Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik tradisional mengalun]
[musik tradisional terus mengalun]
[suara statis radio]
[musik patriotik diputar]
[pria di radio] Pelaksanaan pemungutan suara
dalam pemilihan umum 2 Mei 1977
di seluruh daerah pemilihan di Indonesia
telah berjalan dengan tertib, langsung,
umum, bebas, dan rahasia.
- [suara statis radio] - [menghela napas]
[dalam bahasa Jawa] Sudah dengar kabar Sugi?
[menghela napas] Kudengar dia meninggal saat tidur.
[dalam bahasa Jawa] Kudengar kena serangan jantung.
[dalam bahasa Jawa] Tidak, Sugi tak punya masalah jantung.
Lalu?
Sugi ketindihan.
- Hei! - [terkekeh]
- Ketindihan? - Ketindihan.
Seperti tidur, tapi tidak bisa tidur.
- Seperti ada yang… - Tunggu.
- Aku tahu apa itu ketindihan. - Lalu?
Aku tidak mengerti mengapa dia meninggal karena itu.
Begini,
pas Magrib, saat Sugi mau pulang,
dia melihat Ndoro Ayu pakai gaun merah
di tengah-tengah perkebunan.
- Ndoro Ayu? Mamanya Non Rara? - Benar.
Saat didekati oleh Sugi,
Ndoro Ayu menghilang.
- Dia menghilang seperti hantu? - [terkekeh]
Omong kosong.
Omong kosong.
Tahukah kau?
Aku bekerja di sini jauh sebelum kalian.
Aku belum pernah lihat hal seperti itu.
Omong kosong.
- Tunggu, biarkan dia melanjutkan. - Terserah.
Lalu?
[Togar] Malamnya, saat Sugi mau tidur,
Sugi mendengarkan lagu "Kasih Merintih"
oleh Siti Suryani.
♪ Dari jauh ♪
♪ Aku merintih ♪
♪ Mengharapkan ♪
Hentikan!
[mendengus] Apa-apaan ini?
- [Maman] Itu membuatku takut. - [Togar] Mau dilanjutkan atau tidak?
[Maman] Mau, tapi jangan bernyanyi.
Setelah mendengar lagu itu,
tiba-tiba Sugi kejang-kejang.
Tangan Sugi menunjuk ke atas sambil berbicara,
[tercekat] "Ampun, Ndoro Ayu!
Ndoro… A…"
- [berteriak] - [terkesiap]
- [tertawa] - [mendengus] Aduh!
- Jangan begitu, Kang! - [Jalu] Omong kosong.
[Maman] Lalu?
[Togar] Sugi meronta-ronta.
Sugi seakan-akan berusaha untuk melepaskan sesuatu…
- Yang mencekik lehernya! - Hei!
- Hei! - [suara pecah]
Bajingan!
- Siapa itu? - [suara rintihan]
Hei! Bisu!
- Aku kaget! - [ketukan di kaca]
[Jarwo mengerang]
Baiklah, bubar.
- [Jarwo mengerang] - Bubar!
Tidurlah!
[ketukan di kaca]
Jangan percaya cerita yang dibuat-buat itu.
Omong kosong.
Hei, pergi dulu, ya.
Kang, hati-hati. Jangan ketiduran. Jangan sampai ketindihan juga.
Aku tidak percaya omongannya.
Biasanya aku yang menindih.
- Nanti kualat kau. - Terserah.
Sudah, ya. Aku pergi dulu, ya. Aku mau menindihkan.
[Jalu tertawa]
- [bersenandung] - [suara musik tradisional]
[suara samar dari radio]
[menggigil kedinginan]
[suara samar dari radio]
[suara statis radio]
♪ Malam Minggu Sang kekasih yang kau rindu ♪
♪ Oh, lagak serta lagunya Yang kau nantikan selalu ♪
Oke, Sayangku. [tertawa]
♪ Hai, Muda Mudi Hiduplah kekal abadi ♪
Ah…
[anjing menggonggong dari kejauhan]
[suara listrik statis]
[musik menyeramkan]
[suara langkah kaki delman]
♪ Susah, senang Usah dikau peduli ♪
[kelontang]
[musik mencekam]
[dalam bahasa Jawa] Siapa di sana?
- [kucing mengeong] - Kucing sialan.
[terkekeh]
♪ Tiada angin, pun tiada hujan ♪
♪ Goyangkan tubuh seirama ♪
♪ Semerbak harum di halaman Tanda dia telah datang ♪
Ah…
[terkekeh, lalu terbatuk]
- [gedebuk] - [terbatuk-batuk]
♪ Duh, asyiknya ♪
[musik terdistorsi]
[suara statis radio]
[kelontang]
[suara listrik statis]
[anjing menggonggong dari kejauhan]
["Kasih Merintih" diputar]
♪ Dari jauh ♪
♪ Aku merintih ♪
[terbatuk-batuk]
♪ Mengharapkan ♪
♪ Belas kasihanmu ♪
- [wanita] Jalu. - [terkesiap]
- [musik menyeramkan] - Ndoro Ayu.
[berteriak]
[tercekat]
[suara orang berlari]
- [tawa menyeramkan] - [Jalu tercekat]
[berteriak]
MEMPERSEMBAHKAN
FILM KARYA HANUNG BRAMANTYO
BERDASARKAN CERITA RADIO POPULER TAHUN 1980
[pria di radio] Menurut laporan pihak berwenang,
sebanyak lima pekerja yang bekerja di perkebunan milik keluarga Saunder
dilaporkan telah mengambil nyawa mereka dalam periode satu minggu terakhir.
Mereka juga akan mewawancarai keluarga korban
untuk mengetahui secara mendalam
latar belakang kematian mereka yang begitu mengerikan.
[laporan samar di radio]
[wanita] Suamiku tidak menderita penyakit apa pun.
[pria] Dalam konferensi pers
di Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia…
Berita selanjutnya.
Menegaskan kembali komitmennya terhadap ideologi Pancasila
dan mengakui Islam sebagai agama resmi negara.
[laporan samar di radio]
[wanita di radio] Harga sembako makin melayang tinggi.
Hal ini sangat meresahkan banyak kalangan
karena hal ini juga memicu meningkatnya
tingkat kriminalitas di beberapa daerah.
[petir bergemuruh]
[suara angin berembus]
[Joko] Tiga bulan Mbak Rara dan Mas Sutan pergi berbulan madu,
kalau siang di sini tidak pernah hujan.
Begitu pulang, langsung hujan deras seperti ini.
[Rara] Ya, semoga pertanda berkah, Pak Joko.
[Joko] Amin.
Apakah Mbak tidak pusing
membaca laporan di dalam mobil?
Baru pulang liburan, mengapa langsung bekerja?
Justru karena sudah pergi lama, jadi, aku harus periksa sekarang.
Oh.
Ada apa, Mas?
[suara deru mobil]
[Joko] Sebentar, ya, Mbak.
- Terima kasih, Pak Joko. - Ya, Mbak.
[suara derit pintu]
[musik mencekam]
[musik mencekam terus berlanjut]
[Jarwo memberi isyarat]
[pria] Penurunannya memang lumayan banyak
karena bulan ini kita gagal panen.
[Rara] Mengapa bisa gagal panen, Pak?
[pria] Cuaca bulan ini tidak menentu, Non.
Kalau siang terik,
sementara kalau malam dinginnya luar biasa.
Bahkan pernah ada hujan es.
Selama 20 tahun bekerja di sini,
baru kali ini aku mengalami cuaca seperti ini.
Lalu, apa solusinya?
Kita tidak bisa mengatur cuaca.
- [kucing mengeong] - [kelontang]
[musik mencekam]
DEBU 60 KG
[suara beduk masjid]
[suara beduk masjid dari kejauhan]
Allahu Akbar.
[jemaah] Allahu Akbar.
[wanita] Apakah Mbak Rara mengetahui kematian para pekerjanya?
Sut. Jangan membicarakan hal itu.
Togar, apakah Mbak Rara mengetahui kematian para pekerjanya?
Sepertinya tidak.
Sut. Bisa konfirmasi ke Pak Joko?
Pak?
Pak Joko?
Pak?
Maaf, Pak.
Yakin tidak mau lapor ke Mbak Rara tentang kematian Sugi dan Jalu?
Apakah kau ingin dipecat?
Yang berlalu, biarlah berlalu. Tidak perlu diungkit lagi.
Tapi semua pekerja di asrama ketakutan.
Apakah Pak Joko tahu
banyak sekali kejadian aneh sejak hilangnya Ndoro Ayu?
Ndoro Ayu berangkat ke Belanda.
Dia tidak menghilang.
[dalam bahasa Jawa] Jaga mulutmu!
[dalam bahasa Jawa] Kau datang jauh-jauh dari Medan.
Kerja saja yang benar.
Berhentilah bergosip.
- Pergi. - Berengsek.
Hei, bicara apa kau?
- Tidak ada, Pak. Tidak ada. - Katakan lagi! Aku akan memukulmu!
Ya, Pak.
[alunan musik dari kejauhan]
Kau sudah makan, Mas?
Tadi aku meminta Paklik Jarwo untuk membelikan makanan kesukaanmu.
[musik seriosa diputar]
Aku heran kau masih bisa tenang begini.
Aku sudah melihat hal yang aneh sejak kita kembali ke rumah ini, Ra.
Mas, itu hanya di bayanganmu saja.
Lagi pula,
kita sudah janji untuk memulai hidup baru.
Benar, 'kan?
Ayo tidur.
Ayo, Mas.
[suara jam berdetik]
[suara bisikan wanita] Trinil.
[tercekat]
[suara bisikan wanita] Trinil.
Ra? Rara.
Ra, kenapa kau? Rara.
[Rara tercekat]
Ra, sadar!
Ra? Rara? Tolong!
- Ra! - [Rara tercekat]
Pak Joko!
Ra, bangun! Ra, sadar!
Pak Joko!
[Sutan] Tolong!
Asalamualaikum.
[Sutan] Pak Joko!
Asalamualaikum.
[Sutan] Pak Joko, tolong!
Pak Joko!
Pak Joko!
Tolong!
Ra…
- [berteriak] - [gedebuk]
[Rara tercekat]
- Pak Joko! Tolong, Pak! - Mas Sutan!
- Mas! - Pak Joko! Pak Joko, tolong Rara.
- Ada apa, Mas? - Pak Joko, Rara!
- Pak Joko! Rara! - Mas.
- Ra, sadar! - Air putih, Mas.
Bismillahirrahmanirrahim.
Allahu Akbar!
Apa-apaan ini?
Tadi kau mimpi buruk, Ra.
Bapak sedang apa?
[bergumam]
Tadi…
- Aku baik-baik saja! - [bergumam]
- Ada suara ribut. - Keluar!
- Ya. - Keluar, Pak!
Ya.
[Rara] Aku tidak suka ada orang asing di kamar kita.
Mengapa basah semua?
[burung berkicau]
- Pak Joko. - Ya.
[bergumam] Soal kejadian semalam,
aku ingin minta maaf.
Tidak apa-apa. Aku mengerti.
[Sutan] Kemarin Pak Joko sempat bilang waktu aku dan Rara berpelesir.
Hujan tak pernah turun saat siang.
Tapi saat kami pulang,
hujannya turun deras sekali.
- Benar begitu, Pak? - Oh…
[Joko] Kalau itu, begini, Mas.
Biasanya, kalau ada seseorang yang datang ke sebuah tempat,
lalu di sana turun hujan,
orang itu membawa berkah, Mas.
Tapi waktu aku dan Rara bulan madu,
Rara tidur sangat lelap.
Ketika kami pulang ke rumah ini,
malah menjadi begini.
Ya, aku yakin ada sesuatu
yang membuat Rara tidak nyaman.
[terkekeh]
Mbak Rara sejak lahir tinggal di sini.
Bagaimana mungkin tidak nyaman?
[Joko terkekeh]
Terima kasih.
[suara musik biola]
[musik seriosa diputar]
Buku tentang kesehatan mental
[musik seriosa terus diputar]
[menghela napas]
Gejala
kelumpuhan tidur,
komplikasi,
- mimpi buruk. - [suara statis radio]
♪ Dari jauh ♪
♪ Aku merintih ♪
♪ Mengharapkan ♪
[suara statis radio]
[pria di radio] Soneta ada memang untuk Anda.
[pria di radio] Bukankah tugasnya sebagai…
[musik seriosa diputar]
- [suara statis radio] - [pria di radio] Saat…
♪ Walau hanya aku yang me… ♪
[suara statis radio]
[musik seriosa diputar]
- [suara statis radio] - Manusia seharusnya…
♪ Biar rasa… ♪
[musik berhenti]
[musik menyeramkan]
- [suara tawa menyeramkan] - [Sutan terkesiap]
[Rara tercekat]
[tawa menyeramkan]
[berteriak]
Pak Joko!
- [Sutan] Pak Joko! - [lantunan Al-Qur'an]
[Sutan] Pak Joko!
Pak Joko! Tolong!
Ra!
Pak Joko!
Pak Joko! Pak!
- Ya? - Tolong Rara, Pak!
[terengah-engah]
Mbak Rara di dalam?
Ya.
[Joko] Mbak Rara tidak ada, Mas!
- Tadi ada. - Ada?
Ra?
Coba masuk.
Bismillahirrahmanirrahim.
- Ra? - [Joko terkesiap]
Astaghfirullahaladzim! Mbak Rara!
Ya Allah. Mbak!
Bismillahirrahmanirrahim.
Allah, tidak ada Tuhan, melainkan Dia Yang Hidup kekal,
lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
Tidak mengantuk dan tidak tidur.
[gedebuk]
[terkesiap]
Ra!
[Sutan terengah-engah]
Alhamdulillah.
Ada apa lagi ini?
Bapak kenapa masuk ke sini lagi?
- [Joko] Aku… - Ra, tadi…
Keluar! Keluar, Pak!
Mbak Rara, kalau mau tidur, sebaiknya berdoa dulu.
- Pak, keluar. - Hati-hati, ya, Mbak.
- Keluar! - Ya.
Mas!
Sudah kubilang, jangan biarkan orang lain memasuki kamar kita!
- Kenapa Pak Joko masuk lagi? - Ya, Ra, tadi kau…
Apa? Aku kenapa?
Mulai sekarang,
tidak ada orang yang boleh masuk ke rumah ini tanpa izinku!
Mengerti?
[Rara mendengus]
[suara kicau burung]
[menghela napas]
[ayam berkokok dari kejauhan]
[keletak]
Yusuf?
[suara wanita berteriak]
[suara gelas pecah]
[wanita terus berteriak]
[distorsi suara tawa menyeramkan]
[menggeram]
[merapal mantra]
[menggeram]
[tertawa]
[pembacaan mantra terus berlanjut]
Kembalilah ke tempat asalmu!
Selesai.
Yusuf!
Sutan.
Teman SMP waktu di Penang.
Sutan?
Oh ya!
- Temanku yang paling pintar. - Apa kabar?
Aku baik-baik saja.
Mari kita masuk ke kantorku. Ayo.
[Yusuf] Apa yang kau lakukan di sini?
Kenapa tidak tinggal di Jakarta?
[Sutan terkekeh] Ceritanya panjang.
[Sutan] Setelah lulus sekolah keperawatan di Jakarta,
aku dapat pekerjaan di sini.
Jadi, aku pindah ke sini.
[Yusuf bergumam] Begitu rupanya.
[bergumam]
Kau tadi…
Maaf, tadi ada insiden.
Pasienku kerasukan.
[terkekeh]
Tak kusangka, aku punya teman dukun.
Tidak. Aku masih seorang psikiater.
Tapi aku tertarik dengan kasus supernatural.
Oh, kenapa begitu?
Maaf, maksudku… [bergumam]
Bagaimana bisa ke arah sana?
Itu semua terjadi saat aku masih SMP.
Kakiku sakit. Aku tidak bisa berjalan.
Aku sangat putus asa dan hampir bunuh diri.
Tapi aku diselamatkan oleh guruku.
Katanya ada roh jahat menempel di tubuhku.
Awalnya, aku tidak percaya.
Tapi akhirnya aku sembuh.
[terkekeh]
[bergumam] Bisakah kau menolongku?
- Tadi malam, istriku… - Hei…
Kau sudah menikah?
Ada apa dengan istrimu?
Dia ketindihan.
Bahkan lebih parah.
Semalam, dia seperti…
Seperti orang kesurupan.
- Selamat datang, Yusuf! - [Yusuf tertawa]
Sutan, kenapa kau tidak memberitahuku
istrimu adalah pewaris Saunder?
- Kau tidak percaya? - [Yusuf tertawa]
Mari, silakan.
[Yusuf terkekeh] Bagaimana mungkin?
[Sutan] Jangan begitu, Yusuf.
Paklik, tolong ambilkan kopi untuk temanku.
[menghela napas]
[berdecak] Hei, maksudku adalah
dari mana kau kenal keluarga ini?
[terkekeh]
Saat aku masih bekerja di rumah sakit,
aku ditugaskan
untuk merawat Mendiang Pak Willem di rumah ini.
[Yusuf] Ya, aku masih ingat.
Seluruh warga kota juga berduka atas kepergiannya.
Sakit jantung, ya?
- Ya. - Ya.
Luar biasa.
Rumah klasik.
Aku jarang melihat rumah seperti ini.
Dibangun sesuai keinginan Mendiang Pak Willem.
Oh, Paklik.
Diamkan satu hari.
Jika besok tetap jernih, semuanya aman.
Jika kotor,
kau dan istrimu dalam bahaya.
- Ada lagi yang ingin kau sampaikan? - [keletak]
- Sebenarnya… - [suara langkah kaki]
Apa-apaan ini?
Siapa kau?
Keluar!
- Terima kasih, Paklik Jarwo. - Terima kasih.
Aku meminta Yusuf kemari
agar kau tidak ketindihan lagi.
Mas,
aku baik-baik saja.
Kau selalu diliputi kekhawatiran.
Sampai kau berani membawa orang asing ke kamar pribadi kita.
Dia bukan orang asing bagiku.
Dia adalah temanku sejak SMP.
- Dia bisa membantu kita. - Tapi di sini tidak ada yang aneh-aneh!
Tidak ada Mama, tidak ada hantu.
[musik menakutkan]
[Rara berdecak]
Di mana korekmu?
Sebentar.
Paklik. Paklik Jarwo?
[suara angin berembus]
- [musik menegangkan] - [suara derit jendela]
Aduh, Mas.
Mas!
Berikan koreknya.
[Rara menghela napas dan berdecak]
- [Sutan berteriak] - [gedebuk]
Trinil.
Trinil.
[musik menegangkan berhenti]
[suara percikan air]
Mbak Rara,
Mas Yusuf sudah datang.
Suruh masuk, Pak.
[langkah kaki mendekat]
Halo.
Kemarin belum sempat berkenalan.
[Yusuf] Harus kenal dulu, 'kan? Baru boleh masuk.
[berdecak]
Yusuf.
Rara.
Terima kasih, Pak. Jangan lupa tutup pintu, ya.
Terima kasih.
Lo?
Kau ketindihan juga? [bergumam]
[Sutan] Dia…
kembali…
lagi.
Siapa?
Hantu kepala buntung.
Sutan bilang kau ahli dalam pengusiran setan.
Apa pun itu, siapa pun dia,
aku mau dia pergi dari sini.
Sebelum mulai bekerja,
aku harus mengumpulkan data.
Kita juga perlu bicara, Rara.
Tidak perlu bicara. Cukup usir dia.
[musik mengerikan]
Datanglah.
Kami memanggilmu datang. Isilah tempat ini dengan kehadiranmu.
Agar aku bisa menyingkirkan kejahatanmu.
Datanglah.
Kami memanggilmu datang. Isilah tempat ini dengan kehadiranmu.
Agar aku bisa menyingkirkan kejahatanmu.
Hei! Sini, Rara!
[dalam bahasa Belanda] Kau sangat cepat! Sangat gesit!
Mulai sekarang, Papa akan memanggilmu Trinil.
Datanglah!
Kami memanggilmu datang. Isilah tempat ini dengan kehadiranmu.
Agar aku bisa menyingkirkan kejahatanmu.
Kuyang.
Datanglah!
Tak ada yang boleh masuk ke kamar papaku!
Menurut Kitab Jagad ing Lelembut,
sebuah buku kuno tentang seluk-beluk hantu di tanah Jawa,
hantu jenis ini dipanggil Kuyang.
Dia datang karena dua alasan.
Pertama, karena mereka menginginkan hidup yang kekal.
Tapi, sebenarnya, kuyang bukanlah hantu.
Mereka adalah manusia yang melakukan ilmu hitam.
Kemudian mereka berubah menjadi hantu kepala buntung
dan mencari mangsanya.
Biasanya, mereka mencari bayi
yang belum lahir
atau bahkan yang baru lahir.
Kedua,
mereka ingin tubuhnya kembali.
Tunggu.
Apa maksudmu
dia ingin tubuhnya kembali?
Mereka pasti mati dalam keadaan yang kejam.
Mengerikan.
Kepala mereka dipenggal dari tubuhnya
untuk memotong aliran darah ilmu hitam ke dalam tubuh mereka.
Di negara asalku,
dia disebut hantu penanggal.
Deskripsi dan sifatnya serupa.
Terutama ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Yusuf, tolong bantu kami.
- Panggil dia. - Untuk apa?
Tidak ada gunanya.
Singkirkan saja.
Jika tidak bisa, aku akan cari orang lain.
Maaf.
Perutku lapar.
Bolehkah aku makan dulu?
- [Yusuf] Kenapa? - [Sutan] Tunggu.
Tunggu.
Tunggu.
Silakan kau buka.
Ba!
[menghela napas]
Ada apa, Sutan?
[musik mengerikan]
- [Rara berteriak] - [Sutan berteriak]
Kenapa?
[Rara mendengus]
Kaget.
Aku tak mau tahu, kau harus bisa mengusirnya!
Aku tak mau dia ada di mimpi atau kenyataan. Dia harus pergi!
Jika kau benar-benar ahli, kau bisa usir dia sekarang juga!
Aku bisa menangani kasus ini
jika kalian berdua bisa diajak bekerja sama.
Bisa.
Apa pun maumu, bisa.
[Sutan] Bisa.
[musik muram]
Ya.
Silakan masuk.
Ini dulu tempat kerja Mendiang Pak Willem. Bisa kau gunakan.
Mari.
[suara derit pintu]
Mari. Silakan.
Ini kamar tidurmu.
Anggap seperti rumah sendiri.
[Yusuf bersiul]
[musik muram terus berlanjut]
[lanjut bersiul]
[bergumam] Maaf, Pak Joko.
Aku mau bertanya.
Apakah kau tahu ke mana Ny. Saunder pergi?
Ini tak boleh diambil.
Kenapa terbalik?
[terbata-bata] Aku tahu ini terbalik, permisi.
Pertanyaanku belum dijawab.
Menurut surat kabar,
Ndoro Ayu pergi ke Belanda.
Ke tempat asal Ndoro Willem.
Tapi, sebenarnya,
tidak ada yang benar-benar tahu Ndoro Ayu ada di mana.
- Permisi. - Bahkan Rara atau Sutan pun tidak?
[terbata-bata] Tidak.
[langkah kaki Joko menjauh]
- Yusuf. - Ya?
- Ayo kita makan. - Ya.
- Mari. - Silakan.
[Yusuf terkekeh]
Selamat bekerja, Yusuf.
Bersulang.
[denting gelas]
- [denting lonceng] - Datanglah!
Kami memanggilmu datang.
Isilah tempat ini dengan kehadiranmu.
[denting lonceng]
Agar aku bisa menyingkirkan kejahatanmu.
Kami membutuhkan kehadiranmu.
Kami mau kau datang!
Apakah kau gila?
Aku bilang usir! Kenapa kau undang kemari?
Kalau ada roh jahat yang datang,
pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan.
Kita harus dengar!
Untuk apa mendengarkan setan? Cukup usir dia!
- [suara pintu digedor] - [Sutan terkesiap]
[suara pintu digedor]
- [Sutan merintih] - [pintu terus digedor]
[musik menegangkan]
[suara derit pintu dibuka]
- [suara listrik statis] - [angin berembus]
[tawa menyeramkan]
- [hantu menggeram] - [Sutan berteriak]
Trinil.
[teriakan wanita]
Kembalikan tubuhku!
[tawa menyeramkan]
Siapa kau?
Apa yang kau inginkan?
[gedebuk]
Trinil!
Kembalikan tubuhku!
Sekarang!
[tawa menyeramkan]
Trinil!
Kembalikan tubuhku!
Sekarang!
Kembalilah ke duniamu.
- [hantu menggeram] - Kembalilah ke duniamu.
Kembalilah ke duniamu.
Kembalilah ke duniamu.
Kembalilah ke duniamu.
- Kembalilah ke duniamu! - [hantu berteriak]
[suara listrik statis]
[Sutan terengah-engah]
[burung berkicau]
[musik tradisional diputar]
[musik tradisional memudar]
[keletak]
[suara derit jendela]
Kenapa tidak ada foto Ayu?
[musik mencekam]
"Aku dan Trinil."
[suara derit kursi goyang]
[musik menyeramkan]
Menurutku, tempat ini terkutuk.
Lihat ini.
Sebelumnya, cuaca buruk.
Sekarang hama.
Apa selanjutnya?
Kang! Lihat Togar?
- Apa? - [Maman] Lihat Togar?
Tidak kedengaran!
- Togar! - Oh, Togar?
Tidak. Aku tak tahu di mana dia.
- Tahu di mana dia? - Tidak.
[berdecak dan mendengus]
Di mana dia?
- Sudah dua hari tidak kelihatan. - Alah!
Seperti tidak tahu saja.
Togar biasanya mabuk atau berjudi di suatu tempat.
Itu hal biasa di Sumatra.
Omong kosong itu.
Atau mungkin dia pindah kerja?
[mendengus]
Dasar tidak tahu berterima kasih!
Pekerjaan apa yang bisa dia dapatkan di luar tempat ini?
Ini bukan saat yang tepat untuk pergi.
Gagal panen bukanlah hal baru bagi kita.
Sejak saat Ndoro Willem masih ada,
nasib buruk seperti ini pernah terjadi.
Tapi ini berbeda, Kang.
Ini bukan hanya tentang cuaca buruk atau hama.
Lalu, apa?
Sugi? Jalu?
Yang meninggalnya ketindihan?
Berhentilah memercayai kebohongan yang mereka katakan.
Tak ada yang namanya meninggal karena ketindihan.
Mengerti?
Dasar tidak tahu berterima kasih!
[wanita bersenandung]
Hei, Kang!
Apakah kau mendengarnya?
Apa lagi?
Bukankah kita sudah mengunci gudangnya? Kenapa ada suara radio?
[nyanyian wanita dari radio]
Paling Togar ada di sana!
Ya, di sana. Periksalah.
- Aku lihat dulu, ya. - Ya.
Gar!
Togar!
Gar! Togar!
Gar?
Togar?
Gar!
- [musik menegangkan] - [Maman] Togar!
- [Maman] Gar! - Man!
- Ada apa, Man? - [Maman] Gar!
- Astagfirullah! - Togar!
Man! Ada apa, Man?
- Togar! - [berteriak]
Satu lagi?
[berteriak] Togar!
Tidak mungkin!
Pelan-pelan, hati-hati.
Bantu! Dibantu, Pak.
- Kemari. - Awas. Pelan-pelan.
Pegangi.
[musik sendu]
[dialog samar]
[deru kendaraan]
[dialog samar berlanjut]
- [suara hujan turun] - [petir bergemuruh]
Hei, tunggu aku!
- [Joko] Tunggu aku! - Ayo cepat.
- Tunggu! - Cepat.
Hei! Berhenti!
Berhenti!
Kalian semua!
Apakah kalian akan pergi begitu saja?
Hei!
Apakah kalian lupa pesan Ndoro Willem?
Jangan seperti kacang yang lupa kulitnya!
Teganya meninggalkan Mbak Rara!
Tapi tempat ini terkutuk, Pak. Aku tidak ingin mati.
[warga] Dia benar!
Bubar! Ayo keluar dari sini!
Ayo pergi! Bubar!
Ayo pulang!
[Rara] Teganya kalian menyembunyikan kematian mereka dariku!
Kami… Kami hanya tidak ingin
Non Rara atau Den Sutan khawatir.
Polisi tahu?
Tidak. Tidak, Non.
Semua kami tangani bersama keluarga almarhum.
Jadi, semuanya mati ketindihan?
Ya, Mas.
Jalu dan Togar meninggal dengan cara digantung.
Mana yang benar?
[bergumam]
Jalu dan Togar memang
kami temukan dalam kondisi gantung diri.
Sementara
Sugi dan pekerja lainnya
ada yang sepertinya
terkena serangan jantung.
Ada juga yang mencekik diri sendiri, Mbak.
Tapi pada dasarnya, mereka…
meninggal karena ketindihan, Mbak.
[gemeresik kertas]
Tolong rahasiakan ini semua.
Jangan sampai ada yang tahu.
Apalagi polisi.
Kalian boleh pergi.
- Baik, Mbak. - Baik, Non.
- Permisi, Mas. - [Sutan terbatuk-batuk]
Den…
[petir bergemuruh]
Halo.
Hei.
Aku membayarmu untuk bekerja, bukan sembarangan masuk ke kamar orang.
Aku hanya menjalankan tugas.
Aku perlu mengumpulkan data sebanyak mungkin.
Tapi tidak di kamar papaku!
- [petir bergemuruh] - [musik menegangkan]
[berdesah]
Setelah meninggalnya Willem Saunder,
Rahayu Saunder menghilang.
Lalu,
Radiana Saunder menikah dengan Sutan Mahadi.
[musik menegangkan terus berlanjut]
[menghela napas] Bicara apa kau?
Setelah pulang dari bulan madu,
Sutan melihat Rahayu di perkebunan.
Lalu,
kau ketindihan dan kesurupan.
Lalu, hantu kepala buntung datang dan meminta tubuhnya dikembalikan.
- Pasti kau menyembunyikan sesuatu. - [petir bergemuruh]
[Sutan terbatuk-batuk]
Mas! Mas, apakah kau baik-baik saja?
Mari kita ke kamar. Aku akan buatkan obat.
Ayo, Mas.
[Sutan terbatuk-batuk]
Tunggu!
Sebentar!
Sisipkan di pintu kamar kalian.
Taburkan garam ini di sekeliling kamar.
Semoga kalian bisa tidur aman malam ini.
[suara jam berdetik]
[denting gelas, keletak]
[menghela napas] Maaf.
Kau panas sekali. Kita pergi ke dokter sekarang, ya?
Tidak usah, Ra.
Apa kau tidak takut, Ra?
Kita dalam bahaya, Ra.
Mama marah!
Mama marah, Ra.
Tidak, Mas. Tidak!
Mama sudah tiada. Siapa yang mau marah?
Kita pergi ke dokter sekarang, atau kau kembali tidur.
[musik menyeramkan]
Aku mengerti
kau sangat marah.
Aku akan membantumu.
Beri aku petunjuk.
Beri aku petunjuk.
Beri aku petunjuk.
[suara listrik statis]
♪ Harga diriku ♪
♪ Bernilai sama seperti ♪
♪ Seorang budak ♪
♪ Menekan rasa malu darah dan dagingku ♪
♪ Ayo, tolong kemari ♪
[musik aksi]
[deru mobil]
[pintu mobil dibuka]
[pintu mobil ditutup]
[suara langkah kaki mendekat]
[suara pintu berderit]
Terima kasih sudah mau datang.
Aku telah menunggumu.
Kau bisa memanggilku Rondo Alas.
Aku kerabat dekat Rahayu.
Aku Yusuf.
Ya.
Silakan masuk.
[suara derit pintu]
[Sutan] Yusuf
Yu…
Astaghfirullahaladzim.
Apa yang sedang kau lakukan, Yusuf?
Nak Yusuf,
bukankah kau ingin mendapatkan uang yang banyak dari Rara?
Tapi kenapa kau membelot
dan membantu Rahayu?
Karena untuk mengakhiri sesuatu,
kita harus tahu dari mana awalnya.
Mengusir Rahayu
tidak menyelesaikan masalah.
Justru sebaliknya.
Sejauh mana kau mengenal Ayu?
Karena dia lahir dari rahimku.
[musik menegangkan]
Sampai hari ini, masih sangat terasa
situasi kelahirannya.
Dia terlahir
pada malam Jumat Kliwon.
Rahayu memang berbeda.
Sejak muda, Rahayu ingin menjadi nyonya besar
dengan menikah dengan pria kaya.
[suara langkah kaki mendekat]
[suara mesin jahit]
[musik menegangkan]
[Rondo Alas] Untuk mewujudkan mimpinya,
Rahayu meminta bantuan seorang dukun yang cukup terkenal.
[merapal mantra gelap]
[dukun] Minumlah darah ini.
[Rondo Alas] Sejak saat itu,
Rahayu bersekutu dengan setan.
[dukun merapal mantra gelap]
[musik misterius]
[Rondo Alas] Begitu bersekutu dengan setan,
pesona Ayu merekah
seperti kembang mekar.
Berhenti menatap!
Apa yang kau lihat?
Dan Willem Saunder pun terjerat.
Ayu berhasil menjadi Nyonya.
Willem menjadikannya ratu.
[musik misterius terus berlanjut]
[suara kecupan]
Tapi itu tidak berlangsung lama
karena Ayu tidak mau melahirkan Rara.
Dia bahkan berusaha menyingkirkannya.
[keletak]
[denting gelas]
Rahayu menganggap kehadiran Rara
merenggut cita-cita besarnya.
[Willem] Hei!
Sini, Rara!
[Willem tertawa]
Oh.
[dalam bahasa Belanda] Berikan bolanya kepada Papa!
[berseru dan tertawa]
[Willem] Pintar.
[dalam bahasa Belanda] Mulai sekarang, Papa akan memanggilmu Trinil.
[dalam bahasa Belanda] Mama, ayo main bola denganku.
Kemarilah, Sayang.
Mama lempar, lalu kau ambil, ya?
- Permisi, Tuan Willem. - Ya?
Tuan Willem tidak ikut Ndoro Ayu dan Non Rara main ke perkebunan?
Bermain di perkebunan?
- Ya. - Sebelah mana?
Di puncak bukit, Tuan.
[musik menegangkan]
[musik menegangkan terus berlanjut]
[intensitas musik meningkat]
[dalam bahasa Belanda] Trinil, apa yang kau lakukan di sana?
[bergumam]
Apakah kau baik-baik saja?
- Terima kasih, Sugi. - Ya, Tuan.
- [Sugi] Mari. - [Willem] Ya.
[menghela napas]
Trinil sudah dewasa.
Menurut Papa, kau sudah siap.
Jadi, mulai sekarang, Perkebunan Saunder atas namamu.
Teman Papa adalah notaris dan sudah mengurus semuanya.
[dalam bahasa Belanda] Terima kasih, Papa.
[suara kaca pecah]
Kau wariskan semua ke anak itu? [bergumam]
Apa kau sudah gila?
Warisan apa maksudmu?
Tidak usah bohong!
Aku sudah tahu semuanya!
Benarkah itu? Ya?
Ya, itu benar.
Menurutmu, kau bisa mengurus perkebunan itu?
Kau hanya bisa bersolek dan menghabiskan uangku.
Jika kau tak mengubah isi surat wasiat itu menjadi namaku…
aku akan membunuh Trinil.
Apakah kau tega membunuh anakmu sendiri? [bergumam]
Ayu!
Apakah menurutmu aku bercanda?
- Ayu, itu bukan mainan. Itu ada isinya. - Aku tahu.
Apakah menurutmu aku menikahimu karena cinta?
Aku menikahimu karena uangmu.
[Willem terengah-engah]
Ubah surat wasiat itu, atau kau akan kehilangan anakmu.
Oke.
[Willem mengerang dan terengah-engah]
[Rara] Papa bisa sembuh, 'kan, Dok?
Kita bisa mengendalikan dan menurunkan risiko lebih lanjut.
Itulah sebabnya aku menugaskan Sutan untuk merawat dan memantau papamu.
Pastikan papamu senang dan tenang
agar kondisinya stabil, ya?
[Rondo Alas] Ketika Willem mulai jatuh sakit,
itulah awal mula peperangan antara Rahayu dan Rara.
- [Rara merengek] Ma! - Ayo!
Ma!
Aku sudah mengubah surat wasiatmu.
Ayo cepat tanda tangan.
Mama gila!
Memang.
[Rara terisak-isak]
[Rara merintih] Ma…
- Ayu. - Ma…
Ayo cepat tanda tangan.
- Kau mau aku membunuh putrimu? - Ma!
[gemeresik kertas]
[Rara terisak-isak] Pa…
Trinil, maafkan Papa.
Maafkan Papa.
[musik sendu]
Papa mengajak Trinil kemari untuk bicara sesuatu.
Ini tentang mamamu.
Dia menyimpan rahasia besar.
- Maksud Papa? - [Willem berdesah]
Dia…
[Willem berdecak]
…bersekutu dengan setan.
[musik berubah menjadi menegangkan]
Dan jika dia berbuat macam-macam kepadamu,
Papa punya sesuatu untuk menyelamatkanmu.
[suara derit pintu dibuka]
Rahasia Ayu ada di sini.
Buku kecil ini yang bisa menyelamatkanmu.
Trinil jangan takut
dan jangan khawatir.
[dalam bahasa Belanda] Semuanya akan baik-baik saja.
Simpan baik-baik, ya?
Ya, Nyonya?
Apa kau sendirian tadi di dalam?
[Ayu] Sini sebentar.
Anaknya Willem ada?
[Sutan] Tidak. Tidak ada.
[Ayu] Aku punya penawaran untukmu.
Sudah berapa lama kau bekerja seperti ini?
Sudah hampir dua tahun.
Bagaimana jika
seperempat dari bagianku,
kuberikan untukmu?
[Sutan] Maaf, Nyonya, tapi aku…
Seperempat harta Willem
bisa untuk membeli rumah sakit.
Kau tak perlu bekerja seperti ini lagi.
Kita enyahkan Willem,
kemudian Rara.
[suara percikan air]
["Kasih Merintih" diputar di radio]
[Ayu mendesah]
♪ Dari jauh ♪
[Sutan mendesah]
♪ Aku merintih ♪
[Ayu mendesah]
[mengerang]
[mengerang]
[Sutan mengerang]
[tertawa]
Mati.
[tertawa]
Selesai kau sekarang, Willem. [tertawa]
[suara kaca pecah]
[suara libasan golok]
[terkesiap]
- [gedebuk] - [Sutan teriak]
[musik menegangkan]
[Sutan terengah-engah]
Ampun, Ra.
Ra, aku dipaksa oleh Nyonya.
[lagu di radio diputar dari kejauhan]
Aku akan memaafkanmu
asal kau mau menikahiku.
Sepertiga tanah ini akan menjadi milikmu.
- Jawab! - Ya.
Ya.
♪ Tinggallah aku sendiri ♪
♪ Ditemani cahaya malam ini ♪
♪ Kan kupendam sakit ini ♪
♪ Cukup hanya aku ♪
♪ Tersakiti ♪
Buku kecil ini yang bisa menyelamatkanmu.
Trinil jangan takut
dan jangan khawatir.
♪ Biar rasa tergantung sepi ♪
Guyur dia.
♪ Akan aku ikhlaskan hati ini ♪
♪ Kan kupendam sakit ini ♪
♪ Cukup hanya aku ♪
♪ Tersakiti ♪
♪ Cukup hanya aku ♪
♪ Tersakiti ♪
Gila!
Ini benar-benar gila.
[dalam bahasa Jawa] Cuaca buruk,
pandemi,
hama,
dan kematian para pekerja.
Itu adalah perbuatan Rahayu.
Karena dia tidak pernah rela
Rara menikmati harta Willem.
Nak Yusuf,
kehadiranmu di sini sangat penting.
Hanya kau yang bisa mengakhiri kutukan itu.
Satukan tubuh dan kepala Ayu untuk menghentikan teror.
Kematian Rahayu tepat pada pukul 02.00.
Satukan tubuh dan kepalanya
pada jam yang sama.
Terima kasih, Bu.
[Sutan] Yusuf!
- [suara libasan golok] - [suara cipratan darah]
Kau sudah keterlaluan, Yusuf!
- Mati kau! - [Yusuk tercekat]
Mati!
Kubur!
[musik menegangkan]
[terisak-isak]
[deru motor]
[Jarwo terengah-engah]
[musik menegangkan berhenti]
Mas Sutan?
Mas?
[suara derit lantai]
Mas Sutan?
[tawa mengerikan]
Trinil.
Yang boleh memanggilku "Trinil' hanya Papa.
Kembalikan tubuhku!
Semasa hidup, kau menyiksaku. Sudah mati, masih saja menggangguku.
Apa maumu, Setan?
[Ayu berteriak]
[gedebuk]
Kembalikan tubuhku!
Sekarang!
- [gedebuk] - [merintih]
[tawa menyeramkan]
Ciluk…
ba!
[tawa menyeramkan]
Sini.
Main sama Mama.
- Tolong! - Trinil, mau ke mana?
Trinil…
Cilukba!
[tawa menyeramkan]
[suara pintu dibanting]
[deru motor]
[telepon berdering]
[telepon lanjut berdering]
Halo?
[Rohim] Halo, Non Rara?
- Pak Rohim! - Ya, Non?
Pak Rohim, segera ke sini! Tolong aku, aku dalam bahaya!
- Tenang, Non. - Cepat ke sini!
[Ayu] Trinil, kembalikan tubuhku.
[terengah-engah]
[suara statis televisi]
["Kasih Merintih" diputar di televisi]
[musik menegangkan]
[terengah-engah]
♪ Dari jauh ♪
♪ Aku merintih ♪
[suara statis televisi]
- [tawa menyeramkan] - [Rara mengerang]
- [suara senjata ditembakkan] - [Rara berteriak]
[tawa menyeramkan]
- [terengah-engah] - [keletak]
Mau ke mana, Trinil?
Sini, bernyanyi bersama Mama.
[kenop pintu diputar]
- Buka! - Tidak ada jalan keluar bagimu, Trinil.
[tawa menyeramkan]
Trinil, mau ke mana?
Mau ke mana kau?
[terengah-engah]
Tolong!
- Tolong! - Trinil.
Ba! [tawa menyeramkan]
Trinil…
Buka!
Kembalikan tubuhku.
- [embusan angin] - [Rara tercekat]
[tawa menyeramkan]
Berharap besar semuanya berakhir.
[Ayu berteriak]
Tidak!
Awas kau, Trinil! [berteriak]
[Rara terbatuk-batuk]
[pintu diketuk]
Ra?
Ra?
- Ra? - [Rara terbatuk-batuk]
[musik lembut]
- Bersulang. - Bersulang.
[denting gelas]
[bergumam] Enak.
Manis sekali.
[Sutan] Aku memesan anggur ini spesial dari Singapura.
[Rara terkekeh]
Bagaimana kalau kita mengunjungi makam ayahku setelah ini?
Aku temani.
[tertawa]
- Mas? Ke atas. Ke kamar. - [bergumam]
Kita ke kamar.
Katanya mau ke makam Papa.
Itu nanti saja.
- Baiklah. - [tertawa]
Mbak Rara, Mas Sultan,
[Sutan bergumam]
Ada yang ingin aku bicarakan.
Ya, Pak Joko.
Pak Joko, aku hampir lupa.
Rara dan aku ingin mengucapkan terima kasih.
Selama ini Pak Joko telah berjasa untuk keluarga ini.
Jadi, sekali lagi, terima kasih.
Jarwo sudah memberitahuku segalanya.
Mbak Rara, apa tak sebaiknya kita makamkan jasad Ndoro Ayu sesuai syariat?
Supaya arwahnya tenang.
Oh…
Pak Joko.
Seperti ucapanku tadi,
bahwa Pak Joko sangat berjasa bagi keluarga ini,
bagaimana kalau besok
Pak Joko dan aku
pergi ke dealer mobil?
Pak Joko bebas memilih mobil apa pun
sesuai dengan kesukaan Pak Joko.
Sudah saatnya Pak Joko punya mobil sendiri.
Terima kasih, Mas.
Aku sudah merasa cukup dengan kehidupanku sekarang.
Harta itu hanya titipan Allah.
[tertawa]
Pak Joko.
Pak Joko.
Pak Joko.
Pak… [menghela napas]
Memang benar, harta itu titipan Tuhan.
Tapi kita sebagai manusia
harus bisa menjaganya.
Tolong rahasiakan dan simpan baik-baik semua yang Bapak tahu soal Mama.
Atau Bapak sendiri yang akan menyesal.
[musik menegangkan]
Ya, Pak?
Baik, Mbak.
Oke, Pak?
[terkekeh]
Ayo, Mas.
[langkah kaki menjauh]
[musik lembut diputar]
[Rara] Aku mandi dulu.
[musik lembut terus diputar]
[suara air mengalir]
[suara derit pintu]
Mas?
Sini masuk.
Jangan menggoda, ya.
Kita sudah lama tidak mandi bersama.
Mas?
Lo?
Kau tidak mandi?
[musik menegangkan]
[suara listrik statis]
[intensitas musik meningkat]
[Rara berteriak]
[Sutan berteriak]
- [Sutan berteriak] - [suara kaca pecah]
[gedebuk]
Mas Sutan?
[suara listrik statis]
Mas Sutan?
Mas Sutan?
[berteriak] Mas Sutan!
[Ayu] Trinil.
[tawa menyeramkan disusul oleh geraman]
[tercekat dan terbatuk-batuk]
[Rara berteriak]
- Tolong! - [menggeram]
Tolong, Papa!
Tolong!
- [Rara] Papa, tolong! - [Ayu tertawa]
Astaghfirullahaladzim. Ya Allah!
[teriak] Pa! Tolong, Pa!
Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.
Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
…tanpa izin-Nya.
Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka.
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
Raja manusia, sembahan manusia,
dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi,
yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia,
dari golongan jin dan manusia."
[berteriak]
Tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah.
Tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah.
Tidak ada daya dan upaya, kecuali dengan kekuatan dari Allah.
Tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah.
Tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah.
[suara ledakan]
Pak.
Ya Allah. Rara!
Kasihanilah, Tuhanku. Rara!
Tidak mau! Aku tidak mau bersama Nenek!
Maafkan Nenek, Nak.
- [Rara] Nenek jahat! - [Rondo Alas menangis]
Semua jahat kepadaku! Tidak ada yang menyayangiku!
- Ya Allah. - [Rara] Nenek jahat!
Kiai, tolong Mbak Rara.
[menangis sambil berteriak] Semua jahat kepadaku!
- [Rara menangis meraung] - Biarkan.
Biarkan dia melampiaskan perasaannya.
Itu jalan menuju ikhlas.
Nenek tak bisa mengendalikan mamamu.
[Rara menangis] Semua jahat kepadaku!
[Willem] Trinil.
[terisak-isak]
Pa?
Sudah marahnya?
Mama sudah pergi.
Jadi, tak ada gunanya lagi kau marah.
Sejak dulu Mama tak menyukaiku.
[Rara] Aku dimarahi.
Dia menyalahkanku atas semuanya.
Aku benci Mama!
Aku benci Mama!
[Willem] Papa tahu. Papa tahu itu.
Tapi itu semua sudah lewat, 'kan?
Gara-gara Mama,
aku kehilangan Papa.
Aku kehilangan Papa.
[Willem] Sudahi marahmu.
Sudahi bencimu.
Maafkanlah
supaya kau tenang
dan tetaplah menjadi orang baik
karena itu akan mendatangkan hal-hal baik untukmu.
Papa…
Papa…
[musik sendu]
[musik sendu terus berlanjut]
[petir bergemuruh]
[suara hujan turun]
- [pria 1] Mari, Pak. - [pria 2] Ya.
[pria 1] Maaf, Mbak Rara,
kami tahu Mbak Rara sedang berduka.
Apakah Mbak Rara bersedia datang ke kantor polisi
untuk kami mintai keterangan mengenai kematian suami Mbak Rara?
[petir bergemuruh]
[suara mesin ketik]
Di mana posisimu saat suamimu jatuh dari jendela?
Di kamar mandi.
Jadi, kau tak melihat kejadiannya?
Bagaimana kondisi suamimu sebelum kau tinggal mandi?
Stres,
tertekan.
Sejak kapan suamimu merasakan semua ini?
Sejak kami pulang dari bulan madu.
Apa kau tak tahu penyebabnya?
Mungkin Sutan memang tak bahagia menikah denganku.
Jadi, kematiannya adalah cara yang tepat untuk menceraikanku.
[musik sendu terus berlanjut]
Mbak Rara, maaf,
kalau boleh, Rohim dan aku
akan membujuk teman-teman untuk kembali ke perkebunan.
[terkekeh]
Perkebunan harus tetap berjalan.
Kehidupan Mbak Rara juga.
Terima kasih, Paklik Jarwo.
Terima kasih juga, ya, Pak Joko.
Ya, Mbak. Sama-sama.
[musik sendu memudar]
[suara jangkrik]
[musik menegangkan]
["Kasih Merintih" diputar]
♪ Dari jauh ♪
♪ Aku merintih ♪
♪ Mengharapkan ♪
♪ Belas kasihanmu ♪
♪ Walau hanya aku yang merasa ♪
♪ Setiaku menanti balasmu ♪
♪ Biar rasa ♪
♪ Tergantung sepi ♪
♪ Akan aku ikhlaskan hati ini ♪
♪ Saat cinta jauh terpinggir ♪
♪ Hatimu setia di dekapku ♪
♪ Biar rasa ♪
♪ Tergantung sepi ♪
♪ Akan aku ikhlaskan hati ini ♪
♪ Saat cinta jauh terpinggir ♪
♪ Hatimu setia di dekapku ♪
♪ Tinggallah aku sendiri ♪
♪ Ditemani cahaya malam ini ♪
♪ Kan kupendam sakit ini ♪
♪ Cukup hanya aku ♪
♪ Tersakiti ♪
♪ Jangan nanti kau menyesali ♪
♪ Apa arti cinta sejatiku ♪
♪ Ini ♪
["Malam Minggu" diputar]
♪ Oh, malam Minggu ♪
♪ Sang kekasih yang kau rindu ♪
♪ Oh, lagak serta lagunya Yang kau nantikan selalu ♪
♪ Hai, Muda Mudi Hiduplah kekal abadi ♪
♪ Berangan tiada ragu ♪
♪ Susah, senang Usah dikau peduli ♪
♪ Tiada angin, pun tiada hujan Goyangkan tubuh seirama ♪
♪ Semerbak harum di halaman Tanda dia telah datang ♪
♪ Di malam Minggu ♪
♪ Bagai movie star aksimu ♪
♪ Berlenggok kanan kiri ♪
♪ Duh, asyiknya Usah dikau peduli ♪
♪ Tiada angin, pun tiada hujan Goyangkan tubuh seirama ♪
♪ Semerbak harum di halaman Tanda dia telah datang ♪
♪ Di malam Minggu Bagai movie star aksimu ♪
♪ Berlenggok kanan kiri ♪
♪ Duh, asyiknya Malam Minggu abadi ♪
♪ Malam Minggu ♪
♪ Yang kau nanti ♪
♪ Hanya mimpi ♪
[musik berakhir]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.