongan kamu, Tiara.
Bapak ingatkan kamu…
Bapak ingatkan kamu.
Jangan berani-berani membantah bapakmu.
Tiada.
Tuhan selain Allah.
Terima kasih sudah membersihkan surau ini.
Meskipun tak ada orang yang mau datang salat di sini.
Terima kasih, Pak.
Pertama kali kita bertemu, pas awal aku datang ke sini.
Iya.
- Ya, mari, Pak. - Mari kita salat.
Bapak sebagai imamnya.
Tak apa, kamu saja, Nak.
Biar aku jadi makmumnya.
Ini tidak bisa terus kita dibiarkan, Pak Dusun.
Kedatangan dia, jelas membawa dendam.
Jika dibiarkan
akan semakin banyak korban,
dan desa kita akan semakin mencekam.
Betul, Pak Dusun.
Kita harus bertindak,
usir anak dukun doti itu dari kampung ini.
Betul, betul.
Yang membangun surau itu adalah bapakmu.
Sebelum dibangun,
surau itu adalah tempat pemujaan warga.
Setiap kali merayakan pesta panen.
Warga melakukan ritual di atas batu besar,
itu adalah kepercayaan lama masyarakat di kampung ini.
Tuanku yang terhormat.
Mereka pesta pora,
dan mereka mengelilingi batu besar sambil mabuk-mabukan.
Sampai saatnya kehadiran bapakmu,
memberikan pemahaman
dan ilmu agama.
Hingga kemusyrikan di kampung ini,
berangsur-angsur menghilang.
Mulai saat itu
warga rajin salat berjamaah,
dan mengaji ke surau.
Asalamualaikum warahmatullah.
Asalamualaikum warahmatullah.
Tapi, tidak semua orang menyukainya.
Khususnya mereka yang masih percaya
akan ritual kepada leluhur.
Suatu ketika
muncul wabah penyakit mengerikan di kampung ini.
Yang menimbulkan kematian demi kematian.
Asalamualaikum warahmatullah.
Asalamualaikum warahmatullah.
Pada saat dua jenazah warga yang ingin disalatkan,
tiba-tiba keluar lipan dari sela-sela kain kafan.
Masyarakat percaya bahwa itu adalah pertanda buruk.
Leluhur yang marah,
karena tak ada lagi persembahan yang dilakukan.
Bapakmu dituduh memiliki ilmu doti.
Yang menimbulkan kematian demi kematian.
Karena dianggap sebagai keturunan
dari kampung Ujung Karama',
di mana ilmu doti itu berasal.
Termasuk dengan kamu.
Sebagai keturunan Daeng Rate,
masyarakat masih percaya
bahwa ilmu doti itu masih ada,
dan berlangsung turun-temurun.
Akibatnya,
Bapakmu mendapatkan perlakuan keji,
hingga keluargamu diusir dari kampung ini.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Mama, kenapa Bapak dibawa?
Apa salah Bapak, Ma?
Bapakmu sudah difitnah, Nak.
Kita doakan Bapak,
semoga Allah melindungi-Nya.
Siapa yang menebar fitnah hingga sekarang?
Tolong, jangan main hakim sendiri.
Kita bicarakan dulu baik-baik.
- Mau sampai kapan, Pak? - Dengarkan aku!
Kalau Pak Dusun tidak mau bertindak,
biar kami semua yang bertindak, bagaimana?
- Betul! - Betul!
Bapak-Bapak, tenang dulu.
Tenang dulu.
Kita harus bertindak, Pak Dusun.
Anak itu harus kita usir dari kampung kita.
- Ayo! - Ayo!
- Ayo usir dia! - Ayo!
- Usir dia! - Ayo usir!
- Usir! - Usir!
- Usir! - Usir!
- Anaknya Rate! Usir! - Usir!
- Usir dia! - Usir!
- Usir! - Anak dukun doti!
Hei anak dukun doti.
Segera kamu tinggalkan kampung ini.
Atau kami akan memaksa kamu untuk pergi.
- Pergi! - Pergi!
Ini kampung halamanku.
Aku punya hak untuk tinggal di sini.
Dan perlu aku tegaskan,
Bapak aku bukan dukun.
Apalagi memiliki ilmu doti.
Kalian salah dan telah memfitnah keluargaku.
Bohong!
Kamu itu anak dukun doti.
Sejak kedatangan kamu di kampung ini,
warga kita semakin resah.
- Betul! - Betul itu!
Banyak kejadian aneh di kampung kita.
- Benar? - Betul!
Betul.
Ilmuku ilmu Allah, bukan ilmu hitam.
Maka dari itu, aku mengajak kalian untuk salat berjamaah
di surau.
Untuk apa?
Agar kalian tidak terpengaruh oleh ilmu setan.
Jangan banyak bicara!
Ayo, usir dia!
- Hajar dia. - Hentikan!
Hentikan!
Apa-apaan kalian?
Biadab!
Dia tidak seperti apa yang kalian tuduhkan.
Dia itu anak dukun Doti!
Dia datang ke sini, untuk membalas dendam.
Diam! Bapaknya bukan dukun doti.
Dia datang ke sini hanya untuk berziarah.
Dia membersihkan surau
untuk kembali mengajak warga salat berjamaah.
Dia mengajari anak-anak kalian untuk kembali mengaji di surau.
Seharusnya kalian bersyukur,
ada anak muda yang berani
mengembalikan kampung ini seperti dulu lagi.
Bubar kalian semua.
Jangan mau terhasut sama orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Ikhsan.
Kamu kenapa, San?
Aku tidak apa-apa.
Tapi muka kamu lebam.
Aku tidak apa-apa.
Ada orang yang sengaja kembali membuat isu doti.
Agar warga resah.
Atau memang ada yang menggunakan ilmu doti
untuk balas dendam.
Kamu percaya dengan doti?
Ada yang ingin aku ceritakan.
Jadi ada yang menyerang kamu menggunakan ilmu hitam berwujud ular?
Lalu kepulan asapnya ke kamar Sari?
Iya.
Palingkanlah!
Aku sudah lama merindukanmu.
Kamu teramat sangat kurindukan, sejak lama.
Ya Dende…
Kulitmu dan kulitku.
Nyawamu dan nyawaku.
Tubuhmu dan tubuhku.
Hanya dengan melihat aku,
kamu merasakan ketenangan dan legah.
Apa-apaan kalian?
Pak, jangan Pak.
Kanapa Bapak lakukan ini ke Tiara?
Pak, Tiara cuma mau ke surau.
Mau mengaji sama salat, Pak.
Bapak sudah memperingatkanmu,
tapi kamu masih saja membantah
dan lebih mendengar serta percaya sama anak
dukun doti itu!
- Bawa dia ke ruang bawah! - Tidak mau.
Cepat bawa!
Ayo, Lukman.
Ayo, Jarre.
Turun.
Hei, Bapak akan bikin perhitungan
dengan Ikhsan anak dukun doti itu.
Sadar, Pak. Sadar.
Bapak sudah dirasuki iblis.
Kamu panggil bapakmu iblis?
Bapak senang dipanggil iblis.
Daripada.
bapaknya Ikhsan dia itu dukun berkedok orang saleh.
Tiara,
bapaknya Ikhsan itu
yang membunuh mama kamu dengan doti-doti.
Daeng Rate dan keturunannya, harus menerima
hukuman yang setimpal!
Astaghfirullahaladzim. Bapak.
Mama meninggal karena sakit, bukan karena doti.
Kematian itu milik Allah, Pak. Bukan milik manusia.
Bapak lebih percaya dukun daripada sama Allah?
Bapak memang sudah syirik.
Cukup! Sudah!
Jangan ceramahi bapakmu lagi!
- Ikat dia! - Tidak.
Lepas.
Astaghfirullah.
Kamu harus kuat menghadapi semuanya.
Kamu ditakdirkan untuk menghentikan semua kejadian kutukan ini.
Allah bersama kamu.
Amin.
Aku belum salat magrib.
Silakan, Pak.
Ikhsan. Kamu tidak apa-apa?
Om hanya khawatir, karena kamu belum pulang.
Ini sudah lewat magrib.
Sepertinya kondisi cuaca juga kurang bagus,
sepertinya mau turun hujan.
Aku tidak apa-apa, Om.
Syukurlah.
- Sari mana? - Sari?
Iya.
Sari tidak di sini.
Apa?
Tadi dia pamit mau ke surau.
Ketika mendengar ada orang yang mau mendatangi kamu.
Tidak ada siapa-siapa di sini. Kecuali orang tua yang sedang salat.
Orang tua siapa?
Kamu dari mana dan mau ke mana?
Sepertinya kamu datang dari jauh.
Permisi, Pak.
Aku dari kota.
Mau ke kampung Jonjo'.
Apakah masih jauh?
- Mari. - Ayo.
Ke mana dia?
Dia baru saja masuk ke surau ini.
Mungkin orang tua yang kamu maksud,
adalah Karaeng Sarro?
Tapi dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Astaghfirullahaladzim.
Usir dia!
- Usir! - Usir!
Usir dia!
- Usir! - Usir!
Usir dia.
- Usir! - Anak dukun doti!
Itu dia!
- Anaknya Rate! Usir! - Usir dia!
- Usir! - Usir!
Dia juga sahabat bapakmu.
Dia memang selalu ke surau ini dulu.
Dialah yang mempertahankan surau ini,
ketika warga sudah tidak mau salat di sini.
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.
Beliau itu orang baik.
Mungkin
beliau hanya ingin
memperlihatkan sesuatu yang baik pada kamu.
Om,
sebaiknya sekarang kita cari Sari.
Iya.
Kita lapor ke Pak Dusun.
- Ayo. - Mari.
Istighfar, Daeng Intang. Istighfar.
- Ayo Jarre, tolong dia. - Tolong.
Tolong.
- Ayo cepat keluar. - Tolong istriku.
Semuanya, keluar! Ayo keluar.
Daeng Intang.
Tenang, jangan takut.
Tenang.
Tenang, Daeng Intang.
Pak lepas, Pak.
Daeng Intang.
Sudah, Daeng Lalang.
Kalau dia tidak diikat seperti ini,
suatu saat dia pasti akan mengamuk lagi.
Iya, Daeng Rewa.
Assalamualaikum, Daeng.
Daeng.
Sepertinya Daeng Rewa tidak ada di rumah.
Tunggu dulu.
Kayak ada suara orang.
Iya.
Suaranya dari bawah.
Ayo kita lihat.
Siapa di dalam?
Siapa di dalam?
Tolong.
Astaghfirullahaladzim.
Tiara.
Tiara, siapa yang melakukan ini?
Lalu di mana Daeng Rewa?
Ceritanya panjang.
Sekarang kita harus ke rumah Pak Dusun.
Ada hal yang sangat penting.
Ayo.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Ini dia orangnya.
Sumber malapetaka di kampung kita.
Kebetulan kamu ke sini.
Segera tanggung jawab, atas apa yang terjadi di kampung ini.
- Betul? - Betul!
- Betul! - Tunggu dulu.
Kalian jangan asal menuduh.
Permisi, Pak Dusun.
Anakku Sari meninggalkan rumah
tadi sore, dia pamit mau ke surau.
Tapi setelah aku ke surau, dia tidak ada di sana.
Jadi Sari belum pulang sampai sekarang?
- Iya. - Daeng Tiro.
Siapa suruh anak kamu pergi ke surau.
Surau itu dibangun oleh dukun doti.
Dia sumber petaka sejak kedatangannya.
Sabar.
Dia ingin membalas kematian bapaknya.
Maaf, Pak Dusun.
- Sabar. - Sebelum terlambat,
bagaimana kalau kita tangkap dia, setuju?
- Setuju, tangkap dia. - Sabar. Sabar.
- Sabar. - Tunggu.
Sabar.
Hati kalian semua sudah dirasuki iblis.
Bukan dia penyebabnya.
Aku tahu siapa di belakang semua ini.
Kita harus cepat melaporkan ini pada Daeng Rewa.
Ayo.
Kamu dengar itu?
Seperti ada orang tertawa.
Apa itu?
Jangan-jangan.
Jangan-jangan.
- Setan. - Jangan kamu bicara setan di sini.
Lukman.
Lukman.
Setan. Tolong!
Ampun. Tolong!
Setan. Setan.
Tolong. Tolong.
Tolong. Tolong.
Besok, besok aku akan mengaji ke surau.
Tolong.
Tolong. Tolong.
Tolong.
Tolong.
- Sari. - Sari.
- Sari. - Sari.
Sar…
- Sari. - Sari.
Palingkanlah!
Aku sudah lama merindukanmu.
Kamu teramat sangat kurindukan, sejak lama.
Dupa aku bakar.
Ya Dende…
Kulitmu dan kulitku.
Nyawamu dan nyawaku.
Tubuhmu dan tubuhku.
Hanya dengan melihat aku, kamu merasakan ketenangan dan lega.
Ya, sampaikanlah.
Ya, sampaikanlah.
- Sari. - Sari.
Apa yang kamu lakukan di situ, Nak?
Aku bukan Sari.
Sari.
Istighfar, Nak.
Itu musyrik.
Ayo pulang, Nak.
Pulang.
Jangan ganggu aku.
Ayo pulang, Nak.
Pulanglah!
Sari.
Sadar, Nak.
Aku ini bapakmu.
Jangan ikut campur urusanku.
Sari.
Lepaskan dia.
Kamu yang aku mau.
Kamu harus jadi pendampingku.
Istighfar, Sari.
Kamu telah tersesat.
Jangan tergoda oleh rayuan setan.
Istighfar, Sari.
Sari.
Hati-hati, Ikhsan. Hati-hati.
Itu ilmu "Tujua".
Hati-hati.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Sari.
Sari.
- Sar… - Sari.
- Sari. - Sari.
Sari bangun, Sari.
- Sari. - Sari.
Bangun, Nak.
Maafkan…
Sari. Pak.
Maafkan…
aku, Ikhsan.
Aku mencintaimu
dengan cara yang
salah…
Ikhsan.
Aku ingin kalau besar nanti,
kita selalu bersama seperti ini.
Tidak mungkin Sari.
'Kan kalau kita besar nanti kita akan menikah.
Kita akan punya pasangan masing-masing.
Iya juga, ya.
Kalau nanti pasanganmu
aku saja mau tidak?
Daeng. Aku tahu Daeng tidak suka Tiara dekat dengan Ikhsan.
Aku juga demikian.
Daeng beritahu aku cara agar Ikhsan bisa mencintaiku.
Dengan Ikhsan mencintai aku,
dia pasti akan melupakan Tiara.
Itu hal mudah.
Asal kamu mau mengikuti ritual.
Aku sudah memaafkanmu, Sari.
Kami semua memaafkanmu.
Yang penting kamu sadar atas kesalahan yang telah kamu buat.
Dan mohon ampunlah kepada Allah.
Beristighfar.
Astaghfirullahaladzim.
- Sari. - Sari.
Sari…
Pak Dusun.
Aku melihat Daeng Rewa, tewas tergantung di atas pohon.
Di ujung sana.
- Bapak. - Kita milik Allah
dan kepada-Nya kita kembali.
Bapak.
Daeng Tiro. Bawa Sari pergi dari sini.
Ayo bantu. Yang lain, ikut aku.
- Ayo, ayo. - Bapak.
- Tiara. - Bapak.
Itu dia.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Bapak. Bapak.
Tiara. Ikhlaskan kepergian bapakmu, Tiara.
Tiara, sudah.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Pak Dusun, aku minta maaf, ya, Pak.
Atas apa yang telah bapakku lakukan selama ini.
Tolong sampaikan permintaan maafku kepada warga yang lain, Pak.
Ternyata bapakku yang ada di belakang semua ini.
Kami semua sudah memaafkannya, Tiara.
Semoga ada hikmah yang baik
yang bisa kita ambil dari kejadian ini.
Dan yang paling penting,
kita bisa lebih meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.
Terima kasih, Pak Kepala Dusun.
San…
Aku juga minta maaf kepada keluargamu.
Terlalu banyak fitnah yang keluargaku berikan
kepada keluargamu.
Kami sudah memaafkan Tiara.
Kami menerima semuanya dengan ikhlas, sebagai ujian dari Allah.
Dendam ini harus segera kita akhiri.
Terima kasih, Ikhsan.
Istri Daeng Lalang, sudah sadar kembali.
Keadaannya tiba-tiba saja membaik.
Begitu juga dengan anak Pak Akbar, Aco.
Semoga dengan peristiwa ini,
kampung yang kita cintai ini kembali damai seperti semula.
- Amin. - Amin.
Amin.
Sudah rapi 'kan, simpan Al-Qurannya?
Sudah.
Awas jangan berebutan pakai sendalnya, pelan-pelan.
Ayo.
Tiara.
Mau aku antar pulang?
Tidak usah, sampai bertemu besok, ya, San.
Ya sudah.
Kalau begitu, aku duluan, ya.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Maaf.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.