Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
- Mama! - Kakak!
Hai, Kakak! Sayang!
- Hai, Sayang. - Mas.
- Gimana penerbangannya? - Lancar, alhamdulillah. Aku tidur.
- Tidur? - Tidur.
Wah, alhamdulillah.
Enak banget.
Mas.
Makasih, ya, kamu udah bantu jagain Malik selama aku pergi.
Kok makasih sih, Sayang? Kan aku bapaknya.
Ya, yang namanya ngurus anak itu, 'kan, di mana-mana tugas ibunya.
Ini aku malah jalan-jalan ke luar negeri terus.
Tugas orang tuanya sama-sama.
Lagian kamu juga, 'kan, ke luar negeri buat kerja.
Nggak apa-apa dong.
Baby sitter yang kemarin kamu cerita itu, jadi nggak sih?
Insyaallah, agennya ngabarin bentar lagi.
Oke.
Mama di Bangkok belanja apa aja sih?
Kok bisa lama banget?
Maaf, ya, Sayang, Mama lama.
Mama beliin dress buat kamu. Lihat deh, lucu banget.
- Yang ini, Ma? - Ya.
Kar! Keluar, Kar! Bapak udah pulang.
- Ya! - Di dalam aja kayak orang dipingit.
Apa sih?
Nggak sabar banget orang istirahat.
- Kar. - Bu.
- Dek Malik mana? - Ada, bobo di atas, Bu.
- Oke. - Ya.
- Kang, bisa ya, Kang? - Enteng.
- Oh, ya. Alhamdulillah. - Capek, nggak?
Oke.
- Baik, Bu Surti. Asalamualaikum. - Ya. Udah dibawain sama Mbak Kar, Sayang.
- Kar? - Ya, Bu.
Ini ASI-nya Dek Malik. Tolong masukin freezer, ya.
- Baik, Bu. - Saya ke atas, ke kamar Malik.
Ya.
Mas.
Rere pengen makan ini sekarang.
Boleh, Sayang. Tapi makan yang bener dulu, ya.
Anak Mama lagi bobo.
Oh, Sayang.
Sayang.
Coba cium dulu, cium dulu.
Alhamdulillah, ya, Mas.
Tahun ini kita banyak berkah.
Malik lahir.
Kita pindah rumah ke sini.
Alhamdulillah.
Oh ya, rumah yang di Menteng gimana?
Jadi deal sama calon pembelinya?
Alhamdulillah hampir closed deal.
Nanti kalau udah kejual, uangnya aku transfer ke rekening kita, ya?
Amin.
Mas, berarti kita bisa naik haji tahun depan.
Sesuai impian kita selama ini.
Insyaallah jadi.
Mas.
Kita ke kamar aja yuk.
Aku mau kasih lihat oleh-oleh itu buat kamu.
Oleh-oleh spesial.
Ya udah, ayo.
Mas!
Jangan berisik.
Mas!
Siapa, ya?
Cantik banget.
Ya?
Eh.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Dengan Ibu Alina?
Kamu siapa, ya?
Sebutin nama lengkap sama alamat. Sesuai KTP.
- Keperluannya apa… - Asih, ya?
Ya, Bu.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Ayo masuk, yuk. - Oke.
Bu, tapi dia belum kasih KTP, nanti kalau…
Asih sudah kasih CV ke saya.
Mbak Kar bantuin saya nuang jus ke dalam botol minum buat Bapak, ya.
- Tuh. - Ya.
- Yuk, Asih. Masuk. - Ya, Bu.
Seger banget.
Eh!
Ngawur aja nih!
Ini buat Jumat berkah, kok malah mau diminum.
Mana mukanya ditekuk begitu. Kenapa sih, Kar?
Nggak apa-apa.
Nggak apa-apa kok mukanya ditekuk gitu malah kayak kerajinan tangan.
Apa sih?
Oh, tahu aku. Tahu.
Kamu pasti cemburu sama orang baru itu, 'kan?
Apa? Cemburu apa?
Ya, kamu cemburu sama orang baru itu.
Memang beda kok sama kamu, bentukannya kalau aku lihat…
Bersinar, glowing.
Aku kok lihat-lihat kayak lihat bulan purnama.
- Pokoknya mantap! - Bulan purnama apa?
Bulan purnama itu kalau dari jauh, cantik. Kalau dari dekat, nggak mulus.
Kayak sendirinya cakep aja.
Daripada kamu, dari jauh, udah kelihatan gradakan.
Apa kamu? Kayak kamu cakep aja sendiri. Kesel.
- Aduh! - Kapok!
Badan kayak Candi Singosari gitu kok nyelip-nyelip?
Kayak kamu nggak aja! Nggak usah! Udah bisa aku.
Selamat pagi, Om Riko!
Pagi, Rere!
- Basuki. - Ya, Pak?
Ini motornya brebet gini, dipanasin nggak sih?
- Udah saya panasin, Pak. - Panasinnya gimana?
Udah saya kata-katain. Mau bawa kompor, ribet.
- Boleh saya gendong, Bu? - Oh, ya.
Nih.
Dek Malik sama Mbak Asih, ya.
Halo.
Hai!
Hei, Malik. Malik yang ini…
Dek Malik suka main kancing?
- Ya. - Ya?
Kamu suka mainin kancing?
Nanti kancingnya Mbak Asih copot.
Hati-hati, nanti copot kancingnya Mbak Asih.
Coba kita lihat. Ada nggak di sini?
Nggak ada.
- Sayang. - Good job.
- Ini baby sitter yang diceritain? - Ya, Mas.
- Gimana? Udah ngobrol? - Udah. Ini Pak Reza, suami saya.
- Langsung akrab, loh. - Halo, Pak. Saya Asih.
Aku jalan, ya.
Papa! Ayo cepetan, Pa!
- Rere nanti telat! - Aku ikut.
- Ayo. - Sini, sama Mama.
- Yang? - Ya?
Sarapan gih, udah aku siapin.
- Kang Karyo. - Ya, Pak.
Tolong, Kang. Taruh belakang.
- Papa, ayo! - Ya, ini Papa udah keluar loh ini.
- Pamit dulu sama Mama. - Nanti aku telat.
- Berangkat, ya. Tuh anaknya udah bawel. - Ya.
Berangkat dulu, ya.
Yang… Kayak gitu dong, Yang.
Kalau pergi kerja tuh, bininya dicium gitu, ya.
Aku kayak gitu kok.
Ya, Pak.
Udah, udah.
Itu dirukyah namanya.
Bro!
- Pagi! - Pagi!
Kapan futsal? Udah ditanyain sama anak-anak.
Lo atur aja deh. Striker terbaik komplek ikut.
- Sip! - Jalan dulu, ya!
- Alina! - Hai!
- Dadah dulu sama Mama, sama Adek. - Dah, Mama!
- Dah, Kakak! - Dah! Jalan, ya!
Kakak baca doa dulu, ya.
Asih, kamu tunggu sebentar, ya.
Mbak Kar?
Mbak, tolong tunjukkin Asih ke kamarnya sekalian kenalin sama Kang Karyo.
Ya, Bu.
Hei, Asih.
Rumah ini sama isi-isinya itu urusan saya.
Kamu nggak usah ikut bantu-bantu, nanti kecengklak lagi.
- Ya, Mbak. - Apa?
Saya ini lebih seksi… Eh, lebih mature daripada kamu. Manggilnya "Ibu".
- Ya, Bu. - Nah, gitu.
Nih.
Ini namanya dapur kotor. Pokoknya, masak yang banyak asapnya di sini.
Kalau jemur, di atas, ya.
Di atas itu tempat healing saya.
Jangan sekali-sekali kamu cuci tanpa seijin saya. Denger, nggak?
Ya, Bu, tapi…
- Cuci baju Malik juga di atas? - Nggak usah, saya yang cuci.
Nih. Ini namanya Mas Karyo, dari Purwodadi.
Ini kamarnya dia.
Tapi jangan lama-lama ada di sini karena bau perengus.
- Kok perengus? - Ya, memang perengus kok.
- Baunya sampai ke sini kok, ya. - Setan.
- Pasti Asih, ya? - Ya.
Saya Karyo. Masyarakat biasa memanggil saya Kang Karyo.
Hei!
Nggak usah lama-lama salamannya.
Nempel aja belum loh, Kar.
Bukan muhrim.
Kalau Kang Karyo tugasnya apa?
Saya driver, sekaligus merangkap pekerja serbabisa.
Apa aja saya urusin.
Benerin atap. Berkebun.
Berburu sarang walet.
Banyak juga tugasnya.
- Ya, memang saya… - Kalau di sini, memang harus dobel gitu.
Multitalenta, termasuk kamu.
Tapi kalau dia ngerjain dobel kayak kita, pasti kerjanya nggak becus. Nggak usahlah.
- Udah kamu urusin Malik aja. - Ya.
Ini boks-boks buat apa, ya?
- Nah, ini tuh… - Ini tuh biasa, sedekahnya Bapak dan Ibu.
Setiap Jumat itu Bapak sama Ibu bagi-bagi buat yatim piatu, isinya makanan dan uang.
Masyaallah.
- Bapak sama Ibu baik banget, ya. - Baik banget, memang begitu.
Biasanya saya anter ke panti asuhan di belakang, kalau nggak, masjid.
Nah, kalau ini, kantornya Ibu.
Ini tempat lab jastipnya Ibu.
Karena Ibu lagi di luar negeri, jadi sepi.
Kalau Ibu di sini, rame banget ini.
Ya, kita ke atas, yuk.
- Oh, ya. - Asih.
Ini tasnya belum dibawa.
Saya bawain ke atas, ya?
- Ngapain? - Bawain tas.
Nggak usah. Bertahun-tahun aku di sini, kamu nggak pernah bantuin.
Giliran dia aja…
Nah…
Ini…
kamarnya Ibu sama Bapak.
Terus ini,
kamarnya Kakak Rere.
Nah kalau yang ini, kamarnya… Halo.
Kamarnya Adek Malik.
Dek Malik tidur sendiri?
Biasanya sih tidur sama saya.
Tapi mulai sekarang saya mau biasain biar Malik bisa tidur sendiri.
- Makanya saya butuh kamu. - Siap, Bu.
Jadi, sekarang kita di lantai rooftop.
Di sini kamu bisa jemur baju.
Terus di sini buat cuci bajunya, ya? Ada mesin cuci.
Terus ada kamar mandi. Airnya semua ada di sini.
Terus yang ini kamar Mbak Kar.
Dan sebelahnya, ini kamar kamu.
Masuk deh lihat.
Bu, ini udah siang.
Jadi, saya izin cuci, ya?
Oh, ya.
- Gimana? Nyaman, 'kan? - Ya, luas banget, Bu.
Kalau gitu, kamu istirahat sekarang.
Nanti sore kamu mulai kerja.
- Baik, Bu. Terima kasih banyak. - Sama-sama.
Bu.
Ke sini.
Bu, ini maaf, ya. Bukannya saya sirik, tapi kok saya ngerasa dia ini kayak
air beriak tanda tak dalam.
Ngomong apa sih, Mbak Kar?
Itu loh, Bu. Dia itu ke sini kayak ada maunya.
Ada udang di balik batu kali maksudnya?
Pokoknya mau udang, kepiting, apa… Saya merasa firasat saya itu
- nggak bagus. - Udah, nggak usah mikir yang nggak-nggak.
Ini orang baik. Saya bisa lihat.
- Udah, nggak usah mikir. - Bu, bukan gitu loh, Bu. Saya…
Mari kita bekerja
Selamat pagi, Semuanya. Kembali lagi di…
Pesanannya Ibu Keni kalau nggak salah,
sudah dikirim kemarin, Bu. Ya.
Di-tap aja. Di sini udah ada satu tas dari…
Makasih.
…alias dari Bangkok, Sayang.
- Hari ini sudah sampai harusnya. - Aku mau kalian share ke teman.
Dan pastinya nanti aku mau bagi-bagi ini…
Ya, Bu, terima kasih, ya, sudah mempercayakan jastip kami.
Tap terus sampai 100.
"Aku tanya…" Apa nih?
"Tas yang dipake." Ini?
Ini mah tas dari Mami aku. Ya, 'kan?
- Astagfirullah. - Ya ampun. Bentar.
Aku kaget. Anaknya emang kagetan gini.
- Hati-hati dong, Ka. - Ini hadiah.
Astaghfirullahaladzim! Malik!
Sebentar, Guys, ya.
Asih! Kamu ngapain Malik?
- Astagfirullah, kenapa ini? - Bu, sebentar dulu.
Ini…
Oh, Sayang! Ya Allah!
Ini kancing Ibu?
Ya Allah, iya! Astaghfirullahaladzim!
Malik, maafin Mama, Sayang.
Sayang, maafin Mama. Ya Allah!
Astaghfirullahaladzim! Sayang, maafin Mama.
Oper!
Riko!
Gol!
Yok masuk, satu!
Halo, asalamualaikum.
Pak.
Saya diceritain istri saya soal kejadian tadi siang.
Ya.
Terima kasih, ya, Asih.
Terima kasih sekali, kamu udah selamatin Malik.
Ya, sama-sama, Pak.
Saya juga senang bisa ada di sini bantuin keluarga Bapak.
Aku ini Ibu yang baik bukan sih, Mas?
Kok ngomong gitu?
Tadi saking aku lagi sibuk,
aku sampai nggak engah Malik tuh mainin kancing aku.
Dia…
Dengerin aku.
Malik itu memang lagi umurnya suka eksplor sesuatu, ya.
Jadi, itu bukan salah kamu.
Kamu udah ngelakuin tugas kamu kok. Ya.
Mas, kalau tadi itu nggak ada Asih…
Malik…
- Dia bisa… - Udah, Sayang.
Nggak usah diterusin.
Malik baik-baik aja, 'kan?
Lagi tidur itu di kamar.
Ya?
Udah nggak usah dipikirin dong.
Nggak usah dipikirin. Anaknya baik-baik aja itu. Ya?
Nggak ada Ibu yang sempurna di dunia ini.
Yang ada cuma Ibu yang berusaha sempurna dan selama ini aku lihat itu di kamu.
- Mas… - Kamu udah ngelakuin tugas kamu. Sini.
Sini, Sayang.
Udah, ya?
Nggak usah dipikirin lagi. Udah.
Hei! Stop!
Pajak cukai barang dari Bangkok udah aman, 'kan, ya?
- Stop. Ngapain dikasih madu kayak gitu? - Ya, ini udah hari Jumat. Nanti telat.
Ya, saya disuruh Ibu bikinin jus buat Bapak.
Ya, tapi ngapain kasih madu?
- Ya udah, nanti kamu tolong email, ya? - Buat pengganti gula.
Nggak pernah saya kayak gitu. Nanti kalau lain rasanya, gimana?
Mbak Kar, udah biarin aja. Saya yang suruh Asih bikin.
- Mbak Kar bikinin kopi aja, ya? - Sudah saya buat, Bu.
Oh gitu?
Oke. Saya cek sekarang, ya. Mudah-mudahan berkah rumahnya Pak Alex.
Siap. Terima kasih banyak, Pak Alex. Ya.
Mari.
Sini HP-nya, tutup dulu.
Hore!
Alhamdulillah, transaksinya udah beres semua, Sayang.
Oh, ya?
Pak, ini jusnya.
- Makasih, ya. - Sama-sama.
Ini kok beda rasanya?
Kamu yang bikin?
Ya, Pak, saya yang bikin.
Nggak enak, ya, Pak?
Enak banget malah.
- Cobain, Sayang. - Alhamdulillah.
- Enak, ya? - Kamu pakein apa ini, Asih?
Pakai madu yang ada di situ, Bu. Nggak apa-apa, 'kan?
Pantesan enak banget.
Tapi, 'kan, Bu, itu madunya madu obat. Soalnya ada herbal-herbalnya.
Mbak Kar, justru lebih sehat dari gula pasir.
Sama-sama manis, tapi lebih sehat kalau madu.
Mbak Kar, nanti kalau bikin jus, minta ajarin Asih aja. Enak ini.
- Asih, nanti saya juga diajarin, ya? - Ya, siap, Bu.
Sok tahu.
Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Sekalian,
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah memulai bukunya,
Taman Para Pecinta Dan Persinggahan Para Perindu,
- dengan ungkapan "Segala puji…" - Pak Reza, ditunggu di ruang meeting.
- Oke, makasih. - Sama-sama.
- Pak Bambang. Sori. - Hei, Reza.
Sori, Semuanya.
…sebagai jalan menuju Allah.
Sayang, udah dulu, ya?
Mau mulai.
Asalamualaikum.
Oke.
Mbak Alina ini, masyaallah,
di tengah kesibukan, masih selalu ikut kajian.
Alhamdulillah, Ustaz.
Sayang Mas Reza nggak bisa ikut hari ini karena ada rapat.
Dia titip salam buat Ustaz sama Umi.
- Alaikum salam. - Alaikum salam.
Semoga rejekinya selalu lancar.
Amin.
Alina, untuk kajian bulan depan, apakah kamu bersedia jadi moderator?
Kami ingin sekali membahas kemandirian perempuan dalam Islam.
Kayaknya kamu cocok deh jadi moderator.
Mau, Umi. Saya coba minta izin dulu sama Mas Reza.
Kalau diperbolehkan, pasti saya datang.
- Alina, mudah-mudahan bisa, ya? - Ya, amin.
Oke, mainnya pelan aja. Pelan.
Oke, nice.
Nice pass. Passing lagi.
Itu! Kejar dong!
Kejar! Oke! Out! Wasit!
Bola kita dong. Yes!
Bisa nih. Yuk.
- Yah! - Pak, jus stroberi.
- Makasih, ya. - Sama-sama.
Asih, beneran deh, ini jus kamu enak banget.
Nggak pengen jualan aja?
Makasih, Pak. Tapi saya pilih bantu urus bayi aja.
Ini.
Martabak saya beliin yang coklat, kacang, dan wijen.
Katanya Bapak suka.
Suka.
- Saya ke atas dulu ya, Pak. - Ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Hai, Sayang. - Mas.
Hei.
- Udah mulai bolanya? - Udah.
Baru menit kesebelas tapi.
Mas, kita jadi, 'kan, ngelihat alpaka, waktu keluarga?
Si Kakak udah semangat banget.
Emang jadi, ya?
Bercanda, Sayang. Jadi.
Pasti jadi dong. Masa nggak jadi?
Ambil dong! Press!
Wah!
Pak, tolong dimasukkin ke kamar.
- Taruh di sana. - Hotel ini bagus!
Kamar ini buat saya sama Bapak, ya.
Kamu ikut saya. Saya mau tunjukkin kamar buat kamu sama Kakak.
Coba kamu lihat dalamnya.
- Masuk, Bu? - Ya.
Gede banget, Bu.
Permisi, air panas.
Asih?
- Ya, Bu? - Kamu kok kelihatan nggak sehat, ya?
Kamu baik-baik aja?
Nggak tahu, Bu. Saya kayaknya agak mabok darat.
Dari tadi saya pusing banget.
Kamu di sini aja. Istirahat. Nggak ikut, nggak apa-apa.
Beneran, Bu?
Makasih, ya, Bu.
- Saya minta maaf. - Nggak apa-apa, Asih.
Saya taruh barang-barang dulu.
Kak! Siap-siap, ya, Kak!
Kita mau jalan bentar lagi.
- Mama. - Ayo turun, Kak.
Nanti ada hewan apa aja?
Banyak dong, Sayang. Ada macam-macam.
- Asih nggak jadi ikut, Sayang? - Dia mabok darat katanya.
Eh, bentar.
Handphone aku kayaknya ketinggalan deh. Kamu lihat, nggak?
Kayaknya ada di kamar deh tadi. HP, 'kan?
- Ya. - Ya.
Di kamar?
Ya udah aku ambil dulu, ya?
- Oke. - Sayang sama Mama.
Oke. Sini, Sayang.
- Yuk, Sayang. - Papa ambil HP sebentar. Tunggu di mobil.
- Oke. - Nanti aku susul.
- Temenin Mama. - Yuk, Sayang. Kita ke sana.
Oke, Ma.
Mana sih?
Asih? Lihat HP saya, nggak, Asih?
Barusan cari di kamar nggak ada.
Asih?
Asih?
Asih?
Asih? Lihat HP saya nggak?
Ya Allah.
Asih?
Asih?
Sori.
- Astaghfirullahaladzim! - Sori, Asih.
Tadi pas saya masuk, kamu lagi pingsan.
Saya ke sini mau ambil handphone.
Cari handphone saya. Sori.
Tadi saya manggil-manggil, kamu nggak jawab.
Maaf, Pak. Ini tadi saya lihat tergeletak di meja, jadi masukin tas saya. Maaf.
Ya.
- Oke, saya tinggal, ya? - Ya.
Kamu beneran udah nggak apa-apa, 'kan?
Mau saya ambilin air hangat dulu?
Nggak usah, Pak. Saya nanti ambil sendiri. Terima kasih.
Oke.
Papa.
Tadi kenapa kok Papa ambil HP-nya lama banget?
- Papa. - Ya, Sayang? Kenapa?
Kenapa tadi Papa ambil HP kok lama banget?
Maaf, ya, kalau lama. Bikin nunggu Kakak, ya?
Itu tadi handphone Papa nyelip, jadi Papa harus cari-cari dulu, Sayang.
Emang nyelip di mana?
- Di… - Kakak… Udahlah, Kak.
Yang penting kita udah berangkat.
Kamu mau lihat alpaka. Ya, 'kan?
Ya, Rere mau lihat alpaka dan Rere mau foto-foto sama alpakanya.
Oke.
Mas?
Mas?
Kamu kenapa?
Kenapa?
Kok diam aja?
Lagi nikmatin makanan.
Enak banget.
Aku lagi coba ngerasain kira-kira bumbunya apa gitu.
- Itu enak, nggak? - Enak.
Enak, 'kan?
Pak Reza?
Belom tidur?
Belum, Pak. Saya…
Saya masih pusing.
Mau saya ambilkan air hangat?
Nggak usah.
Mas?
Kamu cantik sekali, Asih.
Mas?
Astaghfirullahaladzim.
Sori.
Besok-besok kalau kerjaan yang kayak gini, ini, 'kan, susah,
biar Karyo aja.
Kamu istirahat gih, udah malam.
Ya?
Pak?
Pagi-pagi ngantuk gini.
Begadang lo ya, ngintipin baby sitter baru?
Ngeres tenan. Muka sama otak sama-sama nggak pernah disapu.
Mau ngintip gimana? Orang pintunya tutup 24 jam kok.
Berarti lo ada niat ngintip. Gue laporin ke Pak Reza.
- Pak Reza! - Hei!
Pergi sana! Nanti mobil bosku bau sumur.
Sana!
Kang Karyo? Kang?
- Ya, Bu? - Ini tasnya Kakak, tolong masukin mobil.
Mbak Asih, semalam, 'kan, dongengnya belum selesai.
Nanti malam kita lanjutin lagi dongengnya, ya.
Mbak Asih ikut Rere aja biar lanjutin ceritanya di mobil.
Kak, Mbak Asih, 'kan, harus jagain adik kamu.
Ayo dong, Mbak. Mbak Asih ikut Rere aja.
Rere udah penasaran banget gimana cerita si Putri Kodok.
Ya udah, nggak apa-apa.
Kamu temenin Kakak aja. Biar saya di rumah sama Malik.
Saya cuma ada meeting di rumah. Seneng banget.
Hore!
- Bener nggak apa-apa, Bu? - Nggak apa-apa.
- Saya ambil tas dulu sebentar. - Ya.
Mas Karyo.
- Apa? - Itu mesin cucinya rusak.
Mboh aku, masa aku menggilas?
- Benerin. - Gimana toh?
Ini aku lagi siap-siap mau anterin Rere. Kok disuruh benerin mesin cuci?
Kamu mesin cuci tiap bulan rusak terus. Kamu buat cuci keris pasti, ya?
Sembarangan! Jangan nuduh aku cuci keris!
Mbak Kar, udah-udah. Ngapain sih pagi-pagi ribut?
Nggak, Bu, maaf. Ini loh Mas Karyo dibilangin rusak juga.
- Ayo benerin. - Ya, nanti abis anter Rere.
Udah, Kang Karyo, aman. Nanti biar saya yang drop Rere sama Asih.
Sekalian cek rumah juga.
- Berangkat, ya, Sayang. - Hati-hati, Mas.
Asih-nya mana?
- Lagi ambil tas. Asih? - Kang, itu dipindahin, ya.
- Ya, Bu. - Ya, Pak.
Asih, nanti pulang naik ojek atau taksi nggak apa-apa, 'kan?
- Nggak apa-apa, Pak. - Jalan ya, Sayang.
- Asalamualaikum, Ma. - Alaikum salam.
- Hati-hati. - Asalamualaikum, Bu.
Mas Karyo.
Mas!
Gila orang ini.
Apa sih, Kar?
Tadi katanya suruh benerin mesin cuci, gimana sih?
Aku tuh kok sreg banget lihat Bapak sama si Asih di mobil.
Kan ada Rere.
Walaupun.
Pas udah mau sampe di garis finis, ternyata ulat bulunya duluan yang sampe.
Dan kita juga udah sampai di sekolah Kakak.
Ceritanya seru, ya.
Seru banget.
Tunggu dulu, ya, nanti Mbak Asih jemput, Sayang. Tuh.
- Ya, Pa. - Oke. Pelan-pelan, Sayang.
Mbak, nanti malam ceritain dongeng yang lain, ya.
Ya dong, tapi sekarang sekolah dulu.
- Oke? - Oke.
Yang semangat, ya, sekolahnya.
Yang pinter, ya.
- Ya, Pa. - Anak Papa pinter.
- Oke? - Oke.
Itu tasnya. Pake dulu, Sayang.
- Dadah, Mbak Asih. Dadah, Papa. - Dah, Sayang.
Saya pesan gojek online dari sini, Pak.
Nggak bareng aja biar sekalian?
Nggak usah.
- Ya udah. Kalau gitu, saya tinggal. - Ya.
- Apa kabar, Pak? - Baik, Pak.
- Lama banget nggak kelihatan. - Ya, kemarin di-rolling, Pak.
- Yo wis. Sehat-sehat, ya. - Hati-hati, Pak.
Mari.
Asih.
- Ya, Pak? - Bareng aja yuk.
- Nggak usah, Pak. Saya nunggu… - Saya anterin aja. Nanti lama.
Ayo.
Oh, ya.
Nanti mampir ke rumah Cinere sebentar, nggak apa-apa, ya?
Ya, nggak apa-apa, Pak.
Mau ikut lihat rumahnya, nggak? Daripada di mobil aja?
Saya paling nggak lama kok. Sebentar doang.
Cuma ambil beberapa foto buat klien.
Abis itu udah.
Nggak ada janji juga sama siapa-siapa, jadi…
Saya turun, ya.
Gimana sih…
Saya bantu, ya, Pak.
Sabar, Pak.
Kuncinya ketinggalan.
Pak Reza?
- Ya. - Ada jadwal visit juga, Pak?
Ada. Saya udah report ke kantor kok hari ini mau lihat-lihat rumah.
Ini sama calon pembelinya, habis keliling. Ya, Bu?
- Ya, betul. - Ngapain di sini?
Bapak pemilik rumah suruh saya ke sini untuk lihat-lihat dan bawa calon pembeli.
Ini orangnya.
Halo, Pak.
Silakan gantian kalau mau lihat-lihat. Keliling. Kita udah kok.
- Ya, Bu? - Ya, betul.
- Oke. - Gantian aja.
- Mari. - Mari, Pak.
Mas… Belum, Mas.
- Belum apa, ya, Pak? - Belum.
Astagfirullah. Makasih, ya, Pak.
- Ini calon pembeli? - Ya. Mari, Bu. Saya antar ke mobil.
- Mari. - Silakan, Pak, kalau mau lihat-lihat.
Mari, Bu.
- Bro! - Masyaallah!
- Motor baru? - Seken.
Ini teman jual murah, langsung aja gue bayarin cash.
Serius seken? Masih kayak baru loh.
- Cakep. - Seger banget, 'kan?
Seger, bagus ini.
Hoki banget lo.
- Cakep, 'kan? - Cakep, ya.
- Naksir gue pertama kali lihat… - Motor siapa nih?
- Motor suami… - Hei, Say…
Sayang, kamu bukannya ke rumah Mama?
Mama lagi reuni. Makanya aku balik lagi. Ini motor siapa?
- Motornya… - Ini motor temennya Reza.
- Ya. - Ya.
Jadi, apa… Temennya…
- BU. - Nah, itu dia.
- Namanya musibah, 'kan, ada aja. - Ya.
Lo belum pernah, 'kan, pakai motor ini?
Aku pikir kayak, "Wah, kalau gue, kayaknya nggak ambil motor deh." Gitu.
- Nggak. - Ya, bagus.
Nggak usah kepikiran beli-beli ginian.
Cicilan rumah aja belum lunas.
Ya.
Itu mobil di mana?
Servis rutin, kayak biasa. Servis rutin.
Baru juga minggu lalu servis rutin.
Ngapain juga diservis lagi sih?
- Tukang servisnya BU. - Ya.
Kadang kita servis emang bukan karena butuh, tapi bantu.
- Betul. Ya. - Ya, 'kan?
"Mas Riko, apa yang bisa diservis?" "Ya udah, mobil deh."
- "Mas, masuk lebih awal dong." - Ya.
- "Ganti aja yang mau diganti." - Benar.
- Sobari, 'kan? - Sobari. Betul.
- Ya. - Baik banget orangnya.
- Baik banget, sumpah. - Sayang, kita pulang aja yuk.
Bro, nitip motornya temen lu, ya?
Ya, pastilah.
- Di sini memang, 'kan? - Ya.
- Ayo, Sayang. - Bantu-bantu, servas-servis…
Nggak usah ada kepikiran begitu, ya.
- Nggak kok. - Alhamdulillah, motor baru.
- Ini cicilan aja masih banyak. - Tenang.
Itu, 'kan, cuma diservis doang.
Riko! Enak banget! Sumpah!
- Udah, nggak usah kepikiran. - Pak, itu kenapa motor parkir di situ?
Kayak di sini nggak ada parkiran.
Itu, 'kan, motornya Reza.
Ambilkan bulan, Bu
Untuk menerangi
Tidurmu yang lelap
Malik.
Di malam…
Hai, Sayang.
- Bisa? - Papa pulang tuh.
Pinter.
Ibu masih di Bandung.
Kak Rere juga masih sekolah.
Saya tahu.
Oke.
Buat tas yang itu, kita ada beberapa warna, Bu.
Saya mau deh.
Semua warna bisa, 'kan?
Kalau semua warna, saya harus belanjanya di toko yang di Dubai.
- Ibu nggak apa-apa nunggu agak lama? - Bisalah diatur.
Bisa, Bu.
Ada mobilnya Bapak di depan. Jadi, Bapak udah pulang, ya, Kar?
Ya, udah pulang.
Tumben jam segini.
Kangen sama Ibu.
Tapi, 'kan, Ibu di Pondok Indah, ya.
Oh, ya.
- Oh, apa kangen sama aku, ya, Kar? - Ngapain kangen sama kamu?
Siapa tahu, 'kan, udah dianggap keluarga.
Mendingan kangen sama laron biar bisa ditepuk-tepuk.
Ngapain gitu-gitu?
Emangnya aku takut?
Apa?
Asih?
Asih?
Asih?
Asih!
- Maaf, Pak. - Kenapa, Mbak?
Nggak, maaf.
Saya pikir ada Asih di dalam.
- Nggak ada. - Ya, nggak ada.
Saya cari ke atas.
- Maaf, ya, Pak. - Ya.
- Mbak Kar. - Ya, Pak?
Itu… Tolong bikinin kopi, ya. Ngantuk.
Ya, Pak.
Maaf, Pak. Bapak biasanya nggak ngopi. Bapak minum jus.
Ada online meeting nanti malam.
Jadi, agak random memang sekarang skedul.
- Tolongin, ya. - Ya, Pak.
Sebentar, ya.
Mau ngopi juga?
Belum boleh, Sayang.
Asih?
Asih?
- Ya? - Dari mana kamu tadi?
- Hah? - Hah-hoh-hah-hoh.
Kamu dari mana tadi?
Abis tidurin Malik, beberes kamar.
"Abis tidurin Malik, beberes kamar." Bohong.
- Kenapa bohong? - "Kenapa bohong?"
Awas, ya. Kalau sampe kamu ada apa-apa sama Bapak, saya bilangin Ibu.
Awas.
Denger, nggak?
Kerjaan numpuk melulu.
Ditambah lagi, ini lagi satu nih si Asih. Makin lama, makin ngelunjak.
Awas aja kalau berani mepet Bapak, aku bejek-bejek mukanya.
Kesel banget.
Mana sok cakep lagi dibilangin.
Emang mukanya cakep apa?
Agak nyeri sedikit, ya?
- Kang Karyo. - Sekarang ini.
- Pak, Bu. - Mbak Kar mana?
Di sana, sedang diperiksa.
Kok bisa gini? Gimana kejadiannya?
Aduh!
Sepertinya ada sabun yang tumpah di tangga, Bu.
Mungkin Mbak Kar nggak ngelihat.
Astaghfirullahaladzim.
Ini tulang engkelnya retak.
Jadi, kalau mau cepat sembuh, sebaiknya dioperasi.
Setelah operasi, penyembuhannya berapa lama, Dok?
- Lain kali hati-hati kalau turun tangga. - Kalau tanpa operasi, delapan bulan.
Semoga operasinya lancar, ya.
Tapi kalau dioperasi, jadinya tiga bulan.
- Kita nggak mungkin nunggu delapan bulan. - Kasihan sih.
Pelan-pelan, Mbak.
- Mbak Kar… - Saya pamit ya, Bu.
Ya, Mbak. Cepat sembuh, ya.
Jaga kesehatan, ya.
Ibu baik-baik, ya, Bu.
Mbak juga, ya.
Kang… Bukain, Kang.
Hati-hati, Mbak.
Kak… Mbak Kar mau pamit, Kak.
Kak Rere, Mbak Kar titip mama, ya.
Dijagain mama, ya.
Istirahat yang benar, ya. Lekas pulih.
- Pak, jaga Ibu. - Ya.
- Kita urus administrasi dulu. - Oke.
- Pak, hati-hati di jalan, ya. - Baik, Pak.
Dah, Mbak. Hati-hati, ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Kalau panas terus setiap hari kayak gini, bisa well done kulitku ini.
Kok kayak Asih, ya.
Asih bukan, ya?
Kalau bentukannya sih, Asih ini.
Punya kembaran paling. Asuh kali, ya?
Kok kayak
mobilnya Pak Reza, ya?
Ya, pelatnya.
Aduh.
Masa aku rabun?
Astagfirullah.
Jangan di sini, dong.
Kenapa sih?
Nanti ada yang ngelihat.
Siapa? Nggak ada orang. Nggak ada siapa-siapa.
Mau ke mana sih?
Ya, udah.
Astaghfirullahaladzim.
Kang Karyo. Ngagetin.
Kamu itu apa nggak kasihan sama Ibu Alina, Sih?
Kasihan kenapa?
Kemarin siang kamu ke mana sama Bapak?
Saya nggak pergi sama Bapak.
Saya ke tempat yayasan saya.
Kang Karyo jangan ngarang deh.
Udah ngaku aja, Asih.
Ini loh aku ada buktinya.
Nggak ada.
Saya mau urus Malik dulu.
Kemarin ada kok.
Aku yang ambil sendiri loh.
Asih! Kamu hapus, ya?
Nggak mungkin dia sekurang ajar itu.
Kapan?
Tadi subuh, Bu.
Di situ, Bu. Yang kanan.
Itu.
Astaghfirullahaladzim.
Tahu dari mana ini perbuatannya Kang Karyo?
Karena baju saya juga diambil, Bu.
Kang Karyo!
Kang!
- Kang! - Ya, Bu?
- Maaf, saya tadi dari depan. Ada apa? - Lihat itu apa.
Di lemarinya Kang Karyo. Ambil.
Di lemari?
Cepat ambil!
Astagfirullah. Itu punya siapa, Bu?
Itu baju tidur Ibu.
Kok ada di lemari saya?
Nggak usah sok nanya, Kang Karyo.
Baju saya juga tadi di situ. Saya udah ambil.
Sumpah demi Allah. Bukan saya yang naruh, Bu.
Saya tahu sekarang.
Pasti ada yang coba singkirin saya, Bu. Dengan cara memfitnah saya.
Astaghfirullahaladzim, Kang Karyo.
Jangan malah melempar tuduhan ke orang lain!
Kamu seharusnya minta maaf. Lihat, Ibu nangis. Astagfirullah.
Demi Allah, saya nggak mungkin ngelakuin itu!
- Terus kenapa ada di situ, Kang? - Nggak tahu! Saya nggak tahu!
Ibu, ya ampun… Ibu yang sabar, ya. Nggak boleh kayak gitu.
- Oh, bener ini pasti… - Hei.
Kamu kenapa, Sayang?
Kenapa, Kang? Asih?
Pak, tadi subuh saya lihat Kang Karyo ambil dalaman Ibu di jemuran.
- Terus saya lapor ke Ibu. - Nggak. Ini fitnah, Pak.
Pas aku lihat di lemarinya, betulan ada, Mas.
Pak, ini fitnah.
Pak.
Ini fitnah, Pak.
Saya nggak mungkin ngelakuin ini, Pak.
Beresin semua barang-barang kamu dan pergi dari rumah ini sekarang.
Tapi, Pak, demi Allah…
Keluar!
Sini, sini.
Mbak Alina, mungkin bisa di-share strategi apa nih
untuk Mbak tetap sustained dan sukses dalam menjalankan bisnis jastip ini.
Cermat dalam melihat pasar.
Itu yang utama.
Tapi ada satu lagi yang paling penting justru.
Rida dari suami.
Karena sebetulnya Islam itu nggak melarang perempuan untuk bekerja
selama tujuannya untuk bantu keluarga, ya.
Alhamdulillah banget, selama ini, suami saya dukung kegiatan saya.
Dan sebaliknya juga, saya selalu mendukung apa pun yang suami saya kerjakan.
Pergi, ya, Mas?
- Titip anak-anak, ya? - Ya.
Hati-hati, ya?
Ya.
Rasanya laki-laki kayak Mas Reza tuh seribu banding satu gitu.
Saya benar-benar beruntung bisa dapetin Mas Reza.
Dia selalu jagain anak-anak kalau saya lagi pergi.
Setiap saya aktivitas keluar rumah, hati saya tuh tenang gitu.
Karena selalu di-support rasanya sama Mas Reza.
Wah, bagus banget!
Bagus! Tania, Ibu suka gaya kamu hari ini. Keren!
Kamu juga ekspresif banget, Rere. Terima kasih banyak, Sayang-sayangnya Ibu.
Terima kasih.
Rere, kok udah pulang, Sayang?
Latihannya bukan selesai jam lima?
Tadi latihannya udah bagus, jadi nggak perlu diulang.
Terus pulangnya sama siapa?
Sama Wuri dan mamanya.
Kenapa nggak bilang Papa aja sih? Kan Papa bisa jemput.
HP Rere low bat, Pa.
Ya udah. Ganti baju dulu, Sayang.
- Ayo. - Yuk.
- Kalau mau tambah nasinya, bilang, ya. - Ya, Pa.
Nggak.
- Ya, Bu. - Kakak juga harus makan banyak sayur.
Insyaallah saya akan pastikan pesanan Ibu sampai tepat waktu, ya.
- Ya. Betul. - Ayam mau?
Nggak apa-apa kok.
Ya, oke.
Baik, asalamualaikum.
- Selamat makan. - Ya.
- Makasih, Pa. - Mas.
Mau nggak mau, aku harus ke Dubai lagi besok.
Kliennya resek, ya?
"Resek" itu apa sih, Pa?
Resek itu…
Apa, ya, Ma? Gimana jelasinnya?
Resek itu ini, Sayang. Ngeselin. Nyebelin. Itu resek.
Berarti Papa resek dong.
Kemarin aja aku pulang latihan, Papa telat jemput aku.
Kamu ada meeting kemarin, Mas?
- Ya, kemarin ada… - Kemaren pas Rere pulang sekolah,
Papa malah masih ada di rumah.
Mana Papa keluar dari kamar Mbak Asih cuma pake bokser.
'Kan malu, Pa, dilihatin sama Mbak Asih cuma pake bokser doang.
Sayang, itu Papa dari kamarnya Mbak Kar cari setrikaan. Bukan kamar Mbak Asih.
Kamu salah lihat itu.
Jelas-jelas Papa keluar dari kamarnya Mbak Asih.
Kan itu… Rere udah gede, Pa.
Jadi, Rere tahu kamarnya Mbak Asih dan kamarnya Mbak Kar.
Kamarnya Mbak Asih di kiri, kamarnya Mbak Kar di kanan.
Ya, Sayang. Anak Papa udah gede, ya.
Papa tadi beli buah segar loh buat Rere.
Nih.
Syaratnya boleh dimakan kalau itu habis dulu.
Ini kesukaan Rere tuh.
Ibu.
Sini, saya aja.
Nggak apa-apa. Saya aja.
Makasih, ya.
Ya.
- Asih. - Ya, Bu?
Emangnya kemarin suami saya habis dari kamar kamu?
Nggak, Bu.
Tadi Kakak Rere bilang dia lihat Mas Reza keluar dari kamar kamu kemarin.
Aduh, saya…
Ngapain Mas Reza ke kamar saya, Bu?
Kamu bilang apa?
Mas Reza?
Astaghfirullahaladzim.
Maaf, Bu. Saya…
Maksud saya, Pak Reza.
Tadi gara-gara Ibu ngomong "Mas Reza", saya jadi keikutan. Maaf, Bu.
Saya permisi dulu, buang sampah.
Ya.
Astagfirullah!
Kalem banget nih dari tadi.
Mi?
Mi?
Ada apa?
Nggak, nggak apa-apa.
Anggi?
Kalau menurut lo, Asih orangnya gimana?
Asih? Ya, nggak gimana-gimana sih.
Kayaknya anaknya gercep gitu, ya.
Cuma…
Cuma?
Kalau gue jadi dia sih ya, gue jadi model. Kan cocok.
Badan bagus, duit udah pasti banyak.
Ya, 'kan?
Kenapa sih, Mi, tiba-tiba ngomongin Asih?
Nggak, pengen tanya aja.
Nanti gue jemput jam 8, ya, Mi.
Bisa di-reschedule nggak, ya, Anggi?
Ya, nggak bisalah, Mi. Kan udah beli tiketnya mahal banget ini.
Kalau di-reschedule, tambah mahal lagi. Ini, 'kan, lagi high season.
- Oh, ya. Aduh. - Lagian itu klien udah marah-marah, 'kan?
Dia udah nggak sabar pakai tas itu tuh di acara launching klinik kecantikan dia.
Udah nggak ada waktu kita, Mi.
Kenapa sih, Mi?
Feeling gua lagi nggak enak aja.
Tapi udahlah, mungkin perasaan gue aja. Nggak usah dipikirin.
Mi, ceritalah.
Sama gue ini gitu. Kayak sama siapa aja.
Nggak, Anggi. Nggak usah.
Beneran nggak apa-apa kok.
- Mi… - Plis.
Plis, Anggi. Nggak usah dibahas, ya.
Indro, paketan yang biasanya, ya.
Biasanya nggak pernah beli kok.
Biasanya, 'kan, aku numpang Wi-Fi Pak Yatno.
Terus sekarang kenapa?
Password-nya diganti.
Nih kalau nggak percaya.
"Mukamu kayak sikut."
Maksudmu apa?
Ini apa ini?
Mukaku kayak sikut?
Lah tadi kamu tanya. Itu password Wi-Fi-nya.
Wong edan!
Jadi, beli paket, nggak?
Jadi.
28 giga.
Nih, 22.000, 'kan?
Kok 22?
Kamu nggak lihat nih harga paket terbaru?
Kok naik terus setiap hari?
Dua puluh tiga nih.
- Harga kok mahal banget. - Ya, pas.
Indro?
Kamu bisa kembaliin data yang udah dihapus?
Gampang.
Mengembalikan kejayaan Majapahit aja aku bisa kok.
Lihat aja alat-alat canggihku.
Ya, Andre? Mantep, ya?
Ini yang dinamakan "raker" ini.
Hacker.
"Raker"?
Eh, tapi kamu serius bisa ngembaliin data yang udah dihapus?
- Gampang. - Oh, berarti aku minta tolong, ya, ini.
Foto-foto yang udah dihapus di HP-ku, dikembaliin semua bisa?
- Bisa. - Secepatnya, ya.
Berani bayar berapa?
Pokoknya…
Aku kasih semua nih.
Kalau masih kurang, kamu boleh pake aku.
Sayang.
Kamu yakin nggak mau dianter?
Nggak apa-apa, aku sama Anggi aja.
Lagian aku juga perlu brief dia soal pajak, Mas.
- Oke. - Oke.
Titip, ya.
Pasti, Bu.
- Ayo. - Yuk.
- Aku berangkat, ya, Mas. - Hati-hati, ya, Sayang.
- Ya. - Kabarin kalau udah mau take off, ya?
- Ya. Dah, Sayang. - Paspor, tiket, gate empat. Oke.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Ini dia.
- Dadah, Mama! - Duluan, ya.
- Hati-hati. Pelan-pelan aja, Anggi. - Ya. Oke.
Na, ke mana lo malam-malam gini?
Biasa mau berangkat jastip dulu ke Dubai.
Ih, cucok.
Na, titip cokelat Dubai dong, Na.
Insyaallah.
Kalau sempat aja. Tapi sempat-sempatin, ya, na.
- Dah. Dadah dong. - Dah!
Dadah!
- Udah ngantuk belum? - Ya.
Sayang…
Si Alina, Yang…
- Kenapa? - Pergi ke Dubai.
Terus si Reza cuma berduaan sama baby sitter-nya.
Ya, sama-sama anaknya, 'kan?
Kalau anak-anaknya tidur gimana?
Reza sama baby sitter-nya.
Oke.
Kok nggak peka banget sih, Yang?
Kang Karyo?
Kang Karyo?
- Asalamualaikum, Kang. - Alaikum salam, Bu.
Ya, ada apa, Kang?
Gini, Bu.
Saya minta maaf.
Oh, yang soal kemaren…
Kang, nggak apa-apa. Saya udah maafin kok, Kang.
Bukan soal itu, Bu.
Tapi soal yang lain.
Pokoknya bismillah, kirim aja.
Maksudnya soal apa, Kang?
Gini, Bu.
Saya akan kirim sesuatu.
Nanti Ibu buka.
Sebentar, ya, Bu.
Sudah saya kirim. Silakan dibuka, Bu. Terima kasih.
- Asalamualaikum. - Ya, alaikum salam.
- Mami, ada apa sih? - Ya Allah!
Astaghfirullahaladzim!
Putar balik.
- Putar kenapa? - Putar balik, Anggi!
Apa ini?
Kita makan yuk, Mas.
Kamu cantik banget sih.
Kalau mau langsung ke dessert-nya aja, boleh nggak?
Mas…
Kenapa?
'Kan nggak ada siapa-siapa.
Kita harus buru-buru?
Justru karena nggak ada siapa-siapa dong…
Asih.
Kamu sayang nggak sih, Mas, sama aku?
Kamu bahagia sama aku?
Banget.
Kamu udah bikin hidup aku lengkap, Asih.
Aku siap ninggalin semuanya demi kamu.
Astaghfirullahaladzim!
Astagfirullah…
Astagfirullah…
Pengkhianat.
Kalian…
Pengkhianat!
Minggir!
Udah berapa lama semua ini?
Udah berapa kali?
Kalian zina udah berapa kali?
Berapa kali, Mas?
Dan ini kamarku, Mas.
Otak kamu di mana? Dia ini baby sitter! Jawab!
Mas, kok kamu diam aja sih?
- Kamu bejat! - Alina, tenang.
Saya dan Mas Reza itu saling mencintai.
Kamu keluar dari sini, keluar!
Hei! Berhenti!
Dengar!
Kamu yang keluar dari rumah ini.
- Keluar! - Mas!
- Keluar! - Mas!
Keluar!
- Mas! Tunggu! Mas! - Keluar!
Nggak!
- Nggak mau! Sakit! - Lepas!
- Mas! - Keluar!
- Astaghfirullahaladzim! - Keluar!
- Sakit! - Keluar!
- Nggak! - Mami! Mas Reza!
- Diam lo! Diam! - Stop!
Nggak! Sakit!
- Mami! - Lepas!
Mas Reza! Stop!
- Lepas! - Mas, lepasin!
Kamu apa-apaan sih?
Kamu kenapa?
Kamu kenapa? Aku ini istri kamu!
Alina.
Jangan membantah sama suami kamu.
Dasar pelacur!
Lo tuh cuma pembantu!
Minggir.
Pergi nggak lo!
Minggat!
- Sini kamu! - Keluar!
- Keluar nggak lo! - Dasar pezina!
Mbak Asih!
Kakak…
Papa…
Mama jahat!
- Kakak… - Hei!
- Ngapain lagi? - Mas.
Keluar! Lihat nggak kamu? Lihat!
Nggak ada yang mau kamu di rumah ini lagi!
- Mas, ini rumah aku. - Keluar!
- Kakak, masuk kamar, Kak. - Ya!
Nggak mau! Lepasin aku!
Yang! Sini, Yang!
Keluar!
- Ini rumah aku. - Kamu keluar.
Lepas!
Pergi kamu!
Mami! Astaghfirullahaladzim.
- Nggak! - Lepas! Pergi!
- Eva! Tunggu! - Kamu gila apa, ya?
- Lihat tuh. - Tunggu, sabar.
Mi…
Mi…
Mi, ayo.
Mi…
Buka!
Ini rumah aku!
- Mi… - Ini rumah aku!
Sabar.
Itu, 'kan, rumah tangga mereka, bukan kita.
- Alina loh, Yang, kasian, dia kayak gitu. - Ya.
Ini rumah aku!
Ini rumah aku!
Mi… Tenang, Mi.
Mi, udah. Sabar.
Mas…
Ayo.
- Mi, ayo. - Astaghfirullahaladzim.
Astagfirullah…
- Sayang. Eva! - Lepas!
Lin!
Alina.
- Kenapa begini? - Ayo masuk mobil.
- Eva. - Ke rumah aku aja yuk.
Nitip anak-anak.
- Titip. Tolong. - Biar ke tempat aku aja.
Tolong titip anak-anak.
Tenang, Alina.
Kalau butuh apa-apa, tinggal kontak gue. Oke?
Eva, ayo, Sayang.
- Nggak apa-apa. - Tolong, ya, Nggi.
- Tolong banget. - Biar gue yang tenangin.
- Anggi. - Gua bakal kabarin lo.
Minum ini dulu.
Gue masih nggak nyangka…
sama semuanya.
Selama ini gua bikin salah apa sama Mas Reza?
Mi… Mami tuh nggak salah.
Ini semua jelas salah si pelakor itu. Mami tahu, nggak?
Jaman sekarang profesi pelakor itu
nggak cuma sekretaris pribadi yang semaut itu seksinya, Mi.
Jaman sekarang, adik ipar sendiri pun bisa jadi maut.
Itu, Mi. Kak Rere.
- Kakak. - Oke, siap. Nanti kita datang kok.
Kakak.
- Rere, kita pulang duluan, ya. - Ya.
- Dadah. - Dah.
Sayang.
Sayang, ayo kita sekarang pulang, ya. Memang Mama yang jemput. Ya?
Rere?
- Kakak, ayo, Sayang. - Bunda!
Bunda?
Baru semalam saya pergi dan kamu udah berani nyebut diri kamu "bunda"?
Kamu udah cuci otak anak-anak saya, ya?
Cuci otak?
Kamu nggak sadar,
selama ini saya yang ngurusin anak-anaknya Mas Reza.
Dasar, lo emang pela…
Anggi.
Kakak, ayo pulang sama Mama, Kak.
Ayo, Kak.
Kak, plis pulang sama Mama, Kak.
- Nggak mau. - Kenapa nggak mau sama Mama, Kak?
Karena maunya sama Bunda!
- Kak, ayo dong. Plis. Pulang sama Mama. - Nggak mau!
Kak, ayo pulang sama Mama.
Alina, anak kamu nggak mau sama kamu.
Jangan dipaksa, ya?
Saya ini ibunya!
Ayo, Kak. Kita pulang.
Dasar pembantu nggak tahu diri!
Bunda!
- Lepas! Ngapain lo? - Dasar!
Kalau berani sama laki-laki, jangan perempuan. Banci lu!
Nggak apa-apa, Sayang?
Kita pulang, ayo.
Mi, nggak apa-apa?
Ayo pulang, yuk.
Ayo.
Ibu?
Laa haula wala quwwata illa billah.
Yang kuat, ya.
Laa haula wala quwwata illa billah.
Aku bikin salah apa sih, Bu?
Aku udah buat dosa apa sama Allah?
Kok aku dikasih cobaan seberat ini.
Bu Alina nggak salah.
Kang Karyo?
Ya Allah.
Kang.
Kang, saya minta maaf sama Kang Karyo.
- Ternyata Kang Karyo nggak salah… - Sudah, Bu.
Nggak apa-apa. Saya sudah ikhlas.
Yang penting apa yang harus kita lakukan sekarang?
Asih memang jahat.
Bu.
Saya sudah punya firasat tidak baik sejak lama.
Mbak Kar?
Ini kaki saya buktinya.
Sambil duduk aja, Mbak.
Situ, Mbak. Duduk.
Pelan-pelan, Mbak.
Bu.
Saya yakin
Asih itu melakukan kekuatan di luar dari kemampuan manusia.
Apa Ibu nggak aneh?
Bapak itu, 'kan, orangnya rajin sholat.
Jadi, saya yakin…
Yo.
Kamu aja.
Asih tuh pakai guna-guna, Bu.
Ini udah ada nih lowongannya, tapi buat yang berhijab.
Saya tunggu CV terbaru kamu. Soalnya majikannya butuh yang berhijab.
Astaghfirullahaladzim, Malik!
Asih, kamu ngapain Malik?
- Astagfirullah! Kenapa ini? - Ibu, sebentar dulu.
Ini…
- Makasih. - Sama-sama.
Ini kok beda rasanya?
Nggak enak, ya, Pak?
Enak banget malah.
Minumlah.
Itu air pengasihan yang akan membuat kamu nampak lebih mempesona.
Siapa pun yang melihat kamu nanti, akan makin-makin terpikat.
Asih, lihat HP saya, nggak? Asih?
Barusan cari di kamar nggak ada.
Asih?
- Tuh tasnya. - Ini, Kak.
Tapi, Pak, demi Allah, saya…
Keluar!
Izinkan saya masuk ke rumah Ibu.
Saya yakin, Asih masih menyimpan sesuatu di sana. Untuk berbuat jahat.
Saya akan mengambilnya, Bu.
Ya, Bu.
Tapi dihabisin dulu yang hari ini, ya.
Ya.
- Janji? - Janji.
- Sayang Kakak. - Sayang Bunda juga.
- Dadah, Bunda. - Dah!
Dadah, Sayangku.
Aman.
Oh, ini.
Mau mandi?
Sebentar, Malik.
Aduh.
Di sini.
Karyo.
- Apa? Turun? - Kucing?
Kucing jatuh? Di bawah ada kucing? Apa maksudnya?
- Mati? Kucing mati? - Ngomong apa sih?
- Ular. - Ular.
Apa, ya?
Tangga? Ular tangga?
- Ular tangga? - Ular tangga.
- Tangga! - Tangga!
Ambil tangga.
- Dia kejebak. - Tangga.
Aduh, nggak tega gue.
Tuhan, Allah Bapak di Surga, lindungilah dia.
Aman, cepetan.
Ini rajah,
alias mantra yang ditulis pakai aksara Jawa.
Karyo, itu beneran kamu temuin di kamarnya Dek Malik dan Kak Rere?
Benar, Bu.
Sihir itu sudah ada sejak zaman Nabi Musa,
sejak zaman Nabi Sulaiman.
Bahkan Rasulullah sendiri pernah terkena sihir
oleh seorang laki-laki Yahudi yang bernama Labid bin Al-A'sham.
Dia menyihir Rasulullah dengan memanfaatkan
rambut dan sisir Rasulullah.
Tapi Allah Maha Penyayang.
Lewat mimpinya, Malaikat Jibril
memberitahukan di mana tempat benda itu berada
untuk bisa dimusnahkan.
Lalu Rasul mengutus menantunya, Ali bin Abi Thalib,
untuk mengambil rambut dan sisir itu, untuk dimusnahkan.
Kita harus bacakan Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas
untuk menghilangkan sihirnya.
Tapi itu nanti juga sangat tergantung seberapa kuat sihirnya.
Lalu harus bagaimana, Ustaz?
Alangkah baiknya kalau Mas Reza dan anak-anak bisa dibawa kemari.
Suami saya bisa, Pak Ustaz. Dia amanah.
Sayang.
Kenapa aku?
Mas,
bisa dibantu?
Bisa, Pak Ustaz! Bisa.
Rere.
Kamu kenapa, Nak?
Rere kangen Mama. Pengen ketemu Mama.
Kenapa tiba-tiba kangen Mama?
Aku pengen banget ketemu Mama.
Rere nggak betah di sini.
Bangun serangan!
Ayo! Pelan-pelan.
Ayo, Ko!
Ayo!
Offside!
Ayo!
- Bagus, Ko! - Ayo!
- Ko. - Ya?
- Nyetir, ya. - Oke.
Asalamualaikum.
Apa kabar, Mas Reza?
Baik.
Gawat.
- Saya bantu, Ustaz. - Ya.
Sini, Nak. Bangun.
Bangun.
Kamu dengerin Bunda, ya.
Mama kamu itu udah ninggalin kamu.
Rere sekarang tinggal sama Papa dan Bunda, ya.
Mbak Asih bohong!
Rere mau pergi dari sini!
Rere nggak betah! Pergi!
Nggak usah.
Diam di sini!
Mbak Asih, bukain.
Bu! Bapak gerak, Bu.
Bapak gerak.
Kenapa, Al?
Al.
Sebaiknya kamu lihat dan temani suamimu.
Dia butuh kamu sekarang.
Hati aku masih sakit, Bu.
Reza begitu bukan karena keinginannya.
Juga bukan sepenuhnya salah dia, Al.
Dan tentunya juga bukan salah kamu.
Selama ini, aku itu udah sombong, Bu.
Aku selalu yakin nggak akan ada
yang bisa ganggu rumah tangga aku dan Reza.
Ganggu rasa sayang aku ke Mas Reza.
Tapi ternyata aku salah.
Al…
Pernikahan itu ibarat perahu di tengah lautan.
Kamu nggak akan pernah tahu kapan badai akan menghantam.
Kamu boleh marah.
Boleh kecewa.
Boleh menangis.
Tapi keutuhan rumah tangga kamu layak untuk kamu perjuangkan, Al.
Kalau kamu diam saja,
membiarkan perahu itu dihantam badai,
bukan cuma kamu yang akan tenggelam.
Tapi seluruh keluargamu akan tenggelam bersama perahumu.
Ini saatnya kamu memperjuangkan.
Kamu harus hadapi badai itu, Al.
Aku nggak tahu, Bu. Aku nggak tahu.
Apaan tuh, Yang?
Kak Rere.
Mama!
Kakak kenapa?
Mbak Asih jahat.
Astaghfirullahaladzim. Kamu sekarang tenang dulu.
Mama akan ke sana sekarang juga, jemput kamu sama Dek Malik.
Kamu tenang, ya, Kak.
- Aku harus jalan. Dibutuhin sama Kakak. - Ya, kamu hati-hati.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Ustaz Ridho?
Lo kena sihir, Bro.
Bapak dipelet sama si Asih, Pak.
Ya, Pak.
Ayo, Pak.
Alina mana, ya?
Alina keluar, jemput anak-anak.
Ya, Pak.
Anak-anak saya itu, 'kan, sama Asih.
- Asih? - Reza, tunggu sebentar.
- Kenapa? - Sebentar.
- Asih? - Sadar, Pak.
Asih mana, saya tanya?
Asih mana?
Asih!
- Reza! - Minggir!
Ngapain rame-rame gini? Goblok! Bangsat! Anjing! Lepas!
- Bapak… - Sayang! Jangan di situ, Yang!
Dukunnya kenceng banget itu.
Sepertinya masih ada benda lain di sana.
Astaghfirullahaladzim, Pak Ustaz.
Kemungkinan sihir yang paling kuat.
Astaghfirullahaladzim.
Tolong kasih tahu Mbak Alina, ambil barangnya.
Ya, Pak Ustaz.
- Kakak! - Mama!
Sayang!
Gimana?
Alina udah bisa ditelepon?
Kamu telepon Basuki. Dia, 'kan, di rumah.
Oh, ya.
Kata Mbak Asih Mama bakal tinggalin Kakak sama Dek Malik.
Nggak akan, Sayang.
Mama itu sangat sayang sama kamu, sama Dek Malik.
Mama nggak akan pernah ninggalin kalian.
Kamu harus percaya sama Mama. Kita keluar dari sini.
Astagfirullah.
Ya Allah, HP Mama.
Halo, Sayang.
Ya, maaf, baru bisa telepon lagi.
Biasa, habis meeting sama klien.
Eh, omong-omong, kamu nggak kangen gitu silaturahmi di hotel?
"Sedang sibuk." Pasti dia pacaran lagi nih sama pembantu di Blok B itu.
Kamu masih marah sama aku gara-gara diajak ke hotel melati?
Tenang aja, Sayang. Itu cuma gladi resik.
Soalnya takutnya kamu kalau aku ajak ke rumah bapakku yang besar itu, nyasar.
Ya, janji. Nggak jemput kamu pakai taksi online…
Bude telepon, Ma.
Lin, di rumahmu masih ada rajah yang paling kuat.
Kata Ustaz Ridho, kalau rajah itu tidak ditemukan,
sihir Reza dan anak-anakmu akan sulit untuk disembuhkan.
Kamu harus segera cari, ya, Lin.
Ambil rajah itu.
Lalu tolong kamu musnahkan dengan cara dibakar.
Ya?
Mama!
Ayo, Kak. Cepetan! Kita keluar dari sini.
Malik Mama yang gendong. Ayo cepetan!
Cepet!
Oke.
Mama ngapain?
Tunggu.
Nggak ada.
Mama ngapain?
Sebentar, Sayang.
Kenapa di sini sih?
Ma, mau ke mana?
Mama?
Kak.
Kamu tenang. Oke?
Jangan lupa doa. Kamu di sini jagain adek.
Jangan bersuara. Plis, ya.
Ma.
- Hati-hati, Ma. - Iya.
Ambil rajah itu. Kamu musnahkan dengan cara dibakar.
Kita harus bacakan Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas
untuk menghilangkan sihirnya.
Alina!
Alina!
Alina!
Ayo!
Alina!
Alina!
Mama!
Mbak Asih, jangan!
Mbak Asih, jangan!
Mbak Asih!
Mbak Asih, jangan!
Mbak!
Mbak!
Mbak Asih, stop!
Mama!
Mbak Asih, berhenti!
Mbak Asih, jangan!
Ma!
Lepasin!
Lepasin!
- Jangan! - Naik!
Saya buang adik kamu, ya? Naik!
Mbak Asih, lepasin!
Skin care-mu abis?
- Mbak Asih! Lepasin! - Diam!
Lepasin!
Asih!
- Asih! - Lepasin!
- Asih! - Berhenti!
Asih. Kak… Kakak!
Kakak diam dulu.
Dengerin Mama! Diam dulu!
Asih.
Asih, tolong jangan sakitin anak-anak.
Kalau kamu mau, sakitin saya aja. Saya ikhlas.
Ikhlas?
Asih.
Ikhlas?
Nggak usah sok bicara ikhlas kalau kamu nggak tahu penderitaan, Alina!
Kamu nggak pernah, 'kan,
dibuang sama orang tua kamu?
Tolong, Asih.
Kamu butuh apa?
Kamu mau uang?
Saya bisa kasih semuanya. Masih belum terlambat.
Saya nggak butuh uang kamu!
Kakak!
Asih! Kak, kamu gendong Adek.
Asih!
Asih!
Ayo naik, Asih!
Pegang ini! Ayo! Asih, kamu bisa!
Asih! Sini, ayo! Ya!
Naik lagi, Asih!
Sini, Asih! Pegang tanganku!
Sini, Asih! Ayo!
Ya! Sekarang tangkap tangan aku yang satu lagi!
Ayo, Asih. Ya.
Ya, Sayang.
Maaf, ya. Di sini lagi berisik.
Itu biasa, tetangga berantem.
Ayo, Asih!
Ya! Asih!
Ayo naik, Asih!
Asih!
Al! Alina!
Al!
Asih?
Ya Tuhan.
Mami!
Maaf, Mas. Oksigen.
Ya, Pak.
Tenang, ya, Bu. Relaksasi dulu.
Abis Kakak, bayi saya juga.
Maling! Kita gebukin!
- Bacot! - Aduh.
- Kenapa? - Lu yang gue gebukin!
Dari tadi diteleponin nggak diangkat-angkat.
Kesel banget gua sama lo.
Udah jangan berantem. Alina bantuin dulu.
Mbak Kar.
Jangan ke mana-mana lo!
- Pelan-pelan. - Hati-hati.
Bayi saya.
Sebentar.
Hati-hati.
Ibu nggak apa-apa, Bu?
Relaksasi dulu ya, Bu.
Ibu tarik napas yang dalam lima detik,
lalu keluarkan pelan-pelan.
Mohon maaf, Bapak, Ibu, ambulans sudah ke rumah sakit terdekat.
- Halo, Papa. - Hai.
- Asalamualaikum, Pa. - Alaikum salam, Sayang.
Papa jadi, 'kan, ke sini?
Jadi dong. Jadi, Sayang.
Oh ya, jangan lupa bawain piza.
Ya, nanti Papa bawain, ya.
- Dadah, Papa. Asalamualaikum. - Dah, Sayang. Alaikum salam.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam, Pak Ustaz.
Umi Hasanah titip salam, mohon maaf belum bisa datang.
Tidak apa-apa.
Nak.
Mari masuk, Pak Ustaz.
Kakak, 'kan, kamarnya jadi lebih besar lagi tahu, Kak.
Terus kasurnya Rere jadi makin lucu.
Wah, enak banget. Nyaman dong pastinya Rere.
- Kamu suka? - Suka.
Adek Malik juga nyenyak tidurnya. Kalau malam, nggak sering-sering bangun.
- Nyaman deh, Kak. - Nyaman, ya, Dek?
- Rere temuin Papa dulu, ya. - Ya.
- Papa! - Hai, Sayang.
Hai, Sayang. Udah nungguin Papa, ya?
Papa!
Kangen, Pa.
Papa juga kangen sama Kakak.
Nih, Papa udah bawain yang Kakak suka. Ini ada dua rasa sekalian.
- Mama di mana, Sayang? - Mama ada di dalam, Pa.
Ini, bawa ke dalam.
Papa, ayo.
Papa…
Papa di…
- Pa, ayo. - Ya.
Doakan rumahnya biar selamat, biar berkah.
Amin.
Ayo sambil dimakan dulu.
Asalamualaikum. Pak Ustaz.
Mas Reza! Alaikum salam.
- Alhamdulillah. - Alhamdulillah.
- Barakallah. - Makasih, Ustaz.
- Bu. - Reza.
Al, sini.
- Sehat, Mas? - Alhamdulillah, Ustaz.
- Asalamualaikum, Mas. - Alaikum salam.
Makasih, ya, udah bantu aku cari rumah baru ini.
- Jadi, Mas Reza yang cariin? - Yang, itu Reza kenapa di sini?
- Pinter. - Dia masih cinta kali.
Semoga barokah.
Kan dia udah selingkuh.
Masih aja Alina ngasih dia ke sini.
Ya udah sih, biarin aja. Kok kamu yang repot?
Tetap lah, dia udah selingkuh.
Tapi, 'kan, itu karena diguna-guna, Sayang.
Oh, jadi karena diguna-guna, kamu mau ikutan gitu?
- Pak Ustaz, silakan dimakan, ya. - Ya.
Duduk yuk.
Alina.
Ada waktu buat ngobrol sebentar, nggak, berdua?
Aku masih butuh waktu, Mas.
Ya…
- Silakan… - Terima kasih.
Alina.
Aku harus gimana ke Mas Reza, Bu?
Al…
Kita sama-sama tahu,
pertanyaanmu itu sulit untuk dijawab.
Ibu cuma ingin melihat kamu bahagia, Nak.
Kamu itu perempuan tangguh.
Perjuanganmu sungguh luar biasa.
Ibu bangga sekali sama kamu.
Kalau memang kamu belum siap untuk memaafkan suamimu…
jangan dipaksakan.
Ya?
Maafkan
ketika kamu memang siap untuk memaafkan.
Ikuti kata hatimu.
Ya?
Jadi, Allah tidak akan memberikan cobaan pada manusia
melebihi kemampuan manusia itu sendiri.
Maka dari itu, jangan berprasangka buruk sama Allah
karena dibalik cobaan-cobaan ini, ada hikmah.
Karena itu, "La Tahzan".
Janganlah bersedih pada saat cobaan itu datang.
Tapi beristigfarlah. Astaghfirullahaladzim…
Ampuni aku, Ya Allah.
Karena sesungguhnya, di balik cobaan-cobaan itu,
Allah sedang mengangkat derajat kita.
Ampuni hamba, Ya Allah.
Ampuni hamba yang telah berdosa, Ya Allah.
Hamba berdosa!
INILAH YANG DIKEHENDAKI ALLAH, SEMOGA ALLAH MEMBERKAHI
- Cholid mana, ya? - Pak Cholid mana, ya?
Masyaallah, akhirnya kita bisa naik haji bareng, ya.
- Asalamualaikum. - Udah dari dulu ya kita pengen.
Ya, alhamdulillah.
Oh ya, Ustaz Ridho sama Umi Hasanah di mana, ya?
Sepertinya udah duluan.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Ini paspornya Bu Alina.
Ya. Terima kasih.
Satu lagi paspornya Bu Syifa.
- Terima kasih. - Dijaga.
Kalau gitu, saya tinggalkan. Mari. Asalamualaikum.
- Alaikum salam. - Alaikum salam.
Pokoknya kamu nggak bisa lepas lagi dari Papa.
Sekarang kita lagi full order, Mbak.
Aku tahu
kalau Allah sudah menghendaki…
- Aku ke sana dulu, ya. - Ya.
…kita manusia hanya bisa mensyukuri
- walaupun berat. - Papa doain belajarnya pinter dan rajin.
Dari Bunda Siti Khadijah, istri Rasulullah, aku belajar
kalau membenci adalah perbuatan yang buruk
dan perbuatan yang baik adalah mengasihi.
- Baik-baik, ya. - Oke, Ma.
Walaupun nggak mudah,
aku akan coba membuka pintu maaf
demi keutuhan keluargaku.
Finally, Mami haji.
- Semoga Allah melancarkan ibadahmu, ya. - Amin.
Juga menguatkan hatimu, Sayang.
Amin.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, yang sebelah kanan
- geser sedikit. Terima kasih. - Aku akan terus belajar
untuk selalu sabar dan terus ikhlas.
Satu.
Dua.
Tiga!
Alhamdulillah.
TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA ELIZASIFAA
Mama, Rere ambil snack, ya?
Oh ya, Sayang.
Kita cari apa, ya, Malik?
Ini dia.
Nah, ini.
Apa lagi, ya?
Ada tomat tuh. Kamu suka tomat, ya?
Ambilkan bulan, Bu
Yang selalu bersinar di langit
Di langit
Bulan benderang
Cahayanya…
Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang selalu bersinar di langit
Di langit
Bulan benderang
Cahayanya…
Asih?
Ya, Pak?
Udah benar belum kebutuhan anak saya?
Udah, benar.
- Jalan yuk. - Yuk.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.